Anda di halaman 1dari 9

DASAR TEORI/TINJAUAN PUSTAKA/LANDASAN TEORI

Bank berasal dari bahasa Italia yaitu Banco yang berarti banku. Maksud
bangku disini ialah meja operasional bank jaman dahulu dalam melayani
nasabahnya. Kemudian terkenal dengan itilah bank sampai saat ini.
Bank merupakan suatu badan usaha yang bergerak di bidang keuangan
atau jasa keuangan. Produk utama yang biasa dilayani berupa simpanan giro,
tabungan maupun deposito. Bank juga digunakan sebagai tempat untuk simpan
pinjam atau kredit bagi warga masyarakat yang membutuhkan dana pinjaman.
Fungsi lain dari bank adalah sebagai tempat pertukaran mata uang, perpindahan
uang (transfer), sebagai tempat pembayaran maupun setoran (Sugeng, 2016).
Menurut undang-undang nomor 7 tahun 1992, bank adalah badan usaha
yang menghimpun dana masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkan
kepada masyarakat dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.
Bank yang pertama kali berdiri adalah di Bunduqiyyah, salah satu kota di
Negara Italia pada tahun 1157 M. Kemudian terus mengalami perkembangan
hingga perkembangan yang pesat sekali adalah pada abad ke-16, di mana pada
tahun 1587 berdirilah di Negara Italia sebuah bank bernama Banco Della Pizza
Dirialto dan berdiri juga pada tahun 1609 bank Amsterdam Belanda, kemudian
berdiri bank-bank lainnya di Eropa. Sekitar tahun1898, Bank masuk ke Negara-
negara Arab. Di Mesir berdiri Bank Ahli Mishri dengan modal lima ratus ribu
Junaih (Syubair, 2006).
Sistem perbankan di Indonesia sejak tahun 1992 hingga saat ini
masihmenganutdual banking systemdimana Bank Konvensional atau biasa
disebutdengan Bank Umum dan Bank Syariah atau Bank Islam bisa
berdampingandalam menjalankan operasi usahanya (Ali 2008:
2).Sedangkanmenurut Sutedi (2009: 41),berdasarkan Undang-Undang No. 21
Tahun2008, bank umum diperbolehkan beroperasi secara konvensional dansyariah
sekaligus, sepanjang penataan dan pengelolaannya dilakukan secaraterpisah.
Dengan kata lain Bank Konvensional diperbolehkan untukmembuka kantor
cabang yang khusus melakukan kegiatan usaha syariahdengan tetap memperhatikan
prinsip-prinsip syariah.
Dari pengertian di atas dapat ditarik simpulan bahwa BankKonvensional
adalah lembaga keuangan yang menjalankan kegiatan usahanyadalam menghimpun
dan menyalurkan dana dengan menggunakan cara danproses yang konvensional seperti
pemberian dan pengenaan imbalan berupabunga. Sedangkan Bank Syariah merupakan
lembaga keuangan yangmenjalankan unit usaha menghimpun dan menyalurkan dana
dengan cara danproses yang berdasarkan nilai islam (syariah). Dengan kata lain
bank syariahmerupakan suatu lembaga keuangan yang tidak mengandung bunga (riba),serta
unsur-unsur ketidakjelasan atau ketidakpastian dalam operasionalnya.
Bank konvensional maupun bank syariah memiliki produkyang ditawarkan
dalam segi pendanaan, pembiayaan serta jasa perbankanlainnya. Produk yang ditawarkan
oleh bank syariah lebih mengadopsikepada produk yang ditawarkan oleh bank
konvensional hanya sajaberbeda dalam pelaksaan serta proses terkait adanya akad yang
digunakandalan bank syariah.
Jenis produk yang ditawarkan pada bank syariah maupun konvensional
dalam segi pendanaan meliputi giro, tabungan,deposito/investasi, serta
obligasi atau biasa disebut dengan sukuk pada sistemsyariah. dalam segi
pembiayaan meliputi pemberian pinjaman (kredit). Produk jasa perbankan lainnya
yang ditawarkan seperti jual beli valuta asing,anjak piutang, transfer, inkaso,
kliring, dan lain sebagainya.selain itu, pada bank syariah terdapat pula produk
seperti pasarmodal, reksadana syariah, pasar uang dan produk perbankan
syariah,asuransi dan dana pensiun syariah, serta gadai syariah (rahn).
Produksemacam itu juga terdapat pada bank konvensional hanya saja tanpa
adapelekatan kata syariah dalam penyebutannya.

