Anda di halaman 1dari 13

Permintaan Pembuatan Surat Pengantar Berobat pada Pasien Status

Tahanan

Rizki Siti Fitria 102012263


Raymond Ferdinand Noelnoni 102013035
Dessy Christina Noelik 102013056
Pebriyanti Salipadang 102013241
Fadilah Soraya Alhamid 102013336
Antonius R.M. Carlos Ora Adja 102013401
Yohana Elviani Jemumu 102013458
Zulfa Tsuraya 102013475
Muhammad Syafiq Bin MD Sohaimi 102013499
D2
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Jl. Arjuna Utara No. 6

Jakarta Barat

I. Pendahuluan
Pemeriksaan kesehatan pasien dengan status sebagai tahanan memerlukan ijin dan
beberapa prosedur. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya hal yang tidak
diinginkan seperti kabur dari tahanan. Sebagai seorang dokter untuk membuat surat
keterangan baik untuk rujukan ataupun keterangan lainnya harus tetap dilakukan
sesuai dengan standard operasionalnya yaitu harus benar-benar diperiksa apakah
seseorang tersebut membutuhkan surat itu atau tidak. Ini berkaitan dengan etika,
hukum dan disiplin kedokteran.
Setiap dokter dituntut untuk memiliki sikap profesionalisme yaitu sikap yang
bertanggung jawab, sikap kompetensi dan wewenang yang sesuai waktu juga tempat,
sikap etis sesuai etika profesi, dan bekerja sesuai standard yang ditetapkan.1

II. Pembahasan
Scenario 4:

1
Seorang laki-laki adalah pasien lama anda, datang ke tempat praktek anda. Ia
menyapa dengan baik seperti biasanya, dan kemudian meminta tolong kepada anda
melakukan sesuatu. Kakak kandungnya saat ini sedang diperiksa oleh kejaksaan
karena diduga telah melakukan tindak pidana korupsi, dengan status tahanan. Ia
sebenarnya menderita penyakit jantung yang telah lama dideritanya, penyakit lever,
dan penyakit pada lutut kanannya (osteochondritis genu) sehingga ia mengalami
hambatan dalam berjalan. Pasien lama anda tersebut menunjukan kepada anda data-
data medic dari kakaknya. Pasien lama anda tersebut mendengar bahwa di Jepang
terdapat seorang professor ortopedi mahir dalam menangani penyakit lututnya. Oleh
karena itu ia meminta kepada anda untuk dapat membuatkan surat pengantar berobat
ke Profesor di Jepang tersebut.

A. Rumusan Masalah
Pasien lama seorang dokter yang ingin meminta tolong pada dokternya tersebut
untuk membuat surat pengantar berobat ke Jepang.

B. Analisis Masalah
ASPEK HUKUM dan PROSEDUR MEDIKOLEGAL
Surat keterangan dokter atau medical report/certificates/statements dapat
didefinisikan sebagai surat keterangan tertulis yang dibuat oleh dokter untuk
tujuan tertentu tentang kesehatan atau penyakit pasien, atas permintaan pasien
atau atas permintaan pihak ketiga dengan persetujuan pasien atau atas perintah
undang-undang. Berdasarkan definisi diatas surat keterangan dari dokter
menjelaskan tentang penyakit atau bagaimana sakitnya pasien sehingga perlu
tanggungjawab dokter untuk membuat surat keterangan secara profesional sesuai
dengan keadaan yang diketahui dan dapat dibuktikan kebenarannya. Pembuktian
ini dapat dilakukan dengan adanya pemeriksaan terlebih dahulu pada pasien baik
secara fisik maupun laboratorium.2

Pembuatan surat keterangan dokter diatur dalam undang-undang nomor 29 tahun


2004 tentang praktek kedokteran pasal 35 ayat 1, khususnya huruf (h) yang
berisi:3
1. Dokter atau dokter gigi yang telah memiliki surat tanda registrasi mempunyai
wewenang melakukan praktek kedokteran sesuai dengan pendidikan dan
kompetensi yang dimiliki, yang terdiri dari:
a. mewawancarai pasien;
b. memeriksa fisik dan mental pasien;

2
c. menentukan pemeriksaan penunjang;
d. menegakkan diagnosis;
e. menentukan penatalaksanaan dan pengobatan pasien;
f. melakukan tindakan kedokteran atau kedokteran gigi;
g. menulis resep obat dan alat kesehatan;
h. menerbitkan surat keterangan dokter atau dokter gigi;
i. menyimpan obat dalam jumlah dan jenis yang diizinkan; dan
j. meracik dan menyerahkan obat kepada pasien, bagi yang praktik di daerah
terpencil yang tidak ada apotek.

