Anda di halaman 1dari 51

1

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Bidang ilmu rekayasa merupakan suatu pekerjaan perencanaan, dimana data


akurat merupakan sebuah kunci kesuksesan dalam suatu pengukuran di lapangan.
Salah satu cabang ilmu rekayasa adalah cabang ilmu Teknik Geomatika yang biasa
disebut dengan ilmu kebumian. Geomatika mempelajari mengenai pemetaan muka
bumi, dengan beberapa metode pemetaan seperti terestrial, foto udara, dan citra
satelit, sehingga hasil akhir beberapa metode tersebut dapat menghasilkan sebuah
peta. Peta yang dihasilkan tersebut dilengkapi dengan sistem informasi geografis
(SIG) yang membuat peta tersebut menjadi semakin mudah untuk digunakan dalam
format digital.
Peta-peta teknik dibuat untuk merencanakan lebih lanjut dan melakukan
pekerjaan teknis. Skala dipilih dan disesuaikan dengan besar kecilnya pekerjaan yang
akan dilakukan (Soetomo Wongsotjitro, 1991). Pada umumnya peta dibuat untuk
melakukan perencanaan pengembangan dan perbaikan daerah, atau dapat juga
digunakan untuk mengidentifikasi kerugian suatu daerah tersebut karena bencana
alam, khususnya di daerah pedesaan yang masih kurang akan perhatian pemerintah.
Dalam hal ini pemetaan Indonesia dirasa masih sangat kurang relevan untuk
melakukan hal tersebut, karena skala RBI hanya mencapai 1:25000. Penggunaan peta
skala besar sangatlah penting dalam hal pembangunan maupun perbaikan suatu
daerah khususnya di pedesaan. Karena belakangan ini pemerintah sedang gencar
dalam pembangunan infrastruktur pedesaan.
Pembuatan peta situasi skala besar dapat juga digunakan sebagai bahan
pertimbangan oleh perangkat kampus dalam pembangunan wilayah, dan sebagai
acuan pembuatan peta tata guna lahan daerah tersebut, serta untuk updating peta
situasi Kampus ITN 1 , sehingga diharapkan perencanaan pengembangan kampus
2

tersebut dapat dilakukan dengan sangat baik serta mahasiswa dapat menerapkan
perkuliahan matra darat.

I.2 Tujuan dan Manfaat


Pekerjaan pemetaan ini dilaksanakan untuk merealisasikan teori pemetaan pada
materi perkuliahan matra darat serta melatih ketrampilan dan kreativitas mahasiswa
dalam melaksanakan proses pembuatan peta situasi yang dimulai dari tahap
perencanaan hingga penyajian peta situasi.

I.2.1 Tujuan
Tujuan dalam pelaksanaan pekerjaan pemetaan ini adalah mahasiswa mampu
melaksanakan prosedur pengukuran secara komprehensif meliputi perencanaan,
pengukuran, pengolahan data, penggambaran peta, dan hasil akhir berupa peta situasi
atau peta topografi skala besar untuk selanjutnya dilakukan evaluasi terhadap produk
peta yang dihasilkan.

I.2.2 Manfaat
Peta situasi skala 1:1000 yang dihasilkan terletak di Kelurahan Sumbersari,
Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang diharapkan dapat digunakan oleh perangkat
kampus sebagai bahan pertimbangan dalam pembuatan peta tata guna lahan atau peta
situasi update dari tahun sebelumya. Manfaat lain dari pembuatan peta situasi yaitu
dapat digunakan sebagai bahan perencaan dalam perbaikan maupun pengembangan
kampus tersebut, dengan adanya peta situasi, perangkat kampus dapat mengetahui
bentuk topografi yang terdapat pada daerah tersebut.
3

I.3 Materi Pekerjaan


Pekerjaan pemetaan memiliki beberapa materi pekerjaan yamg harus dilakukan
meliputi beberapa rangkaian, diantaranya :

1. Tahap persiapan, melputi ;


a. perizinan alat dan bahan /administrasi
b. penyiapan aplikasi untuk melakukan download data pengukuran
c. pengecekan alat dengan melakukan perhitungan kesalahan kolimasi
serta indeks vertikal alat tersebut, dan
d. pemeriksanaan kelengkapan alat serta bahan yang diperlukan dalam
pelaksanaan pekerjaan pemetaan
2. Tahap perencanaan, meliputi ;
a. melakukan survei pendahuluan terhadap lokasi hasil pembagian
b. menentukan perencanaan pemasangan patok pada poligon, dan
c. melakukan penggambaran sketsa awal lokasi hasil perencanaan.
3. Tahap pengukuran, meliputi ;
a. melakukan pengukuran koordinat menggunakan gps geodetik tiap titik
poligon
b. melakukan pengukuran kerangka kontrol vertikal pada poligon
c. melakukan pengukuran azimuth pengikatan
d. melakukan pengukuran poligon cabang, dan
e. melakukan pengukuran detil situasi.
4. Tahap pengolahan data, meliputi ;
a. melakukan perhitungan bowdith Kerangka Kontrol Horizontal (KKH)
b. melakukan perhitungan bowdith Kerangka Kontrol Vertikal (KKV)
c. melakukan pengunduhan data hasil ukuran, baik berupa data koordinat
(x,y) maupun data raw (sudut dan jarak)
5. penggambaran peta manuskrip menggunakan kertas krungkut A1
6. penggambaran peta secara digital serta penyajian peta situasi dengan kertas
A1

BAB II
LANDASAN TEORI

II.1 Kerangka Dasar Pemetaan

Tahap awal sebelum melakukan suatu pengukuran adalah dengan melakukan


4

penentuan titik-titik kerangka dasar pemetaan pada daerah atau areal yang akan
dilakukan pengukuran yaitu penentuan titik-titik yang ada di lapangan yang ditandai
dengan patok kayu, paku atau patok permanen yang dipasang dengan kerapatan
tertentu, fungsi dari sistem kerangka dasar pemetaan dengan penentuan titik-titik
inilah yang nantinya akan dipakai sebagai titik acuan (reference) bagi penentuan
titik-titik lainya dan juga akan dipakai sebagai titik kontrol bagi pengukuran yang
baru, (Brinker.1987). Baik tidaknya peta yang kita hasilkan tergantung pada
kerangka dasarnya. Kerangka dasar pemetaan ini nantinya juga dijadikan sebagai
ikatan untuk detil detil situasi yang nantinya akan tergambarkan obyek planimetris
dari unsur unsur permukaan bumi pada lembar peta. Dalam pengukuran kerangka
peta diwujudkan dalam bentuk titik kontrol (Bench Mark) lapangan baik itu bersifat
permanen maupun bersifat sementara.
Kerangka dasar pemetaan dibagi menjadi dua macam, yaitu kerangka kontrol
horizontal (planimetris), dan kerangka kontrol vertikal (tinggi).

II.1.1 Kerangka Kontrol Horizontal


Kerangka dasar horizontal merupakan kumpulan titik-titik yang telah diketahui
atau ditentukan posisi horizontalnya berupa koordinat pada bidang datar (X,Y )
dalam sistem proyeksi tertentu. Bila dilakukan dengan cara teristris, pengadaan
kerangka horizontal bisa dilakukan menggunakan cara triangulasi, trilaterasi atau
poligon. Pemilihan cara dipengaruhi oleh bentuk medan lapangan dan ketelitian
yang dikehendaki ( Purworhardjo, 1986 ).

Pemetaan pada pengukuran ini dilakukan menggunakan alat GPS Geodetik


yang sebelumnya telah dilakukan pembuatan desain poligon tetrtutup. Pengukuran
menggunakan GPS dimaksudkan karena keterbatasan waktu yang dipunyai sehingga
apabila menggunakan alat Total Station tidak akan memungkinkan waktunya. Selain
itu, penggunaan GPS Geodetik lebih praktis serta mudah untuk didapatkan koordinat
di lapangan secara lebih presisi.

