Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM

SURVEI DAN PRAKTIKUM TEKNIK IRIGASI SUBAK KE


MUSEUM SUBAK DAN SUBAK SIGARAN
Dosen Pengampu:
Ir. I Wayan Tika, MP.,
Dr. Ir. Sumiyati S.TP., MP.

Oleh:
Komang Suteja Pramana
1411305020

JURUSAN TEKNIK PERTANIAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS UDAYANA
2016
BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Indonesia adalah negara agraris dimana mata pencaharian sebagian besar


penduduknya bekerja sebagai petani. Mereka tinggal di pulau-pulau yang tersebar dari
Sabang sampai Merauke. Salah satu diantaranya adalah Pulau Bali.

Masyarakat Bali sebagian hidup dari bercocok tanam. Baik yang bercocok tanam
di ladang, maupun yang bercocok tanam di sawah. Jenis tanaman yang ditanampun
bermacam-macam. Ada yang bertanam padi, palawija, buah-buahan, bahkan ada pula
yang menananm cengkeh, vanili, coklat, kopi, kelapa, dan lain-lain.

Bali merupakan pulau yang tidak terlalu besar, Bali menyimpan sejuta
kebudayaan yang sangat unik. Pulau Bali sering dijadikan obyek pariwisata baik
wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara. Bali salah satu provinsi di
Indonesia yang memiliki luas sekitar 6.500 km 2, 80% wilayahnya merupakan bukit dan
gunung, dan 20% merupakan dataran rendah. Bali memiliki curah hujan antara 1000-
3000 mm, musim penghujan terjadi bulan oktober-maret dan musim kemarau bulan
april-september. Petani di Bali terbilang tangguh dalam pemahaman lahan pertanian dan
dalam upaya mengatur struktur pengairan. Para petani mengaturnya dalam sebuah
organisasi yang disebut dengan Subak. Subak adalah salah satu budaya yang sangat
unik di Bali dan merupakan warisan budaya dunia yang telah ditetapkan oleh UNESCO.

Keberadaan subak sebagai organisasi pertanian mempunyai makna yang luar biasa
bagi para petani di Bali. Namun, kini ada pergeseran dari sektor pertanian ke sektor
pariwisata. Hal inilah yang menyebabkan rasa bangga menjadi petani menjadi pudar.
Maka untuk menjaga pelestarian sistem ini, pemerintah membangun sebuah museum
subak yang berisi tentang peralatan dan cara menanam para petani di Bali yang sudah
ada sejak tahun 896 M.
Tujuan
1. Mengetahui sarana dan prasarana pada sistem yang terdapat pada Subak.
2. Mengetahui struktur organisasi Subak.
3. Pengenalan jaringan irigasi beserta beberapa teknik pengolahan air irigasi pada
sistem irigasi subak.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

a. Pengertian Subak

Subak adalah sebuah organisasi yang dimiliki oleh masyarakat petani di Bali yang
khusus mengatur tentang manajemen atau sistem pengairan/irigasi sawah secara
tradisional, keberadaan Subak merupakan manifestasi dari filosofi/konsep Tri Hita
Karana.

Tri Hita Karana berasal dari kata "Tri" yang artinya tiga, "Hita" yang berarti
kebahagiaan/kesejahteraan dan "Karana" yang artinya penyebab. Maka dapat
disimpulkan bahwa Tri Hita Karana berarti Tiga penyebab terciptanya kebahagiaan dan
kesejahteraan. Penerapannya didalam sistem subak yaitu:

- Parahyangan yaitu hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan.


- Pawongan yaitu hubungan yang harmonis antara manusia dengan sesamanya.
- Palemahan yakni hubungan yang harmonis antara manusia dengan alam dan
lingkungannya.

