Anda di halaman 1dari 47

MAKALAH PENYAKIT GINEKOLOGI

Di susun untuk memenuhi tugas Fundamental and Pathophisiologi of


Reproduksi System

Yang dibimbing oleh Ns. Laily Yuliatun, S.Kep, M.Kep

Anggota kelompok :

Haris fadjar setiawan (125070218113056)

Keyfin Aliffah Rizal Kasdianto (125070218113044)

Muchamat Dafit F F (125070218113033)

Sasmito Utomo (125070218113062)

Wahyu Sukma Samudera (125070218113015)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2015

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas


rahmat-Nya maka kami dapat menyelesaikan makalah Fundamental
and Pathophysiologi of Reproduksi System tepat pada waktunya.
Dalam Penulisan makalah ini kami merasa masih banyak
kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi,
mengingat akan kemampuan yang kami miliki. Untuk itu kritik dan saran
dari pihak penulis sangat diharapkan demi penyempurnaan pembuatan
makalah ini.

Dalam penyusunan makalah ini kami menyampaikan ucapan terima


kasih yang tak terhingga kepada pihak-pihak yang membantu dalam
menyelesaikan makalah ini, khususnya kepada :

1. Ns. Laily Yuliatun, S.Kep, M.Kep selaku dosen pembimbing


pada mata kuliah Fundamental and Pathophysiologi of Reproduksi
System.
2. Orang tua dan semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu
persatu, yang telah memberikan bantuan dalam penulisan
makalah ini.

Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca, oleh karena itu


kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun penulis
harapkan demi mencapai kesempurnaan makalah penulis berikutnya.

Sekian penulis sampaikan terimakasih kepada semua pihak yang


telah membantu. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha
kita. Amin.

Kediri, 28 agustus 2015

,,,,,,,,,,,,

Penulis

2
DAFTAR ISI

Kata Pengantar...................................................................................................
2
Daftar Isi..............................................................................................................
3

Bab I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang...........................................................................................
4
1.2 Rumusan Masalah.....................................................................................
4
1.3 Tujuan........................................................................................................
5

Bab II Pembahasan
2.1 CA MAMAE................................................................................................
6
2.2 CA serviks................................................................................................
15
2.3 CA ovarium...............................................................................................
26
2.4 Mioma uteri...............................................................................................
32
2.5 Kista ovarium...........................................................................................
40

Bab III Penutup


Kesimpulan.......................................................................49

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kanker adalah penyakit yang paling menakutkan, tidak saja pada
wanita tetapi juga pada pria dan anak-anak. Tanggal 4 Februari
diperingati sebagai Hari Kanker sedunia. Pada tahun 2007 dan 2008,
peringatan hari kanker sedunia memfokuskan perhatian terhadap
kanker pada anak. Di Indonesia, saat ini sudah ada yayasan Onkologi
anak Indonesia yang memiliki selogan Kanker pada Anak dapat
diobati dan diupayakan sembuh bila ditemukan lebih dini.
Kanker adalah penyakit akibat pertumbuhan tidak normal dari sel-
sel jaringan tubuh yang berubah jadi sel kanker. Dalam
perkembangannya, sel-sel kanker ini dapat menyebar kebagian tubuh
lain sehingga dapat menyebabkan kematian.
Kanker sering dikenal masyarakat sebagai tumor, padahal tidak
semua tumor adalah kanker. Tumor adalah segala benjolan tidak
normal yang bukan radang.
Pada makalah ini kami akan membahas mengenai skrining untuk
keganasan dan penyakit sistemik yang meliputi : kanker leher
rahim/serviks ; kanker endometrium ; kanker payudara ; serta cara
pencegahannya yang meliputi Pap Smear, IVA, dan Sadari.
Kanker pada alat reproduksi masih menduduki peringkat pertama
kanker pada wanita. Dua per tiga kasus kanker di dunia terjadi di
negara berkembang, termasuk Indonesia. Kanker bisa disembuhkan
jika dideteksi sejak dini. Karenanya, setiap wanita perlu mengenali
gejala dan memeriksakan diri.

4
1.2 Rumusan Masalah

1.1.1 Apa yang dimaksud dengan ca mamae,ca serviks,ca


ovarium, kista ovarium, mioma uteri ?
1.1.2 Bagaimana epidemiologi dari ca mamae,ca serviks,ca
ovarium, kista ovarium, mioma uteri?
1.1.3 Apa saja etiologi dari ca mamae,ca serviks,ca ovarium, kista
ovarium, mioma uteri?
1.1.4 Apa saja klasifikasi dari ca mamae,ca serviks,ca ovarium,
kista ovarium, mioma uteri?
1.1.5 Bagaimana manifestasi dari ca mamae,ca serviks,ca ovarium,
kista ovarium, mioma uteri?
1.1.6 Bagaimana patofisiologi dari ca mamae,ca serviks,ca
ovarium, kista ovarium, mioma uteri?
1.1.7 Apa saja pemeriksaan diagnostik dari ca mamae,ca
serviks,ca ovarium, kista ovarium, mioma uteri?
1.1.8 Apa saja faktor resiko dari ca mamae,ca serviks,ca ovarium,
kista ovarium, mioma uteri?
1.1.9 Apa saja tanda dan gejala dari ca mamae,ca serviks,ca
ovarium, kista ovarium, mioma uteri?
1.1.10 Bagaimana penatalaksanaan dari ca mamae,ca serviks,ca
ovarium, kista ovarium, mioma uteri?

1.3 Tujuan

Makalah ini ditulis dengan tujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah
Fundamental and Pathophysiologi of Reproduksi System dan untuk
menambah Ilmu pengetahuan tentang penyakit-penyakit pada sistem
reproduksi. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua

5
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 CA mamae

2.1.1 Definisi

Kanker payudara adalah tumor ganas yang menyerang


jaringan [ayudara. Jaringan ini tersebut terdiri dari kelenjar susu
( kelenjar pembuat susu),saluran kelenjar ( saluran air susu), dan
jaringan penunjang payudara. Kanker payudara tidak menyerang
kulit payudara yang berfungsi sebagai pembungkus. Kanker
payudara menyebabkan sel dan jaringan payudara berubah bentuk
menjadi abnormal dan bertambah banyak secara tidak terkendali.

Kanker payudara merupakan penyakit yang di takuti oleh


kaum wanita. Meskipun demikian, berdasarkan penemuan terakhir
laum pria pun dapat terkena kanker payudara. Di Indonesia sendiri
kanker payudara merupakan kanker kedua paling banyak di derita
oleh kaum wanita setelah kanker mulut/leher rahim.

2.1.2 Epidemiologi

Kanker payudara sering ditemukan diseluruh dunia dengan


insidens relatif tertinggi dan cenderung meningkat 20 % dari
seluruh keganasan dan 99 % terjadi pada wanita, sedangkan pada
laki-laki hanya 1 %, sehingga kanker payudara masih merupakan
salah satu masalah kesehatan utama pada wanita.

Menurut WHO tahun 2008, dari 600.000 kasus kanker payudara


baru di diagnosis setiap tahunnya, sebanyak 350.000 diantaranya

6
ditemukan di negara maju, sedangkan 250.000 dinegara sedang
berkembang.

Di Amerika serikat diperkirakan setiap tahunnya 175.000 wanita


terdiagnosis menderita kanker payudara dengan proporsi 32 % dari
seluruh jenis kanker yang menyerang wanita dan proporsi umur
tertinggi yaitu pada kelompok umur > 50 tahun dengan proporsi 65
%. Di kanada tahun 2005 jumlah penderita kanker payudara
mencapai 21.600 wanita dan 5.300 wanita meninggal dunia

2.1.3 Etiology

Menurut brunner and suddart (2002), tidak ada satupun


penyebab spesifik dari ca mamae, sebaliknya serangkaian genetik,
hormonal, dan kemungkinan faktor lingkungan dapat menunjang
terjadinya ca mamae. Sedangkan menurut moningkey dan kodim,
penyebab ca mamae belum diketahui, tetapi banyak faktor yang
diperkirakan memliki pengaruh terhadap terjadinya ca mamae.

