Anda di halaman 1dari 3

PANDUAN PRAKTIK KLINIS PUSKESMAS PEJERUK

TATALAKSANA RINITIS ALERGI

ICD-10 J30.4 Allergic rhinitis, unspecified


1. Pengertian Rinitis alergi adalah penyakit inflamasi yang
disebabkan oleh reaksi alergi pada pasien atopi
yang sebelumnya sudah tersensitisasi oleh alergen
yang sama serta dilepaskan suatu mediator kimia
ketika terjadi paparan ulangan dengan alergen
spesifik tersebut.
Menurut WHO ARIA (Allergic Rhinitis and its
Impact on Asthma), 2001, rinitis alergi adalah
kelainan pada gejala bersin-bersin, rinore, rasa
gatal dan tersumbat setelah mukosa hidung
terpapar alergen yang diperantai oleh Ig E.

2. Anamnesis 1. Keluhan :
Keluarnya ingus encer dari hidung (rinorea)
Bersin
Bersin merupakan gejala khas, biasanya
terjadi berulang, terutama pada pagi hari.
Bersin lebih dari lima kali sudah dianggap
patologik dan perlu dicurigai adanya rinitis
alergi dan ini menandakan reaksi alergi fase
cepat
hidung tersumbat dan rasa gatal pada
hidung (trias alergi).
Gejala lain berupa mata gatal dan banyak
air mata.

2. Faktor resiko :

Adanya riwayat atopi.


Lingkungan dengan kelembaban yang
tinggi
Terpaparnya debu tungau biasanya karpet
serta sprai tempat tidur, dan suhu yang
tinggi.

3. Pemeriksaan Fisik 1. Adanya allergic salute, yaitu gerakan pasien


menggosok hidung dengan tangan karena gatal.
2. Wajah:
a. Allergic shiners yaitu dark circles di sekitar
mata dan berhubungan dengan vasodilatasi
atau obstruksi hidung.
b. Nasal crease yaitu lipatan horizontal
(horizontal crease) yang melalui setengah
bagian bawah hidung akibat kebiasaan
menggosok hidung keatas dengan tangan.
c. Mulut sering terbuka dengan lengkung
langit-langit yang tinggi, sehingga akan
menyebabkan gangguan pertumbuhan gigi-
geligi (facies adenoid).
3. Faring: dinding posterior faring tampak
granuler dan edema (cobblestone appearance),
serta dinding lateral faring menebal. Lidah
tampak seperti gambaran peta (geographic
tongue).
4. Rinoskopi anterior:
a. Mukosa edema, basah, berwarna pucat atau
kebiruan (livide), disertai adanya sekret
encer, tipis dan banyak. Jika kental dan
purulen biasanya berhubungan dengan
sinusitis.
b. Pada rinitis alergi kronis atau penyakit
granulomatous, dapat terlihat adanya
deviasi atau perforasi septum.
c. Pada rongga hidung dapat ditemukan massa
seperti polip dan tumor, atau dapat juga
ditemukan pembesaran konka inferior yang
dapat berupa edema atau hipertropik.
Dengan dekongestan topikal, polip dan
hipertrofi konka tidak akan menyusut,
sedangkan edema konka akan menyusut.
5. Pada kulit kemungkinan terdapat tanda
dermatitis atopi.
4. Pemeriksaan Penunjang Bila diperlukan dan dapat dilakukan di layanan
Tingkat Pertama.
a. Hitung eosinofil dalam darah tepi dan
sekret hidung.
b. Pemeriksaan Ig E total serum

5. Kriteria Diagnosis Diagnosis ditegakkan melalui anamnesis dan


pemeriksaan fisik dan penunjang bila diperlukan.
6. Diagnosis Kerja Rinitis Alergi
7. Diagnosis banding 1. Rinitis vasomotor,
2. Rinitis akut
8. Tatalaksana 1. Medikamentosa
Terapi oral sistemik
a. Antihistamin
Anti histamin generasi 1: difenhidramin,
klorfeniramin,
Anti histamin generasi 2: loratadin
b. Preparat simpatomimetik golongan agonis
alfa dapat dipakai sebagai dekongestan
hidung oral dengan atau tanpa kombinasi
antihistamin. Dekongestan oral:
pseudoefedrin,

9. Edukasi 1. Menyingkirkan faktor penyebab yang dicurigai


(alergen).
2. Menghindari suhu ekstrim panas maupun
ekstrim dingin.
3. Selalu menjaga kesehatan dan kebugaran
jasmani.

10. Prognosis Ad vitam : Bonam


Ad functionam : Bonam
Ad sanationam : Dubia ad bonam

11. Tingkat Evidens


12. Tingkat Rekomendasi
13. Kriteria Rujukan 1. Bila perlu dilakukan Prick Test untuk
mengetahui jenis alergen.
2. Bila perlu dilakukan tindakan operatif.

14. Tujuan Rujukan Dokter Spesialis THT


15. Penelaah Kritis 1. Dr. Alfi Syahrin
2. Dr. Ni Wayan Diptaningsih
3. Dr. Dwi Fachrul
4. Dr. Aini Pusva Dewi
16. Indikator Keluhan membaik
17. Kepustakaan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor Hk. 02.02/Menkes/514/2015 tentang
Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas
Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama