Anda di halaman 1dari 12

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Prilaku (Behaviorisme)


Kata perilaku menunjukan manusia dalam aksinya, berkaitan dengan
aktivitas manusia secara fisik, berupa interaksi manusia dengan sesamanya
ataupun dengan lingkungan fisiknya (Tandal dan Egam, 2011).
Teori behaviorisme hanya menganalisa perilaku yang tampak, dapat diukur,
dilukiskan, dan diramalkan. Teori kaum behavoris lebih dikenal dengan nama
teori belajar, karena seluruh perilaku manusia adalah hasil belajar. Dalam arti teori
belajar yang lebih menekankan pada tingkah laku manusia. Memandang individu
sebagai makhluk reaktif yang memberi respon terhadap lingkungan.
Dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus ini, maka perilaku manusia
dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:

ii) Perilaku tertutup, adalah respon seseorang terhadap stimulus dalam


bentuk terselubung atau tertutup (covert). Respon atau reaksi terhadap
stimulus ini masih terbatas pada perhatian, persepsi, pengetahuan /
kesadaran, dan sikap yang terjadi belum bisa diamati secara jelas oleh
orang lain.
iii) Perilaku terbuka, adalah respon seseorang terhadap stimulus dalam
bentuk tindakan nyata atau terbuka. Respon terhadap terhadap stimulus
tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan atau praktek.

Perilaku manusia juga dapat diartikan sebagai sekumpulan perilaku yang


dimiliki oleh manusia dan dipengaruhi oleh adat, sikap, emosi, nilai, etika,
kekuasaan, persuasi, dan/atau genetika.Perilaku seseorang dikelompokkan ke
dalam perilaku wajar, perilaku dapat diterima, perilaku aneh, dan perilaku
menyimpang. Dalam sosiologi, perilaku dianggap sebagai sesuatu yang tidak
ditujukan kepada orang lain dan oleh karenanya merupakan suatu tindakan sosial
manusia yang sangat mendasar. Perilaku tidak boleh disalahartikan sebagai
perilaku sosial, yang merupakan suatu tindakan dengan tingkat lebih tinggi,
karena perilaku sosial adalah perilaku yang secara khusus ditujukan kepada orang
lain. Penerimaan
terhadap perilaku seseorang diukur relatif terhadap norma sosial dan diatur oleh
berbagai kontrol sosial. Dalam kedokteran perilaku seseorang dan keluarganya
dipelajari untuk mengidentifikasi faktor penyebab, pencetus atau yang
memperberat timbulnya masalah kesehatan. Intervensi terhadap perilaku
seringkali dilakukan dalam rangka penatalaksanaan yang holistik dan
komprehensif.

2.2. Faktor yang mempengaruhi Perilaku (Behaviorisme)


Perilaku manusia dan hubungannya dengan suatu setting fisik sebenarnya
tedapat keterkaitan yang erat dan pengaruh timbal balik diantara setting tersebut
dengan perilaku manusia. Dengan kata lain, apabila terdapat perubahan setting
yang disesuaikan dengan suatu kegiatan, maka akan ada imbas atau pengaruh
terhadap perilaku manusia. Variabel variabel yang berpengaruh terhadap
perilaku manusia (Setiawan, 1995), antara lain:

i) Ruang. Hal terpenting dari pengaruh ruang terhadap perilaku manusia


adalah fungsi dan pemakaian ruang tersebut. Perancangan fisik ruang
memiliki variable yang berpengaruh terhadap perilaku pemakainya.
ii) Ukuran dan bentuk. Ukuran dan bentuk ruang harus disesuaikan
dengan fungsi yang akan diwadahi, ukuran yang terlalu besar atau kecil
akan mempengaruhi psikologis pemakainya.
iii) Perabot dan penataannya. Bentuk penataan perabot harus disesuaikan
dengan sifat dari kegiatan yang ada di ruang tersebut. Penataan yang
simetris memberi kesan kaku, dan resmi. Sedangkan penataan asimetris
lebih berkesan dinamis dan kurang resmi.
iv) Warna. Warna memiliki peranan penting dalam mewujudkan suasana
ruang dan mendukuing terwujudnya perilaku-perilakutertentu. Pada
ruang,
pengaruh warna tidak hanya menimbulkan suasana panas atau dingin,
tetapi warna juga dapat mempengaruhi kualitas ruang tersebut.
v) Suara, Temperatur dan Pencahayaan. Suara diukur dengan decibel,
akan berpengaruh buruk bila terlalu keras. Demikian pula dengan
temperatur dan pencahayaan yang dapat mempengaruhi psikologis
seseorang.

2.3. Perilaku dalam Kajian Arsitektur


Manusia sebagai makhluk sosial tidak pernah lepas dari lingkungan yang
membentuk diri mereka. Diantara sosial dan arsitektur dimana bangunan yang
didesain manusia, secara sadar atau tidak sadar, mempengaruhi pola perilaku
manusia yang hidup didalam arsitektur dan lingkungannya tersebut. Sebuah
arsitektur dibangun untuk memenuhi kebutuhan manusia. Dan sebaliknya, dari
arsitektur itulah muncul kebutuhan manusia yang baru kembali (Tandal dan
Egam, 2011).

2.3.1. Arsitektur Membentuk Perilaku Manusia

Manusia membangun bangunan demi pemenuhan kebutuhan pengguna,


yang kemudian bangunan itu membentuk perilaku pengguna yang hidup dalam
bangunan tersebut dan mulai membatasi manusia untuk bergerak, berperilaku,
dan cara manusia dalam menjalani kehidupan sosialnya. Hal ini menyangkut
kestabilan antara arsitektur dan sosial dimana keduanya hidup berdampingan
dalam keselarasan lingkungan.

Desain Arsitektur Perilaku Manusia

Skema ini menjelaskan mengenai Arsitektur membentuk Perilaku


Manusia, dimana hanya terjadi hubungan satu arah yaitu desain arsitektur yang
dibangun mempengaruhi perilaku manusia sehingga membentuk perilaku manusia
dari desain arsitektur tersebut.
2.3.2. Perilaku Manusia membentuk Arsitektur

Setelah perilaku manusia terbentuk akibat arsitektur yang telah dibuat,


manusia kembali membentuk arsitektur yang telah dibangun atas dasar perilaku
yang telah terbentuk, dan seterusnya.

Desain Arsitektur Perilaku Manusia

Pada skema ini dijelaskan mengenai Perilaku Manusia membentuk


Arsitektur dimana desain arsitektur yang telah terbentuk mempengaruhi perilaku
manusia sebagai pengguna yang kemudian manusia mengkaji kembali desain
arsitektur tersebut sehingga perilaku manusia membentuk kembali desain
arsitektur yang baru.

2.4. Hubungan Lingkungan dengan Perilaku Manusia


Perilaku manusia akan mempengaruhi dan membentuk setting fisik
lingkungannya Rapoport, A, 1986, Pengaruh lingkungan terhadap tingkah laku
dapat dikelompokkan menjadi 3 yaitu:

i) Environmemntal Determinism, menyatakan bahwa lingkungan


menentukan tingkah laku masyarakat di tempat tersebut.
ii) Enviromental Posibilism, menyatakan bahwa lingkungan fisik dapat
memberikan kesempatan atau hambatan terhadap tingkah laku
masyarakat.
iii) Enviromental probabilism, menyatakan bahwa lingkungan memberikan
pilihan-pilihan yang berbeda bagi tingkah laku masyarakat.

Pendekatan Perilaku, menekankan pada keterkaitan yang ekletik antara


ruang dengan manusia dan masyarakat yang memanfaatkan ruang atau menghuni
ruang tersebut. Dengan kata lain pendekatan ini melihat aspek norma, kultur,
masyarakat yang berbeda akan menghasilkan konsep dan wujud ruang yang
berbeda (Rapoport. A, 1969), adanya interaksi antara manusia dan ruang, maka
pendekatannya cenderung menggunakan setting dari pada ruang.
Istilah setting lebih memberikan penekanan pada unsur-unsur kegiatan manusia
yang mengandung empat hal yaitu: Pelaku, Macam kegiatan, tempat dan waktu
berlangsungnya kegiatan. Menurut Rapoport pula, kegiatan dapat terdiri dari sub-sub
kegiatan yang saling berhubungan sehingga terbentuk sistem kegiatan.

2.5. Setting Perilaku / Behavior Setting


Pengertian Behavior setting menurut Haryadi dan B. Setiawan dalam bukunya
yang berjudul Arsitektur, Lingkungan dan Perilaku, behavior setting dapat diartikan
secara sedrhana sebagai suatu interaksi antar suatu kegiatan dengan tempat yang
spesifik. Dengan demikian, behavior setting menganfung unsur-unsur sekelompok
orang yang melkukan sesuatu kegiatan, aktifitas atau perilaku dari sekelompok orang
teresbut, tempatdimana kegiatan tersebut dilakukan,serta waktu spesifik saat kegiatan
tersebut dilaksanakan.

Pengertian behavior menurut Roger Barker, tingkah laku tidak hanya ditentukan
oleh lingkungan atau sebaliknya, melainkan kedua hal tersebut saling menentukan dan
tidak dapat dipisahkan. Dalam istilah Barker, hubungan tingkah laku dengan
lingkungan adalah seperti jalan dua arah (two way street) atau interdependensi
ekologi. Suatu hal yang unik pada teori Barker adalah adanya setting perilaku yang
dipandang sebagai faktor tersendiri.

Setting perilaku adalah pola tingkah laku kelompok (bukan individu) yang
terjadi sebagai akibat kondisi lingkungan tertentu (physical milleu). Misalnya jika
suatu ruangan terdapat pintu, beberapa jendela, serta dilengkapi dengan papan tulis
dan meja tulis yang berhadapan dengan sejumlah bangku yang berderet, maka setting
perilaku yang terjadi pada ruang tersebut adalah rangkaian dari tingkah laku murid
yang sedang belajar di ruang kelas. Jika ruang kelas tersebut berisikan perabotan
kantor, maka orang - orang yang berada di dalamnya akan berperilaku sebagaimana
lazimnya karyawan kantor.

Menurut Roger Barker, setting perilaku adalah konsep kunci bagi analisis
perilaku manusia dalam arsitektur. Berdasarkan karya Barker ini, suatu setting
perilaku dapat diterapkan untuk tujuan-tujuan arsitektur sebagai unit dasar analitis
interaksi lingkungan perilaku yang meliputi empat kekhususan berikut ini:
i) Suatu pola perilaku tetap atau suatu tipe perilaku yang berulang kali, seperti
berhenti berbicara jika melalui seorang teman.
ii) Aturan - aturan dan tujuan - tujuan sosial yang menentukan yang dapat
ditafsirkan sebagai norma - norma yang menentukan perilaku yang dapat
ditafsirkan sebagai norma - norma yang berlaku. Pembicaraan - pembicaraan
panjang lebar merupakan norma bagi orang - orang yang lebih tua dan
konvensi sosial, memperkenankan, menyentuh dan berdekatan akrab
sementara berbicara.

iii) Ciri - ciri fisik kritis dari pelataran setting yaitu unsur dan lingkungan fisik
yang terjalin tak terpisahkan dengan perilaku, seperti ukuran dan bentuk
ruang sosial perumahan untuk kaum tua dimana percakapan - percakapan
terjadi.
iv) Tempat waktu, kerangka waktu di mana perilaku terjadi, untuk berbagai
perilaku yang memiliki ritme harian, mingguan, bulanan, dan musiman.

Setiap pelaku kegiatan akan menempati setting yang berbeda, sesuai dengan
karakter kegiatannya. Batas behavior setting dapat berupa batas fisik, batas
administrasi atau batas simbolik. Penentuan jenis batas ini tergantung dari pemisahan
yang dibutuhkan antara beberapa behavior setting.
Sistem kegiatan sebagai suatu rangkaian perilaku yang sengaja dilakukan oleh
satu atau beberapa orang. Pada pengamatan ini dapat dilakukan analisis melalui
beberapa cara yaitu:

i) Menurut Michelson dan Reed 1975 dalam Joyce 2005 : 184 dalam behavior
setting juga dilakukan analisis dengan Time Budget yaitu memungkinkan
orang menguraikan /mengkomposisikan suatu aktivitas sehari-hari, aktivitas
mingguan atau musiman ke dalam seperangkat behavior setting yang
meliputi hari kerja atau gaya hidup.
ii) Menurut Sommer1980 dalam Haryadi 1995: 72 75 dalam Behavior
Mapping digambarkan dalam bentuk sketsa atau diagram mengenai suatu
area dimana manusia melakukan berbagai kegiatannya. Tujuannya adalah
untuk menggambarkan perilaku dalam peta, mengidentifikasikan jenis dan
frekuensi perilaku, serta menunjukkan kaitan antara perilaku tersebut dengan
wujud perancangan yang spesifik. Pemetaan perilaku ini dapat dilakukan
secara langsung pada saat dan tempat dimana dilakukan pengamatan
kemudian berdasarkan catatan-catatan yang dilakukan.

2.6 Pemetaan Perilaku

Dikatakan oleh Sommer (1986) bahwa behavior mapping digambarkan


dalam bentuk sektsa atau diagram mengenai suatu area dimana manusia melakukan
berbagai kergiatannya. Tujuannya adalah untuk menggambarkan perilaku dalam peta,
mengidentifikasikan jenis dan frekuensi perilaku, serta menunjukkan kaitan antara
perilaku tersebut dengan wujud perancangan yang spesifik.

Pemetaan perilaku ini dapat dilakukan secara langsung pada saat pengamatan
di tempat pengamatan atau dilakukan kemudian berdasar catatan-catatan yang dibuat.
Terdapat du acara untuk melakuak pemetaan perilaku yakni (Setiawan, 2014 : 82) :

a) Place-centered mapping
Teknik ini digunakan untuk mengetahui bagaimana manusia atau
seketompok manusia memanfaatkan, menggunakan dan mengakomodasikan
Jurnal RUAS, Volume 11 N0 2, Desember 2013, ISSN 1693-3702 4
perilakunya dalam suatu waktu pada tempat tertentu. Langkah-langkah yang
harus dilakukan pada teknik ini adalah:
Membuat sketsa tempat / setting yang meliputi seluruh unsur fisik
yang diperkirakan mempengaruhi perilaku pengguna ruang.
Membuat daftar perilaku yang akan diamati serta menentukan
simbol / tanda sketsa setiap perilaku.
Kemudian dalam kurun waktu tertentu, peneliti mencatat bcrbagai
perilaku yang terjadi di tempat tersebut dengan menggunakan
simbol - simbol di peta dasar yang telah disiapkan.
b) Person-centered mapping
Teknik ini menekankan pada pergerakan manusia pada periode waktu
tertentu, dimana teknik ini berkaitan dengan tidak hanya satu tempat atau
lokasi akan tetapi beberapa tempat/ lokasi. Pada teknik ini peneliti
berhadapan dengan seseorang yang khusus diamati. Langkah-langkah yang
dilakukan pada teknik ini adalah :
Menentukan jenis sampel person yang akan diamati (aktor /
pengguna ruang secara individu).
Menentukan waktu pengamatan (pagi, siang, malam)
Mengamati aktivitas yang dilakukan dari masing- masing
individu.
Mencatat aktivitas sampel yang diamati dalam matrix.
Membuat alur sirkulasi sampel di area yang diamati mengetahui
kemana orang itu pergi.

2.7. Sistem Setting dan Komponen-Komponennya


Menurut Rapoport (1982), setting merupakan tata letak dari suatu interaksi
antara manusia dengan lingkungannya, setting mencakup lingkungan tempat manusia
(komunitas) berada (tanah, air, ruangan, udara, pohon, makhluk hidup lainnya) yaitu
untuk mengetahui tempat dan situasi dengan apa mereka berhubungan sebab situasi
yang berbeda mempunyai tata letak yang berbeda pula. Dalam konteks ruang,
setting dapat dibedakan atas setting fisik dan setting

kegiatan/ aktifitas. Berdasarkan elemen pembentuknya, setting dapat dibedakan atas:


(Rapoport, 1982)

i) Elemen fixed, merupakan elemen yang pada dasarnya tetap atau


perubahannya jarang. Secara spasial elemen-elemen ini dapat di
organisasikan ke dalam ukuran, lokasi, urutan dan susunan. Tetapi dalam
suatu kasus fenomena, elemen-elemen ini bisa dilengkapi oleh elemn-
elemen yang lain, meliputi: bangunan dan perlengkapan jalan yang melekat.
ii) Elemen semi fixed, merupakan elemen-elemen agak tetap tapi tetap berkisar
dari susunan dan tipe elemen, seperti elemen jalan, tanda iklan, etalase toko
dan elemen-elemen urban lainnya. Perubahannya cukup cepat dan mudah.
Meliputi: PKL, Parkir dan sistem penanda.
iii) Elemen non Fixed, merupakan elemen yang berhubungan langsung dengan
tingkah laku atau perilaku yang di tujukan oleh manusia itu sendiri yang
selalu tidak tetap, seperti posisi tubuh dan postur tubuh serta gerak anggota
tubuh. Meliputi, pejalan kaki, pergerakan kendaraan motorise dan non
motorise.

Aktivitas manusia sebagai wujud dari perilaku yang ditujukan mempengaruhi


dan dipengaruhi oleh tatanan (setting) fisik yang terdapat dalam ruang yang menjadi
wadahnya, sehingga untuk memenuhi hal tersebut di butuhkan adanya: (Widley dan
scheid dalam Weisman, 1987)

i) Kenyamanan, Menyangkut keadaan lingkungan yang memberikan rasa


sesuai dengan panca indra
ii) Aksesibilitas, menyangkut kemudahan bergerak melalui dan menggunakan
lingkungan sehingga sirkulasi menjadi lancar dan tidak menyulitkan
pemakai.
iii) Legibilitas, menyangkut kemudahan bagi pemakai untuk dapat mengenal dan
memahami elemen-elemen kunci dan hubungannya dalam suatu lingkungan
yang menyebabkan orang tersebut menemukan arah atau jalan.
iv) Kontrol, menyangkut kondisi suatu lingkungan untuk mewujudkan
personalitas, menciptakan teritori dan membatasi suatu ruang.

v) Teritorialitas, menyangkut suatu pola tingkah laku yang ada hubungannya


dengan kepemilikan atau hak seseorang atau sekelompok orang atas suatu
tempat. Pola tingkah laku ini mencakup personalisasi dan pertahanan
terhadap gangguan dari luar (Holahan,1982 dalam Hartanti 1997)
vi) Keamanan, menyangkut rasa aman terhadap berbagai gangguan yang ada
baik dari dalam maupun dari luar.

Ruang yang menjadi wadah dari aktivitas di upayakan untuk memenuhi


kemungkinan kebutuhan yang diperlukan manusia, yang artinya menyediakan ruang
yang memberikan kepuasan bagi pemakainya. Setting terkait langsung dengan
aktivitas manusia sehingga dengan mengidentifikasi sistem aktivitas yang terjadi
dalam suatu ruang akan teridentifikasi pula sistem settingnya yang terkait dengan
keberadaan elemen dalam ruang. (Rapoport, 1991).

2.8. Hubungan antara Seting dan Perilaku Manusia


Perilaku manusia dalam hubungannya terhadap suatu setting fisik berlangsung
dan konsisten sesuai waktu dan situasi. Karenanya pola perilaku yang khas untuk
setting fisik tersebut dapat diidentifikasikan. Dari data yang didapat pada riset
perilaku tidak dimaksudkan bahwa asumsi itu hanya sebagian benar, tapi yang lebih
penting adalah keyakinan bahwa hal tersebut menyederhanakan pengertian hubungan
antara perilaku manusia dan setting fisiknya. Kita dapat menyaksikan bahwa kamar
tidur itu secara tetap digunakan untuk bersosial dan makan selain hanya untuk tidur.
Ruang makan tidak hanya untuk makan tapi juga untuk membentuk pola berinteraksi
sosial.
Hal ini membawa J.B. Watson (1878-1958) memandang psikologi sebagai ilmu
yang mempelajari tentang perilaku karena perilaku dianggap lebih mudah diamati,
dicatat, dan diukur. Perilaku mencakup perilaku yang kasatmata seperti makan,
menangis, memasak, melihat, bekerja, dan Perilaku yang tidak kasatmata, seperti
fantasi, motivasi, dan proses yang terjadi pada waktu seseorang diam atau secara fisik
tidak bergerak. Sebagai objek studi empiris, perilaku mempunyai ciri- ciri sebagai
berikut.