2.1.4 Klasifikasi

Ada 2 macam klasifikasi kanker payudara, yaiu klasifiksi patologik


dan klasifikasi klinik

1. Klasifikasi Patologik
a. Kanker putting payudara (pagets disease)
Pagets disease adalah bentuk kanker yang dalam taraf
permulaan manifestasinya sebagai eksema menahun putting
susu, yang biasanya merah dan menebal
b. Kanker duktus laktiferus : papillary, comedo, adeno carcinoma
dengan banyak fibrosis (scirrhus), medullary carcinoma dengan
infiltrasi kelenjar

7
c. Kanker dari lobules
Ini yang timbul sering sebagai carcinoma in situ dengan lobules
yang membesar

2. Klasifikasi Klinik
Dulu klasifikasi klinik disebut klasifikasi Steinthal
a. Steinthal I
Kanker payudara besarnya sampai 2 cm dan tidak mempunyai
anak sebar
b. Steinthal II
Kanker payudara besarnya 2 cm atau lebih dengan mempunyai
anak sebar di kelenjar ketiak
c. Steinthal III
Kanker payudara besarnya 2 cm atau lebihdengan anak sebar
di kelenjar ketiak, infra dan supraklavikular atau infiltrasi ke fasia
pektolaris atau ke kulit
d. Steinthal IV
Kanker Payudara dengan metastase jauh, ini telah menyebar ke
organ organ seperti paru paru, tulang punggung, hati

2.1.5 Manifestasi Klinis

1. Terabanya benjolan atau penebalan payudara,biasanya tidak


nyeri.
2. Pengeluaran rabas dari puting payudara ,berdarah atau serosa.
3. Cekungan atau perubahan kulit payudara.
4. Asimetri payudara.
5. Retraksi atau adanya skuama pada puting payudara.
6. Tanda-tanda stadium lanjut yaitu nyeri ,pembentukan ulkus dan
edema.

2.1.6 Komplikasi

1. Gangguan neurovaskuler
2. Metastasis : otak, paru, hati, tulsng tengkorak, tulang iga,
tulang vertebrae, tulang panjang
3. Fibrosis payudara
4. Kematian

8
2.1.7 Patofisiologi

9
2.1.8 Pemeriksaan Diagnostik

10
1. Pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) untuk melihat adanya
keadaan tidak normal pada payudara sendiri.Jika sadaro dilakukan
secara rutin,seseorang wanita akan dapat menemukan benjolan
pada stadium dini.Sebaiknya sadari dilakukan pada waktu yang
sama setiap bulan.Bagi wanita yang masih mengalami
menstruasi,waktu yang paling tepat untuk melakukan sadari
adalah 7-10 hari sesudah hari pertama menstruasi.Bagi wanita
pascamenopause,sadari bisa dilakukan kapan saja,tetapi secara
rutin dilakukan setiap bulan(misalnya setiap awal bulan).

2. Pemeriksaan fisik,dapat berupa pemeriksaan visual


(penglihatan) dapat pula berupa palpasi berupa( perbaan).
3. Mamograf,pada mamograf digunakan sinar x dosis rendah untuk
menemukan daerah yang abnormal pada payudara.Para ahli
mengajurkan kepada setiap wanita yang berusia di atas 40 tahun
untuk melakukan mamograf secra rutin setiap 1-2 tahun pad usia
50 tahun ke atas mamograf dilakukan sekali/tahun.
4. USG digunakan untuk membedakan kista (kantung berisi cairan )
dengan benjolan padat.
5. Termografi,pada termografi digunakan suhu untuk menemukan
kelainan pada payudara.
6. Biopsi,merupakan pemeriksaan histopatologik (jaringan)yang
dapat berupa eksisional (seluruh massa diangkat) atau insisional
(sebagian massa dibuang).Analisa mikroskopik dari specimen
menyatakan ada atau tidaknya keganasan.

2.1.9 Faktor Resiko

Sampai saat ini penyebab pasti kanker payudara belum


diketahui. Namun, ada berbagai faktor resiko yang berhubungan
dengan kanker payudara,beberapa dia antaranya adalah sebagai
berikut :

1. Faktor hormon : yang diduga memegang peranan dalam


proses kejadian tumor ini adalah faktor hormon estrogen.
Namun, bagaimana mekanisme kejadiannya belum jelas

11
diketahui. Akan tetapi pemberian hormon estrogen dan
progesteron pada penggunaan alat kontrasepsi belum terbukti
berpengaruh meningkatkan angka kejadian kanker payudara
kecuali pemakaian kontrasepsi oral pada usia muda. Penelitian
membuktikan bahwa wanita usia dini (remaja) yang memakai
kontrasepsi oral sangat beresiko tinggi terserang kanker
payudara.
2. Pernah menggunakan obat hormonal yang lama, seperti terapi
sulih hormon atau hormonal replacement therapy (HRT) dan
pengobatan infertilitas.
3. Pemakaian kontrasepsi oral pada penderita tumor jinak
payudara seperti kelainan fibrokistik
4. Wanita bekerja pada malam hari. Pusat Hutchison Cancer di
seatle AS, menyebutkan bahwa wanita yang bekerja malam
hari mempunyai peluang 60% terkena kanker payudara.
Cahaya lampu yang kusam pada malam hari dapat menekan
produksi melatonin noctural pada otak sehingga hormon
estrogen yang di produksi oleh ovarium meningkat. Padahal
diketahui melatonin dapat menekan sel kanker payudara.
5. Fakror usia : wanita berusia di atas 30 tahun ,wanita yang
mendapatkan haid pertama pada umur kurang dari 10 tahun,
dan wanita yang mengalami menopause setelah usia 50
tahun,mempunyai kemungkinan lebih besar mengalami kanker
payudara.
6. Wanita yang tidak pernah melahirkan anak.
7. Wanita yang melahirkan anak pertama sesudah usia 35 tahun.
8. Wanita yang tidak pernah menyusui anak.
9. Pernah dilakukan terapi radiasi pada daerah dada dan sekitar
payudara.
10. Riwayat keluarga : beberapa riwayat keluarga yang dianjurkan
untuk deteksi dini yaitu ibu atau saudara perempuan terkena
kanker payudara atau kanker yang berhubungan dari ibu atau
ayah,kanker ovarium,endometrium,kolorektal,prostat,tumor
otak,leukimia,dan sarkoma.

12
11. Pernah mengalami infeksi,trauma atau benturan,operasi
payudara akibat tumor jinak (kelainan fibroklastik dan
fibroadenoma) atau tumor ganas payudara kontralateral.
12. Wanita yang terlalu banyak mengkonsumsi alkohol.
13. Wanita yang pernah mendapatkan radiasi sebelumnya pada
payudara atau dinding dada untuk pengobatan keloid.

2.1.10 Penatalaksanaan

1. Kanker payudara dapat dihilangkan melalui proses


pembedahan.Prosedur ini tergantung pada tahapan
penyakit(stadium kanker),umur,dan kondisi kesehatan pasien
secara umum.Alternatif pengangkatan yang biasa dilakukan
oleh para ahli bedah,yakni pengangkatan tumor:
(lumpectomy),pengangkatan sebagian payudara yang
mengandung sel kanker,
(mastectomy ) seluruh jaringan payudara diangkat,tetapi otot
bawah payudara dibiarkan utuh dan disasakn kulit yang cukup
untuk menutup luka bekas operasi.Rekontruksi payudara lebih
mudah dilakukan jika otot dada dan jaringan lain di bawah
payudara dibiarkan utuh.
(Kuadrantektomi) pengangkatan seperempat bagian
payudara,pengangkatan tumor dan beberapa jaringan normal di
sekitarnya memberikan peluang terbaik untuk mencegah
kambuhnya kanker.

2. Terapi radiasi adalah pengobatan menggunakan sinar-x


intensitas tinggi untuk membunuh sel kanker yang tidak terangkat
saat pembedahan dengan harapan dapat menurunkan angka
kekambuhan pada payudara maupun pada kelenjar getah bening di
sekitar payudara.

3. Terapi hormon dapat menghambat pertumbuhan tumor yang


peka hormon dan dapat dipakai sebagai terapi pendamping untuk
mencegah kekambuhan setelah pembedahan atau pada stadium

13
akhir ketika kanker sudah menyebar ke tempat lain.Tamoksifen
adaah obat penghambat hormon yang bisa diberikan sebagai terapi
lanjutan setelah pembedahan.

4. Kemoterapi yakni dengan menggunakan zat kimia atau obat-


obatan.salah satu jenis obat yang bisa digunakan adalah
capecitabine.Pengobatan secara kemoterapi yanglazim dilakukan
umumnya berfungsi menghambat terjadinya pembelahan sel
dengan cara membunuh sel kanker.

