Anda di halaman 1dari 61

DAFTAR ISI

F. PENGOLAHAN DATA DEBIT, HUJAN DAN IKLIM.......1


1 Pendahuluan.........................................................................................................1

1.1 Deskripsi Singkat.............................................................................................1

1.2 Acuan Normatif................................................................................................1

1.3 Istilah dan Definisi...........................................................................................1

2 Tujuan Instruksional Khusus.................................................................................3

3 Persyaratan dan Ketentuan...................................................................................3

3.1 Data dan Informasi..........................................................................................3

3.2 Petugas dan Penanggung Jawab...................................................................3

3.3 Peralatan.........................................................................................................4

3.4 Data.................................................................................................................4

3.5 Satuan.............................................................................................................4

4 Pelaksanaan Pengolahan Data Hujan, Iklim dan Debit........................................5

4.1 Pengolahan Data Hujan..................................................................................5

4.1.1 Pengolahan Data Hujan Secara Manual..................................................5

Tabulasi Data Hujan..............................................................................................6

4.1.2 Pengolahan Data Hujan Dengan Komputer.............................................6

4.1.3 Perhitungan Curah Hujan.........................................................................6

4.2 Pengolahan Data Iklim....................................................................................7

4.2.1 Pengolahan Data Temperatur/Suhu Udara..............................................7

4.2.2 Perhitungan Kelembaban Udara:..........................................................8

4.3 Pengolahan Data Penguapan.......................................................................13

4.3.1 Perhitungan Suhu Air..............................................................................13

4.3.2 Perhitungan Penguapan..........................................................................13

4.4 Pengolahan Data Kecepatan angin :............................................................15

i
4.5 Pengolahan Data Lama Penyinaran Matahari..............................................16

4.6 Pengolahan Data Radiasi Matahari..............................................................23

4.7 Pengolahan Data Tekanan Udara.................................................................25

4.8 Pengolahan Data Debit dan Sedimen...........................................................26

4.8.1 Kompilasi Data Lapangan (Data Muka Air dan Data Pengukuran Debit)
27

4.8.2 Perhitungan Rata-Rata Tinggi Muka Air.................................................27

4.8.3 Perhitungan Koreksi dan Penyimpangan (shifting)................................30

4.8.4 Distribusi Koreksi dan Penyimpangan (shifting).....................................36

4.8.5 Perhitungan Debit Harian.......................................................................45

4.8.6 Evaluasi Data Debit Sungai....................................................................52

ii
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar.1 : Grafik thermohygrograph.. 11

Gambar.2 : Blanko grafik lamanya penyinaran matahari. 17

Gambar.3 : Grafik pengamatan radiasi matahari... 26

Gambar.4 : Diagram alir perhitungan debit. 28

Gambar.5 : Hydrograph pada distribusi shifting by time 40

Gambar.6 : Hydrograph muka air citanduy-pataruman juni 1979 42

Gambar.7 : Hydrograph muka air citanduy-pataruman sept-okt 1984. 43

iii
DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel.1 : Tabel depresi. 12

Tabel.2 : Daftar waktu terbit dan terbenam matahari.. 19

Tabel.3 : Pembacaan papan duga air biasa.. 31

Tabel.4 : Daftar pengukuran debit.. 35

Tabel.5 : Contoh tabel debit setiap tinggi muka air 10 cm.. 36

Tabel.6 : Contoh tabel debit (interval tinggi muka air 1 cm)... 37

Tabel.7 : Contoh tabel distribusi shifting... 41

Tabel.8 : Contoh distribusi shifting by peak.. 45

Tabel.9 : Contoh distribusi shifting by stage. 46

iv
PENGOLAHAN DATA HUJAN, IKLIM DAN DEBIT
1 Pendahuluan

1.1 Deskripsi Singkat


Pengolahan data hujan, iklim dan debit adalah serangkaian kegiatan yang terdiri dari
digitasi, tabulasi, dan perhitungan yang bertujuan untuk mengolah data lapangan menjadi
data yang dapat digunakan sebagai data dasar untuk perencanaan, operasi dan
pengembangan sumber daya air. Pengolahan data debit, hujan, iklim dan sedimen dapat
dilakukan secara manual dan dengan menggunakan program komputer. Proses dan
tahapan dari pengolahan data tersebut disampaikan secara rinci pada sub bab selanjutnya.

1.2 Acuan Normatif


Dalam pengolahan data debit, hujan iklim dan sedimen digunakan referensi :
a) Revisi SNI No. 03-2414-1991, tata cara pengukuran debit sungai dan saluran terbuka.
b) SNI No. 03-2822-1992, metode pembuatan lengkung debit (rating curve).
c) SNI 03-3412-1994, tata cara pengolahan data debit harian.
d) Pd M-18-1995-03, metode pengolahan data klimatologi.
e) Referensi lain dari modul pelatihan Balai Hidrologi dan Tata Air

1.3 Istilah dan Definisi


1) Data muka air adalah data fluktuasi muka air dari sungai, danau, waduk dan lain-lain
yang diperoleh dari hasil pengamatan di lapangan dengan menggunakan alat duga
air biasa maupun alat duga air otomatik. Tinggi muka air dihitung dari titik nol papan
duga air terhadap titik ketinggian tertentu (MSL atau referensi setempat)
2) Muka air harian rata-rata adalah fluktuasi muka air rata-rata yang terjadi pada suatu
tempat pemantauan (pos) di sungai, danau, waduk dan air tanah selama kurun
waktu 1 hari
3) Debit adalah volume air yang mengalir melalui suatu penampang melintang
sungai/saluran terbuka per satuan waktu, dalam satuan (m3/det)
4) Rata-rata (m3/det) adalah debit rata-rata harian/bulanan/tahunan
5) Tinggi aliran (mm) adalah tebal aliran rata-rata dalam pada suatu DAS dalam 1
bulan/1tahun
6) Aliran/km2 (liter/detik/km2 adalah besarnya debit rata-rata dalam 1 bulan/1 tahun per
satuan luas (km2) dari daerah aliran sungai bersangkutan
7) Volume (meter kubik x 106) adalah jumlah volume air yang mengalir dalam 1 bulan/ 1
tahun
8) Hydrograph adalah grafik yang menggambarkan hubungan antara fluktuasi muka
air/debit dengan waktu
9) Duration Curve (kurva durasi) adalah kurva yang menggambarkan ketersediaan air

1
dalam persen (%) pada suatu penampang sungai/pos duga air selama kurun waktu
tertentu (biasanya 1 tahun)
10) Shifting Control adalah besarnya penyimpangan data pengukuran terhadap rating
curve, apabila penyimpangan > 10% maka shifting diperhitungkan dan apabila
penyimpangan < 10% maka shifting dianggap 0 (nol)
11) Shifting by time adalah distribusi shifting di antara 2 pengukuran naik/bertambah atau
turun/berkurang dimulai dari pengukuran berdasarkan waktu, berlaku apabila di
antara 2 pengukuran tidak ada banjir
12) Shifting by stage adalah distribusi shifting di antara 2 pengukuran secara bertangga
dengan besarnya perubahan tergantung dari besarnya banjir yang terjadi, berlaku
apabila di antara 2 pengukuran terjadi lebih dari 1 kali banjir
13) Shifting by peak adalah perubahan shifting yang terjadi persis pada saat banjir
terjadi, berlaku apabila di antara 2 pengukuran hanya terjadi 1 kali banjir.
14) Data hujan adalah data ketinggian curah hujan yang diperoleh dari hasil pengamatan
di lapangan dengan menggunakan alat penakar hujan biasa maupun alat penakar
hujan otomatik
15) Data temperatur adalah data temperatur pada suatu tempat yang diperoleh dari hasil
pengamatan di lapangan dengan menggunakan alat thermometer minimum,
thermomater maksimum dan thermohygrograph. Temperatur dibedakan menjadi 3
macam yaitu:
a) Temperatur maksimum adalah temperatur maksimum yang terjadi pada suatu
tempat selama 1 hari (24 jam). Data temperatur maksium diperoleh dari hasil
pengamatan dengan menggunakan thermometer maksimum
b) Temperatur miniimum adalah temperatur maksimum yang terjadi pada suatu
tempat selama 1 hari (24 jam). Data temperatur maksium diperoleh dari hasil
pengamatan dengan menggunakan thermometer miniimum
c) Temperatur rata-rata adalah temperatur rata-rata yang terjadi pada suatu
tempat selama 1 hari (24 jam). Data temperatur rata-rata diperoleh dari hasil
rata-rata antara temperatur maksimum dan temperatur minimum
16) Data Kelembaban Udara adalah data kelembaban udara pada suatu tempat hasil
pengamatan dengan menggunakan peralatan thermohygrograph
17) Data penguapan adalah data penguapan pada suatu tempat yang diperoleh dari
hasil pengamatan dengan menggunakan panci A (Pan A)
18) Data Kecepatan Angin adalah adalah data kecepatan angin pada suatu tempat yang
diperoleh dari hasil pengamatan dengan menggunakan peralatan anemomater
19) Data Tekanan Udara adalah data tekanan udara pada suatu tempat yang diperoleh
dari hasil pengamatan dengan menggunakan peralatan barograph
20) Data Radiasi Matahari adalah data radiasi matahari pada suatu tempat yang
diperoleh dari hasil pengamatan dengan menggunakan peralatan actinograph
21) Data Lamanya Penyinaran Matahari adalah data lamanya penyinaran matahari pada
suatu tempat yang diperoleh dari hasil pengamatan dengan menggunakan peralatan
Sun Shine Recorder

2
2 Tujuan Instruksional Khusus
Setelah pelatihan peserta diharapkan mampu melaksanakan pengolahan data hidrologi
(data hujan, data ikli dan data debit) baik secara manual maupun dengan menggunakan
perangkat lunak komputer.

3 Persyaratan dan Ketentuan

3.1 Data dan Informasi

Data yang digunakan untuk pengolahan data hidrologi perlu memperhatikan hal sebagai
berikut :

a) Data harus benar-benar merupakan data hasil pengamatan di lapangan

b) Data harus dilengkapi dengan nama stasiun, tanggal pengamatan, waktu pemasangan
dan pengambilan kertas grafik.

c) Data harus sudah dalam bentuk digitasi atau sudah ditabulasikan pada suatu format
tertentu

d) Data yang harus tersedia adalah data hujan dan klimatologi yang lengkap
akurat dan berkesinambungan baik yang yang dikumpulkan dari alat pencatat data manual
ataupun otomatis.
e) Apabila hujan dicatat secara biasa/manual, hujan harian adalah jumlah tebal hujan
yang dicatat oleh penjaga pos mulai jam 07.00 pagi ke jam 07.00 pagi hari berikutnya.
f) Apabila hujan dicatat secara otomatis dalam bentuk grafik, hujan harian dihitung
dengan menjumlahkan hujan yang tercatat selama periode 24 jam mulai dari pencatatan
jam 07.00 pagi ke jam 07.00 pagi hari berikutnya.

3.2 Petugas dan Penanggung Jawab


a) Petugas yang melaksanakan pengolahan data hidrologi adalah orang yang pernah
mendapatkan pendidikan dan pelatihan bidang tersebut yang dilaksanakan oleh instansi
terkait.
b) Penanggung jawab pekerjaan adalah ahli di bidang pengolahan data hidrologi.

