Anda di halaman 1dari 5

Nama : Atina Maulaya

Fadlilah
NIM : 1401262

Faktor Virulensi Bakteri Treponema pertenue


Penyebab Penyakit Frambusia.
Treponema pertenue merupakan bakteri yang bersifat patogen.
Bakteri ini termasuk kedalam bakteri gram negatif yang berbentuk
spiral, panjang, tipis, bergulung dengan lebar sekitar 0,2 m dan
panjang sekitar 5-15 m, spiral melilit dengan jarak 1 m satu samaa
lain. Bakteri ini membelah diri secara perlahan-lahan sekitar setiap 30
jam, dan dapat bergerak pada jaringan ikat. Bakteri ini juga mudah
mati dengan cepat apabila terpapar oksigen, pengeringan, atau
pemanasan, dan tidak dapat tumbuh diluar sel inang.

Gambar 1. Treponema pertenue


Bakteri Treponema pertenue ini menyebabkan penyakit
Frambusia atau ada yang menyebutnya sebagai penyakit patek atau
puru. Frambusia merupakan penyakit yang biasa menyebar di daerah
tropis, terutama yang panas dan lembab, penyakit ini bersifat
endemik terutama pada anak-anak. Penyakit ini menimbulkan gejala
munculnya benjolan-benjolan di kulit seperti buah murbei.
Penyakit Frambusia pertama kali ditemukan oleh Castellani
pada tahun 1905. Pada awal tahun 1950-an menyebutnya
sebagai diperkirakan banyak kasus frambusia terjadi di Afrika
(seperti Ghana, Togo, Benin), Asia (seperti Indonesia, Papua, dan
Pulau Solomon), Amerika Selatan (seperti Colombia, Guyana, Peru,
Ekuador dan Brazil), dan Amerika Tengah serta Kepulauan
Pasifi k.
Manusia merupakan satu-satunya sumber penularan. Masa
inkubasi antara 10-90 hari (rata-rata 21 hari). Masa penularan
penyakit Frambusia bervariasi dan dapat berlangsung lama, dimana
lesi Frambusia dapat muncul pada kulit penderita secara intermiten
selama beberapa tahun. Lesi Frambusia stadium 1 (Primer)
merupakan lesi yang sangat menular karena cairan (getah, eksudat)
yang keluar dari lesi Frambusia stadium 1 (Papula, Papilomata,
Makula, dan Papiloma ulkus) mengandung banyak sekali bakteri
Treponema pertenue.

Gambar 2. Anak Yang Terinfeksi Penyakit Frambusia.