Global Positioning System (GPS) merupakan sistem penentuan posisi yang


menggunakan teknologi satelit (Xu, 2007). GPS mulai dikembangkan pada tahun
1973 oleh Departemen Pertahanan Amerika dan mulai digunakan untuk
5

menyelesaikan permasalahan geodesi sejak tahun 1983 (Seeber, 2003). Sistem GPS
memiliki 24 satelit yang ditempatkan pada 6 buah orbit dimana terdapat 4 satelit
pada masing-masing orbit (Kaplan dan Hegarty, 2006). Prinsip yang mendasari
penentuan posisi pada GPS adalah dengan mengukur jarak antara receiver dan satelit
pengamatan GPS yang telah diketahui posisinya. Melalui data posisi satelit dan jarak
antara receiver dan satelit, maka posisi dari receiver dapat ditentukan (Xu, 2007).
Sistem GPS terdiri atas tiga segmen utama, yaitu :
1. Segmen angkasa (space segment), terdiri dari satelit-satelit GPS serta roket-roket
Delta peluncur satelir dari Cape Canaveral di Florida, Amerika Serikat. Satelit
GPS dapat dianalogikan sebagai stasiun radio di angkasa, yang dilengkapi dengan
antena-antena untuk mengirim dan menerima sinyal-sinyal gelombang. Yang
kemudian sinyal-sinyal tersebut diterima oleh Receiver GPS di/dekat permukaan
Bumi, dan digunakan untuk menentukan informasi posisi, kecepatan, waktu serta
parameter-parameter turunan lainnya. Setiap satelit GPS terdiri mempunyai dua
sayap yang dilengkapi dengan sel-sel pembangkit tenaga matahari (solar panel).
Satelit juga mempunyai komponen internal seperti jam atom dan pembangkit
sinyal. Satelit GPS memiliki komponen eksternal yaitu beberapa antena yang
digunakan untuk menerima dan memancarkan sinyal-sinyal ke dan dari satelit
GPS.
2. Segmen sistem kontrol, berfungsi mengontrol dan memantau operasional semua
satelit GPS dan memastikan bahwa semua satelit berfungsi sebagaimana
mestinya. Secara spesifik tugas utama dari segmen sistem kontrol GPS adalah :
- Secara kontinyu memantau dan mengontrol sistem satelit
- Menentukan dan menjaga waktu sistem GPS
- Memprediksi ephemeris datelit serta karakteristik jam satelit
- Secara periodik meremajakan (update) navigation message dari setiap satelit
- Melakukan manuver satelit agar tetp berada dalam orbitnya, atau melakukan
relokasi untuk menggantikan satelit yang tidak sehat, seandainya diperlukan
Segmen kontrol juga berfungsi menentukan orbit dari seluruh satelit GPS yang
merupakan informasi vital untuk penentuan posisi dengan satelit.
3. Segmen pengguna, yang terdiri dari para pengguna satelit GPS, baik di darat, laut,
udara, maupun di angkasa. Dalam hal ini, alat penerima sinyal GPS (GPS
6

receiver) diperlukan untuk menerima dan memroses sinyal dari satelit GPS untuk
digunakan dalam penentuan posisi, kecepatan, waktu maupun parameter turunan
lainnya. Komponen utama dari suatu receiver GPS secara umum adalah: antena
dengan pre-amplifier, pemroses sinyal, pemroses data (solusi navigasi), osilator
presisi, unit pengontrolan receiver dan pemrosesan (user and external
communication), satu daya, memori serta perekam data.
II.1.1.1 Data Pengukuran GPS. Setiap satelit GPS secara kontinyu
memancarkan sinyal-sinyal gelombang pada frekuensi L-band yang dinamakan L1
dan L2. Sinyal L1 berfrekuensi 1575,42 MHz dan sinyal L2 berfrekuensi 1227,60
MHz. Sinyal L1 membawa 2 buah kode biner yang dinamakan kode-P (p-code,
Precise or Private Code) dan kode-C/A 9C/A-code (Clear Access or Coarse
Acquisation), sedangkan sinyal L2 hanya membawa kode-C/A (Kahar, dkk., 1994).
Dengan mengamati sinyal-sinyal dari satelit dalam jumlah dan waktu yang cukup,
kemudian dapat diproses untuk memperoleh informasi mengenai posisi, kecepatan
ataupun waktu.
Data pengamatan dasar GPS adalah fase (carrier phase, ) dan waktu tempuh
(t) dari sinyal-sinyal L1 dan L2 (Abidin, 2007). Hasil pengamatan tersebut
diperoleh dua jenis jarak yaitu pseudorange dan carrier phase. Pseudorange adalah
jarak hasil hitungan oleh receiver GPS dari data ukuran waktu perambatan sinyal
satelit ke receiver, sedangkan carrier phase adalah beda fase yang diukur oleh
receiver GPS dengan cara mengurangkan fase sinyal pembawa yang datang dari
satelit dengan sinyal serupa yang dibangkitkan dalam receiver (Rizos, 1999 dalam
Panuntun, 2012). Persamaan pengamatan dengan pseudorange dan carrier phase
berturut-turut dinyatakan dalam persamaan (II.1) dan persamaan (II.2) (Kahar, dkk.,
1994) :

P = + c. (dt dT) + dion + dtrop + e .(II.1)


= + c. (dt dT) + . N dion + dtrop + .(II.2)
Dalam hal ini,
P : jarak pseudorange (m)
: jarak fase (m)
: jarak geometris antara pengamat dengan satelit (m)
7

c : kecepatan cahaya dalam ruang vakum (m/dt)


: panjang gelombang dari sinyal (m)
N : ambiguitas fase
e, : efek dari multipath dan noise
dt, dT : kesalahan dan offset dari jam receiver dan jam satelit (m)
dion, dtrop : bias yang disebabkan oleh refraksi ionosfer dan troposfer (m)
II.1.1.2. Penentuan Posisi Menggunakan GPS. Pada pengukuran GPS masing-
masing memiliki empat parameter yang harus ditentukan yaitu 3 parameter koordinat
x, y, z atau L, B, h dan satu parameter kesalahan waktu akibat ketidaksinkronan jam
osilator di satelit dengan jam di receiver GPS. Oleh karena itu, diperlukan minimal
pengukuran jarak ke empat satelit. Metode penentuan posisi dengan GPS pertama-
tama dibagi dua, yaitu metode absolut, dan metode diferensial. Masing-masing
metode dapat dilakukan dengan cara real time dan atau post-processing. Apabila
obyek yang ditentukan posisinya diam, maka metodenya disebut statik. Sebaliknya,
apabila obyek yang ditentukan posisinya bergerak, maka metodenya disebut
kinematik. Selanjutnya, metode yang lebih detail antara lain metode-metode seperti
SPP, DGPS, RTK, Survei GPS, Rapid Statik, Pseudo Kinematik, stop and go serta
beberapa metode lainnya.
Penentuan posisi menggunakan metode absolut dapat dilakukan dengan
menggunakan sebuah receiver GPS. Penentuan posisi metode ini atau biasanya
dikenal sebagai standalone positioning merupakan penentuan posisi yang paling
mendasar pada sistem GPS. Posisi titik pengamatan dapat ditentukan dengan
mengukur jarak antara receiver dan satelit GPS yang posisinya sudah diketahui.
Koordinat diperoleh dari receiver yang mengamati minimum empat buah satelit yang
masing-masing diukur jaraknya. Penentuan posisi menggunakan metode absolut
hanya menggunakan data pengukuran pseudorange sehingga menghasilkan koordinat
dengan ketelitian yang relatif rendah. Metode ini hanya digunakan untuk pekerjaan
yang mensyaratkan ketelitian yang tidak terlalu tinggi saja, semisal untuk penentuan
posisi pendekatan dalam rangka perencanaan proyek.
8

Gambar II.1. Prinsip penentuan posisi metode absolut (El-Rabbany, 2002)


Penentuan posisi metode relatif (relative positioning) atau yang biasa juga
disebut sebagai metode diferensial (differential positioning) dilakukan menggunakan
minimum dua buah receiver yang masing-masing receiver mengamati minimum
empat buah satelit. Penentuan posisi metode relatif dapat menggunakan data
pengukuran jarak pseudorange maupun carrier phase, sehingga dapat menghasilkan
koordinat dengan tingkat ketelitian yang lebih baik. Pada prinsipnya, penentuan
posisi metode relatif mengarah pada penentuan vektor antar dua titik berdiri alat
yang biasanya disebut sebagai baseline (Sunantyo, 1999 dalam Panuntun, 2012).
9

Gambar II.2. Prinsip penentuan posisi metode relatif (Widjajanti, 2010)

II.1.1.2.1 Metode Penentuan Posisi Statik. Pada prinsipnya survey GPS


bertumpu pada metode-metode penentuan posisi statik secara diferensial dengan
menggunakan data fase. Penentuan posisi relatif atau metode differensial adalah
menentukan posisi suatu titik relatif terhadap titik lain yang telah diketahui
koordinatnya. Pengukuran dilakukan secara bersamaan pada dua titik dalam selang
waktu tertentu. Selanjutnya, data hasil pengamatan diproses dan dihitung sehingga
akan didapat perbedaan koordinat kartesian 3 dimensi (dx, dy, dz) atau disebut juga
dengan baseline antar titik yang diukur.
Dalam hal ini pengamatan satelit GPS umumnya dilakukan baseline per
baseline selama selang waktu tertentu (beberapa puluh menit hingga beberapa jam
tergantung tingkat ketelitian yang diinginkan) dalam suatu kerangka titik-titik yang
akan ditentukan posisinya. Karakteristik umum dari metode penentuan posisi ini
adalah sebagai berikut:
Memerlukan minimal dua receiver, satu ditempatkan pada titik yang telah
diketahui koordinatnya.
Posisi titik ditentukan relatif terhadap titik yang diketahui.
Konsep dasar adalah differencing process, dapat mengeliminir atau mereduksi
pengaruh dari beberapa kesalahan dan bias.
Bisa menggunakan data pseudorange atau fase.
Ketelitian posisi yang diperoleh bervariasi dari tingkat mm sampai dengan dm.
Aplikasi utama: survei pemetaan, survei penegasan batas, survei geodesi dan
navigasi dengan ketelitian tinggi.
Pada survei GPS, pemrosesan data GPS untuk menentukan koordinat dari titik-
titik dalam
kerangka umumnya akan mencakup tiga tahapan utama, yaitu :
10

Pengolahan data dari setiap baseline dalam kerangka


Perataan jaringan yang melibatkan semua baseline untuk menentukan koordinat
dari titik-titik dalam kerangka
Transformasi koordinat titik-titik tersebut dari datum WGS 84 ke datum yang
dibutuhkan pengguna

II.1.1.3 Pengolahan Data Survei GPS. Proses pengolahan data dari survey GPS
dapat digambarkan seperti berikut :

Pengukuran Baseline Pengolahan Baseline

Bisa
Tidak
diterima

Perataan Jaring Ya

Bisa diterima Tidak

Ya Transformasi Datum dan Koordinat

Gambar II.3. Alur Pengolahan Data Survey GPS (Abidin,H.Z, 2007)

Pengolahan baseline pada dasarnya bertujuan menghitung vector baseline (dX,


dY, dZ) mengunakan data fase sinyal GPS yang dikumpulkan pada dua titik ujung
dari baseline yang bersangkutan.
Pada survey GPS, pengolahan baseline umumnya dilakukan secara beranting
satu persatu (single baseline) dari baseline ke baseline, dimulai dari suatu baseline
11

tetap yang telah diketahui koordinatnya, sehingga membentuk suatu jaringan


tertutup. Namun pengolahan baseline dapat juga dilakukan secara sesi per sesi
pengamatan, dimana satu sesi terdiri dari beberapa baseline (single session, multi
baseline).

II.1.1.1 Azimuth. Azimuth merupakan besaran sudut yang diukur dari arah
II.1.1.4
utara searah jarum jam dari sembarang meridian acuan yang besarnya berkisar antara
0 360. Azimuth berfungsi sebagai orientasi arah utara pada peta, sebagai kontrol
pada pengukuranjaringan poligon maupun dalam hitungan koordinat. (Romi Fadly,
2010). Atau dengan kata lain bahwa sudut azimuth adalah sudut yang dibentuk dari
pengamat menuju objek dengan arah utara sebagai acuannya.
Sebagai ilustrasi apabila Azimuth AB dan sudut telah diketahui. Azimuth
BC dapat dicari dengan rumus umum sebagai berikut :
AB = BC 180..................................................................................(II.20)

Berikut merupakan ilustrasi penentuan azimuth dengan dua titik yang sudah
diketahui koordinatnya :

Gambar II.4 Penentuan azimuth dari dua titik yang diketahui

Adapun rumus dasar yang digunakan untuk mencari azimuth apabila pada dua
buah titik A dan B masing-masing diketahui koordinatnya (XA, YA) dan (XB, YB)
maka besarnya sudut jurusan dapat ditentukan dengan rumus :
XbXa
arc tan
AB = YbYa .........

(II.21)
12

Tabel II.1 Kuadran Azimuth menurut Ilmu Ukur Tanah

XbXa
= arc tan YbYa

II.1.2 Kerangka Kontrol Vertikal


Kerangka vertikal digunakan dalam suatu pengukuran untuk menentukan beda
tinggi dan ketinggian suatu tempat/titik ( Purworaharjo, 1986 ). Pada pekerjaan
pemetaan dalam rangka pembuatan peta situasi penulis melakukan pengukuran
pengukuran kerangka vertikal sesuai pada TOR yang telah ditentukan, yaitu
melakukan pengukuran beda tinggi menggunakan metode sipat datar. Pada daerah
yang terjal atau dengan lintasan yang cukup panjang, maka untuk melakukan
penghitungan kerangka kontrol vertikal dengan sipat datar harus dibagi menjadi
beberapa slag, dalam artian daerah tersebut tidak dapat hanya dilakukan pengukuran
dalam sekali berdiri alat.
13

II.1.2.1 Metode sipat datar .Prinsip pengukuran beda tinggi dengan alat sipat
datar adalah menentukan beda tinggi antara dua titik dengan menghitung selisih
bacaan benang tengah rambu muka dan rambu belakang yang didirikan pada kedua
titik tersebut. Jika jarak antar titik kontrol pemetaan relatif jauh, pengukuran beda
tinggi dengan penyipat datar tak dapat dilakukan dengan satu kali berdiri alat.
(Basuki, 2006).
Syarat utama dari penyipat datar adalah garis bidik penyipat datar, yaitu garis
yang melalui titik potong benang silang dan berhimpit dengan sumbu optis teropong
harus datar. (Basuki, 2006)
Syarat pengaturannya adalah :
a. Mengatur sumbu I menjadi vertikal
b. Mengatur benang silang mendatar tegak lurus sumbu I
c. Mengatur garis bidik sejajar dengan arah nivo
Menentukan beda tinggi dengan menggunakan metode waterpassing alat
yang digunakan adalah Waterpass, penentuan ketinggian (elevasi) dengan
menggunakan waterpass ada 3 macam yaitu :
a. Alat di tempatkan di stasion yang di ketahui ketinggiannya

Gambar II.5 Penyipat Datar di Atas Titik

Dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :


h a-b = ta b.........................................................................................(II.22)
HB = HA + h a-b....................................................................................(II.23)
14

b. Alat sipat datar di tempatkan di antara dua stasion

Gambar II.6 Penyipat Datar Di antara Dua Titik

Keterangan :
Hab =Bt m - Bt b..................................................................................(II.24)
Hba = Bt b Bt m................................................................................(II.25)
Bila tinggi stasion A adalah Ha, maka tinggi stasion B adalah :
Hb = Ha + Hab.....................................................................................(II.26)
Hb = HA + Bt m - Bt b........................................................................(II.27)
Hb = T Bt b.......................................................................................(II.28)

c. Sipat datar berantai.


Hanya digunakan apabila daerah yang akan diukur terlalu panjang dan
terjal. Oleh karena itu antara dua buah titik kontrol yang berturutan dibuat
beberapa slag dengan titik-titik bantu pengukurannya dibuat secara
berantai (differential levelling) (Basuki, 2006).

Gambar II.7 Penyipat Datar Berantai

Keterangan :
A dan B :titik tetap yang akan ditentukan beda tingginya
15

1, 2, 3, ... n : titik-titik bantu pengukuran


m1, m2, m3, ...mn : bacaan rambu depan
b1, b2, b3, ...bn : bacaan rambu belakang
Dari gambar diatas, maka diperoleh persamaan sebagai berikut :
hAB = (b1 + b2 + b3) (m1 + m2 + m3)
= b - m........(II.29)
( h pg+ h pl)
h rata-rata = 2

...................................................................(II.30)
di
Koreksi beda ringgi = di = d x fh.....................................................