Kata "Subak" merupakan sebuah kata yang berasal dari bahasa Bali, kata tersebut
pertama kali dilihat di dalam prasasti Pandak Bandung yang memiliki angka tahun 1072
M. Kata subak tersebut mengacu kepada sebuah lembaga sosial dan keagamaan yang
unik, memiliki pengaturan tersendiri, asosiasi-asosiasi yang demokratis dari petani
dalam menetapkan penggunaan air irigasi untuk pertumbuhan padi.

b. Sejarah Museum Subak

Museum Subak terletak di desa Sanggulan kecamatan Kediri Kabupaten Tabanan,


Bali, didirikan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Bali dan diresmikan tanggal 13
oktober 1981.Subak telah ada sejak abad XI dan berkembang hingga sekarang.Subak
merupakan organisasi yang mandiri yang didasarkan atas dasar filsafat yang kekal
yaitu Tri Hita Karana, tiga penyebab kebahagiaan (yaitu hubungan yang harmonis
antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam).

c. Tujuan Didirikannya Museum Subak

Adapun tujuan didirikannya Museum Subak adalah sebagai berikut:


- Menggali dan menghimpun berbagai benda dan data yang berkaitan dengan subak,
termasuk yang mempunyai nilai sejarah serta menyuguhkan berbagai sarana study /
penelitian.
- Menyelamatkan, mengamankan, dan memelihara berbagai benda yang berkaitan
dengan subak.
- Menyuguhkan berbagai informasi dan dokumentasi serta merupakan media
pendidikan tentang subak.
- Tempat rekreasi/ obyek pariwisata.
d. Fasilitas Museum Subak

Museum subak merupakan Museum Khusus, tentang sistem pertanian Bali yang
dikenal dengan nama Subak dengan bangunan Museum Induk dan Museum Terbuka.

Museum Induk terdiri dari:

1) Bangunan atau komplek suci dengan Padmasana, Bedugul dan lainnya. Tata ruang
dan tata letak dari bangunan-bangunan dimaksud disesuaikan dengan lingkungan
disekitarnya dengan mengikuti pola pembangunan tradisional: Tri Mandala, Tri
Angga, dan asta Kosala Kosali.
2) Bangunan Utama terdiri dari dua gedung, yaitu:
Gedung administrasi yang merupakan pusat informasi dan perpustakaan.
Gedung Pameran. Barang yang dipamerkan, dipajangkan di Museum Subak
menyangkut barang/alat pertanian yang digunakan oleh para petani didalam
mengerjakan sawahnya yang meliputi proses: Parahyangan, Pawongan, dan
palemahan yang sangat erat kaitannya dengan kegiatan/aktivitas di Subak.

Museum Terbuka yang diwujudkan sebagai Subak Mini yang dipakai sebagai
peragaan kegiatan Subak mulai dari sistem irigasi sampai proses kegiatan di sawah.

e. Struktur Organisasi Subak

Anggota subak atau juga biasa disebut dengan krama subak adalah para petani
yang memiliki garapan sawah dan mendapatkan bagian air pada sawahnya. Didalam
anggota subak juga terdapat beberapa kelompok yang disebut dengan Sekaa, Krama
subak digolongkan menjadi 3, yaitu:

- Krama aktif adalah anggota yang aktif seperti krama pekaseh, sekaa yeh atau sekaa
subak.
- Krama pasif yaitu anggota yang mengganti kewajibannya dengan uang atau natura
karena beberapa penyebab yang biasa disebut dengan Pengampel atau Pengohot.
- Krama luput yaitu anggota (krama) yang tidak aktif didalam segala macam kegiatan
subak karena tugasnya seperti kepala desa atau Bendesa Adat.
Pengurus (Prajuru) Subak terdiri dari:

- Pekaseh/Kelian adalah bertugas sebagai kepala subak.


- Pangliman/Petajuh bertugas menjadi wakil kepala subak.
- Peyarikan/Juru tulis adalah sebagai sekretaris.
- Petengen/Juru raksa adalah memiliki tugas sebagai bendahara.
- Saya/juru arah/juru uduh/juru tibak/kasinoman mempunyai tugas dalam urusan
pemberitahuan atau pengumuman.
- Pemangku adalah bertugas khusus dalam urusan ritual/keagamaan.

