Anda di halaman 1dari 6

BIOGEOGRAFI IKAN CAKALANG

Kondisi Oseanografi yang Mempengaruhi Penyebaran


Suhu permukaan laut dapat digunakan sebagai salah satu cara untuk menduga keberadaan organisme di suatu perairan,
khususnya ikan. Hal ini karena
sebagian besar organisme bersifat poikilotermik. Tinggi rendahnya suhu permukaan laut pada suatu perairan terutama
dipengaruhi oleh radiasi. Perubahan
intensitas cahaya akan mengakibatkan terjadinya perubahan suhu air laut baik horizontal, mingguan, bulanan maupun tahunan.
Pengaruh suhu secara langsung terhadap kehidupan di laut adalah dalam laju fotosintesis tumbuh-tumbuhan dan proses fisiologi
hewan, khususnya derajat metabolisme dan siklus reproduksi. Secara tidak langsung suhu berpengaruh terhadap daya larut
oksigen yang digunakan untuk respirasi biota laut. Pengaruh suhu terhadap tingkah laku ikan akan terlihat jelas pada waktu ikan
melakukan pemijahan. Setiap ikan mempunyai kisaran suhu tertentu untukmelakukan pemijahan, bahkan mungkin dengan suatu
siklus musiman yang tertentu pula.
Aktifitas metabolisme serta penyebaran ikan dipengaruhi oleh suhu perairan dan ikan sangat peka terhadap perubahan suhu
walaupun hanya sebesar 0,03 oC sekalipun. Suhu merupakan faktor penting untuk menentukan dan menilai suatu daerah
penangkapan ikan. Berdasarkan variasi suhu, tinggi rendahnya variasi suhu merupakan faktor penting dalam penentuan migrasi
suatu jenis ikan. Pada suatu daerah penangkapan ikan cakalang, suhu permukaan laut yang disukai oleh jenis ikan tersebut
biasanya berkisar antara 16-26 oC, walaupun untuk Indonesia suhu optimum adalah 28-29 oC dan suhu yang ideal untuk
melakukan pemijahan 280 C 290 C. Penyebaran ikan cakalang di suatu perairan adalah pada suhu 17-23 oC dan suhu optimum
untuk penangkapan adalah 20-22 oC dengan lapisan renang antara 0-40 m. Ikan cakalang sensitif terhadap perubahan suhu,
khususnya waktu makan yang terikat pada kebiasaan-kebiasaan tertentu. Suhu yang terlalu tinggi, tidak normal atau tidak stabil
akan mengurangi kecepatan makan ikan. Ikan cakalang dapat tertangkap secara teratur di Samudera Hindia bagian timur pada
suhu 27-30 oC.Pengaruh suhu permukaan laut terhadap penyebaran cakalang untuk perairan tropis adalah kecil karena suhu relatif
sama (konstan) sepanjang tahunnya. Walaupun demikian suhu dapat menandakan adanya current boundaries. Kemudian
dijelaskan penyebaran tuna dan cakalang sering mengikuti penyebaran atau sirkulasi arus. Garis konvergensi di antara arus dingin
dan arus panas merupakan daerah yang banyak makanan dan diduga daerah tersebut merupakan fishing ground yang baik untuk
perikanan tuna dan cakalang.
Arus merupakan gerakan mengalir suatu massa air yang dapat disebabkan oleh tiupan angin, perbedaan dalam densitas air
laut, gerakan gelombang panjang
dan arus yang disebabkan oleh pasang surut. Angin yang berhebus di perairan Indonesia terutama adalah angin musim yang
dalam setahun terjadi dua kali perbalikan arah yang mantap, masing-masing disebut angin barat dan angin timur. Penyebaran ikan
cakalang sering mengikuti penyebaran atau sirkulasi arus. Daerah pertemuan antara arus panas dan arus dingin merupakan daerah
yang banyak organisme dan diduga daerah tersebut merupakan fishing ground yang baik bagi perikanan cakalang. Kuat lemahnya
arus menentukan arah pergerakan tuna dan cakalang. Pada kondisi arus kuat, tuna dan cakalang akan melawan arus dan pada arus
lemah akan mengikuti arus. Peranan arus terhadap tingkah laku ikan adalah sebagai berikut :
1. Arus mengangkat telur-telur ikan dan anak-anak ikan dari spawning ground kenursery ground dan selanjutnya dari nursery
ground ke feeding ground.
2. Migrasi ikan dewasa dapat dipengaruhi oleh arus yaitu sebagai alat orientasi.
3. Tingkah laku ikan diurnal juga dipengaruhi oleh arus, khususnya oleh arus pasang surut.
4. Arus, khususnya pada daerah-daerah batas alih perairan berbeda mempengaruhi distribusi ikan dewasa dimana pada daerah
tersebut terdapat makanan ikan.
5. Arus dapat mempengaruhi aspek-aspek lingkungan dan secara tidak langsung menentukan spesies-spesies tertentu dan bahkan
membatasi distribusi spesies tersebut secara geografis.
Ikan-ikan yang menginjak dewasa akan mengikuti arus balik ke masing-masing daerah pemijahan, tempat mereka akan
melakukan pemijahan. Salinitas merupakan salah satu perameter yang berperan penting dalam sistem ekologi laut. Beberapa jenis
organisme ada yang bertahan dengan perubahan nilai salinitas yang besar (euryhaline) dan ada pula organisme yang hidup pada
kisaran nilai salinitas yang sempit (stenohaline). Salinitas dapat dipergunakan untuk menentukan karakteristik oseanografi,
selanjutnya dapat dipergunakan untuk memperkirakan daerah penyebaran populasi ikan cakalang di suatu perairan. Ikan cakalang
hidup pada perairan dengan kadar salinitas antara 33-35 o/oo. Cakalang banyak ditemukan pada perairan dengan salinitas
permukaan berkisar antara 32-35 o/oo dan jarang ditemui pada perairan dengan salinitas rendah. Cakalang hidup pada perairan
dengan kadar salinitas antara 33-35 o/oo dan jarang dijumpai pada
perairan dengan kadar salinitas yang lebih rendah atau tinggi dari itu. Salinitas perairan yang biasa dihuni oleh beberapa jenis
tuna berbeda-beda, yaitu 18-38 o/oo untuk madidihang dan tuna sirip biru, 33-35 o/oo untuk tuna albakor dan 32-35 o/oo untuk
cakalang.

