Anda di halaman 1dari 25

LAMPIRAN B - Uraian Substansi

Berikut ini diuraikan kegiatan rutin untuk pencapaian SPM, sesuai dengan yang tercantum dalam Kempenkes
828/MENKES/SK/IX/2008.

No. Indikator SPM Langkah kegiatan


1 Cakupan kunjungan Ibu 1. Pengadaan buku KIA (dengan stiker P4K);
Hamil K- 4 2. Pendataan Bumil;
3. Pelayanan Antenatal sesuai standar;
4. Kunjungan rumah bagi yang Drop Out;
5. Pembuatan kantong persalinan;
6. Pelatihan KIP/konseling;
7. Pencatatan dan Pelaporan; T
ata Kelola
8. Supervisi, Monitoring Penerapan
dan Evaluasi Standar
(PWS KIA, Pelayanan
Analisis ManajemenMinimal (SPM)
Prog. KIA)
2 Cakupan komplikasi 1. Deteksi Bumil, Bulin, dan Bufas Komplikasi
Bidang Kesehatan untuk Kabupaten/Kota
kebidanan yang 2. Rujukan kasus komplikasi kebidanan
ditangani 3. Pelayanan penanganan komplikasi kebidanan
4. Penyediaan pusat pelatihan Klinis
5. Pelatihan PONED bagi Bidan Desa dan Tim Puskesmas
6. Pelatihan Tim PONEK di RS Kabupaten/Kota
7. Penyediaan peralatan PONED di Puskesmas dan PONEK di RS
Kabupaten/Kota
8. Penyediaan Bank Darah Rumah Sakit (BDRS)
9. Pelaksanaan PONED dan PONEK
10. Pencatatan dan Pelaporan
11. Pemantauan & Evaluasi
3 Cakupan pertolongan 1. Kemitraan Bidan Dukun
persalinan oleh tenaga 2. Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K)
kesehatan yang memiliki 3. Pelayanan persalinan
kompetensi kebidanan 4. Penyediaan/Pengantian Peralatan Persalinan (Bidan KIT)
5. Pelatihan + Magang (APN)
6. Supervisi, Monitoring, dan Evaluasi (PWS-KIA dan Analisis
Manajemen Program KIA)
4 Cakupan Pelayanan 1. Pelayanan Nifas sesuai standar (ibu dan neonatus)
Nifas 2. Pelayanan KB pasca persalinan
3. Pelatihan/magang klinis kesehatan maternal dan neonatal.
4. Pelayanan rujukan nifas
5. Kunjungan Rumah bagi yang Drop Out
6. Pencatatan dan Pelaporan
7. Supervisi, Monitoring dan Evaluasi (PWS KIA, Analisis Manajemen
Prog. KIA)

Tata Kelola Penerapan Standar Pelayanan Minimal (SPM)


136 Bidang Kesehatan untuk Kabupaten/Kota
www.kinerja.or.id
No. Indikator SPM Langkah kegiatan
5 Cakupan Neonatus 1. Deteksi Dini Bumil, Bulin, dan Bufas komplikasi.
dengan komplikasi yang 2. Pelayanan kesehatan pasca persalinan untuk ibu dan neonatal
ditangani sesuai standar
3. Penyediaan sarana, peralatan, laboratorium, obat esensial yg
memadai, dan transport.
4K melatihan=manajemen=BBio=bagi=bidanI=manajemen=Asfiksia=bayi
baru lahir, MTBS, PONED bagi Tim puskesmas, PONEK bagi Tim
RSUD
5. Pelaksanaan PONED dan PONEK;
6. Pemantauan untuk asuhan tindak lanjut bagi neonatus yang dirujuk
7. Pencatatan dan pelaporan
8. Pemantauan pasca pelatihan dan evaluasi
9. Pelaksanaan dan Pemantapan Audit Maternal Perinatal (AMP);
10. Rujukan pasien, tenaga medis, dan spesimen
6 Cakupan Kunjungan 1. Peningkatan kompetensi klinis kesehatan bayi meliputi SDIDTK,
Bayi stimulasi perkembangan bayi dan MTBS;
2. Pemantauan pasca pelatihan MTBS dan SDIDTK;
3. Pelayanan kesehatan bayi sesuai standar di fasilitas kesehatan;
4. Pelayanan rujukan;
5. Pembahasan audit kematian dan kesakitan bayi.
6. Pelayanan kunjungan rumah bagi yang tidak datang ke faskes
7 Cakupan Desa/ 1. Imunisasi Rutin
Kelurahan Universal 2. Imunisasi Tambahan (Backlog Fighting, Crash Program)
Child Immunization 3. Imunisasi dalam Penanganan KLB (Outbreak Response)
(UCI) 4. Kegiatan Imunisasi tambahan untuk penyakit tertentu dalam
wilayah yang luas dan waktu yang tertentu (PIN, Sub PIN, Catch Up
Campaign Campak)

Tata Kelola Penerapan Standar Pelayanan Minimal (SPM)


www.kinerja.or.id
Bidang Kesehatan untuk Kabupaten/Kota 137
LAMPIRAN B - Uraian Substansi

No. Indikator SPM Langkah kegiatan


8 Cakupan pelayanan 1. Pendataan sasaran anak usia 12 59 bulan;
anak balita 2. Pemantauan pertumbuhan anak usia 12 59 bulan minimal 8 x
dalam setahun;
3. Pemantauan perkembangan anak usia 12 59 bulan minimal tiap 6
bulan sekali;
4. Melakukan intervensi bila dijumpai gangguan pertumbuhan dan
kelainan perkembangan
5. Melakukan rujukan bila tidak ada perbaikan setelah diintervensi
6. Penyediaan skrining Kit SDIDTK;
7. Pengadaan Vitamin A dosis tinggi (200.000 iu) sesuai sasaran;
8. Pengadaan formulir pendukung pencatatan pelaporan
9. Monitoring dan evaluasi;
10. Pelatihan
9 Cakupan pemberian 1. Pendataan sasaran;
makanan pendamping 2. Pelatihan pemberian makanan bagi anak/konseling menyusui
ASI pada anak usia 6 3. Pengadaan MP-ASI
24 bulan keluarga miskin 4. Penyimpanan MP-ASI
5. Distribusi sampai ke sasaran
6. Pencatatan pelaporan
7. Monitoring dan evaluasi pelaksanaan pemberian MP-ASI.
10 Cakupan balita gizi 1. Surveilans gizi termasuk penemuan kasus secara aktif
buruk mendapat 2. Respon cepat penanganan kasus gizi buruk
perawatan 3. Pelatihan tatalaksana gizi buruk
4. Penyediaan mineral mix
5. Perawatan kasus gizi buruk di Rumah Sakit, TFC (Therapeutic
Feeding Center)
6. Pendampingan kasus gizi buruk pasca rawat (Community
Therapeutic Center)
7. Bintek dan supervisi berjenjang
11 Cakupan penjaringan 1. Pendataan
kesehatan siswa SD dan 2. Pengadaan dan pemeliharaan UKS kit, UKGS kit
setingkat 3. Pelatihan petugas, guru UKS/UKGS dan dokter kecil;
4. Penjaringan kesehatan
5. Pelayanan kesehatan
6. Pencatatan dan pelaporan

Tata Kelola Penerapan Standar Pelayanan Minimal (SPM)


