Anda di halaman 1dari 132

PERAN PERAWAT TERHADAP KETEPATAN

WAKTUTANGGAP PENANGANAN KASUS CEDERA


KEPALA
DI INSTALASI GAWAT DARURAT RSUD
Dr.MOEWARDI SURAKARTA

SKRIPSI
Untuk Memenuhi Persyaratan Mencapai Sarjana Keperawatan

Oleh :
Ruly Ambar Sekar
NIM S11034

PROGRAM STUDI S-1 KEPERAWATAN


STIKES KUSUMA HUSADA
SURAKARTA
2015
The image cannot be display ed. Your computer may not hav e enough memory to open the image, or the image may hav e been corrupted. Restart y our computer, and then open the file again. If the red x still appears, y ou may hav e to delete the image and then insert it again.

LEMBAR PERSETUJUAN

Yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bahwa Skripsi yang berjudul :

PERAN PERAWAT TERHADAP KETEPATAN WAKTU TANGGAP


PENANGANAN KASUS CEDERA KEPALA DI INSTALASI
GAWAT DARURAT RSUD Dr. MOEWARDI
SURAKARTA

Oleh :
Ruly Ambar Sekar
NIM. S11034

Telah disetujui untuk dapat dipertahankan dihadapan Tim Penguji

Pembimbing Utama Pembimbing Pendamping

Wahyu Rima Agustin S.Kep., Ns., M.Kep Ika Subekti Wulandari S.Kep.,Ns., M.K
NIK.201279102 NIK.201189097

ii
iii
KATA PENGANTAR

Puji serta syukur peneliti panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas
rahmat dan karunia-Nya, akhirnya peneliti dapat menyelesaikan skripsi dengan
judul Peran Perawat Terhadap Ketepatan Waktu Tanggap Penanganan Kasus
Cedera Kepala Di Instalasi Gawat Darurat RSUD Dr. Moewardi Surakarta.
Dalam penyusunan skripsi ini, peneliti banyak mendapat bimbingan dan
dukungan dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini peneliti
mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada :
1. Dra. Agnes Sri Harti, M.Si, selaku ketua STIKes Kusuma Husada Surakarta.
2. Wahyu Rima Agustin, S.Kep.,Ns.,M.Kep, selaku Ketua Program Studi S1
Keperawatan STIKes Kusuma Husada Surakarta.
3. Wahyu Rima Agustin, S.Kep.,Ns.,M.Kep, selaku Pembimbing Utama yang
telah memberikan masukan dan arahan selama penyusunan skripsi.
4. Ika Subekti Wulandari, S.Kep.,Ns.,M.Kep , selaku Pembimbing Pendamping
yang juga telah memberikan masukan dan arahan selama penyusunan skripsi.
5. Happy Indri Hapsari, S.Kep.,Ns.,M.Kep, selaku Penguji skripsi yang juga
telah memberikan masukan dan arahan selama sidang skripsi.
6. Seluruh dosen dan staf akademik Program Studi S 1 Keperawatan STIKes
Kusuma Husada Surakarta.
7. Direktur RSUD Dr. Moewardi Surakarta yang memberikan ijin dan arahan
untuk peneliti dalam melakukan penelitian skripsi.
8. Orang tua tercinta, yaitu Bapak Sastro Sakat Suwito, Ibu Kasiyem, seluruh
keluarga besar, kakak kakak dan keponakan tersayang, yang selalu
memberikan dukungan, motivasi, doa dan kasih sayangnya sepanjang waktu.
9. Teman-teman angkatan 2011 / S11 tersayang, yang saling mendukung dan
membantu dalam proses pembuatan skripsi ini.
Semoga segala bantuan dan kebaikan, menjadi amal sholeh yang akan
mendapat balasan yang lebih baik dari Allah SWT.

iv
Selanjutnya peneliti sangat mengharapkan masukan, saran dan kritik demi
perbaikan skripsi ini sehingga dapat digunakan untuk pengembangan ilmu dan
pelayanan keperawatan.

Surakarta, 08 Juli 2015

Ruly Ambar Sekar


NIM.S11034

v
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ..................................................................................... i


LEMBAR PENGESAHAN ........................................................................... ii
SURAT PERNYATAAN............................................................................... iii
KATA PENGHANTAR ............................................................................... iv
DAFTAR ISI ................................................................................................. vi
DAFTAR TABEL ......................................................................................... viii
DAFTAR GAMBAR .................................................................................... ix
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................. x
ABSTRAK .................................................................................................... xi
ABSTRACT .................................................................................................. xii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ....................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................. 7
1.3 Tujuan Penelitian ................................................................... 8
1.4 Manfaat Penelitian ................................................................. 9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Teori ....................................................................... 11
2.1.1 Cedera Kepala ............................................................ 11
2.1.2 Waktu Tanggap atau Respon Time ............................. 19
2.1.3 Konsep Peran Perawat .............................................. 27
2.1.4 Faktor - Faktor Yang Mempengaruhi Peran
Perawat ...................................................................... 31
2.1.5 Faktor Faktor yang mempengaruhi Waktu
Tanggap ...................................................................... 32
2.2 Kerangka Teori ...................................................................... 33
2.3 Fokus Penelitian .................................................................... 34
2.4 Keaslian Penelitian ................................................................ 36
BAB III METODOLOGI
3.1 Jenis Dan Rancangan Penelitian ............................................ 41

vi
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ............................................... 42
3.3 Populasi dan Sampel ........................................................... 43
3.3.1 Populasi ....................................................................... 43
3.3.2 Sampel ........................................................................ 43
3.4 Instrumen dan Pengumpulan Data ......................................... 46
3.4.1 Instrumen ..................................................................... 46
3.4.2 Pengumpulan Data ....................................................... 48
3.4.2.1 Data ................................................................. 48
3.4.2.2 Prosedur Pengumpulan Data ........................... 48
3.5 Analisa Data .......................................................................... 52
3.6 Keabsahan Data ...................................................................... 53
3.7 Etika Penelitian ...................................................................... 55
BAB IV HASIL PENELITIAN
4.1. Diskripsi Tempat Penelitian .................................................. 58
4.2. Karakteristik Partisipan .......................................................... 59
4.3. Hasil Penelitian ...................................................................... 60
BAB V PEMBAHASAN
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan ............................................................................ 111
6.2 Saran ...................................................................................... 113
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

vii
DAFTAR TABEL

Nomor Tabel Judul Tabel Halaman


1.1 Skala GCS (Nurarif, 2013) 12
1.2 Skala Australia Triage (2000) 24
1.3 Keaslian Penelitian 36

viii
DAFTAR GAMBAR

Nomor Gambar Judul Gambar Halaman


1.1 Gambaran Kasus Cedera Kepala 67
4.2 Initial Assasment 70
4.3 Pengelolaan Prioritas Pasien 72
4.4 Perawat Sebagai Care Giver 76
4.5 Iklim Kerja Kondusif 80
4.6 Kendala Pelayanan 85
4.7 Kebutuhan Perbaikan Manajemen 88
4.8 Kebutuhan Peningkatan Kualitas SDM 91

ix
DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Lampiran Keterangan


1. Surat Ijin Studi Pendahuluan
2. Surat Keterangan Studi Pendahuluan
3. Surat Ijin Penelitian
4. Surat Keterangan Penelitian
5. Surat Pengajuan Ethical Clearance
6. Surat Ethical Clearance
7. Penjelasan Penelitian
8. Lembar Persetujuan Partisipan
9. Pedoman Pertanyaan
10. Data Demografi
11. Lembar Catatan Lapangan/Observasi
12. Transkip Wawancara
13. Analisa Data Tematik
14. Gambar/ Foto Wawancara Penelitian
15. Lembar Konsultasi Proposal Skripsi
16. Lembar Bukti Penanganan Pasien Cedera Kepala
17. Jadwal Penelitian

x
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Cedera kepala merupakan salah satu penyebab kematian utama

dikalangan usia produktif khususnya di negara berkembang (Japardi, 2005).

Cedera kepala adalah cedera mekanik yang secara langsung atau tidak

langsung mengenai kepala yang mengakibatkan luka di kulit kepala, fraktur

tulang tengkorak, robekan selaput otak, dan kerusakan jaringan otak itu

sendiri, serta mengakibatkan gangguan neurologis (Miranda, 2014).

Distribusi kasus cedera kepala terutama melibatkan kelompok usia 10-60

tahun dan lebih didominasi oleh kaum laki-laki dibandingkan dengan

perempuan (Fauzi, 2002).

Data insiden cedera kepala di Eropa pada tahun 2010 adalah 500 per

100.000 populasi. Insiden cedera kepala di Inggris pada tahun 2005 adalah

400 per 100.000 pasien per tahun (Irawan, 2010). Insiden cedera kepala di

India setiap tahunnya adalah 160 per 100.000 populasi (Critchley et al,2009).

Prevalensi cedera secara nasional adalah 8,2 persen, prevalensi tertinggi

ditemukan di Sulawesi Selatan (12,8%) dan terendah di Jambi (4,5%).

Provinsi yang mempunyai prevalensi cedera lebih tinggi dari angka nasional

sebanyak 15 provinsi. Riskesdas 2013 pada provinsi Jawa Tengah

menunjukkan kasus cedera sebesar 7,7 % yang disebabkan oleh kecelakaan

sepeda motor sebesar 40,1 %. Cedera mayoritas dialami oleh kelompok

1
2

umur dewasa yaitu sebesar 38,8% dan lanjut usia (lansia) yaitu 13,3% dan

anakanak sekitar 11,3%(Depkes,2013). Di negara berkembang seperti

Indonesia, perkembangan ekonomi dan industri memberikan dampak

frekuensi cedera kepala cenderung semakin meningkat, dan merupakan

salah satu kasus yang paling sering dijumpai di ruang gawat darurat rumah

sakit (Miranda, 2014).

Instalasi Gawat Darurat (IGD) sebagai gerbang utama penanganan

kasus gawat darurat di rumah sakit memegang peranan penting dalam upaya

penyelamatan hidup klien. Standar IGD sesuai Keputusan Menteri

Kesehatan tahun 2009 bahwa indikator waktu tanggap di IGD adalah harus

5 menit. Waktu tanggap dari perawat pada penanganan pasien gawat

darurat yang memanjang dapat menurunkan usaha penyelamatan pasien.

Hasil penelitian Vitrise (2014) di Instalasi Gawat Darurat RSUP Prof. Dr. R.

D. Kandou Manado di dapatkan hasil, waktu tanggap perawat dalam

penanganan kasus gawat darurat di IGD RSUP Prof Dr. R. D. Kandou

Manado rata-rata lambat yaitu lebih dari 5 menit.

Wilde (2009) telah membuktikan secara jelas tentang pentingnya

waktu tanggap bahkan pada pasien selain penderita penyakit jantung.

Mekanisme waktu tanggap, disamping menentukan keluasan rusaknya

organ-organ dalam, juga dapat mengurangi beban pembiayaan. Kecepatan

dan ketepatan pertolongan yang diberikan pada pasien yang datang ke IGD

memerlukan standar sesuai dengan kompetensi dan kemampuannya

sehingga dapat menjamin suatu penanganan gawat darurat dengan waktu


3

tanggap yang cepat dan penanganan yang tepat. Hal ini dapat dicapai

dengan meningkatkan sarana, prasarana, sumber daya manusia dan

manajemen IGD rumah sakit sesuai standar (Kepmenkes, 2009).

Yoon et al (2003) mengemukakan faktor internal dan eksternal yang

mempengaruhi keterlambatan penanganan kasus gawat darurat antara lain

karakter pasien, penempatan staf, ketersediaan tandu dan petugas kesehatan,

waktu kedatangan pasien, pelaksanaan manajemen, strategi pemeriksaan

dan penanganan yang dipilih. Hal ini bisa menjadi pertimbangan dalam

menentukan konsep tentang waktu tanggap penanganan kasus di IGD rumah

sakit. Salah satu indikator keberhasilan penanggulangan medik penderita

gawat darurat adalah kecepatan memberikan pertolongan yang memadai

kepada penderita gawat darurat baik pada keadaan rutin sehari-hari atau

sewaktu bencana. Keberhasilan waktu tanggap sangat tergantung kepada

kecepatan yang tersedia serta kualitas pemberian pertolongan untuk

menyelamatkan nyawa atau mencegah cacat sejak di tempat kejadian, dalam

perjalanan hingga pertolongan rumah sakit (Moewardi, 2003).

Pada kasus cedera kepala di IGD suatu rumah sakit orang yang

berperan dalam melakukan pertolongan pertama adalah perawat. Peran

perawat sangat dominan dalam melakukan penanganan kasus cedera kepala.

Ketepatan waktu tanggap adalah suatu bentuk dari penanganan kasus cedera

kepala yang dilakukan oleh perawat dalam menangani kasus gawat darurat.

Pasien yang mengalami cedera kepala akan mengalami pembengkakan otak

atau terjadi perdarahan dalam tengkorak, tekanan intrakranial akan


4

meningkat dan tekanan perfusi akan menurun. Tubuh memiliki refleks

perlindungan (respons/ refleks cushing) yang berusaha mempertahankan

tekanan perfusi dalam keadaan konstan. Saat tekanan intraserebral

meningkat, tekanan darah sistemik meningkat untuk mencoba

mempertahankan aliran darah otak. Saat keadaan semakin kritis, denyut

nadi menurun (bradikardia) dan bahkan frekuensi respirasi berkurang.

Tekanan dalam tengkorak terus meningkat hingga titik kritis tertentu dimana

cedera kepala memburuk dan semua tanda vital terganggu dan berakhir

dengan kematian penderita (Widyawati, 2012).

Hasil penelitian Haryatun (2005) dengan menghitung waktu

pelayanan pasien gawat darurat, cedera kepala dari pasien masuk pintu IGD

RSUD Dr.Moewardi Surakarta sampai siap keluar dari IGD didapatkan

rata-rata waktu tanggap pelayanan selama 98,33 menit (kategori I resusitasi

yaitu pasien memerlukan resusitasi segera, seperti pasien dengan epidural

atau sub dural hematoma, cedera kepala berat), 79,08 menit (kategori II

pasien emergency, seperti pasien cedera kepala di sertai tanda-tanda syok,

apabila tidak dilakukan pertolongan segera akan menjadi lebih buruk), 78,92

menit (kategori III pasien urgent, seperti cedera kepala disertai luka robek,

rasa pusing), 44,67 menit (kategori IV pasien semi urgent, keadaan pasien

cedera kepala dengan rasa pusing ringan, luka lecet atau luka superficial ),

33,92 menit (Kategori V false emergency, pasien datang bukan indikasi

kegawatan menurut medis, cedera kepala tanpa keluhan fisik), terdapat

perbedaan yang signifikan waktu tanggap tindakan keperawatan pada pasien


5

cedera kepala kategori I V dan pasien cedera kepala kategori I

memperoleh waktu tindakan keperawatan lebih lama dan pasien cedera

kepala kategori V memperoleh waktu keperawatan yang lebih cepat. Hasil

penelitian tersebut menunjukkan bahwa terdapat perbedaan waktu tanggap

tindakan pada pasien cedera kepala kategori I V .

Pasien cedera kepala di instalasi gawat darurat memerlukan tindakan

keperawatan yang cepat. Keterlambatan tindakan keperawatan pasien cedera

kepala dapat menyebabkan kecacatan yang menetap karena kerusakan

jaringan otak atau bahkan menimbulkan kematian. Angka kematian dan

kecatatan akibat kegawatan peraturan medik ditentukan tingkat kecepatan,

kecermatan dan ketepatan pertolongan (Haryatun 2005).

Perawat yang bertugas di IGD adalah perawat yang dituntut untuk

melakukan tindakan kegawat daruratan secara cepat, tepat dan tanggap

khususnya pada penanganan pasien cedera kepala. Bagi perawat di IGD

tuntutan tersebut akan menjadi beban kerja tersendiri dalam menangani

pasien yang datang di IGD, dengan jumlah, tingkat kegawatan pasien,

situasi dan kondisi yang datang tidak bisa di perkirakan. Beban kerja sosial

merupakan beban kerja yang berkaitan dengan hubungan seorang pekerja

dengan lingkungan kerjanya. Kondisi demikian sudah menjadi tantangan

setiap hari bagi seorang perawat bahwa harus senantiasa ramah, murah

senyum, komunikatif dalam memberikan pelayanan (Widodo, 2007).

Hasil studi pendahuluan yang dilakukan pada tanggal 30 Desember

2014 di RSUD Dr. Moewardi Surakarta, jumlah pasien cedera kepala pada
6

tahun 2014 yang dikategorikan pasien dengan cedera kepala ringan

sebanyak 143 pasien yang dirawat inap dan 59 pasien yang di rawat jalan

sedangkan pasien cedera kepala kategori cedera kepala berat sebanyak 116

pasien yang dirawat inap dan 98 pasien yang dirawat jalan. Dari hasil

wawancara dengan salah satu perawat IGD RSUD Dr. Moewardi, perawat

mengatakan bahwa peran perawat dalam melakukan ketepatan waktu

tanggap penanganan kasus cedera kepala itu belum sesuai yang diharapkan

karena untuk menjalankan peran perawat sesuai dengan standart operasional

prosedur (SOP) itu masih sulit, banyak kendala yang sering ditemui

misalnya untuk berkomunikasi dalam jam kerja saja sulit karena banyaknya

pasien dan banyak masalah lain yang akhirnya perawat tidak bisa

menjalankan perannya dengan baik atau sesuai dengan SOP yang berlaku.

Berdasarkan fenomena yang terjadi di RSUD Dr. Moewardi, perawat

di IGD dituntut untuk selalu menjalankan perannya di berbagai situasi dan

kondisi yang meliputi tindakan penyalamatan pasien secara profesional

khusunya penanganan pada pasien cedera kepala. RSUD Dr. Moewardi

adalah Rumah Sakit Daerah Surakarta yang merupakan rumah sakit dengan

tipe kelas A yang jumlah pasiennya diharapkan lebih banyak dari rumah

sakit lain di daerah Surakarta dan sumber daya manusia (perawat) dapat

mendukung penelitian ini khusunya perawat di IGD yang menangani kasus

cedera kepala, oleh karena itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian

kualitatif tentang peran perawat terhadap ketepatan waktu tanggap


7

penanganan kasus cedera kepala di instalasi gawat darurat RSUD

Dr.Moewardi Surakarta.

1.2 Rumusan Masalah

Cedera kepala adalah cedera mekanik yang secara langsung atau tidak

langsung mengenai kepala yang mengakibatkan luka di kulit kepala,

frakturtulang tengkorak, robekan selaput otak, dan kerusakan jaringan otak

itu sendiri, serta mengakibatkan gangguan neurologis. Pasien yang

mengalami cedera kepala akan mengalami pembengkakan otak atau terjadi

perdarahan dalam tengkorak, tekanan intrakranial akan meningkat dan

tekanan perfusi akan menurun. Saat keadaan semakin kritis, denyut nadi

menurun (bradikardia) dan bahkan frekuensi respirasi berkurang. Tekanan

dalam tengkorak terus meningkat hingga titik kritis tertentu dimana cedera

kepala memburuk dan semua tanda vital terganggu dan berakhir dengan

kematian penderita. Oleh sebab itu pasien dengan cedera kepala

memerlukan tindakan keperawatan yang cepat dan tepat. Keterlambatan

tindakan keperawatan pasien cedera kepala dapat menyebabkan kecacatan

dan kematian. Perawat di IGD dituntut untuk selalu menjalankan perannya

di berbagai situasi dan kondisi yang meliputi tindakan penyalamatan pasien

secara profesional khusunya penanganan pada pasien cedera kepala.

Berdasarkan latar belakang tersebut rumusan masalah dalam penelitian ini

adalah, bagaimanakah peran perawat terhadap ketepatan waktu tanggap


8

penanganan kasus cedera kepala di instalasi gawat darurat RSUD

Dr.Moewardi Surakarta ?

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Umum

Mengidentifikasi peran perawat terhadap ketepatan waktu

tanggap penanganan kasus cedera kepala di instalasi gawat darurat

RSUD Dr.Moewardi Surakarta .

1.3.2 Khusus

1. Mengetahui persepsi perawat mengenai kasus cedera kepala.

2. Mengetahui tindakan perawat dalam melakukan ketepatan

waktu tanggap penanganan kasus cedera kepala di instalasi

gawat darurat RSUD Dr. Moewardi Surakarta .

3. Mengetahui faktor faktor yang mendukung perawat dalam

melakukan ketepatan waktu tanggap penanganan kasus cedera

kepala di instalasi gawat darurat RSUD Dr. Moewardi

Surakarta.

4. Mengetahui faktor faktor yang menghambat perawat dalam

melakukan ketepatan waktu tanggap penanganan kasus cedera

kepala di instalasi gawat darurat RSUD Dr. Moewardi

Surakarta.
9

5. Mengetahui harapan perawat dalam melakukan ketepatan waktu

tanggap penanganan kasus cedera kepala di instalasi gawat

darurat RSUD Dr. Moewardi Surakarta.

1.4 Manfaat

1.4.1 Bagi Rumah Sakit

Penelitian ini diharapkan jadi bahan masukan untuk

meningkatkan pelayanan di rumah sakit, terutama perawat dalam

melakukan perannya melaksanaan ketepatan waktu tanggap

penanganan pada kasus kegawat daruratan di instalasi gawat darurat

khususnya pasien dengan cedera kepala.

1.4.2 Bagi Institusi Pendidikan

Dapat di jadikan sebagai bahan bacaan dan referensi guna

meningkatkan mutu pendidikan terutama pada pengetahuan peran

perawat terhadap ketepatan waktu tanggap penanganan kegawat

daruratan kasus cedera kepala di instalasi gawat darurat .

1.4.3 Bagi Peneliti lain

Sebagai bahan acuan serta referensi bagi peneliti lain dan

penelitian lanjutan yang berhubungan dengan peran perawat dalam

melakukan ketepatan waktu tanggap penanganan kasus cedera

kepala di instalasi gawat darurat sebagai salah satu acuan untuk

penelitian selanjutnya.
10

1.4.4 Bagi Peneliti

Untuk menambah pengetahuan dan memperdalam ilmu

peneliti tentang penelitian kualitatif dan dapat melaksanaan peran

perawat terhadap ketepatan waktu tanggap penanganan kasus

kegawat daruratan di instalasi gawat darurat khususnya kasus cedera

kepala.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Teori

2.1.1 Cedera Kepala

2.1.1.1 Definisi

Cedera kepala merupakan cedera yang meliputi

trauma kulit kepala, tengkorak dan otak (Morton, 2012).

Cedera kepala adalah cedera mekanik yang secara langsung

atau tidak langsung mengenai kepala yang mengakibatkan

luka di kulit kepala, fraktur tulang tengkorak, robekan

selaput otak, dan kerusakan jaringan otak itu sendiri, serta

mengakibatkan gangguan neurologis (Miranda, 2014).

2.1.1.2 Klasifikasi

Berdasarkan beratnya, cedera kepala dibagi atas

ringan, sedang dan berat(Advanced, 2004).Pembagian

ringan, sedang dan berat ini dinilai melalui Glasgow Coma

Scale (GCS). GCS merupakan instrument standar yang

dapat digunakan untuk mengukur tingkat kesadaran pasien

trauma kepala (Irawan, 2010).

11
12

Tabel 1.1.Skala GCS (Nurarif, 2013).