PEMBAHASAN
Seperti yang sudah diketahui, Indonesia memiliki 2 sistem perbankan dual
banking system sejak tahun 1992 dimana terdiri dari Bank Konvensional atau biasa
disebut dengan Bank Umum dan Bank Syariah atau Bank Islam bisa
berdampingan dalam menjalankan operasi usahanya (Ali, 2008).
Dalam hal ini, perbankan syariah atau perbankan Islam adalah suatu sistem
perbankan yang dikembangkan berdasarkan syariah (hukum) islam. Usaha
pembentukan sistem ini didasari oleh larangan dalam agama islam untuk
memungut maupun meminjam dengan bunga atau yang disebut dengan riba serta
larangan investasi untuk usaha-usaha yang dikategorikan haram, dimana hal ini
tidak dapat dijamin oleh sistem perbankan konvensional. Bank syariah beroperasi
tidak dengan menerapkan metode bunga, melainkan dengan metode bagi hasil dan
penentuan biaya yang sesuai dengan syariah islam (Wibowo, 2005).

Tujuan Perbankan Syariah


Perbankann Syariah sebagaimana diulas dalam pasal 3 UU Perbankan
syariah bertujuan menunjang pelaksanaan pembangunnan nasional dalam rangka
meningkatkan keadilan, kebersamaan dan peerataan keadilan rakyat. Dalam
mencapai tujuan menunjang pelaksanaan pebangunan nasional, perbankan syariah
tetap berpegang pada prinsip syariah secara menyeluruh (kaffah) dan konsisten
(istiqomah).
Dikutip oleh Zubairi Hasan, tertera dalam Pasal 22 UU Perbankan Syariah,
bahwa kegiatan yang sesuai degan prisip syariah adalah kegatan yag tidak
mengandung unsur:
Riba, penambahan pendapatan secara tidak sah. Dikutip oleh Hendi
Suhenndi dalam bukunya Fiqh Muamalah, menurut Abdurrahman Al-Jaziri
yang dimaksud dengan riba ialah akad yang terjadi penikaran tertentu,
tidak diketahui samaatau tidak menurut syara atau terlambat salah satunya
(Suhendi, 2010).
Maisir, transaksi yang digantungkan pada ketiidakjelasan atau untung-
untungan.
Gharar, trasaksi yang objeknya tidak jelas
Haram, transaksi yang objeknya dilarang syariah
Zalim, transaksi yang meimbulkan ketidakadilan (Hasan, 2009).
Menurut Ascarya (2011), jenis akad yang diterapkan oleh bank syariah
dapat dibagi ke dalam enam kelompok pola, yaitu:
1. Pola Titipan, meliputi wadiah yad amanah dan wadiah qardhul hasan
2. Pola Pinjaman
Contohnya : Qardh adalah pinjaman uang. Aplikasi qardh dalam
perbankan biasanya dalam empat hal yaitu:
- Sebagai pinjaman talangan haji, diman nasabah calon haji diberikan
pinjaman talangan untuk memenuhi syarat penyetoran biaya perjalanan
haji.
- Sebagai pinjaman tunai (cash advance) dari produk kartu kredit syariah,
dimana nasabah diberi keleluasaan untuk menarik uang tunai melalui8
bank (ATM). Nasabah akan mengembalikannya sesuai waktu yang
ditentukan.
- Sebagai pinjaman kepada pengusaha kecil, di mana menurut perhitungan
bank akan memberatkan si pengusaha bila diberikan pembiayaan dengan
skema jual beli, ijarah, atau bagi hasil.
- Sebagai pinjaman kepada pengurus bank, dimana bank menyediakan
fasilitas ini untuk memastikan terpenuhinya kebutuhan pengurus bank.
Pengurus bank akan mengembalikannya secara angsur melalui potongan
gajinya.
3. Pola Bagi Hasil
Produk pembiayaan syariah yang didasarkan pada prinsip bagi hasil
adalah:
Musyarakah
Musyarakah adalah semua bentuk usaha yang melibatkan dua
pihak atau lebih dimana secara bersama sama memadukan seluruh
bentuk sumber daya baik yang berwujud maupun tidak berwujud.
Bentuk kontribusi dari pihaki yang bekerja sama dapat berupa dana,
barang perdagangan (trading asset), kewiraswastaan
(entrepreneurship), keahlian (skill), kepemilikan (property), peralatan
(equipment), atau intangible asset( seperti hak paten atau goodwill),
kepercayaan/reputasi (credit worthiness) dan barang barang lainnya
yang dapat dinilai dengan uang. Dengan merangkum seluruh
kombinasi dari bentu kontribusi masing masing pihak dengan atau
tanpa batasan waktu menjadikan produk ini sangat fleksibel.
Mudharabah
Mudharabah adalah bentuk kerjasama antara dua atau lebih pihak
dimana pemilik modal mempercayakan seju7mlah modal kepada
pengelola dengan suatu perjanjian pembagian keuntungan.Bentuk ini
menegaskan kerjasama dengan kontribusi 100% modal dari pemilik
modal dan keahlian dari pengelola.
4. Pola Jual Beli (Bai)
Dalam melakukan jual beli digunakan 3 skema yang meliputi :
Jual beli dengan skema Murabahah
Jual beli dengan skema ini menyatakan harga perolehan dan
keuntungan yang disepakati oleh penjual dan pembeli. Skema ini
digunakan oleh bank untuk nasabah yang hendak memiliki suatu
barang, sedangkan nasabah yang bersangkutan tidak memiliki uang
pada saat pembelian. Dalam hal ini bank syariah bertindak sebagai
penjual sedangkan nasabah yang membutuhkan barang bertindak
sebagai pembeli.
Jual beli dengan skema Salam
Jual beli dengan skema ini merupakan jual beli yang pelunasannya
dilakukan terlebih dahulu oleh pembeli sebelum barang pesanan
diterima.
Jual beli dengan skema Istishna
Jual beli dengan skema ini adalah jual beli yang didasarkan atas
penugasan oleh pembeli kepada penjual yang juga produsen untuk
menyediakan barang atau suatu produk sesuai dengan spesifikasi yang
disyaratkan pembeli dan menjualnya dengan harga yang disepakati.
5. Pola Sewa
Sewa dengan skema Ijarah
Sewa dengan skema ijarah adalah transaksi sewa menyewa antara
pemilik objek sewa dan penyewa untuk mendapatkan imbalan atas
objek sewa yang disewakan. Dalam transaksi ini bank syariah
bertindak sebagai pemberi sewa atau pemilik objek sewa, sedangkan
nasabah bertindak sebagai penyewa.
Sewa dengan skema Ijarah Muntahiya Bittamlik
Sewa dengan skema ini adalah transaksi sewa menyewa antara
pemilik objek sewa dan penyewa untuk mendapatkan imbalan atas
objek sewa yang disediakannya dengan opsi perpindahan hak milik
pada saat tertentu sesuai dengan akad sewa. Berbeda dengan transaksi
Ijarah, pada transaksi ini memberi hak pilih pada penyewa untuk
memiliki barang yang disewa.
6. pola lainnya sebagai akad pelengkap, seperti wakalah, kafalah, hiwalah,
ujr, sharf, dll. Hal ini ditujukan untuk mempermudah pelaksanaan
pembiayaan, biasanya diperlukan juga akad pelengkap. Akad pelengkap
ini tidak ditujukan untuk mencari keuntungan, namun ditujukan untuk
mempermudah pelaksanaan pembayaran.
Hiwalah ( Alih Utang Piutang)
Hiwalah adalah transaksi mengalihkan utang piutang. Dalam
praktik perbankan syariah, fasilitas hiwalah lazimnya untuk
melanjutkan suplier mendapatkan modal tunai agar dapat melanjutkan
produksinya. Bank mendapatkan ganti biaya atas jasa pemindahan
piutang.
Rahn (Gadai)
Tujuan akad rahn adalah memberikan jaminan pembayaran
kembali kepada bank dalam memberikan pembiayaan. Barang yang
digadaikan wajib memenuhi kriteria sebagai berikut :
- Milik nasabah sendiri,
- Jelas ukuran, sifat, dan nilainya ditentukan berdasarkan nilai riil
pasar,
- Dapat dikuasai namun tidak boleh dimanfaatkan oleh bank.
Wakalah (Perwakilan )
Wakalah dalam aplikasi perbankan terjadi apabila nasabah
memberikan kuasa pada bank untuk mewakili dirinya melakukan
pekerjaan jasa tertentu, seperti pembukuan L/C (Letter of Credit),
inkaso dan transfer uang.
Kafalah (Garansi Bank)
Garansi bank dapat diberikan dengan tujuan untuk mrnjamin suatu
kewajiban pembayaran. Bank dapat mempersyaratkan nasabah untuk
menempatkan sejumlah dana untuk fasilitas ini sebagai rahnb. Bank
dapat pula menerima dana tersebut dengan prinsip wadiah. Bank
mendapatkan pengganti biaya atas jasa yang diberikan.

