Anda di halaman 1dari 7

MANAJEMEN PENGELOLAAN ZAKAT

Pengelolaan zakat adalah kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan


pengawasan terhadap pengumpulan dan pendistribusian serta pendayagunaan zakat. Bagian yang
tak terpisahkan dari pengelolaan zakat adalah muzakki dan harta yang dizakati, mustahik1[5] dan
amil2[6].
Disamping pada sisi yang lain amil juga termasuk dari salah satu 8 asnaf diatas,
sebagaimana terdapat dalam Q.S. At-Taubah ayat 60 yang berbunyi sebagai berikut:

Artinya: Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin,
pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak,
orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam
perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi
Maha Bijaksana. (Q.S. At-Taubah: 60).3[7]

Sedangkan harta yang dizakati oleh bagian dari harta yang dimiliki oleh muzaki yang wajib
untuk dikeluarkan zakatnya.
1. Muzakki dan harta yang dizakati
Muzakki adalah seorang muslim yang dibebani kewajiban mengeluarkan zakat disebabkan
terdapat kemampuan harta setelah menyampai nisab4[8] dah haul-nya5[9]. Dalam UU No. 39
Tahun 1999 muzakki adalah orang atau badan yang dimiliki oleh orang muslim yang

1[5] Mustahik adalah orang muslim yang berhak memperoleh bagian dari harta
zakat disebabkan termasuk dalam salah satu 8 asnaf (golongan penerima zakat),
yaitu fakir, miskin, amil, mualaf, budak, orang yang berhutang, fi sabilillah, dan
orang yang sedang dalam perjalanan.

2[6] Amil adalah badan atau lembaga yang ditugaskan untuk mengumpulkan zakat
dari muzakki dan mendistribusikan harta zakat tersebut kepada para mustahik.

3[7] Departemen Agama Islam RI, Al-Quran dan Terjemahnya, (Semarang: CV.
Thoha Putera, 1989).

4[8] Nisab adalah jumlah minimal harta kekayaan yang wajib dikeluarkan zakatnya.

5[9] Cukup haulnya adalah masa waktu zakat yang dapat dihitung atas masa
kepemilikan harta kekayaan selama dua belas bulan qamariyah, panen atau pada
saat menemukan barang rikaz.
berkewajiban menunaikan zakat. Zakat secara umum terdiri dari dua macam yaitu zakat fitrah
dan zakat mal.
a. Zakat fitrah/fidyah
Zakat fitrah atau fidyah adalah sejumlah bahan makanan pokok yang dikeluarkan pada bulan
Ramadhan oleh setiap muslim bagi dirinya dan bagi orang yang ditanggungnya yang memiliki
kelebihan makanan pokok untuk sehari pada hari Raya Idul Fitri. Besarnya ukurannya adalah
2,176 kg.
b. Zakat mal (harta)
Zakat mal adalah bagian harta yang disisihkan oleh seorang muslim atau badan yang dimiliki
oleh orang muslim sesuai dengan ketentuan agama untuk diberikan kepada yang berhak
menerimanya. Syarat kekayaan itu dizakati antar lain milik penuh, berkembang, cukup nisab,
lebih dari kebutuhan pokok, bebas dari hutang, sudah berlalu satu tahun (haul).
2. Amil
Undang-undang No. 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat pada Bab II Pasal 6 dan 7
menegaskan bahwa Lembaga Pengelola Zakat di Indonesia terdiri dari dua macam, yaitu Badan
Amil Zakat (BAZ) yang dibentuk oleh Pemerintah dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang
dibentuk oleh Masyarakat.
a. Badan Amil Zakat (BAZ)
Badan amil zakat adalah organisasi pengelolaan zakat yang dibentuk oleh Pemerintah, yang
terdiri dan unsur masyarakat dan Pemerintah dengan tugas mengumpulkan, mendistribusikan dan
mendayagunakan zakat sesuai dengan ketentuan agama.
b. Lembaga Amil Zakat (LAZ)
Sebelum berlakunya undang-undang pengelolaan zakat, sebenarnya fungsi dari pengumpulan,
pengelolaan, dan pendistribusian zakat, telah eksis terlebih dahulu ditengah-tengah masyarakat.
Menurut Undang-undang lembaga amil zakat ini adalah institusi pengelolaan zakat yang
sepenuhnya dibentuk atas prakarsa masyarakat dan oleh masyarakat yang bergerak dibidang
dakwah, pendidikan sosial, dan kemaslahatan umat Islam.6[10]

3. Mustahik
Mustahik atau golongan yang berhak menerima zakat adalah ada 8 golongan diantaranya
adalah:
a. Fakir
Fakir adalah orang yang penghasilannya tidak dapat memenuhi kebutuhan pokok (primer) sesuai
dengan kebiasaan masyarakat tertentu.