3.3 Peralatan
Peralatan yang digunakan harus memenuhi ketentuan teknis yang berlaku meliputi :

a) Formulir-formulir yang berkaitan dengan pengolahan data

b) Program komputer yang berkaitan dengan pengolahan data

c) Seperangkat komputer

3
3.4 Data
Data yang digunakan dalam pengolahan data hidrologi adalah semua data hasil
pengamatan hidrologi di lapangan yang merupakan data hasil pengamatan secara otomatik
dan secara manual yang terdiri dari:
a) Data muka air hasil pengamatan secara otomatik dan manual
b) Data hujan hasil pengamatan secara otomatik dan manual
c) Data air tanah
d) Data kelembaban dan temperatur
e) Data temperatur
f) Data penguapan
g) Data kecepatan angin
h) Data lamanya penyinaran matahari
i) Data radiasi matahari
j) Data tekanan udara
k) Data keterangan lokasi pos

3.5 Satuan
Satuan yang digunakan dalam pengolahan data hidrologi adalah:
a) Data muka air dalam meter (m)
b) Data debit dalam m3/detik
c) Kecepatan aliran (m/detik)
d) Aliran/km2 (liter/detik/km2)
e) Tinggi aliran (mm)
f) Volume (meter kubik x 106)
g) Data konsentrasi sedimen dalam mg/l
h) Data Angkutan Sedimen dalam ton/hari
i) Data tinggi aliran dalam mm
j) Data volume (jumlah) air dalam m3
k) Data hujan dalam millimeter (mm)
l) Data air tanah dalam meter (m)
m) Data kelembaban dalam persen (%)
n) Data temperatur dalam 0C
o) Data penguapan dalam millimeter (mm)
p) Data kecepatan angin kilometer per hari (km/hr)
q) Data lamanya penyinaran matahari dalam persen (%)
r) Data radiasi matahari dalam kalori per cm2 per hari (cal/cm2/hr)
s) Data tekanan udara dalam millibar (mb)

4 Pelaksanaan Pengolahan Data Hujan, Iklim dan Debit

4.1 Pengolahan Data Hujan


Pengolahan data hujan secara prinsip adalah hanya bersifat kompilasi data hasil
pengamatan di lapangan oleh sebab itu maka apabila dibandingkan dengan pengolahan
data debit, pengolahan data hujan relatif lebih sederhana dan tidak melalui tahapan yang
panjang. Pengolahan data hujan dapat dilakukan dengan menggunakan program komputer
atau secara manual. Pengolahan data hujan dengan menggunakan program komputer

4
(HITA) dilakukan terhadap data hujan otomatik, yaitu dengan cara melakukan digitasi grafik
data hujan, sedangkan pengolahan data secara manual dilakukan dengan cara membaca
langsung grafik data hujan. Untuk data hujan yang berasal dari pengamatan secara manual
pengolahannya dilakukan dengan cara manual yaitu dengan mentabelkan data ke dalam
format publikasi yang telah ditentukan. Tata cara tersebut sudah dibahas pada Modul
Digitasi dan Tabulasi Data Hidrologi dan disampaikan kembali pada sub bab berikut:

4.1.1 Pengolahan Data Hujan Secara Manual


Pengolahan data hujan secara manual dilakukan terhadap data hujan yang berupa grafik
hasil pengamatan lapangan dengan menggunakan alt penakar hujan otomatik maupun
terhadap data hujan berupa tabel hasil pencatatan yang dilakukan oleh pengamat di
lapangan.

Pembacaan Grafik Data Hujan Secara Manual


Grafik data hujan yang dihasilkan dari alat penakar hujan otomatik yang biasa digunakan
terdiri dari 3 (tiga) macam periode pengamatan yaitu harian, mingguan dan bulanan.
Perbedaan tersebut berpengaruh pada bentuk dan skala grafik, grafik harian dan mingguan
berupa lembaran, sedangkan grafik bulanan berupa rol. Pembacaan grafik data hujan dapat
dilakukan dengan cara manual atau dengan menggunakan program komputer.
Pembacaan grafik hujan secara manual dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a) Siapkan dan susun grafik yang akan didigit secara kronologis
b) Periksa apakah posisi grafik (waktu dan besarnya curah hujan) pada saat
pemasangan dan pengambilan sesuai dengan skala grafik
c) Lakukan pembacaan grafik dengan cara membaca besarnya curah hujan secara
jam-jaman. Besarnya curah hujan perhari adalah merupakan penjumlahan dari hasil
pembacaan perjam selama 1 hari (24 jam)
d) Masukkan hasil pembacaan tersebut ke dalam formulir yang telah disediakan
(lampiran 3)

Tabulasi Data Hujan


Pengolahan data hujan yang berasal dari alat penakar hujan biasa sangat sederhana yaitu
menyalin data hujan hasil pengamatan yang dilakukan oleh pengamat ke dalam
formulir/tabel yang telah disiapkan, produk akhirnya berupa tabulasi data hujan harian.
Tabulasi data hujan memuat data hasil pembacaan grafik data secara manual atau data
hasil pengamatan secara manual, sehingga tabulasi data hujan merupakan tabel yang
menyajikan data jumlah curah hujan harian (ketinggian curah hujan harian) hasil
pengamatan dari pos hujan biasa (manual rain gauge). maupun pos hujan otomatik
(automatic rainfall recorder/automatic rain gauge). Untuk pos hujan biasa data yang
diperoleh langsung ditabulasikan ke dalam formulir seperti pada Lampiran 2. Untuk pos

5
hujan otomatik data lapangan berupa grafik, setelah didigitasi kemudian ditabulasikan ke
dalam formulir seperti pada Lampiran 3. Pada kolom sebelah kiri terdapat kolom untuk data
hujan biasa (HB) dan data hujan otomatik (HO), kolom (HB) diisi data hasil pengamatan
curah hujan secara manual yang digunakan sebagai data pembanding data hasil
pengamatan secara otomatik. Data hujan otomatik disajikan dalam interval waktu jam-
jaman, sedangkan data hujan biasa disajikan dalam interval waktu harian, kedua data
tersebut langsung dipublikasi tanpa pengolahan lanjutan.

4.1.2 Pengolahan Data Hujan Dengan Komputer


Seperti telah disampaikan pada sub bab 4.1.1 bahwa pada dasarnya pengolahan data hujan
adalah berupa tabulasi dan digitasi data. Pengolahan data hujan dengan komputer adalah
melakukan digitasi grafik data hujan dan langsung mencetak data tersebut ke dalam formulir
yang sudah ditentukan seperti pada lampiran. Program komputer yang digunakan adalah
Program HITA yang secara lengkap dilampirkan pada modul ini.

4.1.3 Perhitungan Curah Hujan


Yang dimaksud dengan curah hujan harian rata-rata adalah jumlah curah hujan yang terjadi
pada suatu tempat (pos) selama kurun waktu 1 hari (24 jam). Untuk pos hujan biasa
pengamatan dilakukan dari jam 07.00 pagi sampai dengan jam 07.00 hari berikutnya,
sehingga data curah hujan yang diperoleh jam 7 pagi hari ini merupakan data curah hujan hari
kemarin, sedangkan untuk pos hujan otomatik perhitungan waktu pengamatan dapat dimulai
dari jam 00 sampai dengan jam 24 (jam 00). Tahapan untuk perhitungan hujan harian rata-rata
adalah sebagai berikut:
Untuk alat manual/biasa, pindahkan hasil pencatatan lapangan (data hujan rata-rata
harian), ke dalam tabel tabulasi yang telah ditentukan untuk publikasi data hujan dan
hitung banyaknya hujan selama satu bulan dengan cara menjumlahkan banyaknya hujan
harian dalam satu bulan dengan satuan mm
Untuk alat otomatik, lakukan pembacaan grafik per jam dan tabulasikan ke dalam tabel
yang telah ditentukan,
Hitung hujan harian dengan cara menjumlahkan pembacaan hujan jam-jaman dalam 1
hari. serta hitung banyaknya hujan dalam satu bulan dengan prosedur yang sama.
Perhitungan hujan rata-rata harian dan bulanan, dapat dilakukan dengan mengunakan
software komputer (Program HITA).

4.2 Pengolahan Data Iklim


Sama halnya dengan data hujan, maka pengolahan data iklim pada umumnya hanya digitasi
data grafik dan tabulasi data pengamatan lapangan, dan ada beberapa data sebelum

6
diperoleh data yang sebenarnya yang harus dikalikan dengan koefisien tertentu atau
konversi sesuai dengan letak stasiun yang bersangkutan. Pengolahan data iklim meliputi
data:
a) Data temperatur/suhu udara dalam derajat Celcius
b) Data kelembaban dalam persen
c) Data penguapan dalam millimeter
d) Data kecepatan angin kilometer per hari
e) Data lamanya penyinaran matahari dalam persen
f) Data radiasi matahari dalam kalori per cm2 per hari
g) Data tekanan udara dalam millibar

4.2.1 Pengolahan Data Temperatur/Suhu Udara


Pengamatan suhu udara dilakukan dengan menggunakan alat thermometer maksimum dan
thermometer minimum. Thermometer maksimum akan mencatat suhu udara maksimum
yang terjadi pada hari itu, sedangkan thermometer minimum akan mencatat suhu udara
minimum yang terjadi pada hari itu. Cara kerja alat tersebut adalah air raksa pada
thermometer akan menunjuk pada angka sesuai dengan suhu udara sampai dengan suhu
maksimum yang terjadi pada hari itu, apabila tidak ada suhu yang lebih tinggi dari suhu
tersebut maka air raksa akan tetap berada pada posisi saat suhu maksimum terjadi.
Demikian halnya dengan thermometer minimum, air raksa pada thermometer akan
menunjuk pada angka sesuai dengan suhu udara sampai dengan suhu minimum yang
terjadi pada hari itu, apabila tidak ada suhu yang lebih rendah dari suhu tersebut maka air
raksa akan tetap berada pada posisi saat suhu minimum terjadi. Untuk mengembalikan air
raksa pada posisi semula maka thermometer diayunkan naik turun sampai dengan air raksa
kembali ke posisi awal yaitu berada pada tabung bagian bawah thermometer.
Temperatur/suhu udara rata-rata didapat dengan cara mencari rata-rata dari kedua data
tersebut. Data suhu udara yang disajikan berupa data suhu udara rata-rata harian dan suhu
udara rata-rata bulanan dengan perhitungan sebagai berikut:
o Perhitungan suhu udara rata-rata harian didapat dengan rumus :

= ...................................... (1)

Keterangan :

= suhu udara rata-rata harian (oC)

= suhu udara maksimum harian (oC)

7
= suhu udara minimum harian (oC)

o Perhitungan suhu udara harian dalam satu bulan, dengan rumus:

......................................... (2)

Keterangan :

= suhu udara rata-rata harian dalam satu bulan (oC)

= suhu udara rata-rata harian (oC)

= jumlah hari dalam satu bulan

Hasil perhitungan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam formulir H-14 seperti pada
Lampiran-7.

4.2.2 Perhitungan Kelembaban Udara:


Pengamatan kelembaban udara di lapangan dilakukan dengan menggunakan 2 macam alat
yaitu thermometer bola basah - bola kering dan thermohygrograph. Data kelembaban udara
yang diperoleh dari thermometer bola basah-bola kering bersifat pengamatan secara
manual sehingga data yang diperoleh hanya merupakan data 1 titik yaitu data yang
diperoleh pada saat pembacaan, sedangkan data kelembaban udara yang diperoleh dari
thermohygrograph bersifat pengamatan secara otomatik sehingga data yang diperoleh
bersifat menerus selama pengamatan berlangsung.
Perhitungan kelembaban udara dengan menggunakan thermometer bola basah bola
kering dimulai dengan menghitung besarnya depresi yaitu selisih antara pembacaan bola
basah dan bola kering dengan rumus:
D = Tbk - Tbb ..(3)
Keterangan :
D = depresi (oC)

8
Tbk = temperatur bola kering (oC)
Tbb = temperatur bola basah (oC)
Tahapan perhitungan kelembaban udara dengan menggunakan thermometer bola basah
bola kering:
a) Baca suhu pada thermometer bola basah dan bola kering
b) Hitung depresi dengan menggunakan Rumus (3). Depresi merupakan harga mutlak,
sehingga tidak ada harga minus (negatif)
c) Cari dalam tabel depresi, hasil pembacaan thermometer bola kering pada kolom 1,
tarik ke kanan sampai bertemu dengan besarnya depresi
Contoh-1:
Perhitungan Kelembaban Udara dengan menggunakan data pembacaan thermometer bola
basah-bola kering
a) Pembacaan Thermometer bola basah (Tbb): 33.50 C
b) Pembacaan Thermometer bola kering (Tbk): 320 C
c) Gunakan Rumus (3) untuk mencari besarnya Depresi
d) Rumus (3):
e) Depresi = (Tbk - Tbb) = 320 C - 33.50 C = 1. 50 C
f) Gunakan Tabel Depresi:
Cari angka 32 (pembacaan thermometer bola kering) pada kolom 1
Tarik ke kanan sampai dengan ketemu kolom depresi 1.5, ketemu angka 88
Sehingga untuk (Tbb): 33.50 C, dan (Tbk): 320 C, maka kelembaban udara
sebesar 88%
Catatan: Kelembaban udara tersebut merupakan kelembaban sesaat yang
diperoleh pada saat pembacaan, dan bukan merupakan kelembaban rata-rata
selama 1 hari.

Untuk mendapatkan kelembaban udara rata-rata dalam 1 hari digunakan data yang diperoleh
dari hasil pengamatan dengan thermohygrograph, dengan menggunakan rumus:

= ...............................(4)

Keterangan :

= kelembaban udara relatif rata-rata harian(%).

= kelembaban udara relatif maximum harian (%).

9
= kelembaban udara relatif minimum harian (%).

Contoh-2: (Lihat Gambar-1)


Perhitungan kelembaban harian data dari pengamatan dengan alat thermohygrograph:
a) Grafik kelembaban adalah grafik yang berada di bawah, grafik yang di atas adalah
grafik temperatur
b) Baca kelembaban maksimum pada tanggal 12 9 1979 sebesar 100 %
c) Baca kelembaban minimum pada hari yang sama yaitu sebesar 38 %

d) Gunakan rumus (4): =


e) Kelembaban harian rata-rata (RHr) = (100% + 38%)/2 = 69%

Gambar-1 : Grafik Thermohygrograph

Sedangkan untuk mendapatkan kelembaban udara rata-rat selama 1 bulan digunakan rumus:

10
...................................(5)

Keterangan :

= kelembaban udara relatif rata-rata harian selama satu bulan (%).

= kelembaban udara relatif maximum harian (%).

= jumlah hari dalam satu bulan

Catatan: Untuk mendapatkan kelembaban relatif bulanan maka harus terkumpul


data kelembaban udara selama 1 bulan

DEPRESI
Bola Kering
0.5 1.0 1.5 2.0 2.5 3.0 3.5 4.0 4.5 5.0 5.5 6.0 6.5 7.0
% % % % % % % % % % % % % %
35 96 92 88 84 81 78 74 71 68 66 63 61 58 56
34 96 92 88 84 81 77 74 71 68 65 63 60 58 55
33 96 92 88 84 80 77 74 71 68 65 62 60 57 55
32 96 91 88 84 80 77 73 70 67 65 62 59 57 54
31 96 91 87 83 80 76 73 70 67 64 61 59 56 54

30 96 91 87 83 80 76 73 70 67 64 61 58 56 53
29 95 91 87 83 79 76 72 69 66 63 60 58 55 53
28 95 91 87 83 79 75 72 69 66 63 60 57 55 52
27 95 91 87 83 79 75 72 68 65 62 59 57 54 52
26 95 91 86 82 78 75 71 68 65 62 59 56 54 51

25 95 90 86 82 78 74 71 67 64 61 58 56 53 50
24 95 90 86 82 78 74 70 67 63 60 58 55 52 50
23 95 90 86 81 77 73 70 66 63 60 57 54 51 49
22 95 90 85 81 77 73 69 66 62 59 56 53 51 49
21 95 90 85 80 76 72 68 65 62 58 55 53 50 47

20 95 89 85 80 76 72 68 64 61 58 55 52 49 47
19 94 89 84 80 75 71 67 63 60 57 54 51 48 46
18 94 89 84 79 75 70 67 63 59 56 53 50 47 45
17 94 89 83 79 74 70 66 62 59 55 52 49 46 44
16 94 88 83 78 74 69 65 61 58 54 51 48 45 43

15 94 88 83 78 73 68 64 60 57 53 50 47 44 42
14 94 88 82 77 72 68 63 59 56 52 49 46 43 40
13 93 87 82 76 71 67 62 58 55 51 48 45 42 39
12 93 87 81 76 71 66 61 57 54 50 47 43 41 38
11 93 87 81 75 70 65 60 56 52 49 45 42 39 36

11
10 93 86 80 74 69 64 59 55 51 47 44 41 38 35
9 93 86 79 74 68 63 58 54 50 46 42 39 36 33
8 92 85 79 73 67 62 57 52 48 44 41 37 34 32
7 92 85 78 72 66 61 56 51 47 43 39 36 33 30
6 92 84 77 71 65 59 54 49 45 41 37 34 31 28

5 91 84 76 70 64 58 53 48 43 39 35 32 29 26
4 91 83 75 69 62 56 51 46 41 37 33 30 26 24
3 91 82 75 67 61 55 49 44 39 35 31 27 24 21
2 90 82 74 66 59 53 47 42 37 33 29 25 22 19
1 90 81 72 65 58 51 45 40 35 30 26 22 19 16
0 90 80 71 63 56 49 43 37 32 28 23 20 16 13

Tabel-1: Tabel Depresi

4.3 Pengolahan Data Penguapan


Data penguapan diukur dengan menggunakan panci penguapan type A terbuat dari plat baja
yang digalvanisir dengan diameter 120.68 m dan tinggi 0.254 m atau 25.4 cm. Tangki
penguapan tersebut dilengkapi dengan beberpa peralatan seperti pengukur titik pedoman
(fix point), tabung penakar brskala, sepasang thermometer mkasimum minimum apung dan
canting. Disamping data penguapan, data lain yang diperoleh dari seperangkat alat ini
adalah temperatur maksimum dan temperatur minimum air.

4.3.1 Perhitungan Suhu Air


Proses perhitungan suhu air dengan menggunakan thermometer apung sama
dengan thermometer maksimum dan thermometer minimum yang ada di dalam
sangkar meteor, yaitu dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
o Perhitungan suhu air rata-rata harian:

= ...................................... (6)

Keterangan :

= suhu air panci rata-rata harian (oC)

= suhu air panci maksimum harian (oC)

= suhu air panci minimum harian (oC)

12
o Perhitungan suhu udara harian dalam satu bulan, dengan rumus:

............................................. (7)

Keterangan :

= suhu air panci harian dalam satu bulan (oC)

= suhu air rata-rata harian (oC)

= jumlah hari dalam satu bulan

4.3.2 Perhitungan Penguapan


Besarnya penguapan diukur dengan mengukur pengurangan air dalam panci selama 1 hari
dengan memperhitungkan hujan yang terjadi dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
o Perhitungan Penguapan air harian

Ep = HB + At atau
Ep = HB - Ak (8)

Keterangan :
Ep = penguapan air dalam panci (mm)

HB = hujan (mm)

At = penambahan air ke dalam panci (mm)

Ak = pengurangan air dari dalam panci (mm)

o Perhitungan Penguapan air harian dalam satu bulan

............................................. (9)

13
Keterangan :

= penguapan air panci rata-rata harian dalam satu bulan

(mm)

= jumlah hari dalam bulan yang dihitung.

Penjelasan Rumus 8:

Ep = HB + At : Ep = penguapan air dalam panci (mm), HB = hujan (mm),

At = penambahan air ke dalam panci (mm).

Rumus di atas digunakan apabila posisi air dalam panci sama atau berkurang dari
posisi 1 hari sebelumnya.
Apabila posisi air dalam panci sama dengan posisi 1 hari sebelumnya maka tidak ada

penambahan air (At = 0), sehingga besarnya penguapan Ep = HB atau besarnya


penguapan = hujan yang terjadi
Apabila posisi air dalam panci berkurang (lebih rendah) dari posisi 1 hari sebelumnya
maka air harus ditambah sampai mencapai posisi sebelumnya (ada penambahan air)

sehingga besarnya penguapan Ep = HB + At : Penguapan = hujan yang terjadi +


penambahan air ke dalam panci (mm).

Ep = HB - Ak Ep = penguapan air dalam panci (mm), HB = hujan (mm),

Ak = pengurangan air dari dalam panci (mm)

Rumus di atas digunakan apabila posisi air dalam panci lebih tinggi/bertambah dari
posisi 1 hari sebelumnya.
Apabila posisi air dalam panci lebih besar dari posisi 1 hari sebelumnya maka telah

terjadi penambahan air dalam panci sebesar HB, untuk mengembalikan posisi air
dalam panci ke posisi 1 hari sebelumnya maka air dalam panci harus dibuang sebesar

Ak, sehingga besarnya penguapan Ep = Hujan (HB) dikurangi air yang dibuang Ak.
Catatan:
Pengukuran penguapan dilakukan setiap hari antara pukul 06.00 sampai dengan pukul
08.00 waktu setempat.
Pada saat pengukuran dilakukan, air dalam panci harus pada posisi tertentu, misal
pada titik tinggi pedoman

14
Volume canting setara dengan penguapan sebesar 1 mm
Contoh:
Dengan rumus: Ep = HB + At Hujan yang terjadi 1.8 mm

Penambahan Air 5.0 mm


Penguapan 6.8 mm

Dengan rumus: Ep = HB - Ak Hujan yang terjadi 6.7 mm

Pengurangan Air 2.0 mm


Penguapan 4.7 mm

4.4 Pengolahan Data Kecepatan angin :


Pengamatan kecepatan angin dilakukan dengan menggunakan alat anemometer yang
dilengkapi dengan speedometer. Pembacaan dilakukan setiap pagi untuk menghitung
kecepatan angin harian rata-rata dan bulanan rata-rata dilakukan dengan rumus:
a) Perhitungan kecepatan angin rata-rata harian, dengan rumus :

Va = (SP2 - SP1) x ............................... (10)


Keterangan :
Va = kecepatan angin (km/hari)
SP1 = pembacaan spidometer ke 1 (pembacaan hari
sebelumnya)
SP2 = pembacaan spidometer ke 2 (pembacaan pada saat
pengamatan)
k1 = koefisien yang ditetapkan pada alat.
k2 = konversi dari satuan yang tertera pada alat kesatuan
lainnya, untuk meter ke kilometer adalah 1000

b) Perhitungan kecepatan angin rata-rata harian dalam satu bulan dengan


rumus:

................................. (11)

Keterangan :

15
VaB = kecepatan angin rata-rata harian dalam satu bulan
(km/hari)
Va = kecepatan angin (km/hari)
n = jumlah hari dalam bulan yang dihitung.
Contoh:
Untuk anemometer type Thies pembacaan dikalikan dengan 100 dalam satuan meter kemudian
dikonversi ke dalam kilometer:
Pembacaan hari ini : 141298
Pembacaan kemarin : 141173
Selisih : 125 Kecepatan angin harian rata-rata = 125 x100 = 12500 m
= 12.5 km/hr
Untuk anemometer type Cassela kecepatan angin langsung diperoleh dari hasil pembacaan
dengan 1 angka di belakang koma.
Pembacaan hari ini : 14129.8
Pembacaan kemarin : 14117.3
Selisih : 125

4.5 Pengolahan Data Lama Penyinaran Matahari


Lama penyinaran matahari diamati dengan menggunakan sun shine recorder, pengolahan
data dilakukan dengan cara membaca berapa persen % lamanya penyinaran matahari apabila
dibandingkan dengan waktu terbit dan terbenam matahari di tempat pengamatan.
Perhitungan lamanya penyinaran matahari rata-rata harian dapat dihitung dengan rumus :

LPM = n/N x 100% (12)


Keterangan :
LPM = lama penyinaran matahari (%)

n = lama penyinaran matahari yang terjadi pada hari yang bersangkutan (jam)

N = kemungkinan maksimum lama penyinaran matahari (jam),.

