Anda di halaman 1dari 12

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi

Demam dengue atau dengue fever (DF) dan demam berdarah dengue (DBD) atau
dengue haemorrhagic fever (DHF) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus
dengue yang disebarkan oleh nyamuk aedes aegypti dengan manifestasi klinis demam, nyeri
otot atau nyeri sendi yang disertai leucopenia, ruam, limfadenopati, trombositopenia, dan
diatesis hemoragik. Pada DBD terjadi perembesan plasma yang ditandai oleh
hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit) atau penumpukan cairan di rongga tubuh.(4)

2.1 Epidemiologi

Pada tahun 2005, virus dengue dan nyamuk aedes aegypti telah menyebar di daerah
tropis dimana terdapat 2.5 miliar orang berisiko terkena penyakit ini di daerah endemic.
Diperkirakan setiap tahun sekita 50 juta manusia yang terinfeksi virus dengue yang 500.000
diantaranya memerlukan rawat inap dan hampir 90% dari total pasien adalah anak-anak. Asia
Tenggara dengan jumlah penduduk sekitar 1,3 miliar merupakan daerah endemis, Indonesia
bersama dengan Bangladesh, India, Maladewa, Myanmar, Sri Langka, Thailand dan Timor
Leste termasuk ke dalam kategori A(high risk). Secara umum, demam dengue menyebabkan
angka kesakitan dan kematian lebih besar dibanding dengan infeksi arbovirus yang lainnya
pada manusia.(5,6)
Pada tahun 2014, sampai pertengahan bulan Desember tercatat penderita DBD di 34
provinsi di Indonesia sebanyak 71.668 orang, dan 641 diantaranya meninggal dunia. Angka
tersebut lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya, yakni tahun 2013 dengan jumlah
penderita sebanyak 112.511 orang dan jumlah kasus meninggal sebanyak 871 penderita. Data
Direktorat Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonosis Kementerian Kesehatan
menyebutkan hingga akhir Januari tahun ini, kejadian luar biasa (KLB) penyakit DBD
dilaporkan ada di 9 Kabupaten dan 2 Kota dari 7 Provinsi di Indonesia, antara lain: 1)
Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten; 2) Kota Lubuklinggau, Provinsi Sumatera Selatan; 3)
Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu; 4) Kota Denpasar dan Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali;
5) Kabupaten Bulukumba, Pangkep, Luwu Utara, dan Wajo, Provinsi Sulawesi Selatan; 6)
Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo; serta 7) Kabupaten Kaimana, Papua Barat.
Sepanjang bulan Januari, kasus DBD yang terjadi di wilayah tersebut tercatat sebanyak 492
orang dengan jumlah kematian 25 orang. (6)

2.3 Faktor Risiko

Infeksi virus dengue pada manusia menyebabkan gejala dengan spektrum luas, berkisar
dari demam biasa sampai penyakit perdarahan yang serius. Pada area endemik, infeksi
dengue memiliki gejala klinis yang tidak spesifik, terutama pada anak-anak. Gejala yang
tampak hanya seperti infeksi virus pada umumnya.
Faktor risiko yang penting dan berpengaruh terhadap proporsi pasien yang mengalami
gejala yang berat selama transmisi endemik di antaranya strain dan serotipe virus yang
menginfeksi, status imunitas dari setiap individu, usia penderita, faktor genetik dari pasien
(5).