Dokter yang membuat surat keterangan yang tidak benar dapat dikatakan
melanggar Kode Etik Kedokteran Indonesia dan hukum. Aturan yang terkait
dengan pembuatan surat keterangan dokter, antara lain:3
Kode Etik Kedokteran Indonesia, Bab I mengenai kewajiban umum dokter,
pasal 7: Seorang dokter hanya memberi keterangan atau pendapat yang dapat
dibuktikan kebenarannya.
Pasal 267 KUHP:
1) Seorang dokter yang sengaja memberikan surat keterangan palsu tentang
ada atau tidaknya penyakit, kelemahan atau kecacatan diancam dengan
hukuman penjara paling lama empat tahun.
2) Jika keterangan diberikan dengan maksud untuk memasukkan seseorang
dalam rumah sakit jiwa atau untuk menahannya di situ, dijatuhi hukuman
penjara paling lama delapan tahun enam bulan.
3) Diancam dengan pidana yang sama, barang siapa dengan sengaja
memberikan surat keterangan palsu seolah-olah isinya sesuai dengan
kebenaran.

Dalam surat keterangan dokter penting untuk memperhatikan beberapa hal, yaitu:2
1. Surat keterangan tersebut pada dasamya merupakan potret sesaat yang
menggambarkan kondisi kesehatan pasien pada hari ia diperiksa. Ini
berlaku terutama untuk sural keterangan "sehat" atau "sakit" yang dibuat
secara ringkas (sumir). Hal-hal yang hari itu ditemukan sebagai sehat
dapat saja besoknya berubah menjadi tidak sehat.
2. Pengertian "sehat" atau "memenuhi syarat" dalam keterangan tersebut
bersifat spesifik sesuai dengan kepentingan pembuatan surat tersebut.
Surat keterangan "sehat" untuk kepentingan bekerja di bidang pekerjaan
tertentu harus disesuaikan dengan persyaratan yang ditemukan pada
bidang pekerjaan tersebut.

3
Adalah menjadi kewajiban dokter untuk melakukan pemeriksaan yang benar-
benar cermat sebelum membuat pernyataan atau keterangan semacam itu sesuai
dengan kode etik dokter yang menyatakan bahwa "seorang dokter hanya memberi
keterangan atau pendapat yang dapat dibuktikan kebenarannya".2

SURAT RUJUKAN BEROBAT UNTUK TAHANAN

Memperhatikan semakin banyak tersangka/terdakwa perkara pidana umum


maupun khusus yang mengajukan ijin berobat ke luar negri dengan berbagai
alasan dan ternyata ijin berobat ke luar negri banyak disalahgunakan atau
dimanfaatkan oleh tersangka/terdakwa untuk menghindari proses penyidikan,
penuntutan atau eksekusi putusan pengadilan, maka dibuatlah surat edaran tahun
2004 oleh Kejaksaan Agung RI. Mengingat Pasal 33 Undang-undang No.5
Tahun 1991 tentang Kejaksaan RI, dan untuk mengantisipasi hal-hal diatas,
dengan ini diberikan petunjuk sebagai berikut:4

