Anda di halaman 1dari 26

TERM OF REFERENCES (TOR) /

KERANGKA ACUAN KERJA (KAK)


PENYUSUNAN RANCANGAN TEKNIS REBOISASI (T-1)
DALAM RANGKA KEGIATAN GNRHL / GERHAN

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Degradasi sumber daya alam di Indonesia ditengarai dengan semakin
meningkatnya luas lahan kritis di Indonesia yang mencakup lahan di dalam kawasan hutan
maupun di luar kawasan hutan. Degradasi hutan dan lahan tersebut saat ini telah menjadi
keprihatinan banyak pihak baik secara nasional maupun internasional. Terjadinya lahan
kritis ini disebabkan oleh adanya deforestasi (pengurangan kawasan hutan), dan degradasi
(penurunan kualitas hutan) yang terus meningkat. Pemerintah telah melakukan upaya
pemulihan dan peningkatan kemampuan fungsi dan produktifitas hutan dan lahan melalui
kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL).
Kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) merupakan upaya strategis
pembangunan nasional. Berdasarkan pengalaman masa lalu penyelenggaraan RHL tidak
mampu mengimbangi laju degradasi hutan dan lahan, sehingga perlu dilakukan percepatan
melalui program Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GN-
RHL/GNRHL/Gerhan). Kegiatan ini dimaksudkan sebagai gerakan moral berskala
nasional yang terencana dan terpadu, dengan melibatkan berbagai pihak terkait baik
pemerintah, badan usaha milik pemerintah/swasta, TNI, maupun masyarakat.
Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GN-RHL/GNRHL/Gerhan)
yang telah dimulai sejak tahun 2003, diselenggarakan untuk memulihkan, mempertahankan
dan meningkatkan fungsi hutan dan lahan, sehingga dapat berfungsi kembali sebagai
perlindungan lingkungan Daerah Aliran Sungai (DAS) dan kawasan pantai, mencegah
terjadinya banjir, tanah longsor, erosi dan abrasi sekaligus untuk mendukung produktifitas
sumberdaya hutan dan lahan serta melestarikan keanekaragaman hayati.
Salah satu unsur rencana yang sangat mendukung keberhasilan pelaksanaan
GNRHL/Gerhan adalah tersedianya rancangan teknis pembuatan tanaman Reboisasi.
Pelaksanaan kegiatan reboisasi dapat mencapai tujuan dan sasarannya apabila dimulai
dengan suatu perencanaan yang matang. Rancangan teknis merupakan dokumen
perencanaan yang sangat diperlukan sebagai acuan dalam seluruh pelaksanaan kegiatan,
baik yang bersifat fisik maupun non fisik. Oleh karena itu fungsi rancangan teknis dalam
pelaksanaan kegiatan reboisasi sangat penting yaitu merupakan titik tolak penentu dari
keberhasilan kegiatan tersebut. Rancangan teknis yang baik bersifat realistis, aplikatif, yang
disusun berdasarkan data yang obyektif, akurat sesuai dengan kondisi lapangan.
Untuk menjamin agar tujuan dan sasaran kegiatan reboisasi di wilayah kerja
BPDAS Kahayan Propinsi Kalimantan Tengah Tahun 2009 dapat tercapai dengan baik dan
sesuai dengan rencana, maka perlu disusun rancangan teknis (T-1) sebagai panduan dalam
pelaksanaan kegiatan reboisasi di lapangan.
Sesuai dengan usulan dan permintaan dari Dinas Kehutanan dan Perkebunan
Kabupaten/Kota pada tahun 2008, Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Kahayan akan
menyusun rantek reboisasi seluas 31,395 Ha.
BPDAS kahayan dalam hal penyusunan rantek reboisasi (T-1) akan menggunakan
jasa konsultan, sehingga sebelum pelaksanaan penyusunan rantek reboisasi terlebih dahulu
akan dilakukan seleksi umum dengan prakualifikasi.

B. Maksud dan Tujuan


Maksud disusunnya Rancangan Teknis Reboisasi (T-1) adalah untuk memberikan
pedoman dan arahan guna menjamin tercapainya tujuan dan sasaran kegiatan reboisasi
yang akan dilaksanakan pada tahun 2008.
Adapun tujuannya adalah tersusunnya dokumen rancangan teknis (T-1) sebagai
acuan teknis detail guna pelaksanaan kegiatan Reboisasi di lapangan agar sesuai dengan
kaidah teknis yang tepat guna baik dari aspek fisik, sosial, ekonomi dan budaya wilayah
setempat sehingga pelaksanaan kegiatan dapat diselesaikan secara efektif dan efisien.

