Anda di halaman 1dari 26

Entropi Sistem

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA 2


JURUSAN KIMIA
PRODI PENDIDIKAN KIMIA 2014

I. JUDULPERCOBAAN : ENTROPI SISTEM


II. HARI / TANGGAL PERCOBAAN : Senin, 11 April 2016
III.TUJUAN PERCOBAAN : Mempelajari perubahan entropi sistem
pada beberapa reaksi
IV. TINJAUAN PUSTAKA
Wujud zat digolongkan ke dalam tiga macam yaitu padat, cair dan gas.
Keteraturan susunan partikel ketiga macam zat tersebut secara berturut-turut adalah
padat > cair > gas. Ukuran ketidak teraturan suatu sistem dinyatakan dengan entropi
(S).

S(g) >S(l) >S(s)

Gambar 1 : Besar entropi pada zat padat, cair dan gas

Perubahannya disebut S dapat dinyatakan secara kualitatif maupun


kuantitatif.Semakin tidak teratur suatu sistem, maka semakin besar entropinya.
Salah satu kesimpulan dari Hukum Kedua, yang dikenal sebagai Ketidaksamaan
Clausius mengatakan, bahwa untuk suatu sistem yang melakukan suatu siklus yang
melibatkan perpindahan sejumlah panas,
dQ
T 0 (1)

dimana dQ adalah elemen dari jumlah panas yang dipindahkan ke sistem pada
temperatur absolut T. Kalau semua proses dalam siklus dapat balik, maka dQ = dQ R dan
kesamaan dalam persamaan (1) benar, yaitu:
dQ
T R =0 (1a)

1
Entropi Sistem

Sifat terbentuk dinamakan entropi, yamg untuk perubahan tak terhingga dari
keadaab, kemudian dapat didefinisikan sebagai
2
dQ R
S 2S1= =0 (2)
1 T

Entropi adalah besaran termodinamika yang menyertai perubahan setiap keadaan,


dari keadaan awal sampai akhir sistem. Entropi menyatakan ukuran ketidakteraturan
sistem. Suatu sistem yang memiliki energi entropi tinggi berarti sistem tersebut makin
tidak teratur. Contohnya jika gas di panaskan, maka molekul-molekul gas akan
bergerak secara acak, yang menunjukkan entropi tinggi. Sebaliknya, jika suhu
diturunkan, gas bergerak lebih teratur atau entropi rendah.
Proses-proses transisi yang berlangsung pada suhu dan tekanan tetap seperti
perubahan wujud (penyubliman, penguapan, dan pelelehan) atau perubahan bentuk
kristal (transformasi) pada umumnya berlangsung secara reversibel. Persamaannya
sebagai berikut:

Q rev
S=
T

Persamaan tersebut berlaku pada sistem yang mengalami siklus reversibel dan
besarnya perubahan entropi (S) hanya bergantung pada keadaan akhir dan keadaan
awal sistem.

Proses tak reversibel (seperti pendinginan hingga mencapai temperatur yang


sama dengan temperatur lingkungan dan pemuaian bebas dari gas) adalah proses
spontan, sehingga proses itu disertai dengan kenaikan entropi. Kita dapat menyatakan
bahwa proses tak reversibel menghasilkan entropi. Sedangkan proses reversibel adalah
perubahan yang sangat seimbang, dengan sistem dalam keseimbangan dengan
lingkungannya pada setiap tahap. Setiap langkah yang sangat kecil di sepanjang
jalannya bersifat reversibel dan terjadi tanpa menyebarkan energi secara kacau,
sehingga juga tanpa kenaikan entropi; proses reversibel tidak menghasilkan entropi,
melainkan hanya memindahkan entropi dari satu bagian ke bagian lain (Atkins, 1986).

Jika dikembalikan ke keadaan semula secara reversibel, entropinya berubah

sebesar S (karena entropi termasuk fungsi keadaan dan nilainya harus kembali ke

nilai asalnya jika keadaannya dikembalikan). Energi yang harus diberukan sebagai

2
Entropi Sistem

panas juga negatif dari perubahan dalam langkah maju, dan sama dengan dQ rev. Energi
ini berasal dari lingkungan sehingga lingkungan mengalami perubahan dQ = dQrev dan
entropinya berubah sebesar dS = dQrev / T. Walaupun demikian, perubahan total sistem
global, terisolasi selama pemulihan bernilai nol (karena pemulihan ini berlangsung
reversibel). Oleh karena itu

dQ rev
S=
T

Dalam susunan partikel tiap zat tersebut, zat padat memiliki keteraturan partikel
yang tinggi, kemudian selanjutnya zat cair, dan kemudian gas. Hal ini dikarenakan pada
zat padat partikel tersusun rapat dan teratur satu sama lain karena gaya tarik
antarmolekulnya sangat besar sehingga partikel tidak dapat bergerak bebas, zat cair
gaya tarik molekulnya lebih kecil daripada zat padat sehingga molekul dapat bergerak
bebas dan tidak teratur, dan pada gas gaya tarik antarmolekulnya kecil sekali sehingga
jarak partikelnya sangat jauh satu sama lain dan semakin tidak teratur. Ketika di dalam
suatu sistem, maka susunan partikel maka perlu diketahui bagaimana keteraturan sistem
tersebut. Hal ini salah satunya dipengaruhi wujud zat. Beberapa faktor yang
mempengaruhi perubahan entropi suatu sistem, yaitu:

Perubahan Temperatur
Entopi meningkat seiring dengan kenaikan temperatur.Kenaikan temperatur
tersebut menunjukkan kenaikan energi kinetik rata-rata partikel.
Keadaan Fisik dan Perubahan Fasa
Bila suatu reaksi kimia terjadi perubahan dari keadaan teratur menjadi kurang
teratur dikatakan perubahan entropinya (S) positif.Namun, bila pada suatu reaksi
kimia terjadi perubahan dari keadaan kurang teratur menjadi teratur dikatakan
perubahan entropinya (S) negatif.
Pelarutan Solid atau Liquid
Entropi solid atau liquid terlarut biasanya lebih besar dari solut murni, tetapi jenis
solut dan solven dan bagaimana proses pelarutannya mempengaruhi entropi overall.
Pelarutan Gas
Gas begitu tidak teratur dan akan menjadi lebih teratur saat dilarutkan dalam
liquid atau solid. Entropi larutan gas dalam liquid atau solid selalu lebih kecil dibanding
gas murni.Saat O2 (S(g) = 205,0J/mol K) dilarutkan dalam air, entropi turun drastis (S(aq)
= 110,9 J/mol K).
Ukuran Atom atau Kompleksitas Molekul

3
Entropi Sistem

Perbedaan entropi zat dengan fasa sama tergantung pada ukuran atom dan
kompleksitas molekul.

A. Entropi dan Hukum Kedua Termodinamika


1 Sistem alami cenderung kearah tidak teratur, random, distribusi partikel kurang
teratur.
2 Beberapa sistem cenderung lebih tidak teratur (es meleleh) tetapi ada juga yang
lebih teratur (air membeku) secara spontan .
3 Dengan meninjau sistem dan lingkungan terlihat semua proses yang berlangsung
dalam arah spontan akan meningkatkan entropi total alam semesta (sistem dan
lingkungan). Ini yang disebut dengan hukum kedua termodinamika.
4 Hukum ini tidak memberikan batasan perubahan entropi sistem atau lingkungan,
tetapi untuk perubahan spontan entropi total sistem dan lingkungan harus positif

Secara matematik, perubahan entropi didefinisikan sebagai :

Namun, pada kenyataannya proses spontan selalu bersifat irreversibel, dan


untuk memperoleh Salam semesta = 0 yang berarti proses tersebut reversibel sejati
adalah tidak bisa tercapai/diperoleh.
Berdasarkan hukum kedua termodinamika tersebut serta hukum konservasi
energi, entropi juga dapat digunakan sebagai kriteria kesetimbangan:

(1) Untuk sistem yang terisolasi (m, E, dan V konstan)


(2) Untuk proses yang spontan S > 0 (entropi maksimum)
(3) Untuk sistem yang terisolasi dan berada daam keadaan yang setimbang, S
akan maksimum.
(4) Untuk setiap perubahan yang sifatnya intremental dari sisten yang berada
dalam keadaan terisolasi:
1 Jika

proses akan berlangsung


2 Jika

proses tidak akan berlangsung


3 Jika

proses berlangsung setimbang

4
Entropi Sistem

B. Hubungan Entropi dan Suhu


Pada mulanya, untuk perubahan entropi dirumuskan sebagai dS = dq / T. Untuk
perubahan yang kecil, maka dS = dqreversibel/ T diintegralkan .
dS = dqreversibel/ T

Untuk perubahan dari T1 ke T2 :

Dari rumusan ini, maka terlihat bergantung pada suhu. C (kapasitas

kalor) bergantung pada proses yang terjadi apakah pada tekanan tetap atau volume
tetap. Jika pada tekanan tetap, C yang digunakan adalah Cp, jika pada volume tetap, C
yang digunakan adalah Cv.

C. Perubahan Entropi dan perubahan Entalpi

Jika reaksi kimia berlangsung dalam sistem dengan perubahan entalpi

, kalor yang memasuki lingkungan pada tekanan tetap adalah q = -

, sehingga perubahan entropi adalah :

5
Entropi Sistem

Untuk proses eksotermik, bernilai negatif karena sistem melepaskan

kalor ( , sehingga akan bernilai positif.

Sedangkan untuk proses endotermik, bernilai positif karena sistem

menyerap kalor, sehingga akan bernilai negatif (

D. Reaksi Eksoterm dan Endoterm


Reaksi Eksotermikmerupakan reaksi yang melepaskan kalor atau menghasilkan
energi. Entalpi sistem berkurang (hasil reaksi memiliki entalpi yang lebih rendah dari
zat semula).
Reaksi Endotermikadalah reaksi yang menyerap kalor atau memerlukan energi.
Entalpi sistem bertambah (hasil reaksi memiliki entalpi yang lebih tinggi dari zat
semula).