6[10] Andri Soemitra, Bank dan Lembaga Keuangan Syariah, Op Cit, hal. 422.
b. Miskin
Miskin adalah orang-orang yang memerlukan, yang tidak dapat menutupi kebutuhan pokoknya
sesuai dengan kebiasaan yang berlaku. Miskin menurut mayoritas ulama adalah orang yang tidak
memiliki harta dan tidak mempunyai pencarian yang layak untuk memenuhi kebutuhannya.
c. Amil
Amil adalah semua pihak yang bertindak mengerjakan yang berkaitan dengan pengumpulan,
penyimpanan, penjagaan, pencatatan, dan penyaluran harta zakat. Mereka berwenang untuk
memungut dan membagikan serta tugas lain yang berhubungan dengan zakat, seperti penyadaran
masyarakat tentang hukum zakat, menerangkan sifat-sifat pemilik harta yang terkena kewajiban
membayar zakat dan mereka yang mustahik, mengalihkan, menyimpan dan menjaga serta
menginvestasikan harta zakat sesuai dengan ketentuan.
d. Mualaf
Mualaf adalah orang-orang yang dirayu untuk memeluk agama Islam, sebagai persuasi terhaap
hati orang yang diharapkan akan masuk Islam atau keislaman orang yang berpengaruh untuk
kepentingan Islam dan Umat Islam.
e. Budak
Mengingat golongan ini sekarang sudah tidak ada lagi, maka kuota zakat mereka dialihkan
kegolongan mustahik lain menurut pendapat mayoritas ulama fikih (jumhur ulama). Namun
sebagian ulama berpendapat bahwa golongan ini msih ada, yaitu para tentara muslim yang
menjadi tawanan.
f. Orang Yang Berhutang
Termasuk dalam kategori ini adalah pertama, orang yang berhutang untuk kepentingan pribadi
yang tidak bisa dihindarkan dengan syarat-syarat sebagai berikut utang itu tidak timbul karena
kemaksiatan, utang itu memiliki pelakunya, si pengutang sudah tidak sanggup lagi melunasi
utangnya dan lain sebagainya.
Kedua, orang-orang yang berhutang untuk kepentingan sosial, seperti yang berhutang untuk
mendamaikan antara pihak yang bertikai dengan memikul biaya diat (denda kriminal) atau biaya
barang-barang yang dirusak. Ketiga, orang-orang yang berutang karena menjamin utang orang
lain dimana yang menjamin dan yang dijamin keduanya berada dalam kondisi kesulitan
keuangan.
g. Fisabilillah
Fisabilillah adalah orang berjaung dijalan Allah dalam pengertian luas sesuai dengan yang
ditetapkan oleh para ulama fiqih. Intinya adalah melindungi dan memelihara agama serta
meninggikan kalimat tauhid, seperti berperang, berdakwah, berusaha menerapkan hukum Islam
dan lain sebagainya.
h. Orang Yang Dalam Perjalanan
Orang yang dalam perjalanan (ibnu sabil) adalah orang asing yang tidak memiliki biaya untuk
kembali ketanah airnya. Golongan ini diberikan zakat dengan syarat-syarat sedang dalam
perjalanan di luar lingkungan negeri tempat tinggalnya.