5. Rekontruksi payudara bisa digunakan implant silicon atau salin


maupun jaringan yang di ambil dari bagian tubuh lainnya

2.2 CA serrviks

2.2.1 Definisi

Kanker serviks adalah kanker yang berasal atau tumbuh dari


sel-sel serviks, yaitu dapat berasal dari sel-sel di rahim tetapi dapat
pula tumbuh dari sel-sel mulut rahim atau keduanya yang
diakibatkan oleh HPV (Human Papilloma Virus) , khususnya virus
HPV tipe 16 dan tipe 18.

2.2.2 Epidemiologi

14
Kanker serviks merupakan jenis kanker terbanyak diderita
perempuan diindonesi. Menurut data 83% penderita kanker serviks
terdapat dinegara-negara sedang berkembang. 510.000 orang
wanita diidagnosis terkena kanker serviks, 280.000 diantaranya
meninggal dunia. Menurut data WHO setiap dua menit wanita
meninggal dunia karena kanker serviks dinegara berkembang. Di
Indonesia, kasus baru kanker serviks ditemukan kasus per hari.
Perempuan Indonesia sangat tinggi risikonya terkena kanker serviks,
disebabkan banyak wanita Indonesia yang miskin dan tidak mampu
mencukupi kebutuhan gizi sehat sehingga sistem kekebalan
tubuhnya lemah.
Yayasan kanker Indonesia memaparkan, angka kematian
kanker serviks terbanyak diantara jenis kanker lain dikalangan
perempuan. Diperkirakan, 52 juta perempuan Indonesia beresiko
terkena kankert serviks, sementara 36 persen perempuan dari
seluruh penderita kanker asalah pasien kanker serviks.
Angka harapan lima tahun jika kanker ini diketahui dan diobati
pada stadium 1 adalah 70-75 persen, pada stadium 2 adalah 60
persen, pada stadium 3 tinggal 25 %, dan pada stadium 4 penedrita
sulit diharapkan bertahan. 99,7 % kanker serviks disebabkan oleh
HPV onkogenik. HPV 16 dan 18 merupakan penyebab utama pada
70% kasus kanker serviks didunia. Semua perempuan tanpa
memandang usia dan latar belakang beresiko terkena kanker
serviks.
2.2.3 Klasifikasi
Lebih dari 90% karsinoma serviks merupakan jenis sel
skuamosa. Karsinoma sel skuamosa dibagi kembali menjadi tipe
keratinisai, nonkeratinisai dan tipe small cell berdasarkan gambaran
histologisnya. Adenokarsinoma dan karsinoma adenokuamosa
menempati bagian terbesar dari kanker serviks (11% sampai 16%),
terutama pada wanita berusia dibawah 35 tahun.
1. Stadium 1 kanker terbatas pada serviks
IA : Terdeteksi kanker invasive hanya mikroskopis.
IA1 : Invasive dengan kedalam kurang dari 3mm dann lebar
kurang dari 5mm.

15
IA2 : Invasive dengan kedalaman lebih dari 3mm tetapi kurang
dari 5mm, dan lebar kurang dari 7mm.
IB : Kanker dapat terlihat jelas dipermukaan serviks
IB1 : Kanker dileher rahim kurang dari 4 cm
IB2 : Kanker dileher rahim lebih besar dari 4 cm
2. Stadium II penyebaran ke struktur yang berdekatan
IIA : Menyebar kebagian vagina
IIB : Menyebar membujur dinding panggul
3. Stadium III berkembang lebih luas tetapi masih dalam panggul
IIIA : Kanker berkembang panjang kedaerah vagina yang lebih
rendah
IIIB : Kanker berkembang panjang ke dinding panggul, hingga
menghambat saluran kencing.
4. Stadium IV menyebar luas dan melibatkan organ panggul
IVA : Meliputi bagian dalam kandung kemih atau rectum
IV B : Metastasis jauh hingga kebagian paru-paru, hati atau
tulang.

2.2.4 Faktor Resiko


1. Merokok : tembakau merusak sistem kekebalan dan
mempengaruhi kemampuan tubuh untuk melawan infeksi HPV
pada serviks. Varian yang sangat berbahaya adalah HPV tipe
16, 18, 45, dan 56.
2. Sering berganti ganti pasangan seksual.
3. Hubungan seksual yang dilakukan pada usia dini dibwah 20
tahun
HPV, ini merupakan virus penyebab kutil genetalis ( kondiloma
akuminata ) yang ditularkan melalui hubungan seksual.
4. Infeksi herpes atau infeksi klamidia menahun.
5. Pemakaian DES ( dietilstilbestrol ) pada wanita hamil untuk
mencegah keguguran ( ini banyak digunakan pada tahun 1940-
1970.

2.2.5 Manifestasi Klinis


Gejala awal pada stadium lanjut:
1. Keputihan yang tidak kunjung sembuh walaupun sudah diobati
2. Nyeri pada perut bawah
3. Perdarahan yang terjadi setelah senggama
4. Perdarahan spontam pervaginam

Gejala yang lebih lanjut:


1. Keluar cairan kekuning-kuningan, berbau atau bercamput darah

16
2. Tidak dapat buang air kecil (sumbatan saluran kencing)
3. Sakit ketika melakukan hubungan seksual
4. Berat badan turun dan hilang nafsu makan
5. Nyeri panggul (kanker yang mengisi panggul)
6. Sakit punggung (penyebaran kanker sampai ke tulang)
7. Batuk-batuk (penyebaran ke paru)

2.2.6 Komplikasi
1. Pada kanker serviks yang sudah mengalami metastasis ke
berbagai organ , akan menyebabkan fungsi dari organ yang
terkena terganggu.
2. Kegagalan fungsi reproduksi akibat dari pengobatan
pembedahan atau pun radiasi.
3. Seorang wanita hamil yang didiagnosis dengan kanker serviks
mungkin berisiko mengalami kerusakan pada janin jika
pengobatan dimulai selama kehamilan.

17
2.2.7 Patofisiologi

-Berhubungan sexs<17 Proses Dysplasia serviks Ca.Serviks


thn. metaplasi
-Merokok. Tahap Awal Tahap Lanjut Terapi
-Higene seks yang
kurang.
Pembesar
-Virus HIV. Nekrosis jaringan Menyebar ke pelviks
an Masa
serviks
-Sering melahirkan
dengan persalinan
bermasalah.
Penipisan
Tekanan Intra
-Berganti-ganti Malu sel epitel
Pelvik
pasangan.
Hambatan interaksi
Rusaknya
sosial
Nyeri akut Tekanan intra permeabilitas
abdomen pembuluh
darah

18
Pembentukan asam Metabolisme Perdarahan
laktat anaerob

Resiko
Anemia
Kelelahan Suplai O2 kekurangan
turun volume
cairan

Defisit perawatan Hb turun Imunitas Resiko


diri menurun Infeksi

Radiasi Kemoterapi Pembedahan

Pre Post

Mempercepat
Pre Post
pertumbuhan sel
Kurang Aktivita
normal
Pengetahu s fisik
an terbata
s
Defisiensi
Pengetahu
an

19
anxietas Memperpe Anxietas Intoler
ndek usia an
akar aktivit
rambut

Alopecia Gangguan
citra tubuh

Kompre
Peningkatan gastroin Perkemih
si pada
pemanasan testinal an
RES
pada
epidermis
kulit

20
Peningkatan Anemia
Cystitis
tekanan gaster

Leukosi
Eritema, Mual, muntah Ganggua
t
pecah- n
menuru
pecah, eliminasi
kering, urin
puiritis
Resiko
anoreksia infeksi

Kerusaka
n
integritas Ketidakseimba
kulit ngan nutrisi
kurang dari
kebutuhan

21
2.2.8 Pemeriksaan Diagnostik
1. Pap Smear
Pap Smear adalah sebuah metode pemeriksaan cairan lendir serviks.
Dengan menggunakan spatula, dinding sel endoserviks dan eksoserviks
diambil untuk kemudian dilakukan pemeriksaan dibawah mikroskop. Hasil
pemeriksaan pap smear adalah sebagai berikut (Prayetni,1999):

a. Normal.

b. Displasia ringan (perubahan dini yang belum bersifat ganas).

c. Displasia berat (perubahan lanjut yang belum bersifat ganas).

d. Karsinoma in situ (kanker terbatas pada lapisan serviks paling luar).

e. Kanker invasif (kanker telah menyebar ke lapisan serviks yang lebih dalam
atau ke organ tubuh lainnya.

