Anda di halaman 1dari 30

Nama : Marina Rahmayanti

NIM : 1311441013

Kelas : Pend. Matematika ICP A

RANGKUMAN PROFESI KEGURUAN

BAB I

A. Masalah Guru

Diawal tahun pelajaran, orang membicarakan mengenai besaran biaya pendidikan, dan itu
pun mengarah pula pada perilaku guru sebagai bagian dari pengelola pendidikan. Sedangkan
di tengah perjalanan kalender pendidikan, banyak orang yang berbicara mengenai pelayanan
pendidikan. Kemudian diakhir kanlender pendidikan, banyak orang mempertanyakan
mengenai mutu lulusan pendidikan.

Dalam masyarakat kita, kerap dikenal ada peribahasa guru itu adalah wajib digugu dan
ditiru. Digugu artinya didengar, diikuti, dan ditaati, dan makna ditiru yaitu dicontoh. Dengan
penjelasan seperti ini, maka posisi guru itu mengandung makna sosial yang sangat tinggi.

B. Bagian dari Struktur Sosial

Membicarakan guru tidak bisa lepas dari knteks pendidikan sebagai pranata sosial
(social institution). Oleh karena itu pula, dalam menjelaskan posisi guru pun perlu
didudukkan dalam peta pranata sosial yang ada saat ini. Risiko yang berbeda, dan/atau peta-
posisi yang berbeda, karena adanya perbedaan struktur sosial yang berbeda. Tetapi, dengan
memahami struktur sosial masyarakat itu pulalah, kita akan memahami harga guru dan/atau
posisi guru yang sebenarnya.

Dihadapan peserta didik, guru memiliki posisi tertentu, dan dapat dibedakan dari
posisi sosial kelompok sosial (pegawai tata usaha, sekuriti) maupun yang lainnya. Dalam
konteks ini, duru dapat dilihat dari posisi sosial sebagai pendidik, pejuang, birokrat, profesi
dan pelaku sosial. Kelima posisi sosial ini, tampaknya merupakan posisi sosial guru yang
menonjol, selain ada peran-peran anomalis dari praktik keguruan di Indonesia.

C. Guru sebagai Pejuang


Pada konteks itu, guru adalah pelaku aktif dalam kegiatan politik-kebangsaan, menuju
Indonesia merdeka. Guru adalah energi utama dalam menggerakkan massa, dan
mempertahankan bangsa Indonesia dari rongrongan para penjajah.

Kemudian dilihat dari konteks nasionalnya, para penggerak itu selain lahir dari para pemuda
terdidik, juga terlahir dari sekolah-sekolah, baik sekolah di dalam negeri maupun di luar
negeri. Ketercerahan pemikiran para pemuda Indonesia waktu itu, yang kemudian mendorong
dirinya menjadi pahlawan-pahlawan bangsa ini, merupakan bukti nyata bahwa pendidikan,
dan guru secara pribadi, merupakan tokoh pejuang yang tidak bisa dihapuskan dalam konteks
sejarah dan perjuangan bangsa Indonesa

D. Guru sebagai Pendidik

Guru sebagai pendidik maksudnya adalah posisi sosial guru benar-benar hanya dalam
ruangan ukuran 8x8 m. Tidak di luar kelas. Hanya di kelas itulah, guru berperan. Dalam
ruanagan berukuran kecil itulah, guru memberikan petuah dan ajarannya mengeni berbagai
hal, terkait dengan mata pelajaran yang diampunya kepada peserta didik. Pada saat
menjelaskan guru sebagai pendidik.

E. Guru sebagai Birokrat

Sebagai birokrat pendidikan, guru tidak memiliki kebebasan akademik, kebebasan mimbar,
atau kebebasan kelas. Dalam setiap tindak tanduknya, seorang guru birokrat amat sangat
dipengaruhi oleh kepentigan pimpinannya. Hal yang tampak kasat mata, adalah dalam
kriteria kenaikan kelas aatau kriteria kelulusan.

F. Guru sebagai Profesi

Perkembangan selanjutnya, posisi guru mengarah dan mewujudkan menjadi sebuah profesi.
Penyebutan profesi guru memang sudah lama dikenal di Indonesia. Tetapi, istilah profesi itu
lebih mengacu pada makna pekerjaan yang dijadikan sebagai mata pencaharian, dan tidak
lebih dari itu.

profesi adalah jabatan atau pekerjaan yang menuntut keahlian dan etika khusus serta baku
(standar) layanan. Secara rinci, kedua pemikir ini dengan merujuk pandangan dari National
Education Association (NEA), menyebutkan ada delapan kriteria, sebuah pekerjaan disebut
profesi, yakni (1) jabatan yang melibatkan kegiatan intelektual, (2) jabatan yang menggeluti
batang tubuh ilmu yang khusus, (3) jabatan yang memerlukan persiapan latihan yang lama,
(4) jabatan yang memerlukan latihan dalam jabatan yang sinambung, (5) jabatan yang
menjanjikan karir hidup dan keanggotaannya yang permanen, (6) jabatan yang menentukan
standar etika (baku) oleh kelompok sendiri, (7) jabatan yang mementingkan tatanan di atas
keuntungan pribadi, dan (8) jabatan yang mempunyai organisasi profesi yang kuat dan
terjalin rapat.

G. Guru sebagai Pelaku Sosial

Guru adalah pelaku sosial di masyarakat. Dengan adanya guru pula, proses sosial di
masyarakat mengalami perubahan. Pada posisi inilah, guru adalah pelaku sosial dan pelaku
utama dalam proses rekayasa sosial atau pembaharuan masyarakat. Guru adalah agen
perubahan (agent of changes) termasuk sekaligus menjadi bagian penting dari perubahan
sosial.

H. Anomalia Profesi

Selain hal-hal yang dikemukakan, ada pula fenomena sosial lebih tepatnya perilaku guru,
yang dianggap kurang mencerminkan makna atau status profesi guru itu sendiri. Perilaku-
perilaku guru dimaksud, pada satu sisi berkembang sebagai sebuah reaksi terhadap kebutuhan
hidup, dan pada sisi lain sebagai respon terhadap perkembangan zaman.

I. Guru Pendamping

Guru berposisi sekadar pendamping peserta didik. Tidak lebih dari itu. Guru bukanlah
manusia super (superman) yang memiliki kemampuan sempurna, dan/atau kemampuan lebih
segala-galanyamengenai masalah pendidikan. Guru di hadapan peserta didik, hanyalah
sekedar pendamping peserta didik dalam mempelajari sesuatu.

J. Guru Pebisnis

Guru berbisnis itu bukanlah sebuah pelanggaran. Guru berbisnis adalah sebuah hak. Itu sah-
sah saja. Menggunakan kewenangannya, memaksa pesserta didik untuk membeli
kewenangannya, memaksa pesserta didik untuk membeli kewenangannya, memaksa peserta
didik untuk membeli sebuah buku atau diktat/LKS dari sebuah buku atau diktat/LKS dari
sebuah penerbit tertentu untuk kepentingan pribadinya.

Chapter 3_Opening Teachers Freedom of Thinking as a Certainty


When we talk about the position of the teachers, it means we are discussing about the
functional versus structural task of the profession. Some people may say that teachers have
no right to plan, make, and supervise the policies, but if we analyze it well, we will find that
teachers indeed have right to plan, make, apply, as well as supervise the educational policies.
But still, what kind of task and position teachers are in when they do that? Does he/she act as
a teacher (functional) or as a bureaucrat?
In the school, we can identify the teacher into two, which are the functional teachers,
and administrational teachers. Which one is that bureaucratic teacher? We can analyze that by
the nature of teacher profession itself. Teacher profession has some ethical codes of
profession, which are divided into two main freedoms, freedom of speech and freedom of
thinking. Freedom of speech relates to the control teachers have in the class, as well as the
application of teachers own opinions and personal paradigm, while freedom of thinking
relates to the way teachers explain the topic they teach as well as interpret the phenomena of
life.
What kind of teachers a bureaucrat is? They are not pure teachers, because they have to
obey the government (limited in the freedom of speech and thinking). A good teacher is not a
pure bureaucrat, but a functional bureaucrat with his/her own freedom of speech, academic,
and profession. What does that mean? That means when a teacher has to choose which task
he/she has to do first, he/she will prioritize the functional task as a pure teacher, not as a
bureaucrat. If this thought is not applied well to the teachers, then we will find some cases of
bureaucratic in teacher profession like becoming a bureaucratic puppet of the government, or
even turning into a total bureaucrat that will not participate in education world anymore.
Theological study done by the author to analyze how the freedom of speech and
thinking truly are. Process of human creation, as well as an event that happened during the
era of Prophet Muhammad (peace be upon him), Isra Miraj become the focuses of this study.
The conclusions of this study are:
a Allah still gives the chances to His creatures to state their own personal thinking
(opinions, complaints, or protests) related to His wisdoms;
b Allah gives some rooms for critical thinking of His creatures related to His wisdoms
(to lighten the tasks of His creatures);
c The chances given by Him have to be done with sincere and gratefulness.
Related to the culture of freedom of speech and thinking, the author personally thinks
that there is a need to accustom those cultures to the Indonesian students. The application of
these cultures can be done by always thinking positively toward the opinions, critics, abuses,
as well as the questions given by the teachers or the other students. Aside from the creativity,
these cultures can develop better quality students.

