Anda di halaman 1dari 15

MACAM MACAM DESAIN PENELITIAN

STUDY CROSS SECTIONAL

Adalah suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor resiko
dengan efek, dengan cara pendekatan observasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu
saat (poin time approach).Artinya, tiap subjek penelitian hanya diobservasi sekali saja dan
pengukuran dilakukan terhadap status karakter atau variabel subjek pada saat pemeriksaan.
Hal ini tidak berarti semua subjek penelitian diamati pada waktu yang sama. Tujuan penelitian
ini untuk mengamati hubungan antara faktor resiko dengan akibat yg terjadi berupa penyakit
atau keadaan kesehatan tertentu dalam waktu yang bersamaan, ditanya masalahnya (akibat)
sekaligus penyebabnya (faktor resikonya).

Kelebihan penelitian Cross Sectional :

Mudah dilaksanakan, sederhana, ekonomis dalam hal waktu, dan hasil dapat diperoleh
dengan cepat dan dalam waktu bersamaan dapat dikumpulkan variabel yang banyak, baik
variabel resiko maupun variabel efek.
Kekurangan penelitian Cross Sectional :

1. Diperlukan subjek penelitian yang besar


2. Tidak dapat menggambarkan perkembangan penyakit secara akurat
3. Tidak valid untuk meramalkan suatu kecenderungan
4. Kesimpulan korelasi faktor resiko dengan faktor efek paling lemah bila dibandingkan
dengan dua rancangan epidemiologi yang lain.
Contoh sederhana : Ingin mengetahui hubungan antara anemia besi pada ibu hamil dengan
Berat Badan Bayi Lahir (BBL), dengan menggunakan rancangan atau pendekatan cross
sectional.

Tahap pertama : Mengidentifikasi variabel-variabel yang akan diteliti dan kedudukanya


masing-masing.
Variabel dependen (efek ) : BBL

Variebel independen (risiko ) : anemia besi.

Variabel independent (risiko) yang dikendalikan : paritas, umur ibu, perawatan


kehamilan, dan sebagainya.

Tahap kedua : menetapkan subjek penelitian atau populasi dan sampelnya.


Subjek penelitian : ibu-ibu yang baru melahirkan, namun perlu dibatasi daerah mana ereka
akan diambil contohnya lingkup rumah sakit atau rumah bersalin. Demikian pula batas waktu
dan cara pengambilan sampel, apakah berdasarkan tekhnik random atau non-random.
Tahap ketiga : Melakukan pengumpulan data, observasi atau pengukuran terhadap variabel
dependen-independen dan variabel-variabel yang dikendalikan secara bersamaan (dalam waktu
yang sama) Caranya mengukur berat badan bayi yang sedang lahir, memeriksa Hb ibu,
menanyakan umur, paritas dan variabel-variabel kendali yang lain.
Tahap keempat : Mengolah dan menganalisis data dengan cara membandingkan.
Bandingkan BBL dengan Hb darah ibu. Dari analisis ini akan diperoleh bukti adanya atau tidak
adanya hubungan antara anemia dengan BBL.
STUDY CASE CONTROL

Adalah suatu penelitian analitik yang menyangkut bagaimana faktor resiko dipelajari dengan
menggunakan pandekatan retrospective. Dengan kata lain, efek (penyakit atau status
kesehatan) diidentifikasi pada saat ini, kemudian faktor resiko diidentifikasi adanya atau
terjadinya pada waktu yang lalu.

Study Case Control ini didasarkan pada kejadian penyakit yang sudah ada sehingga
memungkinkan untuk menganalisa dua kelompok tertentu yakni kelompok kasus yangg
menderita penyakit atau terkena akibat yang diteliti, dibandingkan dengan kelompok yang
tidak menderita atau tidak terkena akibat. Intinya penelitian case control ini adalah diketahui
penyakitnya kemudian ditelusuri penyebabnya.
Kelebihan penelitian Case Control

1. Adanya kesamaan ukuran waktu antara kelompok kasus dengan kelompok kontrol
2. Adanya pembatasan atau pengendalian faktor resiko sehingga hasil penelitian lebih
tajam dibanding hasil rancangan cross sectional
3. Tidak menghadapi kendala etik seperti pada penelitian eksperimen (kohort)
4. Tidak memerlukan waktu lama ( lebih ekonomis )
Kekurangan Rancangan Penelitian Case Control

1. Pengukuran variabel yang retrospective, objektivitas, dan reabilitasnya kurang karena


subjek penelitian harus mengingatkan kembali faktor-faktor resikonya.
2. Tidak dapat diketahui efek variabel luar karena secara teknis tidakdapat dikendalikan.
3. Kadang-kadang sulit memilih kontrol yang benar-benar sesui dengan kelompok kasusu
karena banyaknya faktor resiko yang harus dikendalikan.
Contoh Sederhana : Penelitian ingin membuktikan hubungan antara malnutrisi/ kekurangan
gizi pada anak balita dengnan perilaku pemberian makanan oleh ibu.

Tahap pertama : Mengidentifikasi variabel dependen ( efek ) dan variabel- variabel


independen (faktor resiko ).
Variabel dependen : malnutrisi

Variabel independen : perilaku ibu dalam memberikan makanan.

Variabel independen yang lain : pendidikan ibu, pendapatan keluarga, jumlah anak, dan
sebagainya.

Tahap kedua : Menetapkan objek penelitian, yaitu populasi dan sampel penelitian. Objek
penelitian disini adalah pasangan ibu dan anak balitanya. Namun demikian perlu dibatasi
pasangan ibu dan balita daerah mana yang dianggap menjadi populasi dan sampel penelitian
ini.
Tahap ketiga : Mengidentifikasi kasus, yaitu anak balita yang menderita malnutrisi (anak
balita yang memenuhi kebutuhan malnitrisi yang telah ditetapkan, misalnya berat per umur
dari 75 % standar Harvard. Kasus diambil dari populasi yang telah ditetapkan.
Tahap keempat : Pemilihan subjek sebagai kontrol, yaitu pasangan ibu-ibu dengan anak
balita mereka. Pemilihan kontrol hendaknya didasarkan kepada kesamaan karakteristik subjek
pada kasus. Misalnya ciri-ciri masyarakatnya, sosial ekonominya dan sebagainya.
Tahap kelima : Melakukan pengukuran secara retrospektif, yaitu dari kasusu (anak balita
malnutrisiI itu diukur atau ditanyakan kepada ibu dengan menggunakan metose recall
mengenai perilaku memberikan jenis makanan , jumlah yang diberikan kepada anak balita
selama 24 jam.
Tahap keenam : Melakukan pengolahan dan analisis data .
Dengan membandingkan proporsi perilaku ibu yang baik dan yang kurang baik dalam hal
memberikan makanan kepada anaknya pada kelompok kasus, dengan proporsi perilaku ibu
yang sama pada kelompok kontrol. Dari sini akan diperoleh bukti ada tidaknya hubungan
perilaku pemberian makanan dengan malnutrisi pada anak balita.
STUDY COHORT

Adalah penelitian observasional analitik yang didasarkan pada pengamatan sekelompok


penduduk tertentu dalam jangka waktu tertentu. Dalam hal ini kelompok penduduk yang
diamati merupakan kelompok penduduk dengan 2 kategori tertentu yakni yang terpapar dan
atau yang tidak terpapar terhadap faktor yang dicurigai sebagai faktor penyebab. Penelitian
cohort adalah kebalikan dari case control. faktor resiko (penyebab) telah diketahui terus
diamati secar terus menerus akibat yang akan ditimbulkannya.
Kelebihan Penelitian Cohort :

1. Dapat mengatur komparabilitas antara dua kelompok (kelompok subjek dan kelompok
kontrol) sejak awal penelitian.
2. Dapat secara langsung menetapkan besarnya angka resiko dari suatu waktu ke waktu
yang lain.
3. Ada keseragaman observasi, baik terhadap faktor resiko maupun efek dari waktu ke
waktu.
Kekurangan Penelitian Cohort

1. Memerlukan waktu yang cukup lama


2. Memerlukan sarana dan pengelolaan yang rumit
3. Kemungkinan adanya subjek penelitian yang drop out dan akan mengganggu analisis
hasil
4. Ada faktor resiko yang ada pada subjek akan diamati sampai terjadinya efek (mungkin
penyakit) maka hal ini berarti kurang atau tidak etis.
Contoh Sederhana : Penelitian yang ingin membuktikan adanya hubungan antara Ca paru (efek)
dengan merokok (resiko) dengan menggunakan pendekatan atau rancangan prospektif.

Tahap pertama : Mengidentifikasi faktor efek (variabel dependen) dan resiko (variabel
independen) serta variabel-variabel pengendali (variabel kontrol).
Variabel dependen : Ca. Paru

Variabel independen : merokok


Variabel pengendali : umur, pekerjaan dan sebagainya.

Tahap kedua : Menetapkan subjek penelitian, yaitu populasi dan sampel penelitian. Misalnya
yang menjadi populasi adalah semua pria di suatu wilayah atau tempat tertentu, dengnan umur
antara 40 sampai dengan 50 tahun, baik yang merokok maupun yang tidak merokok.
Tahap ketiga : Mengidentifikasi subjek yang merokok (resiko positif) dari populasi tersebut,
dan juga mengidentifikasi subjek yang tidak merokok (resiko negatif) sejumlah yang kurang
lebih sama dengan kelompok merokok.
Tahap keempat : Mengobservasi perkembangan efek pada kelompok orang-orang yang
merokok (resiko positif) dan kelompok orang yang tidak merokok (kontrol) sampai pada waktu
tertentu, misal selama 10 tahun ke depan, untuk mengetahui adanya perkembangan atau
kejadian Ca paru.
Tahap kelima : Mengolah dan menganalisis data. Analisis dilakukan dengan membandingkan
proporsi orang-orang yang menderita Ca paru dengan proporsi orang-orang yang tidak
menderita Ca paru, diantaranya kelompok perokok dan kelompok tidak merokok.

1. Deskripsi Jenis-jenis penelitian ilmiah dan Contoh Judulnya

a. Penelitian Sejarah
Penelitian historikal merupakan bentuk penelitian yang memiliki tujuan untuk menggambarkan fakta
dan menarik kesimpulan atas kejadian masa lalu. Data primer dari penelitian ini adalah data yang bersifat
historis, misalnya para arkeolog menggunakan sumber data berupa dokumentasi tentang masa lalu.
Penelitian historikal dapat digunakan untuk menemukan solusi sementara berdasarkan kejadian masa lalu
dan menggambarkan tren masa kini atau masa depan.
Kothari (2004) mengategorikan jenis penelitian histori ke dalam dua pendekatan, yaitu pendekatan
perspektif mempelajari kegiatan/agenda masa lampau sampai sekarang- dan pendekatan retroperspektif
mempelajari kegiatan/agenda saat ini kemudian dihubungkan dengan hal serupa di masa lalu.
Contoh Judul:
Seni Tradisi Gembyung di Kampung Ganceuy Kabupaten Subang 1975-1999 (Suatu Kajian Historis
Terhadap Sosial Budaya Masyarakat). (Sumber: repository.upi.edu).

b. Penelitian Deskriptif
Penelitian deskriptif adalah suatu metode penelitian yang ditujukan untuk menggambarkan fenomena-
fenomena yang ada, yang berlangsung saat ini atau saat yang lampau. Penelitian ini tidak mengadakan
manipulasi atau pengubahan pada variabel-variabel bebas, tetapi menggambarkan suatu kondisi apa
adanya. Penggambaran kondisi bisa individual atau menggunakan angka-angka (Sukmadinata, 2006:5).
Penelitian deskriptif, bisa mendeskripsikan suatu keadaan saja, tetapi bisa juga mendeskripsikan keadaan
dalam tahapan-tahapan perkembangannya, penelitian demikian disebut penelitan perkembangan
(Developmental Studies). Dalam penelitian perkembangan ini ada yang bersifat longitudinal atau
sepanjang waktu dan ada yang bersifat cross sectional atau dalam potongan waktu.
Contoh Judul:
Manajemen Pengembagan Kinerja Guru SMK se-Kabupaten Kuningan: Studi Tentang
Kepemimpinan Entrepeuneur Dan Sistem kompensasi Kreativitas dan Kinerja
Inovatif. (Sumber: perpustakaan Universitas Negeri Malang, skripsi tidak diterbitkan).

