Anda di halaman 1dari 6

HADITS TARBAWY

BAB I
PENDAHULUAN
Pada dasarnya, proses pembelajaran berkaitan erat dengan empat unsur, yaitu: pendidik
(guru), anak didik (murid), materi pelajaran, dan sisitem pengajaran. Dalam mencapai tujuan
pendidikan yang diinginkan, pendidik dan anak didik merupakan dua unsur yang saling memilki
ketergantungan. Posisi murid dalam bingkai pendidikan merupakan subyek dan sekaligus obyek.
Melihat kompleksitas posisi murid hendaknya dibekali dengan kemampuan dasar yang cukup.
Untuk mencapai harapan tersebut, maka lembaga pendidikan (baik formal maupun non-
formal) perlu mengutamakan manajemen dan penataan yang baik, serta pengelolaannnya tidak
boleh bertentangan dengan aturan-aturan al-Quran dan al-Hadits. Aturan-aturan dalam al-Quran
dan al-Hadits tersebut, disamping sebagai sumber hukum, juga menjadi sumber ilmu bagi umat
islam, bahkan umat-umat lainnya. Karena ilmu itu hakikatnya dari Allah SWT, maka harus ada etika
dalam pengaturannya.
Berkaitan dengan uraian di atas, makalah ini akan mengkaji tugas dan etika murid dalam
perspektif hadits. Agar pembahasannya tidak terlalu melebar, maka dibatasi dengan: pengertian
murid, karakteristik murid dalam perspektif hafits, tugas dan tanggung jawab murid dalam
perspektif hadits, hak-hak murid, dan etika murid
BAB II
PEMBAHASAN
TUGAS DAN ETIKA MURID
A. Pengertian Murid
Dalam bahasa Indonesia, makna siswa, murid, pelajar, dan peserta didik merupakan sinonim.
Semuanya bermakna anak yang sedang berguru (belajar, bersekolah), anak yang sedang
memperoleh pendidikan dasar dari suatu lembaga pendidikan.
Dalam bahasa Arab, term peserta didik (pelajar) diungkapkan dengan kata-kata tilmidz
( jamaknya talamidz, talamidzah) dan thalib (jamaknya thullab), yang berarti mencari sesuatu
dengan sungguh-sungguh. Kedua istilah tersebut digunakan untuk menunjukkan pelajar secara
umum. Selain tilmdz dan murid, seseorang yang sedang menempuh pendidikan diistilahkan juga
dengan thalabab, al-ilm, mutallim, thifl, dan murabba.
Berdasarkan pada pengertian di atas, dapat dikatakan bahwa anak didik merupakan semua
orang yang belajar, baik pada lembaga pendidikan secara formal maupun lembaga pendidikan non
formal.
B. Karakteristik Murid dalam Perspektif Hadits
Secara fitrah, anak memerlukan bimbingan dari orang yang lebih dewasa. Hal ini dapat
dipahami dari kebutuhan-kebutuhan dasar yang dimilki oleh setiap orang yang baru lahir, Allah swt
berfirman:

Artinya: Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui
sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur.
Dalam perspektif hadits, peserta didik mempunyai karakteristik sebagai berikut:
1. Peserta didik menjadikan Allah sebagai motivator utama dalam menuntut ilmu.
2. Senantiasa mendalami pelajaran secara maksimal, yang ditunjang dengan persiapan dan kekuatan
mental, ekonomi, fisik, dan psikis.

Artinya :
Dari Abu Hurairah r,a, ia berkata: Rasulullah saw, telah bersabda: Orang mukmin yang kuat
lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang mukmin yang lemah.
3. Senantiasa mengadakan perjalanan (rihlah, comparative study) dan melakukan riset dalam rangka
menuntut ilmu karena ilmu itu tidak hanya pada satu majlis al-ilm, tetapi dapat dilakukan di tempat
dan majelis-majelis lain.
4. Memiliki tanggung jawab
Artinya :
Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata: Rasulullah saw, telah bersabda: Barang siapa yang ditanyai
suatu imu pengetahuan, tetapi ia menyembunyikannya, maka Allah akan menyedikan baginya
kekangan dari api neraka di hari kiamat.
5. Ilmu yang dimilikinya dapat dimanfaatkan

