Anda di halaman 1dari 30

STRUKTUR TROFIK, SPESIES KUNCI DAN ANALISIS VEGETASI

Makalah
Disusun untuk memenuhi tugas Matakuliah
Ekologi
yang dibina oleh Drs. I Wayan Sumberartha, M.Sc dan Prof. Suhadi

Disusun oleh kelompok 8:


1. Arrum Larasati Rohmania (150342605291)
2. Alif Rosyidah El Baroroh (150342606362)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
PROGRAM STUDI S1 BIOLOGI
Februari 2017
STRUKTUR TROFIK, SPESIES KUNCI DAN ANALISIS VEGETASI

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Ketika berjalan-jalan ditaman atau hutan atau bahkan menyebrangi


kampus, pasti menemukan berbagai interaksi antara spesies-spesies berbeda. Pada
saat itu mungkin mengamati burung menggunakan pohon sebagai tempat
bersarang, lebah menyerbuki bunga, dan lain-lain.

Suatu organisme hidup akan selalu membutuhkan organisme lain dan


lingkungan hidupnya. Hubungan yang terjadi antara individu dengan
lingkungannya sangat kompleks, bersifat saling mempengaruhi atau timbal balik.
Hubungan timbal balik antara biotik dengan abiotik membentuk sistem ekologi
yang disebut ekosistem. Dalam suatu ekosistem selalu terjadi adanya saling
ketergantungan antara organisme dengan organisme serta organisme dengan
lingkungannya, hal itu menyebabkan adanya aliran energi di dalam ekologi. Di
dalam suatu ekosistem terdapat struktur dan tingkat trofik dari organismenya yang
menyebabkan terjadi rantai makanan, aliran energi dan siklus materi (biokimia).
(Almohdar dkk :2013)

Dalam sebuah ekosistem terdapat spesies kunci. Spesies


kunci adalah spesies yang berdampak besar terhadap lingkungan hingga dapat
mempengaruhi ekosistem. Ekosistem bergantung pada mereka dan dapat berubah
apabila mereka punah, karena keberadaan mereka mempengaruhi jumlah dan
karakteristik spesies lain di suatu komunitas. (Anggraeni dkk : 2015)

Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan biasanya terdiri dari


beberapa jenis yang hidup bersamaan pada suatu komunitas dalam mekanisme
kehidupan bersama tersebut terdapat interaksi yang erat, baik di antara individu
penyusun vegatasi itu sendiri maupun dengan organism lainnya sehingga yang
hidup bersama-sama pada suatu tempat (Sagala, E.H.P, 1997). Analisis vegetasi
merupakan suatu cara untuk mempelajari susunan dan komposisi vegetasi dalam
suatu komunitas tumbuhan berdasarkan struktur vegetasi. Struktur vegetasi pada
dasarnya mencakup unsur bentuk pertumbuhan,stratifikasi dan penutupan tajuk
(Junaedi :2008) .
Ilmu vegetasi sudah dimulai hampir tiga abad yang lalu. Mula-mula
kegiatan utama yang dilakukan lebih diarahkan pada diskripsi dari tentang alam
dan vegetasinya. Dalam mendiskripsikan suatu vegetasi haruslah dimulai dari
suatu titik pandang bahwa vegetasi merupakan suatu pengelompokan dan tumbuh-
tumbuhan yang hidup bersama dalam suatu terutama yang mungkin
dikarakterisasi baik oleh spesies sebagai komponenya. Maupun oleh kombinasi
dan struktur sifat-sifatnya yang mengkarakterisasi gambaran vegetasi secara
umum atau fungsional. Dalam ilmu vegetasi telah dikembangkan berbagai metode
untuk menganalisis dan juga sintesis sehingga akan membantu dan
mendiskripsikan suatu vegetasi sesuai dengan kemajuan dalam bidang-bidang
pengetahuan.
Untuk mempelajari komposisi vegetasi dapat dilakukan dengan Metode
Berpetak (Teknik sampling kuadrat : petak tunggal atau ganda, Metode Jalur,
Metode Garis Berpetak) dan Metode Tanpa Petak (Metode berpasangan acak,
Titik pusat kwadran, Metode titik sentuh, Metode garis sentuh, Metode Bitterlich).
Tujuan

1. Mengetahui yang dimaksud struktur trofik dan didalamnya termasuk


jejaring makanan
2. Mengetahui spesies dengan dampak yang besar
3. Mengetahui sejarah perkembangan analisis vegetasi
4. Mengetahui tentang deskripsi analisis vegetasi
5. Mengetahui teknik-teknik dalam analisis vegetasi

PEMBAHASAN

Dalam makalah ini akan dijelaskan struktur trofik dan didalamnya termasuk
jejaring makanan, spesies dengan dampak yang besar, sejarah perkembangan
analisis vegetasi, tentang deskripsi analisis vegetasi dan mengetahui teknik-teknik
dalam analisis vegetasi.

Struktur Trofik
Struktur dan dinamika sebuah komunitas sangat bergantung pada
hubungan makan-dimakan antara organisme-struktur trofik komunitas tersebut.
Berbagai organisme yang memperoleh sumber makanan melalui langkah yang
sama, dianggap termasuk pada tingkat trofik yang sama. Jadi menurut pemahaman
tingkat trofik tumbuhan hijau dianggap sebagai tingkat trofik pertama, herbivora
sebagai tingkat trofik kedua , karnivora sebagai tingkat trofik ketiga dan karnivora
sekunder sebagai tingkat trofik ke empat. Suatu populasi jenis tertentu dapat
menduduki lebih dari satu tingkat trofik.

Transfer energi makanan ke atas tingkat trofik dari sumbernya di


tumbuhan dan organisme autotrof lain (produsen primer) melalui herbivora
(konsumen primer) ke karnivora (konsumen sekunder, tersier, dan kuartener) dan
pada akhirnya ke dekomposer disebut rantai makanan.

Rantai Pangan

Rantai pangan adalah pengalih energi dari sumbernya dalam tumbuha,


melalui sederetan yang makan atau dimakan. Para ilmuan ekologi mengenalkan
tiga macam rantai pokok, yaitu :

1. Rantai pemangsa, dimulai dari hewan kecil sebgai mata rantai pertama,
kepada hewan yang lebih besar dan berakhir pada hewan yang terbesar.
Landasan permulaan dimulain dari tumbuhan sebagai produsen.

2. Rantai parasit, dimulai dari organisme besar kepada organisme kecil, yang
hidup sebagai parasit.

3. Rantai saprofit, berjalan dari jasat renik

Rantai- rantai ini tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling berkaitan sehingga
membentuk jaring-jaring makanan.

Jejaring Makanan

Pada tahun 1920an, ahli biologi Universitas Oxford, Charles Elton


menyadari bahwa rantai makanan bukanlah unit-unit terisolasi, melainkan saling
bertautan dalam jejaring makanan (food web). Seorang ahli ekologi dapat
merangkum hubungan trofik suatu komunitas dengan cara membuat diagram
jejaring makanan dengan anak panah yang menautkan spesies berdasarkan apa
memakan apa. Dalam komunitas pelagik antartik, misalnya produsen primer
adalah fitoplankton yang berperan sebagai makanan bagi zooplankton yang
dominan terutama eufausida (krill) dan kopepoda, yang keduanya merupakan
krustasea (Gambar 1)

Gambar 1. Jejaring makanan laut antartika.


