Anda di halaman 1dari 4

Bakteri simbiosis pada sitoplasma paramecium

Paramecium adalah protozoa uniseluler yang dapat bereproduksi secara seksual


(konjugasi yaitu transfer materi genetic dari 1 sel ke sel lain) dan aseksual (fusi sel
membentuk koloni yang identik). Paramecium memiliki 2 nukleus yaitu
micronukleus dan macronukleus. DNA yang ditransfer dari donor ke resipien
menghasilkan heterozigot (AA aaAa). Mengkuti meiosis, fertilisasi
menghasilkan sel haploid tapi pada autogamy hasilnya homozigot diploid. Hal ini
menunjukkan bahwa keturunan dapat dibedakan dari sifat yang dikontrol oleh
nucleus dan gen ekstranukleus. Studi menunjukkan bahwa mutasi sitoplasmik dan
nucleus menyebabkan resisiten antibiotic. Penelitian juga menunjukkan bahwa
mitokondria yang mengontrol resisten. Sifat-sifat mitokondria itu ditentukan oleh
mitokondria sendiri dan elemen protoplasma. Beberapa strain P. aurelia
memproduksi zat yang bersifat letal pada anggota strain lain dalam satu spesies.
Strain ini memproduksi zat racun (killers) yang pada suhu rendah dapat hilang
kemampuannya. Efek racun juga berkurang setelah pembelahan berkali-kali.
Elemen di sitoplasma didalilkan untuk produksi zat racun. Partikel tersebut
disebut kappa yang ternyata adalah simbiosis bakteri Caedobacterium
taeniospiralis. Zat racun (paramecin) diproduksi oleh killer bacteria dalam
medium cair. Paramecium tidak punya efek pada killers, berasosiasi dengan
partikel kappa. Kappa memproses pembiasan protein yang mengandung R body
(brights) karena mereka diinfeksi oleh virus yang mengontrol sintesis protein viral
yang bersifat racun pada sensitive paramecium tapi tidak bersifat toksik pada
nonbrights bacteria. Kappa terabadikan hanya pada organism yang membawa
nucleus allel K dominan, yang mana menentukan kebutuhan lingkungan untuk
reproduksi bakteri. Saat killer melakukan konjugasi dengan sensitive dalam
keadaan tertentu dan tidak ada perubahan sitoplasma, muncul 2 jenis koloni, (1)
dari killer original yang mengandung allel K (Kk) dan bakteri kappa , (2) dari
original sensitive sel yang membawa allel K (Kk) dan sedikit kappa. Mengikuti
autogamy, separuh keturunan killers adalah killers dan separuh lainnya adalah
sensitive paramecium. Semua keturunan sensitive adalah sensitive. Akibat tidak
ada sitoplasma yang berperan dalam konjugasi, hanya sel dari original killers yang
menurunkan kappa bacteria. Kappa tidak diproduksi di sel kecuali ada K allel di
nucleus. Di bawah kondisi yang sama, konjugasi berlangsung lebih panjang.
Ketika konjugan adalah KK dan kk, allel K dan k berubah dan kedua konjugan
adalah Kk. Perubahan sitoplasma menstransfer kappa dari killer ke nonkiller sel.
Autogamy memproduksi homozigot koloni killer/nonkiller KK dan kk sel masing-
masing.

Plasmid dan Transformasi Tumor

DNA ekstrakromosom yang merilikasi dirinya sendiri di sitoplasma sel tumbuhan


adalah plasmid. Plasmid punya peran banyak dengan kromosom mitokondria dan
plastid tapi tidak terorganisasi dalam organel yang vital bagi sel inang. Beberapa
plasmid adalah fragmen kromosom bakteri dan fragmen rekombinan DNA.
Kebanyakan plasmid, tidak esensial untuk sel inang tapi beberapa mengontrol
reaksi menguntungkan pada antibiotic. Oleh karena kemampuannya untuk
mereplikasi sendiri, untuk bergabung dengan DNA lain dan untuk membawa
DNA pada sel pusat dari altivitas sintesis, mereka sangat berguna dalam teknik
genetika. Sel plasmid (Ti/ Tumor inducing) membawa DNA yang
mentransformasikan sel tanaman dikotil untuk menjadi sel tumor. Transformasi
tumor ini diasosiasikan dengan penyakit crow gall. Penyakit ini, memuat
pertumbuhan bulbous/gall yang diinduksi oleh bakteri Agrobacterium
tumafaciens. Penyakit ini menyebabkan bakteri aktif masuk pada luka di
permukaan tanaman. Tapi bakteri yang menginisiasi penyakit gall tidak
dibutuhkan untuk mengabadikan tumor. Fragmen Ti plasmid dibawa oleh bakteri
dikombinasi dengan segmen DNA dari sel tanaman terinfeksi. Gen dibawa oleh
plasmid, terintegrasi ke dalam sel tanaman, code untuk enzim yang
mempertimbangkan pertumbuhan tumor yang tidak terkendali.