c. Penelitian Korelasional
Penelitian korelasi adalah suatu penelitian yang melibatkan tindakan pengumpulan data guna
menentukan, apakah ada hubungan dan tingkat hubungan antara dua variabel atau lebih. Adanya
hubungan dan tingkat variabel yang penting, karena dengan mengetahui tingkat hubungan yang ada,
peneliti akan dapat mengembangkannya sesuai dengan tujuan penelitian (Sukardi, 2003:166).
Penelitian korelasi merupakan bentuk penelitian untuk memeriksa hubungan diantara dua konsep. Secara
umum ada dua jenis pernyataan yang menyatakan hubungan, yaitu: (1) gabungan antara dua konsep, ada
semacam pengaruh dari suatu konsep terhadap konsep yang lain; (2) hubungan kausal, ada hubungan
sebab akibat. Pada hubungan kausal, penyebab diferensikan sebagai varibel bebas dan akibat
direferensikan sebagai variabel terikat. Pada penelitian korelasi tidak ada kontrol atau manipulasi
terhadap variabel.
Tujuan penelitian korelasional menurut Suryabrata (1994:24) adalah untuk mendeteksi sejauh mana
variasi-variasi pada suatu faktor berkaitan dengan variasi-variasi pada satu atau lebih faktor lain
berdasarkan pada koefisien korelasi.Sedangkan menurut Gay dalam Emzir (2007:38); Tujuan penelitian
korelasionaladalah untuk menentukan hubungan antara variabel, atau untuk menggunakanhubungan
tersebut untuk membuat prediksi.
Contoh Judul:
Hubungan Antara Penerimaan Diri dengan Kompetensi Interpersonal Pada Remaja (Studi korelasi pada
remaja tunanetra yang mengalami ketunanetraan tidak sejak dari lahir di PSBN Wyata Guna Bandung).
(Sumber: repository.upi.edu).

d. Penelitian Kausal Komparatif


Penelitian kausal komparatif atau penelitian ex post facto adalah penyelidikan empiris yang sistematis
dimana ilmuan tidak mengendalikan variabel bebas secara langsung karena eksistensi variabel tersebut
telah terjadi. Pendekatan dasar klausa komparatif melibatkan kegiatan peneliti yang diawali dari
mengidentifikasi pengaruh variabel satu terhadap variabel lainnya kemudian dia berusaha mencari
kemungkinan variabel penyebabnya.
Penelitian komparatif membandingkan situasi masa lalu dan saat ini atau situasi-situasi paralel yang
berbeda, khusunya apabila peneliti tidak memiliki kontrol terhadap situasi yang diteliti. Penelitian ini bisa
memiliki perspektif makro (misal: internasional,nasional) dan mikro (misal: komunitas, individu).
Contoh Judul:
Studi Komparatif Penerapan Model Contextual Teaching and Learning (CTL)dengan Model Problem
Based Learning (PBL) dalam Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Standar Kompetensi
Menganalisis Rangkaian Listrik dan Elektronika Di SMKN 12 Bandung. (Sumber: repository.upi.edu).

e. Penelitian Eksperimental
Penelitian eksperimental merupakan bentuk penelitian percobaan yang berusaha untuk mengisolasi dan
melakukan kontrol setiap kondisi-kondisi yang relevan dengan situasi yang diteliti kemudian melakukan
pengamatan terhadap efek atau pengaruh ketika kondisi-kondisi tersebut dimanipulasi. Dengan kata lain,
perubahan atau manipulasi dilakukan terhadap variabel bebas dan pengaruhnya diamati pada variabel
terikat. Menurut Emzir (2008:96-103) desain penelitian ekperimen dibagi menjadi empat bentuk
yakni, pre-experimental design, true experimental design, quasy experimental designdan factorial design.
Contoh Judul:
Pengaruh Penerapan Strategi Pembelajaran TANDUR Berbantuan Web Interaktif Terhadap Hasil Belajar
Teknologi Informasi dan Komunikasi Siswa Kelas VII SMPN 3 Malang. (Kuasi Eksperimen terhadap
Siswa Kelas VII SMP Negeri 3 Malang Tahun Ajaran 2010/2011). (Sumber: perpustakaan Universitas
Negeri Malang, skripsi tidak diterbitkan).

f. Penelitian Tindakan Kelas


Action research designs often utilize both quantitative and qualitative data, but they focus more on
procedures useful in addressing practical problems in schools and the classrooms. Action research
designs are systematic procedures used by teachers (or other individuals in an educational setting) to
gather quantitative and qualitative data to address improvements in their educational setting, their
teaching, and the learning of their students(Creswell, 2012:577).
Penelitian tindakan merupakan bentuk penelitian yang berisi berbagai macam prosedur untuk
menguraikan kasus-kasus yang bersifat mikro atau khusus. Simpulan dari penelitian tindakan langsung
diberlakukan hanya untuk kasus yang diteliti dan tidak bisa digeneralisasikan. Penelitian tindakan lebih
condok ke metode kualitatif yang sangat bergantung pada data penagamatan yang bersifat behavioralistik.
Contoh Judul:
Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Tentang Pemecahan Masalah Yang Melibatkan
Uang Melalui Metode Simulasi (Penelitian Tindakan Kelas pada Siswa Kelas III B SDN Cicadas 03
Gunung Putri Bogor). (Sumber: repository.upi.edu).

g. Penelitian Pengembangan
Penelitian dan Pengembangan atau Research and Development (R&D) adalah strategi atau metode
penelitian yang cukup ampuh untuk memperbaiki praktek. Yang dimaksud dengan Penelitian dan
Pengembangan atau Research and Development (R&D) adalah rangkaian proses atau langkah-langkah
dalam rangka mengembangkan suatu produk baru atau menyempurnakan produk yang telah ada agar
dapat dipertanggung jawabkan. Produk tersebut tidak selalu berbentuk benda atau perangkat
keras(hardware), seperti buku, modul, alat bantu pembelajaran di kelas atau di laboratorium, tetapi bisa
juga perangkat lunak (software), seperti program komputer untuk pengolahan data, pembelajaran di kelas,
perpustakaan atau laboratorium, ataupun model-model pendidikan, pembelajaran, pelatihan, bimbingan,
evaluasi, sistem manajemen, dan lain-lain.
Contoh Judul:
Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis PowerPoint pada materi Kriya Anyam Mapel Seni Budaya
pada Siswa kelas X SMAN 2 Situbondo (Sumber: perpustakaan Universitas Negeri Malang, skripsi tidak
diterbitkan)