(II.31)
HB = HA + hAB dhi......................................................................(II.32)

II.2 Pengukuran Detil Situasi


Detil merupakan obyek obyek permukaan bumi yang bersifat alami atau buatan
manusia. Obyek alami diantaranya sungai, rawa, lembah, dan bukit. Sedangkan
untuk obyek buatan manusia diantaranya jembatan, jalan raya, rumah, selokan.
Pengambilan detil situasi tergantung pada jenis dan kegunaan peta tersebut.
Pengambilan detil situasi pada pekerjaan pemetaan ini adalah menggunakan
alat total station yang kemudian diikatkan oleh titik backsight yang telah terpasang
prisma (target), yaitu titik pemetaan yang telah dilakukan pengukuran sebelumnya.
Pengambilan detil situasi dapat di ilustrasikan pada gambar II.8
16

B
dm 1
h

Backsight

Gambar II.8 Pengukuran detil dengan Total Station

Pada pengukuran diatas, setelah alat selesai sentering, kemudian melakukan


pengikatan pada titik backsight dengan memasukkan hitungan Tinggi Prisma, Tinggi
Alat, dan koordinat berdiri alat. Diperoleh hitungan :

XB = X2 + d2B sin 2B.....................................................................................(II.33)


YB = Y2 + d2B cos 2B.....................................................................................(II.34)
ZB = ta + (dm sin h) tp...............................................................................(II.35)

II.3 Penggambaran Peta Digital


Pada pelaksanaan pegukuran, pekerjaan penggambaran peta digital dilakukan
menggunakan dua software untuk membantu dalam pengolahan data ukuran.
Software yang digunakan berupa AutoCAD dan ArcGIS. Penggambaran pada
AutoCAD lebih memfokuskan pada penggambaran detil planimetris, pembuatan
kontur, dan pembuatan Digital Terrain Model (DTM). Pada software ArcGIS hanya
memfokuskan pada tahap finishing peta, yaitu tahap layouting, toponimi, dan
pembuatan indeks peta.
17

BAB III
RENCANA DAN PELAKSANAAN

a. Lokasi dan Waktu Pelaksanaan


Berikut rincian pekerjaan pemetaan yang meliputi waktu dan tempat
pelaksanaan kegiatan:
a. Lokasi : Kampus 1 Institut Teknologi Nasional Malang
Jalan Bendungan Sigura gura No.2,
Lowokwaru, Sumbersari, Kecamatan
Lowokwaru Kota Malang Jawa Timur.
b. Waktu Pelaksanaan : 15 Desember 2016 - 30 januari 2017

b. Persiapan
Sebelum pekerjaan pemetaan dilaksanakan ada beberapa persiapan, persiapan
tersebut meliputi:
2. Penjelasan spesifikasi teknis (TOR)
3. Pembagian alat dan bahan
4. Pengecekan kelengkapan GPS Geodetik
5. Pengecekan kelengkapan Alat Total Station dan Sipat datar

a. Peralatan dan Bahan


i. Peralatan

1. Total Station Leica dilengkapi batery cadangan, charger (1 buah)


2. GPS Geodetik (2 buah)
3. Prisma standart (2 buah)
4. Prisma poll (2 buah)
5. Tongkat poll (2 buah)
6. Sipat datar (1 buah)
7. Rambu ukur (2 buah)
18

8. Sepatu rambu (2 buah)


9. Roll meter (1 buah)
10. Pita ukur (1 buah)
11. Statif (3 buah)
12. Payung (3 buah)
13. Palu (1 buah)

ii. Bahan dan perlengkapan


1. Patok kayu ukuran 2x3x20 (18 buah)
2. Paku payung (secukupnya)
3. Formulir Lapangan (secukupnya)
4. Alat tulis (secukupnya)
5. Alat hitung (2 buah)
6. Kertas sketsa lapangan (secukupnya)
7. Kertas A1 (6 buah)
8. Kertas kalkir (6 buah)
9. Flasdisk (secukupnya)
10. Laptop (1 buah)
11. Rompi kerja (6 buah)
12. Helm keselamatan (6 buah)
13. Alat download data dari Total station (1 buah)

iii. Pelaksanaan Pengukuran

Pelaksanaan pengukuran mencakup semua pekerjaan yang dilakukan selama


pekerjaan pemetaan, pekerjaan tersebut meliputi:
1. Orientasi lapangan dan pemasangan patok kerangka kontrol
2. Pengukuran Jaring kontrol Horizontal dengan GPS
3. Pengukuran Kerangka Kontrol Vertikal (KKV)
4. Pengukuran poligon cabang
5. Pengukuran detil

A. Orientasi lapangan dan pemasangan patok kerangka kontrol


Orientasi lapangan dilakukan untuk mengetahui kondisi lapangan yang akan
dipetakan, sehingga bisa merencanakan dan menentukan dengan tepat dimana titik
kontrol pemetaan akan dipasang dan merencakan jumlah dari poligon cabang yang
akan dibuat. Pembuatan sketsa lapangan yang mencakup semua daerah yang akan
diukur dan letak titik kontrol di lapangan. Aspek aspek yang perlu diperhatikan
dalam pemasangan titik titik kontrol meliputi:
19

1. Titik kontrol yang dipasang di usahakan di ruang terbuka dan obstruksi


minimum.
2. Titik kontrol yang dipasang diusahan dapat mengambil detil sebanyak
mungkin, untuk meminimalisir banyaknya poligon cabang.
3. Titik kontrol yang dipasang dapat dipastikan keamanannya dan tidak
mengganggu.

B. Pengukuran Jaring Kontrol Horizontal dengan GPS


Pengukuran Jaring Kontrol Horizontal menggunakan pengamatan GPS metode
relatif statik. Pengukuran menggunakan dua buah GPS tipe geodetik. Langkah
langkah pengukuran GPS dengan menggunakan metoe relatif statik adalah sebagai
berikut :
1. Mendirikan alat pada titik BM Menwa dan titik 1.
2. Mencatat tinggi alat dan mencatat waktu mulai dan selesai pengamatan
GPS.
3. Setelah pengamatan sesi pertama selesai, memindahkan alat pada titik BM
Menwa ke titik selanjutnya, yaitu titik 2.
4. Kemudian lakukan pengamatan seperti pada sesi pertama.
5. Lakukan langkah 1-4 sampai titik menutup kembali pada titik BM Menwa.
6. Kemudian melakukan pengamatan Cross sesuai dengan baseline yang telah
direncanakan.

Dokumentasi Pengamatan GPS:


20

Gambar III.1. Proses pengamatan GPS

iv. Pengukuran Kerangka Kontrol Vertikal (KKV)


Pengukuran Kerangka Kontrol Vertikal menggunakan alat sipat datar dan
dilakukan pengukuran pergi pulang. Titik kontrol yang diukur ada sebelas.
Pengukuran dengan sekali berdiri alat jika jarak antar titik poligon tidak panjang dan
jika jarak antar titik poligon panjang , maka pengukuran dibuat slag (lebih dari satu
kali berdiri alat), jumlah slag dari keseluruhan pengukuran Kerangka Kotrol Vertikal
harus genap. Langkah - langkah pengukuran Kerangka Kontrol Vertikal adalah
sebagai berikut :
P1 P2
1. Alat sipat datar didirikan diantara titik poligon (misal dan ),

apabila jarak antara titik panjang maka dapat dibagi menjadi beberapa slag
21

atau penggal. Jarak pendirian instrument ke rambu muka dan rambu


belakang diusahakan sama banyak dan pengukuran slag dilakukan dengan
jumlah genap.
2. Rambu ukur didirikan pada titik yang diukur beda tingginya, apabila rambu
ukur tidak berdiri pada titik poligon maka perlu menggunakan sepatu
rambu.
3. Melakukan pengukuran pergi dengan membidik ke rambu belakang lalu
baca bacaan bt, ba, bb catat dan koreksi hasil bacaannya. Teropong diputar
ke rambu muka lalu bidik rambu dan baca bacaan bt, ba, bb kemudian catat
dan koreksi hasil bacaannya.
4. Melakukan pengukuran seperti langkah no. 1-3 untuk slag berikutnya dan
sisi poligon lain.
5. Melakukan pengukuran pulang dengan langkah yang sama seperti langkah
no. 1-4, tetapi kedudukan instrument berbeda dengan pengukuran pergi dan
arah pengukuran dibalik, dimana titik berdirinya rambu yang sebelumnya
menjadi bacaan belakang diubah menjadi bacaan muka.
6. Pengukuran pergi-pulang dilakukan dalam satu hari.
Dokumentasi Pengukuran KKV:

Gambar III.2. Proses pengukuran beda tinggi


22

v. Pengukuran poligon cabang


Pengukuran poligon cabang menggunakan alat Total Station dan dilakukan
pengukuran sudut dan jarak dengan salah satu titik poligon tertutup yang sudah
diketahui koordinatnya dijadikan acuan (backsight). Langkah - langkah pengukuran
poligon cabang adalah sebagai berikut :
1. Alat Total station di dirikan di titik poligon misal P 1, prisma standart 1 di
dirikan di titik poligon P9 sebagai backsight, prisma standart 2 di dirikan di
titik poligon P2 sebagai foresight.
2. Memasukkan koordinat titik backsight ke total station , kemudian
membidik titik backsight dan mencocokkan dengan koordinat
backsightnya.
3. Selanjutnya membidik ke arah titik foresight untuk mengontrol apakah
koordinat yang dimasukkan sebagai backsight sudah benar atau belum.
4. Mendirikan prisma standart di titik poligon cabang.
5. Membidik titik poligon cabang untuk mengetahui koordinatnya dan
mencatatnya.
6. Melakukan dengan cara yang sama untuk semua titik poligon yang dibuat.

vi. Pengukuran detil


Pengukuran detil menggunakan alat Total Station yang berdiri di titik poligon
tertutup maupun di titik poligon cabang. Pengukuran detil diawali dengan pembuatan
job, menginput koordinat titik berdiri alat (STN), mengatur backsight dan foresight,
menginput tinggi prisma poll dan memberikan kode di setiap titik detil yang akan
diukur. Kode detil terdiri dari huruf dan angka misal bangunan (BGN1, BGN3, dst),
sungai (SNG1, SNG2, dst). Langkah - langkah pengukuran detil adalah sebagai
berikut:
P1
1. Alat total station didirikan di titik STN (station) misal titik ,

kemudian melakukan sentering alat dan mengukur tinggi alat dengan rol
meter.
P9 P2
2. Prisma standar didirikan di titik dan , kemudian melakukan

sentering dan mengukur tinggi prisma dengan rol meter.


3. Membuat job dan setting alat pada total station, lalu memasukkan koordinat
titik STN, tinggi alat, kode, dan identitas titik STN.
23

P9
4. Titik dibidik sebagai backsight lalu masukkan nilai koordinat, tinggi

prisma, kode, dan identitas titik.


P2
5. Titik dibidik sebagai foresight untuk mengontrol orientasi titik detil.
6. Prisma pole diukur tingginya lalu masukkan kode detil, identitas, dan tinggi
pole yang akan dibidik pada total station.
7. Prisma pole didirikan pada titik-titik detil yang akan dibidik.
8. Teropong diarahkan ke titik-titik detil lalu prisma pole dibidik, maka akan
muncul koordinat titik detil (X, Y, dan Z) pada total station kemudian
simpan (record).
9. Mengulangi langkah no. 1-8 untuk pengukuran detil planimetris dan detil
tinggi yang lain.
Dokumentasi pengukuran dengan menggunakan alat Total Station:
24

Gambar III.3. Proses pengukuran detil

b. Pengolahan Data
i. Pengolahan data hasil pengukuran GPS dengan metode post-processing
Langkah-langkah pengolahan data GPS dengan metode post-processing
dengan menggunakan perangkat lunak Trimble Bussines Center v2.2 adalah sebagai
berikut:
1. Membuka aplikasi Trimble Bussines Center v2.2
2. Membuat project baru

3. Kemudian mengatur jam pada project menjadi Offset from UTC dngan cara
klik menu Projectproject settingUnitsGPS Time, rubah Display
pada jendela Project setting menjadi Offset from UTC dan klik OK.

4. Kemudian import data pengamatan GPS dengan klik menu File Import
25

5. Kemudian pilih destinasi file yang akan diimport, kemudian pada jendela
import pilih data yang akan diolah dan klik import.

6. Kemudian akan muncul jendela Receiver Raw Data Check in, kamudia atur
manufactur dan type antena sesuai dengan alat yang digunakan, serta tinggi
alat pada saat pengukuran.
26

7. Kemudian klik ok, dan titik hasil pengamatan akan tampil pada jendela Plan
View seperti gambar berikut.

8. Kemudian gabungkan titik-titik yang sama, dengan menggunakan fungsi


merge. Dengan cara blok titik yang sama lalu klik menu PointMerge
Point. Maka akan tampil jendela Merge.
27

9. Lalu centang semua titik pada selected point, dan klik OK.
Dan titik-titik terebut akan menyatu menajadi 1 titik. Klik
kanan pada titik, klik menu Properties dan atur point ID
sesuai dengan nama titik tersebut.

10. Lakukan langkah 8-9 untuk semua titik hasil pengamatan GPS.
28

11. Stelah langkah diatas telah dilakukan, masukkan koordinat titik BM yang
telah diketahui dengan cara klik kanan pada titik lalu klik Properties.
Kemudian klik add Coordinates dan masukkan koordinatnya seperti pada
Gambar berikut. Dan atur titik tersebut menjadi Control Quality. Kemudian
klik OK.

12. Selanjutnya melakukan prosesing baseline, dengan cara klik baseline lalu klik
kanan pilih menu Process Baseline.
29

13. Setelah Process Baseline maka akan tampil jendelanya, kemudia klik Save.
14. Lakukan langkah 13 pada semua baseline yang ada.
15. Setelah semua baseline telah diprose, selanjutkan melakukan adjustment yang
berfungsi sebagai perataan. Dengan cara klik menu SurveyAdjust
Network.

16. Kemudian akan muncul jendela Adjustment, centang pada bagian 2D dan H.
Lalu klik Adjust.

17. Kemudian tampilkan hasil report dari proses adjustment untuk mendapatkan
kooridinat hasil pengolahan.
ii. Perhitungan Kerangka Kontrol Vertikal (KKV)
Langkah langkah perhitungan koordinat Z titik poligon adalah sebagai
berikut:
1. Beda tinggi tiap titik dihitung dengan rumus II.36.
30

2. Beda tinggi rerata dihitung dengan rumus II.37.


3. Kesalahan penutup beda tinggi dihitung dengan menjumlahkan beda tinggi
rerata.
4. Toleransi kesalahan penutup beda tinggi dihitung dengan rumus II.41.
5. Koreksi beda tinggi tiap titik dihitung dengan rumus II.42.
6. Beda tinggi terkoreksi dihitung dengan rumus II.43.
7. Titik tinggi poligon (koordinat Z) dihitung dengan rumus II.44.

c. Penggambaran Peta Topografi


i. Download data ukuran
Sebelum penggambaran dilakukan harus mendownload semua data yang sudah
direkam oleh alat Total Station selama pengukuran di lapangan. Langkah- langkah
download data adalah sebagai berikut:
1. Menginstal software TOPOLINK untuk mendowload data dari Total Station
Leica, kemudian membuka software TOPOLINK
2. Memilih menu tools kemudian pilih Data Exchange Manager.
3. Menghidupkan Total station, memilih setting kemudian memilih Comm.
4. Menyakan seri TS, port, databit, stoppoint pada Total Station dengan PC.
5. Memilih port serial misal COM2.
6. Memilih Job kemudian memilih Job Kelompok kita.
7. Membuat folder pada komputer yang akan dicopy job.
8. Pada Kelompok kita Drag Measurement dan fixpoint ke tempat
penyimpanan yang sudah dibuat. Maka file terdownload dengan dalam
format .idx.
9. Mengconvert hasil download tadi ke .csv maka bila file dibuka di Microsoft
excel data hasil download akan ditampilkan sebagai X,Y, Z dan deskripsi.

ii. Penggambaran Peta digital


Penggambaran peta digital menggunakan software surpac dan layouting
menggunakan software AutoCAD. Penggambaran peta digital meliputi: digitasi detil
planimetris, penggabungan semua detil, pembuatan Digital Terrain Model (DTM),
dan pembuatan kontur. Langkah langkah penggambaran peta digital adalah sebagai
berikut:
1. Data yang sudah di download di pisahkan menggunakan Microsoft Excel
sesuai dengan kode tiap obyek dan untuk data titik tinggi (spothigh) dijadikan
satu. Menambah satu field untuk data string, data yang memliki kode yang
sama meiliki warna string yang sama misal jalan aspal (JLAS) string dua,
31

Sungai (SNG) string lima, dst, sebagaimana gambar III.2. Data disimpan
dalam format.csv.

