Anda di halaman 1dari 14

Referat Psikiatri

DISFUNGSI SEKSUAL

Disusun Oleh :

Mia Rizki Awalia, S.Ked

Nurwahidah, S.Ked

Sri Meutia. A, S.Ked

Pembimbing :

dr. Rina Amtarina, Sp.KJ

KEPANITERAAN KLINIK

BAGIAN ILMU KEDOKTERAN JIWA

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU

RUMAH SAKIT JIWA TAMPAN

PEKANBARU

2016

0
BAB I
PENDAHULUAN

Disfungsi seksual merupakan cara dimana individu tak mampu untuk melaksanakan
senggama sebagaimana diharapkan. Dapat berupa kurangnya minat, kurangnya kenikmatan,
kegagalan respons fisiologis yang diperlukan untuk interaksi seksual yang efektif atau
ketidakmampuan dalam mengendalikan atau mengalami orgasme. Disfungsi seksual bisa
didapati pada laki laki maupun perempuan, pada suami istri bisa pula pada kedua suami
istri bersamaan sebagai sebab akibat.1,2

Respon seksual adalah suatu proses psikosomatik, dan kedua respon psikologis dan
1rganic biasanya terlibat sebagai penyebab disfungsi seksual. Ada kemungkinan untuk
mengenali etiologi psikogenik atau organik, tetapi lebih lazim terutama pada masalah
kegagalan ereksi dan sulit untuk memastikan yang 1rganic1 lebih panjang dari organik
psikologis dan atau organik. Dalam kondisi demikian, tetap kiranya untuk mengelompokkan
kondisi ini sebagai etiologi campuran atau tidak tentu.

Beberapa tipe disfungsi terjadi pada laki laki dan perempuan. Perempuan cenderung
lebih lazim mengeluh mengenai kualitas subjektif pengalaman seksualnya dari pada
kegagalan respon spesifik. Keluhan disfungsi orgasme sering terjadi, tetapi bila satu segi dari
respons seksual wanita yang terkena yang lainnya juga akan terganggu.1

BAB II

PEMBAHASAN

1
Disfungsi seksual meliputi berbagai gangguan dimana individu tidak mampu berperan
serta dalam hubungan seksual seperti yang diharapkannya. Gangguan tersebut dapat berupa
kekurangan minat (interest), kenikmatan (enjoyment), gagal dalam respon fisiologis yang
dibutuhkan untuk interaksi seksual yang efektif (misalnya, ereksi), atau tidak mampu
mengendalikan atau mengalami orgasme. Respon seksual adalah suatu proses psiko-somatik,
dan kedua proses.3
Menurut Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa edisi III, disfungsi
seksual dibagi menjadi 10 golongan, yaitu :

A. Kurang atau Hilangnya Nafsu Seksual


Hilangnya nafsu seksual merupakan masalah utama dan tidak merupakan gangguan
sekunder dari kesulitan seksual lainnya, seperti kegagalan ereksi atau disareunia.
Berkurangnya nafsu seksual tidak menyingkirkan kenikmatan atau gairah seksual, tetapi
menyebabkan berkurangnya aktivitas awal seksual.4
Gangguan ini termasuk juga gangguan hasrat seksual hipoaktif yang ditandai dengan
defisiensi atau tidak adanya fantasi seksual dan hasrat untuk melakukan aktifitas seksual.
Gangguan hasrat seksual hipoaktif lazim ditemukan dari pada gangguan keengganan seksual,
dan sering terjadi pada perempuan dibanding laki laki. Berbagai faktor penyebab dikaitkan
dengan gangguan hasrat seksual. Pasien dengan masalah hasrat seksual sering menggunakan
hambatan hasrat dengan defensif untuk melindungi rasa takut yang tidak disadari akan seks.
Sigmund Freud mengkonsepkan hasrat seksual yang rendah sebagai akibat inhibisi selama
fase perkembangan psikososial falik dan konflik odifus yang tidak terselesaikan.4

B. Penolakan dan Kurangnya kenikmatan Seksual


1. Penolakan Seksual
Bila berhubungan seksual disertai oleh perasaan negatif yang hebat, yang
menimbulkan perasaan takut dan cemas sehingga aktifitas seksual dihindari

2. Kurangnya Kenikmatan Seksual


Hubungan seksual berjalan normal, begitu pula orgasme dicapai akan tetapi
hal tersebut tidak mendatangkan kenikmatan. Biasanya lebih banyak terjadi pada
perempuan dari pada laki laki.