h. Penelitian Kualitatif-fenomenologi
Penelitian fenomenologi mencoba menjelaskan atau mengungkap makna konsep atau fenomena
pengalaman yang didasari oleh kesadaran yang terjadi pada beberapa individu. Penelitian ini dilakukan
dalam situasi yang alami, sehingga tidak ada batasan dalam memaknai atau memahami fenomena yang
dikaji. Menurut Creswell (1998:54), Pendekatan fenomenologi menunda semua penilaian tentang sikap
yang alami sampai ditemukan dasar tertentu. Penundaan ini biasa disebut epoche (jangka waktu). Konsep
epoche adalah membedakan wilayah data (subjek) dengan interpretasi peneliti. Konsep epoche menjadi
pusat dimana peneliti menyusun dan mengelompokkan dugaan awal tentang fenomena untuk mengerti
tentang apa yang dikatakan oleh responden.
Contoh Judul:
Pemaknaan Santri dan Kiai: Studi Fenomenologi Perubahan Bentuk Sistem Pendidikan Pesantren Salaf di
Pondok Pesantren Salaf Al-Huda Blimbingsari
(sumber:https://www.academia.edu/9186193/Proposal_Penelitian_Kualitatif_Pendekatan_Fenomenologi)

i. Penelitian Kualitatif-etnografi
Ethnographic researchers attempt to develop an understanding of how a culture works and many methods
and techniques are used in this such us: participant observation, interview, mapping and charting,
interaction analysis, study of historical records and current public documents, the use of demographic
data. (Bell, 2005:16)
Etnografi adalah analisis mendalam dari kelompok sosial. Data biasanya dikumpulkan melalui observasi,
wawancara, dan dokumen. Jenis penelitian ini berfokus pada membangun catatan perilaku dan
kepercayaan dari kelompok dari waktu ke waktu. Etnografi mengharuskan peneliti berpartisipasi, baik
sebagai pengamat atau peserta aktif, waktu interaksi yang cukup lama dengan kelompok yang diteliti.
Kerangka konseptual etnografi adalah bahwa keterlibatan langsung ke dalam budaya kelompok akan
memungkinkan peneliti untuk melihat dunia dari perspektif kelompok, dan melihat yang akan
memberikan pemahaman tentang perilaku dan keyakinan kelompok.
Contoh Judul:
Harry, Klingner, & Hart. 2005. African American families under fire: Ethnographic views of family
strengths. Remedial and Special Education, 26(2): 101112.
Harry, Klingner, dan Hart (2005) menerbitkan sebuah studi etnografi siswa Amerika keturunan Afrika
dalam pendidikan khusus di sebuah distrik sekolah beragam budaya perkotaan. (Stoner, 2010: 22)

j. Penelitian Kualitatif-Studi Kasus


Sebuah studi kasus adalah eksplorasi mendalam dari sistem terikat (misalnya,kegiatan, acara, proses, atau
individu) berdasarkan pengumpulan data yang luas. Studi kasus melibatkan investigasi kasus, yang dapat
didefinisikan sebagai suatu entitas atau objek studi yang dibatasi, atau terpisah untuk penelitian dalam hal
waktu, tempat, atau batas-batas fisik. Penting untuk memahami bahwa kasus dapat berupa individu,
program, kegiatan, sekolah, ruang kelas, atau kelompok. Setelah kasus didefinisikan dengan jelas, peneliti
menyelidiki mereka secara mendalam, biasanya menggunakan beberapa metode pengumpulan data,
seperti wawancara, observasi lapangan, dan dokumentasi.
Studi kasus kolektif; (a) melibatkan beberapa kasus, (b) dapat terjadi selama bertahun situs, dan (c)
menggunakan banyak individu. Kerangka konseptual untuk studi kasus adalah bahwa dengan
mengumpulkan informasi mendalam tentang kasus, peneliti akan mencapai pemahaman mendalam
tentang kasus ini, apakah kasus itu adalah seorang individu, kelompok, kelas, atau sekolah.
Contoh Judul:
Butera, G. 2005. Collaboration in the context of Appalachia: The case of Cassie. The Journal of Special
Education, 39(2): 106116.
Butera (2005) menggunakan studi kasus dan data yang dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan
dokumen untuk menggambarkan kolaborasi tim dengan anak 4 tahun di West Virginia. (Stoner, 2010: 21)

Sumber:
Nur H, Wahyu. 2015. Jenis-jenis Metode Penelitian Beserta Contohnya, (Online) (http://penjual-
mimpi.blogspot.com), diakses 03 September 2015.

2. Identifikasi dan perumusan masalah


Ciri-ciri rumusan masalah penelitian dan contoh-contohnya

a. Penelitian Deskriptif
Penelitian memiliki karakteristik atau ciri-ciri sebagai berikut :
1. Memusatkan penyelidikan pada pemecahan masalah aktual atau masalah yang dihadapi pada masa
sekarang.
2. Data yang telah dikumpulkan disusun dan dijelaskan, kemudian dianalisis dengan menggunakan teknik
analitik.
3. Menjelaskan setiap langkah penelitian secara rinci.
4. Menjelaskan prosedur pengumpulan datanya.
5. Memberi alasan yang kuat mengapa peneliti menggunakan teknik tertentu dan bukan teknik lainnya.
Penelitian deskriptif memiliki keunikan sebagai berikut :
1. Penelitian deskriptif menggunakan kuesioner dan wawancara, seringkali memperoleh responden yang
sangat sedikit, akibatnya bias dalam membuat kesimpulan.
2. Penelitian deskriptif yang menggunakan observasi, kadangkala dalam pengumpulan data tidak
memperoleh data yang memadai.
3. Penelitian deskriptif juga memerlukan permasalahan yang harus diidentifikasi dan dirumuskan secara
jelas, agar di lapangan peneliti tidak mengalami kesulitan dalam menjaring data yang
diperlukan. (http://nurfatimahdaulay18.blogspot.com/.)
Contoh rumusan masalah deskriptif :
1. Seberapa baik kinerja Departemen Pendidikan Nasional ?
2. Bagaimanakah sikap masyarakat terhadap perguruan tinggi negri Berbadan Hukum ?
3. Seberapa tinggi efektivitas kebijakan Manajemen Berbasis Sekolah di Indonesia ?
4. Seberapa tinggi tingkat kepuasan masyarakat terhadap pelayanan pemerintah daerah di bidang
pendidikan ?
5. Seberapa tinggi tingkat produktivitas dan keuntungan financial Unit Produksi pada Sekolah-sekolah
Kejuruan ?
6. Seberapa tinggi minat baca dan lama belajar rata-rata per hari murid-murid sekolah di Indonesia ?
(Sumber: http://penjagahati-zone.blogspot.co.id/2011/04/masalah-merumuskan-masalah-dan-contoh.html

