Anda di halaman 1dari 41

TOKSIKOLOGI

TOKSIKOLOGI ANTIBIOTIK GOLONGAN

KUINOLON DAN SULFONAMIDE

Disusun oleh :

Christine Wiryaningsih 12334027


Ester Marinta 12334069
Pramono 12334111
Nurmila 12334123
Indra Donna Sipahutar 13334005
Vena Melinda 13334007
Selvianta Purba 13334010
Ati Juwita Asih 13334025
Nurhasanah 13334040
Endang Partini 14334767

Milak Hasnah

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL
2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberi rahmat-Nya,
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul TOKSIKOLOGI
ANTIBIOTIK GOLONGAN KUINOLON DAN SULFONAMID.

Dalam penulisan makalah ini, kami menyampaikan ucapan terima kasih kepada
Bapak Drs. Tahoma Siregar, M.Si., Apt., yang telah membimbing kami selama proses
penyusunan dan penyelesaian makalh ini.

Makalah ini tidak akan selesai tepat waktu tanpa bantuan dari berbagai pihak oleh
karena itu kami ucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang tidak dapat kami
sebutkan satu persatu.

Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih terdapat banyak
kekurangan, baik pada teknik penulisan maupun materi. Untuk itu kritik dan saran dari
semua pihak sangat kami harapkan untuk penyempurnaan pembuatan makalah ini.

Akhirnya kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Penulis

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................................................

DAFTAR ISI..............................................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................................

1.1 Latar Belakang.............................................................................................................

1.2 Rumusan Masalah.......................................................................................................

1.3 Manfaat........................................................................................................................

BAB II TINJAUAN PUSTAKA..............................................................................................

2.1 Definisi Keracunan......................................................................................................

2.2 Diagnosis.....................................................................................................................

2.2.1 Anamnesis.........................................................................................................

2.2.2 Pemeriksaan Fisik.............................................................................................

2.2.3 Laboratorium....................................................................................................

2.2.4 Analisis Urin dan Darah....................................................................................

2.2.5 Respon Antidot................................................................................................10

2.3 Prinsip Umum Penanganan Keracunan.....................................................................1

2.3.1 Perawatan Suportif...........................................................................................12

2.3.2 Pencegahan Absorbsi Racun............................................................................12

2.3.3 Percepatan Eliminasi Racun ............................................................................1

2.3.4 Teknik Eliminasi Lainnya................................................................................18

2.4 Definisi Antibiotik.....................................................................................................19

2.5 Faktor Yang Mempengaruhi Efektifitas Antibiotik...................................................21

2.6 Efek Samping Antibiotik...........................................................................................21

BAB III PEMBAHASAN....................................................................................................2

3.1 Antibiotik Golongan Kuinolon..................................................................................2

3
3.1.1 Mekanisme Kerja Antibiotik Golongan Kuinolon...........................................2

3.1.2 Efek Samping Antibiotik Golongan Kuinolon.................................................2

3.1.3 Toksisitas Antibiotik Golongan Kuinolon........................................................2

3.2 Antibiotik Golongan Sulfonamid..............................................................................32

3.2.1 Mekanisme Kerja Antibiotik Golongan Sulfonamid........................................33

3.2.2 Efek Samping Dan Toksisitas Antibiotik Golongan Sulfonamid.....................33

3.3 Cara Mengatasi Terjadinya Toksisitas Antibiotik......................................................37

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN............................................................................40

BAB V DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................43

4
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Antibiotik adalah zat yang membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri.
Pada saat ini banyak macam antibiotik tersedia di pasaran. Begitu banyak macamnya
sehingga kadang-kadang membingungkan bagi dokter yang ingin menggunakannya.
Terutama dengan adanya tekanan promosi yang sangat gencar, tidak jarang merangsang
pemakaian antibiotik yang menjurus ke arah ketidakrasionalan.

Contoh antibiotik yang akan dibahas pada makalah ini adalah golongan kuinolon
dan sulfamid terutama dari segi toksisitas dan efek sampingnya. Toksisitas Sulfonamid dan
Kuinolon mempunyai potensi untuk menyebabkan berbagai reaksi yang tidak diinginkan
seperti mual,muntah, dan rasa tidak enak di perut, sakit kepala, pusing termasuk gangguan
saluran kemih, gangguan haemopoietik, porfiria dan reaksi hipersensitivitas.

Quinolon adalah satu dari golongan antibiotik berspektrum luas dan memiliki sifat
bakterisid. Golongan ini efektif terhadap gram positif dan negatif dan umumnya digunakan
sebagai obat infeksi saluran kemih dan saluran cerna. Indikasi lain quinolon juga dapat
digunaka sebagai infeksi saluran napas, infeksi tulang dan sensi, dan infeksi kulit dan
jaringan lunak. Mekanisme kerja obat ini yaitu dengan menghambat aktivitas enzim yang
berperan besar dalam replikasi DNA bakteri, yaitu DNA girase.
Generasi golongan quinolon:

Quinolon generasi pertama sudah lama ditinggalkan karena eliminasinya melalui


urin berlangsung terlalu cepat sehingga sulit dicapai kadar terapeutik dalam darah. Selain
itu resistensinya cepat timbul terhadap obat ini. Quinolon generasi kedua adalah generasi
yang masih digunakan secara luas sampai saat ini. Adanya penambahan atom flour pada
cincin quinolon golongan ini meningkatkan daya anti bakterinya, memperlebar spektrum
anti bakteri, memperbaiki penyerapannya dari saluran cerna, serta memperpanjang masa

5
kerja obat. Golongan quinolon generasi ketiga dan keempat juga masih digunakan dan
diyakini sebagai golongan quinolon yang lebih ramah terhadap ginjal.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa dan bagaimana seseorang dapat menderita keracunan? khususnya keracunan
kuinolon dan sulfonamide?
2. Langkah-langkah apa saja yang dilakukan dalam menangani seseorang yang
mengalami keracunan obat antibiotik golongan kuinolon dan sulfamid?

1.3 TUJUAN
1. Menambah wawasan dan pengetahuan tentang keracunan khususnya golongan obat
Quinolon dan sulfonamid serta cara penanganannya.
2. Dapat memanfaatkan wawasan dan pengetahuan ini untuk di aplikasikan dalam
kehidupan professional dan pribadi nantinya untuk melakukan edukasi di
masyarakat.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Keracunan


Keracunan merupakan kejadian timbulnya efek samping obat, zat kimia, atau
substansi asing lainnya yang berhubungan dengan dosis. Terdapat variasi respon dan
kecenderungan individual terhadap dosis obat yang diberikan. Variasi ini terjadi baik
secara genetik maupun didapat (karena induksi enzim, inhibisi, maupun toleransi).

6
Berikut ini rute paparan suatu substansi racun yaitu dapat melalui:
a. Injeksi parenteral (0.3%)
b. Gigitan dan sengatan (3.9%)
c. Mata (6%)
d. Inhalasi (6.7%)
e. Kulit (8.2%)
f. Ingesti/per oral (74%)

Paparan racun yang paling sering ditemukan adalah dengan jenis : bahan
pembersih, analgetika, kosmetika, tumbuh-tumbuhan, obat batuk-pilek, gigitan/bisa
binatang. Bahan-bahan farmasi berperan dalam 41% kejadian keracunan dan 75% dari
keracunan serius atau fatal.

Beberapa kejadian keracunan yang tidak disengaja diantaranya :


a. Cara pemakaian yang salah dari bahan kimia pada saat bekerja/bermain
b. Kesalahan labelling suatu produk
c. Kesalahan dalam membaca label
d. Kesalahan identifikasi bahan kimia yang tidak berlabel
e. Ketidaktahuan dalam mengobati sendiri/kelebihan dosis (misuse)
f. Penyalahgunaan obat-obat psikotropika (abuse)
g. Kesalahan dosis oleh perawat, orang tua, ahli farmasi, dokter, dan penderita
lanjut usia

Sedangkan keracunan yang disengaja paling sering ditemukan pada percobaan


bunuh diri. Angka kematian tertinggi terjadi karena keracunan CO. Kematian akibat obat-
obatan paling sering diakibatkan karena analgetika, antidepresan, hipnotik sedatif,
neuroleptik, stimulan dan obat-obat yang disalahgunakan, obat kardiovaskular,
antikonvulsan, antihistamin dan obat asma.

Bahan bukan obat yang menyebabkan keracunan fatal termasuk di dalamnya adalah
alkohol, glikol, asap dan gas, bahan kimia, bahan pembersih, peptisida dan produk
automotif.

2.2 Diagnosis
Diagnosis yang benar diperoleh dari anamnesis, pemeriksaan fisik, evaluasi
laboratorium rutin dan toksikologi serta karakteristik klinisnya.

7
2.2.1 Anamnesis
Anamnesis harus mencakup: waktu, rute, lamanya terpapar, dan ruang lingkup
paparan (lokasi, kejadian yang menyertai, tujuan); nama dan jumlah masing-masing obat,
bahan kimia atau bahan-bahan yang berada di dalamnya; onset, keadaan, dan beratnya
gejala, jenis dan waktu pertolongan pertama, dan riwayat medis serta psikiatri.

Bila pada anamnesa tidak ditemukan riwayat paparan racun, karakteristik klinis
dapat menunjang ke arah keracunan. Keracunan khas terjadi secara cepat dan berubah
dengan cepat dibanding kelainan/penyakit lainnya. Gejala dan tanda-tanda keracunan akut
secara karakteristik timbul dalam hitungan jam setelah paparan, mencapai puncaknya
dalam beberapa jam, dan menghilang dalam beberapa jam berikutnya sampai beberapa
hari. Namun tidak adanya gejala-gejala dan tanda-tanda segera setelah kejadian overdosis,
tidaklah begitu saja menyingkirkan keracunan.

2.2.2 Pemeriksaan Fisik


Pertama-tama pemeriksaan fisik harus ditekankan pada tanda vital, sistem
kardiopulmoner, dan status neurologis. Berdasarkan nadi, tensi, frekuensi nafas, dan suhu
serta status mental, status fisiologik penderita dapat digolongkan menjadi: excited, depresi,
respon tidak sesuai, atau normal.

Menentukan derajat keracunan adalah penting untuk menilai respon terapi.


Penderita juga harus diperiksa terhadap adanya riwayat trauma dan penyakit dasarnya.
Manifestasi neurologis keracunan biasanya berupa kejang nonfokal, kecuali: keracunan
yang disebabkan CO, teofilin, dan obat-obat yang menyebabkan hipoglikemi atau
hipoksia. Karenanya, penemuan manifestasi fokal harus dapat menggambarkan dengan
tepat lesi struktural pada SSP.

