Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM

TUMPANGSARI
Budidaya Tanaman Monokultur dan Tumpangsari

Dosen Pengampu :
Ir. Muqwin Asyim RA, M

Golongan : C

Nama Praktikan :
Siti Imroatul H. (A42151414)

PRODUKSI PERTANIAN
TEKNIK PRODUKSI TANAMAN PANGAN
POLITEKNIK NEGERI JEMBER
2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tumpangsari merupakan suatu usaha menanam beberapa jenis tanaman
pada lahan dan waktu yang sama, yang diatur sedemikian rupa dalam barisan-
barisan tanaman. Penanaman dengan cara ini bisa dilakukan pada dua atau lebih
jenis tanaman yang relatif seumur, misalnya jagung dan kacang kedelai atau bisa
juga pada beberapa jenis tanaman yang umurnya berbeda-beda. Untuk dapat
melaksanakan pola tanam tumpangsari secara baik perlu diperhatikan beberapa
faktor lingkungan yang mempunyai pengaruh di antaranya ketersediaan air,
kesuburan tanah, sinar matahari dan hama penyakit. Sistem tanam tumpangsari
mempunyai banyak keuntungan yang tidak dimiliki pada pola tanam monokultur.
Monokultur, adalah menanam sejenis tanaman pada satu lahan. Beberapa
keuntungan pada pola tumpangsari antara lain: 1) akan terjadi peningkatan
efisiensi (tenaga kerja, pemanfaatan lahan maupun penyerapan sinar matahari), 2)
dalam satu areal diperoleh produksi lebih dari satu komoditas, 3) tetap
mempunyai peluang mendapatkan hasil manakala satu jenis tanaman yang
diusahakan gagal dan 4) kombinasi beberapa jenis tanaman dapat menciptakan
beberapa jenis tanaman dapat menciptakan stabilitas biologis sehingga dapat
menekan serangan hama dan penyakit serta mempertahankan kelestarian sumber
daya lahan dalam hal ini kesuburan tanah.
Berdasarkan uraian di atas dilakukan praktikum tentang Pertumbuhan
dan hasil tanaman monokultur jagung (Zea mays L.), kedelai (Glycine max L.),
kacang tanah, kacang hijau dan tumpangsari jagung (Zea mays L.) yang
ditumpangsari dengan kedelai (Glycine max L.), jagung (Zea mays L.) dengan
kacang tanah, jagung (Zea mays L.) dengan kacang hijau.
1.2 Tujuan dan Manfaat

1). Mahasiswa dapat mengenal monokultur dan tumpangsari serta dapat


mempelajari teknis budidaya secara monokultur dan tumpang sari
2). Mahasiswa dapat membandingkan pertumbuhan dan produksi secara
monokultur dan tumpang sari.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tanaman Jagung dan syarat tumbuh


Tanaman jagung termasuk famili rumput-rumputan (graminae) dari sub famili
myadeae. Dua famili yang berdekatan dengan jagung adalah teosinte dan
tripsacum yang diduga merupakan asal dari tanaman jagung. Teosinte berasal dari
Meksico dan Guatemala sebagai tumbuhan liar didaerah pertanaman jagung.
Jagung merupakan tanaman berumah satu Monoecious dimana letak bunga jantan
terpisah dengan bunga betina pada satu tanaman. Jagung termasuk tanaman C4
yang mampu beradaptasi baik pada faktor-faktor pembatas pertumbuhan dan
hasil. Salah satu sifat tanaman jagung sebagai tanaman C4, antara lain daun
mempunyai laju fotosintesis lebih tinggi dibandingkan tanaman C3, fotorespirasi
rendah, efisiensi dalam penggunaan air (Muhadjir, 1988).
Jagung mempunyai akar serabut dengan tiga macam akar, yaitu (a) akar
seminal, (b) akar adventif, dan (c) akar kait atau penyangga. Akar seminal adalah
akar yang berkembang dari radikula dan embrio. Pertumbuhan akar seminal akan
melambat setelah plumula muncul ke permukaan tanah dan pertumbuhan akar
seminal akan berhenti pada fase V3. Akar adventif adalah akar yang semula
berkembang dari buku di ujung mesokotil, kemudian setelah takar adventif
berkembang dari tiap buku secara berurutan dan terus keatas antara7-10 buku,
semuanya di bawah permukaan tanah. Akar adventif berkembang menjadi serabut
akar tebal. Akar seminal hanya sedikit berperan dalam siklus hidup jagung. Akar
adventif berperan dalam pengambilan air dan hara. Perkembangan akar jagung
(kedalaman dan penyebarannya) bergantung pada varietas, pengolahan tanah,
fisik dan kimia tanah, keadaan air tanah, dan pemupukan. Akar jagung dapat
dijadikan indikator toleransi tanaman terhadap cekaman aluminium. Tanaman
yang toleran aluminium, tudung akarnya terpotong dan tidak mempunyai bulu-
bulu akar (Syafruddin, 2002).
Tanaman jagung mempunyai batang yang tidak bercabang, berbentuk
silindris, dan terdiri atas sejumlah ruas dan buku ruas. Pada buku ruas terdapat
tunas yang berkembang menjadi tongkol. Dua tunas teratas berkembang menjadi
tongkol yang produktif. Batang memiliki tiga komponen jaringan utama, yaitu
kulit (epidermis), jaringan pembuluh (bundles vaskuler), dan pusat batang (pith).
Daun jagung mulai terbuka sesudah koleoptil muncul di atas permukaan tanah.
Setiap daun terdiri atas helaian daun, ligula, dan pelepah daun yang erat melekat
pada batang. Jumlah daun sama dengan jumlah buku batang. Jumlah daun
umumya berkisarantara 10-18 helai, rata-rata munculnya daun yang terbuka
sempurna adalah 3-4 hari setiap daun. Tanaman jagung di daerah tropis
mempunyai jumlah daun relatif lebih banyak dibanding di daerah beriklim sedang
(temperate) (Paliwal 2000). Daun jagung muncul dari buku-buku batang,
sedangkan pelepah daun menyelubungi ruas batang untuk memperkuat batang.
Panjang daun bervariasi antara 30-150 cm dan lebar daun 4-15 cm dengan ibu
tulang daun yang sangat keras. Tepi helaian daun halus dan kadang-kadang
berombak (Muhadjir, 1988).
Bunga jantan terletak dipucuk yang ditandai dengan adanya malai atau
tassel dan bunga betina terletak di ketiak daun dan akan mengeluarkan stigma.
Bunga jagung tergolong bunga tidak lengkap karena struktur bunganya tidak
mempunyai petal dan sepal dimana organ bunga jantan (staminate) dan organ
bunga betina (pestilate) tidak terdapat dalam satu bunga disebut berumah satu
(Rochani, 2007).
Tanaman jagung mempunyai satu atau dua tongkol, tergantung varietas.
Tongkol jagung diselimuti oleh daun kelobot. Tongkol jagung yang terletak pada
bagian atas umumnya lebih dahulu terbentuk dan lebih besar dibanding yang
terletak pada bagian bawah. Setiap tongkol terdiri atas 10-16 baris biji yang
jumlahnya selalu genap. Biji jagung disebut kariopsis, dinding ovari atau perikarp
menyatu dengan kulit biji atau testa, membentuk dinding buah. Biji jagung terdiri
atas tiga bagian utama, yaitu (a) pericarp, berupa lapisan luar yang tipis, berfungsi
mencegah embrio dari organisme pengganggu dan kehilangan air; (b) endosperm,
sebagai cadangan makanan, mencapai 75% dari bobot biji yang mengandung
90% pati dan 10% protein, mineral, minyak, dan lainnya; dan (c) embrio
(lembaga), sebagai miniatur tanaman yang terdiri atas plamule, akar radikal,
scutelum, dan koleoptil (Subekti, Syafruddin, Roy Efendi, dan Sri Sunarti, 2010).
Secara umum tanaman jagung dapat tumbuh pada daerah dengan
ketinggian 0-1.300 m dari permukaan laut dan dapat hidup baik di daerahpanas
maupun dingin (Badan Pengendali Bimas, 1983). Menurut Sutoro, Sulaiman,
dan Iskandar (1988) bahwa selama pertumbuhannya, tanaman jagung harus
mendapatkan sinar matahari yang cukup karena sangat mempengaruhi
pertumbuhannya. Muhadjir (1988) menambahkan bahwa jumlah radiasi surya
yang diterima tanaman selama fase pertumbuhan merupakan faktor yang penting
untuk penentuan jumlah biji. Selanjutnya Badan Pengendali Bimas (1983)
menambahkan bahwa intensitas cahaya merupakan faktor penting dalam
pertumbuhan tanaman jagung oleh sebab itu tanaman jagung harus mendapatkan
cahaya matahari langsung. Bila kekurangan cahaya batangnya akan kurus, lemah,
dan tongkol kecil serta hasil yang didapatkan rendah.
Tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman jagung adalah subur,
gembur, banyak mengandung bahan organik, aerase dan drainasenya baik.
Jagung dapat tumbuh baik pada berbagai jenis tanah asalkan mendapatkan
pengolahan yang baik. Tanah dengan tekstur lempung berdebu adalah yang
terbaik untuk pertumbuhannya. Tanah-tanah dengan tekstur berat masih dapat
ditanami jagung dengan hasil yang baik bila pengelolaan tanah dikerjakan secara