Dewasa Respon
Buka Mata ( Eye )
Spontan 4
Berdasarkan perintah verbal 3
Berdasarkan rangsang nyeri 2
Tidak memberi respon 1
Respon Verbal
Orientasi baik 5
Percakapan kacau 4
Kata kata kacau 3
Mengerang 2
Tidak memberi respon 1
Respon Motorik
Merurut perintah 6
Melokalisir rangsang nyeri 5
Menjauhi rangsang nyeri 4
Fleksi abnormal 3
Ekstensi abnormal 2
Tidak memberi respon 1

Skor nilai GCS :

14 15 : Nilai normal/ Composmentis/ Sadar penuh

12 13 : Apatis/ acuh tak acuh

11 12 : Delirium

8 10 : Somnolent

57 : Sopor Koma

14 : Koma

1) Ringan : Skala Koma Glasgow (Glasglow Coma

Scale, GCS) 14 15, dapat terjadi kehilangan

kesadaran, amnesia, tetapi kurang dari 30


13

menit, tidak ada fraktur tengkorak, tidak ada

contusia cerebral dan hematoma.

2) Sedang : GCS 9 13, kehilangangan kesadaran,

amnesia lebih dari 30 menit tetapi kurang

dari 24 jam, dapat mengalami fraktur

tengkorak, diikuti contusio cerebral, laserasi

dan hematoma intra cranial

3) Berat : GCS 3 8, kehilangan kesadaran dan atau

terjadi amnesia lebih dari 24 jam, juga

meliputi contusio cerebral, laserasi, atau

hematoma intra cranial.

2.1.1.3 Etiologi

Mekanisme cedera kepala meliputi cedera akselerasi,

deselerasi, akselerasi deselerasi, coup countre coup, dan

cedera rotasional (Nurarif, 2013).

1. Cedera akselerasi terjadi jika objek bergerak

menghantam kepala yang bergerak (Misalnya, alat

pemukul menghantam kepala atau peluru yang di

tembakkan ke kepala).

2. Cedera deselerasi terjadi jika kepala yang bergerak

membentur obyek diam, seperti pada kasus jatuh atau

tabrakan mobil ketika ketika kepala membentur kaca

depan mobil.
14

3. Cedera akselerasi deselerasi sering terjadi dalam

kasus kecelakaan kendaraan bermotor dan episode

kekerasan fisik.

4. Cederacoup countre coup terjadi jika kepala

berbentur yang menyebabkan otak bergerak dalam

ruang kranial dan dengan kuat mengenai area tulang

tengkorak yang berlawanan serta area kepala yang

pertama kali terbentur. Sebagai contoh pasien dipukul

di bagian kepala belakang.

5. Cedera rotasional terjadi jika pukulan atau benturan

menyebabkan otak berputar dalam rongga tengkorak,

yang mengakibatkan perenggangan atau robeknya

neuron dalam substansia alba serta robeknya pembuluh

darah yang memfiksasi otak dengan bagian dalam

rongga tengkorak.

2.1.1.4 Manifestasi Klinis

Pada pemeriksaan klinis biasa yang dipakai untuk

menentukan cedera kepala menggunakan pemeriksaan GCS

yang dikelompokkan menjadi cedera kepala ringan, sedang,

dan berat seperti diatas. Nyeri yang menetap atau setempat,

menunjukkan adanya fraktur (Smeltzer, 2002).

1. Fraktur kubah kranial menyebabkan bengkak pada

sekitar fraktur.
15

2. Fraktur dasar tengkorak dicurigai ketika cairan cerebro

spinal keluar dari telinga dan hidung.

3. Laserasi atau kontusio otak ditunjukkan oleh cairan

spinal berdarah hematom pada cedera kepala :

a) Epidural hematom (EDH) : hematom antara

durameter dan tulang, biasanya sumber

perdarahannya adalah robeknya arteri meningica

media. Ditandai dengan penurunan kesadaran

dengan ketidaksamaan neurologis sisi kiri dan

kanan (hemiparesis/plegi, pupil anisokor, reflek

patologis satu sisi). Gambaran CT scan area

hiperdens dengan bentuk bikonvek diantara 2

sutura. Jika perdarahan > 20 cc atau > 1 cm midline

shift> 5mm dilakukan operasi untuk menghentikan

perdarahan.

b) Subdural hematom (SDH) : hematom dibawah

lapisan durameter dengan sumber perdarahan dapat

berasal dari bridging vein, arteri atau vena cortical

sinus venous. Subdural hematom adalah

terkumpulnya darah antara durameter dan jaringan

otak, dapat terjadi akut dan kronik. Terjadi akibat

pecahnya pembuluh darah vena, perdarahan lambat

dan sedikit. Periode akut dapat terjadi dalam waktu


16

48 2 hari, 2 minggu atau beberapa bulan. Gejala

gejalanya adalah nyeri kepala, binggung,

mengantuk, berpikir lambat, kejang dan udem

pupil dan secara klinis ditandai dengan penurunan

kesadaran, disertai adanya lateralisasi yang paling

sering berupa hemiparese/plegi. Pada pemeriksaan

CT Scan didapatkan gambaran hiperdens yang

berupa bulan sabit (cresent). Indikasi operasi jika

perdarahan tebalnya > 1cm dan terjadi pergeseran

garis tengah > 5mm.

c) Intraserebral hematom (ICH) : perdarahan

intraserebral adalah perdarahan yang terjadi pada

jaringan otak biasanya akibat robekan pembuluh

darah yang ada dalam jaringan otak. Pada

pemeriksaan CT Scan indikasi dilakukan operasi

adanya daearah hiperdens, diameter > 3cm, perifer,

adanya pergeseran garis tengah.

2.1.1.5 Patofisiologi

Sebagian besar cedera otak tidak disebabkan oleh

cedera langsung terhadap jaringan otak, tetapi terjadi

sebagai akibat kekuatan luar yang membentur sisi luar

tengkorak. Pada cedera deselerasi, kepala biasanya

membentur suatu objek seperti kaca depan mobil, sehingga


17

terjadi deselerasi tengkorak yang berlangsung tiba tiba.

Otak tetap bergerak kearah depan, membentur bagian dalam

tengkorak tepat di bawah titik berbentur kemudian berbalik

arah membentur sisi yang berlawanan dengan titik bentur

awal. Jika otak membengkak atau terjadi perdarahan dalam

tengkorak, tekanan intrakranial akan meningkat dan tekanan

perfusi akan menurun (Widyawati, 2012).

Tubuh memiliki refleks perlindungan (respons/

refleks cushing) yang berusaha mempertahankan tekanan

perfusi dalam keadaan konstan. Saat tekanan intraserebral

meningkat, tekanan darah sistemik meningkat untuk

mencoba mempertahankan aliran darah otak. Saat keadaan

semakin kritis, denyut nadi menurun (bradikardia) dan

bahkan frekuensi respirasi berkurang. Tekanan dalam

tengkorak terus meningkat hingga titik kritis tertentu

dimana cedera kepala memburuk dan semua tanda vital

terganggu dan berakhir dengan kematian penderita. Jika

terdapat peningkatan intrakranial, hipotensi akan

memperburuk keadaan. Harus dipertahankan tekanan

perfusi paling sedikit 70 mmHg, yang membutuhkan

tekanan sistolik 100 110 mmHg pada penderita cedera

kepala (Widyawati, 2012).


18

2.1.1.6 Komplikasi

Komplikasi utama trauma kepala adalah perdarahan,

infeksi, edema dan herniasi melalui tontronium. Infeksi

selalu menjadi ancaman yang berbahaya untuk cedera

terbuka dan edema dihubungkan dengan trauma jaringan.

Ruptur vaskular dapat terjadi sekalipun pada cedera ringan,

keadaan ini menyebabkan perdarahan di antara tulang

tengkorak dan permukaan serebral. Kompresi otak di

bawahnya akan menghasilkan efek yang dapat

menimbulkan kematian dengan cepat atau keadaan semakin

memburuk (Wong, 2009).

2.1.1.7 Penanganan Cedera Kepala

Stabilisasi kardiopulmoner mencakup prinsip

prinsip ABC (Airway, Breathing, Circulation). Keadaan

hipoksemia, hipotensi, anemia akan cenderung

memperhebat peninggian Tekanan intra kranial dan

menghasilkan prognosis yang lebih buruk. Semua cedera

kepala berat memerlukan tindakan intubasi pada

kesempatan pertama.

1. Pemeriksaan umum untuk mendeteksi berbagai macam

cedera atau gangguan gangguan di bagian tubuh

lainnya.
19

2. Pemeriksaan neurologis mencakup respons mata,

motorik, verbal, pemeriksaan pupil, reflek okulosefalik

dan reflek okuloves tubuler. Penilaian neurologis

kurang bermanfaat bila tekanan darah penderita rendah

(syok).

3. Penanganan cedera cedera dibagian lainnya.

4. Pemberian pengobatan seperti : anti edema serebri, anti

kejang dan natrium bikarbonat.

5. Tindakan pemeriksaan diagnostik seperti : Scan

tomografi computer otak, angiografi serebral dan

lainnya (Satyanegara, 2010).

2.1.2 Waktu Tanggap atau Respon Time

Penanganan gawat darurat ada filosofinya yaitu Time Saving

its Live Saving, artinya seluruh tindakan yang dilakukan pada saat

kondisi gawat darurat haruslah benar-benar efektif dan efisien. Hal

ini mengingatkan pada kondisi tersebut pasien dapat kehilangan

nyawa hanya dalam hitungan menit saja. Berhenti nafas selama 2-3

menit pada manusia dapat menyebabkan kematian yang fatal

(Sutawijaya, 2009 ).

Waktu tanggapmerupakan kecepatan dalam penanganan

pasien, dihitung sejak pasien datang sampai dilakukan penanganan

(Suhartati et al, 2011). Standar IGD sesuai Keputusan Menteri

Kesehatan tahun 2009 bahwa indikator waktu tanggap di IGD adalah


20

harus 5 menit. Waktu tanggap pelayanan merupakan gabungan

dari waktu tanggap saat pasien tiba di depan pintu rumah sakit

sampai mendapat tanggapan atau respon dari petugas instalasi gawat

darurat dengan waktu pelayanan yaitu waktu yang di perlukan pasien

sampai selesai. Waktu tanggap pelayanan dapat di hitung dengan

hitungan menit dan sangat dipengaruhi oleh berbagai hal baik

mengenai jumlah tenaga maupun komponen - komponen lain yang

mendukung seperti pelayanan laboratorium, radiologi, farmasi dan

administrasi. Waktu tanggap dikatakan tepat waktu atau tidak

terlambat apabila waktu yang diperlukan tidak melebihi waktu rata-

rata standar yang ada (Haryatun, 2005).

Hasil penelitian Haryatun (2005) dengan menghitung waktu

pelayanan pasien gawat darurat, cedera kepala dari pasien masuk

pintu IGD RSUD Dr. Moewardi Surakarta sampai siap keluar dari

IGD didapatkan rata-rata waktu tanggap pelayanan selama 98,33

menit (kategori I resusitasi yaitu pasien memerlukan resusitasi

segera, seperti pasien dengan epidural atau sub dural hematoma,

cedera kepala berat), 79,08 menit (kategori II pasien emergency,

seperti pasien cedera kepala di sertai tanda-tanda syok, apabila tidak

dilakukan pertolongan segera akan menjadi lebih buruk), 78,92

menit (kategori III pasien urgent, seperti cedera kepala disertai luka

robek, rasa pusing), 44,67 menit (kategori IV pasien semi urgent,

keadaan pasien cedera kepala dengan rasa pusing ringan, luka lecet
21

atau luka superficial ), 33,92 menit (Kategori V false emergency,

pasien datang bukan indikasi kegawatan menurut medis, cedera

kepala tanpa keluhan fisik), terdapat perbedaan yang signifikan

waktu tanggap tindakan keperawatan pada pasien cedera kepala

kategori I V dan Pasien cedera kepala kategori I memperoleh

waktu tindakan keperawatan lebih lama dan pasien cedera kepala

kategori V memperoleh waktu keperawatan yang lebih cepat. Hasil

penelitian tersebut menunjukkan bahwa terdapat perbedaan waktu

tanggap tindakan pada pasien cedera kepala kategori I V.

Triage diambil dari bahasa Perancis Trier artinya

mengelompokkan atau memilih (Krisanty, 2009). Triage mempunyai

tujuan untuk memilih atau menggolongkan semua pasien yang

memerlukan pertolongan dan menetapkan prioritas penanganannya

(Oman, 2008). Triage memiliki fungsi penting di IGD terutama

apabila banyak pasien datang pada saat yang bersamaan. Hal ini

bertujuan untuk memastikan agar pasien ditangani berdasarkan

urutan kegawatannya untuk keperluan intervensi. Triage juga

diperlukan untuk penempatan pasien ke area penilaian dan

penanganan yang tepat serta membantu untuk menggambarkan

keragaman kasus di IGD (Gilboy, 2005).

Fitzgerald et al (2009) menyatakan di Australia pengembangan

sistem Triage lebih formal dimulai dengan pengamatan perilaku

Triage perawat. Sementara ada banyak variabilitas dalam sistem


22

Triage, pengamatan ini mengidentifikasi beberapa tindakan

konsisten dan berbeda berikut penilaian. Tindakan ini ditentukan

oleh urgensi pasien dan termasuk :

1. Untuk segera menghubungi tenaga medis dan resusitasi segera.

2. Untuk menetapkan pasien ke dokter tersedia berikutnya.

3. Untuk menempatkan data pasien di depan daftar tunggu.

4. Untuk menempatkan data pasien dalam urutan dalam daftar

tunggu.

5. Untuk mendorong pasien untuk mencari bantuan di tempat lain

atau lain waktu.

Triage adalah fungsi penting di Emergency Department,

dimana banyak pasien dapat hadir secara bersamaan. Urgensi

mengacu pada kebutuhan untuk time critical intervensi, tidak identik

dengan tingkat keparahan. Pasien Triage untuk menurunkan

ketajaman kategori mungkin aman untuk menunggu lebih lama

untuk penilaian dan pengobatan tetapi mungkin masih memerlukan

masuk rumah sakit.

Kriteria Triage :

1. Daerah penilaian Triage harus segera dapat diakses dan jelas

tanda pos (tanda Triage). Daerah Triage harus memungkinkan

untuk:

a. Pemeriksaan pasien

b. Alat komunikasi antara area masuk dan Penilaian


23

c. Privasi

2. Akan ada strategi untuk melindungi staf

3. Standar yang sama untuk Triage kategorisasi harus menerapkan

semua pengaturan Emergency Department. Harus diingat namun

bahwa gejala dilaporkan oleh orang dewasa mungkin kurang

signifikan dari pada gejala yang sama ditemukan pada anak dan

dapat membuat anak urgensi yang lebih besar.

4. Korban trauma harus dialokasikan Triage kategori menurut

urgensi klinis mereka secara objektif. Seperti dengan situasi

klinis lain, ini akan mencakup pertimbangan sejarah berisiko

tinggi serta pemeriksaan fisik singkat (umum penampilan +/-

fisiologis pengamatan).

5. Pasien dengan kesehatan mental atau masalah-masalah kelakuan

harus Triage menurut mereka klinis dan situasional urgensi,

seperti dengan pasien Emergency Department lain. Mana

masalah fisik dan perilaku hidup berdampingan, Triase tertinggi

sesuai kategori harus diterapkan berdasarkan gabungan

presentasi.

Persyaratan peralatan :

1. Peralatan darurat

2. Fasilitas untuk menggunakan standar pencegahan (fasilitas cuci

tangan, sarung tangan)

3. Perangkat komunikasi yang memadai (telepon atau interkom dll)


24

4. Fasilitas untuk rekaman Triage informasi.

Tabel 1.2 Skala Kategori Triage Australia


(Australian College of Emergency Medicine. 2000)
Ketajaman
Skala Kategori Triage
(Waktu tunggu maksimal)
Australia
Kategori 1 Segera
Kategori 2 10 menit
Kategori 3 30 menit
Kategori 4 60 menit
Kategori 5 120 menit

Keterangan :

1. Kategori 1

Kondisi segera mengancam kehidupan, kondisi yang

memerlukan intervensi sesegera mungkin agresif dan ancaman

terhadap kehidupan (atau risiko kerusakan). Klinis deskriptor

(hanya untuk indikasi) : Gagal jantung, sesak nafas, risiko

langsung ke saluran napas, pernapasan < 10 menit, tekanan

darah < 80 (dewasa), GCS < 9, kejang berkepanjangan,

intravena overdosis dan tidak responsif atau hipoventilasi,

gangguan perilaku berat dengan ancaman kekerasan berbahaya.

2. Kategori 2

Penilaian dan pengobatan dalam waktu 10 menit, kondisi

pasien cukup serius atau memburuk begitu cepat bahwa ada

potensi ancaman terhadap kehidupan, atau kegagalan sistem

organ, jika tidak ditangani dalam waktu sepuluh menit


25

kedatangan atau pengobatan waktu kritis yang penting potensi

pengobatan waktu-kritis (misalnya simtoma para klinis) untuk

membuat dampak signifikan pada hasil klinis tergantung pada

perawatan yang bermula dalam beberapa menit kedatangan

pasien di Emergency Department atau sangat nyeri. Airway

risiko, stridor parah atau grogling dengan tekanan, kesulitan

pernapasan yang parah, perfusi menurun, heat rate< 50,

hipotensi dengan efek hemodinamik, perdarahan banyak, nyeri

dada mungkin jantung GCS < 13, akut hemiparesis/dysphasia,

demam dengan tanda-tanda kelesuan (semua usia), asam atau

alkali splash mata memerlukan irigasi terutama pasien multi

trauma (memerlukan respon cepat), trauma lokal parah terutama

fraktur, amputasi berisiko tinggi, perilaku/kejiwaan: kekerasan

atau agresif ancaman terhadap diri sendiri atau orang lain

membutuhkan atau diperlukan pengekangan berat agitasi atau

agresi.

3. Kategori 3

Penilaian dan pengobatan mulai dalam waktu 30 menit

berpotensi mengancam kehidupan kondisi pasien mungkin

kemajuan untuk hidup atau mengancam ekstremitas, atau

mungkin menyebabkan signifikan morbiditas, jika penilaian dan

pengobatan tidak dimulai dalam waktu tiga puluh menit

kedatangan. Atau urgensi situasional ada potensi buruk jika time


26

critical pengobatan tidak dimulai dalam waktu tiga puluh menit.

Klinis deskriptor (hanya untuk indikasi): hipertensi, kehilangan

darah yang cukup banyak, sesak napas, SAO2 90-95%, kejang,

demam, muntah, dehidrasi, cedera kepala ringan sakit cukup

parah, dada sakit, sakit perut tanpa risiko tinggi, cedera

ekstremitas, luka parah, trauma akut, perilaku/kejiwaan: risiko

sangat sedih, menyakiti diri akut psikosis atau berpikir teratur

situasional krisis, disengaja merugikan diri, gelisah / ditarik dan

berpotensi agresif.

4. Kategori 4

Penilaian dan pengobatan mulai dalam waktu 60 menit.

Berpotensi mengancam kehidupan kondisi pasien mungkin

kemajuan untuk hidup atau mengancam ekstremitas, atau

mungkin menyebabkan signifikan morbiditas, jika penilaian dan

pengobatan tidak dimulai dalam waktu tiga puluh menit

kedatangan. Klinis deskriptor (hanya untuk indikasi),

perdarahan ringan, sesak nafas ringan, cedera dada tanpa sakit

tulang rusuk atau kesulitan pernapasan, kesulitan

menelan,cedera kepala ringan, tanpa kehilangan kesadaran,

muntah atau diare tanpa dehidrasi, trauma ekstremitas kecil -

terkilir pergelangan kaki, mungkin fraktur, tidak ada gangguan

neurovaskular, bengkak sendi panas, tidak nyeri perut,

perilaku/kejiwaan : Masalah kesehatan mental semi mendesak di


27

bawah pengawasan dan/atau risiko tidak langsung untuk diri

sendiri atau orang lain.

5. Kategori 5

Penilaian dan pengobatan mulai dalam 120 menit kurang

urgen kondisi pasien kronis atau cukup kecil bahwa gejala atau

hasil klinis tidak akan secara signifikan terpengaruh jika

penilaian dan pengobatan tertunda sampai dua jam dari

kedatangan. Klinis deskriptor (hanya untuk indikasi), sakit yang

minimal dengan tidak ada risiko tinggi, luka kecil - kecil lecet,

luka kecil (tidak memerlukan jahitan), perilaku/kejiwaan:

Dikenal pasien dengan gejala kronik sosial krisis, klinis pasien

baik.

2.1.3 Konsep Peran Perawat

Perawat menurut UU RI. No. 23 tahun 1992 tentang

kesehatan, perawat adalah mereka yang memiliki kemampuan dan

kewenangan melakukan tindakan keperawatan berdasarkan ilmu

yang dimiliki, diperoleh melalui pendidikan keperawatan. Tyailor C.

Lilis C. Lemone (1989) mendefinisikan perawat adalah seseorang

yang berperan dalam merawat atau memelihara, membantu dengan

melindungi seseorang karena sakit, luka dan proses penuaan.

Peran adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan dari

masyarakat sesuai dengan kedudukannya di masyarakat. Peran

perawat adalah seperangkat tingkah laku yang dilakukan oleh


28

perawat sesuai dengan profesinya. Peran perawat dipengaruhi oleh

keadaan sosial dan bersifat tetap (Kusnanto, 2004). Peran perawat

adalah tingkah laku perawat yang diharapkan oleh orang lain untuk

berproses dalam sistem sebagai pemberi asuhan, pembela pasien,

pendidik, koordinator, kolaborator, konsultan, dan pembaharu

(Ali, 2002).

1. Peran Perawat

Peran perawat dalam melakukan perawatan diantaranya:

a. Care giver atau Pemberi asuhan keperawatan

Perawat memberikan asuhan keperawatan profesional

kepada pasien meliputi pengkajian, diagnosa, intervensi,

implementasi hingga evaluasi. Selain itu, perawat

melakukan observasi yang kontinu terhadap kondisi pasien,

melakukan pendidikan kesehatan, memberikan informasi

yang terkait dengan kebutuhan pasien sehingga masalah

pasien dapat teratasi (Susanto, 2012).

b. Client advocate atau Advokator

Perawat sebagai advokator berfungsi sebagai

perantara antara pasien dengan tenaga kesehatan lain.

