Anda di halaman 1dari 23

BAB II

DASAR TEORI

Dalam melakukan analisis karakteristik pola perubahan land use dan land
cover di Jawa Barat, terdapat beberapa teori-teori yang menjadi dasar dalam
analisis pada tugas akhir ini. Teori-teori yang digunakan dalam Skripsi ini
diuraikan dalam bab dasar teori ini dengan runutan topik yaitu teori land use dan
land cover, penjelasan mengenai beberapa aplikasi dan analisis berbasiskan
Sistem Informasi Geografis (SIG).

2.1 Land Use dan Land Cover


Pada analisis lahan suatu wilayah, terdapat dua jenis data yang dikenal
dengan land use (Penggunaan Lahan) dan land cover (Tutupan Lahan).
Terminologi mengenai Land Use dan Land Cover kadang membingungkan dan
dianggap sama, namun pada dasarnya Land Use dan Land Cover merupakan dua
hal yang berbeda. (Muttaqin, 2008)

2.1.1 Pengertian Land Use dan Land Cover

Menurut Barret dan Curtis pada (Sanjaya, 2006), Land Cover (Tutupan
Lahan) adalah kenampakan alamiah bumi seperti vegetasi, salju, hutan dan
sebagainya. Sedangakan Land Use (Tata Guna Lahan) adalah kenampakan bumi
hasil aktivitas manusia, seperti sawah, ladang, bangunan dan sebagainya. Dari
definisi tersebut dapat dipahami bahwa Land Use mengacu pada kenampakan
bumi atau tutupan lahan bumi yang digunakan untuk aktivitas manusia, sedangkan
Land Cover mengacu pada kenampakan alamiah bumi tanpa adanya aktivitas
manusia (Muttaqin, 2008).

2.1.2 Perubahan Land Use dan Land Cover


Menurut Malingreau pada (Purwantoro & Hadi, 2006), penggunaan lahan
merupakan campur tangan manusia baik secara permanen atau periodik terhadap
lahan dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan, baik kebutuhan kebe.ndaan,

4
spiritual maupun gabungan keduanya. Oleh karena itu, perubahan penggunaan
lahan sangat bergantung pada aktivitas manusia. Kenampakan penggunaan lahan
berubah berdasarkan waktu, yakni keadaan kenampakan penggunaan lahan atau
posisinya berubah pada kurun waktu tertentu. Perubahan penggunaan lahan dapat
terjadi secara sistematik dan non-sistematik. Perubahan sistematik terjadi dengan
ditandai oleh fenomena yang berulang, yakni tipe perubahan penggunaan lahan
pada lokasi yang sama. Kecenderungan perubahan ini dapat ditunjukkan dengan
peta multi waktu. Fenomena yang ada dapat dipetakan berdasarkan seri waktu,
sehingga perubahan penggunaan lahan dapat diketahui. Perubahan non-sistematik
terjadi karena kenampakan luasan lahan yang mungkin bertambah, berkurang,
ataupun tetap.
Penyebab dari perubahan penggunaan lahan adalah adanya faktor-faktor
pendorong (driving factors) seperti: faktor demografi (tekanan penduduk), faktor
ekonomi (pertumbuhan ekonomi), teknologi, policy (kebijakan), institusi, budaya
dan biofisik (Warlina, 2007). Analisis perubahan penggunaan lahan mencari
penyebab (driver) perubahan land use dan dampak (lingkungan dan sosio
ekonomi) dari perubahan land use. Penyebab dari perubahan penggunaan adalah
lima alasan yaitu kelangkaan sumberdaya; perubahan kesempatan akibat pasar;
intervensi kebijakan dari luar; hilangnya kapasitas adaptasi dan meningkatnya
kerentanan; perubahan dalam organisasi sosial dalam akses sumberdaya dan
dalam tingkah laku. Perubahan lahan sangat bergantung pada aktivitas manusia di
wilayah sekitarnya. Hal ini menarik karena karakteristik aktivitas manusia di suatu
wilayah berbeda-beda. Hal ini menyebabkan perubahan lahan memiliki
karakteristik tersendiri untuk setiap wilayah.

