Anda di halaman 1dari 18

PERBANDINGAN EFEKTIVITAS TERAPI MUSIK KLASIK DAN

TERAPI MURROTAL TERHADAP TINGKAT KECEMASAN PASIEN


HEMODIALISA DI RSUD Prof. dr. MARGONO SOEKARJO
PURWOKERTO

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana S1


Keperawatan

Di susun oleh:
ROFIE SHAZNI RUZAINI
1211020038

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN S1


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2016

1
PERBANDINGAN EFEKTIVITAS TERAPI MUSIK KLASIK DAN
TERAPI MURROTAL TERHADAP TINGKAT KECEMASAN PASIEN
HEMODIALISA DI RSUD Prof. dr. MARGONO SOEKARJO
PURWOKERTO

Rofie Shazni Ruzaini1, Sri Suparti 2

ABSTRAK

Latar belakang: Kerusakan ginjal mengakibatkan masalah yang menyebabkan


aktivitas kerja terganggu, tubuh menjadi mudah lelah dan lemas. Tindakan medis
yang dilakukan penderita penyakit gagal ginjal adalah dengan melakukan terapi
dialisis, dimana dampak psikologis yang dirasakan pasien hemodialisa adalah
kecemasan. Salah satu tindakan keperawatan untuk mengurangi kecemasan adalah
terapi musik klasik dan terapi murotal
Tujuan: Mengetahui perbedaan efektivitas terapi musik klasik dan terapi murotal
terhadap tingkat kecemasan pasien hemodialisa di RSUD Prof. dr. Margono
Soekarjo Purwokerto
Metode: Metode penelitian yang digunakan merupakan kuasi eksperimental
nonequivalent control group, after only design. Sampel penelitian adalah pasien
yang menjalani terapi hemodialisa di IGD RSUD Prof. Dr Margono masing
masing sebanyak 17 responden untuk kelompok yang diberi terapi musik klasik
dan kelompok yang diberi terapi murotal.
Hasil: Perbedaan efektivitas terapi musik klasik dan terapi murotal sebesar 1,0.
Rata-rata penurunan kecemasan pada kelompok terapi musik klasik sebesar 12,3,
sedangkan pada kelompok terapi murotal sebesar 13,3.
Kesimpulan: Tidak terdapat perbedaan efektivitas pemberian terapi musik klasik
dan terapi murotal terhadap tingkat kecemasan pada pasien hemodialisa di RSUD
Prof. dr. Margono Soekarjo Purwokerto.

Kata Kunci : Hemodialisa, kecemasan, murotal, musik klasik.

1
Mahasiswa Keperawatan S1 FIKES Universitas Muhammadiyah Purwokerto
2
Dosen Program Studi Keperawatan S1 Universitas Muhammadiyah Purwokerto

2
COMPARATIVE EFFECTIVENESS OF THERAPY AND THERAPY MUROTAL
CLASSICAL MUSIC ON THE LEVEL OF ANXIETY IN PATIENTS
HEMODIALISA HOSPITAL Prof. dr. MARGONO SOEKARJO PURWOKERTO

Rofie Shazni Ruzaini3, Sri Suparti4

ABSTRACT

Background : Kidney damage resulting in the problem that caused the work
activities disrupted, the body becomes easily tired and weak. Medical procedures
performed kidney disease patients is to perform dialysis therapy, in which the
psychological impact of perceived hemodialysis patients is anxiety. One of the
nursing actions to reduce anxiety is the classical music therapy and therapy
murotal.
Aim : Knowing the difference in the effectiveness of classical music therapy and
therapy against anxiety level murotal hemodialysis patients in hospitals Prof. dr.
Margono Soekarjo Purwokerto
Method : The method used is a quasi-experimental nonequivalent control group,
after only design. Samples are patients who undergo hemodialysis therapy in ER
Hospital Prof. Dr Margono each as much as 17 respondents to the group given
therapy classical music and the group given therapy murotal.
Result : Differences in the effectiveness of classical music therapy and therapy
murotal of 1.0 . The average decrease in anxiety in classical music therapy group
at 12.3 , while the treatment group was 13.3 murotal.
Conclusion : There is no difference in the effectiveness of classical music therapy
and therapy murotal against anxiety levels in hemodialysis patients in hospitals
Prof. dr. Margono Soekarjo Purwokerto.

Keywords : Hemodialysis, anxiety, murotal, classical music.

A. PENDAHULUAN
Gagal ginjal kronik (GGK) merupakan penyakit yang terjadi setelah
berbagai macam penyakit yang merusak masa nefron ginjal sampai pada titik
keduanya tidak mampu untuk menjalankan fungsi regulatorik dan
ekstetoriknya untuk mempertahankan homeostatis. Kerusakan ginjal ini
3
Student of Nursing Program Study, Faculty of Health Science-UMP
4
Lecturer in Nursing Studies Program S1 University of Muhammadiyah Purwokerto