16
Gambar -2: Blanko grafik lamanya penyinaran matahari (sun shine recorder)

Contoh:

Gambar 2 adalah contoh blanko grafik sun shine recorder, apabila matahari bersinar, maka
kertas tersebut akan terbakar, bekas terbakar tersebut yang menunjukan barapa lama
matahari bersinar.

Tahapan perhitungan adalah sebagai berikut:

1) Baca bekas terbakar yang terjadi misal matahari bersinar dari jam 06.30 s/d 09.00,
kemudian terjadi hujan dan bersinar kembali jam 12.15 s/d jam 15.00.
2) Hitung total lamanya penyinaran matahari (n) adalah 2.5 + 2.75 = 5.25 jam.
3) Lihat tabel lamanya penyinaran matahari pada daerah tersebut, misal pos berada di
daerah Yogyakarta, dan tanggal pengamatan adalah tanggal 19 Juni 2009, pada
tanggal tersebut matahari terbit pada jam 05.49 dan terbenam pada tanggal 17.29,
sehingga lamanya penyinaran matahari maksimum (N) = 11 jam 40 menit = 11.66
jam
4) Gunakan rumus (12): LPM = n/N x 100%
= 5.25/11.66 x 100% = 45%

Catatan: Untuk daerah lain sesuaikan waktu terbit dan terbenam matahari, apabila tidak ada
dalam daftar, maka cari daerah terdekat dengan lokasi pos.

Tabel-2: Daftar Waktu Terbit dan Terbenam Matahari

17
Jokjakarta Fakfak Jayapura Banda Aceh Kupang

W.Indonesia W.Indonesia W.Indonesia W.Indonesia W.Indonesia


Bulan Tgl
Barat Timur Timur Barat Tengah
Terbit Terbit Terbe Terbit Terben Terbit Terbe Terbit Terbe Terbenam
nam am nam nam

18
j.m j.m j.m j.m j.m j.m j.m j.m j.m j.m

05.24 06.06 18.23 05.04 17.50 06.06 18.23 05.04 17.50 18.28
Jan 1
05.31 06.12 18.30 05.40 17.56 06.12 18.30 05.40 17.56 18.34
16

05.38 06.17 18.32 05.45 17.58 06.17 18.32 05.45 17.58 18.37
Feb 1

05.42 06.19 18.32 05.47 17.58 06.19 18.32 05.47 17.58 18.38
16

05.43 06.18 18.29 05.45 17.55 06.18 18.29 05.45 17.55 18.35
Maret 1

05.42 06.16 18.24 05.43 17.51 06.16 18.24 05.43 17.51 18.31
16

05.42 06.13 18.17 05.40 17.44 06.13 18.17 05.40 17.44 18.26
April 1
05.40 06.10 18.12 05.37 17.39 06.10 18.12 05.37 17.39 18.21
16

05.40 06.08 18.09 06.35 17.36 06.08 18.09 06.35 17.36 18.30
Mei 1

05.42 06.08 18.07 05.35 17.34 06.08 18.07 05.35 17.34 18.38
16

05.45 06.10 18.08 05.36 17.36 06.10 18.08 05.36 17.36 18.10
Juni 1

05.49 06.12 18.10 05.39 17.38 06.12 18.10 05.39 17.38 18.21
16

05.51 06.16 18.13 05.42 17.41 06.16 18.13 05.42 17.41 18.25
Juli 1

05.53 06.18 18.15 05.41 17.43 06.18 18.15 05.41 17.43 18.18
16

05.51 06.18 18.17 05.44 17.45 06.18 18.17 05.44 17.45 18.20
Agust 1

05.46 06.15 18.16 05.42 17.43 06.15 18.16 05.42 17.43 18.20
16

05.39 06.09 18.12 05.36 17.40 06.09 18.12 05.36 17.40 18.22
Sept 1

05.32 06.04 18.08 05.31 17.35 06.04 18.08 05.31 17.35 18.22
16

05.22 05.56 18.05 05.23 17.32 05.56 18.05 05.23 17.32 18.17
Okt 1

05.15 05.51 18.02 05.18 17.29 05.51 18.02 05.18 17.29 18.12
16

05.09 05.48 18.01 05.15 17.28 05.48 18.01 05.15 17.28 18.09
Nop 1

05.08 05.58 18.03 05.15 17.30 05.58 18.03 05.15 17.30 18.07
16

05.11 05.51 18.09 05.19 17.35 05.51 18.09 05.19 17.35 18.08
Des 1

05.17 05.58 18.15 05.25 17.42 05.58 18.15 05.25 17.42 18.20
16

05.23 06.05 18.23 05.32 17.49 06.05 18.23 05.32 17.49 18.26
31

Daftar Waktu Terbit dan Terbenam Matahari

19
Ambon Banjarmasin Bandung Biak Jakarta
W.Indonesia Timur W.Indonesia W.Indonesia W.Indonesia W.Indonesia
Bulan Tgl Tengah Barat Timur Barat
Terbit Terbenam Terbit Terbenam Terbit Terbit Terbe Terbit Terbe Terbit
nam nam

20
j.m j.m j.m j.m j.m j.m j.m j.m j.m j.m

06.20 18.41 06.14 18.34 05.37 06.20 18.41 06.14 18.34 05.37
Jan 1
06.20 18.47 06.20 18.40 05.14 06.20 18.47 06.20 18.40 05.14
16

06.33 18.48 06.27 18.43 05.50 06.33 18.48 06.27 18.43 05.50
Feb 1

06.35 18.48 06.29 18.42 05.55 06.35 18.48 06.29 18.42 05.55
16

06.34 18.45 06.28 18.39 05.56 06.34 18.45 06.28 18.39 05.56
Maret 1

06.33 18.39 06.26 18.33 05.55 06.33 18.39 06.26 18.33 05.55
16

06.29 18.33 06.23 18.29 05.54 06.29 18.33 06.23 18.29 05.54
April 1
06.27 18.27 06.20 18.22 05.52 06.27 18.27 06.20 18.22 05.52
16

06.24 18.24 06.19 18.18 05.51 06.24 18.24 06.19 18.18 05.51
Mei 1

06.25 18.22 06.19 18.16 05.53 06.25 18.22 06.19 18.16 05.53
16

06.27 18.23 06.22 18.17 05.56 06.27 18.23 06.22 18.17 05.56
Juni 1

06.31 18.25 06.24 18.19 06.00 06.31 18.25 06.24 18.19 06.00
16

06.33 18.29 06.27 18.23 06.02 06.33 18.29 06.27 18.23 06.02
Juli 1

06.26 18.31 06.30 18.26 06.02 06.26 18.31 06.30 18.26 06.02
16

06.35 18.32 06.29 18.26 06.02 06.35 18.32 06.29 18.26 06.02
Agust 1

06.32 18.31 06.06 18.25 05.57 06.32 18.31 06.06 18.25 05.57
16

06.25 18.28 06.20 18.23 05.51 06.25 18.28 06.20 18.23 05.51
Sept 1

06.20 18.25 06.14 18.19 05.43 06.20 18.25 06.14 18.19 05.43
16

06.13 18.21 06.07 18.15 05.34 06.13 18.21 06.07 18.15 05.34
Okt 1

06.07 18.18 06.01 18.12 05.28 06.07 18.18 06.01 18.12 05.28
16

06.04 18.18 05.58 18.12 05.23 06.04 18.18 05.58 18.12 05.23
Nop 1

06.03 18.20 05.57 18.14 05.21 06.03 18.20 05.57 18.14 05.21
16

06.06 18.26 06.00 18.20 05.24 06.06 18.26 06.00 18.20 05.24
Des 1

06.12 18.30 06.07 18.25 05.30 06.12 18.30 06.07 18.25 05.30
16

06.19 18.40 06.14 18.34 05.36 06.19 18.40 06.14 18.34 05.36
31

21
DAFTAR WAKTU TERBIT DAN TERBENAM MATAHARI

Ujung Pandang Medan Menado Merauke Padang


W.Indonesia Tengah W.Indonesia W.Indonesia W.Indonesia W.Indonesia
Bulan Tgl
Barat Tengah Timur Barat
Terbit Terbenam Terbit Terbenam Terbit Terbenam Terbit Terbenam Terbit Terbenam

j.m j.m j.m j.m j.m j.m j.m j.m j.m j.m

05.52 18.18 06.30 18.26 05.43 17.45 05.24 18.00 05.16 18.28
Jan 1
05.59 18.23 06.35 18.34 05.48 17.53 05.30 18.05 06.22 18.34
16
06.05 18.26 06.40 18.38 05.53 17.56 05.38 18.05 06.28 18.37
Feb 1
06.09 18.24 06.39 18.40 05.53 17.58 05.41 18.05 06.39 18.38
16
06.09 18.21 06.36 18.39 05.51 17.56 05.42 17.58 06.27 18.35
Maret 1
06.07 18.15 06.31 18.37 05.47 17.53 05.42 17.51 06.25 18.31
16
06.08 18.08 06.25 18.33 05.47 17.49 05.42 17.42 06.20 18.26
April 1
06.03 18.01 06.19 18.30 05.37 17.45 05.41 17.36 06.17 18.21
16
06.01 17.56 06.15 18.30 05.33 17.44 05.40 17.30 06.14 18.30
Mei 1
06.02 17.56 06.33 18.30 05.32 17.43 05.43 17.26 06.13 18.38
16
06.05 17.55 06.13 18.33 05.33 17.45 05.46 17.26 06.15 18.10
Juni 1
06.08 17.57 06.16 18.36 05.35 17.49 05.49 17.28 06.18 18.21
16
06.11 18.01 06.16 18.39 05.38 17.51 05.52 17.31 06.21 18.25
Juli 1
06.13 18.04 06.23 18.42 05.43 17.55 05.54 17.34 06.14 18.18
16
06.12 18.05 06.23 18.40 05.42 17.53 05.52 17.37 06.32 18.20
Agust 1
06.07 18.05 06.22 18.37 05.40 17.51 05.47 17.38 06.21 18.20
16
06.02 18.02 06.19 18.30 05.36 17.45 05.40 17.37 06.16 18.22
Sept 1
06.05 17.59 06.16 18.24 05.52 17.39 05.32 17.35 06.11 18.22
16
06.08 17.57 06.12 18.17 05.27 17.34 05.23 17.33 06.05 18.17
Okt 1
06.11 17.54 06.09 18.12 05.24 17.29 05.13 17.32 06.00 18.12
16
06.13 17.55 06.09 18.08 05.32 17.26 05.09 17.34 05.58 18.09
Nop 1
06.12 17.56 06.11 18.05 05.24 17.27 05.07 17.38 05.59 18.07
16
05.39 18.03 06.16 18.12 05.28 17.31 05.09 17.45 06.02 18.08
Des 1

22
05.46 18.10 06.23 18.18 05.36 17.37 05.15 17.53 06.08 18.20
16
05.52 18.17 06.30 18.26 05.43 17.45 05.22 17.59 06.19 18.26
31