b. Penelitian Korelasional
Ciri-ciri
1. Penelitian macam ini cocok dilakukan bila variabel-variabel yang ditelitirumit dan/atau tak dapat diteliti
dengan metode eksperimental atau takdapat dimanipulasi.
2. Studi macam ini memungkinkan pengukuran beberapa variabel dan salinghubungannya secara serentak
dalam keadaan realistiknya.
3. Output dari penelitian ini adalah taraf atau tinggi-rendahnya salinghubungan dan bukan ada atau tidak
adanya saling hubungan tersebut.
4. Dapat digunakan untuk meramalkan variabel tertentu berdasarkanvariabel bebas.
5. Penelitian korelasional juga mengandung kelebihan-kelebihan, antaralain: kemampuannya untuk
menyelidiki hubungan antara beberapavariabel secara bersama-sama (simultan); dan Penelitian
korelasional juga dapat memberikan informasi tentang derajat (kekuatan) ubunganantara variabel-variabel
yang diteliti. (https://www.academia.edu/9907073/Penelitian_Korelasional)

c. Ciri ciri pokok penelitian kausal komparatif


Penelitian kausal-komparatif bersifat ex post facto, artinya data dikumpulkan setelah semua kejadian
yang dipersoalkan berlangsung (telah lalu). Penelitian mengambil satu atau lebih akibat (sebagai
dependent variables) dan menguji data itu dengan menelusuri kembali ke masa lampau untuk mencari
sebab-sebab, saling hubungan dan maknanya dan cenderung mengandalkan data kuantitatif.
Prosedur Penelitian Kausal Komparatif
Menurur Emzir (2010:125) penelitian kausal komparatif dilakukan dalam lima tahap yakni, (1)
merumuskan masalah, (2) menentukan kelompok yang memiliki karakteristik yang ingin diteliti, (3)
pemilihan kelompok pembanding, (4) pengumpulan data, dan (5) analisis data. Sementara itu, terdapat
pula langkah-langkah pokok dalam studi kausal komparatif sebagai berikut.
a. Mendefinisikan masalah
b. Melakukan penelaahan kepustakaan.
c. Merumuskan hipotesis-hipotesis
d. Merumuskan asumsi-asumsi yang mendasari hipotesis-hipotesis itu serta prosedur-prosedur yang akan
digunakan.
e. Merancang cara pendekatannya, antara lain ;
f. Pilihlah subjek-subjek yang akan digunakan serta sumber-sumber yang relevan.
g. Pilihlah atau susunlah teknik yang akan digunakan untuk mengumpulkan data.
h. Tentukan kategori-kategori untuk mengklasifikasikan data yang jelas, sesuai dengan tujuan studi, dan
dapat menunjukkan kesamaan atau saling hubungan.
i. Memvalidasikan teknik untuk mengumpulkan data itu dan menginterpretasi kan hasilnya dalam cara yang
jelas dan cermat.
j. Mengumpulkan dan menganalisis data.
k. Menyusun laporannya.
(http://dyan123.blogspot.co.id/2012/02/makalah-penelitian-kausal-komparatif.html)

d. Penelitian Eksperimental
Danim (2002) menyebutkan beberapa karakteristik penelitian eksperimental, yaitu, (1)Variabel-
veniabel penelitian dan kondisi eksperimental diatur secara tertib ketat (rigorous management), baik
dengan menetapkan kontrol, memanipulasi langsung, maupun random (rambang). (2) Adanya kelompok
kontrol sebagai data dasar (base line) untuk dibandingkan dengan kelompok eksperimental. (3) Penelitian
ini memusatkan diri pada pengontrolan variansi, untuk memaksimalkan variansi variabel yang berkaitan
dengan hipotesis penelitian, meminimalkan variansi variabel pengganggu yang mungkin mempengaruhi
hasil eksperimen, tetapi tidak menjadi tujuan penelitian.
Di samping itu, penelitian ini meminimalkan variansi kekeliruan, termasuk
kekeliruan pengukuran. Untuk itu, sebaiknya pemilihan dan penentuan subjek,
serta penempatan subjek dalarn kelompok-kelompok dilakukan secara acak. (4)
Validitas internal (internal validity) mutlak diperlukan pada rancangan penelitian eksperimental, untuk
mengetahui apakah manipulasi eksperimental yang dilakukan pada saat studi ini memang benar-benar
menimbulkan perbedaan. (5) Validitas eksternalnya (external validity) berkaitan dengan bagaimana
kerepresentatifan penemuan penelitian dan berkaitan pula dengan
penggeneralisasian pada kondisi yang sama. (6) Semua variabel penting
diusahakan konstan, kecuali variabel perlakuan yang secara sengaja dimanipulasikan atau dibiarkan
bervariasi.

Langkah-langkah dalam melakukan metode penelitian eksperimen


Pada umumnya, penelitian eksperirnent dilakukan dengan menempuh langkah-langkah seperti berikut,
yaitu,
1. Melakukan kajian secara induktif yang berkait erat dengan permasalahan yang hendak dipecahkan.
2. Mengidentifikasi dan mendefinisikan masalah.
3. Melakukan studi literatur dan beberapa sumber yang relevan, memformulasikan hipotesis penelitian,
menentukan variabel, dan merumuskan definisi operasional dan definisi istilah.
4. Membuat rencana penelitian yang didalamnya mencakup kegiatan:
a. Mengidentifikasi variabel luar yang tidak diperlukan, tetapi memungkinkan terjadinya kontaminasi proses
eksperimen;
b. Menentukan cara mengontrol;
c. Memilih rancangan penelitian yang tepat;
d. Menentukan populasi, memilih sampel (contoh) yang mewakili serta memilih sejumlah subjek penelitian;
e. Membagi subjek dalam kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen;
f. Membuat instrumen, memvalidasi instrumen dan melakukan studi pendahuluan agar diperoleh instrumen
yang memenuhi persyaratan untuk mengambil data yang diperlukan;
g. Mengidentifikasi prosedur pengumpulan data. dan menentukan hipotesis.
5. Melaksanakan eksperimen.
6. Mengumpulkan data kasar dan proses eksperimen.
7. Mengorganisasikan dan mendeskripsikan data sesuai dengan vaniabel yang telah ditentukan.
8. Menganalisis data dan melakukan tes signifikansi dengan teknik statistika yang relevan untuk menentukan
tahap signifikasi hasilnya.
9. Menginterpretasikan basil, perumusan kesimpulan, pembahasan, dan pembuatan laporan (Sukardi, 2003).
(Sumber: http://bukuriau.com/metode-penelitian-eksperimen.html).