3
mengakibatkan masalah pada kemampuan dan kekuatan tubuh yang
menyebabkan aktivitas kerja terganggu, tubuh menjadi mudah lelah dan lemas
(Prince & Wilson, 2006).
Berdasarkan estimasi Badan Kesehatan Dunia (World Health
Organization), secara global lebih dari 500 juta orang mengalami penyakit
GGK, dan sekitar 1,5 juta orang harus menjalani hidup bergantung pada cuci
darah. Indonesia termasuk negara dengan tingkat penderita penyakit GGK
yang cukup tinggi, menurut Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia,
jumlah pasien yang menderita penyakit GGK sekitar 50 orang per satu juta
penduduk. Data dari ASKES tahun 2010 tercatat 17.507 pasien, tahun 2011
tercatat 23.261 dan data terakhir tahun 2013 tercatat 24.141 orang pasien
(Nawawi, 2013).
Tindakan medis yang dilakukan penderita penyakit gagal ginjal adalah
dengan melakukan terapi dialisis tergantung pada keluhan pasien dengan
kondisi kormobid dan parameter laboratorium, kecuali bila sudah ada donor
hidup yang ditentukan, keharusan transplantasi terhambat oleh langkanya
pendonor. Pilihan terapi dialisis salah satunya adalah dengan hemodialisa.
Hemodialisa (HD) merupakan salah satu terapi untuk mengalirkan darah ke
dalam suatu alat yang terdiri dari dua kompartemen yaitu darah dan dialisat.
Tindakan ini merupakan terapi pengganti utama pada pasien penyakit ginjal
kronis yang dilakukan sepanjang usia mereka (Smeltzer & Bare, 2010).
Dampak psikologis yang dirasakan pasien hemodialisa adalah kecemasan, hal
ini seringkali kurang menjadi perhatian bagi para dokter ataupun perawat.
Umumnya, pengobatan di rumah sakit difokuskan pada pemulihan kondisi
fisik tanpa memperhatikan kondisi psikologis pasien seperti kecemasan dan
depresi pasien. Pasien hemodialisa mengalami kecemasan karena takut
dilakukan tindakan terapi hemodialisa (Canisti, 2007). Menurut Irwanto
(2007) apabila tidak dilakukan tindakan-tindakan tepat, kecemasan yang
berlebihan dapat merugikan karena dapat menjadi depresi, merasa tidak ada
harapan dan putus asa, serta akan berpengaruh terhadap perkembangan
kepribadian dan kehidupan individu.
Penelitian yang dilakukan Wartilisna (2014) pada pasien gagal ginjal
di ruangan dahlia RSUP Prof Dr.R. Kandou Manado, menyebutkan bahwa
terdapat hubungan tindakan hemodialisa dengan tingkat kecemasan pasien,
dimana sebagian besar pasien mengalami kecemasan berat (34,2%).
Sementara pada penelitian Jhoni (2015), menyebutkan bahwa pasien yang
baru menjalani tindakan hemodialisa rata-rata mengalami tingkat kecemasan
berat karena pada priode awal pasien merasa berputus asa dan tidak dapat
sembuh seperti sedia kala, setelah terapi berkelanjutan pasien mulai dapat
beradaptasi dengan baik serta tingkat kecemasan mulai sedang dan ringan.
Responden yang pertama menjalani proses hemodialisis merasa bahwa ini
suatu masalah yang sedang mengancam pada dirinya dan merasa bahwa hal
yang dilakukan ini sangat menyiksakan dirinya, sedangkan semakin lama
menjalani proses hemodialis maka dengan sendirinya responden akan terbiasa
menggunakan semua alat dan proses yang digunakan bahkan dilakukan saat
melakukan proses hemodialisis.

4
Berdasarkan hasil survey pendahuluan pada tanggal 22 Maret 2016 di
RSUD Prof. dr. Margono Soekarjo Purwokerto didapatkan data bahwasannya
pasien yang menjalani progam terapi hemodialisa pada tahun 2015 adalah
16.975 tindakan hemodialisa, sedangkan pada bulan Januari - Februari 2016
terdapat sebanyak 2.775 pasien. Ada 4 golongan pasien hemodialisa yaitu:
tidak menentu, 1x seminggu, 2x seminggu, traveling (Rujukan dari RS lain).
Pengambilan data tingkat kecemasan didapat 7 pasien yang dapat terkaji
menggunakan instrumen HRS-A bahwa didapat kecemasan sedang ada 3
Pasien dan kecemasan berat 3 pasien. Berdasarkan wawancara dan observasi
didapat data yaitu: untuk rentang usia pasien hemodialisa adalah 18-65 tahun,
dan 50% pasien hemodialisa mengalami kecemasan.
Kecemasan merupakan kondisi gangguan psikologis dan fisiologis
yang di tandai dengan gangguan kognitif, somatik, emosional dan komponen
dari rangkaian tingkah laku. Kecemasan yang tidak teratasi dapat
menyebabkan individu mengalami depresi. Kecemasan dipengaruhi oleh
beberapa faktor seperti umur, status perkawinan, pendidikan, pendapatan dan
jenis kelamin (Hurlock, 2006). Menurut Potter & Perry (2010), tindakan
keperawatan untuk penanganan masalah kecemasan pasien dapat berupa
tindakan mandiri oleh perawat, seperti teknik relaksasi dan distraksi.
Salah satu teknik distraksi yang digunakan untuk mengatasi
kecemasan pada pasien adalah dengan musik klasik. Musik selain dapat
mempengaruhi suasana hati, juga diketahui memiliki kekuatan yang sangat
mengagumkan baik secara fisik, emosional, maupun spiritual. Rangsangan
musik meningkatkan pelepasan endofrin dan ini menurunkan kebutuhan akan
obat-obatan karena pelepasan tersebut memberikan suatu pengalihan
perhatian dari rasa sakit dan dapat mengurangi kecemasan (Campbell, 2001).
Pemberian intervensi terapi musik klasik akan memperpanjang serat otot,
mengurangi pengiriman impuls neural ke otak, dan selanjutnya mengurangi
aktivitas otak juga sistem tubuh lainnya. Sehingga respon tubuh akan terjadi
penurunan denyut jantung dan frekuensi pernapasan, tekanan darah, dan
konsumsi oksigen serta aktivitas otak alpha () dan suhu kulit bagian perifer
(Potter and Perry, 2010).
Menurut penelitian yang dilakukan Muhammad (2014) menunjukkan
bahwa terdapat pengaruh terapi musik klasik terhadap tingkat kecemasan pada
pasien hemodialisa di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surakarta, dengan
rata-rata skala kecemasan pada kelompok yang diberi terapi musik klasik
turun dari angka 29,67 menjadi 17,33. Penelitian Hatice (2011), menunjukkan
bahwa musik berpengaruh terhadap kenyamanan, kecemasan dan nyeri di unit
perawatan intensif Turki. Musik adalah jenis terapi yang berkontribusi pada
kenyamanan pasien ICU dengan mengurangi rasa sakit, dan kecemasan
pasien.
Teknik distraksi lain yang juga dapat digunakan untuk mengatasi
kecemasan adalah terapi murotal. Al-Kaheel (2011) menyebutkan bahwa
dengan mendengarkan bacaan ayat-ayat Al-Quran, seorang Muslim, baik
mereka yang berbahasa Arab maupun bukan, dapat merasakan perubahan
fisiologis yang sangat besar. Penurunan depresi, kecemasan, kesedihan,

5
memperoleh ketenangan jiwa, menangkal berbagai macam penyakit
merupakan pengaruh umum yang dirasakan saat mendengarkan lantunan ayat-
ayat Al-Quran.
Terapi murotal dapat mempercepat penyembuhan, hal ini juga telah
dibuktikan oleh berbagai ahli seperti yang telah dilakukan Ahmad al Khadi,
dengan tema pengaruh Al-Quran pada manusia dalam perspektif fisiologi dan
psikologi. Hasil penelitian tersebut menunjukan hasil positif bahwa
mendengarkan ayat suci Al-Quran memiliki pengaruh yang signifikan dalam
menurunkan ketegangan urat saraf reflektif dan hasil ini tercatat dan terukur
secara kuantitatif dan kualitatif oleh sebuah alat berbasis komputer (Ramolda,
2009).
Penelitian Ali (2010), menyebutkan bahwa menggunakan Alquran
untuk perawatan terapi memiliki pengaruh positif dan signifikan dalam
penyembuhan serta menyebabkan psikologis pasien menjadi stabil dan
tenang. Penelitian Dian (2013), menunjukkan terdapat pengaruh pemberian
terapi murottal Al-Quran terhadap tingkat kecemasan pasien hemodialisa di
RS PKU Muhammadiyah Surakarta. Rata-rata tingkat kecemasan pasien
sebelum diberikan terapi murottal adalah 34,00, sedangkan setelah diberikan
terapi rata-rata tingkat kecemasannya adalah 17,27.
Terapi musik dan terapi murotal ini bekerja pada otak, dimana ketika
didorong oleh rangsangan dari luar (terapi musik dan Al-Quran), maka otak
akan memproduksi zat kimia yang disebut neuropeptide. Molekul ini akan
menyangkutkan kedalam reseptor-reseptor mereka yang ada di dalam tubuh
dan akan memberikan umpan balik berupa kenikmatan atau kenyamanan
(Oriordan, 2002).
Terapi murotal dan terapi musik dapat menurunkan kecemasan, tetapi
apakah terapi murotal itu lebih cepat menurunkan kecemasan dibandingkan
terapi musik ataupun sebaliknya belum diketahui, sehingga peneliti tertarik
untuk meneliti tentang perbedaan efektivitas antara pemberian terapi murotal
dengan terapi musik terhadap penurunan kecemasan pada pasien hemodialisa
di RSUD Prof. dr. Margono Soekarjo Purwokerto.

B. Metode Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan merupakan penelitian eksperimen,
dengan rancangan penelitian quasy experiment yang bersifat non-equivalen
control group pretest- posttest untuk mengetahui tingkat kecemasan sebelum
dan sesudah diberikan terapi musik klasik dan terapi murotal (Arikunto,
2006). Penelitian dilakukan pada dua kelompok yang berbeda, dengan cara
sampel di beri tes awal (pretest) lalu diberikan perlakuan dan kemudian
diberikan tes akhir (posttest)

C. Populasi Dan Sampel


Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien yang menjalani
terapi hemodialisa di RSUD Prof. dr. Margono Soekarjo Purwokerto, dengan
sampel sebanyak 34 responden, yang terbagi menjadi 2 kelompok yaitu,

6
sebanyak 17 responden untuk kelompok yang diberi terapi musik klasik dan
17 responden untuk kelompok yang diberi terapi murotal.

D. Hasil Penelitian
1. Gambaran jenis kelamin, usia pendidikan dan pekerjaan responden
Tabel 1. Distribusi frekuensi gambaran jenis kelamin, usia pendidikan dan
pekerjaan responden.
Kelompok Intervensi
Variabel Musik Klasik Murotal
n % n %
Jenis Kelamin
Laki-laki 11 64,7 14 82,4
perempuan 6 35,3 3 17,6
Total 17 100,0 17 100,0
Usia (tahun)
< 31 1 5,9 3 17,6
31 - 40 5 29,4 6 35,3
> 40 11 64,7 8 47,1
Total 17 100,0 17 100,0
Pendidikan
SD 3 17,6 4 23,5
SMP 5 29,4 5 29,4
SMA 7 41,2 8 47,1
Perguruan Tinggi 2 11,8 - -
Total 17 100,0 17 100,0
Jumlah Tindakah HD
Minimum 15 15
Maksimum 46 47
Mean 28,9 32,2
Std. Deviasi 10,1 10,4

Berdasarkan tabel 1 diketahui bahwa jika dilihat dari segi jenis


kelamin responden, pada kelompok yang diberikan terapi musik klasik
sebagian besar berjenis kelamin laki-laki (64,7%), begitu juga pada
kelompok yang diberikan terapi murotal sebagian besar berjenis kelamin
laki-laki (82,4%). Karakteristik usia menunjukkan bahwa pada kelompok
yang diberikan terapi musik klasik sebagian besar berusia > 40 tahun
(64,7%), begitu juga pada kelompok yang diberikan terapi murotal
sebagian besar berusia > 40 tahun (47,1%). Karakteristik pendidikan
menunjukkan bahwa pada kelompok yang diberikan terapi musik klasik
sebagian besar berlatar belakang pendidikan SMA (41,2%), begitu juga
pada kelompok yang diberikan terapi murotal sebagian besar berlatar
belakang pendidikan SMA (47,1%). Karakteristik jumlah tindakan HD
yang responden jalani menunjukkan bahwa pada kelompok yang diberikan
terapi musik klasik rata-rata telah menjalani tindakan HD sebanyak 28,9
kali, dengan jumlah tindakan minimal 15 kali, maksimal 46 kali dan

7
standar deviasi 10,1 kali, sedangkan pada kelompok yang diberikan terapi
murotal rata-rata telah menjalani tindakan HD sebanyak 32,2 kali, dengan
jumlah tindakan minimal 15 kali, maksimal 47 kali dan standar deviasi
10,4 kali.
2. Uji Normalitas Data
Tabel 2 Hasil uji normalitas
Kolmogorov- Asymp. Sig.
Variabel
Smirnov Z (2-tailed)
Kecemasan (Musik Klasik) 0,471 0,980
Kecemasan (Murotal) 0,668 0,764

Berdasarkan hasil uji normalitas data diatas, terlihat bahwa semua


variabel penelitian baik kecemasan pada kelompok yang diberi terapi
music klasik maupun murotal mempunyai nilai signifikansi > taraf
signifikan yang ditetapkan (=0,05), dari hal tersebut dapat disimpulkan
bahwa semua data pada masing-masing variabel penelitian berdistribusi
normal.
3. Tingkat kecemasan sebelum dan sesudah diberikan terapi musik
klasik
Tabel 3. Perbandingan nilai tingkat kecemasan sebelum dan sesudah
diberikan terapi music klasik.
Tingkat Standar Rata-rata selisih Sig.
Rata-rata
kecemasan deviasi (sebelum sesudah)
Sebelum 137,9 14,7
12,3 0,001
Sesudah 125,6 14,3