23
DAFTAR WAKTU TERBIT DAN TERBENAM MATAHARI

Palembang Pontianak Sabang Semarang Padang


W.Indonesia W.Indonesia W.Indonesia W.Indonesia W.Indonesia
Bulan Tgl
Barat Tengah Barat Barat Barat
Terbit Terbenam Terbit Terbenam Terbit Terbenam Terbit Terbenam Terbit Terbenam
j.m j.m j.m j.m j.m j.m j.m j.m j.m j.m
Jan 1 05.55 18.13 06.41 18.49 06.48 18.36 05.25 17.59 05.05 17.41
16 06.01 18.20 06.47 18.56 16.53 18.44 05.33 18.01 05.12 17.45
Feb 1 06.07 18.22 06.52 18.59 06.57 18.49 05.40 18.05 05.19 17.48
16 06.09 18.21 06.53 19.00 06.56 18.02 05.44 18.02 05.24 17.44
Maret 1 06.08 18.19 06.51 18.58 06.51 18.52 05.45 17.49 05.25 17.40
16 06.06 18.13 06.48 18.54 06.46 18.50 05.44 17.52 05.24 17.33
April 1 06.30 18.07 06.43 18.49 06.37 18.45 05.42 17.44 05.24 17.25
16 06.00 18.02 06.39 18.45 06.31 18.46 05.41 17.07 05.23 17.17
Mei 1 05.58 17.59 06.36 18.43 06.27 18.44 05.40 17.31 05.23 17.11
16 05.58 17.57 06.35 18.42 06.24 18.47 05.42 17.30 05.24 17.10
Juni 1 06.00 17.58 06.26 18.44 06.24 18.50 05.45 17.29 05.28 17.08
16 06.03 18.00 06.39 18.46 06.17 18.54 05.49 17.31 05.31 17.10
Juli 1 06.06 18.04 06.42 18.50 06.29 18.58 05.51 17.35 05.34 17.14
16 06.09 18.06 06.45 18.52 06.34 18.59 05.53 17.39 05.36 17.18
Agust 1 06.08 18.07 06.45 18.52 06.34 18.57 05.51 17.40 05.32 17.20
16 06.05 18.06 06.43 18.50 06.34 18.52 05.45 17.40 05.28 17.30
Sept 1 05.59 18.02 06.38 18.45 06.32 18.46 05.40 17.38 05.22 17.19
16 05.54 17.59 06.34 18.40 06.30 18.38 05.32 17.36 05.24 17.17
Okt 1 05.46 17.55 06.28 18.35 06.27 18.31 05.24 17.34 04.50 17.15
16 05.41 17.52 06.24 18.31 06.26 18.24 05.17 17.32 04.57 17.14
Nop 1 05.38 17.51 06.22 18.29 06.25 19.19 05.12 17.33 04.51 17.16
16 05.38 17.53 06.23 18.30 06.28 19.19 05.11 17.36 04.50 17.18
Des 1 05.41 17.59 06.27 18.35 06.34 18.22 05.13 17.43 04.51 17.26
16 05.48 18.05 06.34 18.41 06.41 18.28 05.20 17.51 04.50 17.33
31 05.55 18.13 06.41 18.49 06.48 18.35 05.25 17.57 04.05 16.40

24
DAFTAR WAKTU TERBIT DAN TERBENAM MATAHARI

Sorong Surabaya
Bulan Tgl W.Indonesia Timur W.Indonesia Barat
Terbit Terbenam Terbit Terbenam
j.m j.m j.m j.m
Jan 1 06.13 18.24 05.16 17.49
16 06.19 18.31 05.22 17.54
Feb 1 06.24 18.33 05.29 17.55
16 06.25 18.34 05.34 17.53
Maret 1 06.23 18.32 05.35 17.49
16 06.21 18.27 05.34 17.42
April 1 06.16 18.22 05.32 17.34
16 06.13 18.17 05.31 17.28
Mei 1 06.19 18.15 05.30 17.21
16 06.09 18.14 05.32 17.20
Juni 1 06.11 18.15 05.35 17.19
16 06.23 18.17 05.39 17.21
Juli 1 06.17 18.20 05.41 17.23
16 06.19 18.22 05.44 17.29
Agust 1 06.19 18.24 05.41 17.30
16 06.17 18.22 05.35 17.30
Sept 1 06.12 18.17 05.30 17.29
16 06.07 18.13 05.22 17.26
Okt 1 06.01 18.08 05.14 17.24
16 05.56 18.05 05.07 17.22
Nop 1 05.54 18.03 05.02 17.23
16 05.55 18.04 05.00 17.26
Des 1 05.58 18.10 05.03 17.33

25
4.6 Pengolahan Data Radiasi Matahari
Pengamatan radiasi matahari dilakukan dengan menggunakan peralatan actinograph,
seperti telah diuraikan pada Bab Digitasi Data Hidrologi bahwa data radiasi matahari diamati
dengan dengan periode pengamatan harian dan mingguan. Pengolahan data dilakukan
dengan cara menghitung jumlah kotak dalam 1 hari, kemudian dikalikan dengan koefisien
alat yang tergantung dari periode pengamatan (harian atau mingguan). Rumus yang
digunakan adalah:

Alat actinograph dengan periode pengamatan harian:


R = F x 1.5
K ............................................................................. (13)
Keterangan:
R = Radiasi matahari dengan satuan calori/cm2/hari

F = Luas (jumlah kotak)

K = Koefisien alat

Alat actinograph dengan periode pengamatan mingguan:


R = F x 54.545
K .......................................................................... (14)
Keterangan:
R = Radiasi matahari dengan satuan calori/cm2/hari

F = Luas (jumlah kotak)

K = Koefisien alat
Contoh 1:
Sebagai contoh dapat dilihat grafik radiasi matahari dari salah satu tanggal 4 s/d 5
Desember 1981, seperti terlihat pada gambar.3 grafik ini merupakan grafik radiasi matahari
harian dengan sumbu mendatar (sumbu X) adalah waktu dalam jam (yang dimulai dari jam
19 s.d jam 19 pada bagian atas grafik), dan sumbu tegak (sumbu Y) adalah radiasi
matahari. Terlihat bahwa matahari mulai bersinar pada jam 09.15 pagi dan terbenam pada
jam 19.00, Cara membacanya/mendigit adalah sebagai berikut:
a) Hitung kotak yang berada di bawah garis grafik yaitu untuk:
Jam 09..00 jam 10.00 sebanyak 9 kotak
Jam 10.00 jam 11.00 sebanyak 23 kotak
Jam 11.00 jam 12.00 sebanyak 24 kotak
Jam 12.00 jam 13.00 sebanyak 72 kotak

26
Jam 13.00 jam 14.00 sebanyak 55 kotak
Jam 14.00 jam 15.00 sebanyak 54 kotak
Jam 15.00 jam 16.00 sebanyak 40 kotak
Jam 16.00 jam 17.00 sebanyak 35 kotak
Jam 17.00 jam 18.00 sebanyak 20 kotak
Jam 18.00 jam 19.00 sebanyak 12 kotak
Jumlah kotak selama 1 hari (F) = 344 kotak
b) Untuk menghitung besarnya radiasi matahari, gunakan rumus (14) karena data
berasal dari grafik harian.
R = F x 1.5 K F = 344, K= 0.39, sehingga
R (radiasi matahari) = 344 x 1.5 x 0.39 = 201.24 calori/cm2/hari
Contoh 2:
Contoh 2 dapat dilihat grafik radiasi matahari dari salah satu pos klimatologi tanggal 17
sampai dengan 22 Pebruari 1976, grafik ini merupakan grafik radiasi matahari mingguan
dengan sumbu mendatar (sumbu X) adalah waktu dalam hari (yang dimulai dari jam 19 s.d
jam 19 pada bagian atas grafik), dan sumbu tegak (sumbu Y) adalah radiasi matahari.
Berbeda dengan contoh 1 yang merupakan grafik harian, maka pada contoh 2 grafik yang
ditampilkan adalah grafik mingguan. Perbedaannya adalah pada grafik harian 1 lembar
grafik merupakan hasil pengamatan selama 1 hari, sedangkan untuk grafik mingguan 1
lembar grafik merupakan hasil pengamatan selama 1 minggu. Prinsip digitasi/pembacaan
sama yaitu menghitung jumlah kotak yang terbentuk oleh grafik yaitu: Terlihat bahwa
matahari mulai bersinar pada jam 7 pagi dan terbenam pada jam 18.00, Cara
membacanya/mendigit adalah sebagai berikut:
a) Hitung kotak yang berada di bawah garis grafik yaitu untuk:
Tanggal 17-2-1976 sebanyak 23 kotak
Tanggal 18-2-1976 sebanyak 23 kotak
Tanggal 19-2-1976 sebanyak 29kotak
Tanggal 20-2-1976 sebanyak 27 kotak
Tanggal 21-2-1976 sebanyak 25 kotak
Tanggal 22-2-1976 sebanyak 27 kotak
b) Untuk menghitung besarnya radiasi matahari harian (selama 1 hari/24 jam), gunakan
rumus 3 karena data berasal dari grafik mingguan:
R = F x 54.545 K, sehingga:
Radiasi tanggal 17-2-1976 = 23 kotak x 54.545 x 0.39 = 489.27 cal/cm2/hari
Radiasi tanggal 18-2-1976 = 23 kotak x 54.545 x 0.39 = 489.27 cal/cm2/hari
Radiasi tanggal 19-2-1976 = 29kotak x 54.545 x 0.39 = 616.90 cal/cm2/hari
Radiasi tanggal 20-2-1976 = 27 kotak x 54.545 x 0.39 = 574.36 cal/cm2/hari
Radiasi tanggal 21-2-1976 = 25 kotak x 54.545 x 0.39 = 531.81 cal/cm2/hari
Radiasi tanggal 22-2-1976 = 27 kotak x 54.545 x 0.39 = 574.36 cal/cm2/hari

27
Gambar 3: Contoh Grafik Pengamatan Radiasi Matahari

4.7 Pengolahan Data Tekanan Udara


Pengamatan tekanan udara dilakukan dengan menggunakan alat barograph untuk yang
otomatik atau barometer yang manual. Pembacaan tekanan udara dari barometer hanya
bersifat pembacaan titik yaitu data yang diperoleh hanya data pada saat pembacaan
dilakukan, sedangkan pada barometer tekanan udara akan tergambar dalam suatu grafik,
sumbu X adalah waktu (hari) dan sumbu Y adalah tekanan udara (millibar). Cara
pengolahannya sama dengan grafik AWLR atau grafik lainnya yaitu dapat dibaca secara
manual atau dengan digitasi menggunakan program komputer. Untuk pengolahan secara
manual grafik dibaca per jam, kemudian untuk mendapatkan data tekanan udara rata-rata
harian adalah dengan cara menjumlahkan pembacaan selama 1 hari (24 jam) kemudian
dibagi 24 seperti pada rumus (15)

............................................. (15)

Keterangan:

Ph : Tekanan Udara Rata-rata Harian, Pu : Tekanan Udara pada jam ke n, n : 1 hari (24
jam)

28
4.8 Pengolahan Data Debit dan Sedimen
Secara skematik tahapan pengolahan data debit seperti digambarkan pada diagram alir
pada Gambar-4 sebagai berikut:

Data Pengukuran
Data Muka Air
Debit

Susunan Kronologis Resume Data


Koreksi
Grafik Muka Air Pengukuran Debit

Koreksi Data Perpanjangan Analisa Lengkung

Program Sdigit
Tabel Debit
(rata-rata muka air)

Program HDM1
Program HDM 2 (Discharge measurement input)
- Graph data input
- Computation of deviation

Program HDM 1
- Tabel debit
- perhitungan koreksi M.A
Yes Yes
Salah

Program SFPEAK
Program STAS
(distribusi koreksi No Salah Yes
(data stasion)
muka air)

Program GRFLOW
Program HDM21 Program HDM22 - Hidrograf debit
(rata-rata muka air) (Perhitungan debit ) - Duration curve
- Hidrograf banjir

Evaluasi Data
(Dibandingkan dgn pos
lain dan hujan)