optimal, sehingga aerase dan ketersediaan air di dalam tanah berada dalam kondisi
baik. Kemasaman tanah (pH) yang baik untuk pertumbuhan tanaman jagung
berkisar antara 5,6 7,5 (Rochani, 2007).
B. Tanaman Kedelai dan Syarat tumbuhnya
Tanaman Kedelai merupakan tanaman polong-polongan yang memiliki
beberapa nama botani yaitu Glycine max (kedelai kuning) dan glycine soja
(kedelai hitam). Secara lengkap, tanaman kedelai mepunyai klasifikasi sebagi
berikut: Kingdom: plantae, divisio: spermatopyta, subdivision: Angiospermae,
Kelas: Dikotyledoneae, Subkelas: Archihlamyadae, Ordo: Rosales, Subordo:
Leguminosinae, Famili: Leguminosae, Subfamili polilonaceae, Genus: Glycine,
Spesies: Glycine max.L Merril (Adisarwanto 2005).
Menurut Pitojo (2003), cirri khas tanaman kedelai yaitu batang tanaman
kedelai berkayu dan tingginya berkisar antara 30-1000 cm, memiliki 3-5
percabanagn dan berbentuk tanaman perdu. Tipe pertumbuhan batang dapat
dibedakan menjadi terbatas (determinet), tidak terbatas (indeterminet), dan
setengah terbatas (semi-determinet). Tipe terbatas memiliki ciri khas berbunga
serentak dan mengakiri pertumbuhan meninggi jika sudah berbunga. Tanaman
pendek sampai sedang , ujung batang hampir sama besar dengan batang bagian
tengah daun teratas sama besar dengan daun batng tengah. Tipe tidak terbatas
memiliki cirri berbunga secara bertahap dari bawah keatas. Tanaman berpostur
sedang sampai tinggi, ujung batang lebih kecil dari bagian tengah. Tipe setengah
terbatas memiliki karateristik antara kedua tipe lainnya (Adisarwanto 2005).
Di Indonesia kedelai dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik. Pada pH
tanah 5,8 7 tanaman ini dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah asalkan drainase
dan aerasi tanah cukup baik, disamping itu tanaman kedelai merupakan salah satu
tanaman yang peka terhadap pH rendah (Margarettha, 2002). Kesesuain pH pada
tanah dapat meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan akar tanaman, Hakim
et all 1986 melaporkan pH tanah dipengaruhi oleh kejenuhan basa, sifat misel
(koloid) dan macam kation yang terjerap pada lapisan tanah.
Tanaman kedelai juga berproduksi dengan baik pada dataran rendah
sampai 900 m dpl, dan mampu beradaptasi didataran tinggi sampai 1.200 m
dpl. Kedelai tumbuh baik pada daerah yang memiliki curah hujan 100-400
mm/bulan, dengan suhu yang cocok antara 230 C 300 C, serta kelembapan
antara 60 70%. Kedelai juga merupakan salah satu tanaman yang dapat
dibudidayakan pada lahan pasang surut dengan hasil yang cukup tinggi, namun
cara budidayanya berbeda dari lahan sawah irigasi dan lahan kering ( Purwono
dan Purwati, 2007).
Fachrudin (2000) menjelaskan, perakaran tanaman kedelai terdiri dari
akar lembaga, akar tunggang dan akar cabang berupa akar rambut yang dapat
membentuk bintil akar dan merupakan koloni bakteri riozobium japanicum.
Akar tunggangnya dapat menembus tanah yang gembur sedalam 150 cm
sedangkan bintil akar nya mulai terbentuk pada umur 15-20 hari setelah tanam.
Antara bakteri rhyzobium sp. dan tanaman kedelai terjadi kerja sama yang
saling menguntungkan. Tanaman kedelai memberikan karbohidrat dan
perlindungan pada bakteri, dan sebaliknya bakteri mengkonversi nitrogen
atmosfire menjadi bentuk yang komplek.
Kedelai memiliki dua tipe pertumbuhan batang, yaitu determinet dan
indeterminet. Pertumbuhan batang determinet ditunjukkan dengan batang yang
tidak tumbuh lagi pada saat tanaman mulai berbunga, sedangkan pertumbuhan
indeterminet dicirikan bila pucuk batang tanaman masih bisa tumbuh daun,
walaupun tanaman sudah mulai berbunga pada batang terdapat buku tempat
tumbuhnya bunga, terdiri 15-30 buah dan biasanya jumlah buku batang
indeterminet lebih banyak dibandingkan determinet (Adisarwanto,2008).
Purwono dan Purwati (2007) melaporkan bahwa kedelai mempunyai
empat tipe daun yang berbeda yaitukotiledon atau daun biji, daun primer
sederhana, daun bertiga dan daun profilia. Pada pada buku (nodus) pertaman
tanaman yang tumbuh dari biji terbentuk sepasang daun tunggal selanjutnya
Andrianto dan Indarto (2004) menambahkan bentuk daun kedelai umunya
berbentuk bulat (oval) dan lancip serta berbulu. Daun kedelai merupakan tanaman
majemuk yang terdiri dari tiga helai anak daun dan umunya berwarna hijau muda
atau hijau kekuning-kuningan, pada saat sudah tua dau-daunnya akan rontok.
Bunga kedelai termasuk bunga sempurna dimana setiap bunga mempunyai
alat kelamin jantan dan alat kelamin betina. Penyerbukan terjadi pada saat
mahkota bunga masih menutup sehingga kemungkinan kawin silang alami amat
kecil. Bunga terletak pada ruas-ruas batang, berwarna ungu atau putih. Tidak
semua bunga dapat menjadi polong walaupun terjadi penyerbukan secara
sempurna, sekitar 60% bunga rontok sebelum membentuk polong. Buah kedelai
berbentuk polong, setiap tanaman mampu menghasi lkan 100-250 polong. Polong
kedelai berbulu dan berwarna kuning kecoklatan atau abu-abu. Selama proses
pematamgan buah, polong yang mula-mula berwarna hijaukan berubah menjadi
coklat kehitaman (Adisarwanto, 2005).
Tanaman kedelai harus dipanen pada tingkat kematangan biji yang tepat.
panen yang terlalu awal menyebabkan banyak butir kedelai menjadi keriput
sedangkan jadwal panen yang terlambat akan mengakibatkan meningkatnya butir
yang rusak dan kehilangan biji yang tinggi yang disebabkan oleh biji yang mudah
rontok. Ciri-ciri kedelai siapuntuk dipanen adalah daunnya telah menguning, dan
mudah rontok, polong biji mongering dan berwarna kecoklatan. Hasil produksi
kedelai lokal optimal mencapai 2 ton per hektar dengan masa tanam sekitar 75
hari atau maksimal tiga bulan (Purwono, 2007).