Kondisi Geografis yang Mempengaruhi Penyebaran


Penyebaran cakalang di perairan Samudra Hindia meliputi daerah tropis dan sub tropis, penyebaran cakalang ini terus
berlangsung secara teratur di Samudra Hindia di mulai dari Pantai Barat Australia, sebelah selatan Kepulauan Nusa Tenggara,
sebelah selatan Pulau Jawa, Sebelah Barat Sumatra, Laut Andaman, diluar pantai Bombay, diluar pantai Ceylon, sebelah Barat
Hindia, Teluk Aden, Samudra Hindia yang berbatasan dengan Pantai Sobali, Pantai Timur
dan selatan Afrika. Penyebaran cakalang di perairan Indonesia meliputi Samudra Hindia (perairan Barat Sumatra, selatan Jawa,
Bali, Nusa Tenggara), Perairan Indonesia bagian Timur (Laut Sulawesi, Maluku, Arafuru, Banda, Flores dan Selat Makassar) dan
Samudra Fasifik (perairan Utara Irian Jaya).
Secara garis besarnya, cakalang mempunyai daerah penyebaran dan migrasi yang luas, yaitu meliputi daerah tropis dan
sub tropis dengan daerah penyebaran terbesar terdapat disekitar perairan khatulistiwa. Daerah penangkapan
merupakan salah satu faktor penting yang dapat menentukan berhasil atau tidaknya suatu operasi penangkapan. Dalam
hubungannya dengan alat tangkap, maka daerah penangkapan tersebut haruslah baik dan dapat menguntungkan. Dalam arti ikan
berlimpah, bergerombol, daerah aman, tidak jauh dari pelabuhan dan alat tangkap mudah dioperasika. Musim penangkapan
cakalang di perairan Indonesia bervariasi. Musim penangkapan cakalang di suatu perairan belum tentu sama dengan perairan
yang lain. Penangkapan cakalang dan tuna di perairan Indonesia dapat dilakukan sepanjang tahun dan hasil yang diperoleh
berbeda dari musim ke musim dan bervariasi menurut lokasi penangkapan. Bila hasil tangkapan lebih banyak dari biasanya
disebut musim puncak dan apabila dihasilkan lebih sedikit dari biasanya disebut musim paceklik.