CHAPTER V

Trap Master in Administration and Professionalism.

1 Teachers and administration.


SOETJIPTO AND RAFLIS (2007: 146) asserts that teachers 'understanding of the administration (curriculum), will be very helpful in translating the

curriculum to students' learning experience, understanding of the administration of student affairs will greatly assist them in performing their duties

to process these students become graduates of high quality, understanding on the management of personnel will assist efforts to develop their

personal and professional, and understanding of the management of the facilities and prsarana help gain deeper insight into how it can play a role in

planning, use and evaluate the infrastructure and facilities available so that the infrastructure and facilities can be used optimally, an understanding of

the ins and outs of financial administration to assist teachers in setting priorities for its operation, the understanding of the relationship of the school

and the community will help teachers in the business community so intertwined the good cooperation between the two.
Having regard to the various views and theories, it can be argued that what is meant administration (Soetjipto and Kosasi, 2007: 118-124), such as:
a Administraasi education implies cooperation to achieve the goal of education
b Process for educational purposes
c Administration of education can be defined as a frame system
d Administration of education as a management
e Administration interpreted as a leadership education.

Among the important issues, administrative issues of curriculum, more specifically associated with learning problems, is an important and a major

part in running the teaching profession. Administrative component of this curriculum, in addition to administrative and student assessment, an

important part of the routine activities of teachers in carrying out his profession.

seen from the history and development of the curriculum, the educational curriculum Indonesia is included in the category of dynamic curriculum.

Called dynamic, because the curriculum is undergoing many changes and developments along with the times and national needs. As a result of the

development and curriculum changes that, sometimes leading to routine activities of teachers in the field has many obstacles in preparing and

making the administration of education.

The problem is very confusing teachers are associated with the administration and keprofesiaannya. Call it one of the administration which should

include the teacher is the RPP. But on making lesson plans teachers are always required in accordance with procedures which are sometimes too

rigid in developing the creativity of teachers. However, the more unique, the composition and structure as it is, that's the RPP considered benaar, this

condition is very alarming our education, because it will be in the end, both teachers and education supervisors more concerned with words of

exploration, elaboration, and confirmation. With the presence of the words in question, already considered true. No matter the substance or its

contents, or correspondence between the explanation of the term it uses.


2 The process of training in Indonesia
a a professional (such as teachers or doctors) are monitored and verified by a professional again. In the health bureau, the majority of employees

are background in health education. Therefore, when doing any verification or monitoring, they have a common understanding, and a grove.
b a professionally supervised and verified by bureaucrats. As it happened in the world of education. Professional teachers supervised and

verified by the staff of the Head of education in the educational environment ministry of religion, and give the field of primary and secondary

education in the environment ministries of education and national culture.


In this second type, there are potential gaps insights and experiences. Because however well, a bureaucrat will be different insights with

insights of a professional, especially when working life, backgrounds and levels of education are different. Case in point, there was a teacher

with two strata of education, work experience of 10 years, clarified by the staff of bureaucrats with tenure of less than 5 years, and not the

background of the field of education. How is all of this?


c a bureaucrat monitored or verified by professionals. In general, PIM TRAINING (education and leadership training, for one echelon)

particular, there are several sessions are filled from professionals. It is hoped a variety of the latest information in the development of science,

and new perspectives in science can be delivered to bureaucrats.


d a bureaucrat didiklat by bureaucrats again. This type, is an ideal type in explaining the character of the bureaucracy by the bureaucrats back.

In this regard, this discourse would like to emphasize that the teacher is functional, in truth must be verified by functional group again. Moreover, the

problem of professionalism, it must diverifikasinya by professional organizations, and not by the bureaucracy.

3 Professional organizations
Important aspects that need careful attention, is to empower professional organizations. At the national educational environment, there PGRI

(Persatuan Guru Republik Indonesia), then in madrasas there PGM (Madrasah Teachers' Association) 2, then there APGI (Geography Educators

Association of Indonesia). These are some examples of existing professional organizations in the community.
But the thing is certain, professional organizations, have not really functioning as a professional organization such as the Indonesian Doctors

Association (IDI), Indonesian Bar Association (IAI), or social organizations that simply carry out activities ceremonial, and no less a real

contribution to efforts to increase the role of professional organizations.


In the Education Law said that each teacher shall be a member of any professional organization. It shows that these professional organizations, is

expected to provide protection and / or empowerment of its members. Due to the active and impotent organization this potential, is expected to issue

professional verification can be done by professional organizations themselves, and not by bureaucracy
4 Conclusion
Until now, although the teacher is functional, but is positioned as structurally by bureaucrats education itself. One proof that the teacher is positioned

as a bureaucrat / structural, ie during work hours, 37.5 hours as working hours of employees structural. If not specified, and not given a firmness,

then the dual nature of the sex of the teacher, which is part of the bureaucracy and the profession, will be a major issue in the future. Teachers will

still felt uncertain. When she will be creative, he will be nervous when dealing with bureaucrats, and he will be stiff that he will be dealing with

professionals.
It happened, because the pattern of communication and bureaucratic work culture among the professionals was much different. A bureaucrat tends to

carry an aura of authority, whereas a professional work culture adhering to the already established working procedures, or the code of professional

conduct had been agreed.

CHAPTER VII

PEMBERDAYAAN GURU MELALUI VITALISASI BEBAN KERJA

Hemat kata, ada empat tafsir mengenai beban kerja guru ini, yaitu (1) 24 jam tatap muka
diartika di dalam kelas, (2) didistribusi sesuai dengan enam tugas guru, (3) beban kerja guru
dapat dilaksanakan di luar satuan pendidikan induk, (4) beban kerja tersebut dapat
dilaksanakan seiring dengan diberlakukannya layanan kesejahteraan dan anggaran pendidikan
20%.

Berdasarkan analisis ini, dapat diajukan simpul pemikiran bahwa pemerintah dituntut untuk
segera mensosialisasikan peraturan pemerintah yang baru yang mendukung pada usaha
implementasi Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional tersebut. Hal-hal yang perlu
diperhatikan tersebut, diantaranya yaitu kondisi empiric, bahwa tidak semua sekolah
memiliki jumlah kelas ideal, sebagaimana yang dimungkinkan oleh pandangan kedua. Selain
itu, dalam sebuah satuan pendidikan, kadang kala distribusi guru, jumlah guru tidak merata.
Sehingga kadangkala, ada seorang guru kendatipun ditugaskan pada sebuah sekolah yang
memiliki jumlah ruang kelas sebanyak 10 ruang untuk tiap angkatanya, namun karena jumlah
tenaga pengajar di sana melebihi kuotayang semestinya (ingat ada perubahan jumlah beban
kerja dari 18 ke 24 jam) maka dia belum (tentu) memiliki jumlah jam kerja sebagaimana
yang diinginkan oleh pandangan kedua.

