Anda di halaman 1dari 12

BAGIAN ILMU PENYAKIT DALAM

REFARAT

FAKULTAS KEDOKTERAN APRIL 2017

UNIVERSITAS HASANUDDIN

REFARAT: TAENIASIS

Doktor pembimbing: dr. Risna Halim, Sp. PD

Muhammad Nuramin bin Masrom C111 12 817


Aiman bin Zulkafli C111 12 802
Aldha bin Norzaini C111 12 804

Bagian Ilmu Penyakit Dalam


Fakultas kedokteran
Universitas Hasanuddin
Makassar
2017
BAB I
PENDAHULUAN

Taeniasis atau penyakit cacing pita ialah infeksi pada manusia oleh cacing pita
dewasa yang tergolong dalam genus Taenia. Bentuk larva yang dapat menyerang
manusia adalah bentuk larva (cysticercus) Taenia solium dapat menimbulkan infeksi
yang dikenal sebagai sistiserkosis (cysticercosis). Apabila larva tersebut mengenai
jaringan otak maka disebut sebagai neurosistiserkosis (NCC).
Taeniasis dan sistiserkosis merupakan penyakit yang dapat menyerang
masyarakat dengan tingkat ekonomi rendah. Beberapa negara maju seperti Amerika
Serikat , masyarakatnya juga dapat terinfeksi Taenia sp. akibat perjalanan yang
dilakukan ke daerah endemis seperti Afrika Selatan, Uni Sovyet, dan bagian Timur
Mediterania. Infeksi T.saginata lebih tinggi dibandingkan dengan T.solium dengan
prevalensi (>10%) di Asia Tengah, Timur Tengah, Afrika Tengah dan Timur . Sekitar
50.000 pasien meninggal karena neurosistiserkosis1. Pada tahun 2015, badan
penelitian WHO mengidentifikasi bahwa kasus kematian karena T.solium mempunyai
perananan dalam kasus kematian karena konsumsi makanan yaitu mencapai 2,8 dari
angka harapan hidup.
Sedangkan untuk prevalensi taeniasis di kawasan Asia dari sebuah penelitian
terjadi sekitar 0,05-10,4% dengan negara Sudan menempati urutan tertinggi.
Sedangkan di Indonesia angka kejadian Taeniasis tersering di daerah Bali, Sumatera
Utara, Sulawesi Utara, NTT, Irian Jaya dan lokasi transmigrasi asal Bali seperti di
Sulawesi Tengah dan Lampung. Bali menempati urutan tertinggi dengan prevalensi
mencapai 23% pada daerah endemik, disusul oleh Pulau Samosir sebesar 21% di
daerah hiperendemik, Irian Jaya sebsar 8% dan Timor sekitar 7%.
Berdasarkan Standar Kompetensi Kedokteran Indonesia (SKDI) Tahun 2015,
Taeniasis merupakan salah satu penyakit yang harus dikuasai oleh dokter umum
dengan tingkat kemampuan 4A. Dimana dokter umum harus mampu mendiagnosis,
menatalaksana secara mandiri dan menangani secara tuntas kasus tersebut. Hal inilah
yang membuat penulis tertarik untuk membuat referat yang berjudul Taeniasis.
BAB II
DASAR TEORI

1. PENGERTIAN TAENIASIS
Definisi Cacing ini dikenal dengan nama umum cacing pita. Yang penting di
indonesia yaitu Taenia saginata dan Taenia solium. Penyakitnya disebut
Taeniasis. Taeniasis ialah penyakit zoonosis parasiter yang disebabkan oleh
cacing pita yang tergolong dalam genus Taenia (Taenia saginata, Taenia
solium) pada manusia.3
Sistiserkosis (Cysticercosis) ialah infeksi oleh bentuk larva Taenia solium
(Cysticercus Cellulosa) pada manusia. Apabila infeksi tersebut berlangsung
pada sistim saraf pusat, maka disebut Neurosistiserkosis (Neurocysticercosis).3

