Anda di halaman 1dari 13

Resume Mata Kuliah Geodinamika Pertemuan Vulkanisme

Nama : Christian Jeremia

NPM : 1506729941

Program Studi : Geologi

1.1 Pengertian Vulkanisme dan vulkanik


Vulkanik didefinisikan sebagai tempat munculnya batuan leleran dan rempah lepas gunung
api yang berasal dari dalam bumi, jenis atau kegiatan magma yang sedang berlangsung serta
bentuk timbulan dipermukaan bumi yang dibangun oleh timbunan rempah gunungapi. Definisi
yang lain menyatakan bahwa gunungapi ialah tempat dimana magama keluar kepermukaan
bumi.Dari definisi diatas bahwa bentuk luar dari suatu gunungapi tidak perlu berbentuk kerucut
melainkan dapat berbentuk lain yaitu hanya berupa lubang kepundan saja atau bentuk lain
sebagai rekah memanjang.
Vulkanisme adalah semua peristiwa yang berhubungan dengan magma yang keluar
mencapai permukaan bumi melalui retakan dalam kerak bumi atau melalui sebuah pita sentral
yang disebut terusan kepundan atau diatrema.Magma yang keluar sampai ke permukaan bumi
disebut lava.Magma dapat bergerak naik karena memiliki suhu yang tinggi dan mengandung gas-
gas yang memiliki cukup energi untuk mendorong batuan di atasnya.
Di dalam litosfer magma menempati suatu kantong yang disebut dapur magma. Kedalaman
dapur magma merupakan penyebab perbedaan kekuatan letusan gunung api yang terjadi. Pada
umumnya, semakin dalam dapur magma dari permukaan bumi, maka semakin kuat letusan yang
ditimbulkannya. Lamanya aktivitas gunung api yang bersumber dari magma ditentukan oleh
besar atau kecilnya volume dapur magma. Dapur magma inilah yang merupakan sumber utama
aktivitas vulkanik.
1.2 Produk Vulkanisme
Proses Vulkanisme menghasilkan beberapa produk yang dihasilkan yaitu:
1. Leleran lava
Leleran lava merupakan cairan lava yang pekat dan panas dapat merusak segala
infrastruktur yang dilaluinya. Kecepatan aliran lava tergantung dari kekentalan magmanya,
makin rendah kekentalannya, maka makin jauh jangkauan alirannya. Suhu lava pada saat
dierupsikan berkisar antara 800o 1200o C. Pada umumnya di Indonesia, leleran lava yang
dierupsikan gunungapi, komposisi magmanya menengah sehingga pergerakannya cukup
lamban sehingga manusia dapat menghindarkan diri dari terjangannya. Leleran lava dapat
merusak segala bentuk infrastruktur. Foto Macdonald.