Berdasarakan catatan ini, dapat dikemukakan beberapa simpul pemikiranterkait dengan beban
kerja guru.

a Sebuah UU perlu dimaknai dalam satu napas. Dengan kata lain, pasal tertentu harus
dikaitkan dengan pasal lainnyabahkan dengan peraturan perundang-undangan yang
terkait. Oleh karena itu, beban kerja 24 jam sesungguhnya merupakan desahan napas
lanjutan dari kewajiban Negara untuk memberikan anggaran 20% . dengan demikian,
kewajiban guru untuk hadir di sekolah 5 atau 6 hari tidak akan menjadi penyebab
resahnya dapur (ekonomi) seorang guru. Oleh karena itu, bila pemerintah
berkehendak memaknai jam tatap muka secara indicator maka kewajiban untuk
memberikan jaminan kesejahteraan perlu dilaksanakandengan seksama.
b Hal yang lebih rasional, empiric, dan proporsional adalah memberikan penghargaan
terhadap tugas-tugas guru sebagimana yang dicantumkan dalam ayat 1 Pasal 35
sebagai bagian dari tugas jam kerja. Hal ini, selain logis juga memiliki sandaran
empiris dengan kondisi satuan pendidikan yangada di Indonesia saat ini.
c Hal yang paling strategis lagi, dengan beban kerja sebagaimana yang dikemukakan
dalam sudut pandang pertama, maka seorang guru memiliki peluang yang luas untuk
mengembangkan kompetensi dan aktualiasi dirinya. Dan mereka tidak terjebak oleh
rutinisme yang bias mematikan idealismenya sebagai tenaga pendidik.
d Sebagi sebuah profesi, pada dasarnya beban kerja seorang guru tersebut, bukan hanya
diorientasikan untuk memberikan layanan pendidikan, tetapi juga harus mnjadi sarana
pemberdayaan diri dan masyarakat. Oleh karena itu, sekali lagi perlu ditekankan
bahwa beban kerja guru harus memiliki makna sebagai sarana untuk menghasilkan
jasa dan materi, makna psikologis dan aktualisasi diri.
e Hal yang paling prinsip, pemberian beban kerja perlu dilandaskan pada upaya
pemberdayaan, bukan pengerangkengan ruang gerak guru. Terlebih lagi karena
sesungguhnya peran dan posisi guru itu bukan tugas administrasi yang menuntut
rutinisme-formalistik, melainkan lebih bersifat dinamis. Oleh karena itu, ruang gerak
untuk mendinamisir diri perlu diciptakan, sehingga setiap guru tidak memiliki
kemandegan dalam mengembangkan kemampuan intelektual dan kariernya. Pada
konteks inilah, pemberlakuan jam kerja dan tatap muka perlu memerhatikan aspek
ruang terbuka bagi aktualisasi seorang guru.
f Pemerintah wajib memberikan perhatian terhadap beban kerja diluar jam belajar
mengajar secara proporsional. Karena sesungguhnya 5/6 dari beban kerja sebagimana
dinyatakan dalam UUGD merupakan kegiatan diluar kegiatan kelas.
g Perlu ada regulasi dalam bidang pendidikan yang memerhatikan aspek sosiologis dan
visi pemberdayaan guru sebagai profesi, bukan guru sebagi birokrasi. Pendekatan
guru sebagai profesi akan memberikan ruang yang luas dalam peningkatan layanan
pendidikan bagi dunia pendidikan.

Berdasarkan pemikiran seperti ini, maka penulis merasa yakin bahwa jika ruang
aktualisasi guru terbuka dengan baik, maka pekerjaan sebagai guru benar-benar dapat
dimaknaisebagai sebuah profesi fungsional dan bukan sebagai birorat pendidkan.
Begitu pula sebaiknya, bila tuntutan eban kerja lebih ke indicator kehadiran maka
dikhawatirkan guru akan menjadi tenaga birokrat yang lenih bersifat administrative
belaka.

CHAPTER 10

STRENGTHENING THE PROFESSIONALISM OF TEACHERS: TEACHER


CERTIFICATION AND TEACHERS PROFESSIONAL EDUCATION

1. There are 5 meaning behind the certification:


There is one group that considers test sertfikasi as a form of distrust of the
assessment system of promotion / class educators.
The high interest of educators face a teacher certification is not solely driven by the
motive to improve educational services.
The presumption that the certification test is a test of the increase in well-being
queued.
When the welfare of teachers depends on the certification, education services
would be increased?
This may add to the problem of national education in general.
2. 4 important things in maintaining certification test system to ensure the birth of a
quality certification testing:
Strong commitment of all education providers of its intention to improve the
quality of education.
There needs to be a quality assurance of the instruments to be used in assessing the
object.
Firmness of the verification team.
The attitude of the teachers or certification participants in following certification
procedures are reasonable and elegant.
Model portfolio should be understood in an integrated manner, which combined
with the practice test.
3. "The passion that develops in the neighborhood of educators in the face of the
certification test is not purely academic charged or motif improved education services.
Passion that emerged was, it is a concern that has been there in the world of
education, the economic motive in the push to get salary or allowances equivalent
basic salary. "
--Momon Sudarman
4. When many teachers, both at primary and secondary education is busy collecting data
portfolio, there are people who looked casually deal. To fill the professional
development work, when faced with the task of making books, articles in the media,
or a reviewer as well as modules rather difficult lesson. We do not need to think about
the works in that form. Let these works into a pursuit for those who have time to spare
with a high interest in writing, while those of us who lack both the capital, may take a
different way. In addition, there are some people who feel shocked, terkesiah, or feel
jolted when faced with demands to make scientific work, particularly in relation to
Class Action Research (PTK). In the group's portfolio, many teachers who feel
inferior or underestimate the ability in preparing a work of PTK. And that often haunt
the candidate of class researchers is finding an appropriate title.
5. Post-implementation certification policies profession, appeared excitement working in
the academic world. If anyone could make observations to the work environment in
the world of education today, do not be surprised if you see there are a number of
social changes were whipped for professional certification policies for teachers
(educators). The change is certainly a positive indication for education. There are two
important things that should be mentioned at this time related to certification of
professional educators, namely:
Assertion and objective about what has been done so far
Who will appreciate this profession other than the "professor" himself.

CHAPTER XII
PROTECTION OF TEACHER PROFESSION

SCHOOL AS A PUBLIC SPACE

School and the campus is one of the social institutions that collect interests and
individuals thus becomes a special community, which has a unique and distinctive character.
In addition to the family, the education is not infrequently regarded as one of the communities
that are ideal for organizing the educational process of character (character building) private
person.

However, this same education environment, a variety of actions that arise, not always
in tune with the goals of education and / or the values of human rights. Even more afternoon
again, that is the apologia of the organizers of education or education actors to position the
actions and policies as part of the educational process, but in fact the actions or policies could
be regarded as an act of violence in the world of education.

When we look at the mass media or print media, often found or witnessed cases of
potential violence in the world of education, for example during the New Student Admission
(PSB), the problem of rising costs of education, the problem of democratization and
transparency, education providers, especially on campus, problems environmental and social
problems that arise spontaneously because of their particular moment, and other problems.

Along with this, especially in the context of this discourse, there needs to be a
complete mapping of acts of violence that sometimes occurs frequently in the world of
education. Despite this analysis, further highlighting the neighborhood elementary and
secondary education, but occasionally a little offensive academic culture or the reality of life
in the college environment.

At the school, the interaction and communication between the educational component,
has implications for the legal aspects, both in terms of criminal, civil, or profession. In
respect of that, then the issue is related to the protection of the teaching profession have
become essential to be criticized as well as possible.

LAW PROTECTION
The pattern of interaction between teachers and students in today's era, is far different
from the past. Instead of going with the purpose of educating, giving corporal punishment to
students, can be easily labeled as an act of violence. Although the purpose of providing
education or awareness to students, can easily be perceived as a form of human rights
violations to the students.

In an era of openness, in this reform era, the behavior of teachers in the educational
environment, it is necessary to carefully. When I was in elementary school, the 80s, the
students still experiencing enacted penalty in front of the class, then in o'clock disposable
wooden rulers for not doing the task (homework).

Surprisingly at that time, the incident did not happen one time and not just in the
school. On the other schools too, many similar incidents. In fact, parents who heard the story,
not many complain moreover must report to the police forces. The parents at that time,
instead give positive support to the teachers in the school, in the hope of children in the
school building, being a child who boast both the school and parents.

Apparently, today has changed, or at least his day being changed. When the traditions
of the past are still enforced, perhaps, not only one policeman, the other members of the
community was biased filed a demonstration against violence.
Changing times impact the individual's perception of values and norms. Due to a change in
perceptions about the values and norms, the required changes in the behavior, both in the
context of everyday behavior and behavior in the educational environment.

Awareness of Human Rights (HAM), a strong influence on people to defend


themselves, or to defend their human rights. Including those committed by parents Goddess.
In this perception, parents Goddess is an example of a parent who experienced a change in
perceptions about values and norms, and their awareness of human rights in the educational
environment.