138 Bidang Kesehatan untuk Kabupaten/Kota
www.kinerja.or.id
No. Indikator SPM Langkah kegiatan
12 Cakupan peserta KB 1. Pendataan Sasaran PUS.
aktif 2. Konseling KB untuk PUS.
3. Pelayanan Kontrasepsi sesuai standar.
4. Pengadaan Alat dan Obat Kontrasepsi (Alokon)
5. Pelatihan Klinis Pelayanan Kontrasepsi Terkini/Contraceptive
Technical Update
6. Pelatihan Peningkatan Kinerja Pelayanan KB
7. Pelatihan Penggunaan Alat Bantu Pengambilan Keputusan (ABPK)
Ber-KB
8. Penguatan Sistem informasi pelayanan KB
9. Supervisi, Monitoring dan Evaluasi
13 a. Acute Flacid 1. Sosialisasi
Paralysis (AFP) 2. Pencarian kasus
rate per 100.000 3. Pengambilan spesimen
penduduk <15 thn
b. Penemuan 1. Pelayanan penderita
Penderita a. aeteksi=dini=penderita=pneumonia=balita=sesuai=klasifikasi
Pneumonia Balita b. Pengobatan
c. Fasilitasi penderita pneumonia berat yang memerlukan rujukan
d. Pembinaan care seeking
2. Penyediaan alat (Peralatan ISPA)
3. Pelatihan petugas
a. Pelatihan Peningkatan Manajemen Program ISPA
b. Pelatihan MTBS
c. Pelatihan Autopsi Verbal Balita
d. Pelatihan tata laksana pneumonia Balita
4. Penyuluhan ke masyarakat
5. Jejaring kerja dan Kemitraan
6. Pengumpulan, pengolahan, dan analisa data
7. Monitoring/Supervisi ke Sarana Kesehatan
8. Pertemuan Evaluasi
9. Pencatatan dan pelaporan

Tata Kelola Penerapan Standar Pelayanan Minimal (SPM)


www.kinerja.or.id
Bidang Kesehatan untuk Kabupaten/Kota 139
LAMPIRAN B - Uraian Substansi

No. Indikator SPM Langkah kegiatan


c. Penemuan pasien 1. Tatalaksana pasien TB baru
baru TB BTA Positif 2. penemuan penderita TB baru
3. pengobatan penderita TB baru
4. Pemeriksaan sputum
5. Pelatihan
6. Penyuluhan
7. Pencatatan pelaporan
8. Monitoring dan Evaluasi
d. Penderita DBD yang 1. Penegakkan diagnosis, pengobatan dan rujukan penderita di tingkat
ditangani Puskesmas dan RS.
2. Pelatihan SDM
3. Penanggulangan kasus oleh puskesmas
4. Penyelidikan epidemiologi
5. Pencatatan dan Pelaporan
6. Monitoring dan Evaluasi
e. Penemuan penderita 1. Tatalaksana Kasus
diare 2. Penyediaan Formulir R/R
3. Pengumpulan, Pengolahan, dan analisa data
4. Pelatihan Petugas
a. Penatalaksana kasus
b. Manajemen Program
5. Promosi/penyuluhan
6. Jejaring kerja dan Kemitraan
7. Pertemuan Evaluasi
14 Cakupan pelayanan 1. Pendataan penduduk, sarana kesehatan dan kunjungan ke sarana
kesehatan dasar pasien kesehatan
masyarakat miskin 2. Jenis Pelayanan dasar maskin
3. Penyuluhan
4. Pelatihan
5. Monitoring dan evaluasi
6. Pencatatan dan pelaporan
15 Cakupan pelayanan 1. Pendataan penduduk, sarana kesehatan dan kunjungan ke sarana
kesehatan rujukan kesehatan
pasien masyarakat 2. Jenis pelayanan lanjutan/rujukan maskin
miskin 3. Penyuluhan
4. Pelatihan SDM
5. Pencataan dan Pelaporan
6. Monitoring dan evaluasi

Tata Kelola Penerapan Standar Pelayanan Minimal (SPM)


140 Bidang Kesehatan untuk Kabupaten/Kota
www.kinerja.or.id
No. Indikator SPM Langkah kegiatan
16 Cakupan Pelayanan 1. Standarisasi pelayanan gawat-darurat di Kabupaten & Provinsi
Gawat Darurat 2. Penyusunan Disaster Plan
level 1 yang harus 3. Penghitungan biaya pelayanan pasien gawat-darurat (menurut
diberikan Sarana service cost)
Kesehatan (RS) di 4. Pencarian sumber biaya (Askes Jasa Raharja jamsostek
Kab/ Kota Badan Penanggulangan Bencana Pusat/Daerah APBN APBD -
Bappenas)
5. Pencatatan
6. Diklat

17 Cakupan Desa/ 1. Pengumpulan data;


kelurahan 2. Penyajian dan analisis data;
mengalami KLB 3. Diseminasi;
yang dilakukan 4. Pencegahan dan pengendalian KLB;
penyelidikan 5. Monitoring dan evaluasi;
epidemiologi <24 6. Pelatihan
jam
18 Cakupan Desa Siaga 1. Persiapan
Aktif a. Persiapan Petugas:
1) Pelatihan Bidan (1 desa: 1 Bidan)
2) Pelatihan Kader dan Toma (1 desa: 2 kader + 1 toma) selama 4 hari:
3 hari di kelas, 1 hari di lapangan
b. Persiapan Masyarakat:
1) Pembentukan forum melalui pertemuan Tingkat Desa (3 kali/tahun)
2) Survei Mawas Diri (pendataan ke lapangan atau pertemuan rembuk
desa) 2 kali/tahun)
3) Musyawarah Masyarakat Desa: 2 kali/tahun
2. Pelaksanaan
a. Pelayanan kesehatan dasar;
b. Kader dan toma melakukan surveilan berbasis masyarakat
(pengamatan sederhana) terhadap KIA, Gizi, Kesling, Penyakit,
PHBS, melakukan pendataan PHBS dengan survei cepat;

c. Pertemuan tindak lanjut penemuan hasil surveilans dalam rangka


meningkatkan kewaspadaan dini masyarakat (1 bulan sekali)
d. Alih pengetahuan dan olah ketrampilan melalui pertemuan: 2 kali/
tahun
e. Pertemuan Forum Masyarakat Desa untuk membahas masalah
kesehatan dengan memanfaatkan forum yang ada di desa
(1bulan sekali).

Tata Kelola Penerapan Standar Pelayanan Minimal (SPM)


www.kinerja.or.id
Bidang Kesehatan untuk Kabupaten/Kota 141
LAMPIRAN D
DEFINISI OPERASIONAL DAN FORMULA
PERHITUNGAN INDIKATOR SPM DAN
PENJELASANNYA

aefinisi operasional dan formula perhitungan indikator pmj dan penjelasannya


dari Kepmenkes 828/MENKES/SK/IX/2008

Indikator
No aefinisi lperasional Formula
SPM
1 Cakupan Cakupan kunjungan ibu hamil K4 adalah Jumlah Ibu Hamil yang
Kunjungan cakupan Ibu hamil yang telah memperoleh memperoleh pelayanan
Ibu Hamil K4 pelayanan antenatal sesuai dengan standar antenatal K4 di satu
paling sedikit 4 kali di satu wilayah kerja pada wilayah kerja pada
kurun waktu tertentu. kurun waktu tertentu
X 100%
Ibu hamil K4 adalah ibu hamil yang mendapatkan Jumlah sasaran ibu
pelayanan antenatal sesuai standar paling hamil di satu wilayah
sedikit empat kali, dengan distribusi pemberian kerja dalam kurun
pelayanan yang dianjurkan adalah minimal satu waktu yang sama
kali pada triwulan pertama, satu kali pada triwulan
kedua dan dua kali pada triwulan ketiga umur Pembilang: Penyebut:
kehamilan. Jumlah ibu Jumlah sasaran
Kunjungan ibu hamil sesuai standar adalah hamil yang telah ibu hamil di satu
pelayanan yang mencakup minimal : memperoleh wilayah kerja
pelayanan dalam kurun
Timbang badan dan ukur tinggi badan, antenatal sesuai waktu yang
Ukur tekanan darah, standar minimal sama.
Skrining status imunisasi tetanus (dan 4 kali di satu Jumlah sasaran
pemberian Tetanus Toksoid), wilayah kerja Ibu Hamil
(ukur) tinggi fundus uteri, pada kurun dihitung melalui
Pemberian tablet besi (90 tablet selama waktu tertentu. estimasi dengan
kehamilan), rumus : 1,10
temu wicara (pemberian komunikasi x Crude Birth
interpersonal dan konseling), Rate x Jumlah
Test laboratorium sederhana (Hb, Protein Penduduk (pada
urin) dan atau berdasarkan indikasi (HbsAg, tahun yang
pifilisI=efsI=jalariaI=TBCFK sama).

Tata Kelola Penerapan Standar Pelayanan Minimal (SPM)


142 www.kinerja.or.id www.kinerja.or.id 287
LAMPIRAN D - Definisi operasional dan formula
perhitungan indikator SPM dan penjelasannya

Indikator
No aefinisi lperasional Formula
SPM
2 Cakupan Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani Jumlah Komplikasi
komplikasi adalah ibu dengan komplikasi kebidanan di satu kebidanan yang
kebidanan wilayah kerja pada kurun waktu tertentu yang mendapat penanganan
yang mendapat=penanganan=definitif=sesuai=dengan definitif=di=satu=wilayah
ditangani standar oleh tenaga kesehatan terlatih pada kerja pada kurun waktu
tingkat pelayanan dasar dan rujukan (Polindes, tertentu
Puskesmas, Puskesmas PONED, Rumah X 100%
Bersalin, RSIA/RSB, RSU, RSU PONEK). Jumlah Ibu dengan
Komplikasi yang dimaksud adalah kesakitan komplikasi kebidanan
pada ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas yang dapat di satu wilayah kerja
mengancam jiwa ibu dan/atau bayi. dalam kurun waktu yg
sama
Komplikasi dalam kehamilan : a) Abortus,
b) Hiperemesis Gravidarum, c) perdarahan Pembilang: Penyebut:
per vaginam, d) Hipertensi dalam kehamilan Jumlah Jumlah ibu
(preeklampsia, eklampsia), e) kehamilan lewat komplikasi dgn komplikasi
waktu, f) ketuban pecah dini. kebidanan di kebidanan di
Komplikasi dalam persalinan : a) Kelainan letak/ satu wilayah satu wilayah
presentasi janin, b) Partus macet/ distosia, c) tertentu yang kerja pada kurun
Hipertensi dalam kehamilan (preeklampsia, mendapat waktu yang
penanganan sama.
eklampsia), d) perdarahan pasca persalinan, e) definitif=pada Perhitungan
Infeksi berat/ sepsis, f) kontraksi dini/persalinan kurun waktu jumlah Ibu dgn
prematur, g) kehamilan ganda. tertentu. komplikasi
Komplikasi dalam Nifas : a) Hipertensi dalam kebidanan di
kehamilan (preeklampsia, eklampsia), b) Infeksi satu wilayah
nifas, c) perdarahan nifas. kerja pada kurun
waktu yang
Ibu hamil, ibu bersalin dan nifas dengan
sama: dihitung
komplikasi yang ditangani adalah ibu hamil,
berdasarkan
bersalin dan nifas dengan komplikasi yg
angka estimasi
mendapatkan pelayanan sesuai standar pada
20% dari total
tingkat pelayanan dasar dan rujukan (Polindes,
Ibu Hamil disatu
Puskesmas, Puskesmas PONED, Rumah
wilayah pada
bersalin, RSIA/RSB, RSU, RSU PONEK);
kurun waktu
yang sama.
Total sasaran
Ibu Hamil
dihitung melalui
estimasi dengan
rumus : 1,10
x Crude Birth
Rate x Jumlah
Penduduk (pada
tahun yang
sama).

Tata Kelola Penerapan Standar Pelayanan Minimal (SPM)


288 Bidang Kesehatan untuk Kabupaten/Kota
www.kinerja.or.id
Indikator
No aefinisi lperasional Formula
SPM
3 Cakupan Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga Jumlah ibu bersalin yang
pertolongan kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan ditolong oleh tenaga
persalinan adalah Ibu bersalin yang mendapat pertolongan kesehatan di satu wilayah
oleh tenaga persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kerja pada kurun waktu
kesehatan kompetensi kebidanan disatu wilayah kerja pada tertentu
yang kurun waktu tertentu. X 100%
Jumlah seluruh sasaran
memiliki
Pertolongan persalinan adalah proses pelayanan ibu bersalin di satu
kompetensi
persalinan dimulai pada kala I sampai dengan wilayah kerja dalam kurun
kebidanan
kala IV persalinan. waktu yang sama
Tenaga Kesehatan yang memiliki kompetensi Pembilang: Penyebut:
kebidanan adalah tenaga kesehatan yang
Jumlah ibu
memiliki kemampuan klinis kebidanan sesuai standar. Jumlah seluruh
bersalin yang sasaran ibu

ditolong bersalin di satu


oleh tenaga wilayah kerja
kesehatan di dalam kurun
satu wilayah waktu yang sama.
kerja pada Jumlah seluruh
kurun waktu Ibu Bersalin
tertentu. dihitung melalui
estimasi dengan
rumus : 1,05
x Crude Birth
Rate x Jumlah
Penduduk.
4 Cakupan Cakupan pelayanan nifas adalah pelayanan Jumlah ibu nifas yg
pelayanan kepada ibu dan neonatal pada masa 6 jam telah memperoleh 3 kali
nifas sampai dengan 42 hari pasca persalinan sesuai pelayanan nifas sesuai
standar. standar di satu wilayah
kerja pada kurun waktu
Nifas adalah periode mulai 6 jam sampai dengan
tertentu
42 hari pasca persalinan. X 100%
Pelayanan nifas sesuai standar adalah pelayanan Seluruh Ibu nifas di satu
kepada ibu nifas sedikitnya 3 kali, pada 6 jam wilayah kerja dalam kurun
pasca persalinan s.d 3 hari; pada minggu ke II, waktu yg sama
dan pada minggu ke VI termasuk pemberian
Vitamin A 2 kali serta persiapan dan/atau
pemasangan KB Pasca Persalinan.
Dalam pelaksanaan pelayanan nifas dilakukan
juga pelayanan neonatus sesuai standar
sedikitnya 3 kali, pada 6-24 jam setelah lahir,
pada 3-7 hari dan pada -28 hari setelah lahir
yang dilakukan difasilitas kesehatan maupun
kunjungan rumah.

Tata Kelola Penerapan Standar Pelayanan Minimal (SPM)


www.kinerja.or.id
Bidang Kesehatan untuk Kabupaten/Kota 289
LAMPIRAN D - Definisi operasional dan formula
perhitungan indikator SPM dan penjelasannya

Indikator
No aefinisi lperasional Formula
SPM
Pelayanan kesehatan neonatal adalah pelayanan
kesehatan neonatal dasar (ASI ekslusif,
Pembilang: Penyebut:
pencegahan infeksi berupa perawatan mata, tali
Jumlah ibu Jumlah seluruh
pusat, pemberian vitamin K1 injeksi bila tidak
nifas yang telah ibu nifas di satu
diberikan pada saat lahir, pemberian imunisasi
memperoleh 3 wilayah kerja
hepatitis B1 (bila tidak diberikan pada saat lahir),
kali pelayanan dalam kurun
manajemen terpadu bayi muda.
nifas sesuai waktu yang
Neonatus adalah bayi berumur 0-28 hari.
standar di satu sama.
wilayah kerja
Jumlah seluruh
pada kurun
Ibu Nifas di
waktu tertentu.
hitung melalui
estimasi dengan
rumus: 1,05 x
Crude Birth Rate
(CBR) x Jumlah
Penduduk.
5 Cakupan Cakupan neonatus dengan komplikasi yang Jumlah neonatus
neonatus ditangani adalah neonatus dengan komplikasi dengan komplikasi yang
dengan disatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu tertangani
komplikasi yang ditangani sesuai dengan standar oleh X 100%
Jumlah seluruh neonatus
yang tenaga kesehatan terlatih di seluruh sarana
dengan komplikasi yang
ditangani pelayanan kesehatan.
ada
Pembilang: Penyebut:
Jumlah Neonatus dengan
neonatus komplikasi yang
dengan ada di satu
komplikasi wilayah kerja
yang tertangani pada kurun waktu
dari satu yang sama di
wilayah kerja sarana pelayanan
pada kurun kesehatan.
waktu tertentu
Perhitungan
di sarana
sasaran
pelayanan
neonatus dengan
kesehatan.
komplikasi:
dihitung 15% dari
jumlah bayi baru
lahir.
Jika tidak diketahui
jumlah bayi baru
lahir maka dapat
dihitung dari
CBR x jumlah
penduduk.