Bila riwayat keracunan tidak jelas, semua orifisium harus diperiksa untuk menilai
adanya luka bakar kimia dan bungkus obat. Bau nafas atau muntah dan warna kuku, kulit
atau urine dapat menunjang diagnosis.

2.2.3 Laboratorium
Penilaian laboratoris dapat membantu mendiagnosis banding keracunan. Metabolik
asidosis dengan meningkatnya anion gap adalah karakteristik untuk keracunan methanol,
etilen glikol, dan salisilat, walaupun bisa saja terjadi pada keracunan agen lain (kadar laktat
serum < anion gap) ; serta keracunan yang terjadi pada gagal hati, gagal ginjal, atau gagal
nafas, kejang, atau syok (kadar laktat serum > atau hampir = dengan anion gap.
8
Anion gap yang rendah secara abnormal dapat terjadi karena tingginya kadar
bromida, kalsium, iodine, litium, magnesium, atau nitrat dalam darah.

Meningkatnya osmolal gap yaitu perbedaan >10 mmol/l antara osmolalitas serum
yang diukur dari turunnya titik beku dan osmolalitas serum yang diukur dari kadar natrium,
glukosa dan BUN serum menunjukkan adanya zat terlarut dengan BM rendah seperti:
alkohol, glikol, keton, elektrolit yang tidak terukur, atau gula Osmolal gap juga dapat
memperkirakan jumlah anion.

2.2.4 Analisis Urin dan Darah


Analisis urin dan darah (dan kadang-kadang cairan lambung serta sampel kimia)
dapat berguna untuk memastikan atau menyingkirkan dugaan keracunan. Walaupun
beberapa skrining test cepat untuk sejumlah penyalahgunaan obat sudah tersedia, untuk
menyelesaikan test tersebut diperlukan 2-6 jam dan penatalaksanaan segera haruslah
berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan test rutin lainnya. Pemeriksaan skrining
bernilai bermakna bila dilakukan pada penderita dengan keracunan yang berat atau
keracunan yang tidak jelas, yang menderita koma, kejang, instabilitas kardiovaskuler,
asidosis metabolik atau respiratorik, dan irama jantung nonsinus.

Analisis kuantitatif berguna pada keracunan asetaminofen, aseton, alkohol


(termasuk etilen glikol), antiaritmi, antikonvulsan, barbiturat, digoksin, logam berat, litium,
paraquat, salisilat dan teofilin sebagaimana diperlukan untuk karboksihemoglobin dan
methemoglobin. Hasil dapat dibaca dalam 1 jam.

2.2.5 Respon antidot


Respon terhadap antidot juga berguna untuk tujuan diagnostik. Perbaikan status
mental dan perbaikan tanda vital yang abnormal dalam beberapa menit setelah pemberian
intravena dari dekstrosa, nalokson, atau flumazenil sangat jelas menggambarkan keracunan
agen yang menyebabkan hipoglikemi, narkotik, dan keracunan benzodiazepin. Walaupun
perbaikan dari manifestasi sentral dan perifer keracunan antikolinergik oleh fisostigmin
adalah bernilai diagnostik namun antidot ini dapat menyebabkan penderita dengan depresi
SSP karena berbagai sebab dapat terbangun kembali.

9
2.3 Prinsip Umum Penanganan Keracunan
Tujuan terapi keracunan adalah mengawasi tanda-tanda vital, mencegah absorpsi
racun lebih lanjut, mempercepat eliminasi racun, pemberian antidot spesifik, dan
mencegah terjadinya paparan ulang.

Terapi spesifik tergantung dari identifikasi racun, jalan masuk, banyaknya racun,
selang waktu timbulnya gejala, dan beratnya derajat keracunan. Pengetahuan
farmakodinamik dan farmakokinetik substansi penyebab keracuan sangatlah penting.

Selama fase pretoksik, sebelum onset keracunan, prioritas pertama adalah


dekontaminasi segera berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang terarah dan
singkat. Juga disarankan pemasangan i.v. line dan monitoring jantung, khususnya pada
penderita keracunan per oral serius atau penderita dengan anamnesis yang tidak jelas.

Bila anamnesis penderita tidak jelas, dan diduga keracunan akan terjadi secara
lambat atau akan terjadi kerusakan ireversibel, sebaiknya dilakukan pemeriksaan
toksikologi darah dan urin, serta dilakukan pemeriksaan kuantitatif bila ada indikasi.
Selama absorpsi dan distribusi berlangsung, kadar racun dalam darah akan lebih tinggi
dibandingkan kadar di jaringan, sehingga tidak berhubungan dengan toksisitasnya. Namun
bila metabolit racun tinggi kadarnya dalam darah dan lebih toksik dibanding bentuk
asalnya (asetaminofen, etilen glikol, atau methanol), maka diperlukan interventi tambahan
(antidot, dialisis).

Kebanyakan pasien yang asimtomatis setelah terpapar racun per oral dalam 4-6
jam, dapat dipulangkan dengan aman. Observasi lebih lama dibutuhkan bila terdapat
keracunan per oral yang menyebabkan lambatnya pengosongan lambung dan motilitas usus
dimana disolusi, absorpsi, dan distribusi racun dengan sendirinya juga lebih lambat. Pada
racun yang dalam tubuh akan diubah menjadi metabolit toksik, juga diindikasikan
observasi lebih lanjut.

Selama fase toksik, yaitu waktu antara onset keracunan sampai dengan terjadinya
efek puncak, penatalaksanaan berdasarkan pada penemuan klinis dan laboratoris. Setelah
overdosis, akan segera timbul efek-efeknya lebih awal, yang kemudian memuncak, dan
tetap bertahan lebih lama dibandingkan bila obat tersebut diberikan pada dosis terapi.
Prioritas pertama untuk dilakukan adalah resusitasi dan stabilisasi. Terhadap semua pasien
yang simtomatis harus dilakukan pemasangan i.v. line, penentuan saturasi oksigen,

10
monitoring jantung, dan observasi kontinu. Pemeriksaan laboratorium dasar, EKG, dan x-
ray dapat berguna.

Pada penderita dengan perubahan status mental, khususnya pada kasus koma
maupun kejang, harus dipertimbangkan pemberian glukosa i.v. (kecuali bila kadarnya
normal), naloxone, dan thiamine. Dekontaminasi dapat berguna juga.

Harus dipikirkan manfaat dan resikonya bila dilakukan upaya percepatan eliminasi
racun. Syaratnya adalah diagnosis pasti dengan konfirmasi laboratoris. Dialisis intestinal
dengan pemberian karbon aktif berulang biasanya aman dan dapat mempercepat eliminasi.
Terapi diuresis dan khelasi hanya mempercepat eliminasi sejumlah kecil racun, serta
memiliki potensi komplikasi. Metode ekstrakorporeal efektif untuk mengeluarkan banyak
racun, tetapi biaya dan resikonya juga besar, sehingga penggunaanya terbatas
pada.keracunan berat.

Selama fase resolusi, perawatan suportif dan monitoring harus kontinu dilakukan
sampai abnormalitas klinis, laboratoris, maupun EKG membaik. Karena bahan-bahan
kimia dalam darah lebih dulu dieliminasi dibandingkan yang dari jaringan, maka kadarnya
dalam darah selalu lebih rendah dari kadarnya di jaringan sehingga tidak berkorelasi
dengan toksisitasnya.. Hal ini menjadi dasar prosedur ekstrakorporeal. Redistribusi dari
jaringan dapat menyebabkan peningkatan balik racun dalam darah setelah selesainya
prosedur ini. Bila metabolit racun yang menyebabkan efek toksiknya, maka pada penderita
yang telah asimtomatis tetap harus diberikan terapi karena masih terdapat potensi toksik
kadarnya metabolitnya dalam darah (asetaminofen, etilen glikol, dan methanol).

2.3.1 Perawatan Suportif


Tujuan dari terapi suportif adalah adalah untuk mempertahankan homeostasis
fisiologis sampai terjadi detoksifikasi lengkap, dan untuk mencegah serta mengobati
komplikasi sekunder seperti aspirasi, ulkus dekubitus, edema otak & paru, pneumonia,
rhabdomiolisis, gagak ginjal, sepsis, penyakit thromboembolik, dan disfungsi organ
menyeluruh akibat hipoksia atau syok berkepanjangan.

Penderita keracunan ringan sampai sedang dapat dikelola pada pelayanan kesehatan
umum, intermediate care unit, diobservasi di UGD, tergantung dari lamanya kejadian
keracunan dan monitoring yang diperlukan (observasi klinis intermiten vs kontinu,
monitoring jantung dan pernafasan).

11
Penderita percobaan bunuh diri membutuhkan observasi dan pemeriksaan kontinyu
untuk mencegah mereka melukai diri sendiri, sampai tidak mungkin lagi dilakukan upaya-
upaya lebih lanjut.

2.3.2 Pencegahan Absorpsi Racun


a. Dekontaminasi Gastrointestinal

Perlu atau tidaknya dilakukan dekontaminasi gastrointestinal dan prosedur mana


yang akan dipakai, tergantung dari : waktu sejak racun tertelan, toksisitas bahan yang telah
& akan terjadi kemudian, availabilitas, efikasi, dan kontraindikasi dari prosedur; serta
beratnya keracunan dan resiko komplikasi. Studi pada binatang dan sukarelawan
menunjukkan bahwa efektivitas dari karbon aktif, lavase lambung, dan sirup ipecac
menurun sesuai jangka waktu keracunan. Tidak cukup data untuk menunjang/mengekslusi
manfaat penggunaan hal-hal tersebut pada keracuan yang sudah lebih dari 1 jam.

Karbon aktif lebih efektif digunakan, kontraindikasinya & komplikasinya lebih


sedikit, lebih tidak invasive, sedikit lebih disukai, dibandingkan ipecac atau lavase
lambung. Karbon aktif merupakan metoda dekontaminasi gastrointestinal yang terpilih
untuk sebagian besar kasus keracunan. Karbon aktif disiapkan sebagai suspensi dalam air,
baik sendiri atau dengan suatu katartik. Diberikan per oral melalui botol susu pada bayi
atau melalui cangkirsedotan, atau NGT berkaliber kecil.

Dosis yang direkomendasikan : 1 gr/kg BB dengan 8 ml pelarut untuk tiap gram


karbon aktif. Untuk memperbaiki rasanya, dapat ditambahkan pemanis (sorbitol), atau
penambah rasa (ceri, coklat, atau cola) dalam suspensinya. Karbon menyerap racun dalam
lumen usus, sehingga memungkinkan kompleks karbon-toksin dievakuasi melalui feses.
Kompleks tsb. dapat juga dikeluarkan dari lambung dengan induksi muntah atau lavase.
Secara in vitro, karbon menyerap > = 90% dari sebagian besar jenis racun bila diberikan
dalam jumlah10x lipat berat racun.

Bahan kimia yang terionisasi (asam & basa mineral), garam sianida yang
terdisosiasi amat cepat, flourida, Fe, lithium, dan senyawa anorganik lainnya, tidak diserap
dengan baik oleh karbon. Pada studi binatang dan sukarelawan, karbon rata-rata akan
menyerap 73% ingestan bila diberikan dalam 5 menit setelah pemberian ingestan,
menyerap 51% bila diberikan dalam 30 menit, dan 36% dalam 1 jam. Karbon paling tidak
sama efektifnya dengan sirup ipecac atau lavase lambung. Dalam eksperimen, lavase yang

12
diikuti dengan pemberian karbon aktif lebih efektif daripada karbon aktif saja; pemberian
karbon aktif sebelum dan sesudah lavase lebih efektif lagi. Namun kenyataannya pada
penderita keracunan yang diberikan karbon aktif saja, hasilnya lebih baik daripada
kombinasi seperti di atas.

Efek samping karbon aktif meliputi : mual, muntah, dan diare atau konstipasi.
Karbon aktif juga menghambat penyerapan obat-obatan yang diberikan per oral.
Komplikasi pemberian karbon aktif meliputi : obstruksi mekanik dari jalan nafas, aspirasi,
muntah, obstruksi usus, dan infeksi. Kontraindikasi karbon aktif : penderita dengan
keracunan agen korosif, karena akan mengaburkan endoskopi.

Lavase lambung dikerjakan dengan cara memberikan dan mengaspirasi secara


bergantian cairan sebanyak 5 ml/kg BB melalui tube orogastrik no.28 (French) pada anak
dan No. 40 pada dewasa. Kecuali pada bayi, tap cairan dapat dilakukan. Penderita dalam
posisi Trendelenburg dan left lateral decubitus untuk mencegah aspirasi (kecuali bila
sudah dipasang ETT). Efektivitas lavase kira-kira sama dengan ipecac.

Komplikasi lavase tersering adalah aspirasi (terjadi pada >10% penderita),


khususnya pada lavase yang kurang benar. Komplikasi serius berupa lavase trakheal,
perforasi esofagus dan gaster, terjadi kira-kira pada hampir 1% penderita. Karenanya
dokter harus melakukan sendiri pemasangan tube lavage dan mengkonfirmasi
letaknya dan pasien juga harus kooperatif atau diberi sedasi bila perlu selama prosedur.

Kontraindikasi lavage lambung adalah pada keracunan bahan korosif atau


petroleum distilate peroral karena bisa saja terjadi perforasi gastroesofageal dan aspiration
induced hydrocarbon pneumonitis.

Sirup ipecac dapat digunakan untuk penanganan pasien di rumah dengan keracunan
peroral yang terjadi karena kelalaian, riwayatnya jelas, dan toksisitasnya rendah. Ipecac
dapat menunda pemberian karbon aktif dan mengurangi efektifitas karbon aktif, antidot
oral, dan irigasi seluruh usus dan sangat jarang dipakai pada penderita yang ditangani
difasilitas pelayanan kesehatan. Pemberian ipecac secara oral dengan dosis 30 mg untuk
dewasa, 15 mg untuk anak, dan 10 mg untuk bayi. Pemberian ipecac diikuti dengan
pemberian cairan yang jernih. Ipecac menyebabkan iritasi lambung dan merangsang
kemoreseptor trigger zone dipusat. Muntah biasanya terjadi setelah 30 menit pemberian
ipecac. Bila tidak terjadi muntah dosis dapat diulang.

13
Efek samping ipecac berupa letargi pada anak-anak (12%) dan muntah yang
berlarut-larut (8-17%). Penggunaan kronik (oleh penderita dengan anoreksia nervosa atau
bulimia) dapat menyebabkan abnormalitas elektrolit atau cairan, toksis untuk jantung, dan
miopati. Komplikasi yang serius jarang kecuali aspirasi. Pernah dilaporkan terjadi perforasi
dan robeknya gaster atau esofagus serta stroke.

Kontraindikasi ipecac pada penderita yang baru saja dilakukan pembedahan


gastrointestinal, depresi SSP, atau kejang, dan pada mereka yang keracunan bahan korosif
peroral atau racun SSP yang bekerja cepat (camphore, sianida, antidepresan trisiklik,
propoksifen, strychnine).

Irigasi usus dilakukan dengan cara memberikan cairan pembersih usus yang
mengandung elektrolit dan polietilen glikol (Golytely, Colyte) peroral atau dengan tube
gastric dengan kecepatan > 0,5 liter/jam pada anak-anak dan 2 liter/jam pada dewasa,
sampai diperoleh cairan rectum yang jernih. Pasien harus dalam posisi duduk. Irigasi
seluruh usus mungkin sama efektifnya dengan prosedur dekontaminasi yang lain. Irigasi
usus dapat dilakukan pada penderita yang tertelan benda asing, bungkus obat illegal, obat
yang lepas lambat atau tablet salut dan agen yang tidak dapat diserap oleh karbon aktif
misalnya (logam berat).

Kontraindikasi irigasi usus pada penderita obstuksi usus, ileus, hemodinamik yang
tidak stabil, dan jalan nafas yang tidak terlindungi.
Garam-garam katartik (disodium fosfat, magnesium sitrat dan sulfat, serta sodium
sulfat), atau golongan sakarida (manitol, sorbitol), merangsang evakuasi rektal dari isi
lambung dan usus. Katartik yang paling efektif ialah sorbitol dengan dosis 1-2 gram/kg
BB. Katartik tunggal tidak mencegah absorpsi bahan yang tertelan dan sebaiknya tidak
digunakan untuk dekontaminasi usus. Penggunaan utamanya adalah untuk mencegah
konstipasi pada pemberian karbon aktif.

Efek samping katartik berupa kram perut, mual, dan kadang-kadang muntah.
Komplikasi dosis katartik yang berulang berupa hipermagnesemia dan diare yang hebat.
Katartik dikontraindikasi kan pada penderita keracunan bahan korosif peroral dan pada
penderita yang sedang diare. Katartik yang mengandung magnesium tidak boleh dipakai
pada penderita gagal ginjal.

Dilusi (minum air sebanyak 5 cc/kg BB atau cairan jernih lainnya) harus dilakukan
sesegera mungkin dilakukan setelah tertelan bahan korosif (asam-basa). Namun dilusi juga
14
meningkatkan kecepatan disolusi (dengan sendirinya absorpsi) dari kapsul, tablet, dan
bahan padat lainnya, sehingga sebaiknya tidak digunakan pada keracunan karena bahan-
bahan ini.

Pada keadaan yang jarang, diperlukan tindakan endoskopik atau pembedahan untuk
mengeluarkan racun, seperti misalnya keracunan tertelan benda asing yang potensial
toksik, dimana benda ini gagal untuk transit di GI tract, keracunan logam berat dalam
jumlah yang potensial mematikan (arsen, besi, merkuri, thalium) atau bahan yang bersatu
dengan isi lambung atau bezoar (barbiturat, glutetimid, logam berat, lithium, meprobamat,
preparat lepas lambat). Penderita yang menjadi toksik karena kokain akibat kebocoran dari
banyak bungkus obat yang ditelan membutuhkan intervensi bedah segera.

b. Dekontaminasi Pada Tempat-Tempat Lain

Bilasan segera dan berulang-ulang dengan air, saline, atau cairan jernih lainnya
yang dapat diminum merupakan terapi inisial untuk eksposur topikal (kecuali logam alkali,
kalsium oksida, fosfor). Untuk irigasi mata dipilih salin.Untuk dekontaminasi kulit paling
baik dilakukan triple wash (air-sabun-air). Paparan racun melalui inhalasi harus diobati
dengan udara segar atau oksigen.

2.3.3 Percepatan Eliminasi Racun


Keputusan untuk tindakan ini harus berdasarkan pada toksisitas yang nyata atau
yang diperkirakan dan didasarkan juga pada efektivitas, biaya, dan resiko terapi.

a. Karbon aktif dosis multipel


Dosis oral karbon aktif yang berulang dapat mempercepat eliminasi substansi yang
sebelumnya diabsorpsi dengan cara mengikatnya dalam usus lalu diekskresikan melalui
empedu, disekresikan oleh sel-sel gastrointestinal, atau difusi pasif kedalam lumen usus
(absorpsi balik atau exsorpsi enterokapiler). Dosis yang direkomendasikan 0,5-1
gram/kgBB tiap 2-4 jam, diberikan untuk mencegah regurgitasi pada pasien dengan
motilitas gastrointestinal yang berkurang.

Secara eksperimen terapi ini mempercepat eliminasi hampir semua substansi.


Efektifitas farmakokinetiknya mendekati seperti hemodialisis untuk beberapa agen
(misalnya fenobarbital, teofilin). Terapi dosis multipel ini tidak efektif dalam mempercepat

15
eliminasi dari klorpropamid, tobramisin, atau bahan yang tidak bisa diserap oleh karbon.
Komplikasinya berupa obstruksi usus, pseudoobstruksi, dan infark usus nonoklusif pada
penderita-penderita dengan motilitas usus yang rendah.

b. Diuresis paksa dan perubahan pH urin


Diuresis dan iontrapping melalui perubahan pH urin dapat mencegah reabsorpsi
renal dari racun yang mengalami ekskresi oleh filtrasi glomerulus dan sekresi aktif tubuler.
Karena membran lebih permeable terhadap molekul yang tidak terion dibandingkan yang
dapat terion, racun-racun yang asam (pKa rendah) akan diionisasi dan terkumpul dalam
urin yang basa. Sebaliknya racun-racun yang sifatnya basa akan diionisasi dan
dikumpulkan dalam urin yang asam.

Diuresis salin dapat mempercepat ekskresi renal dari alkohol, bromida, kalsium,
fluorida, lithium, meprobamat, kalium, dan INH.

Diuresis basa (pH urin >= 7,5 dan output urin 3-6 cc/kgBB/jam) mempercepat
eliminasi dari herbisida chlorphenoxyacetic acid, klorpropamid, diflunisal, fluorida,
metotreksat, fenobarbital, sulfonamid, dan salisilat.

Kontraindikasi diuresis paksa meliputi gagal jantung kongestif, gagal ginjal, dan
edema otak. Parameter asam-basa, cairan, dan elektrolit harus dimonitor dengan cermat.