Anak panah menunjukkan transfer makanan
dari produsen (fitoplankton) naik ke tingkat-tingkat
trofik berikutnya.

Spesies-spesies zooplankton itu sendiri dimakan oleh berbagai macam


karnivora termasuk plankton lain, penguin, anjing laut, ikan dan paus balin. Cumi-
cumi yang merupakan karnivora yang memangsa ikan maupun zooplankton,
merupakan mata rantai penting lain dalam jejaring makanan, sebab cumi-cumi
dimakan oleh anjing laut dan paus bergigi. Sewaktu paus umum diburu sebagai
makanan, manusia menjadi predator puncak dalam jejaring makanan, manusia
menjadi predator puncak dalam jejaring makanan ini. Setelah memburu banyak
spesies paus sehingga populasi mereka menyusut, kini manusia menangkap
organisme laut di tingkat trofik yang lebih rendah, memanfaatkan krill maupun
ikan sebagai makanan. Proses rantai-rantai makanan dapat bertautan membentuk
jejaring makanan pertama-tama, suatu spesies tertentu mungkin terjalin ke dalam
jejaring itu pada lebih dari satu tingkat trofik. Misalnya dalam jejaring makanan
yang ditunjukkan di gambar 1, eufasida memakan fitoplankton maupun
zooplankton lain, misalnya kopepoda.

Cara menyederhanakan jejaring makanan yang rumit

Jejaring makanan bisa jadi rumit, namun dapat disederhanakan jejaring


tersebut dengan dua cara yakni :

1. Dapat mengelompokkan spesies-spesies dengan hubungan trofik yang


sama dalam suatu komunitas tertentu ke dalam kelompok-kelompok
fungsional yang luas. Misalnya seperti gambar 1, lebih dari 100 spesies
fitoplankton dikelompokkan sebagai produsen primer dalam jejaring
makanan.
2. Dapat menggunakan penelitian lebih dalam yakni dengan cara mengisolasi
sebagian jejaring yang sangat sedikit berinteraksi dengan anggota-anggota
lain dalam komunitas.

Batas Panjang Rantai Makanan

Setiap rantai makanan dalam sebuah jejaring makanan biasanya hanya


sepanjang beberapa mata rantai. Sebagian besar jejaring makanan yang telah
dipelajari sejauh ini memiliki rantai yang berpanjang lima mata rantai atau
kurang. Penyebab rantai makanan relati pendek yakni memiliki 2 hipotesis yang
berbeda. Pertama , hipotesis energi (energetic hypothesis) , menyarankan bahwa
panjang rantai makanan dibatasi oleh ketidakefisienan transfer energi disepanjang
rantai makanan. Hanya sekitar 10% energi yang tersimpan dalam materi organik
disetiap tingkat trofik yang dikonversi menjadi materi organik di tingkat trofik
berikutnya. Hipotesis energi memprediksi bahwa rantai makanan akan relatif lebih
panjang di habitat-habitat dengan produksi fotosintetik yang lebih tinggi, sebab
energi di awal rantai lebih besar daripada di habitat-habitat dengan produksi
fotosintetik lebih rendah. Kedua, hipotesis stabilitas dinamis (dynamic stability
hyphothesis) mengajukan bahwa rantai makanan yang lebih panjang kalah stabil
daripada rantai pendek. Fluktuasi populasi ditingkat trofik yang lebih besar
terlipatgandakan pada tingkat-tingkat yang lebih tinggi, sehingga berpotensi
menyebabkan kepunahan lokal predator puncak. Dalam lingkungan yang berubah-
ubah , predator puncak harus mampu pulih dari kejutan lingkungan (misalnya
musim dingin yang ekstrem) yang dapat mengurangi suplai makanan sampai ke
atas rantai makanan. Semakin panjang rantai makanan, semakin lambat predator
puncak pulih dari perubahan lingkungan. Hipotesis ini memprediksi bahwa rantai
makanan akan lebih pendek di lingkungan yang berubah-ubah tak terduga.

Faktor lain yang bisa membatasi panjang rantai makanan adalah bahwa
karnivora dalam rantai makanan cenderung semakin besar pada tingkat trofik
yang lebih tinggi. Ukuran karnivora dan mekanisme makanannya memberikan
batasan atas pada ukuran makanan yang dapat dimasukkan ke dalam mulut.
Kecuali pada beberapa kasus, karnivora besar tidak dapat hidup dengan makanan
berukuran kecil, sebab tidak dapat memperoleh cukup makanan dalam satu waktu
untuk memenuhi kebutuhan metabolik. Beberapa pengecualian adalah paus balin,
pemakan-suspensi bertubuh besar dengan adaptasi-adaptasi yang memungkinkan
mereka mengkonsumsi banyak sekali krill dan berbagai organisme kecil lain.

Spesies dengan Dampak Besar

Spesies tertentu memiliki dampak yang sangat besar terhadap struktur


keseluruhan komunitas, baik karena spesies tersebut sangat melimpah atau karena
memainkan peran sangat penting dalam dinamika komunitas. Dampak-dampak
spesies ini dapat terjadi baik melalui interaksi trofik atau melalui pengaruhnya
terhadap lingkungan fisik. Spesies tersebut dibagi menjadi 3 spesies , yakni
spesies dominan, spesies kunci , dan spesies fondasi (Insinyur Ekosistem).
Spesies Dominan

Spesies dominan adalah spesies-spesies dalam suatu komunitas yang paling


melimpah atau yang secara kolektif memiliki biomassa terbesar. Sebagai
akibatnya, spesies dominan memberikan kontrol kuat terhadap keberadaan dan
distribusi spesies lain. Misalnya , kelimpahan mapel gula, spesies tumbuhan
dominan di banyak komunitas hutan Amerika Utara bagian timur, memiliki
dampak besar terhadap faktor-faktor abiotik seperti teduhan dan tanah yang
kemudian memengaruhi spesies-spesies lain yang hidup disitu. Salah satu
hipotesis mengajukan bahwa spesies dominan superior secara kompetitif dalam
mengeksplotasi sumber daya terbatas seperti air atau nutrien. Spesies dominan
paling sukses dalam menghindari predasi atau dampak penyakit. Gagasan yang
disebutkan terakhir dapat menjelaskan biomassa tinggi yang dicapai dbeberapa
lingkungan oleh spesies invasif, organisme (umumnya diintroduksi oleh manusia)
yang mengukuhkan keberadaan di luar kisaran asal. Spesies semacam itu mungkin
tidak menghadapi predator alami dan agen-agen penyakit yang seharusnya
mencegah pertumbuhan populasi secara berlebihan.

