Anda di halaman 1dari 16

Pendidikan Karakter Dalam Keluarga

Posted by: ahmadiyah.org Dec 28, 2012 in ARTIKEL Leave a comment


Pendidikan orang dewasa akan menjadi efektif dalam arti menghasilkan perubahan
perilaku, apabila isi dan cara pendidikannya sesuai dengan kebutuhan yang dirasakannya
atau dengan kata lain materi dan metodenya berorientasi atau berpusat pada pembelajar
(learner centered).
Oleh: Tina Afiatin Yatimin | Ketua Badan Urusan Pemuda PB GAI
Banyak cara dan sarana untuk menyelamatkan keluarga, baik keselamatan di dunia maupun di akhirat
kelak. Salah satu cara adalah melalui pendidikan. Pendidikan merupakan sarana penting dalam proses
pembentukan manusia seutuhnya. Melalui pendidikan, potensi-potensi manusia dapat dikembangkan
dan diaktualisasikan sehingga manusia mampu menjadikan diri dan lingkungannya menjadi lebih
sejahtera dan lebih baik, atau dengan kata lain menjadi manusia yang mulia. Tujuan pendidikan untuk
memuliakan manusia dapat tercapai apabila proses pendidikan yang berlangsung dapat memfasilitasi
pengembangan potensi manusia sebagai makhluk biososiopsikoreligius. Dengan demikian, lembaga
pendidikan bertugas untuk mengembangkan kecerdasan intelektual, sosial, emosional, praktikal,serta
moral dan spiritual.
Dalam perjalanan proses pendidikan yang berlangsung di Indonesia, tampak adanya kesenjangan dalam
memfasilitasi pengembangan potensi-potensi tersebut, sehingga menimbulkan disharmoni yang justru
mengancam kesejahteraan dan kemuliaan manusia. Semakin tingginya angka kemiskinan, kriminalitas,
kekerasan, dan kerusakan alam merupakan indikasi belum tercapainya tujuan pendidikan kita.
Menurut Azra (2002) pendidikan nasional dalam berbagai jenjang, khususnya jenjang menengah dan
tinggi telah gagal dalam membentuk peserta didik yang memiliki akhlak, moral, dan budi pekerti yang
baik. Selanjutnya dikemukakan analisis beberapa masalah pokok yang turut menjadi akar krisis
mentalitas dan moral di lingkungan pendidikan nasional, diantaranya adalah: pertama, arah pendidikan
telah kehilangan objektivitasnya, lembaga pendidikan tidak lagi merupakan tempat peserta didik melatih
diri untuk berbuat sesuatu berdasarkan nilai-nilai moral; kedua, proses pendewasaan diri tidak
berlangsung baik di lingkungan lembaga pendidikan; ketiga, proses pendidikan sangat membelenggu
peserta didik dan guru/dosen; keempat, beban kurikulum terlalu berat dan hampir sepenuhnya
diorientasikan pada pengembangan ranah kognitif belaka; kelima, materi pendidikan yang dapat
menumbuhkan rasa afeksi umumnya disampaikan dalam bentuk verbalisme dengan rote-memorizing;
keenam, pada saat yang sama peserta didik dihadapkan kepada nilai-nilai yang sering bertentangan; dan
ketujuh, para peserta didik mengalami kesulitan dalam mencari contoh teladan yang baik. Masalah-
masalah tersebut saling berkaitan satu dengan yang lain sehingga upaya mengatasinya tidak dapat
dilakukan secara parsial tetapi diperlukan reformasi pendidikan nasional. Reformasi tersebut salah
satunya adalah memberikan pendidikan karakter bagi masyarakat.
Karakter adalah sifat-sifat mental, moral atau akhlak yang kuat dan khas, yang membuat pemilik sifat-
sifat tersebut berbeda dengan yang lain. Membangun karakter adalah proses mengukir jiwa, sehingga
terbentuk jiwa yang unik, menarik dan lain daripada yang lain. Karakter tidak dapat dikembangkan
dalam kemudahan dan ketenangan. Hanya melalui pengalaman cobaan dan penderitaan jiwa dapat
dikuatkan. Pendidikan karakter adalah pendidikan sepanjang hayat melalui pengalaman sehari-hari.