Gambar III.2. Pemisahan data


2. Membuka software AutoCAD pada PC
3. Mengimport semua data detil ke software AutoCAD dan mendigitasi titik
titik detil planimetris yang memiliki deskripsi yang sama dengan beracuan
pada sketsa lapangan.
4. Setelah semua titil detil terdigitasi semua kemudian melakukan editing
ketinggian terhadap obyek bangunan. Ketinggian bangunan disamakan dalam
satu bangunan.sebagaimana gambar III.3.

Gambar III.3. Editing ketinggian bangunan


5. Menggabungkan semua data detil dan menyimpannya.
6. Membuat Digital Terrain Model (DTM) dengan menggunakan menu surface
kemudian memilih DTM file function.
7. Membuat kontur mayor dengan interval satu meter dan kontur minor dengan
interval 0,25 meter menggunakan menu surface kemudian memilih
contouring.
8. Memperhalus kontur menggunakan menu edit agar kontur yang dihasilkan
terlihat rapi dan indah.
9. Setelah semua penggambaran selesai kemudian melakukan layouting pada
software arcgis.
10. Semua data titik detil di eksport dari format .str menjadi format .dxf
kemudian di extract menjadi format .shp, agar dapat di olah pada software
arcgis. Kemudian semua data dimasukkan ke software arcgis dan melakukan
layouting peta dengan kertas A1 dan Skala 1: 500.
11. Membuat informasi peta yang isinya meliputi: judul,indeks, arah utara, skala
peta, legenda, riwayat peta dan sistem referensi, tanggal pengukuran dan
penggambaran, pembuat peta, pengoreksi peta, dan lembaga.
12. Setelah semua isi dan informasi yang ada peta sudah lengkap kemudian peta
di print pada kertas A1.
32

d. Uji Peta
Pengujian peta dilakukan dengan cara mengukur jarak detil planimetris
Adapun langkah pengukurannya sebagai berikut.
1. Mengukur jarak detil planimetris dengan menggunakan pita ukur. Sampel
jarak diambil secara acak. Pengukuran jarak detil planimetris dilakukan
dengan menggunakan pita ukur.
2. Mencatat hasil uji peta pada formulir yang telah disediakan.
3. Membandingkan hasil pengujian lapangan dengan hasil pada peta.

e. Rencana Pelaksanaan
Rencana pelaksanaan pekerjaan pemetaan untuk pembuatan peta topografi
skala 1 : 500, tercantum dalam tata kala rencana penyelesaian pekerjaan
pemetaan.Tata kala tersebut terdapat pada tabel III.1. Tata kala rencana pekerjaan
pemetaan.

Waktu
No Kegiatan

minggu ke-1 minggu ke-2 minggu ke-3 minggu ke-4 minggu ke-5 minggu k

1 Persiapan

2 Orientasi lapangan

Pemasangan titik
3
poligon
33

Pembuatan sketsa
4
lokasi

Perencanaan titik
5
poligon cabang

Pengamatan titik
6
kontrol dengan GPS

Pengolahan data
7
pengamatan GPS

Pengukuran KKV
8
titik poligon

9 Perhitungan KKV

Pengukuran titik
10
poligon cabang

11 Pengukuran detil

Penggambaran peta
12
Topografi digital

13 Pembuatan Laporan

Tabel III.1. Tata kala rencana pekerjaan pemetaan

: Rencana pelaksanaan
34

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Realisasi Pelaksanaan Praktikum

Realisasi dari pelaksanaan Praktikum Pemetaan Matra darat dapat dilihat


dengan membandingkan waktu pelaksanaan yang direncanakan dengan realisasi
di lapangan. Dari tabel rencana yang telah buat, ada kegiatan yang terealisasi
sesuai dan tidak sesuai dengan rencanan. Evaluasi antara rencana pelaksanaan
Pemetaan matra darat dengan realisasinya di lapangan dapat dilihat tabel di
Lampiran D. Realisasi dari pengukuran KKH, KKV, pengukuran detil sesuai
dengan waktu yang telah direncanakan, namun dalam pengolahan data GPS tidak
terlakasana dengan baik.

IV.2 Hasil Pelaksanaan

Hasil-hasil Praktikum Pemetaan Matra Darat akan dijelaskan secara


terperinci sebagai berikut :
I.1.1 Titik dan jaring pengukurann GPS
Titik pengukuran GPS yang digunakan sebagai kerangka peta diperoleh 12
titik serta terlampir hasil pengolahan data dan ketelitianya. Terlampir pada
Lampiran A.
I.1.2 Diskripsi titik jaring kontrol

Titiktitik Jaring kontrol tersebar di Kampus I Institut Teknologi Malang


beserta buku tugu yang dapat dilihat pada Lampiran B, adapun deskripsi titik
tersebut yaitu sebagai berikut :

1) Titik A1 berada di pojok sebelah kiri lapangan basket Kampus I


Institut Teknologi Malang, dengan bagian utara merupakan Gedung
Jurusan Teknik Geodesi.
35

2) Titik A2 berada di selatan Aula Kampus I Institut Teknologi Nasional


Malang, dengan bagian utara merupakan parkiran mobil Kampus I
Institut Teknologi Nasional Malang.
3) Titik A3 berada di parkiran mobil depan Rektorat Kampus I Institut
Teknologi Nasional Malang, dengan bagian utara merupakan pagar
utama Kampus I Institut Teknologi Nasional Malang.
4) Titik A4 berada di depan Pos Satpam Timur Kampus I Institut
Teknologi Nasional Malang, dengan bagian utara merupakan Gedung
Pendaftaran Kampus I Institut Teknologi Nasional Malang.
5) Titik A5 berada di pintu masuk parkiran sepeda motor Kampus I
Institut Teknologi Nasional Malang, dengan bagian utara merupakan
pintu masuk parkiran motor Kampus I Institut Teknologi Nasional
Malang.
6) Titik A6 berada di parkiran sepeda motor bagian bawah di dekat toilet
Kampus I Institut Teknologi Nasional Malang, dengan bagian utara
merupakan arah pintu keluar parkiran motor Kampus I Institut
Teknologi Nasional Malang.
7) Titik A7 berada di parkiran sepeda motor bagian bawah di dekat toilet
depan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Fotografi Kampus I Institut
Teknologi Nasional Malang, dengan bagian utara merupakan arah
pintu keluar parkiran motor Kampus I Institut Teknologi Nasional
Malang.
8) Titik A8 berada pojok belakang parkiran motor Kampus I Institut
Teknologi Nasional Malang dekat dengan tower.
9) Titik A9 berada di selatan Gedung Poliklinik Kampus I Institut
Teknologi Nasional Malang, dengan bagian utara merupakan bagian
belakang gedung BAAK Kampus I Institut Teknologi Nasional
Malang.
10) Titik A10 berada di depan gudang Teknik Industri Kampus I Institut
Teknologi Nasional Malang, dengan bagian utara merupakan Gedung
Jurusan Teknik Sipil Kampus I Institut Teknologi Nasional Malang.
11) Titik A11 berada di dekat tempat sampah pojok kampus selatan
Masjid Kampus I Institut Teknologi Nasional Malang.
12) Titik BM Menwa berada di samping Gedung Menwa Kampus I
Institut Teknologi Nasional Malang, dengan bagian utara merupakan
Lapangan Basket Kampus I Institut Teknologi Nasional Malang.
36

I.1.3 Sketasa dan form pengukuran KKV , KKH, dan detil planimestris terlampir pada
lampiran C.
I.1.4 Hasil pengukuran jaring kontrol horizontal

Hasil perhitungan KKH dengan metode Bowdith adalah sebagai berikut:

1. Syarat Sudut Poligon tertutup (n - 2) * 180 = (12 2) * 180= 1800

2. Jumlah sudut dalam terukur = 17995944

3. Kesalahan Sudut (FS) = -16 (minus enam belas detik)

4. Jumlah jarak poligon (D) = 497.711 meter

5. Kesalahan Absis (FX) = 0.003237 meter

6. Kesalahan Ordinat (FY) = -0.016146 meter

7. Kesalahan Linier (FL) = 0.016467 meter

8. Perbadingan FL dengan D adalah 1:30228.214


Berdasarkan hasil perhitungan tersebut menunjukan bahwa hasil
pengukuran KKH telah sesuai dengan ketentuan-ketentuan pada
Praktikum Pemetan Matra Darat, sehingga hasil pengukuran tersebut dapat
digunakan sebagai kerangka pemetaan pada peta situasi yang akan dibuat.
Berikut disajikan tabel koordinat hasil pengukuran KKH dengan Total
Station, perhitung