Daerah penyebaran ikan cakalang membentang disekitar 40 LU - 30 LS. Sebagian dari perairan Indonesia merupakan
lintasan ikan cakalang yang bergerak menuju kepulauan Philipina dan Jepang. Itulah sebabnya ikan cakalang dijumpai hampir
sepanjang tahun di perairan kita, kelompok padat disekitar Kalimantan,Sulawesi, Halmahera, Kepulauan Maluku dan sekitar
perairan Irian Jaya. Di Indonesia daerah penyebaran dari ikan yang menjadi tujuan penangkapan Pole and Line, meliputi seluruh
daerah pantai, lepas pantai perairan Indonesia terutama peredaran Indonesia Timur, Selatan Jawa dan Sumatra barat.Cakalang
adalah ikan perenang cepat dan hidup bergerombol (schooling) sewaktu mencari makan. kecepatan renang ikan dapat mencapai
50 km/jam. kemampuan renang ini merupakan salah satu faktor yang menyebabkan penyebarannya dapat meliputi skala ruang
(wilayah geografis) yang cukup luas, termasuk diantaranya beberapa spesies yang dapat menyebar dan bermigrasi lintas
samudera. Pengetahuan mengenai penyebaran tuna dan cakalang sangat penting artinya bagi usaha penangkapannya.
Ikan cakalang bersifat epipelagis dan oseanik, peruaya jarak jauh. Cakalang sangat menyenangi daerah dimana terjadi
pertemuan arus atau arus konvergensi yang banyak terjadi pada daerah yang mempunyai banyak pulau. Selain itu, cakalang juga
menyenangi pertemuan antara arus panas dan arus dingin serta daerah upwelling. Penyebaran cakalang secara vertikal terdapat
mulai dari permukaan sampai kedalaman 260 m pada siang hari, sedangkan pada malam hari
akan menuju permukaan (migrasi diurnal). Penyebaran geografis cakalang terdapat terutama pada perairan tropis dan perairan
panas di daerah lintang sedang. Ada tiga alasan utama yang menyebabkan beberapa jenis ikan melakukan migrasi yaitu :
1. Mencari perairan yang kaya akan makanan.
2. Mencari tempat untuk memijah.
3. Terjadinya perubahan beberapa faktor lingkungan perairan seperti suhu air,
salinitas dan arus.

SISTEMATIKA IKAN CAKALANG

Istilah taksonomi berasal dari bahasa Yunani, yaitu taxis yang berarti susunan dan nomos yang berarti hukum. Jadi secara
umum berarti penyusunan yang teratur dan bernoma mengenai organisme-organisme kedalam kelompok-kelompok yang tepat
dengan menggunakan nama-nama yang sesuai dan benar. Istilah ini diusulkan pertama kali oleh Condolle pada tahun 1813 untuk
klasifikasi tumbuh-tumbuhan. Identifikasi, deskripsi, pengumpulan data tentang contoh organisme yang diamati atau diselidiki
juga penelaahan pustaka mengenai organisme tersebut seperti: ekologi, adaptasi, distribusi termasuk dalam kegiatan yang
dilakukan oleh seorang taksonom. Sesungguhnya, taksonomi sebagian besar berpijak pada persamaan ciri atau jenis organisme
(misalnya serangga). Organisme yang memiliki ciri yang sama dimasukkan ke dalam kelompok yang sama, jadi dalam hal
inikita melakukan klasifikasi.