Tata Kelola Penerapan Standar Pelayanan Minimal (SPM)


290 Bidang Kesehatan untuk Kabupaten/Kota
www.kinerja.or.id
Indikator
No aefinisi lperasional Formula
SPM
6 Cakupan Cakupan kunjungan bayi adalah cakupan bayi Jumlah bayi memperoleh
kunjungan yang memperoleh pelayanan kesehatan sesuai pelayanan kesehatan
bayi dengan standar oleh dokter, bidan, dan perawat sesuai standar di satu
yang memiliki kompetensi klinis kesehatan, paling
wilayah kerja pada kurun
sedikit 4 kali disatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu
waktu tertentu. X 100%
Jumlah seluruh bayi lahir
Bayi adalah anak berumur 29 hari-11 bulan hidup dalam kurun waktu
yang sama
Cakupan kunjungan bayi adalah Cakupan
kunjungan bayi umur 29 hari 11 bulan di Pembilang: Penyebut:
sarana pelayanan kesehatan (polindes, pustu, Jumlah Seluruh bayi lahir
puskesmas, rumah bersalin dan rumah sakit) bayi yang hidup di satu
maupun di rumah, posyandu, tempat penitipan memperoleh wilayah kerja
anak, panti asuhan dan sebagainya melalui pelayanan dalam kurun
kunjungan petugas. kesehatan waktu sama.
Setiap bayi memperoleh pelayanan kesehatan sesuai dengan Jika tidak ada
minimal 4 kali yaitu satu kali pada umur 29 hari-3standar, paling data dapat
bulan, 1 kali pada umur 3-6 bulan, 1 kali pada sedikit 4 kali di digunakan angka
umur 6-9 bulan, dan 1 kali pada umur 9-11 bulan.satu wilayah estimasi jumlah
kerja pada
Pelayanan Kesehatan tersebut meliputi bayi lahir hidup
kurun waktu
pemberian imunisasi dasar (BCG, DPT/HB1-3, tertentu. berdasarkan data
Polio 1-4, Campak), stimulasi deteksi intervensi BPS atau
perhitungan
dini tumbuh kembang (SDIDTK) bayi dan CBR x jumlah
penyuluhan perawatan kesehatan bayi. penduduk
Penyuluhan perawatan kesehatan bayi meliputi:
konseling ASI eksklusif, pemberian makanan
pendamping ASI sejak usia 6 bulan, perawatan
dan tanda bahaya bayi sakit (sesuai MTBS),
pemantauan pertumbuhan dan pemberian vitamin
A kapsul biru pada usia 6 11 bulan.

Tata Kelola Penerapan Standar Pelayanan Minimal (SPM)


www.kinerja.or.id
Bidang Kesehatan untuk Kabupaten/Kota 291
LAMPIRAN D - Definisi operasional dan formula
perhitungan indikator SPM dan penjelasannya

Indikator
No aefinisi lperasional Formula
SPM
7 Cakupan Cakupan Desa/Kelurahan Universal Child Jumlah desa / kelurahan
Desa/ Immunization (UCI) adalah Desa/ Kelurahan UCI
Kelurahan dimana 80% dari jumlah bayi yg ada di desa X 100%
Seluruh desa / kelurahan
UCI tersebut sudah mendapat imunisasi dasar lengkap
dalam waktu satu tahun. Pembilang: Penyebut:

UCI (Universal Child Immunization) adalah Jumlah Desa/ Seluruh Desa/


tercapainya imunisasi dasar secara lengkap Kelurahan UCI Kelurahan di satu
pada bayi (0-11 bulan), Ibu hamil, WUS dan anak di satu wilayah wilayah kerja
sekolah tingkat dasar. kerja pada dalam waktu
waktu tertentu. yang sama.
Imunisasi dasar lengkap pada bayi meliputi: 1 dosis
BCG, 3 dosis DPT, 4 dosis Polio, 4 dosis Hepatitis
B, 1 dosis Campak. Ibu hamil dan WUS meliputi
2 dosis TT. Anak sekolah tingkat dasar meliputi 1
dosis DT, 1 dosis campak, dan 2 dosis TT.
Imunisasi rutin adalah kegiatan imunisasi yang
secara rutin dan terus menerus harus dilaksanakan
pada periode waktu yang telah ditetapkan,
berdasarkan kelompok usia sasaran dan tempat
pelayanan.
Imunisasi tambahan adalah kegiatan imunisasi yang
tidak rutin dilaksanakan, hanya dilakukan atas dasar
ditemukannya masalah dari hasil pemantauan
atau evaluasi. Termasuk dalam kegiatan imunisasi
tambahan adalah: Backlog Fighting dan Crash
program.
Imunisasi dalam penanganan KLB adalah kegiatan
imunisasi yang disesuaikan dengan situasi
epidemiologis penyakit.
8 Cakupan Cakupan pelayanan anak balita adalah anak Jumlah anak balita yang
pelayanan balita (12 59 bulan) yang memperoleh memperoleh pelayanan
anak balita pelayanan pemantauan pertumbuhan dan pemantauan pertumbuhan
perkembangan. minimal 8 kali di satu
wilayah kerja pada waktu
Anak balita adalah anak berumur 12 - 59 bulan.
tertentu
Setiap anak umur 12 - 59 bulan memperoleh X 100%
pelayanan pemantauan pertumbuhan setiap Jumlah seluruh anak
bulan, minimal 8 x dalam setahun yang tercatat balita disatu wilayah kerja
dalam waktu yg sama

Tata Kelola Penerapan Standar Pelayanan Minimal (SPM)


292 Bidang Kesehatan untuk Kabupaten/Kota
www.kinerja.or.id
Indikator
No aefinisi lperasional Formula
SPM
di Kohort Anak Balita dan Pra Sekolah, Buku
KIA/KMS, atau buku pencatatan dan pelaporan
lainnya.
Pemantauan pertumbuhan adalah pengukuran
berat badan pertinggi/panjang badan (BB/TB). Pembilang: Penyebut:
Ditingkat masyarakat pemantauan pertumbuhan
Jumlah anak Jumlah seluruh
adalah pengukuran berat badan per umur (BB/U)
balita (12 59 anak balita (12
setiap bulan di Posyandu, Taman Bermain, Pos
bulan) yang 59 bulan) di
PAUD, Taman Penitipan Anak dan Taman Kanak-
memperoleh satu wilayah
Kanak, serta Raudatul Athfal dll.
pelayanan kerja dalam
Bila berat badan tidak naik dalam 2 bulan pemantauan kurun waktu
berturut-turut atau berat badan anakbalita di pertumbuhan tertentu.
bawah garis merah harus dirujuk ke sarana minimal 8 kali di
pelayanan kesehatan untuk menentukan status satu wilayah kerja
gizinya dan upaya tindak lanjut. pada waktu kurun
Pemantauan perkembangan meliputi penilaian tertentu.
perkembangan gerak kasar, gerak halus, bicara
dan bahasa serta sosialisasi dan kemandirian,
pemeriksaan daya dengar, daya lihat. Jika
ada keluhan atau kecurigaan terhadap anak,
dilakukan pemeriksaan untuk gangguan mental
emosional, autisme serta gangguan pemusatan
perhatian=dan=hiperaktifitasK
Bila ditemukan penyimpangan atau gangguan
perkembangan harus dilakukan rujukan
kepada tenaga kesehatan yang lebih memiliki
kompetensi.
Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan
setiap anak usia 12-59 bulan dilaksanakan
melalui pelayanan SDIDTK minimal 2 kali
pertahun (setiap 6 bulan) dan tercatat pada
Kohort Anak Balita dan Prasekolah atau
pencatatan pelaporan lainnya. Pelayanan
SDIDTK dilaksanakan oleh tenaga kesehatan,
ahli gizi, penyuluh kesehatan masyarakat dan
petugas sektor lain yang dalam menjalankan
tugasnya melakukan stimulasi dan deteksi dini
penyimpangan tumbuh kembang anak.
Suplementasi Vitamin A dosis tinggi (200.000
IU) diberikan pada anak umur 12-59 bulan 2 kali
pertahun (bulan Februari dan Agustus).