Salah

KETERANG
No AN :
: manual
Data Debit
: Hymos

: PERDAS

Gambar 4: Diagram Alir Perhitungan Debit

29
4.8.1 Kompilasi Data Lapangan (Data Muka Air dan Data Pengukuran Debit)
Yang dimaksud dengan data lapangan adalah data fluktuasi muka air baik yang berasal dari
pembacaan secara manual maupun yang berasal dari pembacaan secara otomatis dan data
pengukuran debit, serta data pengukuran debit sedimen
Kompilasi data dilakukan dengan maksud agar data dapat tersimpan dan tersususn secara
rapih dan terstruktur sehingga memudahkan dalam pencarian/penggunaan.
Tahapan kompilasi data
Data muka air yang berasal dari pembacaan secara manual kemudian dijilid dan
dipisahkan per satu tahun data.
Data muka air berupa grafik kemudian disusun secara berurutan dari tanggal 1
Januari sampai dengan 31 Desember kemudian disimpan pada map khusus agar
tidak berceceran, sedangkan data digital disimpan di dalam suatu file.
Data pengukuran debit juga disusun secara berurutan mulai dari pengukuran yang
dilakukan paling awal sampai dengan pengukuran yang dilakukan paling akhir dan
kemudian diberi nomor urut. Pemberian nomor dialkukan dengan maksud agar
dalam pengeplotan pada lengkung aliran (rating curve) dapat dilihat ada atau tidak
ada perubahan dasar sungai.
Data pengukuran kemudian disalin ke dalam suatu formulir yang merangkum semua
data pengukuran antara lain nama pos duga air, tanggal pengukuran, petugas
pengukuran, tinggi muka air, lebar sungai, luas penampang basah, kecepatan rata-
rata, debit sungai dan kolom perhitungan besarnya koreksi dan penyimpangan.
Tahap selanjutnya setelah kompilasi data lapangan adalah pengolahan data tinggi
muka air dan pembuatan lengkung debit (rating curve)

4.8.2 Perhitungan Rata-Rata Tinggi Muka Air


Secara garis besar perhitungan rata-rata tinggi muka air dibagi menjadi 2 tahap yaitu tahap
persipan dan tahap perhitungan.
1) Tahap Persiapan
Pada tahap ini dilakukan pemeriksaan, antara lain :
1) Periksa tinggi muka air saat pemasangan dan pada saat pengambilan grafik,
terhadap pembacaan papan duga air;
2) Periksa "waktu", saat pemasangan dan peng-ambilan terhadap skala waktu
pada grafik;
3) Periksa apakah terjadi pembalikan tinggi muka air;
4) Periksa apakah terjadi keterlambatan atau kecepatan waktu pada grafik;
5) Periksa kedudukan elevasi nol duga air pada grafik;

30
6) Periksa apakah karena faktor lain misalnya : pengaruh lumpur, pena blobor,
grafik bertingkat-tingkat dan sebagainya.
7) Putuskan apakah grafik muka air memenuhi syarat untuk pengolahan
selanjutnya

2) Tahap Perhitungan
Yang dimaksud dengan perhitungan muka air adalah menghitung ketinggian muka air harian
rata-rata yang dilaksanakan sebagai berikut:
1) Perhitungan data tinggi muka air harian rata-rata yang berasal dari data
pembacaan papan duga air biasa (manual) seperti pada Tabel-3.
Tinggi muka air rata-rata harian dihitung dengan rumus :
h h h
H 7 12 17

3 ...(16)

Keterangan :
H = tinggi muka air rata-rata
h7 = tinggi muka air hasil pembacaan pada pukul 07.00
h12 = tinggi muka air hasil pembacaan pada pukul 12.00
h17 = tinggi muka air hasil pembacaan pada pukul 17.00
Apabila terjadi banjir maka data puncak banjir dimasukkan ke dalam formulir
pembacaan dan hasil pembacaannya ditambahkan dalam perhitungan rata-rata
sehingga rumus perhitungan menjadi:
h h h h
7 12 17 b
H
4 ...(17)

b
Keterangan : h = tinggi muka air banjir

Catatan:
a) Sebelum dirata-rata harus diperiksa dulu kebenaran data apakah data
sesuai dengan kondisi lapangan, pemeriksaan ditekankan pada fluktuasi
muka air tergantung dari musim dan mambandingkan dengan data
tahun-tahun sebelumnya
b) Data banjir merupakan data yang sangat penting untuk berbagai
perhitungan/analisis, oleh sebab itu maka untuk pos duga air biasa agar
ditekankan kepada pengamat untuk mencatat ketinggian muka air banjir
segera setelah kejadian banjir dengan cara membaca bekas banjir
sampah, lumpur dll.

31
Tabel-3
PEMBACAAN PAPAN DUGA AIR BIASA
BULAN : DESEMBER 2007

NAMA SUNGAI : CIKERUH KECAMATAN : TANJUNGSARI


Nama Tempat : CIKUDA KABUPATEN : SUMEDANG
PEMBACAAN PEILSKAL (m)
TANGGAL
JAM 07.00 JAM 12.00 JAM 18.00 M.A BANJIR RATA-RATA
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1 0.68 0.70 0.68 0.69
2 0.74 0.78 0.81 0.78
3 0.72 0.81 0.90 0.81
4 0.76 0.74 0.78 0.76
5 0.81 0.77 0.80 0.79
6 0.78 0.80 0.86 0.81
7 0.79 0.77 0.90 0.82
8 0.89 0.90 1.15 2.15 1.27
9 1.15 1.00 1.10 1.08
10 1.25 1.20 1.12 1.19
11 1.18 1.00 1.11 2.40 1.42
12 1.35 1.30 1.28 2.57 1.63
13 1.27 1.22 1.18 1.22
14 1.08 1.02 1.00 1.03
15 1.05 1.03 0.98 1.02
16 1.12 1.10 1.08 1.10
17 1.08 1.24 1.35 2.76 1.61
18 1.15 1.14 1.12 1.14
19 0.98 1.00 1.04 1.01
20 0.87 0.91 0.98 0.92
21 0.85 0.83 0.84 0.84
22 0.91 0.92 0.94 0.92
23 0.98 0.96 1.00 0.98
24 1.14 1.08 1.38 2.28 1.47
25 1.29 1.32 1.34 1.32
26 1.41 1.38 1.32 1.37
27 1.36 1.26 1.23 1.28
28 1.22 1.18 1.14 1.18
29 1.08 1.04 0.98 1.03
30 1.10 1.09 1.07 1.09
31 1.05 1.08 1.15 1.09
Cikuda, 1 Januari 2008
Catatan: Pengamat,
1) Pengamat hanya mengisi kolom 2,3,4
dan 5
2) Banjir tertinggi 2.76 m tanggal 17/12
jam 23.00

32
2) Data pembacaan grafik muka air (MA)
Pembacaan grafik muka air dapat dilaksanakan dengan menggunakan
perangkat komputer (digitizer) atau Program HITA maupun secara manual. Hasil
dari pembacaan grafik adalah data muka air jam-jaman dan rata-rata harian.
Apabila pembacaan grafik dilaksanakan secara manual, harus mengikuti
ketentuan sebagai berikut:
a. Apabila fluktuasi MA pada grafik tidak terlalu tajam maka merata- rata
Muka Air menggunakan cara "cut and fill".
b. Apabila perubahan tinggi MA pada grafik terlalu tajam maka merata-rata
Muka Air dilakukan dengan cara dibaca setiap jam (Sub Division). Tinggi
muka air rata-rata dihitung dengan rumus :
h h ...... h
H 7 2 n
.....(18)
24

Keterangan :
H : tinggi muka air harian rata-rata
H1 : tinggi muka air pada pukul 01.00
H2 : tinggi muka air pada pukul 02.00
Hn : tinggi muka air pada pukul ke n

4.8.3 Perhitungan Koreksi dan Penyimpangan (shifting)


Perhitungan koreksi dan penyimpangan adalah menghitung berapa besar penyimpangan
pengukuran debit terhadap lengkung debit. Apabila penyimpangan> 10% maka dihitung
berapa koreksi yang terjadi, dan apabila penyimpangan < 10% maka koreksi dianggap (0).
Penyimpangan yang terjadi disebabkan adanya perubahan dasar sungai akibat
pengendapan (sedimentasi) atau penggerusan. Garis pada lengkung aliran
menggambarkan garis keseimbangan dimana kondisi dasar sungai pada saat tidak terjadi
pengendapan maupun penggerusan.
1. Data yang dibutuhkan
Data yang dibutuhkan dalam perhitungan koreksi dan penyimpangan meliputi:
1) Data pengukuran debit dalam formulir H2
2) Data tinggi muka air,
3) Data lengkung debit/table debit

2. Cara Perhitungan Koreksi Dan Penyimpangan

a. Tentukan distribusi penyimpangan/koreksi tinggi muka air berdasarkan fungsi

33
waktu dan fungsi muka air karena pengendapan dan penggerusan dengan
menggunakan formula :

DQ= x 100% .....................................................(19)

Keterangan:
DQ = besarnya koreksi

= debit dari pembacaan lengkung debit

Qm = debit pengukuran
Apabila DQ > 10% maka perlu dilakukan koreksi dbit yang dihitung dengan
menggunakan rumus:

DH = Hc Hm ........................................................................(20)
Keterangan:
DH = Besarnya koreksi tinggi

Hc = Tinggi muka air yang ditunjukan pada lengkung debit/tabel

Hm = Tinggi muka air saat pengukuran debit


Contoh 1: Lihat Tabel-4 dan Tabel-5
Untuk data pengukuran dengan koreksi < 10 %
a) Ambil pengukuran No. 1 pada tabel 4 terlihat:
b) Muka Air Pengukuran (Hm) : 1.3 m
c) Debit Pengukuran (Qm) : 9.44 m3/det
d) Lihat Tabel -5, untuk muka air 1.3, cari berapa besar debitnya
e) Pada Tabel-5, untuk Muka Air 1.3 m, debit (Qc) = 9.00 m3/det

f) Hitung besarnya koreksi dengan rumus : DQ= x 100%


DQ = (9.44 9.0)/9.00 x 100% = (+) 4.89 % < 10& diabaikan/tidak ada
shifting
Catatan: Tanda positif menunjukan bahwa pada saat pengukuran terjadi
penggerusan/scouring
Contoh 2:
Untuk data pengukuran dengan koreksi > 10 %
a) Ambil pengukuran No. 1 pada tabel 4 terlihat:
b) Muka Air Pengukuran (Hm) : 1.19 m
c) Debit Pengukuran (Qm) : 5.95 m3/det
d) Lihat Tabel -5, untuk muka air 1.19, cari berapa besar debitnya
e) Pada Tabel-5, untuk Muka Air 1.3 m, debit (Qc) = 6.62 m3/det

34
f) Hitung besarnya koreksi dengan rumus : DQ= x 100%
DQ = (5.95 6.62 )/6.62 x 100% = (-) 10.12 % > 10& shifting dihitung dengan
cara:
Cari Muka Air (Hc) Tabel 5 untuk debit = 5.95 (Qm), ketemu Hc = 1.15 m
Hitung Koreksi MA (shifting) dengan menggunakan Rumus (20): DH = Hc
Hm,
Besarnya koreksi (DH) = 1.15 1.19 = (-) 0.04 m
Catatan:
Tanda negatif menunjukan bahwa pada saat pengukuran terjadi
pengendapan/sedimentasi
Untuk mempermudah dalam pemberian tanda maka apabila Qm > Qc maka tandanya
positif (+), dan apabila Qm < Qc maka tandanya negatif (-)