Koordinat Hasil Pengukuran KKH dengan Total Station

UTM WGS'84
Esting (m) Norting (m) Latitude Longitude
37

BM MENWA 677666.414 9119919.610 S757'31.3923" E11236'42.703


BM A1 677650.273 9119945.879 S757'30.5393" E11236'42.173
BM A2 677685.8139 9119987.061 S757'29.1943" E11236'43.328
BM A3 677675.2368 9120022.933 S757'28.0279" E11236'42.978
BM A4 677698.6159 9120050.471 S757'27.1286" E11236'43.738
BM A5 677712.366 9120067.201 S757'26.5822" E11236'44.185"
BM A6 677775.7271 9120032.438 S757'27.7058" E11236'46.258
BM A7 677780.3181 9120020.084 S757'28.1073" E11236'46.410
BM A8 677785.4197 9119993.758 S757'28.9636" E11236'46.580
BM A9 677761.3965 9119963.961 S757'29.9366" E11236'45.799
BM A10 677784.9713 9119938.407 S757'30.7654" E11236'46.572
BM A11 677760.925 9119910.187 S757'31.6871" E11236'45.790

Perhitungan Bowdith Kerangka Kontrol Horisontal Pengukuran Topografi


Sudut dalam Sudut Azimu D sin Azimut D Cos Azimut Koordin
Titik Jarak (m)
Der MenDe DD terkorek De Men De t DD Asal koreksi Terkorek Asal koreksi Terkorek X
BM 11 t si r t si si

BM MW 127 15 25 127.2569 127.2573 677666.4 911


44 15 32 25 51 328.43108 30.831 -16.141 - -16.141 26.268 0.001000 26.269 14 1
BM 1 107 38 4 107.6344 107.6348 8 6 0.00020 677650.2 911
44 15 40 47 47 40.79664 54.396 35.541 - 35.541 41.180 0.001764 41.182 73 79
BM 2 237 13 30 237.2250 237.2253 2 0.00035 677685.8 911
00 70 34 34 16 343.57127 37.398 -10.577 - -10.577 35.871 0.001213 35.872 14 61
BM 3 123 14 22 123.2394 123.2398 3 1 0.00024 677675.2 912
44 15 40 19 54 40.33182 36.123 23.379 - 23.379 27.537 0.001172 27.538 37 33
BM 4 180 54 48 180.9133 180.9137 7 0.00023 677698.6 912
33 04 39 25 6 39.41849 21.655 13.750 - 13.750 16.729 0.000702 16.730 16 71
BM 5 100 39 58 100.6661 100.6664 4 0.00014 677712.3 912
11 81 11 45 8 118.75238 72.272 63.362 - 63.361 -34.765 0.002344 -34.762 66 01
BM 6 139 8 18 139.1383 139.1387 8 2 0.00047 677775.7 912
33 04 15 36 50 159.61404 13.180 4.591 - 4.591 -12.354 0.000428 -12.354 27 38
BM 7 170 34 52 170.5811 170.5814 9 9 0.00008 677780.3 912
11 81 16 1 58 169.03293 26.817 5.102 - 5.102 -26.327 0.000870 -26.326 18 84
BM 8 130 9 28 130.1577 130.1581 9 8 0.00017 677785.4 911
78 48 21 52 30 218.87516 38.276 -24.023 - -24.023 -29.798 0.001242 -29.797 20 58
BM 9 261 34 5 261.5680 261.5684 8 0 0.00024 677761.3 911
56 26 13 18 25 137.30710 34.768 23.575 - 23.575 -25.554 0.001128 -25.553 96 61
BM 10 96 52 30 96.87500 96.87537 7 5 0.00022 677784.9 911
0 0 22 25 55 220.43210 37.077 -24.046 - -24.046 -28.222 0.001203 -28.221 71 07
BM 11 124 44 24 124.7400 124.7403 0 5 0.00024 677760.9 911
00 70 27 41 31 275.69210 94.979 -94.510 - -94.511 9.420 0.003081 9.423 25 87
BM MW 5 5 0.00061

179 59 44 1799.9955 1800 497.772 0.00323 -


9 56 7 0.01614
Kampus 1 ITN Malang

Syarat Sudut dalam Poligon (n- 1800 FX = 0.003237 koreksi -


2)*180 = sudut = 1799.995556 FX =
FY = -0.016146 koreksi 0.00323
0.0161
FS = -0.004444 atau -16 detik FY==
Fl 46
0.016467
Jarak = 497.771500
38

Fl/ jarak = 1 : 30228


koreksi FS = Koreksi Persudut FS/n =
0.004444 atau 16 detik
0.000370 atau 1.333 detik
WGS'84 UTM
Point ID
Latitude Longitude Esting (m) Norting (m)
BM S757'31,39251" E11236'42,70387" 677666.414 9119919.606
A1 S757'30,54956" E11236'42,17744" 677650.393 9119945.564 . Koordinat Hasil Pengukuran KKH dengan GPS
A2 S757'29,21638" E11236'43,39793" 677687.931 9119986.375 Geodeti
A3 S757'28,02995" E11236'43,08963" 677678.631 9120022.859
A4 S757'27,16874" E11236'43,87631" 677702.827 9120049.222
A6 S757'27,83208" E11236'46,33613" 677778.081 9120028.55
A7 S757'28,22895" E11236'46,46076" 677781.851 9120016.343
A8 S757'29,07383" E11236'46,59606" 677785.893 9119990.372
A9 S757'30,03900" E11236'45,79190" 677761.15 9119960.818
A10 S757'30,90580" E11236'46,49224" 677782.494 9119934.106
A11 S757'31,80644" E11236'45,79053" 677782.386 9119906.438
I.1.5 Hasil pengukuran kerangka kontrol vertikal
Berdasarkan hasil orientasi lapangan didapatkan 12 titik poligon Kerangka
Kontrol Vertikal . Dari semua titik tersebut tidak ada yang bermasalah dan
dilakukan pengukuran. Adapun hasil dari pengukuran Kerangka Kontrol Vertikal
sebagai berikut:
1) Jumlah Beda tinggi Pergi (PR) = 0.002 meter
2) Jumlah Beda Tinggi Pulang (PL) = - 0.001 meter
3) Rata-rata dari jumlah beda tinggi = 0.0015 meter
PR dan PL
4) Total jarak rata-rata Pr dan PL = 502 meter
5) Toleransi kesalahan penutup = 5.6681 milimeter
Dari hasil pengukuran di atas dapat dilihat bahwa hasil pengukuran telah
memasuki Toleransi yang telah ditentukan. Hal ini menunjukkan jika hasil
pengukuran cukup baik, sehingga titik koordinat poligon utama dapat digunakan
sebagai titik acuan untuk pengukuran. Berikut adalah tabel hasil pengukuran KKV

PERGI
No. Targ Pembacaan Jara Prosent Bed Titik
Keduduk et Rambu k ase a Tinggi
Ting
uan
BA BT BB Jarak gi
1.28 1.19 17.5
BM 1.106 -
1 4 0
BM-1 26.537 0.11
1.38 1.31 13.4
1 1.246 9
0 3 0
1.89 1.74 29.0
1 1.600
0 5 0 0.72
1-2 9.386
1.14 1.01 26.4 8
2 0.885
9 7 0
1.82 1.70 23.0
2 1.592
2 7 0 0.33
2-3 45.333
1.44 1.37 14.5 7
3 1.298
3 0 0
1.48 1.41 14.8
3 1.341 -
9 5 0
3-4 35.556 0.03
1.55 1.44 21.2
4 1.342 3
4 8 0
1.52 1.48
4 1.434 -
6 0 9.20
4-5 29.630 1.33
2.87 2.81 12.4
5 2.748 0
2 0 0
1.01 0.83 35.5
5 0.656 -
1 2 0
5-6 3.867 0.84
1.86 1.68 36.9
6 1.496 9
5 1 0
1.31 1.29
6 1.262 -
8 0 5.60
6-7 30.303 0.08
1.41 1.37
7 1.338 6
4 6 7.60
1.37 1.30 13.5
7 1.236 -
1 3 0
7-8 3.774 0.41
1.78 1.71 13.0
8 1.656 6
6 9 0
2.08 1.98 20.3
8 1.882
5 5 0 1.44
8-9 8.740
0.63 0.54 18.6 0
9 0.452
8 5 0
1.39 1.32 13.3
9 1.261 -
4 7 0
9-10 45.349 0.47
1.90 1.80 21.1
10 1.698 6
9 3 0
1.48 1.40 17.4
10 1.314
8 2 0 0.04
10-11 12.399
1.45 1.35 19.7 6
11 1.257
4 6 0
1.87 1.74 25.5
11 1.620
5 7 0 0.35
11-a 6.478
1.51 1.39 23.9 0
a 1.277
6 7 0
a-BM a 1.85 1.73 1.610 24.4 0.411 0.41
4 2 0
1.44 1.32 24.3 0
BM 1.201
4 2 0
JUMLA 502. 0.00
H 00 2