2. EPIDEMIOLOGI TAENIASIS

Taenia solium merupakan infeksi yang endemik pada Amerika Tengah dan
Selatan serta beberapa negara di Asia Tenggara seperti Korea (Lee et al., 2010),
Thailand (Anantaphruti et al., 2007), India, Filipina, Indonesia, Afrika (Carabin
etal., 2009), Eropa Timur, Nepal, Bhutan, dan China (Rajshekhar et al.,
2003;WHO, 2009). Prevalensi tertinggi ditemukan pada Amerika Latin dan
Afrika. Bahkan, prevalensi beberapa daerah di Mexico dapat mencapai 3,6% dari
populasi umum 2

Negara Indonesia merupakan negara dengan mayoritas pendudukmerupakan


masyarakat beragama muslim dan tidak mengkonsumsi daging babi.Namun, ada
beberapa daerah, seperti Bali dan Papua, yang banyak mengkonsumsi Universitas
Sumatera Utara daging babi. Sampai saat ini, Papua masih menjadi daerah
endemik taeniasis dan sistiserkosis.2

3. ETIOLOGI TAENIASIS
Taeniasis adalah penyakit cacing pita yang disebabkan oleh cacing Taenia
dewasa, sedangkan sistiserkosis adalah penyakit pada jaringan lunak yang
disebabkan oleh larva dari salah satu spesies cacing Taenia yaitu spesies Taenia
Solium. 1
Induk semang definitif dari T. saginata, T. solium dan T. asiatica hanya
manusia, kecuali T. solium dan T. asiatica manusia juga berperan sebagai induk
semang perantara. Sedangkan, babi adalah induk semang perantara untuk T.
solium dan sapi adalah induk semang perantara untuk T. saginata. Adapun induk
semang definitif dari cacing Taenia selain ketiga spesies tersebut adalah hewan
carnivora (anjing/ kucing).1

CACING TAENIA YANG BERSIFAT ZOONOSIS


T. solium
Pada umumnya cacing dewasa T. solium berada di dalam usus halus manusia,
panjangnya bisa mencapai 3 5 meter dan dapat hidup selama 25 tahun. Manusia
sebagai induk semang definitif, sedangkan, induk semang perantara adalah babi
domestik dan babi liar. Larva dari T. solium kadang-kadang juga bisa ditemukan
pada induk semang perantara lainnya termasuk domba, anjing, kucing, rusa, unta
dan manusia . Larva T. solium disebut Cysticercus cellulose. Sistiserkus T. solium
biasanya ditemukan pada otot daging, sangat jarang ditemukan di organ visceral
dari babi dan kera.

T. saginata
Manusia sebagai induk semang definitif, cacing dewasa berada dalam usus
halus dan panjangnya bisa mencapai 3 8 meter dan bisa hidup selama 5 20
tahun. Induk semang perantaranya adalah sapi, kerbau, ilamas dan ruminansia liar
lainnya termasuk jerapah. Bentuk larva T. saginata disebut Cysticercus bovis.
Pada umumnya, sistiserkus T. saginata ditemukan pada otot daging dan sangat
jarang ditemukan pada organ visceral, otak dan hati sapi , kemungkinan karena
otot daging merupakan tempat yang memperoleh sirkulasi darah paling banyak.
Akan tetapi, menurut laporan dari DHARMAWAN et al. (1996) berdasarkan hasil
penelitiannya disebutkan bahwa babi yang diinfeksi telur T. saginata ternyata
menghasilkan pertumbuhan sistiserkus pada organ hati babi yang pertumbuhannya
mirip dengan pola pertumbuhan sistiserkus T. saginata taiwanensis (T. asiatica)
yaitu pada organ hati. Oleh karena tempat pertumbuhan sistiserkus hanya
ditemukan pada organ hati babi, maka diduga bahwa T. saginata (strain Bali) dan
T. saginata taiwanensis berasal dari spesies yang sama. Selanjutnya,
dimungkinkan bahwa babi Bali bisa bertindak sebagai induk semang perantara T.
saginata (strain Bali).
T. asiatica
Cacing pita T. asiatica dewasa mirip dengan T. saginata dewasa yang terdapat
pada usus manusia. Cacing ini panjangnya mencapai 341 cm, dengan lebar
maksimum 9,5 mm. Adapun, induk semang perantara T. asiatica adalah babi
domestik dan babi liar, kadang-kadang juga sapi, kambing atau kera . Bentuk larva
T. asiatica disebut Cysticercus vicerotropika.