Perawat membantu pasien dalam memahami informasi yang

didapatkan, membantu pasien dalam mengambil keputusan

terkait tindakan medis yang akan dilakukan serta

memfasilitasi pasien dan keluarga serta masyarakat dalam


29

upaya peningkatan kesehatan yang optimal (Kusnanto,

2004).

c. Client educator atau Pendidik

Perawat sebagai pendidik menjalankan perannya

dalam memberikan pengetahuan, informasi, dan pelatihan

ketrampilan kepada pasien, keluarga pasien maupun

anggota masyarakat dalam upaya pencegahan penyakit dan

peningkatan kesehatan (Susanto, 2012). Perawat sebagai

pendidik bertugas untuk memberikan pengajaran baik

dalam lingkungan klinik, komunitas, sekolah, maupun pusat

kesehatan masyarakat (Brunner & Suddarth, 2003). Perawat

sebagai pendidik berperan untuk mendidik dan mengajarkan

individu, keluarga, kelompok dan masyarakat, serta tenaga

kesehatan lain sesuai dengan tanggung jawabnya. Perawat

sebagai pendidik berupaya untuk memberikan pendidikan

atau penyuluhan kesehatan kepada klien dengan evaluasi

yang dapat meningkatkan pembelajaran (Wong, 2009).

d. Change agent atau Agen pengubah

Perawat sebagai agen pengubah berfungsi membuat

suatu perubahan atau inovasi terhadap hal-hal yang dapat

mendukung tercapainya kesehatan yang optimal. Perawat

mengubah cara pandang dan pola pikir pasien, keluarga,


30

maupun masyarakat untuk mengatasi masalah sehingga

hidup yang sehat dapat tercapai (Susanto, 2012).

e. Peneliti

Perawat sebagai peneliti yaitu perawat melaksanakan

tugas untuk menemukan masalah, menerapkan konsep dan

teori, mengembangkan penelitian yang telah ada sehingga

penelitian yang dilakukan dapat bermanfaat untuk

peningkatan mutu asuhan dan pelayanan keperawatan

(Susanto, 2012). Perawat sebagai peneliti diharapkan

mampu memanfaatkan hasil penelitian untuk memajukan

profesi keperawatan (Sudarma, 2008).

f. Consultant atau Konsultan

Perawat sebagai tempat untuk konsultasi bagi pasien,

keluarga dan masyarakat dalam mengatasi masalah

kesehatan yang dialami klien. Peran ini dilakukan oleh

perawat sesuai dengan permintaan klien (Kusnanto, 2004).

g. Collaborator atau Kolaborasi

Peran perawat sebagai kolaborator yaitu perawat

bekerja sama dengan anggota tim kesehatan lainnya dalam

memberikan pelayanan kepada klien (Susanto, 2012).


31

2.1.4 Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Peran Perawat.

Dalam menilai ketrampilan seseorang yang dalam hal ini

waktu tanggap perawat, bisa saja dipengaruhi adanya faktor lain

keadaan ini tergantung dari motivasi perawat dalam mempraktikkan

ketrampilan kerja yang didapat dari pendidikannya. Banyak faktor-

faktor yang mempengaruhi prestasi kerja, menurut Mangkunegara

(2007) faktor-faktor tersebut antara lain: Faktor kemampuan dan

Faktor motivasi. Motivasi merupakan kemauan atau keinginan

didalam diri seseorang yang mendorongnya untuk bertindak

(Depkes RI, 2002).

Widiasih (2008), menyatakan keberhasilan pelayanan gawat

darurat dipengaruhi oleh 3 kesiapan, yaitu kesiapan mental artinya

petugas harus siap dalam 24 jam dan tidak dapat ditunda, kemudian

kesiapan pengetahuan teoritis dan fatofisiologi berbagai organ tubuh

yang penting dan keterampilan manual untuk tindakan dalam

pertolongan pertama. Yang ketiga kesiapan alat dan obat-obatan

darurat yang merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam

memberikan pertolongan kepada pasien gawat darurat.

Nursalam (2001), menjelaskan peran perawat dalam intervensi

keperawatan harus berdasarkan pada kewenangan dan tanggung

jawab secara profesional meliputi tindakan dependen, independen

dan interdependen.
32

2.1.5 Faktor - Faktor Yang Mempengaruhi Waktu Tanggap.

Yoon et al (2003) mengemukakan faktor internal dan

eksternal yang mempengaruhi keterlambatan penanganan kasus

gawat darurat antara lain karakter pasien, penempatan staf,

ketersediaan tandu dan petugas kesehatan, waktu ketibaan pasien,

pelaksanaan manajemen, strategi pemeriksaan dan penanganan yang

dipilih. Hal ini bisa menjadi pertimbangan dalam menentukan

konsep tentang waktu tanggap penanganan kasus di IGD rumah

sakit.

Hasil penelitian Sabriyati (2012) menyatakan bahwa faktor

yang lebih dominan berhubungan dengan ketepatan waktu tanggap

IGD Bedah yaitu ketersediaan petugas Triage. Menurut

Sastrohadiwiryo (2002) semakin lama seseorang bekerja semakin

banyak kasus yang ditanganinya sehingga semakin meningkat

pengalamannya, sebaliknya semakin singkat orang bekerja maka

semakin sedikit kasus yang ditanganinya.


33

2.2 KERANGKA TEORI

Faktor yang mempengaruhi waktu tanggap:

1) Karakter pasien
2) Penempatan staf
3) Ketersediaan tandu dan petugas kesehatan
4) Waktu ketibaan pasien
5) Pelaksanaan manajemen
6) Strategi pemeriksaan dan penanganan yang dipilih
7) Lama kerja
8) Petugas Triage

Konsep cedera Konsep waktu Konsep peran


kepala: tanggap: perawat :

1. Definisi cedera 1. Ketepatan 1. Care giver/


kepala waktu Pemberi
2. Klasifikasi tanggap asuhan
2. Pengelompok keperawatan
3. Etiologi
aan pasien 2. Client
4. Manifestasi
sesuai Triage advocate atau
klinis
Advokator
5. Patofisiologi
3. Client
6. Komplikasi
educator atau
7. Penanganan
Pendidik
cedera kepala
4. Change agent
atau Agen
pengubah
Faktor yang mempengaruhi peran perawat : 5. Peneliti
6. Consultant
1. Kemampuan perawat. atau
2. Motivasi perawat Konsultan
3. Kesiapan mental perawat 7. Collaborator
4. Pengetahuan perawat
atau
5. Kesiapan alat dan obat-obatan
darurat Kolaborasi
34

2.3 FOKUS PENELITIAN

Kasus cedera Faktor


kepala penghambat

Peran perawat
Waktu tanggap dalam penanganan Harapan
cedera kepala

Faktor pendukung

Keterangan :

: Diteliti

Cedera kepala adalah cedera mekanik yang secara langsung atau tidak

langsung mengenai kepala yang mengakibatkan luka di kulit kepala, fraktur

tulang tengkorak, robekan selaput otak, dan kerusakan jaringan otak itu

sendiri, serta mengakibatkan gangguan neurologis. Pasien yang mengalami

cedera kepala akan mengalami pembengkakan otak atau terjadi perdarahan

dalam tengkorak, tekanan intrakranial akan meningkat dan tekanan perfusi

akan menurun. Saat keadaan semakin kritis, denyut nadi menurun


35

(bradikardia) dan bahkan frekuensi respirasi berkurang. Tekanan dalam

tengkorak terus meningkat hingga titik kritis tertentu dimana cedera kepala

memburuk dan semua tanda vital terganggu dan berakhir dengan kematian

penderita. Oleh sebab itu pasien dengan cedera kepala memerlukan tindakan

keperawatan yang cepat dan tepat. Keterlambatan tindakan keperawatan

pasien cedera kepala dapat menyebabkan kecacatan dan kematian. Perawat

di IGD dituntut untuk selalu menjalankan perannya di berbagai situasi dan

kondisi yang meliputi tindakan penyalamatan pasien secara profesional

khusunya penanganan pada pasien cedera kepala.

Perawat yang bertugas di IGD adalah perawat yang dituntut untuk

melakukan tindakan kegawat daruratan secara cepat, tepat dan tanggap

khususnya pada penanganan pasien cedera kepala. Bagi perawat di IGD

tuntutan tersebut akan menjadi beban kerja tersendiri dalam menangani

pasien yang datang di IGD, dengan jumlah, tingkat kegawatan pasien,

situasi dan kondisi yang datang tidak bisa di perkirakan. Pada penelitian ini

akan dilakukan penelitian tentang mengidentifikasi peran perawat dan

mengetahui persepsi perawat mengenai kasus cedera kepala serta tindakan

perawat dalam melakukan ketepatan waktu tanggap penanganan kasus

cedera kepala di instalasi gawat darurat, harapan perawat dalam melakukan

ketepatan waktu tanggap penanganan kasus cedera kepala di instalasi gawat

darurat, faktor faktor yang mendukung dan menghambat perawat dalam

melakukan ketepatan waktu tanggap penanganan kasus cedera kepala di


36

instalasi gawat darurat terhadap ketepatan waktu tanggap penanganan kasus

cedera kepala.

2.4 KEASLIAN PENELITIAN

Tabel 1.3 Keaslian penelitian

Metode yang di
Nama peneliti Judul penelitian Hasil penelitian
gunakan
Nunuk Perbedaan Waktu Jenis penelitian 1. Terdapat perbedaan
Haryatun Tanggap Tindakan : kuantitatif,non yang signifikan waktu
( 2005 ). Keperawatan eksperimental tanggap tindakan
Pasien Metode : keperawatan pada
Cedera Kepala deskriptif pasien
Kategori 1 V Di observasional cedera kepala kategori
Instalasi Gawat I - V.
Darurat Rsud Dr. 2. Pasien cedera kepala
Moewardi kategori I
memperoleh
waktu tindakan
keperawatan lebih
lama dan
pasien cedera kepala
kategori V
memperoleh
waktu keperawatan
yang lebih cepat.
Vitrise Maatilu Faktor-Faktor Jenis penelitian : 1. Response time
( 2014 ). Yang Berhubungan kuantitatif perawat dalam
Dengan Response Metode : survey penanganan kasus
Time Perawat Pada analitik gawat darurat di IGD
Penanganan Pasien RSUP Prof Dr. R. D.
Gawat Darurat Kandou Manado rata-
Di Igd Rsup Prof. rata lambat yaitu lebih
Dr . R. D. Kandou dari 5 menit.
Manado 2. Tidak adanya
hubungan antara
pendidikan perawat
dengan response time
perawat pada
penanganan pasien
gawat darurat.
3. Tidak adanya
37

hubungan antara
pengetahuan perawat
dengan response time
perawat pada
penanganan pasien
gawat darurat.
4. Tidak adanya
hubungan antara lama
kerja perawat dengan
response time perawat
pada penanganan
pasien gawat darurat.
5. Tidak adanya
hubungan antara
pelatihan perawat
dengan response time
perawat pada
penanganan pasien
gawat darurat.
Wa Ode Nur Faktor-Faktor Jenis penelitian : Waktu tanggap
Isnah Sabriyati Yang Berhubungan kuantitatif penanganan kasus IGD
( 2012 ). Dengan Ketepatan Metode bedah yang tepat
Waktu Tanggap penelitian : sebanyak 67,9% dan
Penanganan Kasus cross sectional tidak tepat 32,1%.
Pada Response study Waktu tanggap
Time I Di Instalasi penanganan kasus IGD
Gawat Darurat Non-Bedah yang tepat
Bedah Dan Non- sebanyak 82,1% dan
Bedah Rsup Dr. tidak tepat 17,9%. Tidak
Wahidin terdapat hubungan yang
Sudirohusodo bermakna antara pola
penempatan staf dengan
ketepatan waktu tanggap
penanganan kasus di
IGD Bedah (p = 0,67)
dan Non-Bedah (p =
0,062). Terdapat
hubungan yang
bermakna antara
ketersediaan stretcher
dengan ketepatan waktu
tanggap penanganan
kasus IGD Bedah ((p =
0,006; PR = 9,217) dan
Non-Bedah (p = 0,026;
PR = 1,995). Terdapat
38

hubungan yang
bermakna antara
ketersediaan petugas
triase dengan ketepatan
waktu tanggap
penanganan kasus IGD
Bedah (p = 0,006; PR =
2,97), namun tidak
terdapat hubungan yang
bermakna di IGD Non-
Bedah (p = 0,207). Tidak
terdapat hubungan yang
bermakna antara waktu
tiba pasien dengan
ketepatan waktu tanggap
penanganan kasus IGD
Bedah (p = 0,407) dan
Non- Bedah (p = 1,000).
Faktor yang lebih
dominan berhubungan
dengan ketepatan waktu
tanggap IGD Bedah
yaitu ketersediaan
petugas triase (PR =
3,555) dan ketersediaan
stretcher (PR = 3,555).
Pada IGD Non-Bedah,
faktor yang dominan
yaitu ketersediaan
stretcher (PR = 1,239).
Etty Nurul Gambaran Jenis penelitian : Penelitian ini
Afidah, (2013) Pelaksanaan Peran kualitatif menghasilkan 3 tema
Advokat Perawat Metode yaitu definisi peran
Di penelitian : advokasi perawat,
Rumah Sakit pendekatan pelaksanaan tindakan
Negeri Di fenomenologis peran advokasi perawat
Kabupaten dan faktor yang
Semarang mempengaruhi
pelaksanaan peran
advokasi
perawat. Definisi peran
advokasi perawat yaitu
tindakan perawat untuk
memberikan informasi
dan
bertindak atas nama
39

pasien. Pelaksanaan
tindakan peran advokasi
meliputi memberi
informasi, menjadi
mediator dan melindungi
pasien. Faktor yang
mempengaruhi
pelaksanaannya terdiri
dari faktor
penghambat dan faktor
pendukung. Faktor yang
menjadi penghambat
antara lain:
kepemimpinan dokter,
lemahnya dukungan
organisasi, kurangnya
perhatian terhadap
advokasi, kurangnya
jumlah tenaga
perawat, kondisi
emosional keluarga,
terbatasnya fasilitas
kesehatan dan lemahnya
kode etik. Sementara
itu faktor yang
mendukung meliputi:
kondisi pasien,
pengetahuan tentang
kondisi pasien,
pendidikan
keperawatan yang
semakin tinggi,
kewajiban perawat dan
dukungan instansi rumah
sakit.
Virgianti Nur Hubungan Jenis penelitian : 1. Responden yang
Faridah, (2009) Pengetahuan Observasional mempunyai peran
Perawat Dan Peran Metode kurang 0 %,
Perawat Sebagai penelitian : kemudian peran yang
Pelaksana Dalam cross cukup sebesar 36,36
Penanganan Pasien sectional. % dan responden
Gawat Darurat yang mempunyai
Dengan Gangguan peran yang baik
Sistem sebesar 63,64 % yang
Kardiovaskuler merupakan kelompok
yang terbanyak.
40

2. Pengetahuan perawat
tentang penanganan
pasien gawat darurat
dengan gangguan
sistem kardiovaskuler
dengan tingkat
pengetahuan baik
sebesar 63,64 % yang
merupakan kelompok
terbesar, sedangkan
tingkat pengetahuan
cukup sebesar 27,27
% dan tingkat
pengetahuan kurang
sebesar 9,09 %.
3. Dari hasil uji statistik
dengan menggunakan
analisa Spearmans
rho didapatkan nilai
rho = 0,455 dengan
taraf signifikasi 0,033
pada derajat
kemaknaan 0,05. Bila
dibandingkan dengan
nilai rho tabel yaitu
0,428 dapat dilihat
bahwa rho hitung
lebih besar daripada
nilai rho tabel maka
terdapat hubungan
pengetahuan terhadap
peran perawat sebagai
pelaksana dalam
penanganan pasien
gawat darurat dengan
gangguan sistem
kardiovaskuler.
BAB III

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan

fenomenologis deskriptif yang diarahkan untuk mengidentifikasi peran perawat

dan persepsi perawat mengenai kasus cedera kepala, tindakan perawat, harapan,

faktor faktor yang mendukung dan menghambat peran perawat terhadap

ketepatan waktu tanggap penanganan kasus cedera kepala. Lokasi penelitian ini di

IGD RSUD Dr. Moewardi Surakarta dengan jumlah partisipan 5 perawat yang

bekerja di ruang IGD RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Instrumen yang digunakan

dalam penelitian ini meliputi peneliti sebagai instrumen inti dan instrumen

penunjang yaitu berupa smartphone yang dilengkapi dengan perekam suara voice

recorder, bolpoin, dan kertas untuk field note. Data dikumpulkan melalui indepth

interview yang diolah menjadi transkip kemudian dilakukan observasi untuk

menyajikan gambaran realistis perilaku atau kejadian, untuk menjawab pertanyaan

dan untuk evaluasi. Analisis data pada penelitian ini menggunakan tujuh analisis

model Colaizzi dalam memahami serta menginterprestasikan data. Penelitian ini

telah melalui pertimbangan etik dan kriteria keabsahan data yang harus dipenuhi

dalam penelitian kualitatif.

3.1 Jenis dan Rancangan Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan

pendekatan fenomenologis deskriptif yang diarahkan untuk

41
42

mengidentifikasi peran perawat dan mengetahui persepsi, harapan, faktor

faktor yang mendukung dan menghambat peran perawat terhadap ketepatan

waktu tanggap penanganan kasus cedera kepala di IGD RSUD Dr

Moewardi Surakarta. Penelitian kualitatif efektif digunakan untuk

memperoleh informasi yang spesifik mengenai nilai, opini, perilaku dan

konteks sosial menurut keterangan populasi (Saryono, 2010). Pendekatan

fenomenologis merupakan pendekatan yang berusaha untuk memahami

makna dari berbagai peristiwa dan interaksi manusia didalam situasinya

yang khusus. Fenomenologi menggambarkan riwayat hidup seseorang

dengan cara menguraikan arti dan makna hidup serta pengalaman suatu

peristiwa yang di alaminya (Sutopo, 2006).

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian

Instalasi Gawat Darurat (IGD) sebagai gerbang utama penanganan

kasus gawat darurat di rumah sakit memegang peranan penting dalam upaya

penyelamatan hidup klien. RSUD Dr. Moewardi adalah rumah sakit daerah

Surakarta yang merupakan rumah sakit dengan tipe kelas A yang jumlah

pasiennya diharapkan lebih banyak dari rumah sakit lain di daerah Surakarta

dan sumber daya manusia (perawat) dapat mendukung penelitian ini

khususnya perawat di ruang IGD yang menangani kasus cedera kepala, oleh

karena itu penelitian ini dilakukan di IGD RSUD Dr. Moewardi Surakarta.

Ruangan yang digunakan dalam proses wawancara adalah ruang istirahat,

ruang partisipan dan ruangan kepala ruang IGD RSUD Dr. Moewardi
43

Surakarta. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari Maret 2015

sesuai dengan surat pengajuan penelitian di RSUD Dr. Moewardi Surakarta

(Jadwal terlampir).

3.3 Populasi dan Sampel

3.3.1 Populasi

Pada kasus cedera kepala di Instalasi Gawat Darurat suatu

Rumah Sakit, orang yang berperan dalam melakukan pertolongan

pertama adalah perawat. Peran perawat sangat dominan dalam

melakukan penanganan kasus cedera kepala. Ketepatan waktu

tanggap adalah suatu bentuk dari penanganan kasus cedera kepala

yang dilakukan oleh perawat dalam menangani kasus gawat darurat,

oleh karena itu populasi pada penelitian ini adalah 33 perawat yang

bekerja di ruang IGD RSUD Dr. Moewardi Surakarta.

3.3.2 Sampel

Pada penelitian peran perawat terhadap ketepatan waktu

tanggap penananganan kasus cedera kepala di IGD RSUD Dr.

Moewardi Surakarta dibutuhkan tehnik sampling dan kriteria

partisipan sesuai dengan kebutuhan peneliti. Teknik sampling yang

digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling yaitu

metode pemilihan partisipan dalam suatu penelitian dengan

menentukan terlebih dahulu kriteria yang akan dimasukkan dalam


44

penelitian, dimana partisipan yang diambil dapat memberikan

informasi yang berharga bagi penelitian (Sutopo, 2006).

Untuk memenuhi kecukupan sample peneliti menggunakan

kriteria yang digunakan dalam penelitian. Jika dalam sample

penelitian sudah tercapai kriteria penelitian, maka akan dilakukan

pengambilan data sesuai sample yang memenuhi kriteria peneliti.

Data mengenai perawat yang pernah menangani kasus cedera kepala

diperoleh dari buku dokumentasi perawat dan rekomendasi kepala

ruang kemudian dikonfirmasi langsung ke partsisipan. Jumlah

perawat yang pernah menangani kasus cedera kepaala adalah 5

perawat yang telah memenuhi kriteria peneliti, sehingga penelitian

ini menggunakan 5 partisipan.

Karakteristik kelima partisipan yang bersedia dilakukan

wawancara adalah sebagai berikut: partisipan satu (P1) adalah

seorang laki laki usia 43 tahun, pendidikan terakhir D4 emergency

dengan pengalaman kerja di IGD RSUD Dr. Moewardi Surakarta

selama 23 tahun. Partisipan kedua (P2) seorang laki laki usia 34

tahun, pendidikan terakhir S1 ners dengan pengalaman kerja di IGD

RSUD Dr. Moewardi Surakarta selama 8 tahun. Partisipan yang

ketiga (P3) seorang perempuan usia 44 tahun, pendidikan terakhir S1

keperawatan dengan pengalaman kerja di IGD RSUD Dr. Moewardi

Surakarta selama 8 tahun. Partisipan keempat (P4) seorang

perempuan usia 37 tahun, pendidikan terakhir D3 keperawatan


45

dengan pengalaman kerja di IGD RSUD Dr. Moewardi Surakarta

selama 12 tahun. Partisipan kelima (P5) seorang laki laki usia 43

tahun, pendidikan terakhir D3 keperawatan dengan pengalaman

kerja di IGD RSUD Dr. Moewardi Surakarta selama 15 tahun.

Jumlah sampel yang diambil dalam penelitian ini telah

dianggap memenuhi dan mencapai saturasi data dimana tidak

ditemukannya tema baru atau penambahan sample itu dihentikan,

jika datanya sudah jenuh dan pengambilan data akan langsung

dihentikan oleh peneliti.

Sampel yang diambil pada partisipan sesuai kriteria penelitian

pada partisipan adalah :

1. Perawat yang bekerja Di IGD RSUD Dr. Moewardi Surakarta.

2. Mampu berkomunikasi dengan baik.

3. Pendidikan minimal Diploma III Keperawatan.

4. Telah bekerja minimal 1 Tahun di IGD.

5. Mempunyai pengalaman menangani pasien cedera kepala.

6. Mempunyai pengalaman atau pernah mengikuti pelatihan

kegawat daruratan.

7. Bersedia menjadi partisipan.


46

3.4 Instrumen dan Pengumpulan Data

3.4.1 Instrumen

Pada penelitian ini menggunakan dua instrumen penelitian yaitu :

1. Instrumen Inti Penelitian

Pada inti penelitian peran perawat terhadap ketepatan

waktu tanggap penanganan kasus cedera kepala di IGD di

RSUD Dr. Moewardi Surakarta adalah peneliti itu sendiri. Pada

penelitian kualitatif yang menjadi alat atau penelitian adalah

peneliti itu sendiri (Sugiyono, 2012). Peneliti sendiri adalah

seorang mahasiswa dari program studi S1 keperawatan STIKes

Kusuma Husada Surakarta yang ingin melakukan penelitian dan

ingin mendalami tentang peran perawat dalam menangani kasus

kegawat daruratan di RSUD Dr. Moewardi Surakarta khususnya

ketepatan waktu tanggap dan penanganan kasus cedera kepala.