C. Kegagalan dari Respons Genital


2
Pada laki laki, masalah utama adalah disfungsi ereksi, misalnya kesulitan untuk
terjadinya atau mempertahankan ereksi yang memadai untuk senggama yang memuaskan.
Bila ereksi terjadi normal pada situasi tertentu, misalnya selama masturbasi atau diwaktu
tidur atau dengan pasangan lain, maka biasanya penyebabnya adalah psikogenik. Bila tidak,
diagnosis yang benar adalah disfungsi ereksi non-organik tergantung pada pemeriksaan
khusus atau respons terhadap pengobatan psikologis. Pada perempuan, masalah utama adalah
kekeringan vagina atau kegagalan pelicinan. Penyebabnya dapat psikogenik atau patologis
atau kekurangan hormon estrogen.
Disfungsi ereksi merupakan ketidakmampuan pria untuk memperoleh ereksi dan atau
mempertahankan ereksi hingga koitus selesai.1 Gangguan ini dahulu disebut impotensi.
Seorang lakilaki dengan gangguan ereksi seumur hidup tidak pernah mampu mendapatkan
ereksi yang cukup untuk insersi ke dalam vagina. Pada gangguan ereksi lakilaki yang di
dapat, seorang lakilaki pernah berhasil melakukan penetrasi vagina pada suatu waktu di
dalam kehidupan seksualnya, tetapi di kemudian hari tidak mampu melakukannya. Pada
gangguan ereksi situasional, seorang lakilaki mampu melakukan hubungan seksual pada
situasi terentu, tetapi tidak dapat melakukannya pada situasi lainnya.4
Penyebab gangguan ereksi pada laki laki dapat organik maupun psikologik atau
bahkan kombinasi keduanya, tetapi pada laki laki berusia muda dan pertengahan,
penyebabnya biasanya psikologis. Pada dasarnya disfungsi ereksi terbagi dalam dua faktor
penyebab, yaitu psikis dan organis. Penyebab faktor psikis biasanya dilatarbelakangi oleh
faktor kejenuhan, kejengkelan, kekecewaan, hilangnya daya tarik terhadap pasangan, trauma
seksual hingga rasa takut gagal yang terpicu dari kurangnya rasa kepercayaan diri. Mayoritas
penderita gangguan ereksi yag disebabkan oleh faktor psikis yaitu laki-laki pada usia
produktif. Untuk faktor penyebab organis, gangguan ereksi biasanya terkait penyakit seperti
diabetes, hipertensi, hiperkolesterol, pasca-operasi prostat dan penyempitan pembuluh darah.
Faktor usia juga dapat mempengaruhi dimana semakin tua usia semakin besar risiko
gangguan ereksi. Kecenderungan penderita gangguan ereksi yang disebabkan oleh faktor
organis yaitu laki-laki yang berusia di atas lima puluh tahun. Adapun penyebab-penyebab
gangguan ereksi pada laki-laki, antara lain:
a. Kelainan pembuluh darah
Agar dapat menegang, penis memerlukan aliran darah yang cukup. Karena itu
penyakit pembuluh darah (misalnya aterosklerosis) dapat menyebabkan impotensi.

