Anda di halaman 1dari 13

Manusia Dan Norma

Disusun Oleh:
- Fein Ory Lenin (5143331005)
- M.Guntur.Pratama (5143331010)

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRO


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2017

1
MANUSIA DAN NORMA

A. Pengertian Manusia

Manusia dilahirkan dan hidup tidak terpisahkan satu sama lain, melainkan

berkelompok. Hidup berkelompok ini merupakan kodrat manusia dalam memenuhi

kebutuhannya. Selain itu juga untuk mempertahankan hidupnya, baik terhadap bahaya dari

dalam maupun yang datang dari luar. Setiap manusia akan terdorong melakukan berbagai

usaha untuk menghindari atau melawan dan mengatasi bahaya - bahaya itu.
Dalam hidup berkelompok itu terjadilah interaksi antar manusia. Interaksi yang kita

lakukan pasti ada kepentingannya, sehingga bertemulah dua atau lebih kepentingan.

Pertemuan kepentingan tersebut disebut kontak. Menurut Surojo Wignjodipuro, ada dua

macam kontak, yaitu :

1 Kontak yang menyenangkan, yaitu jika kepentingan-kepentinganyang bertemu saling

memenuhi. Misalnya, penjual bertemu dengan pembeli.


2 Kontak yang tidak menyenangkan, yaitu jika kepentingan - kepentingan yang bertemu

bersaingan atau berlawanan. Misalnya, pelamar yang bertemu dengan pelamar yang lain,

pemilik barang bertemu dengan pencuri.

Mengingat banyaknya kepentingan, terlebih kepentingan antar pribadi, tidak mustahil

terjadi konflik antar sesama manusia, karena kepentingannya saling bertentangan. Agar

kepentingan pribadi tidak terganggu dan setiap orang merasa merasa aman, maka setiap

bentuk gangguan terhadap kepentingan harus dicegah. Manusia selalu berusaha agar

tatanan masyarakat dalam keadaan tertib, aman, dan damai, yang menjamin kelangsungan

hidupnya.
Sebagai manusia yang menuntut jaminan kelangsungan hidupnya, harus diingat pula

manusia adalah mahluk sosial. Menurut Aristoteles, manusia itu adalah Zoon Politikon,

2
yang dijelaskan lebih lanjut oleh Hans Kelsen man is a social and politcal being artinya

manusia itu adalah makhluk sosial yang dikodratkan hidup dalam kebersamaan dengan

sesamanya dalam masyarakat, dan mahluk yang terbawa oleh kodrat sebagai makhluk

sosial itu selalu berorganisasi.


Kehidupan dalam kebersamaan(ko-eksistensi)berarti adanya hubungan antara

manusia yang satu dengan manusia yang lainnya. Hubungan yang dimaksud dengan

hubungan sosial (social relation) atau relasi sosial. Yang dimaksud hubungan sosial adalah

hubungan antar subjek yang saling menyadari kehadirannya masing - masing. Dalam

hubungan sosial itu selalu terjadi interaksi sosial yang mewujudkan jaringan relasi - relasi

sosial (a web of social relationship) yang disebut sebagai masyarakat. Dinamika kehidupan

masyarakat menuntut cara berperilaku antara satu dengan yang lainnya untuk mencapai

suatu ketertiban.
Ketertiban didukung oleh tatanan yang mempunyai sifat berlain - lainan karena

norma - norma yang mendukung masing - masing tatanan mempunyai sifat yang tidak

sama. Oleh karena itu, dalam masyarakat yang teratur setiap manusia sebagai anggota

masyarakat harus memperhatikan norma atau kaidah, atau peraturan hidup yang ada dan

hidup dalam masyarakat.


Manusia sebagai makhluk Tuhan adalah makhluk pribadi sekaligus makhluk sosial,

susila, dan religius. Sifat kodrati manusia sebagai makhluk pribadi, sosial, susila, dan

religii harus dikembangkan secara seimbang, selaras, dan serasi. Perlu disadari bahwa

manusia hanya mempunyai arti dalam kaitannya dengan manusia lain dalam masyarakat.

Manusia mempunyai arti hidup secara layak jika ada diantara manusia lainnya. Tanpa ada

manusia lain atau tanpa hidup bermasyarakat, seseorang tidak dapat menyelenggarakan

hidupnya dengan baik.