2. Kolposkopi
Kolposkopi dilakukan apabila ditemukan kelainan pada pap smear atau
pada wanita yang mengeluh gejala yang mengarah ke kanker atau
keganasan. Spekulum diletakan ke dalam vagina untuk membantu pemeriksa
melihat serviks lebih dalam. Selanjutkan vagina akan diperiksa menggunakan
alat kolospok yang mempunyai lensa pembesar untuk melihat permukaan
serviks lebih dekat dan jelas. Apabila ditemukan abnormal, maka dilakukan
biopsi.
3. Biopsi
Biopsi dilakukan jika pada pemeriksaan panggul tampak suatu
pertumbuhan atau luka pada serviks, atau jika hasil pemeriksaan pap smear
menunjukkan suatu abnormalitas atau anker. Biopsi ini dilakukan untuk
melengkapi hasil pap smear. Teknik yang biasa dilakukan adalah punch
biopsy yang tidak memerlukan anestesi dan teknik cone biopsy yang
menggunakan anestesi. Biopsi dilakukan untuk mengetahui kelainan yang
ada pada serviks. Jaringan yang diambil dari daerah bawah kanal servikal.
Hasil biopsi akan memperjelas apakah yang terjadi itu kanker invasif atau
hanya tumor saja (Prayetni, 1997) dan juga dapat menyimpulkan apakah
kelainan termasuk pra-kanker, kanker atau keduanya.
22
4. Tes Schiller
Pada pemeriksaan ini serviks diolesi dengan larutan yodium. Pada
serviks normal akan membentuk bayangan yang terjadi pada sel epitel
serviks karena adanya glikogen. Sedangkan pada sel epitel serviks yang
mengandung kanker akan menunjukkan warna yang tidak berubah karena
tidak ada glikogen ( Prayetni, 1997).
5. Radiologi
Pemeriksaan intravena urografi, yang dilakukan pada kanker serviks
tahap lanjut, yang dapat menunjukkan adanya obstruksi pada ureter terminal.
Pemeriksaan radiologi direkomendasikan untuk mengevaluasi kandung kemih
dan rektum yang meliputi sitoskopi, pielogram intravena (IVP), enema barium,
dan sigmoidoskopi. Magnetic Resonance Imaging (MRI) atau scan CT
abdomen / pelvis digunakan untuk menilai penyebaran lokal dari tumor dan /
atau terkenanya nodus limpa regional (Gale & charette, 1999).

2.2.9 Penatalaksanaan Medis


1. Pengobatan
a. Operasi
Pada prinsipnya, operasi sebagai pengobatan kanker leher
rahim dilakukan apabila kanker belum menyebar. Bila tumor masih
berada didalam jaringan servik dan ukurannya masih kurang dari
3mm.maka dilakukan operasi ekstra facial histerektomi. Biasa nya
operasi dengan cara ini pada penderita tingkat klinik seperti ini.
Resiko kambuh dan penyebaran ke kelenjar getah bening adalah
kurang dari 1%.kanker serviks tingkat 1A2, 46 1B, atau dilakukan
operasi pengangkatan rahim secara total berikut kelenjar getah
bening sekitarnya ( radikal histerektomi ). Secara umum pengobatan
kanker leher rahim adalah:
1) Penyinaran ( radioterapi )
2) Pengobatan dengan zat kimia
3) Cara operasi ke tiga cara pengobatan tersebut bisa dilakukan slah satu
atau kombinasi.
o Tidak semua kanker rahim berhasil baik dengan cara pengobatan
tersebut. Pada kanker rahim stadium lanjut, 1/3 penderita kankernya
tumbuh lagi setelah pengobatan. Kekambuhan terjadi pada 1-2 tahun
setelah pengobatan dihentikan. Penyebaran kanker biasanya ke
vagina bagian atas rahim dan organ lain dirongga panggul. Kanker ini

23
tumbuh lagi pada bagian atas vagina setelah dilakukan operasi
pengangkatan rahim ( histerektomi ).
2.2.10 Pencegahan
a. Penggunaan kondom bila berhubungan seks dapat mencegah
penularan penyakit infeksi menular seperti gonorrhe, clamidia, dan
HIV/AIDS.
b. Menghindari merokok, meningkatkan derajat kesehatan secara
umum dan mencegah CIN (cervical intra epithelial neoplasia) atau
pertumbuhan sel epitel kearah ganas dan kanker leher rahim.(yatim,
f: 2005)

24
2.3 CA OVARIUM
2.3.1 Definisi
Kanker ovarium adalah terjadinya pertumbuhan sel-sel tidak lazim (kanker)
pada satu atau dua bagian indung telur. Indung telur sendiri merupakan salah
satu organ reproduksi yang sangat penting bagi perempuan. Organ reproduksi ini
dihasilkan telur atau ovum, yang kelak bila bertemu sperma akan terjadi
pembuahan (kehamilan). Indung telur juga merupakan sumber utama penghasil
hormon reproduksi perempuan, seperti hormon estrogen dan progesteron.
Kanker ovarium dengan berbagai tipe histologi, yang dapat mengenai semua
umur.

2.3.2 Etiologi

2.3.4 Epidemiologi
Di Amerika Serikat, angka kejadian kanker ovarium adalah 33 kasus per
100.000 wanita berusia 50 tahun atau lebih. Usia pasien rata-rata pada saat
diagnosis adalah 57 tahun. Risiko seumur hidup yang diperkirakan adalah 1
kasus di 70 wanita, yang merupakan kejadian seumur hidup 1,4%.
The American Cancer Society memperkirakan bahwa akan ada 21.880 kasus
baru kanker ovarium pada tahun 2010 dan 13.850 kematian dari penyakit ini. [14]
The 2010 perkiraan 21.880 kasus dan 13.850 kematian. Kanker ovarium epitel
adalah kanker yang paling umum kedelapan pada wanita, dan rahim (korpus dan
endometrium) yang keempat. Ovarium adalah kesembilan situs yang paling
umum dari kanker pada wanita, terhitung sekitar 3% dari semua kasus baru,

25
tetapi kanker ovarium menyebabkan 5% kematian-lebih kanker daripada kanker
lain dari sistem reproduksi wanita. Namun, selama 2001-2005, angka kejadian
kanker ovarium menurun pada tingkat 2,4% per tahun, dan angka kematian
akibat kanker ovarium telah stabil sejak tahun 1998.
Kanker ovarium lebih sering terjadi pada wanita Amerika pada populasi putih
daripada di antara mereka pada populasi kulit hitam. Kanker ovarium epitel dapat
terjadi pada wanita semuda 15 tahun, namun usia rata-rata adalah 56 tahun. Di
Amerika Serikat, kejadian karsinoma ovarium adalah sekitar 15 kasus per
100.000 perempuan per tahun untuk perempuan berusia 50-54 tahun, meningkat
menjadi 35 kasus per 100.000 wanita untuk wanita berusia 70-74 tahun.
Secara internasional, kejadian ini 3,1 kasus per 100.000 perempuan di
Jepang dan 21 kasus per 100.000 wanita di Swedia. Di seluruh dunia, lebih dari
200.000 wanita diperkirakan menderita kanker ovarium setiap tahun dan sekitar
100.000 meninggal akibat penyakit tersebut. Kanker ovarium epitel terjadi paling
sering pada wanita kulit putih di negara-negara industri Eropa utara dan barat
dan Amerika Utara dan paling umum di India dan Asia. Wanita Asia memiliki
risiko rendah kecuali mereka pindah ke Amerika Utara atau Eropa. Wanita
Skandinavia dan Norwegia memiliki risiko tertinggi.

2.3.5 Faktor Resiko


a. Faktor genetik. Terdapat riwayat kanker ganas pada anggota keluarga.
b. Paritas. Lebih bayak terjadi pada perempuan tidak menikah dan tidak
mempunyai anak
c. Status sosio-ekonomi. Lebih sering terjadi pada perempuan dari golongan
menengah dan mampu.
d. Pengaruh bahan kimia. Sering terjadi pada perempuan yang selalu memakai
bedak pada daerah selangkangan. Tetapi belum jelas apakah atau partikel
abses yang penyebab.
e. Tanda keganasan lain. Penderita tampak pucat (anemi) badan
kurus(cachexia).

