Anda di halaman 1dari 17

Asal Mula Terjadinya Negara

Asal Mula Terjadinya Negara| Sejarah terbentuknya negara dimulai dari asal usul
dan juga berbagai teori-teori terbentuknya negara dari berbagai pendapat ahli.
Setiap negara mengalami pengalam yang berbeda dari terjadinya hingga diakui oleh
negara lain. Ada beberapa cara untuk mengetahui asal mula terjadinya suatu negara
yang terbagi dalam beberapa pandangan-pandangan dalam asal mula terjadinya
negara seperti secara faktual, secara teoritis, dan berdasarkan proses
pertumbuhan.

1. Asal Mula Terjadinya Negara Secara Faktual/Kenyataan


Secara faktual adalah cara mengetahui asal mula terjadinya negara berdasarkan
dari fakta nyata yang diketahui menurut sejarah lahirnya suatu negara. Dalam
terjadinya suatu negara digolongkan dalam berbagai istilah antara lain sebagai
berikut..

Occupatie (pendudukan) adalah suatu daerah atau wilayah yang tidak bertuan
dan belum dikuasai oleh suku atau kelompok tertentu. Contohnya liberia
diduduki oleh budak-budak Negro dan dimerdekakan pada tahun 1947.

Cessie (penyerahan) adalah suatu wilayah diserahkan pada negara lain


berdasarkan atas suatu perjanjian tertentu. Conohnya, Wilayah Sleeswijk
diserahkan oleh Austria pada Prusia (jerman) karena adanya perjanjian atas
negara yang kala dalam perang harus memberikan negara yang dikuasainya
pada negara yang menang. Austria adalah salah satu negara yang kalah dalam
Perang Dunia I.

Accesie (penaikan) adalah suatu wilayah akibat penaikan lumpur sungai atau
timbul dari dasar laut (delta). Wilayah yang dihuni oleh sekelompok orang
sehingga terbentuklah sebuah negara. Contohnya pada wilayah negara Mesi
yang terbentuk dari del Sungai Nil.
Fusi (peleburan), Beberapa negara mengadakan peleburan (fusi) dan
membentuk satu negara baru. Contohnya pada bersatunya Jerman Barat dan
Jerman Timur pada tahun 1990.

Proklamasi adalah penduduk pribumi daru suatu wilayah yang diduduki oleh
bangsa lain dengan mengadakan suatu perjuangan (perlawanan) sehingga
berhasil dalam merebut wilayahnya kembali dan menyatakan kemerdekaannya.
Kemerdekaan Negara RI pada 17 Agustus 1945 dari penjajahan Jepang
dinyatakan dengan proklamasi

Innovatioan (pembentukan baru) adalah munculnya suatu negara baru diatas


wilayah suatu negara yang pecah dan lenyap karena atas suatu hal. Contohnya
pada lenyapnya negara Uni Soviet. Di wilayah negara tersebut muncul suatu
negara baru misalnya Chechnya, Uzbekistan, dan Rusia.

Anexatie (pencaplokan/penguasaan) adalah suatu negara dapat berdiri di


suatu wilayah yang dikuasai (dicaplok) oleh bangsa lain tanpa reaksi berarti.
Negara Israel terbentuk dengan mencaplok daerah Palestina, Mesir, Suriah
dan Yordania.

2. Asal Mula Terjadinya Negara Secara Teoritis


Secara teoritis adalah cara dalam mengetahui asal mula terjadinya negara
menurut/berdasarkan kajian teoritis yang dikenal dengan teori terbentuknya
negara. Teori-Teori Terbentuknya Negara adalah sebagai berikut..
Advertisement

Teori Ketuhanan, adalah teori yang didasarkan pada kepercayaan dari segala
sesuatu terjadi atas kehendak Tuhan. Negara dengan sendirinya juga terjadi
atas kehendak Tuhan. Teori ini mendapat dukungan dari tokoh Kranenburg,
Thomas Auinas, dan Agustinus.