Produk Produk Bank Syariah


Perkembangan produk produk bank dilihat dari beragamnya produk bank
syariah, sebenarnya jika bank syariah dibebaskan untuk mengembangkan sendiri
produknya menurut teori perbankan islam, produknya akan sangat bervariasi. Produk
Perbankan Syariah
Al- Wadiah
Al Wadiah |merupakan jasa penitipan yang disediakan oleh perbankan.
Dengan adanya al wadiah. Nasabah bisa menitipkan dananya di bank dan
mengambilnya sewaktu-waktu. Untuk mempermudah pemahaman
mengenal al-wadiah, bisa dibanyangkan ketika seorang nasabah menabung
di bank. Nasabah bebas menitipkan dana mereka di bank dan mereka juga
bebas untuk mengambilnya sewaktu-waktu jika dana tersebut mereka
butuhkan jenis produk ini biasanya menyatu dengan mutharabah, sejenis
akad yang digunakan untuk produk tabungan perbankan

Deposito Mudharabah
Produk bank jenis ini ditemui ketika anda menyimpan dana di bank
(menabung) dalam jangka waktu tertentu. Dengan menggunakan akad
mudharabah, terjadi bagi hasil antara nasabah dari pihak perbankan yang
tercantum dalam prosentase. Sehingga ketika pendapatan bank meningkat
maka bagi hasil yang diperoleh nasabah akan meningkat dan sebaliknya
sehingga dengan menggunakan akad mudharabah tersebut akan terjadi
keadilan baik dari sisi bank maupun nasabah yang membedkan dengan
tabungan biasa diposito mudharabah tersebut hanya bisa dicairkan sesuai
dengan tanggal yang ditentukan.
Bai Al Murabahah
Jenis produk ini biasa digunakan ketika konsumen mengajukan pinjaman
konsumsi kepada pihak perbankan. Dengan menggunakan akad bai
murabahah pihak bank membelikan barang yang diinginkan nasabah untuk
dijual kepada nasabah. Misal nasabah A ingin membeli mobil. Kemudian
nasabah A mengajukan dana kepada bank. Setelah itu ketika bank
menunjukan ajuan nasabah A maka bank membelikan mobil untuk nasabah
A. Setelah mobil dibeli kemudian bank menjual mobil tersebut dengan
tambahan keuntungan. Misalnya harga beli mobil 300 juta maka bank akan
menjualnya sebesar 350 juta. Kemudian untuk cicilan pembayaran nasabah
A bisa dilakukan secara flat atau kesepakatan awal antara bank dan nasabah
A.
Ar-Rahn
Pada produk jenis ini perbankan menawarkan produk kepada nasabah
seperti praktik pada gadai sehingga nasabah bisa menggadaikan barangnya
ke bank untuk mengajukan suatu pinjaman. Praktik gadai yang sat ini
dengan marak pada perbankan syariah adalah gadai emas. Hal itu terjadi
selain karena prospek emas yang meningkat juga dikarenakan kesetabilan
emas.