1) Pada prinsipnya seorang tersangka/terdakwa perkara tindak pidana (umum/


khusus) yang perkaranya sedang dalam proses penyidikan atau penuntutan
tidak diijinkan untuk berobat ke luar negeri, karena rumah sakit rumah sakit di
Indonesia pada umumnya telah dapat mengobati semua jenis penyakit. Ijin
berobat ke luar negeri hanya dapat diberikan terhadap kondisi-kondisi dan
jenis penyakit tertentu yang belum dapat diobati di rumah sakit-rumah sakit di
Indonesia
2) Ijin berobat ke luar negeri bagi tersangka/terdakwa hanya dapat diberikan oleh
Jaksa Agung RI setelah memenuhi syarat-syarat tertentu.
3) Ijin berobat ke luar negeri harus diajukan oleh tersangka/terdakwa atau
keluarganya setelah mendapatkan rekomendasi dari dokter sepesialis penyakit
yang bersangkutan, dan dilengkapi surat keterangan resmi dari Rumah sakit
Pemerintah yang ditunjuk untuk dapat memberikan rujukan guna berobat ke
luar negeri (Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangun Kusumo Jakarta)
dengan penjelasan bahwa rumah sakit di Indonesia belum dapat memberikan
pelayanan medis / pengobatan terhadap penyakit yang diderita oleh
tersangka/terdakwa.
4) Ijin berobat ke luar negeri diajukan kepada Jaksa Agung Ri, melalui jalur
berjenjang (Kejaksaan Negeri, Kejaksaan Tinggi, Jaksa Agung Muda yang

4
bersangkutan) dengan menjelaskan nama dan alamat lengkap rumah sakit di
luar negeri yang akan merawat tersangka/terdakwa agar sewaktu-waktu dapat
dihubungi.
5) Harus ada jaminan dari tersangka/terdakwa dan keluarganya bahwa
tersangka/terdakwa yang bersangkutan akan segera kembali ke Indonesia
setelah rumah sakit yang bersangkutan memberikan keterangan bahwa
tersangka/terdakwa dapat dirawat kembali di Indonesia.
6) Kejaksaan yang menangani perkara tersangka/terdakwa yang berobat ke luar
negeri wajib memantau dan meminta perkembangan hasil pengobatan
tersangka/terdakwa dari rumah sakit di luar negeri yang bersangkutan,
sekurang kurangnya I (satu ) bulan sekali, dan meminta penjelasan masih perlu
atau tidaknya tersangka/terdakwa dirawat di rumah sakit tersebut. Laporan
hasil pemantauan dikirim setiap bulan kepada Jaksa Agung RI., tembusan
kepada Jaksa Agung Muda Intelijen dan Jaksa Agung Muda yang
bersangkutan.

Dalam surat edaran di atas disebutkan bahwa seorang terdakwa atau tahanan boleh
berobat ke luar negri asalkan telah menerima surat rekomendasi dari dokter
spesialis yang bersangkutan. Yang dimaksud dengan dokter yang bersangkutan
adalah dokter yang telah melakukan pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang,
serta pemeriksaan-pemeriksaan lain terhadap terdakwa. Seorang dokter tidak
boleh merujuk terdakwa hanya berdasarkan hasil rekam medis terdakwa selama
berobat ke dokter sebelumnya. Dokter ini harus bertemu pasien langsung dan
melakukan pemeriksaan-pemeriksaan dahulu sebelum yakin bahwa pasien perlu
dirujuk. Kodeki pasal 7 ayat 6 dan 8 menyatakan hal sebagai berikut:4
(6) Seorang dokter wajib melakukan konsultasi atau melakukan rujukan ke
sejawatnya yang mempunyai kompetensi untuk memberikan keterangan yang
lebih bermutu apabila kasus yang dihadapi di luar kompetensinya.

5
(8) Seorang dokter dilarang memberikan pendapat mengenai pasien yang
diperiksa oleh sejawat lain tanpa permintaan dari pihak berwenang dan tanpa
memeriksa atau melihat sendiri pasien tersebut.