1. Pengembangan Manusia Sebagai Makhluk Individu

3
Sebagai makhluk individu yang menjadi satuan terkecil dalam suatu organisasi atau

kelompok, manusia harus memiliki kesadaran diri yang dimulai dari kesadaran pribadi di

antara segala kesadaran terhadap segala sesuatu. Kesadaran diri tersebut meliputi

kesadaran diri di antara realita, self-respect, self-narcisme, egoisme, martabat kepribadian,

perbedaan dan persamaan dengan pribadi lain, khususnya kesadaran akan potensi-potensi

pribadi yang menjadi dasar bagi self-realisation.


Sebagai makhluk individu, manusia memerlukan pola tingkah laku yang bukan

merupakan tindakan instingtif belaka. Manusia yang biasa dikenal dengan Homo sapiens

memiliki akal pikiran yang dapat digunakan untuk berpikir dan berlaku bijaksana. Dengan

akal tersebut, manusia dapat mengembangkan potensi-potensi yang ada di dalam dirinya

seperti, karya, cipta, dan karsa. Dengan pengembangan potensi-potensi yang ada, manusia

mampu mengembangkan dirinya sebagai manusia seutuhnya yaitu makhluk ciptaan Tuhan

yang paling sempurna.


Perkembangan manusia secara perorangan pun melalui tahap-tahap yang memakan

waktu puluhan atau bahakan belasan tahun untuk menjadi dewasa. Upaya pendidikan

dalam menjadikan manusia semakin berkembang. Perkembangan keindividualan

memungkinkan seseorang untuk mengmbangkan setiap potensi yang ada pada dirinya

secara optimal.
Sebagai makhluk individu manusia mempunyai suatu potensi yang akan berkembang

jika disertai dengan pendidikan. Melalui pendidikan, manusia dapat menggali dan

mengoptimalkan segala potensi yang ada pada dirinya. Melalui pendidikan pula manusia

dapat mengembangkan ide-ide yang ada dalam pikirannya dan menerapkannya dalam

kehidupannya sehari-hari yang dapat meningkatkan kualitas hidup manusia itu sendiri.

2. Pengembangan Manusia Sebagai Makhluk Sosial

4
Di dalam kehidupannya, manusia tidak hidup dalam kesendirian. Manusia memiliki

keinginan untuk bersosialisasi dengan sesamanya. Ini merupakan salah satu kodrat manusia

adalah selalu ingin berhubungan dengan manusia lain. Hal ini menunjukkan kondisi yang

interdependensi. Di dalam kehidupan manusia selanjutnya, ia selalu hidup sebagai warga

suatu kesatuan hidup, warga masyarakat, dan warga negara. Hidup dalam hubungan

antaraksi dan interdependensi itu mengandung konsekuensi-konsekuensi sosial baik dalam

arti positif maupun negatif. Keadaan positif dan negatif ini adalah perwujudan dari nilai-

nilai sekaligus watak manusia bahkan pertentangan yang diakibatkan oleh interaksi

antarindividu. Tiap-tiap pribadi harus rela mengorbankan hak-hak pribadi demi

kepentingan bersama Dalam rangka ini dikembangkanlah perbuatan yang luhur yang

mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan. Pada zaman

modern seperti saat ini manusia memerlukan pakaian yang tidak mungkin dibuat sendiri.
Tidak hanya terbatas pada segi badaniah saja, manusia juga mempunyai perasaaan

emosional yang ingin diungkapkan kepada orang lain dan mendapat tanggapan emosional

dari orang lain pula. Manusia memerlukan pengertian, kasih saying, harga diri pengakuan,

dan berbagai rasa emosional lainnya. Tanggapan emosional tersebut hanya dapat diperoleh

apabila manusia berhubungan dan berinteraksi dengan orang lain dalam suatu tatanan

kehidupan bermasyarakat.
Dalam berhubungan dan berinteraksi, manusia memiliki sifat yang khas yang dapat

menjadikannya lebih baik. Kegiatan mendidik merupakan salah satu sifat yang khas yang

dimiliki oleh manusia. Imanuel Kant mengatakan, "manusia hanya dapat menjadi manusia

karena pendidikan". Jadi jika manusia tidak dididik maka ia tidak akan menjadi manusia

dalam arti yang sebenarnya. Hal ini telah terkenal luas dan dibenarkan oleh hasil penelitian

5
terhadap anak terlantar. Hal tersebut memberi penekanan bahwa pendidikan memberikan

kontribusi bagi pembentukan pribadi seseorang.


Dengan demikian manusia sebagai makhluk sosial berarti bahwa disamping manusia

hidup bersama demi memenuhi kebutuhan jasmaniah, manusia juga hidup bersama dalam

memenuhi kebutuhan rohani.

3. Pengembangan manusia sebagai makhluk Susila

Aspek kehidupan susila adalah aspek ketiga setelah aspek individu dan sosial.

Manusia dapat menetapkan tingkah laku yang baik dan yang buruk karena hanya manusia

yang dapat menghayati norma-norma dalam kehidupannya.


Dalam proses antar hubungan dan antaraksi itu, tiap-tiap pribadi membawa identitas

dan kepribadian masing-masing. Oleh karena itu, keadaan yang yang cukup bermacam-

macam akan terjadi berbagai konsekuensi tindakan-tindakan masing-masing pribadi.


Kehidupan manusia yang tidak dapat lepas dari orang lain, membuat orang harus

memiliki aturan-aturan norma. Aturan-aturantersebut dibuat untuk menjadikan manusia

menjadi lebih beradab. Menusia akan lebih menghargai nilai-nilai moral yang akan

membawa mereka menjadi lebih baik.


Selain aturan-aturan norma, manusia juga memerlukan pendidikan yang dapat

digunakan sebagai sarana mencapai kemakmuran dan kenyamanan hidup. Pendidikan

dapat menjadikan manusia seutuhnya. Dengan pendidikan, manusia dapat mengerti dan

memahami makna hidup dan penerapannya.


Melalui pendidikan kita harus mampu menciptakan manusia yang bersusila, karena

hanya dengan pendidikan kita dapat memanusiakan manusia. Melalui pendidikan pula

manusia dapat menjadi lebih baik daripada keadaan sebelumnya. Dengan pendidikan ini,

manusia juga dapat melaksanakan dengan baik norma-norma yang ada dalam suatu

6
masyarakat. Manusia akan mematuhi norma-norma yang ada dalam masyarakat jika

diberikan pendidikan yang tepat.


Dengan demikian, kelangsungan kehidupan masyarakat tersebut sangat tergantung

pada tepat tidaknya suatu pendidikan mendidik seorang manusia mentaati norma, nilai dan

kaidah masyarakat. Jika tidak maka manusia akan melakukan penyimpangan terhadap

norma-norma yang telah disepakati bersama oleh masyarakat.

4. Pengembangan Manusia Sebagai Mahluk Religius

Manusia diciptakan Tuhan Yang Maha Kuasa di muka bumi ini sebagai makhluk

yang paling sempurna dibandingkan dengan makhluk lain. Melalui kesempurnaannya itu

manusia bisa berpikir, bertindak, berusaha, dan bisa menentukan mana yang benar dan

baik. Di sisi lain, manusia meyakini bahwa dia memiliki keterbatasan dan kekurangan.

Mereka yakin ada kekuatan lain, yaitu Tuhan Sang Pencipta Alam Semesta. Oleh sebab itu,

sudah menjadi fitrah manusia jika manusia mempercayai adanya Sang Maha Pencipta yang

mengatur seluruh sistem kehidupan di muka bumi.


Dalam kehidupannya, manusia tidak bisa meninggalkan unsur Ketuhanan. Manusia

selalu ingin mencari sesuatu yang sempurna. Dan sesuatu yang sempurna tersebut adalah

Tuhan. Hal itu merupakan fitrah manusia yang diciptakan dengan tujuan untuk beribadah

kepada Tuhannya.
Oleh karena fitrah manusia yang diciptakan dengan tujuan beribadah kepada Tuhan

Yang Maha Esa, untuk beribadah kepada Tuhan pun diperlukan suatu ilmu. Ilmu tersebut

diperoleh melalui pendidikan. Dengan pendidikan, manusia dapat mengenal siapa

Tuhannya. Dengan pendidikan pula manusia dapat mengerti bagaimana cara beribadah

kepada Tuhan Yang Maha Esa.


