Anda di halaman 1dari 11

TUGAS IRIGASI DAN DRAINASE

KOMODITAS KACANG TANAH

CROWPAT

Disusun Oleh :

Nama : Fridia Arintya A.

Kelas : Q

NIM : 155040201111100

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2017
DATA METEOROLOGI

Lokasi Studi : Kecamatan Kepanjen, Sumberpucung, Najum


Stasiun pengamat : Karangkates
Altitude : 285 m
Latitude : 8.09 o L.S
Longitude : 112.29 o B.T

Bulan Temperatur Temperatur Kelembaba Kecepatan Lama Hujan


Maximum Minimum n Angin Penyinaran
(o C) (o C) Relatif (km/hari) (jam) (mm)
(%)
Januari 31.6 21.4 84.5 105.6 7.1 306
Februari 31.6 21.3 82.7 151.2 5.4 312
Maret 32.2 21.3 84.2 165.6 7.0 359
April 32.2 21.3 80.6 158.4 8.1 211
Mei 32.4 20.8 79.3 151.2 8.8 81
Juni 31.5 19.4 76.3 175.2 9.1 71
Juli 31.3 19.0 76.4 201.6 9.2 30
Agustus 31.3 18.3 75.5 228.0 9.3 6
Septembe 32.0 19.5 72.1 213.6 9.1 25
r
Oktober 32.6 21.0 76.2 180.0 9.0 137
Nopember 32.1 21.4 79.2 141.6 7.2 261
Desember 31.1 21.7 83.6 127.2 4.8 409

INTERPRETASI DATA

1. Evapotranspirasi potensial metode Penman-Monteith


Data iklim diperoleh dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Karangploso, lokasi terletak pada koordinat 8.09 o L.S dan 112.29 o B.T dengan ketinggian
tempat 285 m dpl. Suhu minimum terendah terjadi pada bulan Agustus yakni mencapai
18,3oC dan suhu maximum tertinggi terjadi pada bulan Oktober yakni mencapai 32,6 oC.
Tingkat kelembaban tertinggi terjadi pada bulan Januari dan Maret yakni 84% dan tingkat
kelembaban terendah terjadi pada bulan September yaitu 72%. Data angin diperoleh
dengan rata-rata kecepatan angin pada satu tahun yakni 166 km/day, sedangkan rata-rata
lama penyinaran matahari pada satu tahun yakni 7.8 jam.
Setelah dimasukkan data suhu minimum, suhu maksimum, kelembaban,
kecepatan angin dan lama penyinaran matahari, maka akan diperoleh data radiasi dan
data ETo atau evapotranspirasi potensial. Pada data radiasi matahari diperoleh rata-rata
radiasi sebesar 20,6 MJ/m2/day, sedangkan untuk evaporasi potensialnya didapatkan
hasil 4.52 mm/day. Dalam menentukan ETo ini digunakan metode Penman-Monteith yang
dikombinasi dari data temperature (maklsimal dan minimal), kelembaban, kecepatan
angin, dan lama penyinaran oleh matahari.

2. Kebutuhan air tanaman (Etc atau CWR)


Berdasarkan data perhitungan oleh aplikasi cropwat dapat diketahui bahwa pada
initial stage air irigasi yang dibutuhkan oleh tanaman kacang tanah yakni 0,0 mm/dec.
Kemudian pada development season, air yang dibutuhkan mulai meningkat yaitu 27,6
mm/dec. Kemudian pada Mid-Season kebutuhan air irigasi yang dibutuhkan oleh tanaman
kacang tanah terus meningkat yakni mencapai 38,3 mm/dec dimana air yang dibutuhkan
untuk proses pembentukan kacang tanah. Sedangkan pada late-season air irigasi yang
dibutuhkan oleh tanaman kacang tanah mulai menurun seiring dengan akan dilakukannya
pemanenan buah kacang yakni mencapai 3,1 mm/dec. Hal ini berarti, kebutuhan air irigasi
pada tanaman kacang tanah dari awal tanam (initial stage) hingga proses pemanenan
(harvest) berbeda-beda sesuai dengan proses pertumbuhan tanaman.