Ketika dokter telah melakukan pemeriksaan langsung terhadap pasien, yang dalam
hal ini merupakan tahanan kepolisian dan pasien sendiri meminta dirujuk ke luar
negri, maka langkah awal dokter adalah merujuk dahulu ke rumah sakit
pemerintah. Jika memang tidak ada dokter spesialis yang dapat menangani
kasusnya, maka tertahan boleh dibawa berobat ke luar negri.4

FITNESS TO STAND TRIAL


Kompetensi untuk ditanya (Competence to be interviewed) dan kelayakan
untuk diajukan di sidang pengadilan (Fitness to stand trial).
Sidang yang dilaksanakan pengadilan harus bersifat tertib. Orang-orang yang
berada di ruang sidang tanpa terkecuali harus bersikap tenang, sopan, dan harus
menaati peraturan yang berlaku. Terperiksa baik dalam kedudukan sebagai
terdakwa, penggugat, saksi ataupun kedudukan yang lain harus pula mampu
menaati peraturan tersebut dalam arti di dalam sidang terperiksa harus mampu
duduk tenang dan sopan selama waktu relatif lama serta harus mampu
berkomunikasi secara baik wajar dan sopan.

Sidang pengadilan merupakan tempat berkomunikasi dimana mereka yang


terlibat saling bertanya jawab. Tanya jawab harus berlangsung tertib dengan
harapan hakim dapat memperoleh informasi sebanyak-banyaknya dan sebaik-
baiknya sehingga dapat mengambil keputusan hukum yang tepat, objektif, dan
adil.
Di lain pihak dimaklumi bahwa situasi sidang pengadilan bagi terperiksa sangat
menekan (stressful). Tidak diharapkan selama sidang atau setelah sidang, akibat
rasa tertekan terperiksa menjadi sakit atau penyakitnya menjadi lebih berat atau
penyakit yang sudah sembuh timbul kembali. Apabila seseorang (terperiksa) akan
diajukan ke sidang pengadilan, terlebih dulu harus dipenuhi syarat-syarat sebagai
berikut:
a. Apakah sidang dapat dilaksanakan (applicable)? Sidang dapat dilaksanakan
apabila terperiksa menaati peraturan ketertiban sidang. Sidang tidak mungkin

6
dilaksanakan apabila terperiksa gelisah, tidak dapat duduk tenang, harus dalam
posisi berbaring, misalnya karena cedera tulang punggung atau harus diinfus,
atau terperiksa berbicara tidak terkendali.
b. Apakah sidang tidak berbahaya (harmful) bagi terperiksa? Sidang tidak dapat
dilaksanakan apabila suasana sidang terlalu menekan sehingga terperiksa dapat
menjadi sakit atau bahkan meninggal.
c. Apakah sidang bermanfaat (beneficial)? Sidang merupakan arena tanya jawab
dimana semua pihak berusaha mengemukakan informasi menurut visi mereka
masing-masing agar dapat dipergunakan hakim untuk mengambil keputusan.
Diharapkan dalam tanya jawab, terperiksa dapat mengerti apa yang ditanyakan
padanya dan dapat mengemukakan pendapat yang dapat dipahami oleh orang
lain. Dengan demikian, pemeriksaan mengenai kemampuan seseorang untuk
diajukan di sidang pengadilan (fitness to stand trial) memerlukan pemeriksaan
tentang kemampuan terperiksa untuk menaati peraturan sidang bahwa sidang
tidak membahayakan bagi terperiksa.

Penentuan mengenai kecakapan untuk bertanya jawab (competence to be


interviewed) dapat dinilai dari kemampuan terperiksa memahami kedudukan
dirinya dan memahami situasi lingkungannya. Ia harus mengetahui kedudukannya
dalam sidang (sebagai saksi, terdakwa, atau penggugat). Ia juga harus mengetahui
persoalan yang dihadapinya (perkaranya) dan mampu mengusahakan pembelaan
atau mampu minta pertolongan seseorang untuk minta pembelaan persoalannya.
Selain itu ia harus memahami situasi lingkungannya. Dalam arti bahwa ia
memahami ia berada di ruang sidang pengadilan berhadapan dengan hakim, jaksa,
penasihat hukum, dan lain-lain.
Dalam sidang, terperiksa harus mampu berkomunikasi dengan baik.
Kemampuan berkomunikasi ini dapat kita nilai dengan cara penilaian kemampuan
mengemukakan ide, atau pendapat yang dipahami oleh orang lain; serta dapat
memahami pendapat atau ide orang lain dengan wajar dan baik. Apabila terperiksa
dapat memenuhi ketentuan-ketentuan tersebut di atas, ia dianggap cakap dan layak
untuk diajukan ke sidang pengadilan (competence and fit to stand trial). Mungkin
seseorang dianggap tidak cakap dan tidak layak yang dapat bersifat permanen
(menetap) atau temporer (sementara). Dalam keadaan tidak cakap dan tidak layak
yang bersifat sementara, maka terperiksa dapat lebih dulu diterapi dan diajukan ke