2.2 Penginderaan Jauh


Penginderaan Jauh adalah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi
tentang suatu obyek, daerah, atau fenomena melalui analisis data yang diperoleh
dengan suatu alat tanpa kontak langsung dengan obyek, daerah, atau fenomena
yang dikaji (Lilesand & Kiefer, 1997). Data yang diperoleh dari hasil
penginderaan jauh berupa citra yang menggambarkan obyek yang mirip dengan

5
wujud dan letaknya dipermukaan bumi dalam liputan yang luas (Purwadhi &
Santojo, 2008). Hasil informasi dalam bentuk peta, tabel dan laporan.
Peranan penginderaan jauh di dalam sistem informasi data dan
pengelolaannya meliputi mendeteksi perubahan, kalibrasi bagian lain pada sistem
yang sama, subtitusi data setelah dikalibrasi dan pengembangan model. Beberapa
kelebihan dari penginderaan jauh :
1. Dari jenis citra tertentu dapat ditimbulkan gambaran tiga dimensi apabila
pengamatannya dilakukan dengan alat stetoskop.
2. Citra menggambarkan suatu objek, daerah gejala di permukaan bumi dengan
wujud dan letak objek yang mirip, relatif lengkap meliputi daerah yang luas
dan permanen.
3. Karakteristik objek yang tak tampak dapat diwujudkan dalam bentuk citra
sehingga dimungkinkan pengenalan objeknya.
4. Citra merupakan alat yang sangat baik untuk memantau suatu daerah yang
mengalami perubahan secara cepat misalnya daerah pembukaan hutan yang
sering dibuat dengan periode ulang yang pendek.
5. Citra dapat dibuat secara cepat meskipun untuk daerah yang sulit dijelajahi
secara terrestrial.
Perkembangan penginderaan jauh semakin banyak digunakan karena
adanya peningkatan kualitas produk di berbagai resolusi dimana tingkat
kepraktisannya dapat digunakan dengan cepat, misalnya untuk pekerjaan skala
besar sehingga mempermudah pekerjaan dan tidak banyak membuang waktu.
Oleh karena itu perkembangan kebutuhan aplikasi ini sangat tepat untuk
menjawab berbagai pertanyaan pembangunan serta pengetahuan pemahaman
seseorang tentang analisis citra yang identik dengan penginderaan jauh yang ideal.

2.2.1 Komponen Penginderaan Jauh


Sistem inderaja terdiri dari beberapa komponen yang terintegrasi dalam
satu kesatuan.

6
Gambar 2.2 Sistem Inderaja
(Sumber : LAPAN 2008)
Komponen-komponen tersebut meliputi sumber tenaga, atmosfer, obyek,
sensor dengan wahana, pengolahan data, interpretasi / analisis dengan pengguna.
Untuk penjelasannya akan dijabarkan sebagai berikut : (Kusumawidagdo dkk,
2008).

2.2.1.1 Sumber Tenaga


Sumber tenaga dalam inderaja pada umumnya dibedakan menjadi dua
macam, yaitu yang bersifat alamiah (seperti matahari) dan buatan manusia. Bila
sumber tenaga yang digunakan berasal dari dari matahari (alamiah) atau dari
obyek itu sendiri, maka inderajanya disebut sebagai inderaja sistem pasif. Bila
sumber tenaganya berasal dari buatan manusia maka disebut sebagai inderaja
sistem aktif. Sumber tenaga, baik dari matahari maupun buatan manusia, berupa
tenaga elektromagnetik (TEM). Tenaga ini terdiri dari berkas-berkas spectrum
(sinar) dengan berbagai ukuran panjang gelombang (Kusumawidagdo dkk, 2008).

2.2.1.2 Atmosfer
Perjalanan TEM dari matahari menuju ke permukaan bumi ternyata
banyak hambatannya. Hambatan tersebut dapat berupa hamburan dan serapan
yang semuanya disebabkan oleh adanya butiran gas, awan, dan butir-butir uap air
di atmosfer (Kusumawidagdo dkk, 2008).

2.2.1.3 Interaksi TEM dengan Obyek


TEM yang sampai ke permukaan bumi akan berinteraksi dengan segala
objek yang ada. Obyek dipermukaan bumi mempunyai karakteristik yang berbeda

7
satu dengan yang lainnya. Ada obyek yang mempunyai sifat daya serapnya
(absorpsi) terhadap TEM tinggi dan pantulannya rendah, sebaliknya ada obyek
yang mempunyai daya serap rendah dan daya pantulnya tinggi. Pada citra hitam
putih mempunyai tingkat rona atau kecerahan yang berbeda obyek satu dengan
yang lainnya. Karakteristik obyek terhadap sinar ini disebut sebagai karakteristik
spectral. Justru karena setiap obyek mempunyai karakteristik spectral yang
berbeda maka dapat dibedakan obyek satu dengan yang lain (Kusumawidagdo
dkk, 2008).