C. Tumpang sari Jagung dengan Kedelai.


Pola tanam tumpangsari merupakan sistem pengelolaan lahan pertanian
dengan mengkombinasikan intensifikasi dan diversifikasi tanaman. Tumpangsari
merupakan bagian dari multiple cropping yaitu penanaman lebih dari satu
tanaman pada waktu yang bersamaan atau selama periode tanam pada satu tempat
yang sama. Tanaman yang ditanam secara tumpangsari sebaiknya mempunyai
umur atau periode pertumbuhan yang tidak sama, karena mempunyai perbedaan
kebutuhan terhadap faktor lingkungan seperti air, kelembaban, cahaya dan unsur
hara tanaman, karena itu akan mempengaruhi pertumbuhan dan hasil kedua
tanaman tersebut (Frina, Ratna dan Farida, 2000).
Kedelai dan jagung yang ditanam secara tumpangsari akan terjadi
kompetisi dalam memperebutkan unsur hara, air dan sinar matahari. Sehingga
pengaturan populasi dan pengaturan selang waktu tanam penting untuk
mengurangi terjadinya kompetisi tersebut (Subhan,1989). Diantara faktor iklim
yang penting dan langsung mempengaruhi dalam pola tanam ganda terutama
faktor cahaya, sebab tanaman kedelai merupakan tanaman yang peka terhadap
intensitas cahaya.
Menurut beberapa hasil penelitian, produksi jagung maupun
kedelai akan turun apabila tanaman tersebut ternaungi. Hasil penelitian Barus dan
Afriani (2004), penundaan saat tanam 10 hari setelah jagung dengan populasi
40.000 tanaman per hektar dapat menurunkan hasil 67%. Hasil penelitian Indriati
(2009), juga menunjukkan dimana populasi tiga kedelai dan satu jagung
menunjukkan pertumbuhan kedelai yang meningkat tetapi menekan pertumbuhan
jagung. Populasi dan saat tanam sangat penting pada sistem tanaman ganda,
terutama pada tanaman yang peka terhadap naungan. Untuk mengurangi pengaruh
tersebut, waktu tanam dan populasi kedelai dan jagung perlu diatur agar pada
periode kritis dari suatu pertumbuhan terhadap persaingan dapat ditekan.
Tanaman kedelai termasuk tanaman yang membutuhkan sinar matahari
penuh. Intensitas cahaya dan lama penaungan mempengaruhi pertumbuhan dan
hasil kedelai. Penurunan intensitas cahaya menjadi 40% sejak perkecambahan
mengakibatkan penurunan jumlah buku, cabang, diameter batang, jumlah polong
dan hasil biji serta kadar protein. Tanaman kedelai yang dinaungi atau
ditumpangsarikan akan mengalami penurunan hasil 6-52% pada tumpangsari
kedelai dan jagung dan 2-56% pada tingkat naungan 33% (Asadi, et al. 2007).
Jenis komoditas yang dihasilkan beragam, hemat pemakaian sarana
produksi dan resiko kegagalan dapat diperkecil, memperkecil erosi, bahkan cara
ini berhasil mempertahankan kesuburan tanah. Keuntungan agronomis dari
pelaksanaan sistem tumpangsari dapat dievaluasi dengan cara menghitung nisbah
kesetaraan lahan. Nisbah kesetaraan lahan > 1 berarti menguntungkan.
Produktivitas lahan pada sistem tumpangsari dihitung berdasarkan nisbah
kesetaraan lahan (NKL). Tanaman yang saling menguntungkan maka nilai NKL
didapat lebih dari satu. Apabila salah satu spesies tanaman tertekan (tidak saling
menguntungkan) maka nilai NKL kurang dari satu (Frina, et al. 2000).
BAB III
METODOLOGI

3.1 Tempat Dan Waktu


Pelaksanaan Praktikum Tumpangsari di laksanakan di lahan Politeknik
Negeri Jember Pada Hari Jum.at 23 September 2016 s/d 9 Januari 2017 (Panen)

3.2 Alat dan Bahan


Alatalat yang digunakan dalam kegiatan praktikum ini :

1 Cangkul 6) Meteran kain


2 Kored 7) Ember
3 Tali Rafia 8) Label nama
4 Kenco 9) Tugal
5 Sabit
Bahan-bahan yang digunakan adalah sebagai berikut:

1 Benih jagung manis, kedelai edamame, kacang tanah, kacang hijau


2 Pupuk (Urea, KCL,SP-36)
3. Pestisida furadan

3.3 Prosedur Kerja


a Perlakuan
Ukuran petak tanam adalah 4x5 m, tanaman jagung sebagai tanaman
pokok dan tanaman kedelai sebagai tanaman sela.

Perlakua Mono/tumpangsari Jarak tanam


n
1. monokultur jagung 60x20 cm
2. monokultur kedelai 40x20 cm
3. monokultur kacang tanah 40x20 cm
4. monokultur kacang hijau 40x20 cm
5. tumpangsari jagung + kedelai 1 m + (40x20 cm)
6. tumpangsari jagung + kacang tanah 1 m + (40x20 cm)
7. tumpangsari jagung + kacang hijau 1 m + (40x20 cm)
b Penanaman
Jarak tanam jagung mono 60x20 cm dan tumpang sari 100 cm x 20 cm, jarak
tanam kedelai baik mono maupun tumpangsari 40x20 cm. Tanaman kedelai
sebagai tanaman sela pada perlakuan (5) ditanam tepat ditengah antar barisan
jagung. Dengan jarak tanam dalam barisan 20 cm. Penanaman yang saya lakukan
adalah pada perlakuan ke-5 tumpangsari jagung + kedelai

c Perhitungan Kebutuhan Benih


Pada perlakuan ke-5 Tumpangsari Jagung + kedelai :
Tumpangsari jagung
-jarak tanam 1m x 20 cm
-Daya kecambah 96 %
-jumlah tiap lubang 1
-berat/100 benih 16 gr/100
Rumus :

populasi=3 x 23=69 tan


100 110 16
kebutuhan benih=69 x x x1 x
96 100 100

= 12,6 jadi 13 gr/bedeng

Tumpangsari Kedelai
-jarak tanam 40 cm x 20 cm
-Daya kecambah 86 %
-jumlah tiap lubang 2
-berat/100 benih 48 gr/100
Rumus :

populasi=8 x 23=184 tan


100 110 48
kebutuhan benih=184 x x x 2x
86 100 100

= 225,93 jadi 226 gr/bedeng


d Langkah-langkah Penanaman
1 Membalik tanah dengan cangkul untuk penggemburan dan kesuburan tanah
2 Menentukan jarak tanam dengan menggunakan kenco dengan pengaturan jarak
tanam yang sudah disesuaikan.
3 Arah barisan tanaman menghadap utara berisi tanaman Timur dan Barat.
4 Membuat lubang tanam dengan tugal sedalam 2-3 cm, masukan benih untuk
jagung 1 benih ke lubang, kedelai 2 benih per lubang
5 Pemupukan dilakukan pada jagung dengan membuat lubang di selasela
tanaman jagung
6 Campurkan pupuk Urea, SP 36 dan KCL secara merata, setelah itu masukkan
dalam masing-masing lubang 2 sendok.
7 Tutup lubang pupuk dan lubang tanam dengan tanah yang gembur .
8 Memasang label nama yang telah disiapkan dan diberi identitas praktikan
9 Siram air secukupnya pada lahan karna kering

3.4 Pelaksanaan Praktikum

Rangkaian proses pelaksanaan praktikum:

1). Pengarahan Praktikum

Dimulai dari pertemuan pertama sebelum melakukan praktikum dan


dilakukan didalam ruang TPP lapang. Pada tahap ini diberikan panduan dan
pengarahan sebelum melakukan praktikum pada tanggal 23 september 2016.

2). Pembersihan Areal Tanam

Pertama kalinya turun kelahan pada 23 september 2016, pada tahap ini
seluruh mahasiswa membersihkan lahan tanaman dari ilalang dan gulma disekitar
lahan. Pembersihan dilakukan dengan menggunakan tangan secara langsung
maupun dengan menggunakan alat seperti cangkul, parang dan kored.

3). Pengolahan Lahan


Pengolahan lahan dilakukan dengan menggunakan cangkul yakni pada
tanggal 23 september 2016 dikerjakan pada pagi hari dan dilanjutkan pada 30
september 2016. Luas lahan yang diolah adalah 4x5 m tiap mahasiswa, tanah
dicangkul sehingga menjadi gembur.

4). Penanaman

Pada tanggal 30 september semua mahasiswa melakukan penanaman pada


lahan yang telah selesai diolah dan ditata sesuai dengan perlakuan masing-masing.
Penanaman dilakukan serempak oleh semua mahasiswa pada pagi hari, caranya
yaitu :

a Pada setiap barisan di lubangi sedalam 2-3 cm dengan menggunakan tugal,


setiap barisan terdapat sebanyak 23 lubang tanam.
b Setelah dibuat lubang tanam memasukan benih kacang kedelai masing
masing 2 butir dan jagung masing-masing 1 butir pada setiap lubang.
c Menutupi lubang tanam tersebut dengan tanah disekitar lahan secara
perlahan agar tanah tidak menjadi padat.

5). Pemberian Pupuk

Setelah proses penanaman selesai tahap selanjutnya adalah pemberian


pupuk pada lahan tanaman. Pupuk yang digunakan adalah Urea, SP 36 dan KCL.
Pemupukan diawali dengan pembuatan lubang pupuk disela-sela lubang tanam
sekitar 10 cm. mencampurkan pupuk urea. SP 36 dan KCL kemudian menabur
pupuk kedalam lubang yang telah dibuat dari ujung keujung secara merata, setelah
itu tutup alur tersebut dengan tanah gembur.

6). Penyiraman

Setelah proses pemberian pupuk selesai tahap selanjutnya adalah dengan


melakukan penyiraman pada lahan yang telah ditanami. Penyiraman dilakukan
untuk menjaga agar permukaan tanah tetap lembab dan tidak kekeringan.
Penyiraman dilakukan sebanyak 2 kali dalam sehari yakni pada pagi dan sore hari
selama proses penanaman kecuali pada kondisi hujan.

7). Pemeliharaan
Selama proses penanaman berlangsung dilakukan beberapa pemeliharaan ,
yaitu :
a Penyulaman
Sulam benih yang tidak tumbuh atau mati, untuk penyulaman lebih cepat
lebih baik (setelah yang lain kelihatan tumbuh 3-7 hari setelah tanam).
d Penyiangan dan Pembumbunan Penyiangan dilakukan 2 kali umur 1 dan
beberapa minggu kemudian. Pembumbunan dilakukan bersamaan dengan
penyiangan untuk memperkokoh posisi batang agar tanaman tidak mudah
rebah dan menutup akar yang bermunculan di atas permukaan tanah karena
adanya aerasi Tanah di sebelah kanan dan kiri barisan tanaman diuruk
dengan cangkul, kemudian ditimbun di barisan tanaman. Dengan cara ini
akan terbentuk guludan yang memanjang.
8). Panen

Pemanenan jagung dilakukan pada tanggal 9 Desember 2016 pada jam 9


pagi hari, panen kedelai dilakukan pada 9 Januari 2017 semua hasil panen dibawa
ke lab ditimbang untuk keperluan laporan.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan


Tabel 1. Hasil Produksi Monokultur
1. Monokultur Jagung 2. Monokutur Kedelai
Golongan Rata-rata Berat Golongan Rata-rata Berat
(kg) (kg)
A 3,8 A 3,76
B 3,83 B 3,60
C 6,23 C 1,07
D 8,43 D 2,03
Rata-rata 5,57 Rata-rata 2,61
3. Monokultur Kacang Tanah 4. Monokutur Kacang Hijau
Golongan Rata-rata Berat Golongan Rata-rata Berat
(kg) (kg)
A 2,06 A 0,52
B 1,67 B 0,65
C 4,07 C 1,23
D 0,73 D 0,88
Rata-rata 2,13 Rata-rata 0,82

Tabel 2. Hasil Produksi Tumpangsari


1. Tumpangsari Jagung + Kedelai
Golongan Komoditas Rata-rata Berat (kg)
A Jagung 2,13
Kedelai 0,12
B Jagung 4,93
Kedelai 1,43
C Jagung 2,43
Kedelai 2,30
D Jagung 1,33
Kedelai 1,36
2. Tumpangsari Jagung + Kacang Tanah
Golongan Komoditas Rata-rata Berat (kg)
A Jagung 1,23
Kacang Tanah 2,03
B Jagung 1,83
Kacang Tanah 3,33
C Jagung 2,07
Kacang Tanah 3,60
D Jagung 0,63
Kacang Tanah 1,6
3. Tumpangsari + Kacang Hijau
Golongan Komoditas Rata-rata Berat (kg)
A Jagung 0,4
Kacang Hijau 0,83
B Jagung 0,00
Kacang Hijau 0,23
C Jagung 1,83
Kacang Hijau 0,75
D Jagung 0,61
Kacang Hijau 0,16

Tabel 3. Rata-rata Hasil Poduksi Monokultur dan Tumpangsari


Rata-Rata
Pola Tanam Komoditas Jumlah(Kg)
(kg)
Jagung 16,73
Kedelai 7,85
Monokultur 34,49
Kacang hijau 2,47
Kacang tanah 7,45
Jagung + Kacang Hijau
Jagung 2,14
Kacang Hijau 1,49
Jagung + Kacang Tanah
Tumpangsari Jagung 4,33 27,92
Kacang tanah 7,93
Jagung + Kedelai
Jagung 8,13
Kedelai 3,92

Tabel 4. Perbandingan Hasil Produksi monokultur dan tumpangsari


Pola tanam Jagun Kedela Kacang tanah Kacang hijau
g i
Tumpangsari 14,6 3.92 7,93 1,49
Monokultur 16,75 7,85 7,45 2,47
Perbandinga T<M T<M T>M T<M
n
Ket: T=tumpangsari M=monokultur

4.2 Pembahasan
Monokultur dan Tumpang Sari
Pertanaman tunggal atau monokultur adalah salah satu cara budidaya di
lahan pertanian dengan menanam satu jenis tanaman pada satu areal. Monokultur
menjadikan penggunaan lahan efisien karena memungkinkan perawatan dan
pemanenan secara cepat dengan bantuan mesin pertanian dan menekan biaya
tenaga kerja karena wajah lahan menjadi seragam. Kelemahan utamanya adalah
keseragaman kultivar mempercepat penyebaran organisme pengganggu tanaman
(OPT, seperti hama dan penyakit tanaman).
Tumpang sari (intercropping), adalah melakukan penanaman lebih dari
satu tanaman yang memiliki umur sama atau berbeda. Sistem tanam tumpangsari
adalah menanam beberapa jenis tanaman dalam satu lahan. Sistem tumpangsari
memberikan beberapa manfaat bagi petani yakni antara lain mengurangi biaya
pengolahan lahan, mudah dalam menanggulangi hama, memudahkan proses
pembersihan atau penyiangan dan yang terakhir adalah meningkatkan hasil
produksi atau panen. Kekurangan sistem tumpangsari adalah apabila pemilihan
jenis tanaman tidak sesuai, sistem polikultur dapat memberzi dampak negatif,
misalnya terjadi persaingan unsur hara antar tanaman dan OPT banyak sehingga
sulit dalam pengendaliannya (Jarwani, 2007).
Berdasarkan hasil praktikum budidaya monokultur dan tumpangsari yang
telah dilaksanakan, didapat hasil produksi rata-rata komoditas setiap golongan
dengan Rata rata hasil panen melakukan pola tanam monokultur Jagung seberat
16,73 kg, kedelai 7,85 kg, kacang hijau 2,47 kg, dan kacang tanah 7,45 kg ,
sedangkan rata rata hasil panen pada pola tanam tumpangsari Jagung + kedelai
masing-masing seberat 8,13 kg dan 3,92 Kg, tumpangsari jagung + kacang tanah
masing-masing seberat 4,33 kg dan 7,93 kg, tumpangsari jagung + kacang hijau
masing-masing seberat 2,14 kg dan 1,49.
Hasil Perbandingan produksi monokultur dan tumpangsari yaitu hasil
produksi jagung tumpangsari kurang dari Monokultur masing-masing seberat 14,6
kg dan 16,75 kg, produksi kedelai tumpangsari kurang dari Monokultur masing-
masing seberat 3,92 kg dan 7,85 kg, , produksi kacang tanah tumpangsari lebih
dari Monokultur masing-masing seberat 7,93 kg dan 7,45 kg, produksi kacang
hijau tumpangsari kurang dari Monokultur masing-masing seberat 1,49 kg dan
2,47 kg.
Hasil ini menunjukkan bahwa pelaksanaan sistem tumpangsari mengalami
Keuntungan agronomis karena setelah saya evaluasi pelaksanaan sistem
tumpangsari dengan cara menghitung nisbah kesetaraan lahan. Nisbah kesetaraan
lahan > 1 berarti menguntungkan. Sesuai dengan teori (Frina, et al. 2000).
Produktivitas lahan pada sistem tumpangsari dihitung berdasarkan nisbah
kesetaraan lahan (NKL). Tanaman yang saling menguntungkan maka nilai NKL
didapat lebih dari satu. Apabila salah satu spesies tanaman tertekan (tidak saling
menguntungkan) maka nilai NKL kurang dari satu (Frina, et al. 2000).
Sesuai dengan pernyataan Guritno (2011) bahwa sistem tanam
tumpangsari dapat memanfaatkan lingkungan yang ada semaksimal mungkin dan
adanya perbedaan lebar kanopii daun dan sistem perakaran antara tanaman yang
diusahakan akan dapat menggunakan lingkungan sekitarnya secara optimal.
Pada hasil ratarata perbandingan monokultur seluruh varibel perlakuan
tanaman jagung, kedelai, kacang tanah dan kacang hijau memiliki hasil yang tidak