Diuresis asam mempercepat eliminasi renal dari amfetamin, klorokuin, kokain,


anestetik local, phencyclidine, kinidin, kinin, strychnine, simpatomimetik, antidepresan
trisiklik, dan tokainid. Namun penggunaannya banyak dilarang karena potensial terjadi
komplikasi dan efektifitas kliniknya tidak banyak.

c. Pengeluaran racun secara ekstrakorporeal


Dialisis peritoneal, hemodialisis, hemoperfusi karbon atau resin, hemofiltrasi,
plasmaferesis, dan tranfusi ganti dapat dilakukan untuk mengeluarkan toksin dari aliran
darah.
Agen yang akan dieliminasi dengan cara dialisis harus memiliki BM rendah(<500
Da), larut dalam air, berikatan lemah dengan protein, volume distribusi kecil (<1liter/kg
BB), eliminasi memanjang (waktu paruh panjang), dan memiliki bersihan dialisis yang
tinggi relatif terhadap bersihan total dari badan. Berat molekul, kelarutan dalam air, atau
ikatan dengan protein, tidak mengurangi efektivitas metode ekstrakorporeal yang lainnya.

16
Indikasi dialisis untuk kasus keracunan berat dengan : barbiturat, bromida, chloral
hydrate, ethanol, etilen glikol, isopropyl alcohol, lithium, methanol, procainamide, teofilin,
salisilat, dan mungkin logam berat.

Walaupun hemoperfusi mungkin lebih efektif dalam mengeluarkan beberapa racun,


namun metode ini tidak sekaligus mengoreksi abnormalitas asam-basa dan elektrolit.
Indikasi hemoperfusi pada keracunan berat yang disebabkan : karbamazepin,
kloramfenikol, disopiramid, dan sedatif-hipnotik (barbiturat, ethchlorvynol, glutethimide,
meprobamat, methaqualone), paraquat, fenitoin, prokainamid, teofilin, dan valproat.

Baik metode dialisis maupun metode hemoperfusi, sama-sama memerlukan akses


vena sentral dan antikoagulan sistemik, serta dapat menyebabkan hipotensi sementara.
Hemoperfusi juga dapat mengakibatkan hemolisis, hipokalsemia, dan trombositopenia.

Dialisis peritoneal dan transfusi ganti lebih kurang efektivitasnya, tetapi metode ini
dapat digunakan bila tidak dapat dikerjakan prosedur ekstrakorporeal lainnya, baik karena
terdapat kontraindikasi, maupun secara tehnis sulit (misalnya pada bayi). Tranfusi ganti
mengeluarkan racun-racun yang mempengaruhi eritrosit (seperti pada methemoglobinemia,
atau arseninduced hemolysis).

2.3.4 Teknik Eliminasi Lainnya


Logam berat dapat lebih cepat dieliminasi dengan khelasi. Pengeluaran karbon
monoksida dapat ditingkatkan dengan pemberian oksigen hiperbarik.

a. Pemberian antidot
Antidot bekerja berlawanan dengan efek racun dengan : menetralisir racun (reaksi
antigen-antibodi, khelasi, atau membentuk ikatan kimia), mengantagonis efek fisiologis
racun (mengaktivasi kerja sistem saraf yang berlawanan, memfasilitasi aksi kompetisi
metabolik/ reseptor substrat tsb.).

Kasus keracunan yang memerlukan antidot spesifik adalah keracunan :


asetaminofen, agen antikolinergik, antikoagulan, benzodizepin, -blocker, CCB, CO,
glikosida jantung, agen kolinergik, sianida, reaksi distonik karena induksi obat, etilen
glikol, fluorida, logam berat, hydrogen sulfida, agen hipoglikemik, INH, metHb-emia,
narkotik, simpatomimetik, Vacor, dan gigitan/bisa binatang tertentu.

17
Antidot mengurangi morbiditas dan mortalitas, namun sebagian besar juga
potensial toksik. Penggunaan antidot agar aman membutuhkan identifikasi yang benar
keracunan spesifik atau sindromnya.

b. Pencegahan Paparan Ulang


Keracunan merupakan penyakit yang dapat dicegah. Orang dewasa yang pernah
terpapar racun karena kecelakaan harus mentaati instruksi penggunaan obat dan bahan
kimia yang aman (sesuai yang tertera pada labelnya). Penderita yang menurun
kesadarannya harus dibantu dalam meminum obatnya. Kesalahan dosis obat oleh petugas
kesehatan membu-tuhkan pendidikan khusus bagi mereka. Penderita harus diingatkan
untuk menghindari lingkungan yang terpapar bahan kimia penyebab keracunan.
Departemen Kesehatan dan instansi terkait juga harus diberi laporan bila terjadi keracunan
di lingkungan tertentu/tem- pat kerja. Pada anak-anak dan penderita overdosis yang
disengaja, upaya terbaik adalah membatasi jangkauan terhadap racun / obat / bahan /
minuman tersebut.

Penderita depresi atau psikotik harus menerima penilaian psikiatrik, disposisi, dan
follow-up. Bila mereka diberi resep obat harus dengan jumlah yang terbatas dan dimonitor
kepatuhan minum obatnya, serta dinilai respon terapinya.
2.4 Definisi Antibiotik
Antibiotik adalah zat yang dihasilkan oleh berbagai jenis mikroorganisme yang
dapat menghambat atau dapat menekan pertumbuhan mikroorganisme jenis lain (Henry,
2001). Banyak antibiotik dewasa ini dibuat secara semi sintetik atau sintetik penuh. Namun
dalam praktek sehari-hari antibiotikc sintetik yang tidak diturunkan dari produk mikroba
(Sulfonamid dan Kuinolon) juga digolongkan sebagai antibiotik (Rianto, 2008).

Antibiotik dapat digolongkan berdasarkan sasaran kerja senyawa tersebut dan


susunan kimiawinya. Ada enam kelompok antibiotika dilihat dari target atau sasaran
kerjanya diantaranya :
a. Inhibitor sintesis dinding sel bakteri, mencakup golongan Penisilin, Polipeptida dan
Sefalosporin, misalnya ampisilin, penisilin G;
b. Inhibitor transkripsi dan replikasi, mencakup golongan Quinolone, misalnya
rifampisin, aktinomisin D, asam nalidiksat;

18
c. Inhibitor sintesis protein, mencakup banyak jenis antibiotik, terutama dari golongan
Makrolida, Aminoglikosida, dan Tetrasiklin, misalnya gentamisin, kloramfenikol,
kanamisin, streptomisin, tetrasiklin, oksitetrasiklin, eritromisin, azitromisin;

d. Inhibitor fungsi membran sel, misalnya ionomisin, valinomisin;

e. Inhibitor fungsi sel lainnya, seperti golongan sulfa atau sulfonamida, misalnya
oligomisin, tunikamisin; dan

f. Antimetabolit, misalnya azaserine.

Beberapa hal penting mengenai antibiotika yang perlu di ketahui sebelum kita
memilih dan menggunakannya yaitu:
a. Sifat aktifitasnya
Bakteriostatik: menghambat pertumbuhan kuman dengan cara menghambat
metabolisme kuman
Bakteriosidik: Membunuh kuman misalnya dengan cara merusak dinding sel
Untuk infeksi yang berat apalagi kalau keadaan pertahanan tubuh penderita kurang
baik maka sebaiknya dipilih antibiotik yang bersifat bakteriosidik. Pengetahuan
tentang sifat aktifitas ini juga penting kalau kita ingin menggabung antibiotika.
Pemakaian gabungan antibiotika yang bersifat bakteriostatik bersama antibiotika
yang bakteriosidik akan mengurangi khasiat antibiotika bakteriosidik . Hal ini
disebabkan karena antibiotika yang bersifat bakteriosidik umumnya khasiatnya baik
bila kuman tersebut membelah dengan cepat, sedangkan antibiotik yang bersifat
bakteriostatik akan menyebabkan pembelahan kuman yang menurun sehingga
akan menghambat khasiat antibiotika yang bersifat bakteriosidik.
b. Spektrum antibiotika
Spektrum sempit: hanya menghambat atau membunuh kelompok kuman tertentu.
Spektrum luas: dapat menghambat baik kuman gram positif maupun gram negative
Pemakaian antibiotika spektrum sempit dilakukan bila jenis kuman yang
menyebabkan infeksi sudah diperkirakan atau dipastikan. Sedangkan bila jenis
kuman tidak dapat dipastikan maka dipakai antibiotika spektrum luas.
c. Mekanisme dan kerja antibiotika
i. Antibiotika golongan aminoglikosid, bekerja dengan menghambat sintesis
protein dari bakteri.
ii. Antibiotika golongan sefalosforin, bekerja dengan menghambat sintesis
19
peptidoglikan serta mengaktifkan enzim autolisis pada dinding sel bakteri.
iii. Antibiotika golongan klorampenikol, bekerja dengan menghambat sintesis
protein dari bakteri.
iv. Antibiotika golongan makrolida, bekerja dengan menghambat sintesis
protein dari bakteri.
v. Antibiotika golongan penisilin, bekerja dengan menghambat sintesis
peptidoglikan.
vi. Antibiotika golongan beta laktam golongan lain, bekerja dengan
menghambat sintesis peptidoglikan serta mengaktifkan enzim autolisis pada
dinding sel bakteri.
vii. Antibiotika golongan kuinolon, bekerja dengan menghambat satu atau lebih
enzim topoisomerase yang bersifat esensial untuk replikasi dan transkripsi
DNA bakteri.
viii. Antibiotika golongan tetrasiklin, bekerja dengan menghambat sintesis
protein dari bakteri.
ix. Kombinasi antibakteri
x. Antibiotika golongan lain
d. Pola Resistensi
Dalam pemakaian antibiotika perlu diperhatikan pola resistensi kuman setempat,
misalnya: Campylobacter jejuni di Indonesia masih sensitif terhadap siprofloksasin
tetapi di Thailand banyak resisten terhadap Siprofloksasin

2.5 Faktor Yang Mempengaruhi Efektifitas Antibiotik


Efektifitas dari antibiotik dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya:
a. Aktivitas antimikroba sendiri
b. Faktor penderita
i. Umur pasien.
Bayi, orang dewasa dan manula memiliki perbedaan dalam hal fungsi organ
dan sistem enzim. Bayi pada umumnya belum memiliki fungsi organ dan
sistem enzim yang berkembang sepenuhnya. Sebaliknya pada manula, biasanya
fungsi dan organ dan sistem tertentu seringkali mengalami kemunduran. Untuk
itu, biasanya pemberian obat pada bayi atau manula seringkali harus
mendapatkan perhatian lebih dan disesuaikan dengan kondisinya masing-

20
masing.
ii. Kehamilan.
Perlu dipertimbangkan risiko dan manfaat pemberian obat pada ibu hamil. Ibu
hamil umumnya lebih peka terhadap pengaruh obat tertentu, termasuk
antibiotik. Perlu juga diperhitungkan kemungkinan obat dapat menembus
plasenta dan menimbulkan efek pada janin.
iii. Genetik.
Hal ini erat hubungannya dengan sistem enzim. Adanya perbedaan genetik
dapat menimbulkan perbedaan reaksi terhadap obat.
iv. Kondisi kesehatan pasien
Perlu diperhatikan apakah pasien menderita penyakit tertentu. Misalnya:
pembengkakan hati, gagal ginjal, atau gangguan organ/sistem lainnya. Hal ini
terkait juga dengan metabolisme, detoksikasi racun dan ekskresi obat.