2.2.1.4 Sensor dan Wahana


TEM yang dipantulkan obyek dipermukaan bumi dapat di terima oleh
sensor yang dipasang dalam wahana tertentu di udara. Ada banyak macam sensor
dengan sifat dan karakteristik masing-masing. Ada sensor yang dapat menyadap
obyek berukuran kecil (< 1 meter), namun ada juga sensor yang hanya dapat
menyadap sensor yang berukuran besar (> 1 km). Ukuran terkecil yang dapat
disadap oleh sensor dinamakan sebagai resolusi spasial. Resolusi spasial ini
merupakan petunjuk kualitas sensor, semakin kecil obyek yang dapat direkam
olehnya, semakin teliti informasinya (Kusumawidagdo et all, 2008).
Pada awal perkembangan inderaja diawali dengan sensor yang dipasang
di wahana berupa balon. Filmnya pun masih hitam putih. Namun demikian
hasilnya sudah banyak digunakan untuk pemetaan maupun untuk memata-matai
daerah musuh. Kemudian ditemukan pesawat terbang (tahun 1903) dan sensornya
dicoba dipasang di bawah badan pesawat. Selanjutnya dalam perang Dunia I
maupun II teknologi inderaja sangat berperan dalam menentukan kemenangan di
medan pertempuran.
Perkembangan teknologi dibidang sensor dan wahana sudah semakin
maju. Sekarang sudah bisa dilakukan pemotretan berwarna dengan kualitas (dapat
diukur dari ukurnan pikselnya) yang semakin baik. Di samping itu, jenis dan
macam satelit yang digunakan untuk membawa sensor juga semakin banyak.
Ada ribuan satelit di luar angkasa yang sebagian darinya merupakan
satelit sumber daya alam yang dioperasikan untuk pemotretan ke permukaan bumi
menggunakan spectrum yang sangat lebar mulai dari daerah sinar tampak sampai

8
dengan gelombang radio, diantaranya MOS, LANDSAT, SPOT, IKONOS,
QUICKBIRD.

2.2.1.5 Pengolahan Data


Data penginderaan jauh yang beredar dipasaran pada umumnya
merupakan produk standar. Data sudah dapat dianalisis (interpretasi) untuk
memenuhi kebutuhan penggunaan pengolahan data mentah (hasil rekaman sensor
yang dikirim ke stasiun bumi) menjadi produk standar yang dilakukan oleh
operator di stasiun bumi atau unit yang menangani distribusi produk inderaja.
Koreksi yang dilakukan adalah meliputi eliminasi distorsi radiometric (nilai
radiasi hasil pengukuran) dan geometrik (posisi lintang dan bujur) obyek-obyek
yang diindera. Melalui koreksi-koreksi tersebut kualitas data sudah dapat
dipertanggung jawabkan (Kusumawidagdo dkk, 2008).

2.2.1.6 Pengguna
Pengguna merupakan komponen terakhir sistem inderaja, penggunalah
yang tahu dengan pasti tentang kebenarannya, manfaat bahkan seberapa besar
ketelitian informasi inderaja yang telah dipakainya. Maka pengguna merupakan
penilai sekaligus yang dapat memberikan saran-saran untuk lebih
menyempurnakan sistem inderaja dalam memenuhi kebutuhan penggunaannya
(Kusumawidagdo dkk, 2008).

9
2.2.2 Citra Satelit Quick Bird

Satelit optis Quickbird diluncurkan pada 18 Oktober 2001 di pangkalan


angkatan udara Vandenberg, California, USA. Satelit Quickbird merupakan satelit
yang baik untuk data lingkungan seperti analisis perubahan iklim, penggunaan
lahan, pertanian dan kehutanan. Selain itu kemampuan satelit Quickbird dapat
juga diterapkan untuk berbagai industri termasuk eksplorasi dan produksi minyak
bumi dan gas alam, teknik dan konstruksi serta studi lingkungan.

Tabel Spesifikasi Citra Quick Bird ( Lapan 2008 )

2.3 Pemrosesan Citra Digital


Pada saat ini, hampir semua data penginderaan jauh tersedia dalam format
digital, yang secara virtual interpretasi dan analisa citra melibatkan elemen-
elemen pemrosesan digital. Pemrosesan citra digital melibatkan beberapa
prosedur, yaitu penformatan dan pengkoreksian data, perbaikan digital untuk
memperoleh hasil interpretasi visual yang baik, atau melakukan pemrosesan citra
secara digital, data harus tersedia dalam bentuk format digital.