E. Entropi pada Reaksi Kimia


Berbeda dengan besaran-besaran termodinamika yang telah dibahas sebelumnya,
seperti energi dalam dan entalpi, entropi mutlak suatu zat yang dapat ditentukan.Data
entropi untuk suatu zat atau unsur yang terdapat dalam tabel tersebut, perubahan entropi
suatu reaksi kimia dapat ditentukan.
Misalnya untuk reaksi, yang digambarkan secara umum,
A + B C +D

Perubahan entropinya diberikan oleh persamaan


S =S produkS pereaksi

( S C +S D ) ( S A+ S B )

Ketergantungan entropi reaksi terhadap suhu dapat diperoleh dengan


mendiferensialkan persamaan tersebut terhadap suhu. Jika diferensiasi dilakukan
pada tekanan tetap, diperole hasil

6
Entropi Sistem

S

S produk S pereaksi
( T ) P= ( T ) (
P

T ) P


CP

T

V. ALAT DAN BAHAN

Alat-Alat
Tabung reaksi 3 buah
Termometer 0 - 100C 1 buah
Spatula 1 buah
Kotak plastik 2 buah
Gelas ukur 10 mL 1 buah
Bahan
NaOH padat sendok spatula
KNO3 padat sendok spatula
Larutan HCl 5 mL
NH4Cl sendok spatula
Aquades 20 mL
Logam Mg 2 potong
Ba(OH)2 1 sendok spatula

7
Entropi Sistem

VI. ALUR KERJA

1. a. Tabung reaksi 1

10 mL H2O
- dimasukkan ke dalam tabung reaksi
- diukur dan dicatat suhunya
T1
- ditambahkan 1 sendok spatula NaOH (yang telah ditimbang)
- dikocok sampai larut
- diukur dan dicatat suhunya

T2

b. Tabung Reaksi 2
10 mL H2O
- dimasukkan ke dalam tabung reaksi
- diukur dan dicatat suhunya
T1
- ditambahkan 1 sendok spatula KNO3 (yang telah ditimbang)
- dikocok sampai larut
- diukur dan dicatat suhunya

T2

c. Tabung reaksi 3

5 mL HCl 0,1 M
- dimasukkan ke dalam tabung reaksi
- diukur dan dicatat suhunya
T1
- ditambahkan beberapa logam Mg (yang telah ditimbang)
- dikocok sampai larut
- diukur dan dicatat suhunya

T2

8
Entropi Sistem

2.
1 sendok spatula Ba(OH)2 padat

- dimasukkan ke dalam rol film


- ditambahkan sendok spatula NH4Cl
- diukur dan dicatat suhunya

T1
- ditutup
- dikocok sampai larut
- dibuka tutupnya dan dibau
- diukur dan dicatat suhunya
T2

9
Entropi Sistem

VII. HASIL PENGAMATAN

No Prosedur Percobaan Hasil Pengamatan Dugaan/Reaksi Kesimpulan


1 a. Tabung Reaksi 1 Sebelum : NaOH (s) + H2O (l) Reaksi yang terjadi
Aquades : tidak berwarna NaOH (aq) adalah reaksi
10 mL H2O
NaOH : kristal putih eksoterm yang
- dimasukkan ke dalam tabung reaksi Setelah : ditandai dengan T2 >
- diukur dan dicatat suhunya T1 = 320C T1. Sehingga
T1 Massa NaOH = 0,2286 g didapatkan perubahan
Aquades + NaOH = larutan entalpi sebesar -1,728
- ditambahkan 1 sendok spatula NaOH (yang telah ditimbang)
tak berwarna J dan S = 0,00559
- dikocok sampai larut T2 = 360C J/K.
- diukur dan dicatat suhunya

T2

b. Tabung Reaksi 2 Sebelum : KNO3 (s) + H2O (l) Reaksi yang terjadi
10 mL H2O Aquades : tidak berwarna KNO3 (aq) adalah reaksi
KNO3 : serbuk putih endoterm yang
- dimasukkan ke dalam tabung reaksi Setelah : ditandai dengan T1 >
- diukur dan dicatat suhunya T1 = 320C T2. Sehingga
T1 Massa KNO3 = 0,0347 g didaptkan perubahan
Aquades + KNO3 = larutan entalpi sebesar
- ditambahkan 1 sendok spatula KNO3 (yang telah takditimbang)
berwarna 0,0255 J dan S = -
- dikocok sampai larut T2 = 310C 8,3935 x 10-5 J/K.
- diukur dan dicatat suhunya