e. Penelitian Tindakan Kelas


Sebagaimana yang ditulis oleh Sukajati (2008), bahwa pada intinya, rumusan masalah seharusnya
mengandung deskripsi tentang kenyataan yang ada dan keadaan yang diinginkan. Dalam merumuskan
masalah PTK, ada beberapa petunjuk yang dapat digunakan sebagai acuan yang disarikan dari Suyanto
(1997) dan Sukarnyana (1997). Beberapa petunjuk tersebut antara lain:
masalah hendaknya dirumuskan secara jelas, dalam arti tidak mempunyai makna ganda dan pada
umumnya dapat dituangkan dalam kalimat tanya;
rumusan masalah hendaknya menunjukkan jenis tindakan yang akan dilakukan dan hubungannya dengan
variabel lain;
rumusan masalah hendaknya dapat diuji secara empirik, artinya dengan rumusan masalah itu
memungkinkan dikumpulkannya data untuk menjawab pertanyaan tersebut (operasional).
Selain itu, Wardhani, dkk (2007) mengingatkan bahwa Rumusan Masalah harus dirumuskan secara
operasional sehingga perbaikan pembelajaran saat PTK dilaksanakan dapat terarah. Wiriatmadja (2008)
menyarankan agar terhapus keraguan bahwa guru telah benar-benar memfokuskan permasalahan untuk
diteliti, ada baiknya guru melakukan diskusi dengan guru teman sejawat, atau meminta bantuan dosen
LPTK yang telah terbiasa menggunakan model penelitian tindakan ini.
Contoh ini, proposal atau laporan PTK mempunyai 3 rumusan masalah sekaligus.
1. Bagaimanakah aktivitas siswa kelas VII SMP Negeri 4 Danau Panggang saat mengikuti pembelajaran
yang dalam perancangannya menggunakan task analysis?
2. Bagaimanakah pengelolaan pembelajaran yang dilakukan guru saat melaksanakan pembelajaran yang
dalam perancangannya menggunakan task analysis?
3. Apakah penggunaan task analysis dapat meningkatkan hasil belajar fisika siswa kelas VII SMP Negeri 4
Danau Panggang?
(sumber: http://penelitiantindakankelas.blogspot.co.id/2012/06/ptk-cara-menulis-rumusan-
masalah.html).

f. Penelitian Pengembangan
Menurut Wayan (2009) ada 4 karateristik penelitian pengembangan antara lain :
1) Masalah yang ingin dipecahkan adalah masalah nyata yang berkaitan denganupaya inovatif atau
penerapan teknologi dalam pembelajaran
sebagai pertanggung jawaban profesional dan komitmennya terhadap pemerolehankualitas pembelajaran.
2) Pengembangan model, pendekatan dan metode pembelajaran serta media belajar yang menunjang
keefektifan pencapaian kompetensi siswa.
3) Proses pengembangan produk, validasi yang dilakukan melalui uji ahli, danuji coba lapangan secara
terbatas perlu dilakukan sehingga produk yangdihasilkan bermanfaat untuk peningkatan kualitas
pembelajaran. Proses pengembangan, validasi, dan uji coba lapangan tersebut seyogyanyadideskripsikan
secara jelas, sehingga dapat dipertanggung jawabkan secaraakademik.
4) Proses pengembangan model, pendekatan, modul, metode, dan
media pembelajaran perlu didokumentasikan secara rapi dan dilaporkan secarasistematis sesuai dengan
kaidah penelitian yang mencerminkan originalitas.Berdasarkan pendapat-pendapat diatas, maka dapat
disimpulkan bahwa
penelitian pengembangan adalah suatu proses yang digunakan untuk mengembangkan danmemvalidasi
produk-produk yang digunakan dalam pendidikan. Produk yangdihasilkan antara lain: bahan pelatihan
untuk guru, materi belajar, media, soal, dansistem pengelolaan dalam pembelajaran.

Langkah-langkan Perumusan Masalah


1. Dari teori-teori yang ada muncul sebuah kekurangan-kekurangan dari teori-teori tersebut.
2. Kekurangan tersebut lalu memunculkan kesenjangan antara teori dengankenyataan yang ada.
3. Dari kesenjangan tersebut akan memunculkan suatu masalah-masalah
4. Kemudian masalah tersebut diidentifikasi dan diseleksi yang sesuai dengankriteria masalah penelitian.
5. Setelah itu barulah masalah tersebut dituangkan dalam rumusan masalah.

Contoh rumusan masalah pengembangan


Judul Penelitian: Pengembangan Game Edukasi Pengenalan Nama Hewan Dalam Bahasa Inggris
Sebagai Media Pembelajaran Siswa SD Berbasis Macromedia Flash
Rumusan Masalah :Adapun rumusan masalah yang penulis maksudkan adalah:
1) Bagaimana pengembangan game edukasi pengenalan nama hewan dalam bahasa Inggris berbasis
Macromedia Flash sebagai media pembelajaran untukmeningkatkan hasil belajar siswa?
2) Bagaimana kelayakan game pengenalan edukasi nama hewan dalam bahasaInggris berbasis
Macromedia Flash sebagai media pembelajaran untukmeningkatkan hasil belajar siswa?
(sumber: http://id.scribd.com/doc/195422898/RUMUSAN-MASALAH-PADA-6-PENELITIAN#scribd)