C. Lokasi, Luas, Sasaran dan Ruang Lingkup Pekerjaan


1. Lokasi dan Luas Pekerjaan
Lokasi pekerjaan penyusunan Rancangan Teknis Reboisasi (T-1) seluas 39,395
Ha pada Kegiatan GNRHL/GERHAN di wilayah kerja BPDAS Kahayan tahun 2008,
sebagai berikut :
Wilayah Kabupaten/ Luas
No. Paket Ket.
Kabupaten Nama Kegiatan (Ha)
1 2 3 4 5 6
1. I Kapuas dan a. Kab. Kapuas
Pulang Pisau Penyusunan Ran. Teknis Reboisasi 4,500
b. Kab. Pulang Pisau
Penyusunan Ran. Teknis Reboisasi 4,100
Penyusunan Ran. Teknis Pengk. Reboisasi 900
Jumlah Paket I 9,500
2. II Gunung Mas a. Kab. Gunung Mas
dan TNTP Penyusunan Ran. Teknis Pengk. Reboisasi 2,495
Penyusunan Ran. Teknis Pengk. dan 4,000
Reboisasi
b. Taman Nasional Sebangau
Penyusunan Ran. Teknis Reboisasi 2,000
Jumlah Paket II 8,495
3. III Seruyan dan a. Kab. Seruyan
TNTP - Penyusunan Ran. Teknis Reboisasi 2,000
- Penyusunan Ran. Teknis Mangrove 300
b. TNTP (Kab. Kobar dan Seruyan)
- Penyusunan Ran. Teknis Reboisasi 3,000
Jumlah Paket III 5,300
4. IV Lamandau dan a. Kab. Lamandau
Sukamara Penyusunan Ran. Teknis Reboisasi 5,600
b. Kab. Sukamara
Penyusunan Ran. Teknis Reboisasi 2,500
Jumlah Paket IV 8,100
Jumlah Paket I + II + III + IV 31,395
2. Sasaran Pekerjaan
Sasaran pekerjaan yang akan di capai adalah tersusunnya suatu naskah berupa
Dokumen Rancangan Teknis Reboisasi (T-1) seluas 31,395 Ha di wilayah kerja
BPDAS Kahayan yaitu di 8 (delapan) Kabupaten dan 2 (dua) Taman Nasional di
Propinsi Kalimantan Tengah Tahun 2008 yang memuat komponen pekerjaan sebagai
berikut :
a. Rancangan teknis kegiatan penanaman Reboisasi Tahun 2009 seluas 31,395 Ha
mencakup : rancangan pembagian blok dan petak tanaman, pemilihan jenis dan
komposisi, penyiapan/pengadaan bibit, penyiapan lahan, system penanaman,
pemeliharaan tanaman dan perlindungan hutan. Penyusunan Rancangan didahului
dengan pengukuran dan perancangan tata letak kegiatan di lapangan disusun jangka
waktu 3 tahun (tahun 2009 s/d 2011).
b. Rancangan Teknis bangunan dan sarana penunjang kegiatan Reboisasi.
c. Rencana pelaksanaan seluruh pekerjaan sesuai rancangan yang telah disusun dan
pekerjaan lainnya yang merupakan bagian dari Kegiatan Reboisasi GNRHL/Gerhan
antara lain : Penyediaan Bibit dan Penanaman, Pemeliharaan tanaman, perlindungan
dan pengamanan hutan, serta pembinaan kelembagaan masyarakat.
3. Ruang Lingkup Pekerjaan
Dokumen rancangan teknis reboisasi (T-1) adalah Rancangan Teknis Detil
(Detail Engineering Design) dengan lingkup pekerjaan paling tidak meliputi :
a. Mempelajari Rencana Kegiatan GNRHL/GERHAN di 8 (delapan) Kabupaten dan 2
(dua) Taman Nasional wilayah kerja BPDAS Kahayan Propinsi Kalimantan Tengah
dan ketentuan teknis lain yang berkaitan sebagai dasar acuan kerja.
b. Melakukan dan merumuskan dasar-dasar kriteria rancangan.
c. Mengumpulkan data teknis yang diperlukan : data sekunder dan data primer melalui
telaah dokumen maupun survey lapangan.
d. Identifikasi dan Pemantapan Lokasi guna memahami kondisi status actual lapangan
sesuai dengan criteria lokasi yang ditetapkan.
e. Merancang tata letak calon lokasi Reboisasi meliputi : luas dan letak lokasi,
pembagian blok dan petak tanaman, jenis dan komposisi tanaman, jaringan jalan
hutan, luas dan letak persemaian, sarana dan bangunan penunjang lainnya.
f. Menyusun jenis, volume, input sumberdaya dan standar proses pelaksanaan setiap
komponen pekerjaan.
g. Menyusun spesifikasi peralatan, bahan dan material.
h. Merancang Peta dan gambar-gambar rancangan.
i. Menyusun jadwal pelaksanaan pekerjaan.
j. Menyusun tolak ukur keberhasilan yang merupakan bagian dari program
penjaminan mutu.
k. Menyusun perkiraan anggaran biaya setiap komponen pekerjaan.

D. Pengertian
1. Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah suatu daerah tertentu yang dibentuk dan sifat
alamnya sedemikian rupa sehingga merupakan suatu satu kesatuan dengan sungai dan
anak-anak sungainya yang melalui daerah tersebut dalam fungsinya untuk menampung
air yang berasal dari curah hujan dan sumber-sumber air lainnya, penyimpanan serta
pengalirannya dihimpun dan ditata berdasarkan hokum-hukum alam sekelilingnya demi
keseimbangan daerah tersebut.
2. Daerah Aliran Sungai (DAS) Prioritas adalah daerah aliran sungai yang karena
kondisinya baik dalam hal degradasi kawasan hutan dan lahan maupun kepentingan
lingkungan dan masyarakat, perlu mendapat penanganan yang segera pada kegiatan
RHL.
3. Hutan Rawang adalah areal dalam kawasan hutan yang tidak produktif yang ditandai
dengan potensi pohon niagawi kuran dari 20 m3/Ha.
4. Inventarisasi adalah kegiatan pengumpulan data yang dilaksanakan baik secara
langsung maupun tidak langsung untuk memperoleh data dan informasi tentang kondisi
sumberdaya hutan dan kondisi masyarakat di sekitarnya yang meliputi aspek biofisik,
sosial,ekonomi dan budaya pada suatu wilayah tertentu.
5. Identifikasi adalah upaya penelaahan dan pengkajian lebih lanjut terhadap data yang
telah diinvetarisir untuk mengetahui keadaan dan permasalahan yang ada dan yang
diperkirakan mungkin terjadi pada wilayah tertentu sebagai bahan masukan untuk
bahan pengambilan keputusan.
6. Kelembagaan atau Pranata Sosial merupakan system perilaku dan hubungan kegiatan-
kegiatan untuk memenuhi kebutuhan khusus dalam kehidupan masyarakat, yang
meliputi tiga komponen yaitu (a) organisasi atau wadah dari suatu kelembagaan, (b)
fungsi dari kelembagaan dalam masyarakat dan (c) perangkat peraturan yang ditetapkan
oleh system kelembagaan tertentu.
7. Kelompok Tani adalah kumpulan petani dalam suatu wadah organisasi yang tumbuh
berdasarkan kebersamaan, keserasian, kesamaan profesi dan kepentingan dalam
memanfaatkan sumberdaya alam yang mereka kuasai dan berkepentingan untuk
bekerjasama dalam rangka meningkatkan produktivitas usahatani dan kesejahteraan
anggotanya.
8. Pemberdayaan masyarakat adalah upaya yang ditempuh dalam rangka meningkatkan
kemampuan dan kemandirian masyarakat melalui (a) penciptaan suasana atau iklim
yang memungkinkan berkembangnya potensi atau daya yang dimiliki masyarakat, (b)
memperkuat potensi atau daya yang dimiliki masyarakat, an (c) melindungi masyarakat
melalui pemihakan kepada masyarakat untuk memperkuat daya saing.
9. Pemeliharaan Tanaman adalah perlakuan terhadap tanaman dan lingkungannya dalam
luasan dan kurun waktu tertentu agar tanaman tumbuh sehat dan berkualitas sesuai
dengan standar hasil yang ditentukan.
10. Pendamping adalah seseorang atau sekelompok orang dalam wadah organisasi atau
instansi yang terkait dengan pendampingan serta bergerak di bidang kehutanan dan
melakukan pendampingan di tengah-tengah masyarakat.
11. Pengkayaan Reboisasi adalah kegiatan penambahan anakan pohon pada kawasan hutan
rawang yang memiliki tegakan berupa anakan, pancang, tiang dan pohon minimal 500-
700 batang/Ha, dengan maksud untuk meningkatkan nilai tegakan hutan, baik kualitas
maupun kuantitas sesuai fungsinya.
12. Rancangan Teknis (Rancangan Kegiatan) adalah desain lapangan/pola kegiatan teknis
rinci (bestek) dari setiap kegiatan yang meliputi rancangan kegiatan fisik yang
menggambarkan pola dan tata letak lokasi pembibitan, pembuatan tanaman dan
bangunan konservasi tanah serta rancangan anggarannya.
13. Reboisasi adalah upaya pembuatan tanaman jenis pohon hutan pada kawasan hutan
rusak yang berupa lahan kosong/terbuka, alang-alang atau semak belukar dan hutan
rawang untuk mengembalikan fungsi hutan.
14. Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) adalah upaya untuk memulihkan,
mempertahankan dan meningkatkan fungsi hutan dan lahan sehingga daya dukung,
produktivitas dan peranannya dalam mendukung system penyangga kehidupan tetap
terjaga.
15. Rencana RHL 5 tahun adalah rencana teknik RHL semi detail yang disusun berdasar
unit DAS, dengan pendalaman analisis tingkat sub-DAS.
16. Rencana Teknis Tahunan (RTT) adalah rencana indikatif yang menunjukkan lokasi,
jenis dan volume kegiatan tahunan pada wilayah DAS, Kabupaten/Kota, sebagai acuan
dalam penyusunan rancangan kegiatan.
17. Tanaman MPTS (Multi Purpose Trees Species) adalah jenis tanaman serba guna yang
selain dapat diambil kayunya dapat pula diambil buah, bunga, kulit dan daunnya.
II. PERSIAPAN

A. Dasar Penyusunan Rancangan Teknis


1. Dokumen Surat Pengesahan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Bagian
Anggaran 69 Nomor : 0308.0/069-03.0/-/2008 tanggal 25 April 2008 pada Kantor Balai
Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Kahayan Tahun Anggaran 2008 (Lanjutan Tahun
2007).
2. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P. 21/Menhut-V/2007 tentang penyelenggaraan
Kegiatan Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan tahun 2007.
3. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P. 22/Menhut-V/2007 tanggal 20 Juni 2007
tentang Pedoman Teknis dan Petunjuk Pelaksanaan Kegiatan Gerakan Nasional
Rehabilitasi Hutan dan Lahan Tahun 2007.
4. Surat Keputusan Balai Pengelolaan DAS Kahayan Nomor : SK. 39/BPDAS Khy/2007
tanggal 3 April 2007 tentang pedoman Penyusunan Rancangan Teknis Reboisasi tahun
2007.
Penyusunan Rancangan Teknis dibuat berdasarkan data dan informasi hasil identifikasi dan
inventarisasi lapangan oleh Tim.

B. Pemilihan dan Pemantapan Lokasi


Lokasi yang terpilih merupakan usulan dari satuan kerja pelaksana penanaman
dengan berkoordinasi dengan Balai Pengelolaan DAS Kahayan selaku Satker penyusunan
Rancangan Teknis. Berdasarkan usulan tersebut harus dan mengacu pada tingkat kekritisan
sesuai Kriteria Lahan Kritis DAS sebagaimana Keputusan Menteri Kehutanan No.
SK.346/Menhut-V/2005. Tim Penyusun Rancangan Teknis melakukan pengecekan
kembali kelayakan lokasi tersebut terhadap usulan RTRWK/RTRWP Propinsi Kalimantan
Tengah.
Pemantapan lokasi reboisasi melalui konfirmasi dengan pelaksana reboisasi,
sehingga dari hasil konfirmasi ini diperoleh kepastian lokasi (Kabupaten, Kecamatan, dan
Desa), luasan, fungsi dan status kawasan hutan serta sket peta yang dituangkan dalam
bentuk Berita Acara.
Hasil informasi lapangan dikonfirmasi dengan Kepala BPDAS, dan
dikoordinasikan dengan dinas yang bertangung jawab di bidang kehutanan kabupaten/kota,
maupun instansi lain yang terkait, jika ada masalah yang berkaitan dengan legalitas lahan.
Dengan demikian lokasi terpilih bebas dari permasalahan (clear and clean).
Kriteria lokasi yang diharapkan secara indikatif adalah sebagai berikut :
1. Dalam kawasan Hutan Produksi / Hutan Lindung dan Konservasi dengan kondisi kritis
dan perlu direhabilitasi.
2. Kawasan hutan yang kritis sesuai dengan kriteria Prioritas I dan II.
3. Kawasan hutan tidak dibebani hak, maupun dalam proses pengajuan hak.
Rancangan teknis disusun dengan unit blok ( 300 Ha) dan sebagai dasar
konfirmasi digunakan criteria sebagai berikut :
1. Hutan Lindung
a. Aspek Biofisik
1). Kondisi penutupan vegetasi berupa lahan kosong, alang-alang, semak belukar
atau penutupan tajuk tegakan kurang dari 50 % dari seluruh hamparan areal.
2). Mengelompok dengan luasan efektif 300 Ha (1 Blok) sehingga dapat dikelola
dengan baik.
3). Buka tipe hutan kerangas.
b. Aspek Sosial Ekonomi Budaya
Dihindari lokasi yang terdapat perambahan hutan/tidak terdapat konflik lahan.
2. Hutan Produksi
a. Aspek Biofisik
1). Tidak berhutan dengan kondisi vegetasi awal alang-alang dan semak belukar,
penutupan tajuk kurang dari 50 % dari seluruh hamparan areal.
2). Mengelompok dengan luasan efektif 300 Ha (1 Blok), sehingga dapat dikelola
dengan baik.
3). Bukan tipe hutan kerangas.
4). Hutan tidak produktif / kosong / rawang dengan criteria sebagaimana SK, No :
200/Kpts-II/1994.
b. Aspek Sosial Ekonomi Budaya
Dihindari lokasi yang terdapat perambahan hutan/tidak terdapat konflik lahan
(dipilh lokasi yang clear and clean).
3. Hutan Konservasi
a. Aspek Biofisik
1). Areal yang mengalami kerusakan oleh berbagai sebab (di luar zona inti).
2). Mengelompok dengan luasan sekurang-kurangnya 200-300 Ha.
b. Aspek Sosial Budaya
1). Terdapat perambahan hutan.
2). Tingkat ketergantungan hidup masyarakat sekitar kawasan terhadap hutan
tinggi.
Dihindari lokasi yang terdapat perambahan hutan/tidak terdapat konflik lahan
(dipilh lokasi yang clear and clean).

C. Penyusunan Rancana Kerja


Rencana Kerja memuat tahapan dan prosedur kerja serta metode yang akan
digunakan, dilengkapi jadwal waktu dengan memperhatikan batas waktu terakhir
penyerahan pekerjaan. Lama penyelesaian pekerjaan ini 2 bulan. Rencana Kerja ini
merupakan pedoman bagi Tim Penyusun Rancangan Teknis di lapangan.

D. Penyediaan Bahan dan Alat


Bahan dan alat yang diperlukan secara umum sebagai berikut :
1. Berbagai jenis peta yang terkait dengan kebutuhan survey antara lain : Peta situasi, peta
topografi, peta klasifikasi tanah, peta tata guna lahan, peta jaringan jalan, peta hidrologi
dan photo udara (sepanjang tersedia).
2. Berbagai alat ukur sesuai kebutuhannya antara lain : alat ukur tanah (GPS, Theodolith,
kompas, altimeter, abney level, dll), alat ukur pon (cristenmeter, pita ukur, dll),
planimeter, kamera, teropong, alat tulis dan alat gambar/Geografi Information System
(GIS).
3. Berbagai tally sheet untuk pengumpulan data lapangan dan kuesioner seperlunya sesuai
kebutuhan.
III. INVENTARISASI DAN IDENTIFIKASI

Dalam melakukan inventarisasi dan identifikasi, masyarakat sekitar hutan agar


dilibatkan secara aktif dan dilakukan pendekatan partisipatif. Inventarisasi data, baik data fisik
lapangan maupun data social ekonomi dan budaya masyarakat dilaksanakan dengan
melibatkan masyarakat.
Metode yang digunakan adalah Participatory Rural Appraisal (PRA). Inventarisasi dan
Identifikasi ini bertujuan untuk :
a. Mengumpulkan data dan informasi yang berkaitan dengan potensi sumberdaya hutan
dan potensi desa di sekitar hutan yang meliputi aspek fisik, biologi, social, ekonomi dan
budaya. Cek dan Recek terhadap kebenaran data dan informasi yang diperoleh perlu
dilakukan.
b. Mengidentifikasi dan menganalisis potensi, pengetahuan, kemampuan, kebutuhan dan
permasalahan yang ada di lapangan sebagai bahan pengambilan keputusan dalam
menyusun Rancangan Teknis dan atau PRA untuk lebih mendekati kebutuhan riil di
lapangan.
Jenis data dan informasi yang perlu diketahui secara umum meliputi :
A. Data Fisik Kawasan Hutan
a. Topografi
Faktor topografi yang perlu mendapat perhatian adalah ketinggian tempat dan
kelerengan. Informasi ini diperlukan terutama untuk penetran jenis tanaman, cara
penyiapan lahan dan upaya-upaya konservasi tanah. Keadaan topografi lapangan dapat
diklasifikasikan ke dalam kelas kelerangan dan selanjutnya dituangkan ke dalam peta
kelerengan.
Kelas Kelerangan Sebutan % Lereng
1 Datar 08
2 Landai 8 15
3 Agak Curam 15 25
4 Curam 25 40
5 Sangat Curam > 40

b. Tanah
Kondisi tanah baik fisik maupun kimia sangat diperlukan dalam penentuan jenis
tanaman serta perlakuan yang dibutuhkan untuk mendapatkan keberhasilan tanaman.
Sifat fisik dan kimia yang perlu diidentifikasi adalah :
1). Kedalaman Tanah
Kedalaman tanah erat kaitannya dengan ketersediaan air tanah dan
kemampuan akar akan mendapatkan ruang tumbuh. Pada solum dangkal, air yang
tersedia kurang serta pertumbuhan akar kurang baik sehingga menyebabkan
tanaman tumbuh kerdil dan kurang kokoh. Pada solum yang dalam ( > 100 cm ) air
yang tersedia lebih banyak dan perakaran dapat tumbuh lebih dalam menembus
tanah sehingga pon akan tumbuh lebih kokoh. Kedalaman tanah diketahui dengan
mengamati profil tanah pada tebing atau diukur dengan bor tanah.
2). Tekstur dan Struktur Tanah
Tekstur dan struktur tanah Sangay diperlukan untuk mengetahui tingkat
kepekaan tanah terhadap erosi, dan juga berperan terhadap ketersediaan unsure hara
serta kemampuan tanaman menyerap unsur hara. Pada tekstur yang liar, akar akan
sulit menembus tanah sehingga sulit untuk mendapatkan zat makanan dari dalam
tanah dan akan mengakibatkan tanaman tumbuh tertekan bahkan mati.
3). Tingkat Kesuburan Tanah
Tingkat kesuburan tanah dapat diketahui antara lain warna tanah, tingkat
kemasaman tanah (pH tanah), kejenuhan basa (KB), kapasitas tukar kation, P-
tersedia, dan kadar kalium (K), Calsium (Ca) dan Magnesium (Mg). Kemasaman
tanah terlalu rendah dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman tertekan karena
pada tanah dengan kemasaman rencah beberapa unsure tanaman Al, Fe dan Mn
akan muda terlarut dan menimbulkan keracunan bagi tanaman. Disamping itu
unsure Al dan Fe dapat meningkatkan unsure hara lain sehingga menjadi tidak
tersedia.
4). Kepekaan Terhadap Erosi
Kepekaan tanah diperlukan terutama untuk menentukan cara penyiapan
lahan dan pengolahan tanah. Jenis-jenis tanah berdasarkan kepekaannya terhadap
erosi telah dikelompokkan dalam 5 kelas yaitu tidak peka (kelas 1), kurang peka
(kelas 2), agak peka (kelas 3), peka (kelas 4), dan Sangay peka (kelas 5).
Jenis-jenis tanah yang termasuk kelas 3 ke atas, dalam penyiapan lahan agar tidak
secara mekanis.
Kelas Tanah Jenis Tanah Kepekaan terhadap Erosi
Alluvial, Tanah Glei, Planosol,
1 Tidak Peka
Hidromarf, Kelabu
2 Latosol Kurang Peka
Brown Forest Soil, Non Calsio Brown,
3 Agak Peka
Mediteran
Andosol, Laterit Grumusol, Podsol
4 Peka
Podsolik
5 Regosol Litosol, Organozol, Renzina Sangat Peka

5). Drainase Tanah


Drainase tanah berkait erat dengan ketersediaan air tanah. Drainase
tanah yang jelek menyebabkan terganggunya pertumbuhan tanaman bahkan dapat
mematikan tanaman, kekurangan unsur oksigen dan hilangnya unsure-unsur hara
karena adanya pencucian yang hebat.
c. Vegetasi Penutupan Lahan
Pengamatan vegetasi penutupan lahan dilakukan terhadap vegetasi yang
dominan (alang-alang, hutan rawang, dll). Kalau masih terdapat tegakan hutan
diidentifikasi jenis tanaman yang ada dan tanaman yang merupakan tanaman pionir di
lokasi tersebut.
d. Iklim
Data iklim yang perlu diketahui meliputi unsur-unsur pembentuk iklim dengan
mengacu pada data/informasi yang ada antara lain curah hujan, temperature dan
kelembaban serta klasifikasi iklim berdasarkan Schmidt dan Fregusson.
Disamping itu perlu diketahui pula intensitas hujan yaitu rata-rata hujan dalam
masa setahun dibagi dengan rata-rata jumlah hari hujan setahun.
Kelas Intensitas Hujan Intensitas Hujan (mm/hh) Sebutan
1 s/d 13,6 Sangat rendah
2 13,6 20,7 Rendah
3 20,7 27,7 Sedang
4 27,7 34,8 Tinggi
5 34,8 ke atas Sangat tinggi
Salah satu penggunaan data kelas intensitas hujan tersebut pada penyiapan
lahan, pada daerah kelas intensitas hujan 3 ke atas dan kelas tanah 3 ke atas serta kelas
lereng 3 ke atas, agar dalam penyiapan lahannya tidak dilakukan secara mekanis.
B. Data Sosial Ekonomi Budaya
Data social ekonomi dan budaya terhadap masyarakat yang berada di
desa/kampung di dalam dan di sekitar lokasi kegiatan yang perlu dikumpulkan antara lain :
a. Demografi
1). Karakteristik Kependudukan (jumlah penduduk, jenis kelamin, umur, kepadatan
penduduk)
2). Adat istiadat
3). Tingkat pendidikan
4). Mata pencaharian
b. Budaya adat-istiadat dan keagamaan
1). Sistem keagamaan dan kepercayaan serta sikap tradisional yang berkaitan dengan
hutan, pohon, tanaman dan penggunaan lahan.
2). Nilai-nilai yang berharga dan berlaku berkaitan dengan sumberdaya alam.
3). Praktek dan budaya serta kebiasaan masyarakat dengan pohon, usaha tani serta
pembakaran untuk maksud pembersihan alam.
c. Organisasi sosial
1). Struktur organisasi social, keluarga/kekerabatan, desa dan lainnya
2). Lembaga yang ada dan praktek kepemimpinan
3). Kelembagaan sosial yang mengatur hubungan masyarakat dengan lahan dan hasil
hutan
4). Sumber-sumber pendanaan
C. Informasi Teknis
a. Pemanfaatan Bagian Tumbuhan
Informasi tentang kegiatan pemanfaatan hasil hutan yang biasa dilakukan
masyarakat, baik pemanfaatan kayu maupun non kayu seperti getah, bunga, buah, biji
dan lainnya, mulai dari tahap pemungutan, pengolahan, penggunaan dan mungkin
pemasarannya.
Di samping itu mungkin pula telah diupayakan budidaya oleh masyarakat.
Informasi tersebut sangat penting diketahui dan dapat secara insentif didiskusikan
bersama masyarakat untuk pengembangan terhadap jenis-jenis potensial. Informasi ini
sangat penting untuk menentukan jenis unggulan lokal yang mungkin dapat
dikembangkan.
b. Pemanfaatan Ruang Tumbuh
Teknologi pemanfaatan ruang tumbuh dan pola tanam yang dilaksanakan
masyarakat perlu diketahui. Teknologi lokal dijadikan dasar dalam penerapan pola
tanam dan teknologi pemanfaatan ruang tumbuh yang akan dikembangkan. Di samping
pertimbangan teknis dan ekonomis, pertimbangan budaya sangat penting dalam
menerapkan teknologi pemanfaatan ruang tumbuh ini.
c. Pengelolaan Areal Intensif
Areal intensif merupakan areal kawasan hutan yang telah dijadikan wilayah
jelajahan perladangan yang dilakukan masyarakat. Luas areal tersebut perlu diketahui
agar secara jelas berdasarkan informasi langsung dari masyarakat.
Pada areal ini dapat dirancang system pengelolaan yang dilakukan secara intensif
berdasarkan pertimbangan kepentingan masyarakat dengan mengakomodir teknologi
pengelolaan lokal yang selama ini diterapkan masyarakat dan kepentingan pelestarian
hutan.
d. Pengelolaan Lingkungan
Pengelolaan lingkungan yang telah dilaksanakan oleh masyarakat setempat perlu
dipertahankan. Oleh karena itu informasi tentang upaya-upaya pengelolaan lingkungan
yang dilaksanakan masyarakat perlu diketahui. Informasi ini mungkin tidak jelas
nampak, tetapi perlu penelaahan terhadap teknologi-teknologi tradisional yang
seringkali memiliki nilai-nilai kearifan terhadap kelestarian lingkungan.
IV. DESKRIPSI PEKERJAAN

A. Metodologi
Dalam pelaksanaan pekerjaan Penyusunan Rancangan Tekis Reboisasi,
dipersyaratkan melalui proses analisis yang berdasarkan kaidah-kaidah ilmiah maupun
pragmatis (objectif, sistematis dan logis). Pelaksana pekerjaan diwajibkan menjabarkan
metodologi secara rinci dan detail serta terintegrasi yang dituangkan dalam usulan teknis
yang diajukan. Metodologi yang dibangun hendaknya telah memperhatikan hambatan dan
kendala serta strategi (formula) untuk mengatasinya sehingga keberhasilan pencapaian
sasaran lebih dapat dijamin. Untuk itu metodologi dimaksud harus dituangkan dalam alur
pikir yang logis dan akurat.
Analisis data dilakukan secara komprehensif dengan memperhatikan keterkaitan
aspek-aspek penyelenggaraan kegiatan meliputi mutu, waktu dan biaya.

B. Ketentuan Teknis Pekerjaan


Pengumpulan Data
a. Data Sekunder dan Primer
Pengumpulan data dan informasi dilakukan dengan tingkat akurasi yang tinggi
(detil) meliputi data primer dan sekunder di tingkat pusat sampai dengan lapangan
(lokasi kegiatan).
b. Survey Lapangan
Pengumpulan data dan informasi lapangan (biofisik-sosek), yang dituangkan
dalam risalah umum. Survey lapangan merupakan kegiatan dalam rangka pengumpulan
data primer melalui identifikasi, investigasi dan inventarisasi, diskusi maupun pengisian
quisioner dan tanya jawab yang dilaksanakan secara langsung di lapangan. Lingkup
kerja survey meliputi survey biofisik, sosial ekonomi dan budaya.
Survey lapangan dilakukan dengan mengikuti ketentuan umum sebagai berikut :
b.1. Survey dilaksanakan dengan sasaran dan metode yang tepat, efektif, efisien
mengacu kepada ruang lingkup rancangan.
b.2. Dilakukan penilaian terhadap kualitas data yang diperoleh dengan validasi dan
verifikasi. Validasi berkaitan dengan umur data yang terkini (up to date),
verifikasi berkaitan dengan kebenaran data dan sumbernya (dapat dipercaya).
b.3. Bersamaan dengan survey lapangan dilakukan pengukuran dan perancangan tata
letak blok, petak dan infrastruktur kegiatan penanaman reboisasi di lapangan
dengan luas antara 200-300 Ha (rata-rata 300 Ha), yang dibagi ke dalam petak-
petak tanaman berkisar antara 25-50 Ha (rata-rata 25 Ha) menurut kondisi
hamparan.
b.4. Data hasil survey dirangkum dalam laporan tersendiri untuk setiap kelompok data
survey untuk dianalisa guna memperoleh informasi yang diperlukan oleh masing-
masing Anggota Tim Tenaga Ahli dalam penyusunan Rancangan.
b.5. Untuk menjamin proses pelaksanaan pengukuran lapang pihak konsultan
mengikut serta tenaga teknis dari BPDAS Kahayan sesuai kebutuhan dan Dinas
Kehutanan dan perkebunan Kabupaten/Kota masing-masing 1 (satu) orang.

