Anda di halaman 1dari 25

KATA PENGANTAR

Puji syukur Kami panjatkan kehadirat ALLAH SWT, yang telah

memberikan dan hidayah-NYA sehingga Kami dapat menyelesaikan makalah

ini tepat pada waktunya.

Makalah ini merupakan salah satu tugas yang diberikan dosen

pengajar. Dalam makalah ini penulis membahas tentang ASUHAN

KEPERAWATAN ANAK DENGAN PERTUSIS dengan pertimbangan materi atas

merupakan bahan pembelajaran sehingga dapat membantu lebih

memahami ASKEP DAN KONSEP PERTUSIS.

Dalam pembuatan makalah ini, penulis menyadari adanya berbagai

kekurangan, baik isi materi atau penyusunan kalimat. Namun demikian,

perbaikan merupakan hal yang berlanjut sehingga kritik dan saran untuk

penyempurnaan makalah ini sangat penulis harapkan.

Akhirnya penulis menyampaikan terima kasih kepada dosen pengajar

serta teman-teman sekalian yang telah membaca makalah ini.

makassar, april 2013


BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Di Negara yang sedang berkembang termasuk Indonesia, sebelum

ditemukannya vaksin, angka kejadian dan kematian akibat menderita

pertusis cukup tinggi.Ternyata 80% anak-anak dibawah umur 5 tahun pernah

terserang penyakit pertusis, sedangkan untuk orang dewasa sekitar 20% dari

jumlah penduduk total.

Dengan kemajuan perkembangan antibiotic dan program imunisasi maka

mortalitas dan morbiditas penyakit ini mulai menurun.Namun demikian

penyakit ini masih merupakan salah satu masalah kesehatan terutama

mengenai bayi- bayi dibawah umur.

Pertusis sangat infesius pada orang yang tidak memiliki kekebalan.Penyakit

ini mudah menyebar ketika si penderita batuk.Sekali seseorang terinfeksi

pertusis maka orang tersebut kebal terhadap penyakit untuk beberapa tahun

tetapi tidak seumur hidup, kadang kadang kembali terinfeksi beberapa


tahun kemudian.Pada saat ini vaksin pertusis tidak dianjurkan bagi orang

dewasa.Walaupun orang dewas sering sebagai penyebab pertusis pada anak

anak, mungkin vaksin orang dewasa dianjurkan untuk masa depan.

B. RUMUSAN MASALAH

1.Bagaimana Konsep teori dari pertusis ?

2.Bagaimana asuhan keperawatan pada anak dengan pertusis?

C. TUJUAN

1 Tujuan Umum

Mengetahui dan memahami bagaimana membuat Asuhan Keperawatan

masalah Pernapasan dengan gangguan Pertusis.

2 Tujuan Khusus

Mahasiswa akan mampu:

Memahami definisi pertusis

Mengetahui etiologi terjadinya pertusis

Mengetahui patofisiologi terjadinya pertusis

Mengeidentifikasi manifestasi klinis yang dapat ditemukan pada klien

anak pertusis

Mengidentifikasi penatalaksanaan klien anak dengan pertusis


Merumuskan asuhan keperawatan pada klien anak dengan pertusis

meliputi WOC, analisis data, pengkajian, diagnosis, intervensi

D. MANFAAT

Bisa lebih mengetahui dan memahami bagaimana gangguan pertusis terjadi,

bagaimana cara mengobati serta bagaimana menyusun Asuhan

Keperawatannya.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

PERTUSIS

A. PENGERTIAN

Pertusis adalah suatu infeksi akut saluran nafas yang mengenai setiap

pejamu yang rentan, tetapi paling sering dan serius pada anak-anak.

(Behrman, 1992)

Pertusis adalah penyakit infeksi akut pada saluran pernafasan yang

sangat menular dengan ditandai oleh suatu sindrom yang terdiri dari batuk

yang bersifat spasmodic dan paroksismal disertai nada yang meninggi.

(Rampengan, 1993)
Pertusis adalah penyakit saluran nafas yang disebabkan oleh

Bordetella pertusis, nama lain penyakit ini adalah tussis quirita, whooping

coagh, batuk rejan. (Mansjoer, 2000)

Pertusis adalah penyakit infeksi yang ditandai dengan radang saluran

nafas yang menimbulkan Serangan batuk panjang yang bertubi-tubi,

berakhir dengan inspirasi berbising. (Ramali, 2003)

Pertusis adalah infeksi bakteri pada saluran pernafasan yang sangat

menular dan menyebabkan batuk yang biasanya diakhiri dengan suara

pernapasan dalam bernada tinggi atau melengking.