2. Aliran piroklastik (awan panas)


Aliran piroklastik dapat terjadi akibat runtuhan tiang asap erupsi plinian, letusan langsung
ke satu arah, guguran kubah lava atau lidah lava dan aliran pada permukaan tanah (surge). Aliran
piroklastik sangat dikontrol oleh gravitasi dan cenderung mengalir melalui daerah rendah atau
lembah. Mobilitas tinggi aliran piroklastik dipengaruhi oleh pelepasan gas dari magma atau lava
atau dari udara yang terpanaskan pada saat mengalir. Kecepatan aliran dapat mencapai 150 250
km/jam dan jangkauan aliran dapat mencapai puluhan kilometer walaupun bergerak di atas
air/laut. Awan panas mempunyai mobilitas dan suhu tinggi sangat berbahaya bagi penduduk
sekitar gunungapi.
3. Jatuhan piroklastik
Jatuhan piroklastik terjadi dari letusan yang membentuk tiang asap cukup tinggi, pada saat
energinya habis, abu akan menyebar sesuai arah angin kemudian jatuh lagi ke muka bumi. Hujan
abu ini bukan merupakan bahaya langsung bagi manusia, tetapi endapan abunya akan
merontokkan daundaun dan pepohonan kecil sehingga merusak agro dan pada ketebalan tertentu
dapat merobohkan atap rumah. Sebaran abu di udara dapat menggelapkan bumi beberapa saat
serta mengancam bahaya bagi jalur penerbangan. Hujan abu dapat merusak tanaman,
merobohkan rumah, mengganggu pernafasan dan membahayakan jalur penerbangan pesawat.
(Foto Krafft)
4. Lahar letusan
Lahar letusan terjadi pada gunungapi yang mempunyai danau kawah. Apabila volume air
alam kawah cukup besar akan menjadi ancaman langsung saat terjadi letusan dengan
menumpahkan lumpur panas. 5. Gas vulkanik beracun Gas beracun umumnya muncul pada
gunungapi aktif berupa CO, CO2, HCN, H2S, SO2 dll, pada konsentrasi di atas ambang batas
dapat membunuh.
Sesuai wujudnya, ada tiga jenis bahan atau material yang dikeluarkan oleh adanya
tenaga vulkanisme. Material tersebut adalah material padat,cair,dan gas.
a. Benda padat (efflata) adalah debu, pasir,lapili (batu kerikil) batu-batu besar (bom),dan
batu apung
.
b. Benda cair (effusive) adalah bahan cair yang dikeluarkan oleh tenaga vulkanisme, yaitu
lava,lahar panas,dan lahar dingin.Lava adalah magma yang keluar ke permukaan bumi.
Lahar panas adalah lahar yang berasal dari letusan gunung berapi yang memiliki danau
kawah (kaldera), contoh kaldera yang terkenal di Indonesia adalah kawah Bromo. Lahar
dingin adalah lahar yang berasal dari bahan letusan yang sudah mengendap, kemudian
mengalir deras menuruni lereng gunung.

c. Benda gas (ekshalasi), adalah bahan gas yang dikeluarkan oleh tenaga vulkanisme
antara lain solfatar, fumarol, dan mofet. Solfatar adalah gas hidrogen sulfida (H2S)
yang keluar dari suatu lubang yang terdapat di gunung berapi. Fumarol adalah uap air
panas. Mofet adalah gas asam arang (CO2), seperti yang terdapat di Gunung
Tangkuban Perahu dan Dataran rendah Dieng.

1.3 Bagian bagian Gunung Api akibat Proses Vulkanisme


1. Kawah adalah bentuk morfologi negatif atau depresi akibat kegiatan suatu gunungapi,
bentuknya relatif bundar
2. Kaldera adalahbentuk morfologinya seperti kawah tetapi garis tengahnya lebih dari 2 km.
Kaldera terdiri atas : kaldera letusan, terjadi akibat letusan besar yang melontarkan
sebagian besar tubuhnya; kaldera runtuhan, terjadi karena runtuhnya sebagian tubuh
gunungapi akibat pengeluaran material yang sangat banyak dari dapur magma; kaldera
resurgent, terjadi akibat runtuhnya sebagian tubuh gunungapi diikuti dengan runtuhnya
blok bagian tengah; kaldera erosi, terjadi akibat erosi terus menerus pada dinding kawah
sehingga melebar menjadi kaldera
3. Rekahan dan graben, retaka-retakan atau patahan pada tubuh gunungapi yang memanjang
mencapai puluhan kilometer dan dalamnya ribuan meter. Rekahan parallel yang
mengakibatkan amblasnya blok di antara rekahan disebut graben
4. Depresi volkano-tektonik, pembentukannya ditandai dengan deretan pegunungan yang
berasosiasi dengan pemebentukan gunungapi akibat ekspansi volume besar magma asam
ke permukaan yang berasal dari kerak bumi. Depresi ini dapat mencapai ukuran puluhan
kilometer dengan kedalaman ribuan meter.

1.4 Tipe-tipe Erupsi

1.4.1 Berdasarkan sifatnya


1.4.1.1 Erupsi eksplosif (letusan)
terjadi apabila letak dapur magma dalam dan volume gas besar, magma bersifat asam.
Material yang dikeluarkan adalah piroklastik dengan kandungan S1O2 tinggi, misalnya bongkah,
lapili, bom, pasir, abu dan debu. Bentuk Volkan adalah Sharp Cone.
1.4.1.2 Erupsi effusif (lelehan)
Terjadi karena letak dapur magma dangkal, volume gas kecil, magma bersifat basa.
Material yang dikeluarkan berupa lava dengan kandungan S1O2. Bentuk volkan rounded cone.

