Anda di halaman 1dari 1

A.4.

2 Struktur gedung beraturan dan tidak beraturan


A.4.2.1 Struktur gedung dapat digolongkan ke dalam struktur gedung beraturan, bila
memenuhi ketentuan-ketentuan yang diberikan dalam pasal ini. Struktur gedung beraturan
ini pada umumnya simetris dalam denah dengan sistem struktur yang terbentuk oleh
subsistem-subsistem penahan beban lateral yang arahnya saling tegak lurus dan sejajar
dengan sumbu-sumbu utama ortogonal denah tersebut. Apabila untuk analisis 3D sumbu
sumbu koordinat diambil sejajar dengan arah sumbu-sumbu utama denah struktur,
kemudian dilakukan analisis vibrasi bebas, maka pada struktur gedung beraturan gerak
ragam pertama akan dominan dalam translasi dalam arah salah satu sumbu utamanya,
sedangkan gerak ragam kedua akan dominan dalam translasi dalam arah sumbu utama
lainnya. Dengan demikian, struktur 3D gedung beraturan praktis berperilaku sebagai
struktur 2D dalam masing-masing arah sumbu utamanya. Akan dijelaskan nanti (lihat
A.6.1.1), bahwa pengaruh gempa pada struktur gedung beraturan dengan menerapkan
metoda Analisis Ragam dapat dianggap seolah-olah berupa beban gempa statik ekuivalen
yang dihitung sebagai respons dinamik ragam fundamentalnya saja.

A.7 Perencanaan struktur gedung tidak beraturan


A.7.1 Ketentuan untuk analisis respons dinamik
A.7.1.1 Dalam praktek tidak jarang dihadapi struktur-struktur gedung yang sangat
tidak beraturan. Dari segi analisis hal ini tidak menjadi masalah, dengan tersedianya
berbagai program komputer canggih saat ini. Kemampuan tinggi menganalisis struktur
rumit, seyogyanya dipakai juga untuk mengontrol perilaku struktur tersebut dalam
responsnya terhadap gempa. Dengan melakukan analisis vibrasi bebas 3D dapat dilihat,
bagaimana kecenderungan perilaku struktur terhadap gempa. Apabila gerak ragam pertama
sudah dominan dalam rotasi, hal ini menunjukkan perilaku yang buruk dan sangat tidak
nyaman bagi penghuni ketika terjadi gempa. Sistem struktur demikian harus diperbaiki dan
disusun kembali dengan menempatkan unsur-unsur yang lebih kaku pada keliling denah
untuk memperbesar kekakuan rotasi (torsi) sistem struktur secara keseluruhan, sehingga
gerak ragam pertama menjadi dominan dalam translasi. Memberi penalti pada struktur
yang memuntir dengan menambah beban gempanya memang dapat menambah keamanan,
tetapi tidak dapat merubah perilakunya.

Sumber : SNI gempa 2002 atau pada pasal 7.7.3 SNI gempa 2012 yang ada kaitannya juga