Spesies Kunci

Berlawanan dengan spesies dominan, spesies kunci (keystone species)


tidak harus berlimpah dalam komunitas. Spesies kunci memberikan kontrol kuat
pada struktur komunitas tidak melalui peran ekologis, atau relung (niche), yang
teramat penting. Salah satu cara mengidentifikasi spesies kunci adalah percobaan
menyingkirkan spesies seperti yang dijabarkan di (Gambar 2), yang menyoroti
nilai penting spesies kunci dalam mempertahankan keanekaragaman komunitas
antarpasang.
Gambar 2. Contoh dari mengidentifikasi spesies kunci

Spesies Fondasi (Insinyur Ekosistem)

Sejumlah organisme memberikan pengaruh pada komunitas bukan melalui


interaksi trofik, namun dengan cara menyebabkan perubahan fisik di lingkungan.
Organisme semacam itu dapat mengubah lingkungan melalui perilaku atau
biomassa kolektifnya yang besar. Spesies yang secara drastis mengubah
lingkungan fisik pada skala besar disebut insinyur ekosistem, atau , untuk
menghindari pengertian bahwa spesies itu sadar akan tindakannya spesies
fondasi. Contoh spesies fondasi yang kita kenal akrab adalah berang-berang
(Gambar 3) yang melalui penebangan pohon dan pembangunan bendungan dapat
mengubah bentangan alam. Efek spesies fondasi terhadap spesies lain bisa positif
atau negatif, bergantung pada kebutuhan spesies-spesies lain.
Gambar 3. Berang-berang sebagai insinyur ekosistem
dengan menebang pohon, membangun bendungan dan membentuk
kolam, berang-berang dapat mengubah wilayah besar hutan menjadi
lahan basah yang tergenang

Dengan mengubah struktur atau dinamika lingkungan spesies fondasi terkadang


bertindak sebagai fasilitator : mereka berefek positif pada kesintasan dan
reproduksi spesies lain dalam komunitas. Misalnya dengan memodifikasi tanah,
black rush (Juncus gerardi) meningkatkan kekayaan spesies di sejumlah zona
papaya asin New England.
Analisis Vegetasi

Analisis vegetasi adalah suatu cara mempelajari susunan dan atau


komposisi vegetasi secara bentuk (struktur) vegetasi dari masyarakat tumbuh-
tumbuhan. Unsur struktur vegetasi adalah bentuk pertumbuhan, stratifikasi dan
penutupan tajuk. Untuk keperluan analisis vegetasi diperlukan data-data jenis,
diameter dan tinggi untuk menentukan indeks nilai penting dari penyusun
komunitas hutan tersebut. Dengan analisis vegetasi dapat diperoleh informasi
kuantitatif tentang struktur dan komposisi suatu komunitas tumbuhan
(Sagala : 1997).

Sifat komunitas akan ditentukan oleh keadaan individu-individu tadi,


dengan demikian untuk melihat suatu komunitas sama dengan memperhatikan
individu-individu atau populasinya dari seluruh jenis tumbuhan yang ada secara
keseluruhan. Ini berarti bahwa daerah pengambilan contoh itu representatif bila
didalamnya terdapat semua atau sebagian besar dari jenis tumbuhan pembentuk
komunitas tersebut (Sagala :1997).

1. Sejarah Perkembangan Ilmu Vegetasi

Ilmu vegetasi telah menjadi satu tradisi selama hampir tiga abad. Kegiatan
pertama dan utama adalah terkait dengan gambaran perbedaan bentang alam
(lanskap) dan vegetasinya. Karakteristik bentang alam/lanskap sangat dipengaruhi
oleh : (1) tipe vegetasi, dan (2) perbedaan bentuk hidupnya (selalu hijau,
menggugurkan daunnya, tajuk daun jarum, tajuk daun lebar, dan yang lainnya) di
masing-masing jenis lahan (hutan tropika, savana, padang rumput, gurun kaktus,
dan lainnya).
Diskripsi sistematis tentang pola vegetasi dimulai oleh A. Von Humboldt
(1806) yang mengklasifikasikan bentuk pertumbuhan vegetasi dalam beberapa
tipe. Dalam klasifikasi tersebut, ia mempergunakan istilah asosiasi untuk
pertumbuhan tanaman dalam komunitas. Sistem Von Humbold yang telah
mengklasifikasikan berdasarkan pertumbuhan dan bentuk hidup tersebut
dikembangkan lebih lanjut secara khusus oleh Grisebach (1872) yang
menggambarkan vegetasi di dunia ini menjadi beberapa katagori berdasarkan
iklim makro (Rochman, 2001).

Gambar: A. Von Humboldt (sumber:http://upload.wikimedia.org)


Pada abad dua puluh, terdapat usaha untuk menyederhanakan deskrispsi
vegetasi untuk meningkatkan ketelitian serta untuk menemukan standar dasar
perhitungan kuantitatif. Banyak metode analisis vegetasi berlainan dikembangkan
yang menyajikan data detail dan tabulasi. Lahirlah beberapa metode yang dapat
diterima secara baik oleh para ilmuwan seperti metode Raunkiaer (1913, 1918),
Clements (1905, 1916), Du Rietz (1921, 1930), Braun (1915), dan Braun-
Blanquet (1928) (Rochman, 2001).
Para pelopor dalam ilmu vegetasi tidak membatasi usaha mereka untuk
hanya menjelaskan dan analisis lahan pada komunitas tumbuhan. Variasi yang
tidak terhitung dalam bentuk-bentuk tumbuhan dan kombinasi-kombinasi yang
diperlukan sistem-sistem yang jelas untuk penyajian dan diskusi pada komunitas
tumbuhan dari sudut padang khusus Penekanan aspek ini pada penelitian vegetasi
mempunyai variasi dengan berkembangnya waktu (Rochman, 2001).

Perkembangan Sebelum Abad 19

C. Hart Meeriem, seorang peneliti biologi alam pada tahun 1889,


mengemukakan model persebaran tumbuhan berdasar variasi ketinggian pada
Gunung San Fransisco dari kaki hingga puncaknya. Model tersebut ternyata
sejalan dengan pola persebaran tumbuhan dari garis tropis ekuator hingga ke arah
utara maupun selatan. Karena temperatur berubah sesuai dengan ketinggian
sebagaimana pula garis lintang (latitude) selatan dan utara maka Meeriem
berkesimpulan bahwa tipe tumbuhan pada suatu daerah dipengaruhi oleh
temperatur. Kemudian dapat dibuktikan bahwa faktor kelembapan ternyata lebih
berperan daripada faktor temperatur. Curah hujan yang tinggi dibutuhkan untuk
mendukung pertumbuhan tanaman besar. Sebaliknya, semakin kita bergerak ke
daerah dengan curah hujan rendah tumbuhan akan didominasi oleh tumbuhan
kecil, belukar, padang rumput, dan akhirnya kaktus atau tanaman padang pasir
lainnya (Osgood, 1944).