2.3.6 Patofisiologi

26
2.3.7 Manifestasi Klinis
a. Menses tidak teratur
b. Peningkatan ketegangan premenstruasi
c. Menoragi dengan nyeri tekan pada payudara
d. Menopause dini
e. Rasa tidak nyaman pada abdomen
f. Dispepsia
g. Tekanan pada pelvis
h. Sering berkemih
i. Banyak flatus
j. Peningkatan lingkar abdomen merupakan gejala yang signifikan

2.3.8 Pemeriksaan Diagnostik


a. Kanker ovarium dapat didentifikasi dengan pemeriksaan beberapa tumor
marker serum penderita. CA 125 merupakan tumor marker kanker ovarium.
AFP dan CEA sering dipergunakan untuk identifikasi kanker ovarium.
b. Radiology
Ultrasonografi mempunyai kapasitas untuk membedakan antara tumor solid
dan kristis ovarium. Evaluasi peluasan kanker ovarium pada jaringan sekitar

27
dapat diramalkan oleh USG. Computed tomography lebih praktis, mudah
diaplikasi dan akurasi diagosiknya lebih tinggi serta dapat mengevaluasi
perluasan dinding tumor pada dinding vesika urinaria dan usus.
c. Laporaskopi
Dapat digunakan untuk menentukan stadium. Apabila penderita yang sudah
mendapat kemoterapi / radioterapi menolak untuk laporotomi kedua ( second-
look) salah satu cara untuk melihat kemajuan pengobatan adalah laporoskopi.
d. Sitologi Eksfoliatif
Untuk menetukan stadium tumor ovarium diperlukan pemeriksaan sitologi
cairan asites ataupun cairan bilasan.
e. Histopatologi
Diagnosa defenitif tumor ovarium biasanya berdasarkan histopatologi blok
paraffin. Akan tetapi histopatologi dapat juga dilakukan durate operasi yang
bertujuan untuk memperoleh diagnosis yang cepat.
f. Pemeriksaan untuk mengetahui perluasan kanker ovarium
Pielografi intravena (ginjal, ureter, dan vesika urinaria), sistoskopi dan
sigmoidoskopi.
Foto rontgen dada dan tulang.
Scan KGB (Kelenjar Getah Bening)
Scan traktus urinarius
Sebagian besar kanker ovarium bermula dari suatu kista. Oleh karena itu,
apabila pada seorang wanita ditemukan suatu kista ovarium harus dilakukan
pemeriksaan lebih lanjut untuk menentukan apakah kista tersebut bersifat
jinak atau ganas (kanker ovarium).
g. Pemeriksaan lanjutan untuk memperkuat dugaan ke arah kanker ovarium
seperti :
USG dengan Doppler untuk menentukan arus darah
Jika diperlukan, pemeriksaan CT-Scan/ MRI

28
2.3.9 Penatalaksanaan

29
2.4 MIOMA UTERI
2.4.1 Definisi
Mioma Uteri adalah tumor jinak otot rahim dengan berbagai komposisi
jaringan ikat.Nama lain :Leimioma Uteri, Uterin fibroid dan Fibroma Uteri (Manuaba,
2001).
Mioma uteri adalah Neoplasma jinak berasal dari otot uterus dan jaringan ikat
yang menumpangnya, sehingga dalam kepustakaan dikenal juga istilah Fibromioma,
Leimioma atau pun Fibroid (Saifuddin, 1999)

2.4.2 Epidemiologi
Pada 100 wanita yang bertururt-turut menjalani hysterektomi ditemukan
mioma 77% . spesimen histerektomi pada wanita premenopause dengan mioma
rata- rata 7,6 dan pascamenopause rata-rata mioma 4,2.
Sebuah random sampling dari wanita berusia 35-49, ditemukan bahwa pada
usia 35 kejadian mioma adalah 60% diantara perempuan Afrika- Amerika; insiden
meningkat lebih dari 80 % pada usia 50 tahun. Wanita kaukasia memiliki insiden
40% pada usia 35, dan hampir 70% pada usia 50.
Mioma merupakan masalah kesehatan yang besar, indikasi utama operasi
histerektomi pada 199.000 dan 30.000 myomektomi dilakukan di Amerika serikat
pada 1997. Kejadian mioma selama kehamilan yang terdeteksi sonograpi mioma
rendah. Dari 12.600 perempuan yang melakukan pemeriksaan sonograpi yang
diidentifikasi pada 183 wanita (usia rata-rata 33 tahun) kejadiaanya 1,5 %. Hanya
30% dari 183 perempuan diduga memiliki mioma pada pemeriksaan panggul.
Pemeriksaan klinis melaporkan 42% dari mioma berukuran 5 cm selama kehamilan,
tetapi hanya 12,5% yang kurang dari 5 cm.

30
2.4.3 Klasifikasi
Ada beberapa kategori mioma pada rahim, antara lain: (Sinclair: 2010: hal 610)
1. Mioma submukosa terdapat sedikit dibawah lapisan desidua endometrium
yang menonjol ke dalam rongga uterus..Mioma ini menjadi masalah jika
menyumbat tuba fallopi. Area permukaan endometrium yang meluas
menyebabkan infertilitas, abortus spontan
2. Mioma intramural atau interstisial berbentuk bundar dan terdapat didalam
miometrium. Mioma ini membentuk komponen subserosa atau submukosa
3. Mioma subserosa terdapat sedikit dibawah serosa uterus, menonjol keluar
melalui dinding luar uterus. Mioma ini tidak menyebabkan infertilitas, kecuali
jika menyumbar tuba fallopi
a. Mioma pendukulata adalah mioma submukosa atau subserosa yang
melekat pada uterus melalui suatu pedikulus
4. Mioma parasitik keluar dari uterus disertai suplai darah tambahan. Mioma ini
meluas hingga ke dalam ligamentum latum uterus atau dapat menyebabkan
hidroureter
5. Mioma intraligamentosa terdapat didalam ligamentum latum
a. Mioma servikal biasanya kecil dan asimtomatik. Mioma ini dapat menjadi
pedunkulatum atau menonjol keluar dari serviks dan menjadi terinfeksi.
Mioma ini dapat masuk lagi ke dalam uterus karena kehamilan
2.4.4 Etiologi
1. Teori Mayer dan Snoo, rangsangan sel nest oleh estrogen
2. Faktor :
Tak pernah dijumpai sebelum menarche
Atropi setelah menopause
Cepat membesar saat hamil
Sebagian besar masa reproduktif
2.4.5 Faktor resiko
1. Usia penderita
2. Hormone endogen
3. Riwayat keluarga
4. Etnik
5. Berat badan
6. Diet
7. Kehamilan dan paritas
8. Kebiasaan merokok
2.4.6 Manifestasi Klinis
Faktor yang menimbulkan gejala klinik: (Manuaba:2001:hal 601)
- Besarnya mioma uteri
- Lokalisasi mioma uteri
- Perubahan pada mioma uteri

31
Tanda dan gejala klinis
1. Perdarahan abnormal
- Hipermenorea perdarahan banyak saat menstruasi karena
a) Meluasnya permukaan endometrium dalam proses menstruasi
b) Gangguan kontraksi otot rahim
c) Perdarahan berkepanjangan
Akibatnya perdarahan penderita dapat mengeluh anemis karena
kekurangan darah, pusing, cepat lelah dan mudah terjadi infeksi
- Menoragia
- Menometroragia
- Metroragia
2. Terasa nyeri
- Torsi bertangkai
- Submukosa mioma terlahir
- Infeksi pada mioma
3. Sering abortus
Gangguan tumbuh kembang janin dalam rahim melalui plasenta
4. Gejala sekunder
- Anemia karena perdarahan
- Uremia, desakan ureter menimbulkan gangguan fungsi ginjal
5. Pendesakan /penekanan rahim yang membesar
Penekanan rahim karena pembesaran mio uteri dapat terjadi :
- Gangguan miksi dan defekasi
- Perasaan tidaknyaman dibagian bawah
- Terasa nyeri karena tertekannya urat saraf
6. Menimbulkan infertilitas
Penekanan saluran tuba oleh mioma

2.4.7 Patofisiologi

Wanita nulipara dan wanita


Faktor keturunan
kurang subur

Reseptor estrogen lebih


banyak

Sel imatur uterus (otot polos dan


jaringan ikat)

Tumor fibromatosa DX Keperawatan


: Cemas

32
Mioma Submukosum Mioma intramural Mioma subserosum
- Tumbuh bertangkai menjadi Terdapat dinding uterus - Tumbuh diantara kedua
polip diantara miometrium Lapisan ligamentum luteum
- Dilahirkan melalui serviks menjadi mioma ligamenter
(myom geburt)

Nyer
i

Infertilitas

Perdarahan abnormal Diagnosa


(ex: menometroragia) Keperawatan :
Risiko kekurangan

Diagnosa
Abortus spontan (tanda dan gejala
Keperawatan :
seperti retensi urine, hidronefrosis)
Risiko infeksi