C. Tugas dan Tanggung Jawab Murid


Tugas dan tanggung jawab dalam perspektif hadits, sebagai berikut:
1. Dalam menuntut ilmu mengutamakan ilmu yang paling besar kemaslahatannya untuk dirinya dan
umat, di dunia dan di akhirat.
2. Senantiasa mengulangi pelajaran-pelajaran karena ia beranggapan bahwa dengan pengulangan
tersebut berarti ia telah melihat betapa luas dan dalamnya ilmu yang dapat dikaji melalui ayat-ayat
Allah, dan karena ia selalu bertasbih.
3. Mengadakan riset sebagai tindak lanjut dari proses belajar.
4. Mengajarkan kembali ilmu yang telah diperolehnya kepada orang lain.
5. Ilmu itu dimanfaatkan untuk kemaslahatan dan kesejahteraan umat.
6. Ikut menanggung biaya penyelenggaraan pendidikan, kecuali bagi peserta didik yang dibebaskan
dari kewajiban tersebut sesuai dengan peraturan yang berlaku.
7. Mematuhi semua peraturan yang berlaku.
8. Ikut memelihara sarana dan prasarana serta kebersihan, ketertiban, dan keamanan di lingkungan
satuan pendidikan.
9. Belajar dengan sungguh-sungguh dan mengutamakan menuntut ilmu dari amalan sunat lainnya.[1]

D. Hak-hak Murid
1. Mempelajari dan mendapatkan ilmu sesuai dengan tingkat kemampuannya.
2. Mendapatkan perhatian dan kasih sayang secara wajar dari gurunya.
3. Mendapatkan kesempatan untuk maju dan berkembang seuai denga minat dan bakat yang
dimilikinya.
4. Mendapatkan penghargaan atas prestasi yang diraihnya, baik materil maupun non materil.
5. Mendapatkan hukuman dan ganjaran yang dilandasi dengan kasih sayang.
6. Mendapatkan pengajaran, perhatian, kasih sayang, dan motivasi penuh terutama dari orang tuanya.
7. Memperoleh pendidikan yang tertuju pada pengembangan potensi fisik dan psikisnya.

E. Etika Murid
1. Etika Murid Terhadap Dirinya
a. Berniat ikhlas karena Allah semata.
Sebelum memulai pelajaran, siswa harus lebih dahulu membersihkan dirinya dari segala sifat buruk
karena belajar itu termasuk ibadah, dan ibadah yang diterima Allah adalah ibadah yang dilakukan
dengan tulus ikhlas. Oleh karena itu, belajar yang diniatkan bukan karena Allah akan sia-sia. Nabi
SAW bersabda: artinya: Sesungguhnya amal perbuatan itu dilandasi atas niat
b. Hendaknya tujuan pendidikan itu karena takut kepada Allah SWT dan untuk mendekatkan diri
kepada Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda:

( ()
Artinya : Pelajarilah ilmu karena sesungguhnya mempelajarinya karena Allah adalah sebentuk
takut kepada-Nya.
c. Jangan meninggalkan suatu mata pelajaran sebelum benar-benar menguasainya.
d. Bersungguh-sungguh dan tekun belajar, siang dan malam, dengan terlebih dahulu mencari ilmu
yang lebih penting.
e. Tawaddu, iffah, sabar, dan tabah, wara, dan tawakal.
f. Disiplin dan selektif memilih lingkungan (pendidikan).
Islam sangat mengutamakan kedisiplinan, terutama penggunaan waktu, bahkan Allah SWT
bersumpah demi masa (waktu). Rasulullah SAW sendiri mewaspadai betul waktu, sehingga beliau
bersabda: Pergunakanlah lima kesempatan sebelum datang lima kesempitan: sehatmu sebelum
sakitmu, waktu lapangmu sebelum waktu sempitmu, masa mudamu sebelum masa tuamu, masa
kayamu sebelum masa miskinmu, dan waktu hidupmu sebelum matimu. (H.R. Baihaqi)
Kemudian murid juga selektif dalam membentuk lingkungan pergaulan, karena lingkungan turut
membentuk corak pendidikan, perilaku, dan pola pikir seseorang. Seperti sabda Nabi SAW:
Artinya: Perumpamaan sahabat yang baik dan sahabat yang buruk itu bagaikan pembawa misik
(kasturi) dan penyulut api. Pembawa kasturi terkadang memberi kepadamu atau kau membeli
dirinya, atau (paling tidak) kamu mencium bau harumnya. Adapun penyulut api, kalau tidak
membakar pakaianmu, maka kamu mendapat bau baranya.