2.4 Etiologi

Demam dengue dan DHF disebabkan oleh virus dengue, yang termasuk dalam genus
Flavivirus, keluarga Flaviviridae. Flavivirus merupakan virus dengan diameter 30 nm terdiri
dari asam ribonukleat rantai tunggal dengan berat molekul 4x10 6 (4). Virus ini termasuk
genus flavivirus dari family Flaviviridae. Ada 4 serotipe yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-
4. Serotipe DEN-3 merupakan jenis yang sering dihubungkan dengan kasus-kasus parah.
Infeksi oleh salah satu jenis serotipe ini akan memberikan kekebalan seumur hidup tetapi
tidak menimbulkan kekebalan terhadap serotipe yang lain. Sehingga seseorang yang hidup di
daerah endemis DHF dapat mengalami infeksi sebanyak 4 kali seumur hidupnya.
Dengue adalah penyakit daerah tropis dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti.
Nyamuk ini adalah nyamuk rumah yang menggigit pada siang hari. Faktor risiko penting
pada DHF adalah serotipe virus, dan faktor penderita seperti umur, status imunitas, dan
predisposisi genetis. Vektor utama penyakit DBD adalah nyamuk Aedes aegypti (diderah
perkotaan) dan Aedes albopictus (didaerah pedesaan). Ciri-ciri nyamuk Aedes aegypti
adalah :
Sayap dan badannya belang-belang atau bergaris-garis putih
Berkembang biak di air jernih yang tidak beralaskan tanah seperti bak mandi, WC,
tempayan, drum, dan barang-barang yang menampung air seperti kaleng, pot tanaman,
tempat minum burung, dan lain lain.
Jarak terbang 100 meter
Nyamuk betina bersifat multiple biters (mengigit beberapa orang karena sebelum
nyamuk tersebut kenyang sudah berpindah tempat)
Tahan dalam suhu panas dan kelembapan tinggi

2.5 Patogenesis

Patogenesis infeksi virus dengue berhubungan dengan : 1. Faktor virus, yaitu serotipe,
jumlah, virulensi. 2. Faktor penjamu, genetik, usia, status gizi, penyakit komorbid, dan
interaksi antara virus dengan penjamu, 3. Faktor lingkungan, musim, curah hujan, suhu udara,
kepadatan penduduk, mobilitas penduduk dan kesehatan lingkungan. (6)
Peran sistem imun dalam infeksi adalah sebagai berikut : (6)
Infeksi pertama kali (primer) menimbulkan kekebalan seumur hidup untuk serotipe
penyebab.
Infeksi sekunder dengan serotipe virus yang berbeda( secondary heterologous
infection ) pada umumnya memerikan gambaran klinis yang lebih berat
dibandingkan dengan infeksi primer.
Bayi yang lahir dari ibu yang memiliki antibodi dapat menunjukkan manifestasi
berat walaupun pada infeksi primer.
Perembesan plasma sebagai tanda karakteristik untuk DBD terjadi pada saat jumlah
virus dalam darah menurun.
Perembesan plasma terjadi dalam waktu singkat (24-48 jam) dan pada pemeriksaan
patologi tidak ditemukan kerusakan sel endotel pembuluh darah.
Virus dengue (Aedes aegypti), setelah memasuki tubuh akan melekat pada monosit dan
masuk ke dalam monosit. Kemudian terbentuk mekanisme aferen (penempelan beberapa
segmen dari sehingga terbentuk reseptor Fc). Monosit yang mengandung virus menyebar ke
hati, limpa, usus, sumsum tulang, dan terjadi viremia (mekanisme eferen). Pada saat yang
bersamaan sel monosit yang telah terinfeksi akan mengadakan interaksi dengan berbagai
system humoral, seperti system komplemen, yang akan mengeluarkan substansi inflamasi,
pengeluaran sitokin, dan tromboplastin yang mempengaruhi permeabilitas kapiler dan
mengaktifasi faktor koagulasi. Mekanisme ini disebut mekanisme efektor. Selain itu
masuknya virus dengue akan membangkitkan respons imun melalui system pertahanan
alamiah (innate immune system), pada system ini komplemen memegang peran utama.
Aktifitas komplemen tersebut dapat memalui monnosa-binding protein, maupun melaui
antibody. Komponen berperan sebagai opsonin yang meningkatkan fagositosis, dekstruksi
dan lisis virus dengue.
Untuk menghambat laju intervensi virus dengue, interferon dan interferon berusaha
mencegah replikasi virus dengue di intraselular. Pada sisi lain limfosit B, sel plasma akan
merespons melalui pembentukan antibodi. Limfosit T mengalami ekpresi oleh indikator
berbagai molekul yang berperan sebagai regulator dan efektor. Limfosit T yang teraktivasi
mengakibatkan ekspresi protein permukaan yang disebut ligan CD40, yang kemudian
mengikat CD40 pada limfosit B, makrofag, sel dendritik, sel endotel serta mengaktivasi
berbagai tersebut. CD40L merupakan mediator penting terhadap berbagai fungsi efektor sel T
helper, termasuk menstimulasi sel B memproduksi antibodi dan aktivasi makrofag untuk
menghancurkan virus dengue.
Infeksi virus dengue menyebabkan aktivasi makrofag yang memfagositosis kompleks
virus-antibodi non netralisasi sehingga virus bereplikasi di makrofag. Terjadinya infeksi
makrofag oleh virus dengue menyebabkan aktivasi T helper dan T sitotoksik sehingga
diproduksi limfokin dan interferon gamma. Interferon gamma akn mengaktivasi monosit
sehingga disekresi berbagai mediator radang seperti TNF-, IL-1, PAF (platelet activating
factor), IL-6 dan histamin yang menyebabkan terjadinya disfungsi endotel dan terjadi
kebocoran plasma. Peningkatan C3a dan C5a terjadi melalui aktivasi kompleks virus-antibodi
yang dapat mengakibatkan terjadinya kebocoran plasma.