3
Impotensi juga bisa terjadi akibat adanya bekuan darah atau akibat pembedahan
pembuluh darah yang menyebabkan terganggunya aliran darah arteri ke penis.
b. Kelainan persarafan
Kerusakan saraf yang menuju dan meninggalkan penis juga bisa menyebabkan
impotensi. Kerusakan saraf ini dapat terjadi akibat:
1) Cedera Diabetes melitus
2) Sklerosis multiple
3) Stroke
4) Obat-obatan
5) Alkohol
6) Penyakit tulang belakang bagian bawah
7) Pembedahan rektum atau prostat
c. Obat-obatan
Risiko gangguan ereksi meningkat seiring dengan kebiasaan mengonsumsi
narkotika, obat zat psikotropika, antidepresi (litium), obat penenang, dan hormon. Serta
dapat juga dipicu dari konsumsi obat-obatan anti-hipertensi dan antigastritis (simetidin).
d. Kelainan pada penis
e. Masalah psikis yang mempengaruhi gairah seksual

Pada gangguan ereksi, tanda-tandanya adalah sebagai berikut:


a. Tidak mampu ereksi sama sekali atau tidak mampu mempertahankan ereksi secara
berulang (sedikitnya selama 3 bulan)
b. Tidak mampu mencapai ereksi yang konsisten
c. Ereksi hanya sesaat

Disfungsi ereksi dapat diobati tanpa pembedahan. Jenis pengobatan yang ada
tergantung kepada penyebab primernya. Selain itu ditujukan pula untuk memperbaiki fungsi
ereksi. Tidak sedikit kasus gangguan ereksi tidak memerlukan obat, terutama pada kasus
gangguan ereksi karena faktor psikologis. Disamping itu, peran pasangan sangat penting
untuk membantu pemulihan gangguan ereksi.

D. Disfungsi orgasme

4
Yakni orgasme yang sangat lambat terjadi atau sama sekali tidak terjadi. Lebih sering
terjadi pada wanita.1 Ada banyak hal yang bisa menjadi penyebab seorang wanita tidak bisa
mencapai orgasme, baik organik maupun psikis yakni antara lain:
1. Pernah mengalami kekerasan seksual atau pemerkosaan;
2. Aktifitas seksual yang menjemukan;
3. Mengkonsumsi obat-obatan seperti fluoksetin, paroksetin, atau sertralin;
4. Penyakit hormonal, menopause, atau penyakit kronik yang mempengaruhi hasrat
seksual;
5. Penyakit yang mengenai saraf panggul misalnya multipel sklerosis, neuropati
diabetik, dan cedera sum-sum tulang belakang;
6. Kelelahan berlebihan dan stres;
7. Sikap negatif terhadap seks, biasanya muncul sejak masa anak-anak atau remaja;
8. Malu membicarakan dengan pasangan mengenai tipe stimulasi atau gaya yang
memberi kenikmatan maksimal;
9. Perselisihan dengan pasangan atau kurangnya kedekatan emosional dengannya.
Gejala gangguan orgasme mudah diketahui, terutama oleh penderita sendiri. Gejala
tersebut yaitu tidak dapat mencapai fase orgasme, membutuhkan waktu yang lama untuk
orgasme, atau kualitas orgasme buruk.
Terapi untuk kasus-kasus ini tergantung kepada penyebab disfungsi orgasme juga
dengan terapi seks atau perbaikan teknik koitus.3

