Anda di halaman 1dari 12

SATUAN ACARA PENYULUHAN

Pokok bahasan : Kawasan Tanpa Rokok (KTR)


Sasaran : Keluarga pasien, pasien, dan pengunjung
Tempat Kegiatan : Ruang penyuluhan IRNA IV
Hari/ Tanggal : Kamis, 15 Desember 2016
Waktu : 10.00-10.20
Penyuluh : TIM Penyuluh PKRS IRNA IV

A. Latar Belakang

Kesehatan merupakan investasi untuk mendukung pembangunan dengan upaya


meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Pembangunan nasional merupakan usaha
meningkatkan kualitas manusia dan masyarakat Indonesia yangdilakukan secara
berkesinambungan. Upaya besar bangsa Indonesia dalam meluruskan kembali arah
pembangunan nasional yang telah dilakukan menuntutreformasi total kebijakan
pembangunan di segala bidang. Pembangunan padahakikatnya adalah perubahan yang
terus-menerus yang merupakan kemajuan danperbaikan menuju ke arah tujuan yang ingin
dicapai. Tujuan pembangunan kesehatan adalah meningkatkan kesadaran, kemauan, dan
kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat
yang optimal melalui terciptanya masyarakat, bangsa, dan Negara Indonesia yang
ditandai oleh penduduknya hidup dalam lingkungan dengan perilaku hidup sehat.
Peraturan Daerah tentang Kawasan Tanpa Rokok (selanjutnya disebut KTR) Kota
Medanmerupakan amanah Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.
Amanat Undang-Undang Kesehatan No.36 tahun 2009 yang mewajibkan tiap daerah
untuk menetapkan Kawasan Tanpa Rokok disambut baik oleh beberapadaerah di
Indonesia termasuk salah satunya adalah Provinsi Sumatera Utara dengan menyusun
PeraturanDaerah (PERDA) tentang Kawasan Tanpa Rokok di daerahnya masing-masing.
Daerah-daerah tersebutantara lain adalah Kota Medan, yang menetapkanPERDA tentang
Kawasan Tanpa Rokok.Institusi yang telah menerapkan Kawasan Tanpa Rokok umumnya
adalah institusi pelayanan kesehatan seperti rumah sakit, Dinas Kesehatan, dan
puskesmas, institusi pendidikan seperti SD, SLP dan SLTA, serta beberapa perusahaan
swasta seperti Bank,hotel dan plaza(pusat perbelanjaan). Disusunnya kebijakan tersebut
menunjukkan komitmen kuat Pemerintah Daerah dalam melindungi masyarakatnya dari
bahaya rokok.
Dibentuknya Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 3 Tahun 2014 Tentang
Kawasan Tanpa Rokok Dan Kawasan Terbatas Rokok merupakan landasan hukum untuk
setiap orang atau badan guna mendapatkan hak yang sama untuk kawasan tanpa rokok
yang sehat, dan setiap orang atau badan melaksanakan kewajiban untuk memelihara, dan
menjalankan peraturan yang telah dibuat guna menjaga kelestarian lingkungan
hidup.Masalah tentang rokok merupakan sebuah dilema bagi Pemerintah. Pemerintah
berupaya untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat dengan membuat aturan
yang ketat tentang rokok namun dilain pihak ada kelompok masyarakat yang terancam
keberlangsungan hidupnya apabilaaturan tersebut dijalankan, karena ada ratusan ribu
orang yang mengantungkan hidupnya pada industri rokok. Industri rokok menyerap
begitu banyak tenaga kerja yang mayoritas adalah para wanita yang tidak lain yaitu untuk
membantu perekonomian keluarga selain itu juga ada petani tembakau yang akan
dirugikan apabila industri rokok ditutup. Apalagi beberapa waktu yang lalu salah satu
ormas islam mengharamkan produk rokok, positif memang namun masih dilematis.
Pemerintah mempunyai tanggung jawab untuk melindungi dan meningkatkan
kesehatan masyarakat namun juga harus memperhatikan kesejahteraan para buruh pabrik
rokok dan petani tembakau. Oleh karena itu sebagai jalan keluar maka pada tahun 2014
Pemerintah Kota Medantelah mengeluarkan Perda No 3 tahun 2014 tentang kawasan
tanpa rokok dan kawasan terbatas merokok. Perda ini tidak bermaksud melarang orang
untuk merokok hanya saja mengatur supaya orang tidak merokok di sembarang tempat.
Apabila berada ditempat umum atau tempat kerja yang termasuk kawasan terbatas
merokok, maka seseorang dapat merokok asalkan di tempat khusus merokokyang telah
disediakan. Penyediaan tempat khusus morokok wajib dilakukan oleh pimpinan atau
penanggung jawab kawasan tersebut. Kebijakan penerapan Kawasan Tanpa Rokok (KTR)
telah diidentifikasi sebagai strategi intervensi utama pengendalian penyakit tidak menular.
Kawasan tanpa rokok adalah ruangan atau area yang dinyatakan dilarang untuk
melakukan kegiatan merokok, kegiatan memproduksi, menjual, mengiklankan, promosi,
dan atau mempromosikan produk tembakau. Beberapa daerah di Indonesia telah
menerapkan kawasan tanpa rokok, seperti Jakarta, Bogor, Palembang, Yogyakarta, dan
Padang Panjang. Universitas yang telahmenerapkan kawasan tanpa rokok adalah
Universitas Indonesia, Universitas GajahMada, Universitas Airlangga. Dalam lingkungan
universitas, fenomena yang tampak darimahasiswa adalah kecendrungan untuk
berperilaku merokok di daerah umum di area kampus. Mahasiswa tersebut cenderung
berkumpul dengan teman-temanya saat merokok pada saat jam kosong kuliah dan setelah
makan. Adanya fenomena perilaku kolektif dari perilaku merokoknya. Apabila dalam
kelompok tersebut satu mahasiswa merokok maka mahasiswa yang Dampak asap rokok
sudah menjadi isu penting dalam beberapa tahun terakhir. Banyak penelitian
mempubilkasikan bahaya asap rokok bagi si perokok maupun bagi orang yang berada
disekitarnya.
Kebiasaan merokok merupakan perilaku yang sulit untuk diubah karena efek
kecanduan yang ditimbulkan dari nikotin, namun disadari untuk dapat mengurangi
dampak negatifnya terutama terhadap lingkungan, demi kesehatan masyarakat, harus ada
kebijakan efektif yang diambil, salah satunya dengan penerapan KTR.Sanksi yang
dijatuhkan terhadap pelanggaran KTR ada dua, yaitu sanksi administratif dan sanksi
pidana. Sanksi administratif seperti teguran, bila tak diindahkan akan diperintahkan
meninggalkan KTR. Sanksinya berbentuk denda sebesar Rp10 juta atau penjara 15 hari
bagi pengelola yang membiarkan orang merokok di KTR. Kemudian denda sebesar Rp5
juta bagi yang masih mempromosikan dan menjual rokok di KTR dan denda Rp50 ribu
bagi yang merokok di lingkungan KTR. "Tapi sanksi ini akan bisa diberlakukan pada
awal 2017 nanti lain akan merokok pula begitu juga dengan para pegawai dan dosen yang
merokok diwilayah kampus. Hal ini disebabkan adanya hukumanonimitas. Padahal
dengan kondisi tersebut sangat mengganggu orang lain yang bukan perokok. Rokok
merupakan salah satumasalah publik yang mengemuka dimasyarakat. Bagi perokok aktif
tentupaparan asap rokok sama sekali tidakmenjadi masalah dalam kehidupannya.Namun
asap rokok sangat merugikankesehatan perokok pasif sepertimenyebabkan berbagai
penyakit(kanker paru-paru, penyakit jantung,asma) dan mengganggu masyarakatlainnya
yang ingin menjalani kehidupandengan pola hidup sehat. Seharusnya kebebasan kita akan
sesuatu haldibatasi dengan kebebasan orang lain.Untuk mengatasi permasalahan
bahayarokok bagi masyarakat tidak hanyamenjadi tugas dinas kesehatan saja tapi juga
memerlukan campur tangan darilembaga pendidikan, penegak hukum,LSM dan
kelompok kepentinganlainnya. Namun itu semua masih Belum cukup masih butuh ahli
kebijakan public.Saat ini provinsi yangditengarai berhasil dalam menerapkan Kawasan
Tanpa Rokok adalah Jawa TImur dengan kota Surabaya, melalui Peraturan Daerah Kota
Surabaya Nomor 5 Tahun 2008 Kawasan Tanpa Rokok. sementara itu di Kota Medan, hal
ini masih sampai pada Rancangan Peraturan Daerah yang sudah bergulir sejak sekian
lama namun belum juga memperoleh hasil. Masih menjalani pembahasan yang alot.
Intinya adalah, komitmet dan sikap saling menghargai satu sama lain. Jika perokok
merasa haknya di ambil dengan (nanti) adanya Peraturan Kawasan Tanpa bahkan terjadi
penolakan dari Raperda tersebut dengan pernyataan bahwa peraturah ini disinyalir adalah
upaya pemerintah Kota Medan untuk menghilangkan hak konstitusi masyarakat yang
mengkonsumsi rokok dan mengkebiri para produsen/penjual rokok untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya. Ada pula tuntutan untuk menyediakan Kawasan Khusus Merokok
untuk para perokok. Sebenarnya hal ini tidak salah memang, jadi kebijakan yang di ambil
tidak sepihak. Rokok, maka perokok juga harus menghargai para non perokok untuk
merasa terbebas dari asap rokok yang mengepul kemana-mana. Jadi sebagai warga
Negara yang baik kita patut untuk menjaga kenyamanan orang lain, karena asap rokok itu
bagi sebagian orang sangat mengganggu.
Perokok pasif, dan merasa sangat terganggu apabila ketika sedang dalam angkutan
umum ada orang merokok dan dengan santainya mengepulkan asap kemana-mana. Jadi
seharusnya kita mendukung KTR ini, untuk menghargai para non perokok. Lagi pula
tetap diberikan ruangan untuk bebas merokok, karena hanya ada beberapa tempat yang
disebut sebagai KTR. Ini juga membantu masyarakat untuk mencegah perokok pemula
seperti anak-anak dan remaja. Dalam rangka peningkatan upaya penanggulangan bahaya
akibat merokok dan juga implementasi pelaksanaannya di lapangan lebih efektif, efisien
dan terpadu, diperlukan peraturan perundang-undangan dalam bentuk Peraturan Daerah
Kota Medan Nomor 3 Tahun 2014 Tentang Kawasan Tanpa Rokok.
Pengamanan rokok bagi kesehatan perlu dilaksanakan dengan pemberian
informasi tentang kandungan kadar nikotin dan tar yang ada pada setiap batang rokok,
pencantuman peringatan pada label, pengaturan produksi dan penjualan rokok. Kota
Medan harusnya mampu menerapkan KTR dengan baik mengingat hal ini merupakan
amanat dari undang undang dengan bersikap lebih tegas, dengan dikeluarkannya
Peraturan Walikota Medan Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan
Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 3 Tahun 2014 Tentang Kawasan Tanpa
Rokok.Peraturan Daerah tentang kawasan tanpa rokok merupakan langkah untuk
melindungi masyarakat dari ancaman perokok aktif sehingga budaya dan kebiasaan
masyarakat tersebut dalam hal ini kebiasaan merokok mempengaruhi terciptanya aturan
tentang larangan merokok di tempat umum dengan dibuatnya kawasan tanpa rokok.
B. Tujuan Instruksional Umum
Setelah mengikuti proses penyuluhan ini, peserta/ keluarga diharapkan mampu
memahami kawasan mana yang dilarang untuk merokok dan diperbolehkan untuk
merokok.
C. Tujuan Instruksional Umum
Setelah mengikuti penyuluhan, peserta/keluarga mampu:
1. Menyebutkan kawasan mana yang dilarang untuk merokok
2. Kawasan yang diperbolehkan untuk merokok.

D. Materi
Terlampir
E. Metode
1. Ceramah
2. Tanya jawab
F. Struktur organisasi
1. Moderator: Noora Yunisa
2. Penyaji: Laila Imia Safitri
3. Observer: Husnul Wafa
G. Media
1. Leaflet
H. Kegiatan Pembelajaran
Tahap Kegiatan Perawat Kegiatan Klien
Pembukaan 1. Salam pembuka 1. Menjawab salam
2. Memperkenalkan diri, 2. Memperhatikan
(3 menit)
mengucapkan salam dengan seksama
3. Menjelaskan maksud dan 3. menyepakati kontrak
tujuan penyuluhan waktu dan topik
4. Menjelaskan topik
pembicaraan yaitu
kawasan tanpa rokok
5. Menjelaskan kontrak waktu

Penyajian 1. menjelaskan materi tentang 1. Memperhatikan


(10 menit) kawasan tanpa rokok penjelasan materi
2. Menanyakan materi
menggunakan leaflet
2. Memberikan kesempatan yang belum dipahami
keluarga untuk bertanya di di akhir penjelasan
akhir penjelasan

Penutup 1. Mengevaluasi pemahaman 1. Menjawab pertanyaan


(7 menit) keluarga terhadap materi yang diberikan
2. Menjelaskan materi
yang disampaikan dengan
yang telah
memberikan pertanyaan
2. Meminta keluarga untuk disampaikan oleh
mereview materi. konselor
3. Meyimpulkan proses 3. Memperhatikan
belajar- mengajar dan dengan seksama
4. Memberikan izin
memberikan apresiasi
untuk menempel
kepada keluarga
4. Mengucapkan salam poster
5. Menjawab salam
penutup, penutupan dan
doa

H. Evaluasi
1. Evaluasi Terstruktur
a. Sebelum melakukan penyuluhan, dilakukan perijinan kepada kepala
ruang 7B dan keluarga
b. Seluruh anggota keluarga mengikuti kegiatan penyuluhan
c. Kesiapan konselor termasuk kesiapan media yaitu materi yang akan
disampaikan dan leaflet
d. Kesiapan keluarga meliputi kesiapan menerima materi dan tenang saat
pemberian materi.
2. Evaluasi Proses
a. Anggota keluarga antusias terhadap materi dan memperhatikan saatpemberian
materi.
b. Anggota keluarga tidak meninggalkan tempat saat pemberian materi.
c. Anggota keluarga mengajukan pertanyaan sesuai dengan materi yang
disampaikan konselor.
d. Anggota keluarga dapat menjelaskan kembali topik pembahasan.
e. konselor menjelaskan atau menyampaikan materi dengan jelas.
3. Evaluasi Hasil:
a. Anggota keluarga dapat menjelaskan kembali tentang kawasan tanpa rokok
Lampiran Materi Penyuluhan

KAWASAN TANPA ROKOK

Salah Kebijakan pengendalian tembakau yang lain adalahterlaksananya Kawasan


Tanpa Rokok (KTR). Kawasan Tanpa Rokok(KTR) adalah ruangan atau area yang
dinyatakan dilarang untukkegiatan produksi, penjualan, iklan, promosi dan atau penggunaan
rokok.Upaya bentuk pengendalian tembakau telah berhasil di laksanakan, baikdi tingkat pusat
maupun daerah.Dengan Undang-Undang Nomor 36Tahun 2009 Tentang Kesehatan. Dimana
pasal 113 menyatakan bahwatembakau mengandung zat adiktif. Dan pasal 115 mengatur
tentang. Kawasan Tanpa Rokok.Adapun ruang lingkup Kawasan Tanpa Rokok (KTR)yang
ditetapkan dalam peraturan bersama ini sesuai dengan yang diatur oleh UU No.36 Tahun
2009, antara lain fasilitas pelayanan kesehatan, tempat belajar mengajar, tempat ibadah,
tempat bermain anak, angkutan umum, tempat kerja, tempat umum dan tempat lain yang
ditetapkan. Dalam Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri Nomor 188/ Menkes/ Pb/I/
2011. Sebagaimana disebutkan dalam Pasal 2 dibuat dengan tujuan untuk memberikan acuan
bagi pemerintah daerah dalam menetapkan KTR, memberikan perlindungan yang efektif dari
bahaya asap rokok, memberikan ruang dan lingkungan yang bersih dan sehat bagi
masyarakat, dan melindungi kesehatan secara umum dari dampak buruk merokok baik secara
langsung maupun tidak langsung, Menurunkan angka kesakitan dan/atau angka kematian
dengan cara mengubah perilaku masyarakat untuk hidup sehat, Meningkatkan produktivitas
kerja yang optimal, Mewujudkan kualitas udara yang sehat dan bersih, bebas dari asap rokok,
Menurunkan angka perokok dan mencegah perokok pemula, Mewujudkan generasi muda
yang sehat. Dalam keadaan tertentu, pengolahan gedung termasuk dalam ruang lingkup KTR
dapat menyediakan tempat khusus untuk merokok sebagaimana diatur dalam pasal 5 asalkan
memenuhi syarat, antara lain; Merupakan ruang terbuka atau ruang yang berhubungan
langsung dengan udara luar sehingga udara dapat bersirkulasi dengan baik; Terpisah dari
gedung/ tempat/ruang utama dan ruang lain yang digunakan untuk beraktifitas; Jauh dari
pintu masuk dan keluar; jauh dari tempat orang berlalu-lalang.

Berdasarkan UndangUndang Nomor 36 Tahun 2009 mewajibkan kepada Pemerintah


Daerah untuk menetapkan kawasan tanpa rokok di wilayahnya. Pemerintah Kota Semarang
mengeluarkan peraturan terbaru berupa Peraturan Daerah Nomor 3 tahun 2013. Pengaturan
pelaksanaan kawasan tanpa rokok oleh pemerintah kota semarang. Di dalam peraturan ini,
telah disebutkan bahwa pemerintah daerah wajib menetapkan kawasan tanpa rokok di setiap
wilayahnya. Kawasan tanpa rokok antara lain: Fasilitas pelayanan kesehatan Suatu tempat
yang digunakan untuk menyelenggarakan upayapelayanan kesehatan, baik promotif,
preventif, kuratifmaupun rehabilitatif yang dilakukan oleh pemerintah, pemerintah daerah,
dan/ atau masyarakat. Tempat proses belajar mengajar adalah gedung yang digunakan untuk
kegiatan belajar, mengajar, pendidikan dan/ atau pelatihan. Tempat anak bermain area
tertutup maupun terbuka yang digunakan untuk kegiatan bermain anak-anak. Tempat ibadah
Bangunan atau ruang tertutup yang memiliki ciriciri tertentu yang khusus dipergunakan untuk
beribadah bagi para pemeluk masing-masing agama secara permanen, tidak termasuk tempat
ibadah keluarga. Angkutan umum Alat angkutan bagi masyarakat yang dapat berupa
kendaraan darat, air,dan udara yang penggunaannya biasanya dengan kompensasi. Tempat
kerja tiap ruangan atau lapangan tertutup, bergerak atau tetap di mana tenaga kerja bekerja,
atau yang dimasuki tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha.Tempat umum semua tempat
tertutup yang dapat diakses oleh masyarakat umum dan/ atau tempat yang dapat
dimanfaatkan bersama-sama untuk kegiatan masyarakat yang dikelola oleh pemerintah,
swasta, danmasyarakat. Tempat lainnya yang ditetapkan adalah tempat tempat tertentu yang
belum masuk dalam aturan ini namun kemudian ditetapkan menjadi Kawasan Tanpa Rokok.

Efektifitas Kebijakan Kawasan Tanpa Rokok dalam Penurunan Perokok Aktif.