3. Tabel Irrigation Schedule

Aplikasi Cropwat bermanfaat dalam hal untuk mengetahui jadwal irigasi pada suaat
kita membudidayakan suatau komoditas tanaman. Hasil akhir (output) nya berupa jadwal
irigasi. Jadwal irigasi ini berguna untuk mengetahui jumlah air yang dibutuhkan tanaman
sehingga dapat diketahui apakah perlu melakukan irigasi atau tidak, sehingga efisiensi
tercapai, mengevaluasi produksi tanaman tadah hujan, dan juga berguna untuk
mengembangkan alternatif jadwal irigasi di bawah pasokan air terbatas yang terbatas.
Selain itu, juga diperoleh grafik neraca air yang menunjukkan keberadaan air
dalam tanah. Grafik tersebut menunjukkan kandungan air dalam tanah. Garis merah
menunjukkan batas kandungan air yang tersedia di dalam tanah atau dalam kondisi
kapasitas lapang, namun ketika garis merah dilewati menandakan bahwa diperlukan
adanya irigasi sedangkan garis biru menunjukkan batas titik layu permanen tanaman (air
tidak tersedia).
Terdapat 5 macam perlakuan waktu dan aplikasi irigasi dengan efisiensi yang
sama sebesar 100%, antara lain:

a. Irrigate at Critical Depletion (100%) and Refill Soil to 100% Field Capacity.
Dari data diatas didapatkan hasil yaitu total irigasi kotor sebanyak 306,7
mm, total net irigasi adalah 214,7 mm dan tidak ada kehilangan air. Efisiensi jadwal
irigasinya adalah 100%.

Dari grafik diatas dapat diketahui bahwa tidak diperlukannya irigiasi karena
depletion tidak melewati gari RAM.

b. Irrigate at Critical Depletion (100%) and Refill Soil to 50% Field Capacity.
Dari data diatas didapatkan hasil yaitu total irigasi kotor sebanyak 315,5
mm, total net irigasi adalah 220,8 mm dan tidak ada kehilangan air. Efisiensi jadwal
irigasinya adalah 100%.

Dari grafik diatas dapat diketahui bahwa tidak diperlukannya irigiasi karena
depletion tidak melewati gari RAM.

c. Irrigate at Given ET Crop Reduction and Refill Soil to 100% Field Capacity.
Dari data diatas didapatkan hasil yaitu total irigasi kotor sebanyak 242,1
mm, total net irigasi adalah 169,5 mm dan tidak ada kehilangan air. Efisiensi jadwal
irigasinya adalah 100%.

Dari grafik diatas dapat diketahui bahwa pada 75-105 HST diperlukannya
irigiasi karena depletion telah melewati gari RAM.

d. Irrigate at Critical Depletion (100%) and Fixed Application Depth (50 mm).
Dari data diatas didapatkan hasil yaitu total irigasi kotor sebanyak 285,7
mm, total net irigasi adalah 200,0 mm dan tidak ada kehilangan air. Efisiensi jadwal
irigasinya adalah 100%.

Dari grafik diatas dapat diketahui bahwa tidak diperlukannya irigiasi karena
depletion tidak melewati gari RAM.

e. Rainfed (No Irrigation).


Dari data diatas didapatkan hasil yaitu total irigasi kotor sebanyak 0 mm,
total net irigasi adalah 0 mm dan tidak ada kehilangan air. Efisiensi jadwal
irigasinya adalah tidak ada melainkan adanya defisiensi irigasi sebesar 18,5%.

Dari grafik diatas dapat diketahui bahwa pada 75-125 HST diperlukannya irigiasi
karena depletion telah melewati gari RAM.

Dari kelima perlakuan ini ternyata grafik beurbah- berubah, karena kebutuhan air
tanaman komoditas kacang tanah memiliki variasi yang berbeda-beda pada tiap fase
pertumbuhan, sehingga air yang dibutuhkan tiap fase beda. Selain itu curah hujan juga
berpengaruh terhadap ketersediaan air dalam tanah, dan pada semua perlakuan yang
menghasilkan grafik yang berada diatas batas kapasitas lapang maka tidak membutuhkan
air irigasi. Grafik diatas hanya pada perlakuan Rainfed (No Irrigation) dan Irrigate at Given
ET Crop Reduction and Refill Soil to 100% Field Capacity yang membutuhkan irigasi di
hari tertentu.
LAMPIRAN

Figure 1. Data Tanah

Figure 2. Data Tanaman

Figure 3. Data Curah Hujan


Figure 4. Pola Tanam

Figure 5. Scheme Supply