2.6 Efek Samping Antibiotik

Terdapat tiga macam efek samping antibiotik yaitu:

a. Reaksi alergi
Reaksi ini dapat ditimbulkan oleh semua antibiotik dengan melibatkan sistem
pertahanan tubuh dari pasien, dan tidak tergantung pada besar kecilnya dosis obat.
b. Reaksi idiosikratik
Merupakan reaksi kepekaan yang tidak biasa (abnormal) terhadap suatu obat
yang diturunkan secara genetik.
c. Reaksi toksik.
Pada dasarnya obat adalah racun, takaran dan dosis lah yang dapat membuatnya
bermanfaat. Artinya jika dosisnya tepat maka dapat digunakan sebagai obat.
Begitu juga dengan antibiotik. Efek toksik pada pasien dapat ditimbulkan oleh
semua antibiotik.
Disamping faktor jenis obat, berbagai faktor dalam tubuh juga ikut menentukan
terjadinya reaksi toksik; diantaranya fungsi organ atau sistem tertentu didalam
tubuh yang berhubungan dengan metabolisme dan pengeluaran obat dari tubuh
(ekskresi obat). Contohnya: kondisi hati, hati merupakan tempat dimana
sebagian besar obat di metabolisme dan tempat detoksikasi racun; kondisi
ginjal, dimana sebagian besar tempat pengeluaran obat dari tubuh; dan organ-
21
organ lainnya.

BAB III

PEMBAHASAN

3.1 ANTIBIOTIK GOLONGAN KUINOLON


Antibiotik golongan kuinolon bekerja dengan menghambat satu atau lebih enzim
topoisomerase yang bersifat esensial untuk replikasi dan transkripsi DNA bakteri.

Asam nalidiksat adalah prototip antibiotika golongan Kuinolon lama yang


dipasarkan sekitar tahun 1960. Walaupun obat ini mempunyai daya antibakteri yang baik
terhadap kuman gram negatif, tetapi eliminasinya melalui urin berlangsung terlalu cepat
sehingga sulit dicapai kadar pengobatan dalam darah. Karena itu penggunaan obat
Kuinolon lama ini terbatas sebagai antiseptik saluran kemih saja tanpa komplikasi.

Pada awal tahun 1980, diperkenalkan golongan Kuinolon baru dengan atom Fluor
pada cincin Kuinolon (karena itu dinamakan juga Fluorokuinolon). Perubahan struktur ini
secara dramatis meningkatkan daya bakterinya, memperlebar spektrum antibakteri,
memperbaiki penyerapannya di saluran cerna, serta memperpanjang masa kerja obat.

22
Golongan fluorokuinolon ini digunakan untuk infeksi saluran napas (radang paru),
infeksi lambung usus (salmonella, shigella), prostatitis kronis, infeksi kulit dan jaringan
lunak oleh khususnya kuman Gram negatif, digunakan pada infeksi saluran kemih
berkomplikasi oleh kuman multiresisten, misalnya melibatkan jaringan ginjal dan juga
digunakan untuk mengobati pembawa salmonella kronis dan pada infeksi permukaan mata,
begitu pula secara preventif pada pembedahan transuretheral. Yang termasuk golongan ini
antara lain adalah Spirofloksasin, Ofloksasin, Moksifloksasin, Levofloksasin, Pefloksasin,
Norfloksasin, Sparfloksasin, Lornefloksasin, Flerofloksasin dan Gatifloksasin.

Berikut ringkasan farmakokinetik quinolon

Berikut ringkasan dosis n sediaan golongan quinolon

23
3.1.1 Mekanisme Kerja Antibiotik Golongan Kuinolon

Pada saat perkembangbiakan kuman ada yang namanya replikasi dan transkripsi
dimana terjadi pemisahan double helix dari DNA kuman menjadi 2 utas DNA. Pemisahan
ini akan selalu menyebabkan puntiran berlebihan pada double helix DNA sebelum titik
pisah. Hambatan mekanik ini dapat diatasi kuman dengan bantuan enzim DNA girase.
Peranan antibiotika golongan Kuinolon menghambat kerja enzim DNA girase pada kuman
dan bersifat bakterisidal, sehingga kuman mati.

3.1.2 Efek Samping Antibiotik Golongan Kuinolon

1. Saluran cerna
Efek samping yang timbul (prevalensi 3-17%) bermanifestasi dalam bentuk mual,
muntah, dan rasa tidak enak dalam perut. Quinolones diduga dapat merusak seluruh
jaringan saraf yang mengatur kegiatan usus, intoleransi terhadap makanan dan banyak
senyawa lainnya, susah untuk mengabsorbsi hasil penernaan makanan, khususnya
mineral, yang bermuara pada penurunan berat badan;

2. Susunan saraf pusat


Efek yang paling sering timbul sakit kepala dan pusing, Efek yang paling jarang
terjadi yaitu timbul hakusinasi dan kejang.
Berikut efek samping quinolon yang pernah dilaporkan berhubungan dengan sistem
saraf pusat dan sistem saraf tepi :
a. Gangguan mental, depresi, depersonalisasi, kehilangan memori untuk waktu
singkat, dan lethargy, berbicara seperti terburu-buru, tidak dapat bercakap dengan
lancer, lupa kata-kata, sering bingung ditengah kalimat pada saat berujar.
Beberapa disebabkan karena insomnia, tetapi pada umumnya karena gangguan
pada sistem neuron;
b. Sakit kepada, khususnya hanya satu sisi, pikiran yang agak kabut, perasaan
malas, kurang gairah dan tenaga, capai dan kebosanan.
c. Konstraksi otot yang tiba-tiba, merasa bodoh, gangguan sendor, organ tubuh
bergetar sendiri, jantung berpacu dengan cepat, sensasi seperti tertusuk, and rasa
sakit yang terus menerus pada otot dan persendian, khususnya kaki bagian
bawah;
d. Insomnia;

3. Disglikemia

24
Gatifloksasin dilaporkan dapat menimbulkan hipoglikemi khusunya pada pasien usia
lanjut sehingga obat ini tidak dapat digunakan oleh pasien diabetes melitus.

4. Persendian dan otot


Berikut efek samping quinolon yang pernah dilaporkan berhubungan dengan otot dan
sendi:
a. Arthralgias (sakit pada sendi) khususnys tendon Achilles, pergelangan kaki, lutut,
paha, siku, bahu, pergelangan tangan, dan leher. Arthralgias yang terjadi dapat
berkembang menjadi osteoarthritis dengan atau tanpa terjadinya pengurangan
tulang muda. Arthralgias dapat terjadi selama proses penggunaan quinolone,
bahkan pada awal penggunaannya dan terus meningkat intensitasnya sampai
setahun datau satu setengah tahun kemudian;
b. sakit pada bagian tubuh lainnya yang bukan merupakan persendian juga dapat
terjadi menyusul sakit pada persendian. Misalnya pada leher punggung, kepala,
dada, groin, testes, termasuk sakit pada seluruh otot di tubuh (myalgias), yang
menyebabkan kekakuan dan pembengkakan. Tendinitis akut dapat terjadi pada
berbagai bagian tubuh yang tidak dapat disembuhkan dengan terapi konvensional.
Initnya adalah quinolone dan golongannya sangat beracun bagi semua tendon
dalam tubuh;
c. gejala serupa arthritis yang serupa rheumatoid arthritis dan penyakit autoimmune
lainnya juga dirasakan. Selain itu gejala serupa osteoarthritis juga terjadi, yang
ditandai dengan bunyi-bunyian pada persendian. Dengan berlangsungnya proses
intoksikasi, tulang muda yang baik dari waktu ke waktu mengalami perlunakan
dan penipisan, yang menyerupai gejala klinis osteoarthritis. Tulang muda pada
lutut merupakan target utama quinolones;
d. kekakuan yang permanen yang berujung pada ketidakmampuan untuk
menggerakkan kaki dan tangan sampai organ tubuh lainnyapun dapat terjadi.
Fleksibilitas atau kelenturan menjadi berkurang secara bertahap. Munculnya
sensasi aneh pada otot dan persendian. Otot menjadi kejang, khususnya otot kaki
dan pundak sampai ke leher;
e. pernafasan yang singkat yang mengakibatkan terjadinya deficit dalam pemasukan
oksigen ke dalam tubuh menyebabkan terjadinya insomnia dan gangguan dalam
reaksi metabolism tubuh;
f. kulit dan jaringan kolagen lainnya mengalami penyembuhan lambat. Sayatan pada
kulit sekitar persendian meninggalkan bekas merah muda setelah beberapa bulan
penyembuhan;

25
g. tangan dan kaki yang dingin juga turut dirasakan sebagai akibat konsumsi
quinilone ini.keadaan ini menunjukkan gejala yang dinamakan Raynaud's
syndrome. Dalam kasus yang cukup berat, jari dapat menjadi beku karena
dinginnya. Hilangnya sensitifitas rasa melalui tangan dan kaki.
h. Sakit di dada dan nyeri seperti jantung yang terbakar;
i. Hilangnya berat badan karena kerusakan otot, atrophy dan gangguan fungsi ginjal.

26
5. Golongan antibiotika Kuinolon umumnya dapat ditoleransi dengan baik. Efek
sampingnya yang terpenting ialah pada saluran cerna (2%) dan susunan saraf pusat.
Manifestasi pada saluran cerna,terutama berupa mual (4-8%), diare (4-5%), muntah dan
hilang nafsu makan, merupakan efek samping yang paling sering dijumpai dan jarang
timbul sejenis radang usus besar (colitis pseudomembranosis)

6. Efek neurologi bersifat ringan berupa sakit kepala, vertigo, perasaan kacau dan
insomnia.

7. Efek samping yang lebih berat dari Kuinolon seperti psikotik, halusinasi, depresi dan
kejang jarang terjadi. Penderita berusia lanjut, khususnya dengan arteriosklerosis atau
epilepsi, pasien penderita SLE (Systemic Lupus Erythematosus) dan pada penggunaan
serentak dengan NSAIDs lebih cenderung mengalami efek samping ini.