35
Tabel-4: Daftar Pengukuran Debit (Formulir H2)
Pengukuran Aliran Sungai : Batang Sumani Bandar Nomor Stasiun : 1-66-0-
Padung 05
Tahun:
Lengkung
Waktu
Lua Aliran Jumla
Leb Vm Q
No Tangg s MA h Perubah Mula Keterang
Diukur Oleh ar (m/d (m3/de Metode
. al (m2 (m) Korek Vertik an M.A i Seles an
(m) t) t)
) si Perb. al (Jam ai
(m) (%) ) (Jam)
1981
1 28- Oma W - + 13.1
-
2 Aug Yoyo S 26.5 42.7 0.22 1.3 9.44 0 4.89 0.2,0.8 23 3 14.05
1 26- Oma W - 2.7 + 11.3
3 Oct Yoyo S 28.5 87.0 0.81 7 70.2 0 0.14 0.2,0.8 22 - 0.10 0 15.25
1982
1 14- Oma W - 2.4 - 17.0
4 Apr Yoyo S 29.5 72.1 0.74 9 53.2 0 0.36 0.2,0.8 21 -0.08 0 18.00
1 15- Azizar - 1.0 - 0.2,0.6, 10.3
5 Sep Basyir 31.5 19.5 0.22 6 4.33 0 0.69 0.8 23 0 11.30
1 21- Azizar - 1.2 +0.6 11.4
6 Oct Basyir 25.0 42.2 0.18 4 7.73 0 5 0.2,0.8 21 5 12.50
1983
1 26- 175. +1.0 10.4
7 Jan Adis -Supena 36.0 0 150 5.5 280 0 8 0.6 20 5 11.35
1 29- Azizar - 1.1 -
8 Sep Basyir 25.0 34.0 0.71 9 5.95 - 0.04 10.1 0.2,0.8 23 9.50 10.36
1 28- Azizar - 1.3 +2.6 11.2
9 Nov Basyir 26.0 41.0 0.28 9 11.5 0 8 0.2,0.8 23 + 0.01 4 12.23
6-Jun
2 16- Oma W - 1.0
0 Aug Adis S 23.0 31.8 0.11 3 3.62 0 - 6.7 0.2,0.8 21 9.20 10.13

36
Disalin Oleh : Oma Penanggung Jawab :
Warma Diperiksa Oleh : Dra.Sri Mulat Y Drs.Soewarno

Tanda Tangan: Tanda Tangan: Tanda Tangan :

Sumber: SNI 03-2822-1992

37
Sumber: SNI 03-2822-1992

38
Sumber: SNI 03-2822-1992

39
4.8.4 Distribusi Koreksi dan Penyimpangan (shifting)
Seperti telah diuraikan sebelumnya bahwa shifting adalah suatu angka (harga) yang
diberikan untuk mengoreksi agar dasar sungai seolah-olah tetap dalam keadaan
setimbang (tidak terjadi penggrusan maupun pengendapan), oleh karena shifting
terjadi disebabkan oleh adanya sedimentasi/pengendapan dan penggerusan. Faktor
yang mempengaruhi shifting adalah faktor aliran sungai dan faktor sedimentasi.
Distribusi shifting dilakukan pada suatu periode (penggal waktu) di antara 2
pengukuran debit. Penentuan besarnya shifting dan pendistribusiannya dilakukan
dengan ketentuan sebagai berikut:
1) apabila data tinggi muka air harian yang terletak di antara dua pengukuran debit
mempunyai penyimpangan lebih besar dari 10%, tinggi muka air harus dikoreksi
(ditambah/dikurangi dengan suatu harga) sehingga tinggi muka air pengukuran
sama dengan tinggi muka air pada table (lengkung debit)
2) koreksi tinggi muka air dianggap nol apabila penyimpangan debit lebih kecil dari
10 %
3) besarnya selisih koreksi antara dua pengukuran akibat penggerusan dan
pengendapan didistribusikan dalam selang waktu dua periode pengukuran
dengan pendekatan:
a) Shifting by time (distribusi shifting berdasarkan waktu), digunakan
apabila di antara dua pengukuran tidak terjadi banjir. Distribusi shifting
dilakukan dengan membagi selisih shifting dengan selang waktu di
antara dua pengukuran. Shifting by time dapat dihitung dengan
menggunakan rumus:
DHt = DH1 + R (t - t1) ..
.....(21)
Keterangan:
R adalah :

R =

............... ..................................................

.. (22)
Keterangan :
DHt = besarnya koreksi tinggi muka air pada waktu t (m)
DH1 = besarnya koreksi tinggi muka air pada waktu = t1 (m)
DH2 = besarnya koreksi

40
R = konstanta

b) Shifting by peak(distribusi/perubahan shifting berdasarkan puncak


banjir), digunakan apabila di antara dua pengukuran hanya terjadi satu
kali banjir. Distribusi shifting dilakukan pada saat banjir sampai dengan
pengukuran berikutnya. Shifting by peak dapat dihitung dengan
menggunakan rumus:

DHx (i) = DH2 + x (DH2 -

DH1) ................................................(23)
Keterangan :
Hmin = tinggi muka air terendah selama periode antara dua
pengukuran debit (m)
Hmax = tinggi muka air tertinggi selama periode antara dua
pengukuran debit (m).
i = terjadinya banjir ke 1, ke 2 dan seterusnya
Hx (i) = tinggi muka air banjir pada waktu t yang ke i (m)
DHx(i) = besarnya koreksi penyimpangan tinggi muka air pada
waktu t yang ke i (m)

c) Shifting by stage, digunakan apabila di antara dua pengukuran terjadi


lebih dari satu kejadian banjir. Distribusi shifting dilakukan secara
bertahap pada setiap kejadian banjir yang besarnya sebanding
dengan banjir yang bersangkutan dikalikan dengan selisih koreksi
antara dua pengukuran dibagi total besarnya kejadian banjir.
Distribusi koreksi pada selang waktu antara dua banjir dilakukan dengan
metode by time. Shifting by stage dapat dihitung dengan menggunakan
rumus:

DHx (i) = DH2+ x (DH2 - DH1)............................(24

Keterangan :
Hmin = tinggi muka air terendah selama periode antara dua
pengukuran debit (m)
Hmax = tinggi muka air tertinggi selama periode antara dua
pengukuran debit (m).
i = terjadinya banjir ke 1, ke 2 dan seterusnya
Hx (i) = tinggi muka air banjir pada waktu t yang ke i (m)

41
DHx(i) = besarnya koreksi penyimpangan tinggi muka air pada
waktu t yang ke i (m)
Contoh: distribusi shifting by time

Keterangan : Hari Pengukuran


Gambar-2: Hydrograph pada distribusi shifting by time

Cara pendistribusian shifting dapat dilakukan dengan menggunakan rumus:

42
Tabel 7 :Contoh: distribusi shifting by time

Penjelasan:
Pengukuran I tanggal 3 Januari : Muka Air 2.73, Shifting +0.08,
Pengukuran II tanggal 25 Pebruari, Muka Air 3.25, Shifting +0.02,
Selang waktu antara Pengukuran I dengan Pengukuran II: 3 Jan s/d 25 Peb. = 54 hari
Selisih shifting = (+) 0.08 (+) 0.02 = 0.06
Jumlah hari setiap perubahan shifting = 54/6 = 9 hari
Jumlah hari shifting I (+0.08) = 4 hari, shifting II (+0.07) = 9 hari, shifting III (+0.06) = 9 hari,
shifting IV (+0.05) = 9 hari, shifting V (+0.04) = 9 hari, shifting VI (+0.03) = 9 hari, shifting

43
terakhir (+0.02) = 5 hari .
Contoh: distribusi shifting by peak
Distribusi fungsi tinggi muka air karena penggerusan
Untuk distribusi shifting yang diakibatkan oleh adanya penggerusan, perubahan shifting
biasanya terjadi secara sekaligus yaitu pada saat banjir terjadi, oleh karena itu maka untuk
penggerusan biasanya digunakan shifting by peak, dengan ilustrasi seperti terlihat pada
Gambar-3.

Gambar -5: Hydrograph Muka Air Citanduy Pataruman April Juni 1979

Gambar-3 menunjukan grafik hubungan antara fluktuasi muka air pada sumbu Y dan waktu
(hari) pada sumbu X, grafik tersebut disebut hydrograph (muka air). Hydrograph tersebut
diambil dari data Citanduy Pataruman bulan April sampai dengan bulan Juni 1979. Terlihat
pada grafik tersebut bahwa pada periode April s/d Juni hanya terdapat 1 kali banjir besar pada
tanggal 22 Mei 1979 sebesar 6 m. Pengukuran debit dilakukan pada tanggal 3 April dengan
shifting sebesar +0.02 m dan tanggal 3 Juni dengan shifting sebesar +0.08 m, dengan
demikian maka pada periode tanggal 3 April sampai dengan 3 Juni terjadi penggerusan
sebesar 0.06 m. Oleh karena pada periode tersebut hanya terjadi banjir besar 1 kali pada
tanggal 22 Mei, maka distribusi shifting dilakukan dengan metoda by peak, yaitu perubahan
dasar sungai (penggerusan) terjadi sekaligus pada saat banjir, sehingga distribusi shifting

44
adalah:
Dari tanggal 3 April sampai dengan 21 Mei shifting = 0.02 m
Dari tanggal 22 Mei sampai dengan 3 Juni shifting = 0.08 m
Untuk periode sebelum tanggal 3 April dan sesudah tanggal 3 Juni besarnya shifting
ditentukan oleh pengukuran debit yang dilakukan sebelum tanggal 3 April dan sesudah
tanggal 3 Juni.
Untuk lebih jelasnya lihat Tabel-8

Contoh Distribusi Shifting by stage (distribusi shifting secara bertahap)


Distribusi fungsi tinggi muka air karena penggendapan
Distribusi shifting by stage dilakukan apabila terjadi perubahan dasar sungai berupa
pengendapan yang terjadi secara bertahap dimulai setelah banjir terjadi, dengan ilustrasi
seperti ditunjukkan pada Gambar-4.

Gambar -6: Hydrograph Muka Air Citanduy Pataruman Sept Okt 1984

45
Penjelasan:
1) Gambar-4 adalah hydrograph (muka air) Citanduy Pataruman tanggal 1 September
sampai dengan 31 Oktober 1984. Pada periode tersebut terjadi banjir 4 kali yaitu pada
tanggal 7 September sebesar 4.03 m, tanggal 14 Sept. 4.07 m, tgl. 13 Okt 5.47 m dan
tanggal 26 Okt. 5.30 m.
2) Pengukuran Debit I dilakukan tanggal 3 September dengan muka air = 2.51 m dan
shifting +0.02 m
3) Pengukuran Debit II dilakukan tanggal 31 Otober dengan muka air = 2.78 m dan
shifting -0.08 m
4) Selang waktu antara pengukuran I dan pengukuran II adalah 59 hari
5) Selisih shifting antara pengukuran I dan pengukuran II = (+) 0.02 (-) 0.08 = 0.10 m
6) Banjir I = 4.03, banjir II = 4.07 m, banjir III = 5.47 m dan banjir IV = 5.30 m
7) Jumlah muka air banjir = 4.03 + 4.07 + 5.47 + 5.30 = 18.87 m
8) Perubahan shifting yang terjadi pada banjir I = 4.03/18.87 x 0.1 = 0.02 m, sehingga
shifting yang terjadi pada kejadian banjir I tgl 7 Sept = (+)0.02 0.02 = 0
9) Perubahan shifting yang terjadi pada banjir II = 4.07/18.87 x 0.1 = 0.02 m, sehingga
shifting yang terjadi pada kejadian banjir I tgl 14 Sept = 0.00 0.02 = -0.02
10) Perubahan shifting yang terjadi pada banjir III = 5.47/18.87 x 0.1 = 0.03 m, sehingga
shifting yang terjadi pada kejadian banjir I tgl 13 Okt = - 0.02 0.03 = -0.05
11) Perubahan shifting yang terjadi pada banjir IV = 5.47/18.87 x 0.1 = 0.03 m, sehingga
shifting yang terjadi pada kejadian banjir I tgl 26 Okt = - 0.05 0.03 = -0.08
12) Perubahan shifting antara banjir I, banjir II, banjir III dan banjir IV dilakukan dengan
metode shifting by time
13) Distribusi shifting by stage secara lengkap disampaikan pada Tabel-9.

