Anda di halaman 1dari 16

TRANSPORTASI KERING TERTUTUP PADA PENGANGKUTAN

BENIH LELE DUMBO (Clarias gariepinus)

Disusun sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas mata kuliah
Teknologi Pembenihan Ikan semester genap

Disusun oleh :

Tuhpatur Rohmah 230110140068


Asri Astuti 230110140072
Shinta Siti Fatimah 230110140079
Jian Setiawan 230110150090
Ayunani Agustina 230110150095
Darajat Prasetya Witantra 230110150098
Gilang Fajar R 230110150127

Kelas:
Perikanan B/ Kelompok 3

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI PERIKANAN
JATINANGOR

2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT, sehingga penyusun


dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul Transportasi Kering Tertutup
pada Pengangkutan Benih Lele Dumbo (Clarias gariepinus). Tujuan penulisan
ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Teknologi Pembenihan Ikan.
Pada kesempatan ini penyusun tidak lupa mengucapkan terima kasih
kepada :
1. Dosen mata kuliah Teknologi Pembenihan Ikan yang telah membina
dalam pembuatan makalah ini;
2. Seluruh anggota kelompok 3 yang telah mengerjakan makalah ini;
3. Pihak-pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu yang telah mendukung
dalam membuat makalah ini.
Demikianlah harapan penyusun, semoga makalah ini dapat bermanfaat
bagi penyusun dan juga pembaca tentunya. Kritik dan saran yang membangun
dari pembaca untuk perbaikan makalah selanjutnya sangat penyusun harapkan.

Jatinangor, April 2017

Penyusun

ii
DAFTAR ISI
Bab Halaman
KATA PENGANTAR ............................................................................... ii
DAFTAR ISI ............................................................................................. iii
I. PENDAHULUAN ...................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang .............................................................................. 1
1.2 Tujuan ........................................................................................... 2

II. TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................ 3


2.1 Transportasi Ikan Hidup ................................................................ 3
2.2 Transportasi Sistem Kering Tertutup ............................................ 4
2.2.1 Pemingsanan (Imotilisasi) ............................................................. 4
2.2.2 Pengemasan ................................................................................... 7
2.3 Transportasi Sistem Kering Tertutup pada Benih Lele Dumbo .... 8
2.3.1 Faktor-Faktor yang Berpengaruh pada Pengangkutan Benih ....... 8
2.3.2 Mekanisme Transportasi Benih Lele Dumbo ............................... 9
2.3.3 Keefektifan Sistem Transportasi Kering Tertutup pada Benih Lele
Dumbo ......................................................................................... 10

III. KESIMPULAN ........................................................................................ 11


DAFTAR PUSTAKA .............................................................................. 12

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia memiliki perairan tawar yang sangat potensial untuk usaha
perikanan. Data dari Departemen Kelautan dan Perikanan tahun 2004, potensi
pemanfaatan lahan budididaya air tawar (kolam) sebesar 375.000 Ha dan baru
dimanfaatkan sebesar 68.690 Ha atau 18,32%. Luasan tersebut diharapkan terjadi
kenaikan 20% setiap tahun. Target pemanfaatan potensi lahan juga dimaksudkan
sebagai program pengembangan budidaya di pedesaan (rural aquaculture),
dimana program itu bertujuan untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan
pekarangan untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga dan peningkatan
pendapatan melalui pengembangan budidaya ikan konsumsi dan ikan hias (Sukadi
2004).
Salah satu budidaya ikan yang cukup menjanjikan yaitu budidaya ikan lele
dumbo. Budidaya lele dumbo berkembang pesat dikarenakan dapat dibudidayakan
di lahan dan sumber air yang terbatas dengan padat tebar tinggi, teknologi
budidaya relatif mudah dikuasai oleh masyarakat, pemasaranny relatif mudah, dan
modal usaha yang dibutuhkan relatif rendah (Najiyati 1992).
Salah satu faktor penting dalam penyediaan benih ikan lele untuk
memenuhi kebutuhan pembudidaya ikan dan keberhasilan dalam budidaya ikan
lele dumbo adalah transportasi ikan hidup. Transportasi ikan hidup tanpa media
air merupakan sistem pengangkutan ikan hidup dengan media pengangkutan
bukan air karena tidak menggunakan air, ikan dibuat dalam kondisi tenang atau
aktivitas respirasi dan metabolismenya rendah. Kondisi tersebut dapat dicapai
apabila ikan dalam kondisi pingsan (imotil) (Wibowo 1993).
Transportasi ikan hidup pada dasarnya memaksa dan menempatkan ikan
dalam suatu lingkungan yang berlainan dengan lingkungan asalnya disertai
dengan perubahan sifat lingkungan yang mendadak. Ikan hidup yang akan dikirim
dipersyaratkan dalam keadaan sehat dan tidak cacat untuk mengurangi peluang
mati selama pengangkutan (Handisoeparjo 1982). Transportasi ikan hidup terbagi
dua yaitu sistem basah dan sistem kering. Pada transportasi sistem basah, media

1
2

harus sama dengan tempat hidup ikan sebelumnya yaitu air dan oksigen (Wibowo
1993), sedangkan transportasi sistem kering merupakan transportasi yang tidak
menggunakan air sebagai media transportasi, namun demikian bisa membuat
lingkungan atau wadah dalam keadaan lembab.

1.2 Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui cara
penanganan ikan hidup baik pada benih ikan lele selama proses transportasi
sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Transportasi Ikan Hidup


Transportasi ikan hidup pada dasarnya adalah memaksa menempatkan
ikan dalam keadaan lingkungan yang baru yang berbeda atau berlainan dengan
lingkungan asalnya dan perubahan-perubahan sifat lingkungan yang baru serta
mendadak. Ada dua sistem yang digunakan dalam transportasi ikan, yaitu sistem
transportasi basah dan sistem kering (Junianto 2003).
Pada transportasi sistem basah, ikan diangkut dalam wadah tertutup atau
terbuka dengan menggunakan air baik itu air tawar maupun air laut sesuai ikan
yang dibawanya. Pengangkutan atau transsoprtasi dalam wadah tertutup, ikan
diangkut dalam wadah tertutup dan disuplai oksigen secara terbatas sesuai dengan
perhitungan yang dibutuhkan oleh ikan tersebut. Pengangkutan atau transportasi
wadah terbuka, ikan diangkut dengan wadah terbuka dan diberikan suplai oksigen
yang terus menerus dan diberi aerasi selama perjalanan. Transportasi basah
biasanya digunakan untuk transportasi perikanan hidup selama penangkapan yang
akan dimanfaatan untuk dibudidayakan lagi dari tempat satu ke tempat lain
(Jailani 2000)
Transportasi ikan hidup tanpa media air atau biasa disebut sistem kering
meupakan sistem pengangkutan ikan hidup dengan media pengangkut yang bukan
air (Achmadi 2005). Transportasi ikan hidup tanpa media air, ikan dibuat dalam
kondisi tenang atau aktivitas respirasi dan metabolismenya dibuat rendah.
Transportasi kering ini biasanya menggunakan teknik pembiusan pada ikan dan
ikan dipingsankan (imotilisasi) terlebih dahulu sebelum di kemas (Suryaningrum
et al. 2007)
Kesehatan ikan merupakan syarat pengangkutan ikan hidup. Ikan harus
dalam keadaan sehat, kondisinya prima, dan tidak berpenyakit. Ciri-ciri ikan yang
sehat dan bugar biasanya ikan reaktif terhadap rangsangan luar, keseimbangan,
dan kontraksi otot normal. Ikan yang kurang sehat atau sakit memiliki daya tahan
hidup yang rendah dan sangat berpeluang untuk mati selama proses pengangkutan
(Sufianto 2008).

3
4

Ikan hidup yang akan dikirim dipersyaratkan dalam keadaan sehat dan tidak cacat.
Pemeriksaan kondisi ikan selalu dilakukan untuk mengurangi kemungkinan
kematian (mortalitas) yang tinggi, sedangkan adanya cacat sirip, mata, kulit, dan
sebagainya dapat menurunkan harganya (Achmadi 2005).

2.2 Transportasi Sistem Kering Tertutup


Transportasi sistem kering merupakan transportasi yang tidak
menggunakan air sebagai media transportasi, namun demikian bisa membuat
lingkungan atau wadah dalam keadaan lembab (Kusyairi et al. 2013). Faktor-
faktor yang perlu diperhatikan dalam transportasi ikan hidup tanpa media air
adalah jenis media pengemas, perlakuan ikan sebelum dikemas (imotilisasi atau
hibernasi), suhu media selama pengangkutan, dan kemungkinan penggunaan anti
metabolit (zat anestesi).
Transportasi ikan hidup sistem kering perlu dilakukan proses penanganan
terlebih dahulu. Kondisi ikan yang tenang akan mengurangi tingkat stress pada
ikan, mengurangi metabolisme, dan mengurangi konsumsi oksigen. Pada kondisi
ini, tingkat kematian selama pengangkutan atau transportasi akan rendah sehingga
memungkinkan untuk dilakukan transportasi jarak jauh dan kapasitas angkut dapat
ditingkatkan lagi. Metode pengangutan ikan hidup dapat dilakukan dengan cara
menurunkan suhu air dan dapat menggunakan zat anestesi, tetapi perlu
diperhatikan bahwa ikan yang diangkut ini nantinya dikonsumsi maka dari itu
harus memperhatikan aspek kesehatan (Nitibaskara et al. 2006).
Pada transportasi sistem kering tertutup, ikan diangkut dalam wadah
tertutup dengan suplai oksigen secara terbatas yang telah diperhitungkan sesuai
kebutuhan selama pengangkutan. Wadah dapat berupa kantong plastik atau
kemasan lain yang tertutup (Achmadi 2005)..

2.2.1 Pemingsanan (Imotilisasi)


Imotilisasi berprinsip pada hibernasi, yaitu usaha menekan metabolisme
suatu organisme hingga kondisi minimum untuk mempertahankan hidupnya lebih
lama (Suryaningrum et al. 2004). Imotilisasi dapat dilakukan salah satunya
5

dengan menggunakan suhu rendah (Ikasari et al. 2008). Suhu air yang rendah
dapat menurunkan aktifitas dan tingkat konsumsi oksigen ikan (Coyle et al. 2004).
Pada imotilisasi ikan dengan suhu rendah, suhu diturunkan sedemikian
rupa sehingga diperoleh kondisi ikan dengan aktivitas ikan seminimal mungkin
akan tetapi masih dapat hidup dengan sehat setelah mengalami pembugaran
kembali (Wibowo 1993). Imotilisasi dengan suhu rendah merupakan cara yang
paling efektif, ekonomis, dan aman (Suryaningrum et al. 2007). Es batu sering
digunakan sebagai bahan pembius karena harganya yang relaif murah, mudah
didapat, dan aman karena tidak mengandung bahan kimia yang dapat
membahayakan manusia. Penurunan suhu dapat dilakukan dengan merendam es
batu dalam kantong plastik pada air bak pemingsanan (Nitibaskara et al. 2006).
Suhu dingin merupakan salah satu kunci dalam transportasi ikan hidup, pada
kondisi ini tingkat metabolisme dan respirasi sangat rendah sehingga ikan atau
crustacea dapat diangkut dengan waktu yang lama dan tingkat kelulusan hidup
yang tinggi (Berka 1986 dalam Suryaningrum et al. 2007).
Imotilisasi menggunakan suhu rendah memiliki dua metode yaitu
imotilisasi dengan penurunan suhu bertahap dan imotilisasi dengan penurunan
suhu langsung. Penurunan suhu sampai batas tertentu akan menurunkan tingkat
metabolisme dan akhirnya akan menyebabkan ikan pingsan. Fase pingsan
merupakan fase yang dianjurkan untuk pengangkutan ikan karena pada fase ini
aktivitas ikan relatif akan berhenti (Mc Farland 1959 dalam Achmadi 2005).
Metode imotilisasi dengan penurunan suhu secara bertahap, yaitu ikan
dimasukkan ke dalam air yang beraerasi kemudian diimotilisasi dengan
menurunkan suhu air secara bertahap sampai suhu tertentu. Pada suhu tertentu
yang dikehendaki, ikan dipertahankan di dalam air selama waktu tertentu sampai
ikan imotil. Pada penurunan suhu bertahap ini ikan secara bertahap direduksi
aktivitas, respirasi, dan metabolismenya sampai mencapai titik imotil yang
diperlukan (Nitibaskara et al. 2006). Parameter penting dalam pembiusan pada
suhu rendah yang cukup berpeluang dalam menunjang kelulusan hidup ikan
adalah metode pembiusan, waktu pembiusan, dan suhu pembiusan yang
digunakan. Imotilisasi dengan suhu rendah memiliki keuntungan diantaranya
ekonomis karena es mudah didapat dan aman karena tidak terdapat residu bahan
6

kimia (Suryaningrum et al. 1997). Beberapa komoditas hasil perikanan yang dapat
ditransportasikan dalam keadaan hidup dan dikemas dalam media tanpa air
(transportasi sistem kering) menggunakan metode pembiusan suhu rendah adalah
ikan, lobster, dan udang.
Metode imotilisasi dengan penurunan suhu secara langsung, yaitu
dilakukan dengan cara memasukkan ikan hidup dalam media air dingin pada suhu
tertentu selama waktu tertentu sampai ikan imotil. Waktu dan suhu imotilisasi
dipengaruhi oleh ukuran, umur, dan jenis ikan. Melalui imotilisasi dengan
penurunan suhu secara langsung ini ikan akan mengalami shock dan langsung
berada dalam tingkat aktivitas, respirasi, dan metabolisme yang rendah. Selain itu,
pada kondisi imotil tersebut aktivitas ikan sudah cukup rendah atau bahkan sudah
pingsan sehingga mudah ditangani untuk transportasi (Nitibaskara et al. 2006).
Lama pembiusan yang terjadi pada proses pembiusan berbeda-beda. Hal
ini disebabkan fase panik yang terjadi saat proses pembiusan. Menurut Karnila
dan Edison (2001), fase panik tersebut dipengaruhi oleh suhu pembiusan. Ikan
sangat sensitif dengan adanya perubahan suhu air (Subasinghe 1997). Pada fase
panik, respirasi akan meningkat dengan tajam kemudian turun sampai mencapai
respirasi terendah yang menyebabkan ikan pingsan.
Selain pemingsanan dengan suhu rendah, dapat pula digunakan zat
anestesi untuk memingsankan ikan. Zat anestesi yang biasa digunakan untuk
proses pemingsanan ikan yaitu, berupa bahan kimia seperti MS-222 (tricaine
methane sulphonate), CO2 dan quinaldine serta bahan alami seperti eksrak biji
karet dan ekstrak cengkeh. Penggunaan bahan kimia seperti MS-222 cukup
popular digunakan tetapi harganya mahal. Perlu diperhatikan bahwa ikan yang
akan dipingsankan nantinya akan dikonsumsi, sehingga pemilihan metode
pemingsanan harus memperhatikan aspek kesehatan. Metode pemingsanan
menggunakan penurunan suhu menjadi salah satu pilihan yang aman karena tidak
mengandung residu kimia di dalamnya.
Tingkat keberhasilan transportasi ikan hidup diukur dari besarnya nilai
tingkat kelulusan hidupnya (survival) atau nilai kematiannya (mortalitas). Pada
transportasi ikan hidup sistem kering, setelah ikan ditransportasikan kemudian
ikan disadarkan kembali (proses pembugaran) dengan aerasi secara terus menerus
7

untuk mengetahui tingkat kelulusan hidupnya. Penggunaan aerasi bertujuan untuk


membantu penambahan udara ke dalam air sehingga kadar oksigen terlarut dalam
air menjadi cukup (Boyd 1982). Piper et al. (1982) dalam Nitibaskara et al.
(2006) menyatakan bahwa kandungan oksigen terlarut di atas 5 mg/l dapat
menjamin ikan tidak akan mengalami stress. Proses pembugaran bertujuan untuk
memulihkan kembali kondisi ikan. Suhu media pembugaran disesuaikan dengan
habitat ikan (Achmadi 2005).

2.2.2 Pengemasan
Menurut Hambali et al. (1990) dalam Jailani (2000), pengemasan
merupakan suatu cara untuk melindungi atau mengawetkan produk pangan
maupun non pangan. Pengemasan tidak hanya bertujuan untuk mengawetkan
produk yang dikemas, tetapi juga merupakan penunjang bagi transportasi,
distribusi dan merupakan bagian penting dari usaha untuk mengatasi persaingan
dalam pemasaran.
Menurut Subasinghe (1997), suhu kemasan yang berukuran 50x50x50 cm3
agar dapat dipertahankan sama dengan suhu pembiusan maka disarankan untuk
menggunakan es seberat 0,5-1 kg yang dibungkus dengan plastik. Es ini
diletakkan di bagian atas atau bawah kemasan. Cara lainnya adalah meletakkan es
ini di sudut kemasan. Es ini dimasukkan ke dalam plastik kemudian dibungkus
dengan kertas koran. Suhu kotak styrofoam yang berukuran 40x60x40 cm3 dapat
dipertahankan sama dengan suhu pembiusan dengan menambahkan es seberat 0,5
kg, sedangkan yang berukuran 30x30x40 cm3 dan 40x30x30 cm3 dengan
menambahkan es seberat 0,3-1 kg dan 0,5 kg yang dibungkus dengan plastik
Pengangkutan ikan hidup sistem media bukan air menggunakan bahan
pengisi atau media. Macam bahan pengisi yang dapat digunakan antara lain sekam
padi, serutan kayu, serbuk gergaji, dan rumput laut. Bahan media kemasan yang
digunakan harus memperhatikan kestabilan suhu media kemasan. Suhu media
kemasan harus dapat dipertahankan serendah mungkin mendekati titik imotil. Hal
ini disebabkan suhu media kemasan berperan dalam mempertahankan tingkat
terbiusnya udang atau lobster selama pengangkutan sehingga ikut
mempertahankan ketahanan hidup udang atau lobster dalam media bukan air
8

(Junianto 2003). Menurut Suryaningrum et al. (1994), suhu akhir media ideal
untuk transportasi sistem kering sebaiknya tidak lebih dari 20oC.
Menurut Utomo (2001), pada saat ikan dipingsankan dan disimpan dalam
kemasan tanpa air, katup insangnya masih mengandung air sehingga oksigen
masih dapat diserap walaupun sangat sedikit. Pada proses pengemasan, kertas
koran dapat digunakan sebagai pembungkus ikan. Penggunaan kertas Koran
sebagai pembungkus ikan dapat memberikan keuntungan yaitu kondisi ikan tetap
bersih setelah ikan dibongkar dan mencegah serbuk gergaji masuk ke dalam
insang (Nitibaskara et al. 2006).
Bahan pengisi yang paling efektif dan efisien dalam pengangkutan
organisme hidup adalah serbuk gergaji karena teksturnya baik dan seragam.
Serbuk gergaji yang akan digunakan diberi perlakuan terlebih dahulu untuk
menghilangkan kotoran atau terpenten (bau) yaitu dengan pencucian dan
perendaman (Junianto 2003).
Secara umum ketebalan serbuk gergaji yang digunakan berkisar antara 0,5
cm sampai 10 cm. Penggunaan serbuk gergaji sebagai media kemasan dapat
dikombinasikan dengan jerami atau sisa potongan karung goni. Bahan-bahan
tersebut sebelum digunakan didinginkan dalam freezer, setelah bahan pengisi
disiapkan maka perlu disiapkan es batu untuk membantu menjaga suhu kemasan
tetap rendah. Pada lapisan dasar kotak pengemas disebarkan serbuk gergaji kira-
kira 0,5 cm, kemudian di atasnya ditempatkan lapisan jerami.

2.3 Transportasi Sistem Kering Tertutup pada Benih Lele Dumbo


2.3.1 Faktor-Faktor yang Berpengaruh pada Pengangkutan Benih
Faktor yang sangat penting pada pengangkutan benih ikan adalah
tersedianya oksigen terlarut yang memadai, tetapi faktor ini sangat tidak
menjamin ikan berada dalam kondisi baik setelah pengangkutan. Kemampuan
ikan untuk mengkonsumsi oksigen juga dipengaruhi oleh toleransi terhadap stress,
suhu air, pH, konsentrasi CO2, dan sisa metabolisme lain seperti amoniak
(Junianto 2003 dalam Kusyairi et al. 2013).
Transportasi benih ikan biasanya dilakukan dengan kepadatan yang sedikit
lebih tinggi, hal ini bertujuan agar biaya transportasi lebih efisien. Namun,
9

semakin padat ikan yang dibawa di dalam suatu wadah, semakin besar
kemungkinan ikan tersebut terluka akibat gesekangesekan antar ikan. Ikan yang
ditransportasikan secara padat dalam suatu wadah akan mudah mengalami stress.
Stress dan luka akibat gesekan dapat menimbulkan penyakit dan akhirnya ikan
mati.

2.3.2 Mekanisme Transportasi Benih Lele Dumbo


2.3.2.1 Pembiusan
Pembiusan dilakukan dengan beberapa tahapan yaitu tiga kotak styrofoam
masing-masing diisi air tawar sebanyak 10 liter, thermometer dimasukkan ke
dalam kotak styrofoam sebagai petunjuk suhu pembiusan, es batu yang
terbungkus plastik dimasukkan ke dalam kotak styrofoam, setelah memperoleh
suhu yang telah ditentukan (12oC, 16oC dan 20oC ) es batu dikeluarkan dari kotak
styrofoam, kemudian benih ikan dimasukkan ke dalam masing-masing kotak
styrofoam sebanyak 270 ekor / kotak dan menutup kotak styrofoam dengan rapat,
dan waktu pembiusan dilakukan (20, 30 dan 40 menit).

Gambar 1. Kegiatan Pembiusan


(Sumber: Kusyairi et al. 2013)

2.3.2.2 Pengemasan
Setelah ikan dalam keadaan pingsan, dilakukan pengemasan. Pengemasan
dilakukan di dalam kantong yang sudah diberi label dan telah diisi air sama
dengan volume ikan (macak) dan tambahan oksigen murni yang sama dengan
volume ikan. Setelah benih dimasukkan, kantong diikat dengan karet lalu ditata
dalam kotak styrofoam dan ditambahkan es batu 300 gram untuk penstabil suhu
di dasar kotak Styrofoam. Kotak styrofoam ditutup dan diplester dengan lakban
10

lalu benih siap untuk dilakukan kegiatan transportasi selama 10 jam (Kusyairi et
al. 2013).

Gambar 2. Kegiatan Memasukkan Benih ke dalam Kantong Plastik


(Sumber: Kusyairi et al. 2013)

2.3.2.3 Penyadaran
Proses penyadaran (aklimatisasi) benih lele sebagai berikut dilakukan
dengan beberapa tahapan yaitu memasukkan kantong pembungkus benih ke dalam
media air suhu normal untuk proses aklimatisasi suhu kurang lebih selama lima
menit dan membuka kantong dan mengisi air sedikit demi sedikit. Setelah itu,
dilakukan penghitungan jumlah ikan yang hidup dan menghitung tingkat
kelulusan hidup benih lele dumbo dengan cara membagi jumlah benih diawal
perlakuan kemudian dikalikan 100%.

2.3.3 Keefektifan Sistem Transportasi Kering Tertutup pada Benih Lele


Dumbo
Suhu pembiusan berpengaruh nyata terhadap kelulusan hidup benih lele
dumbo (Clarias gariepinus). Dari beberapa penelitian yang dilakukan pada benih
berukuran 79 cm, dalam transportasi sistem kering tertutup selama 10 jam
mendapatkan hasil dengan tingkat kelulusan hidup tertinggi pada suhu pembiusan
16o C selama sekitar 40 menit yaitu sebesar 95,9 % (Kusyairi et al. 2013).
BAB III
KESIMPULAN

Transportasi ikan hidup tanpa menggunakan media air (sistem kering)


merupakan sistem pengangkutan ikan hidup dengan media pengangkutan selain
air. Metode pengangkutan ikan hidup diantaranya dapat dilakukan dengan cara:
1. Imotilisasi, yaitu usaha untuk menekan aktivitas metabolisme suatu
organisme untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya agar dapat
bertahan lebih lama, salah satu caranya yaitu dengan menggunakan suhu
rendah
2. Pengemasan, yaitu menggunakan bahan pengisi atau media berupa sekam
padi, serutan kayu, serbuk gergaji dan rumput laut. Fungsi dari
penggunaan bahan pengisi ini yaitu untuk mencegah udang atau lobster
hidup agar tidak bergeser didalam kemasan, menjaga agar suhu
lingkungan tetap rendah dan memberi lingkungan dengan udara yang
memadai.
Pada transportasi kering benih ikan lele dumbo, sangat dipengaruhi oleh
faktor tersedianya oksigen terlarut yang memadai.
Mekanisme transportasi kering tertutup pada benih lele dumbo yaitu
diawali dengan pembiusan. Pembiusan dilakukan dengan penggunaan suhu rendah
yaitu memasukkan es batu ke dalam wadah pembiusan dan suhu pembiusan yang
memberikan tingkat kelulushidupan yang tinggi adalah 16oC dengan lama
pembiusan selama 40 menit. Setelah benih pingsan, dilakukan pengemasan ke
dalam kantong plastik yang diisi air yang sama dengan volume ikan (macak) dan
dimasukkan ke dalan kotak styrofoam yang diberi es sebnyak 300 gram. Setelah
10 jam, diakukan penyadaran (aklimatisasi) dengan cara memasukkan kantong
plastik ke dalam air suhu normal selama menit lalu memasukkan air sedikit demi
sedikit ke dalam kantong plastik hingga benih sadar.

11
DAFTAR PUSTAKA

Achmadi. 2005. Pembiusan ikan nila (Oreochromis niloticus) dengan tegangan


listrik untuk transportasi sistem kering. Skripsi. Bogor: Fakultas Perikanan
dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Boyd CE. 1982. Water Quality Management for Pond Fish Culture. USA:
Department of Fisheries and Allied Aquaqultures, Agricultural Experiment
Station Auburn University, Alabama.

Coyle SD, Durborow RM, Tidwell JH. 2004. Anesthetics in Aquaculture.


Southern Regional Aquaculture Center. Publication No 3900.

Handisoeparjo, W. 1982. Studi Pendahuluan Limun sebagai Bahan Penambahan


pada Pengangkutan Benih Ikan Mas (Cyprinus carpio Linn). Karya Ilmiah
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Hlm 1-2.

Ikasari D, Syamsidi, Suryaningrum TD. 2008. Kajian fisiologis lobster air tawar
(Cherax quadricarinatus) pada suhu dingin sebagai dasar untuk
penanganan dan transportasi hidup sisitem kering. Jurnal Pascapanen dan
Bioteknologi Kelautan dan Perikanan 3:45-53.

Jailani. 2000. Mempelajari pengaruh penggunaan pelepah pisang sebagai bahan


pengisi terhadap tingkat kelulusan hidup ikan mas (Cyprinus carpio)
Skripsi. Bogor: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian
Bogor.

Junianto. 2003. Teknik Penanganan Ikan. Penebar Swadaya, Jakarta.

Karnila R, Edison. 2001. Pengaruh suhu dan waku pembiusan bertahap terhadap
ketahanan hidup ikan jambal siam (Pangasius sutchi F) dalam ransportasi
sistem kering. Jurnal Natur Indonesia III (2): 151-167 (2001).

Kusyairi, Nurul Hayati, Sri Oetami Madyowati. 2013. Efektivitas Sistem


Transportasi Kering Tertutup pada Pengangkutan Benih Lele Dumbo
(Clarias Gariepinus). Jurnal Agroknow, Vol. 1 No. 1 : 39-45.

Najiyati, S. 1992. Memelihara Lele Dumbo di Kolam Taman. Penebar Swadaya,


Jakarta. hlm 35-48.

Nitibaskara R, Wibowo S, Uju. 2006. Penanganan dan Transportasi Ikan Hidup


untuk Konsumsi. Bogor: Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Subasinghe S. 1997. Live fish-handling and transportation. Infofish International


Edisi 2/97. India.

12
Sufianto B. 2008. Uji transportasi ikan mas koki (Carassius auratus) hidup sistem
kering dengan perlakuan suhu dan penurunan konsentrasi oksigen. Tesis.
Bogor: Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor

Suryaningrum TD, Setiabudi E, Erlina MD. 1997. Pengaruh penurunan suhu


bertahap terhadap aktivitas dan sintasan lobster hitam (Panulirus
penicullatus) selama transportasi sistem kering. Jurnal Penelitian
Perikanan Indonesia 2: 63-70.

Suryaningrum TD, Utomo BSB, Wibowo S. 2004. Teknologi Penanganan dan


Transportasi Krustasea Hidup. Jakarta: Pusat Riset Pengolahan Produk
dan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan.

Suryaningrum ThD, Syamdidi, Ikasari D. 2007. Teknologi penanganan dan


transportasi lobster air tawar. Squalen2 (2):37-42.

Utomo SP. 2001. Penerapan teknik pemingsanan menggunakan bahan anestetik


alga laut Caulerpa sp. dalam pengemasan ikan kerapu (Epinephelus
suillus) hidup tanpa media air. Skripsi. Bogor: Fakultas Perikanan dan
Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Wibowo, S. 1993. Penerapan Teknologi Pengangkutan dan Transportasi Ikan


Hidup di Indonesia. Sub BPPI. Jakarta.

13