T2

10
Entropi Sistem

c. Tabung Reaksi 3 Sebelum : 2HCl (aq) + Mg (s) Reaksi yang terjadi


HCl 0,1 M = larutan MgCl2 (aq) + H2 (g) adalah reaksi
5 mL HCl 0,1 M berwarna kuning jernih eksoterm yang
- dimasukkan ke dalam tabung reaksi Logam Mg = padatan hitam ditandai dengan T2 >
- diukur dan dicatat suhunya Setelah : T1. Sehingga
T1 = 320C didaptkan perubahan
T1 Massa logam Mg = 0,0005 entalpi sebesar
gram -1,5709 x 10-3 J dan
- ditambahkan beberapa logam Mg (yang telah ditimbang)
HCl 0,1 M + logam Mg = S = 5,13359 x 10-6
- dikocok sampai larut
larutan berwarna kuning J/K.
- diukur dan dicatat suhunya jernih, logam Mg larut.
T2 = 330C
T2

2. Sebelum : Ba(OH)2 (s) + NH4Cl (s) Reaksi yang terjadi


1 sendok spatula Ba(OH)2 padat Ba(OH)2 = serbuk putih BaCl2 (s) + 2NH3 (g) + adalah reaksi
NH4Cl = kristal putih H2O (l) eksoterm yang
- dimasukkan ke dalam rol film Setelah : ditandai dengan T2 >
Ba(OH)2 + NH4Cl = endapan T1. Sehingga
- ditambahkan sendok spatula NH4Cl
putih berair didapatkan perubahan
- diukur dan dicatat suhunya
Massa Ba(OH)2 = 0,0623 entalpi sebesar
T1 gram -0,0169 J dan S =
Massa NH4Cl = 0,0240 gram 5,5328 x 10-5 J/K
- ditutup T1 = 320C
- dikocok sampai larut T2 = 330C
- dibuka tutupnya dan dibau Bau = amoniak menyengat
- diukur dan dicatat suhunya
T2

11
Entropi Sistem

VIII. ANALISIS DAN PEMBAHASAN


Pada percobaan entropi ini bertujuan untuk mempelajari perubahan entropi
sistem pada beberapa reaksi.
Percobaan pertama, menyiapkan tiga tabung reaksi. Untuk tabung reaksi
pertama, dimasukkan 10 mL air, lalu diukur suhunya dan diperoleh suhu awal (T 1)

sebesar 32 . Kemudian ditambahkan satu sendok spatula NaOH padat yang

berupa padatan putih dengan massa 0,2286 gram. Setelah itu dikocok hingga NaOH

padat larut, lalu diukur suhunya. Sehingga diperoleh suhu akhir (T2) sebesar 36 .

Pada percobaan ini tidak terjadi perubahan warna pada larutan, larutan tetap berupa
larutan tidak berwarna. Namun terjadi perubahan fase yakni dari padat menjadi cair.
Dimana NaOH yang awalnya berupa padatan, larut dalam air sehingga dihasilkan
larutan NaOH. Berikut reaksi yang terjadi:
H2O (l) + NaOH (s) NaOH (aq)
Terjadinya perubahan fasa dari padat menjadi cair dapat dikatakan bahwa telah
terjadi perubahan entropi positif, karena adanya perubahan ketidakteraturan pada
NaOH yang awalnya memiliki partikel yang teratur atau padat menjadi larutan NaOH
yang partikelnya kurang teratur. Selain itu, perubahan entropi dapat dilihat dengan
adanya perubahan suhu yang terjadi, hal ini terjadi karena adanya pelepasan kalor dari
sistem terhadap lingkungan, dengan demikian reaksi yang terjadi termasuk reaksi

eksoterm yang ditandai dengan T2>T1 sehingga H bernilai negatif. Pada

perhitungan diperoleh perubahan entalpi ( H ) sebesar -1,728 J dan perubahan

S
entropi ) bernilai positif, yakni sebesar 0,00559 J/K artinya ada peningkatan

ketidakteraturan sistem, sehingga reaksi merupakan reaksi reversibel dan spontan atau
dapat langsung terjadi pada tekanan tetap. Untuk perhitungan perubahan entropi,
dapat dilihat pada lampiran perhitungan. Dengan demikian baik secara kualitatif
maupun kuantitatif menunjukkan adanya perubahan entropi positif.
Pada tabung reaksi kedua, dimasukkan 10 mL air, lalu diukur suhunya dan

diperoleh suhu awal (T1) sebesar 32 . Kemudian ditambahkan setengah sendok

spatula KNO3 padat yang berupa serbuk putih dengan massa 0,0347 gram. Setelah itu

12
Entropi Sistem

dikocok hingga KNO3 padat larut dan diukur suhunya. Tidak terjadi perubahan warna
pada larutan, larutan tetap berupa larutan tidak berwana. Namun terjadi perubahan
fasa dari padat menjadi cair. Dimana KNO3 yang awalnya berupa padatan, larut dalam
air sehingga dihasilkan larutan KNO3. Berikut reaksi yang terjadi:
H2O (l) + KNO3(s) KNO3 (aq)

Setelah diukur suhunya, diperoleh suhu akhir (T 2) sebesar 31 . Penurunan suhu

tersebut terjadi karena adanya penyerapan kalor yang terjadi pada sistem dari
lingkungan, dengan demikian reaksi yang terjadi termasuk reaksi endoterm yang

ditandai dengan T1>T2 sehingga H bernilai positif. Pada perhitungan diperoleh

perubahan entalpi ( H ) sebesar 0,0255 J dan perubahan entropi ( S) bernilai

negatif, yakni sebesar -8,3935 J/K.