8. Kehamilan dan laktasi. Karena ada indikasi timbulnya kelainan pada pembentukan
tulang rawan dan persendian pada binatang percobaan, senyawa ini tidak dianjurkan
penggunaannya oleh wanita hamil, juga selama laktasi karena dapat masuk ke dalam air
susu ibu. Juga jangan diberikan kepada anak-anak di bawah usia 16 tahun, karena dapat
menimbulkan penyimpangan pada pembentukan tulang rawan terutama oleh asam
nalidiksat (jarang oleh siprofloksasin dan ofloksasin).

3.1.3 Toksisitas Antibiotik Golongan Kuinolon

Secara umum dapat dikatakan bahwa toksisitas dan efek samping golongan
kuinolon sepadan dengan antibiotika golongan lain. Gangguan saluran cerna sering timbul
akibat penggunaan golongan kuinolon (prevalensi sekitar 3-17%) dan bermanifestasi
dalam bentuk mual,muntah, dan rasa tidak enak di perut. Yang paling sering dijumpai ialah
sakit kepala dan pusing. Bentuk yang jarang timbul ialah halusinasi, kejang, dan dilerum.

Beberapa fluorokuinolon antara lain sparafloksasin dan grapafloksasin (kedua obat


ini sekarang tidak dipasarkan lagi) dapat memperpanjang interval QTc (corrected QT
interval). Pemanjangan interval QTc ini disebabkan karena obat-obat ini menutup kanal
kalium yang disebut HERG pda miosit yang menyebabkan terjadinya akumulasi kalium
dalam miosit. Akibatnya terjadi aritmia vertikel yang dikenal dengan nama torsades de
pointes. Beberapa kuinolon baru antara lain moksiflosasin juga dapat sedikit
memperpanjang QTc interval dan tidak berbahaya secara klinis. Namun bila obat ini

27
diberikan bersama obat lain yang juga dapat memperpanjang QTc interval (misalnya
terfenadin, sisaprid, dll) maka dapat timbul aritmia vertikel yang serius.

Gatifloksasin baru-baru ini dilaporkan dapat menimbulkan hiper atau hipoglikemia,


khusunya pada pasien berusia lanjut. Obat ini tidak boleh diberikan pada pasien diabetes
melitus.

Berikut ini contoh toksisitas quinolon :


1. HEPATOTOKSIK
Trofafloksin adalah obat quinolon generasi keempat yang tidak dipasarkan kembali
karena efek hepatotoksik
2. KARDIOTOKSIK
Beberapa golongan quinolon seperti sparfloksasin dan grepafloksasin tidak
dipasarkan kembali karena efek kardiotoksik. Obat ini mampu memperpanjang
interval QTc (corrected QT interval) akibatnya dapat menutup kanal kalium
sehingga terjadi akumulasi kalium dalam miosit. Akibatnya akan terjadi aritmia
ventrikel.Sehubungan dengan hal tersebut maka pasien yang memiliki sejarah
palpitasi atau denyut jantung yang tidak menentu dianjurkan untuk tidak
mengkonsumsi quinolone.
3. CHONDROCYTES KILLER
Quinolone membawa akibat rusaknya jaringan-jaringan tulang muda pada seluruh
tubuh dengan membunuh chondrocytes, yang merupakan sel akar dari jaringan-
jaringan tulang muda. Parah tidaknya kerusakannya yang terjadi ditentukan oleh
keadaan dari jaringan tulang muda itu sendiri sebelumnya. Makin tinggi dan makin
lama penggunaan quinolone, maka makin besar kerusakan yang terjadi. Diharapkan
bagi penderita osteoarthritis untuk mengkonsumsi quinolone, jika pasien masih
seringkali berolah raga atau melakukan tugas-tugas yang keras dan berat. Pada
umumnya kerusakan yang terjadi tidak dapat diperbaiki (irreversibel).Quinolon
juga dapat merusak kemampuan pembangunan atau perbaikan kembali jaringan,
khususnya kolagen yang menghubungkan (connective-collagenous);
4. FOTOTOKSIK
Klinarfloksasin dan sparfloksasin merupakan obat golongan quinolon yang tidak
dipasarkan kembali karena efek fototoksik.

5. OCULAR COMPLICATION
Obat golongan quinolon dapat mengendap dalam retina yang mampu mengaburkan
penglihatan dan mengurangi refleks mata.Masalah dalam penglihatan yang pernah
dilaporkan dapat berupa diplopia (double vision) dan masalah fokus penglihatan

28
lainnya, degenerasi retina, khususnya bagian luar, mata menjadi kering, sampai
kerugakan penglihatan;

WARNING QUINOLON
Golongan quinolon hingga sekarang tidak diindikasikan untuk anak-anak di bawah 18
tahun dan ibu hamil karena golongan ini dapat menimbulkan kerusakan sendi sehingga
mengganggu pertumbuhan anak dan janin.

Quinolone juga tidak dianjurkan untuk mereka yang mengalami gangguan autoimun
atau adanya kecurigaan terjadinya autoimun, karena akan memperburuk kondisi yang
sudah ada tersebut. Contohnya penyakit autoimun seperti multiple sclerosis, lupus
erithematosus, rheumatoid arthritis, vessel vasculitis yang kecil, dermatomyositis,
polymyositis.
Berikut Efek samping quinolone terhadap respon serupa autoimmun:
1. Mata kering, mulut kering, sinus kering, telinga kering dan kulit juga mulai
mengering;
2. Fungsi usus yang menjadi tidak wajar, khususnya dalam mencerna makanan dan
memprosesnya;
3. Sensitivitas terhadap parfum, produk-produk kesehatan dan kimia;
4. Kehilangan rasa dan penciuman;
5. Gejala merasakan kembali sakit yang sudah sembuh;
6. Gejala serua fibromyalgia, multiple sclerosis, lupus erythematosus, rheumatoid
arthritis, reactive arthritis, vasculitis, AIDS dan penyakit lainnya;
7. Kulit memerah, khususnya sekitar daerah periger seperti tangan, kaki, mata kaki;
8. Rasa gatal di sekujur tubuh.

INTERAKSI GOLONGAN QUINOLON

1. Antasid dan Preparat besi


Kedua Senyawa ini mampu mengurangi absorbsi quinolon hingga 50% atau lebih
sehingga harus diberi jeda 3 jam.
2. Teofilin
Beberapa golongan quinolon seperti ciprofloksasin, perfloksasin, dan enoksasin
mampu menghambat metabolisme teofilin dan meningkatkan kadar teofilin dalam
darah sehingga akan terjadi intoksikasi.
3. Obat-obat yang mampu memperpanjang interval QTc
Contoh obat golongan ini adalah antara lain obat anti aritmia kelas IA (misalnya
kuinidin, prokainamid) dan golongan III (misalnya amiodaron, sotalol), terfenadin,
dan sisaprid.
29
4. obat-obatan corticostreroid
Obat kortikosteroid jika digunakan bersama dengan quinolon dapat meningkatkan
tendonitis dan tendon rupture

2.2 ANTIBIOTIK GOLONGAN SULFONAMID


Sulfonamid adalah kemoterapeutika bakteriostatis dengan spektrum luas yang di
tahun 1950an sampai dengan 1970an banyak digunakan dengan sukses terhadap banyak
penyakit infeksi oleh kuman Gram positif maupun Gram negatif. Sejak tahun 1980an
penggunaannya sudah banyak sekali berkurang karena banyak jenis kuman sudah menjadi
resisten dan telah ditemukannya berbagai antibiotik baru dengan efek bakterisid yang lebih
efektif dan lebih aman.
30
Dewasa ini masih terdapat sejumlah indikasi untuk penggunaan oral dari
sulfonamida dan senyawa kombinasinya yakni:
1. Infeksi saluran kemih: sulfametizol, sulfafurazol dan kotrimoksazol, sering digunakan
sebagai desinfektan infeksi saluran kemih bagian atas yang menahun, juga digunakan
untuk mengobati cytitis (radang kandung kemih).
2. Infeksi mata: sulfasetamida, sulfadikramida dan sulfametizol digunakan topikal
terhadap infeksi mata yang disebabkan oleh kuman yang peka terhadap sulfonamida.
Secara sistemis zat ini juga digunakan untuk penyakit mata berbahaya trachoma, yang
merupakan sebab utama dari kebutaan di dunia ketiga.
3. Radang usus: sulfalazin khusus digunakan pada penyakit radang usus kronis Chron n
colitis
4. Malaria tropika: kombinasi sulfadoksin dan pirimetamin (Fansidar) digunakan sebagai
profilaksis dan pengobatan malaria tropika yang disebabkan oleh Plasmodium
falciparum yang resisten terhadap klorokuin.
5. Infeksi lain: silversulfadiazin banyak digunakan untuk pengobatan luka bakar.
Kotrimoksazol sama efektifnya dengan ampisilin pada tifus perut, infeksi saluran
napas bagian atas serta penyakit gonore. Secara rektal (suppositoria) sulfonamida tidak
digunakan karena resorpsinya tidak sempurna (antara 10-70%) dan kurang teratur.

3.2.1 Mekanisme Kerja Antibiotik Golongan Sulfonamid

Kuman memerlukan PABA (P-Aminobenzoidacid) untuk membentuk asam folat


yang digunakan untuk sintesis urin dan asam-asam nukleat. Sulfonamid merupakan
penghambat kompetitif PABA.

Efek antibakteri sulfonamid dihambat oleh adanya darah, nanah dan jaringan
nekrotik, karena kebutuhan mikroba akan asam folat berkurang dalam media yang
mengandung basa purin dan timidin.

Sel-sel mamalia tidak dipengaruhi oleh sulfonamid karena menggunakan folat jadi
yang terdapat dalam makanan (tidak mensintesis sendiri senyawa tersebut).

Dalam proses sintesis asam folat, bila PABA digantikan oleh sulfonamid, maka
akan terbentuk analog asam folat yang fungsional.

31
EKSKRESI. Hampir semua dieskresikan melalui ginjal, baik dalam bentuk asetil
maupun bentuk bebas. Masa paryh sulfonamid tergantung pada keadaan fungsi ginjal,
sebagian kecil dieskresi melalui tinja, empedu, dan air susu ibu.