Hasil perhitungan uji paired sampel t test diperoleh nilai rata-rata


selisih tingkat kecemasan sebelum dan sesudah pemberian terapi music
klasik sebesar 12,3, dengan nilai signifikansi sebesar 0,001, dimana ini
berarti nilai signifikansi < (0,05) sehingga dapat diartikan bahwa secara
statisitik ada pengaruh pemberian terapi music klasik terhadap tingkat
kecemasan pada pasien hemodialisa di RSUD Prof. dr. Margono Soekarjo
Purwokerto.
4. Tingkat kecemasan sebelum dan sesudah diberikan terapi murotal
Tabel 4. Perbandingan nilai tingkat kecemasan sebelum dan sesudah
diberikan terapi murotal.
Tingkat Standar Rata-rata selisih Sig.
Rata-rata
kecemasan deviasi (sebelum sesudah)
Sebelum 131,4 17,1
13,3 0,001
Sesudah 118,1 16,2
Hasil perhitungan uji paired sampel t test diperoleh nilai rata-rata
selisih tingkat kecemasan sebelum dan sesudah pemberian terapi murotal
sebesar 13,3, dengan nilai signifikansi sebesar 0,001, dimana ini berarti
nilai signifikansi < (0,05) sehingga dapat diartikan bahwa secara

8
statisitik ada pengaruh pemberian terapi murotal terhadap tingkat
kecemasan pada pasien hemodialisa di RSUD Prof. dr. Margono Soekarjo
Purwokerto.
5. Perbedaan efektifitas terapi music klasik dan terapi murotal terhadap
tingkat kecemasan pasien hemodialisa.
Tabel 5. Perbedaan efektifitas terapi music klasik dan murotal terhadap
tingkat kecemasan pasien hemodialisa di RSUD Prof. dr.
Margono Soekarjo Purwokerto
Mean
Penurunan Kecemasan Mean t hitung Sig.
Difference
Terapi Musik Klasik 12,3
1,0 0,369 0,715
Terapi Murotal 13,3

Berdasarkan tabel 5 diketahui bahwa tingkat kecemasan responden


setelah pemberian intervensi untuk kelompok terapi music klasik rata-rata
sebesar 12,3, sedangkan pada kelompok yang diberikan terapi murotal
menunjukkan rata-rata penurunan tingkat kecemasan sebesar 13,3, dengan
nilai mean difference perbedaan efektifitas pada kedua kelompok sebesar
1,0, hal ini menunjukan bahwa perbedaan rata-rata penurunan tingkat
kecemasan yang dirasakan pada kedua kelompok sebesar 1,0. Melalui
perhitungan uji independent sampel t test, hasil penelitian ini
menunjukkan nilai signifikansi perbedaan efektifitas pada kedua
kelompok (terapi music klasik dan terapi murotal) sebesar 0,715.
Hasil ini menunjukkan bahwa nilai signifikansi perbedaan
efektifitas pada kedua kelompok > (0,05), sehingga dapat diartikan
bahwa secara statisitik tidak terdapat perbedaan efektifitas pemberian
terapi music klasik dan terapi murotal terhadap tingkat kecemasan pasien
hemodialisa di RSUD Prof. dr. Margono Soekarjo Purwokerto, artinya
keduanya sama-sama efektif dalam menurunkan kecemasan

E. Pembahasan
1. Gambaran jenis kelamin, usia, pendidikan dan jumlah tindakan HD.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa jika dilihat dari segi jenis
kelamin responden, baik pada kelompok yang diberikan terapi music
klasik maupun kelompok yang diberikan terapi murotal sebagian besar
berjenis kelamin laki-laki, yaitu sebanyak 64,7% pada kelompok yang
diberikan terapi music klasik dan 82,4% pada kelompok yang diberikan
terapi murotal. Data jenis kelamin pada pasien hemodialisa ini sesuai
dengan teori yang mengatakan bahwa laki-laki lebih mudah terkena
penyakit dibandingkan dengan perempuan karena pola kebiasaan yang
berbeda (Siswanto, 2007), namun menurut Kanel, et al (2004) mengatakan
bahwa ada perbedaan kecemasan pada laki-laki dan perempuan,
perempuan akan lebih cemas dibanding dengan laki-laki, laki-laki lebih
aktif, eksploratif, sedangkan perempuan lebih sensitif.

9
Pada karakteristik usia menunjukkan bahwa pada kelompok yang
diberikan terapi music klasik sebagian besar berusia > 40 tahun (64,7%),
begitu juga pada kelompok yang diberikan terapi murotal sebagian besar
berusia > 40 tahun (47,1%). Feist (2009), mengungkapkan bahwa semakin
bertambahnya umur kematangan psikologi individu semakin baik. Artinya
semakin matang psikologi seseorang, semakin baik pula adaptasi terhadap
kecemasan. Hasil penelitian selaras dengan pendapat Gallo yang
menyatakan bahwa semakin bertambahnya umur seseorang semakin
banyak pengalaman yang di terima, sehingga cara menjalani kehidupan
juga semakin matang, sementara menurut Sarwono (2003), walaupun tidak
secara mutlak, tetapi perkembangan usia turut mempengaruhi kematangan
pribadi seseorang. Menurutnya, semakin bertambah usia seseorang tidak
menjamin bahwa kepribadiannya akan semakin baik. Ada beberapa
variabel luar yang ikut mempengaruhi perkembangan individu. Variabel
luar yang turut mempengaruhi kematangan individu adalah faktor
pengalaman.
Pada karakteristik pendidikan menunjukkan bahwa pada kelompok
yang diberikan terapi music klasik sebagian besar berlatar belakang
pendidikan SMA (41,2%), begitu juga pada kelompok yang diberikan
terapi murotal sebagian besar berlatar belakang pendidikan SMA (47,1%).
Pendidikan adalah usaha manusia untuk menumbuhkan dan
mengembangkan potensi-potensi pembawaan baik jasmani maupun rohani
sesuai dengan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat dan kebudayaan.
Pendidikan merupakan salah satu faktor penting untuk mendapatkan dan
mencerna informasi secara lebih mudah. Akhirnya pemahaman suatu
perubahan kondisi akan lebih mudah dipahami dan di internalisasi
(Videbeck, 2008). Menurut Feist (2009), tingkat pendidikan yang lebih
tinggi memiliki respon adaptasi yang lebih baik karena respon yang
diberikan lebih rasional dan juga memengaruhi kesadaran dan pemahaman
terhadap stimulus.
Pada karakteristik jumlah tindakan HD yang responden jalani
menunjukkan bahwa pada kelompok yang diberikan terapi musik klasik
rata-rata telah menjalani tindakan HD sebanyak 28,9 kali, dengan jumlah
tindakan minimal 15 kali, maksimal 46 kali dan standar deviasi 10,1 kali,
sedangkan pada kelompok yang diberikan terapi murotal rata-rata telah
menjalani tindakan HD sebanyak 32,2 kali, dengan jumlah tindakan
minimal 15 kali, maksimal 47 kali dan standar deviasi 10,4 kali.
2. Tingkat kecemasan sebelum dan sesudah pemberian terapi musik
klasik.
Hasil analisis menunjukkan ada pengaruh pemberian terapi music
klasik terhadap tingkat kecemasan pada pasien hemodialisa di RSUD Prof.
dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Nilai rata-rata tingkat kecemasan
responden sebelum diberikan terapi music klasik sebesar 137,9, sedangkan
setelah pemberian music klasik mengalami perubahan menjadi 125,6, hal
ini menunjukkan bahwa setelah pemberian terapi music klasik, kecemasan
yang responden rasakan mengalami penurunan sebesar 12,3.