Pendidikan karakter dapat dilaksanakan baik melalui pendidikan formal di sekolah, informal dalam
keluarga, dan non formal dalam masyarkat. Integrasi dan sinergi Tri Pusat Pendidikan inilah yang
diharapkan mampu mewujudkan keberhasilan pendidikan karakter bagi masyarakat kita.
Pendidikan Karakter dalam Keluarga
Anak adalah pusat pendidikan dan pembelajaran dalam keluarga. Pendidikan yang diberikan oleh orang
tua kepada anak hendaknya berorientasi pada kebutuhan anak sebagai makhluk biopsikososialreligius
serta menggunakan cara-cara yang sesuai dengan perkembangan anak, baik perkembangan fisik-
biologisnya, perkembangan psikisnya, perkembangan sosial serta perkembangan religiusitasnya.
Dalam perkembangannya, anak-anak, khususnya yang telah mencapai usia remaja, telah mempunyai
sikap tertentu, pengetahuan tertentu, dan ketrampilan tertentu. Remaja bukan seperti gelas kosong yang
dengan mudah dapat diisikan sesuatu. Dengan demikian diperlukan pendekatan yang berbeda dalam
pendidikan bagi remaja. Pendidikan bagi remaja hendaknya mengacu pada prinsip pendidikan orang
dewasa. Lindeman (dalam Knowles,2005) menggambarkan karakteristik pembelajar dewasa sebagai
berikut:
orang dewasa termotivasi untuk belajar bila terkait dengan kebutuhan dan interes pribadinya;
orientasi orang dewasa untuk belajar adalah berpusat pada kehidupan;
pengalaman merupakan sumber belajar yang kaya bagi pembelajar dewasa;
orang dewasa memiliki kebutuhan mendalam untuk mengarahkan diri sendiri;, dan
perbedaan antar individu meningkat dengan bertambahnya usia.
Berdasar karakteristik tersebut maka pendidikan orang dewasa akan menjadi efektif dalam arti
menghasilkan perubahan perilaku, apabila isi dan cara pendidikannya sesuai dengan kebutuhan yang
dirasakannya atau dengan kata lain materi dan metodenya berorientasi atau berpusat pada pembelajar
(learner centered).
Berdasarkan definisi tersebut dapat diketahui bahwa pembelajaran berpusat peserta didik menggunakan
fokus ganda yaitu individu pembelajar dan pembelajaran, selanjutnya dengan berdasar pada kedua fokus
tersebut akan memberikan informasi dan dorongan dalam pengambilan keputusan dalam proses
pendidikan.
Penjabaran dari definisi yang telah dikemukakan tersebut, selanjutnya dinyatakan ada lima faktor yang
penting diperhatikan dalam prinsip psikologis pembelajaran berpusat pada anak, yaitu:
faktor metakognitif dan kognitif yang menggambarkan bagaimana anak berpikir dan mengingat,
serta penggambaran faktor-faktor yang terlibat dalam proses pembentukan makna informasi dan
pengalaman;
faktor afektif yang menggambarkan bagaimana keyakinan, emosi, dan motivasi mempengaruhi
cara seseorang menerima situasi pembelajaran, seberapa banyak orang belajar, dan usaha yang
mereka lakukan untuk mengikuti pembelajaran.Kondisi emosi seseorang, keyakinannya tentang
kompetensi pribadinya, harapannya terhadap kesuksesan, minat pribadi, dan tujuan belajar, semua
itu mempengaruhi bagaimana motivasi anak untuk belajar;
faktor perkembangan yang menggambarkan bahwa kondisi fisik, intelektual, dan emosional
dipengaruhi oleh faktor genetik yang unik dan faktor lingkungan;
faktor pribadi dan sosial yang menggambarkan bagaimana orang lain berperan dalam proses
pembelajaran dan cara-cara orang belajar dalam kelompok. Prinsip ini mencerminkan bahwa dalam
interaksi sosial, orang akan saling belajar dan dapat saling menolong melalui saling berbagi perspektif
individual;
faktor perbedaan individual yang menggambarkan bagaimana latar belakang individu yang unik
dan kapasitas masing-masing berpengaruh dalam pembelajaran. Prinsip ini membantu menjelaskan
mengapa individu mempelajari sesuatu yang berbeda, waktu yang berbeda, dan dengan cara-cara yang
berbeda pula.