Al-Qardh
Produk perbankan jenis ini dikhususkan sebagai upaya menolong nasabah
yang sedang membutuhkan dana tanpa mengharapkan suatu imbalan
ataupun bunga sehingga dari awal jenis akad ini memang tidak diperuntukan
untuk tujuan komersial (Fadhilah, 2015).

Pada bank konvensional dengan sistem bunga, bank menjanjikan suatu nilai
tertentu (biasanya dinyatakan dalam prosentasi suku bunga per tahun) untuk nilai
uang yang ditabung. Penentuan suku bunga dibuat dengan pedoman dasar harus selalu
menguntungkan untuk pihak bank yang tidak diterapkan dalam prinsip bank syariah.
Nilai ini harus dipenuhi bank tidak peduli apakah bank rugi atau untung besar.
Meskipun jumlah keuntungan berlipat ganda saat keadaan ekonomi sedang baik, bank
tetap hanya akan membayar sejumlah nilai yang dijanjikan. Model simpanan seperti
ini dapat merugikan salah satu pihak.
Produk Produk Bank Konvensional
Tabungan merupakan cara digunakan bank untuk menghimpun dana dari nasabah,
dan yang umum berasal dari tabungan di tabungan itu sendiri bank menawarkan
produk mulai tabungan pendidikan sampai tabungan hari tua. Hal tersebut
semata-mata dilakukan oleh bank untuk menambah keuntungan mereka
Deposito merupakan cara penyimpanan dana tetapi dengan jangka waktu tertentu,
sehingga nasabah hanya bisa mengambil uangnya sesuai dengan lama deposito
yang dipilih, jika dibandingkan dengan tabungan deposito memiliki penawaran
bunga yang jauh lebih besar
Giro merupakan sebuah produk perbankan yang berfungsi untuk memindah
bukukan dana dari rekening nasabah suatu ke rekening nasabah yang lain.
Fungsi dari giro ini tidak lain untuk mempermudah transaksi keuangan
Cek merupakan suatu produk perbankan yang memudahkan transaksi keuangan.
Cek tersebut merupakan surat printah kepada bank untuk mencairkan dana
sebesar dana yang tertera pada cek. Sedangkan cek itu sendiri terdiri atas
beragam jenis salah satunya adalah cek atas nama dan cek atas unjuk
Kredit merupakan sebuah produk perbankan yang mampu memberikan
keuntungan besar pada sektor perbankan. Hal tersebut terjadi karena dengan
kredit bank mendapatkan pendapat berupa selisih tingkat suku bunga kredit
dengan tingkat suku bunga tabungan. Dari produk kredit itu sendiri bank
menawarkan jenis kredit yang antara lain meliputi kredit modal kerja, kredit
investasi, kredit perdagangan dan kredit konsumtif (Fadhilah, 2015).

Ascarya. (2011). Akad & Produk Bank Syariah. Jakarta: Rajawali Pers.
Edi Wibowo dan Untung Hendi Widodo. (2005). Mengapa Memilih Bank Syariah.
Bogor : Ghalia Indonesia, Hlm 21
Fadhilah, Fahad. (2015). Bank Syariah dan Bank Konvensional. [Online].
Tersedia di : http://fahadivanovic.com/2015/01/bank-syariah-dan-bank-
konvensional.html. diakses pada : 23 Februari 2017
Hasan, Zubairi. (2009). Undang Undang Perbankan Syariah. Jakarta : Rajawali
Pers
Suhendi, Hendi. (2010). Fiqh Muamalah. Jakarta : Rajawali Pers, Hlm 58