Cakalang (Katsuwonus pelamis) adalah ikan berukuran sedang dari familia Scombridae (tuna). Satu-satunya spesies dari
genus Katsuwonus. Ikan berukuran terbesar, panjang tubuhnya bisa mencapai 1 m dengan berat lebih dari 18 kg. Cakalang yang
banyak tertangkap berukuran panjang sekitar 50 cm. Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai skipjack tuna. Adapun klasifikasi
cakalang adalah sebagai berikut, :
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Actinopterygii
Ordo : Perciformes
Famili :Scombridae
Genus : Katsuwonus
Spesies : Katsuwonus pelamis

MORFOLOGI IKAN CAKALANG

Morfologi ikan sangat berhubungan dengan habitat ikan tersebut di perairan dan pengenalan struktur ikan tidak
terlepas dari morfologi ikan yaitu bentuk luar ikan yang merupakan ciri-ciri yang mudah dilihat, diingat dalam mempelajari dan
mengidentifikasi ikan. Bentuk luar ikan seringkali mengalami perubahan dari sejak larva sampai dewasa misalnya dari bentuk
bilateral simetris pada saat masih larva berubah menjadi asimetris pada saat dewasa. Bentuk tubuh ikan merupakan suatu
adaptasi terhadap lingkungan hidupnya atau merupakan pola tingkah laku yang khusus.
Ciri-ciri morfologi cakalang yaitu tubuh berbentuk fusiform, memanjang dan agak bulat, tapis insang (gill rakes)
berjumlah 53- 63 pada helai pertama. Mempunyai dua sirip punggung yang terpisah. Pada sirip punggung yang pertama terdapat
14-16 jari-jari keras, jari-jari lemah pada sirip punggung kedua diikuti oleh 7-9 finlet. Sirip dada pendek, terdapat dua flops
diantara sirip perut. Sirip anal diikuti dengan 7-8 finlet. Badan tidak bersisik kecuali pada barut badan ( corselets) dan lateral line
terdapat titik- titik kecil. Bagian punggung berwarna biru kehitaman (gelap) disisi bawah dan perut keperakan, dengan 4-6 buah
garis-garis berwarna hitam yang memanjang pada bagian samping badan .Termasuk ikan yang hidup pada perairan Laut lepas
namun dekat dengan garis pantai. Ikan-ikan muda sering masuk ke dalam teluk atau pelabuhan. Gerombolannya terbentuk
bersama spesies lain, terdiri dari 100 sampai 5.000 ekor. Bagian tubuh ikan mulai dari anterior sampai posterior berturut turut
adalah :
1) Kepala (caput) : bagian tubuh mulai dari ujung mulut sampai bagian belakang operculum.
2) Tubuh (truncus) : bagian tubuh mulai dari Batas akhir operculum nnsampai anus.
3) Ekor (cauda) : dari anus sampai bagian ujung sirip ekor.

Kebanyakan ikan memiliki bentuk tubuh streamline dimana tubuh bagian anterior dan posterior mengerucut dan
bila dilihat secara transversal, penampang tubuh seperti tetesan air. Penampang tubuh tersebut akan memberikan
kemudahan ikan dalam menembus air sebagai media hidup. Bentuk tubuh tersebut biasanya dikatakan sebagai
bentuk tubuh ideal (fusiform). Penampang tubuh ideal tersebut ditunjukkan pada Gambar di atas.