Pembelajaran berpusat pada anak mendasarkan pada filosofi konstruktivisme, bahwa pengetahuan harus
dibangun dan dikembangkan oleh pembelajar. Dalam pengembangan lingkungan pembelajaran maka
karakteristik konstruktivisme meliputi hal-hal sebagai berikut:
institusi pendidikan menciptakan lingkungan nyata untuk pembelajaran yang relevan;
pembelajaran difokuskan pada pendekatan realistik untuk pemecahan masalah nyata;
dosen/guru berfungsi sebagai instruktur, pelatih, dan penganalisis strategi yang digunakan untuk
memecahkan masalah;
penekanan pembelajaran pada karakteristik konseptual, menyediakan berbagai macam contoh
atau perspektif isi pembelajaran;
sasaran dan tujuan pembelajaran harus disesuaikan dengan keadaan, bukannya ditetapkan
begitu saja;
evaluasi harus dikontrol secara internal sebagai alat analisis diri;
institusi menyediakan instrument dan lingkungan untuk membantu para peserta didik
menginterpretasikan berbagai perspektif yang ada di dunia ini; dan
pembelajaran harus sepenuhnya dikendalikan secara internal dan dimediasi oleh pembelajar.
Berdasarkan perspektif konstruktivisme tersebut maka dapat dinyatakan bahwa pembelajaran
merupakan individual discovery. Pada hakekatnya semua anak memiliki gagasan/pengetahuan tentang
lingkungan dan peristiwa/gejala lingkungan di sekitarnya. Sebagaimana dinyatakan oleh John Dewey
(dalam Afiatin, 2005) bahwa pembelajaran sejati lebih berdasar pada penjelajahan yang terbimbing
dengan pendampingan daripada sekedar transmisi pengetahuan. Pembelajaran memberikan kesempatan
dan pengalaman dalam proses pencarian informasi, menyelesaikan masalah, dan membuat keputusan
bagi kehidupan pembelajar sendiri. Kegiatan pembelajaran dimulai dari apa yang diketahui anak.
Dosen/guru/orang tua tidak dapat mengindoktrinasi gagasannya supaya anak mengganti gagasan yang
telah dimiliki. Arsitek pengubah gagasan anak adalah anak sendiri dan dosen/guru/orang tua berperan
sebagai fasilitator dan penyedia kondisi supaya proses belajar dapat berlangsung. Melalui pembelajaran
yang berpusat pada anak yang mendasarkan pada filosofi kontruktivisme ini maka fungsi
dosen/guru/orang tua berubah dari pengajar menjadi mitra pembelajaran (fasilitator).
Menurut Knowles, dkk (2005) perubahan peran dari pengajar (teacher) menjadi fasilitator pembelajaran
memerlukan sejumlah ketrampilan yang berbeda. Sebagai pengajar berfungsi sebagai perencana dan
penyampai isi materi pengetahuan sehingga sangat diperlukan ketrampilan presentasi. Sementara
sebagai fasilitator berfungsi sebagai perancang dan pengelola memerlukan ketrampilan dalam
membangun hubungan baik, mampu melakukan pengukuran kebutuhan, melibatkan anak dalam
perencanaan, menghubungkan anak dengan sumber-sumber belajar, dan memunculkan inisiatif anak.
Fasilitator (Dosen/Guru/Orang tua) pada pembelajaran berpusat pada anak perlu memiliki karakteristik
dan bekerja berdasar asumsi bahwa semua anak memiliki potensi untuk belajar. Dalam upaya
memaksimalkan pembelajaran, fasilitator perlu membantu para peserta didik agar mereka merasa
nyaman mendiskusikan perasaan dan keyakinan mereka. Memperhatikan dan peduli terhadap kebutuhan
sosial, emosional, dan fisik anak merupakan hal yang sangat penting dimunculkan dalam pembelajaran.
Fasilitator perlu membantu anak memahami bagaimana keyakinan mereka terhadap diri mereka sendiri
mempengaruhi pembelajaran. Ketika fasilitator merasa rileks dan nyaman dengan diri mereka sendiri,
maka mereka memiliki akses untuk mencapai kebijaksanaan alamiah untuk mengatasi berbagai kesulitan
dalam proses pembelajaran. Dalam menjalankan fungsinya sebagai fasilitator pembelajaran, diperlukan
pengetahuan dan ketrampilan untuk memfasilitasi pembelajaran dengan menggunakan berbagai metode
pembelajaran yang dapat menumbuhkan suasana pembelajaran yang nyaman, aktif, dan inovatif serta
mendorong pembelajar yang aktif, partisipatif, kritis, kreatif, bertanggung jawab, bermanfaat dan sukses.