2. Instrumen Penunjang Penelitian

Supaya hasil wawancara dapat terekam dengan baik, dan

peneliti memiliki bukti telah melakukan wawancara kepada

informan atau sumber data, maka dalam penelitian ini

dibutuhkan alat penunjang penelitian sebagai berikut :

a. Lembar Inform Consent berfungsi sebagai bukti persetujuan

informan dalam penelitian yang akan dilakukan oleh

peneliti.
47

b. Lembar alat pengumpul data mengenai nama, usia, alamat,

dan lama kerja

c. Lembar pertanyaan berfungsi untuk pedoman dalam

melakukan wawancara penelitian.

d. Voice recorder Smartphone berfungsi untuk merekam

suara semua percakapan atau pembicaraan. Penggunaan

voice recorder dalam wawancara perlu memberi tahu

kenapa informan apakah dibolehkan atau tidak.

e. Alat tulis berfungsi untuk menulis segala sesuatu yang

penting dalam penelitian.

f. Lembar catatan lapangan berfungsi untuk catatan peneliti

dalam penelitian yang telah dilakukan.

g. Lembar observasi berfungsi sebagai alat pengumpul data

dalam melakukan observasi.

h. Kamera berfungsi untuk memotret kalau peneliti sedang

melakukan pembicaraan dengan informan/sumber data.

Dengan adanya foto ini, maka dapat meningkatkan

keabsahan penelitian akan lebih terjamin, karena peneliti

betul betul melakukan pengumpulan data.Kamera yang

digunakan adalah kamera handphone 8 megapixel.


48

3.4.2 Pengumpulan Data

3.4.2.1 Data

Data yang dihasilkan dari penelitian ini berupa data

verbal atau transkip verbatim yang didapatkan dari hasil

wawancara mendalam dengan tehnik wawancara

semistruktur kepada perawat yang mempunyai pengalaman

menangani kasus cedera kepala di IGD RSUD Dr.

Moewardi Surakarta. Hasil yang didapatkan selama proses

wawancara kemudian ditransfer ke dalam notebook berupa

file MP3 dan didengarkan terus menerus untuk ditulis

dalam bentuk transkip wawancara. Hal tersebut dilakukan

pada semua data rekaman partisipan. Data yang sudah

dalam bentuk transkip kemudian dibaca berulang kali untuk

diinterprestasikan menjadi sebuah hasil penelitian.

3.4.2.2 Prosedur pengumpulan data

1. Tahap persiapan

Pengumpulan data akan di mulai setelah peneliti

menyelesaikan ujian proposal dan diperbolehkan

melakukan pengambilan data dilapangan. Peneliti

mengurus surat ijin pengambilan data yang di

keluarkan oleh Program Studi S1 Keperawatan STIKes

Kusuma Husada Surakarta kepada Direktur RSUD Dr.

Moewardi Surakarta. Pengurusan surat ijin dan


49

keterangan laik etik ke bagian diklat. Ijin yang

diberikan oleh Direktur RSUD Dr. Moewardi Surakarta

selanjutnya dipergunakan oleh peneliti sebagai ijin

masuk dalam pengambilan data kepada perawat dengan

berkoordinasi mengenai kriteria inklusi partisipan

kepada kepala ruang IGD RSUD Dr. Moewardi

surakarta.

Partisipan yang memenuhi kriteria inklusi

kemudian diberikan penjelasan mengenai maksud dan

tujuan penelitian serta dampak yang mungkin terjadi

pada proses pengumpulan data. Peneliti memberitahu

kepada partisipan bahwa akan dilakukan perekaman

wawancara dan pengambilan gambar serta observasi

mengenai peran perawat terhadap ketepatan waktu

tanggap penanganan kasus cedera kepala, setelah

diberikan penjelasan partisipan diminta kesediaannya

untuk menanda tangani lembar persetujuan menjadi

partisipan. Selanjutnya peneliti dan partisipan membuat

kontrak waktu dan tempat untuk proses pengambilan

data.

2. Tahap pelaksanaan

Pada tahap pelaksanaan peneliti menyiapakan

instrumen inti dan penunjang. Instumen ini disiapkan


50

dengan melatih ketrampilan wawancara kepada perawat

yang bukan menjadi partisipan, kemudian peneliti

melakukan pengembangan diri terhadap proses

wawancara. Instrumen penunjang yang disiapkan

meliputi buku, catatan, bolpoint, pedoman pertanyaan

dan kamera untuk mendokumentasikan gambar pada

saat wawancara. Alat perekam yang sudah di pastikan

dapat digunakan kembali diperiksa dengan baik.

Lembar obseravasi, buku catatan dan bolpoint

disiapkan dengan baik kemudian peneliti bertemu

dengan partisipan.

Peneliti datang sesuai dengan waktu dan tempat

yang telah disepakati sebelumnya dengan partisipan.

Peneliti melakukan wawancara secara mendalam.

Peneliti menggunakan pedoman pertanyaan yang berisi

garis besar pertanyaan yang diajukan kepada partisipan,

pertanyaan wawancara dikembangkan dari jawaban

partisipan tetapi tetap tidak keluar dari pedoman yang

telah dibuat. Partisipan diberikan kebebasan untuk

memberikan informasi selengkapnya dan seleluasa

mungkin. Sehingga pertanyaan dan hasil wawancara

yang diperoleh bervariasi untuk setiap partisipan.


51

Partisipan 1 waktu wawancara pukul 10.30 10.45

wib (15 menit) hari selasa tanggal 14 04 2015

tempat diruang tindakan non bedah IGD. Partisipan 2

Waktu wawancara pukul 10.55 11.10 wib (15 menit)

hari selasa tanggal 14 04 2015 tempat ruang

tindakan non bedah IGD. Partisipan 3 waktu

wawancara pukul 11.20 11.40 wib (20 menit) hari

selasa tanggal 14 04 2015 tempat diruang tindakan

non bedah IGD. Partisipan 4 waktu wawancara pukul

11.45 12.10 wib (25 menit) hari selasa tanggal 14

04 2015 tempat diruang tindakan non bedah IGD.

Partisipan 5 waktu wawancara pukul 16.55 17.30 wib

(35 menit) hari rabu, tanggal 15 04 2015 tempat

diruang kepala ruang IGD.

3. Tahap terminasi

Tahap terminasi adalah tahap akhir dari

pengumpulan data yang dilakukan terminasi dengan

melakukan validasi terhadap data yang telah ditemukan

kepada partisipan. Setelah dilakukan pengambilan data

wawancara selanjutnya akan dilakukan observasi guna

menyajikan gambaran realistis perilaku atau kejadian,

dan untuk memvalidasi hasil wawancara dengan hasil

observasi apakah sama dan akan memberikan umpan


52

balik terhadap pengambilan data yang telah dilakukan.

Peneliti memperlihatkan hasil transkip wawancara dan

interprestasi peneliti kepada partisipan, jika partisipan

mengatakan apa yang ditulis peneliti telah sesuai

dengan apa yang dimaksud oleh partisipan dan

dilakukan terminasi dengan pemberian reward sebagai

ucapan terima kasih telah bersedia berpartisipasi dalam

penelitian dan menyampaikan bahwa proses penelitian

telah selesai.

3.5 Analisa Data

Prinsip pokok dari teknik analisis kualitatif ialah mengolah dan

menganalisa data-data yang terkumpul menjadi data yang sistematis, teratur

dan terstruktur serta memiliki makna. Pada penelitian ini menggunakan

model metode fenomenologi deskriptif dengan metode Colaizzi (Cresswell,

2013).Adapun metode analisa data colaizziadalah sebagai berikut :

1. Membuat deskriptif partisipan tentang fenomena dari informan dalam

bentuk narasi yang bersumber dari wawancara.

2. Membaca kembali secara keseluruhan deskriptif informasi dari

informan untuk memperoleh perasaan yang sama seperti pengalaman

informan. Peneliti melakukan 3 4 kali membaca transkip untuk

merasa hal yang sama seperti informan.


53

3. Mengidentifikasi kata kunci melalui penyaringan pernyataan informan

yang signifikan dengan fenomena yang diteliti. Pernyataan pernyataan

yang merupakan pengulangan dan mengandung makna yang sama atau

mirip maka pernyataan ini diabaikan.

4. Memformulasikan arti dari kata kunci dengan cara mengelompokkan

kata kunci yang sesuai pernyataan penelitian, selanjutnya

mengelompokkan lagi kata kunci yang sejenis. Peneliti sangat berhati

hati agar tidak membuat penyimpangan arti dari pernyataan informan

dengan merujuk kembali pada pernyataan informan yang signifikan

cara yang perlu dilakukan adalah menelaah kalimat satu dengan yang

lain.

5. Mengorganisasikan arti arti yang telah teridentifikasi dalam beberapa

kelompok tema. Setelah tema tema terorganisir, peneliti memvalidasi

kembali kelompok tema tersebut.

6. Mengintergrasikan semua hasil penelitian ke dalam suatu narasi yang

menarik dan mendalam sesuai dengan topik penelitian.

7. Mengembalikan semua hasil penelitian pada masing masing informan

lalu diikutsertakan pada deskripsi hasil akhir penelitian.

3.6 Keabsahan Data

Dalam pengujian keabsahan data pada penelitian ini dicapai dengan

melakukan pengecekan keabsahan temuan untuk menjamin kepercayaan

hasil penelitian. Menurut Polit dan Beck (2010) pada penelitian kualitatif,
54

hasil penelitian dipandang memenuhi kriteria ilmiah bila mempunyai tingkat

kepercayaan tertentu (trustworthiness) yang dapat dicapai dengan berpegang

pada 4 prinsip yaitu :

1. Credibility

Pada penelitian ini kredibilitas dicapai dengan melakukan validasi

kembali hasil wawancara kepada partisipan. Peneliti memperlihatkan

data dan interprestasi peneliti yang telah ditulis dalam bentuk transkip

wawancara dan catatan lapangan untuk dilihat dan dibaca partisipan

apakah ada diantara ungkapan dan pernyataan yang tidak sesuai dengan

maksud partisipan. Partisipan juga diberi kesempatan untuk memberi

tambahan informasi untuk lebih menyempurnakan dalam memberikan

gambaran yang sebenarnya dirasakan oleh partisipan. Peneliti juga

berkonsultasi dengan pembimbing dan penguji terkait dengan

pengmpulan data yang diperoleh. Prinsip ini untuk mengetahui apakah

kebenaran hasil penelitian kualitatif dapat dipercaya dalam

mengungkapkan kenyataan yang sesungguhnya (kesesuaian antara

konsep peneliti dengan konsep partisipan).

2. Pengujian Transferability

Peneliti melibatkan pembimbing dalam penulisan dan pelaporan

hasil agar mudah dipahami oleh pembaca, selain itu peneliti membuat

uraian yang diteliti dan secermat mungkin sehingga menghasilkan

deskripsi yang padat dan dapat digunakan pada setting lain dengan

konsep dan karakteristik yang sama.


55

3. Pengujian Depenability

Peneliti sebagai instrumen kunci dapat membuat kesalahan dalam

menginterprestasikan data sehingga timbul ketidak percayaan pada

peneliti. Agar penelitian ini dapat dipertanggungjawabkan secara

ilmiah, peneliti melibatkan seseorang yang berkompeten dibidangnya

yaitu selalu melibatkan pembimbing dan penguji selama penelitian,

analisa data dan penulisan hasil penelitian untuk menjaga

dependebilitas hasil penelitian.

4. Pengujian Confirmability

Aspek confirmability dipenuhi peneliti dengan melakukan

konfirmasi kembali terhadap hasil interprestasi kepada partisipan dan

pembimbing serta mengintegrasikannya dengan catatan lapangan dan

hasil observasi.

3.7 Etika Penelitian

Etika penelitian adalah suatu sistem nilai normal yang harus dipatuhi

oleh peneliti saat melakukan aktivitas penelitian yang melibatkan partisipan,

meliputi kebebasan dari adanya ancaman, kebebasan dari adanya eksploitasi

keuntungan dari penelitian tersebut, dan resiko yang didapatkan. Poliet et al

(2004) menyatakan bahwa penelitian kualitatif harus memenuhi lima prinsip

etik sebagai berikut :


56

1. Autonomy

Pada penelitian ini partisipan diberikan hak untuk ikut serta dalam

penelitian maupun tidak tanpa ada paksaan. Prinsip ini dipenuhi dengan

memberi penjelasan mengenai maksud dan tujuan dari penelitian serta

akibat akibat yang akan terjadi bila bersedia menjadi partisipan.

Partisipan juga diperkenankan untuk mundur saat penelitian

berlangsung jika merasa tidak nyaman dan dirugikan. Partisipan yang

bersedia ikut serta dalam penelitian kemudian dipersilahkan

menandatangani lembar informed consent tanpa paksaan dari peneliti.

2. Beneficience

Peneliti memastikan bahwa penelitian yang dilakukan bebas dari

bahaya fisik, maupun emosional dan eksploitasi serta memberikan

mafaat bagi partisispan. Upaya peneliti untuk memenuhi prinsip

beneficience yaitu dengan menghindari pertanyaan yang

memungkinkan dapat menyebabkan ketidaknyamanan partisipan dan

dapat menstimulus timbulnya emosional serta peneliti tidak memaksa

partisipan untuk mengungkapkan hal hal yang tidak ingin diceritakan.

3. Non Maleficence

Peneliti meminimalisasi dampak yang merugikan bagi partisipan

dengan menjelaskan tentang proses penelitian secara rinci sehingga

partisipan memahami dan dapat terhindar dari kerugian yang mungkin

ditimbulkan. Pada saat wawancara peneliti memperhatikan partisipan

terkait adanya perasaan sedih atau marah. Proses wawancara mendalam


57

menyesuaikan dengan keadaan partisipan karena membutuhkan waktu

yang dapat menggangu aktivitas partisipan. Peneliti akan

memperhatikan hal tersebut, jika terjadi keadaan yang tidak

memungkinkan maka peneliti akan menghentikan proses wawancara.

Apabila partisipan masih bersedia dan mau untuk di wawancara,

peneliti dan partisipan akan membuat kesepakatan melakukan

wawancara ulang sesuai dengan kontrak waktu yang akan ditentukan

oleh peneliti dan partisipan.

4. Anonimity

Hak anonimity dipenuhi oleh peneliti dengan cara tidak

mencantumkan nama, akan tetapi dengan kode yang hanya dimengerti

oleh peneliti. kode yang digunakan adalah P1 untuk partisispan 1, P2

untuk partisispan 2, P3 untuk partisispan 3, P4 untuk partisipan 4, P5

untuk partisipan 5 dan seterusnya. Data yang sudah didapat juga

disimpan peneliti dalam bentuk file di dalam Compact Disk dengan

nama folder yang hanya diketahui peneliti.

5. Justice

Peneliti memenuhi prinsip ini dengan menghargai partisipan

sesuai dengan norma yang berlaku, memperlakukan semua partisipan

secara adil dengan tidak membeda bedakan dan memberikan

penjelasan penelitian yang sama, kebebasan yang sama dalam

menentukan waktu dan tempat penelitian perlakuan yang sama selama

proses wawancara dan reward yang sama sebagai ucapan terima kasih.
BAB IV

HASIL PENELITIAN

Pada bab 4 ini dipaparkan hasil penelitian terkait peran perawat terhadap

ketepatan waktu tanggap penanganan kasus cedera kepala di instalasi gawat

darurat RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Tema tema yang didapatkan dari

penelitian ini diperoleh berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan pada 5

perawat IGD yang pernah menangani kasus cedera kepala. Dalam bab ini juga di

jelaskan mengenai diskripsi tempat penelitian, karakteristik partisipan dan hasil

penelitian.

4.1 Diskripsi tempat penelitian

Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi merupakan Rumah Sakit

milik Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang berada di Jalan Kolonel

Sutarto 132 Surakarta. Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi

merupakan Rumah Sakit tipe A yang berada di kota surakarta dan menjadi

Rumah Sakit rujukan nasional. Instalasi gawat darurat di RSUD Dr.

Moewardi memiliki beberapa jenis pelayanan meliputi Disaster dan

Bencana, Triage dan Observasi Non Bedah, Resusitasi, Kamar Operasi

Mayor, Kamar Operasi Minor dan observasi bedah, Ponek , NICU

(Neonatal Intensive Care Unit), Intermediate care, dan one day care.

Sumber daya manusia di IGD terdiri dari Dokter Spesialis (on site) 2 yaitu

Satuan Medik Fungsional anak dan obgyn, dokter umum sebanyak 13

orang, non medis sebanyak 28 orang dan perawat sebanyak 33 orang.

58
59

Perawat dengan pendidikan S1 keperawatan berjumlah 9 orang, D III

keperawatan sebanyak 22 orang dan D IV keperawatan sebanyak 2 orang.

Instalasi gawat darurat memiliki jam kerja yang dibagi menjadi 3 shift yaitu

pagi, siang dan malam yang terdiri dari 1 shift 7 jam kerja dan 6 perawat

yang bertugas.

4.2 Karakteristik partisipan

Karakteristik kelima partisipan yang bersedia dilakukan wawancara

adalah sebagai berikut: partisipan satu (P1) adalah adalah seorang laki laki

usia 43 tahun, pendidikan terakhir D4 emergency dengan pengalaman kerja

di IGD RSUD Dr. Moewardi Surakarta selama 23 tahun. Partisipan kedua

(P2) seorang laki laki usia 34 tahun, pendidikan terakhir S1 ners dengan

pengalaman kerja di IGD RSUD Dr. Moewardi Surakarta selama 8 tahun.

Partisipan yang ketiga (P3) seorang perempuan usia 44 tahun, pendidikan

terakhir S1 keperawatan dengan pengalaman kerja di IGD RSUD Dr.

Moewardi Surakarta selama 8 tahun. Partisipan keempat (P4) seorang

perempuan usia 37 tahun, pendidikan terakhir D3 keperawatan dengan

pengalaman kerja di IGD RSUD Dr. Moewardi Surakarta selama 12 tahun.

Partisipan kelima (P5) seorang laki laki usia 43 tahun, pendidikan terakhir

D3 keperawatan dengan pengalaman kerja di IGD RSUD Dr. Moewardi

Surakarta selama 15 tahun.


60

4.3 Hasil penelitian

Fenomena mengenai peran perawat terhadap ketepatan waktu tanggap

penanganan kasus cedera kepala di instalasi gawat darurat RSUD

Dr.Moewardi Surakarta dieksplorasi melalui hasil wawancara dengan lima

partisipan perawat berdasarkan panduan wawancara semistruktur yang telah

dibuat sebelumnya. Wawancara dilakukan selama 15 sampai 35 menit

dimana waktu dan tempat sesuai yang telah di sepakati antara peneliti dan

partisipan sebelumnya.

Penelitian ini menghasilkan 8 tema berdasarkan hasil analisis tematik

yang dilakukan. Analisis tema disusun mulai dari pencarian kata kunci,

pengelompokkan kategori yang kemudian membentuk sub tema, kemudian

dari sub tema akan membentuk sebuah tema dari hasil penelitian. Penelitian

ini menemukan gambaran kasus cedera kepala, initial assasment,

pengelolaan prioritas pasien, perawat sebagai care giver, iklim kerja

kondusif, kendala pelayanan, kebutuhan perbaikan manajemen dan

kebutuhan peningkatan kualitas SDM. Berikut akan dijelaskan masing

masing tema yang ditemukan.

1. Tujuan khusus 1: Mengetahui persepsi perawat mengenai kasus

cedera kepala

Persepsi perawat mengenai kasus cedera kepala di dapatkan satu

tema yaitu gambaran kasus cedera kepala. Berikut akan dijelaskan

mengenai tema yang muncul.


61

Pada kasus cedera kepala hal pertama yang dilakukan perawat

dalam menangani pasien cedera kepala yang menentukan

pengelompokkan kasus cedera kepala antara lain cedera kepala ringan,

cedera kepala sedang dan cedera kepala berat. Gambaran kasus cedera

kepalayang dilihat perawat berdasarkan hasil wawancara di dapatkan

empat sub tema yaitu 1) Penyebab cedera kepala, 2) Manifestasi klinis

cedera kepala ringan, 3) Manifestasi klinis cedera kepala sedang, 4)

Manifestasi klinis cedera kepala berat.

1). Penyebab cedera kepala merupakan faktor yang

mempengaruhi perawat dalam melakukan penanganan kasus cedera

kepala. Trauma kecelakaan merupakan penyebab terjadinya cedera

kepala. Dua orang partisipan mengatakan bahwa penyebab terjadinya

cedera kepala adalah trauma kecelakaan.

Cedera kepala ringan yaa, cedera kepala yang bisa disebabkan


oleh kecelakaan ataupun trauma pada kepala.. (P2).

... kasus cedera kepala ringan itu yo, karena trauma, trauma itu
bisa langsung, atau tidak langsung jadi ini menggangu..menganggu,
keseimbangan, karena trauma kepala ya... (P5).

Ungkapan kedua partisipan diatas menunjukkan bahwa penyebab

terjadinya cedera kepala yaitu trauma kecelakaan baik langsung

maupun tidak langsung yang nantinya akan berpengaruh pada tingkat

kegawatan cedera kepala yang dibagi atas tiga kategori yaitu cedera

kepala ringan, cedera kepala sedang dan cedera kepala berat. Penyebab

cedera kepala lain yang dapat menyebabkan kasus cedera kepala adalah

benturan seperti yang diungkapkan oleh partisipan 4 berikut ini :


62

... suatuu, kejadian, yang melibatkan, kepala ya, mungkin,


karena benturan atau apa.. (P4).

Benturan adalah salah satu penyebab cedera kepala yang dapat

membuat kepala seseorang mengalami gangguan baik mengalami luka

di bagian kepala luar maupun bagian kepala dalam yang akan

menjadikan seseorang mengalami cedera kepala baik ringan, sedang

maupun berat.

2). Pengumpulan data lain yang dilakukan perawat dalam

menunjang gambaran kasus cedera kepala selain trauma kecelakaan

yaitu manifestasi klinis cedera kepala ringan. Manifestasi klinis cedera

kepala ringan yaitu pemeriksaan klinis biasa yang dipakai untuk

menentukan cedera kepala ringan yaitu dilihat dari pasien sadar,

diungkapkan oleh 3 partisipan berikut ini :

... biasanya pasien itu masih dalam kondisi sadarrr... (P2).

...yang jelas kalau.. cedera kepala ringan itu... yang pasti itu
pasiennya masih sadar... (P4).

...kalau dilihat dari nilai GCSnya itu ya empat belass lima


belass, ya ituuu... (P2).

... cedera kepala yang ringan itu, ee, GCSnya, istilah kami

seperti itu, itu anatara dua belas sampai, lima belas... (P3).

...untuk GCSnya masih lima belas... (P4).

Sadar merupakan salah satu manifestasi klinis pasien cedera

kepala ringan yang menunjukkan nilai GCS antara 14 sama 15 yang

dimana pasien masih dalam kondisi sadar. Selain sadar biasanya pasien
63

dengan cedera kepala ringan disertai dengan perasaan mual, berikut

pernyataan dari 2 partisipan.

... keluhannya paling sering muall,pusingg... (P2).

...termasuk nyeri itu pasti, jadi kadang rasa mual, bisa,


mungkin terjadi, perdarahan juga memungkinkan... (P5).

Mual salah satu manifestasi klinis yang sering terjadi pada kasus

cedera kepala yang banyak dikeluhkan oleh pasien cedera kepala

ringan. Selain mual biasanya pasien juga mengeluhkan adanya nyeri

kepala berikut pernyataan dari 2 partisipan.

... biasanya, tidak di ikuti dengan, katakanlah, pingsan, mual,


muntah, paling paling Cuma nyeri kepala lah, seperti itu... (P3).

...termasuk nyeri itu pasti, jadi kadang rasa mual, bisa,


mungkin terjadi, perdarahan juga memungkinkan... (P5).