1.4.1.3 Erupsi campuran


Terjadi karena letak variasi dapur magma, volume gas dan sifat magma bersifat
intermedier tetapi biasanya cenderung basa. Bentuk Volkan Strato.

1.4.2 Berdasarkan bentuk dan lokasi kepundan


1.4.2.1 Erupsi Linear

Terjadi jika magma keluar lewat celah-celah retakan atau patahan memanjang sehingga
membentuk deretan gunung berapi. Misalnya Gunung Api Laki di Islandia, dan deretan gunung
api di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

1.4.2.2 Erupsi Areal


Terjadi apabila letak magma dekat dengan permukaan bumi, sehingga magma keluar
meleleh di beberapa tempat pada suatu areal tertentu. Misalnya Yellow Stone National Park di
Amerika Serikat yang luasnya mencapai 10.000 km2.

1.4.2.3 Erupsi Sentral

Terjadi magma keluar melalui sebuah lubang (saluran magma) dan membentuk gunung-gunung
yang terpisah. Misalnya Gunung Krakatau, Gunung Vesucius, dan lain-lain.

1.5 Tipe-tipe Gunung Api


1.5.1 Berdasarkan sifat erupsi dan bahan yang dikeluarkannya
1.5.1.1 Gunung Api Perisai
Berbentuk kerucut dengan lereng landai dan aliran lava panas dari saluran
tengah.Daerah persebaran magma luas serta proses pendinginan dan pembekuannya pelan.
Frekuensi letusan umumnya sedang dan pelan dengan jumlah cairan lava cair yang banyak.
Gunung api ini terjadi karena magma yang keluar sangat encer. Magma yang encer ini akan
mengalir ke segala arah sehingga membentuk lereng sangat landai. Ini berarti gunung ini tidak
menjulang tinggi tetapi melebar. Contohnya: Gunung Maona Loa dan Maona Kea di Kepulauan
Hawaii.
1.5.1.2 Gunung Api Kubah

Gunung ini berbentuk kerucut cembung (konvek) dengan lereng curam.Aliran lava yang
kental dari saluran pusat mengakibatkan aliran lava lambat dan membentuk lapisan yang tebal.
Proses pendinginan dan pembekuan lava cepat. Banyak lava yang membeku di saluran,
akibatnya saluran menjadi tertutup.Letusan yang sangat keras dapat terjadi akibat tekanan dari
dalam Bumi yang tersumbat. Seluruh bagian puncak gunung api pun dapat hancur dan lenyap
seketika. Gunung api ini terjadi akibat adanya letusan eksplosif. Bahan yang dikeluarkan relatif
sedikit, karena sumber magmanya sangat dangkal dan sempit. Gunung api ini biasanya tidak
tinggi, dan terdiri dari timbunan bahan padat (efflata). Di bekas kawahnya seperti sebuah
cekungan yang kadang-kadang terisi air dan tidak mustahil menjadi sebuah danau. Misalnya
Danau Klakah di Lamongan atau Danau Eifel di Prancis.
1.5.1.3 Gunung Api Strato
Gunung ini mempunyai bentuk kerucut berlereng curam dan luas yang terdiri atas
banyak lapisan lava yang terbentuk dari aliran lava yang berulang-ulang.Lava dapat mengalir
melalui sisi kerucut.Sifat letusan keras. Gunung api ini terjadi akibat erupsi campuran antara
eksplosif dan efusif yang bergantian secara terus menerus. Hal ini menyebabkan lerengnya
berlapis-lapis dan terdiri dari bermacam-macam batuan. Gunung api inilah yang paling banyak
ditemukan di dunia termasuk di Indonesia. Misalnya gunung Merapi, Semeru, Merbabu, Kelud,
dan lain-lain.