Pada tabung reaksi ketiga, dimasukkan 5 mL larutan HCl 0,1M, lalu diukur

suhunya dan diperoleh suhu awal (T 1) yang lebih besar, yakni 32 , dimana HCl

larutan berwarna kuning jernih yang merupakan asam kuat. Kemudian ditambahkan
logam Mg dengan massa 0,0005 gram. Setelah itu dikocok hingga logam Mg padat
larut dan diukur suhunya. Tidak terjadi perubahan warna pada larutan, larutan tetap
berupa larutan berwarna kuning jernih. Namun terjadi perubahan fasa dari padat
menjadi cair. Dimana Mg yang awalnya berupa padatan, larut dalam air sehingga
dihasilkan larutan MgCl2. Dari reaksi yang terjadi dihasilkan gelembung-gelembung
kecil sesuai dengan reaksi berikut:
2HCl (l) + Mg (s) MgCl2 (aq) + H2 (g)
Terjadinya perubahan fasa dari padat menjadi cair dapat dikatakan bahwa telah
terjadi perubahan entropi positif, karena adanya perubahan ketidakteraturan pada Mg
yang awalnya memiliki partikel yang teratur atau padat menjadi larutan MgCl 2 yang
partikelnya kurang teratur. Setelah diukur suhunya, diperoleh suhu akhir (T2) sebesar

33 . Kenaikan suhu tersebut terjadi karena adanya pelepasan kalor yang terjadi

pada sistem terhadap lingkungan, dengan demikian reaksi yang terjadi termasuk

reaksi eksoterm yang ditandai dengan T2>T1, sehingga H bernilai negatif. Pada

perhitungan diperoleh perubahan entalpi ( H ) sebesar -1,5709 x 10-3 J dan

13
Entropi Sistem

S -6
perubahan entropi ) bernilai positif, yakni sebesar 5,13359 x 10 J/K artinya

ada peningkatan ketidakteraturan sistem, sehingga reaksi merupakan reaksi reversibel


dan spontan atau dapat langsung terjadi pada tekanan tetap. Untuk perhitungan
perubahan entropi, dapat dilihat pada lampiran perhitungan. Dengan demikian baik
secara kualitatif maupun kuantitatif menunjukkan adanya perubahan entropi positif.
Pada percobaan kedua, satu sendok spatula Ba(OH)2 padat yang berupa serbuk
putih dengan massa 0,0623 gram dan NH4Cl padat yang berupa kristal putih dengan
massa 0,0240 gram dimasukkan ke dalam tempat rol film. Lalu diukur suhunya dan

diperoleh suhu awal (T1) sebesar 32 . Kemudian tempat rol film plastik ditutup

dan dikocok agar bercampur sempurna hingga timbul bau gas yang menyengat. Bau
gas tersebut menunjukkan bahwa Ba(OH)2dan NH4Cl telah bereaksi. Bau menyengat
tersebut merupakan gas amoniak, dimana reaksi yang berlangsung adalah sebagai
berikut:
Ba(OH)2 (s) + 2 NH4Cl(s) BaCl2 (s) + 2NH3 (g) + 2H2O(l)
Terjadinya perubahan fasa dari padat menjadi gas dapat dikatakan bahwa telah terjadi
perubahan entropi positif, karena adanya perubahan ketidakteraturan partikel yang
awalnya teratur atau padat menjadi gas yang partikelnya sangat tidak teratur. Setelah

diukur suhunya, diperoleh suhu akhir (T2) sebesar 33 . Kenaikan suhu tersebut

terjadi karena adanya pelepasan kalor yang terjadi pada sistem terhadap lingkungan,
sehingga reaksi yang terjadi termasuk reaksi eksoterm yang ditandai dengan T 2>T1

sehingga H bernilai negatif. Secara kuantitatif, nilai perubahan entalpi ( H )

sebesar -0,0169 J dan perubahan entropi ( S) bernilai negatif, yakni sebesar

5,5328 x 10-5 J/K. Untuk perhitungan perubahan entropi, dapat dilihat pada lampiran
perhitungan. Dengan demikian baik secara kualitatif maupun kuantitatif menunjukkan
adanya perubahan entropi positif.

IX. KESIMPULAN

Perubahan entropi suatu sistem ( S) dapat ditentukan secara kualitatif dan

kuantitatif. Bila suatu sistem berubah dari keadaan teratur menjadi kurang teratur atau

14
Entropi Sistem

terjadi kenaikan suhu maka diperoleh perubahan entropi ( S) bernilai positif dan

H bernilai negatif (eksoterm), sebaliknya jika sistem berubah dari keadaan

kurang teratur menjadi teratur atau terjadi penurunan suhu maka diperoleh perubahan

entropi ( S) bernilai negatif dan H bernilai positif (endoterm). Dimana zat

padat paling teratur, sedangkan zat cair kurang teratur dan gas paling tidak teratur.