4. SUMBER PENULARAN TAENIASIS/SISTERKOSIS


I. Penderita teaniasis sendiri dimana tinjanya mengandung telur atau proglotid
cacing pita.
II. Hewan (terutama) babi, sapi yang mengandung larva cacing pita
(cysticercus).
III. Makanan / minuman dan lingkungan yang tercemar oleh telur-telur cacing
pita.1

5. CARA PENULARAN DAN SIKLUS HIDUP CACING Taenia spp.

Untuk kelangsungan hidupnya cacing Taenia spp. memerlukan 2 induk semang


yaitu induk semang definitif (manusia) dan induk semang perantara (sapi untuk T.
saginata dan babi untuk T. solium). T. saginata tidak secara langsung ditularkan dari
manusia ke manusia, akan tetapi untuk T. solium dimungkinkan bisa ditularkan secara
langsung antar manusia yaitu melalui telur dalam tinja manusia yang terinfeksi langsung
ke mulut penderita sendiri atau orang lain. Siklus hidup cacing T. saginata dapat dilihat
pada Gambar 1. Di dalam usus manusia yang menderita Taeniasis (T. saginata) terdapat
proglotid yang sudah masak (mengandung embrio). Apabila telur tersebut keluar bersama
feses dan termakan oleh sapi, maka di dalam usus sapi akan tumbuh dan berkembang
menjadi onkoster (telur yang mengandung larva). Larva onkoster menembus usus dan
masuk ke dalam pembuluh darah atau pembuluh limpa, kemudian sampai ke otot/daging
dan membentuk kista yang disebut C. bovis (larva cacing T. saginata).

Kista akan membesar dan membentuk gelembung yang disebut sistiserkus.


Manusia akan tertular cacing ini apabila memakan daging sapi mentah atau setengah
matang. Dinding sistiserkus akan dicerna di lambung sedangkan larva dengan skoleks
menempel pada usus manusia. Kemudian larva akan tumbuh menjadi cacing dewasa yang
tubuhnya bersegmen disebut proglotid yang dapat menghasilkan telur. Bila proglotid
masak akan keluar bersama feses, kemudian termakan oleh sapi. Selanjutnya, telur yang
berisi embrio tadi dalam usus sapi akan menetas menjadi larva onkoster.
Setelah itu larva akan tumbuh dan berkembang mengikuti siklus hidup seperti di
atas. Siklus hidup T. solium pada dasarnya sama dengan siklus hidup T. saginata, akan
tetapi induk semang perantaranya adalah babi dan manusia akan terinfeksi apabila
memakan daging babi yang mengandung kista dan kurang matang/tidak sempurna
memasaknya atau tertelan telur cacing. T. saginata menjadi dewasa dalam waktu 10 12
minggu dan T. solium dewasa dalam waktu 5 12 minggu .

Telur T. solium dapat bertahan hidup di lingkungan (tidak tergantung suhu dan
kelembaban) sampai beberapa minggu bahkan bisa bertahan sampai beberapa bulan.
Proglotid T. saginata biasanya lebih aktif (motile) daripada T. solium, dan bisa bergerak
keluar dari feses menuju ke rumput. Telur T. saginata dapat bertahan hidup dalam air dan
atau pada rumput selama beberapa minggu/bulan.

Pada hewan, Taeniasis disebabkan oleh T. ovis, T. taeniaeformis, T. hydatigena, T.


multiceps, T. serialis dan T. brauni. Ini terjadi karena hewan memakan daging dari induk
semang perantara termasuk ruminansia, kelinci dan tikus. Pada sapi (C. bovis) mulai mati
dalam waktu beberapa minggu, dan setelah 9 bulan akan mengalami kalsifikasi.
Sedangkan, sistiserkus dari spesies lain bisa bertahan hidup sampai beberapa tahun. T.
solium pada babi, sistiserkus bisa ditemukan pada jaringan/otot jantung, hati dan otak.

Pada babi, sistiserkus juga bisa ditemukan pada daging bagian leher, bahu, lidah,
jantung dan otak. Pada manusia, sistiserkus ini sering ditemukan di jaringan bawah kulit,
otot skeletal, mata dan otak. Pada kasus yang serius disebabkan oleh adanya sistiserkus
pada jaringan otak bisa menyebabkan neurocysticercosis dan bisa menyebabkan kejang-
kejang pada manusia.