Tata Kelola Penerapan Standar Pelayanan Minimal (SPM)


www.kinerja.or.id
Bidang Kesehatan untuk Kabupaten/Kota 293
LAMPIRAN D - Definisi operasional dan formula
perhitungan indikator SPM dan penjelasannya

Indikator
No aefinisi lperasional Formula
SPM
9 Cakupan Cakupan pemberian makanan pendamping ASI Jumlah anak usia 6 24
pemberian pada anak usia 6 24 bulankeluarga miskin bln keluarga miskin yg
makanan adalah pemberian makanan pendamping ASI mendapat MP ASI
pendamping pada anak usia 6 Bulan dari keluarga miskin X 100%
Jumlah seluruh anak usia
ASI pada selama 90 hari.
6 24 bln keluarga miskin
anak usia 6
Anak usia 6-24 bulan keluarga miskin adalah bayi
24 bulan
usia 6 11 bulan dan anak usia 6 24 bulan dari Pembilang: Penyebut:
keluarga
keluarga miskin (GAKIN). Jumlah anak Jumlah seluruh
miskin
Kriteria dan keluarga miskin ditetapkan oleh usia 6 24 anak usia 6 24
pemerintah setempat (Kab/Kota). bulan dari Gakin bulan dari Gakin
yang mendapat di satu wilayah
MP-ASI pabrikan berupa bubuk instan untuk bayiMP-ASI di satu kerja dalam
usia 6 11 bulan dan biskuit untuk anak usia 12 wilayah kerja
24 bulan kurun waktu
pada kurun
yang sama.
waktu tertentu.
10 Cakupan Cakupan balita gizi buruk mendapat perawatan Jumlah balita gizi buruk
balita gizi adalah balita gizi buruk yang ditangani di sarana mendapat perawatan
buruk pelayanan kesehatan sesuai tatalaksana gizi di sarana pelayanan
mendapat buruk di satu wilayah kerja pada kurun waktu kesehatan disatu wilayah
perawatan tertentu Balita adalah anak usia di bawah 5 tahunkerja pada waktu tertentu
(anak usia 0 s/d 4 tahun 11 bulan) yang ada di X 100%
Jumlah seluruh balita gizi
kabupaten/Kota.
buruk yang ditemukan
Gizi buruk adalah status gizi menurut badan disatu wilayah kerja dalam
badan (BB) dan tinggi badan (TB) dengan waktu yang sama
Z-score <-3 dan atau dengan tanda-tanda
klinis (marasmus, kwashiorkor, dan marasmus- Pembilang: Penyebut:
kwasiorkor). Jumlah balita Jumlah seluruh
gizi
Perawatan adalah perawatan sesuai tatalaksana gizi buruk balita gizi buruk
buruk mendapat yang ditemukan
perawatan di satu wilayah
di sarana kerja pada kurun
pelayanan waktu yang
kesehatan di sama.
satu wilayah
kerja pada kurun
waktu tertentu.
11 Cakupan Cakupan pemeriksaan kesehatan siswa SD dan Jumlah murid SD dan
balita gizi setingkat adalah cakupan siswa SD dan setingkatsetingkat yang diperiksa
buruk yang diperiksa kesehatannya oleh tenaga kesehatannya oleh tenaga
mendapat kesehatan atau tenaga terlatih (guru UKS/dokter kesehatan atau tenaga
perawatan kecil) melalui penjaringan kesehatan di satu terlatih
wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. X 100%
Jumlah murid SD dan
Penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat setingkat
adalah pemeriksaan kesehatan umum, kesehatan
gigi dan mulut siswa SD dan setingkat melalui

Tata Kelola Penerapan Standar Pelayanan Minimal (SPM)


294
Bidang Kesehatan untuk Kabupaten/Kota
www.kinerja.or.id
Indikator
No aefinisi lperasional Formula
SPM
penjaringan kesehatan terhadap murid kelas
1 SD dan MI yang dilaksanakan oleh tenaga
kesehatan bersama guru, dokter kecil.
Pembilang`: Penyebut:
Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) adalah upaya
Jumlah murid Jumlah murid
terpadu lintas program dan lintas sektor dalam
kelas 1 SD kelas 1 SD dan
rangka meningkatkan kemampuan hidup sehat
dan setingkat setingkat disatu
dan selanjutnya membentuk perilaku hidup sehat
yang diperiksa wilayah kerja
anak usia sekolah yang berada di sekolah.
kesehatannya pada kurun
Sekolah Dasar setingkat adalah Sekolah Dasar melalui waktu yang
Negeri, Sekolah Dasar Swasta, Sekolah Dasar penjaringan sama.
Luar Biasa, Madrasah Ibtidaiyah serta satuan kesehatan
pendidikan keagamaan termasuk Ponpes baik oleh tenaga
jalur pendidikan sekolah maupun luar sekolah. kesehatan
Tenaga Kesehatan adalah tenaga medis, atau tenaga
keperawatan atau petugas Puskesmas lainnya terlatih (guru
yang telah dilatih sebagai tenaga pelaksana UKS/UKS/ dokter
UKGS. kecil) disatu
wilayah kerja
Guru UKS/UKGS adalah guru kelas atau guru pada kurun
yang ditunjuk sebagai pembina UKS/UKGS di waktu tertentu.
sekolah dan telah dilatih tentang UKS/UKGS.
Dokter kecil adalah kader kesehatan sekolah
yang biasanya berasal dari murid kelas 4 dan
5 SD dan setingkat yang telah mendapatkan
pelatihan dokter kecil.
12 Cakupan Cakupan peserta KB aktif adalah jumlah peserta Jumlah PUS yang
peserta KB aktif dibandingkan dengan jumlah Pasangan menggunakan
Keluarga Usia Subur (PUS) di suatu wilayah kerja pada kontrasepsi di satu
Berencana kurun waktu tertentu. wilayah kerja pada
(KB) aktif kurun waktu tertentu
Peserta KB aktif adalah Pasangan Usia X 100%
Subur yang salah satu pasangannya masih Jumlah seluruh
menggunakan alat kontrasepsi dan terlindungi Pasangan Usia Subur
oleh alat kontrasepsi tersebut. di satu wilayah kerja
Pasangan Usia Subur (PUS) adalah pasangan dalam kurun waktu
suami Isteri, yang istrinya berusia 15 49 yang sama
tahun. Pembilang: Penyebut:
Angka Cakupan Peserta KB aktif menunjukkan Jumlah Jumlah seluruh
Tingkat pemanfaatan kontrasepsi di antara para PUS yang Pasangan Usia
Pasangan Usia Subur (PUS). menggunakan Subur di satu
kontrasepsi di wilayah kerja
satu wilayah dalam kurun
kerja pada waktu yang
kurun waktu sama.
tertentu.