Kelompok (Sekaa) di dalam subak dibagi menjadi:

- Sekaa Numbeg, yaitu sebuah kelompok yang mengatur hal pengolahan tanah.
- Sekaa Jelinjingan, kelompok yang bertugas untuk mengatur pengolahan air.
- Sekaa Sambang, yaitu kelompok yg memiliki tugas dalam hal pengawasan air dari
pencurian, penangkap atau penghalau binatang perusak tanaman seperti burung
maupun tikus.
- Sekaa Memulih/Nandur, yaitu kelompok yang bertugas dalam hal penanaman bibit
padi.
- Sekaa Mejukut yaitu kelompok yang bertugas menyiangi padi.
- Sekaa Manyi adalah kelompok yang bertugas menuai/memotong/mengetam padi.
- Sekaa Bleseng yaitu kelompok yang memiliki tugas mengangkut ikatan padi yang
telah diketam dari sawah ke lumbung.

Sebagai organisasi yang bersifat otonom dalam mengurus organisasinya sendiri,


subak dapat menetapkan peraturan yang dikenal dengan sebutan awig awig, sima,
perarem. Di dalam awig awig tersebut dimuat hal-hal dan ketentuan pokok, isi pokok
dalam awig awig adalah mengatur mengenai hal parahyangan, pawongan dan
pelemahan sedangkan ketentuan dan hal yang lebih detail dimuat di dalam pararem
sebagai pelaksanaan awig awig subak. Awig awig subak memuat tentang hak dan
kewajiban dari warga subak serta memuat tentang sanksi atas pelanggaran hak dan
kewajiban tersebut.

f. Jaringan Irigasi Subak

Para ahli juga menyebutkan bahwa Subak juga sebagai sistem teknologi yang
sudah menjadi budaya di Bali. Subak sebagai metode teknologi dari budaya asli petani
Bali. Fasilitas yang utama dari irigasi subak (palemahan) untuk setiap petani anggota
subak adalah berupa pengalapan (bendungan air), jelinjing (parit), dan
sebuah cakangan (satu tempat/alat untuk memasukkan air ke bidang sawah garapan).

Jika di suatu lokasi bidang sawah terdapat dua atau lebih cakangan yang saling
berdekatan maka ketinggian cakangan-cakangan tersebut adalah sama (kemudahan dan
kelancaran air mengalir masuk ke sawah masing-masing petani sama), tetapi perbedaan
lebar lubang cakangan masih dapat ditoleransi yang disesuaikan dengan perbedaan luas
bidang sawah garapan petani. Pembuatan, pemeliharaan, serta pengelolaan dari
penggunaan fasilitas irigasi subak dilakukan bersama oleh anggota (krama) subak.

Jaringan sistem pengairan dalam subak jika diurut dari sumber air terdiri dari:

- Empelan/empangan sebagai sumber aliran air/bendungan.


- Bungas/Buka adalah sebagai pemasukan (in take).
- Aungan adalah saluran air yang tertutup atau terowongan.
- Telabah aya (gede), adalah saluran utama.
- Tembuku aya (gede), adalah bangunan untuk pembagian air utama.
- Telabah tempek (munduk/dahanan/kanca), adalah sebagai saluran air cabang.
- Telabah cerik, sebagai saluran air ranting.
- Telabah panyacah (tali kunda), dibeberapa tempat dikenal dengan istilah Penasan
(untuk 10 bagian), Panca (untuk 5 orang), dan Pamijian (untuk sendiri/1 orang).

Melalui sistem Subak inilah, para petani medapatkan bagian air sesuai dengan
ketentuan yang ditetapkan oleh musyawarah dari warga/krama subak dan tetap dilandasi
oleh filosofi Tri Hita Karana. Maka dari itu, kegiatan dalam organisasi/perkumpulan
Subak tidak hanya meliputi masalah pertanian atau bercocok tanam saja, tetapi juga
meliputi masalah ritual dan peribadatan untuk memohon rejeki dan kesuburan.