E. Ejakulasi dini
Ejakulasi dini (Premature Ejaculation) ialah pelepasan air mani (semen, sprema) pada
saat orgasme. Definisi lebih jelas yaitu pembuangan sperma yang terlalu dini atau cepat,
berlangsung saat zakar melalukan penetrasi dalam vagina atau berlangsung ejakulasi
beberapa detik sesudah penetrasi. Jadi, ejakulasi premature adalah peristiwa terlampau cepat
mengeluarkan sperma pada saat intromissi, dan pihak pria tidak mampu menahan dorongan
ejakulasi di dalam vagina selama beberapa detik. Hal ini dapat terjadi sebelum, pada saat,
atau segera setelah penetrasi, tetapi sebelum pria tersebut menginginkannya. Pada umumnya
ejakulasi dini tersebut disebabkan oleh rasa tidak aman dan rasa kurang percaya diri.
Peristiwa sedemikian biasanya antara lain disebabkan oleh kegagalan-kegagalan tertentu
dalam kariernya. Mungkin juga disebabkan oleh isteri yang terlalu dominan dan banyak
menuntut, keras, dan suka menghina suami. Bisa pula disebabkan oleh rasa berdosa atau
bersalah pada pihak pria yang bersangkutan. Ejakulasi dini ini merupakan bentuk impotensi
5
lain yang tidak terlalu parah. Pengalaman ejakulasi dini yang sesekali terjadi, misalnya ketika
pria tersebut bersama pasangan yang baru, memiliki kontak seksual yang jarang, berada pada
spectrum normal.5
Penyebab organic jarang dijumpai sedang kebanyakan penyebab bersifat psikis, juga
dapat sebagai reaksi psikologis akibat gangguan organik, misalnya kegagalan ereksi atau
nyeri ereksi.1,3 Penyebab lain yang bersifat negative cultural conditioning yaitu akibat si pria
yang terlalu tergesa-gesa dan pengalaman pertama seks yang tergesa-gesa pula, misalnya
koitus dengan wanita tuna susila atau koitus yang dilakukan dengan curi-curi kesempatan
yang disertai rasa ketakutan. Seringkali ejakulasi dini dikaitkan dengan ansietas dan rasa
bersalah. Penyebab yang bersifat psikis misalnya rasa bersalah dibidang seks,
perfeksionisme, pengharapan yang tidak realistik dalam seks, hipersensitif dalam relasi
interpersonal dan konflik orangtuaanak. Penelitian mutkahir mendapatkan adanya
predisposisi biologik pada pria-pria dengan ejakulasi dini. Mereka ini secara konstitusional
mempunyai keterangsangan berlebih dari susunan saraf simpatik sehingga lebih cepat
berejakulasi. Pada mereka yang seumur hidupnya menderita ini terdapat masa laten saraf
bulbokavernosa yang lebih pendek.2
Diagnosis dapat ditegakkan apabila terdapat keluhan terjadinya ejakulasi sebelum hal
itu dikehendaki. Penderita akan merasa frustasi dan kecewa akibatnya.2
Terapi dapat berupa obat-obatan berupa antidepresan atau antipsikotik ringan. Terapi
seks berupa latihan-latihan dengan teknik pencet (squeeze technique). Umumnya hasil terapi
dengan terapi seks adalah baik.2

F. Vaginismus
Vaginismus adalah berkontraksinya otot-otot sepertiga bagian luar vagina yang
menyebabkan tertutupnya liang vagina, sehingga sulit terjadi intromisi penis atau nyeri. 1,2
Pada peristiwa lainnya yang sangat luar biasa, kontraksi vagina itu berlangsung begitu
hebatnya, sehingga penis terjepit dan terperangkap sehingga tidak bisa keluar dari vagina.
Terjadilah apa yang disebut penis captivus. Peristiwa vaginismus bisa timbul spontan tanpa
disadari, bisa reflektif sewaktu zakar melakukan penetrasi, atau sewaktu berlangsung emossio
penis (zakar mengeluarkan mani) atau berlangsung pada waktu diadakan pemeriksaan
ginekologis.3,4,5,6
Orang mengenal 4 macam bentuk vaginismus: 5
a. Vaginismus reflektif primer, yang terjadi pada saat melakukan coitus pertama kali.