Fasilitator adalah pribadi yang berkarakter sehingga ia akan mampu memberikan teladan, mampu
memberikan motivasi dan semangat belajar, serta mampu mendorong dan menguatkan anak untuk terus
menerus meningkatkan kualitas diri. Pada hakekatnya seorang fasilitator adalah pembelajar sejati (life
long learner) karena dalam proses pembelajaran, seorang fasilitator juga mengalami proses belajar,
Seorang fasilitator akan dapat menjadi teladan yang baik dan efektif apabila ia telah memiliki apa yang
akan diteladankan. Pada hakekatnya kita hanya dapat memberikan apa yang sudah kita miliki, bukan apa
yang kita inginkan.
Peran fasilitator seperti yang telah dikemukakan di atas sangat sesuai denga apa yang telah diajarkan oleh
Ki Hadjar Dewantara, bahwa seorang pendidik adalah juga seorang pemimpin. Dalam melaksanakan
kepemimpinannya, pendidik harus menerapkan Patrap Triloka:
Ing ngarso sung tulada
Ing madya mangun karsa
Tut wuri Andayani

yang berarti bahwa, seorang pemimpin ketika ia di depan memberikan teladan, di tengah membangkitkan
semangat dan motivasi, dan ketika di belakang dapat mendorong dan menguatkan. Dalam melaksanakan
proses pendidikan dan pembelajaran, seorang fasilitator harus kreatif dan bijaksana dalam memilih
metode pembelajaran yang akan diterapkannya. Pembelajaran berpusat pada anak yang mendasarkan
pada teori adult learning juga menggunakan pendekatan belajar pengalaman (experiential learning)
untuk memfasilitas proses pembelajaran.
Belajar Pengalaman dalam Keluarga
Salah satu metode pembelajaran yang efektif untuk pembelajaran dalam keluarga adalah metode belajar
pengalaman (experiential learning). Menurut Lunandi (1993) metode pembelajaran dengan eksperiensial
(dengan jalan mengalami), juga dikenal sebagai pendekatan laboratories memiliki manfaat sangat besar
dalam pendidikan orang dewasa yang bertujuan meningkatkan ketrampilan dalam hubungan antar
manusia, perubahan perilaku, dan kerja sama dalam organisasi. Belajar dari pengalaman buatan ini
dianggap efektif apabila peserta didik menjalani proses menurut lingkaran yang disebut The Experiential
Learning Cycle. Proses belajar yang didasarkan atas pengalaman terjadi menurut suatu pola yang
bermula dari sebuah pengalaman, lalu berlanjut pada perenungan dan analisa mengenai makna
pengalaman itu dan mengenai kelanjutannya. Dalam experiential learning, pengalaman diciptakan
dalam suatu situasi belajar. Melalui pengalaman ini akan memberi orang pelajaran dan bahwa belajar
dari pengalaman atau arti suatu pengalaman bergantung dari pengolahan oleh orang yang mengalami itu
sendiri. Melalui proses pembelajaran yang difasiltasi oleh fasilitator pembelajaran yang profesional ,
orang itu akan menemukan sendiri pelajaran yang dapat ditarik dari pengalamannya .
Afiatin (2001) menyatakan bahwa model belajar pengalaman (experiential learning) memungkinkan
individu memperoleh informasi yang melibatkan asosiasi berbagai indra, mengandung konteks
emosional, asosiasi yang intens serta menggunakan modalitas belajar yang kaya, yaitu secara visual,
auditorial, dan kinestetik. Melalui model ini individu dapat belajar secara utuh, yaitu melibatkan aspek
kognisi, afeksi, dan konasi. Model belajar pengalaman ini perlu dipertimbangkan sebagai model
pembelajran non-tradisional. Hal ini mengingat kenyataan yang ada saat ini bahwa pembelajaran
diasosikan dengan konsep sekolah, di ruang kelas, dosen/guru memberikan informasi dengan ceramah
saja. Pembelajaran menjadi bersifa didaktis (bersifat instruktif, bergantung pada guru/dosen, mencapai
target kurikulum yang telah ditetapkan), sehingga kesempatan individu untuk berkembang sesuai dengan
potensi masing-masing kurang dapat teraktualisasi. Melalui model belajar pengalaman individu dapat
berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya karena model belajar pengalaman bersifat aktif, self-
directed, dan meliputi aspek kognisi, afeksi, dan konasi. Melalui model belajar pengalaman, selain dapat
meningkatkan kualitas memori, juga tepat untuk mengajarkan suatu ketrampilan, misalnya mengajarkan
ketrampilan untuk mendengarkan dengan penuh empati, ketrampilan konseling, ketrampilan
menggunakan komputer, ketrampiulan menyelesaikan masalah secara efektif, dsb.