7
sidang pengadilan setelah sembuh. Sering pula terperiksa tidak menjadi sakit,
tetapi dalam sidang menjadi sangat tertekan sehingga tidak dapat berkomunikasi
dengan baik. Dalam keadaan seperti ini, terperiksa dapat didampingi oleh
seseorang yang ditunjuk atau disetujui oleh hakim.4

RAHASIA KEDOKTERAN
Rahasia kedokteran adalah suatu norma yang secara tradisional dianggap sebagai
norma dasar yang melindungu hubungan dokter dan pasien. Sesuai dengan sumpah
dokter, kode etik kedokteran internasional, dan peraturan oemerintah no.10 tahun
1966 yang mengatur kewajiban simpan rahasia kedokteran oleh seluruh tenaga
kesehatan. Namun dalam PP ini diberikan pengecualian apaiba terdapat Peraturan
Perundang-undangan (PP) yang sederajat atau lebih tinggi (UU), dalam pasal 48 ayat
(2):
Untuk kepentingan kesehatan pasien
Untuk memenuhi permintaan aparat penegak hukum dalam rangka penegakan
hukum
Permintaan pasien sendiri
Berdasarkan ketentuan undang-undang

Peraturan lain yang membenarkan pembukaan rahasia kedokteran antara lain adalah
ketentuan pasal 50 KUHAP, pasal 51 KUHAP, pasal 48 KUHAP, dan pasal 49
KUHAP. Dalam permenkes no.749a, rekam medis boleh dibuka untuk pendidikan dan
penelitian.

Dalam kaitannya dengan keadaan memaksa, dikenal dua keadaan yaitu:

1. Overmacth: pengaruh daya paksa yang memadai


2. Noodtoeestand: keadaan yang memaksa

Dapat diakibatkan pertentangan antara dua kepentingan hukum, pertentangan antara


kepentingan hukum dan kewajiban hukum, dan pertentangan antara dua kewajiban
hukum. Salah satu contoh noodtoestand adalah kasus dokter yang menemukan child
abuse yang berat dan dicurigai akan bertambah parah dihari kemudian.
Untuk memahami rahasia jabatan ditilik dari sudut hukum,tingkah laku seorang
dokter dibagi menjadi 2 jenis:

1. Tingkah laku yang bersangkutan dalam pekerjaan sehari-hari

8
Dalam hal ini yang harus diperhatikan ialah :
a. Pasal 322 KUHP yang berbunyi :
1) Barang siapa dengan sengaja membuka suatu rahasia, yang menurut jabatan
atau pekerjaannya, baik yang sekarang maupun yang dahulu ia diwajibkan
untuk menyimpannya, dihukum dengan pidana perkara paling lama
sembilan bulan atau denda paling banyak sembilan ribu rupiah.
2) Jika kejahatan itu dilakukan terhadap seorang yang tertentu,maka perbuatan
itu hanya dituntut atas pengaduan orang tersebut.

2. Tingkah laku dalam keadaan khusus


Menurut hukum, setiap warga Negara dapat dipanggil oleh pengadilan untuk
didengar sebagai saksi.Selain itu, seorang yang mempunyai keahlian dapat
dipanggil sebagai ahli. Dengan demikian, dapatlah terjadi, bahwa seorang yang
mempunyai keahlian, umpamanya seorang dokter, dipanggil sebagai saksi,
sebagai ahli sekaligus sebagai saksi ahli.