Masa tunas infeksi cacing berkisar antara 8-14 minggu. Cacing pita dewasa dapat
tahan hidup sampai 25 tahun dalam usus.
Gambar 1. Siklus hidup cacing Taenia

6. GEJALA KLINIS TAENIASIS


Gejala klinis taeniasis sangat bervariasi dan tidak patognomonis (khas).
Sebagian kasus tidak menunjukkan gejala (asimptomatik). Gejala klinis dapat timbul
sebagai akibat iritasi mukosa usus atau toksin yang dihasilkan cacing. Gejala tersebut
antara lain rasa tidak enak pada lambung , nausea (mual), badan lemah, berat badan
menurun, nafsu makan menurun, sakit kepala, konstipasi (sukar buang air besar),
pusing, diare, dan pruiritus ani (gatal pada lubang pelepasan). 3
Pada pemeriksaan darah tepi (hitung jenis) terjadi peningkatan eosinofil
(eosinofilia) Gejala klinis taeniasis solium hampir tidak dapat dibedakan dari gejala
klinis taeniasis saginata.
Secara psikologis penderita dapat merasa cemas karena adanya segmen /
proglotid pada tinja dan pada Taenia saginata segmen dapat lepas dan bergerak
menuju sphincter anal yang merupakan gerakan spontan dari segmen.

7. CARA MENDIAGNOSIS TAENIASIS


Diagnosa taeniasis dapat ditegakkan dengan 2 ( dua ) cara yaitu :
a) Menanyakan riwayat penyakit (anamnesis).
Didalam anamnesis perlu ditanyakan antara lain apakah penderita pernah
mengeluarkan proglotid (segmen) dari cacing pita baik pada waktu buang
air besar maupun secara spontan. Bila memungkinkan sambil
memperhatikan contoh potongan cacing yang diawetkan dalam botol
transparan. 4
b) Pemeriksaan tinja
Tinja yang diperiksa adalah tinja sewaktu berasal dari defekasi spontan.
Sebaiknya diperiksa dalam keadaan segar. Bilamana ditemukan telur
cacing Taenia Sp, maka pemeriksaan menunjukkan hasil positif taeniasis.
Pada pemeriksaan tinja secara makroskopis dapat juga ditemukan
proglotid jika keluar4.

Dinyatakan penderita taeniasis, apabila ditemukan telur cacing Taenia Sp pada


pemeriksaan tinja secara mikroskapis dan / atau adanya riwayat mengeluarkan
progloid atau ditemukan prohlotid pada pemeriksaan tinja secara makroskopis dengan
atau tanpa disertai gejala klinis.4
8. PENATALAKSANAAN TAENIASIS

Penderita Taeniasis diobati ( secara massal ) dengan Praziquantel, Dosis 10 mg/kg,


dosis tunggal. Cara pemberian obat praziquantel adalah sebagai berikut:
a) Satu hari sebelum pemberian obat cacing, penderita dianjurkan untuk makan
makanan yang lunak tanpa minyak dan serat.
b) Malam harinya setelah makan malam penderita menjalani puasa.
c) Keesokan harinya dalam keadaan perut kosong penderita diberi obat cacing. Dua
sampai dua setengah jam kemudian diberikan garam Inggris (MgS O4) 7,5 gram
untuk anak anak, sesuai dengan umur, yang dilarutkan dalam sirup (pemberian
sekaligus). Penderita tidak boleh makan sampai buang air besar yang pertama.
Setelah buang air besar , penderita diberi makan bubur.
d) Sebagian kecil tinja dari buang air besar pertama dikumpulkan dalam botol yang
berisi formalin 5-10 % untuk pemeriksaan telur Taenia sp.
e) Proglotid dan skoleks dikumpulkan dan disimpan dalam botol yang berisi alkohol
70% untuk pemeriksaan morfologi yang sangat penting dalam identifikasi spesies
cacing pita tersebut.
f) Pengobatan taeniasis dinyatakan berhasil bila skoleks Taenia Sp. dapat ditemukan
utuh bersama proglotid.
Pemberian Albendazol turut menjadi terapi pilihan saat ini dengan dosis 400mg 2x
sehari , selama 8-30 hari atau Mebendazol 100mg 3x sehari selama 2 hingga 4
minggu.6

9. PENCEGAHAN TAENIASIS

Untuk mencegah Taeniasis pada manusia, dapat dilakukan dengan menghindari


memakan daging yang kurang matang, baik daging babi (untuk T. solium) maupun
daging sapi (untuk T. saginata). Daging yang terkontaminasi harus dimasak dahulu
dengan suhu di atas 56 derajat celcius . Selain itu, dengan membekukan daging
terlebih dahulu, dapat mengurangi risiko penularan penyakit.