10
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Cutshall, et al (2011)
yang menyebutkan bahwa rekaman musik dan alam suara dapat
diintegrasikan ke dalam perawatan pasien. Rekaman dapat menyediakan
sarana tambahan untuk mengatasi gejala-gejala umum dari rasa sakit dan
kecemasan sambil memberikan sarana relaksasi bagi pasien. Penelitian ini
juga sejalan dengan penelitian Andiyani (2014), yang menunjukkan bahwa
ada perbedaaan yang signifikan antara tingkat kecemasan pasien pre
operasi SC sebelum dan sesudah diberikan terapi musik. Rata-rata tingkat
kecemasan pre operasi SC sebelum diberikan terapi musik adalah 18,26
atau sudah termasuk dalam derajad kecemasan sedang. Sedangkan setelah
diberikan terapi musik, Pasien pre operasi SC rata-rata tingkat
kecemasannya adalah 12,48 atau dalam kategori kecemasan ringan.
Penelitian lain yang sejalan dengan penelitian ini juga dilakukan oleh
Muhammad (2014), yang menunjukkan bahwa terdapat pengaruh
pemberian terapi musik klasik terhadap tingkat kecemasan pasien
hemodialisa di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surakarta.
Potter & Perry (2010), menjelaskan terapi musik klasik
memperpanjang serat otot, mengurangi impuls neural ke otak, dan
selanjutnya mengurangi aktivitas otak juga sistem tubuh lainnya. Sehingga
respon tubuh akan terjadi penurunan denyut jantung dan frekuensi
pernapasan, tekanan darah, dan konsumsi oksigen serta aktivitas otak
alpha dan suhu kulit bagian perifer. Distraksi bekerja memberi pengaruh
yang baik untuk jangka waktu yang singkat, salah satu distraksi yang
efektif adalah musik, yang dapat menurunkan nyeri fisiologis, stres, dan
kecemasan dengan mengalihkan perhatian. Musik terbukti menunjukkan
efek yaitu menurunkan frekuensi denyut jantung, mengurangi kecemasan
dan depresi, menghilangkan nyeri dan menurunkan tekanan darah. Musik
yang sejak awal sesuai dengan suasana hati individu, biasanya merupakan
pilihan yang paling baik, menikmati permainan instrumen solo atau
mendengarkan salah satu karya orchestra klasik. Musik klasik, pop,
modern digunakan pada terapi music.
Ketika diperdengarkan music klasik, maka harmonisasi dalam
musik klasik yang indah akan masuk telinga dalam bentuk suara (audio),
menggetarkan genderang telinga, mengguncangkan cairan diteling dalam
serta menggetarkan sel-sel rambut di dalam koklea untuk selanjutnya
melalui saraf koklearis menuju otak dan menciptakan imajinasi keindahan
di otak kanan dan otak kiri, yang akan memberikan dampak berupa
kenyamanan dan perubahan perasaan. Perubahan perasaan ini diakibatkan
karena musik klasik dapat menjangkau wilayah kiri kortek cerebri
(Mindlin, 2009). Menurut Ganong (2005), dari korteks limbik, jaras
pendengaran dilanjutkan ke hipokampus, dan meneruskan sinyal musik ke
Amigdala yang merupakan area perilaku kesadaran yang bekerja pada
tingkat bawah sadar, sinyal kemudian diteruskan ke hipotalamus.
Hipotalamus merupakan area pengaturan sebagian fungsi vegetativ dan
fungsi endokrin tubuh seperti halnya banyak aspek perilaku emosional,
jaras pendengaran diteruskan ke formatio retikularis sebagai penyalur

