Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia adalah negeri yang rawan bencana, tetapi pada saat yang sama
memiliki potensi sumber daya manusia yang besar. Penduduk Indonesia yang
banyak dapat diberdayakan dalam menghadapi kedaruratan dan dalam upaya
pengurangan risiko bencana. Undang-undang Nomor 24 tahun 2007 tentang
Penanggulangan Bencana menetapkan bahwa Pemerintah dan pemerintah daerah
adalah penanggung jawab penyelenggaraan penanggulangan bencana. Namun,
Pasal 27 UU tersebut menegaskan bahwa setiap orang berkewajiban untuk
melakukan kegiatan penanggulangan bencana. UU ini juga mengatur keterlibatan
pihak swasta, lembaga-lembaga non-pemerintah dan lembaga internasional dalam
penanggulangan bencana. Masyarakat dan pihak non-pemerintah dapat
berpartisipasi dalam berbagai bentuk kerelawanan dalam penanggulangan
bencana dan pengurangan risiko bencana. Agar keterlibatan para pemangku
kepentingan dapat terarah dan terkoordinasi, perlu dirumuskan aturan-aturan bagi
kerja relawan dalam penanggulangan bencana.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat dirumuskan beberapa masalah,
antara lain :
1.2.1 Apakah yang dimaksud dengan issue legal ?
1.2.2 Bagaimanakah konsep relawan dalam keadaan kedaruratan?
1.2.3 Bagaimanakah issue legal relawan dalam keadaan kedaruratan?

1.3 Tujuan
Untuk menjelaskan masalah-masalah pada keperawatan terkait issue legal
relawan dalam keadaan darurat.
1.4 Manfaat
Mengetahui masalah-masalah pada keperawatan terkait issue legal relawan dalam
keadaan darurat.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Praktek Keperawatan Kegawat Daruratan : Tanggung Jawab Legal

Keperawatan gawat darurat bersifat cepat dan perlu tindakan yang tepat, serta
memerlukan pemikiran kritis tingkat tinggi. Perawat gawat darurat harus mengkaji
pasien meraka dengan cepat dan merencanakan intervensi sambil berkolaborasi
dengan dokter gawat darurat. Dan harus mengimplementasikan rencana pengobatan,
mengevaluasi evektivitas pengobatan, dan merevisi perencanaan dalam parameter
waktu yang sangat sempit. Hal tersebut merupakan tantangan besar bagi perawat,
yang juga harus membuat catatan perawatan yang akurat melalui pendokumentasian.
Profesi kesehatan (tenaga kesehatan) seperti perawat dan dokter dan profesi
kesehatan lainnya mempunyai tanggung jawab moral untuk memberikan pertolongan
pada kasus kasus kegawatan darurat dan bencana, Yang disebut Tenaga Kesehatan
dalam Undang-undang Kesehatan Nomor 36 Tahun 2009 Bab I Ketentuan Umum
Pasal 1 Ayat (6) : Setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta
memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan
yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya
kesehatan. Pasal ini mempertegas bahwa petugas kesehatan wajib melakukan upaya
kesehatan termasuk dalam pelayanan gawat darurat yang terjadi baik dalam keadaan
sehari hari maupun dalam kedaaan bencana.
Orang yang tiba tiba menjadi gawat baik akibat penyakit atau trauma
kecelakaan tentu saja memerlukan tindakan darurat agar terhindar dari kematian dan
kecacatan serta dapat dirujuk untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan secara
definitif, apabila tidak atau terlambat mendapatkan tindakan darurat atau pertolongan
akan dapat menimbulkan kematian dan kecacatan, oleh sebab itu peran tenaga
kesehatan khusus perawat dan dokter mempunyai peran penting dalam memberikan
pelayanan gawat darurat secara holistik.
Disamping wajib dalam memberikan pelayanan kesehatan bagi profesi
kesehatan juga mendapatkan perlindungan hukum dalam melaksanakan profesinya,
dan diwajibkan juga untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dalam
meningkatkan profesionalisme dalam melaksanakan pelayanan kesehatan secara
maksimal, bagi perawat tanggap darurat tentu saja diharuskan memiliki keterampilan
kegawat-daruratan, semisalnya pelatihan bantuan hidup dasar (BHD), pelatihan
Penanggulangan Penderita Gawat Darurat, Nursing Emergency, General Emergency
Life Support dan lain sebagainya, sebagai bagian dari kompetensi perawat tanggap
darurat.