B. ETIOLOGI

Pertusis biasanya disebabkan diantaranya sebagai berikut :

Bordetella pertussis (Hemophilis pertusis).

Suatu penyakit sejenis telah dihubungkan dengan infeksi oleh bordetella

para pertusis, B. Bronchiseptiea dan virus.

Adapun cirri-ciri organisme ini antara lain :

Berbentuk batang (coccobacilus)

Tidak dapat bergerak

Bersifat gram negative.

Tidak berspora, mempunyai kapsul

Mati pada suhu 55 C selama jam, dan tahan pada suhu rendah (0-

10 C)
Dengan pewarnaan Toluidin blue, dapat terlihat granula bipolar

metakromatik

Tidak sensitive terhadap tetrasiklin, ampicillin, eritomisisn, tetapi resisten

terhdap penicillin

Menghasilkan 2 macam toksin antara lain :

o Toksin tidak yahan panas (Heat Labile Toxin)

o Endotoksin (lipopolisakarida)

C. TANDA DAN GEJALA

Masa tunas 7 14 hari penyakit dapat berlangsung sampai 6 minggu atau

lebih dan terbagi dalam 3 stadium, yaitu :

1. Stadium kataralis Lamanya 1 2 minggu


Pada permulaan hanya berupa batuk-batuk ringan, terutama pada malam

hari. Batuk-batuk ini makin lama makin bertambah berat dan terjadi

serangan dan malam. Gejala lainnya ialah pilek, serak dan anoreksia.

Stadium ini menyerupai influenza.

2. Stadium spasmodik Lamanya 2 4 minggu

Pada akhir minggu batuk makin bertambah berat dan terjadi paroksismal

berupa batuk-batuk khas. Penderita tampak berkeringat, pembuluh darah

leher dan muka melebar. Batuk sedemikian beratnya hingga penderita

tampak gelisah gejala gejala masa inkubasi 5 10 hari. Pada awalnya anak

yang terinfeksi terlihat seperti terkena flu biasa dengan hidung

mengeluarkan lendir, mata berair, bersih, demam dan batuk ringan. Batuk

inilah yang kemudian menjadi parah dan sering. Batuk akan semakin

panjang dan seringkali berakhir dengan suara seperti orang menarik nafas

(melengking). Anak akan berubah menjadi biru karena tidak mendapatkan

oksigen yang cukup selama rangkaian batuk. Muntah-muntah dan kelelahan

sering terjadi setelah serangan batuk yang biasanya terjadi pada malam

hari. Selama masa penyembuhan, batuk akan berkurang secra bertahap.

3.Stadium konvalesensi Lamanya kira-kira 4-6 minggu

Beratnya serangan batuk berkurang. Juga muntah berkurang, nafsu makan

pun timbul kembali. Ronki difus yang terdapat pada stadium spas,odik mulai

menghilang. Infaksi semacam Common Cold dapat menimbulkan serangan

batuk lagi.

D. PATOFISIOLOGI
Peradangan terjadi pada lapisan mukosa saluran nafas. Dan organisme

hanya akan berkembang biak jika terdapat kongesti dan infiltrasi mukosa

berhubungan dengan epitel bersilia dan menghasilkan toksisn seperti

endotoksin, perttusinogen, toxin heat labile, dan kapsul antifagositik, oleh

limfosist dan leukosit untuk polimorfonuklir serta penimbunan debrit

peradangan di dalam lumen bronkus. Pada awal penyakit terjadi hyperplasia

limfoid penbronklas yang disusun dengan nekrosis yang mengenai lapisan

tegah bronkus, tetapi bronkopnemonia disertai nekrosis dan pengelupasan

epitel permukaan bronkus. Obstruksi bronkhiolus dan atelaktasis terjadi

akibat dari penimbunan mucus. Akhirnya terjadi bronkiektasis yang bersifat

menetap.

Cara penularan:

Penyakit ini dapat ditularkan penderita kepada orang lain melalui

percikan-percikan ludah penderita pada saat batuk dan bersin. Dapat pula

melalui sapu tangan, handuk dan alat-alat makan yang dicemari kuman-

kuman penyakit tersebut. Tanpa dilakukan perawatan, orang yang menderita

pertusis dapat menularkannya kepada orang lain selama sampai 3 minggu

setelah batuk dimulai.

E. KOMPLIKASI

1. Alat Pernafasan Dapat terjadi otitis media (sering pada bayi), bronkitis,

bronkopneumania, atelektasis yang disebabkan sumbatan mukus, emfisema

(dapat juga terjadi emfisema mediastrum, leher kulit pada kasus yang berat,
bronkrektasis, sedangkan tuberkulosis yang sebelumnya telah ada dapat

terjadi bertambah berat.

2. Alat Pencernaan Muntah-muntah yang berat dapat menimbulkan emasiasi,

prolaapsus rektum atau hernia yang mungkin timbul karena tingginya

tekanan intra abdominal, ulkus pada ujung lidah karena lidah tergosok pada

gigi atau tergigit pada waktu serangan batuk, stomatitis

3. Sususnan saraf Kejang dapat timbul karena gangguan keseimbangan

elektrolit akibat muntah-muntah kadang-kadang terdapat kongesti dan

edema otak. Mungkin pula terjadi perdarahan otak

4. Lain -lain Dapat pula terjadi pendarahan lain seperti epistaksis dan

perdarahan subkonjungtiva.

F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

Pada stadium kataralis dan permulaan stadium spasmodic jumlah leukosit

meninggi kadang sampai 15.000-45000 per mm 3 dengan limfositosis,

diagnosis, dapat diperkuat dengan mengisolasi kuman dari sekresi jalan

napas yang dikeluarkan pada waktu batuk.Secara laboratorium diagnosis

pertusis dapat ditentukan berdasarkan adanya kuman dalam biakan atau

dengan pemeriksaan imunofluoresen

G. PENATALAKSANAAN

Anti mikroba

Pemakai obat-obatan ini di anjurkan pada stadium kataralis yang dini.

Eritromisin merupakan anti mikroba yang sampai saat ini dianggap paling
efektif dibandingkan dengan amoxilin, kloramphenikol ataupun tetrasiklin.

Dosis yang dianjurkan 50mg/kg BB/hari, terjadi dalam 4 dosis selama 5-7

hari.

Kortikosteroid

a. Betametason oral dosis 0,075 mg/lb BB/hari

b. Hidrokortison suksinat (sulokortef) I.M dosis 30 mg/kg BB/ hari kemudian

diturunkan

perlahan dan dihentikan pada hari ke-8

c. Prednisone oral 2,5 5 mg/hari

Berguna dalam pengobatan pertusis terutama pada bayi muda dengan

seragan proksimal.

Salbutamol Efektif terhadap pengobatan pertusis dengan cara kerja :

a. Beta 2 adrenergik stimulan

1) Mengurangi paroksimal khas

2) Mengurangi frekuensi dan lamanya whoop

3) Mengurangi frekuensi apneu

b. Terapi suportif

1) Lingkungan perawatan penderita yang tenang

2) Pemberian makanan, hindari makanan yang sulit ditelan, sebaiknya

makanan cair, bila muntah diberikan cairan dan elektrolit secara parenteral

3) Pembersihan jalan nafas

4) Oksigen
Vaksin DPT

Vaksin jerap DPT ( Difteri Pertusis Tetanus ) adalah vaksin yang terrdiri dari

toxoid difteri dan tetanus yang dimurnikan dan bakeri pertusis yang telah

diinaktivasi.

Indikasi

Untuk pemberian kekebalan secara simultan terhadap pertusia. Cara

pemberian dan dosis:

Sebelum digunakan vaksin dikocok terlebih dahulu agar menjadi

homogen.

Disuntikan secara IM denagn dosis pemberian 0,5 ml sebanyak 3 dosis.