3.2.2 Efek Samping dan Toksisitas Antibiotik Golongan Sulfonamid

Beberapa efek samping dan toksisitas yang ditimbulkan dari pemakaian antibiotik
golongan Sulfonamid, antara lain:

a. Yang terpenting adalah kerusakan parah pada sel-sel darah yang berupa antara lain
agranulositosis dan anemia hemolitik, terutama pada penderita defisiensi glukosa-
6-fosfodehidrogenase. Oleh karena itu bila sulfa digunakan lebih dari 2 minggu
perlu dilakukan pemantauan darah.

b. Efek samping lainnya adalah reaksi alergi antara lain urticaria, fotosensitasi dan
sindrom Stevens Johnson, sejenis eritema multiform dengan resiko kematian tinggi
terutama pada anak-anak. Selama terapi sebaiknya pasien jangan terlalu banyak
terkena sinar matahari.

c. Gangguan saluran cerna (mual, diare, dsb) adakalanya juga terjadi.

d. Bahaya kristaluria di dalam tubuli ginjal sering terjadi pada sulfa yang sukar larut
dalam air seni asam, misalnya sulfadiazin dan turunannya. Resiko kristalisasi ini
sangat diperkecil dengan menggunakan trisulfa, pemberian zat alkali (natrium
bikarbonat) untuk melarutkan senyawa asetil tersebut atau minum banyak air.

e. Penggunaan lokal sebagai salep atau serbuk terhadap luka (inaktivasi oleh nanah)
tidak dianjurkan karena seringkali menimbulkan sensibilisasi dan reaksi kepekaan.
Pengecualian adalah sulfasetamida/sulfadikramida dalam tetes mata serta
silversulfadiazin pada luka bakar serius.

f. Kehamilan dan laktasi. Penggunaan sulfonamida harus dihindari pada triwulan


terakhir kehamilan karena resiko timbulnya icterus-inti pada neonatus (akibat
pembebasan bilirubin dari ikatan protein plasmanya). Mengenai penggunaannya
pada bulan-bulan pertama kehamilan tidak terdapat cukup data. Karena
sulfonamida masuk ke dalam air susu ibu maka ada kemungkinan timbulnya
icterus, hiperbilirubinemia dan reaksi-reaksi alergi pada bayi yang diberi susu ibu.

32
g. Kotrimoksazol tidak boleh diberikan pada bayi di bawah usia 6 bulan berhubung
resiko efek sampingnya. Semua sulfonamida juga tidak boleh diberikan pada
penderita gangguan fungsi hati dan ginjal

Secara umum terjadinya reaksi alergi dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu
sebagai berikut:

1. Faktor obat Kapasitas proses induksi untuk terjadinya respon imum tergantung
pada kapasitas kereaktifan dari obat atau metabolitnya untuk membentuk ikatan
dengan jaringan protein kemudian memilki fungsi sebagai imunogen.

2. Faktor pasien

a) Umur: berdasarkan umur, maka reaksi alergi lebih banyak ditemukan pada
pasien yang berusia lanjut, hal ini kemungkinan disebabkan berkembangnya
defisiensi imunologi.

b) Genetik: terjadinya reaksi hipersentivitas umumnya hanya ditemukan pada


beberapa pasien saja, hal ini kemungkinan disebabkan adanya hubungan antara
reaksi hipersensitivitas obat dengan regulasi genetik.

Mekanisme terjadinya alergi sulfonamid belum sepenuhnya diketahui, tetapi


beberapa prinsip sudah dapat dijelaskan. Istilah Sulfonamide diberlakukan untuk suatu
kelompok sulfon yang terhubung dengan kelompok amina. Semua antibiotik sulfonamida
adalah arilamin. Seperti kebanyakan alergen kimia, sulfonamid mungkin memerlukan
metabolisme atau haptenasi untuk imunogenisitas. Oksidasi hepatik kelompok arilamin
oleh sistem sitokrom P450 menghasilkan pembentukan sebuah metabolit hidroksilamin
intermediat, yang dapat dikurangi dengan glutation dan dikeluarkan. Namun, kemampuan
untuk konjugasi glutation dapat terlampaui. Hidroksilamin reaktif mampu meng- haptenasi
protein endogen dan telah terbukti berhubungan dengan hipersensitivitas. Metabolit reaktif
lain juga telah diidentifikasi. Ini dapat aktif dengan membentuk struktur imunogenik
(epitopes) untuk antibodi atau sel T dan juga oleh sitotoksisitas langsung terhadap limfosit
dan sel imun lainnya bertindak sebagai hapten (antigen parsial) dan mengikat protein
endogen untuk membentuk senyawa yang memicu suatu reaksi imun. Senyawa
terhaptenasi juga mungkin langsung meracuni sel. Struktur arilamin tidak ditemukan pada
sulfonamida non-antibiotik.

Tipe reaksi alergi sulfonamid:

33
a. Reaksi Alergi Tipe I (Antibody-Mediated Anaphylactic / Immediate
Hypersensitivity). Reaksi alergi tipe I merupakan tipe alergi yang paling ditakuti
terjadi dari sulfonamida. Namun reaksi anafilaksis tipe 1 (langsung) jarang
ditemukan. Reaksi- reaksi ini berkaitan dengan substituen N-1 dalam struktur
antibiotik dan dimediasi oleh IgE. IgE tidak berikatan dengan struktur N4 arilamin
dari antibiotik sulfonamida, sehingga disimpulkan bahwa struktur N4 tidak
berpartisipasi pada terjadinya reaksi alergi tipe I. Seperti disebutkan di atas,
sulfonamida non-antibiotik tidak mengandung substituen N-1. Biasanya terjadi
pada area kulit (urtikaria dan eksim), area mata (konjuktivitis), area nasofaring
(rhinorrhea), bronkospasmus, angioderma dan gastroenteritits. Reaksi tipe ini
terjadi dalam waktu yang singkat dengan gejala meliputi rasa tidak nyaman sampai
dengan kematian dalam waktu 15 sampai 30 menit setelah pemaparan dengan
antigen, namun dapat pula terjadi dalam rentang waktu 10 sampai 12 jam.

b. Reaksi Alergi Tipe II (Sitolitik atau Sitotoksik) Reaksi Tipe II melibatkan reaksi
hipersensitivitas yang diperantarai antibodi penghancuran sel. Baik IgG dan IgM
antibodi dapat berpartisipasi dalam reaksi-reaksi ini. Reaksi ini berhubungan
dengan reaksi sitotoksik antibodi terhadap hapten. Apabila suatu xenobiotika masuk
ke dalam tubuh, maka tubuh akan menganggap sebagai suatu hapten, sehingga
tubuh akan menghasilkan suatu antibodi dan akan mengikat hapten tersebut. Ikatan
antara antibodi dengan hapten ini memiliki kecenderungan dapat mengakibatkan
kerusakan pada sel atau jaringan. Reaksi alergi ini umumnya terjadi dalam waktu 7-
14 hari setelah pemberian sautu sulfonamida

c. Reaksi Alergi Tipe III Reaksi tipe III juga sering disebut sebagai reaksi kompleks
imum. Apabila terdapat suatu antigen yang berada dalam sistem sistemik dalam
waktu yang lama dan terbentuk suatu antibodi, maka akan terbentuk pula kompleks
imum yang dapat terdeposisi pada jaringan dan mengakibatkan timbulnya
inflamasi. Tipe III juga melibatkan reaksi IgG dan IgM antibodi, tetapi berbeda dari
reaksi tipe II, antibodi yang diarahkan terhadap antigen terdistribusikan secara luas
dalam serum. Kerusakan yang disebabkan oleh reaksi tipe II cenderung terjadi di
jaringan lokal atau tipe sel, sedangkan pada reaksi tipe III kerusakan terjadi di
seluruh organ di mana terdapat deposit kompleks antigen-antibodi seperti pada
kulit, sendi, dan ginjal. Manifestasi klinis reaksi ini muncul sebagai hasil dari
aktivasi komplemen oleh kompleks imun. Aktivasi komplemen menghasilkan
34
anafilatoksin yang dapat menyebabkan degranulasi sel mast sehingga melepaskan
histamin dan urtikaria. Selain itu, deposit kompleks imun dalam jumlah besar pada
sendi, membran sel pembuluh darah dan glomeruli bertanggung jawab pada
terjadinya vaskulitis, glomerulonefritis, dan artritis

d. Reaksi Alergi Tipe IV (Hipersensitivitas Tertunda) Reaksi alergi tipe IV memiliki


mekanisme kerja dengan terbentuknya suatu ikatan antara suatu xenobiotika
dengan protein jaringan tetapi tidak merangsang pembentukan antibody. melainkan
akan memicu sel T untuk mengeluarkan mediator nyeri. Reaksi ini dimediasi oleh
sitokin yang dilepaskan oleh sel T. Kemudian sitokin akan menarik dan
mengaktifkan makrofag. Kerusakan jaringan yang disebabkan oleh reaksi tipe IV
biasanya terjadi dalam waktu 48-72 jam dan mungkin bertanggung jawab atas
reaksi pada kulit seperti ruam maculopapular, sindrom Stevens-Johnson, dan
nekrolisis epidermal.

Tabel reaksi alergi sulfonamid

35
3.3 CARA MENGATASI TERJADINYA TOKSISITAS ANTIBIOTIK

Cara paling baik untuk mengatasi toksisitas antibiotika adalah dengan penggunaan
yang tepat diagnosis,tepat dosis dan :tepat pemberian yang sesuai dengan rejimen
terapi.

Berikut ini adalah prinsip-prinsip penggunaan antibiotik dalam klinik yang perlu
diperhatikan:
a. Penegakan diagnosis infeksi perlu dibedakan antara infeksi bakterial dan infeksi
viral. Selain itu juga perlu dicari tahu dari mana infeksi bersumber. Misalnya pada
pneumonia bakterial, etiologi terseringnya adalah Streptococcus pneumoniae.
b. Dalam setiap kasus infeksi berat, apabila memungkinkan lakukan pengambilan
spesimen (seperti darah, sputum, pus, urin atau usapan/swab) untuk diperiksa di
laboratorium. Pemeriksaan yang dilakukan di sini antara lain kultur bakteri,
sensitivitas antibiotik, pemeriksaan mikroskopis dan pewarnaan Gram. Namun
pada kenyataannya, praktik semacam ini agak jarang dilakukan karena
membutuhkan waktu lebih lama untuk memastikan mikroorganisme penyebab dan
antibiotik yang paling tepat untuk infeksi tersebut.
c. Selama menunggu hasil kultur, terapi antibiotik empiris sangat penting untuk
diberikan kepada pasien yang sakit berat. Kelemahan cara ini adalah dapat
mengganggu diagnosis etiologik berikutnya dan dapat memberi hasil negatif palsu
pada identifikasi mikroorganisme infeksius setelah pemberian antibiotik (apabila
diperlukan).
d. Pertimbangkan penggunaan antibiotik dalam terapi kasus gastroenteritis atau
infeksi kulit, karena kedua jenis infeksi tersebut jarang memerlukan antibiotik.
e. Pemilihan antibiotik harus mempertimbangkan dosis dan cara pemberian obat.
i. Mikroorganisme paling sensitif terhadap antibiotik mana saja. Hal ini dapat
diketahui dari uji sensitivitas, namun dapat diperkirakan berdasarkan
spektrum antibiotik atau dugaan klinis apabila sensitivitas atau jenis
mikroorganisme belum diketahui.
ii. Faktor pasien: umur, ada/tidaknya alergi, fungsi hati, fungsi ginjal, kondisi
imunologis, hamil/tidak dan faktor genetik.
i. Berat/tidaknya infeksi: mempengaruhi jenis obat yang dipilih dan cara
pemberiannya. Sebagian antibiotik tidak begitu baik diabsorpsi apabila