Nyeri kepala adalah keluhan yang pasti dialami oleh pasien

cedera kepala yang ditimbulkan karena terjadinya trauma kepala atau

benturan yang mengenai kepala selain nyeri kepala, pusing juga salah

satu manifestasi klinis yang ditimbulkan akibat cedera kepala ringan

yang diungkapkan oleh 2 pasrtisipan sebagai berikut :

... masih dibisa diajak bicara, cuman dia mengeluh pusing...


(P4).

... keluhannya paling sering muall,pusingg... (P2).

3). Pernyataan diatas merupakan manifestasi klinis cedera kepala

ringan yang diungkapkan oleh perawat, selain cedera kepala ringan

adapun manifestasi klinis cedera kepala sedang yaitu dimana pasien


64

sudah mengalami penurunan kesadaran sesuai pernyataan 4 partsipan

sebagai berikut :

Cedera kepala sedang ee, itu sudah mulai mengalamai


penurunan kesadaran yaa.. (P2).

...tapi kesadarannya masihhh, ini masih, antara itu delapan


sampai, duabelas... (P3).

...bisa di ikuti dengan mual muntah, atau pingsan, tapi


kesadarannya masihhh, ini masih, antara itu delapan sampai,
duabelas.... (P3).

...dia pas saat jatuh, kadang ditanya itu dia itu, pas kejadiannya
itu dia sempat gak sadar, terus ada mual, kadang ya disertai muntah,
terus terkadang ada, benjolan ya dikepala itu, semacam hematoma...
(P4).

...dia itu mengalami, hehhh (batuk kecil), mengalami hilang


kesadaran sesaat.. (P5).

Penurunan kesadaran pada pasien cedera kepala sedang ditandai

dengan penurunan nilai GCS antara 8 sampai 13, berikut pernyataan

dari 4 partisipan.

...GCSnya..sembilan sampai tiga belas... (P2).

...kalau cedera kepala sedang, itu kan GCSnya, antara delapan


sampai, dua belas seperti itu... (P3).

...GCSnya itu.. dia itu somnolent... (P4).

Ya, sedang ituu, tu, ada, apa itu namanya, istilah hitungan,
GCS ya, itu nanti, GCS 7... (P5).

Selain adanya penurunan kesadaran, perawat juga menyebutkan

bahwa pasien dengan cedera kepala sedang sering juga mengalami mual

muntah sesuai dengan pernyataan 2 partisipan berikut :


65

...bisa di ikuti dengan mual muntah, atau pingsan, tapi


kesadarannya masihhh, ini masih, antara itu delapan sampai,
duabelas.... (P3).

...dia pas saat jatuh, kadang ditanya itu dia itu, pas kejadiannya
itu dia sempat gak sadar, terus ada mual, kadang ya disertai muntah,
terus terkadang ada, benjolan ya dikepala itu, semacam hematoma...
(P4).

Pasien dengan cedera kepala sedang biasanya juga disertai adanya

hematoma di kepala akibat dari trauma ataupun benturan yang

disebabkan secara langsung maupun tidak langsung yang dapat melukai

bagian kepala.

...terus terkadang ada, benjolan ya dikepala itu, semacam


hematoma... (P4).

Manifestasi lain pasien cedera kepala sedang yaitu gelisah,

gelisah yang timbul diakibatkan oleh adanya penurunan kesehatan yang

sering dialami oleh pasien cedera kepala sedang.

... teruss, sokk memungkinkan kadang, gelisah juga.. (P5).

4). Sedangkan untuk manifestasi klinis cedera kepala berat

perawat menyebutkan bahwa pasien dengan cedera kepala berat itu

sudah mengalami penurunan kesadaran dengan nilai kesadaran koma

berikut penyataan ke 3 partisipan.

...kemudian kalau yang berat itu sudah terjadi penurunan


kesadaran dengan GCS tiga sampai delapan... (P2).

... Kalau cedera kepala, berat, ya itu, dibawahnya, delapan...


(P3).

...kemudian kalau yang berat itu sudah terjadi penurunan


kesadaran dengan GCS tiga sampai delapan... (P2).

...cedera kepala berat itu yaa, cenderung tidak sadar... (P5).


66

Akibat yang ditimbulkan dari kesadaran koma yaitu pasien tidak

ada respon ditunjukan dengan pasien tidak bisa berkomunikasi baik

secara verbal maupun non verbal.

...Kalau berat itu pasiennya, biasanya itu dah, ndak bisa diajak
komunikasi, ngak bisa diajak komunikasi, dia di rangsang nyeri pun,
kadang cuma mengerang, kadang gak respon... (P4).

Hal yang dirasakan oleh pasien dengan cedera kepala berat

adanya nyeri hebat yang bisa ditimbulkan oleh adanya kerusakan

sistem jaringan otak yang terjadi akibat trauma hebat dikepala.

...atau bahkan deke(dia), iniii, apaa, tu, namanya, eee,


gelisah, nyeri hebat, ee, dia ndak, tau apa yang dikatakan... (P5).

Semua hasil wawancara di atas adalah mendukung ditemukannya

sebuah tema yaitu gambaran kasus cedera kepala.Dari wawancara

perawat di atas menjelasakan bagaimana perawat menggambarkan 3

kategori kasus cedera kepala baik yang ringan, sedang, maupun berat.

yang nantinya akan berpengaruh dalam penanganan kasus cedera kepala

yang yang dilakukan oleh perawat. Skema mengenai tema gambaran

kasus cedera kepala dapat dilihat pada gambar 4.1 berikut ini.
67

1. Trauma kecelakaan Penyebab cedera


2. Benturan kepala

1. Sadar
2. Mual Manifestasi klinis
3. Nyeri kepala cedera kepala ringan
4. Pusing
Gambaran
kasus cedera
1. Penurunan kepala
kesadaran Manifestasi klinis
2. Mual muntah cedera kepala sedang
3. Hematoma
4. Gelisah

1. Kesadaran koma Manifestasi klinis


2. Tidak ada respon cedera kepala berat
3. Nyeri hebat

Gambar 4.1 Skema Tema: Gambaran Kasus Cedera Kepala

2. Tujuan khusus 2: Mengetahui tindakan perawat dalam melakukan

ketepatan waktu tanggap penanganan kasus cedera kepala di

instalasi gawat darurat RSUD Dr. Moewardi Surakarta.

Tindakan yang dilakukan perawat dalam melakukan ketepatan

waktu tanggap penanganan kasus cedera kepala di dapatkan tiga tema

yaitu Initial assasment, Pengelolaan prioritas pasien, Perawat sebagai

Care giver.Berikut akan dijelaskan mengenai tema tema yang

muncul.

1) Tema : Initial assasment

Tindakan pertama yang dilakukan oleh perawat dalam

melakukan ketepatan waktu tanggap penanganan kasus cedera


68

kepala adalah Initial assasment, Initial assasment yang dilakukan

oleh perawat ketika melakukan waktu tanggap penanganan pasien

cedera kepala yang didapat dari hal wawancara yaitu Menilai

kondisi pasien dan Primary survey. Menilai kondisi pasien

merupakan hal pertama yang biasa dilakukan perawat ketika

menghadapi pasien dengan cedera kepala, setelah melakukan

penilaian kondisi pasien perawat kemudian melakukan Primary

survey untuk melihat dan mengatasi kegawatan pasien cedera

kepala.

Menilai kondisi pasienbiasanya dilakukan untuk mengetahui

tingkat kegawatan pasien cedera kepala, perawat melakukan

pemeriksaan awal untuk mengetahui kondisi pasien secara

langsung dan untuk menentukan penanganan ketika berhadapan

dengan pasien. Pernyataan diatas di dukung oleh 3 partisipan

sebagai berikut :

...jadi pasien datang kita lihat kondisinya.... (P1).

...yang pertama tau kondisi pasien kemudian... (P2).

.. kita itu langsung tau dengan keadaan paling ndak itu ... (P3).

Selain Menilai kondisi pasien hal yang perawat lakukan

selanjutnya adalah melakukan Primary surveyguna mengatasi

masalah dan melakukan penangan kepada pasien cedera kepala

yang dari hasil wawancara primary survey didalamnya terdapat atas

tiga komponen utama yang biasa perawat lakukan ketika


69

menghadapi pasien cedera kepala diantara yang pertama adalah

pemeriksaan airway yang di dukung dengan pernyataan dari 2

partisipan.

..yang penting, airwaynya dulu ya, yang pentingkan.. (P4).

.... kita memposisikan pasien itu, seaman mungkin, ya,


termasuk posisi, airwayne supaya lancar, bagaimana, pemberian
oksigen.. (P5).

Pemeriksaan airway dilakukan awal guna menentukan

masalah dan melakukan tindakan penanganan segera kepada pasien

cedera kepala setelah masalah airway telah tertangani dengan baik,

perawat melakukan pengelolaan breathing guna memberikan

suplay oksigen kepada pasien cedera kepala. Pernyataan tersebut di

dukung oleh pernyataan 3 partisipan sebagai berikut.

... yang sering untuk CKB terutama oksigenasi.. diberikan


oksigen.. (P2).

... untuk cedera kepala langsung paling ndak kita pertama


tama itu memberikan oksigenasi, seperti itu.. (P3).

..... jadi dari pasien datang, itu langsung kita, pasang


oksigen monitor itu langsung, infus, laborat.. (P4).

Setelah tertangani masalah airway dan breathing pada pasien

cedera kepala perawat melakukan tindakan menilai kesadaran

pasien/ disability. Pernyataan tersebut di dukung dengan

pernyataan dari 2 partisipan.

...cek GCS, GCSnya berapa .... (P1).

.. untuk kesadarannya pasien ya secepatnya... (P3).


70

Wawancara terhadap tindakan awal yang dilakukan oleh

perawat yaitu Initial assasment diantaranya menilai kondisi pasien

setelah itu melakuan tindakan primary survey guna mengatasi

masalah kegawatan pasien cedera kepala. Skema mengenai tema

Initial assasment dapat dilihat pada gambar 4.2 berikut ini.

Melakukan Menilai kondisi


pemeriksaan awal pasien

Initial assasment
1. Pemeriksaan Airway
2. Pengelolaan
Breathing Primary survey
3. Menilai kesadaran
pasien/ Disability

Gambar 4.2 Skema Tema: Initial assasment

2) Tema: Pengelolaan prioritas pasien

Pengelolan prioritas pasientindakan perawat dalam memilah

pasien kedalam kelompok pasien berdasarkan kegawatannnya. Dari

hasil wawancara, perawat mengungkapkan pengelolaan prioritas

pasien terdapat 2 tindakan keperawatan yang dilakukan ketika

menghadapi pasien cedera kepala dalam melakukan ketepatan

waktu tanggap yaitu pengelompokkan pasien dan Waktu tanggap

penanganan pasien cedera kepala.

pengelompokkan pasien adalah tindakan yang dilakukan

perawat dalam Penilaian kegawatan pasien yang tujuannya

mempermudah perawat dalam memberikan penanganan sesuai


71

tingkat kegawatan pasien. Terdapat 4 partisipan yang

mengungkapkan pernyataan tersebut.

..Yaaa, ituu untuk Triageee nya kita harus tepatt! tepat


dalam arti kita eee nrima pasienn, lihat kondisinyaa.. (P1).

... kalau di IGD ngeeh (ya),masalahnya kalau Triage itukan


kami konsepnya Triage kan, untuk pemilihan ngehh (ya).. (P3).

..misalnya Triage itu langsung, memeriksaa, dan


menentukan, kemana, kalau ke kalau itu cedera kepala otak berat
itu langsung ke resusitasi... (P4).

..kita harus tanggap, dia ini di Triage kan ke garis mana,


apakah dia, ke hijau atau kuning, atau merah, itu secepat
mungkin kita harus, bisa mengambil, sikap!, karena itu akan
menentukan.. (P5).

Tindakan pengelompokkan pasien ini biasanya dilakukan

menggunakan kategori Triage yang mengelompokkan pasien

berdasarkan kategori kegawatan pasien serta memprioritaskan

penanganan pasien kegawatdaruratan. Selain pengelompokkan

pasien, waktu yang dibutuhkan perawat pada saat melakukan

penanganan pasien menggunakan waktu tanggap penanganan

pasien cedera kepala. Waktu tanggap yang dibutuhkan perawat

dalam menangani pasien cedera kepala yaitu waktu tanggap kurang

dari 5 menit. Hal ini di dukung oleh pernyataan dari 4 partisipan

sebagai berikut :

.. Pasien datang untuk segera kita tanggani, kalau disini dii,


buat waktu tanggap kurang dari lima menit yaa... (P2).

... secepatnya ya bisa dikatakanlah, nol detik, seperti itu


yen (kalau) saya langsung (sambil senyum)... (P3).
72

..Pasien datang, kalau disini itu, dulu itu dikasih waktu,


paling ndak lima belas menit sudah selesai semua, jadi dari pasien
datang... (P4).

Waktu tanggap Triage tu yoo, yoo, apa tuu, namanya,


seketika itu juuga, seketika kita melihat ada pasien.. (P5).

Waktu tanggap penanganan pasien cedera kepala kurang dari

5 menit menurut perawat adalah waktu tanggap rata rata yang

digunakan dalam melakukan penanganan kasus cedera kepala.

Pengelompokkan pasien dan waktu tanggap penanganan pasien

cedera kepala dilakukan ketika perawat berhadapan dengan pasien

cedera kepala di instalasi gawat darurat. Skema mengenai tema

Pengelolaan prioritas pasien dapat dilihat pada gambar 4.3 berikut

ini.

Penilaian Pengelompokkan
kegawatan pasien pasien
Pengelolaan
prioritas pasien
Waktu tanggap Waktu tanggap
kurang dari 5 penanganan pasien
menit cedera kepala

Gambar 4.3 Skema Tema: Pengelolan prioritas pasien

3) Tema: Perawat sebagai Care giver

Tugas pokok sebagai perawat adalah memberikan asuhan

keperawatan atau Perawat sebagai Care giver. Dari hasil

wawancara perawat memberikan asuhan keperawatan itu terdapat

tiga tindakan perawat yang biasanya dilakukan dalam ketepatan

waktu tanggap yaitu Membuat asuhan keperawatan, Intervensi

mandiri perawat, Intervensi kolaborasi perawat.


73

Membuat asuhan keperawatanadalah tugas seorang perawat

agar semua tindakan perawat dapat terdokumentasi dengan baik.

Perawat dapat mendokumentasikan kegiatan keperawatan ketika

perawat berhadapan dengan pasien dari tindakan awal yang

dilakukan kepada pasien sampai pasien evaluasi akhir kepada

pasien. Berikut peryataan dari 2 partisipan.

..kalau disini yang pertama memberi asuhan


keperawatan... (P2).

..ya.. kita mencatat, termasuk mencatat, kejadian, terus,


jam, terus apa yang kita laksanakan, apa yang kita berikan.. (P5).

Setelah terdokumentasi dengan baik perawat melakukan

beberapa Intervensi mandiri perawat. Dari hasil wawancara

perawat tindakan mandiri perawat yaitu menjaga keamanan dan

kenyamanan pasien hal ini ditunjukkan dengan pernyataan dua

partisipan sebagai berikut :

..kemudian nursing treatment, apa yang bisa kita lakukan


untuk perawat paling kita lakukan posisi, mengatur posisi... (P2).

..yaa, kita mengamankan, pasien, situasi lingkungan, kita


berikan tempat, tempat yang tepat, artine tepat, sesuai posisi
nyaman , aman, aman, itu yoo, terbebas dari jatuh, ee, dari apa
itu namanya, dari privacy.. (P5).

..yaa, kita mengamankan pasien situasi lingkungan, kita


berikan tempat , tempat yang tepat, artine tepat, sesuai posisi,
nyaman, aman, aman, itu yoo, terbebas dari jatuh, ee, dari apa
itu namanya, dari privacy.. (P5).

Disamping menjaga keamanan dan kenyamanan pasien

perawat juga memberikan intervensi mandiri yaitu dengan perawat

pendidik pasien dan keluarga. dari hasil wawancara Perawat


74

pendidik pasien dan keluarga dengan cara memberikan informasi

dan mengajarkan cara pencegahan penyakit. Berkaitan dengan

perawat sebagai edukator, perawat biasanya Memberikan edukasi

kepada pasien maupun keluarga pasien hal ini di dukung

pernyataan dari 2 responden sebagai berikut :

... yang kedua edukasi terutama untuk pasien yang ada di


IGD... (P2).

..pekerjaaan perawat ya seperti, masang infus, ambil darah,


teruss memberikan.. edukasi sama keluarganya.. tentang, kondisi
disini... (P4).

Selain memberikan edukasi perawat selalu

Mengkomunikasikan segala sesuatunya yang berkaitan dengan

keadaan pasien ataupun situasi dan kondisi pada saat di ruang

instalasi gawat darurat ini sesuai dengan pernyataan partisipan ke 5.

..pemberian pelayanan itu benar-benar tertulis, termasuk


kayak inform konsent, sama keluargane, teruss apa itu, apapunlah
kita konfirmasikan.... (P5).

Memberikan edukasi dan mengkomunikasikan keadaan atau

kondisi pasien adalah peran perawat sebagai educator selain itu

perawat juga melakukan beberapa tindakan untuk menenangkan

pasien maupun keluarga atau mencegah kepanikan yang dapat

mempengaruhi pemberian pelayanan salah satunya yaitu

memberikan Dukungan psikologis pernyataan ini di dukung oleh

pernyataan partisipan ke 3 sebagai berikut :

.. apalagi itu kasusnya yang anak kecil, ada yang remaja,


ada yang tua, kita support mental untuk menenangkan juga, seperti
itu.. (P3).
75

Peran perawat sebagai pendidik dilakukan perawat sebagai

upaya penyampaian informasi juga sekaligus memberikan pelatihan

pencegahan penyakit yang biasa dilakukan ketika perawat

mengkomunikasikan serta memberikan dukungan psikologis baik

untuk pasien maupun keluarga guna memperlancar pelayanan

kesehatan pada pasien cedera kepala.

Selain tindakan mandiri perawat, perawat juga melakukan

intervensi kolaborasi perawat yang biasanya kolaborasi dengan

dokter berikut pernyataan dari empat partisipan sebagai berikut.

.. untuk GCSnya berapa penanganannya gimana nanti kita


kolaborasi dengan dokter yang harus kita kolaborasikan dengan
tepat!.... (P1).

.. kalau untuk terapi itu memang ee, kita, ee, menunggu


dari dokter nggeh... (P3).

..terus kita berikan, injeksi yang biasanya yang antibiotik,


sama anti nyeri, anti mualid itu dulu nanti setelah, itu semua,
dilakukan, terus dokternya baru, memberikan advis, yang lain
lain, pertama kali seperti itu... (P4).

..harus secepatnya untuk, dikonsulkan kepada, yang


berwenang artinya, kebagian, dokter resus yaa.. (P5).

Peran perawat sebagai Care giver terdiri dari perawat

mendokumentasikan asuhan keperawatan dan melalukan tindakan

keperawatan baik secara mandiri maupun berkolaborasi dengan

tenaga medis lain dalam melakukan penanganan kasus cedera

kepala. Skema mengenai tema Perawat sebagai Care giver dapat

dilihat pada gambar 4.4 berikut ini.


76

Mendokumentasikan Membuat asuhan


kegiatan keperawatan
keperawatan
v1. Menjaga
keamanan dan
kenyamanan Intervensi mandiri Perawat sebagai
pasien perawat Care giver
2. perawat
pendidik pasien
dan keluarga

Kolaborasi dengan Intervensi kolaborasi


dokter perawat

Gambar 4.4 Skema Tema: Perawat sebagai Care giver

3. Tujuan khusus 3: Mengetahui faktor faktor yang mendukung

perawat dalam melakukan ketepatan waktu tanggap penanganan

kasus cedera kepala di instalasi gawat darurat RSUD Dr.

Moewardi Surakarta.

Faktor faktor yang mendukung perawat dalam melakukan

ketepatan waktu tanggap penanganan kasus cedera kepala di instalasi

gawat darurat di dapatkan satu tema yaituiklim kerja kondusif.Berikut

akan dijelaskan mengenai tema yang muncul.

Peran perawat dalam melakukan ketepatan waktu tanggap

penanganan kasus cedera kepala di dukung oleh beberapa faktor yang

mendukung agar peran seorang perawat dapat berjalan dengan baik agar

dapat memberikan pelayanan yang baik kepada setiap pasien. iklim

kerja kondusifyang didapatkan dari hasil wawancara menunjukkan

faktor yang sangat mempengaruhi perawat dalam memberikan


77

ketepatan waktu tanggap. iklim kerja yang kondusi itu dipengaruhi oleh

beberapa hal yaitu motivasi internal, kerjasama tim baik, pemanfaatan

sarana dan prasarana.

Motivasi internal perawat yang sering mempengaruhi kinerja

perawat dalam menjalankan perannnya sabagai seorang perawat sangat

mempengaruhi karena berkaitan dengan perasaan, situasi dan kondisi

yang dirasakan oleh perawat dari hasil wawancara perawat

mengungkapkan ilmu yang dimiliki, amanah, tujuan menolong hal

tersebut yang dirasakan perawat selama ini guna memotivasi diri untuk

memberikan pelayanan kepada pasien. Ilmu yang dimiliki perawat

selama ini adalah sebagai modal perawat dalam melakukan peran serta

memberikan pelayanan kepada pasien hal ini sesuai dengan yang di

ungkapkan oleh partisipan 1 sebagai berikut :

... kalau saya, perawat ya, inii, jadi ilmu yang sudah kita dapat
kita terapkan ke pelayanan ke pasien itu aja... (P1).

Selain untuk mengaplikasikan ilmu yang telah dimiliki perawat,

perawat juga mempunyai tanggung jawab memberikan pelayanan

kepada pasien sebagai suatu amanah yang harus dijalankan berikut

pernyataan dari partisipan 5.

..yaa sebagai tadi amanah tadi yang paling anu, membuat saya
itu, apa, itu, namanya, ee, memotivasi, memotivasi saya bisa
memberikan yang terbaik.. (P5).

Jika perawat mempunyai tanggung jawab memberikan pelayanan

maka hal tersebut sebagai suatu tujuan menolong kepada pasien dan

sebagai seorang perawat harus berupaya sebaik mungkin dalam


78

memberikan pelayanan hal ini sesuai dengan pernytaan dari partisipan 1

sebagai berikut :

..kita misinya menolong ya, jadi kalau cedera kepala itu... (P1).

Motivasi internal perawat dalam memberikan atau menjalankan

perannya dalam melakukan ketepatan waktu tanggap sangat

berpengaruh pada pemberian pelayanan kepada pasien selain itu dari

hal wawancara perawat mengungkapkan kerjasama TIM baik juga

dapat mendukung dalam memberikan pelayanan yang baik.

Kerjasama TIM baik dipengaruhi oleh dua hal yaitu komunikasi

efektif dan kerja tim baik. Komunikasi efektif dapat mendukung

perawat dalam melakukan penanganan kasus cedera kepala dimana

komunikasi yang baik antar anggota tim, perawat dengan anggota tim

sesama perawat maupun perawat dengan anggota tim medis lain akan

meningkatkan kerjasama tim yang baik dan akan membantu perawat

dalam menjalankan perannya serta guna memberikan pelayanan

kesehatan yang baik kepada setiap pasien. Hal tersebut di dukung oleh

pernyataan dari 3 partisipan sebagai berikut :

... kalau pasien itu katakanlah, masih sadar nggeh (ya) bisa
komunikasi jelas, tetap semua tindakan yang kami lakukan, kita
komunikasikan terlebih dahulu... (P3).