2.6 Gambaran Klinis

Manifestasi klinis infeksi virus dengue dapat bersifat asimptomatik, atau dapat berupa
demam yang tidak khas, demam, demam berdarah dengue, atau syndrome syok dengue
(SSD). Manifestasi DBD terdiri atas tiga fase, yaitu fase demam, kritis dan konvalesens.
Setiap fase memerlukan pemantauan yang tepat dan cermat karena setiap fase mempunyai
resiko yang dapat memperberat keadaan sakit. Pada umumnya pasien mengalami fase
demam selama 2-7 hari, demam dapat mencapai suhu 40 dan dapat disertai dengan kejang
demam, selanjutnya diikuti oleh fase kritis selam 2-3 hari. Pada waktu fase ini pasien sudah
tidak demam, akan tetapi mempunyai risiko untuk terjadi renjatan jika tidak mendapat
pengobatan yang adekuat. Bintik-bintik perdarahan di kulit sering terjadi, kadang disertai
bintik-bintik perdarahan di farings dan konjungtiva( pharyngeal injection and cilliary
injection). Penderita juga sering mengeluh nyeri menelan, tidak enak di ulu hati, nyeri di
tulang rusuk kanan, nyeri pada tulang dan sendi, nyeri seluruh perut, kemerahan pada wajah
(facial flushing). Selajutnya ada fase konvalesens atau penyembuhan, yaitu fase yang terjadi
setelah pasien melewati masa kritis selama 24-48 jam terjadi rearbsorpsi cairan dari ruang
ekstravaskular ke ruang intravaskular yang berlangsng selama bertahap dalam 48-72 jam
berikutnya. Pada fase ini keadaan pasien akan membaik, nafsu makan akan meningkat, status
hemodinamik stabil dan diuresis menyusul kemudian. Pada beberapa pasien akan ditemukan
ruam konvalesens, beberapa kasus dapat disertai dengan adanya pruritus. (4,6)