Cakalang memiliki tubuh yang padat, penampang bulat, lateral line melengkung ke bawah tepat di bawah sirip
punggung kedua, sirip dada pendek dan berbentuk segitiga. Warna tubuh pada saat ikan masih hidup adalah biru baja (steel blue),
tingled dengan lustrous violet di sepanjang permukaan punggung dan intensitasnya menyusut di sisi tubuh hingga ketinggian
pada pangkal sirip dada. Sebagian dari badannya termasuk bagian abdomen, berwarna putih hingga kuning muda, garis-garis
vetikal evanescent muda tampak di bagian sisi tubuhnya pada saat baru tertangkap.
Jenis ikan cakalang secara normal adalah heteroseksual yaitu dapat dibedakan atas penentuan jenis kelamin jantan dan
betina. Sesuai dengan pertumbuhan, maka ikan cakalang di bagi ke dalam enam tingkatan ekologi, yaitu:
1. Tingkat larva dan post larva, yaitu untuk ikan yang panjang kurang dari 15 mm.
2. Prajuvenil, yaitu ikan yang berukuran antara tingkatan post larva dengan tingkatan dimana ikan mulai diusahakan secara
komersial.
3. Juvenil, yaitu ikan muda yang ada di perairan neritik dengan ukuran 15 cm.
4. Adolescent, yaitu ikan muda yang menyebar dari perairan neretik ke tengah lautan mencari makan.
5. Spawners, yaitu ikan yang sudah mencapai kedewasaan kelamin (seksual).
6. Spent fish, yaitu ikan yang sudah pernah memijah.
Ukuran ikan cakalang di berbagai perairan dunia pada saat pertama kali memijah/ matang gonad adalah berbeda. Dalam
perkembangannya, cakalang akan
mencapai tingkat dewasa pada tahap ke empat. Pada tahap ini cakalang dapat mencapai panjang 39.1 cm untuk jantan dan 40.7
untuk yang betina. Ikan cakalang mulai memijah ketika panjang sekitar 40 cm dan setiap kali memijah dapat menghasilkan
1.000.000 2.000.000 telur. Cakalang memijah sepanjang tahun di perairan ekuator atau antara musim semi sampai awal musim
gugur untuk daerah subtropis. Masa pemijahan akan menjadi semakin pendek dengan semakin jauh dari ekuator. Cakalang
umumnya berukuran 40-80 cm dengan ukuran maksimum 100 cm.
KEBIASAAN MAKAN IKAN CAKALANG

Cakalang termasuk ikan perenang cepat dan mempunyai sifat makan yang rakus. Ikan jenis ini sering bergerombol yang hampir
bersamaan melakukan ruaya disekitar pulau maupun jarak jauh dan senang melawan arus, ikan ini biasa bergerombol diperairan
pelagis hingga kedalaman 200 m. Ikan ini mencari makan berdasarkan penglihatan dan rakus terhadap mangsanya.
Gerombolannya terbentuk bersama spesies lain, terdiri dari 100 sampai 5.000 ekor. Termasuk predator oportunistik dengan jenis
makanan dari ikan kecil (Clupeidae dan Engraulidae), Cumi-cumi, Crustacea sampai Zooplankton.
Gambar 7 : Gerombolan Ikan Cakalang mencari makan

Kebiasaan cakalang bergerombol sewaktu dalam keadaan aktif mencari makan. Jumlah cakalang dalam suatu gerombolan
berkisar beberapa ekor sampai ribuan ekor. Individu suatu schooling cakalang mempunyai ukuran yang relatif sama. Ikan yang
berukuran lebih besar berada pada lapisan yang lebih dalam dengan schooling yang kecil, sedangkan ikan yang berukuran kecil
berada pada lapisan permukaan dengan kepadatan yang besar. Ikan cakalang ukuran besar berbeda kemampuan adaptasinya
dengan ikan cakalang ukuran kecil dalam mengatasi perubahan lingkungan. Dengan mengetahui ukuran ikan cakalang, maka
dapat melihat sebagian sifat-sifatnya dalam mengatasi perubahan lingkungan.Di perairan Indonesia terdapat hubungan yang nyata
antara kelimpahan cakalang dengan ikan pelagis kecil serta plankton. Dengan semakin banyaknya ikan kecil dan plankton, maka
cakalang akan berkumpul untuk mencari makan. Ikan cakalang mencari makan berdasarkan penglihatan dan rakus terhadap
mangsanya. Cakalang sangat rakus pada pagi hari, kemudian menurun pada tengah hari dan meningkat pada waktu senja.
Secara umum makanan ikan cakalang dapat di golongkan atas 3 kelompok utama, yaitu ikan, crustacea dan moluska.
Golongan ikan dapat dikelompokkan pula menjadi dua kelompok yaitu ikan umpan (ikan yang di pakai selama penangkapan) dan
ikan lain selain ikan umpan. Ikan umpan yang sering digunakan adalah ikan puri/teri, stolephorus spp;ikan
lompa, Thrysinabaelama dari famili Engraulidae ; ikan gosau dan pura-pura,Spratcloiders sp (Famili Cluipeidea). Dengan
mengetahui ikan umpan yang digunakan pada saat penangkapan, maka isi lambung selain ikan umpan dapat digolongkan sebagai
makanan alami ikan cakalang.

