Anda di halaman 1dari 7

1.

Definisi Higiene Perusahaan


Menurut Thomas J. smith, Hygiene industri atau perusahaan dianggap
sebagai ilmu dan seni yang mampu mengantisipasi, mengenal, mengevaluasi dan
mengendalikan bahaya faktor-faktor yang timbul di dalam lingkungan kerja yang
dapat mengakibatkan penyakit atau gangguan kesehatan dan kesejahteraan atau
ketidak nyamanan dan ketidak efisienan kepada masyarakat yang berada di
lingkungan kerja tersebut maupun kepada masyarakat yang berada diluar industri.
Menurut Sumamur (1976) Higiene Perusahaan adalah spesialisasi dalam
ilmu hygiene beserta prakteknya yang melakukan penilaian pada faktor penyebab
penyakit secara kualitatif dan kuantitatif di lingkungan kerja perusahaan, yang
hasilnya digunakan untuk dasar tindakan korektif pada lingkungan, serta pencegahan,
agar pekerja dan masyarakat di sekitar perusahaan terhindar dari bahaya akibat kerja,
serta memungkinkan mengecap derajat Kesehatan yang setinggi- tingginya.
Perbedaan dari kedua definisi tersebut yaitu menurut Thomas J. Smith Higiene
Perusahaan sebagai ilmu dan seni yang mampu mengantisipasi, mengenal,
mengevaluasi dan mengendalikan bahaya faktor-faktor yang timbul di dalam
lingkungan kerja, sedangkan menurut Sumamur Higiene Perusahaan merupakan
spesialisasi dalam ilmu hygiene beserta prakteknya, dan dalam prakteknya ini
dilakukan penilaian pada faktor penyebab penyakit secara kualitatif dan kuantitatif di
lingkungan kerja perusahaan, serta menurut Sumamur tidak disebutkan mengenai
ruang lingkup hygiene industry yang terdapat dalam definisi Thomas J. Smith.

2. Langkah-langkah dari ruang lingkup hygiene industry


Ruang lingkup hygiene industry terdiri dari :
a. Antisipasi, merupakan kegiatan untuk memprediksi potensi bahaya dan risiko di
tempat kerja, juga merupakan tahap awal dalam melakukan atau penerapan
higiene industri di tempat kerja. Adapun langkah-langkah dalam antisipasi yaitu :
Pengumpulan Informasi
Melalui studi literature
Mempelajari hasil penelitian
Dokumen-dokumen perusahaan
Survey lapangan
Analisis dan diskusi
Diskusi dengan pihak terkait yang kompeten
Pembuatan Hasil

Yang dihasilkan dari melakukan antisipasi adalah daftar potensi bahaya dan
risiko risiko yangndapat dikelompokkan: berdasarkan lokasi atau unit,
berdasarkan kelompok pekerja, berdasarkan jenis potensi bahaya, berdasarkan
tahapan proses produksi, dll.

b. Rekognisi, merupakan serangkaian kegiatan untuk mengenali suatu bahaya lebih


detil dan lebih komprehensif dengan menggunakan suatu metode yang sistematis
sehingga dihasilkan suatu hasil yang objektif dan bisa dipertanggung jawabkan.
Di mana dalam rekognisi ini kita melakukan pengenalan dan pengukuran untuk
mendapatkan informasi tentang konsentrasi, dosis,ukuran (partikel), jenis,
kandungan atau struktur, sifat, dll. Adapun tujuan dari rekognisi adalah :
mengetahui karakteristik suatu bahaya secara detil (sifat, kandungan,
efek,severity, pola pajanan, besaran), dan mengetahui sumber bahaya dan area
yang berisiko, serta mengetahui pekerja yang berisiko.