Di sisi lain dari aspek hukum pelayanan gawat darurat seperti standar operasi
prosedur, petunjuk pelaksanaaan, kebijakan dan aturan aturan dalam sistem
pelayanan gawat darurat harus dijadikan pedoman, sertifikat atau kompetensi petugas
sangat penting dimiliki dan dipahami oleh tim tanggap darurat agar pelayanan gawat
darurat mempunyai kepastian hukum, sehingga sinkronisasi dan koordinasi yang
bersifat holistik dalam pelayanan gawat darurat akan mampu melahirkan sikap
profesional dan bertanggung jawab sebagai bentuk kepedulian terhadap keselamatan
umat manusia.
Di lingkungan gawat darurat, hidup dan mati seseorang ditentukan dalam
hitungan menit. Sifat gawat darurat kasus memfokuskan kontribusi keperawatan pada
hasil yang dicapai pasien, dan menekankan perlunya perawat mencatat kontribusi
profesional mereka.
2.2 Konsep Relawan dalam Kegawat Daruratan
Relawan Penanggulangan Bencana, yang selanjutnya disebut relawan, adalah
seorang atau sekelompok orang yang memiliki kemampuan dan kepedulian untuk
bekerja secara sukarela dan ikhlas dalam upaya penanggulangan bencana (Peraturan
BNPB NO 11, 2011). Relawan bekerja berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang
Dasar 1945. Relawan memiliki prinsip kerja yaitu kerja cepat dan tepat, berprioritas,
terkoordinasi, Relawan berkewajiban mentaati peraturan dan prosedur kebencanaan
yang berlaku, relawan juga berkewajiban untuk menjunjung tinggi asas, prinsip, dan
panca darma relawan penanggulangan bencana, serta meningkatkan pengetahuan ,
keterampilan dan kemampuannya dalam penanggulangan bencana. Selain itu,
relawan tentu mempunyai beberapa hak yaitu memperoleh pengakuan dan tanda
pengenal relawan penanggulangan bencana, mendapatkan peningkatan kapasitas yang
berhubungan dengan penanggulangan bencana, dan mendapatkan perlindungan
hokum dalam pelaksanaan tugas penanggulangan bencana. Berdaya guna dan berhasil
guna, bekerja secara transparansi, Akuntabilitas, Kemitraan, Pemberdayaan, Non-
diskriminasi, Tidak menyebarkan agama,. Kesetaraan gender, dan menghormati
kearifan local. Ada beberapa sanksi yang bisa didapatkan oleh relawan, jika relawan
melanggar asas, prinsip, panca darma relawan penanggulangan bencana dapat
dikenakan sanksi teguran lisan dan teguran tertulis (secara bertingkat) oleh atasan
langsung relawan yang bersangkutan, sampai skorsing dan pemberhentian sebagai
anggota relawan penanggulangan bencana yang dilakukan oleh lembaga Pembina,
bagi relawan yang melakukan pelanggaran hokum atau tindak pidana sesuai peraturan
perundangan yang berlaku dapat diberi sanksi hukum. Sebakiknya, untuk relawan dan
organisasi induk relawan yang telah menunjukkan kinerja yang baik dalam upaya
penanggulangan bencana dapat diberikan penghargaan.
Pada saat Tanggap Darurat relawan dapat membantu dalam kegiatan:
1. Kaji cepat terhadap cakupan wilayah yang terkena, jumlah korban dan
kerusakan, kebutuhan sumber daya, ketersediaan sumber daya serta
prediksi perkembangan situasi ke depan
2. Pencarian, penyelamatan dan evakuasi warga masyarakat terkena bencana
3. Penyediaan dapur umum
4. Pemenuhan kebutuhan dasar berupa air bersih, sandang, pangan, dan
layanan kesehatan termasuk kesehatan lingkungan
5. Penyediaan tempat penampungan/hunian sementara
6. Perlindungan kepada kelompok rentan dengan memberikan prioritas
pelayanan
7. Perbaikan/pemulihan darurat untuk kelancaran pasokan kebutuhan dasar
kepada korban bencana
8. Penyediaan sistem informasi untuk penanganan kedaruratan
9. Pendampingan psikososial korban bencana
10. Kegiatan lain terkait sosial, budaya dan keagamaan
11. Kegiatan lain terkait kedaruratan.