Beberapa yang paling awal makalah ekologi formal, datang kembali ke


abad ketujuh belas, prihatin dengan suksesi masyarakat sekitar secara bertahap
mengisi danau dan rawa, dan suksesi istilah yang digunakan dalam konteks
modern pada awal abad kesembilan belas (Clement 1916) . Namun,
perkembangan nyata ekologi tanaman datang melalui buku-buku tentang geografi
tanaman yang ditulis oleh orang yang terlatih sebagai ahli taksonomi atau ahli
botani umum. Eksplorasi dunia, terutama pada abad kesembilan belas, dibentuk
segi ekologi yang semakin ketat. Carl Ludwig Willdenow adalah pelopor dari
garis pemikiran ini. Dia adalah seorang ahli geografi tanaman awal yang mencatat
bahwa iklim serupa menghasilkan jenis vegetasi serupa, bahkan di daerah ribuan
kilometer terpisah seperti Afrika selatan dan australia (Osgood, 1944).

Perkembangan Pada Abad 19


Tak lama setelah lulus, Humboldt (Murid Willdenow) bertemu Johann
Forster yang telah menemani James Cook pada pelayaran penemuan dunianya.
Cerita Foster membuat Humboldt bertekad untuk mengunjungi daerah tropis baru.
Satu dekade kemudian humboldt bertemu seorang ahli botani Perancis muda
bernama Aime Bopand, yang memiliki keinginan serupa. Rencana cemerlang, dan
mereka menerima izin dan perlindungan raja Carlos IV dari Spanyol untuk
melakukan perjalanan di tempat yang sekarang dinamai Amerika latin. Mereka
membawa bekal peralatan terbaik untuk mengukur lintang, elevasi, suhu,
kelembaban, dan ada faktor fisik. Selama lima tahun, mereka melakukan
perjalanan dari hutan hujan dataran rendah beruap ke alpine paramo dingin dan
dari padang pasir gersang ke semak berduri. Mereka menjelajahi Cuba, Venezuela,
Equador, Peru, Mexico, dan Orinoco dan Sungai Amazon, mereka naik hampir ke
atas gunung Chimborazo (5900 m), mereka mengumpulkan 60.000 spesimen
tumbuhan. Pada perjalanan kembali ke Eropa Humboldt adalah tamu rumah
Presiden Jefferson di Washington. Jefferson sendiri sangat tertarik dalam respon
tanaman untuk iklim dan mempelajari fenologi tanaman kebun sepanjang gradien
lintang (Barbour, 1980).
Humboldt kembali ke Perancis dan mulai menulis monumental 30
pekerjaan volume, daerah pelayaran aux equinoxiales nya. Yang pertama 14 jilid
yang dikhususkan untuk botani, dan menciptakan istilah Assosiasi,
menggambarkan vegetasi dalam hal physigonomi, hubungan distribusi tipe
vegetasi dengan faktor lingkungan, dan menggambarkan efek sinergis dari
beberapa faktor fisik. Pernyataannya 'dalam rantai besar penyebab dan efek ada
hal dan tidak ada kegiatan harus memperhatikan isolasi', adalah pandangan
modern kita yang merupakan keterkaitan dalam komunitas dan ekosistem.
Menjelang akhir hidupnya ia menulis ensiklopedia lima volume, Kosmos yang
berusaha untuk menggambarkan dan menjelaskan seluruh alam semesta.
Humboldt adalah salah satu orang Renaissance terakhir, yang berusaha untuk
menguasai semua pengetahuan pada zamannya (Barbour, 1980).
Studi Humboldt tentang geografi tanaman dilanjutkan oleh Schouw, de
Candolle, Kerner, dan Grisebach. Schouw (1789-1852), seorang profesor di
Universitas Copenhagen, metodenya menggambarkan efek faktor llingkungan
terhadap distribusi tanamn di 1823 buku, yang lebih menekankan peran suhu.
Pencarian ini untuk tunggal, faktor yang paling penting adalah masih bersama kita
hari ini, tetapi lebih dan lebih kita mengerti dia saling ketergantungan dari semua
faktor. Schouw mempopulerkan prosedur asosiasi penamaan dengan
menggabungkan genus dominan dengan akhiran-etum. Dengan demikian,
quercetum adalah asosiasi hutan oak dan Pinetum adalah asosiasi hutan pinus.
Beberapa skema modern asosiasi nomenklatur masih menggunakan konsep
(Barbour, 1980).
Anton kerner von Marilaun (1831-1898) belajar kedokteran di Universitas
Vienna, tetapi menyerah praktek setelah ia mengalami epidemi kolera sebagai
dokter rumah sakit. Dia berbalik ke Botani sebagai karir yang kurang traumatis,
menjadi profesor botani di Universitas Innsbruck, dan kemudian ditugaskan oleh
pemerintah Hongaria untuk menggambarkan vegetasi di bagian timur Hungaria
dan Transylvania. Kemudian Kerner menjadi salah satu ahli ekologi eksperimental
pertama. Ia menemukan bahwa beberapa variasi yang disebabkan oleh modifikasi
lingkungan (Barbour, 1980).
Agustus Grisebach (1814-1879) bepergian secara luas dan dijelaskan lebih
dari 50 jenis vegetasi utama dalam hal physiogonomic sangat modern, berkaitan
distribusi mereka ke berbagai faktor iklim. Candolle (1806-1893) adalah ahli
taksonomi herbarium sebuah geografi tanaman kursi, tetapi akses untuk koleksi
tanaman yang luas menuntunnya untuk mencoba untuk 'membedakan hukum
distribusi tanaman. Seperti Schouw, ia belajar suhu. Dia menyimpulkan suhu
sesuai dengan formula sangat berguna bahwa data 1874 kemudian menjadi dasar
untuk klasifikasi Koppen terkenal tentang iklim, diterbitkan setengah abad
kemudian (Barbour, 1980).
Ahli botani Jerman dan Denmark pertama kali dikembangkan ekologi -
studi tentang interaksi antara organisme hidup dan lingkungan - pada akhir abad
ke-19 , seperti Cowles sedang memasuki akademisi. Dia terdaftar di Universitas
Chicago pada tahun 1894 , ketika lembaga baru berusia dua tahun dan
bersemangat untuk menjelajahi bidang baru yang universitas elit timur
meremehkan . Ekologi begitu baru bahwa tidak ada buku pelajaran ada, dan
sebagian besar literatur yang diterbitkan dalam bahasa Jerman. Cowles
sebenarnya belajar sendiri Denmark sehingga ia bisa membaca studi kunci yang
hanya tersedia dalam bahasa aslinya (Richard, 1988).
Dia awalnya datang ke Chicago untuk mempelajari geologi, bukan botani.
Tapi dia tidak pernah lebih dari seorang geolog rata-rata. Dalam perjalanan
studinya, namun, ia belajar sejarah glasial dari Great Lakes, yang memberinya visi
dinamis alam dan meletakkan dasar literal untuk sukses di bidang baru (Richard,
1988).
Profesor John M. Coulter akhirnya merekrut Cowles ke Departemen
Botani . Coulter melihat ekologi sebagai hal yang akan datang . Dia tahu bukit
flora dan mendorong Cowles untuk menulis tesis doktornya pada subjek. Tesis
Cowles ' terhadap lingkungan Indiana Dunes menjadi salah satu studi ekologi
pertama di Amerika Utara. Ia diikuti dengan studi ekologi sekitar Chicago dan
makalah tentang suksesi tumbuhan, yang didirikan reputasinya di seluruh Amerika
Serikat dan Eropa. Masih seorang mahasiswa pascasarjana ketika ia mulai
mengajar di Chicago, Cowles menciptakan seluruh kurikulum ekologi saat ia naik
melalui jajaran akademik dan tegas dipengaruhi generasi pertama Amerika
ekologi (Richard, 1988).
Di Indiana Dunes, Henry Cowles bisa menghadapi jauh dari Danau
Michigan, mendaki pedalaman, dan lihat hasilnya selama berabad-abad suksesi
tanaman, proses di mana komunitas tanaman datang ke landscape, berkembang,
dan menciptakan kondisi untuk penggantian mereka dengan masyarakat lain.
Sebagai Cowles berjalan melalui ruang, ia berjalan melalui waktu (Richard,
1988).
Suksesi mudah diikuti pada lanskap sedikit vegetasi dari Indiana Dunes.
Tidak ada tanaman tumbuh di tepi Danau Michigan karena gelombang mencuci
terus-menerus atas tanah. Di bagian belakang pantai, dimana gelombang datang
lebih sering, beberapa tanaman tumbuh di pasir dan menstabilkan dengan sistem
akar mereka. Selama banyak generasi pertumbuhan, reproduksi, dan pembusukan,
pelopor ini menghasilkan tanah organik yang kaya disebut humus, yang
memungkinkan kelompok baru tanaman untuk bergerak dan menggantikan
mereka. Sebuah generasi ketiga akhirnya mengikuti generasi kedua ini, dan
keempat menggantikan ketiga, sampai titik akhir, yang disebut klimaks, tercapai.
Klimaks masyarakat di bukit-bukit pasir ini merupakan hutan - apakah oak tidak
berubah sampai sesuatu mengganggu atau menghancurkan itu. Jika hutan
terbakar, misalnya, suksesi dimulai lagi, tetapi sering dari tahap peralihan. Cowles
menerbitkan studi sebagai " The Hubungan ekologi Vegetasi di bukit pasir Danau
Michigan" pada tahun 1899. Meskipun suksesi tanaman pertama kali dicatat di
zaman kuno dan dikenal banyak ilmuwan hari Cowles ', ia menggambarkan lebih
jelas dan komprehensif daripada siapa pun di depannya (Richard, 1988).
Dari sekitar 1900-1960, bagaimanapun, pemahaman suksesi didominasi
oleh teori Frederic Clements, yang hidup sezaman dengan Cowles, yang
menyatakan bahwa seres yang sangat diprediksi dan deterministik dan berkumpul
di sebuah komunitas klimaks stabil ditentukan terlepas dari kondisi awal.
Clements eksplisit dianalogikan perkembangan suksesi dari komunitas ekologi
dengan perkembangan ontogenetik organisme individu, dan model itu sering
disebut sebagai teori pseudo- organismic ekologi masyarakat. Clements dan
pengikutnya mengembangkan taksonomi kompleks masyarakat dan jalur suksesi
(Richard, 1988).
Henry Gleason menawarkan kerangka kontras pada awal 1920-an. Model
Gleasonian lebih kompleks dan jauh lebih deterministik daripada Clementsian. Ini
berbeda paling mendasar dari pandangan Clementsian dalam menunjukkan peran
yang jauh lebih besar dari faktor kebetulan dan menyangkal keberadaan koheren,
jenis masyarakat dibatasi tajam. Gleason mengatakan bahwa distribusi spesies
menanggapi faktor lingkungan, dan masyarakat yang terbaik dianggap sebagai
artefak dari penjajaran distribusi spesies. Ide Gleason, pertama kali diterbitkan
pada tahun 1926, sebagian besar diabaikan dari publikasi awal mereka sampai
akhir 1950-an (Richard, 1988).
Dua kutipan menggambarkan pandangan kontras Clements dan Gleason.
Clements menulis pada tahun 1916 : " Studi perkembangan vegetasi selalu
bersandar pada asumsi bahwa unit atau pembentukan klimaks adalah entitas
organik. Sebagai organisme formasi muncul, tumbuh, dewasa, dan mati.
Selanjutnya, setiap formasi klimaks mampu mereproduksi dirinya sendiri,
mengulangi dengan penting perkembangannya. Sementara Gleason, dalam
makalahnya tahun 1926, mengatakan " Sebuah asosiasi bukanlah suatu organisme,
bahkan hampir unit vegetasi, tetapi hanya kebetulan. Ide Gleason pada
kenyataannya lebih konsisten dengan pemikiran asli Cowles tentang suksesi.
Tentang perbedaan Clements antara suksesi primer dan suksesi sekunder, Cowles
menulis (1911): Klasifikasi ini tampaknya tidak menjadi nilai fundamental, karena
memisahkan seperti fenomena terkait erat dengan yang dari erosi dan
pengendapan, dan menempatkan bersama-sama seperti tidak seperti hal-hal
sebagai lembaga manusia dan penurunan tanah (Richard, 1988).