.. kita berkomunikasi ya, komunikasi efektif seperti itu juga


komunikasi dengan teman sejawat... (P3).
..morning report itukan kita, tiap hari tu ya, usul, untuk
perbaikan tu setiap hari, kita usul sama, kepala ruang itu, dilakukan
perbaikan perbaikan.. (P4).
79

..musyawarah setiap kali kita kumpul mungkin, morning pagi,


coffe morning, itu kita bisa, memberikan suatu, apa itu namanya,
suatu laporan, laporan permasalahan.. (P5).

Setelah terjalinnya kerjasama tim yang baik karena komunikasi

yang efektif terwujud dengan baik, maka akan berdampak pada kerja

tim baik dimana terlihat hasil dari kerjasama yang terjalin antar anggota

tim dan antar anggota tim medis lain sehingga terciptanya pelayanan

kesehatan yang baik. Hal ini di dukung oleh 2 partisipan sebagai berikut

...itu penanganan pasien kita TIM, kita ngakk sendiri... (P2).

...pasien itu mau CT-Scan katakanlah, seperti itu, ya kita


kerjasamanya, untuk ke manajemen rumah sakit itu.. (P3).

... teman- teman saling membantu, kemudian saling


mengingatkan itu ya meningkatkan kerjasama TIM itu aja.. (P2).

Selain kerja sama tim baik dari hal wawancara perawat

mengungkapkan bahwa pemanfaatan sarana dan prasaranayang baik

juga akan mendukung perawat dalam melakukan perannya.

Pemanfaatan sarana dan prasarana tentunya bisa diaplikasikan oleh

perawat karena terpenuhinya sarana dan prasarana yang memadai

sehingga perawat dapat memanfaatkan hal tersebut ketika berhadapan

dengan pasien. Hal ini sesuai pernyataan dari 3 partisipan sebagai

berikut :

.. kalau disini, dilihat dari sarana dan prasarana sudah, sudah


cukup ya... (P2).

... ada trolie emergency ya ada, jadi kita tidak punya alasan
untuk memperpanjang, kita tanggap terhadap pasien.. (P3).
80

..Insyaallah kalau alat kan ada semua, disini itu sebenere,


enak mbak, rumah sakit paling enak kalau saya anuu... (P4).

..yang mendukung itu, alat - alat ada monitor ada, kita tinggal
pasang- pasang, dah.. (P4).

... kemudian dari pembagian ruangannya sudah baik.. (P2).

Pemanfaatan saran dan prasarana yang baik adalah suatu bentuk

pemanfaatan yang dilakukan perawat agar semua pasien tertangani

dengan baik sehingga terciptannya suatu bentuk pelayanan yang baik

kepada setiap pasien. Skema mengenai tema Iklim kerja kondusif dapat

dilihat pada gambar 4.5 berikut ini.

1. Ilmu yang dimiliki


2. Amanah Motivasi internal
3. Tujuan menolong

1. Komunikasi efektif Kerjasama TIM


2. Kerja tim baik Iklim kerja kondusif
baik

Sarana dan prasarana Pemanfaatan


yang memadai saran dan
prasarana

Gambar 4.5 Skema Tema: Iklim kerja kondusif

4. Tujuan khusus 4: Mengetahui faktor faktor yang menghambat

perawat dalam melakukan ketepatan waktu tanggap penanganan

kasus cedera kepala di instalasi gawat darurat RSUD Dr.

Moewardi Surakarta.

Faktor faktor yang menghambat perawat dalam melakukan

ketepatan waktu tanggap penanganan kasus cedera kepala di instalasi


81

gawat darurat di dapatkan satu tema yaitukendala pelayanan Berikut

akan dijelaskan mengenai tema yang muncul.

Peran perawat dalam melakukan ketepatan waktu tanggap

penanganan kasus cedera kepala di hambat oleh beberapa faktor yang

menghambat yaitu kendala pelayanan yang didapatkan dari hasil

wawancara menunjukkan faktor yang sangat menghambat perawat

dalam memberikan ketepatan waktu tanggap. kendala pelayanan itu

dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu birokrasi rumah sakit pendidikan,

kedisiplinan SDM, tidak ada penanggung jawab pasien, pasien melebihi

kapasitas, keterbatasaan sarana dan prasarana.

Perawat mengungkapkan panjangnya birokrasi rumah sakit

pendidikan yang dapat menghambat perawat dalam melakukan

ketepatan waktu tanggap penanganan kasus cedera kepala adalah salah

satu faktor yang menghambat. Birokrasi panjang menjadi salah satu

penghambat perawat dalam melakukan ketepatan waktu tanggap

penanganan kasus cedera kepala. Berikut pernyataan dari 2 partisipan

mengenai kendala pelayanan yang berkaitan dengan birokrasi rumah

sakit pendidikan.

.. namanya juga rumah sakit pendidikankan itu terbentur pada


residencedisini...harus lapor ke senior ke seniornya lagi, baru ke
staf... (P1).

.. Jadi, untuk prosedur-prosedur rumah sakit pendidikan tadi,


jadi kita kendalanya atau waktunya mungkin mundur, untuk laporan...
(P1)

..yaa, komunikasi sama prosedur e, untuk, inii, penanganan


selanjutnya... (P1).
82

..kita kadang kita itu mau bertindak, bingung maksude bingung,


kalau belum ada, gedhok (keputusan yang sah), kalau belum ada
hitam diatas putih, kadang kita ndak berani.. (P4).

Pernyataan tersebut di dukung oleh hasil observasi, pada saat

pasien tiba di IGD perawat melakukan langsung melihat kondisi pasien

setelah itu perawat mencari dokter residence untuk melaporkan keadaan

pasien, jadi untuk penanganan ke pasien sedikit terganggu untuk

laporan. Birokrasi yang panjang yang mengakibatkan terhambatnya

pelayanan dalam memberikan waktu tanggap penanganan yang

dirasakan oleh perawat selama ini. selain itu kedisiplinan SDM juga

menjadi salah satu hal yang dapat menghambat pelayanan perawat

dalam memberikan ketepatan waktu tanggap pelayanan kasus cedera

kepala yang mengakibatkan kurang maskimalnya perawat dalam

melakukan pelayanan kesehatan kepada pasien. Dalam hal wawancara

kedisplinan SDM ini terjadi karena Dokter belum datang sesuai dengan

pernyataan satu partisipan sebagai berikut.

Ya.. itu anuu mbk, dokternya juga, bisa, kita udah telfon, kan
langsung kita hubungi, langsung kita telpon, kalau bedah kan stanby
disini, cuman kadang pas overan, pas, jam- jam operan, itukan
kadangii, e, belum datang, tapi yo, kadang, kadang belum dateng..
(P4).

Kedisplinan SDM yang belum dilakukan oleh perawat maupun

tim medis lain tentunya sangat menghambat dalam memberikan

pelayanan kepada pasien. Faktor penghambat itu tidak muncul dari

tenaga medis saja tetapi dari pasiennya juga bisa menjadi faktor

menghambat, dalam hal wawancara perawat juga mengungkapkan tidak


83

ada penanggung jawab pasien juga penyebab terhambatnya perawat

dalam memberikan pelayanan. Ada dua hal yang menghambat perawat

dalam melakukan ketepatan waktu tanggap penanganan kasus cedera

kepala yang muncul dari pasien yaitu ketidakhadiran keluarga dan

pasien tanpa identitas.

Ketidakhadiran keluarga dapat menjadi faktor yang menghambat

perawat dalam melakukan ketepatan waktu tanggap karena seoarang

pasien membutuhkan penanggung jawab yang dapat membantu pasien

tersebut mengurus semua admistrasi yang berkaitan dirumah sakit yang

menyangkut pasien tersebut, tetapi jika hal ini tidak dilakukan oleh

keluarga pasien maka penanganan pasien juga akan ikut terlambat

diarenakan prosedur administrasi belum terpenuhi. Hal ini di dukung

oleh pernyataan dari 2 partisipan sebagai berikut.

...katakanlah, CT-Scan keluarga belum dateng, aaa, juga jadi


itu molor untuk dilakukan tindakannya... (P3).

..teruss, mungkin dari pihak, keluarga sendiri, belum ada


keluargane itu juga bisa menghambat.. (P5).

..penolong itu kita suruh, e, untuk melengkapi apa, prosedur,


administrasi dinya ndak mau katakanlah... (P3).

Selain ketidak hadiran keluarga yang dapat mengahambat

pelayanan, pasien tanpa identitasjuga dapat menghambat perawat dalam

melakukan pelayanan hal ini diungkapkan oleh partisipan 4 sebagai

berikut.

..teruss, masalah keduanya itu kalau Mr.X, kalau Mr.X ndak


ada identitas itu.. (P4).
84

Perawat ingin memberikan pelayanan yang tebaik kepada setiap

pasien, perawat selalu berupaya dalam melakukan tugasnya dengan

baik, tetapi hal ini tidak bisa dialakukan dengan baik jika pasien

melebihi kapasitas. Pada saat pasien banyak perawat terkadang sering

telat memberikan penanganan hal ini diungkapkan oleh 3 partisipan

sebagai berikut.

.. kemudian kalau pasien, kebetulan banyakk, itu kemungkinan,


kita cepat mengatasi juga, sering telat karenaa, kalau dibedah pasti..
pasiennya kadang datangnya bareng... (P2).

.. kita kadangkan kalau pas banyak banyake pasien, itu mbk,


kadang, e, kendalanya kan seperti itu... (P4).

..sing (yang) menghambat, itu biasane disisni, sokk, kadang,


meluapnya pasien.. (P5).

Selain pasien yang melebihi kapasitas perawat juga

mengungkapkan keterbatasaan sarana dan prasarana menjadi salah satu

faktor penghambat perawat dalam melakukan ketepatan waktu tanggap.

Keterbatasaan sarana dan prasaranayang diungkapkan oleh perawat

terdiri dari 2 hal yaitu keterbatasan SDM dan keterbatasan alat dan

tempat. Keterbatasan SDM diungkapkan oleh partisipan 2 yang menjadi

salah satu faktor yang menghambat perawat dalam memberikan

ketepatan waktu tanggap pelayanan kepada pasien.

..kemungkinan yang pertama keterbatasan SDMnya... (P2).

Keterbatasan SDM tersebut dinilai perawat sangat mempengaruhi

mengingat rumah sakit yang menjai tempat perawat bekerja adalah

rumah sakit rujukan yang jumlah pasien sangat banyak. Selain


85

keterbatasan SDM, Keterbatasan alat dan tempat yang juga dapat

mempengaruhi perawat dalam melakukan ketepatan waktu tanggap

penanganan kasus cedera kepala berikut penyataan dari partisipan 5.

..terus, sokk kadang keterbatasan, alat karena yow, apa itu


namanya, pasien banyakk.. (P5).

.. sepandai - pandai kita merawat, kalau kita tidak punya alat


atau tempat sing (yang) untuk, menempatkan pasien yang, di yang
dimaksud, ini namanya juga bohong.. (P5).

Kendala pelayanan yang perawat ungkapkan menjadikan kurang

maksimalnya perawat dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada

pasien khusunya pasien dengan cedera kepala hal ini juga didukung

oleh hasil observasi pada saat pasien banyak atau pasien melebihi

kapasitas, pasien harus rela ditempatkan pada tandu seadannya guna

menunggu mendapatkan ruang perawatan. Skema mengenai tema

Kendala pelayanan dapat dilihat pada gambar 4.6 berikut ini.

Birokrasi panjang Birokrasi rumah sakit


pendidikan

Dokter belum datang Kedisiplinan SDM

1. Ketidakhadiran keluarga Tidak ada penanggung Kendala


2. Pasien tanpa identitas jawab pasien Pelayanan

Pasien banyak Pasien melebihi


kapasitas

1. Keterbatasan SDM
Keterbatasan Sarana
2. Keterbatasan alat dan
dan Prasarana
tempat
Gambar 4.6 Skema Tema: Kendala pelayanan
86

5. Tujuan khusus 5: Mengetahui harapan perawat dalam melakukan

ketepatan waktu tanggap penanganan kasus cedera kepala di

instalasi gawat darurat RSUD Dr. Moewardi Surakarta.

Harapan perawat dalam melakukan ketepatan waktu tanggap

penanganan kasus cedera kepala di instalasi gawat darurat RS

Dr.Moewardi Surakarta di dapatkan dua tema yaitu kebutuhan

perbaikan manajemen dan kebutuhan peningkatan kualitas SDMBerikut

akan dijelaskan mengenai tema yang muncul.

1) Tema : Kebutuhan perbaikan manajemen

Perawat telah mengungkapkan beberapa hal mengenai peran

perawat dalam melakukan ketepatan waktu tanggap penanganan

kasus cedera kepala yang dialami perawat selama ini baik dari

peran perawat maupun faktor pendukung dan penghambat dalam

mejalankan perannya, tentunya dari itu semua perawat mempunyai

harapan, harapan agar perawat dapat menjalankan perannya dengan

baik dan dapat memberikan pelayanan kesehatan yang baik kepada

pasien. Harapan yang pertama yang diungkapkan oleh perawat

adalah harapan akankebutuhan perbaikan manajemen,kebutuhan

perbaikan manajemen yanng diharapkan oleh perawat yaitu

perbaikan dari segi manajemen pelayanan yang mencakup

pelayanaan pasien, birokrasi dan manajemen.

Perawat mengungkapkan pelayanan pasien selama ini perlu

adanya peningkatan pelayanan karena selama ini pelayanan pasien


87

belum baik masih banyak kekurangan hal ini diungkapkan oleh

partisipan satu sebagai berikut :

...untuk pelayanan aja, jadi kita mungkin waktu tanggap


darurat ke penerimaan pasien tepat.. (P1).

..untuk manajemen disini, ya, itu aja pelayanan dan


penanganan pasien itu lebih ditingkatkan lagi... (P1).

Selain perbaikan dari manajemen palayanan pasien perawat

juga berharap dari segi Birokrasi dapat diperbaiki karena sistem

birokrasi yang ada selama ini dinilai terlalu panjang oleh perawat

berikut pernyataan partisipan 3.

...dari segi birokrasi, nya bisa di inii, diperpendek seperti


itu... (P3).

Selanjutnya harapan perawat dalam hal perbaikan manajemen

agar manajemen pelayanan kepada pasien dapat ditingkatkan

dengan baik sehingga pasien mendapatkan pelayanan kesehatan

yang baik pula. Hal ini diungkapkan oleh partisipan 5 sebagai

berikut :

..kalau saya sich, cuma, berharap ya baik, artine manajemen,


baik.. (P5).

Tema kebutuhan perbaikan manajemenperawat berharap agar

pelayanan pasien dapat diperbaiki lagi dan dari segi birokrasi dan

manajemen juga dapat ditingkatkan lagi sehingga perawat dapat

memberikan pelayanan kesehatan yang baik kepada setiap pasien

dan dapat menajalankan perannya dengan optimal. Skema


88

mengenai tema kebutuhan perbaikan manajemen dapat dilihat pada

gambar 4.7 berikut ini.

Pelayanaan
palayanan

Birokrasi Manajemen Kebutuhan perbaikan


pelayanan manajemen

Manajemen

Gambar 4.7 Skema Tema: Kebutuhan perbaikan manajemen

2) Tema : Kebutuhan peningkatan kualitas SDM

Harapan perawat mengenai kebutuhan peningkatan kualitas

SDM terdiri dari harapan akan kompetensi perawat, komunikasi

antar TIM, dan etos kerja. Kompetensi perawat yang harus

ditingkatkan terus sesuai dengan kemajuan dan perkembanagan

ilmu keperawatan baik dari segi pendidikan dan pelatihan serta

ketrampilan.

Pendidikan dan pelatihan perawat berharap agar selalu

diperbaharui sesuai dengan perkembangan ilmu keperawatan baik

untuk pendidikan maupun untuk pelatihannya. Berikut pernyataan

dari 4 partsisipan.

...jadi yang untuk pendidikan pelatihan harus di update


terus... (P2).

...ya, kan, ilmu itu berkembang , ya, tidak ada salahnya untuk
selalu ditambah untuk pelatihannya.. (P3).

..Pelatihan, pelatihan itu juga, soale sinikan, berkembang


terus, terus, pelatihan-pelatihan.. (P4).
89

...ya, kan yang namanyan pelayanan pendidikan, kan


berkembang ilmu kesehatan kan berkembang, ya, kita, selalu
meningkatkan, meningkatkan.. (P5).

..dari segi pendidikan dan pelatihan yaa, Itu memang sangat


penting sekali, dan itu tidak bisa lepas ya, antara pelatihan
pendidikan, dan pengalaman.. (P5).

Selain dari segi pendidikan dan pelatihan perawat

mengungkapkan ingin meningkatkan keterampilan sebagai seorang

perawat agar dapat menjalankan tugasnya dengan baik serta dapat

memberikan pelayanan kesehatan kepada semua pasien hal ini

sesuai dengan pernyataan 2 partsisipan sebagai berikut :

...kalau mau ada yang mau belajar mungkin bisa ikut belajar,
boleh lagi, kalau dari pengetahuan dan keterampilan.. (P2).

...karyawan di IGD katakanlah, belum lama, atau dipindah


la itu mungkin, skillnya gak ini, gak pinter pinter menurut saya
seperti itu... (P3).

Harapan perawat dalam meningkatkan keterampilan juga

dukung dengan harapan perawat yang lain yaitu harapan

meningkatkan komunikasi antar TIM agar dapat melakukan

penanganan pasien lebih cepat dan tertangani dengan baik.

Komunikasiyang diharapkan oleh perawat komunikasi yang terjadi

antar anggota tim sesama perawat maupun anggota tim medis lain

supaya terbentuknya suatu kerjasama antar anggota tim untuk

memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien hal ini

diungkapkan oleh 2 partisipan sebagai berikut :


90

...di IGD ada perawat ,ada dokter, residence , jadi


komunikasi antar TIM baik, saya kira pelayanan juga akan baik..
(P2).

Iya komunikasi, itu, tapi kadang yo, piye ya mbk jenenge


teman, ( ya gimana ya mbk namanya juga teman).. (P4).

..saya ya semaksimal mungkin tapi saya juga butuh dukungan


dari teman, jadi dari partner, itu harus ada kerjasama.. (P4).

Harapan perawat selanjutnya yaitu perawat dapat

meningkatkan etos kerjadalam hal wawancara perawat

menyebutkan pentingnya meningkatkan ethos kerja yang

didapatkan dari dua hal yaitu jujur dan profesional sebagai seorang

perawat. Bersikap jujur sangat penting sebagai seorang perawat,

jujur dalam bekerja akan meningkatkan kinerja perawat dalam

memberikan pelayanan kepada pasien hal ini diungkapkan oleh

partisipan 4 sebagi berikut :

...kita tu, seharuse kerja tu ya apa adanya.. (P4).

Profesional juga menjadi suatu harapan dari perawat agar

kedepannya semua perawat dapat bekerja secara profesional

kepada semua pasien berikut pernyataan partisipan 5.

..... perawat kesehatan ya, bisa profesional, yo, go


internasional katakanlah.. (P5).

Tema kebutuhan peningkatan kualitas SDMperawat berharap

untuk kedepannya bisa ditingkatkan lagi guna menunjang

peningkatan kualitas pelayanan rumah sakit kepada setiap pasien

yang membutuhkan pelayanan kesehatan. Skema mengenai tema


91

kebutuhan peningkatan kualitas SDMdapat dilihat pada gambar 4.8

berikut ini.

1. Pendidikan dan
pelatihan Kompetensi
2. Ketrampilan perawat

Kebutuhan
Komunikasi Komunikasi antar peningkatan
TIM kualitas SDM

1. Jujur
2. Profesional Etos kerja

Gambar 4.8 Skema Tema: Kebutuhan peningkatan kualitas SDM


BAB V

PEMBAHASAN

Tema tema yang ditemukan dalam penelitian ini membentuk sebuah

keterkaitan yang dapat menggambarkan peran perawat terhadap ketepatan waktu

tanggap penanganan kasus cedera kepala di instalasi gawat darurat RS

Dr.Moewardi Surakarta. Tema yang ditemukan selama penelitian ini akan

dijelaskan untuk bisa melihat hubungan antar fenomena. Keterkaitan antar tema

akan menggambarkan bagaimana peran perawat dalam melakukan ketepatan

waktu tanggap penanganan kasus cedera kepala di instalasi gawat darurat yang

dimulai dari persepsi perawat mengenai kasus cedera kepala, tindakan apa saja

yang perawat lakukan dalam ketepatan waktu tanggap penanganan kasus cedera

kepala, faktor pendukung dan penghambat dalam melakukan ketepatan waktu

tanggap penanganan kasus cedera dan harapan perawat dalam melakukan

ketepatan waktu tanggap penanganan kasus cedera.

1. Persepsi perawat mengenai kasus cedera kepala

Tema gambaran kasus cedera kepala yang dipersepsikan oleh perawat

adalah gambaran kasus cedera kepala yang dilihat dari penyebab cedera

kepala, manifestasi klinis cedera kepala ringan, manifestasi klinis cedera

kepala sedang dan manifestasi klinis cedera kepala berat. untuk penyebab

cedera kepala perawat menyebutkan bahwa penyebab cedera kepala itu akibat

dari trauma kecelakaan atau karena benturan baik secara langsung maupun

tidak langsung. Hal tersebut telah sesuai dengan konsep teori penyebab

92
93

cedera kepala Nurarif (2013) bahwa penyebab cedera kepala itu terjadi atas

cedera akselerasi terjadi jika objek bergerak menghantam kepala yang

bergerak (Misalnya, alat pemukul menghantam kepala atau peluru yang di

tembakkan ke kepala), cedera deselerasi terjadi jika kepala yang bergerak

membentur obyek diam, seperti pada kasus jatuh atau tabrakan mobil ketika

ketika kepala membentur kaca depan mobil.

Cedera akselerasi deselerasi sering terjadi dalam kasus kecelakaan

kendaraan bermotor dan episode kekerasan fisik, cedera coup countre coup

terjadi jika kepala berbentur yang menyebabkan otak bergerak dalam ruang

kranial dan dengan kuat mengenai area tulang tengkorak yang berlawanan

serta area kepala yang pertama kali terbentur Sebagai contoh pasien dipukul

di bagian kepala belakang, cedera rotasional terjadi jika pukulan atau

benturan menyebababkan otak berputar dalam rongga tengkorak, yang

mengakibatkan perenggangan atau robeknya neuron dalam substansia alba

serta robeknya pembuluh darah yang memfiksasi otak dengan bagian dalam

rongga tengkorak (Nurarif, 2013). Mansjoer dkk (2000), mekanisme cedera

kepala adalah trauma tumpul dengan kecepatan tinggi (tabrakan otomobil),

kecepatan rendah (terjatuh, dipukul) dan trauma tembus (luka tembus peluru

dan cedera kepala lainnya).