Changes in values and norms, and perceptions in this community levels, need to be
responded to with good.A teacher, or any education providers, should not be reactive to
understand the change that perception. With the existence of such a case, the school and the
teachers too, should be able to implement the principles set by Imam Ali Kw.

"Educate thy son in a different way, because he would be born to a different era to
us .."
While Einstein argued, "it is impossible to use the same way to the action which has
spawned problems that occur as today .." This means, that the paradigm of our thinking and
course of action in the past, is a paradigm that has spawned a follow our pattern like this. But
the paradigm of the past, it is not suitable to use to practice education today, prepared to live
in the future, different premises today, especially with the past.

In that context, the protection of teachers becomes essential. Because if there is no


legal safeguard against the teacher, there will be uncertainty in the educational environment.
Perceptions of norms and values in the community and the students have changed, while the
legal protection of the teacher is not there, it will cause various measures of educational
teacher becomes difficult to realize, and will always be at the point of dizziness.

VARIETY OF PROTECTION

To maintain the stability and effectiveness of the performance of educators, it takes


the efforts of legal protection for teachers and lecturers. The need legal protection, at least (a)
ensuring that teachers in performing professional duties, (b) build a humane education
practices, and (c) to protect teachers from arbitrary actions of other parties.

The struggle of teachers and professional organizations of teachers to the need for
legal protection, it is very urgent and strategic. Because at this time, over with the argument
of the reform, parents can arbitrarily give his bluster and threat to the elderly.

Society considers that one of the benefits of reform, it is the freedom to speak, and to
report to other parties, which he considered biased against the party who were her own
complaint.

On the teachers themselves, when they hear the rebuke like that, is not always
convenient. There is little concern with the attitude of the parents or the community. Because
if they really do that threat, then not only he who will be in trouble with the law, but the
agency would be dragged.

Therefore, if there is no clear legal protection or the protection of the law against the
teaching profession, will be the initial cause of the fragility of cultural education in Indonesia.
Likewise, the presence of the law, will provide a portion of the same to all parties, and are
treated as fairly as possible. As noted Rasjidi or Kusumaatmadja (2004) that in this context,
the law is an instrument of social engineering. Everyone is constitutionally engineered and
directed in accordance with the goal of building a society that is in accordance with the
requirements or collective agreement.

Specifically with respect to the legal protection for teachers and lecturers, there are
three types of protection that is owned by the workers of this profession. In Law No. 14 Year
2005 on Teachers and Lecturers, on article 39 stated:

1. The government, local governments, communities, professional organizations, and /


or education units must provide protection against teachers in the implementation of tasks.

2. Protection as referred to in paragraph (1) shall include legal protection, the


protection of the profession, as well as occupational safety and health protection.

3. The legal protection as referred to in paragraph (2) includes protection laws against
violence, threats, discriminatory treatment, intimidation, or unfair treatment on the part of
students, parents of students, the community, the bureaucracy, or the other party.

4. Protection of the profession referred to in paragraph (2) includes protection against


dismissal is not in accordance with the legislation, the payments are not fair, restrictions in
conveying the views, harassment of the profession, and the restriction / prohibition others that
can inhibit teachers in performing the task.

5. Protection of health and safety referred to in paragraph (2) includes protection


against the risk of job security disturbances, and / or other risks.

Noticing Law No. 14/2005, every teacher has 3 types of protection, namely the protection of
the law, the protection of the profession, and safety protection and workplace health. For a
general explanation, Law No. 14/2005 provides information that is required to not give
protection to your teacher or professor that there are four parties, namely (1) the government
and / or local government, (2) community, (3) professional organization, (4 ) and / or the
education unit. These four groups, the obligation to provide protection to the teachers in their
duties.

LAW PROTECTION
In paragraph 3 of Article 39, Guru legal protection. Legal protection is that "includes
legal protection against acts of violence, threats, discriminatory treatment, intimidation, or
unfair treatment on the part of students, parents of students, the community, the bureaucracy,
or the other party."

Related to the issue of legal protection, there are two paths that can be done by a
teacher. Various policy actions that turns on criminal issues either general or specific crime,
then this problem can be submitted to the criminal path. While issues related to the
administration, can be done to the criminal administration of the State.

PROTECTION OF PROFESSION

In paragraph 4 (four), Article 39, in association with protecting the profession.


Protection of the profession referred to in paragraph (2) includes "protection against
termination of employment is not in accordance with the legislation, the payments are not
fair, restrictions in conveying the views, harassment of the profession, and the restriction /
prohibition others that can inhibit teachers duty ".
In Act No. 14/2005, Article 14, paragraph 1 (a) section f, stated that in the line of duty
profession, teacher:

Having freedom in its assessment and also determine graduation, awards, and / or
sanctions to students in accordance with the rules of education, teachers' code of ethics, and
legislation.

The role of professional organizations is very important to (a) provide interpretation


to the education act that became controversial, (b) formulate a code of professional conduct,
and (c) provide professional protection to the teachers.

Protection of this profession, in contrast to legal protection. In the protection of the


profession, an educational action should not just be seen from the results, but the views from
the motivation and procedures. Awarding a penalty to the students, need to set a sentencing
procedures, so that teachers do not get stuck on malpractices, and are not exposed to lawsuits.
The role of professional organizations is very important, to enable and optimize its role in
providing protection to the teachers profession.
As noted in other parts, the protection of the profession should also be given to
teachers, in relation to the freedom of teachers in the opinion. Critical thinking skills, and the
development paradigm, which may differ from the paradigm of state officials or the head of
the school, is one potential at a professional institution that promotes the development of
human intelligence. Therefore, restrictions on the freedom of thought space is a real form of
violation of the teaching profession.

Government, state officials, education officials, including school officials should be


aware of the importance of protecting the profession with freedom of thought forms of open
space on each teacher.

SAFETY AND HEALTH PROTECTION

In the last paragraph of Article 39 is, raised about the safety and health protection.
Occupational safety and health protection as referred to in paragraph (2) of Article 39 that
"includes protection against the risk of interference job security, work accidents, fires at
work, natural disasters, health, work environment, and / or other risks".

When in paragraph 3 (three), the awarding authority for the protection it is law
enforcement officers, and then to enforce the protection of the profession carried out by
professional organizations, the enforcement of protection for the fifth verse, it is all the
components referred to by Article 1, namely (1) government and / or local government, (2)
community, (3) professional organization, (4) and / or the education unit. These four groups,
are obliged to provide occupational safety and health protection of teachers in performing
their duties.

In operation, the four components that play different roles according to their
respective portions. At least, the government prepare regulations and provide facilities and
infrastructure that supports the realization of occupational safety and health teacher. Party
professional organizations formulate concepts, provide advocacy and protection to members
of professional organizations. Parties to the community to provide assistance in creating a
healthy work environment and save. As for the schools, create and regulate the operational
level that can support the creation of business safety and health teacher.

EDUCATION AND POWERS

With the view of officials that the teacher does not have the authority to analyze and
comment on the policy of the state, indicates that there are officials who perceive teachers as
the state apparatus as well as the staff in the bureaucracy.

Though, obviously, it is the energy functional teacher who has the authority to
empower the potential of intelligence, not just carry out administrative duties. Therefore, how
can the children can be intelligent, if the intelligence of the teachers themselves shackled by
officials of their own country. In other words, do not blame

Similarly, if the mentality is born teacher-rulers, who did not give her the freedom to
think, instead making his protege as the apparatus of teachers to be one hundred percent
according to the desires of his own teacher. Child is helpless and had no opportunity to
express his brilliance in front of the teacher-rulers. And it was a disaster education. I think, it
is much needed at this time, instead we need a teacher-expressive, which can express
intelligence and intelligence empowers learners, and not be 'pembeo' or the imitator-blind
political passion of the rulers.

Here, there is a fatal mistake in the midst of human resource management education
institutions. Personally, this paper holds the view that when a teacher or professor, is still
perceived (note: perceived) as a staff or bureaucratic apparatus, and not functional personnel
then accelerated the quality of education will be difficult to realize. Teachers as apparatus, it
is not much different from the machine-bureaucracy in performing basic tasks and functions
(TOR), institutions, and not the energy-or-light the empowerment of learners. Teachers as
machine-bureaucracy tends to position the child as dead objects, which can be blacklist by
the teacher. And the rulers who view teachers as-bureaucratic machine, but also make the
teacher as an object-die which can be blacklist by the political interests of the rulers.