Tata Kelola Penerapan Standar Pelayanan Minimal (SPM)


www.kinerja.or.id
Bidang Kesehatan untuk Kabupaten/Kota 295
LAMPIRAN D - Definisi operasional dan formula
perhitungan indikator SPM dan penjelasannya

Indikator
No aefinisi lperasional Formula
SPM
13 Acute Flacid Jumlah kasus AFP Non Polio yang ditemukan Jumlah kasus AFP non
a. Paralysis diantara 100.000 penduduk < 15 tahun pertahun Polio yang dilaporkan
(AFP) rate di satu wilayah kerja tertentu x 100%
Jumlah Penduduk < 15
per 100.000
Kasus AFP adalah semua anak berusia kurang tahun
penduduk <
dari 15 tahun dengan kelumpuhan yang sifatnya
15 tahun Pembilang: Penyebut:
flacid=ElayuhF=terjadi=secara=akut=EmendadakF=dan
bukan disebabkan oleh rudapaksa. Jumlah kasus Jumlah
Kasus AFP non polio adalah kasus AFP yang AFP non Polio Penduduk <15
pada pemeriksaan spesimennya tidak ditemukanpada penduduk tahun di satu
virus polio liar atau kasus AFP yang ditetapkan <15 tahun di wilayah kerja
oleh tim ahli sebagai kasus AFP non polio dengansatu wilayah dalam kurun
kriteria tertentu kerja pada waktu yang
kurun waktu sama.
tertentu
b. Penemuan Persentase balita dengan Pneumonia yang Jumlah penderita
Penderita ditemukan & diberikan tatalaksana sesuai standar pneumonia balita yang
Pneumonia di Sarana Kesehatan di satu wilayah dalam waktu ditangani di satu wilayah
Balita satu tahun. kerja pada kurun waktu
satu tahun
Pneumonia adalah infeksi akut yang mengenai X 100%
jaringan paru-paru (alveoli) yang ditandai dengan Jumlah perkiraan
batuk disertai napas cepat dan/atau kesukaran penderita Pneumonia
bernafas balita di satu Wilayah
kerja dalam kurun waktu
hlasifikasi=penyakit=fpmAW satu tahun
aalam=penentuan=klasifikasi=penyakit=dibedakan Pembilang: Penyebut:
atas dua kelompok yaitu kelompok untuk umur 2
bulan - < 5 tahun dan kelompok umur < 2 bulan Jumlah Jumlah perkiraan
penderita penderita
Untuk kelompok umur 2 bulan -< 5 tahun Pneumonia Pneumonia
klasifikasi=dibagi=atas=mneumonia=Berat=I Balita yang Balita di satu
Pneumonia, dan batuk bukan Pneumonia yang ditangani wilayah kerja
rntuk=kelompok=umur=<=O=bulan=klasifikasi di satu wilayah pada kurun
dibagi atas: Pneumonia berat dan batuk kerja pada waktu yang
bukan Pneumonia. kurun waktu sama.
Dalam pendekatan manajemen terpadu balita satu tahun.
Jumlah perkiraan
sakit=EjTBpF=klasifikasi=pada=kelompok=umur=<=O penderita
bulan adalah infeksi bakteri sistemik dan infeksi pneumonia balita
bakteri local adalah 10% dari
hlasifikasi=mneumonia=berat=didasarkan pada jumlah balita
adanya batuk dan/atau kesukaran bernafas disatu wilayah
disertai tarikan dinding dada bagian bawah kerja dalam
kedalam (TDDK) pada anak usia 2 bulan - < 5 kurun waktu satu
tahunK=rntuk=kelompok=umur=<=O=bulan=klasifikasi tahun.
Pneumonia berat ditandai dengan TDDK kuat
atau adanya nafas cepat lebih atau sama dengan
45 x per menit.

Tata Kelola Penerapan Standar Pelayanan Minimal (SPM)


296
Bidang Kesehatan untuk Kabupaten/Kota
www.kinerja.or.id
Indikator
No aefinisi lperasional Formula
SPM
hlasifikasi=mneumonia=didasarkan pada adanya
batuk dan/atau kesukaran bernafas disertai
adanya nafas cepat. Batas nafas cepat pada
anak usia 2 bulan - < 1 thn adalah 50 kali
permenit dan 40 kali permenit untuk anak usia
1 - < 5 thn
hlasifikasi=batuk=bukan=mneumonia=mencakup
kelompok penderita Balita dengan batuk yang
tidak menunjukkan gejala peningkatan frekuensi
nafas dan tidak menunjukkan adanya tarikan
dinding dada bagian bawah kedalam. Dengan
demikian=klasifikasi=batuk=bukan=mneumonia
mencakup penyakit-penyakit ISPA lain diluar
Pneumonia seperti batuk pilek (common cold,
pharyngitis, tonsillitis, otitis)
Diberikan tatalaksana adalah diberikan pelayanan
sesuai=klasifikasinyaI=untuk=mneumonia=diberikan
antibiotika dan Pneumonia berat dirujuk ke
Sarana Kesehatan yang lebih memadai
Sarana Kesehatan adalah semua sarana
pelayanan kesehatan, baik pemerintah maupun
swasta.
c. Penemuan Angka penemuan pasien baru TB BTA positif atau Jumlah pasien baru
pasien baru Case Detection Rate (CDR) adalah persentase TB BTA positif yang
TB BTA jumlah penderita baru TB BTA positif yang ditemukan dan diobati
Positif ditemukan dibandingkan dengan jumlah perkiraan dalam satu wilayah
kasus baru TB BTA positif dalam wilayah tertentu selama satu tahun
dalam waktu satu tahun. X 100%
Jumlah perkiraan pasien
Penemuan pasien baru TB BTA Positif adalah baru TB BTA positif dalam
penemuan pasien TB melalui pemeriksaan dahaksatu wilayah dalam waktu
sewaktu pagi dan sewaktu (SPS) dan diobati di satu tahun yang sama
unit pelayanan kesehatan dalam suatu wilayah
kerja pada waktu tertentu. Pembilang: Penyebut:

Pasien baru adalah pasien yang belum pernah Jumlah pasien Jumlah perkiraan
diobati dengan OAT atau sudah pernah menelan baru TB BTA pasien baru TB
OAT kurang dari satu bulan (30 dosis) harian. Positif yang BTA (+) dalam
ditemukan dan satu wilayah pada
Diobati adalah pemberian pengobatan pada diobati dalam waktu satu tahun.
pasien baru TB BTA positif dengan OAT selama satu wilayah
6 bulan. Perkiraan pasien
selama satu
baru TB BTA
tahun.
positif adalah
Insiden Rate TB
baru BTA positif
per 100.000 x
jumlah penduduk

Tata Kelola Penerapan Standar Pelayanan Minimal (SPM)


www.kinerja.or.id
Bidang Kesehatan untuk Kabupaten/Kota 297
LAMPIRAN D - Definisi operasional dan formula
perhitungan indikator SPM dan penjelasannya

Indikator
No aefinisi lperasional Formula
SPM
pada suatu
wilayah tertentu.
Insiden rate
kabupaten/ kota
mempergunakan
hasil survey
nasional tentang
prevalensi TB
pada tahun
terakhir.
d. Penderita Persentase penderita DBD yang ditangani sesuai Jumlah penderita
DBD yang standar di satu wilayah dalam waktu 1 (satu) DBD yang ditangani
ditangani tahun dibandingkan dengan jumlah penderita sesuai SOP dalam satu
DBD yang ditemukan/dilaporkan dalam kurun wilayah selama satu
waktu satu tahun yang sama tahun
X 100%
Jumlah penderita DBD
Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit
yang ditemukan di satu
yang ditandai dengan:
wilayah dalam waktu
Panas mendadak berlangsung terus-menerus
satu tahun yang sama
selama 2-7 hari tanpa sebab yang jelas
Tanda-tanda perdarahan (sekurang- Pembilang: Penyebut:
kurangnya uji Torniquet positif)
Jumlah Jumlah penderita
Disertai/tanpa pembesaran hati
(hepatomegali) penderita DBD DBD yang
yang ditangani ditemukan di
Trombositopenia (Trombosit 100.000/l)
sesuai standar suatu wilayah
Peningkatan hematokrit 20%
operasional dalam waktu
Penderita DBD yang ditangani sesuai standar/ prosedur (SOP) satu tahun yang
SOP adalah : di satu wilayah sama
dalam waktu
Penderita DBD yang didiagnosis dan diobati/
satu tahun.
dirawat sesuai standar.
Ditindaklanjuti dengan penanggulangan fokus
(PF).
1) Penanggulangan fokus (PF) terdiri
dari Penyelidikan Epidemiologi (PE)
dan Penanggulangan Seperlunya
berdasarkan hasil PE tersebut.
2) Penyelidikan epidemilogi (PE) adalah
kegiatan pencarian penderita DBD atau
tersangka DBD lainnya dan pemeriksaan
jentik nyamuk penular DBD disekitar
tempat tinggal penderita termasuk
tempat-tempat umum dalam radius
sekurang-kurangnya 100 m.
Penderita DBD adalah:
Penderita penyakit yang memenuhi sekurang-

