Anda di halaman 1dari 3

Laporan Refleksi Kasus Komuda

Nama : Padlia

Nim : 20110310043

Tempat Komuda : RS PKU Muhammadiyah

Waktu Komuda : 20 Mei 2015

1. Pengalaman
Seorang wanita usia 63 tahun datang ke IGD RS PKU karena mengalami kecelakaan lalulintas
diserempet mobil saat naik motor. Pasien mengeluhkan tangan kirinya sakit saat digerakkan, pasien
tampak masih sadar penuh, tidak ada luka maupun perdarahan. Setelah dilakukan pemeriksaan fisik,
dokter menemukan adanya dislokasi tertutup pada humerus kiri.

2. Masalah yang di kaji


Bagaimana cara penegakan diagnosis dan penanganan pada pasien ini?

3. Analisa kritis
a. Anamnesis
Penderita datang dengan suatu trauma (traumatic fraktur) dan diikuti dengan
ketidakmampuan untuk menggerakkan anggota geraknya. Anamnesis harus dilakukan
dengan cermat, karena fraktur tidak selamanya terjadi di daerah trauma dan mungkin
fraktur terjadi ditempat lain. Trauma dapat terjadi karena kecelakaan lalu lintas, jatuh dari
ketinggian atau jatuh dikamar mandi pada orang tua, penganiayaan, tertimpa benda berat,
kecelakaan pada pekerja oleh karena mesin atau karena trauma olah raga. Penderita
biasanya datang karena nyeri, pembengkakan, gangguan fungsi anggota gerak, deformitas,
kelainan gerak, krepitasi atau datang dengan gejala-gejala lain.
Pada pasien ini terjadi kecelakaan diserempet oleh mobil kemungkinan diduga terjadi trauma
pada lengan kiri.

b. Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan awal penderita, perlu diperhatikan adanya:
Syok, anemia atau perdarahan.
Kerusakan pada organ-organ lain, misalnya otak, sumsum tulang belakang atau organ-
organ dalam rongga toraks, panggul dan abdomen.
Faktor predisposisi, misalnya pada fraktur patologis (penyakit Paget).
Pada pasien tidak ditemukan tanda dan gejala diatas.
Pada pemeriksaan fisik juga harus dilakukan:
Look (Inspeksi)
Apakah ada deformitas, bengkak atau kebiruan atau fungsio laesa (hilangnya
fungsi gerak).
Pada pasien tidak ditemukan kelainan diatas.

Feel (palpasi)
Palpasi dilakukan secara hati-hati oleh karena penderita biasanya mengeluh sangat
nyeri. Hal-hal yang perlu diperhatikan:
Temperatur setempat yang meningkat
Nyeri tekan; nyeri tekan yang superfisisal biasanya disebabkan oleh kerusakan
jaringan lunak yang dalam akibat fraktur pada tulang.
Krepitasi; dapat diketahui dengan perabaan dan harus dilakukan secara hati-hati.
Berdasarkan data dari RM tidak dilakukan pemeriksaan palpasi.
Move (pergerakan)
Nyeri bila digerakan, baik gerakan aktif maupun pasif.
Gerakan yang tidak normal yaitu gerakan yang terjadi tidak pada sendinya.
Pada kasus, pasien merasa sangat nyeri bila digerakkan, rasanya seperti tertusuk dan
dirasakan secara terus-menerus.

c. Pemeriksaan Penunjang
pemeriksaan Lab dan X-Ray Thorax, Humeri
Pada kasus, hasil pemeriksaan Lab dan X-Ray belum diketahui.

Penatalaksanaan
Fraktur biasanya menyertai trauma. Untuk itu sangat penting untuk melakukan pemeriksaan
terhadap jalan napas (airway), proses pernapasan (breathing), dan sirkulasi (circulation), apakah
terjadi syok atau tidak. Bila sudah dinyatakan tidak ada masalah lagi, baru lakukan anamnesis dan
pemeriksaan fisis secara terperinci. Waktu terjadinya kecelakaan penting ditanyakan untuk
mengetahui berapa lama sampai di RS, mengingat golden period 1-6 jam. Bila lebih dari 6 jam,
komplikasi infeksi semakin besar. Pemasangan bidai dilakukan untuk mengurangi rasa sakit dan
mencegah terjadinya kerusakan yang lebih berat pada jaringan lunak selain memudahkan proses
pembuatan foto.
Terapi konservatif pada fraktur tertutup
1. Proteksi saja
Untuk penanganan fraktur dengan dislokasi fragen yang minimal atau dengan dislokasi
yang tidak akan menyebabkan cacat di kemudian hari.
2. Immobilisasi saja tanpa reposisi
Misalnya pemasangan gips atau bidai pada fraktur inkomplit dan fraktur dengan
kedudukan yang baik.
3. Reposisi tertutup dan fiksasi dengan gips
Ini dilakukan pada fraktur dengan dislokasi fragmen yang berarti. Fragen distal
dikembalikan ke kedudukan semula terhadap fragen proksimal dan dipertahankan dalam
kedudukan yang stabil dalam gips.
4. Traksi
Ini dilakukan pada fraktur yang akan terdislokasi kembali di dalam gips. Cara ini
dilakukan pada fraktur dengan otot yang kuat. Traksi dapat untuk reposisi secara perlahan
dan fiksasi hingga sembuh atau dipasang gips estela tidak sakit lagi. Pada anak-anak
dipakai kulit (traksi Hamilton Russel/traksi Bryant). Traksi kulit terbatas untuk 4 minggu
dan beban < 5 kg, untuk anak-anak waktu dan beban tersebut mencukupi untuk dipakai
sebagai traksi definitif, bilamana tidak maka diteruskan dengan immobilisasi gips. Untuk
orang dewasa traksi definitif harus traksi skeletal berupa balanced traction.

4. Dokumentasi
Nama : Ny. SM
Umur : 63 tahun
Agama : Islam
Status : Menikah
Alamat : Cokrodirjan
Tgl, waktu masuk : 18 Mei 2015, pukul 12.21 WIB

Anamnesis : Post KLL diserempet mobil saat naik motor.


Keadaan Umum : Compos mentis
Vital sign : TD : 132/71 mmHg, nadi : 76 x/mnt,
Pemeriksaan fisik : Nyeri (+), Trauma (+).
Terapi Awal : Infus RL, Inj. ketorolac IM.
Dx : Closed Fracture Humerus
Tindakan : - Pasang spalk
- Disposisi ke bagian Ortophedi.

5. Referensi
http://www.medkes.com/2013/04/penanganan-patah-tulang-fraktur.html

Greenberg, M. (2007). Teks-Atlas Kedokteran Kedaruratan Jilid 2.


Jakarta: Erlangga.

Dosen Pembimbing Refleksi

( dr. Farindira Vesti, M.Sc )