6
b. Vaginismus reflektif sekunder, disebabkan kelainan somatic atau gangguan
organis. Pada mulanya wanita yang bersangkutan mampu melakukan coitus biasa.
c. Vaginismus psikogen primer. Pada peristiwa coitus pertama, yang bersumber
pada sebab-sebab psikis (ketakutan dan kecemasan yang hebat, rasa berdosa)
d. Vaginismus psikogen sekunder. Pada awalnya wanita yang yang bersangkutan
mampu melakukan coitus. Akan tetapi sesudah beberapa waktu lamanya timbul
gejala vaginismus, disebabkan oleh rasa penolakan secara sadar atau tidak sadar
untuk melakukan coitus, dan ada rasa antipasti atau rasa-rasa tidak mapan
terhadap partner seksnya.
Rasa takut terhadap nyeri dispareunia merupakan motivasi primer bagi penyandang
vaginismus untuk abstinensia atau menghindari secara aktif hubungan seksual. Pasalnya,
sebagian besar atau sekitar 80 persen kasus vaginismus menimbulkan rasa nyeri yang
signifikan pada saat sanggama (sexual intercourse). Secara naluriah, rasa nyeri selalu
dihindari oleh siapa pun.
Penegakan diagnosis perlu keikutsertaan pemeriksaan medis ginekologis, khususnya
oleh dokter spesialis obstetric dan ginekologi. Tujuannya untuk mencari penyebab kelainan
fisik organik yang memicu vaginismus. Bila ditemukan adanya kelainan fisik khususnya pada
organ vagina maka dugaan diagnosis menjadi gugur (eksklusi), namun menjadi jalur untuk
terapi penyakit fisik atau komorbiditas yang melatari. Mengingat pada kasus vaginismus yang
psikogenik, struktur anatomi organ reproduksi wanita dalam keadaan normal.
Lantaran faktor psikis dan fisik (mind and body) berkontribusi penting, maka
rekomendasi terapi akhir-akhir ini meliputi fisioterapi otot panggul, obat-obatan medis,
psikoterapi, terapi kognitif tentang seksualitas atau kombinasi dari keempat terapi tersebut.
Fisioterapi otot panggul semata dapat mencapai kesembuhan pada sekitar 80 persen kasus.
Pada sejumlah kasus yang refrakter (sulit disembuhkan), suntikan larutan pelumpuh otot
botox (botulinum toxin) menunjukan efektivitasnya.
G. Dispareunia
Dispareunia berasal dari kata Yunani kuno yang berarti sulit kawin atau menikah (diffi
cult mating) atau jodoh yang buruk apapun penyebabnya, pasangan buruk yang tidak selalu
serasi/harmonis. Istilah dyspareunia dahulu pernah dipakai di Inggris hanya untuk mengacu
ke nyeri senggama dengan penyebab organic. Dispareunia berarti nyeri alat kelamin yang
menetap atau berulang, yang berkaitan dengan hubungan seksual (masuknya penis ke vagina)
atau upaya memasukkan objek ke vagina (baik sebagian atau keseluruhan), yang menyulitkan

7
diri sendiri atau menimbulkan ketidaknyamanan. Makna lain dispareunia adalah sensasi nyeri
saat vagina sedang atau telah lengkap dimasuki, pengalaman nyeri selama persetubuhan
(sexual intercourse) dan/atau nyeri nonseksual dengan penetrasi vagina,5 atau nyeri alat
kelamin yang dialami sebelum, selama, atau setelah senggama.7
Sekitar 4% dari 4100 wanita telah menikah mengalami dispareunia, dan 73% di antara
mereka memiliki penyebab fisik primer. Di Indonesia, angka dispareunia belum diketahui
pasti mengingat hambatan sosiokultural, sebagian masyarakat masih tabu membicarakan
masalah/problematika seks, banyak wanita enggan berbicara terbuka dengan pasangannya,
terlebih lagi untuk ke dokter. Hal ini merupakan hambatan terbesar penatalaksanaan kasus
ini.7
Beberapa penyebab dispareunia antara lain, yaitu :
1. Vulva
Beberapa kondisi di vulva yang dapat menyebabkan dispareunia:
a. Selaput dara tertutup (imperforate hymen); kejadian ini dialami 1 dari 1000
hingga 1 dari 10.000 wanita
b. Radang vulva menahun disertai jamur (chronic yeast vulvitis)
c. Penyakit vulvar vestibulitis
d. Penyakit kulit apa pun di vulva (eksim, psoriasis, dsb.)
e. Episiotomi yang kurang sempurna
f. Inflamasi dan/atau infeksi
g. Perlekatan (adhesi) klitoris
h. Kista atau abses kelenjar Bartholini
i. Condyloma acuminate
j. Kraurosis vulvae
k. Kurang menjaga kesehatan dan kebersihan kelamin.