Berdasarkan hasil penelitian bahwa mahasiswa FK UGM mendukukng penerapan kawasan
tanpa rokok yang terbukti sebagai salah satu metode yang efektif untuk mengendalikan
rokok. Asap Rokok Orang Lain Hak untuk menghirup udara bersih tanpa paparan asap rokok
telah menjadi perhatian dunia. WHO memprediksi penyakit yang berkaitan dengan rokok
akan menjadi masalah kesehatan di dunia. Dari tiap 10 orang dewasa yang meninggal, 1
orang diantaranya meninggal karena disebabkan asap rokok. Dampak Paparan Asap Rokok
Orang Lain Terhadap Kesehatan Asap rokok tidak hanya berbahaya bagi perokok namun juga
berbahaya bagi orang yang berada disekitarnya. Definisi perokok pasif atau Secondhand
Smoke (SHS) Asap rokok orang lain (AROL) adalah asap yang keluar dari ujung rokok yang
menyala atau produk tembakau lainya, yang biasanya merupakan gabungan dengan asap
rokok terdiri dari asap utama (main stream) yang mengandung 25% kadar bahan berbahaya
dan asam sampingan (side stream) yang mengandung 75% kadar bahan berbahaya ditambah
separuh dari asap yang dihembuskan keluar oleh perokok. Dalam asap rokok terdapat 4.000
bahan kimia dan gas berbahaya yang bersifat karsinogenik. Seperti nikotin, arsen, tar, aseton,
natilamin, dan cadmium. Tidak semua bahanbahan kimia tersebut ada dalam polusi udara
akibat cerobong asap pabrik, asap rumah tangga, atau knalpot kendaraan. International Non
Governmental Coalition Against Tobacco (INGCAT) telah menyampaikan rekomendasi yang
didukung oleh lebih dari 60 negara di seluruh dunia yang dimuat dalam IUALTD News
Bulletin on Tobacco and Health1997. Rekomendasi ini berbunyi paparan terhadap asap
rokok lingkungan yang sering kali disebut perokok pasif dapat menyebabkan kanker paru dan
kerusakan kardiovaskuler pada orang dewasa yang tidak merokok dan dapat merusak
kesehatan paru dan pernapasan pada anak. Asap rokok dapat menimbulkan kelainan atau
penyakit pada hampir semua organ tubuh yaitu : Otak (stroke, perubahan kimia otak), Mulut
dan tenggorokan (kanker bibir, mulut, tenggorokan dan laring), Jantung (kelemahan arteri,
meningkatkan serangan jantung), Paru (penyakit paru obstruktif kronik, kanker paru, asma),
Hati (kanker hati), Abdomen (kanker lambung, pankreas dan usus besar), Ginjal dan kandung
kemih, Reproduksi (impotensi, kanker leher rahim,mandul), Kaki (gangren). Hasil dari
beberapa penemuan penelitian terkait asap rokok. Yaitu pada penelitian yang di lakukan oleh
Prayogi Agil antara paparan asap rokok dengan frekuensi eksaserbasiasma. Tabel ini
memperlihatkan bahwa responden terpapar sedang paling banyak adalah yang mengalami
eksaserbasi asma kurang dari sama dengan 1x/minggu yaitu 15 orang (51,72%). Sedangkan
responden terpapar tinggi paling banyak adalah yang mengalami eksaserbasi asma lebih dari
sama dengan 1x/hari yaitu 6 orang (54,54%). Sehingga lama paparan asap rokok dan
frekuensi eksaserbasi asma setelah terpapar asap rokok dimana semakin lama paparan yang
dialami orang yang menderita asma, maka semakin sering pula eksaserbasi asma yang
dialami.

Dampak Ekonomi Akibat Paparan Asap Rokok Orang Lain (AROL) Di Indonesia,
UU kawasan tanpa rokok yang melindungi orang lain dari paparan asap rokok orang lain
masih sangat terbatas. Prevalensi tembakau yang tinggi menimbulkan biaya kesehatan
tahunan untuk perawatan pasien rawat inap akibat penyakit terkait rokok adalah 319 juta
USD. Penerimaan cukai rokok tidak sebanding besarnya dengan biaya kesehatan, yang
dikeluarkan akibat asap rokok. Pengendalian dampak kesehatan akibat rokok akan sulit, tanpa
menaikkan harga dan cukai rokok. Penerimaan cukai rokok sekitar Rp 70 triliun pada tahun
2011. Jumlah itu jauh lebih kecil dari biaya yang dikeluarkan untuk mengatasi akibat buruk
asap rokok. Turunnya produktivitas korban rokok, konsumsi rokok, biaya pengobatan, dan
rawat jalan menimbulkan kerugian makro ekonomi sebesar Rp 245,41 triliun. Saat penelitian
itu dilaksanakan, pada saat itu cukai rokok Rp 55,9 triliun.Beban Ekonomi akibat konsumsi
rokok pada tahun 2010 adalah Rp. 138 Triliun pengeluaran konsumsi rokok, dengan biaya
perawatan medis rawat inap dan rawat jalan Rp.2,11 Triliun sehingga kehilangan
produktivitaskarena kematian prematur, dan morbilitas-disabilitas Rp.105,3 Triliun. Menurut
estimasi International Labor Organization (ILO) tahun 2005 tidak kurang dari 200.000
pekerja yang mati setiap tahun karena paparan asap rokok orang lain (AROL) ditempat kerja.
Penyakit paru obstruktif kronik, laki-laki 437 ribu dan perempuan 149 ribu dengan total 586
ribu. Tumor mulut dan tenggorokan, penyakit sroke dan bayi berat lahir rendah.Kerugian
ekonomi akibatrokok 4 kali lebih besar dari penerimaan Negara. Regulasi Kawasan Tanpa
Rokok (KTR) Sebagai Perlindungan Masyarakat Dari Asap Rokok Orang Lain (AROL)
Regulasi kawasan tanpa rokok adalah mengendalikan perilaku manusia atau masyarakat
dengan aturan atau pembatasan Kawasan Tanpa Rokok (KTR). Pada tempat- tempat yang
telah ditetapkan sebagai Kawasan Tanpa Rokok(KTR) dipasang pengumuman dan tanda
larangan kegiatan produksi, penjualan, iklan, promosi dan/ atau pengggunaan rokok.
Pimpinan atau penanggungjawab Kawasan Tanpa Rokok(KTR) wajib melakukan
pengawasan terhadap setiap orang atau badan yang berada di Kawasan Tanpa Rokok yang
menjadi tanggung jawabnya. Pelaksanaan Kebijakan. KTR tidak terlepas dari komitmen
Kepala Daerah, bentuk komitmen itu terlihat dari kegiatan pemantauan secara rutin, dan
memberikan teguran kepada warga yang tidak mengindahkan peraturan tersebut, seperti di
Kota Padang Panjang penerapan KTR ini sudah dapat melarang adanyaiklan rokok di
sepanjang kota, bahkan juga sudah menunjuk institusi kesehatan dan pendidikan sebagai
pelopor dari KTR, walaupun warga masih ada yang merokok, tapi penerapan KTR ini sudah
dapat menurunkan perokok aktif. Dari hasil analisa adanya paparan asap rokok yang terhirup
orang lain itu sangat sering terjadi. Bahkan kejadian ini sering terjadi di tempat umum.
Sedangkan paparan asap rokok orang lain mengandung kandungan berbahaya dalam tubuh.
Jadi perlunya pengendalian asap rokok dengan Implementasi Kawasan Bebas Rokok.
Dampak perokok pasif pada orang dewasa yang mempunyai bukti cukup terhadap kesehatan.

DAFTAR PUSTAKA

Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan.


Online:http://www.depkes.go.id/downloads/UU_No._36_Th_2009_ttg_Kesehatan.pdf.
Peraturan Pemerintah Bersama Mentri Dalam Negeri Nomor
188/Menkes/PB/2011Online:http://pppl.depkes.go.id/_asset/_regulasi/49_Peraturan
%20 Bersama_Menkes%20Mendagri_KTR.pdf

Peraturan Daerah Nomor 03 Tahun 2013 Kota Semarang


Online:http://jdihukum.semarangkota.go.id/isi/2013/Perda%20no.%203%20Th
%202013.pdf.

Yayi surya, Nawi Ng, Retna Siwi Padmawati. Kawasan Tanpa Rokok Sebagai Alternatif
Pengendalian Tembakau Studi Efektifitas Penerapan Kebijakan Kampus Bebas Rokok
Terhadap Perilaku dan Status Merokok Mahasiswa Di Fakultas Kedokteran UGM,
Yogyakarta. IKM UGM Yogyakarta. 2009

Kementerian Kesehatan. Pusat Promosi Kesehatan Pedoman Pengembangan Kawasan Tanpa


Rokok . Jakarta :Kementerian Kesehatan RI, 2010

TCSC-IAKMI. Perlindungan Terhadap Paparan Asap Rokok Orang Lain, Jakarta

http://www.menshealth.co.id/kesehatan/waras/bahaya.asap.rokok.kalahkan.polusi.udara/004/
003/54

Aila Haris, Mukhtar Ikhsan, Rita Rogayah. Asap Rokok sebagai Bahan Pencemar dalam
Ruangan. Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi, Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia - RS Persahabatan, Jakarta 2012

Supriyadi, Agus. 2014. Kawasan Tanpa Rokok Sebagai Perlindungan Masyarakat Terhadap
Paparan Asap Rokok Untuk Mencegah Penyakit Terkait Rokok. Semarang: Program
Studi S1 Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Universitas Dian Nuswantoro
Semarang.