g. Penelitian Kualitatif-fenomenologi
Pendekatan fenomenologis juga harus ada kerangka pemikiran dalam penelitian diantaranya yaitu :
a. Pengamatan yaitu suatu replika dari benda di luar manusia yang intrapsikis, dibentuk berdasar rangsang-
rangsang dari obyek.
b. Imajinasi yaitu suatu perbuatan (act) yang melihat suatu obyek yang absen atau sama sekali tidak ada
melalui suatu isi psikis atau fisik yang tidak memberikan dirinya sebagai diri melainkan sebagai
representasi dari hal yang lain. Dunia imajinasi berdasra aktivitas suatu kesadaran.
c. Berpikir secara abstrak. Bidang yang sangat penting dalam hidup psikis manusia ialah pikiran abstrak.
Aristoteles berpendapat bahwa pikiran abstrak berdasarkan pengamatan; tak ada hal yang dapat
dipikirkan yang tidak dulu menjadi bahan pengamatan. Dengan menghilangkan ciri-ciri khas (abstraksi)
terjadi kumpulan ciri-ciri umum, yaitu suatu ide yang dapat dirumuskan dalam suatu defenisi.
d. Merasa/menghayati. Merasa ialah gejala lain dari kesadaran mengalami. Pengalaman tidak disadari
dengan langsung, sedangkan perasaan biasanya disadari. Merasa ialah gejala yang lebih dekat pada diri
manusia daripada pengamatan atau imajinasi.
Penelitian dengan berdasarkan fenomenologi harus melihat objek penelitian dalam suatu konteks
naturalnya. Artinya seorang peneliti kualitatif yang menggunakan dasar fenomenologi melihat suatu
peristiwa tidak secara parsial, lepas dari konteks sosialnya karena satu fenomena yang sama dalam situasi
yang berbeda akan pula memiliki makna yang berbeda pula. Untuk itu dalam mengobservasi data
lapangan, seorang peneliti tidak dapat melepas konteks atau situasi yang menyertainya. Dengan kalimat
yang dikutip dari Muhajir (1990) oleh Muhammad Idrus, Muhajir menggunakan penelitian dengan
menggunakan model fenomenologi menuntut besarnya subjek penelitian dengan subjek pendukung objek
penelitian. Dengan demikian, metode penelitian dengan berlandaskan fenomenologi mengakui adanya
empat kebenaran, yaitu: kebenaran empiris yang terindra, kebenaran empiris logis, kebenaran empiris
etik, dan kebenaran transendental. Jadi dari keempat kebenaran ini tidak bisa dihapuskan dalam
penelitian fenomenologi.
(sumber: http://aksarasindo.blogspot.co.id/2013/03/pendekatan-fenomenologi-dalam-ranah.html)

h. Penelitian Kualitatif-etnografi
Menurut Creswell, secara umum prosedur penelitian etnografi adalah sebagai berikut:
Menentukan apakah masalah penelitian ini adalah paling cocok didekati dengan studi etnogafi. Seperti
telah kita bahas di atas bahwa etnografi menggambarkan suatu kelompok budaya dengan mengekloprasi
kepercayaan, bahasa dan perilaku (etnografi realis); atau juga mengkritisi isu-isu mengenai kekuasaan,
perlawanan dan dominansi (etnografi kritis).
Mengidentifikasi dan menentukan lokasi dari kelompok budaya yang akan diteliti. Kelompok
sebaiknya gabungan orang-orang yang telah bersama dalam waktu yang panjang karena disini yang akan
diteliti adalah pola perilaku, pikiran dan kepercayaan yang dianut secara bersama.
Pilihlah tema kultural atau isu yang yang akan dipelajari dari suatu kelompok. Hal ini melibatkan
analisis dari kelompok budaya.
Tentukan tipe etnografi yang cocok digunakan untuk memlajari konsep budaya tersebut. Apakah
etnografi realis ataukah etnografi kritis.
Kumpulkan informasi dari lapangan mengenai kehidupan kelompok tersebut. Data yang dikumpulkan
bisa berupa pengamatan, pengukuran, survei, wawancara, analisa konten, audiovisual, pemetaan dan
penelitian jaringan. Setelah data terkumpul data tersebut dipilah-pilah dan dianalisa.
Yang terahir tentunya tulisan tentang gambaran atau potret menyeluruh dari kelompok budaya tersebut
baik dari sudut pandang partisipan maupun dari sudut pandang peneliti itu sendiri.
(Sumber: http://chefftie.blogspot.co.id/2012/05/penelitian-etnografi.html)

i. Penelitian Kualitatif-Studi Kasus


a. Pemilihan kasus: dalam pemilihan kasus hendaknya dilakukan secara bertujuan (purposive) dan bukan
secara rambang. Kasus dapat dipilih oleh peneliti denganmenjadikan objek orang, lingkungan, program,
proses, dan masvarakat atau unit sosial. Ukuran dan kompleksitas objek studi kasus haruslah masuk akal,
sehingga dapat diselesaikan dengan batas waktu dan sumbersumber yang tersedia;
b. Pengumpulan data: terdapat beberapa teknik dalarn pengumpulan data, tetapi yang lebih dipakai dalarn
penelitian kasus adalah observasi, wawancara, dan analisis dokumentasi. Peneliti sebagai instrurnen
penelitian, dapat menyesuaikan cara pengumpulan data dengan masalah dan lingkungan penelitian, serta
dapat mengumpulkan data yang berbeda secara serentak;
c. Analisis data: setelah data terkumpul peneliti dapat mulai mengagregasi, mengorganisasi, dan
mengklasifikasi data menjadi unit-unit yang dapat dikelola. Agregasi merupakan proses mengabstraksi
hal-hal khusus menjadi hal-hal umum guna menemukan pola umum data. Data dapat diorganisasi secara
kronologis, kategori atau dimasukkan ke dalam tipologi. Analisis data dilakukan sejak peneliti di
lapangan, sewaktu pengumpulan data dan setelah semua data terkumpul atau setelah selesai dan lapangan;
d. Perbaikan (refinement): meskipun semua data telah terkumpul, dalam pendekatan studi kasus hendaknya
clilakukan penvempurnaan atau penguatan (reinforcement) data baru terhadap kategori yang telah
ditemukan. Pengumpulan data baru mengharuskan peneliti untuk kembali ke lapangan dan barangkali
harus membuat kategori baru, data baru tidak bisa dikelompokkan ke dalam kategori yang sudah ada;
e. Penulisan laporan: laporan hendaknya ditulis secara komunikatif, rnudah dibaca, dan mendeskripsikan
suatu gejala atau kesatuan sosial secara jelas, sehingga rnernudahkan pembaca untuk mernahami seluruh
informasi penting. Laporan diharapkan dapat membawa pembaca ke dalam situasi kasus kehidupan
seseorang atau kelompok.
(Sumber: https://ardhana12.wordpress.com/2008/02/08/metode-penelitian-studi-kasus/.

Sebuah desain penelitian adalah rencana sistematis sebagai kerangka yang dibuat
untuk mencari jawaban atas pertanyaan penelitian.

Desain penelitian mengacu pada strategi keseluruhan yang Anda pilih untuk
mengintegrasikan berbagai komponen penelitian dengan koheren dan logis untuk
memastikan efektifitas pemecahan masalah penelitian.