D. MEKANISME PENGELOLAAN HASIL PENGUMPULAN ZAKAT


Pengelolaan zakat adalah kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan
pengawasan terhadap pengumpulan dan pendistribusian serta pendayagunaan zakat. Oleh karena
itu, untuk optimalisasi pendayagunaan zakat diperlukan pengelolaan zakat oleh lembaga amil
zakat yang profesional dan mampu mengelola zakat secara tepat sasaran.7[11]
Pada prinsipnya, pendayagunaan hasil pengumpulan zakat untuk mustahik zakat dilakukan
persyaratan:
1. Hasil pendataan dan penelitian kebenaran mustahik delapan asnaf
2. Mendahulukan orang-orang yang paling tidak berdaya memenuhi kebutuhan dasar secara
ekonomi dan sangat memerlukan bantuan
3. Mendahulukan mustahik dalam wilayahnya masing-masing.
Adapun prosedur pendayagunaan pengumpulan hasil zakat untuk usaha produktif
berdasarkan:
1. Melakukan studi kelayakan
2. Menetapkan jenis usaha produktif
3. Melakukan bimbingan dan penyuluhan
4. Melakukan pemantauan, pengendalian dan pengawasan
5. Mengadakan evaluasi
6. Membuat pelaporan.8[12]
Sistem pendistribusian zakat yang dilakukan haruslah mampu mengangkat dan meningkatkan
taraf hidup umat Islam, terutama para penyandang masalah sosial. Baik LAZ maupun BAZ
memiliki misi mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan keadilan sosial. Banyaknya BAZ dan
LAZ yang lahir tentu akan mendorong penghimpunan dana zakat dari masyarakat.
Pendayagunaan hasil pengumpulanl zakat dapat dilakukan dalam dua pola, yaitu pola
konsumtif dan pola produktif. Para amil zakat diharapkan mampu melakukan pembagian porsi
hasil pengumpulan zakat misalnya 60% untuk zakat konsumtif dan 40% untuk zakat produktif.

7[11] Andri Soemitra, Bank dan Lembaga Keuangan Syariah, Op Cit, hal. 428.

8[12] Andri Soemitra, Bank dan Lembaga Keuangan Syariah, Log Cit, hal. 428-429
Program penyaluran hasil pengumpulan zakat secara konsumtif bisa dilakukan untuk memenuhi
kebutuhan dasar ekonomi para mustahik zakat melalui pemberian langsung, maupun melalui
lembaga-lembaga yang mengelola fakir miskin, panti asuhan, maupun tempat-tempat ibadah
yang mendistribusikan zakat kepada masyarakat.
Sedangkan program penyaluran hasil pengumpulan zakat secara produktif dapat dilakukan
melalui program bantuan pengusaha lemah, pendidikan gratis dalam bentuk beasiswa, dan
pelayanan kesehatan gratis.
BAB III
KESIMPULAN

Dari pembahasan makalah diatas, maka dapat kami simpulkan bahwa zakat adalah
kewajiban seseorang muslim untuk mengeluarkan nilai bersih dari kekayaan yang tidak melebihi
satu nisab, diberikan kepada mustahik zakat dengan beberapa syarat yang telah ditentukan. Zakat
adalah rukun Islam ketiga yang diwajibkan di Madinah pada bulan Syawal tahun kedua Hijriah
setelah diwajibkannya Puasa Ramadhan.
Zakat merupakan ibadah amaliah yang mempunyai dimensi dan fungsi sosial ekonomi
atau pemerataan karunia Allah dan juga merupakan solidaritas sosial, pernyataan rasa
kemanusiaaan dan keadilan, pembuktian persaudaraan Islam, pengikat persatuan umat dan
bangsa, sebagai pengikat batin antara golongan kaya dngan miskin dan sebagai penghilang
jurang yang menjadi pemisah antara golongan yang kuat dengan yang lemah.
DAFTAR PUSTAKA

Departemen Agama Islam RI, Al-Quran dan Terjemahnya, (Semarang: CV. Thoha Putera, 1989).

Andri Soemitra, Bank dan Lembaga Keuangan Syariah, (Jakarta: Kencana, 2010).

El-Madani, Fiqh Zakat Lengkap: Segala Hal Tentang Kewajiban Zakat dan Cara Membaginya,
(Yogyakarta: Diva Press, 2013).

Hamdan Rasyid, Fiqih Indonesia, Cet.I, (Jakarta: Al-Mawardi Prima, 2003).

9
El-Madani, Fiqh Zakat Lengkap: Segala Hal Tentang Kewajiban Zakat dan Cara
[1]
Membaginya, (Yogyakarta: Diva Press, 2013), hal. 13.
10
[2] Andri Soemitra, Bank dan Lembaga Keuangan Syariah, (Jakarta: Kencana, 2010),
hal.407.
11
[3] Hamdan Rasyid, Fiqih Indonesia, Cet.I, (Jakarta: Al-Mawardi Prima, 2003), hal.
103.
12
[4] Andri Soemitra, Bank dan Lembaga Keuangan Syariah, Op Cit, hal. 410.

10

11

12