2.4.8 Pemeriksaan Diagnostik


Dasar Diagnosa
1. Anamnesis
a. Pembesaran disertai pendesakan pada abdomen
b. Perdarahan
c. Infertilitas
2. Kriteria diagnosa :
a. Pembesran rahim (bisa simetris ataupun berbenjol benjol)
b. Umumnya disertai dengan perdarahan (menometroragia)
c. Sering kali membesar pada saat kehamilan
3. Pemeriksaan penunjang
a. Darah lengkap dan urine lengkap
b. Tes kehamilan
c. D/K (dilatasi dan kuretase) pada penderita yang disertai perdarahan
untuk menyingkirkan kemungkinan patologi lain pada rahim (hipeplasia
atau adenokarsinoma endometrium)

33
d. Ultrasonografi
e. Pemeriksaaan panggul
Secara klinis subserosal dan intramural mioma bisa di diagnosa oleh
pemeriksaan panggul berdasarkan pada temuan dari pembesaran,
bentuk ireguler, keras, dan tidak ada nyeri tekan pada uterus, ukuran
uterus di nilai oleh pemeriksaan bimanual, berhubungan baik dengan
ukuran uterus dan berat pada pemeriksaan patologi, bahkan pada
wanita obes.
f. Pencitraan
Pemilihan optimal dari pasien untuk medikal terapi, prosedur
nonivasive, atau pembedahan bergantung pada pengkajiaan yang
akurat dari ukuran, jumlah, dan posisi dari mioma. Teknik pencitraan
dapat mengkonfirmasikan diagnosa dari mioma termasuk di dalamnya
sonogrhapy, saline infusion sonogrhapy, hysteroscopy, dan MRI.
Sonografi transvaginal digunakan untuk membedakan mioma
dari berbagai kondisi pelvic yang berbeda. Mioma ukuran besar
menggunkan kombinasi dari sonografi transvaginal dan
transabdominal. Penampilan sonografi dari mioma mungkin bisa
bervariasi, tetapi sering menampilkan ketidak simetrisan,
hipoechoic, dan masa heteregenous. Sonografi kurang cukup
memadai untuk menentukan jumlah dan posisi dari mioma
secara tepat.

Saline infus sonografi menggunakan saline yang dimasukan


kedalam ruang uterus untuk memberikan kontras dan lebih
bagus untuk menentukan submukus mioma, polip, hiperplasia
endometrium, atau carcinoma.

MRI adalah metode yang sangat bagus untuk mengevaluasi


ukuran, posisi, dan jumlah dari mioma uteri dan merupakan
model terbaik dan tepat untuk mengevaluasi penetrasi
submukus mioma kedalam miometrium. Keuntungan dari MRI
adalah tidak ada ketergantungan pada teknik operator dan
rendahnya variabilitas interobserver dalam penetrasi dari
gambar submukus mioma, intramural mioma, dan adenomiosis
ketika dibandingkan dengan sonografi transvagina, saline-

34
infusion sonogram, dan histeroskopi. MRI mungkin membantu
ahli beda untuk menghindari kehilangan mioma selama
pembedahan
Perbedaan sensitivitas dan spesifikasi dari MRI, transvaginal sonografi, saline infus
sonografi, dan histeroskopi pada 106 wanita preoperative yang dijadwalkan untuk
histerektomi
sensitivitas spesifikasi
Pencitraan
MRI 100% 91%
Transvaginal sonografi 83% 90%
Saline infus sonografi 90% 89%
Histeroskopi 82% 87%

2.4.9 Penatalaksanaan Medis


1. Observasi : Bila ukuran lebuh kecil dari ukuran uterus kehamilan 12
minggu, tanpa disertai penyulit lain.
2. Konsultasi dengan dokter kandungan atau ginekolog
3. Wanita yang asimtomatik hanya memerlukan penatalaksanaan antisipasif
dan dilakukan pemeriksaan yang sering
4. Obati anemia
5. Panduan antisipasif : Jika wanita asimptomatik, penatalaksanaan oleh
meliputi terapi farmakologis NSAID kontrasepsi oral (cenderung tidak
manjur) dan agonis GnRH untuk mengurangi aliran darah menstruasi
melalui penurunan ukuran fibroid sebesar 30-50% dalam 3-6 bulan.
6. Pembedahan diindikasikan jika terdapat menoragi yang progresif disertai
anemia, nyerim peningkatan tekanan pada kandung kemih atau usus
(hidronefrosis ringan biasanya tidak menunjukkan makna klinis yang berarti
dan tidak perlu diobati).
7. Ekstrirpasi : Biasanya untuk mioma submukosa tangkai atau mioma
lahir/geburt
8. Laparotomi : bila fungsi reproduksi masih diperlukan dan secara teknis
memungkinkan untuk melakukan tindakan tersebut.

2.4.10 Komplikasi
a. Degenerasi ganas : leimiosarkoma
b. Torsi tangkai mioma dari :
- Subseroma mioma uteri

35
- Submukosa mioma uteri
c. Nekrosis dan infeksi
- Setelah torsi dapat diikuti infeksi dan nekrosis
d. Pengaruh timbal balik mioma uteri dan kehamilan
- Pengaruh mioma uteri terhadap kehamilan
Pengaruh mioma uteri terhadap kehamilan
Meningkatkan kemungkinan abortus
Saat kehamilan
- Persalinan prematuritas
- Kelainan letak
Inpartu
- Inersia uteri
- Gangguan jalan persalinan
Pasca partum
- Perdarahan pasca partum
- Retensi plasenta
- Red degeneration
e. Anemia
f. Perlekatan pascamiomektomi
g, terjadinya ruptura / kerobekan rahim, apabila penderita hamil setelah tindakan
miomektomi

36
2.5 KISTA OVARIUM

2.5.1 Definisi

Kista ovarium adalah sejenis cairan yang menggumpal didalam indung telur
dan ovarium wanita. Kebanyakan kista ovarium tidak berbahaya tetapi dapat
menyebabkan beberapa masalah seperti pecah, perdarahan atau sakit. Jenis kista
ini diderita ini oleh wanita semenjak beranjak dewasa, kista ini tidak terjadi pada pria
lantaran pria tidak mempunyai indung telur dan ovarium. Banyak orang
menyamakan kista ovarium sama dengan tumor jinak tetapi sama sama tidak
memerlukan operasi besar. Kista tersebut disebut juga kista fungsional karena
terbentuk setelah telur dilepaskan sewaktu ovulasi. Kista fungsional akan mengkerut
dan menyusut setelah beberapa waktu ( setelah 1-3 bulan ), hingga biasanya
penderita dianjurkan melakukan kontrol setiap 3 bulan.

Kanker ovarium adalah penyebab utama kematian akibat penyakit ginekologi.


Resiko wanita untuk terkena kanker ovarium selama hidupnya adalah 1dari 70.
Sebagian besar kanker ovarium berkembang dari epitel ovarium. Ada sedikit
perbedaan diantara berbagai tipe sel sel epitel berdasarkan terapi atau prognosis.

2.5.2 Epidemiologi

Kista ovarium merupakan 6 kasus kanker terbanyak dan merupakan


penyebab kematian oleh karena keganasan ginekologi. Terdapat variasi yang luas
insidensi keganasan ovarium, rata-rata tertinggi terdapat di Negara Skandinavia
(14,5-15,3 per 100.000 populasi). Sebagian besar kista adalah kista fungsional dan
jinak. Di Amerika karsinoma ovarium didiagnosa pada kira-kira 22.000 wanita,
kematian sebanyak 16.000 orang. Pemeriksaan USG transvaginal ditemukan kista
ovarium pada hampir semua wanita premenopouse dan terjadi peningkatan 14,8%
pada wanita post menopouse. Kebanyakan dari kista tersebut bersifat jinak. Kista

37
ovarium fungsional terjadi pada semua umur, tetapi kebanyakan pada wanita masa
reproduksi. Dan kista ovarium jarang setelah masa menopouse.