10
2.3.1 Koreksi Geometrik
Koreksi geometrik merupakan penempatan kembali piksel-piksel ke posisi
semula hal ini dilakukan untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan pada waktu
perekaman citra yang diakibatkan oleh sensor, gerakan wahana dan rotasi bumi
sehingga membuat citra bersifat peta (planimetrik). Pengubahan citra dari bujur
sangkar menjadi jajaran genjang merupakan hasil dari transformasi ini. Tahapan
ini diterapkan pada citra digital mentah (langsung hasil perekaman satelit).
Selain itu, koreksi ini juga meliputi penambahan jumlah baris pikxel,
untuk menyamakan skala sepanjang baris dengan skala sepanjang kolom,
perbedaan ini muncul dikarenakan adanya perbedaan kecepatan gerak putar
cermin dengan kecepatan koding, sehingga pada tiap baris piksel berikutnya selalu
menindih piksel sebelumnya.
Koreksi ini mencangkup perujukan titik-titik tertentu pada citra ke titik-
titik yang sama pada medan maupun peta. Pasangan titik ini kemudian digunakan
untuk membangun fungsi matematis yang menyatakan hubungan antara posisi
sembarang titik pada citra dengan titik obyek yang sama pada peta maupun
lapangan. Perlu diperhatikan bahwa posisi piksel yang dimaksud adalah posisi
pusat piksel. Pada koreksi ini, telah dipertimbangkan bahwa perubahan posisi
piksel itu juga mencangkup perubahan informasi spektralnya. Untuk mengatasi
hal itu, diperlukan interpolasi nilai spektral selama transformasi geometri (proses
resampling), sehingga dihasilkan geometri baru dengan nilai baru. Untuk
interpolasi nilai spektral, dikenal algoritma nearest neighbor, bilinear serta cubic
convolution. Masing-masing memberikan efek yang berbeda pada kenampakan
citra. Algoritma nearest neighbor diterapkan dengan hanya mengambil kembali
nilai piksel yang telah tergeser ke posisi baru. Sedangkan algoritma bilinear
interpolation mempertimbangkan keempat nilai piksel yang berdekatan, untuk
kemudian dirata-rata secara proporsional, sesuai dengan jaraknya terhadap posisi
baru. Algoritma cubic convolution menggunakan prinsip interpolasi nilai seperti
pada algoritma bilinear interpolation, tetapi dengan memperimbangkan nilai 16
piksel disekitarnya (Danoedoro, 1996).

11
Dalam penelitian metode yang digunakan adalah metode triangulasi. Pada
metode ini ada 2 tahapan yang harus dilakukan yaitu :
Memilih titik kontrol lapangan (Ground Control Point)
Rektifikasi
Rektifikasi merupakan suatu proses melakukan transformasi data dari
suatu sistem grid menggunakan suatu transformasi geometrik. Rektifikasi
dilakukan dengan proses resampling. Resampling merupakan suatu proses
transformasi citra dengan memberikan nilai piksel terkoreksi. Pelaksanaan
resampling dilakukan dengan proses transformasi dari suatu sistem
koordinat ke sistem koordinat yang lain sedangkan metode yang
digunakan Nearest Neighbour.

2.3.2 Root Mean Square error (RMSE)


Root Mean Square error (RMSE) merupakan parameter yang digunakan
untuk mengevaluasi nilai hasil dari pengamatan / pengukuran terhadap nilai
sebenarnya atau nilai yang dianggap benar (Alfurqon, 2007). RMSE ini dihitung
pada saat transformasi koordinat selesai dilakukan. Caranya dengan menguji
beberapa titik pada citra hasil koreksi geometrik terhadap titik control tanah yang
sudah tereferensi dengan sistem koreksi tertentu. Secara umum persamaan untuk
menghitung besarnya RMSE dalam bidang dua dimensional adalah sebagai
berikut :

RMSerror =
( x' x )2+( y ' y)2
n

(2.1)
Dimana :
(x, y) : merupakan koordinat citra hasil koreksi geometrik
(x, y) : Merupakan koordinat titik control tanah pada bidang referensi
n : Jumlah GCP
besarnya nilai RMS yang dapat diterima adalah sebesar < 1 piksel. Biasanya nilai
ketelitian itu adalah 1 satuan terkecil pada citra itu adalah piksel. Dengan
demikian dapat ditentukan nilai ketelitian yang dapat diterima pada citra ini
berkisar sekitar < 1 piksel (Alfurqon, 2007).

12
2.4 Segmentasi Citra
Segmentasi citra merupakan salah satu bagian penting dari pemrosesan
citra, yang bertujuan untuk membagi citra menjadi beberapa region yang
homogen berdasarkan kriteria kemiripan tertentu antara tingkat keabuan suatu
piksel keabuan piksel-piksel tetangganya. Hasil dari proses segmentasi ini akan
digunakan untuk proses lebih lanjut yang dapat dilakukan terhadap suatu citra,
misalnya proses klasifikasi citra dan proses identifikasi objek. Segmentasi citra
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari metodologi analisis citra berbasis
objek. Teknik segmentasi citra secara otomatis mengelompokkan piksel
berdekatan menjadi contiguous region berdasarkan kemiripan kriteria pada
property piksel. Objek dapat lebih baik daripada piksel, dalam hal mengetahui
tetangganya (neighbours) serta hubungan spasial dan spektral antar piksel
(Murinto dan Harjoko, 2009 dalam Parsa, 2012).
Beberapa parameter yang mempengaruhi hasil segmentasi tergantung
beberapa hal, yaitu skala parameter, bentuk, kehalusan, dan kekompokan. Skala
parameter adalah ukuran yang menentukan nilai maksimum heterogenitas yang
dibolehkan dalam menghasilkan objek-objek citra dimana untuk data yang
heterogen, objeck-objek yang dihasilkan akan lebih kecil daripada data yang lebih
homogen dan dengan memodifikasi nilai skala parameter dapat dibuat ukuran
objek-objek citra yang beragam (eCognition, 2000 dalam Parsa 2012). Komposisi
homogenitas terdiri dari 2 parameter yaitu Color dan Shape. Color dan shape ini
memiliki nilai dan sifat yang saling berkebalikan, sehingga penjumlahan
keduanya harus berjumlah satu. Semakin besar nilai color, segmentasi yang dibuat
akan berdasarkan pada perbedaan warna atau rona karena color ini mendifinisikan
jumlah poligon berdasarkan keseragaman warna. Sedangkan shape
mendefinisikan jumlah poligon berdasarkan keseragaman bentuk, sehingga
semakin besar nilai shape maka poligon yang terbentuk akan mempertahankan
bentuk dibanding membuat keragamanan warna.
Smoothness dan compactness merupakan turunan dari shape. Apabila
shape bernilai nol maka kedua parameter ini tidak aktif. Smoothness memberikan
nilai kehalusan pada edges poligon yang terbuat dan compactness memberikan

13
nilai kekakuan pada edges poligon yang terbuat. Smoothness dan compactness
juga memiliki sifat yang saling berkebalikan.
Dalam segmentasi ditentukan nilai kelima parameter di atas untuk
mendapatkan segmentasi terbaik sesuai dengan yang diharapkan. Satu set
segmentasi disebut satu level data.
Kombinasi parameter meliputi scale parameter 50,40,30,25,20,10,dan5
dengan
kombinasi segmentasi lainnya. Dari setiap level data menghasilkan segmentasi
yang berbeda-beda. Perbedaan segmentasi ini memang diperlukan untuk
mengidentifikasi objek sesuai karakteristiknya.
Pendekatan yang dilakukan adalah berdasarkan pada pengelompokkan
citra menjadi suatu daerah-daerah/region yang memiliki kesamaan berdasarkan
pada suatu kriteria yang telah ditentukan sebelumnya. Contoh dari penerapan
properti ini didapat pada metode segmentation (segmentasi), region marging,
refining (penentuan threshold), dan example-based classification.

Gambar 2.4 Citra Landsat


Sumber : (Nurwita Mustika.S dan Dony Kushardono, 2014)

14
Gambar 2.5 Hasil Citra Segmentasi
(Nurwita Mustika.S dan Dony Kushardono, 2014)

2.5 Uji Akurasi Hasil Segmentasi


Uji ketelitian terhadap hasil interpretasi dilakukan dengan bantuan
confussion matriks. Pada dasarnya uji ketelitian dilakukan setelah melakukan
survei atau kerja lapangan. Hasil klasifikasi perlu dilakukan pengujian agar
menghasilkan data yang dapat diterima dengan tingkat akurasi tertentu.
Ketelitian adalah ketepatan dan keakuratan peta dalam pendeteksian dan
pengidentifikasian suatu objek. Perhitungan ketelitian klasifikasi peta tutupan
lahan dilakukan dengan menghitung nilai kappa dari matriks konfusi dengan
dengan menggunakan data inspeksi lapangan (ground truth) sebagai referensi
validasi. Adapun perancangan matriks konfusi adalah dengan cara membuat
tabulasi silang (crosstab) antara data hasil interpretasi (data peta tutupan lahan)
dengan data sebenarnya (data inspeksi lapangan). Nilai kappa adalah nilai tingkat
ketelitian dari suatu klasifikasi.
Ketelitian hasil klasifikasi =
Jumlah diagonal utama matrik kesalahan
x 100
Jumlah keseluruhan data

(2.2)
Untuk mendapatkan matriks kesalahan, sampel titik dipilih dari peta
penggunaan lahan interpretasi untuk dibandingkan dengan data kebenaran
lapangan dalam rangka menghemat pengecekan setiap titik. Uji ketelitian

15
dilakukan dengan cara menilai jumlah piksel hasil klasifikasi yang sama dengan
data cek lapangan. Hasil ketelitian diterima jika piksel terklasifikasi memenuhi
ketelitian minimal 85 % (Short, 1982).

2.6 Sistem Informasi Geografis

Menurut Stanley Aronoff Sistem Informasi Geografis adalah sistem yang


berbasiskan komputer yang digunakan untuk menyimpan dan memanipulasi
informasi-informasi geografi. Sistem Informasi Geografis dirancang untuk
mengumpulkan, menyimpan, dan menganalisis objek-objek dan fenomena di
mana lokasi geografi merupakan karakteristik yang penting atau krisis untuk
dianalisa. Dengan demikian, SIG merupakan sistem komputer yang memiliki
empat kemampuan berikut dalam menangani data yang bereferensi geografi
(Prahasta, 2009):
a. Masukkan data,
b. Manajemen data (penyimpanan dan pemanggilan data),
c. Analisis dan manipulasi data,
d. Keluaran data.
SIG mampu melakukan analisis-analisis terhadap dunia nyata dengan
berbasiskan data spasial.

2.6.1 Komponen Sistem Informasi Geografis


SIG merupakan sistem kompleks yang terintegrasi dengan sistem-sistem
komputer lain di tingkat fungsional dan jaringan. Sistem SIG terdiri dari
beberapa komponen berikut.
1. Perangkat keras
Perangkat keras yang mendukung analisis geografis dan pemetaan,
sebenarnya tidak jauh berbeda dengan perangkat keras lainnya yang
digunakan untuk mendukung aplikasi-aplikasi bisnis dan sains.
Perbedaannya, jika ada, terletak pada kecenderungan yang
memerlukan perangkat (tambahan) yang dapat mendukung presentasi
grafik dengan resolusi dan kecepatan yang tinggi serta mendukung
operasi basis data yang cepat dengan volume data yang besar.
Perangkat keras SIG memiliki pengertian perangkat-perangkat fisik
yang digunakan oleh sistem komputer. Komponen dasar perangkat

16
keras SIG dapat dikelompokkan sesuai dengan fungsinya antara lain
adalah :
a. Peralatan pemasukan data , misalnya papan digitasi (digitazer),
penyiam (scanner) , keyboard, disket dan lain-lain.
b. Peralatan menyimpan dan pengolahan data yaitu komputer dan
perlengkapannya seperti monitor, papan ketik (keyboard), unit
pusat pengolahan (CPU-Control Processing Unit), cakram
keras (hard disk), floppy disk.
c. Peralatan untuk mencetak hasil seperti printer dan plotter.

Gambar 2.6 Perangkat Keras


Sumber : (Purwadhi, 1997)
2. Perangkat Lunak
SIG juga merupakan sistem perangkat lunak yang tersusun secara
modular dimana basis data memegang peranan kunci. Setiap sub-
sistem diimplementasikan dengan menggunakan perangkat lunak yang
terdiri dari beberapa modul, hingga tidak mengherankan jika ada
perangkat SIG yang terdiri dari ratusan modul program (*.exe) yang
masing-masing dapat dieksekusi sendiri.
3. Data dan Informasi Geografi
SIG dapat mengumpulkan dan menyimpan data serta informasi
yang diperlukan baik secara tidak langsung dengan cara mengimport
dari perangkat-perangkat lunak SIG yang lain maupun secara langsung
dengan mendigitasi data spasialnya dari peta dan memasukkan data
atributnya dari tabel-tabel dan laporan.

17
Gambar 2.7 Data dan Informasi Geografis
Sumber : (Purwadhi, 1997)

4. Manajemen
Proyek SIG akan baik ditangani oleh orang yang memiliki keahlian
yang tepat pada semua tingkatan. Susunan keahlian kemampuan
pengelola SIG sangat penting untuk menjalankan fungsi SIG. Biasanya
organisasi pengelola ini menyebar dari grup yang mengelola hal-hal
berkait dengan manajemen dan yang berkaitan dengan teknis. Secara
sederhana keahlian yang penting dalam suatu SIG adalah manajer, ahli
database, kartografi, manajer sistem, programmer dan teknisi untuk
pemasukan dan pengeluaran data.

Gambar 2.8 Masukan dan Pengeluaran Data


Sumber : (Purwadhi, 1997)

2.6.2 Cara Kerja SIG


SIG merupakan representasi dari dunia nyata di atas monitor komputer
sebagaimana lembaran peta dapat mempresentasikan dunia nyata di atas kertas.
Tetapi SIG memiliki keakuratan lebih dan fleksibilitas daripada lembaran kertas.
Peta merupakan gambaran dua dimensi dari dunia nyata, objek-objek yang
dipresentasikan di atas peta disebut unsur peta atau map features (contohnya

18
adalah sungai, taman, kebun, jalan, dan lain-lain). Karena peta mengorganisasikan
unsur-unsur berdasarkan lokasi-lokasinya, peta sangat baik dalam memperlihatkan
hubungan atau relasi yang dimiliki oleh unsur-unsurnya.

2.6.3 Aplikasi SIG


Dengan memperhatikan pengertian, definisi-definisi dan cara kerja, maka
SIG mampu:
1. Pertanyaan Konseptual (queries)
Pertanyaan konseptual yang dapat dilakukan oleh SIG antara lain :
- Mencari keterangan (atribut-atribut) mengenai unsur peta yang
terdapat pada lokasi tertentu atau posisi-posisinya ditentukan.
- Mengidentifikasi unsur peta yang deskripsinya (salah satu atau lebih
atributnya) ditentukan. SIG dapat menentukan lokasi yang memenuhi
beberapa syarat atau kriteria sekaligus.
- Melakukan analisis kecenderungan perubahan atau trend spasial
maupun atribut dari berbagai unsur-unsur peta.
2. Fungsi Analisis Spasial
a. Klasifikasi (reclassify)
Fungsi ini mengklasifikasikan kembali suatu data spasial (atau
atribut) menjadi data spasial yang baru dengan menggunakan kriteria
tertentu. Contohnya adalah pengkalsifikasi ketinggian permukaan bumi
menjadi kriteria kemiringan tertentu.

A B
Gambar 2.9 Klasifikasi
Sumber : (Cahyono,Agung,B. 2013)
b. Network (Jaringan)
Fungsi ini merujuk data spasial titik-titik (point) atau garis-garis
(lines) sebagai suatu jaringan yang tidak terpisahkan. Fungsi-fungsi ini
sering digunakan di dalam bidang transportasi dan utility (misalnya
jaringan kabel, jaringan pipa, dan lain-lain). Salah satu aplikasi fungsi
network adalah perhitungan jarak terdekat dua titik.

19
A B
Gambar 2.10 Jaringan (Network)
Sumber : (Cahyono,Agung,B. 2013)
c. Overlay
Fungsi ini menghasilkan data spasial baru dari minimal dua data
spasial yang terjadi masukannya. Sebagai contoh, untuk
menghasilkan wilayah-wilayah untuk budidaya tanaman data
ketinggian, kadar air tanah, dan jenis tanah.

Gambar 2.11 Overlay


Sumber : (Cahyono,Agung,B. 2013)

d. Buffering
Fungsi ini menghasilkan data spasial baru yang berbentuk poligon
atau zona dengan jarak tertentu dari data spasial yang menjadi
masukkannya. Data spasial masukan tersebut akan menjadi pusat
dari zona baru yang terbentuk.
e. 3D Analysis
Fungsi ini terdiri dari sub-sub fungsi yang berhubungan dengan
presentasi data spasial dalam ruang 3 dimensi. Fungsi analisis
spasial ini banyak menggunakan fungsi interpolasi.

20
Gambar 2.12 3D Analysis
Sumber : (Cahyono,Agung,B. 2013)

f. Digital Image Processing


Fungsi ini dimiliki oleh perangkat SIG yang berbasiskan raster.
Karena data spasial permukaan bumi banyak didapat dari
perekaman data satelit yang berformat raster.

2.6.4 Klasifikasi (Reclassify)


Fungsi ini melakukan klasifikasi unsur-unsur suatu data menjadi beberapa
bagian sesuai dengan kelas-kelas yang telah ditentukan. Sebagai contoh,
kemiringan tanah dalam rentang 1-100% dapat diklasifikasi menjadi 4 (empat)
yaitu : datar (0-15%)
Pada model data raster, klasifikasi akan melakukan pengklasifikasian data
raster (yang pada umumnya berdomain bilangan real) ke dalam data raster lainnya
(pada umumnya berdomain bilangan bulat sederhana) berdasarkan batas-batas
kelas yang ditentukan oleh pengguna. Perubahan keanggotaan kelas atau
kelompok piksel-pikelnya akan secara langsung mengubah kenampakan unsur-
unsur spasialnya.

2.6.5 Overlay
Overlay merupakan salah satu aplikasi analisis berbasiskan Sistem
Informasi Geografis. Overlay adalah analisis spasial yang mengombinasikan dua
layer tematik yang menjadi masukannya. Dengan menggunakan metode overlay,
kedua layer yang digabungkan akan menghasilkan layer baru berdasarkan
informasi masukannya. Secara umum, teknis mengenai analisis ini terbagi ke
dalam format datanya.

21
1. Overlay Raster
Dalam terminologi data raster, fungsi analisis spasial overlay
diwujudkan dalam bentuk pemberlakuan beberapa operator aritmatika
yang mencakup kebanyakan kasus di mana dua masukan citra digital
unutk menghasilkan citra digital lainnya.
2. Overlay Vektor
Pada format ini, terdapat beberapa fungsi analisis yaitu :
a. Intersect
Fungsi intersect akan menghasilkan unsur spasial yang baru yang
merupakan irisan dari unsur-unsur spasial masukannya. Atribut
dari unsur-unsur spasial yang beririsan akan digabungkan ke dalam
unsur spasial baru yang dihasilkan.