BAB III

METODE

a. Tempat dan Waktu Praktikum

Survei ini dilakukan pada hari Sabtu, 19 November 2016 di Museum Subak di
Kecamatan Kediri dan di Subak Sigaran, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan.

b. Alat dan Bahan

Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah:

- Alat tulis, Penggaris, dan Kamera


c. Metode Praktikum
Metode yang digunakan daalam survei kali ini yaitu observasi atau langsung
terjun kelapangan agar data yang diperoleh lebih akurat.

d. Prosedur Praktikum

Pengamatan pada kunjungan ke Museum Subak.

- Catat dan dokumentasikan sarana/alat yang digunakan pada beberapa sistem yang
terdapat pada subak. Perlu diketahui keterangan dari narasumber pada saat
penjelasan di lapangan serta informasi lainnya yang terkait dilokasi merupakan
sumber refrensi dari metode ini. Lakukan juga pengukuran terhadap dimensi
sarana/alat tersebut jika memungkinkan dan diijinkan.
- Kelompokkan sarana/alat tersebut berdasarkan sistem yang ada di Subak.
- Bandingkan karakteristik sarana/alat tersebut dengan sarana/alat yang digunakan
pada saat ini.

Praktikum di Subak Sigaran

- Amati dan catat subsistem jaringan irigasinya!


- Catat dan dokumentasikan jenis bangunan irigasi yang ada terutama yang terkait
dengan saluran dan bangunan baginya!
- Catat dan dokumentasikan sistem distribusi dan alokasi air irigasinya. Untuk hal ini
lakukan pengukuran lebar ambang pada bangunan bagi dan estimasi luasan lahan
yang diairi. Ingat juga metode distribusi yang dikenal di subak.
- Catat beberapa hal yang terkait dengan strategi pengelolaan air irigasinya!
- Catat pula bangunan-bangunan lainnya diluar sistem irigasi sebagai pelengkap data.

BAB IV

HASIL dan PEMBAHASAN

a. Sarana dan Prasarana yang digunakan pada Sistem yang terdapat di Subak
Hasil

No. Nama/Jenis Keterangan


1. Lelakut/ Merupakan orang-orangan sawah yang difungsikan untuk
Petakut mengusir burung.
2. Arit Alat yang digunakan oleh para petani untuk memotong padi atau
rumput di sawah.
3. Gelebeg Sebuah bangunan yang digunakan sebagai tempat penyimpanan
hasil panen berupa padi.
4. Ketam Sebuah pisau kecil yang dapat digunakan untuk memanen padi.
5. Tika (Kalender) Dipergunkan oleh petani untuk menentukan waktu yang baik
dalam melakukan penanaman, supaya terhindar dari kejadian
buruk atau gagal panen.

6. Lesung Alat yang digunakan oleh petani untuk memisahkan beras dengan
sekamnya.
7. Keranjang Tempat atau wadah tradisional yang digunakan oleh petani untuk
mengangkut hasil pertanian dan dapat juga dipergunakan untuk
menyimpan makanan.
8. Gerejag/ Alat yang digunakan petani dalam proses panen yang berfungsi
Gebotan untuk memisahkan antara biji padi dengan tangkainya.
9. Dulang dan Digunakan saat dilaksanakannya parum atau rapat untuk menaruh
Bokor canang sari.
10. Cikar Merupakan alat transportasi yang digunakan oleh petani untuk
mengangkut hasil panen atau barang-barang lainnya.
11. Lontar Media yang digunakan untuk menuliskan awig-awig (peraturan) di
dalam Subak.
12. Tengala Alat yang digunakan petani untuk mengolah tanah yang tersusun
atas singkal, uga dan lampid.
13. Singkal Bagian dari tengala yang digunakan untuk membalikan tanah.
14. Uga Bagian dari tengala yang digunakan untuk mengikat sapi dengan
tengala.
15. Lampid Digunakan untuk meratakan tanah
16. Tambah Berfungsi untuk menggali, membersihkan dan mengolah lahan
17. Suwah Bulih Berfungsi untuk merapikan benih padi.
18. Peralatan Peralatan yang digunakan masyarakat untuk membuat bangunan
Pembangunm irigasi, seperti terowongan dan lain-lain.
Irigasi
19. Janggi Alat yang berisikan air yang digunakan untuk mengatur waktu
karma subak yang datang terlambat pada saat parum atau rapat.
20. Tembuku Digunakan untuk bangunan bagi air dengan cara dibuatkan blok
blok aliran air.
21. Kulkul Alat digunakan untuk menandakan adanya suatu paruman (rapat)
yang diselenggarakan oleh subak.

Pembahasan
Pengelompokan Sarana dan Prasarana yang digunakan pada Sistem Subak
Tradisional adalah sebagai berikut
- Pada Sistem Pengolahan Lahan
Data yang didapat pada museum subak mengenai Sarana dan Prasarana yang
digunakan pada sistem pengolahan lahan di Subak adalah Tengala, Singkal,
Lampid, Tambah, Uga.
- Pada Sistem Irigasi
Data yang didapat pada museum subak mengenai Sarana dan Prasarana yang
digunakan pada sistem pengairan di Subak adalah Tembuku
- Pada Sistem Pembibitan
Data yang didapat pada museum subak mengenai Sarana dan Prasarana yang
digunakan pada sistem pembibitan di Subak adalah Suwah Bulih.
- Pada Sistem Penanaman
Data yang didapat pada museum subak mengenai Sarana dan Prasarana yang
digunakan pada sistem penanaman di Subak adalah tidak adanya sarana dan
prasarana yang digunakan, masih menggunakan tangan.
- Pada Sistem Pemeliharaan
Data yang didapat pada museum subak mengenai Sarana dan Prasarana yang di
gunakan pada sistem pemeliharaan di Subak adalah Tambah, Petakut, Arit.

- Pada Sistem Pemanenan dan Pasca Panen


Data yang didapat pada museum subak mengenai Sarana dan Prasarana yang
digunakan pada sistem pemanenan dan pasca panen di Subak adalah Lesung,
Ketam, Gerejag, Arit, Gelebeg, Keranjang, dan Cikar.
- Pada Paruman
Data yang didapat pada museum subak mengenai Sarana dan Prasarana yang
digunakan pada sistem pembibitan di Subak adalah Dulang, Janggi, Kalender, dan
Lontar.

Perbandingan antara penggunaan Sarana dan Prasarana antara Subak Tradisional


dengan Subak pada saat ini.
- Sistem Irigasi
Alat yang digunakan pada zaman dulu adalah bambu atau batang kelapa, namun
sekarang sudah menggunakan pipa atau banguna permanen.
- Sistem Pembibitan
Alat yang digunakan pada zaman dulu adalah suwah bulih, namun sekarang yang
saya ketahui pembibitan dilakukan dengan menggunkakan sebagian petak sawah.
- Sistem Pengolahan Lahan
Alat yang digunakan pada zaman dulu adalah lampid, uga, namun sekarang sudah
menggunakan traktor.
- Sistem Penanaman
Alat yang digunakan pada zaman dulu hanya menggunakan tangan, namun
sekarang menggunkana alah penanam modern.
- Sistem Panen dan Pasca Panen
Alat yang digunakan pada zaman dulu adalah keranjang, lesung, namun sekarang
menggunakan mesin selip, perontok padi.
b. Pengenalan Struktur Organisasi Subak
Hasil
Berdasarkan praktikum yang dilakukan di Subak Siggaran, data yang diperoleh
adalah sebagai berikut:

PEKASEH

PETAJUH

Pembahasan
PETENGAN
Pada Subak Sigaran terdapat JURU PENYARIKAN
ARAHstruktur organinasi,
istilah-istilah diantaranya:
1 Ketua, istilah ketua pada subak lebih dikenal sebagai Pekaseh yang memiliki
tugas untuk memimpin organisasi Subak tersebut dan memberikan keputusan
keputusan terkait hasil parum atau jika terjadi permasalahan.
2 Wakil Ketua, istilah wakil ketua di subak sigaran adalah Petajuh, yang memiliki
tugas untuk membantu pekaseh dalam membagi tugas atau menggantikan pekaseh
jika pekaseh berhalangan hadir atau sedang sakit.
3 Petengan, istilah dalam subak yaitu sebagai Juru Raksa (bendahara) yang
memiliki tugas untuk membawa atau memungut uang iyuran krama subak, dan
mencatat segala keperluan yang ada sangkut pautnya dengan uang.
4 Sinoman, istilah dalam subak yaitu sebagai Sekretaris yang memiliki tugas
mencatat segala sesuatu yang berhubungan erat dengan subak.
5 Juru Arah, istilah dalam subak hamper sama dengan Sinoman yang memiliki tugas
sama dengan Sinoman, memberitahukan krama subak jika ada kegiatan yang
dilaksanakan di subak.

c. Pengenalan Jaringan Irigasi beserta beberapa Teknik Pengelolaan Air Irigasi pada
Sistem Irigasi Subak.
Hasil

Untuk pengukuran bangunan bagi air dilakukan di Subak Sigaran yang memiliki 2
buah tembuku. Bangunan pembagi pertama mengarah ke timur atau disebut Lekangin
yang memiliki ukuran lebar tembuku 114 cm, dan bangunan pembagi yang lagi satunya
mengarah ke barat yang disebut Lekawa yang memiliki ukuran lebar tembuku 186 cm.
Dan untuk ukuran untuk saluran ngelab adalah 107,8 cm serta lebar saluran ke jero
adalah 3,5 cm. Dapat dilihat seperi gambar berikut:

186 cm 114 cm

(tembuku lekawa) (tembuku lekangin)

107,8 cm 3,5 cm

ngelab kejero
Pembahasan
a. Menghitung jumlah lebar tektek yang didapat oleh satu petak jika ukuran saluran
ngelab = 107,8 cm dan yang kejero = 3.5 cm. Jadi persamaannya adalah sebagai
berikut:
107,8 cm
=30,8
3,5 cm
Jadi lebar tekteknya adalah 30,8
b. Pengiraan luas lahan pada sawah bagian lekangin dan sawah bagian lekawa
dengan menggunakan lebar tembuku.
Untuk menghitung luas lahan pada bagian sawah lekangin dan lekawa, digunakan
perhitungan dengan meilihat lebar dari bangunan bagi yang mengairi setiap masing
masing bagian sawah tersebut. Berikut merupakan lebar dari masing masing bangunan
bagi adalah:
Lebar dari tembuku lekangin: 114 cm
Lebar dari tembuku lekawa: 186 cm
Total luas sawah: 25 Ha
Jadi persamaannya adalah seperti berikut:
- Pengiraan luas lahan pada sawah bagian lekangin adalah sebagai berikut:
114
x 25 Ha=9,5 Ha
(186+114 )
Jadi luasan lahan sawah bagian lekangin adalah 9.5 Ha.
- Pengiraan luas lahan pada sawah bagian lekawa
186
x 25 Ha=15,5 Ha
(186+114 )
Jadi untuk luas sawah bagian lekawa adalah 15.5 Ha
Jadi dapat disimpulkan bahwa luasan lahan pada bagian sawah lekangin adalah
9.5 Ha dan bagian sawah lekawa adalah 15.5 Ha dan jika dojumlahkan akan sama
dengan total luas sawah yang diketahui yaitu 25 Ha.