2. Vagina
Beberapa kondisi di vagina yang dapat menyebabkan dispareunia
a. Kurang lubrikasi
b. Infeksi jamur menahun,
c. Vaginismus
d. Alergi terhadap douche atau kontrasepsi
e. Radiasi

8
f. neoplasma
g. Iatrogen, misalnya operasi perbaikan ruang anterior, posterior terlalu
sempit/rapat
h. Atrofi pascamenopause (terjadi penurunan lubrikasi dan elastisitas).
3. Pelvis (rongga panggul)
Beberapa kondisi di pelvis dan sekitarnya yang dapat menyebabkan dispareunia
a. sembelit/konstipasi; proctitis
b. interstitial cystitis
c. pelvic varicosities
d. endometriosis
e. sel telur di dalam cul-de-sac
f. perlekatan peritoneum.
1. Obat
Penggunaan antihistamin jangka panjang dapat menghambat lubrikasi vagina.
Penggunaan antibiotik jangka panjang memungkinkan timbulnya infeksi jamur
kronis. Kontrasepsi hormonal (kontrasepsi oral, transdermal patch, vaginal ring)
berkaitan erat dengan vestibulodynia (dahulu disebut vestibulitis), penyebab
paling umum dispareunia pada wanita premenopause. Pada studi kasus kontrol,
wanita pengguna kontrasepsi oral berpeluang 9,3 kali terkena vestibulodynia
dibandingkan kontrol. Kontrasepsi oral dapat menyebabkan vestibulodynia
karena menurunkan kadar testosteron bebas bersirkulasi yang membahayakan
epitel vestibuli vulva. Medikasi psikotropik juga dapat menjadi penyebab
hypoactive sexual desire disorder (HSDD) dan female sexual arousal disorder
(FSAD). Baik HSDD maupun FSAD dapat berkontribusi terhadap dispareunia
karena efek pada lubrikasi vagina.7

5. Psikis (Psikogenik)
Beberapa faktor psikis pencetus dispareunia, seperti3:
a. Riwayat trauma seksual, misalnya: incest, diperkosa
b. Persetubuhan sebelumnya nyeri, dengan alasan/penyebab apapun
c. Rasa takut, cemas (ansietas) berlebihan
d. Rasa bersalah (konflik dengan keluarga, agama, sistem nilai, adat-istiadat,
sahabat, kerabat, dsb), ketidaktahuan (harapan penampilan yang tak realistik,
fantasi seksual berlebihan, misinformasi seksualitas dan hubungan sosial, dsb),

9
faktor lingkungan (kejenuhan, tidak ada keleluasaan pribadi atau privacy,
preokupasi karir atau orangtua, kurangnya waktu, kurangnya kehangatan dan
kebersamaan)
e. Problematika pernikahan, misalnya penderitaan, tekanan, ketidakharmonisan,
dan sebagainya.
6. Faktor psikososial
Meliputi faktor perilaku (behavioural), kognitif, dan afektif. Pada studi yang
melibatkan lebih dari 1400 remaja wanita, mereka yang dispareunia setidaknya
dalam 6 bulan terakhir, lebih banyak melaporkan riwayat siksaan seksual di masa
lalu (past sexual abuse), ketakutan terhadap siksaan fi sik, dan ansietas bila
dibandingkan dengan kontrol. Penyiksaan atau trauma seksual dan fisik di masa
anak (severe physical or sexual childhood abuse) berisiko 4-6 kali lipat menjadi
dispareunia dan nyeri genital di masa dewasa.
7. Penyebab Lain
Pseudokista pankreas adalah komplikasi pankreatitis akut dan biasanya
bermanifes nyeri abdomen. Ada laporan kasus pria 45 tahun dengan riwayat
pankreatitis akut merasakan nyeri abdomen, dispareunia, dan ada massa di inguinal
yang teraba dengan palpasi. Hasil pemeriksaan mengungkapkan pseudokista di
rongga pelvis menuju kanalis inguinalis, menekan struktur pelvis dan inguinal.
Mioma uteri dan adenomiosis belum dapat dipastikan sebagai penyebab utama deep
dyspareunia. Penyebab dispareunia multidimensi, berkaitan dengan aspek biologis,
medis, psikologis, sosiokultural, dan interpersonal. Pada pria, dispareunia
disebabkan oleh :
a. Radang/infeksi penis, skrotum, saluran kemih, kelenjar prostat.
b. Bagian benang alat kontrasepsi dalam rahim (IUD atau spiral). Bisa pula karena
gesekan kondom, atau iritasi/rangsangan zat kimia yang ada pada kondom.
c. Psikis; rasa bersalah, cemas berlebihan, takut pasangan menjadi hamil. Kondisi
fisik yang berkaitan dengan dispareunia kronis (menahun)