2.7 Langkah Diagnostik

Diagnosis dari infeksi dengue dapat ditegakkan melalui tes laboratorium dengan cara
mengisolasi virus, mendeteksi sequence RNA-spesifik virus dengue dengan tes amplifikasi
nukleotida, atau dengan mendeteksi antibody pada serum pasien (8).
Langkah diagnostik demam dengue dapat dilakukan melalui:
a. Laboratorium
Pemeriksaan darah yang rutin dilakukan untuk menapis pasien tersangka demam
dengue adalah melalui pemeriksaan kadar hemoglobin, hematokrit, jumlah trombosit, dan
hapusan darah tepi untuk melihat adanya limfositosis relative disertai gambaran limfosit
plasma biru.
Diagnosis pasti didapatkan dari hasil isolasi virus dengue (cell culture) ataupun deteksi
antigen virus RNA dengue dengan teknik RT-PCR (Reverse Transcriptase Polymerase Chain
Reaction), namun karena teknik yang lebih rumit, saat ini tes serologis yang mendeteksi
adanya antibody spesifik terhadap dengue berupa antibody total, IgM maupun IgG lebih
banyak.
Parameter laboratorium yang dapat diperiksa antara lain :
Leukosit
Dapat normal atau menurun. Mulai hari ke 3 dapat ditemukan limfositosis relative (>45%
dari leukosit) disertai adanya lifosit plasma biru (LPB) > 15% dari jumlah total leukosit
pada fase syok akan meningkat.
Trombosit
Umumnya terdapat trombositopenia pada hari ke 3-8.
Hematokrit
Kebocoran plasma dibuktikan peningkatan hematokrin 20% dari hematokrin awal,
umumnya dimulai pada hari ke-3 demam
Hemostasis
Dilakukan pemeriksaan AP, APTT, Fibrinogen, D- Dimer atau FDP pada keadaan yang
dicurigai terjadi perdarahan atau kelainan pembekuan darah.
Protein/albumin
Dapat terjadi hipoalbuminemia akibat kebocoran plasma
Elektrolit
Sebagai parameter pemantauan pemberian cairan
Serologi
Dilakukan pemeriksaan serologi IgM dan IgG terhadap dengue, yaitu:
- IgM muncul pada hari ke 3-5, meningkat sampai minggu ke 3, menghilang setelah 60-
90 hari
- IgG terdeteksi mulai hari ke 14 (infeksi primer), hari ke 2 (infeksi sekunder).
NS1
Antigen NS1 dapat terdeteksi pada awal demam hari pertama sampai hari kedelapan.
Sensitivitas sama tingginya dengan spesitifitas gold standart kultur virus. Hasil negatif
antigen NS1 tidak menyingkirkan adanya infeksi virus dengue.
b. Pemeriksaan Radiologis
Pada foto dada didapatkan efusi pleura, terutama pada hematoraks kanan tetapi apabila
terjadi perembesan plasma hebat, efusi pleura dapat dijumpai kedua hemitoraks. Pemeriksaan
foto rontgen dada sebaiknya dalam posisi lateral dekubitus kanan (pasien tidur pada sisi
badan sebelah kanan). Asites dan efusi pleura dapat pula dideteksi dengan pemeriksaan USG.

2.8 Diagnosis

Masa inkubasi dalam tubuh manusia sekitar 4-6 hari (rentang 3-14 hari), timbul gejala
prodormal yang tidak khas, seperti nyeri kepala, nyeri tulang belakang dan perasaan lelah.
Klasifikasi derajat penyakit Infeksi Virus Dengue, dapat dilihat pada gambar berikut:

2.9 Tata Laksana

Protokol dibagi dalam 5 kategori :

1. Protokol 1: Penanganan Tersangka (Probable) DBD Dewasa tanpa Syok


Protokol ini digunakan sebagai petunjuk dalam pemberian pertolongan pertama pada
penderita DBD atau yang diduga DBD di Instalasi Gawat Darurat dan juga dipakai sebagai
petunjuk dalam memutuskan indikasi rawat.
2. Protokol 2. Pemberian Cairan pada Tersangka DBD Dewasa di Ruang Rawat

3. Protokol 3. Penatalaksaan DBD dengan Peningkatan Ht > 20%


4. Protokol 4. Penatalaksaan Perdarahan Spontan pada DBD
5. Protokol 5. Tatalaksanaan Sindrom Syok Dengue

2.10 Prognosis
Pada DBD/DSS mortalitasnya cukup tinggi.(9)

2.11 Pencegahan

Kegiatan ini meliputi : (7)


1. Pembersihan jentik
- Program pemberantasan serang nyamuk (PSN)
- Menggunakan ikan (cupang, sepat)
2. Pencegahan gigitan nyamuk
- Menggunakan kelambu
- Menggunakan obat nyamuk (bakar, oles)
- Tidak melakukan kebiasaan berisiko (tidur siang, menggantung baju)
- Penyemprotan