2. Etika Murid Terhadap Gurunya


a Hendaklah murid menghormati guru, memuliakan serta mengagungkannya karena Allah, dan
berdaya upaya pula menyenangkan hati guru dengan cara yang baik.
b Bersikap sopan di hadapan guru, serta mencintai guru karena Allah.
c Selektif dalam bertanya dan tidak berbicara kecuali setelah mendapat izin dari guru.
d Mengikuti anjuran dan nasehat guru.
e Bila berbeda pendapat dengan guru, berdiskusi atau berdebat lakukanlah dengan cara yang baik.
f Jika melakukan kesalahan, segera mengakuinya dan meminta maaf kepada guru.
g Hendaknya murid memilih guru yang tidak hanya betul-betul menguasai bidangnya, tetapi juga
mengamalkan ilmunya dan berpegang teguh kepada agamanya. Sabda Nabi SAW:

Artinya:
Tidak boleh menuntut ilmu kecuali dari guru yang amin dan tsiqah (mempunyai kecerdasan kalbu
dan akal) karena kuatnya agam adalah dengan ilmu.
Selain itu, Dalam kitab Ilmu wa Adab al-Alim wa al- Mutaallim dikatakan bahwa sikap murid
sama dengan sikap guru, yaitu sikap murid sebagi pribadi dan sikap murid sebagai penuntut ilmu.
Sebagai pribadi seorang murid harus bersih hatinya dari kotoran dan dosa agar dapat dengan mudah
dan benar dalam menangkap pelajaran, menghafal dan mengamalkannya.[2]Hal ini sejalan dengan
sabda Rasulullah saw:

Ingatlah bahwa dalam jasad terdapat segumpal daging, jika segumpal daging tersebut sehat,
maka sehatlah seluruh perbuatannya, dan jika segumpal daging itu rusak, maka rusaklah seluruh
awalnya. Ingatlah bahwa segumpal daging itu adalah hati.
Selanjutnya menurut Imam Ghazali, ada sepuluh kriteria yang harus diupayakan oleh anak
didik, diantaranya yaitu:
1. Sebelum memulai proses belajar, anak didik harus terlebih dahulu menyucikan jiwa dari perangai
buruk dan sifat tercela.
2. Semampu mungkin anak didik harus menjauhkan diri dari ketergantungan terhadap dunia.
3. Anak didik harus selalu bersikap rendah hati, memperhatikan instruksi dan arahan pendidik, dan
mampu mengontrol emosinya.
4. Anak didik harus menghindarkan diri dari suasana perdebatan yang membingungkan.
5. Seorang anak didik harus mmpunyai semangat mempelajari semua ilmu pengetahuan yang layak
dipelajari sebagai konsekuensi adanya keterkaitan antardisiplin ilmu pengetahuan.
6. Anak didik harus belajar secara gradual. Ia perlu menentukan skala prioritas ilmu pengetahuan
dengan mengacu kepada manfaatnya, dalam hal ini adalah ilmu agama.
7. Anak didik harus memahami hirarki ilmu pengetahuan.
8. Anak didik harus memahami nilai ilmu pengetahuan yang dipelajari dan menentukan mana yang
lebih utama dari yang lain.
9. Anak didik mempunyai orientasi atas pendidikannya; tujuan jangka pendek, yaitu memperbaiki dan
membersihkan jiwanya; sedangkan orientasi jangka panjang adalah mendekatkan diri pada Allah
swt dan berusaha menaikkan derajatnya setara dengan malaikat.
10. Anak didik harus hati-hati dalam memilih sosok pendidik demi kelangsungan proses belajar
yang positif.[3]
BAB III
KESIMPULAN
1. Keseluruhan istilah anak didik dalam perspektif hadits mengacu pada satu pengertian, yaitu orang
yang sedang menuntut ilmu, tanpa membedakan ilmu agama atau ilmu umum.
2. Karakteristik peserta didik dalam perspektif hadits adalah: peserta didik menjadikan Allah sebagai
motivator utama dalam menuntut ilmu, mendalami pelajaran secara maksimal, mengadakan
perjalanan (rihlah, comparative study) dan melakukan riset, bertanggung jawab mengajarkan
ilmunya kepada orang lain, dan ilmu itu harus dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat dan agama.
3. Tugas dan tanggung jawab murid adalah: mengutamakan ilmu yang mempunyai kemaslahatan
paling besar untuk agama umat dan kehidupan akhirat, mengulangi pelajaran, ikut bertanggung
jawab pada pendanaan pendidikan jika ia mampu, mematuhi peraturan yang berlaku,
mengutamakan menuntut ilmu dari pada amalan sunat lainnya, dan lain-lain.
[1] Abuddin, Nata, Pendidikan Dalam Persepektif Hadits, (Jakarta: UIN Jakarta Press,
20050, Cet. Ke-I, hl.249-260
[2]Abudin, Nata, Persepektif Islam Tentang Pola Hubungan Guru-Murid, (Jakarta: Rajawali Press,
2001), Cet. Ke-1, hl.102
[3] Asrorun, Niam Sholeh, Reorientasi Pendidikan Islam, (Jakarta: Elsass, 2006), Cet. Ke-3,
hl.75-77