d. Strategi Pengelolaan Air Pada Sistem Irigasi di Subak Sigaran


Sistem One Inlet merupakan sistem yang menerapkan bahwa pada suatu lahan
dengan satu pemilik yang sama hanya memberlakukan satu inlet point, dimana hanya
ada satu sumber pemasukan air yang dimaksud pengalapan. Seperti gambar berikut ini:

Keterangan :

: Aliran sungai primer

: Aliran air individu/Saluran cacing

: Petak sawah

: Arah masuk / arah keluar air

- Teknik Pengelolaan air pada Subak


Pawiwit

Terkait dengan jadwal tanam (pawiwit nandur), Subak Sigaran juga menetapkan
awig-awig (peraturan) tentang penjadwalan pola tanam. Penjadwalan ini dilakukan
untuk meminimalisir dampak dari terjadinya kekurangan air atau serangan hama pada
satu petak lahan persawahan. Namun peraturan ini dapat diubah dalam suatu keadaan
tertentu. Seperti misalnya terjadi kekurangan air, penjadwalan tanaman akan dilakukan
tidak serentak tapi dilakukan secara bergilir. Dalam kondisi sulit air ini, biasanya
anggota subak melakukan penanaman (penanduran) secara bertahap dari hulu ke hilir,
seperti yang dilakukan pada saat pengolahan tanah. Konsep nyilih yeh tentunya akan
sangat diperlukan disaat situasi seperti ini, agar semua petakan sawah dapat terisi
dengan tanaman.
Ngenyatin

Istilah ngenyatin merupakan teknik membuang air dari lahan dan menutup saluran
irigasi agar air tidak masuk ke dalam lahan tersebut. Pada Subak Sigaran, sistem
ngenyatin dilakukan pada saat akan panen, saat pemupukan, saat rekondisi tanah,
pemberantasan hama dan penyakit maupun pada saat pemberantasan gulma. Air yang
sudah tidak digunakan lagi didrainasekan melalui luahan ke pengutangan, sehingga air
tersebut dapat digunakan kembali oleh krama subak yang memiliki lahan dihilir.

BAB V

KESIMPULAN dan SARAN

KESIMPULAN

1 Subak adalah sebuah organisasi yang dimiliki oleh masyarakat petani di Bali yang
khusus mengatur tentang manajemen atau sistem pengairan/irigasi sawah secara
tradisional, keberadaan Subak merupakan manifestasi dari filosofi/konsep Tri Hita
Karana.
2 Didalam subak terdapat beberapa kelompok yang disebut dengan Sekaa, dan krama
subak digolongkan menjadi 3, yaitu: Krama aktif, Krama pasif, dan Krama luput.
3 Subak sebagai metode teknologi dari budaya asli petani Bali. Fasilitas yang utama
dari irigasi subak (palemahan) untuk setiap petani anggota subak adalah berupa
pengalapan (bendungan air), jelinjing (parit), dan sebuah cakangan (satu tempat/alat
untuk memasukkan air ke bidang sawah garapan).

SARAN
1 Dalam pelaksanaan kunjungan terutama di museum subak, agar mahasiswa dapat
melihat langsung mengenai sistem subak yang diterapkan.
2 Dosen pembimbing lebih komunikatif terhadap mahasiswa agar mahasiswa
mengatahui apa yang akan dilaporkan.
3 Mahasiswa harus lebih kreatif dan inovatif dalam mengembangkan laporan.

DAFTAR PUSTAKA

Museum Subak. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tabanan Bali

Manan, Faridja Novari, Sindu Galba. 1989. Sistem Subak Di Bali. Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan

http://bali1ce.wordpress.com/2011/01/20/subak/

http://www.jalan-jalan-bali.com/2009/01/subak-adalah-suatu-masyarakat-hukum_06.html

whc.unesco.org
www.kemendagri.go.id
ale-alesma3dps.blogspot.com
talov.org
Subak: Sistem Pengairan Sawah (irigasi) Tradisional Bali | Bali Glory