Melalui sebuah pendidikan yang tepat, manusia akan menjadi makhluk yang dapat

mengerti bagaimana seharusnya yang dilakukan sebagai seorang makhluk Tuhan. Manusia

7
dapat mengembangkan pola pikirnya untuk dapat mempelajari tanda-tanda kebesaran

Tuhan baik yang tersirat ataupu dengan jelas tersurat dalam lingkungan sehari-hari.
Maka dari keseluruhan perkembangan itu menjadi lengkap dan utuh dalam setiap

sisinya, baik dari sisi individu, sosial, susila, maupun religius. Keutuhan dari setiap sisi

tersebut dapat menjadikan manusia menjadi makhluk yang lebih tinggi derajatnya

dibandingkan dengan makhluk-makhluk Tuhan yang lain.

A Norma

Setiap individu dalam kehidupan sehari - hari melakukan interaksi dengan individu

atau kelompok lainnya. Interaksi sosial mereka juga senantiasa didasari oleh adat dan

norma yang berlaku dalam masyarakat. Misalnya interaksi sosial di dalam lingkungan

keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat dan lain sebagainya. Masyarakat

yang menginginkan hidup aman, tentram dan damai tanpa gangguan, maka bagi tiap

manusia perlu menjadi pedoman bagi segala tingkah laku manusia dalam pergaulan hidup,

sehingga kepentingan masing - masing dapat terpelihara dan terjamin. Setiap anggota

masyarakat mengetahui hak dan kewajiban masing - masing. Tata itu lazim disebut kaidah

(berasal dari bahasa Arab) atau norma (berasal dari bahasa Latin) atau ukuran - ukuran.
Norma - norma itu mempunyai dua macam isi, dan menurut isinya berwujud :

perintah dan larangan. Apakah yang dimaksud perintah dan larangan menurut isi norma

tersebut? Perintah merupakan kewajiban bagi seseorang untuk berbuat sesuatu oleh karena

akibat - akibatnya dipandang baik. Sedangkan larangan merupakan kewajiban bagi

seseorang untuk tidak berbuat sesuatu oleh karena akibat - akibatnya dipandang tidak baik.

BMacam Macam Norma

8
Ada bermacam - macam norma yang berlaku di masyarakat. Macam - macam norma

yang telah dikenal luas ada empat, yaitu:

1 Norma Agama

Peraturan hidup yang harus diterima manusia sebagai perintah - perintah, larangan -

larangan dan ajaran - ajaran yang bersumber dari Tuhan Yang Maha Esa. Pelanggaran

terhadap norma ini akan mendapat hukuman dari Tuhan Yang Maha Esa berupa siksa

kelak di akhirat. Contoh norma agama ini diantaranya ialah:

1 Kamu dilarang membunuh.

2 Kamu dilarang mencuri.

3 Kamu harus patuh kepada orang tua.

4 Kamu harus beribadah.

5 Kamu jangan menipu.

2 Norma Kesusilaan

Peraturan hidup yang berasal dari suara hati sanubari manusia. Pelanggaran norma

kesusilaan ialah pelanggaran perasaan yang berakibat penyesalan. Norma kesusilaan

bersifat umum dan universal, dapat diterima oleh seluruh umat manusia. Contoh norma ini

diantaranya ialah :

1 Kamu tidak boleh mencuri milik orang lain.

2 Kamu harus berlaku jujur.

3 Kamu harus berbuat baik terhadap sesama manusia.

9
4 Kamu dilarang membunuh sesama manusia.

3 Norma Kesopanan

Norma yang timbul dan diadakan oleh masyarakat itu sendiri untuk mengatur

pergaulan sehingga masing - masing anggota masyarakat saling hormat menghormati.

Akibat dari pelanggaran terhadap norma ini ialah dicela sesamanya, karena sumber norma

ini adalah keyakinan masyarakat yang bersangkutan itu sendiri. Hakikat norma kesopanan

adalah kepantasan, kepatutan, atau kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat. Norma

kesopanan sering disebut sopan santun, tata krama atau adat istiadat. Norma kesopanan

tidak berlaku bagi seluruh masyarakat dunia, melainkan bersifat khusus dan setempat

(regional) dan hanya berlaku bagi segolongan masyarakat tertentu saja. Apa yang dianggap

sopan bagi segolongan masyarakat, mungkin bagi masyarakat lain tidak demikian. Contoh

norma ini diantaranya ialah :

1 Berilah tempat terlebih dahulu kepada wanita di dalam kereta api, bus dan lain - lain,
terutama wanita yang tua, hamil atau membawa bayi.