1.5.2 Berdasarkan Letusnya


1.5.2.1 Tipe Hawaii

Tipe gunung api ini dicirikan dengan lavanya yang cair dan tipis, dan dalam
perkembangannya akan membentuk tipe gunung api perisai. Tipe ini banyak ditemukan pada
gunung api perisai di Hawaii seperti di Kilauea dan Maunaloa. Contoh letusan tipe Hawai di
Indonesia adalah pembentukan plato lava di kawasan Dieng, Jawa Tengah.
1.5.2.2 Tipe Stromboli

Tipe ini sangat khas untuk gunung Stromboli dan beberapa gunung api lainnya yang
sedang meningkat kegiatannya. Magmanya sangat cair, ke arah permukaan sering dijumpai
letusan pendek yang disertai ledakan.Bahan yang dikeluarkan berupa abu, bom, lapilli dan
setengah padatan bongkah lava.Contoh letusan tipe Stromboli di Indonesia adalah Gunung
Raung di Jawa.

1.5.2.3 Tipe Vulkano


Tipe ini mempunyai ciri khas yaitu pembentukan awan debu berbentuk bunga kol, karena
gas yang ditembakkan ke atas meluas hingga jauh di atas kawah.Tipe ini mempunyai tekanan gas
sedang dan lavanya kurang begitu cair.Di samping mengeluarkan awan debu, tipe ini juga
menghasilkan lava.Berdasarkan kekuatan letusannya tipe ini dibedakan menjadi tipe vulkano
kuat (Gunung Vesuvius dan Gunung Etna) dan tipe Vulkano lemah (Gunung Bromo dan Gunung
Raung).Peralihan antara kedua tipe ini juga dijumpai di Indonesia misalnya Gunung Kelud dan
Anak Gunung Bromo.

1.5.2.4 Tipe Perret

Letusan gunung api tipe perret adalah mengeluarkan lava cair dengan tekanan gas yang
tinggi. Kadang-kadang lubang kepundan tersumbat, yang menyebabkan terkumpulnya gas dan
uap di dalam tubuh bumi, akibatnya sering timbul getaran sebelum terjadinya letusan.Setelah
meletus material-material seperti abu, lapili, dan bom terlempar dengan dahsyat ke angkasa.
Contoh letusan gunung api tipe perret di Indonesia adalah Gunung Krakatau yang meletus sangat
dahsyat pada tahun 1873, sehingga gunung Krakatau (tua) itu sendiri lenyap dari permukaan laut,
dan mengeluarkan semburan abu vulkanik setinggi 5 km.

1.5.2.5 Tipe Merapi

Dicirikan dengan lavanya yang cair-kental.Dapur magmanya relatif dangkal dan


tekanan gas yang agak rendah.Contoh letusan tipe Merapi di Indonesia adalah Gunung Merapi di
Jawa Tengah dengan awan pijarnya yang tertimbun di lerengnya menyebabkan aliran lahar
dingin setiap tahun. Contoh yang lain adalah Gunung Galunggung di Jawa Barat.

1.6 Gejala Vulkanisme Dan Morfologi Permukaan Bumi


Orogenesa danEpirogenesa merupaka suatu kegiatan yang membentuk permukaan bumi.
Daerah rangkaian pegunungan yang dibentuk oleh proses orogenesa. Stille (1940) dalam Aizwar
dkk. (1988:65) menyatakan bahwa hubungan antara tektonik dengan gejala peerobosan diikiuti
oleh kegiatan magmatis yang dihasilkan batuan yang tidak harus sama untuk setiap jenis dan
jenjang orogenesa.
Didaerah rantai pegunungan yang diakibatkan oleh proses orogenesa,disamping batuan
sedimen dan malihan akan ditemukan pula batuan hasil letusan gunung api yang beragam
komposisinya.