Penggunaan jamban yang bersih juga dapat menghindar terjadinya penularan aktif
telur taenia yang bisa menginfeksi manusia apabila tertelan kista yang dijangkiti oleh
feses.2

BAB III

KESIMPULAN

Taeniasis adalah penyakit cacing pita yang disebabkan oleh cacing Taenia dewasa,
sedangkan sistiserkosis adalah penyakit pada jaringan lunak yang disebabkan oleh
larva dari salah satu spesies cacing Taenia.

Induk semang definitif dari T. saginata, T. solium dan T. asiatica hanya manusia,
kecuali T. solium dan T. asiatica manusia juga berperan sebagai induk semang
perantara. Sedangkan, babi adalah induk semang perantara untuk T. solium dan sapi
adalah induk semang perantara untuk T. saginata. Adapun induk semang definitif dari
cacing Taenia selain ketiga spesies tersebut adalah hewan carnivora (anjing/ kucing).

Penularan Taeniasis melalui makanan yaitu memakan daging yang mengandung


larva, baik yang terdapat pada daging sapi (C. bovis) ataupun daging babi (C.
cellulose atau C. vicerotropika). Sedangkan, penularan sistiserkosis pada manusia
melalui makanan atau minuman yang tercemar telur cacing T. solium atau T. asiatica.
Telur T. saginata tidak menimbulkan sistiserkosis pada manusia.

Pemeriksaan feses dilakukan untuk menemukan adanya telur cacing atau proglotid
pada penderita Taeniasis terutama pada manusia. Diagnosis secara serologik dengan
ELISA juga bisa diterapkan untuk hewan maupun manusia.

Pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan menghilangkan sumber infeksi


dengan mengobati penderita Taeniasis dan menghilangkan kebiasaan memakan
daging setengah matang atau mentah. Pemeriksaan daging oleh dokter hewan atau
mantri hewan di Rumah Potong Hewan (RPH) perlu dilakukan, sehingga daging yang
mengandung kista tidak sampai dikonsumsi masyarakat. Selain itu, ternak sapi atau
babi dipelihara pada tempat yang tidak tercemar atau dikandangkan sehingga tidak
dapat berkeliaran.

DAFTAR PUSTAKA

1. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. Buku Ajar Ilmu


Penyakit Dalam Jilid II edisi VI. Jakarta: Interna Publishing; 2014.ms 651-656
2. Margono SS, Alisah S. Nematoda usus. Dalam: Gandahusada S, Ilahude H, Pribadi W.
(Penyunting) Parasitologi kedokteran. Jakarta: Gaya baru; 2006: 8-37
3. Yunus R. Keefektifan albendazole pemberian sekali sehari selama 1, 2 dan 3 hari
dalam menanggulangi infeksi Trichuris trichiura pada anak sekolah dasar di
kecamatan medan tembung. 2008. Tersedia dari: URL:
http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/6244. [Diunduh 10 Juni 2015]
4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Petunjuk pemberantasan
taeniasis/sistiserkosis di Indonesia. Tersedia dari: URL:
www.depkes.go.id/downloads/Taeniasis.pdf. [Diunduh 10 Juni 2015]
5. Gracia et al, 2011. Taenia Solium Cysticercosis. Europe PMC Funders Group. 2011 ;
1-25. Brutto Del et al, 2001. Proposed Diagnostic Criteria for Neurocysticercosis.
PubMed 2001 Jul 24 ; 177 - 83
6. Hamid, Abdulbar., Margonom Sri S., Wandara, Toni., Ito, Akira. 2005. Treatment of
taeniasis and cysticercosis with praziquantel and albendazole. Med J Indones.
14(4) : 254