C. Penyusunan Rancangan Teknis


1. Identifikasi dan Pemantapan Lokasi
a. Kegiatan Inventarisasi, meliputi pengumpulan dan analisis data meliputi aspek fisik,
biologi, sosial, ekonomi dan budaya, dilengkapi dengan informasi tentang tingkat
pengetahuan, kemampuan serta pemahaman masyarakat sekitar hutan terhadap
kegiatan pembuatan tanaman khususnya reboisasi.
b. Identifikasi dan analisis potensi permasalahan yang ada di lapangan, diperlukan
sebagai bahan untuk pengambilan keputusan dalam menyusun Rancangan Teknis.
c. Identifikasi terhadap status dan kondisi calon lokasi dengan criteria :
Kawasan hutan yang telah dicadangkan atau sedang dalam proses pencadangan
untuk kegiatan Reboisasi GNRHL/GERHAN.
Kawasan Hutan Lindung (HL) dan Hutan Produksi (HP) yang perlu
direhabilitasi dalam kondisi kritis.
Kawasan hutan yang tidak dibebani hak.
Lokasi terpilih bebas konflik (Clear % Clean).
2. Tata Letak
a. Tata letak meliputi : luas dan letak lokasi penanaman, pembagian blok ke dalam
petak tanaman, jaringan jalan hutan, lokasi persemaian/pengadaan bibit, lokasi
sarana prasarana, kondisi penutupan lahan, arah jalur tanaman dalam petak, yang
disajikan dalam peta rancangan tanaman.
b. Satuan lokasi tanaman adalah blok tanaman dengan luas antara 200-300 Ha (rata-
rata 300 Ha), yang dibagi ke dalam petak-petak tanaman berkisar antara 25 50 Ha
(rata-rata 25 Ha) menurut kondisi hamparan.
c. Batas Blok/petak dapat menggunakan batas alam seperti alur-alur, anak sungai,
jalan setapak dan patok bamboo/kayu dan lain-lain yang sifatnya relative permanen.
d. Pengukuran, penataan dan pemancangan patok batas luar, batas blok, petak dan
anak petak yang dituangkan dalam peta rancangan.
e. Penataan pola tanaman, tata letak dan jarak tanam dalam kaitannya dengan teknis
konservasi dan tegakan yang ada di lapangan. Batas blok dan petak dapat
memanfaatkan pemilihan jenis tanaman yang tepat.
f. Pembuatan sket lapangan (tanpa skala), buku ukur dan peta rancangan skala 1 :
1.000 s/d 1 : 10.000 sesuai kegiatan dan operasional pelaksanaan.
3. Teknik Penyiapan Lahan
Penetapan alternatif teknik penyiapan lahan yang ramah lingkungan disesuaikan dengan
kondisi lapangan.
4. Jenis dan Komposisi Tanaman
Dalam pemilihan jenis dan komposisi tanaman terdapat beberapa hal yang perlu
diperhatikan :
a. Untuk tanaman pokok reboisasi pada hutan produksi dan hutan lindung dipilih jenis
tanaman kayu-kayuan, diutamakan jenis yang secara ekologis sesuai atau mudah
beradaptasi dengan tempat tumbuh di lokasi tersebut.
b. Untuk tanaman penyangga, diutamakan jenis-jenis MPTS yang cepat menghasilkan
(kayu, buah, daun, getah dll), disukai oleh masyarakat (sekitar lokasi) dan secara
ekologis sesuai tempat tumbuh di lokasi tersebut.
c. Komposisi tanaman ditetapkan memperhatikan kondisi lapangan dan fungsi hutan
dengan acuan sebagai berikut :
Hutan Produksi : Minimal 90 % Kayu-kayuan, maksimal 10 % MPTS
Hutan Lindung : Minimal 60 % Kayu-kayuan, maksimal 40 % MPTS
Hutan Konservasi : Minimal 90 % Kayu-kayuan, maksimal 10 % MPTS
5. Pembibitan
Alternatif teknik pembibitan yang dipilih mempertimbangkan penguasaan silvikultur
jenis terpilih dan fasilitas pembibitan yang tersedia.
6. Penanaman
a. Teknik penanaman disesuaikan dengan sifat tanah, teknik penyiapan lahan dan
bentuk bibit yang dipilih.
b. Jarak tanam atau jumlah tanaman per Ha (tanaman pokok, penyangga, tanaman
konservasi) tanaman batas blok dan petak, disesuaikan kondisi vegetasi yang ada,
jenis tanah, kondisi gulma, jenis tanaman, dan teknik penanaman.
7. Pemeliharaan Tanaman
a. Pemeliharaan tanaman reboisasi dilakukan sesuai jangka waktu sebagai berikut :
Pemeliharaan tahun berjalan (T-0)
Pemeliharaan tahun pertama (T+1)
Pemeliharaan tahun kedua (T+2)
b. Teknik pemeliharaan Tanaman dilakukan dengan mempertimbangkan sifat silvik
tanaman, dinamika/kompetisi antar jenis tanaman dan vegetasi penutup serta
implikasinya dalam jangka, sehingga diperoleh tegakan hutan sesuai dengan
fungsinya.
c. Pemupukan
Penggunaan pupuk secara selektif sesuai jenis tanaman dan kesuburan tanah, jenis
pupuk lambat urai dan ramah lingkungan (slow released fertilizer), dapat
menggunakan pupuk organik (kompos/kandang) dan /atau pupuk buatan berbentuk
granuler atau tablet sesuai dengan dosis yang dibutuhkan.
8. Pembangunan Sarana dan Prasarana
Jenis, jumlah, dan spesifikasi sarana dan prasarana ditetapkan dengan
memperhitungkan sarana prasarana yang sudah ada dan kapasitasnya dalam
mendukung kegiatan pada kurun waktu kegiatan yang bersangkutan.
9. Perlindungan dan Pengamanan Hutan
Kegiatan ini dirancang untuk mengantisipasi ancaman dan gangguan terhadap
hutan yang meliputi : sistem peringatan dan deteksi dini terhadap bahaya kebakaran,
pencegahan terhadap perambah hutan dan penebangan liar, serta tindakan perlindungan
hutan terhadap serangan hama dan penyakit.
10. Pembuatan Gambar dan Peta
Hasil pengumpulan data, sket lapangan dan buku ukur, dilakukan pengolahan
dan analisa data dan dituangkan dalam gambar dan peta.
a. Peta situasi skala 1 : 100.000 1 : 250.000 yang menunjukkan situasi dan letak
lokasi kegiatan pada wilayah DAS.
b. Peta rancangan yang menggambarkan peta kerja dengan memuat batas-batas blok,
petak, rencana jalan inspeksi, rencana tanaman, dengan skala 1 : 1.000 1 : 10.000
c. Peta rancangan dibuat sesuai dengan kaidah perpetaan dengan inzet lokasi dan
ruang penilaian dan pengesahan peta.
d. Gambar/bestek yang perlu dibuat adalah : 1) Gubuk Kerja, 2) Papan Nama, 3) Tata
ruang/tata letak pertanaman (pola tanam)
11. Rencana Anggaran Biaya (RAB)
a. Sesuai dengan analisa rencana pekerjaan/komponen kegiatan yang dihasilkan atas
hasil survey dan pengolahan data, maka dilakukan analisa kebutuhan dan perlatan
per komponen pekerjaan.
b. Berdasarkan analisa rencana pekerjaan dihitung kebutuhan tenaga kerja, kemudian
berdasarkan survey sosial dan ekonomi dilakukan analisa untuk menentukan
ketersediaan tenaga kerja dari desa sekitar dan pemenuhan tenaga kerja yang
dibutuhkan.