11
impuls menuju serat otonom. Serat saraf tersebut mempunyai dua sistem
saraf, yaitu saraf simpatis dan para simpatis. Kedua saraf ini dapat
mempengaruhi kontraksi dan relaksasi organ-organ. Relaksasi dapat
merangsang pusat rasa ganjaran sehingga timbul ketenangan.
Musik menghasilkan rangsangan ritmis yang kemudian ditangkap
melalui organ pendengaran dan diolah didalam sistem saraf tubuh dan
kelenjar pada otak yang selanjutnya ritme internal ini mempengaruhi
metabolisme tubuh manusia sehingga prosesnya berlangsung dengan lebih
baik (Satiadarma, 2004). Dengan demikian maka dapat dikatakan bahwa
terapi musik klasik benar-benar dapat menurunkan kecemasan pasien
hemodialisa. Keberhasilan ini membuktikan bahwa musik yang disukai
dengan irama yang lembut dapat membuat suasana hati pendengarnya
menjadi lebih baik sehingga kecemasan yang dirasakannya akan menurun
3. Tingkat kecemasan sebelum dan sesudah pemberian terapi murotal.
Hasil analisis menunjukkan ada pengaruh pemberian terapi
murotal terhadap tingkat kecemasan pada pasien hemodialisa di RSUD
Prof. dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Nilai rata-rata tingkat kecemasan
responden sebelum diberikan terapi murotal sebesar 131,4, sedangkan
setelah pemberian murotal mengalami perubahan menjadi 118,1, hal ini
menunjukkan bahwa setelah pemberian terapi murotal, kecemasan yang
responden rasakan mengalami penurunan sebesar 13,3.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Ali (2010),
menyebutkan bahwa menggunakan Alquran untuk perawatan terapi
memiliki pengaruh positif dan signifikan dalam penyembuhan serta
menyebabkan psikologis pasien menjadi stabil dan tenang. Penelitian ini
juga sejalan dengan penelitian Dian (2013), dengan hasil penelitian
menunjukkan terdapat pengaruh pemberian terapi murottal Al-Quran
terhadap tingkat kecemasan pasien hemodialisa di RS PKU
Muhammadiyah Surakarta. Rata-rata tingkat kecemasan pasien sebelum
diberikan terapi murottal adalah 34,0, sedangkan setelah diberikan terapi
rata-rata tingkat kecemasannya adalah 17,3. Penelitian lain yang sejalan
dengan penelitian ini juga dilakukan oleh Firman (2012), yang
menunjukkan bahwa pemberian terapi murotal efektif menurunkan tingkat
kecemasan pasien Pra Operasi di Pekalongan
Terapi murottal memberikan dampak psikologis ke arah positif, hal
ini dikarenakan ketika murottal diperdengarkan dan sampai ke otak, maka
murottal ini akan diterjemahkan oleh otak. Persepsi kita ditentukan oleh
semua yang telah terakumulasi, keinginan hasrat, kebutuhan dan pra
anggapan (Oriordan, 2002). Dengan terapi murottal maka kualitas
kesadaran seseorang terhadap Tuhan akan meningkat, baik orang tersebut
tahu arti Al-quran atau tidak. Kesadaran ini akan menyebabkan totalitas
kepasrahan kepada Allah SWT, dalam keadaan ini otak berada pada
gelombang pada frekuensi 7 14 Hz, ini merupakan keadaan energi otak
yang optimal dan dapat menyingkirkan stres dan menurunkan kecemasan
(Mac Gregor, 2001). Terapi murotal memiliki aspek yang sangat
diperlukan dalam mengatasi kecemasan, yakni kemampuanya dalam

12
membentuk koping baru untuk mengatasi kecemasan, sehingga secara
garis besar dapat ditarik kesimpulan bahwa terapi murotal mempunyai dua
poin penting, memiliki irama yang indah dan juga secara psikologis dapat
memotivasi dan memberikan dorongan semangat dalam menghadapi
problem yang sedang dihadapi (Firman, 2012).
Murottal merupakan salah satu musik dengan intensitas 50 desibel
yang membawa pengaruh positif bagi pendengarnya, intensitas suara yang
rendah merupakan intensitas suara kurang dari 60 desibel sehingga
menimbulkan kenyamanan (Wijaya, 2009). Adapun pengaruh terapi
mendengarkan ayat-ayat Al-Quran berupa, adanya perubahan perubahan
arus listrik di otot, perubahan sirkulasi darah, perubahan detak jantung dan
kadar darah pada kulit. Perubahan tersebut menunjukan adanya relaksasi
atau penurunan ketegangan urat saraf reflektif yang mengakibatkan
terjadinya pelonggaran pembuluh nadi dan penambahan kadar darah
dalam kulit, diiringi dengan penurunan frekuensi detak jantung. Terapi
murotal bekerja pada otak, dimana ketika didorong oleh rangsangan dari
luar (terapi Al-Quran), maka otak maka memproduksi zat kimia yang
disebut neuropeptide. Molekul ini akan menangkutkan kedalam reseptor-
reseptor mereka yang ada di dalam tubuh dan akan memberikan umpan
balik berupa kenikmatan atau kenyamanan (Mottaghi et. al, 2011).
Lantunan Al-Quran dapat menurunkan hormon-hormon stress,
mengaktifkan hormon endorfin alami, meningkatkan perasaan rileks, dan
mengalihkan perhatian dari rasa takut, cemas dan tegang, memperbaiki
sistem kimia tubuh sehingga menurunkan tekanan darah serta
memperlambat pernafasan, detak jantung, denyut nadi, dan aktivitas
gelombang otak (Siswantinah, 2011)
Menurut Al-Hasyimi (2009), kecemasan pada seseorang sangat
dipengaruhi oleh keadaan biologis dari tubuh, diantaranya adalah system
sirkuit otak dan system neurotransmitter. Contoh dari system sirkuit otak
dan system neurotransmitter adalah GABA (Gamma Amino Buteric Acid),
apabila tingkat GABA didalam tubuh manusia sangat rendah maka akan
mempengaruhi kenaikan tingkat kecemasan seseorang. GABA sangat
dipengaruhi oleh system corticotropin releasing factor (CRF) yang sangat
berperan penting dalam akspresi kecemasan yang terletak pada system
limbik (Durand & Barlow, 2006). Peran dari murottal Al Quran akan
memberikan efek relaksasi pada seseorang dengan menstabilkan sirkuit
otak, agar tidak menuju cemas
Bacaan Al-quran secara fisik mengandung unsur suara manusia,
sedangkan suara manusia itu sendiri merupakan alat penyembuhan yang
menakjubkan dan alat yang paling mudah dijangkau. Suara bisa
menurunkan hormon-hormon stres. Mengaktifkan hormon endofrin alami,
menigkatkan perasaan rileks, dan mengalihkan dari rasa takut, cemas dan
tegang, memperbaiki system kimia tubuh sehingga menurunkan tekanan
darah serta memperlambat pernafasan, detak jantung, denyut nadi, dan
aktifitas gelombang otak. Laju pernafasan yang lebih dalam atau lebih
lambat tersebut sangat baik menimbulkan ketenangan, kendali emosi,