2 Jangan makan sambil berbicara.

3 Janganlah meludah di lantai atau di sembarang tempat dan.

4 Orang muda harus menghormati orang yang lebih tua.

Kebiasaan merupakan norma yang keberadaannya dalam masyarakat diterima

sebagai aturan yang mengikat walaupun tidak ditetapkan oleh pemerintah. Kebiasaan

adalah tingkah laku dalam masyarakat yang dilakukan berulang - ulang mengenai sesuatu

hal yang sama, yang dianggap sebagai aturan hidup. Kebiasaan dalam masyarakat sering

disamakan dengan adat istiadat.

10
Adat istiadat adalah kebiasaan - kebiasaan sosial yang sejak lama ada dalam

masyarakat dengan maksud mengatur tata tertib. Ada pula yang menganggap adat istiadat

sebagai peraturan sopan santun yang turun temurun Pada umumnya adat istiadat

merupakan tradisi. Adat bersumber pada sesuatu yang suci (sakral) dan berhubungan

dengan tradisi rakyat yang telah turun temurun, sedangkan kebiasaan tidak merupakan

tradisi rakyat.

4 Norma Hukum

Peraturan - peraturan yang timbul dan dibuat oleh lembaga kekuasaan negara. Isinya

mengikat setiap orang dan pelaksanaanya dapat dipertahankan dengan segala paksaan oleh

alat - alat negara, sumbernya bisa berupa peraturan perundang - undangan, yurisprudensi,

kebiasaan, doktrin, dan agama. Keistimewaan norma hukum terletak pada sifatnya yang

memaksa, sanksinya berupa ancaman hukuman. Penataan dan sanksi terhadap pelanggaran

peraturan - peraturan hukum bersifat heteronom, artinya dapat dipaksakan oleh kekuasaan

dari luar, yaitu kekuasaan negara. Contoh norma ini diantaranya ialah :

1 Barang siapa dengan sengaja menghilangkan jiwa/nyawa orang lain, dihukum karena
membunuh dengan hukuman setinggi - tingginya 15 tahun.

2 Orang yang ingkar janji suatu perikatan yang telah diadakan, diwajibkan mengganti
kerugian, misalnya jual beli.

3 Dilarang mengganggu ketertiban umum.

Hukum biasanya dituangkan dalam bentuk peraturan yang tertulis, atau disebut juga

perundang - undangan. Perundang - undangan baik yang sifatnya nasional maupun

11
peraturan daerah dibuat oleh lembaga formal yang diberi kewenangan untuk membuatnya.

Oleh karena itu, norma hukum sangat mengikat bagi warga negara.

C Hubungan Manusia dan Norma

Manusia sangat erat hubungannya dengan norma. Hal ini disebabkan karena dengan

adanya norma, manusia dapat membentuk karakter dan kebiasaan yang baik. Norma

mengajarkan atau membantu manusia untuk menciptakan lingkungan yang aman, tertib,

tentram dan tidak terjadi kekacauan di dalam kehidupan bermasyarakat.

D Hubungan Antar Norma

Kehidupan manusia dalam bermasyarakat, selain diatur oleh hukum juga diatur oleh

norma - norma agama, kesusilaan, dan kesopanan, serta kaidah - kaidah lainnya. Kaidah -

kaidah sosial itu mengikat dalam arti dipatuhi oleh anggota masyarakat di mana kaidah itu

berlaku. Hubungan antara hukum dan kaidah - kaidah sosial lainnya itu saling mengisi.

Artinya kaidah sosial mengatur kehidupan manusia dalam masyarakat dalam hal - hal

hukum tidak mengaturnya. Selain saling mengisi, juga saling memperkuat. Suatu kaidah

hukum, misalnya kamu tidak boleh membunuh diperkuat oleh kaidah sosial lainnya.

Kaidah agama, kesusilaan, dan adat juga berisi suruhan yang sama.
Dengan demikian, tanpa adanya kaidah hukum pun dalam masyarakat sudah ada

larangan untuk membunuh sesamanya. Hal yang sama juga berlaku untuk pencurian,

penipuan, dan lain - lain pelanggaran hukum. Hubungan antara norma agama,

kesusilaan, kesopanan dan hukum yang tidak dapat dipisahkan itu dibedakan karena

masing - masing memiliki sumber yang berlainan. Norma Agama sumbernya kepercayaan

terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Norma kesusilaan sumbernya suara hati (insan kamil).

12
Norma kesopanan sumbernya keyakinan masyarakat yang bersangkutan dan norma hukum

sumbernya peraturan perundang - undangan.

13