2.5.3 Etiologi

Kista ovarium merupakan jenis yang paling sering terjadi terutama yang
bersifat non neoplastik, seperti kista retensi yang berasal dari korpus luteum. Tetapi
di samping itu ditemukan pula jenis yang merupakan neoplasma. Oleh karena itu
kista ovarium dibagi dalam 2 golongan:

1. Non-neoplastik (fungsional)
a. Kista folikel
Kista ini berasal dari folikel yang menjadi besar semasa proses atresia foliculi.
Setiap bulan, sejumlah besar folikel menjadi mati, disertai kematian ovum disusul
dengan degenerasi dari epitel folikel. Pada masa ini tampaknya sebagai kista-kista
kecil. Tidak jarang ruangan folikel diisi dengan cairan yang banyak, sehingga
terbentuklah kista yang besar, yang dapat ditemukan pada pemeriksaan klinis. Tidak
jarang terjadi perdarahan yang masuk ke dalam rongga kista, sehingga terjadi suatu
haematoma folikuler.
b. Kista lutein
Kista ini dapat terjadi pada kehamilan, lebih jarang di luar kehamilan. Kista lutein
yang sesungguhnya, umumnya berasal dari corpus luteum haematoma. Perdarahan
ke dalam ruang corpus selalu terjadi pada masa vascularisasi. Bila perdarahan ini
sangat banyak jumlahnya, terjadilah corpus luteum haematoma, yang berdinding
tipis dan berwarna kekuning-kuningan. Secara perlahan-lahan terjadi reabsorpsi dari
unsur-unsur darah, sehingga akhirnya tinggalah cairan yang jernih atau sedikit
bercampur darah. Pada saat yang sama dibentuklah jaringan fibroblast pada bagian
dalam lapisan lutein sehingga pada kista corpus lutein yang tua, sel-sel lutein
terbenam dalam jaringan-jaringan perut.

2. Neoplastik
Yang termasuk golongan ini ada 3 jenis:

38
a. Cystadenoma mucinosum
Jenis ini dapat mencapai ukuran yang besar. Ukuran yang terbesar yang pernah
dilaporkan adalah 328 pound. Tumor ini mempunyai bentuk bulat, ovoid atau bentuk
tidak teratur, dengan permukaan yang rata dan berwarna putih atau putih kebiru-
biruan.
b. Cystadenoma serosum
Jenis ini lebih sering terjadi bila dibandingkan dengan mucinosum, tetapi ukurannya
jarang sampai besar sekali. Dinding luarnya dapat menyerupai kista mucinosum.
Pada umumnya kista ini berasal dari epitel permukaan ovarium (germinal
ephitelium).

c. Kista dermoid
Tumor ini merupakan bagian dari teratoma ovary bedanya ialah bahwa tumor ini
bersifat kistik, jinak dan elemen yang menonjol ialah eksodermal. Sel-selnya pada
tumor ini sudah matang. Kista ini jarang mencapai ukuran yang besar.

2.5.4 Klasifikasi

Kista folikuler.
Kista yang terjadi dari folikel normal yang melepaskan ovum yang ada di
dalamnya. Terbentuk kantung berisi cairan atau lendir didalam ovarium.
Kista corpus luteum
Kista jenis ini jarang terjadi, ukurannya lebih besar dari kista fungsional. Kista
ini timbul karena waktu pelepasan sel telur terjadi perdarahan, dan lama-lama
bisa pecah dan timbul perdarahan yang kadang-kadang perlu tindakan
operasi untuk mengatasinya. Keluhan biasanya timbul rasa sakit yang berat di
rongga panggul.
Kista teka lutein
Kista jenis ini lebih jarang terjadi dan sering dihubungkan dengan terjadinya
kehamilan diluar kandungan (ektopik pregnansi). Kista ini akan hilang sendiri
tanpa pengobatan atau tindakan begitu kehamilan di luar kandungan
dikeluarkan.
Polikistik kista
Kista jenis ini banyak yang mengandung cairan jernih. Bisa timbul di kedua
ovarium kiri dan kanan, berhubungan dengan gangguan hormon dan
gangguan menstruasi.

39
2.5.5 patofisiologi

Degenerasi ovarium infeksi ovarium

histerektomi cistoma ovari pembesaran ovarium Ruptur


Ovarium

Oovorektomi

Luka operasi

Diskontinuitas pembatasan anestesi Resiko


injuri
Nutrisi peristaltik

kurang jaringan metabolisme usus

informasi port deentri nyeri hipolisis absorbsi


nervous

asam laktat air di kolon vagus

kurang keletihan
Resiko
reflek menelan konstip
asi
pengetahuan komplikasi peritonitis gag. metabolisme
Resiko
peritonia aspiras
Cemas Resiko Self care i
nyeri
perdarah defisit
an

2.5.6 Manifestasi Klinis

Mayoritas penderita kista ovarium tidak menunjukkan adanya gejala sampai


periode waktu tertentu. Hal ini disebabkan perjalanan penyakit ini berlangsung
secara tersembunyi sehingga diagnosa sering ditemukan pada saat pasien dalam
keadaan stadium lanjut sampai pada waktu klien mengeluh adanya ketidakteraturan

40
menstruasi, nyeri pada perut bawah, rasa sebah pada perut dan timbul benjol pada
perut. Pada umumnya kista adenoma ovarii serosim (berasal dari epitel permukaan
ovarium) tidak mempunyai ukuran yang lebih besar dibandingkan dengan kista
adenoma mosinosum (asal kista belum pasti). Permukaan tumor biasanya licin, akan
tetapi dapat juga berbentuk multivokuler. Meskipun lazimnya berongga satu, warna
kista putih keabu-abuan. Ciri khas kista ini adalah potensi pertumbuhan kapiler
kedalam rongga kista sebesar 0 % dan keluar pada permukaan kista sebesar 5 %.
Isi kista yaitu cair berwarna kuning dan kadang-kadang coklat karena campuran
darah. Tidak jarang kistanya sendiripun kecil tetapi permukaannya penuh dengan
pertumbuhan papiler (solid papiloma). Gejala kista secara umum, antara lain:

Rasa nyeri yang menetap di rongga panggul disertai rasa agak gatal
Rasa nyeri sewaktu bersetubuh atau nyeri rongga panggul kalu tubuh
bergerak
Rasa nyeri segera timbul begitu siklus menstruasi selesai. Perdarahan
menstruasi tidak seperti biasa. Mungkin perdarahan lebih lama, mungkin lebih
pendek, atau mungkin tidak keluar darah menstruasi pada siklus biasa, atau
siklus menstruasi tidak teratur.
Perut membesar.

2.5.7 Faktor resiko

1. Faktor genetik/ mempunyai riwayat keluarga dengan kanker ovarium dan


payudara.
2. Faktor lingkungan (polutan zat radio aktif)
3. Gaya hidup yang tidak sehat
4. Ketidakseimbangan hormon estrogen dan progesteron, misalnya akibat
penggunaan obat-obatan yang merangsang ovulasi dan obat pelangsing tubuh yang
bersifat diuretik.
5. Kebiasaan menggunakan bedak tabur di daerah vagina
(Wiknjosastro, 2005)

41
2.5.8 Pemeriksaan diagnostik

Pemeriksaan sonogram
Pemeriksaan ini menggunakan gelombang bunyi untuk melihat gambaran
organ tubuh. Pemeriksaan jenis ini bisa dilakukan melalui dinding perut atau
bisa juga dimasukkan melalui vagina dan memerlukan waktu sekitar 30 menit,
bisa diketahui ukuran dan bentuk kistanya.
Pemeriksaan kadar Human Chorionik Gonadotropin (HCG) di dalam serum
untuk menyisihkan ada-tidaknya kehamilan.
Pemeriksaan USG atau CT-scan untuk mendeteksi adanya kista
Pemeriksaan CA-125 untuk mengetahui apakah terjadi proses keganasan
pada kista. Kadar CA-125 akan meningkat pada perempuan dengan usia
subur, meskipun tidak ada proses keganasan. Tahap pemeriksaan ini
biasanya dilakukan pada perempuan berisiko terjadi proses keganasan.
Pemeriksaan hormon seperti LH, FSH, Estradiol, dan Testosteron.

Pemeriksaan Penunjang

1. Laparaskopi
Pemeriksaan ini sangat berguna untuk mengetahui apakah sebuah tumor
berasal dari ovarium atau tidak, dan untuk menentukan sifat-sifat tumor itu.

2. Ultrasonografi
Dengan pemeriksaan ini dapat ditentukan letak dan batas tumor apakah
tumor berasal dari uterus, ovarium, atau kandung kencing, apakah tumor
kistik atau solid, dan dapatkah dibedakan pula antara cairan dalam rongga
perut yang bebas dan yang tidak.
3. Foto Rontgen
Pemeriksaan ini berguna untuk menentukan adanya hidrotoraks. Selanjutnya,
pada kista dermoid kadang-kadang dapat dilihat gigi dalam tumor.
4. Parasentesis
Telah disebut bahwa fungsi pada asites berguna menentukan sebab asites.
Perlu diingatkan bahwa tindakan tersebut dapat mencemari cavum peritonei
dengan isi kista bila dinding kista tertusuk
(Wiknjosastro, 2005).