Teori Kekuasaan, adalah teori terbentuk negara yang berdasar dalam dasar
kekuasaan dimana kekuasaan adalah ciptaan orang yag paling kuat dan
berkuasa. Teori mendapat dukungan dari Karl Marx, Leon Duguit, dan Harold
J. Laski

Teori Pernajian Masyarakat (Kontrak Sosial) , adalah teori yang didasarkan


karena adanya perjanjian masyarakat. Semua negara mengikat diri dalam
suatu perjanjian bersama untuk mendirikan suatu organisasi yang bisa
melindungi dan menjamin kelangsungan hidup bersama. Teori ini juga didukung
oleh Monstequieu, Thomas Hobbes, John Locke, J.J.Rousseau.

Teori Hukum Alam, adalah teori yang didasarkan pada hukum alam bukan
buatan negara, melainkan kekuasaan alam yang berlaku dalam setiap waktu
dan tempat, serta bersifat universal dan tidak berubah.

3. Asal Mula Terjadinya Negara Berdasarkan Proses Pertumbuhan


Berdasarkan proses pertumbuhan adalah cara dalam mengetahui tahap-tahap
perkembangan negara, mulai dari asal mula terjadinya, proses pertumbuhannya,
hingga mencapai bentuk yang kita kenal sekarang. Berdasarkan cara ini, asal mula
terjadinya negara dapat dibedakan dalam dua proses antara lain sebagai berikut..

a. Secara primer. Terjadinya negara dimulai dari masyarakat hukum yang paling
sederhana yang kemudian berevolusi ke tingkat yang lebih maju Tahap-tahap
pertumbuhannya adalah sebagai berikut..

Suku/persekutuan masyarakat (genootschaft) adalah kehidupan manusia yang


diawali dari keluarga, kemudian kelompok-kelompok masyarakat hukum
(sukum). Satu suku berkembang menajdi dua suku, tiga suku, dan seterusnya
hingga menjadi besar dan kompleks. Perkembangan tersebut bisa terjadi
karena faktor alami atau karena penaklukan-penaklukan antarsuku.

Kerajaan (rijk) adalah tahap yang dimulai dari kepala suku yang semula
berkuasa di masyarakat hukumnya mengadakan ekspansi dengan melakukan
penaklukan-penaklukan kepada daerah lain.

Negara rasional adalah tahap yang dimulai dari negara nasional yang
diperintah oleh raja yang absolut dengan sistem pemerintahan
tersentralisasi. Semua rakyat yang dipaksa mematuhi kehendak dan perintah
raja. Hanya ada satu identitas kebangsaan. fase ini disebut dengan fase
nasional dalam terjadinya sebuah negara

Negara demokrasi adalah tahap dimana adanya kekuasaan raja yang absolut
dengan menimbulkan keinginan rakyat untuk memegang pemerintahan sendiri.
Artinya, kedaulatan/kekuasaan tertinggi dipegang oleh rakyat. Rakyat yang
berhak memilih pemimpinnya yang dianggap mampu dalam mewujudkan
aspirasinya. Hal tersebut mendorong lahirnya negara demokrasi.

b. Secara Sekunder. Teori terjadinya negara secara sekunder yang didasarkan


bahwa negara telah ada sebelumnya. Namun karena adanya revolusi, intervensi, dan
penaklukan, timbullah negara yang menggantikan negara yang telah ada tersebut.
Karena revolusi di Uni Soviet. Cheechnya, dan Uzbekistan menjadi sebuah negara
yang merdeka. Indonesia merdeka dari Jepang setelah Proklamasi Kemerdekaan 17
Agustus 1945.
Asal Mula Terjadinya Negara Berdasarkan Fakta Dan Teoritis

Asal mula terjadinya negara dibagi menjadi 2 yaitu Secara Primer atau Asal mula
terjadinya negara berdasarkan pendekatan teoritis dan Secara Sekunder atau Asal
mula terjadinya negara berdasarkan fakta.

1. Secara Primer
Terjadinya negara secara primer adalah bertahap yaitu dimulai dari adanya
masyarakat hukum yang paling sederhana, kemudian berevolusi ketingkat yang
lebih maju dan tidak dihubungkan dengan negara yang telah ada sebelumnya.
Dengan demikian terjadinya negara secara primer adalah membahas asal mula
terjadinya negara yang pertama di dunia.

Menurut G. Jellinek, terjadinya negara secara primer melalui 4 tahapan (Fase)


yaitu :
Fase Persekutuan manusia.
Fase Kerajaan.
Fase Negara.
Fase Negara demokrasi dan Diktatur

Tahapan terjadinya Negara:

Genoot Schaft (Suku)

Terdapat istilah Primus Interpares yang artinya Yang utama di antara


sesama.

Rijk/Reich (Kerajaan)

Di sini muncul kesadaran hak milik dan hak atas tanah.

Staat

Kesadaran akan perlunya demokrasi dan kedaulatan rakyat.


Diktatur Natie

Pemerintahan yang dipimpin oleh seorang pilihan rakyat yang kemudian


berkuasa secara mutlak

1. Secara Sekunder

Terjadinya negara secara sekunder adalah membahas terjadinya negara baru yang
dihubungkan dengan negara lain yang telah ada sebelumnya, berkaitan dengan hal
tersebut maka pengakuan negara lain dalam teori sekunder merupakan unsur penting
berdirinya suatu negara baru.
Untuk mengetahui terjadinya negara baru dapat menggunakan pendekatan faktual
yaitu suatu pendekatan yang didasarkan pada kenyataan dan pengalaman sejarah
yang benarbenar terjadi.
Menurut kenyataan sejarah, terjadinya suatu negara karena :

a. Penaklukan/Pendudukan (Occupasi).
Suatu daerah belum ada yang menguasai kemudian diduduki oleh suatu
bangsa. Contoh : Liberia diduduki budakbudak negro yang dimerdekakan
tahun 1847.

b. Pelepasan diri (Proklamasi).


Suatu daerah yang semula termasuk daerah negara tertentu melepaskan diri
dan menyatakan kemerdekaannya. Contoh : Belgia melepaskan diri dari
Belanda tahun 1839, Indonesia tahun 1945, Pakistan tahun 1947 (semula
wilayah Hindustan), Banglades tahun 1971 (semula wilayah Pakistan), Papua
Nugini tahun1975 (semula wilayah Australia), 3 negara Baltik (Latvia, Estonia,
Lituania) melepaskan diri dari Uni Soviet tahun 1991, dsb.c. Peleburan
menjadi satu (Fusi).
Beberapa negara mengadakan peleburan menjadi satu negara baru. Contoh :
Kerajaan Jerman (1871), Vietnam (1975), Jerman (1990), dsb.

c. Pencaplokan / Penguasaan ( Anexatie )


Suatu negara berdiri di suatu wilayah yang dikuasai ( dicaplok ) oleh bangsa
lain tanpa reaksi berarti. Contoh: negara Israel ketika dibentuk tahun 1948
banyak mencaplok daerah Palestina, Suriah, Yordania dan Mesir.

d. Pelenyapan dan pembentukan negara baru.


Suatu negara pecah dan lenyap, kemudian diatas wilayah itu muncul negara
baru.
Contoh : Jerman menjadi Jerman Barat dan Jerman Timur tahun 1945.

e. Fusi Peleburan 2 negara atau lebih dan membentuk 1 negara.

f. Acessie Penarikan. Bertambahnya suatu wilayah karena proses pelumpuran


laut dalam kurun waktu yang lama dan dihuni oleh kelompok.

g. h.Cessie Penyerahan. Sebuah daerah diserahkan kepada Negara lain


berdasarkan perjanjian.

h. Inovasi Suatu Negara pecah, kemudian lenyap dan memunculkan Negara


baru di atasnya.

i. Separasi Suatu wilayah yang semula merupakan bagian dari negara tertentu,
kemudian memisahkan diri dari negara induknya dan menyatakan
kemerdekaan. Contoh: Belgia pada tahun 1839 melepaskan diri dari Belanda

Di samping itu untuk mempelajari asal mula terjadinya negara yang pertama dapat
pula menggunakan pendekatan teoritis yaitu suatu pendekatan yang didasarkan
kerangka pemikiran logis yang hipotesanya belum dibuktikan secara kenyataan. Atas
dasar pendekatan tersebut, ada beberapa teori tentang asal mula terjadinya
Negara:

a) Teori Ketuhanan (Theokratis).


Dasar pemikiran teori ini adalah suatu kepercayaan bahwa segala
sesuatu yang ada atau terjadi di alam semesta ini adalah semuanya
kehendak Tuhan, demikian pula negara terjadi karena kehendak Tuhan.
Sisasisa perlambang teori theokratis nampak dalam kalimat yang
tercantum di berbagai UndangUndang Dasar negara, seperti : ..
Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa atau By the grace of
God. Teori ini dipelopori oleh Agustinus, Friedrich Julius Stahl, dan
Kraneburg.

b) Teori Kekuasaan.
Menurut teori ini negara terbentuk karena adanya kekuasaan,
sedangkan kekuasaan berasal dari mereka-mereka yang paling kuat dan
berkuasa, sehingga dengan demikian negara terjadi karena adanya
orang yang memiliki kekuatan/kekuasaan menaklukkan yang lemah.

c) Teori Perjanjian Masyarakat .


Menurut teori ini, negara terbentuk karena sekelompok manusia yang
semula masingmasing hidup sendirisendiri mengadakan perjanjian
untuk membentuk organisasi yang dapat menyelenggarakan kepentingan
bersama. Teori ini didasarkan pada suatu paham kehidupan manusia
dipisahkan dalam dua jaman yaitu pra negara (jaman alamiah) dan
negara. Teori ini dipelopori oleh Thomas Hobbes.

d) Teori Hukum Alam.


Menurut teori ini, terbentuknya negara dan hukum dengan memandang
manusia sebelum ada masyarakat hidup sendirisendiri. Pemikiran pada
masa plato dan Aristoteles

e) Teori Perjanjian Manusia menghadapi kondisi alam dan timbullah


kekerasan. Manusia akan musnah bila ia tidak mengubah cara-caranya.
Manusia pun bersatu untuk mengatasi tantangan dan menggunakan
persatuan dalam gerak tunggal untuk kebutuhan bersama.

Sedangkan Tenggelamnya Negara dibagi menjadi 3 teori :

Teori organis : Negara diibaratkan suatu organism yang diliputi hukum


perkembanganhidup.
Teori Anarkhis: Negara adalah suatu bentuk tata paksa yang hanya sesuai
bagi masyarakat primitive. Pada saatnya Negara akan lenyap, masyarakat
tanpa paksaan dan tanpa Negara.

Cara melenyapkannya :

a. Dengan kekerasan (revolusi) : Proudhon,Kropatkin,Bakunin.

b. Dengan pendidikan & evolusi : Leo Tolstoy.

Teori Marxis : Negara pada saatnya akan lenyap dengan sendirinya, jika
syarat- syarat bagi hidupnya tidak ada lagi.

Teori Lain Mengenai Lenyapnya Negara

a. Karena factor alam : Negara yang tadinya sudah berdiri karena factor
alam lalu lenyap/hilang.

Contohnya:

a. Gunung meletus.

b. Pulau ditelan air laut.

b) Karena factor social : Negara sudah berdiri dan di akui Negara lain, tetapi
karena factor social lalu lenyap.

c) Karena penaklukan.

d) Adanya revolusi.

e) Adanya perjanjian.