Sebagai saksi atau saksi ahli mungkin sekali ia diharuskan memberi keterangan
tentang seorang yang sebelum itu telah menjadi pasien yang diobatinya. Ini berarti ia
seolah-olah diharuskan melanggar rahasia pekerjaannya. Kejadian ini bertentangan
dan dapat dihindarkan karena adanya hak undur diri seperti yang tercantum dalam
pasal 277 reglemen Indonesia yang diperbaharui, bunyinya:

(1) Barang siapa yang martabatnya, pekerjaannya atau jabatannya yang sah,
diwajibkan menyimpan rahasia, boleh minta mengundurkan ddari memberi
penyaksian, akan tetapi hanya dan terutama mengenai hal yang diketahuinya
dan dipercayakan kepadanya karena martabatnya, pekerjaannya atau
jabatannya itu.
Dalam pasal 48 undang-undang No 29 tahun 2004 tentang praktik kedokteran pada
paragraph 4 mengenai rahasia kedokteran, dinyatakan bahwa setiap dokter atau
dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran wajib menyimpang rahasia
kedokteran. Rahasia kedokteran dapat dibuka hanya untuk kepentingan pasien,
memenuhi permintaan aparatur penegak hukum dalam rangka penegakan hukumn
permintaan pasien sendiri atau berdasarkan ketentuan undang-undang.

Kewajiban seorang dokter untuk menyimpan rahasia kedokteran telah diatur dalam:

A.
PP.No.10 tahun 1966.

9
1. Pasal 1 PP No 10/1966. Yang dimaksud dengan rahasia kedokteran ialah
segala sesuatu yang diketahui oleh orang-orang tersebut dalam pasal 3 pada
waktu atau selama melakukan pekerjaannya dalam lapangan kedokteran.
2. Pasal 2 PP No 10/1966. Pengetahuan tersebut pasal 1 harus dirahasiakan oleh
orang-orang yang tersebut dalam pasal 3, kecuali apabila sautu peraturan lain
yang sederajat atau lebih tinggi dari pada PP ini menentukan lain.
3. Pasal 3 PP No 10/1966. Yang diwajibkan menyimpan rahasia yang dimaksud
dalam pasal 1 ialah:
a. Tenaga kesehatan menurut pasal 2 UU tentang tenaga kesehatan.
b. Mahasiswa kedokteran, murid yang bertugas dalam lapangan pemeriksan,
pengobatan dan atau perawatan dan orang lain yang ditetapkan oleh
menteri kesehatan.
4. Pasal 4 PP No/1966.Terhadap pelanggaran ketentuan mengenai wajib simpan
rahasia yang tidak atau dapat dipidana menurut pasal 322 atau pasal 112
KUHP, menteri kesehatan dapat melakukan tindakan administratif berdasakan
pasal UU tentang tenaga kesehatan.
5. Pasal 5 PP No 10/1966. Apabila pelanggaran yang dimaksud dalam pasal 4
dilakukan oleh mereka yang disebut dalam pasal 3 huruf b, maka menteri
kesehatan dapat mengambil tindakan-tindakan berdasarkan wewenang dan
kebijaksanaannya.
B.
Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI)
1. Pasal 7c. Seorang dokter harus menghormati hak-hak pasien, hak-hak
sejawatnya, dan hak tenaga kesehatan lainnya, dan harus menjaga kepercayaan
pasien.
2. Pasal 12. Setiap dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya
tentang seorang pasien, bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia.

Pada dasarnya rahasia kedokteran harus tetap disimpan walaupun pasien tersebut telah
meninggal. Rahasia kedokteran ini begitu dijunjung tinggi dalam masyarakat,
sehingga walaupun dalam pengadilan meminta seorang dokter untuk membuka
rahasia kedokteran, seorang dokter memiliki hak tolak (verschoningsrecht). Hak ini
telah diatur dalam pasal 170 KUHAP, yang menentukan bahwa mereka yang
diwajibkan menyimpan rahasia pekerjaan/jabatan dapat minta dibebaskan dari
kewajiban untuk memberi keterangan sebagai saksi. Namun ayat kedua dari pasal 170
KUHAP tersebut membatasi hak tolak sesuai dengan pertimbangan hakim. Hal ini

10
tentunya diterapkan bila kepentingan yang dilindungi pengadilan lebih tinggi dari
rahasia kedokteran.3,7,8,9

