Anda di halaman 1dari 5

Indonesia kaya dengan berbagai makroganggange, antara lain adalah jenis Gracilaria sp.

Gelidium sp., Eucheuma sp. (Rhodophyta), Sargassum sp., Turbinaria sp., Padina sp.

(Phaeophyta), dan Ulva sp. (Chlorophyta) merupakan jenis-jenis yang banyak ditemukan dan

cukup melimpah (Rachmaniar, 2005 di dalam Fajar, 2014).

2.2.1 Ganggang coklat Padina sp.

2.2.1 Ganggang

Ganggang tergolong tumbuhan tingkat rendah. Umumnya tumbuh melekat pada substrat tertentu,

tidak mempunyai akar, batang maupun daun sejati, tetapi hanya menyerupai batang yang disebut

thallus. Ganggang tumbuh di alam dengan melekatkan dirinya di karang, lumpur pasir, batu, dan

benda keras lainnya. Selain benda mati, ganggang pun dapat melekat pada tumbuhan lain secara

epifitik. (Davidson, 1980 di dalam Fajar, 2014).

Secara taksonomi, ganggang dikelompokkan ke dalam divisio Thallophyta. Berdasarkan

kandungan pigmennya, ganggang dikelompokkan menjadi empat kelas :

1. Rhodophyceae (ganggang merah)

2. Phaeophyceae (ganggang coklat)


3. Chlorophyceae (ganggang hijau)

4. Cyanophyceae (ganggang biru-hijau)

2.2.2 Padina sp.

2.2.2.1 Taksonomi Padina sp.

Superkingdom : Eukaryota

Kingdom : Plantae

Divisi : Phaeophyta

Class : Phaeophyceae

Ordo : Dictyotales

Famili : Dictyotaceae

Genus : Padina

Spesies : Padina sp. (NCBI)

2.2.2.2 Anatomi dan Morfologi

Padina sp memiliki berbentuk seperti batang, berdaun banyak atau seperti pedang, berbentuk

seperti kipas dan mempunyai warna cokelat. Akarnya berbentuk serabut yang disebut holdfast

untuk menempel kuat pada substrat sehingga dapat digunakan untuk beradaptasi terhadap

gerakan ombak pada daerah intertidal.

Kromatofora berwarna cokelat pada Padina sp karena banyak mengandung pigmen fotosintetik

fukosantin, disamping klorofil a. selnya berflagel dua, tidak sama panjang. Di bagian yang

menyerupai kipas terdapat garis-garis horisontal yang disebut garis konsentris. Di ujung daun
terdapat penebalan yang disebut penebalan gametangia yang berfungsi sebagai reproduksi gamet

dan pelindung daerah pinggiran daun agar tidak sobek karena ombak besar pada zona pasang-

surut. (Hoek, 1995 di dalam Fajar, 2014).

2.2.2.3 Habitat

Ganggang jenis Padina sp. pada umumnya tersebar di perairan laut, mulai perairan laut dangkal

hingga perairan dalam. Padina sp. biasanya ditemukan di pingiran pantai, dan biasanya

jumlahnya paling banyak. Ukuranya lebih besar dari gangang coklat lainnya. (Juliana, 2010 di

dalam Fajar, 2014).

2.2.2.4 Kandungan

Ganggang ini berwarna coklat karena di dalam talusnya terkandung pigmen fikosantin (coklat)

dan xantofil. Selain fikosantin, ganggang ini juga memiliki klorofil a dan c, Fikosantin dan

klorofil terdapat di dalam plastid pada talusnya (Sergiana, 2009 di dalam Fajar, 2014). Dinding

sel mengandung asam alginat dan asam fusinat. Bahan makanan hasil fotosintesis disimpan

dalam bentuk lamarin dan manitol (Pratiwi, 2008).

2.2.2.5 Peranan

Alga coklat ini biasanya digunakan untuk makanan dari ekstrak dinding selnya, untuk kosmetik

dan industri karet (Pratiwi, 2008). Peranan Padina sp. sendiri ini banyak digunakan untuk bahan

kosmetik dan obat-obatan. Di lain tempat bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Masyarakat

di daerah kepulauan Riau, Lampung selatan, Jawa selatan, serta sumbawa menggunakannya

sebagai bahan makanan (Poncomulyo dkk. 2006 di dalam Fajar, 2014). Beberapa aspek potensial

dari ganggang jenis Padina sp. yang pernah diteliti antara lain kajian potensi antibakteri dari

ekstrak Padina boryana (Sameeh, et al., 2016), potensi antioksidan dari ekstrak Padina sp.
(Setha et al, 2013), potensi antiinflamasi dari ekstrak Padina sp ( Asmawati et, al, 2016) potensi

antitumor (Ariffin, S. A., 2013)

Ariffin, S. A. (2013). The Antitumour Properties of Endophytic Fungi from Marine

Plants in Malaysia (Thesis, Doctor of Philosophy). University of Otago.

Sameeh, Manal Y, Amal A. Mohamed, Ahmed M Elazzazy. 2016. Polyphenolic Contents and

antimicrobial activity of different extracts of padina boryana Thivy and enteromorpha sp marine

algae. Journal of applied Pharmaceutical Science Vo. 6 (09), pp. 087-092.

Fajar, Surya. 2014. Ganggang Padina sp. Diakses di

http://syfajaar.blogspot.co.id/2014/04/rumput-laut-Padina-sp.html tanggal 24 Maret 2017.

NCBI. Padina sp. FA. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/Taxonomy/Browser/wwwtax.cgi?

lvl=0&id=1282844 diakses pada tanggal 24 Maret 2017

Serigana. 2009. Ganggang Hijau Biru (Cyanophyta). http: // www.crayonpedia.org/mw/2.

Ganggang Hijau (Cyanophyta) 10.1. Diakses 22 November 2012.

Nontji, Anugrah. 1993. Laut Nusantara. Jakarta Djambatan.

Davidson, R.L., 1980 Handbook of Water-Soluble Gums and Resins, Mc. Graw-Hill, Inc, New

York.

Juliana,R. 2010. Ciri-Ciri Cyanobacteria.http://rullyj.blogspot.com/. Diakses 22 November 2012.

Hoek, et al. 1995. Ganggangi in Introduction to Phycology. New York. Cambridge University

Press.
Hongayo, Menelo C ; Larino, C Ranel; Malingin, Daisy L. 2012. Antibacterial and Antioxidant

effects of Brown Ganggang Padina australis Hauck Crude Extract. IAMURE Multidisciplinary

Research Publications.

Karmana, 1987. Biologi . Bandung: Ganeca Exact.

Nontji, Anugrah. 1993. Laut Nusantara. Jakarta Djambatan.

Poncomulyo; Taurino; Maryani, Herti; Kristiani, Lusi;, 2006. Budidaya dan Pengolahan

Ganggang. AgroMedia Pustaka, Jakarta.

Salosso, Y; Prajitno, A. ; Abadi, A.L. ; Aullanniam. 2011. Kajian Potensi Padina australis

Sebagai Antibakteri Alami dalam Pengendalian Bakteri Vibrio alginolitycus Pada Budidaya

Ikan Kerapu Tikus (Cromeleptus altivelis). Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya; Malang.

Serigana. 2009. Ganggang Hijau Biru (Cyanophyta). http: // www.crayonpedia.org/mw/2.

Ganggang Hijau (Cyanophyta) 10.1. Diakses 22 November 2012.

Anda mungkin juga menyukai