Faseorogenesa dan kegiatan magmatis


Fase Oronegesa Kegiatan Magmatis
Pembentukan geosiklin Initiale vulkanismus (effusuif basaltic
picritic)
Tektonesa (pelipatan) Synorogane plutonismus (intrusive acid
pacific)
Orogenesa peraliahan (pengangkatan) Susequente vulkanismus ( explosive pacific)
Orogenesa akhir(denudasi) Finale vulkanismus ( effusive basaltic or
ignimbrite)

Masing-masing fase orogenesa mempunyai karakter yang berbeda-beda pada setiap


kegiatannya. Ada kegiatan magmatis yang menghasilkan batuen beku, baik batuan beku dalam
maupun batuan beku luar yang bersifat basa maupun sangat basa, menghasilkan batuan
(garbo,basalt, peridotit). Sehingga pada fase ini terjadi kegiatan yang bersifat initiale
vulkanismus.
Pada fase pengangkatan yang dibarengi dengan pelipatan pada jenjang tektogenesa terjadi
gejala vulkanisme dalam menghasilkan batuan beku berkomposisi asam hingga menengah
seperti (granit, granodiorit, tanolit)
Gejala yang terakhir dapat dilihat di daerahpu gunungan lipatan yang telah terbentuk.
Dimana deratan gunung api kuarter mencul didaerah rangkaian pegunungan yang melingkari
sirkum fasifik dam mediteranian.
Konsep lempeng tektonik, pada intinya menjelaskan bahwa kulit bumi terdiri dari
beberapa bagian ;empeng yang kokoh, yang bergerak satu dengan yang lainnya,di atas massa
astenosier denagn kecepatan rata-rata 10cm/tahun atau 100km/10tahun (Morgan,1968) dan
(Hamilton,1970) dalam Aizwar dkk (1988:71) lermpeng-lempemg yang kokoh saling bergerak
yang masing-masing disebut lempeng samudra dan lempeng benua yang berbeda sifatnya.
Apabila kedua lempeng tersebut bergerak saling mendekat,maka umumnya lempeng samudra
akan tertekuk ke bawah lempeng benua hingga jauh kedalam lapisan astenosfer.
1.7 Bencana Dan Manfaat Keberadaan Gunung Api
1.7.1 Bencana yang ditimbulkan gunung api antara lain sebagai berikut:
a) Bahaya langsung, berupa letusan yang disertai hamburan abu, bom, batu apung, aliran
lumpur dan lava.
b) Bahaya tidak langsung, merupakan bencana yang terjadi karena adanya aktivitas
gunung api, misalnya gelombang pasang (tsunami), gempa vulkanik, perubahan muka
tanah , hilangnya sumber air tanah dan sebagainya.
c) Munculnya gas-gas yang berbahaya seperti asam sulfida (H2S), sulfur dioksida (SO2),
dan monoksida (CO)
d) Bahaya lanjutan seperti perubahan mutu lingkungan fisik (gerakan tanah,
longsoran,guguran batuan dan lainnya)
e) Letusan besar sebuah gunung berapi dapat menyebabkan jatuhnya korban jiwa, dan
hilangnya harta benda bagi penduduk daerah di sekitarnya.
f) Letusan gunung berapi dapat menimbulkan banjir lahar, baik lahar panas
maupun lahar dingin. Lahar ini dapat merusak semua benda di sekitar daerah yang
dilaluinya.

