Anda di halaman 1dari 2

PANDUAN PRAKTIK KLINIS PUSKESMAS PEJERUK

TATALAKSANA RINITIS VASOMOTOR

ICD-10 J30.0 Vasomotor rhinitis


1. Pengertian Rinitis vasomotor adalah salah satu bentuk rinitis
kronik yang tidak diketahui penyebabnya
(idiopatik), tanpa adanya infeksi, alergi,
eosinofilia, perubahan hormonal, dan pajanan obat
(kontrasepsi oral, antihipertensi, B-bloker, aspirin,
klorpromazin, dan obat topikal hidung
dekongestan).

2. Anamnesis 1. Hidung tersumbat, bergantian kiri dan kanan


tergantung posisi tidur pasien, memburuk pada
pagi hari dan jika terpajan lingkungan non-
spesifik seperti perubahan suhu atau
kelembaban udara, asap rokok, bau menyengat.
2. Rinore yang bersifat serosa atau mukus,
kadang-kadang jumlahnya agak banyak.
3. Bersin-bersin lebih jarang dibandingkan rinitis
alergika.
4. Lebih sering terjadi pada wanita.

3. Pemeriksaan Fisik Rinoskopi anterior:


1. Tampak gambaran konka inferior membesar
(edema atau hipertrofi), berwarna merah gelap
atau merah tua atau pucat. Untuk membedakan
edema dengan hipertrofi konka, dokter dapat
memberikan larutan Epinefrin 1/10.000 melalui
tampon hidung. Pada edema, konka akan
mengecil, sedangkan pada hipertrofi tidak
mengecil.
2. Terlihat adanya sekret serosa dan biasanya
jumlahnya tidak banyak. Akan tetapi pada
golongan rinore tampak sekret serosa yang
jumlahnya sedikit lebih banyak dengan konka
licin atau berbenjol-benjol.

4. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk


menyingkirkan kemungkinan rinitis alergi. Pemeriksaan
dilakukan bila diperlukan dan fasilitas tersedia di
layanan Tingkat Pertama, yaitu:
1. Kadar eosinofil pada darah tepi atau sekret hidung
2. Tes cukit kulit (skin prick test)
3. Kadar IgE spesifik

5. Kriteria Diagnosis Diagnosis ditegakkan melalui anamnesis dan


pemeriksaan fisik dan penunjang bila diperlukan

6. Diagnosis Kerja Rinitis vasomotor


7. Diagnosis banding 1. Rinitis alergi
2. Rinitis medikamentosa
3. Rinitis akut

8. Tatalaksana 1. Medikamentosa
Terapi oral dapat menggunakan preparat
simpatomimetik golongan agonis alfa
(Pseudoefedrin) sebagai dekongestan hidung
oral dengan atau tanpa kombinasi antihistamin

9. Edukasi 1. Mengidentifikasi dan menghindari faktor


pencetus
2. Berhenti merokok.

10. Prognosis Ad vitam : Bonam


Ad functionam : Bonam
Ad sanationam : Bonam
11. Tingkat Evidens
12. Tingkat Rekomendasi
13. Kriteria Rujukan 1. Jika diperlukan tindakan operatif
14. Tujuan Rujukan Dokter Spesialis THT
15. Penelaah Kritis 1. Dr. Alfi Syahrin
2. Dr. Ni Wayan Diptaningsih
3. Dr. Dwi Fachrul
4. Dr. Aini Pusva Dewi

16. Indikator Keluhan membaik


17. Kepustakaan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor Hk. 02.02/Menkes/514/2015 tentang
Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas
Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama