Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN

CHEPALOPELVIK DISPROPORSI (CPD)


DI RUANG MAWAR RSUD DR. H. SOEWONDO KENDAL

Disusun Oleh :
RIZKA AKMALA
15.0303.N

PROGRAM STUDI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH
PEKAJANGAN
2015
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Laporan American College of Obstretician and Gynaecologist


(ACOG) menyatakan bahwa seksio sesarea primer terbanyak pada
primigravida dengan fetus tunggal, presentasi vertex, tanpa komplikasi.
Indikasi primigravida tersebut untuk seksio sesarea adalah presentasi
bokong, preeklampsi, distosia, fetal distress, dan elektif. Distosia
merupakan indikasi terbanyak untuk seksio sesareapada primigravida
sebesar 66,7%. Data dariReproductive Health Librarymenyatakan terdapat
180 sampai 200 juta kehamilan setiap tahun. Dari angka tersebut terjadi
585.000 kematian maternal akibat komplikasi kehamilan dan persalinan.
Sebab kematian tersebut adalah perdarahan 24,8%, infeksi dan sepsis
14,9%, hipertensi dan preeklampsi/eklampsi 12,9%, persalinan macet
(distosia) 6,9%, abortus 12,9%, dan sebab langsung yang lain 7,9%.Seksio
sesarea di Amerika Serikat dilaporkan meningkat setiap tahunnya, Pada
tahun 2002 terdapat 27,6 % seksio sesarea dari seluruh proses kelahiran.
Dari angka tersebut, 19,1% merupakan seksio sesarea primer. Angka ini
menunjukkan peningkatan dibandingkan penelitian Gregory dkk pada
1985 dan 1994 masing-masing 49,7% dan 51,4% distosia menyebabkan
seksio sesarea.

Distosia adalah persalinan yang abnormal atau sulit dan ditandai


dengan terlalu lambatnya kemajuan persalinan. Kelainan persalinan ini
menurut ACOG dibagi menjadi 3 yaitu kelainan kekuatan (power),
kelainan janin (passenger), dan kelainan jalan lahir (passage). Panggul
sempit (pelvic contaction) merupakan salah satukelainan jalan lahir yang
akan menghambat kemajuan persalinan karena ketidaksesuaian antara
ukuran kepala janin dengan panggul ibu yang biasa disebut dengan
disproporsi sefalopelvik. Istilah disproporsi sefalopelvik muncul pada
masa dimana indikasi utama seksio sesarea adalah panggul sempit yang
disebabkan oleh rakhitis. Disproporsi sefalopelvik sejati seperti itu
sekarang sudah jarang ditemukan, umumnya disebabkan oleh janin yang
besar.

Berdasarkan uraian di atas maka kami perlu menguraikan


permasalahan dan penatalaksanaan pada disproporsi sefalopelvik sebagai
salah satu penyebab distosia penting dimiliki oleh dokter.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Menganalisa hubungan antara beberapa faktor risiko terhadap
terjadinya ChepaloPelvik Disproporsipada saat kehamilan
2. Tujuan Khusus
a. Mengukur besar risiko faktor umur ibu hamil terhadap terjadinya
ChepaloPelvik Disproporsi.
b. Mengukur besar risiko paritas terhadap terjadinya ChepaloPelvik
Disproporsi.
c. Mengukur besar risiko jarak kehamilan terhadap terjadinya
ChepaloPelvik Disproporsi.
d. Mengukur besar risiko kehamilan ganda terhadap terjadinya
ChepaloPelvik Disproporsi

C. Manfaat
1. Bagi Rumah Sakit
Sebagai bahan masukan atau informasi bagi perawat, maupun
tenaga kesehatan lainnya dalam menangani kasus khususnya yang
berkaitan dengan ChepaloPelvik Disproporsi.

2. Bagi institusi pedidikan


Sebagai acuan yang diharapkan dapat bermanfaat dalam
pengembangan institusi dan penulisan asuhan keperawatan pada
ChepaloPelvik Disproporsi.
3. Bagi penulis
Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan serta tambahan
pengalaman yang sangat berharga dalam penerapan manajemen
asuhan keperawatan, khususnya pada kasus ChepaloPelvik
Disproporsi.

BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Pengertian
1. Definisi
Disproporsi sefalopelvik adalah keadaan yang menggambarkan
ketidaksesuaian antara kepala janin dan panggul ibu sehingga janin
tidak dapat keluar melalui vagina.
2. Klasifikasi Bentuk Panggul
Panggul terdiri dari empat jenis,yaitu:
a. Ginekoid
Jenis panggul ideal yang dimiliki oleh sekitar 45% perempuan.
Bentuk pintu atas panggulnya hampir bulat, melintang kiri dan
kanan mirip lingkaran, sementara dinding sampingnya lurus.
b. Android
Hanya 15% perempuan yang memiliki panggul jenis ini. Bentuk
pintu atasnya menyerupai segitiga. Dinding samping panggul
membentuk sudut yang semakin menyempit ke bawah.
c. Antropoid
Bentuknya lonjong seperti telur ke arah depan. Dinding samping
panggul berbentuk lurus. Wanita yang memiliki jenis panggul ini
diperkirakan mencapai 35%.
d. Platipelloid
Bentuk pintu atas panggul seperti kacang atau ginjal. Dinding
samping panggul membentuk sudut yang makin lebar ke arah
bawah. Ada 5% perempuan yang memilikinya.

3. Persangkaan Panggul sempit


Seorang harus ingat akan kemungkinan panggul sempit kalau :
a. Aprimipara kepala anak belum turun setelah minggu ke 36
b. Pada primipara ada perut menggantung
c. Pada multipara persalinan yang dulu dulu sulit
d. Kelainan letak pada hamil tua
e. Kelainan bentuk badan (Cebol, scoliose,pincang dan lain-lain)

B. Etiologi
1. Tinggi badan < 145 cm
2. Kesempitan panggul dibagi sebagai berikut :
a. Kesempitan pada pintu atas panggul ( PAP )
Pintu atas panggul dianggap sempit apabila Konjugata Vena
kurang dari 10 cm atau diameter transversa urang dari 12 cm.
b. Kesempitan panggul tengah
Pengukuran yang pasti dengan pelvimetri rontgenologik. Yang
diukur adalah Distansia Interspinarum. Apabila ukuran ini kurang
dari 9,5 cm, perlu kita waspada, apalagi bila diameter Sagiblis
Osterior pendek pula.
c. Kesempitan pintu bawah panggul
Pintu bawah panggul tidak merupakan bidang yang datar, terdiri
dari atas segitiga depan dan segitiga belakang yang mempunyai
dasar yang sama yakni distansia tuberum. Apabila ukuran yang
terakhir ini lebih kecil dariada biasa maka sudut arkus publis
mengecil pula ( < dari 80O ). Agar supaya dalam hal ini kepala
janin dapat lahir diperlukan ruangan yang lebih besar pada bagian
belakang pintu bawah panggul. Dengan diameter segitalis
posterior yang cukup panjang persalinan pevaginaan dapat
dilaksanakan, walaupun dengan perlukaan luas pada perineum.
3. Janin yang besar
Normal berat neonatus pada umumnya 4000gram dan jarang ada yang
melebihi 5000gram. Berat badan neonatus lebih dari 4000gram
dinamakan bayi besar.

4. Trauma
Kecelakaan yang langsung mengenai daerah panggul dan
mengakibatkan trauma bisa mengakibatkan kelainan bentuk pada
panggul. Misal patah tulang yang penyembuhannya tidak sempurna
dan mengakibatkan tidak samanya antara tungkai yang satu dengan
lainnya. Hal ini juga dapat memengaruhi pertumbuhan tulang panggul,
misalnya menjadi miring.
5. Kelainan bentuk panggul
a. Kelainan karena gangguan pertumbuhan intrauterine: panggul
Naegele, panggul Robert, split pelvis, panggul asimilasi.
b. Kelainan karena kelainan tulang dan/ sendi: rakitis, osteomalasia,
neoplasma, fraktur, atrofi, nekrosis, penyakit pada sendi
sakroiliaka dan sendi sakrokoksigea.
c. Kelainan panggul karena kelainan tulang belakang: kifosis,
skoliosis, spondilolistesis.
d. Kelainan panggul karena kelainan pada kaki: koksitis, luksasio
koksa, atrofi atau kelumpuhan satu kaki.

C. Manifestasi Klinis
Menentukan adanya CPD dengan menemukan tanda dari CPD,
melakukan pemeriksaan:
1. Pemeriksaan abdominal:
a. Ukuran anak besar.
b. Kepala anak menonjol di simphisis pubis.
2. Pemeriksaan pelvis
a. Servik mengecil setelah pemecahan ketuban
b. Oedem servik
c. Penempatan kepala tidak baik lagi di servik
d. Kepala belum masuk pintu atas panggul
e. Ditemukan kaput
f. Ditemukan molage
g. Ditemukan kepala defleksi
h. Ibu ingin mengedan sebelum pembukaan lengkap.

D. Pathway
Terlampir

E. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Secara Klinis.
Teknisnya dokter akan memasukkan dua jarinya (jari telunjuk dan
tengah) ke jalan lahir hingga menyentuh bagian tulang
belakang/promontorium. Setelah itu, dokter akan menghitung jarak
dari tulang kemaluan hingga promontorium untuk mengetahui ukuran
pintu atas panggul dan pintu tengah panggul. Jarak minimal antara
tulang kemaluan dengan promontorium adalah 11 cm. Panggul tengah
di ukur dengan cara memeriksa spina ischiadika atau tonjolan tulang
panggul yang teraba menonjol atau tidak, dan sudut tulang kemaluan
lebih dari 90 derajat dan intertuberosum lebih dari 8 cm untuk
mengetahui panggul bawah luas.
2. Pemeriksaan Radiologi/ rontgen.
Dilakukan dengan cara memotret panggul ibu, menggunakan alat
rontgen. Hasil foto kemudian dianalisa untuk mengetahui ukuran
panggul. Mulai dari pintu atas panggul, pintu tengah panggul, dan
pintu bawah panggul.
Dalam Obstetri yang terpenting bukan panggul sempit secara anatomis
melainkan panggul sempit secara fungsional artinya perbandingan antara
kepala dan panggul. Kondisi panggul sempit dikenal pula dengan sebutan
Cephalopelvic Disproportion (CPD). Berdasarkan data American College
of Nurse Midwives (ACNM), CPD ditemukan pada 1 dari 250 kehamilan.
CPD terjadi jika kepala bayi atau ukuran tubuh bayi lebih besar daripada
luas panggul ibu. Sehingga dalam proses persalinan, bayi tidak mungkin
dapat melewati panggul ibu, Jika telah diketahui adanya kondisi CPD,
maka jalan paling aman untuk melahirkan adalah melalui bedah cesar.

F. Penatalaksanaan
1. Sectio Sesarea
Seksio sesarea efektif dilakukan pada kesempitan panggul berat
dengan kehamilan aterm, atau disproporsi sephalopelvik yang nyata.
Seksio juga dapat dilakukan pada kesempitan panggul ringan apabila
ada komplikasi seperti primigravida tua dan kelainan letak janin yang
tak dapat diperbaiki.
Seksio sesarea sekunder (sesudah persalinan selama beberapa waktu)
dilakukan karena peralinan perobaan dianggap gagal atau ada indikasi
untuk menyelesaikan persalinan selekas mungkin sedangkan syarat
persalinan per vaginam belum dipenuhi.
2. Persalinan percobaan
Setelah dilakukan penilaian ukuran panggul serta hubungan antara
kepala janin dan panggul dapat diperkirakan bahwa persalinan dapat
berlangsung per vaginan dengan selamat dapat dilakukan persalinan
percobaan. Cara ini merupakan tes terhadap kekuatan his, daya
akomodasi, termasuk moulage karena faktor tersebut tidak dapar
diketahui sebelum persalinan.
Persalinan percobaan hanya dilakukan pada letak belakang kepala,
tidak bisa pada letak sungsang, letak dahi, letak muka, atau kelainan
letak lainnya. Ketentuan lainnya adalah umur keamilan tidak boleh
lebih dari 42 mingu karena kepala janin bertambah besar sehingga
sukar terjadi moulage dan ada kemungkinan disfungsi plasenta janin
yang akan menjadi penyulit persalinan percobaan.
Pada janin yang besar kesulitan dalam melahirkan bahu tidak akan
selalu dapat diduga sebelumnya. Apabila dalam proses kelahiran
kepala bayi sudah keluar sedangkan dalam melahirkan bahu sulit,
sebaiknya dilakukan episiotomy medioateral yang cukup luas,
kemudian hidung dan mulut janin dibersihkan, kepala ditarik curam
kebawah dengan hati-hati dan tentunya dengan kekuatan terukur. Bila
hal tersebut tidak berhasil, dapat dilakukan pemutaran badan bayi di
dalam rongga panggul, sehingga menjadi bahu depan dimana
sebelumnya merupakan bahu belakang dan lahir dibawah simfisis.
Bila cara tersebut masih juga belum berhasil, penolong memasukkan
tangannya kedalam vagina, dan berusaha melahirkan janin dengan
menggerakkan dimuka dadanya. Untuk melahirkan lengan kiri,
penolong menggunakan tangan kanannya, dan sebaliknya. Kemudian
bahu depan diputar ke diameter miring dari panggul untuk melahirkan
bahu depan.
Keberhasilan persalinan percobaan adalah anak dapat lahir spontan
per vaginam atau dibantu ekstraksi dengan keadaan ibu dan anak baik.
Persalinan percobaan dihentikan apabila pembukaan tidak atau kurang
sekali kemajuannnya, keadaan ibu atau anak kurang baik, ada
lingkaran bandl, setelah pembukaan lengkap dan ketuban pecah
kepala tidak masuk PAP dalam 2 jam meskipun his baik, serta pada
forceps yang gagal. Pada keadaan ini dilakukan seksio sesarea.
Mengenai penanganan khusus pada persalinan percobaan perlu
diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a. Perlu diadakan pengawasan yang seksama terhadap keadaan ibu
dan janin
b. Kualitas dan turunnya kepala janin dalam rongga panggul harus
terus diawasi
c. Sebelum ketuban pecah, kepala janin pada umumnya tidak dapat
masuk ke dalam rongga panggul dengan sempurna, namun pada
CPD ketuban tidak jarang pecah pada permulaan persalinan.
d. Masalah yang penting menentukan berapa lama partus percobaan
boleh berlangsung.

3. Simfisiotomi
Simfisotomi ialah tindakan untuk memisahkan tulang panggul kiri
dari tulang panggul kanan pada simfisis agar rongga panggul menjadi
lebih luas. Tindakan ini tidak banyak lagi dilakukan karena terdesak
oleh seksio sesarea. Satu-satunya indikasi ialah apabila pada panggul
sempit dengan janin masih hidup terdapat infeksi intrapartum berat,
sehingga seksio sesarea dianggap terlalu berbahaya.
4. Kraniotomi
Pada persalinan yang dibiarkan berlarut-berlarut dan dengan janin
sudah meninggal, sebaiknya persalina diselesaikan dengan kraniotomi
dan kranioklasi. Hanya jika panggul demikian sempitnya sehingga
janin tidak dapat dilahirkan dengan kraniotomi, terpaksa dilakukan
seksio sesarea.
G. Komplikasi
1. Akan timbul ruptura uteri

H. Pengkajian
a. Data Subjektif
1) Biodata
b. Riwayat kehamilan sekarang
1) HPHT
2) Gerak janin
3) Tanda bahaya
4) Keluhan umum
5) kecemasan
c. Riwayat kehamilan persalinan yang lalu
1) Jumlah kehamilan (GPA)
2) Jumlah anak hidup
3) Jumlah kelahiran prematur
4) Jumlah keguguran
5) Jumlah persalinan dengan tindakan
6) Riwayat perdarahan
7) Riwayat kehamilan dengan hipertensi
8) Berat badan bayi lahir
d. Riwayat kesehatan/ penyakit yang diderita sekarang/ yang lalu
1) Masalah kardiovaskuler
2) Hipertensi
3) DM
4) dll
e. Riwayat KB
I. Diagnosa keperawatan
a. Ansietas b.d pengalaman pembedahan dan hasil tidak dapat
diperkirakan
b. Nyeri akut b.d insisi, flatus dan mobilitas
c. Resti infeksi b.d destruksi pertahanan terhadap bakteri
d. Resti perubahan nutrisi b.d peningkatan kebutuhan untuk
penyembuhan luka, penurunan masukan ( sekunder akibat nyeri,
mual, muntah )
e. Resiko konstipasi b.d penurunan peristaltik usus
f. Menyusui tidak efektif b.d kurang pengetahuan perawatan
payudara

J. Intervensi keperawatan
a. Ansietas b.d pengalaman pembedahan dan hasil tidak dapat
diperkirakan
Tujuan: setelah dilakukan pemberian informasi tentang operasi
selama 1x24 jam diharapkan ansietas berkurang
Kriteria Hasil:
1) Tidak menunjukkan traumatik pada saat membicarakan
pembedahan
2) Tidak tampak gelisah
3) Tidak merasa takut untuk dilakukan pembedahan yang sama
4) Pasien merasa tenang
Intervensi:
1) Lakukan pendekatan diri pada pasien supaya pasien merasa
nyaman
R: memberikan rasa percaya pada klien
2) Yakinkan bahwa pembedahan merupakan jalan terbaik yang
harus ditempuh untuk menyelamatkan bayi dan ibu
3) Rasa nyaman akan menumbuhkan rasa tenang, tidak cemas
serta kepercayaan pada perawat.

b. Nyeri akut b.d insisi, flatus dan mobilitas


Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24jam
diharapkan nyeri dapat berkurang
Kriteria hasil:
Pasien tidak mengeluh nyeri / mengatakan bahwa nyeri sudah
berkurang
Intervensi:
1) Lakukan pengkajian nyeri
R: untuk mengetahui kualitas dan kuantitas nyeri
2) Ajarkan management nyeri
R: mengurangi nyeri
3) Berikan posisi yang nyaman
R: memberikan kenyamanan pada klien
4) Kolaborasi pemberian analgesik
R: menurunkan nyeri

c. Resti infeksi b.d destruksi pertahanan terhadap bakteri


Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam
infeksi tidak terjadi.
Kriteria Hasil:
1) Menunjukkan kondisi luka yang jauh dari kategori infeksi
2) Albumin dalam keadaan normal
3) Suhu tubuh pasien dalam keadaan normal, tidak demam
Intervensi:
1) Berikan penkes untuk menjaga daya tahan tubuh, kebersihan
luka, serta tanda-tanda infeksi dini pada luka
R: pengetahuan dapat mengurangi kejadian infeksi
2) Monitor TTV
R: peningkatan sushu, kemungkinan terjadi infeksi
3) Berikan perawatan luka yang steril
R: mempercepat penyembuhan luka
4) Jaga agar luka tetap kering
R: luka yang lembab dapat menjadi tempat tumbuhnya
bakteri

d. Resti perubahan nutrisi b.d peningkatan kebutuhan untuk


penyembuhan luka, penurunan masukan ( sekunder akibat nyeri,
mual, muntah )
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam
diharapkan nutrisi klien tercukupi
Kriteria Hasil:
1) BB klien normal
2) Mual muntah berkurang atau sudah tidak mual muntah

Intervensi:

1) Kaji status nutrisi secara continue selama perawatan tiap hari


2) Perhatikan tingkat energi, kondisi, kulit, kuku, rambut,
rongga mulut
3) Tekankan pentingnya trasnsisi pada pemberian makan per
oral dengan tepat
4) Beri waktu mengunyah, menelan, beri sosialisasi dan bantuan
makan sesuai dengan indikasi
5) Kolaborasi dengan ahli gizi
e. Resiko konstipasi b.d penurunan peristaltik usus
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam
diharapkan konstipasi tidak terjadi
Kriteria hasil: klien mengatakan BAB lancar, perut tidak
kembung
Intervensi:
1) Anjurkan klien untuk melakukan mobilisasi ke kanan dan ke
kiri setiap 10 menit secara bergantian
R: mobilisasi dapat merangsang kerja peristaltik
2) Anjurkan pada klien jika kondisi nya sudah kuat untuk
mencoba berjalan disekitar ruangan
R: dapat merangsang kerja peristaltik
3) Anjurkan untuk banyak minum air putih
4) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk diet tinggi serat

f. Menyusui tidak efektif b.d kurang pengetahuan perawatan


payudara
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam
diharapkan klien dapat menyusui secara efektif
Kriteria hasil: klien dapat menyusui bayinya
Intervensi:
1) Ajarkan perawatan payudara
2) Ajarkan posisi yang benar saat menyusui

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda juall. 2000. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Ed 8.


Jakarta:EGC
Doengoes, Marylinn E. 2001. Rencana Keperawatan Maternal/Bayi: Pedoman
Untuk Perencanaan dan Dokumentasian Perawatan Klien. Jakarta:
EGC
Mansjoer, Arif. 1999. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: EGC
Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri Jilid 1. Ed 2. Jakarta: EGC