Input Theme Intersect Theme Output Theme

Gambar 2.13 Intersect


Sumber : (Cahyono,Agung,B. 2013)

b. Union
Fungsi analisis digunakan untuk menggabungkan beberapa unsur
spasial masukannya menjadi salah satu unsur saja.

Input Theme Intersect Theme Output Theme

22
Gambar 2.14 Union
Sumber : (Cahyono,Agung,B. 2013)

c. Spatial join
Fungsi ini akan menggabungkan atribut-atribut unsur spasial yang
berada pada lokasi atau koordinat yang sama dalam satu referensi
koordinat.

Gambar 2.15 Spatial Join


Sumber : (Cahyono,Agung,B. 2013)
d. Subtract
Fungsi ini akan menghilangkan atau menghapus unsur-unsur
spasial yang beririsan (overlap) satu sama lain diantara dua unsur
spasial.

2.7 Sistem Basis Data dalam SIG


Basis data adalah kumpulan data-data (file) non redundant yang saling
terkait satu dengan yang lainnya (dinyatakan oleh atribut-atribut kunci dari tabel-
tabelnya atau struktur data dan relasi-relasi dalam mebentuk bangunan informasi
yang penting. Sehingga sistem basis data merupakan kumpulan data dan informasi
yang disimpan secara terorganisir dan terintegrasi sehungga mudah digunakan
oleh pengguna dan efisien penyimpanan. Pengguna data akan berhubungan
dengan basis data melalui suatu sistem yang disebut Database Management
System (DBMS).

23
Gambar 2.16 Kosep Basis Data
Sumber : (Raharja.ac.id)

2.7.1 Data Base Management System


Data Base Management System merupakan sebuah perangkat lunak yang
memperbolehkan user untuk mendifinisikan, membuat, memelihara, dan
mengendalikan akses terhadap sebuah basis data (Cannolly dab Begg, 2005:16).

Gambar 2.17 Data base management system


Sumber : (http://dwitanollasafira.blogspot.co.id)

2.7.2 Fasilitas Data Base Management System


Adapun fasilitas yang diberikan Data Base Management System (DBMS)
adalah sebagai berikut (Conolly dan Beg, 2005:16-17) :
a. Pendefinisan suatu basis data menggunakan Data Definition Language
(DDL).

24
b. Penambahan, pengubahan, penghapusan, serta pengambilan data dari basis
data menggunakan Data Manipulation Language (DML).
c. Penyediaan akses yang terkontrol ke basis data, contohnya dapat
memberikan:
1) Sistem keamanan (security system), mencegah pengguna yang
tidak berhak mengakses basis data.
2) Sistem integritas (intergrity system), memelihara konsistensi data
yang disimpan.
3) Sistem kontrol akses yang bersamaan (concurrency control
system), megijinkan akses basis data secara bersamaan.
4) Sistem kontrol perbaikan (recovery control system),
mengembalikan basis data ke kondisi konsisten yang sebelumnya
setelah terjadi kegagalan perangkat keras atau perangkat lunak.
5) Katalog pengguna (user-accessible catalog), berisi deskripsi data
dalam basis data.

2.7.3 Komponen Data Base Management System


Data Base Management System mempunyai beberapa komponen utama
antara lain (Connolly dan Begg, 2005:18-21):
a. Perangkat keras (hardware)
Untuk menjalankan sebuah DBMS dan aplikasi-aplikasi,
membutuhkan perangkat keras.Perangkat keras dapat berupa
komputer pribadi, mainframe tunggal, sampai jaringan komputer.
b. Perangkat lunak (software)
Komponen perangkat lunak mengandung perangkat lunak DBMS itu
sendiri dan program aplikasi, bersama dengan sistem oprasi, termasuk
perangkat lunak jaringan jika DBMS digunakan melalui jaringan.
c. Data
Komponen paling penting dari DBMS yaitu data. Data bertindak
sebagai jembatan antara komponen mesin dan komponen manusia.
Basisdata terdiri dari data operasional meta- data, data mengenai data
sendiri.Struktur basisdata ini disebut skema.
d. Prosedur
Prosedur menunjuk pada instruksi dan aturan yang mempengaruhi
desain dan kegunaan basisdata. Penggunaan sistem dan staf yang

25
mengatur basisdata membutuhkan prosedur yang didokumentasikan
mengenai bagaimana menggunakan atau menjalankan sistem.
e. Pengguna
Komponen terakhir adalah pengguna yang dilibatkan dalam sistem.

26