The main differentiator between the engine-bureaucratic and energy-empowerment is


the intellectual expression of open space, and creative in performing their duties and to
express themselves and their humanity. The Master is not the army that is leaded, and there is
only one command. A teacher not bureaucrats whose only duty staff carry out administrative
tasks. Teachers are functional personnel who have moral and intellectual obligation, to
empower the potential of human thought and endeavor in realizing the noble ideals of life.

In that context, I feel how concerned heard a supervisor to provide a threat, "be
careful, if you continue to do that, it's not impossible, the value of school accreditation will be
lowered back .." supervisors are present in the room, as if to show fang-power, that the value
of school accreditation is very highly dependent on 'attitude itself' against the school.

Horrible. Value for accrediting schools turned out to be influenced by politics likes-
dislikes (like and dislike) of watchdog on the behavior of the individual teacher. Though,
obviously had, that accreditation is validation process physical evidence in the administration
of education at the working unit of education, and not to assess the degree of criticality of a
teacher. But that is the reality of education in this country.
Watch what happens when, as if giving a lecture and that's the main lesson, that the issue of
schools in this country, yet a functional instrument in achieving national education goals.
Schools, is still used as a political instrument and game officials in the country to spend his
ambition.

It was all, not much different with the release of the game 100% of students in
national examinations. Ambition school and / or the head of the region's striking 100%
student graduation from school, more felt the aura of political interests rather than the
interests of education itself.

Malpractice of Education

Educational malpractice is an educational practice that is not in accordance with the


rules of education, and based on personal motivation is not in accordance with the values and
norms of education. Supervisory and assessment of the performance of the practice of
education, need to be submitted to the professional organizations to measure education
performance intended. Do indication of malpractice or not can be decided objects and
academic.

In general it can be argued that education is no longer a closed world. Anyone have
the same right to access the educational planning, educational process, and educational
outcomes. For people who are not satisfied with the service of education, have the right to
make corrections to education. At least, with the School Committee Forum / Madrasah or
Board of Education, the public have a channel to express the things that are alleged, or that
indicate the presence of educational malpractice.

BAB 13

MEMANTAPKAN KESADARAN HUKUM GURU

Rumusan Masalah

PeraturaN Perundangan yang terkait dengan pendidikan sudah ad. Peraturan


perundangan yang khusus terkait dengan masalah guru pun sudah banyak. Aktivitas guru,
mulai dari kegiatan di sekolah, di masyarakat, dan di rumah sudah ada peraturan khusus.
Aktivitas guru sehari-hari, di mana pun dia berada, ada sejumlah peraturan yang harus
ditaatinya. Persoalan yang muncul berikutnya adalah sejauh masalah kesadaran guru terhadap
profesi dirnya, sejauhmana pemahaman guru terhadap peraturan perundangan yang mengatur
dirinya sendiri? Apakah para guru sudah paham terhadap berbagai peraturan dimaksud?

Pengantar

Mengapa, obrolan di sini, sedikit-sedikit masalah politik. Setiap saat ngomongin


politik. Kalau tidak politik di Indonesia, ngomongin politik di sekolah. Ah say amah, biasa
aja, tidak mau ikut-ikutan dalam masalah itu, kata seorang guru ekonomi, yang kami
angga sudah senior di sekolah/madrasah ini.

Pernyataan serupa, dikemukakan ula oleh seorang guru laki-laki yang mengajar mata
pelajaran Sejarah. Guru pelajaran sejarah ini, relatif masih muda usia. Apalagi bila dikaitkan
dengan usia-mengajarnya di sekolah ini. Usianya masih di bawah 40 tahun, dan usia
mengajarnya pun kurang dari 10 tahun. Tetapi, sikap dan pemikirannya sudah serupa dengan
guru perepuan yang mengajar ekonomi.

Sikap dan perilaku dua orang guru dimaksud, berbeda jauh dengan guru lainnya.
Sebut saja, guru Bahasa Indonesia. Sikap prasangka politisnya guru Bahasa Indonseia ini
sangat tinggi. Jangankan terkait dengan masalah kegiatan yang beraroma pemerkayaan diri
sendiri, sekadar masalah pembagian tugas pun, tidak luput dari prasangka politiknya.
Misalnya saja, mengapa seseorang ditugaskan sebagai Pengawas Umum dalam Ujian
Nasional, dan sementara orang-orang tertentu tertentu menjadi panitia loal di satuan kerjanya.
Pembagian kerja ini, ternyata tidak luput dari kepentingan politik pimpinan
sekolah/madrasahnya sendiri.

Tingkat sentimen politik guru Bahasa Indonesia ini sangat tinggi. Tetapi, sikap dan
perilaku seperti guru ahasa Indonesia ini tidak sendirian. Terdapat sejumlah sikap dan
perilaku guru yang seperti ditunukkan oleh guru Bahasa Indonesia ini.

Tidak Mesti Politis

Hal yang perlu ditegaskan di sini, kendati pun beraroma seperti di dunia politik, tetapi
sikap dan obrolan tersebut, tidak berarti bermain politik. Sekolah sebagai lembaga
pendidikan, tidak boleh dimasuki atau dirasuki oleh kepentingan politik, atau masalah politik
praktis.

Sekadar mengingatkan, yang dimaksud dengan politik praktis itu, yang


mengikutsertakan bendera partai politik ke dalam lingkungan sekolah/madrasah. Ini adalah
perilaku yang kurang sehat, dan memang tidak sehat.

Saya ingat. Lima tahun lalu, ketika Pemilihan Rektor di Universitas Pendidikan
Indonesi (UPI) ramai diicarakan banyak orang. Baik orang dalam UPI maupun orang luar
UPI turut membicarakan masalah ini. Perebutan kursi rektorat ini, ternyata bukan sekedar
perebutan citra akademik, tetapi juga permainan lobi kekuasaan dengan pemain-pemain
politik. Untuk mendapat dukungan dari Menteri Pendidikan Nasional waktu itu. Setiap
kelompok memainkan kartu politiknya. Ada yang menggunakan jalur Organisasi Keagamaan,
jalur organisasi kemahasiswaan, dan jalur partai politik, atau jalur birokrasi. Semua jalur itu,
digunakan secara maksimal dengan tujuan untuk mendapatkan hasil maksimal.

Perjuangan itu mereka gunakan, dengan maksud untuk memanfaatkan suara yang
dimiliki oleh Seorang Menteri. Dalam konteks peraturan perundang-undangan yang berlaku,
Seorang Menteri Pendidikan Nasional atau Menteri Agama bagi perguruan tinggi Islam,
memiliki suara sebanyak 30% dari suara yang berhak memilih rektorat baru. Suara sebanyak
itulah yang diperebutkan. Dan cara memperebutkannya adalah dengan cara politik.
Sekolah/madrasah adalah lembaga pendidikan. Tetapi, intrik politik pun kerap muncul
di lingkungan pendidikan.

Sembilan tahun yang lalu, saat pemilihan kepala madrasah 2002, dua calon sudah
terpilih. Waktu itu, yang berhak memilih kepala adalah Dewan Guru dengan arahan dari
Komite Madrasah. Bahkan, hasil pemilihan Komite Madrasah, kepala terpilih sudah
ditentukan. Kemudian kepala terpilih berdasarkan musyawarah Dewan Guru itu diajukannya
ke Kantor Wilayah Departemen Agama Provinsi Jawa Barat.

Kelompok berkepentingan lainnya, yang ternyata memiliki suara kurang, dan tidak
menjadi kepala, kemudian bergerak politis. Manuver politik yang digunaknnya itu, adalah
menggunakan jalur organisasi. Isu yang menguat waktu itu kepala terpilih adalah orang
Muhammadiyah, sedangkan guru-guru banyak yang NU, kemudian kepala kementerian pun,
baik di kabupaten/kota maupun di provinsi banyak yang berafiliasi ke NU. Maka isu
keagamaan inilah yang diangkat, dan ternyata bermanfaat. Hanya dalam waktu setengah
malam, SK yang sudah ditandatangani oleh Kanwil itu, berubah nama menjadi orang yang
dianggap sebagai guru berafiliasi kepada NU, dan bukan Muhammadiyah.

Mencermati contoh-contoh yang dikemukakan ini, dapat disimpulkan bahwa


mengajukan diri sebagai seorang calon kepala adalah hak setiap guru. Ini adalah pemahaman
penting yang perlu dimiliki. Tetapi, menggunakannya dengan cara berafiliasi dengan partai
politik, atau kekuatan luar-khususnya penguasa, merupakan bentuk lain dari politik praktis.