Persepsi perawat mengenai gambaran kasus cedera kepala juga dilihat

dari manifestasi klinis cedera kepala ringan yaitu pasien cedera kepala ringan

dengan manifestasi klinis pasien yang masih sadar nilai GCS 15-14, pasien

merasakan mual, nyeri kepala, pusing hal ini juga sesuai konsep teori dari
94

Nurarif (2013) dan Mansjoer dkk (2000) mengenai kasus cedera kepala Skala

Koma Glasgow (Glasglow Coma Scale, GCS) 14 15, dapat terjadi

kehilangan kesadaran dan tidak, amnesia, tetapi kurang dari 30 menit, tidak

ada fraktur tengkorak, tidak ada contusia cerebral dan hematoma, tidak ada

intoksikasi alkohol atau obat terlarang, pasien dapat mengeluh nyeri kepala

dan pusing, pasien dapat menderita abrasi,laserasi,atau hematoma kulit

kepala.

Perawat juga mengungkapkan menifestasi klinis pasien dengan cedera

kepala sedang yaitu pasien yang sudah mengalami penurunan kesadaran

dengan nilai GCS 7 13, pasien mengalami mual muntah, adanya hematoma

dan pasien nampak gelisah hal ini sesuai dengan konsep kasus cedera kepala

sedang dari Nurarif (2013) dan Mansjoer dkk (2000) yaitu pasien dengan

cedera kepala sedang GCS 9 13, kehilangangan kesadaran, amnesia lebih

dari 30 menit tetapi kurang dari 24 jam, konkusi, dapat mengalami fraktur

tengkorak, muntah, diikuti contusio cerebral, laserasi dan hematoma intra

cranial, tanda kemungkinan fraktur kranium (tanda battle, mata rabun,

hemotimpanum,otorea atau rinorea cairan serebrospinal).

Manifestasi klinis pasien dengan cedera kepala berat perawat

menyebutkan bahwa pasien cedera kepala berat adalah pasien yang tingkat

kesadaran koma dengan GCS 8 3, pasien juga tidak ada respon dan pasien

mengalami nyeri hebat hal ini sesuai dengan konsep kasus cedera kepala

sedang dari Nurarif (2013) dan Mansjoer dkk (2000) yaitu GCS 3 8,

kehilangan kesadaran dan atau terjadi amnesia lebih dari 24 jam, juga
95

meliputi contusio cerebral, laserasi, atau hematoma intra cranial,tanda

neurologis fokal, cedera kepala penetrasiatau teraba fraktur depresikranium.

Pernyataan perawat diatas mengenai kasus cedera kepala yaitu perawat

mengambarkan kasus cedera kepala dari penyebab terjadinya cedera kepala

dan manifestasi klinis kasus cedera kepala ringan, sedang dan berat yang

telah diketahui selama menjalankan praktek klinik di rumah sakit dan

pernyataan tersebut juga telah sesuai dengan teori selama ini.

2. Tindakan perawat dalam melakukan ketepatan waktu tanggap

penanganan kasus cedera kepala di instalasi gawat darurat RSUD Dr.

Moewardi Surakarta .

1) Tema : Initial assasment

Tindakan yang dilakukan perawat dalam melakukan ketepatan

waktu tanggap penanganan kasus cedera kepala yaang pertama dimulai

dari initial assasment yaitu perawat melakukan tindakan keperawatan

dimulai dari menilai kondisi pasien dari melakukan pemeriksaan awal

ketika menghadapi pasien. Pemeriksaan awal yang dilakukan perawat

adalah melakukan observasi awal yang menjadi kunci utama untuk

menentukan tindakan penanganan pasien. Hal ini telah sesuai dengan

konsep teori menurut Stevenson (2004) tujuan observasi adalah untuk

memantau kemajuan pasien, sehingga memastikan deteksi cepat dari efek

samping atau keterlambatan dalam pemulihan. Neiderhauser dan Arnold

(2004) mengidentifikasi pentingnya menilai status resiko kesehatan

pasien, dan indikasi untuk intervensi.


96

Perawat dalam melakukan primary survey ketika berhadapan

dengan pasien yaitu melakukan pemeriksaan airway, pengelolaan

breathing dan menilai kesadaran pasien/ Disability. Hal tersebut telah

sesuai dengan teori dari jordan (2000) bahwa pengkajian keperawatan

gawat darurat meliputi pengkajian primer dan pengkajian sekunder.

Pengkajian primer merupakan pengkajian yang dilakukan untuk

memperoleh data dasar tentang kondisi kegawatdaruratan pasien

sedangkan pengkajian sekunder merupakan pengkajian yang dilakukan

untuk memperoleh data lanjut dari data dasar untuk menemukan

abnormalitas secara lebih menyeluruh (Jordan, 2000; Iyer & Camp, 2004;

Depkes, 2005).

Perawat ketika menghadapi pasien cedera kepala melakukan

tindakan primary survey dan melakukan tindakan secondary survey.

Menurut Kartikawati (2013) setelah dilakukan primary survey dan

masalah yang terkait dengan jalan nafas, pernafasan, sirkulasi, dan status

kesadaran telah selesai dilakukan tindakan, maka tahapan selanjutnya

adalah secondary survey. Pada secondary survey pemeriksaan lengkap

dari head to toe.

Komponen secondary survey meliputi huruf F I yang terdiri dari

Full set of vital sign (tanda - tanda vital), five intervensions (5 intervensi),

and facilitation of family presence (dan memfasilitasi kehadiran

keluarga), Give comfort measure (memberikan kenyamanan), History

and head to toe examination (riwayat pasien dan pemeriksaan mulai


97

dari kepala sampai kaki), Inspect the posterior surface (periksa

permukaan bagian belakang) (Kartikawati, 2013).

Tindakan secondary survey yang dilakukan perawat dalam

melakukan penanganan kasus cedera kepala yaitu full set of vital sign

dalam hal ini perawat melakukan pemeriksaan tekanan darah, nadi, five

intervensions untuk 5 intervensi perawat mengungkapakan melakukan

monitoring kepada pasien dan pemeriksaan CT- Scan, and facilitation of

family presence disini perawat selalu melibatkan keluarga dalam hal yang

menyangkut kepentingan pasien. Give comfort measure perawat selalu

memberikan posisi yang nyaman dan aman kepada pasien.

History and head to toe examination untuk history perawat

melakukan pengkajian pada pasien dengan menanyakan keluhan jika

pasien masih kooperatif. Dan untuk head to toe examination

pemeriksaan mulai dari kepala sampai kaki, perawat melakukan tindakan

head to toe examination kepada pasien cedera kepala memeriksa

kondisi pasien, luka pasien dari kepala sampai kaki walaupun terkadang

perawat tidak melakukan dengan detail tetapi perawat selalu melakukan

pemeriksaan head to toe examination pada pasien cedera kepala.

Inspect the posterior surface yaitu memeriksa permukaan bagian

belakang pasien, hal ini perawat tidak melakukan dengan detail perawat

hanya melihat kondisi secara keseluruhan yang dialami oleh pasien

cedera kepala.
98

2) Tema : Pengelolaan prioritas pasien

Melakukan tindakan ketepatan waktu tanggap penanganan kasus

cedera kepala perawat juga melakukan pengelolaan pasien cedera kepala

tindakan ini dilakukan oleh perawat karena berkaitan dengan

pengelompokkan pasien cedera kepala guna menentukan kegawatan dan

penanganan pasien, perawat juga mengungkapakan dalam hal melakukan

pengelolaan pasien, perawat menggunakan triage sebagai alat untuk

menilai kegawatan pasien cedera kepala dan untuk menentukan

penanganannya. Hal ini didukung konsep teori Oman (2008) triage

mempunyai tujuan untuk memilih atau menggolongkan semua pasien

yang memerlukan pertolongan dan menetapkan prioritas penanganannya

triage memiliki fungsi penting di IGD terutama apabila banyak pasien

datang pada saat yang bersamaan. Hal ini bertujuan untuk memastikan

agar pasien ditangani berdasarkan urutan kegawatannya untuk keperluan

intervensi. Triage juga diperlukan untuk penempatan pasien ke area

penilaian dan penanganan yang tepat serta membantu untuk

menggambarkan keragaman kasus di IGD (Gilboy, 2005).

Melakukan pengelolaan prioritas pasien perawat juga menyebutkan

waktu tanggap penanganan pasien cedera kepala juga mempengaruhi

tindakan pengelolaan pasien. Waktu yang dibutuhkan perawat dalam

melakukan ketepatan waktu tanggap penanganan kasus cedera kepala

adalah waktu tanggap kurang dari 5 menit. Hal ini sesuai dengan teori

dari Standar IGD sesuai Keputusan Menteri Kesehatan tahun 2009 bahwa
99

indikator waktu tanggap di IGD adalah harus 5 menit. Waktu tanggap

yang dibutuhkan perawat dalam melakukan penanganan pasien cedera

kepala lebih lama dari standart waktu tanggap.

Hasil penelitian Haryatun (2005) dengan menghitung waktu

pelayanan pasien gawat darurat, cedera kepala dari pasien masuk pintu

IGD RSUD Dr.Moewardi Surakarta sampai siap keluar dari IGD

didapatkan rata-rata waktu tanggap pelayanan selama 98,33 menit

(kategori I resusitasi yaitu pasien memerlukan resusitasi segera, seperti

pasien dengan epidural atau sub dural hematoma, cedera kepala berat),

79,08 menit (kategori II pasien emergensi, seperti pasien cedera kepala di

sertai tanda-tanda syok, apabila tidak dilakukan pertolongan segera akan

menjadi lebih buruk), 78,92 menit (kategori III pasien urgent, seperti

cedera kepala disertai luka robek, rasa pusing), 44,67 menit (kategori IV

pasien semi urgent, keadaan pasien cedera kepala dengan rasa pusing

ringan, luka lecet atau luka superficial ), 33,92 menit (Kategori V false

emergency, pasien datang bukan indikasi kegawatan menurut medis,

cedera kepala tanpa keluhan fisik), terdapat perbedaan yang signifikan

waktu tanggap tindakan keperawatan pada pasien cedera kepala kategori

I V dan Pasien cedera kepala kategori I memperoleh waktu tindakan

keperawatan lebih lama dan pasien cedera kepala kategori V memperoleh

waktu keperawatan yang lebih cepat. Hasil penelitian tersebut

menunjukkan bahwa terdapat perbedaan waktu tanggap tindakan pada

pasien cedera kepala kategori I V.


100

Perawat selama ini melakukan waktu tanggap penanganan rata

rata waktu yang dibutuhkan adalah kurang dari 5 menit waktu tanggap

pasien cedera kepala. Wilde (2009) telah membuktikan secara jelas

tentang pentingnya waktu tanggap bahkan pada pasien selain penderita

penyakit jantung. Mekanisme waktu tanggap, disamping menentukan

keluasan rusaknya organ-organ dalam, juga dapat mengurangi beban

pembiayaan. Waktu tanggap dari perawat pada penanganan pasien gawat

darurat yang memanjang dapat menurunkan usaha penyelamatan pasien

(Vitriase, 2014).

3) Tema : Perawat sebagai Care giver

Peran perawat dalam melakukan ketepatan waktu tanggap

penanganan kasus cedera kepala adalah peran perawat sebagai care

giver, perawat sebagai care giver yaitu terdiri dari perawat

mendokumentasikan asuhan keperawatan dan melalukan tindakan

keperawatan baik secara mandiri maupun berkolaborasi dengan tenaga

medis lain dalam melakukan penanganan kasus cedera kepala. Hal ini

sesuai dengan teori Susanto (2012) peran perawat sebagai care giver atau

pemberi asuhan keperawatan yaitu Perawat memberikan asuhan

keperawatan profesional kepada pasien meliputi pengkajian, diagnosa,

intervensi, implementasi hingga evaluasi. Selain itu, perawat melakukan

observasi yang kontinu terhadap kondisi pasien, melakukan pendidikan

kesehatan, memberikan informasi yang terkait dengan kebutuhan pasien

sehingga masalah pasien dapat teratasi.


101

Perawat selalu mendokumentasikan kegiatan keperawatan dari

pasien datang jam berapa sampai tindakan apa saja yang telah dilakukan

oleh perawat yang nantinya akan di evaluasi oleh perawat. Disamping itu

perawat juga melakukan intervensi mandiri perawat, intervensi mandiri

perawat yang sering dilakukan oleh perawat ketika menghadapi pasien

cedera kepala yaitu menjaga keamanan dan kenyamanan. Menjaga

keamanan dan kenyamanan pasien ditujukan agar pasien terbebas dari

jatuh dan pasien merasa aman serta nyaman sehingga dapat mendukung

proses penanganan pasien hal ini sesuai dengan fungsi independen

perawat yaitu merupakan fungsi mandiri dan tidak tergantung pada orang

lain, dimana perawat dalam melaksanakan tugasnya dilakukan secara

mandiri dengan keputusan sendiri dalam melakukan tindakan untuk

memenuhi kebutuhan dasar manusia (Widyawati, 2012).

Perawat sebagai pendidik pasien dan keluarga juga salah satu

intervensi mandiri perawat, perawat selalu memberikan edukasi kepada

pasien maupun keluarga pasien tentang kondisi pasien dan situasi yang

ada di IGD dan perawat juga selalu mengkomunikasikan segala hal yang

berkaitan dengan pasien baik dalam pemberian pelayanan atau inform

konsent kepada pasien dan keluarga. Kasus cedera kepala ini banyak

ditemui dirumah sakit dan bisa dialami oleh siapa saja dari anak anak,

remaja, dan orang dewasa dalam hal ini perawat selalu memberikan

dukungan psikologis kepada pasien cedera kepala, dukungan psikologis

dalam hal ini diberikan oleh perawat melalui support mental hal ini
102

sesuai dengan konsep teori peran dan fungsi perawat gawat darurat

Musliha (2010) diantaranya memberikan dukungan emosional terhadap

pasien dan keluarganya.

Selain intervensi mandiri perawat, perawat juga melakukan in

tervensi kolaborasi. Intervensi kolaborasi yang dilakukan oleh perawat

yaitu intervensi kolaborasi dengan dokter maupun tenaga medis lain guna

menunjang penanganan pasien cedera kepala. Perawat dalam hal ini

selalu berkolaborasi dengan dokter mengenai obat dan penanganan

lanjutan yang akan diberikan kepada pasien agar pasien tertangani

dengan cepat dan tepat. Hal ini sesuai dengan fungsi perawat

interdependen adalah fungsi ini dilakukan dalam kelompok tim yang

bersifat saling ketergantungan diantara tim satu dengan yang lainnya.

Fungsi ini dapat terjadi apabilabentuk pelayanan membutuhkan

kerjasama tim dalam pemberian pelayanan. Keadaan ini tidak dapat

diatasi dengan tim perawat saja melainkan juga dari dokter ataupun

lainnya (Widyawati, 2012).

3. Faktor faktor yang mendukung perawat dalam melakukan

ketepatan waktu tanggap penanganan kasus cedera kepala di

instalasi gawat darurat RSUD Dr. Moewardi Surakarta .

Faktor yang mendukung perawat dalam melakukan ketepatan

waktu tanggap penanganan kasus cedera kepala yaitu iklim kerja

kondusif yang di dukung oleh motivasi internal, kerjasama tim baik dan

pemanfaatan sarana dan prasarana. Reichers dan Scheinder (1990, dalam


103

Aluguro, 2004) menyatakan iklim kerja diartikan sebagai persepsi

tentang kebijakan, praktek-praktek dan prosedur-prosedur organisasional

yang dirasa dan diterima oleh individu-individu dalam organisasi,

ataupun persepsi individu terhadap tempatnya bekerja. Pernyataan serupa

dikemukakan oleh Keith dan Davis (2001, dalam Pramono, 2004) yang

menyatakan iklim kerja menyangkut lingkungan yang ada atau yang

dihadapi individu yang berada dalam suatu organiasi yang

mempengaruhi seseorang yang melakukan tugas atau suatu pekerjaan.

Individu dalam suatu organisasi menganggap iklim kerja merupakan

sebuah atribut, dimana atribut ini digunakan dalam perwujudan bagi

keberadaan mereka di dalam organisasi.

Motivasi internal perawat adalah salah satu faktor yang

mendukung perawat dalam melakukan ketepatan waktu tanggap

penanganan karena berkaitan dengan ilmu yang dimiliki perawat, amanah

dan tujuan menolong pasien hal ini sesuai dengan teori faktor-faktor yang

mempengaruhi prestasi kerja, menurut Mangkunegara (2007) faktor-

faktor tersebut antara lain: Faktor kemampuan dan Faktor motivasi.

Motivasi merupakan kemauan atau keinginan didalam diri seseorang

yang mendorongnya untuk bertindak (Depkes RI, 2002). Dan sebagai

perawat IGD juga harus siap dalam kondisi apapun untuk melakukan

pelayanan gawat darurat kepada setiap pasien sesuai dengan teori

Widiasih (2008) dalam memberikan bantuan pelayanan gawat darurat

petugas harus mempunyai 3 unsur kesiapan, antara lain adalah kesiapan


104

pengetahuan dan keterampilan karena erat kaitannya dengan upaya

penyelamatan langsung terhadap pasien.

Perawat dalam menciptakan iklim kerja yang kondusif juga

membutuhkan kerjasama tim baik yang diungkapkan oleh perawat bahwa

kerjasama tim baik itu didukung oleh komunikasi yang efektif dan kerja

tim baik hal ini didukung oleh konsep teori Amriany dkk (2004).

Karyawan akan merasa bahwa iklim organisasi menyenangkan apabila

suatu pekerjaan benar-benar dihargai, karyawan merasa diperlakukan

secara pantas, memperoleh pekerjaan yang menantang dan memuaskan

secara intrinsik, serta karyawan memperoleh kesempatan untuk maju.

Menurut Hutahaean (2005) iklim organisasi yang positif akan

memunculkan perilaku-perilaku inovatif yang muncul dari pemikiran-

pemikiran baru yang tidak terkekang dan mendapatkan dukungan dari

perusahaan, dan para karyawan mempunyai persepsi yang positif

terhadap keberfungsian organisasi. Hasil penelitian Rahmawatie, dkk

(2007) menunjukkan hubungan yang signifikan antara iklim organisasi

dengan kepuasan kerja perawat pelaksana.

4. Faktor faktor yang menghambat perawat dalam melakukan

ketepatan waktu tanggap penanganan kasus cedera kepala di

instalasi gawat darurat RSUD Dr. Moewardi Surakarta .

Faktor yang menghambat perawat dalam melakukan ketepatan

waktu tanggap penanganan kasus cedera kepala di instalasi gawat darurat

yaitu kendala pelayanan, kendala pelayanan terdiri dari birokrasi rumah


105

sakit pendidikan, kedisplinan SDM, tidak ada penanggung jawab pasien,

pasien melebihi kapasitas, keterbatasan sarana dan prasarana. Untuk

faktor penghambat birokrasi rumah sakit pendidikan ini perawat

mengungkapkan panjangnya birokrasi rumah sakit pendidikan dalam hal

pelaporan kepada dokter residen yang dinilai perawat mengakibatkannya

waktu penangan pasien mundur, hal ini sesuai dengan teori dari Green

dkk (2006) yang mengemukakan bahwa bahkan pada perubahan yang

sangat kecil dan sederhana dalam penempatan staf sangat berdampak

pada keterlambatan penanganan di IGD. Hal ini dapat terjadi karena pada

IGD Bedah, terdapat tambahan staf residen bedah umum dan pada IGD

Non-Bedah, penanganan awal sepenuhnya dilakukan oleh dokter dan

perawat triase.

Perawat juga mengungkapkan bahwa selama ini memberikan

pelayanan yang baik kepada setiap pasien, perawat selalu berupaya

dalam melakukan tugasnya dengan baik, tetapi hal ini tidak bisa

dialakukan dengan baik jika Pasien melebihi kapasitas hal ini telah sesuai

dengan teori American College of Emergency Physician (2008)

menuliskan bahwa pada IGD yang mengalami permasalahan

berlimpahnya jumlah pasien yang ingin mendapatkan pelayanan,

menempatkan seorang dokter di wilayah triase dapat mempercepat proses

pemulangan pasien atau discharge untuk pasien minor dan membantu

memulai penanganan bagi pasien yang kondisinya lebih sakit. Selain itu

tidak ada penanggung jawab pasien juga dapat menyebabkan


106

terhambatnya proses penanganan pasien karena segala sesuatu yang

berkaitan dengan administrasi yang menyangkut tentang tindakan pasien

itu juga harus ada penangung jawab baik pasien itu sendiri maupun

keluarga dekat atau kerabat. Perawat juga mengungkapkan pasien yang

terkadang datang tanpa identitas itu juga sangat menghambat perawat

dalam melakukan penanganan karena ini berkaitan dengan dokumentasi

keperawatan dan perkembanagan pasien hal ini juga akan berpengaruh

pada penanganan pasien.

Kedisiplinan SDM juga salah satu faktor yang menghambat

perawat dalam melakukan tugas dan perannya mengingat perawat

memberikan jasa pelayanan kesehatan yang akan berpengaruh pada

kelangsungan hidup pasien. Menurut (Nursalam, 2011), mengatakan

disiplin adalah setiap perseorangan dan juga kelompok yang menjamin

adanya kepatuhan terhadap perintah dan berinisiatif untuk melakukan

suatu tindakan yang diperlukan seandainya tidak ada perintah. Jika

dispilin tidak diterapkan dalam kerja berarti tidak adanya kepatuhan

terhadap perintah dan tidak adanya inisiatif melakukan suatu tindakan

dalam melakukan pekerjaan khusunya para tenagan medis yang bekerja

untuk pasien yang membutuhkan pelayanan kesehatan yang menyangkut

kesehatan setiap pasien.

Faktor penghambat karena kurangnya sarana dan prasarana yang

diungkapkan oleh perawat yang mengakibatkan telatnya pemberian

pelayanan kepada pasien ini juga sesuai dengan teori Canadian of


107

Association Emergency Physician (2012) menuliskan bahwa kejadian

kurangnya stretcher untuk penanganan kasus yang akut berdampak serius

terhadap kedatangan pasien baru yang mungkin saja dalam kondisi yang

sangat kritis. Notoatmodjo (2003) dimana sarana dan prasarana yakni

suatu alat penunjang yang mendukung pelayanan kesehatan. Dimana hal

tersebut sesuai dengan teori Muninjaya (2004) dukungan peralatan untuk

staf pegawai rumah sakit bertujuan untuk meningkatkan kinerja mereka.

5. Harapan perawat dalam melakukan ketepatan waktu tanggap

penanganan kasus cedera kepala di instalasi gawat darurat RSUD

Dr. Moewardi Surakarta .

1) Tema : Kebutuhan perbaikan manajemen

Harapan perawat dalam melakukan ketepatan waktu tanggap

penanganan kasus cedera kepala di instalasi gawat darurat RS

Dr.Moewardi Surakarta yaitu kebutuhan perbaikan manajemen.

Dalam hal ini perawat mengungkapkan kebutuhan perbaikan

manajemen yang diharapkan oleh perawat yaitu perbaikan dari segi

manajemen pelayanan yang mencakup pelayanan pasien, birokrasi

dan manajemen. Menurut Andrew F. Sikula (dalam buku Hasibuan,

2008). manajemen pada umumnya dikaitakan dengan aktivitas

aktivitas perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing),

pengendalian (controlling), penempatan (staffing), pengarahan

(leading), pemotivasian (motivating), komunikasi (communicating)

dan pengambilan keputusan yang dilakukan oleh setiap organisasi


108

dengan tujuan untuk mengkoordinasikan berbagai sumber daya yang

dimiliki oleh perusahaan sehingga akan dihasilkan suatu produk atau

jasa secara efisien.