13
pemikiran yang lebih dalam dan metabolisme yang lebih baik (Heru,
2008)
4. Perbedaan efektifitas terapi music klasik dan terapi murotal
Hasil penelitian menunjukkan secara statistik tidak terdapat
perbedaan signifikan antara efektifitas pemberian terapi music klasik dan
terapi murotal terhadap tingkat kecemasan pasien hemodialisa di RSUD
Prof. dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Menurut Oriordan (2002), terapi
musik dan terapi murotal ini bekerja pada otak, dimana ketika didorong
oleh rangsangan dari luar (terapi musik dan Al-Quran), maka otak akan
memproduksi zat kimia yang disebut neuropeptide. Molekul ini akan
menyangkutkan kedalam reseptor-reseptor mereka yang ada di dalam
tubuh dan akan memberikan umpan balik berupa kenikmatan atau
kenyamanan, sehingga baik music maupun murotal sama-sama efektif
dalam menurunkan tingkat kecemasan responden.
Tingkat kecemasan responden setelah pemberian intervensi untuk
kelompok terapi music klasik rata-rata mengalami penurunan sebesar 12,3,
sedangkan pada kelompok yang diberikan terapi murotal menunjukkan
rata-rata penurunan tingkat kecemasan sebesar 13,3. Hasil tersebut
menunjukkan perbedaan efektifitas pada kedua kelompok hanya sebesar
1,0, namun demikian hasil ini juga menggambarkan bahwa terapi murotal
sedikit lebih efektif dalam menurunkan tingkat kecemasan responden.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian Firman (2012), yang menyatakan
bahwa pemberian terapi murotal lebih efektif menurunkan tingkat
kecemasan pasien dibandingkan dengan terapi music.
Penelitian berasumsi dari data yang didapat ternyata menggunakan
murotal sedikit lebih efektif dibandingkan terapi musik klasik, karena
terapi murotal memiliki aspek yang sangat diperlukan dalam mengatasi
kecemasan, yakni kemampuanya dalam membentuk koping baru untuk
mengatasi kecemasan sebelum dilakukan hemodialisa, sehingga secara
garis besar dapat ditarik kesimpulan bahwa terapi murotal mempunyai dua
poin penting, memiliki irama yang indah dan juga secara psikologis dapat
memotivasi dan memberikan dorongan semangat dalam menghadapi
problem yang sedang dihadapi. Sedangkan dalam terapi musik, hanya
memiliki satu poin saja, yaitu memiliki nada yang indah.
Terapi musik memang dapat menurunkan tingkat kecemasan yang
dapat terlihat dari menurunya ketegangan, pernafasan, tekanan darah, nadi
(respon fisiologis). Akan tetapi setelah terapi musik selesai dilaksanakan,
pasien kembali dihadapkan pada kenyataan akan tindakan hemodialisa
yang akan dihadapinya, sehingga rasa cemas kembali meningkat. Terbukti
ketika malam hari pasien kembali merasakan kecemasan, hal ini dapat
diketahui ketika peneliti mengkaji post test pada sebagian item yang harus
dikaji di malam hari maka pasien mengeluh gangguan tidur dan bangun
dengan lesu. Adapun pada terapi murotal maka kecemasan baik yang
berupa gejala fisiologis ataupun psikologis mengalami penurunan yang
lebih signifikan. Bahkan dari hasil wawancara yang peneliti lakukan pada
beberapa responden, setelah diberikan terapi murotal mengatakan bahwa

14
mereka merasa lebih tenang dan siap untuk melakukan hemodialisa, selain
itu mereka berharap dilain waktu peneliti bisa kembali memberikan terapi
murotal.
Terapi murotal memberikan dampak psikologis kearah positif, hal
ini dikarenakan ketika murotal diperdengarkan dan sampai ke otak, maka
murotal ini akan diterjemahkan oleh otak. Persepsi kita ditentukan oleh
semua yang telah terakumulasi, keinginan, hasrat, kebutuhan dan pra
anggapan (Oriordan, 2002). Keinginan dan harapan terbesar pasien yang
akan menjalani operasi adalah agar operasi dapat berjalan lancar dan
pasien dapat pulih seperti semula. Maka kebutuhan terbesar adalah
kekuatan penyokong, yaitu realitas kesadaran terhadap adanya Tuhan Yang
Maha Esa (Krishna, 2001). Dengan terapi murotal maka kualitas
kesadaran seseorang terhadap Tuhan akan meningkat, baik orang tersebut
tahu arti Al-Quran atau tidak. Kesadaran ini akan menyebabkan totalitas
kepasrahan kepada Allah SWT, dalam keadaan ini otak berada pada
gelombang alpha, merupakan gelombang otak pada frekuensi 7-14HZ. Ini
merupakan keadaan energi otak yang optimal dan dapat menyingkirkan
stres dan menurunkan kecemasan (MacGregor, 2001). Dalam keadaan
tenang otak dapat berpikir dengan jernih dan dapat melakukan perenungan
tentang adanya Tuhan, akan terbentuk koping, atau harapan positif pada
pasien (Khrisna, 2001)

F. Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan
bahwa:
1. Sebagian besar pasien yang diberikan terapi music
klasik berjenis kelamin laki-laki (64,7%), berusia > 40 tahun (64,7%),
berlatar belakang pendidikan SMA (41,2%), dan merupakan pedagang
(29,4%), begitu juga pada pasien yang diberikan terapi murotal sebagian
besar berjenis kelamin laki-laki (82,4%), berusia > 40 tahun (47,1%),
berlatar belakang pendidikan SMA (47,1%) dan rata-rata telah menjalani
tindakan HD sebanyak 32,2 kali.
2. Tidak terdapat perbedaan efektifitas pemberian
terapi music klasik dan terapi murotal terhadap tingkat kecemasan pasien
hemodialisa di IGD RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto (p
value = 0,715).

G. Saran
1. Bagi Rumah Sakit.
Penelitian ini berhasil membuktikan adanya pengaruh terapi musik klasik
dan terapi murotal terhadap tingkat kecemasan pada pasien hemodialisa.
Hasil ini tentunya bisa menjadi rekomendasi pihak rumah sakit untuk
menjadikan kedua teknik ini sebagai salah satu alternatife terapi untuk
menurunkan tingkat kecemasan pasien hemodialisa. Salah satu langkah
yang perlu dilakukan adalah meningkatkan sarana dan prasarana untuk