f) Adanya penggabungan.
Sejarah terbentuknya negara
Dalam mengidentifikasi terbentuknya negara dapat dilihat dari beberapa
pendekatan dan teori, yakni teori kontrak sosial, teori ketuhanan, teori kekuatan,
teori organis, teori historis, teori patriarkal dan matriarkal, teori daluarsa dan
teori idealistis.
1. Teori Perjanjian Masyarakat (Sosial contract)
Teori kontrak sosial atau teori perjanjian masyarakat beranggapan bahwa
negara dibentuk berdasarkan perjanjian-perjanjian masyarakat. Teori ini adalah
salah satu teori yang terpenting menegnai sal-usul negara. Disamping tertua, teori
ini juga relatif bersifat universal, karena teori perjanjian masyarakat adalah teori
yang termudah dicapai dan negara tidak merupakan negara tiranik.penganut teori
kontrak sosial ini mencakup para pakar dari paham kenegaraan yang absolutis sampai
ke penganut paham kenegaraan yang terbatas. Untuk menjelaskan teori asal mula
negara yang didasarkan atas kontrak sosial ini dapat dilihat dari beberapa pakar
yang mempunyai pengaruh dalam pemikiran politik tentang negara, yakni Thomas
Hobbes, John Locke dan JJ. Rousseau.
a. Thomas Hobbes (1588 1679)
Hobbes mengemukakan bahwa kehidupan manusia terpisah dalam dua zaman, yakni
keadan sebelum adanya negara dan keadaan setelah ada negara. Bagi Hobbes
keadaan alamiah sama sekali tidak bukan keadaan yang aman sentosa, adil dan
makmur. Tetapi sebaliknya, keadaan alamiah itu merupakan suatu keadaan sosial
yang kacau, suatu inferno di dunia ini tanpa hukum yang dibuat oleh manusia secara
sukarela dan tanpa pemerintah, tanpa ikatan-ikatan sosial antar individu itu.
Dalam keadaan demikian, hukum dibuat oleh mereka yang fisiknya terkuat
sebagaimana keadaan di hutan belantara. Mausia seakan-akan merupakan binatang
dan menjadi mangsa dari manusia yang fisik yang lebih kuat darinya. Keadaan ini
dilukiskan dalam peribahasa latin homo homini lupus.Manusia saling bermusuhan dan
saling berperang satu sama lain, dan perang tersebut bukan dalam bentuk perang
yang terorganisir, tetapi perang dalam arti keadaan bermusuhan yang terus
menerus antara individu dengan individu lainnya.
Keadaan tersebut tidak dapat dibiarkan berlangsung terus, manusia dengan akalnya
mengerti dan menyadari bahwa demi kelanjutan hidup mereka sendiri, keadaan
alamiah tersebut harus diakhiri. Hal ini dilakukan dengan mengadakan perjanjian
bersama individu-individu yang tadinya hidup dalam keadaan alamiah berjanji akan
menyerahkan hak-hak kodrat yang dimilikinya kepada seseorang atau sebuah badan.
Dan selanjutnya dengan adanya perjanjian tersebut maka terbentuklah negara yang
dianggap dapat mengakhiri anarkhi yang menimpa individu dalam keadaan alamiah
itu.
Bagi Hobbes, perjanjian tersebut terjadi antar individu, bukan antara individu
dengan negara. Maka menurut Hobbes, yang terkait sepenuhnya terhadap perjanjian
tersebut adalah individu-individu tersebut. Negara sendiri bebas karena tidak
terikat oleh perjanjian, ia berada diatas individu. Negara bebas melakukan apapun
yang dikehendakinya terlepas sesuai atau tidak dengan dengan kehendak individu.
Negara versi Hobbes ini juga tidak memiliki tangung jawab apa pun terhadap rakyat.
b. John Locke
Dalam konsep tentang keadaan alamiah (state of nature), Locke dan Hobbes
memiliki perbedaan,. Hobbes melihat keadaan alamiah sebagai suatu keadaan
anarkhi, sementara Locke melihat keadaan itu sebagai suatu keadaan of peace,
goodwill, mutual assistance and preservation. Sekalipun keadaan itu suatu keadaan
ideal, namun Locke juga merasakan bahwa keadaan itu potensial dapat menimbulkan
anarkhi, karena manusia hidup tanpa organisasi dan pimpinan yang dapat mengatur
kehidupan mereka dalam keadaaan alamiah setiap individu sederajat baik mengenai
kekuasaan maupun hak-hak lainnya, sehingga penyelenggaraan kekuasaan dan
yurisdiksi dilakukan oleh individu individu sendiri-sendiri, dengan demikian dalam
dirinya sendiri mengan dung potensi untuk menimbulkan kegaduhan dan kekacauan.
Oleh karena itu manusia membentuk negara dengan suatu perjanjian bersama.
Menurut Locke, dasar kontraktual dari negara sebagai peringatan bahwa kekuasaan
negara tidak pernah mutlak, melainkan terbatas, sebab dalam mengadakan
perjanjian dengan seorang atau sekelompok orang, individu-individu tidak
menyerahkan hak-hak alamiahnya kepada mereka, karena ada hak-hak alamiah yang
merupakan hak hak-hak asasi tidak dapat dilepaskan.
Berbeda dengan Hobbes, menurut Locke karena kekuasaan negara terbentuk
dari concent rakyat dan produk perjanjian sosial warga negara, maka kekuasaan itu
itdak bebas dan otonom berhadapan dengan aspirasi dan kehendak rakyat.