begitu jauh dengan perlakuan tumpangsari. Evaluasi keberhasilan suatu bentuk
pola tanam tumpangsari dapat dilihat dengan cara mengevaluasi effisiensi
penggunaan lahan (Land Equivalent Ratio/LER). Berdasarkan nilai Land
Equivalent Ratio (LER) menunjukkan bahwa sistem tumpangsari tanaman
jagung+kedelai, jagung+kacang tanah, jagung+kacang hijau mampu
meningkatkan produktivitas lahan.
Hasil produksi monokultur dan tumpangsari ini seharusnya bisa lebih baik
jika saja pelaksanaan teknis budidayanya optimal dan di imbangi dengan teknis
perawatan yang benar. Seperti Budidaya yang saya lakukan yaitu Tumpangsari
jagung+kedelai hasil yang saya peroleh tidak optimal. Karna adanya faktot-faktor
penyebab kegagalannya, yaitu dari faktor:
a) Penyipan lahan
Pengolahan tanah yang saya kerjakan berukuran 4 m x 5 m Pengolahan
tanah ini saya lakukan dengan cangkul agar tanah menjadi gembur. Selain
membuat tanah menjadi gembur, pengolahan tanah akan dapat menghilangkan
gulma. Namun dalam pembuatan saluran air untuk mengalirkan air (parit) tidak
terlalu dalam dan tersumbat akibatnya saat hujan tanah akar tanaman jagung
maupun kedelai menjadi tergenang.
b) Penyiapan benih
Benih yang disediakan adalah benih jagung manis dan kedelai edamame
namun pada saat penanaman benih edamame yang ditanam tidak mengalami
perkecambahan dan busuk, hal ini karena viabilitasnya rendah, untuk menutupi
produktifitas maka benih diganti dengan kedelai biasa namun demikian karna
keegoisan saya kedalai edamame tetap saya pertahankan untuk di tanam.
c) Pemeliharaan
Perawatan atau pemeliharaan tanaman meliputi beberapa kegiatan antara
lain penyulaman, penyiangan dan pembumbunan. Penyulaman sendiri saya
lakukan tidak tepat waktu dan terjadi kekosongan menjadikan banyak gulma yang
tumbuh, biasanya penyulaman dilakukan pada hari ke 4-7 namun saya lakukan
pada 2 minggu setelah tanam. akibatnya jarak tumbuh tanaman cukup jauh proses
penyerbukan bunga jantan dan betina tidak maksimal yang berpengaruh pada hasil
produksi tanaman jagung, hal ini juga menyebabkan kedelai edamame tidak
tumbuh dengan baik. kedelai edamame juga dilakukan penyulaman namun
benihnya tidak tersedia atau habis dan disulam dengan kedelai biasa. Pemupukan
dilakukan dua kali yaitu pada saat tanam dan pada saat tanaman telah berumur
satu bulan. Problem dari pemupukan ini adalah ketidak pemerataan pembagian
pupuk menjadikan pupuk yang diberikan pada tanaman tidak maksimal.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari praktikum ini yang dapat saya simpulkan yaitu :
1. Pola tanam secara monokultur dan tumpngsari mempunyai kekurangan
dan kelebihan
2. Pada hasil ratarata perbandingan monokultur seluruh varibel perlakuan
yaitu tanaman jagung, kedelai, kacang tanah dan kacang hijau memiliki
hasil yang tidak begitu jauh dengan perlakuan tumpangsari
3. Hasil produksi menunjukkan bahwa pelaksanaan sistem tumpangsari
mengalami Keuntungan agronomis.
4. Berdasarkan nilai Land Equivalent Ratio (LER) menunjukkan bahwa
sistem tumpangsari tanaman jagung+kedelai, jagung+kacang tanah,
jagung+kacang hijau mampu meningkatkan produktivitas lahan.
5. Hasil produksi monokultur dan tumpangsari akan optimal jika faktor-
faktor penyebab kegagalan dapat dihindari

5.2 Saran
Adapun saran yang dapat dikemukakan untuk membantu kesempurnaan
Praktikum Tumpangsari diharapkan dalam Praktikum ini penyediaan sarana dan
prasarana dapat di optimalkan.

DAFTAR PUSTAKA

Ariya Tri Sektiwi , Nurul Aini, Husni Thamrin Sebayang. 2013. Jurnal Produksi
Tanaman. Kajian Model Tanaman dan Waktu Tanam dalam Sistem Tumpangsari
Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Benih Jagung. Universitas Brawijaya.
[diakses 13 Januari 2017]
Patra Rapp. 2012. Laporan Lengakap Praktikum Dasar-Dasar Agronomi Tumpangsari.
[diakses 13 Januari 2017]
Arief Prd. 2014. http://arief-parinduri.blogspot.co.id/2014/12/tumpang-sari-tanaman-
jagung-zea-mays.htm. [diakses 13 Januari 2017]
LAMPIRAN