2.3 Isu Legal Relawan dalam kegawat daruratan

A. Deklarasi darurat/bencana dan dampaknya terhadap relawan


Membahas isu-isu terkait dengan deklarasi darurat /bencana, seperti
apakah itu adalah wajib bagi pemerintah untuk mengeluarkan pernyataan
tersebut, dan kemungkinan dampak pada relawan.

a. Gagasan darurat / bencana


Gagasan darurat dan bencana muncul dalam yurisdiksi
yang berbeda. Beberapa negara mengadopsi definisi hukum yang
menggambarkan situasi jumlah itu untuk bencana atau emergency.
Negara-negara lain daftar berbagai jenis situasi dianggap sebagai
bencana dan / atau emergencies.2 Akhirnya, beberapa negara
belum mengadopsi apapun definisi hukum dari dua terminologi
b. Pihak berwenang untuk mengeluarkan deklarasi darurat / bencana
Sebuah fitur terkait relevansi adalah apakah hukum
mengharuskan pemerintah untuk mengeluarkan seperti deklarasi
darurat / bencana, dan jika demikian,apakah itu mendefinisikan
yang otoritas memiliki kekuatan untuk melakukannya.
1. Pihak berwenang 'untuk mengeluarkan deklarasi darurat / bencana
Di Indonesia hukum mengharuskan pemerintah untuk mengeluarkan
deklarasi. baik pusat dan pemerintah daerah dapat membuat deklarasi ini
tergantung pada skala bencana. Presiden harus membuat suatu pernyataan
darurat / bencana di tingkat nasional, sementara untuk situasi tingkat
provinsi Gubernur harus membuat deklarasi tersebut. Jika darurat /
bencana terjadi di tingkat kabupaten / kota, Deklarasi ini harus dibuat oleh
Bupati / Walikota.
2. Pihak berwenang 'untuk mengaktifkan rencana untuk organisasi bantuan
3. Efek pada status pekerjaan relawan
4. Kewajiban dan kekebalan relawan
Membahas isu-isu yang berkaitan dengan kewajiban relawan dan
organisasi terhadap pihak ketiga, kewajiban organisasi terhadap relawan,
dan tugas atau kode etik yang ditetapkan oleh hukum untuk relawan.
Selanjutnya,tawaran bab dengan kekebalan, terutama apakah mereka berlaku
untuk relawan dan / atau organisasi. Karena kekayaan contoh, mereka
berkerumun ke dalam kelompok dan subkelompok, dengan
mempertimbangkan adopsi oleh Serikat undang-undang tentang relawan, dan
mata pelajaran tertentu yang menarik, masing-masing. Di negara-negara
mengadopsi kewajiban sistem hukum sipil mungkin timbul dari undang-
undang, sedangkan di negara-negara lain kewajiban mungkin timbul dari
undang-undang dan / atau Konsep hukum umum dari gugatan.
1. Negara-negara dengan undang-undang tentang relawan dalam
keadaan darurat
1.1 Tanggung jawab pidana relawan dan organisasi dalam kaitannya
dengan tanggap darurat. Kompensasi relawan dalam kasus cedera / kematian
pada tanggap darurat Sementara undang-undang bencana di berbagai
yurisdiksi mengacu pada peran relawan, dalam banyak kasus jika jelas apakah
kompensasi yang akan diberikan kepada relawan, dalam kasus cedera atau
kematian.

Di Indonesia tidak ada aturan dalam hal kemampuan relawan untuk


mengambil cuti dari / nya "pekerjaan tetap" dalam rangka untuk relawan
dalam kasus
bencana / darurat.

Namun demikian, jika relawan yang secara resmi diwajibkan oleh


negara, maka seperti cuti diperbolehkan. Pasal 92 (2) (d) UU No. 13/2003
tentang Ketenagakerjaan (UU No. 13/2003) secara khusus menetapkan bahwa
majikan wajib membayar upah karyawan jika karyawan tidak melakukan /
pekerjaannya karena ia / dia melaksanakan atau memenuhi kewajiban kepada
Negara. Dalam situasi tertentu seperti di mana relawan yang diperintahkan oleh
Negara, hukum memberikan perlindungan hukum dari pemecatan dalam hal
partisipasi dalam kegiatan tersebut. Dengan demikian, Pasal 153 (2) (b) UU
Ketenagakerjaan mengatur bahwa majikan dilarang memutuskan hubungan
kerja dengan karyawan yang memenuhi / kewajibannya kepada Negara sesuai
dengan yang berlaku hukum dan peraturan.
Dapus : Indonesian Government Regulation N21 of 2008 on the
Implementation of Disaster Management, Article 21. As a general note, the
Indonesian legal system does not recognize federal and/or State law. Laws
will only be issued by the central government. The provincial government may
however issue a regulation as an implementing regulation to the law.