Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA An A DENGAN KASUS

DIARE DIRUANG HASANAH 2 RUMAH SAKIT HAJI JAKARTA

DISUSUN OLEH :

WIWIN SURIANI
269 STYJ 16

YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM NUSA TENGGARA BARAT


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YARSI MATARAM
PROGRAM STUDI PROFESI NERS
MATARAM
2017

1
1. DIARE
A. Pengertian
Diare cair akut (GEA) adalah Diare yang terjadi secara akut dan
berlangsung kurang dari 14 hari (bahkan kebanyakan kurang dari 7 hari),
dengan pengeluaran tinja yang lunak / cair yang sering dan tanpa darah.
Mungkin disertai muntah dan panas.Diare cair akut menyebabkan
dehidrasi, dan bila masukan makanan kurang dapat mengakibatkan kurang
gizi.Kematian yang terjadi disebabkan karena dehidrasi.
Diare adalah defekasi encer lebih dari 3 kali sehari dengan atau
tanpa darah dan atau lender dalam tinja (Manjoer, 2000).
Hipocrates mendefinisikan diare sebagai pengeluaran tinja yang tidak
normal dan cair.Di FKUI diare diartikan sebagai buang ait besar tidak
normal atau bentuk tinja yang encer dengan frekuensi lebih banyak dari
biasanya (FKUI, 2000).
Dari berbagai pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa diare
adalah pengeluaran tinja secara encer dengan konsistensi tidak normal atau
melebihi dari biasanya.

A. Gejala
Gejala dari diare yaitu sebagai berikut :
1. Berat badan menurun dengan volume cairan yang hilang 30-90 ml/kg
2. Turgor kulit jelek (elastisitas kulit menurun, mata cekung, membrane
mukosa kering)
3. Sering buang air besar dengan konsistensi tinja cair, disertai lender atau
darah
4. Kram abdominal
5. Suhu tubuh meningkat
6. Mual, muntah
7. Lemah, pucat
8. Anus dan daerah sekitar merah karena sering diare
9. Perubahan vital sign
10. Menurun atau tidak ada pengeluaran urin (Mansjoer, 2000).

2
B. Etiologi
Penyebab diare dapat dibagi dalam beberapa factor, yaitu :
1. Faktor infeksi
a. Infeksi enteral : infeksi bakteri ( E.coli, Salmonella, Shigella, dll),
virus(Rotavirus, penyebab terbanyak pada diare akut), dan
parasit(Entamuba tristositica, crypto sporadium).
b. Infeksi parenteral yaitu infeksi di bagian tubuh lain diluar alat
pencernakan, seperti otitis media akut (OMA), tonsilofaringitis,
bronkopneumonia, ensefalitis,dsb.
2. Faktor malabsorbsi
a. Malabsorbsi karbohidrat : disakarida (intoleransi laktosa, maltose,
dan sukrosa), monosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa, dan
galaktosa).
b. Malabsorbsi lemak
c. Malabsorbsi protein
3. Faktor makanan : makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan.
4. Faktor psikologi : rasa takut dan cemas

C. Mekanisme Diare
Diare dapat terjadi dengan gangguan dasar sbb:
1. Gangguan osmotic
Akibat terdapatnya makanan/ zat yang tidak dapat di serap
menyebabkan tekanan osmotic dalam rongga usus meningkat, sehingga
terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus. Isi rongga
usus yang berlebihan ini akan merangsang usus untuk mengeluarkannya
sehingga timbul diare.
2. Gangguan sekresi
Akibat rangsangan tertentu (Misal:toksin) pada dinding usus akan
terjadi peningkatan sekresi air dan elektrolit kedalam rongga usus dan
selanjutnya diare timbul karena terdapat peningkatan isi rongga usus.
3. Gangguan mobilitas usus

3
Hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus
untuk menyerap makanan, sehingga timbul diare. Sebaliknya bila
peristaltic menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan
yang selanjutnya dapat menimbulkan diare pula (Mansjoer, 2000).

D. Patofisiologi
Penyebab gastroenteritis akut adalah masuknya virus (Rotravirus,
Adenovirus enteris, Virus Norwalk), Bakteri atau toksin (Compylobacter,
Salmonella, Escherihia Coli, Yersinia dan lainnya), parasit (Biardia
Lambia, Cryptosporidium).Beberapa mikroorganisme patogen ini
menyebabkan infeksi pada sel-sel, memproduksi enterotoksin atau
Cytotoksin dimana merusak sel-sel, atau melekat pada dinding usus pada
Gastroenteritis akut.
Penularan Gastroenteritis bisa melalui fekal-oral dari satu penderita
ke yang lainnya.Beberapa kasus ditemui penyebaran patogen dikarenakan
makanan dan minuman yang terkontaminasi.
Mekanisme dasar penyebab timbulnya diare adalah gangguan osmotic
(makanan yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotic
dalam rongga usus meningkat sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit
kedalam rongga usus,isi rongga usus berlebihan sehingga timbul diare ).
Selain itu menimbulkan gangguan sekresi akibat toksin di dinding usus,
sehingga sekresi air dan elektrolit meningkat kemudian terjadi diare.
Gangguan multilitas usus yang mengakibatkan hiperperistaltik dan
hipoperistaltik.
Akibat dari diare itu sendiri adalah kehilangan air dan elektrolit
(Dehidrasi) yang mengakibatkan gangguan asam basa (Asidosis Metabolik
dan Hipokalemia), gangguan gizi (intake kurang, output berlebih),
hipoglikemia dan gangguan sirkulasi darah (rss.yarsi.co.id)

D. Manifestasi Klinik
1. Mula-mula bayi atau anak menjadi cengeng, gelisah, suhu tubuh pada
umumnya meningkat, nafsu makan berkurang atau tidak ada.

4
2. Sering buang air besar dengan konsistensi tinja cair atau encer.
3. Warna tinja lama kelamaan berubah menjadi kehijauan karena bercampur
dengan empedu.
4. Kram abdomen akibat peradangan.
5. Mual dan muntah akibat gangguan keseimbangan asam basa lambung
6. Lemah
7. Pucat
8. Perubahan TTV, seperti nadi dan pernafasan meningkat
9. Penurunan pengeluaran urine
10. Terdapat tanda dan gejala dehidrasi seperti : turgor kulit berkurang
(elastisitas kulit menurun), BB menurun, mata dan ubun-ubun besar
menjadi cekung, selaput lendir, bibir, dan mukosa serta kulit nampak
kering.

5
E. Pathways

Faktor infeksi Faktor malabsorbsi Gangguan peristaltik

Endotoksin merusak mukosa


Tekanan
usus osmotik meningkat Hiperperistaltik Hipoperistaltik

Pergeseran cairan Makanan tidak Pertumbuhan


Resti infeksi
elektrolit ke lumen sempat diserap bakteri
usus>>
Endotoksin

Hiperrsokresi cairan elektrolit

Isi lumen usus meningkat

Rangsangan pengeluaran

Hiperperistaltik

Diare

Sering defekasi
Gangguan keseimbangan cairan Gangguan keseimbangan elektrolit

Anus lembab dan lecet


Dehidrasi Hiponatremia, hipokalemia, penurunan klorida serum

Kerusakan
Kekurangan volume cairan
integritas kulitResiko terjadi gangguan sirkulasi darah

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan

6
E. Komplikasi
1. Kehilangan air dan elektrolit _ Dehidrasi, Hipokalemia, Asidosis
metabolik, Kejang, Alkalosis metabolik
2. Gangguan sirkulasi darah _ Syok hipovolemik
3. Gangguan gizi _Hipoglikemia, Malnutrisi energi protein, Intolerasi laktosa
sekunder (rss.yarsi.co.id)

F. Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan diagnostik diare dapat ditegakkan melalui ananmnesis,
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
1. Beberapa petunjuk anamnesis yang mungkin dapat membantu
diagnosis:
a. Bentuk feses (waterry diare atau disentri diare)
b. Makanan dan minuman 6-24 jam terakhir yang dimakan atau diminum
oleh penderita
c. Adakah orang lain sekitarnya menderita hal serupa, yang mungkin oleh
karena keracunan makanan atau pencemaran sumber air
d. Dimana tempat tinggal penderita
e. Siapa, misalnya: wisatawan asing patut dicurigai kemungkinan infeksi
cholera, E.coli, amebiasis, dan giardiasis; pola kehidupan seksual
2. Pemeriksaan fisik antara lain:
a. Suhu tubuh
b. Berat badan
c. Status gizi
d. Tanpa dehidrasi
e. Kemungkinan komplikasi lain
3. Pemeriksaan penunjang yang perlu dikerjakan antara lain:
a. Pemeriksaan tinja makroskopis dan mikroskopis.
b. Biakan kuman untuk mencari kuman penyebab.
c. Tes resistensi terhadap berbagai antibiotik.

7
d. pH dan kadar gula jika diduga ada sugar intolerance.
e. Pemeriksaan darah darah lengkap
f. Darah perifer lengkap, analisa gas darah dan elektrolit (terutama Na,
Ca, K dan P serum pada diare yang disertai kejang), anemia
(hipokronik, kadang-kadang nikrosiotik) dan dapat terjadi karena mal
nutrisi/malabsrobsi tekana fungsi sumsum tulang (proses imflemasi
kronis), peningkatan sel-sel darah putih.
g. Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin darah untuk mengetahui faal
ginjal.
h. Pemeriksaan elektrolit tubuh terutama kadar natrium, kalium, kalsium,
bikarbonat terutama pada penderita diare yang mengalami muntah-
muntah, pernapaan cepat dan dalam, kelemahan otot-otot, ilius
paralitik.
i. Duodenal intubation untuk mengetahui kuman penyebab secara
kuantitatif dan kualitatif terutama pada diare kronik

G. Pencegahan Diare

Berikut adalah langkah-langkah pencegahan terkena diare akibat kontaminasi:

1. Mencuci tangan dengan sabun dan air hangat seperti sebelum makan,
setelah memegang daging mentah, setelah menggunakan toilet, dan setelah
bermain dengan binatang piaraan.

2. Jagalah kebersihan kuku Anda terutama jika memiliki kuku yang panjang.

3. Menjauhi makanan dan minuman yang kebersihannya diragukan.

4. Tidak minum air keran.

5. Menjaga kebersihan dapur dan kamar mandi.

8
6. Memisahkan makanan yang mentah dari yang matang.

7. Makan makanan yang dimasak dari bahan-bahan yang segar.

8. Menyimpan makanan di kulkas dan tidak membiarkan makanan tertinggal


di bawah paparan sinar matahari atau suhu ruangan.

9. Buang makanan dan minuman yang sudah kedaluarsa.

H. Penatalaksanaan
Prinsip pengobatan diare ialah menggantikan cairan yang hilang melalui
tinja dengan atau tanpa muntah, dengan cairan yang mengandung elektrolit dan
glukosa atau karbohidrat lain (gula, air tajin, tepung beras dan sebagainya).
Dalam garis besarnya pengobatan diare dibagi dalam:
1. Pengobatan Kausal
a. Pada penderita diare antibiotik hanya boleh diberikan jika:
b. Ditemukan bakteri patogen pada pemeriksaan mikroskopik dan/atau
biakan.
c. Pada pemeriksaan makroskopik /mikroskopik ditemukan darah pada
tinja.
d. Secara klinis terdapat tanda-tanda yang menyokong adanya infeksi
enteral.
e. Di daerah endemik kolera.

2. Pengobatan simptomatik
a. Obat-obat anti diare.
b. Adsorbent.
c. Antiemetik.
d. Antipiretik.
3. Pengobatan cairan
a. Cairan rehidrasi oral (CRO)

9
Ada beberapa macam cairan rehidrasi oral:
1) Cairan rehidrasi oral dengan formula lengkap mengandung NaCl,
KCl, NaHCO3 dan glukosa penggantinya, yang dikenal dengan
nama oralit.
2) Cairan rehidrasi oral yang tidak mengandung keempat komponen
di atas, misalnya larutan gula-garam (LGG), larutan tepung beras-
garam, air tajin, air kelapa, dan lain-lain caiaran yang tersedia di
rumah, disebut CRO tidak lengkap.
b. Cairan rehidrasi parenteral (CRP)
1) Sebagai hasil rekomendasi Seminar Rehidrasi Nasional ke I s/d
IV dan pertemuan ilmiah penelitian diare, Litbangkes (1982)
digunakan cairan Ringer Laktat sebagai cairan rehidrasi
parenteral tunggal untuk digunakan di Indonesia, dan cairan
inilah yang sekarang terdapat di puskesmas-puskesmas dan di
rumah-rumah sakit di Indonesia.
Pada diare dengna penyakit penyerta (KKP< jantung,
ginjal) cairan yang dianjurkan adalah Half Strength Darrow
Glukose yaitu cairan Hartmann setengah dosis di dalam 2,5 %
glukosa atau cairan Darrow setengah dosis di dalam glukosa
2,5%, karena keduanya mengandung natrium, kalium, klorida,
laktat (basa), dan glukosa.
2) Kebutuhan cairan dapat dihitung sebagai berikut:
3) 24 jam pertama:
4) Dehidrasi ringan; 180 ml/kg (sekitar 3 fl. oz per lb) per hari.
5) Dehidrasi sedang; 220 ml per kg (sekitar 4 fl. oz per lb) per
hari
6) Dehidrasi berat; 260 ml per kg (sekitar 4 fl. oz per lb) per
hari
Hari-hari berikutnya:
Kebutuhan normal sehari-hari adalah 140 ml per kg (sekitar 2,5
fl. oz per lb), ditambah dengan penggantian pengeluaran cairan,

10
yang dihitung secara kasar lewat buang air besar atau lewat
muntahnya. Semua cairan yang diberikan dalam berbagai cara
diatas harus dicatat dan dijumlahkan sertiap hari.
4. Pengobatan Diuretik

ASUHAN KEPERAWATAN DIARE

A. Pengkajian
1. Identitas
2. Keluhan utama
3. Riwayat penyakit sekarang
4. Riwayat kesehatan
a. Riwayat alergi makanan ayau obat-obatan
b. Riwayat penyakit yang pernah dialami
c. Riwayat nutrisi
5. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum
b. Kesadaran
c. TTV
d. Kulit
e. Turgor kulit kembali < 2 detik (tanpa dehidrasi), turgor kulit kembali
dalam waktu 2 detik (dehidrasi ringan-sedang), turgor kulit kembali
>2detik (dehidrasi berat).
f. Kepala
g. Mulut dan lidah
1) Mulut dan lidah basah (tanpa dehidrasi)
2) Mulut dan lidah kering (dehidrasi ringan/sedang)
3) Mulut dan lidah sangat kering (dehidrasi berat)

11
h. Abdomen memungkinkan mengalami desentri, kram, hiperperistaltik.

B. Diagnosa Keperawatan
1. Kekurangan volume cairanberhungandenganKehilangan volume
cairanakibatdiare

2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan


dengan anoreksia
C. Intervensi Keperawatan
N Diagnosa Tujuan dan Intervensi Rasional
o Kriteria Hasil
1 Kekurangan Setelah 1. Lakukan BHSP 1. Klienkurang
dilakukan
volume kooperatif
tindakan
cairanberhunga keperawatan 2. Kaji Frekuensi, 2. Mengetahuiti
selama ...x 24
ndenganKehila Konsitensi, ngkatdehidra
jam defisit
ngan volume volume cairan feces yang si
teratasi dengan
cairanakibatdiar keluar
kriteria hasil :
e Mempertahanka 3. Observasi TTV 3. Memantaupe
n urine output rkembangank
sesuaidengan lien
usiadan BB 4. Anjurkanklienu 4. Menggantica
TTV ntukbanyakmin iran yang

dalamkeadaan um hilang

normal 5. Monitoring 5. Mengetahuiti

Tidakadatandad tanda- ngkatdehidra

ehidrasi tandadehidrasi si
6. Anjurkan klien 6. Mencegahti
Turgor
tidak makan mbulkandiar
kulitkembalid
makanan yang e
alam 3 detik
dapat

12
menimbulkan
diare
7. Kolaborasideng 7. Mendapatkan
antimmedis terapi yang
sesuai
2 Ketidakseimban Setelah 1. Klienkurang
dilakukan 1. BHSP
gan nutrisi kooperatif
tindakan
kurang dari keperawatan
selama ....x 24
kebutuhan 2. Mengetahuiti
jam kebutuhan
2. KajiPemenuha
tubuh nutrisi klien ngkatnutrisik
teratasi dengan nNutrisi
berhubungan lien
kriteria hasil :
dengan BB
anoreksia klienseimban 3. Jelaskan 3. Memotivasiu
gdenganusian pentingnya ntukmeningk
ya pemenuhan atkanpemenu
Klienterl nutrisi bagi hannutrisi

ihatsegar klien

4. Meningkatka
nnapsumaka
4. Berikanmakan
n
ansemenarikm
ungkin

5. Meningkatka
5. Berikanmakan
nnapsumaka
dalamkeadaan
n
hangat

6. Meningkatka
6. Berimakansedi
nnapsumaka
kittapisering
n

13
7. Kolaborasikan 7. Mengetahui
dengantimgizi tindakan
yang sesuai

8. Mendapatkan
8. Kolaborasikan
terapi yang
dengandokter
sesuai

D. Implementasi Keperawatan
Pelaksanaan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai
tujuan yang spesifik. Tahap pelaksanaan dimulai setelah rencana tindakan
disusun dan ditujukan kepada perawat untuk membantu klien mencapai tujuan
yang diharapkan. Adapun tujuan dari pelaksanaan adalah membantu klien
untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan meliputi peningkatan kesehatan
atau pencegahan penyakit, pemulihan kesehatan dari fasilitas yang dimiliki.
Perencanaan tindakan keperawatan akan dapat dilaksanakan dengan
baik jika klien mempunyai keinginan untuk berpartisiasi dalam pelaksanaan
tindakan keperawatan. Selama perawatan atau pelaksanaan perawat terus
melakukan pengumpulan data dan memilih tindakan perawatan yang paling
sesuai dengan kebutuhan klien. dan meprioritaskannya. Semua tindakan
keperawatan dicatat ke dalam format yang telah ditetapkan institusi.
Menurut Craven dan Hirnle (2000) secara garis besar terdapat tiga kategori
dari implementasi keperawatan, antara lain:
a. Cognitive implementations, meliputi pengajaran/ pendidikan,
menghubungkan tingkat pengetahuan klien dengan kegiatan hidup sehari-
hari, membuat strategi untuk klien dengan disfungsi komunikasi,
memberikan umpan balik, mengawasi tim keperawatan, mengawasi
penampilan klien dan keluarga, serta menciptakan lingkungan sesuai
kebutuhan, dan lain lain.

14
b. Interpersonal implementations, meliputi koordinasi kegiatan-kegiatan,
meningkatkan pelayanan, menciptakan komunikasi terapeutik, menetapkan
jadwal personal, pengungkapan perasaan, memberikan dukungan spiritual,
bertindak sebagai advokasi klien, role model, dan lain lain.
c. Technical implementations, meliputi pemberian perawatan kebersihan
kulit, melakukan aktivitas rutin keperawatan, menemukan perubahan dari
data dasar klien, mengorganisir respon klien yang abnormal, melakukan
tindakan keperawatan mandiri, kolaborasi, dan rujukan, dan lain-lain

E. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi adalah intelektual untuk melengkapi proses keperawatan yang
menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan, rencana tindakan, dan
pelaksanaannya sudah berhasil dicapai. Meskipun tahap evaluasi diletakkan
pada akhir proses keperawatan, evaluasi merupakan bagian integral pada setiap
tahap proses keperawatan

Tujuan evaluasi adalah untuk melihat kemampuan klien dalam


mencapai tujuan. Hal ini bisa dilaksanakan dengan mengadakan hubungan
dengan klien

a. Macam-Macam Evaluasi

1) Evaluasi formatif

a) Hasil observasi dan analisa perawat terhadap respon pasien segera


pada saat / setelah dilakukan tindakan keperawatan

b) Ditulis pada catatan perawatan

c) Contoh: membantu pasien duduk semifowler, pasien dapat duduk


selama 30 menit tanpa pusing

2) Evaluasi Sumatif SOAPIER

a) Rekapitulasi dan kesimpulan dari observasi dan analisa status


kesehatan sesuai waktu pada tujuan

15
b) Ditulis pada catatan perkembangan

Evaluasi adalah tahap terakhir dari proses keperawatan dan merupakan


tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan yang menandakan
seberapa jauh diagnose keperawatan, rencana rindakan dan pelaksanaannya
sudah berhasil dicapai.
Menganalisa data hasil implementasi, didokumentasikan dengan SOAP
S : data yang didapat dari pernyataan langsung dari klien.
O : data yang didapat dari hasil observasi dan pemeriksaan.
A : interpretasi data antara S dan O.
P : rencana tindakan yang ditentukan sesuai masalah yang terjadi.

16
DAFTAR PUSTAKA

Enggram, Barbara. 1998. Rencana Asuhan Keperawatan. Adisi 2. EGC:


Jakarta
Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selecta Kedokteran.Edisi 3. EGC: Jakarta
Nanda. 2006. Diagnosa Keperawatan Nanda. EGC: Jakarta
Nanda.2007-2008. Diagnosa Keperawatan NIC-NOC. EGC: Jakarta
Nanda.2009-2011. Diagnosa Keperawatan Definisi dan Klasifikasi. EGC:
Jakarta
Price, Silvia Andrson.1995. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit.Edisi 4. EGC: Jakarta
Smeltzer, Suzane, C.2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Brunner & Suddart. Alih Bahasa Agung Waluyo. Adisi 8. EGC: Jakrta
Staf Pengajar,IKA-FKUI. 2005. Buku Kuliah I Kesehatan.Edisi 11.
FKUI: Jakarta
Http: rss.yarsi.co.id
Scrab.go.id

17