Anda di halaman 1dari 4

ASPEK KEPERILAKUAN

PADA
DESENTRALISASI

Perusahaan yang berkembang sering kali meluaskan lingkup


pemasarannya ke daerah geographi yang berbeda. Tentu organisasi akan
semakin besar dengan banyaknya cabang-cabang perusahaan, sehingga
diperlukan waktu yang lama untuk menetapkan keputusan operasi. Perusahaan
yang memilih untuk secara efektif dan efisien dalam operasinya maka akan
beralih dari tersentralisasi menjadi desentralisasi.
Apa itu Desentralisasi?
Desentralisasi menurut kami merupakan pelimpahan wewenang untuk
mengambil keputusan oleh manajemen puncak kepada tingkatan wewenang
eksekutif yang lebih rendah.
Kenapa perlu Desentralisasi?
Perusahaan yang besar akan sangat perlu dengan adanya pelimpahan
wewenang untuk mengambil keputusan secara cepat dan tepat mengenai
kegiatan operasi perusahaan karena jika masih keputusan terpusat pada
manajemen puncak akan terlalu lama untuk berkoordinasi dan membebankan
manajemen puncak sehingga manajemen puncak akan lama mengambil
keputusan sehingga operasi perusahaan tidak berjalan dengan efektif dan
efisien. Berbeda jika wewenang dilimpahkan kepada manajemen yang lebih
rendah maka keputusan akan cepat diambil sehingga akan efektif dan efisien
dalam kegiatan operasi perusahaan. Sementara itu manajamen puncak akan
fokus terhadap strategi dan tujuan jangka panjang.
Untuk menerapkan desentralisasi, suatu organisasi harus memilih struktur
yang sesuai, mengembangkan anggaran dasar, dan mengukur kinerja dari
subunit-subunit yang terdesentralisasi. Dalam pemilihan struktur organisasi
yang sesuai membutuhkan dua keputusan inti, yakni:
1. Pembagian tugas/ keputusan
Jenis fungsional dan divisional dari struktur organisasi
mencerminkan dua cara berbeda untuk membagi tugas/keputusan dalam
suatu organisasi. Struktur fungsional membagi suatu organisasi sepanjang
lini fungsi-fungsi utama, seperti produksi, pemasaran, keuangan, dan
seterusnya. Ini akan cocok untuk perusahaan yang memproduksi jenis
produk yang sedikit dan serupa.
Struktur divisional biasanya membagi suatu organisais sepanjang
lini produk. Hal ini terutama untuk perusahaan dengan banyak produk
atau perusahaan yang sangat terdiversifikasi. Sementara itu komplikasi
tambahan dalam membagi tugas/keputusan pada kebanyakan organisasi
besar adalah penyebaran georgrafis dari unit-unitnya.
2. Merencanakan akuntabilitas sumber daya
Dalam memilih suatu struktur langkah berikutnya adalah
merencanakan suatu sistem yang sesuai untuk akuntabilitas sumber daya
pada berbagai subunit fungsional, produk, atau wilayah. Biasanya, suatu
struktur akuntabilitas sumber daya mengikuti logika dari distribusi fisik
aktivitas dan keputusan yang dicapai oleh penciptaan subunit. Emapat
jenis unit akuntansi sumber daya yang dikenal dalam literatur tersdiri atas:
pusat pendapatan, pusat biaya, pusat laba, dan pusat investasi.
Pengembangan Anggaran Dasar
Tugas selnajutnya ialah mengembangkan anggaran dasar, yakni
sekelompok aturan dan prinsip operasi yang akan mengatur hubungan subunit
dengan kantor pusat dan antara satu subunit yang lain. Hubungan antara
subunit dan kantor pusat memerlukan penggambaran aktivitas-aktivitas yang
subunit tersebut memiliki wewenang dan tanggung jawab utama, serta cara
bagaimana kantor pusat mengaharapkan manajer subunit melaksanakan
aktivitas-aktivitas yang diberikan kepada unit-unitnya.
a. Pendelegasian tugas
Persyaratan penting dari desentralisasi adalah penentuan aktivitas yang
sebaiknya didelegasikan kepada subunit dan aktivitas yang sebaiknya
dikendalikan secara sentral. Maka dari itu disarankan untuk berpedoman dalam
pendelgasian aktivitas tersebut. Ada enam pedoman, yakni:
1. Pemanfaatan bakat khusus
Kebutuhan akan keahlian tertentu seperti hukum, komputer dan akuntansi
mungkin memberikan alasan mengapa aktivitas ini harus disentralisasi.
Untuk menghindari kurangnya pemberdayaan karyawan terlatih yang
mungkin terjadi jika aktivitas-aktivitas tersebut diduplikasi, kebanyakan
organisasi cenderung untuk menyentralisasikan aktivitas-aktivitas semacam
itu.
2. Skala ekonomi
Ketika skala ekonomi tersedia, aktivitas cenderung dikelompokkan dan
disentralisasi karena tingkat bunga dan harga pembelian yang lebih baik
tersedia ketika organisasi melakukan transaksi dalam kuantitas yang lebih
besar.
3. Keseragaman
Contoh tentang keseragaman terjadi ketika negosiasi-negosiasi serikat kerja
karena kebijakan upah dan tunjangan untuk seluruh organisasi harus
seragam.
4. Konsekuensi yang bertahan lama
Pertimbangan lainnya adalah keputusan yang diambil mempunyai
kensekuensiyang bertahan lama bagi organisasi. Keputusan mengenai
anggaran modal membuat organisasi berkomitmen pada aktivitas yang
dianggarkan tersebut dan memiliki konsekuensi yang bertahan lama serta
material bagi suatu organisasi. Dengan demikian, keputusan-keputusan ini
disentralisasikan.
5. Kerangka waktu
Keluhan populer terhadap birokrasi sentral yang lamban yang tidak membuat
keputusan secara tepat waktu sehingga perlu pergeseran ke arah
desentralisasi.
6. Dorongan eksperimen
Desentralisasi juga digunakan untuk melakukan eksperimentasi pada tingkat
lokal. Eksperimen dapat dilakukan dengan hasil yang teratas pada sebagian
kecil segmen dari organisasi sehingga akan berdampak terbatas juga
terhadap hasilnya.