PULANG
No. Pembacaan Prosent Beda Titik
Targ Jara
Keduduk Rambu ase Ting Ting
et k
uan BA BT BB Jarak gi gi
1.51 1.39 24.2
BM 1.275
7 6 0 -
BM-a 1.639
1.92 1.80 24.6 0.409
a 1.682
8 5 0
1.41 1.29 24.0
a 1.175
5 5 0 -
a-11 6.061
1.77 1.64 25.5 0.353
11 1.520
5 8 0
1.48 1.38 20.0
11 1.281
1 1 0 -
11-10 16.216
1.51 1.42 17.0 0.046
10 1.342
2 7 0
1.87 1.76 21.3
10 1.662
5 9 0
10-9 45.533 0.477
1.35 1.29 13.4
9 1.225
9 2 0
0.52 0.43 18.5
9 0.342
7 5 0 -
9-8 9.278
1.97 1.87 20.3 1.438
8 1.771
4 3 0
8-7 1.72 1.66 13.4 0.000 0.419
8 1.594
8 1 0
7 1.30 1.24 1.175 13.4
9 2 0
1.37 1.34
7 1.302
7 0 7.50
7-6 25.564 0.085
1.28 1.25
6 1.226
4 5 5.80
1.82 1.64 36.7
6 1.461
8 5 0
6-5 3.324 0.851
0.97 0.79 35.5
5 0.616
1 4 0
2.89 2.83 12.4
5 2.771
5 3 0
5-4 28.571 1.331
1.54 1.50
4 1.456
9 3 9.30
1.58 1.48 21.1
4 1.378
9 4 0
4-3 35.097 0.035
1.52 1.44 14.8
3 1.375
3 9 0
1.40 1.33 14.4
3 1.264
8 6 0 -
3-2 45.989
1.78 1.67 23.0 0.337
2 1.558
8 3 0
1.16 1.03 26.1
2 0.900
1 1 0 -
2-1 11.892
1.90 1.76 29.4 0.732
1 1.615
9 2 0
1.45 1.38 13.4
1 1.317
1 4 0
1-BM 23.684 0.119
1.35 1.26 17.0
BM 1.180
0 5 0
JUMLA 502.
H 00 0.001

NO JARA BEDA TINGGI Z


H H
TITIK K PER PULA RATA- KORE TERKOR
GI NG RATA KSI EKSI
BM 100
-
0.11 -
30.65 9 0.119 -0.119 0.0001 -0.119
1 99.881
0.72 -
55.45 8 -0.732 0.730 0.0001 0.730
100.61
2 1
0.33 -
37.45 7 -0.337 0.337 0.0001 0.337
100.94
3 8
-
0.03 -
35.95 3 0.034 -0.034 0.0001 -0.034
100.91
4 4
-
21.65 -1.33 1.331 -1.330 0.0001 -1.330
5 99.584
-
0.84 -
72.3 9 0.851 -0.850 0.0002 -0.850
6 98.734
-
0.08
13.25 6 0.085 -0.085 0.0000 -0.085
7 98.648
-
0.41 -
26.65 6 0.419 -0.418 0.0001 -0.418
8 98.231
-
38.85 1.44 -1.438 1.439 0.0001 1.439
9 99.670
-
0.47 -
34.55 6 0.477 -0.476 0.0001 -0.476
10 99.193
0.04 -
37.05 6 -0.046 0.046 0.0001 0.046
11 99.239
-
98.2 0.76 -0.762 0.761 0.0002 0.761
100.00
BM 0
502 0.00 -0.001 0.001
2

I.1.6 Detil planimetris dan titik tinggi


Pengukuran detil planimetris dan titik tinggi dilakukan dengan
menggunakan alat Total Station. Dalam pengukuran detil planimetris dan titik
tinggi diberikan kode yang berbeda satu sama lain menyesuaikan dengan obyek
yang diambil. Data sketsa dan hasil pengukuran detil planimetris serta titik tinggi
terlampir pada Lampiran G.
I.1.7 Hasil Uji Peta
Pengujian peta dilakukan dengan melakukan pengukuran detil
planimetris dilapangan dan didapatkan hasil sebagai berikut.
No Lokasi Jarak Jarak di Gambar
di Peta Lapangan
1 Lebar Jalan Belakang 4 mm 2.6 m
Aula

2 Taman depan 10 mm 10.02


Perpustakaan ( 1 )

3 Taman depan 14 mm 12.2 m


perpustakaan (2)

4 Lebar Perpustakaan 13 mm 10.1 m


5 Lebar Paving Block 12 mm 6.06 m
Geodesi

6 Lebar Gedung Pasca 20 mm 9.98 m


Sarjana

7 Lebar Gedung T. 14 mm 14.5 m


Arsitektur

8 Panjang Gedung 57 mm 29.04 m


T.Lingkungan
9 Lebar jalan Pasca 8 mm 9.98 m
Sarjana

10 Lebar Taman Pasca 5 mm 2.6 m


Sarjana
I.1.8 Penggambaran Peta
Hasil penggambaran digital peta skala 1 :500 sesuai dengan spesifikasi
teknis pada saat studio digambarkan dalam satu lembar kertas berukuran A1.
Penggambaran dilakukan dengan menggunakan AutoCAD untuk pengolahan
kontur dan detil planimetris dan ArcGIS untuk layouting.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

V.1. Kesimpulan

Dari hasil dan pembahasan kegiatan Praktek Kerja Lapangan, maka


didapatkan kesimpulan.
1. Pelaksanaan dan realisasi praktikum matra darat dapat diselesaikan
tetapi kurang tepat waktu sesuai jadwal yang direncanakan.
2. Pelaksanaan pengukuran GPS guna mendapatkan titik control dan
kerangka peta telah terlaksana, tetapi hasil pengolahan data GPS kurang
memenuhi syarat.
3. Hasil pengukuran KKH dengan ketelitian linier 1:30288.214 dan
kesalahan penutup sudut sebesar - 0016.
4. Hasil dari pengukuran KKV dengan kesalahan beda tinggi rata rata
pulang pergi sebesar 1.5 mm telah memenuhi syarat penutup beda
tinggi, batas kesalahan tersebut sebesar 5.668 mm.
5. Hasil pengukuran detil planimetris sebesar 516 titik terukur
6. Layout peta terdiri dari muka peta dan informasi tepi , informasi tepi
terdiri dari judul peta, arah orientasi, skala bar dan nilai skala, sumber
peta, tahun pembuatan, dan instansi.
7. Hasil Pengujian Peta telah dilakukan dan hasil memenuhi syarat dan
ketentuan.
8. Mahasiswa mampu melakukan kegiatan pengukuran dan penggambaran
skala besar dengan benar sesuai spesifikasi pekerjaan yang diberikan.

V.2. Saran

Saran yang dapat diberikan pada pekerjaan pemetaan situasi adalah sebagai
berikut :
1. Semua pengukuran dilakukan sesuai dengan prosedur yang ada.
2. Selalu memperhatikan TOR pada saat pengukuran.
3. Sebelum melakukan pengukuran detil harus dipastikan jika data
koordinat kerangka peta (titik titik poligon) sudah benar supaya tidak
terjadi kesalahan orientasi.
4. Selalu menjaga kekompakkan dan saling menghargai dalam satu tim
maupun dengan kelompok lainnya.
5. Pembagian tugas yang jelas dan merata sangat dibutuhkan untuk
menghindari adanya selisih paham.