D. Tim Pelaksana Pekerjaan


Tim Pelaksana Pekerjaan tersebut merupakan suatu Tim Tenaga Ahli Terpadu
dari berbagai jenis keahlian yang terdiri dari :
1. Tim Tenaga Ahli
a. Ahli Perencanaan/Manajemen Hutan 1 orang, minimal berpendidikan S1 dalam
bidang Manajemen/Perencanaan Hutan dengan pengalaman kerja pada bidangnya
minimal 10 tahun.
b. Ahli Tanah/Kesesuaian Lahan 1 orang, minimal berpendidikan S1 dalam bidang
Ilmu Tanah dengan pengalaman kerja pada bidangnya sekurang-kurangnya 5 tahun.
c. Ahli Budidaya Hutan 1 orang, minimal berpendidikan S1 dalam bidang Budidaya
Hutan (Silvikultur) dengan pengalaman kerja pada bidangnya sekurang-kurangnya
9 tahun.
d. Ahli Sosial Ekonomi 1 orang, minimal berpendidikan S1 dalam bidang Sosek
Kehutanan/Sosek Pertanian, Sosiologi/Anthropologi dengan pengalaman kerja pada
bidangnya sekurang-kurangnya 9 tahun.
e. Ahli Pemetaan/GIS 1 orang, minimal berpendidikan S1 dalam
Geografi/Geodesi/Kartografi dengan pengalaman kerja pada bidangnya sekurang-
kurangnya 5 tahun.
f. Ahli Konservasi 1 orang, minimal berpendidikan S1 dalam bidang
Konservasi/Ekologi Kehutanan dengan pengalaman kerja pada bidangnya sekurang-
kurangnya 5 tahun.
g. Ahli Teknik Sipil/Keteknikan Hutan 1 orang, minimal berpendidikan S1 dalam
bidang Teknik Sipil/Keteknikan Hutan dengan pengalaman kerja pada bidangnya
sekurang-kurangnya 5 tahun.
2. Tim Pendukung
Tim Pendukung terdiri atas, staf Administrasi, Asisten Tenaga Ahli, Surveyor
/ Enumerator dan operator Komputer.
3. Tugas pokok masing-masing tenaga ahli adalah sebagai berikut :
a. Ahli Perencanaan/Manajemen Hutan/Ketua Tim (Team Leader)
Bertindak sebagai penanggung jawab teknis dalam pelaksanaan pekerjaan.
Mengkoordinir seluruh tenaga ahli dan tenaga pendukung sesuai dengan tugas
dan fungsinya masing-masing guna mensinergikan pelaksanaan pekerjaan.
Sebagai tenaga ahli perencanaan/manajemen hutan, bertanggung jawab terhadap
seluruh kegiatan perencanaan, pelaksanaan, analisis dan pengolahan data yang
terkait dengan rancangan teknis reboisasi.
b. Ahli Tanah :
Menginterpretasikan data-data dan informasi tanah
Menginterpretasikan hasil analisis tanah
Menganalisis kesesuaian lahan terhadap jenis tanaman terpilih
c. Ahli Budidaya Hutan (Sylvikultur) :
Merancang tata letak persemaian, dan tata letak tanaman (pola tanam)
Merancang pembagian blok dan petak tanaman
Merancang pemilihan jenis bibit dan komposisinya
Merencanakan teknik penanaman
Merencanakan teknik pemeliharaan tanaman
d. Ahli Sosek
Mengumpulkan data primer maupun sekunder yang dibutuhkan menggunakan
metode partisipatif
Mengidentifikasi dan menganalisis permasalahan sosial ekonomi yang ada
Merancang libatan masyarakat dalam pelaksanaan setiap komponen kegiatan
yang direncanakan
e. Ahli Pemetaan/GIS
Mengeksplorasi data dan informasi dasar terkait dengan penyusunan peta-peta
kegiatan
Merancang dan melakukan pemetaan secara digital sesuai dengan jenis, volume,
spesifikasi peta yang ditetapkan
f. Ahli Konservasi
Merancang teknik penanaman dan pembangunan sarana penunjang
menggunakan kaidah teknik konservasi lahan
Mengeksplorasi data dan informasi dasar terkait dengan perancangan teknik
pemeliharaan dan perlindungan tanaman ramah lingkungan
g. Ahli Sipil/Keteknikan Hutan
Melakukan perhitungan kebutuhan sarana dan prasarana kegiatan
Mendesain gambar tata letak bangunan dan sarana penunjang
Mendesain gambar rancangan/bestek Gubuk Kerja, Papan Nama, dan sarana
penunjang lainnya
Tugas dan tanggung jawab masing-masing anggota tim disusun secara rinci dalam
Usulan Teknis yang diajukan.

E. Jangka Waktu Penyelesaian Pekerjaan


Jangka waktu penyusunan Rancangan Teknis Reboisasi seluas 31,395 Ha ini adalah selama
60 hari kalender, terhitung sejak diterbitkan Surat Perintah Mulai Kerja / kontrak.
Pelaksana pekerjaan diwajibkan menyusun jadwal rinci pelaksanaan setiap komponen
pekerjaan dan Jadwal keterlibatan masing-masing personil tim pelaksana pekerjaan. Jadwal
dimaksud harus menggambarkan rangkaian pekerjaan yang efektif, tepat waktu dan efisien
(Jadwal terlampir).

F. Acuan Pelaksanaan Pekerjaan


Pelaksanaan Pekerjaan Penyusunan Rancangan Teknis ini mengacu kepada :
1. Data Spasial Lahan Kritis DAS Kahayan
2. Data usulan dari masing-masing satker penanaman wilayah kerja BPDAS Kahayan
3. Buku Pedoman Umum dan Pedoman Pelaksanaan Komponen Pekerjaan dalam
Kegiatan GNRHL/GERHAN yang dikeluarkan oleh Departemen Kehutanan.
4. TOR dan RKS Penyusunan Rancangan Teknis Reboisasi (T-1) dalam rangka kegiatan
GNRHL/GERHAN di wilayah kerja BPDAS Kahayan Propinsi Kalimantan Tengah
Tahun 2008.
5. Kontrak (Surat Perjanjian Kerja) pelaksanaan Pekerjaan Penyusunan Rancangan Teknis
Reboisasi (T-1) dalam rangka kegiatan GNRHL/GERHAN di wilayah kerja BPDAS
Kahayan Propinsi Kalimantan Tengah Tahun 2008.
6. Dokumen Kontrak yang merupakan bagian tak terpisahkan dari Kontrak (Surat
Perjanjian Kerja) pelaksanaan Pekerjaan Penyusunan Rancangan Teknis Reboisasi (T-
1) dalam rangka kegiatan GNRHL/GERHAN di wilayah kerja BPDAS Kahayan
Propinsi Kalimantan Tengah 2008.