Dosis pertama diberikan umur 2 bulan,dosis selanjutnya diberikan 1

bulan

Di unit pelayanan statis, vaksin DPT yang tekah dibuka hanya boleh

digunakan 4 minggu

Efek Sampingnya

pnas Kebanyakan anak menderita panas pada sore hari setelah mendapat

imunisasi DPT, tetapi panas ini akan sembuh dalam 1-2 hari. Bila panas yang

timbul lebih dari 1 hari sesudah pemberian DPT, bukanlah disebabkan oleh

vaksin DPT, mungkin ada infeksi lain yang perlu diteliti lebih lanjut.
Rasa sakit di daerah suntikan. Sebagian anak merasa nyeri, sakit,

kemerahan, bengkak di tempat suntikan. Bila hal tersebut terjadi setelah

suntikan berarti ini disebabkan oleh suntikan DPT. Hal ini perlu diberitahukan

kepada

PeradanganHal ini mungkin sebagai akibat dari: jarum suntik tidak steril, bisa

karena tersentuh tangan atau sterilisasi kurang lama ataupun sebelum

dipakai menyuntik jarum diletakkan di atas tempat yang tidak steril.

Kejang-kejangAnak yang setelah pemberian vaksin DPT mengalami hal ini,

tidak boleh diberi vaksin DPT lagi dan sebagai gantinya diberi DT saja. Kontra

indikasi. Gejala keabnormalan otak pada periode bayi baru lahir atau gejala

serius keabnormalan pada saraf merupakan kontraindikasi pertussis. Anak

yang mengalami gejala-gejala parah pada dosis pertama, komponen

pertussis harus dihindarkan pada dosis kedua dan untuk meneruskan

imunisasinya dapat diberikan DT. (Direktorat Jendral PPM & PL, Departemen

Kesehatan RI)

STRATEGI

meningkatkan kualitas pelayanan

mengembangkan pelaksanaan program diseluruh unit pelayanan

kesehatan

meningkatkan kerja sama dengan semua pihak terkait

meningkatkan kesadaran dan peran serta masyarakat

melaksanakan desentralisasi melalui titik berat manajemen program di

kabupaten atau kota


mengembangkan pelaksanan program melalui penelitian.

Kontraindikasi :

gejala-gejala keabnormalan otak pada periode bayi baru lahir atau gejala

serius keabnormalan pada saraf merupakan kontraindikasi pertusis. Anak

yang mengalami gejala-gejala parah pada dosis pertama, komponen pertusis

harus dihindarkan pada dosis kedua dan untuk meneryskan iminisasi dapat

diberikan DPT

BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN PERTUSIS

A. Pemeriksaan Fisik

a. Aktivitas / istirahat

DS : Gangguan istirahat tidur, malaise.

DO : Lesu, pucat, lingkar mata kehitam-hitaman.

b. Sirkulasi

DS : -

DO : Tekanan darah normal / sedikit menurun, takikardi, peningkatan suhu.

c. Eliminasi

DS : BAB dan BAK normal

DO : BB menurun, turgor kulit kurang, membrane mukosa kering.

d. Makanan dan cairan

DS : Sakit kepala, pusing.

DO : Gelisah

e. Nyeri / kenyamanan

DS : Batuk pada malam hari dan memberat pada siang hari.

DO : Mata tampak menonjol, wajah memerah / sianosis, lidah terjulur dan

pelebaran vena leher saat serangan batuk.

f. Pernafasan

DS : Batuk Pilek

DO :

o nyaring (whoop) saat inspirasi.

o Penumpukan lender pada trachea dan nasopharing


o Penggunaan otot aksesorus pernafasan.

o Sputum atau lender kental.

B. Pemeriksaan penunjang :

Pembiakan lendir hidung dan mulut.

Pembiakan apus tenggorokan.

Pembiakan darah lengkap (terjadi peningkatan jumlah sel darah putih yang

ditandai sejumlah besar limfosit, LEE tinggi, jumlah leukosit antara 20.000-

50.000 sel / mdarah.

Pemeriksaan serologis untuk Bordetella pertusis.

Tes ELISA (Enzyme Linked Serum Assay) untuk mengukur kadar secret Ig A.

Foto roentgen dada memeperlihatkan adanya infiltrate perihilus, atelaktasis

atau emphysema

II. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Bersihan jalan napas tidak efektif b/d peningkatan produksi mucus

2. Pola napas tidak efektif b/d tidak adekuatnya ventilasi

3. Gangguan rasa aman dan nyaman b/d aktivitas batuk yang meningkat.

4. Resiko kekurangan volume cairan b/d intake klien yang kurang

5. Resiko kekurangan nutrisi b/d adanya mual dan muntah.

6. Hyperthermy b/d infeksi salurn nafas.

III. INTERVENSI

No DIAGNOSA INTERVENSI RASIONAL


KEPERAWATAN
1. Bersihan jalan - Memberikan cairan -secret kental dapat

napas tidak efektif hangat sedikitnya 1,9- menyebabkan

b/d sekresi yang 2,8 liter/hari atelektasis

berlebihan dan (penyempitan bronkus)

kental -Beri tahukan orang

Tujuan : status tua tentang perlunya - Jelaskan dan

ventilasi saluran batuk efektif bagi demonstrasikan

pernafasan baik anak, sekalipun upaya manfaat latihan batuk

itu menyakitkan yang dapat

Kriteria hasil : meningkatkan

1. Rata-rata kerjasama antara


- Kolaborasi :
pernafasan normal orangtua dan anak
pemberian obat
2. Sputum keluar
depresan batuk,
dari jalan nafas - untuk menurunkan
ekspektorant sesuai
3. Pernafasan sekresi secret dijalan
indikasi
menjadi mudah napas dan menurunkan

4. Bunyi nafas resiko keparahan

normal

5. Sesak nafas

tidak terjadi lagi

2. Pola napas tidak - Posisikan anak dalam - Posisi semifowler

efektif membantu
keadaan semifowler mempermudahkan

Tujuan : pernafasan
- Memberikan
menunjukkan pola
oksigenasi dengan
napas efektif -Dengan pemberian
pemberian nasal kanul
dengan frekuensi oksigenasi ,kebutuhan
3 lpm
dan kedalaman oksigen terpenuhi

dalam rentang sehingga pola nafas

normal menjadi efektif

Criteria hasil:

1. Frekuensi

pernapasan

normal (18-

30kali/menit)

2. Retraksi otot

bantu nafas

normal3.Bunyi

paru bersih/jelas

3. Hyperthermi - Memberikan kompres - Merangsang pusat

Tujuan : Suhu hangat pengatur panas untuk

Tubuh Normal -kolaborasi pemberian menurunkan produksi

antipirektik panas tubuh

- merangsang pusat
Kriteria Hasil : pengatur panas di otak

1. Suhu tubuh Memonitor suhu tubuh

normal (36-37,5 C) setiap 2 jam - Deteksi dini

2. Tidak terdapat terjadinya perubahan

tanda infeksi abnormal fungsi tbuh

(rubor,dolor,kalor,

tumor,fungsiolesa)
4. Resiko kekurangan - Memberikan cairan - Pemunuhan dasar

volume cairan b/d berupa teh encer, jus kebutuhan cairan

intake klien yang apel dalam jumlah 15 menurunkan resiko

kurang mL, tetapi sering dehidrasi

Tujuan : intake - Observasi turgor - indicator langsung

sama dengan kulit, kelembaban keadekuatan volume

output membrane mukosa cairan, meskipun

(bibir dan lidah) membrane mukosa

mulut mungkin kering

Kriteria Hasil : karena napas mulut

1. tekanan vital dan oksigen tambahan


- Catat cairan Intake
stabil
dan Output
2. Turgor kulit baik
- Penurunan sirkulasi
3. turgor kulit baik
volume cairan
4. membrane
menyebabkan
mukosa lembab - Pantau masukan dan kekeringan mukosa dan

5. Pengisian haluaran,catat warna, pemekatan urine

kapiler cepat karakter urine. Hitung

keseimbangan cairan
- memberikan

informasi tentang

keadekuatan volume

cairan dan kebutuhan

penggantian

5. - Menemani dan - Mengurangi rasa

membantu anak pada gelisah dan kesulitan


Gangguan rasa
saat batuk bila anak bernafas pada anak
aman dan nyaman
muntah.
b/d aktivitas batuk

yang meningkat.
- Meminimalkan anak - Penyebab serangan

untuk menangis atau batuk dapat berkurang

tertawa/bercanda

yang berlebihan

- Obat tidak akan


- Pemberian obat
terbuang sia-sia kalau
setelah anak
diberikan setelah anak
mendapat serangan
mendapat serangan
batuk dan sudah reda
batuk
6. Resiko kekurangan - Berikan asupan gizi - Nutrisi yang kurang