Terkait hal ini, dapat ditarik kesimpulan sementara bahwa femo,ema perilaku guru
dimaksudkan memberikan gambaran berbeda dengan apa yang ada di lingkungan
aktivitasnya masing-masing. Bermain politik dan bahkan membawa bendera kekuasaan dari
luar sekolah ke dalam lingkungan sekolah. Berbagai atribut di luar sekolah, seperti organisasi
agama, partai plitik, kekuasaan, adalah factor eksternal sekolah yang kerap kali muncul
dalam lingkungan pendidikan.

Wacana ini hendak mengambil posisi, bahwa di lembaga pendidikan itu hendaknya
aliliasi politik praktis tidak dilakukan. Tetapi peka dan peduli terhdap sekolah dengan
mengedepankan kesadaran hokum menjadi wajib untuk dimiliki oleh seorang guru. Simpul
sederhananya, sadar hukum Yes, berpolitik praktis No.

KESADARAN HUKUM
Sebagaimana dikemukakan sebelumnya dalam menjalankan tugas profesinya seorang
guru sudah dilingkari oleh berbagai peraturan perundangan. Seorang guru sudah memiliki
track tersendiri dalam menjalankan tugas profesinya. Hak-hak dan kewajiban asasinya
sebagai guru, sudah ditetapkan dalam berbagai perangkat peraturan perundangan yang
berlaku di Indonesia.

Untuk sekedar menyebutkan contoh, di Indonesia ini sudah ada UU Sistem


Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003, kemudian UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang
Guru dan Dosen, berikutnya ada Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru.
Ini adalah beberapa peraturan perundangan yang berkaitan dengan profesi guru. Selain itu,
ada juga peraturan perundangan lain terkait dengan pengelolaan pendidikan di Indonesia,
yang bersangkut erat dengan masalah keguruan (profesi guru).

Oleh karena itu, menjadi sangat ironis bila kemudian dalam menjalankan tugasnya,
para guru tidak peka terhadap peraturan perundangan yang mengikat dirinya sendiri.
Bagaimana dia bias menjalankan tugas profesinya dengan aman, nyaman dan optimal, jika
peraturan perundangan yang mengatur dirinya pun tidak dipahaminya.

Bila kita meminjam salah satu pemahaman mengenai fungsi kehadiran hukum,
dikemukakan dengan tegas oleh Mochtar Kusumaatmadja, bahwa hukum itu adalah alat oleh
tools untuk melakukan social engineering (rekayasa sosial). Hukum hadir dengan maksud
untuk melakukan pembenahan, supaya cita-cita membangun dan menata masyarakat dapat
tercapai dengan baik. Dengan kata lain, pembaruan system pendidikan, dan budaya
pendidikan, dapat dilakukan dengan cara memperbaiki peraturan perundangannya. Kehadira
hukum pendidikan, pada dasarnya tiada lain adalah dengan maksud untuk meningkatkan
kualitas pelayanan pendidikan sehingga visi dan misi pendidikan nasional dapat diwujudkan.

Harapan terwujudnya visi dan misi pendidikan itu, akan sulit diwujudkan, bila
peraturan perundangan yang mengatur dan mengarahkan seluruh komponen pendidikan ke
tujuan dimaksud, tidak dipahami. Alih-alih ditaati, dan bergerak sama ke arah yang
dimaksudkan oleh misi pembaruan pendidikan, untuk sekadar paham dan tahu mengenai
perubahan peraturan perundangan pun tidak terjadi. Di sinilah, problem pendidikan muncul.

Pembaruan pendidikan di Indonesia mengalami banyak kesulitan, salah satu di


antaranya biasa disebabkan karena hukum pendidikan belum mampu menjadi alat pembaruan
atau rekayasa sosial bagi dunia pendidikan. Kehadiran peraturan perundangan itu, tidak
menjadi alat pembaruan bagi dunia pendidikan.

Ssampai tahun 2011, misalnya, sejumlah guru di lingkungan madrasah di Kota


Bandung, masih banyak yang belum memahami bahwa Wakil Kepala Madrasah itu harus
dipilih oleh Dewan Pendidik (guru). Karena mereka tidak tahu peraturan terbaru, dan mereka
tidak peka pada aspek-aspek seperti ini, maka aturan main jabatan dan/atau pemilihan
jabatan-jabatan selain Kepala Sekolah/Madrasah atau Kepala TU, diserahkan kepada otoritas
kepala terpilihnya sendiri.

Kepala sekolah sebagaimana tradisi sebelumnya, dianggap memiliki otoritas dan hak
prerogativenya sendiri, untuk memilih dan menetapkan pejabat-pejabat yang akan membantu
dirinya. Misi dari pembaruan budaya kerja dan manajemen organisasi sekolah, sebagaimana
yang ditetapkan dalam peraturan perundangan kependidikan ini, gagal dan tidak bias
berjalan, karena para guru itu sendiri tidak peka terhadap perubahan peraturan perundangan
kependidikan dimaksud. Peraturan pendidikan yang baru, sejatinya berupaya untuk
melakukan pembaruan dalam manajemen pendidikan di Indonesia, malah menjadi teks-mati
di atas meja para guru.

Pada konteks itulah, fungsi hukum sebagai alat rekayasa sosial menjadi tidak optimal,
karena terkait dengan kesadaran hukum para guru yang lemah, dan sikap taat hukum dari
pimpinan sekolah yang rendah. Maksudnya, jika para pimpinan sekolah memiliki kesadaran
hukum yang tinggi, dan tidak dihinggapi oleh kepentingan pribadi, maka kondisi
ketidakpekaan guru terhadap hukum pendidikan itu, harus menjadi bagian dari tanggung
jawab dirinya untuk melakukan sosialisasi berbagai produk hukum pendidikan kepada setiap
komponen pendidikan. Namun, sayangnya, kita memang masih mengalami kesulitan
menemukan pimpinan sekolah/madrasah yang memiliki kesadaran hukum yang tinggi, dan
mau mensosialisasikan berbagai peraturan perundangan kepada para guru. Sikap-sikap yang
ada, malah berbagai peraturan perundangan itu, dibiarkan tetap tersembunyi, dengan maksud,
supaya guru tidak melakukan banyak penuntutan kepada pimpinannya.

PENDIDIKAN KESADARAN HUKUM

Realitas itu menuntut kita untuk memasuki wilayah krusial di negeri ini. Wilayah
krusial yang dimaksudkan itu, adalah masalah pendidikan kesadaran hukum. Berbagai kasus
yang terjadi di negeri kita ini, pada dasarnya banyak yang berkaitan dengan masalah
kesadaran hukum. Bentrokan antar kandidat kepala daerah, antar pendukung kandidat, antar
kelompok sosial, antara kelompok agama, dan lain sebagainya, merupakan sebagian contoh
mengenai ketidakpatuhan anggota masyarakat terhadap hukum. Hukum yang ada di
Indonesia, dianggap tidak ada, dan anggota masyarakat tidak mau tahu dengan peraturan
perundangan yang berlaku di Negara ini. Mereka bertindak sesuak hati, kendati kemudian
melahirkan masalah yang berkepanjangan dan merugikan banyak pihak.

Sekali lagi perlu ditegaskan, bahwa pendidikan kesadaran hukum menjadi sangat
penting, dan strategis untuk dilakukan terhadap kelompok guru. Artinya, bila pendidikan
kesadaran hukum tidak diberlakukan kepada para guru, tindakan-tindakan yang tidak patut
akan menjadi banyak bermunculan di lingkungan pendidikan.

Pelecehan profesi. Guru yang diberi penghargaan (insentif) tidak sesuai dengan
prestasi kerja dan/atau profesinya, merupakan bentuk nyata dari pelecehan profesi. Seorang
kepala sekolah/madrasah, atau pengurus Yayasan Pendidikan yang memberikan tunjangan
kepada guru, sekalipun guru honorer secara tidak layak, merupakan bentuk dari pelecehan
profesi.

Guru yang diberhentikan secara sepihak, oleh pihak penyelenggara pendidikan, juga
merupakan bentuk lain dari pelecehan profesi oleh penyelenggara pendidikan kepada profesi
guru.