2.5.9 penatalaksanaan

42
Prinsip bahwa tumor ovarium neoplastik memerlukan operasi dan tumor
nonneoplastik tidak, jika menghadapi tumor ovarium yang tidak memberikan
gejala/keluhan pada penderita dan yang besarnya tidak melebihi 5 cm diameternya,
kemungkinan besar tumor tersebut adalah kista folikel atau kista korpus luteum.
Tidak jarang tumor tersebut mengalami pengecilan secara spontan dan menghilang,
sehingga perlu diambil sikap untuk menunggu selama 2-3 bulan, jika selama waktu
observasi dilihat peningkatan dalam pertumbuhan tumor tersebut, kita dapat
mengambil kesimpulan bahwa kemungkinan tumor besar itu bersifat neoplastik dan
dapat dipertimbangkan untuk pengobatan operatif.
Tindakan operasi pada tumor ovarium neoplastik yang tidak ganas ialah
pengangkatan tumor dengan mengadakan reseksi pada bagian ovarium yang
mengandung tumor, akan tetapi jika tumornya besar atau ada komplikasi perlu
dilakukan pengangkatan ovarium, biasanya disertai dengan pengangkatan tuba
(salphyngoooforektomi). Jika terdapat keganasan operasi yang lebih tepat ialah
histerektomi dan salphyngoooforektomi bilateral. Akan tetapi pada wanita muda yang
masih ingin mendapat keturunan dan dengan tingkat keganasan tumor yang rendah,
dapat dipertanggungjawabkan untuk mengambil resiko dengan melakukan operasi
yang tidak seberapa radikal.

Kontrasepsi oral dapat digunakan untuk menekan aktivitas ovarium dan


menghilangkan kista. Perawatan pasca operasi setelah pembedahan untuk
mengangkat kista ovarium adalah serupa dengan perawatan setelah pembedahan
abdomen dengan satu pengecualian penurunan tekanan intra abdomen yang
diakibatkan oleh pengangkatan kista yang besar biasanya mengarah pada distensi
abdomen yang berat. Hal ini dapat dicegah dengan memberikan gurita abdomen
sebagai penyangga.
Tindakan keperawatan berikut pada pendidikan kepada klien tentang pilihan
pengobatan dan manajemen nyeri dengan analgetik / tindakan kenyamanan seperti
kompres hangat pada abdomen atau teknik relaksasi napas dalam, informasikan
tentang perubahan yang akan terjadi seperti tanda tanda infeksi, perawatan insisi
luka operasi
( Lowdermilk.dkk. 2005).

43
Cara pencegahan :
Beberapa faktor muncul untuk mengurangi risiko kanker ovarium, termasuk:
1. Kontrasepsi oral(pil KB).
Dibandingkan dengan wanita yang tidak pernah menggunakan mereka, para
wanita yang menggunakan kontrasepsi oral selama lima tahun atau lebih
mengurangi risiko kanker ovarium sekitar 50 persen, sesuai dengan ACS.

2. Kehamilan dan menyusui.


Memiliki paling tidak satu anak menurunkan risiko Anda mengalami kanker
ovarium. Menyusui anak-anak juga dapat mengurangi risiko kanker ovarium.

3. Tubal ligasi atau histerektomi.


Setelah tabung Anda diikat atau memiliki histerektomi dapat mengurangi
risiko kanker ovarium. Perempuan yang berada pada risiko yang sangat tinggi
mengalami kanker ovarium dapat memilih untuk memiliki indung telur mereka
diangkat sebagai cara untuk mencegah penyakit. Operasi ini, dikenal sebagai
profilaksis ooforektomi, dianjurkan terutama bagi perempuan yang telah dites positif
untuk mutasi gen BRCA atau wanita yang mempunyai sejarah keluarga yang kuat
payudara dan kanker ovarium, bahkan jika tidak ada mutasi genetik yang telah
diidentifikasi. Studi menunjukkan bahwa ooforektomi profilaksis menurunkan risiko
kanker ovarium hingga 95 persen, dan mengurangi risiko kanker payudara hingga
50 persen, jika ovarium diangkat sebelum menopause.
Karena kanker ovarium biasanya berkembang di lapisan tipis rongga perut
yang meliputi ovarium, wanita yang pernah diangkat indung telur mereka masih bisa
mendapatkan yang serupa, tetapi jarang bentuk kanker yang disebut kanker
peritoneal primer. Selain itu, profilaksis ooforektomi menginduksi menopause dini,
yang dengan sendirinya mungkin memiliki dampak negatif pada kesehatan Anda,
termasuk peningkatan risiko osteoporosis, penyakit jantung dan kondisi lain.

44
Daftar Pustaka

Straight, Barbara. 2005. Panduan Belajar : Keperawatan Ibu Bayi Baru


Lahir. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Persis, Mary Hamilton. 1995. Dasar Dasar Keperawatan Maternitas. Jakarta.
EGC.
R. Sulaeman Sastrawinata.1981. Obstetri Patologi. Bandung. Elstar Offset.
Benson, Ralph C.2009.Buku Saku Obstertri dan Ginekologi, Ed. 9.Jakarta :
EGC
Hamilton,Carone & Geri Morgan.2003.Obstetri & Ginekologi.Jakarta.Penerbit
Buku Kedokteran
Benson C Ralph DKK.1994.Buku saku obstetric dan
ginekologi.Jakarta.Penerbit Buku Kedokteran EGC
Constance,Sinclair.2009.Buku saku kebidanan.Jakarta.Penerbit Buku
Kedokteran EGC
Sue,Jordan.2002.Farmakologi Kebidanan.Jakarta.Penerbit Buku Kedokteran
Ralph C. Benson & Martin L. 2009. BS Obstetri dan Ginekologi. Jakarta:
EGC.
45
Benson C. Ralph, Pernoll R. Martin. 2008. Buku saku obstetri dan ginekologi.
Jakarta : EGC
Nurarif, Husada Amin, & Hardi Kusuma, 2013, Aplikasi Asuhan Keperawatan
Berdasarkan Diagnosa Medis dan NANDA-NIC-NOCjilid 1, Yogyakarta :
Medication Publishing.
Nurwijaya Hartati Dra; SpOG Andrijono DR. Dr; SpOG Suheimi K.H. DR. Prof,
2010, CEGAH dan DETEKSI KANKER SERVIKS, Jakarta : Elex Media
Komputindo.
Baughman, C. Dianne. 2000, Keperawatan Medikal Bedah : BUKU SAKU
DARI BRUNNER & SUDDARTH, Jakarta : EGC.
Manuaba,Ida Bagus Gde.Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin Obstetri
ginekologi dan KB. 2001.Jakarta:EGC
Parker,William H.Etiology, Symptomatology, and Diagnosis of Uterine
Myomas. American Society for Reproductive Medicine,California. Vol
87.2007:725-36
Bagus,Ida G. M.Penuntun kepaniteraan klinik obstetri dan ginekologi,
E/2.2004Jakarta : EGC
Achadiat,Chrisdiono M. Prosedur Tetap Obstetri dan Ginekologi.2004.Jakarta:
EGC:94-97
Hamilton, Persis Mary.Dasar-dasar Keperawatan
Maternitas.1992.Jakarta:EGC:104
Benson, Ralph C.&Pernoll, Martin L.Buku Saku Obstetri dan Ginekologi, Ed.
9.2009.Jakarta:EGC:464-551
Manuaba, Ida Bagus Gde.Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan & keluarga
Berencana untuk Pendidikan Bidan.1998.Jakarta:EGC:410-412
Yatim faisal. 2005. Penyakit kandungan. Myoma, kanker rahim/leher rahim
dan indung telur, kista, serta gangguan lainnya. Jakarta: Pustaka Popular
Obor.
Sinclair, constance. 2009. Buku Saku Kebidanan. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran.
Nurarif, amin huda dan hardhi kusuma. 2013. Aplikasi asuhan keperawatan
berdasarkan diagnosa medis & NANDA NIC-NOC. Yogyakarta: Med action.
Yatim, faisal.2005.penyakit kandungan:myoma,kanker rahim/leher rahim dan
indung telur, kista, serta gangguan lainnya.Jakarta:pustaka populer

46
47