REPRODUKSI IKAN CAKALANG


Ikan cakalang mulai memijah ketika panjang sekitar 40 cm. Setiap kali memijah cakalang dapat menghasilkan
1.000.000 2.000.000 telur. Fekunditas meningkat dengan meningkatnya ukuran tetapi sangat bervariasi, jumlah telur permusim
pada ikan betina dengan ukuran fork length 41-48 cm antara 8.000 2.000.000 telur. Cakalang memijah sepanjang tahun di
perairan khatulistiwa, antara musim semi sampai awal musim gugur di daerah sub tropis, dan waktu pemijahan akan semakin
pendek dengan semakin jauh dari khatulistiwa. Pemijahan cakalang sangat dipengaruhi oleh perairan panas, sebagian besar larva
cakalang ditemukan di perairan dengan suhu di atas 24 oC . Musim pemijahan cakalang ditentukan berdasarkan tingkat
kematangan gonad dan ditemukannya larva di perairan tersebut. Perbedaan ukuran cakalang pertama kali matang gonad
dipengaruhi oleh ketersediaan makanan, suhu perairan, letak lintang dan bujur serta kecepatan pertumbuhan.
Estimasi fekunditas dapat dipergunakan untuk menghitung besarnya sediaan dan potensi reproduksi. Selain
faktor biologi, faktor ekologis dari perairan yang menjadi tempat hidup ikan tersebut juga mempengaruhi tigkat kelahiran dan
pertumbuhan ikan. Ikan Cakalang jantan pertumbuhannya leboih cepat dibandingkan dengan ikan Cakalang betina.
Ikan Cakalang termasuk tuna yang tidak selektif di dalam kebiasaan makannya, karena itu akan memakan apa saja yang
dijumpai bahkan dapat memakan jenis-jenisnya sendiri.
Tingkat kematangan gonad yang diamati secara morfologi pada ikan cakalang terdapat variasi kriterianya. Walaupun
demikian, puncak pemijahan cakalang di Laut Banda dan sekitarnya, terjadi pada bulan Juni dan Desember dengan karakteristik
sebagai ikan pemijah majemuk ( multi spawner ). Dalam penelitian ini ditemukan cakalang terkecil yang sudah matang gonad
berukuran 43,6 cm FL jantan dan 42,8 cm FL . Di perairan sebelah Selatan Bali dan sebelah Barat Sumatera adalah cakalang
jantan dan betina terkecil yang sudah matang gonad berukuran 41,7 cm FL dan 42,8 cm FL. Sedangkan yang ditemukan di
perairan Sorong berukuran 49 cm FL jantan dan 47 cm FL betina. Di perairan Philipina, cakalang betina yang pertama kali
matang gonad hanya berukuran 34 cm FL, tetapi kebanyakan di atas 40 cm FL. Adanya diferensiasi panjang cakalang pertama
kali matang gonad diduga karena adanya perbedaan kecepatan tumbuh sehingga ikan ikan yang di tetaskan pada waktu yang
sama akan mencapai tingkat kematangan gonad pada umur yang berbeda.
Jenis kelamin (Sex ratio) ditentukan secara morfologis, yaitu mengamati bentuk dan warna gonad. Berdasarkan
seluruh contoh gonad yang diamati, ternyata cakalang jantan dominan pada bulan September dan Desember; proporsi sebaliknya
yaitu pada bulan Oktober. Apabila dikaitkan dengan tingkat kematangan gonad, maka fluktuasi perbandingan jenis kelamin ini
diduga berkaitan dengan berlangsungnya aktivitas pemijahan dan mortalitas alami. Berdasarkan ukuran panjang tubuh,
perbandingan jenis kelamin seimbang pada ikan yang berukuran 50,2 55,4 cm. Pada ukuran yang lebih kecil didominasi oleh
ikan betina dan yang lebih besar dari ukuran tersebut didominasi oleh ikan jantan.