H. Dorongan seksual yang berlebihan


Pria dan wanita kadang-kadang mungkin mengeluh mengenai dorongan seksual yang
berlebihan (hiperseks) yang menjadi masalah tersendiri dan timbul biasanya pada akhir masa
remaja atau pada dewasa muda. Bila keadan ini sekunder dari suatu gangguan afektif (F30-

10
F39) atau bila timbul saat awal demensia (F00-F03). Yang termasuk dalam golongan ini
adalah nimfomania dan satyriasis.1

J. Disfungsi seksual YTT, bukan disebabkan oleh gangguan atau penyakit organik
Kategori ini mencakup disfungsi seksual yang tidak dapat digolongkan kedalam
kategori yang telah dijelaskan di atas. Contohnya mencakup orang yang mengalami
komponen fisiologis gairah seksual dan orgasme tetapi melaporkan tidak adanya sensasi
erotic atau bahkan anastesia (anhedonia orgasmic). Perempuan dengan keadaan yang
menyerupai ejakulasi dini pada laki-laki juga digolongkan di sini.4
Perempuan yang mengalami orgasme dan menginginkan orgasme multiple, tetapi
tidak mengalaminya dapat digolongkan juga di sini. Di samping itu, gangguan disfungsi
berlebihan, bukannya hambatan, seperti masturbasi atau koitus kompulsif (adiksi seks), atau
mereka yang mengalami nyeri genital saat masturbasi dapat digolongkan di sini. Gangguan
lain yang tidak dirinci ditemukan pada orang yang memiliki lebih fantasi seksual yang
mereka rasakan salah atau disforik, tetapi kisaran fantasi seksual yang lazim sangat luas.4

BAB III
KESIMPULAN

Disfungsi seksual meliputi berbagai gangguan dimana individu tidak mampu


berperan serta dalam hubungan seksual seperti yang diharapkannya. Disfungsi seksual bisa
didapati pada laki laki maupun perempuan, pada suami istri bisa pula pada kedua suami
istri bersamaan sebagai sebab akibat. Gangguan tersebut dapat berupa kekurangan minat
(interest), kenikmatan (enjoyment), gagal dalam respon fisiologis yang dibutuhkan untuk
interaksi seksual yang efektif (misalnya, ereksi), atau tidak mampu mengendalikan atau
mengalami orgasme. Penyakit ini dibagi menjadi 10 kategori berdasarkan hirarki. Terapi pada
pasien dengan disfungsi seksual dapat berupa psikoterapi dan psikofarmaka.

11
DAFTAR PUSTAKA

1. Depkes RI. Pedoman Penggolongan Dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III.
Jakarta: Depkes RI Direktorat Jendral Pelayanan Medik. 1993
2. Anonim. Gangguan Identitas dan Jenis Kelamin.Scrib [serial on the internet] 2013.
[cited 2013 juni 10] Hal. 1-14 . Available from:
http://id.scribd.com/search?query=Gangguan+Identitas+Jenis+Kelamin
3. Elvira SD, Hadisukanto G. Buku Ajar Psikiatri. Jakarta: Badan penerbit FKUI. 2013
4. Sadock BJ, Sadock VA. Seksualitas Manusia. Muttaqin H, Sihombing RNE, Editor.
Kaplan & Sadock Buku Ajar Psikiatri Klinis. 02th ed. Jakarta : EGC; 2010. Hal. 298-
22
5. Maramis FM, Maramis AA. Sexualitas Normal dan Abnormal Edisi 2. Surabaya :
Airlangga University Press. 2009. Hal. 343-65
6. Maslim, R. Diagnosis Gangguan Jiwa, rujukan Ringkas PPDGJ-III. Edisi 1. Jakarta :
PT. Nuh Jaya. 2001. Hal. 96-97; 111-15.
7. Anurogo D. Memahami Dispareun. Jakarta : Universitas Surya. 2013. Vol. 40 No.7.

12
13