15
menunjang terapi music klasik maupun murotal ini, seperti: central
speaker atau pemasangan headset tiap tempat tidur di ruang hemodialisa.
2. Bagi Profesi Keperawatan.
Diharapkan dapat mengaplikasikan tindakan terapi music klasik maupun
murotal untuk menangani masalah kecemasan pada pasien yang akan
dilakukan hemodialisa sehingga pasien bisa merasa lebih tenang. Perawat
juga harus memperhatikan factor-faktor lain yang juga berpengaruh
terhadap tingkat kecemasan pasien. Perawat dapat memberikan dukungan
kepada pasien dalam mengidentifikasi strategi koping yang efektif dan
aman untuk menghadapi berbagai masalah serta rasa takut.
3. Bagi penelitian yang akan datang.
Melakukan lanjutan penelitian mengenai topik yang sama dan
dihubungkan dengan berbagai variable yang berbeda, misal: konflik
interpersonal, stressor psikososial, riwayat kecemasan keluarga, tipe
kepribadian, lingkungan, respon koping, jenis kelamin, latar belakang
pekerjaan, gaya hidup, genetik, dan sebagainya.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Hasyimi, A. M. 2009. Akhlak Rasul Menurut Bukhari Muslim. Jakarta: Gema


Insani
Ali G. 2010. Quran And Its Impact In The Treatment Of The Nervous System.
Journal Of Religion And Health Universiti Malaya.
Al-Kaheel, A. 2011. Al-Quran The Healing Book. Jakarta: Tarbawi Press
Campbell, D, 2001. Efek Mozart: Memanfaatkan kekuatan musik untuk
mempertajam pikiran, mengaktifkan kreativitas dan menyehatkan
tubuh penerjemah Hermaya. Jakarta: Gramedia.
Canisti, Riseligna. 2007. Gambaran kecemasan dan Depresi pada Penderita
Gagal Ginjal Kronik yang Menjalani Terapi Hemodialisa.
www.digilib.ui.ac.id.
Cutshall, Susanne. M., Anderson, Patricia. G., Prinsen, Sharon. K., Wentworth,
Laura. J., Olney, Tammy. L., Messner, Penny. K., Brekke, karen. M.,
Zhuo, Li., Sundt, Thoralf. M., kelly, Ryan F., Bauer, Brent. A. 2011.
Effect Of The Combination Of Music And Nature Sounds On Pain
And Anxiety In Cardiac Surgical Patients. Alternative therapies in
health and medicine Juornal. Vol: 17, No: 4.
Dian Nashif Zahrofi. 2013. Pengaruh Pemberian Terapi Murottal Al Quran
terhadap Tingkat Kecemasan pada Pasien Hemodialisa di Rs Pku
Muhammadiyah Surakarta. Naskah Publikasi Fakultas Ilmu
Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Durand, V.M., Barlow, D.H. 2006. Intisari Psikologi Abnormal. Edisi IV.
Yogyakarta: Pustaka Pelaja
Feist, J. 2009. Freud: psikoanalisis dalam teori kepribadian: theories of
personality. Jakarta : Salemba Medika
Firman Faradisi. 2012. Efektivitas Terapi Murotal Dan Terapi Musik Klasik
Terdapat Penurunan Tingkatan Kecemasan Pasien Pra Operasi Di

16
Pekalongan. Jurnal ilmiah kesehatan. Volume :5, No. 2. Pekalongan:
Stikes Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan
Ganong, WF. 2005. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC.
Hatice. 2011. The Effect Of Music On Comfort, Anxiety And Pain In The
Intensive Care Unit: A Case In Turkey. International Journal of
Caring Sciences, Volume 8.
Heru. 2008. Ruqyah Syari Berlandaskan Kearifan Lokal. Jakarta: FKUI.
Hurlock, E. B. 2006. Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang
Rentang Kehidupan. Edisi kelima. Alih bahasa Istiwidayanti dan
Soedjarwo. Jakarta: Erlangga.
Irwanto. 2007. Psikologi Umum. Jakarta: PT Prenhallindo.
Khrisna, A, 2001. Masnawi, Bersama Jalaluddin Rumi Menggapai Langit Biru
Tak Berbingkai. Jakarta: PTGramedia Pustaka Utama.
MacGregor, S. 2001. Piece of Mind Menggunakan Kekuatan Pikiran Bawah
Sadar untuk Mencapai Tujuan. Jakarta: Gramedia
Mindlin. 2009. Brain Music. http: //www.editinternational.com.
Mottaghi, ME, Esmaili, R & Rohani, Z. 2011. Effect Of Quran Recitation On
The Level Of Anxiety in Athletics. Quran and Medicine. Vol 1, No. 1,
pp. 1-4.
Muhammad. 2014. Pengaruh Terapi Musik Klasik terhadap Tingkat Kecemasan
pada Pasien Hemodialisa di RS PKU Muhammadiyah Surakarta.
Naskah Publikasi Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Nawawi Qolbinur. 2013. Populasi penderita gagal ginjal terus meningkat di
2013. http://health.okezone.com/read/2013/06/28/482/829210/populasi
-penderita-gagal-ginjal-terus-meningkat-di-2013
Oriordan, RNL (1a). 2002. Seni Penyembuhan Alami Seni Penyembuhan
Menggunakan Energi Jiwa penerjemah Aristyawati. Bekasi: Gugus
Press.
Potter. Patricia A, Perry. Anne G. 2010. Fundamentals of Nursing 7th Edition
Buku 2. Alih Bahasa : Nggie. Adrina F., Albar. Marina. Jakarta :
Penerbit Salemba Medika.
Price S. A dan Wilson, Lorraine M. C. 2006. Patofisiologi Clinical Concepts of
Desiase Process, Edisi 6, Vol 2, Alih bahasa Brahm U, Jakarta : EGC
Ramolda, P. 2009. Pengaruh Al-Quran pada Manusia dalam Perspektif Fisiologi
dan Psikologi. http://www.theedc.com.
Sarwono. 2003. Psikologi Remaja. Jakarta: PT. Raja Gravido Persada
Satiadarma, M. P & Zahra. 2004. Cerdas Dengan Musik. Jakarta: Puspa Suara.
Siswantinah. 2011. Pengaruh Terapi Murottal terhadap Kecemasan Pasien Gagal
Kronik yang Dilakukan Tindakan Hemodialisa di RSUD Kraton
Kabupaten Pekalongan. Jurnal Universitas Muhammadiyah
Semarang.
Smeltzer, C.S. & Bare, B.G. 2010. Textbook of Medical-Surgical Nursing Edition:
12. Philadelphia: The Point
Tomb, D. A. 2004. Buku saku psikiatri. Jakarta: EGC
Videbeck, S. L. 2008. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC

17
Wijaya, M. 2009. Analisis Perbandingan Spektral Musik Murottal & Klasik
Mozzart. URL :wijayamossa.blogspot

18