Hubungan antara penguasa poltik dengan rakyat yang diperintah diumpamakan
seseorang yang memberikan kepercayaan kepada orang lain untuk mengatur dirinya.
Maka hak bertindak dan mengatur yang dimiliki negara bisa ditolelir dan dibenarkan
sejauh tidak mengganggu hak-hak sipil dan politik rakyat.
c. Jean Jacques Rousseau.
Rousseau memisahkan suasana kehidupan manusia dalam dua zaman, yakni zaman
pra-negara dan zaman bernegara. Keadaan alamiah itu diumpakan sebagai keadaan
sebelum manusia melakukan dosa, suatu keadaan yang aman dan bahagia. Karena
keadaan alamiah itu tidak dapat dipertahankan seterusnya, maka manusia dengan
penuh kesadaran mengakhiri keadaan itu dengan dengan suatu kontrak sosial,
dengan adanya kontrak sosial tersebut kemudian terjadi peralihan dari keadaan
alamiah ke keadaan bernegara.
Negara atau badan korporatif kolektif dibentuk untuk menyatakan kemauan
umum (general will) dan kemauan umum tidak berarti kemauan seluruh rakyat,
adakalanya perbedaan-perbedaan antara kemauan umum dan kemauan seluruh
rakyat (will of all). Kemauan umum selalu benar dan ditujukan pada kebahagiaan
bersama, sedangkan kemauan seluruh rakyat juga memperhatikan kepentingan
individual (particular interest).
Dengan konstruksi perjanjian masyarakat tersebut, Rousseau menghasilkan bentuk
negara yang kedaulatanya berada dalam tangan rakyat atau jenis negara yang
demokratis melalui kemauan umumnya.
2. Teori Ketuhanan
Teori ketuhanan ini dikenal juga dengan doktrin teokratis dalam teori asal mula
negara. Teori ini pun bersifat universal dan ditemukan baik si dunia Timur maupun di
dunia Barat, baik di dalam teori maupun di dalam praktik. Doktrin ketuhanan ini
memperoleh bentuknya yang sempurna dalam tulisan-tulisan para sarjana Eropa
pada abad pertengahan yang menggunakan teori itu untuk mengemukakan hak-hak
raja yang berasal dari Tuhan untuk memerintah dan bertahta sebagai raja ( devine
rights of kings) doktrin ketuhanan lahir sebagai resultante kontroversial dari
kekuasaan politik dalam abad pertengahan. Kaum monarchomach (penentang raja)
berpendapat bahwa raja yang berkuasa secara tiranik dapat diturunkan dari
mahkotanya, bahkan dapat dibunuh. Mereka beranggapan bahwa sumber kekuasaan
adalah rakyat, sedangkan raja-raja pada waktu itu beranggapan bahwa kekuasaan
mereka diperoleh dari Tuhan.
Negara dibentuk oleh Tuhan dan pemimpin-pemimpin negara ditunjuk oleh Tuhan.
Raja dan pemimpin-pemimpin negara hanya bertanggung jawa pada Tuhan dan tidak
pada siapa pun. Teori teokratis seperti ini memang sudah amat tua dan didasarkan
atas sabda Paulus yang terdapat dalam Rum XIII ayat 1 dan 2.
Thomas Aquinas mengikuti ajaran Paulus yang menganggap Tuhan
sebagaiprincipum dari semua kekuasaan, tetapi memasukan unsur-unsur sekuler
dalam ajaranya itu, yaitu bahwa sekalipun Tuhan memberikan princium itu kepada
penguasa, namun rakyat menentukan modus atau bentuknya yang tetap dan bahwa
rakyat pula yang memberikan kepada seseorang atau segolongan
orang exercitum dari pada kekuasaan itu. Karenanya, teori Thomas Aquinas ini
bersifat monarcho-demokratis yaitu bahwa di dalam ajaran itu tedapat unsur-unsur
yang monarchistis di samping unsur-unsur yang demokratis.
Jika doktrin ketuhanaan itu pada abad pertengahan masih bersifat monarcho
demokratis dalam abad-abad ke-16 dan ke-17 doktrin itu bersifat monarchistis
semata.dengan doktrin semacam itu diusahakan agar kekuasaan raja mendapatkan
sifatnya yang suci, sehingga pelanggaran terhadap kekuasaan raja merupakan
pelanggaran terhadap Tuhan. Raja dianggap sebagai wakil Tuhan, bayangan Tuhan
dan letnan Tuhan di dunia atau dikenal dengan istilah La Roi e` est l `image de
Dieu.
3. Teori kekuatan
Teori kekuatan secara sederhana dapat diartikan bahwa negara yang pertama
adalah hasil dominasi dari kelompok yang kuat terhadap kelompok yang lemah.
Negara berbentuk dengan penaklukan dan pendudukan. Dengan penaklukan dan
pendudukan dari suatu kelompok etnis yang lebih kuat atas kelompok etnis yang
lebih lemah, dimulailah proses pembentukan negara. Negara
merupakan resultante positif dari sengketa dan penaklukan. Dalam Teori kekuatan,
faktor kekuatanlah yang dianggap sebagai faktor tunggal yang menimbulkan negara.
Negara dilahirkan karena pertarungan kekuatan dan yang keluar sebagai pemenang
adalah pembentuk negara itu. Dalam teori ini pula kekuatan membuat hukum ( might
makes right). Kekuatan adalah pembenaranya dan raison d`etre-nya adalah negara.
Doktrin kekuatan merupakan hasil analisa anthropo-sosiologis dari pertumbuhan
suku-suku bangsa dimasa lampau, terutama suku-suku bangsa yang bertentangga
terus-menerus berada dalam keadaan permusuhan dan pertikaian. Semula kelompok