Sitoplasma Jantan Steril pada Tanaman

Contoh lain dari pewarisan sitoplasma adalah kegagalan pollen. Pada jagung dan
tanaman lain, fertilitas dikontrol oleh factor sitoplasmik. Pada tanaman lain,
sterilitas jantan dikontrol oleh gen nucleus. Sterilitas jantan penting ketika
disilangkan dalam skala besar untuk memproduksi Hybrid seed.
Male sterility in a Cross-Polinating Plant

Pollen pada anther dihilangkan agar tanaman jagung jantan menjadi steril, tetapi
jagung betina tetap normal. Gen nucleus tidak mengontrol sterilitas, hal itu
ditransmisikan dari generasi ke generasi melalui sitoplasma telur. Jantan steril
memproduksi hanya keturunan jantan steril ketika difertilisasi dengan pollen dari
tanaman normal. Biji induk jantan steril disilangkan berulang kali dengan pollen
fertile sampai semua kromosom jantan steril berubah menjadi fertile. Pewarisan
sifat adalah maternal, tidak dikontrol oleh gen kromosom. Dalam penelitian,
sejumlah kecil pollen steril disilangkan. Sterilitas jantan pada contoh ini
dihubungkan pada gen sitoplasmik yang ditransmisikan oleh gamet betina. Akan
tetapi, factor sitoplasmik bukan satu-satunya factor dalam sterilitas jantan.
Nucleus spesifik diketahui dapat mengurangi maternally inherited sterilitas pada
jagung. Gen kromosom tunggal dominan dapat memperbaiki fertilitas pollen
dengan kehadiran sitoplasma yang biasanya menyebabkan sterilitas. Dalam
sebuah eksperimen, pollen abortion hanya terjadi ketika jenis sitoplasma spesifik
hadir dengan gen dominan untuk sterilitas jantan.

Maternal effect in snail shell coiling

Beberapa strain siput memiliki dexiral shell (gelung mengarah ke kanan) dan
sinistral shell (gelung mengarah ke kiri). Karakteristik ini ditentukan oleh genotif
induk betina (bukan fenotif). Allel S+ untuk gelung ke kanan adalah dominan
daripada allel s untuk gelung ke kiri. Ketika dilakukan persilangan terhadap betina
(gelung ke kanan) dan jantan (gelung ke kiri), F1 adalah siput dengan cangkang
gelung ke kanan. Pola ini ditentukan oleh induk betina (P) gen (s+s+) yang
terekspresikan pada F1 dan genotif induk betina (s+s) yang terekspresikan dalam
F2. Ketika persilangannya dibalik, F1nya cangkang gelung ke kiri. F2 gelung ke
kanan. Penelitian menunjukkan bahwa tahap pembelahan awal mempengaruhi
arah dari gelung cangkang. Perubahan arah ini dikontrol oleh gen induk betina.
Kebanyakan siput tidak menunjukkan maternal effect pattern.
Maternal effect in Drosophila

Spesies Drosophilla melanogaster dibawa dan diseleksi untuk kepala abnormal


(timorous head) yang bertambah 76% pada suhu 220 C ketika lalat dipelihara
dalam medium. Ketika dilakukan persilangan reciprocal, diindikasikan ada
maternal effect. Tu-H betina dikawinkan secara acak dengan 3 jantan liar dan
jantan dari 11 laboratorium memproduksi 14-52% lalat berkepala abnormal pada
generasi pertama. Melalui reciprocal antara tu-h jantan dan beberapa betina liar
dan yang berasal dari laboratorium yang sama, hanya dihasilkan 0-1 % keturunan
berkepala abnormal. Hal ini menunjukkan adanya maternal effect. Gen induk
betina digunakan untuk menentukan pertumbuhan abnormal kepala dari keturunan
dewasa selama 22 jam pertumbuhan awal. 2 gen utama ditemukan mengontrol
sifat tumor kepala : (1) a sex linked gene at 64.5 map units on the X chromosome
controlling the maternal effect and (2) a structural gene at 58 units on the third
chromosome controlling the tumorous head phenotype.

Pertanyaan

1. Bagaimana bahaya dari keseragaman pada jagung hibrida ?


Sebuah mutant (fungus Helmintbosporium maydis) menjadi pathogen virulen
pada jagung hibrida terutama merusak jagung dengan (T) male sterile. Akibat
dari pathogen virulen ini timbul penyakit yellow leaf blight. Penyakit ini
menimbulkan kerugian pada petani jagung. Hal ini menunjukkan bahwa
persilangan male sterility akan menyebabkan adanya mutasi baru.

2. Bagaimana hasil konjugasi antara killer dan sensitive paramecium ?


Apabila dilakukan dalam keadaan tertentu dan tidak ada perubahan
sitoplasma, maka konjugasi antara killer dan sensitive paramecium akan
memunculkan 2 jenis koloni, (1) dari killer original yang mengandung allel K
(Kk) dan bakteri kappa , (2) dari original sensitive sel yang membawa allel K
(Kk) dan sedikit kappa.