36
diberikan peroral, misalnya aminoglikosida. Pada pasien sakit berat,
pemberian antibiotik biasanya dilakukan secara parenteral.
iii. Tempat infeksi: antibiotik seringkali tidak dapat menembus rongga abses
dengan baik, karena itu abses biasanya memerlukan drainase di samping
terapi antibiotik. Antibiotik tertentu (misalnya aminoglikosida) tidak dapat
menembus duramater, sehingga tidak digunakan untuk meningitis.
iv. Adanya benda asing (misalnya katup prostetik, pecahan kaca) dapat
mengurangi respons jaringan terhadap antibiotik.
v. Untuk terapi awal dalam kasus infeksi, antibiotik spektrum luas lebih baik
digunakan lebih dahulu, sampai hasil kultur tersedia. Apabila antibiotik
spektrum sempit yang digunakan dulu maka basil gram negatif, kokus gram
positif, dan fungi yang resisten mulai mendominasi dan terapi selanjutnya
menjadi sulit. Setelah hasil kultur diperoleh, barulah digunakan antibiotik
spektrum sempit yang spesifik untuk bakteri yang bersangkutan.
vi. Ganti antibiotik spektrum luas menjadi antibiotik spektrum sempit setelah
terapi berlangsung 3 hari, untuk mencegah penurunan imunitas pejamu.
f. Nilai keberhasilan terapi secara klinis atau secara mikrobiologis (kultur ulang).
Antibiotik tertentu dapat menimbulkan keracunan sehubungan dengan kadar yang
terlalu tinggi dalam darah, sehingga kadarnya dalam plasma perlu dipantau terus
(misalnya gentamisin).
g. Kombinasi antibiotik baru diberikan apabila:
i. Terdapat infeksi infeksi campuran (mixed infection), misalnya peritonitis.
ii. Pada kasus endokarditis karena Enterococcus dan meningitis karena
Cryptococcus.
iii. Untuk mencegah resistensi mikroba terhadap monoterapi, misalnya pada
tuberkulosis dan lepra.
iv. Apabila sumber infeksi belum diketahui dan terapi antibiotik spektrum
luas perlu segera diberikan karena pasien sakit berat, misalnya pada
sepsis.
v. Apabila dua antibiotik yang dipergunakan dapat memberi efek sinergisme,
misalnya penisilin dan gentamisin untuk terapi endokarditis infektif.
h. Antibiotik dapat digunakan untuk kebutuhan profilaksis (pencegahan infeksi).
Antibiotik profilaksis diberikan dalam jangka pendek (24 jam atau kurang), dengan

37
pilihan antibiotik sesuai pengalaman klinis. Indikasi antibiotik profilaksis antara
lain:
i. Sebelum prosedur operasi usus, penggantian sendi, dan ginekologi.
ii. Riwayat kontak erat dengan pasien tuberkulosis atau meningitis
meningococcal.
iii. Sebelum prosedur ekstraksi gigi pada pasien dengan katup jantung
prostetik, untuk mencegah endokarditis infektif.
iv. Pencegahan infeksi Streptococcus pada pasien dengan penyakit jantung
reumatik.
i. Perhatikan pola bakteri penyebab infeksi nosokomial setempat. Bakteri yang sering
menyebabkan infeksi nosokomial antara lain MRSA (meticillin-resistant
Staphylococcus aureus) dan Pseudomonas sp; namun distribusinya berbeda-beda di
berbagai tempat.
BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

KESIMPULAN

Tujuan terapi keracunan adalah mengawasi tanda-tanda vital, mencegah absorpsi racun
lebih lanjut, mempercepat eliminasi racun, pemberian antidot spesifik, dan mencegah
terjadinya paparan ulang.

Terapi spesifik tergantung dari identifikasi racun, jalan masuk, banyaknya racun, selang
waktu timbulnya gejala, dan beratnya derajat keracunan. Pengetahuan farmakodinamik dan
farmakokinetik substansi penyebab keracuan sangatlah penting.

GOLONGAN QUINOLON

Secara umum dapat dikatakan bahwa toksisitas dan efek samping golongan kuinolon
sepadan dengan antibiotika golongan lain.

Gangguan saluran cerna akibat penggunaan golongan kuinolon (prevalensi sekitar 3-


17%) dan bermanifestasi dalam bentuk mual,muntah, dan rasa tidak enak di perut.
Yang paling sering dijumpai ialah sakit kepala dan pusing. Bentuk yang jarang timbul
ialah halusinasi, kejang, dan dilerium.

38
Beberapa fluorokuinolon antara lain sparafloksasin dan grapafloksasin (kedua obat ini
sekarang tidak dipasarkan lagi) dapat memperpanjang interval QTc (corrected QT
interval). Pemanjangan interval QTc ini disebabkan karena obat-obat ini menutup
kanal kalium yang disebut HERG pda miosit yang menyebabkan terjadinya akumulasi
kalium dalam miosit. Akibatnya terjadi aritmia vertikel yang dikenal dengan nama
torsades de pointes.

Beberapa kuinolon baru,antara lain moksiflosasin juga dapat sedikit memperpanjang


QTc interval dan tidak berbahaya secara klinis. Namun bila obat ini diberikan bersama
obat lain yang juga dapat memperpanjang QTc interval (misalnya terfenadin, Cisaprid,
dll) maka dapat timbul aritmia vertikel yang serius.

Gatifloksasin baru-baru ini dilaporkan dapat menimbulkan hiper atau hipoglikemia,


khusunya pada pasien berusia lanjut. Obat ini tidak boleh diberikan pada pasien
diabetes melitus.

Penanganan toksisitas obat golongan Quinolon tidak spesifik,tapi tergantung dari


manifestasi klinik yang di timbulkan per individu dengan menerapkan Prinsip umum
penanganan keracunan.

GOLONGAN SULFONAMIDE.

Beberapa efek samping dan toksisitas yang ditimbulkan dari pemakaian antibiotic
golongan Sulfonamid, antara lain:

Yang terpenting adalah kerusakan parah pada sel-sel darah yang berupa antara lain
agranulositosis dan anemia hemolitik, terutama pada penderita defisiensi glukosa-
6-fosfodehidrogenase. Oleh karena itu bila sulfa digunakan lebih dari 2 minggu
perlu dilakukan pemantauan darah.

Reaksi alergi antara lain urticaria, fotosensitasi dan sindrom Stevens Johnson,
sejenis eritema multiform dengan resiko kematian tinggi terutama pada anak-anak.

Gangguan saluran cerna (mual, diare, dsb).

Bahaya kristaluria di dalam tubuli ginjal sering terjadi pada sulfa yang sukar larut
dalam air seni asam, misalnya sulfadiazin dan turunannya. Resiko kristalisasi ini
sangat diperkecil dengan menggunakan trisulfa, pemberian zat alkali (natrium
bikarbonat) untuk melarutkan senyawa asetil tersebut atau minum banyak air.

39
Penggunaan lokal sebagai salep atau serbuk terhadap luka (inaktivasi oleh nanah)
tidak dianjurkan karena seringkali menimbulkan sensibilisasi dan reaksi kepekaan.
Pengecualian adalah sulfasetamida/sulfadikramida dalam tetes mata serta
silversulfadiazin pada luka bakar serius.

Kehamilan dan laktasi. Penggunaan sulfonamida harus dihindari pada triwulan


terakhir kehamilan karena resiko timbulnya icterus-inti pada neonatus (akibat
pembebasan bilirubin dari ikatan protein plasmanya). Mengenai penggunaannya
pada bulan-bulan pertama kehamilan tidak terdapat cukup data. Karena
sulfonamida masuk ke dalam air susu ibu maka ada kemungkinan timbulnya
icterus, hiperbilirubinemia dan reaksi-reaksi alergi pada bayi yang diberi susu ibu.

Kotrimoksazol tidak boleh diberikan pada bayi di bawah usia 6 bulan berhubung
resiko efek sampingnya. Semua sulfonamida juga tidak boleh diberikan pada
penderita gangguan fungsi hati dan ginjal.

Manefestasi klinik dari toksisitas pemakaian sulfonamid oral yang paling


sering terjadi di masyarakat adalah reaksi alergi (1% - 3%) yang di sertai
eksantema dan demam.(Dinamika Obat;hal 628/Ernst Mutschler).

Penanganan toksisitas obat golongan Sulfonamide tidak spesifik,tapi tergantung


dari manifestasi klinik yang di timbulkan per individu dengan menerapkan Prinsip
umum penanganan keracunan.

SARAN

Perlu ada regulasi yang mengatur bahwa ada petunjuk dalam setiap kemasan obat/brosur
(oleh produsen obat )yang memuat penanganan yang efektif dan cepat terhadap kasus
keracunan dari obat yang bersangkutan untuk kasus yang kemungkinan paling sering
terjadisehingga penanganannya dapat dilakukan secara benar.

40
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2004, Cross-Allergenicity of Sulfonamide Antibiotiks & Other Drugs


Stereochemistry and Adverse Reactions to Sulfonamide Antibiotiks. (online database)
Available at: www.med.sc.edu. Acessed on December 30, 2009.
Drs. Tan Hoan Tjay dan Drs. Kirana Rahardja, 1991, Obat-Obat Penting, Ed. Ke-4,
Jakarta. Hal.65
Anonim, 1996, Segala sesuatu yang perlu anda ketahui terapi medis, Gramedia,
Jakarta. Hal. 484-492
Anonim, 1995, Farmakologi dan Terapi, Edisi ke 4, Bagian Farmakologi Fak.
Kedokteran UI, Jakarta. Hal.571-576
Anonim, 2008, Hypersentivity Reactions, (online database) Available at:
www.med.sc.edu. Acessed on Acessed on October 30, 2009. Block JH, Beale JM (Eds),
2004, Wilson and Gisvolds Textbook of Organic Medicinal and Pharmaceutical
Chemistry, 4
Dipiro, J. T., et al. 2005. Pharmacotheraphy Handbook. Sixth edition. The Mc. Graw
Hill Company. USA.
Ernst Mutschler,Dinamika Obat- Farmakologi dan Toksikologi,Edisi kelima
1991,Penerbit I T B.

41