Tata Kelola Penerapan Standar Pelayanan Minimal (SPM)


298 Bidang Kesehatan untuk Kabupaten/Kota
www.kinerja.or.id
Indikator
No aefinisi lperasional Formula
SPM
kurangnya 2 kriteria klinis dan 2 kriteria
laboratorium di bawah ini:
Kriteria klinis:
Panas mendadak 2-7 hari tanpa sebab yang
jelas
Tanda-tanda perdarahan (sekurang-
kurangnya uji Torniquet positif)
Pembesaran hati
Syok
Kriteria laboratorium:
NF Trombositopenia (Trombosit 100.000/l)
2) Hematokrit naik >20%

1) Anamnesis
OF memeriksaan=fisik=meliputi=observasi=tandaJ
tanda vital, observasi kulit dan konjungtiva,
penekanan ulu hati untuk mengetahui nyeri
uluhati akibat adanya perdarahan lambung,
perabaan hati.
3) Uji Torniquet
Pemeriksaan laboratorium atau rujukan
pemeriksaan laboratorium
(sekurang-kurangnya pemeriksaan
trombosit dan hematokrit)
Memberi pengobatan simptomatis
Merujuk penderita ke rumah sakit
Melakukan pencatatan dan pelaporan
(formulir S0) dan disampaikan ke Dinkes
Kab/Kota.
Pelayanan penderita DBD di Rumah Sakit adalah
kegiatan yang meliputi :
1) Anamnesis
OF memeriksaan=fisik=meliputi=observasi=tandaJ
tanda vital, observasi kulit dan konjungtiva,
penekanan ulu hati untuk mengetahui nyeri
uluhati akibat adanya perdarahan lambung,
perabaan hati.
3) Uji Torniquet
Pemeriksaan laboratorium (sekurang-
kurangnya pemeriksaan trombosit dan
hematokrit)
Memberi perawatan
Melakukan pencatatan dan pelaporan
(formulir KDRS) dan disampaikan ke
Dinkes Kab/Kota dengan tembusan ke
Puskesmas

Tata Kelola Penerapan Standar Pelayanan Minimal (SPM)


www.kinerja.or.id
Bidang Kesehatan untuk Kabupaten/Kota 299
LAMPIRAN D - Definisi operasional dan formula
perhitungan indikator SPM dan penjelasannya

Indikator
No aefinisi lperasional Formula
SPM
e. Penemuan Penemuan penderita diare adalah jumlah Jumlah penderita
penderita penderita yang datang dan dilayani di Sarana diare yang datang
diare Kesehatan dan Kader di suatu wilayah tertentu dan dilayani di sarana
dalam waktu satu tahun Kesehatan dan Kader di
suatu wilayah tertentu
Diare adalah buang air besar lembek/cair bahkan
dalam waktu satu tahun
dapat berupa air saja yang frekuensinya lebih X 100%
sering dari biasanya Jumlah perkiraan
Sarana Kesehatan adalah semua sarana penderita diare pd satu
pelayanan kesehatan, baik pemerintah wilayah tertentu dalam
maupun swasta (Puskesmas, Pustu, RS,Balai waktu yg sama
Pengobatan, Praktek Dokter) Pembilang: Penyebut:
Angka kesakitan adalah angka kesakitan Jumlah Jumlah perkiraan
Nasional Hasil Survei Morbiditas Diare tahun penderita diare penderita diare
2006 adalah 423/1000 penduduk. yang datang pada suatu
dan dilayani wilayah tertentu
di sarana dalam waktu
Kesehatan dan yang sama.
Kader di suatu
Perkiraan jumlah
wilayah tertentu
penderita diare
dalam waktu
yang datang
satu tahun.
ke sarana
kesehatan dan
kader adalah
10% dari angka
kesakitan x
jumlah penduduk
disatu wilayah
kerja dalam
waktu satu
tahun.
14 Cakupan Cakupan pelayanan kesehatan dasar pasien Jumlah kunjungan
pelayanan masyarakat miskin adalah Jumlah kunjungan pasien maskin di Sarkes
kesehatan pasien masyarakat miskin di sarana kesehatan strata 1
dasar strata pertama di satu wilayah kerja tertentu pada X 100%
Jumlah seluruh maskin
masyarakat kurun waktu tertentu.
di kab/kota
miskin
Rawat Jalan Tingkat Pertama adalah pelayanan
kesehatan perorangan yang meliputi observasi Pembilang: Penyebut:
diagnosa pengobatan rehabilitasi medik tanpa Jumlah Jumlah seluruh
tinggal di ruang rawat inap di sarana kesehatan kunjungan pasien maskin di
strata I. maskin selama 1 wilayah kerja
Rawat Inap Tingkat Pertama adalah pelayanan tahun (lama dan dalam kurun
kesehatan perorangan yang meliputi observasi baru). waktu yang
diagnosa pengobatan rehabilitasi medik tinggal sama.

Tata Kelola Penerapan Standar Pelayanan Minimal (SPM)


300Bidang Kesehatan untuk Kabupaten/Kota www.kinerja.or.id
Indikator
No aefinisi lperasional Formula
SPM
di ruang rawat inap di sarana kesehatan strata
pertama.
Cakupan rawat jalan adalah jumlah kunjungan
kasus (baru dan lama) rawat jalan di sarana
kesehatan strata pertama.
Kunjungan pasien baru adalah seseorang yang
baru berkunjung ke sarana kesehatan dengan
kasus penyakit baru.
Sarana kesehatan strata pertama adalah tempat
pelayanan kesehatan meliputi antara lain :
puskesmas, balai pengobatan pemerintah dan
swasta, praktek bersama dan perorangan.
Masyarakat miskin adalah masyarakat sasaran
program pengentasan kemiskinan yang
memenuhi kriteria tertentu menggunakan 14
variabel kemiskinan dalam satuan Rumah Tangga
Miskin (RTM).
15 Cakupan Cakupan rujukan pasien maskin adalah jumlah Jumlah pasien maskin
pelayanan kunjungan pasien maskin di sarana kesehatan di sarkes strata 2 dan
kesehatan strata dua dan strata tiga pada kurun waktu strata 3
rujukan tertentu (lama & baru). X 100%
Jumlah masyarakat
pasien
Rawat Inap Tingkat Lanjut adalah pelayanan miskin
masyarakat
kesehatan perorangan yang meliputi observasi,
miskin
diagnosa, pengobatan, keperawatan, rehabilitasiPembilang: Penyebut:
medik dengan menginap di ruang rawat inap Jumlah Jumlah seluruh
pada sarana kesehatan strata dua dan strata kunjungan maskin di
tiga pemerintah dan swasta, yang oleh karena pasien maskin wilayah kerja
penyakitnya penderita harus menginap. selama 1 tahun dalam kurun
Rawat Jalan Tingkat Lanjut adalah pelayanan (lama dan baru). waktu yang
kesehatan perorangan yang meliputi observasi sama.
diagnosa pengobatan rehabilitasi medik tanpa
tinggal di ruang rawat inap di sarana kesehatan
strata dua dan strata tiga Pemerintah dan
Swasta.
Sarana kesehatan strata dua dan strata tiga
adalah balai kesehatan mata masyarakat, balai
pengobatan penyakit paru, balai kesehatan
indera masyarakat, balai besar kesehatan paru
masyarakat, rumah sakit baik milik pemerintah
maupun swasta.