X. DAFTAR PUSTAKA
Alonson, M., & Finn, E. J. (1990). Dasar-Dasar Fisika Universitas (Kedua ed.).
Jakarta: Erlangga.
Atkins, P. W. (1990). Kimia Fisika (Keempat ed.). Jakarta: Erlangga.
Bahl, A., & dkk. (1999). Essentials Of Physical Chemistry. Chandigarh: S. Chand.
Dixon, S. L. (1986). Mekanika Fluida: Termodinamika Mesin Turbo. Jakarta: UI-
Press.
Liapril, J. (2012). Entropi Sistem. Retrieved Maret 23, 2016, from
https://www.scribd.com
Reynolds, W. C., & Perkins, H. C. (1996). Termodinamika Teknik (Kedua ed.).
Jakarta: Erlangga.
Rohman, I., & Mulyani, S. (2004). Kimia Fisika I. Bandung: IMSTEP UPI.
Rusli, R. H. (2008). Termodinamika Proses Material. Jakarta: UI-Press.
Tjahjani, S., & dkk. (2013). Petunjuk Praktikum Kimi Fisika II. Surabaya: FMIPA
UNESA.
Wiryoatmojo, S. (1988). Kimia Fisika I. Jakarta: DEBDIKBUD.

XII. JAWABAN PERTANYAAN


1. Berdasarkan data percobaan, tentukan perubahan entropi secara kualitatif maupun
kuantitatif!
Perubahan entropi secara kualitatif
Perubahan entropi secara kualitatif dapat ditentukan melalui
pengamatan yaitu dengan terjadinya perubahan wujud zat yang bereaksi.
Reaktan yang awalnya padatan setelah bereaksi menjadi larutan dan gas. Zat
padat yang susunan partikelnya teratur berubah menjadi larutan ataupun gas
yang susunan partikelnya kurang teratur dan gas sangat tidak teratur sehingga
perubahan entropinya positif karena berubah dari teratur menjadi tidak
teratur. Selain itu, dapat diamati dengan adanya kenaikan suhu pada sistem,
dengan adanya kenaikan suhu maka gerakan partikel menjadi semakin bebas
oleh karena itu perubahan entropinya positif.

15
Entropi Sistem

Perubahan entropi secara kuantitatif


Perubahan entropi secara kuantitatif dapat ditentukan melalui rumus:
T
S=m c ln 2
T1

2. Deskripsikan hasil analisis saudara!


Percobaan pertama, menyiapkan tiga tabung reaksi. Untuk tabung reaksi
pertama, dimasukkan 10 mL air, lalu diukur suhunya dan diperoleh suhu awal

(T1) sebesar 32 . Kemudian ditambahkan satu sendok spatula NaOH padat

yang berupa padatan putih dengan massa 0,2286 gram. Setelah itu dikocok
hingga NaOH padat larut, lalu diukur suhunya. Sehingga diperoleh suhu akhir

(T2) sebesar 36 . Pada percobaan ini tidak terjadi perubahan warna pada

larutan, larutan tetap berupa larutan tidak berwarna. Namun terjadi perubahan
fase yakni dari padat menjadi cair. Dimana NaOH yang awalnya berupa
padatan, larut dalam air sehingga dihasilkan larutan NaOH. Berikut reaksi yang
terjadi:
H2O (l) + NaOH (s) NaOH (aq)
Terjadinya perubahan fasa dari padat menjadi cair dapat dikatakan
bahwa telah terjadi perubahan entropi positif, karena adanya perubahan
ketidakteraturan pada NaOH yang awalnya memiliki partikel yang teratur atau
padat menjadi larutan NaOH yang partikelnya kurang teratur. Selain itu,
perubahan entropi dapat dilihat dengan adanya perubahan suhu yang terjadi, hal
ini terjadi karena adanya pelepasan kalor dari sistem terhadap lingkungan,
dengan demikian reaksi yang terjadi termasuk reaksi eksoterm yang ditandai

dengan T2>T1 sehingga H bernilai negatif. Pada perhitungan diperoleh

( H ) S
perubahan entalpi sebesar -1,728 J dan perubahan entropi )

bernilai positif, yakni sebesar 0,00559 J/K artinya ada peningkatan


ketidakteraturan sistem, sehingga reaksi merupakan reaksi reversibel dan
spontan atau dapat langsung terjadi pada tekanan tetap. Untuk perhitungan
perubahan entropi, dapat dilihat pada lampiran perhitungan. Dengan demikian

16
Entropi Sistem

baik secara kualitatif maupun kuantitatif menunjukkan adanya perubahan


entropi positif.
Pada tabung reaksi kedua, dimasukkan 10 mL air, lalu diukur suhunya

dan diperoleh suhu awal (T1) sebesar 32 . Kemudian ditambahkan

setengah sendok spatula KNO3 padat yang berupa serbuk putih dengan massa
0,0347 gram. Setelah itu dikocok hingga KNO3 padat larut dan diukur suhunya.
Tidak terjadi perubahan warna pada larutan, larutan tetap berupa larutan tidak
berwana. Namun terjadi perubahan fasa dari padat menjadi cair. Dimana KNO3
yang awalnya berupa padatan, larut dalam air sehingga dihasilkan larutan
KNO3. Berikut reaksi yang terjadi:
H2O (l) + KNO3(s) KNO3 (aq)

Setelah diukur suhunya, diperoleh suhu akhir (T2) sebesar 31 .