1.7.2 Manfaat dari gunung api antara lain :


a) Sumber mineral, daerah mineralisasi dan potensi air tanah merupakan aspek-aspek
positif yang dapat dimanfaatkan dari adanya aktivitas gunung api.
b) Daerah tangkapan hujan
c) Daerah pertanian yang subur, kesuburan tanah di daerah tersebut diperoleh dari produk
gunung api yang telah mengalami pelapukan. Bermacam-macam perkebunan dibuka
di lereng gunung api yang subur dengan iklim yang sejuk. Antara lain teh, kina, kol,
wortel, dan berbagai hortikultura diusahakan di lereng gunung api.
d) Daerah objek wisata, keindahan panorama gunung api dengan kepundan yang aktif
dengan lembah-lembah yang curam, fumarol serta danau kepundan menarik bagi para
wisatawan nusantara maupun mancanegara
e) Sumber energi, tenaga panas bumi yang dihasilkan dari aktivitas gunung api dapat
diubah menjadi pembangkit tenaga listrik.
1.8 DISTRIBUSI GUNUNGAPI AKTIF
1.8.1 Distribusi Gunungapi Orogen
Kerabat Pacific selalu menghasilkan gunungapi tipe strato. Jalur dan kelompok gunungapi
tersebut terdiri dari: (1) busur Andaman dan Nicobar; (2) busur Pegunungan Sunda (Sumatra,
Jawa, Sunda kecil dan Banda); (3) Batu Tara -Emperor of China - Api; (4) Una Una; (5)
Minahasa Sangihe; (6) Zona Manila; (7) Halmahera Ternate; (8) busur Ruk di New Guinea;
(9) New Guinea timur.
Sistem gunungapi muda di Indonesia secara umum konsisten pada dua geantiklin yang
sejajar, di bagian dalam merupakan jalur gunungapi dan di bagian luar merupakan jalur bukan
gunungapi (non vulkanik). Contoh jalur itu adalah busur luar Andaman Nicobar Sumatra
Barat Pegunungan bawah laut selatan Jawa Sawu Roti Tanimbar Kei Seram Maju

1.8.2 Distribusi Magma Mediterania


Distribusi magma Mediterania, selalu berada di bagian dalam geantiklin gunungapi.
Distribusi terbesar yang dikenal sebagai Maros province (VAN BEMMELEN, 193). Bagian
selatan dari propinsi Mediterania ini terdapat di sepanjang Pantai Utara Jawa, termasuk Bawean
di Laut Jawa, Sumbawa Utara dan Batu Tara, beberapa pulau di laut Flores dan Sulawesi
Tenggara. Magma Mediterania berasosiasi dengan kondisi tepi paparan kontinen maupun
samudra.

1.8.3 Gunungapi Rekahan Utama


Hubungan antara aktifitas dan kekar dan patahan lokal sangat erat. Kita dapat mencermati
patahan dan kekar yang mendasari terbentuknya kerucut gunungapi, khususnya pada kerucut
tunggal. Di Sumatra letusan magma asam Kuarter dengan tegas dihubungkan dengan keberadaan
patahan Semangko di sepanjang puncak geantiklin Barisan. Westerveld (1994)
menduga kehadiran gunungapi strato andisesit basaltis di Sumatra berhubungan dengan patahan
memotong sumbu geantiklin, seperti halnya diusulkan Taverne (1926) untuk pulau Jawa. Namun
hubungan ini tidak jelas. Gunungapi strato berkomposisi basaltis sampaiintermediatebiasanya
berada di puncak geantiklin dengan distribusi tidak beraturan. Boleh jadi tempat tersebut adalah
lokasi paling sesuai untuk pembentukan gunungapi strato.
Terdapat beberapa contoh pola kelurusan gunungapi strato andesitik yang dipengaruhi
struktur geologi lokal sehingg berposisi melintang terhadap arah geantiklin, misalnya kelurusan
gunungapi (dari utara ke selatan) Ungaran Soropati Telomojo Merbabu Merapi di Jawa
Tengah. Perkembangan gunungapi dari tua ke muda yang lebih jelas terdapat pada kelurusan
gunungapi (dari utara ke selatan) Semangkrong Grati Kompleks Tengger Kompleks
Djembangan Kompleks Semeru di Jawa Timur. Namun demikian terdapat kelurusan gunungapi
yang nampaknya tidak berhubungan dengan struktur geologi lokal, misalnya kelurusan
gunungapi di Halmahera

Referensi
Anonim. 2011. http://geografi-geografi.blogspot.co.id/2011/06/vulkanisme.html.
Diakses tanggal 2 Desember 2016

Dul, M. 2011. http://blogsidul.blogspot.co.id/2014/11/bentuk-lahan-vulkanis.html.


Diakses tanggal 2 Desember 2016

Nurkholifah. 2016. http://nurkholifah97.blogspot.co.id/2016/05/makalah-tektonik-


lempeng-dan-vulkanisme.html. Diakses tanggal 2 Desember 2016