Tata Kelola Penerapan Standar Pelayanan Minimal (SPM)


www.kinerja.or.id
Bidang Kesehatan untuk Kabupaten/Kota 301
LAMPIRAN D - Definisi operasional dan formula
perhitungan indikator SPM dan penjelasannya

Indikator
No aefinisi lperasional Formula
SPM
16 Cakupan Pelayanan gadar level 1 yg hrs diberikan sarana Pelayanan gawat darurat
pelayanan kesehatan (RS) di kab/Kota. level 1
gawat X 100%
Gawat darurat level 1 adalah tempat pelayanan Jumlah RS kab/kota
darurat level
gawat darurat yang memiliki Dokter Umum on
1 yang harus
site 24 jam dengan kualifikasi GELS dan/atau Pembilang: Penyebut:
diberikan
ATLS + ACLS, serta memiliki alat trasportasi danJumlah RS Jumlah RS
sarana
komunikasi, dimana: yang mampu kabupaten
kesehatan
On site adalah berada di tempat . memberikan
(Rumah
GELS adalah General Emergency Life pelayanan gadar
Sakit) di
Support level 1
Kabupaten/
Kota ATLS adalah Advance Trauma Life Support
ACLS adalah Advance Cardiac Life Support

17 Cakupan Cakupan Desa/kelurahan mengalami KLB yang Jumlah KLB di desa/


Desa/ ditangani < 24 jam adalah Desa/kelurahan kelurahan yang ditangani
Kelurahan mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) yang < 24 jam
mengalami ditangani < 24 jam oleh Kab/Kota terhadap KLB X 100%
Jumlah KLB di desa/
Kejadian periode/kurun waktu tertentu.
kelurahan yang terjadi
Luar Biasa
Desa/ kelurahan mengalami KLB bila terjadi
(KLB) yang
peningkatan kesakitan atau kematian penyakit Pembilang: Penyebut:
dilakukan
potensial KLB, penyakit karantina atau keracunan
Jumlah Jumlah Kejadian
penyelidikan
makanan. kejadian Luar Luar biasa (KLB)
epidemiologi
KLB adalah timbulnya atau meningkatnya Biasa (KLB) yang terjadi pada
< 24 jam
kejadian kesakitan dan atau kematian yang di Desa/ wilayah Desa/
bermakna secara epidemiologis pada suatu desa/ Kelurahan Kelurahan pada
kelurahan pada waktu tertentu. yang ditangani periode/kurun
< 24 jam waktu yang sama.
Ditangani adalah mencakup penyelidikan dan periode/ kurun
penanggulangan KLB. Bila dalam 1 desa/
waktu tertentu.
kelurahan terjadi
Pengertian kurang dari 24 jam adalah sejak lebih dari 1 kali
laporan W1 diterima sampai penyelidikan KLB pada suatu
dilakukan dengan catatan selain formulir W1 periode, maka
dapat juga berupa fax atau telepon. jumlah desa/
Penyelidikan KLB adalah rangkaian kegiatan kelurahan yang
berdasarkan cara-cara epidemiologi untuk mengalami KLB
memastikan adanya suatu KLB, mengetahui dihitung sesuai
gambaran penyebaran KLB dan mengetahui dengan frekuensi
sumber dan cara-cara penanggulangannnya. KLB yang terjadi
di desa/ kelurahan
Penanggulangan KLB adalah upaya untuk tersebut, dan ikut
menemukan penderita atau tersangka penderita, dimasukan dalam
penatalaksanaan Penderita, pencegahan penghitungan
peningkatan, perluasan dan menghentikan suatu pembilang
KLB. maupun penyebut.

Tata Kelola Penerapan Standar Pelayanan Minimal (SPM)


302
Bidang Kesehatan untuk Kabupaten/Kota
www.kinerja.or.id
Indikator
No aefinisi lperasional Formula
SPM
18 Cakupan Cakupan Desa Siaga Aktif adalah desa yang Jumlah Desa Siaga yang
Desa Siaga mempunyai Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) dibentuk
Aktif atau UKBM lainnya yang buka setiap hari X 100%
dan berfungsi sebagai pemberi pelayanan Jumlah Desa Siaga yang
kesehatan dasar, penanggulangan bencana dibentuk
dan kegawatdaruratan, surveilance berbasis
masyarakat yang meliputi pemantauan Pembilang: Penyebut:
pertumbuhan (gizi), penyakit, lingkungan dan
Jumlah desa Jumlah desa
perilaku sehingga masyarakatnya menerapkan
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) siaga yang aktif siaga yang
dibandingkan dengan jumlah desa siaga yang di satu wilayah dibentuk di satu
pada kurun wilayah pada
dibentuk.
waktu tertentu kurun waktu
Desa Siaga adalah desa yang penduduknya tertentu
memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan
untuk mencegah dan mengatasi masalah-
masalah kesehatan, bencana dan kegawat
daruratan kesehatan, secara mandiri.
Pengertian Desa ini dapat berarti Kelurahan
atau Nagari atau istilah-istilah lain bagi satuan
administrasi pemerintahan setingkat desa.
Desa Siaga Aktif adalah desa yang mempunyai
Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) atau UKBM
lainnya yang buka setiap hari dan berfungsi
sebagai pemberi pelayanan kesehatan dasar,
penanggulangan bencana dan kegawat
daruratan, surveilance berbasis masyarakat
yang meliputi pemantauan pertumbuhan (gizi),
penyakit, lingkungan dan perilaku sehingga
masyarakatnya menerapkan Perilaku Hidup
Bersih dan Sehat (PHBS).
Poskesdes adalah Upaya Kesehatan
Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) yang
dibentuk di desa dalam rangka upaya
mendekatkan pelayanan kesehatandasar bagi
masyarakat desa. Poskesdes dikelola oleh 1
orang Bidan dan minimal 2 orang kader dan
merupakan koordinator dari UKBM yang ada.
Pelayanan kesehatan dasar adalah pelayanan
kesehatan yang sesuai kewenangan bidan
penangungjawab poskesdes, selanjutnya dirujuk
ke pustu atau puskesmas apabila tidak bisa
ditangani

Tata Kelola Penerapan Standar Pelayanan Minimal (SPM)


www.kinerja.or.id
Bidang Kesehatan untuk Kabupaten/Kota 303
LAMPIRAN D - Definisi operasional dan formula
perhitungan indikator SPM dan penjelasannya

Indikator
No aefinisi lperasional Formula
SPM
Surveilans penyakit yang berbasis masyarakat
adalah upaya pengamatan dan pencatatan yang
dilakukan oleh masyarakat (kader dan bidan/
perawat) tentang kejadian penyakit yang dapat
mengancam kesehatan penduduk/ masyarakat.
Pemantauan Pertumbuhan adalah suatu upaya
yang dilakukan oleh kader untuk mengetahui
berat badan balita setiap bulan untuk mendeteksi
secara dini pertumbuhan balita (D/S).
Masyarakat berperilaku hidup bersih dan sehat
(PHBS) adalah masyarakat dimana penduduknya
menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.

Tata Kelola Penerapan Standar Pelayanan Minimal (SPM)


304 Bidang Kesehatan untuk Kabupaten/Kota
www.kinerja.or.id
Teknik Waktu
Indikator Formula Data yang Penanggung
Sumber Data pengumpulan pengumpulan
SPM perhitungan Dibutuhkan Jawab
data data
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
1 Cakupan Pembilang:
kunjungan
Ibu
HamilK- 4

Penyebut:
2 Cakupan Pembilang:
komplikasi
kebidanan
yang
ditangani

Penyebut:

2 Cakupan Pembilang:
komplikasi
kebidanan USAID - KINERJA
yang Gedung BRI II, Lantai 28, Suite 2807
ditangani Jl. Jend Sudirman Kav. 44-46
Jakarta, 10210
Phone: +62 21 5702820
Penyebut: Fax: +62 21 5702832
Email: info@kinerja.or.id
www.kinerja.or.id

Tata Kelola Penerapan Standar Pelayanan Minimal


www.kinerja.or.id 305