Kebutuhan perbaikan manajemen akan meningkatkan mutu

pelayanan kesehatan kepada pasien rumah sakit. Mutu pelayanan

kesehatan adalah derajat dipenuhinya kebutuhan masyarakat atau

perorangan terhadap asuhan kesehatan yang sesuai dengan standart

profesi yang baik dengan pemanfaatan sumber daya secara wajar,

efisien, efektif dalam keterbatasan secara aman dan memuaskan

pelanggan sesuai dengan norma dan etika yang baik (Bustami,

2011).

Meningkatkan mutu pelayanan berarti juga akan berdampak

pada kepuasan pelayanan kesehatan yang dirasakan oleh pasien yang

datang ke rumah sakit menurut Ningsih dkk (2013) kepuasan pasien

dapat dipengaruhi oleh mutu pelayanan kesehatan yang diberikan

oleh rumah sakit sebagai provider, dimana mutu pelayanan

kesehatan bagi pasien berarti empati, respek dan tanggap akan

kebutuhannya, dalam hal ini kebutuhan pelayanan yang diberikan

oleh petugas kesehatan. Sedangkan mutu pelayanan kesehatan bagi

petugas berarti bebas melakukan segala sesuatu secara profesional.

Untuk meningkatkan derajat kesehatan pasien dan masyarakat sesuai

dengan ilmu pengetahuan dan ketrampilan yang memadai serta

terlindungi oleh aturan perundang undangan yang berlaku.


109

2) Tema : Kebutuhan peningkatan kualitas SDM

Harapan perawat mengenai kebutuhan peningkatan kualitas

SDM terdiri dari harapan akan kompetensi perawat, kerjasama antar

TIM, dan ethos kerja. Kompetensi perawat yang harus ditingkatkan

terus sesuai dengan kemajuan dan perkembanagan ilmu keperawatan

baik dari segi pendidikan dan pelatihan serta ketrampilan.

Dalam hal Pendidikan dan pelatihan perawat berharap agar

selalu diperbaharui sesuai dengan perkembangan ilmu keperawatan

baik untuk pendidikan maupun untuk pelatihannya. Perawat ingin

selalu meningkatkan pengetahuannya agar dapat memberikan

pelayanan yang baik kepada pasien sesuai dengan kemampuan dan

pengetahuan yang dimiliki perawat. Hal ini sesuai dengan teori

Irmayanti et all (2007) bahwa ada beberapa faktor yang

mempengaruhi pengetahuan seseorang yaitu pendidikan, media,

keterpaparan informasi, pengalaman, dan juga lingkungan. Pelatihan

merupakan metode yang terorganisir untuk memastikan bahwa

individu memiliki pengetahuan dan keterampilan tertentu dalam

mengerjakan kewajiban dan tanggung jawab pekerjaan yang lebih

baik (Marquis & Huston, 2006).

Kerjasama antar tim juga dapat meningkatkan kualitas SDM,

karena komunikasi dapat meningtkatkan kerjasama tim yang dapat

mempermudah perawat dalam melakukan ketepatan waktu tanggap

penanganan kasus cedera kepala Menurut Baker et all (2005) kerja


110

tim sangat dibutuhkan diantara tim medis untuk meningkatkan

keselamatan pasien melalui pengurangan kesalahan-kesalahan akibat

adanya kerjasama tim antara petugas medis. Hal tersebut sesuai

dengan yang dikemukakan Sarwono (Darmanelly, 2000) bahwa

kerjasama tim dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu kesesuaian,

mempercayai anggota tim, kesediaan untuk mengalah, kemampuan

menyampaikan kritik, kesediaan memperbaiki diri, solidaritas

kelompok, tanggung jawab, dan pemantaun secara berkala.

Etos kerja perawat juga dapat meningkatkan kualitas SDM

dalam hal ini perawat menungkapkan ingin jujur dan profesional

dalam bekerja hal ini sudah sesuai dengan konsep teori Suatu

pandangan dan sikap terhadap kerja dikenal dengan istilah etos kerja

(Anoraga, 2001). Tasmara (2002) mengatakan bahwa etos kerja

adalah suatu totalitas kepribadian dari individu serta cara individu

mengekspresikan, memandang, meyakini dan memberikan makna

terhadap sesuatu yang mendorong individu untuk bertindak dan

meraih hasil yang optimal (high performance). Dalam hal ini

perawat mengatakan bahwa ingin bekerja jujur dalam setiap

menjalankan perannya ketika berhadapan dengan pasien dan bekerja,

baik dalam melakukan hal yang menyangkut pelayanan pasien yang

datang di ruang instalasi gawat darurat dan perawat juga berharap

perawat juga dapat bersikap profesional dalam menjalankan


111

tugasnya sebagai seorang perawat yang nantinya akan menciptakan

suatu bentuk pelayanan kesehatan yang baik.


BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

Pada bab ini akan dijelaskan mengenai kesimpulan dari penelitian yang

telah didapat mengenai tema-tema yang telah dianalisa. Kesimpulan akan

menjelaskan dan menjawab dari tujuan tujuan khusus dan masalah masalah

yang sudah dirumuskan. Selain itu, pada bab ini akan dijelaskan mengenai saran

yang dapat diberikan untuk praktisi dan penelitian selanjutnya.

6.1 Kesimpulan

Peran perawat terhadap ketepatan waktu tanggap penanganan kasus

cedera kepala di instalasi gawat darurat menghasilkan 8 tema dari 5 tujuan

khusus sebagai berikut:

6. Gambaran kasus cedera kepala yang dipersepsikan oleh perawat yaitu

gambaran kasus cedera kepala yang dilihat dari penyebab cedera

kepala, manifestasi klinis cedera kepala ringan, manifestasi klinis

cedera kepala sedang dan manifestasi klinis cedera kepala berat.

7. Tindakan keperawatan dalam melakukan ketepatan waktu tanggap ada

tiga yaitu initial assasment, pengelolaan prioritas pasien dan perawat

sebagai care giver. Initial assasment adalah tindakan perawat yang

terdiri dari dua komponen yaitu menilai kondisi pasien dan melakukan

primary survey, pengelolaan prioritas pasien yang terdiri dari

pengelompokkan pasien dan waktu tanggap penanganan pasien cedera

kepala, perawat sebagai care giver yang diaplikasikan dengan membuat

112
113

asuhan keperawatan, intervensi mandiri perawat dan intervensi

kolaborasi perawat

8. Faktor yang mendukung perawat dalam melakukan ketepatan waktu

tanggap adalah iklim kerja kondusif. Iklim kerja kondusif faktor yang

mendukung perawat dalam melakukan ketepatan waktu tanggap

penanganan kasus cedera kepala di instalasi gawat darurat yang

dipengaruhi 3 komponen yaitu motivasi internal, kerjasama tim baik,

pemanfaatan sarana dan prasarana.

9. Faktor yang menghambat perawat dalam melakukan ketepatan waktu

tanggap adalah kendala pelayanan. Kendala pelayanan faktor yang

menghambat perawat dalam melakukan ketepatan waktu tanggap

penanganan kasus cedera kepala di instalasi gawat darurat dipengaruhi

oleh 5 komponen yaitu birokrasi rumah sakit pendidikan, kedisiplinan

SDM, tidak ada penanggung jawab pasien, pasien melebihi kapasitas,

keterbatasan sarana dan prasarana.

10. Harapan perawat dalam melakukan ketepatan waktu tanggap

penanganan kasus cedera kepala di instalasi gawat darurat adalah

kebutuhan perbaikan manajemen yaitu manajemen pelayanan, dan

kebutuhan peningkatan kualitas SDM yaitu kompetensi perawat,

komunikasi antar tim, dan ethos kerja.


114

6.2 Saran

1. Bagi Rumah Sakit

a. Memberikan pendidikan dan pelatihan yang spesifik mengenai

manajemen emergency cedera kepala.

b. Melengkapi sarana prasarana ruangan untuk dapat membantu

dalam upaya penanganan pasien.

c. Menggunakan hasil penelitian ini sebagai masukkan dalam

mengembangkan kualitas pelayanan kepada pasien.

d. Memberikan reward kepada perawat IGD atas usaha yang

maksimal dalam memberikan pelayanan kesehatan sebagai upaya

meningkatkan motivasi kerja perawat IGD.

2. Bagi Institusi Pendidikan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan,

sebagai bahan bacaan dan referensi guna meningkatkan mutu

pendidikan mengenai peran perawat terhadap ketepatan waktu tanggap

penanganan kasus cedera kepala di instalasi gawat darurat.

3. Bagi Peneliti lain

Pada penelitian ini didapatkan hasil mengenai peran perawat

terhadap ketepatan waktu tanggap penanganan kasus cedera kepala di

instalasi gawat darurat, untuk penelitian selanjutnya dibutuhkan

pengembangan secara luas mengenaiketepatan waktu tanggap

penanganan kasus cedera kepala terkait dengan time waiting for

physician initial assessment (waktu tunggu penilaian awal)dan length of


115

stay (waktu tinggal pasien di IGD), yang dilakukan di tempat yang

berbeda serta perbedaan partisipan dan fenomena yang terjadi.

4. Bagi Peneliti

Pada penelitian ini dapat menambah pengetahuan dan

memperdalam ilmu peneliti tentang penelitian kualitatif, serta

pengalaman dalaam melaksanaan penelitian peran perawat terhadap

ketepatan waktu tanggap penanganan kasus kegawat daruratan di

instalasi gawat darurat khususnya kasus cedera kepala.


Lampiran 17

DAFTAR PUSTAKA

Advanced Trauma Life Support For Doctors. 7th edition. 2004

Afidah, 2013. Gambaran Pelaksanaan Peran Advokat Perawat Di Rumah Sakit


Negeri Di Kabupaten Semarang. Diakses 26 november 2014

Afiyanti yati dan rachmawati imami. 2014. Netodologi penelitian kualitatif dalam
riset keperawatan. PT.raja grafindo. Jakarta

Ali, Zaidin H. 2002. Dasar-Dasar Keperawatan Profesional. Jakarta: EGC.

Aluguro, Kukuh Sudarmanto. 2002. Analisis Pengaruh Iklim Kerja Terhadap


Kepuasan Kerja Pegawai di Sekretariat Daerah Kota Semarang.
Program Studi Magister Manajemen Universitas Diponegoro Semarang.

American College of Emergency Physician. (2008). Emergency Department


Crowding: High-Impact Solutions. (On Line),
(http://ebookbrowse.com/emergency-department-crowdinghigh-impact-
solutions-acep-task-force-on-boarding-april-2008-pdf-d319291546,

Amriany dkk. (2004). Iklim Organisasi Yang Kondusif Meningkatka Kedisiplinan


Kerja. Jurnal Indonesia Psikologi Anima. Hal. 179-193

Anoraga, Pandji. 2001. Psikologi Kerja. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta.

Australian College of Emergency Medicine. 2000. The Australian Triage Scale.


Carlton Vic.: Publisher.

Baker, D.P., et al. 2005. Medical teamwork and patient safety:the evidence-based
relation. Publication No.050053. (Rockville,MD:Agency for healthcare
research and quality. http://ahrg.gov/qual/medteam,

Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Vol.1.
Jakarta: EGC.

Bustami, 2011. Penjamin Mutu Pelayanan Kesehatan & Askeptabilitasnya :


Penerbit Erlanggan, Jakarta.

Canadian Association emergency Physician.(2012).overcrowding. (On Line),


(http://www.caep.ca/advocacy/overcrowding).

Critchley G, Memon A. Epidemiology of Head Injury in head injury: a


multidisciplinary approach, ed. Peter C. Whitfield, Elfyn O. Thomas, Fiona
Summers, Maggie Whyte and Peter J. Hutchinson. Cambridge University
Press. 2009. P 1-9.
Lampiran 17

Cresswell, J. W. (2013). Qualitative researche. 3th ed. Thousand Oaks: Sage


Publications.

Darmanelly. 2000. Analisis terhadap kerjasama tim dalam rangka meningkatkan


mutu layanan puskesmas di wilayah Kota Pontianak tahun 2000. Skripsi.
Jakarta: Universitas Indonesia.

Departemen Kesehatan RI. Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2013.


http://www.depkes.go.id/resources/download/general/Hasil%20Riskesda
s%202013.pdf, Diakses tanggal 10 Desember 2014

Departemen kesehatan RI, 2002 Standar Tenaga Keperawatan Di Rumah Sakit,


Direktorat Pelayanan Keperawatan Direktoral Jenderal Pelayanan Medik.
Diakses tanggal 24 november 2014.

Departemen kesehatan (2005). Pedoman Pelayanan Keperawatan Gawat Darurat


Di Rumah Sakit. Direktoral Keperawatan Dan Pelayanan Medik,
Direktoral Jenderal Bina Pelayanan Medik, Departemen Kesehatan RI.
Jakarta.

Etty Nurul Afidah, (2013).Gambaran Pelaksanaan Peran Advokat Perawat Di


Rumah Sakit Negeri Di Kabupaten Semarang. Diakses pada tanggal 26
November 2014.

Faridah, (2009). Hubungan Pengetahuan Perawat Dan Peran Perawat Sebagai


Pelaksana Dalam Penanganan Pasien Gawat Darurat Dengan Gangguan
Sistem Kardiovaskuler. Diakses pada tanggal 27 November 2014

Fitzgerald, Gerald and Jelinek, George and Scott, Deborah A. and Gerdtz, Marie
F. (2009) Emergency department triage revisited.Emergency Medicine
Journal. Diakses pada tanggal 10 desember 2014.

Green L.V., Soares J., Giglio J.F., Green R.A.,.(2006). Using Queueing Theory to
Increase the Effectiveness of Emergency Department Provider Staffing,
(On Line),
(http://www.hbs.edu/units/tom/seminars/2007/docs/lgreen3.pdf, diakses
tanggal 20 Juli 2012)

Gilboy, N. (2005). Australasian triage scale.Australia: Emergency Department.

Haryatun. 2005.Perbedaan Waktu Tanggap Tindakan Keperawatan Pasien Cedera


Kepala Kategori 1 V Di Instalasi Gawat Darurat Rsud Dr. Moewardi.
Diakses pada tanggal 24 November 2014.
Lampiran 17

Hutahaean, E. S. (2005). Kontribusi Pribadi Kreatif Dan Iklim Organisasi


Terhadap Perilaku Inovatif. Jurnal PESAT. Hal. 159-167.

Hudak and Gallo, 2012. Keperawatan kritis volume 1 & 2 edisi 8.EGC,jakarta.

Hasibuan, S. P, Malayu. 2008. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta : CV


Haji Masagung.

Irawan H, Setiawan F, Dewi, Dewanto G. Perbandingan Glasgow Coma Scale dan


Revised Trauma Score dalam Memprediksi Disabilitas Pasien Trauma
Kepala di Rumah Sakit Atma Jaya. Majalah Kedokteran Indonesia. 2010.
Available from http://indonesia.digitaljournals.org/
index.php/idnmed/article/download/.../745. Diakses tanggal 24
November 2014.

Irmayanti et al, 2007. MPKT Modul 1. Lembaga Penerbitan FEUI : Jakarta.

Iyer, P. W. dan Camp, N. H. (2004). Dokumentasi Keperawatan: Suatu


Pendekatan Proses Keperawatan. Jakarta: EGC

Japardi I. Penatalaksanaan Cedera Kepala Secara Operatif. 2005. Available from


http://library.usu.ac.id/download/fk/bedah-iskandar%20japardi61.pdf.
Diakses tanggal 25 November 2014.

Jordan. K,S (2000). Emergency Nursing Core Curriculum. Fiftth Edition.


Saunders Company. USA. P 356 358.

Kartikawati, 2013. Buku Ajar Dasar Dasar Keperawatan Gawat Darurat.


Salemba Medika. Jakarta

Keputusan Mentri Kesehatan Republik Indonesia.(2009). Standar Instalasi Gawat


Darurat (IGD)Rumah Sakit. Jakarta: Menteri Kesehatan Republik
Indonesia. Diakses tanggal 26 November 2014

Krisanty, P. (2009). Asuhan keperawatan.Jakarta: Trans Info Media.

Kusnanto. 2004. Pengantar Profesi dan Praktik Keperawatan Profesional.Jakarta:


EGC.

Oman, Kathleen S. (2008). Panduan belajar keperawatan emergensi. Jakarta :


EGC.

Pramono, Agus. 2004. Analisis Keterampilan Kerja dan Iklim Kerja terhadap
Kualitas Pelayanan Keperawatan di Ruang Rawat Inap RSU H.Sahudin
Lampiran 17

Kutacane. Medan: Tesis, Program Pasca Sarjana Universitas Sumatera


Utara.

Polit, D. F, Beck, C.T and Hungler, B.P.(2004). Nursing researce : princples and
methods.7th edition. Philadelpia : lippincottt willian & wilkins.
Polit, D.F & Beck, C.T. 2010.generalization in quantitative and qualitative
research : myths and strategies. Internasional journal of nursing studies,
47,1451 1458.

Mangkunegara, A. P, 2007. Evaluasi Kinerja Sumber Daya Manusia, Cetakan


ketiga. Bandung : Penerbit PT Refika Adi tama.

Mansjoer dkk,2000. Kapita Selekta Kedokteran edisi 3 jilid 2.jakarta:media


aesculapius fakultas kedokteran universitas indonesia.

Marquis, B. L. & Huston, C.J. 2006. Leadership roles and management functions
in nursing: theory and application. Philidelphia: Lippincott William &
Wilkins.

Miranda, dkk. 2014. Gambaran Ct Scan Kepala Pada Penderita Cedera Kepala
Ringan Di BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode 2012
2013. Diakses tanggal 24 November 2014.

Moleong. Lexy J. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung : Remaja


Rosdakarya.

Muninjaya, A. A. Gde. 2004. Manajemen Kesehatan. Jakarta : Buku Kedokteran


EGC.

Musliha, 2010. Keperawatan Gawat Darurat Plus Contoh Askep Dengan


Pendekatan NANDA, NIC, NOC. Nuha medika, yogyakarta.

Muwardi, 2003. Materi Pelatihan PPGD. Surakarta.

Neiderhauser, V. Arnold, M. (2004) Assess health risk status for intervention and
risk reduction. Nurse Practitioner; 29: 2, 3542.

Ningsih dkk, 2013. Analisis Manajemen Mutu Pelayanan Kesehatan Pada Rumah
Sakit Islam Karawang.

Notoadmojo, Soekidjo. 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat Prinsip-prinsip Pasar.


Jakarta : PT. Rineka Cipta

Nurfaise. Hubungan Derajat Cedera Kepala Dan Gambaran CT Scan Pada


Penderita Cedera Kepala Di RSU dr. Soedarso Periode Mei Juli 2012.
Lampiran 17

2012. Available from jurnal.untan.ac.id/index.php/jfk/


article/download/1778/1726. Diakses tanggal 25 November 2014.

Nurarif, 2013. aplikasi asuahan keperawatan berdasarkan diagnosa medis dan


NANDA NIC NOC, edisi revisi jilid 1 & 2.media action publishing
.yogyakarta.

Nursalam & Pariani (2001), Pendekatan Praktis; Metodologi Riset Keperawatan,


Sagung Seto, Jakarta. (hal 64 66).

Nursalam (2011), Manajemen Keperawatan: Aplikasi Dalam Praktik


Keperawatan Profesional Edisi 3. Salemba Medika, Jakarta.

Rahmawatie, Dyah dan Utami, RB. (2007). Hubungan Iklim Organisasi Dengan
Kepuasan Kerja Perawat Pelaksana Di Ruang Rawat Inap RS PKU
Muhammadiyah Karanganyar. http://www.skripsistikes.wordpress.com

Saryono. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif dalam Bidang Kesehatan.


Yogyakarta: Nuha Medika.

Sastrohadiwiryo. S., B. 2002. Manajemen Tenaga Kerja Indonesia ; Pendekatan


Administrasi dan Operasional. Jakarta : Buki Aksara.

Sudarma, M. 2008. Sosiologi Untuk Kesehatan. Jakarta : Salemba


Medika.[online].http://books.google.co.id/books?id=1N7yMcvYLhYC&
pg=PA30IA40&dq=pengertian+peran&hl=id&sa=X&ei=X_yEUengA4
GMrgf98oDABA&redir_esc=y#v=onepage&q=pengertian%20peran&f=
false. Diakses tanggal 27 November 2014.

Sugiyono. 2012. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta

Suhartati et al . (2011). Standar Pelayanan Keperawatan Gawat Darurat di


Rumah Sakit. Jakarta: Kementrian Kesehatan

Susanto, Tantut. 2012. Buku Ajar Keperawatan Keluarga. Jakarta: Trans Info
Media.

Sutopo, HB. 2006. Metode Penelitian Kualitatif, Surakarta: UNS Press.

Satyanegara.ilmu bedah saraf edisi IV.gramedia pustaka utama.tanggerang,2010.

Stevenson, T. (2004) Achieving best practice in routine observation of hospital


patients. Nursing Times; 100: 30, 34.

Tasmara, Toto. 2002. Etos Kerja Islami. Jakarta: Gema Insani Press.
Lampiran 17

Triage In The Emergency Department The Western Australian Centre For


Evidence Informed Healthcare Practice Curtin University.2011. Online
document available at: www.wacebnm.curtin.edu.
au/workshops/Triage.pdf Diakses pada tanggal 10 desember 2014.

Virgianti Nur Faridah, (2009).Hubungan Pengetahuan Perawat Dan Peran Perawat


Sebagai Pelaksana Dalam Penanganan Pasien Gawat Darurat Dengan
Gangguan Sistem Kardiovaskuler. Diakses pada tanggal 27 November
2014.

Vitriase. 2014. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Response Time Perawat


Pada Penanganan Pasien Gawat Darurat Di IGD RSUP Prof. Dr. R. D.
Kandou Manado. Diakses tanggal 24 November 2014

Wilde, E. T. (2009). Do Emergency Medical System Response Times Matter for


Health Outcomes?.New York: Columbia University.

Wa Ode Nur Isnah Sabriyati ( 2012 ).Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan


Ketepatan Waktu Tanggap Penanganan Kasus Pada Response Time I Di
Instalasi Gawat Darurat Bedah Dan Non-Bedah Rsup Dr. Wahidin
Sudirohusodo. Di akses tanggal 24 November 2014.

Widiasih, Ni Luh (2003), Peran Perawat Anastesi Dalam Kegawatdaruratan,


Surabaya (Makalah disampaikan pada Seminar Kursus Penyegaran
Keperawatan Anastesi). (hal 27 34). Penulis adalah Staf Pengajar
STIKES Muhammadiyah Lamongan.

Wong, D. L., Hockenberry, M., Wilson, D., Winkelstein, L. M., & Schwartz, P.
(2009). Buku ajar keperawatan pediatrik Wong (6th ed.). (E. K. Yudha,
D. Yulianti, N. B. Subekti, E. Wahyuningsih, M. Ester, Penyunt., & N. J.
Agus Sutarna, Penerjemah). Jakarta: EGC.

Widodo. 2007.Hubungan Beban Kerja Dengan Waktu Tanggap Perawat Gawat


Darurat Menurut Persepsi Pasien Di Instalasi Gawat Darurat Rsu Pandan
Arang Boyolali. Diakses tanggal 25 November 2014.

Widyawati, 2012. Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta : prestasi pustaka

Yoon, P., Steiner, I., Reinhardt, G.(2003). Analysis of factos influencing length of
stay in the emergency departments, (Online).
(http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17472779,) Diakses tanggal 26
November 2014.
Lampiran 17