c. Evaluasi, pada tahap penilaian/evaluasi lingkungan, dilakukan pengukuran,


pengambilan sampel dan analisis di laboratorium. Melalui penilaian lingkungan
dapat ditentukan kondisi lingkungan kerja secara kuantitatif dan terinci, serta
membandingkan hasil pengukuran dan standar yang berlaku, sehingga dapat
ditentukan perlu atau tidaknya teknologi pengendalian, ada atau tidaknya
korelasi kasus kecelakaan dan penyakit akibat kerja dengan lingkungannya, serta
sekaligusmerupakan dokumen data di tempat kerja.
Tujuan pengukuran dalam evaluasi yaitu : untuk mengetahui tingkat risiko,
untuk mengetahui pajanan pada pekerja, untuk memenuhi peraturan (legal
aspek), untuk mengevaluasi program pengendalian yang sudah dilaksanakan,
untuk memastikan apakah suatu area aman untuk dimasuki pekerja, serta
mengetahui jenis dan besaran hazard secara lebih spesifik
d. Pengontrolan. Ada 6 tingkatan Pengontrolan di Tempat Kerja yang dapat
dilakukan:
Eliminasi : merupakan upaya menghilangkan bahaya dari sumbernya serta
menghentikan semua kegiatan pekerja di daerah yang berpotensi bahaya.
Substitusi : Modifikasi proses untuk mengurangi penyebaran debu atau asap,
dan mengurangi bahaya, pengendalian bahaya kesehatan kerja dengan
mengubah beberapa peralatan proses untuk mengurangi bahaya, mengubah
kondisi fisik bahan baku yang diterima untuk diproses lebih lanjut agar
dapat menghilangkan potensi bahayanya.
Isolasi : Menghapus sumber paparan bahaya dari lingkungan pekerja
dengan menempatkannya ditempat lain atau menjauhkan lokasi kerja yang
berbahaya daripekerja lainnya, dan sentralisasi kontrol kamar.
Engineering control : Pengendalian bahaya dengan melakukan modifikasi
pada factor lingkungan kerja selain pekerja
o Menghilangkan semua bahaya-bahaya yang ditimbulkan.,
o Mengurangi sumber bahaya dengan mengganti dengan bahan yang
kurang berbahaya,
o Proses kerja ditempatkan terpisah
o Menempatan ventilasi local/umum
o Administrasi control: Pengendalian bahaya dengan melakukan
modifikasi padainteraksi pekerja dengan lingkungan kerja
o Pengaturan schedule kerja atau meminimalkan kontak pekerja dengan
sumber bahaya
o Alat Pelindung Diri (APD), Ini merupakan langkah terakhir dari hirarki
pengendalian.

Contoh ruang lingkup hygiene industry


Suatu perusahaan mencatat setiap hal-hal yang bisa menimbukan bahaya yang
terdapat di perusahaan tersebut, kemudian dilihat bahaya apa saja yang bisa
ditimbulkan dari hasil pencatatan tersebut. Setelah itu diakukan uji terhadap hal-hal
yang berpotensi menimbukan bahaya dan apabila ditemukan sesuatu yang tidak
layak maka dilakukan penggantian atau menghilangkan sesuatu yang tidak layak
tersebut agar pekerja dan masyarakat di sekitar perusahaan terhindar dari bahaya
akibat kerja.

3. Alat Ukur dan Nilai Ambang Batas


a. Suhu
Di Indonesia, parameter yang digunakan untuk menilai tingkat iklim kerja
adalah Indeks Suhu Basah dan Bola (ISBB). Hal ini telah ditentukan dengan
Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor: Kep-51/MEN/1999, Tentang Nilai
Ambang Batas Faktor Fisika Di Tempat Kerja, pasal 1 ayat 9 berbunyi : Indeks
suhu Basah dan Bola (Wet Bulb Globe Temperature Index) yang disingkat ISBB
adalah parameter untuk menilai tingkat iklim kerja yang merupakan hasil
perhitungan antara suhu udara kering, suhu basah alami dan suhu bola. Untuk
mengetahui iklim kerja di suatu tempat kerja dilakukan pengukuran besarnya
tekanan panas salah satunya dengan mengukur ISBB atau Indeks Suhu Basah
dan Bola (Tim Hiperkes, 2004), macamnya adalah:
Untuk pekerjaan diluar gedung
ISBB = 0,7 x suhu basah + 0,2 x suhu radiasi + 0,1 suhu kering
Untuk pekerjaan didalam gedung
ISBB = 0,7 x suhu basah + 0,3 x suhu radiasi

Alat yang dapat digunakan adalah heat stress area monitor untuk mengukur
suhu basah, temometer kata untuk mengukur kecepatan udara dan termometer
bola untuk mengukur suhu radiasi. Selain itu pengukuran iklim kerja dapat
mengunakan questemt digital. Pengukuran dilakukan pada tempat tenaga kerja
melakukan pekerjaan kira kira satu meter dari pekerja.

Standar Iklim Kerja di Indonesia

b. Kebisingan
Untuk mengukur kebisingan di lingkungan kerja dapat dilakukan dengan
menggunakanalat Sound Level Meter
Nilai ambang batas Kebisingan adalah angka 85 dB yang dianggap aman
untuk sebagian besar tenaga kerja bila bekerja 8 jam/hari atau 40 jam/minggu.
Nilai Ambang Batas untuk kebisingan di tempat kerja adalah intensitas tertinggi
dan merupakan rata-rata yang masih dapat diterima tenaga kerja tanpa
mengakibatkan hilangnya daya dengar yang tetap untuk waktu terus-menerus
tidak lebih dari dari 8 jam sehari atau 40 jam seminggunya. Waktu maksimum
bekerja adalah sebagai berikut:

Tingkat Kebisingan Pemaparan


(dBA) Harian
85 8 jam
88 4 jam
91 2 jam
94 1 jam
97 30 menit
100 15 menit

c. Pencahayaan
Standar berdasarkan PMP NO. 7 / 1964 Untuk pekerjaaan membedakan
barang-barang yang agak kecil yang agak teliti paling sedikit 200 LUX ( ini yang
di pakai dalam pengkuran penerangan pada praktikum k3 tentang penerangan)
Selain itu untuk penerangan darurat paling sedikit 5 lux
Halaman dan jalan di perusahaan paling sedikit 20 lux
Pekerjaaan yang membedakan barang kasar paling sedikit 50 lux
Pekerjaan membedakan barang-barang kecil sepintas lalu paling sedikit 100
lux
Pekerjaaan yang membedakan yang teliti dari bang yang kecil dan halus
paling sedikit 300 lux
Perbedaan membedakan barang halus dengan kontras sedang dan dalam
waktu lama antara 500-1000 lux
Pekerjan yang membedakan barang sangat halus dengan kontras yang sangat
kurang untukwaktu lama paling sedikit 1000 lux

d. Getaran
Alat yang digunakan untuk mengukur geteran yaitu vibration meter. Untuk
mengetahui pengaruh getaran terhadap kesehatan kerja, maka perlu diketahui
nilai ambang batas dari getaran ini. Cara untuk mengetahui nilai ambang batas
dilakukan dengan mengukur getaran yang ada kemudian dibandingkan dengan
NAB yang diijinkan. Berikut ini NAB getaran berdasarkan Keputusan Menteri
Tenaga Kerja Nomor: KEP-51/MEN/1999.
Tabel Nilai Ambang Batas Getaran untuk Pemajanan Lengan dan Tangan

e. Radiasi
Alat untuk mengukur radiasi yaitu Surveimeter. Surveimeter harus dapat
memberikan informasi laju dosis radiasi pada suatu area secara langsung. Jadi,
seorang pekerja radiasi dapat memperkirakan jumlah radiasi yang akan
diterimanya bila akan bekerja di suatu lokasi selama waktu tertentu. Dengan
informasi yang ditunjukkan surveimeter ini, setiap pekerja dapat menjaga diri
agar tidak terkena paparan radiasi yang melebihi batas ambang yang diizinkan.
Jenis Surveimeter
Terdapat beberapa jenis survaimeter yang digunakan untuk jenis radiasi yang
sesuai sebagai berikut.
Survaimeter Gamma
Survaimeter Beta dan Gamma
Survaimeter Alpha
Survaimeter neutron
Survaimeter Multi-Guna
Nilai Batas Dosis untuk Pekerjaan Radiasi dalam 1 Tahun
Dosis radiasi yang diterima oleh seseorang dalam menjalankan suatu kegiatan
tidak boleh melebihi nilai batas dosis yang telah ditentukan oleh pihak yang
berwenang. ICRP mendefinisikan dosis maksimum yang diijinkan diterima
seseorang sebagai dosis yang diterima dalam jangka waktu tertentu atau dosis
yang berasal dari penyinaran intensif seketika,yang menurut tingkat
pengetahuan dewasa ini memberikan kemungkinan yang dapat diabaikan
tentang terjadinya cacat somatic gawat atau genetic. Dosis tertinggi atau dosis
maksimum yang diijinkan diterima oleh seorang pekerja radiasi didasarkan atas
rumus dosis akumulasi adalah sebagai berikut :

D = 5 ( N 18 ) (2.1)
dengan :
D = Dosis tertinggi yang diijinkan diterima oleh seorang pekerja radiasi selama
masa kerjanya, dinyatakan dalam rem
N = Usia pekerja radiasi yang bersangkutan, dinyatakan dalam tahun
18 = Usia terendah dari seorang yang diijinkan untuk bekerja dalam medan
radiasi,
dinyatakan dalam tahun.
Akibat biologis yang dapat ditimbulkan oleh paparan radiasi tinggi tidak hanya
ditentukan oleh jumlah penerimaan dosis, tetapi juga oleh kecepatan penerimaan
dosis yang diterima. Atas dasar itu maka ditentukan Nilai Batas Tertinggi
Tahunan (NBTT), yaitu jumlah tertinggi penerimaan dosis radiasi oleh seorang
pekerja radiasi selama satu tahun yang besarnya 10 rem. Dalam keadaan terpaksa
dianggap bahwa seorang masih dapat bertahan untuk menerima sekaligus dosis
sebesar 10 rem kecuali wanita dalam usia masih mampu menghasilkan
keturunan. Namun apabila hal itu terjadi , dan jika jumlah penerimaan dosis
termasuk yang diterima pada kejadian terakhir ternyata melebihi 5(N-18), maka
pemaparan berikutnya harus dibatasi sedemikian rupa, sehingga dalam jangka
waktu 5 tahun, jumlah dosis akumulasi harus kembali pada rumus D = 5 (N-18)
atau lebih rendah.