nutrisi b/d adanya dengan jumlah kalori menyebabkan daya

mual dan muntah = 80/kkal kg BB tahan tubuh semakin

Berikan protein menurun

Tujuan : kebutuhan sebanyak 40 gram

nutrisi terpenuhi - Identifikasi factor - pilihan intervensi

yang menimbulkan tergantung pada

Criteria hasil : mual/muntah penyebab masalah

1. Menunjukkan ,misalnya sputum

peningkatan nafsu banyak, pengobatan

makan aerosol, dispnea berat

2. ,nyeri - Susu yang terlalu

Mempertahankan/ manis dan goreng-


- Meminimalkan
meningkatkan gorengan dapat
pemberian susu yang
berat badan merangsang reflek
terlalu manis atau
batuk yang meningkat
makanan yang

digoreng atau terlalu

asin

IV. EVALUASI

1).status ventilasi saluran pernafasan baik

2) menunjukkan pola napas efektif dengan frekuensi dan kedalaman dalam

rentang normal dan paru jelas atau bersih


3) tidak terjadi resiko infeksi

4) pasien dapat tidur dan istirahat sesuai kebutuhannya

5) kekurangan volume cairan tidak terjadi

6) resiko kekurangan nutrisi kurang dari kebutuhan tidak terjadi

7) melaporkan/menunjukkan peningkatan toleransi terhadap aktivitas.

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat kami ambil dari penjelasan isi makalah diatas adalah

sebagai berikut :

1. Pertusis adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri

Bordotella pertusis.

2. Pertusis dapat mengenai semua golongan umurdan terbanyak

mengenai anak 1-5 tahun Tiga tahapan dari penyakit pertusis adalah

tahap kataralis, paroksimal dan konvelesensi.

3. Asuhan keperawatan pada penderita pertusis secara garis besar

adalah menjaga kebersihan jalan napas agar terbebas dari bakteri

pertusis.

B. SARAN

Sebagai perawat diharapkan mampu untuk melakukan asuhan keperawatan

terhadap penderita pertusis dan diftei. Karena seringkali pada penderita

pertusis dan difteri disertai dengan komplikasi. Keadaan ini akan

menyebabkan penderitaan yang berkepanjangan. Oleh karena itu, penyakit

batuk rejan dan difteri perlu dicegah. Cara yang paling mudah adalah
dengan pemberian imunisasi bersama vaksin lain yang biasa disebut DPT

dan polio.

Perawat juga harus mampu berperan sebagai pendidik. Dalam hal ini

melakukan penyuluhan mengenai pentingnya imunisasi dan imunisasi akan

berdaya guna jika dilakukan sesuai dengan program. Selain itu perawat

harus memberikan pengetahuan pada orang tua mengenai penyakit

pertusis secara jelas dan lengkap.Terutama mengenai tanda-tanda,

penanganan dan pencegahannya.

BAGI ORANG TUA:

Bawalah anak anda untuk imunisasi sesuai waktunya

Pereiksakan kesehatan secara berkala

Hindarkan pada anak dengan penyakit pertusis karena menular.


DAFTAR PUSTAKA

http://aznhya2http://solikhulhadi98.wordpress.com/2010/09/22/askep-

pertusis/a.blogspot.com/2012/07/askep-pertusis.html

Diposkan oleh Aznhy Nurse di 17.50

PATOPLODIAGRAM / PENYIMPANGAN KDM

Rangsangan dari luar (mekanis, aliran listrik dan infeksi)

Perubahan patofisiologi dan membrane karena penyakit

Peningkatan metabolisme dan kebutuhan O2 meningkat

merangsang pusat panas ( hipotalamus)

reaksi peningkatan suhu tubuh


Gangguan keseimbangan dari membrane sel neuron

Terjadi difusi dari ion kalium dan natrium melalui membrane listrik

Menyebar ke membrane sel di sekitarnya di bantu oleh neuron transmister

Sakit kepala

Anoreksia / intake tidak adekuat

Kebutuhan nutrisi tidak terpenuhi

Gangguan kebutuhan nutrisi


Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
kejang
Evaforasi

Pengeluaran cairan tubuh yang berlebihan

Intake cairan tidak adekuat

Gangguan keseimbangan cairan tubuh

Deficit volume cairan


hipertermi