Penurunan suhu tersebut terjadi karena adanya penyerapan kalor yang terjadi
pada sistem dari lingkungan, dengan demikian reaksi yang terjadi termasuk

reaksi endoterm yang ditandai dengan T1>T2 sehingga H bernilai positif.

Pada perhitungan diperoleh perubahan entalpi ( H ) sebesar 0,0255 J dan

perubahan entropi ( S) bernilai negatif, yakni sebesar -8,3935 J/K.

Pada tabung reaksi ketiga, dimasukkan 5 mL larutan HCl 0,1M, lalu

diukur suhunya dan diperoleh suhu awal (T 1) yang lebih besar, yakni 32 ,

dimana HCl larutan berwarna kuning jernih yang merupakan asam kuat.
Kemudian ditambahkan logam Mg dengan massa 0,0005 gram. Setelah itu
dikocok hingga logam Mg padat larut dan diukur suhunya. Tidak terjadi
perubahan warna pada larutan, larutan tetap berupa larutan berwarna kuning
jernih. Namun terjadi perubahan fasa dari padat menjadi cair. Dimana Mg yang
awalnya berupa padatan, larut dalam air sehingga dihasilkan larutan MgCl2.
Dari reaksi yang terjadi dihasilkan gelembung-gelembung kecil sesuai dengan
reaksi berikut:
2HCl (l) + Mg (s) MgCl2 (aq) + H2 (g)
Terjadinya perubahan fasa dari padat menjadi cair dapat dikatakan
bahwa telah terjadi perubahan entropi positif, karena adanya perubahan
17
Entropi Sistem

ketidakteraturan pada Mg yang awalnya memiliki partikel yang teratur atau


padat menjadi larutan MgCl2 yang partikelnya kurang teratur. Setelah diukur

suhunya, diperoleh suhu akhir (T2) sebesar 33 . Kenaikan suhu tersebut

terjadi karena adanya pelepasan kalor yang terjadi pada sistem terhadap
lingkungan, dengan demikian reaksi yang terjadi termasuk reaksi eksoterm yang

ditandai dengan T2>T1, sehingga H bernilai negatif. Pada perhitungan

diperoleh perubahan entalpi ( H ) sebesar -1,5709 x 10-3 J dan perubahan

S -6
entropi ) bernilai positif, yakni sebesar 5,13359 x 10 J/K artinya ada

peningkatan ketidakteraturan sistem, sehingga reaksi merupakan reaksi


reversibel dan spontan atau dapat langsung terjadi pada tekanan tetap. Untuk
perhitungan perubahan entropi, dapat dilihat pada lampiran perhitungan.
Dengan demikian baik secara kualitatif maupun kuantitatif menunjukkan adanya
perubahan entropi positif.
Pada percobaan kedua, satu sendok spatula Ba(OH) 2 padat yang berupa
serbuk putih dengan massa 0,0623 gram dan NH 4Cl padat yang berupa kristal
putih dengan massa 0,0240 gram dimasukkan ke dalam tempat rol film. Lalu

diukur suhunya dan diperoleh suhu awal (T 1) sebesar 32 . Kemudian

tempat rol film plastik ditutup dan dikocok agar bercampur sempurna hingga
timbul bau gas yang menyengat. Bau gas tersebut menunjukkan bahwa
Ba(OH)2dan NH4Cl telah bereaksi. Bau menyengat tersebut merupakan gas
amoniak, dimana reaksi yang berlangsung adalah sebagai berikut:
Ba(OH)2 (s) + 2 NH4Cl(s) BaCl2 (s) + 2NH3 (g) + 2H2O(l)
Terjadinya perubahan fasa dari padat menjadi gas dapat dikatakan bahwa
telah terjadi perubahan entropi positif, karena adanya perubahan
ketidakteraturan partikel yang awalnya teratur atau padat menjadi gas yang
partikelnya sangat tidak teratur. Setelah diukur suhunya, diperoleh suhu akhir

(T2) sebesar 33 . Kenaikan suhu tersebut terjadi karena adanya pelepasan

kalor yang terjadi pada sistem terhadap lingkungan, sehingga reaksi yang terjadi

18
Entropi Sistem

termasuk reaksi eksoterm yang ditandai dengan T2>T1 sehingga H bernilai

negatif. Secara kuantitatif, nilai perubahan entalpi ( H ) sebesar -0,0169 J

dan perubahan entropi ( S) bernilai negatif, yakni sebesar 5,5328 x 10-5

J/K. Untuk perhitungan perubahan entropi, dapat dilihat pada lampiran


perhitungan. Dengan demikian baik secara kualitatif maupun kuantitatif
menunjukkan adanya perubahan entropi positif.

LAMPIRAN PERHITUNGAN

1. Percobaan 1
- Tabung Reaksi 1
Diketahui :
T1 = 320C + 273 = 305 K
T2 = 360C + 273 = 309 K
Massa NaOH = 0,2286 gram
Cp H2O = 75,291 J/mol.K
Ditanya : S dan H ?
Jawab :
massa NaOH 0,2286 g
mol NaOH= = =0,005715 mol
Mr NaOH 40 g/mol

T2
S=mol NaOH x Cp H 2 O x ln
T1

19
Entropi Sistem

309 K
= 0,005715 mol x 75,291 J/mol.K x ln 305 K

= 0,00559 J/K

H = - S x T2
= - 0,00559 J/K x 309 K
= - 1,728 J

- Tabung Reaksi 2
Diketahui :
T1 = 320C + 273 = 305 K
T2 = 310C + 273 = 304 K
Massa KNO3 = 0,0347 gram
Cp H2O = 75,291 J/mol.K
Ditanya : S dan H ?
Jawab :
massa KN O3 0,0347 g
mol KN O3 = = =0,00034 mol
Mr KN O3 101 g /mol

T2
S=mol KN O3 x Cp H 2 O x ln
T1

304 K
= 0,00034 mol mol x 75,291 J/mol.K x ln 305 K

= - 8,3935 x 10-5 J/K

H = - S x T2
= - (- 8,3935 x 10-5) J/K x 304 K
= 0,0255 J

- Tabung Reaksi 3
Diketahui :
T1 = 320C + 273 = 305 K
T2 = 330C + 273 = 306 K
Massa Mg = 0,0005 gram
Cp H2O = 75,291 J/mol.K
HCl 0,1 M = 5 mL
Ditanya : S dan H ?
Jawab :
massa Mg 0,0005 g
mol Mg= = =2,083 x 105 mol
Ar Mg 24 g/mol

Mol HCl = M HCl x V HCl = 0,1 M x 0,005 L = 0,0005 mol


Reaksi

20
Entropi Sistem

Mg (s) + HCl (aq) MgCl2 (aq) + H2 (g)


M 0,00002083 0,0005
R 0,00002083 0,00002083 0,00002083 0,00002083
S - 4,7917 x 10-4 0,00002083 0,00002083

T2
S=mol MgCl 2 x Cp H 2 O x ln
T1

306 K
= 0,00002083 mol x 75,291 J/mol.K x ln 305 K

= 5,13359 x 10-6 J/K

H = - S x T2
= - 5,13359 x 10-6 J/K x 306 K
= - 1,5709 x 10-3 J

2. Percobaan 2
Diketahui :
T1 = 320C + 273 = 305 K
T2 = 330C + 273 = 306 K
Massa Ba(OH)2 = 0,0623 gram
Massa NH4Cl = 0,0240 gram
Cp H2O = 75,291 J/mol.K
Ditanya : S dan H ?
Jawab :
massa Ba(OH )2 0,0623 g
mol Ba(OH )2= = =0,000364 mol
Mr Ba(OH )2 171 g /mol

massa NH 4 Cl 0,0240 g
mol NH 4 Cl= = =0,000449 mol
Mr NH 4 Cl 53,45 g /mol

Reaksi
2 NH 4 Cl
Ba(OH)2 (s) + (s) BaCl2 (s) + 2NH3(g) + H2O(l)
M 0,000364 0,000449
R 0,0002245 0,000449 0,0002245 0,000449 0,0002245
S 0,0000395 - 0,0002245 0,000449 0,0002245

T2
S=mol BaCl 2 x Cp H 2 O x ln
T1

21
Entropi Sistem

306 K
= 0,0002245 mol x 75,291 J/mol.K x ln 305 K

= 5,5328 x 10-5 J/K

H = - S x T2
= - 5,5328 x 10-5 J/K x 306 K
= - 1,693 x 10-2 J

22
Entropi Sistem

LAMPIRAN FOTO

Percobaan 1

Siapkan alat yang digunakan

Mengambil 10 mL aquades

Mengukur suhu awal Menimbang NaOH

NaOH dimasukkan dalam tabung reaksi Mengukur suhu akhir

23
Entropi Sistem

Menimbang KNO3 KNO3 dimasukkan dalam tabung reaksi

Diukur suhu setelah pelarutan Mengambil 5 mL HCl 0,1 M

Menimbang logam Mg Logam Mg dimasukkan dalam tabung reaksi


berisi larutan HCl

24
Entropi Sistem

Diukur suhunya

Percobaan 2

Menimbang padatan Ba(OH)2 Menimbang padatan NH4Cl

Mengukur suhu awal


Dimasukkan ke dalam rol film

25
Entropi Sistem

Mengocok rol film Mengukur suhu akhir

26