etnis yang ditaklukan itu juga dimusnahkan, tetapi lambat laun penakluk
mempertahankan kelompok yang ditaklukan itu dan itulah menandakan saat lahirnya
negara.
4. Teori organis
Konsepsi organis tentang hakikat dan asal mula negara adalah suatu konsep biologis
yang melukiskan negara dengan istilah-istilah ilmu alam. Negara dianggap atau
disamakan dengan makhluk hidup, manusia atau binatang. Individu yang merupakan
komponen-komponen negara dianggap sebagai sel-sel dari makhluk hidup tersbut.
Kehidupan korporal dari negara dapat disamakan sebagai tulang belulang manusia,
undang-undang sebagai urat syaraf, raja (kaisar) sebagai kepala dan para individu
sebagai daging makhluk hidup itu. Fisiologi negara sama dengan fisiologi makhluk
hidup, terutama dalam konteks kelahiran, pertumbuhan, perkembangan dan
kematiannya. Doktrin organis dari segi isinya dapat digolongkan ke dalam teori-teori
organisme moral, organisme psikis, organisme biologis dan organisme sosial.
Negara sebagai suatu organisme moral bersifat metafisis-idealistis dan
dikemukakan terutama oleh tokoh-tokoh idealis Jerman seperti Fichte, Scheling
dan Hegel. Paham organisme moral dari Fichte merupakan fase peralihan antara
ajaran kontrak sosial yang mekanistik ke konsepsi organis itu. Fitche melihat negara
sebagai suatu naturproduksi atau suatu kesatuan organis yang meliputi semua
warga negara sebagai bagian esensial dari kesatuan organis itu. Negara tidak dibuat
oleh manusia, tetapi ia merupakan suatu pribadi moral yang merupakan akibat dari
pada kodrat manusia sebagai makhluk moral. Penyempurnaan manusia sebagai
organisme moral dapat ditemukan dalam tulisan Hegel, yang menganggap negara
sebagai penjelmaan ekstern dari semangat moral individu. Negara dipandangnya
sebagai organisme dengan kepribadian yang termuia.
Negara sebagai organisme psikis adalah dalam bentuk peralihan dari teori-teori
organisme moral yang bersifat metafisis-idealistis ke teori organisme yang bersifat
bio-psikologis. Teori organisme psikis ditandai oleh tinjauan-tinjauannya yang
menitikberatkan pada segi psikologis negara. Negara dilukiskan sebagai makhluk
hidup yang memiliki atribut-atribut kepribadian rohani sebagai manusia ( human
mental personality). Pertumbuhan dan perkembangan negara dapat dipersamakan
dengan perkembangan intelektual dari individu.
Konsep organisme biologis timbul sebagai salah satu manifestasi dari pertumbuhan
ilmu-ilmu biologi yang muncul pada abad ke-19. Negara diselidiki dengan
menggunakan metode-metode dan penggolongan-penggolongan ilmu biologi itu,
karena antara negara dan makhluk hidup terdapat persamaan-persamaan dalam
anatomi, fisiologi dan patologinya. Jadi asla mula, perkembangan, struktur dan
aktifitas negara diselidiki berdasarkan pada kelahiran, struktur dan fungsi-fungsi
organisme biologis.
Negara sebagai oranisme sosial. Jika doktrin organisme biologis mendapatkan
sokongan dari pertumbuhan ilmu-ilmu biologi, doktrin negara sebagai organisme
sosial lahir sejalan dengan timbulnya ilmu baru tentang masyarakat, yaitu sosiologi.
Ajaran negara sebagai organisme sosial terkait erat hubungannya dengan ajaran
organis dari masyarakat dan persekutuan-persekutuan lainnya. Masyarakat
dipandang sebagai suatu keseluruhan yang bersifat organis. Negara sebagai slaah
satu bentuk perkelompokan sosialjuga bersifat organis.
5. Teori historis.
Teori historis atau teori evolusionistis (gradualistic theory) merupakan teori yang
menyatakan bahwa lembaga-lembaga sosial tidak dibuat, tetapi tumbuh secara
evolusioner sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan manusia. Sebagai lembaga sosial
yang diperuntukan guna memenuhi kebutuhan-kebutuhan manusia, maka lembaga-
lembaga itu tidak luput dari pengaruh tempat, waktu dan tuntutan-tuntutan zaman.
Teori historis diperkuat dan telah dibenarkan oleh penyelidikan historis dan
etnologis-antropologis dari lembaga-lembaga sosial bangsa-bangsa primitif di benua
Asia, Afrika, Australia dan Amerika. Perlu ditambahkan bahwa pada saat ini, teori
historislah yang umum diterima oleh sarjana-sarjana ilmu politik sebagai teori yang
paling mendekati kebenaran tentang asal mula negara.
Sekalipun teori historis pada umumnya mencapai persesuaian paham mengenai
pertumbuhan evolusionistis dari negara, namun dalam beberapa hal masih juga
terdapat perbedaan pendapat, misalnya, apakah yang mendahului negara itu keluarga
dan suku yang didasarkan atas sistem keibuan? Serta bagaimanakah peranan
faktor-faktor kekeluargaan, agama, dan lain-lain dalam pembentukan negara? Dalam
konteks seperti ini teori historis menemukan kesesuaian belum paham.