i) Perilaku itu sendiri kasat mata, tetapi penyebab terjadinya perilaku secara
langsung mungkin tidak dapat diamati.
ii) Perilaku mengenal berbagai tingkatan, yaitu perilaku sederhana dan stereotip,
perilaku kompleks seperti perilaku sosial manusia, perilaku

sederhana seperti refleks, tetapi ada juga yang melibatkan proses mental
biologis yang lebih tinggi.

iii) terhadap gangguan dari luar (Holahan,1982 dalam Hartanti 1997)


iv) Keamanan, menyangkut rasa aman terhadap berbagai gangguan yang ada
baik dari dalam maupun dari luar.
2.8.1 Ruang

Ruang adalah system lingkungan binaan terkecil yang sangat penting terutama
karena besar waktu manusia modern saat ini banyak dihabiskan di dalamnya. Dalam
kaitannya dengan manusia, hal paling penting dari pengaruh ruang terhadap perilaku
manusia adalah fungsi atau pemakaian ruang tersebut. Dalam banyak kasus, fungsi
ruang ditentukan oleh fungsi dari system yang lebih besar, sebagai missal sebuah
ruang kelas didalam suatu gedung sekolah, atau ruang laboratorium kimia, ruang
sminar. Pengaruh ruang-ruang tersbut terhadap erilaku manusia cukuo jelas, Karena
pemakai melakukan kegiatan tertentu di masing-masing ruang tersebut. Sesuai dengan
fungsinya, ruang-ruang tersebut diharapkan mempunyai bentuk, perabot, dan kondisi
ruang tertentu. . (Haryadi B. Setiawan, 2014 :56)
Pada kasus lain fungsi ruang tidak cukup jelas karena kegiatan yang terjadi di
dalamnya cukup bervariasi, misalnya ruang keluarga dalam sebuah rumah atau ruang
serbaguna. Perilaku yang muncul dari pemakai ruang keluarga atau serbaguna ,
sebagai mis\sal tidak sejalas seperti pada perilaku pemakai ruang kelas. Dari
penjelasan diatas dapat ditari kesimpulan bahwa ada dua macam ruang yang dapat
mempengaruhi perilaku. Pertama, ruang yang dirancang untuk memenuhi suatu
fungsi dan tujuan tertentu. Kedua, ruag yang dirancang untuk memenuhi fungsi yang
lebih flesksibel. (Haryadi B. Setiawan, 2014 : 57)

Berikut merupakan variable yang dapat mempengaruhi persepsi manusia


terhadap lingkungannya (Setiawan, 2014 : 60) :

i) Perbot dan Penataanya

Perabot sebagai variable tak bergantung dari ruang, dapat mempengaruhi


persepsi dan penilaian terhadap ukuran ruang. Semakin banyak perabot,
ruang terasa semakin kecil, demikian juga sebaliknya. Penataan perabot juga
berperan penting dalam mempengaruhi kegiatan dan perilaku pemakainya.
Bentuk-bentuk penaataan sebaiknya dipilih sesuai dengan sfat dari kegiatan
yang ada di ruang tersebut.

ii) Suara, Temperatur dan Pencahayaan

Suara, temperature dan pencahayaan merupakan elemen lingkungan yang


mempunyai andil dalam mempengaruhi kondisi ruang dan perilaku
pemakainya. Suara, yang diukur dalam decibel, akan berpengaruh buruk
apabila terlalu keras. Suara dapat mengganggu privasi seseorang mislanya
disebuah kamar terdengar dengan jelas suara-suara dari kamar sebelah.

Temperatur berkaitan dengan kenyamanan pemakai ruang. Ruang yang panas


karena kurangnya pembukaan atau jendela yang langsung terkena sinar
matahari akan membuat pemakai kepanasan. Akibatnya kegiatan yang
diharapkan terjadi di ruang tersebut tidak dapat berjalan sebagaimana
mestinya.

Pencahayaan mempengaruhi kondisi psikologi seseorang. Bagi seorang


perancang, pencahayaan ruang difungsikan untuk memenuhi kebutuhan
ruang akan cahaya, dan untuk segi estetika. Kualitas pencahayaan yang tidak
sesuai dengan fungsi ruang berakibat pada tidak berjalannya dengan baik
kegiatan yang ada.