Bila guru tidak peka terhadap masalah hukum profesinya, dan kemudian dia
menerima apa adanya, maka dia sudah dirugikan oleh pihak lain. Sedangkan, bila kemudian
dia tidak mau dirugikan, tetapi tidak tahu sandaran hukumnya, potensial dia melakukan
tindakan anarki. Sedangkan, bila dia paham terhadap peraturannya, missal saja sesuai dengan
peraturan, maka dia dapat melakukan gugatan hukum terhadap penyelenggara pendidikan.

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008, Pasal 41, dinyatakan:

Guru berhak mendapatkan perlindungan profesi terhadap pemutusan hubungan kerja


yang tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, pemberian
imbalan yang tidak wajar, pembatasan dalam menyampaikan pandangan, pelecehan
terhadap profesi, dan pembatasan atau pelanggaran lain yang dapat menghambat
Guru dalam melaksanakan tugas.
Peraturan Pemerintah tersebut, memberikan rambu-rambu kepada penyelenggara
pendidikan, dan juga guru, untuk bisa memberikan perlakuan yang konstitusional terhadap
komponen pendidikan, khususnya guru.

TIDAK SEKEDAR KESEJAHTERAAN

Maneuver politis para guru selama ini, lebih banyak berorientasi pada masalah
ekonomi. Misalnya saja masalah kenaikan gaji, kenaikan tunjangan, penuaian THR dan lain
sebagainya. Perjuangan organisasi profesi tersebut, cukup getol dalam melakukan komunikasi
politik dengan pemerintah, dalam menyampaikan aspirasi seperti itu.

Khusus bagi kelompok guru honorer, tuntutan untuk mendapatkan keputusan yang
tegas mengenai pengangkatan status honorer menjadi PNS, merupakan tuntutan klasik yang
dilakukan secara bergelombang dan berkelanjutan. Di berbagai daerah, organisasi profesi
guru honorer ini melakukan maneuver politik yang mengajukan tuntutan pengangkatan
kepada pemerintah.

Tuntutan itu adalah salah satu hak guru. Tetapi, kesadaran hokum guru yang
dimaksudkan dalam wacana ini, tidak sekedar masalah kesejahteraan dalam arti ekonomi.
Tetapi, kesejahteraan dalam arti luas, termasuk kenyamanan dalam menjalankan profesi.

Bila dirinci dngan baik, kita dapat menemukan ada sejumlah aspek penting dalam
membangun kesadaran hokum guru.

Pertama, guru sebagai makhluk biologis. Guru sebagai makhluk biologis memiliki
kebutuhan ekonomi minimal. Maka berbagai tunjangan kesejahteraan ekonomi menjadi aspek
penting yang perlu diperjuangan. Seperti gaji, tunjangan-tunjangan lain, dan hak cuti.

Kedua, guru sebagai profesi. Sebagai tenaga professional, dia memiliki hak untuk
menjalankan profesinya secara baik dan optimal. Maka, penyediaan sarana prasarana dan
penciptaan lingkungan profesi yang baik menjadi bagian penting dari kebutuhan para guru.

Ketiga, guru sebagai bagian dari anggota organisasi atau profesi. Sebagai guru, kita
tidak sendirian. Ada orang lain yang juga menjadi bagian dari keanggotaan profesi keguruan
itu. Sebagai anggota profesi, atau bagian dari sebuah organisasi kerja, seorang guru memiliki
hak untuk mendapatkan kesempatan dalam menjalankan organisasi profesi.
Di lingkungan kerja pun, kita hadir dalam bentuksatu satuan kerja. Satuan kerja
sekolah atau madrasah adalah sebuah organisasi pendidikan atau dalam istilah sosiologi
sebagai sebuah pranata social. Pada sebuah pranata social ada status dan ada peran. Bagi guru
yang tidak peka terhadap hokum pendidikan yang berlaku, dia akan menganggap bahwa
peran dan status itu dianggapnya sebagai bagian dari pemberian atau apa adanya dan bukan
sesuatu yang harus diperjuangkan atau ditegakkan.

Pergantian jabatan, rotasi jabatan, dan tunjangan jabatat adalah beberapa aspek yan
erat kaitanya dengan status guru sebagai bagian dari anggota organisasi. Kedudukan
seseorang pada jabatan tersebut bukan bersifat given atau apa adanya. Jabatan dan peran
seseorang dalam sebuah jabatan satker atau organisasi profesi, memiliki konsekuensi hokum
dan paung hokum.

Keempat, dan ini yang paling penting dimiliki, yaitu kesadarn sebagai seorang
professional. Dalam kaitan ini, penulis ingin menegaskan bahwa profesi guru itu adalah
profesi mulia. Karena profesi ini mengacu pada kedaulatan berfikir manusia, dan juga
berperan untuk memberdayakan kemampuan berfikir manusia.

Benar bila dikatakan bahwa tujuan pendidikan itu tidak sekedar mengembangkan
kemampuan berfikir peserta didik. Tetapi, pendidikan itu adalah berupaya keras untuk
memaksimalkan potensi peserta didik. Dasar dari sebuah aktivitas guru itu adalah pada
kemampuan professional dirinya, salah satu diantaranya adalah kedaulatan berfikirnya.

Sehubungan hal ini, hak dasar guru untuk bisa mengembangkan profesinyasecara
luas, merupakan hak asasi guru yang harus dikembangkan. Tidak boleh ada peraturan apapun
yang menghambat kedaulatan guru untuk mengembangkan kemampuan profesionalitasnya.

Sebagaimana yang dikemukakan pada peraturan pemerintah yang dikutip diatas,


guru berhak mendapatkan perlindungan profesi terhadap pembatasan dalam
menyampaikan pandangan, pelecehan terhadap profesi, dan pembatasan atau pelarangan lain
yang dapat menghambat guru dalam melaksanakan tugas..

TIDAK SEKADAR TAHU

Kami bertindak seperti ini bukan berarti kami tidak tahu peraturan mengenai profesi
guru. Kata sebagian guru yang lain. Mereka beralasan, bahwa tindakan-tindakan yang
dilakukannya selama ini, lebih disebabkan karena tidak mampu menunjukkan keberanian
dalam membela hak-hak profesinya sebagai tenaga professional.

Konsep mau dimaksudkan untuk menunjuk pada pengetahuan atau hasrat pada
individu guru. Dia tahu berbagai peraturan perundangan mengenai profesi guru, dan
kemudian hasrat untuk melakukan peruangan profesipun ada dalam jiwanta. Sedangkan
konsep mampu yaitu gerak aktif, baik secara sendirian maupun kelompok untuk melakukan
penegakan konstitusi atau peraturan profesi.

Bila dibuatkan sebuah kuadran perilaku guru saat ini, setidaknya ditemukan empat
kuadran perilaku guru yang mempertimbangkan aspek kemampuan dalam bertindak sesuai
dengan hokum.