6. Teori Patriarkal dan Matriarkal


Menurut teori ini, keluarga sebagai kelompok patriarkal adalah kesatuan sosial yang
paling utama dalam masyarakat primitif dan ayahlah yang berkuasa dalam keluarga
tersebut serta garis keturunan ditarik dari pihak ayah. Kemudian keluarga tersebut
berkembang biak dan terjadilah beberapa keluarga yang seluruhnya dipimpin oleh
kepala (ayah) keluarga induk. Lambat laun keluarga-keluarga tersebut kemudian
membentuk kesatuan etnis yang besar dan terjadilah suku patriarkal. Sedangkan
matriarkal adalah apabila berlangsung pada kelompok suku yang menarik garis
keturunannya dari pihak ibu.
7. Teori Daluarsa
Teori daluarsa adalah teori yang menganggap bahwa negara dikuasai oleh raja
karena faktor kebiasaan. Raja beserta organisasinya (negara kerajaan) timbul
karena adanya milik yang sudah lama dan kemudian melahirkan hak milik, jadi raja
bertahta karena hak milik itu yang didasarkan atas hukum kebiasaan (Baik diterima
maupun ditolak oleh rakyat).
8. Teori Alamiah
Menurut teori ini negara merupakan ciptaan alam. Teori ini pertama kali
dikemukakan oleh Aristoteles yang menyatakan bahwa manusia adalah zoon
politicon (Makhluk politik), dan dengan kodrat manusia tersebut maka kemudian
manusia ditakdirkan untuk hidup bernegara.
9. Teori Idealistis
Teori ini bersifat filosofis, karena merupakan renungan-renungan tentang negara
dan memikirkan bagaimana negara itu seharusnya ada. Negara sebagai kesatuan
yang mistis, yang bersifat supranatural, namun memiliki hakekat sendiri ayng
terlepas dari bebagai komponen.