Bakteri Treponema pertenue tidak dapat menembus kulit utuh,
tetapi masuk kedalam tubuh manusi melalui luka lecet, goresan, atau
luka infeksi kulit lainnya..
Bakteri Treponema pertenue yang telah masuk kedalam tubuh
inang akan berkembang biak dan menyebar dalam sistem peredaran
darah. Lesi awal akan hilang, tapi kemudian muncul lesi-lesi baru.
Apabila lesi tidak mendapatkan perawatan, dapat menimbulkan
kerusakan jaringan kulit lebih luas, bahakan dapat menimbulkan
kerusakan pada tulang.
Manifestasi klinis Frambusia terdiri dari beberapa stadium
perkembangan yang ditunjukan dalam perubahan bentuk lesi yaitu
lesi primer, lesi sekunder, dan lesi tersier. Antara lesi sekunder dan
lesi tersier terdapat periode laten (2 sampai 5 tahun), sedangkan
antara lesi sekunder dan tersier terdapat periode 2 (5 sampai 10
tahun).
Stadium primer diawali dengan timbulnya papul pada tempat
masuknya bakteri. Papul dalam bentuk nodul kecil eritematosa
(bewarna kemerahan), tidak nyeri saat ditekan, kadang gatal. Papul
timbul antara 9-90 hari sejak terinfeksi.
Papul berkembang menjadi papiloma. Permukaan papiloma
menonjol, basah (getah) , mudah berdarah, kemerahan, dan benjol-
benjol. Getah menganduk banyak bakteri Frambusia. Getah dapat
mengering membentuk keropeng yang menutup papiloma. Lesi ini
disebut krusta papilomata. Beberapa papul atau papiloma menjadi
satu membentuk plak dan dapat pecah membentuk ulkus. Kadang-
kadang pada stadium ini bisa terjadi demam atau nyeri sendi disertai
pembesaran kelenjar getah bening.
Setelah 3-6 bulan sejak timbulnya lesi, semua lesi dapat
sembuh dengan sendiri dan meninggalkan bekas berupa atropi kulit,
hipopigmentasi. Keadaan ini disebut stadium laten. Frambusia
stadium laten dapat berkembang dan masuk stadium sekunder.
Lesi sekunder adalah munculnya kembali lesi Frambusia baru
karena adanya penyebaran bakteri kedalam peredaran darah dan
jaringan getah bening. Lesi ini muncul setelah 2 tahun sejak lesi
Frambusisa primer. Pada stadium ini getah bening mengalami
peradangan. Kelainan yang terjadi pada stadium ini dapat hilang
dengan sendirinya, dan sebagian penderita (10%) masuk ke stadium
tersier yang dapat berlangsung dalam periode waktu 5-10 tahun.
Penyakit Frambusia pada stadium tersier, sendi dan jaringan
yang terserang Frambusia dapat mengalami kerusakan menjadi cacat.
Stadium laten merupakan fase tanpa gejala klinis, tetapi bakteri
Frambusia masih aktif dan hasil uji serologi positif. Stadium ini terjadi
ketika penderita dengan lesi Frambusia dapat sembuh tanpa
pengobatan.
Gambar 3. Gejala Penyakit Frambusia

Faktor yang dapat mempengaruhi penyebaran penyakit Frambusia


antara lain:
1. Lingkungan kumuh, hangat, dan lembab. Penularan tinggi
pada musim penghujan.
2. Jarang mandi.
3. Bergantian menggunakan pakaian yang sama dengan orang
lain atau jarang mengganti pakaian.
4. Luka terbuka atau adanya penyakit kulit seperti kudis, bisul, dapat
menjadi tempat masuknya bakteri Frambusia.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. (2014). Cara Penularan Penyakit Frambusia. [Online].
Tersedia di: http://www.askep.id/cara-penularan-penyakit-
frambusia.html. [Diakses tanggal 06 April 2017]
Dewi, Trisna. (2015). Epidemologi Frambusia. [Online]. Tersedia di:
https://www.academia.edu/11281375/EPIDEMIOLOGI_PENYAKIT_M
ENULAR_FRAMBUSIA. [Diakses tanggal 06 April 2017]
Evina. (2008). Treponema pertenue, apa itu?. [Online]. Tersedia di:
https://mikrobia.wordpress.com/2008/05/14/treponema-pertenue-
apa-itu/. [Diakses tanggal 06 April 2017]
Mitja, Oriol, MD, P.hD.. (2010). Treponema pallidum pertenue,
Treponema pallidum endemicum and Treponema carateum
(Yaws, Bejel, Pinta). [Online]. Tersedia di:
http://www.antimicrobe.org/b247.asp. [Diakses tanggal 06 April
2017]

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Bakteri Treponema pertenue. [Online]. Tersedia di:
https://www.healthtap.com/topics/treponema-pertenue. [Diakses
tanggal 06 April 2017]
Gambar 2. Gejala Penyakit Frambusia. [Online]. Tersedia di:
http://www.healthhype.com/yaws-infection-causes-stages-
symptoms-treatment.html. [Diakses tanggal 06 April 2017]
Gambar 3. Kulit Yang Terinfeksi Penyakit Frambusia. [Online]. Tersedia
di: http://www.askep.id/cara-penularan-penyakit-frambusia.html.
[Diakses tanggal 06 April 2017]

Beri Nilai