PEMERIKSAAN FISIK

Pemeriksaan fisik tahanan ditujukan untuk memeriksa apakah tahanan tersebut benar
dalam keadaan sakit dan membutuhkan pengobatan segera. Kompetensi memeriksa
dan mengeluarkan surat rujukan berobat ke luar negri pada pasien bersatatus tahanan
hanya dimiliki oleh dokter spesialis atau dokter dari RS POLRI. Kemampuan kita
sebagai dokter umum hanya merujuk dan memberikan nasihat seperlunya.
Selanjutnya dokter RS POLRI akan menganalisis apakah penyakitnya harus mendapat
rujukan keluar negeri. Hal ini tergantung dengan keputusan hakim.10

INTERPRETASI HASIL

Pada kasus ini, dokter tidak memberikan surat keterangan dokter atau dalam hal ini
surat pengantar berobat ke Jepang. Hal ini dia tidak lakukan karena menurutnya tidak
sesuai dengan Kode Etik Profesi Kedokteran di Indonesia, dimana dokter tidak boleh
boleh memberikan surat keterangan dokter tanpa melakukan pemeriksaan medis
terlebih dahulu. Jika dia melakukan hal tersebut dan ada pihak ketiga yang dirugikan
maka dokter dan orang yang menggunakan surat keterangan tersebut bisa dikenakan
sanksi pidana.11

C. Kesimpulan
Pembuatan surat rujukan ke luar negri bagi seorang tahanan harus dipastikan
benar-benar apakah sangat membutuhkan atau tidak. Disini yang harus dijaga oleh
seorang dokter adalah untuk tetap menjaga rahasia kedokteran ialah pertama-tama
dokter harus menjelaskan kepada pasien bahwa harus membawa kakak
kandungnya untuk diperiksa dan surat-surat tidak bisa digunakan untuk keluar dari
tahanan, karena yang berwenang mengeluarkan surat tersebut yaitu dokter
forensik dan dokter dari kejaksaan. Setiap dokter dalam melakukan pekerjaannya
sehari-hari dituntut untuk memiliki sikap profesionalisme yaitu sikap yang
bertanggung jawab, sikap kompetensi dan wewenang yang sesuai waktu juga

11
tempat, sikap etis sesuai etika profesi, dan bekerja sesuai standard yang
ditetapkan.

Daftar Pustaka

1. Sampurna B, Syamsu Z, Siswaja TD. Bioetika. Bioetik dan hukum kedokteran. 2 nd ed.
Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik FK UI; 2007.
2. Kartono M. Diskusi panel tentang aspek hukum surat keterangan dokter dalam sistem
peradilan pidana. 2002 Oktober 3. Diunduh dari:
perpustakaan.bphn.go.id/index.php/searchkatalog/.../mhn030209.pdf, 6 Januari 2016.
3. Safitry O. Kompilasi peraturan perundang-undangan terkait praktik kedokteran.
Jakarta: Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal FK UI; 2014.
4. Wirasutta IMAG. Pengantar menuju ilmu forensik. Bali: Departemen of Pharmacy
Udayana University; 2009.
5. Hanafiah MJ, Amir A. Etika kedokteran dan hukum kesehatan. 4th ed. Jakarta: EGC;
2009.
6. Hanafiah MJ. Lafal Sumpah Dokter. Etika kedokteran & hukum kesehatan. 3 rd ed.
Jakarta: EGC; 1999.
7. Apuranto H. Buku ajar ilmu kedokteran forensik dan medikolegal. 7 th ed. Surabaya:
Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran
Universitas Airlangga; 2010.
8. Afandi D. Majalah Kedokteran Indonesia. Otopsi virtual. 2009.
9. Staf Pengajar Bagian Kedokteran Forensik FK UI. Psikologi forensik. 4th ed. Jakarta:
Bagian Kedokteran Forensik FK UI; 2006.
10. Gleadle J. At a Glance. Anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jakarta: Erlangga; 2007.
11. Budiyanto A, Widiatmaka W, Sudiono S, dkk . Ilmu kedokteran forensik. Jakarta:
Bagian Kedokteran Forensik FK UI; 2012.

12
13