G. Keluaran (out put)


Hasil Akhir pekerjaan ini adalah tersusunnya Buku Rancangan Teknis Reboisasi
(T-1) dalam rangka kegiatan GNRHL/GERHAN di wilayah kerja BPDAS Kahayan
Propinsi Kalimantan Tengah Tahun 2008 pelaksanaan penanaman tahun 2009, dilengkapi
dengan peta rancangan teknis dan gambar-gambar rancangan infrastruktur serta rencana
anggaran biaya.
Buku Rancangan Teknis Reboisasi ini disusun untuk setiap Kabupaten dan Taman
Nasional dengan satuan perencanaan setiap lokasi Reboisasi, yang terdiri atas :
a. Buku I : Naskah Rancangan Teknis Kegiatan Reboisasi
b. Buku II : Lampiran Data, Peta-peta dan Gambar-gambar
Rancangan Teknis terdiri dari rencana pengelolaan kawasan hutan dan rencana
operasional.
(1). Bahan Penyusunan Naskah
Bahan/materi pokok yang diperlukan dalam penyusunan rancangan diantaranya
adalah :
1. Risalah umum memuat letak dan lokasi, fungsi kawasan hutan.
2. Rencana Kegiatan dan bantuan untuk pelaksanaan teknik perlakuan pada lokasi.
3. Rencana kebutuhan sarana prasarana kegiatan.
4. Rencana pembinaan teknis kepada peserta dan kelompok peserta.
5. Peta lokasi 1 : 10.000
(2). Tata Kerja dan Prosedur Penyusunan Naskah Rancangan
Penyusunan Rancangan Teknis disusun oleh pihak ke-3, kemudian dinilai
oleh Kepala Balai Pengelolaan DAS serta disahkan oleh Kepala Dinas yang diserahi
tugas dan tanggung jawab di bidang kehutanan tingkat kabupaten/kota (khusus Hutan
Lindung dan Hutan Produksi) dan Kepala UPT (BKSDA/Taman Nasional) di Hutan
Konservasi.
(3). Kerangka Penyusunan Naskah Rancangan
1. Bentuk dan Jadwal
Naskah rancangan disusun dalam bentuk buku berukuran A4 atau folio
memanjang dengan kover warna Kuning.
Buku rancangan berisi rancangan pelaksanaan kegiatan Persiapan, Pelaksanaan,
Pemeliharaan, Pengamanan hutan dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun (tahun 2009
s/d 2011) dengan tahapan sebagai berikut :
Tahun I : Kegiatan Persiapan, penanaman, pemeliharaan tahun
berjalan, pengamanan hutan.
Tahun II : Kegiatan pemeliharaan tahun I dan pengamanan
Tahun III : Kegiatan pemeliharaan tahun II dan pengamanan
2. Output Naskah
Naskah rancangan teknis pelaksanaan kegiatan reboisasi disusun dengan
output sebagai berikut :
BUKU I (SATU)
Cover Judul
Peta Situasi Skala 1 : 50.000 s/d 1 : 100.000
Lembar Pengesahan
Kata Pengantar
Daftar Isi
Daftar Tabel
I. Pendahuluan
1. Latar Belakang
2. Maksud dan Tujuan
3. Ruang Lingkup
4. Pengertian
II. Risalah Umum, berisi kondisi lapangan hasil inventarisasi dan identifikasi
lapangan yang memuat :
1. Kondisi Biofisik
2. Kondisi Sosial Ekonomi Budaya
III. Rancangan Pelaksanaan Kegiatan Reboisasi
A. Rancangan Fisik GN-RHL
1. Tata letak
2. Pembibitan
3. Penanaman
4. Pemeliharaan
5. Perlindungan dan pengamanan
6. Sarana dan prasarana pendukung
7. Lain-lain
B. Rencana Pembinaan Kelembagaan
1. Pendampingan dan Penyuluhan
2. Pelatihan
3. Pembentukan Forum Komunikasi
4. Lain-lain
C. Jadwal Waktu Kegiatan
D. Rincian Kebutuhan Biaya
E. Pengelolaan Pasca Kegiatan
IV. Penutup
BUKU II (DUA)
Lampiran-Lampiran
(peta rancangan, gambar gubuk kerja, Papan Nama Kegiatan dan Papan
peringatan, gambar tata letak).

H. Pelaporan
Pelaksana pekerjaan diwajibkan menyampaikan laporan pekerjaannya yang
dituangkan dalam bentuk laporan pendahuluan, laporan hasil survey dan laporan akhir.
Seluruh data hasil akhir pelaksanaan pekerjaan (dokumen hasil penulisan/laporan,
peta/gambar dokumentasi) disusun dalam bentuk perangkat keras (Buku) dan perangkat
lunak dengan media CD sebanyak 2 dua copy.
Rincian laporan pekerjaan tersebut adalah sebagai berikut :
1. Laporan Pendahuluan yang sekurang-kurangnya memuat kerangka pendekatan/metode,
rencana kerja, pengorganisasian, rencana mobilisasi personil dan peralatan, jadwal
pelaksanaan pekerjaan dan dibuat sebanyak 10 (sepuluh) eksemplar, dengan sampul
warna Kuning.
2. Laporan Tengah/antara atau laporan hasil survey yang merupakan rangkuman setiap
kelompok data survey yang telah dianalisis, yang kemudian akan digunakan sebagai
dasar penyusunan rancangan teknis, dibuat sebanyak 10 (sepuluh) eksemplar.
3. Draft Laporan Akhir yang memuat output yang diinginkan sebagaimana tertuang dalam
keluaran pekerjaan yang siap dibahas.
4. Laporan Akhir yang merupakan penyempurnaan Draft Laporan Akhir berdasarkan hasil
pembahasan yang telah disyahkan, digandakan sebanyak 10 eksemplar untuk setiap
kabupaten/lokasi kegiatan.

Biaya tersebut dibebankan kepada Anggaran DIPA BA 69 Satuan Kerja Balai


Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Kahayan Propinsi Kalimantan Tengah Tahun 2008
(Lanjutan tahun 2007).
RENCANA JADWAL PELAKSANAAN PENYUSUNAN RANCANGAN REBOISASI (T-1)

Bulan/Minggu
No. Jenis Kegiatan Agustus September Oktober Ket.
III IV I II III IV I II
I Persiapan
1. Pemantapan dan pengecekan lokasi
2. Penyusunan rencana kerja
3. Penyiapan bahandan perlatan
II Laporan Pendahuluan
III Inventarisasi dan Identifikasi Data Biofisik
Kawasan Hutan, Sosekbud dan interaksi teknis
IV Penataan Areal
1. Pengukuran dan pemancangan patok batas
2. Penataan lokasi (blok dan petak tanaman)
V Pengolahan dan Analisa Data (Laporan hasil
survey/laporan tengah)
VI Penyusunan Naskah Draft Rancangan dan Peta
VII Pembahasan
VIII Pembuatan Laporan Akhir
ESTIMASI TATA WAKTU PELAKSANAAN KEGIATAN REBOISASI

Bulan Ke -
No. Tahun/Kegiatan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1. Tahun 2008
Seleksi Umum Penyusunan
Rencangan Teknis
2. Tahun 2009
Pelaksanaan Penanaman
(Persiapan, penanaman,
pemeliharaan tahun berjalan dan
pengamatan hutan)

Tahun 2010
Pemeliharaan tahun pertama

3. Tahun 2011
Pemeliharaan tahun kedua

Anda mungkin juga menyukai