2. Deskripsi dan Analisis Vegetasi


Vegetasi merupakan keseluruhan tumbuhan dari suatu area, vegetasi
berfungsi sebagai area penutup lahan. Penutupan oleh vegetasi memberi efek
positif bagi daerah tersebut, penutup lahan nantinya akan mengurangi aliran
permukaan, mencegah erosi tanah dan banjir, serta menjaga suhu tanah dan daerah
sekitar. Persebaran vegetasi dapat dipengaruhi oleh kondisi fisik lahan yang ada,
diantaranya adalah kondisi topografi lahan (Maryantika dkk, tanpa tahun).
Analisis Vegetasi adalah suatu analisis dalam Ekologi tumbuhan yang
berguna untuk mengetahui berbagai jenis vegetasi dalam suatu komunitas atau
populasi tumbuhan yang berkembang dalam skala waktu dan ruang. Selain itu
dengan melakukan analisis vegetasi, dapat diketahui keadaan vegetasi tumbuhan

dimasa sekarang dan dapat menduga-duga kemungkinan perkembangan dimasa


depan (Supeksa dkk, tanpa tahun).
Para pakar ekologi memandang vegetasi sebagai salah satu komponen dari
ekosistem yang dapat menggambarkan pengaruh dari kondisi-kondisi faktor
lingkungan dan sejarah dari faktor-faktor itu dalam suatu bentuk yang mudah
diukur dan nyata. Dengan demikian, analisis begetasi secara hati-hati dipakai
sebagai alat untuk memperlihatkan informasi yang berguna tentang komponen-
komponen lainnya dari suatu ekosistem (Syafei, 1990).
Menurut Kaninde dkk (2011), struktur vegetasi dapat didefinisikan sebagai
organisasi individu-individu tumbuhan dalam ruang yang membentuk tegakan dan
secara lebih luas membentuk tipe vegetasi atau asosiasi tumbuhan. Kershaw
dalam Kaninde dkk (2011) menambahkan bahwa bentuk vegetasi dibatasi oleh
tiga komponen pokok, yaitu : (1) stratifikasi yang merupakan lapisan penyusun
vegetasi (strata) yang dapat terdiri dari pohon, tiang, perdu, sapihan, semai, dan
herba (2) sebaran horizontal dari jenis penyusun vegetasi tersebut yang
menggambarkan kedudukan antar individu (3) banyaknya individu (abundance)
dari jenis penyusun vegetasi tertentu. Latifah (2005) mempunyai pendapat
berberda mengenai stratifikasi. Menurutnya stratifikasi tumbuhan dibagi menjadi
4 yaitu (a) semai yang merupakan anakan pohon mulai kecambah sampai setinggi

< 1,5 meter (b) pancang yang merupakan anakan pohon yang tingginya 1,5

meter dan diameter < 7 cm (c) tiang yang merupakan pohon muda dengan

diameter 7 cm sampai 20 cm (d) pohon yang merupakan pohon dewasa

berdiameter 20 cm. Selanjutnya, Kershaw dalam Kaninde dkk (2011)

mengatakan bahwa penguasaan suatu jenis terhadap spesies lainmya ditentukan


berdasarkan Indeks Nilai Penting (INP), yang merupakan penjumlahan dari
kerapatan, dominansi relatif, dan frekuensi relatif.

Marpaung (tanpa tahun), mendeskripsikan struktur vegetasi sebagai


berikut.
1. Pohon
Tumbuhan dengan diameter lebih dari 20 cm. Pengukuran yang akan
dilakukan untuk pohon adalah diameter batang. tinggi pohon serta jumlah
individu dan jenis pohon. Pengukuran diameter batang dilakukan pada
ketinggian 1,3 meter atau 20 cm di atas akar papan jika akar papan lebih
tinggi dari 1,3 meter. Ukuran petak (kuadran) untuk pengukuran pohon
adalah 20 x 20 meter.
2. Tiang
Tumbuhan dengan diameter antara 1020 cm. Pengukuran dilakukan
pada petak subkuadran berukuran 10 x 10 m. Sama dengan pohon. maka
parameter pengukuran adalah diameter tiang, tinggi tiang bebas cabang.
jumlah tiang dan jumlah jenis. Pengukuran diameter batang juga dilakukan
pada ketinggian 1,3 meter.
3. Pancang
Pancang adalah regenerasi pohon dengan ukuran lebih tinggi dari 1,5
meter serta diameter batang kurang dari 10 cm. Ukuran petak pengamatan
yang digunakan untuk pengukuran pancang ini adalah 5x5 meter. Tidak
seperti tiang dan pohon, diameter pancang tidak diukur. Pengukuran hanya
dilakukan pada jumlah mdividu dan jumlah spesies. Karena pada tahap
pertumbuhan pancang, yang penting untuk diketahui adalah kerapatan dan
frekuensi
4. Semai / anakan
Anakan pohon adalah regenerasi awal dari pohon dengan ukuran
ketinggian kurang dari 1,5 meter. Ukuran petak yang digunakan untuk
pengukuran anakan adalah 2x2 meter. Sebagaimana pancang, tahap
pertumbuhan anakan hanya dihitung individu serta jenis anakan saja. Tidak
perlu dilakukan pengukuran diameter batang.
5. Liana :
Liana adalah tumbuhan yang biasanya tumbuh melilit atau memanjat
pohon (woody climbers). Yang tergolong dalam kelompok liana berkayu
ini jika panjarig batang utamanya lebih dari 1,5 meter. Liana tidak berkayu
(non-woody liana) jika panjang batang utamanya kurang dari 1.5 meter.
Pengenalan jenis liana ini agak rumit sehingga jika tidak dimungkinkan
spesimen yang terdiri dari batang. Daun dan bunga/biji (jika ada) perlu
untuk diambil dan dilakukan penomoran spesimen (misal: Liana sp1.
Liana sp2.). Petak contoh untuk pengamatan liana berukuran 5x5 meter.
6. Epifit :
Epifit adalah tumbuhan yang menempel di pohon lain atau yang
menjadikan pohon lain sebagai inangnya. Anggrek adalah jenis epifit yang
banyak diternui di dalam hutan. Selain jenis-jenis anggrek, epifit berupa
paku-pakuan juga banyak dijumpai. Untuk memperlancar pengamatan
dilapangan, pengamatan terhadap epifit hanya dilakukan sampai pada
ketinggian 2 meter dari permukaan tanah karena pengamatan pada
ketinggian lebih dari 2 meter akan sulit dilakukan atau diperlukan
pemanjatan pohon kecuali jika fokus pengamatannya adalah epifit.
Pengukuran terhadap epifit dilakukan terhadap jumlah individu dan
spesies, jika bisa diidentifikasi oleh pengenal pohon karena biasanya jenis
epifit sulit untuk dikenali, kecuali oleh ahli epifit. Pengukuran terhadap
epifit dilakukan pada petak 5x5 meter.
7. Tumbuhan Bawah
Tumbuhan bawah adalah semua tumbuhan yang hidup di lantai hutan
kecuali regenerasi pohon (anakan dan pancang). Beberapa tumbuhan
bawah diantaranya adalah: (1) keluarga palma. jika tingkatan pohon
dewasanya lebih tinggi dari 1,5 meter; (2) pandan. tidak ada kategori untuk
jenis tumbuhan bawah ini: (3) pakupakuan: dan (4) semak atau herba
lainnya. Sebagaimana liana dan epifit jika tidak dimungkinkan pengenalan
jenis, penomoran spesimen/contoh (Palma sp1.. Paku-pakuan sp1., Herba
sp1., dst). Ukuran petak contoh pengamatan tumbuhan bawah berukuran
5x5 meter.
Parameter parameter dalam analisis vegetasi
Data yang telah diperoleh dari kegiatan pengukuran dilapangan kemudian diolah
dengan menggunakan formulasi metode petak kuadrat untuk menghitung besarnya
kerapatan (individu), frekuensi dan dominansi (m2/ha) dan indeks niai penting
(INP) dari masing-masing jenis sebagai berikut :
(Latifah: 2015)
Frekuensi suatu jenis menunjukkan penyebaran suatu jenis dalam suatu
areal. Semakin merata penyebaran jenis tertentu, nilai frekuensinya semakin besar,
sedangkan jenis yang frekuensinya kecil, penyebarannya semakin tidak merata
pada suatu areal atau kawasan yang diamati. Kerapatan dari suatu jenis
merupakan nilai yang menunjukkan jumlah atau banyaknya suatu jenis persatuan
luas. Dominansi suatu jenis merupakan nilai yang menunjukkan penguasaan suatu
jenis terhadap jenis lain pada suatu komunitas. Semakin besar nilai dominansi
suatu jenis, semakin besar penguasaan jenis tersebut terhadap jenis lain. INP suatu
jenis merupakan nilai yang menggambarkan peranan keberadaan suatu jenis
dalam komunitas. Semakin besar INP suatu jenis, maka semakin besar pula
peranan jenis tersebut dalam komunitas. INP dengan nilai yang tersebar merata
pada banyak jenis lebih baik daripada bertumpuk atau menonjol pada sedikit jenis
karena menunjukkan terciptanya relung (niche) yang lebih banyak dan tersebar
merata, spesifik, dan bervariasi. INP yang merata pada banyak jenis juga sebagai
indikator semakin tingginya keanekaragaman hayati pada suatu ekosistem dan
perkembangan ekosistem yang baik untuk mancapai pada tahap klimaks (Kaninde
dkk, 2011).
Dalam menganalisis suatu vegetasi, diperlukan suatu metode. Menurut
Web dalam Syafei (1990), metode dalam analisis vegetasi yang dipilih yang
penting adalah harus disesuaikan dengan tujuan kajian, luas atau sempitnya yang
ingin diungkapkan, keahlian dalam bidang botani dari pelaksana (dalam hal ini
adalah pengetahuan dalam sistematik), dan vegetasi secara alami itu.
Pakar ekologi berkecenderungan untuk melakukan pendekatan secara
floratika dalam menampakkan suatu vegetasi, yaitu berupa komposisi dan struktur
tumbuhan pembentuk vegetasi tersebut. Pendekatan kajian juga bergantung pada
permasalahan bersifat autoekologi atau sinekologi, dan juga menyangkut masalah
produktivitas atau hubungan sebab akibat. Pakar autoekologi biasanya
memerlukan pengetahuan tentang kekerapan atau penampakan dari suatu spesies
tumbuhan, sedangkan pakar sinekologi berkepentingan dengan komunitas, yaitu
masalah yang dihadapi tentang keterkaitan antara alam dengan variasi vegetasi
(Syafei, 1990).
Deskripasi vegetasi juga merupakan bagian yang integral dengan kegiatan
survei sumber daya alam, misalnya inventarisasi kayu untuk balok di hutan, dan
menelaah kapasitas tampung suatu lahan untuk tujuan ternak atau
penggembalaan. Mendeskripsikan suatu vegetasi harus dimulai dari suatu titik
pandang bahwa vegetasi merupakan suatu pengelompokan dari tumbuhan yang
hidup bersama di dalam suatu tempat tertentu yang mungkin dikarakterisasi baik
oleh spesies sebagai komponennya, maupun oleh kombinasi dari struktur dan
fungsi sifat-sifatnya yang mengkarakterisasi gambaran vegetasi secara umum atau
fisiognomi (Syafei, 1990).
3. Macam-Macam Metode Analisis Vegetasi
Menurut Syafei (1990) secara garis besar, metode analisis vegetasi dapat
dikelompokkan menjadi 2 yaitu:
a. Metode destruktif
Metode ini dilakukan untuk mengetahui jumlah materi organic yang dapat
dihasilkan oleh sutu komunitas tumbuhan. Variabel yang digunakan dapat berupa
produktivitas primer maupun biomassa. Dengan demikian, dalam pendekatannya
selalu dilakukan pengrusakan terhadap vegetasi tersebut. Pada umumnya, metode
ini dilakukan untuk vegetasi sederhana, dengan ukuran luas pencuplikan antara 1
m2 - 5 m2. Penimbangan dapat didasarkan pada berat segar materi hidup atau berat
keringnya.
Metode ini sangat membantu dalam menentukan kualitas suatu padang
rumput terbuka terkait dengan pencarian lahan pengembalaan dan menentukan
kapasitas tampungnya. Pendekatan yang terbaik untuk metode ini adalah secara
floristika yaitu didasarkan pada pengetahuan taksonomi tumbuhan.
b. Metode non-destruktif
Metode ini dapat dilakukan dengan cara pendekatan berdasarkan
penelaahan organisme hidup/tumbuhan. Sehingga dikenal dengan pendekatan
non-floristika. Sedangkan pendekatan yang didasarkan pada penelaahan
organisme tumbuhan secara taksonomi dinamakan pendekatan floristika.
1) Metode non-destruktif non-floristika
Metode ini banyak dikembangkan oleh beberapa pakar vegetasi, seperti Du
Rietz (1931), Raunkiaer (1934), dan Dansereau (1951). Yang kemudian
diekspresikan juga dengan cara lain oleh Eiten (1968) dan UNESCO (1973). Para
pakar ini memiliki dasar pemikiran masing-masing. Pada prinsipnya mereka
berusaha mengungkapkan vegetasi berdasarkan bentuk hidupnya, jadi pembagian
dunia tumbuhan secara taksonomi diabaikan. Mereka membuat klasifikasi sendiri
dengan dasar-dasar tertentu.
2) Metode non-destruktif floristika
Metode ini dapat menentukan kekayaan floristika atau keanekaragaman
dari berbagai bentuk vegetasi. Penelaahan dilakukan terhadap semua populasi
spesies pembentuk masyarakat tumbuhan tersebut. Jadi dalam hal ini diperlukan
pemahaman tumbuhan secara taksonomi.
Pada metode ini didukung dengan variable-variabel yang diperlukan untuk
menggambarkan baik struktur maupun komposisi vegetasi, antara lain:
Kerapatan
Untuk menggambarkan jumlah individu dari populasi sejenis
Kerimbunan
Variabel yang menggambarkan luas penutup suatu populasi di suatu
kawasan, dapat juga menggambarkan luas daerah yang dikuasai oleh populasi
tertentu atau dominansinya
Frekuensi
Variabel yang menggambarkan penyebaran dari populasi di suatu kawasan.
Variabel tersebut merupakan sebagian tetapi dari sejumlah variabel yang
diperlukan adalah variabel yang dapat menjabarkan suatu karekteristik vegetasi
yang biasanya dikenal dengan variabel yang bersifat kuantitatif. Variabel lainnya
dikelompokkan pada variabel kualitatif seperti stratifikasi, perioditas, dan
vitalitas.
Berbagai metodologi telah dikembangkan oleh para pakar untuk
memperoleh hasil seakurat mungkin dan sudah disesuaikan dengan tujuannya.
Beberapa metodologi yang umum dan efektif serta efisien untuk dilakukan antara
lain: metode kuadrat, metode garis, metode tanpa plot (metode titik dan metode
kwarter).
a) Metode kuadrat
Bentuk cuplikan pada metode ini dapat berupa segiempat atau lingkaran
yang menggambarkan luasan area (kuadrat). Luasnya bisa bervariasi sesuai
dengan betuk vegetasi atau ditentukan terlebih dahulu luas minimumnya. Sistem
analisinya meliputi: (1) kerapatan, (2) kerimbunan, (3) frekuensi, dan (4) nilai
penting.
b) Metode garis
Bentuk cuplikan pada metode ini berupa garis. Untuk vegetasi hutan
sangat dipengaruhi oleh kompleksitas dari hutan tersebut. Makin sederhana,
makin pendek garisnya. Pada dasarnya, panjang garis sekitar 50-100m sudah
cukup memperlihatkan hasil yang memadai. Untuk vegetasi semak belukar
diperlukan garis sepanjang 5m-10m sedangkan untuk vegetasi sederhana cukup
dengan garis sepanjang satu meter. Sistem analisisnya meliputi: (1) kerapatan, (2)
kerimbunan, (3) frekuensi, dan (4) nilai penting.
c) Metode kwarter
Bentuk cuplikan pada metode ini berupa titik, sehingga metode ini sering
disebut dengan metode tanpa area cuplikan atau plotless methods. Biasanya
sering dilakukan untuk vegetasi berbentuk hutan atau vegetasi kompleks lainnya.
Sistem analisis metode ini, titik-titik dibuat dan disebar secara acak atau
sistematik. Titik-titik tersebut merupakan pusat dari suatu daerah pengamatan
yang secara abstrak dibagi menjadi 4 sektor pengamatan (metode empat penjuru)
sesuai dengan arah mata angin. Daerah I adalah daerah barat-utara, daerah II
adalah daerah utara-timur, daerah III adalah daerah timur-selatan, dan daerah IV
adalah daerah selatan-barat.
Tumbuhan yang dianalisis (dicuplik datanya) pada setiap sektor daerah
pengamatan adalah hanya satu pohon yang paling dekat dengan pusat pengamatan
(titik pusat). Data yang dikumpulkan adalah jarak pohon ke titik pusat , diameter
pohon, dan juga tinggi pohon.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari isi makalah ini adalah:
1. Di dalam suatu ekosistem terdapat struktur dan tingkat trofik dari
organismenya yang menyebabkan terjadi rantai makanan,
2. Spesies kunci adalah spesies yang berdampak besar
terhadap lingkungan hingga dapat mempengaruhi ekosistem.
3. Ilmu vegetasi telah menjadi satu tradisi selama hampir tiga abad. Kegiatan
pertama dan utama mengetahui gambaran bentang alam (lanskap) dan
vegetasinya. Karakteristik bentang alam/lanskap sangat dipengaruhi oleh :
(1) tipe vegetasi, dan (2) perbedaan bentuk hidupnya (selalu hijau,
menggugurkan daunnya, tajuk daun jarum, tajuk daun lebar, dan yang
lainnya) di masing-masing jenis lahan (hutan tropika, savana, padang
rumput, gurun kaktus, dan lainnya). Deskripsi sistematis tentang pola
vegetasi dimulai oleh A. Von Humboldt (1806) yang mengklasifikasikan
bentuk pertumbuhan vegetasi dalam beberapa tipe.
4. Analisis Vegetasi adalah suatu analisis dalam Ekologi tumbuhan yang
berguna untuk mengetahui berbagai jenis vegetasi dalam suatu komunitas
atau populasi tumbuhan yang berkembang dalam skala waktu dan ruang.
5. Secara garis besar, metode analisis vegetasi dapat dikelompokkan menjadi
2, yaitu metode destruktif dan non-destruktif. Metode non-distruktif dibagi
menjadi metode non-destruktif non-floristika dan metode non-destruktif
floristika. Beberapa metodologi yang umum dan efektif serta efisien untuk
dilakukan antara lain: metode kuadrat, metode garis, metode tanpa plot
(metode titik dan metode kwarter).
DAFTAR RUJUKAN
Almohdar, E., Baskoro3, M., S., Yusfiandayani3, R., dan Taurusman,, A. 2013.
Dampak Penangkapan Terhadap Struktur Dan Tingkat Trofik Hasil
Tangkapan Ikan Di Perairan Maluku Tenggara (Impact Of Fishing On
Structure And Trophic Level Of The Fish Catch In Southeast Maluku
Water) . Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan. Vol. 4. No. 2
November 2013: 117-12

Barbour, M.G. 1980. Terestrial Plant Ecology. California: B. Curning.


Campbell, Neil A. 2008. Biologi (Edisi kedelapan, jilid 3). Jakarta : Erlangga
Gunung Ciremai. Buletin Kebun Raya Indonesia vol.11 No.2 Juli 2008

Junaedi, D., I. 2008. Keragaman Komunitas Tumbuhan di Taman Nasional

Kainde, R.F., Ratang, S.P., Tasirin, J.S., dan Faryanti, D. 2011. Eugenia. Analisis
vegetasi Hutan Lindung Gunung Tumpa, 17 (3). (Online),
(http://repo.unsrat.ac.id/290/1/ANALISIS_VEGETASI_HUTAN_
LINDUNG_GUNUNG_TUMPA.pdf), diakses 1 April 2017
Latifah, Siti. 2005. Analisis vegetasi Hutan Alam. (Online),
(http://repository.usu.ac.id /bitstream/123456789/968/1/hutan-siti12.pdf),
diakses pada 01 April 2017
Marpaung, Boy Andreas. Tanpa Tahun. Struktur Vegetasi. (Online),
(http://xa.yimg.com/kq/groups/17149844/2112086958/name/STRUKTU),
diakses pada 1 April 2017
Maryantika, Norida., Jaelani, Lalu Muhammad., Setiyoko, Andie. Tanpa tahun.
Analisa Perubahan Vegetasi Ditinjau dari Tingkat Ketinggian dan
Kemiringan Lahan Menggunakan Citra Satelit Landsat dan Spot 4 (Studi
Kasus Kabupaten Pasuruan). (Online), (http://digilib.its.ac.id/public/ITS-
Undergraduate-18369-Paper-654871.pdf), diakses pada 1 April 2017
Osgood, H Wilfred. 1944. Biographical Memoir of Clinton Hart Merriam. USA:
National Academy Of Sciences.
Pipit Anggraeni1, P., Elfidasari1, D., Dan Pratiwi R. 2015.Sebaran Kepiting
(Brachyura) di Pulau Tikus, Gugusan Pulau Pari, Kepulauan Seribu.
PROS SEM NAS MASY BIODIV INDON Volume 1, Nomor 2, April 2015
ISSN: 2407-8050
Richard & Steven, 1988. Forest Ecosystem : Academic Press. San Diego.
California.
Rohman, Fatchur dan I Wayan Sumberartha. 2001. Petunjuk Praktikum Ekologi
Tumbuhan. JICA: Malang.
Supeksa, Ketut., Deviana, Ni Putu Ella., Dewi, Ni Luh Gede Krisna., Ratmini, Ni
Made., Karolina, Yusita. Tanpa tahun. Analisis Vegetasi dengan Metode
Kuadrat pda Plot yang Dibuat dalam Bentuk Lingkarandi Kebun Raya
Eka Karya Bali. (Online), (http://supeksa.files.wordpress.com/2012/07/
analisis-vegetasi-dengan-metode-kuadrat-pada-plot-yang-dibuat-dalam-
bentuk-lingkaran-di-kebun-raya-eka-karya-bali.pdf), diakses 1 April 2017
Syafei, Eden Surasana. 1990. Pengantar Ekologi Tumbuhan. ITB:
Bandung.
Sagala, E.H.P, 1997. Analisa Vegetasi Hutan Sibayak II pada Taman Hutan
Rakyat Bukit Barisan Sumatera Utara. Skripsi Sarjana Biologi (Tidakd
ipublikasi) Medan: FMIPA USU