46
47
4.8.5 Perhitungan Debit Harian
Perhitungan debit harian merupakan tahapan akhir dari pengolahan data debit yang
merupakan tahapan penggabungan antara data pengamatan muka air dan data pengukuran

48
debit setelah data pengamatan muka air diolah menjadi data muka air harian rata-rata dan
data pengukuran diolah menjadi rating curve dan rating table serta setelah dihitung
besarnya penyimpangan data pengukuran debit terhadap rating curve.
1) Data yang dibutuhkan
Dalam perhitungan data debit harian dibutuhkan data antara lain:
(1) Data muka air yang lengkap, akurat dan berkesinambungan baik yang yang
dikumpulkan dari alat pencatat data manual ataupun otomatis. Data sudah dalam
bentuk data muka air harian rata-rata dengan ketentuan:
a) Apabila data muka air harian dicatat secara manual maka tinggi muka air rata-
rata dihitung secara rata-rata hitung (rata-rata aritmatika)
b) Apabila muka air dicatat secara otomatis dalam bentuk hidrograf, tinggi muka air
harian rata-rata dihitung dengan cara manual ( cut and fill), atau didigitasi dengan
menggunakan program komputer (HITA).
c) Debit ditentukan berdasarkan tinggi muka air yang sudah dikoreksi.
d) Pada periode banjir debit ditentukan berdasarkan tinggi muka air tiap jam.
e) Perhitungan Debit Sungai dapat dilakukan secara manual maupun dengan
menggunakan program komputer
(2) Lengkung dan tabel aliran yang mencakup kondisi muka air terendah sampai dengan
kondisi muka air tertinggi.
(3) Data pengukuran debit yang mewakili kondisi muka air terendah sampai dengan
kondisi muka air tertinggi pada tahun bersangkutan
2) Proses Perhitungan Debit Harian
Perhitungan debit harian (rata-rata) dapat dilakukan secara manual atau dengan
menggunakan program komputer. Tingkat ketelitian dari kedua metode tersebut relatif sama
yang berbeda adalah faktor kecepatan, namun demikian petugas pengolah data harus
mengetahui cara pengolahan data secara manual agar apabila terjadi keanehan hasil
pengolahan data dengan komputer dapat segera diketahui. Keanehan yang timbul biasanya
akibat dari kesalahan prosedur atau input data yang salah.
(1) Perhitungan Debit Sungai Dengan Cara Manual
Perhitungan debit sungai secara manual dimulai dengan merata-rata muka air baik yang
berasal dari pos duga air biasa maupun pos duga air otomatik, kedua cara tersebut telah
dijelaskan pada digitasi dan tabulasi data hidrologi. Data perhitungan rata-rata tersebut
kemudian disalin/dimasukan ke dalam formulir H5, yaitu formulir yang digunakan untuk
perhitungan debit secara manual.
Tahap selanjutnya adalah:
1) Pentabelan dari data muka air menjadi data debit setelah dilakukan koreksi.
Pentabelan adalah mengkonversi tinggi mauka air menjadi data debit seperti pada

49
contoh (Tabel-10)
2) Perhitungan tinggi aliran, aliran/km2, dan jumlah air yang mengalir secara bulanan
dan tahunan

Contoh perhitungan akhir (Rata-rata, tinggi aliran dll):

Perhitungan rata-rata debit harian,

1) Debit harian rata-rata dalam 1 bulan dihitung dengan menggunakan rumus:

...........................................................(25)

Ketarangan :

= debit harian rata-rata sebulan (m3/dt),

= debit harian rata-rata (m3/dt),

= jumlah hari dalam satu bulan.

Debit harian rata-rata sebulan dihitung apabila debit harian lengkap dalam satu
bulan.
2) Debit harian rata-rata dalam 1 tahun dihitung dengan rumus:

...........................................................(26)

Ketarangan :

= debit harian rata-rata selama 1 tahun (m3/dt),

50
= debit harian rata-rata (m3/dt),

= jumlah hari dalam satu tahun

Atau:

...........................................................(27)

Ketarangan :

= debit harian rata-rata selama 1 tahun (m3/dt),

= debit harian rata-rata dalam 1 bulan(m3/dt),

= jumlah bulan dalam satu tahun

3) Debit spesifik (aliran/km2 (liter/detik/km2) adalah besarnya debit rata-rata dalam 1


bulan atau 1 tahun per satuan luas (km 2) dari daerah aliran sungai bersangkutan,
debit spesifik dihitung dengan rumus:

Qsm = ................................................................. (28)

Keterangan :
Qsm = debit spesifik harian rata - rata sebulan (l/detik/km2)

51
= debit harian rata-rata dalam 1 bulan(m3/dt),

A = luas daerah aliran sungai (km2).

Debit spesifik harian rata-rata sebulan dihitung apabila debit harian sebulan
lengkap.

4) Tinggi aliran (mm) adalah tebal aliran rata-rata dalam pada suatu DAS dalam 1
bulan, tinggi aliran dihitung dengan rumus:

DM = 86,4 ............................................... (29)

Keterangan :
DM = tinggi aliran (mm)

= debit harian rata-rata (m3/dt),

A = luas daerah aliran sungai (km2).


86.4 = nilai konversi

= jumlah hari dalam satu bulan

Tinggi aliran bulanan dihitung apabila debit harian lengkap dalam satu bulan

Tinggi aliran (mm) /1 tahun, dihitung dengan rumus:

86,4 ...........................................................(30)

Ketarangan :

= Tinggi Aliran selama 1 tahun (mm)

52
= debit harian rata-rata dalam (m3/dt),

n = jumlah hari dalam satu tahun


86.4 = nilai konversi
A = luas daerah aliran sungai (km2).
Tinggi aliran tahunan dihitung apabila debit harian lengkap dalam satu tahun.

5) Volume (meter kubik x 106) adalah jumlah volume air yang mengalir dalam 1 bulan/
1 tahun, dihitung dengan rumus
Volume (meter kubik x 106) dalam 1 bulan/ 1 tahun, dihitung dengan rumus

86,4 ...........................................................(31)

Keterangan:

= Volume aliran selama 1 bulan (meter kubik x 106)

= debit harian rata-rata dalam (m3/dt),

n = jumlah hari dalam 1 bulan

1000 = koefisien agar satuan Vm = (meter kubik x 106)


86.4 = nilai konversi

Volume (meter kubik x 106) dalam 1 tahun, dihitung dengan rumus

86,4 ...........................................................(32)

Keterangan:

53
= Volume aliran selama 1 bulan (meter kubik x 106)

= debit harian rata-rata dalam (m3/dt),

n = jumlah bulan dalam 1 tahun

1000 = koefisien agar satuan Vm = (meter kubik x 106)


86.4 = nilai konversi

Contoh perhitungan tersebut di atas dapat dilihat pada Tabel 10, Data Debit Sungai
Ciwulan Sukaraja Tahun 2006.

54
55
(2) Perhitungan Debit Sungai Dengan Program Komputer
Software komputer yang digunakan dalam perhitungan debit sungai adalah Software Neo-
PERDAS
Program Neo-PERDAS for windows untuk analisa debit sungai terdiri dari 3 Sub Program,
yaitu : Hdmstns editor, Rating Curve dan Neoperdas 2001
1) Hdmstns editor yaitu software untuk mengedit (entry) keterangan stasiun (pos)
2) Rating Curve yaitu proses analisa lengkung aliran dan untuk parameter a, b, dan c,
menggunakan dua metode yaitu RATCUV dan LOGRAT
3) Neoperdas 2001 yaitu proses inti untuk analisa data debit yang terdiri dari beberapa
sub program seperti : HDM1, HDM11, HDM2, HDM21, HDM22, SFPEAKS, PUBLEV,
PUBDEB, GRFLOW3.
a) HDM1 adalah sub program untuk membuat tabel aliran dari RATCUV
dengan interval 10 cm
b) HDM11 adalah sub program untuk membuat tabel aliran dari HDM1
dengan interval 1 cm
c) HDM2 adalah sub program untuk mengkompile hasil digitasi muka air
d) HDM21 adalah sub program untuk membuat tabel muka air harian rata-
rata lengkap dengan keterangan stasiun
e) HDM22 sub program untuk membuat tabel debit harian rata-rata lengkap
dengan keterangan stasiun, yang merupakan hasil konversi muka air
terhadap debit dengan menggunakan sub program HDM11, HDM21 dan
SFPEAKS
f) SFSPEAKS adalah sub program untuk menghitung koreksi dan
penyimpangan pengukuran debit terhadap lengkung debit serta
mendistristribusikan koreksi dan penyimpangan terhadap muka air harian
rata-rata sebelum dikonversi ke debit
g) PUBLEV adalah sub program untuk membuat output dari HDM21 menjadi
publikasi muka air, PUBLEV digunakan untuk pos duga air yang hanya
digunakan untuk memantau fluktuasi muka air seperti pos duga air pasang
surut, pos duga air yang dipasang di danau, waduk dll.
h) PUBDEB adalah sub program untuk membuat output dari HDM22 menjadi
publikasi debit yang terdiri dari keterangan stasiun, debit harian rata-rata,
perhitungan rata-rata bulanan, tahunan, tinggi aliran, aliran/km2, jumlah air
yang mengalir, hidrograp, duration curve dan keterangan lainnya.
i) GRFLOW3 adalah sub program untuk membuat grafik hubungan antara
waktu dan fluktuasi debit (hidrograp), dan untuk membuat grafik hubungan
antara ketersediaan debit dengan waktu yang dikonversi ke dalam persen
Dalam pengoperasiannya sub program tersebut digunakan secara berurutan dan tidak
dapat diopersikan secara simultan (secara bersamaan)

56
Manual Penggunaan Software Neo Perdas dapat dilihat pada Buku Makalah Neo
Perdas

4.8.6 Evaluasi Data Debit Sungai


Evaluasi data debit sungai dilakukan dengan maksud untuk mendapatkan ketelitian yang
tinggi dan sesuai dengan kondisi lapangan. Cara yang biasa digunakan untuk evaluasi debit
adalah dengan cara membandingkan hidrograf pada 2 (dua) pos duga air yang terletak pada
1 (satu) sungai. Apabila pos duga air merupakan pos duga air tunggal (tidak ada pos lain
pada DAS yang sama) maka evaluasi dilakukan antara lain berdasarkan luas DAS,
besarnya curah hujan, kondisi topografi, kondisi vegetasi dll. Penggambaran hidrograf dapat
dilakukan baik secara manual maupun dengan menggunakan komputer. Hidrograf adalah
grafik yang menggambarkan hubungan antara fluktuasi aliran (dapat berupa muka air atau
debit) dengan waktu. Untuk penggambaran hidrograf yang dilakukan secara manual
dilakukan di atas kertas semilog, waktu digambarkan pada sumbu X yang merupakan skala
normal, sedangkan debit digambarkan pada sumbu Y yang merupakan skala logaritma.
Penggambaran hidrograf dengan menggunakan komputer, debit harian rata-rata
digambarkan pada kertas grafik dengan menggunakan plotter.
Pengecekan kebenaran data dengan menggunakan perbandingan hidrograf ditentukan oleh
beberapa faktor antara lain:
Pola aliran antara satu pos dengan pos lainnya relatif harus sama dengan
mempertimbangkan jarak antara kedua pos dan adanya routing antara pos di
hulu dan di hilir
Debit pada pos duga di bagian hilir harus lebih besar dari debit di bagian hulu
secara proporsional, pengambilan (irigasi, air minum dll)
Apabila kondisi memungkinkan maka perbandingan hidrograf seyogyanya
dilakukan terhadap 2 pos yang semuanya merupakan pos duga air otomatik,
atau 1 pos duga air biasa dan 1 pos duga air otomatik. Apabila terdapat
kejanggalan maka koreksi dilakukan terhadap pos duga air biasa
Apabila terdapat koreksi dan perbaikan maka pengolahan data harus diulang mulai dari
pengecekan data muka air, pengecekan data pengukuran debit, pembuatan rating curve,
perhitungan koreksi dan penyimpangan dll.

57