Tidak
Mau dan
mampu,
mampu
mau

Tidak
Tidak
mau,
mau,
tidak
mampu
mampu

Gambar. Tipologi Kesadaran Hukum


Berdasarkan Kemauan dan Kemampuan

Pertama, adalah kelompok yang tidak mampu dan tidak mau. Ini adalah kelompok
guru yang paling lema. Banyak keinginan dirinya, untuk menjadi PNS, menjadi sejahtera,
dan/atau apa pun mimpi-mimpi dalam hidupnya, tidak bisa diwujudkannya dengan menjabat
sebagai tenaga professional ini.
Kelompok ini sudak adaptis. Kelompok ini, lebih berkonsentrasi pada kegiatan rutin
dan konservatif. Asal tugas-tugas profesionalnya yang standar dan minimal sudah dilakukan,
kelompok ini sudah meras tuntas menyelesaikan kewaibannya.
yang penting ngajar.. itulah kesimpulan kunci sikap kelompok orangyang kurang
berkesadaran hokum. Dia sudah tidak mau berbicara mengenai masalah kesadaran hokum
profesi, dan sikap itu diambilnya karena dia sudah memiliki kesimpulan tidak mampu untuk
melakukannya.
Kedua, ada kelompok guru yang mau bertindak sesuai ketentuan hokum, tetapi tidak
mampu mewujudkannya. Dari sisi pemahaman dan pengetahuannya tentang peraturan
perundangan keguruan atau profesi, bisa dikatakan baik. Bahkan, dia cukup mumpuni, tetapi
ketidakberdayaan dalam melakukan tindakan praktis menjadi penyebab dirinya tidak mampu
mewujudkan dirinya sebagai anggota profesi yang baik.
Ada sejumlah alasan yang menyebabkan dia terjebak pada kubangan kuadran ini,
yaitu kekuatan kekuasaan disekolah atau di luar sekolah sangat kuat untuk menghambat
tuntutan konstitusionalnya, perjuangannya hanya sesaat dan bersifat individual. Sehingga,
kekuatan untuk memperjuangkan hak-hak profesi secara konstitusioanal itu menjadi kandas
di tengah jalan.
Pada sisi lain, kelompok ini lahir sebagai kelompok pemulung hasil. Karena tidak
mampu melakukannya sendiri, dia menjadi pemulung hasil. Karena tidak mampu
melakukannya sendiri, dia akan menjadi pemulung hasil perjuangan pihak lain, disaat
menguntungkan profesinya. Bergerak mewujudkan profesi guru yang bermatabat tidak
mampu, tetapi mencicipi hasil perjuangan profesinya dia mau menikmati.
Ketiga, adalah kelompok yang mau melakukan perjuangan profesi walaupun dia
memiliki kemampuan untuk melakukan dimaksud.
Sedikit beririsan dengan kudran dua. Kelompok guru ini, pada dasarnya memiliki
kemampuan untuk melakukan perjuangan profesi. Tetapi, meteka tidak mau melakukannya.
Orang ini sadar pada konstitusi, tahu hak-hak profesi. Tetapi tidak mau melakukan gerakan
dan perjuangan profesi. Cukup aneh.
Ada hipotesis yang cukup kritis terhadap wilayah ini. Satu pendapat mengatakan tidak
mungkin kita melakukan gerakan perjuangan professional, atau penuntutan terhadap hak-hak
profesi, jika dirinya pun sesungguhnya memiliki utang budi terhadap pemegang kekuasaan.
Jangan banyak nuntut. Kamu sadar tidak, penyebab kamu duduk di sini kata
seorang pejabat pendidikan, kepada seorang guru yang mengajukan penuntutan profesi.
Sebelum duduk dikursi yang saat ini didudukinya, oran ini sempat minta bantuan dan
merengek kepada pejabat pendidikan tersebut. Sementara saat ini, ketika pejabat itu
melakukan sedikit kekeliruan, orang tersebut melakukan tuntutannya. Dengan pernyataan itu,
si penuntut itu pun diam. Akhirnya dia kembali dengan tangan hampa.
Pada sisi lain, kelompok ini bisa menjadi penghambat perjuangan profesi. Karena dia
tidak memiliki kekuatan untuk melakukan kesadaran hokum, ytidak jarang kelompok ini
menghembuskan angina kepesimisan. tidak akan berhasil, kekuatan luar lebih kuat dari apa
yang kita miliki.. katanya. Pandangan ini, dikemukakannya seiring dengan ketidakmampuan
dirinya dalam melakukan pembenahan kesadaran hokum disatuan kerja, atau dilingkunangan
pendidikan. Sehingga pada akhirnya pernyataan itu dikeluarkan.
Mungkin maksudnya bukan menghambat perjuangan professional yang dilakukan
teman-teman yang lainnya, tetapi dengan mengemukakan pandangan itu, potensial
melahirkan sikap pesimis pada kelompok lain yang sedang memperjuangkan hak-hak
profesinya.
Terakhir, kelompok yang memiliki kemauan tinggi dan kemampuan kuat untuk
menegakkan hak-hak konstitusi profesi. Inilah kelompok utama, dan kelompok penting yang
perlu diwujudkan dilingkungan pendidikan. Kelompk ini, memiliki kemauan tinggi untuk
menegakkan etika konstitusi profesi, sekaligus memiliki kegigihan dalam mewujudkan
konstitusi profesi dil ingkungan pendidikan.

TRANSFORMASI KESADARN HUKUM


Wacana ini pada dasarnya berusaha untuk membangun kelompok guru sebagai
kelompok profesi kuadran IV, yaitu kelompok yang memiliki kemauan dan kemampuan
untuk menjalankan profesinya sesuai dengan konstitusi profesionalisme.
Kebutuhan kita sekarang ini, adalah menstranformasi kesadaran tenaga pendidik, dari
kesadaran dan kemampuan yang rendah (mendekati 0), menuju tingkat optimal, yaitu pada
kuadran IV. Gerakan transformasi ini, dapat dikatakan pula sebagai upaya pemberdayaan
guru melalui kesadaran hokum.
Dalam pandangan Ginanjar Kartasasmita dengan menerapkan dua arah pemberdayaan
ini, maka Kartasasmita menyebutan ada tiga jalur proses pemberdaaan masyarakat. Yaitu:
1. Menciptakan suasana lingkungan atau iklim yang memungkinkan potensi masyarakat
berkembang. Di sini titik tolaknya adalah pengenalan bahwa setiap manusia itu
memiliki potensi yang dapat dikembangkan. Artinya ada anggota (atau kelompok)
masyarakat yang sama sekali tidak berdaya. Sebab, kalua demikian adanya, maka
anggota masyarakat tersebut akan musnah.
2. Memperkuat potensi atau daya yang memiliki oleh masyarakat. Sebagai tindak lanjut
dari yang pertama, maka perlu adanya proses pemberdayaan potensi-potensi yang ada
dalam diri anggota masyarakat tersebut tadi. Dalam rangka pemberdayaan ini
bukanlah hanya menciptakan kondisi yang kondusif untuk pengembangan
potensitenaga Wiyata Bhakti, tetapi juga perlu diciptakan langkah-langkah yang
positif yang mampu mengembangkan potensi tersebut tadi.
3. Memberdayakan juga memiliki makna melindungi potensi yang sudah ada, sehingga
tidak terjadi penurunan kualitas menjadi lebih lemah. Jenis pemberdayaan yang ketiga
adalah proteksi-sosial-politik-budaya terhadap daya hidup potensi itu sendiri. Dalam
kategori yang ketiga ini, yang lebih ditekankan adalah perlindungannya pada daya
hidup anggota masyarakat yang ada. Misalnya saja, perlindungan terhadap kelompok
guru berekonomi atau berkemampuan lemah.
Seiring sejalan dengan hal itu, maka yang dimaksud dengan transformasi kesadaran
hokum itu tiada lain adalah upaya pemberdayaan guru sebagai bagian dari subjek hokum
pendidikan strategis di Indonesia.

GURU SADAR HUKUM, SISWA CERDAS


Guru sadar hokum akan tampil sebagai seorang professional yang unggul. Karena
guru sadar hokum, tahu diri dan tahu profesi. Dengan pemahaman dan kesadaran akan
konstitusi yang berlaku dalam profesinya tersebut, dia akan berusaha untuk menunjukkan
diri sebagai tenaga professional yang professional.
Begitu pula sebaliknya, guru yang tidak professional menunjukkan bahwa dia adalah
anggota profesi yang tidak sadar hokum. Dia tidak tahu diri, dan tidak tahu perilaku
professional yang harus dilakukannya. Atau, andaipun dia tahu tugas-tugas professional
yang harus dilakukannya, tetapi dia tidak mau melakukannya. Oleh karena itu, tindakan-
tindakanya tidak sejalan dengan konstitusi profesi itu sendiri.
Pada konteks ituah, wacana ini meyakini dengan betul, bahwa guru yang sadar hokum
memiliki kontribusi nyata dalam membangun pelayanan pendidikan yang baik, dan iu
akan berujung pada peningkatan kualitas pendidikan yang baik diindonesia.
Kelemahan selama ini, kita tidak pernah peduli terhadap pendidikan kesadaran hokum
profesi kepada para guru. Sehingga pada akhirnya, guru tidak peduli dengan berbagai
perubahan perundang-undangan. Padahal, hokum secara nyata menurut Rasjidi dan
Kusumaatmadja, memiliki fungsi sebagai bagian penting dalam rekayasa social. Dengan
kata lain, pembaruan peraturan perundangan dilingkungan pendidikan, pada dasarnya
adalah upaya rekayasa pendidikan menuju pelayanan pendidikan yang berkualitas.
Dengan adanya pembenahan-pembenahan peraturan perundangn terkait dengan
pendidikan ini, sejatinya perlu ditindak lanjuti dengan adanya pembenahan perilaku
professional dilingkungan pendidikan. Karena dengan berkesinambungannya perubahan
perilaku itu akan berdampak nyata pada usaha pencapaian tujuan pendidikan.