Desain penelitian adalah blue-print untuk pengumpulan, pengukuran dan analisis


data. Perhatikan bahwa masalah penelitian menentukan jenis desain yang peneliti
gunakan, bukan sebaliknya!

Kesalahan umum yang sering dibuat para peneliti adalah memulai penelitian terlalu
dini, sebelum mereka memikirkan secara kritis tentang informasi apa yang
diperlukan untuk menjawab pertanyaan penelitian.

Tanpa memperhatikan masalah desain tersebut terlebih dahulu, masalah penelitian


secara keseluruhan tidak akan memadai dan kesimpulan yang ditarik menjadi
lemah dan tidak meyakinkan. Ada beberapa tipe desain penelitian yang umum
dilakukan dalam penelitian. Berikut penjelasan singkat saja tipe-tipe desain
penelitian tersebut:

Desain Penelitian Tindakan (Action Research Design)

Esensi desain penelitian ini adalah tindakan mengikuti siklus sehingga titik fokus
adalah tindakan intervensi yang dilakukan selama waktu dalam berbagai bentuk.
Strategi intervensi baru dilakukan dan proses siklus berulang sampai masalah
terpecahkan. Protokol ini berulang-ulang atau siklus di alam untuk mendorong
pemahaman yang lebih dalam situasi tertentu dimulai dengan konseptualisasi dan
partikularisasi masalah dan bergerak melalui beberapa intervensi dan evaluasi.

Desain Studi Kasus (Case Study Design)

Studi kasus merupakan penelitian mendalam tentang masalah penelitian tertentu,


bukan survei statistik atau pertanyaan komparatif. Tujuan desain ini untuk
mempersempit bidang yang sangat luas ke dalam satu atau beberapa hal yang
spesifik

Desain Kausal (Causal Design)

Studi kausalitas dianggap sebagai pemahaman fenomena bersyarat dalam bentuk,


"Jika X, maka Y". Tujuan penelitian ini untuk mengukur dampak perubahan tertentu
terhadap norma-norma dan asumsi yang ada.

Desain Cohort (Cohort Design)

Sering digunakan dalam ilmu medis, tetapi juga ditemukan dalam ilmu sosial
terapan. Studi kohort mengacu pada penelitian yang dilakukan selama periode
waktu yang melibatkan anggota populasi atau sampel yang dipersatukan oleh
beberapa kesamaan atau kemiripan.

Desain Cross-Sectional (Cross-Sectional Design)

Desain cross-sectional memiliki tiga ciri khas yaitu ada dimensi waktu, ada
perbedaan, dan kelompok dipilih berdasarkan perbedaan. Desain cross-sectional
hanya mengukur perbedaan di antara berbagai orang, subyek atau fenomena,
bukan proses perubahan.

Desain Deskriptif (Descriptive Design)

Desain deskriptif menjawab atas pertanyaan-pertanyaan tentang siapa, apa, kapan,


di mana dan bagaimana keterkaitan dengan penelitian tertentu. Penelitian deskriptif
digunakan untuk memperoleh informasi mengenai status fenomena variabel atau
kondisi situasi.

Desain Eksperimental (Experimental Design)


Sebuah blue-print prosedur yang memungkinkan peneliti untuk mempertahankan
kontrol atas semua faktor. Dalam melakukan hal ini peneliti menentukan atau
memprediksi apa yang mungkin terjadi. Penelitian eksperimental sering
menggunakan prioritas waktu untuk konsistensi kausal dan besaran korelasi. Desain
eksperimen klasik menentukan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.

Desain Eksplorasi (Exploratory Design)

Desain eksplorasi dilakukan ketika tidak ada atau sedikit kajian penelitian atas
suatu masalah. Fokusnya adalah mendapatkan wawasan lebih ketika masalah
penelitian berada dalam tahap awal penyelidikan. Desain eksplorasi sering
digunakan untuk membangun pemahaman tentang cara terbaik untuk mempelajari
masalah atau metodologi yang paling cocok untuk mengumpulkan informasi
tentang masalah ini.

Desain Sejarah (Historical Design)

Tujuan desain ini adalah mengumpulkan, memverifikasi dan mensintesis bukti dari
masa lalu untuk membangun fakta sehingga menerima atau menolak sebuah
hipotesis. Sumber-sumber sekunder dan berbagai bukti dokumenter primer yang
otentik seperti buku harian, catatan resmi, laporan, arsip dan informasi non-tekstual
informasi (peta, gambar, audio dan rekaman visual).

Desain Longitudinal (Longitudinal Design)

Studi longitudinal mengikuti sampel yang sama dari waktu ke waktu dalam jangka
panjang dan membuat pengamatan berulang. Pengukuran diambil berkali-kali pada
setiap variabel dalam periode waktu yang berbeda.

Desain Meta-Analisis (Meta-Analysis Design)

Meta-analisis adalah metodologi analisis yang dirancang secara sistematis untuk


mengevaluasi dan merangkum hasil-hasil penelitian oleh para peneliti lain sehingga
meningkatkan ukuran sampel secara keseluruhan.

Desain Observasional (Observational Design)

Menarik kesimpulan dengan membandingkan subyek terhadap kelompok kontrol


dimana peneliti tidak memiliki kontrol atas percobaan. Ada dua jenis umum desain
ini yaitu pengamatan langsung dan pengamatan tersembunyi. Keuntungan studi
observasional memungkinkan wawasan yang berguna dalam memahami fenomena
dan menghindari kendala etis dan praktis dalam sebuah proyek penelitian besar
dan rumit.

Desain Filosofis (Philosophical Design)


Dipahami sebagai pendekatan luas untuk memeriksa masalah penelitian dari desain
metodologi, analisis filosofis dan argumentasi keras terhadap asumsi yang
mendasari. Pendekatan ini menggunakan alat-alat argumentasi yang berasal dari
tradisi filsafat, konsep, model dan teori kritis, misalnya, relevansi logika dan bukti
dalam perdebatan akademis untuk menganalisis argumen tentang isu-isu
fundamental.

Desain Sequential (Sequential Design)

Penelitian sequential dilakukan dengan sengaja pendekatan serial di mana satu


tahap akan selesai diikuti oleh tahap lainnya dan sebagainya. Setiap tahap
dibangun dari tahap sebelumnya sampai data cukup selama selang waktu untuk
menguji hipotesis.