b. Menetapkan norma-norma keperilakuan


Dalam desentralisasi mungkin unit-unit bebas dalam menentukan keputusan
mengenai produk, kantor pusat mungkin mengaharapkan agar keputusan
tersebut didasarkan dapa profitabilitas jangka panjang. Untuk
mengkomunikasikan keinginan kantor pusat terhadap unit-unitnya maka
diperlukan norma-norma keperilakuan untuk mengkomunikasikan keinginan
tersebut. Norma-norma keperlikauan yang paling penting adalah:
Sosialisasi adalah proses melakukan orientasi terhadap norma-norma suatu
organisasi. Ini artinya memperkenalkan atau mengkomunikasikan perilaku yang
dapat diterima oleh organisasi.
Spesialisasi merupakan keahlian khusus dan tingkat profesional dalam
organisasi. Setiap profesi memiliki etika atau norma profesi, ketika bergabung
dengan organisasi ini berarti ada sosialisasi terhadap norma dari profesi mereka.
Standardisasi merupakan kriteria minimum yang harus dipenuhi. Harus dibuat
suatu perbedaan antara prilaku standar, seperti kode etik, dan perilaku
terstandardisasi, seperti memproduksi produk sesuai dengan standar kualitas.
Formalisasi merupakan tingkat sampai sejauh mana terdapat peraturan,
prosedur dan rutinitas tertulis merupakan teknik lain untuk mengkomunikasikan
norma.
c. Klasifikasi hubungan antarunit
Anggaran dasar yang baik akan memberikan aturan-aturan dasar mengenai
pertukaran antar unit. Peraturan ini perlu ketika subunit-subunit saling
bergantung satu sam lain untuk input atau output.
d. Pendekatan kompetitif vs kolaboratif
Pendekatan kompetitif, mengandalkan pada mekanisme pasar dan
mensubsitusi pasar internal yang fiktif dengan pasar eksternal. Pendekatan
kolaboratif, menekankan pada keanggotaan organisasional dan mendorong
individu untuk bekerja sebagai satu tim dengan menggunakan aturan,
penghargaan, dan nilai yang sesuai.
e. Faktor-faktor yang memengaruhi pilihan
1) Tersedianya pasar eksterna.
2) Saling ketergantungan yang strategis
3) Ketidaklengkapan harga
4) Tersedianya opsi untuk keluar

f. Desentralisasi dan penentuan harga transfer


Harga transfer mendukung dan mendorong jenis-jenis perilaku tertentu
dalam organisasi.
g. Jenis-jenis harga transfer
1) Harga pasar
2) Harga biaya plus
3) Biaya variable
4) Harga yang dinegoisasikan
5) Harga yang diputuskan atau diperintahkan

h. Harga transfer dan anggaran dasar desentralisasi


Bagian ini menyatakan bahwa elemen utama dari desentralisasi adalah
kebutuhan untuk mengembangkan anggaran dasar yang sesuai. Anggaran
dasar yang semacam itu harus memutuskan aktivitas dan keputusan
manakah yang akan dibuat oleh kantor pusat dan manakah yang akan
didelegasikan kepadaunit-unit individual.

Mengukur dan Mengevaluasi Kinerja


Atribut-atribut dari ukuran-ukuran kinerja yang kemungkinan besar akan
mengarah pada keselarasan tujuan adalah :
a) Kontrolabilitas
Dianggap dinginkan karena kontrolabilitas mengeluarkan aspek-aspek
kinerja yang tidak dapat dikendalikan oleh seorang manajer dari
pengukuran.
b) Kelengkapan
Mengacu pada tingkat sejauh mana suatu ukuran dapat mencakup semua
dimensi kinerja yang relevan.
c) Pemisahan aktivitas dan evaluasi manajerial
Dirancang untuk membedakan daya tarik ekonomi dari suatu aktivitas
denga cara aktivitas tersebut dikelola.