Belajar pengalaman dalam keluarga dapat diterapkan bagi semua anggota keluarga melalui kehidupan
sehari-hari. Misalnya untuk memberikan kemampuan berdisiplin dan bertanggung jawab, anggota
keluarga dapat memilih sendiri pekerjaan rumah tangga yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya.
Dalam pelaksanaan tugas tersebut anggota keluarga memonitor sendiri pelaksanaannya serta
mendapatkan umpan balik dari anggota keluarga yang lain. Misalnya, kakak memilih untuk tugas
menyiram pot bunga maka ibu, bapak, dan adik dapat memberikan umpan balik atas kinerja kakak.
Demikian juga untuk penanaman kebiasaan baik, misalnya: kejujuran, kerja keras, suka menolong,
dilakukan melalui keteladan nyata dan umpan balik bersama seluruh anggota keluarga.
Peran orang tua dalam pendidikan karakter adalah sebagai fasilitator. Orang tua bertugas merancang,
melaksanakan, memonitor, dan mengevaluasi hasil pendidikan karakter bagi seluruh anggota keluarga
secara berkesinbambungan. Dalam proses merancang melibatkan perencanaan materi yang akan
diajarkan dan ditanamkan, metode, dan settingnya. Materi pendidikan karakter meliputi pengetahuan
dan nilai-nilai, baik nilai agama, sosial, dan keluarga. Melalui metode belajar pengalaman, materi
pengetahuan dan nilai-nilai dilaksanakan dan diintegrasikan dalam kehidupan seharai-hari. Misalnya
tentang pengetahuan dan nilai Pola Hidup Sehat, orang tua dapat mengajarkan dengan cara
memberikan informasi dan contoh baik tentang : makan sehat, yaitu dengan pola makan dengan gizi
seimbang, aktivitas sehat, istirahat cukup, pikiran sehat, pengelolaan emosi secara sehat, aktivitas sosial
sehat, pengelolaan waktu efektif-efisien dengan kegiatan produktif dan bermanfaat, peka terhadap
lingkungan dan mampu menyesuaikan diri dengan baik, dan berkehidupan beragama dengan baik. Orang
tua mampu menciptakan suasana kehidupan keluarga yang harmonis, penuh rasa aman dan nyaman
sehingga semua anggota keluarga dapat bertumbuh dan berkembang bersama.
Pendidikan Karakter dalam Keluarga
Pendidikan karakter merupakan upaya integratif dan komprehensif yang bertujuan membentuk dan
mengembangkan potensi kemanusiaan sehingga menghasilkan generasi yang kompeten dan berwatak
(berakhlak) mulia. Upaya ini harus melibatkan semua pihak, keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Pembentukan dan pendidikan karakter tidak akan berhasil selama tidak ada harmonisasi dan
kesinambungan antara ketiga lingkungan tersebut.
Usaha pembentukan dan pendidikan karakter melalui lembaga keluarga dapat dilakukan setidaknya
melalui pendekatan: modelling, prizing (memberi penghargaan), cherising (menumbuhsuburkan) nilai-
nilai yang baik dan discouraging (mengecam) dan mencegah berlakunya nilai-nilai yang buruk,
membiasakan bersikap dan bertindak dengan pola-pola yang baik yang diulangi secara terus menerus dan
konsisten. Dengan demikian perlu adanya reorientasi dalam proses pendidikan dalam keluarga baik
dalam segi isi/muatan dan pendekatan sehingga proses pendidikan tidak hanya bersifat verbalism
,misalnya pemberian nasehat saja, tetapi juga disertai keteladanan, kebersamaan dan berorientasi pada
terciptanya akhlak mulia untuk semua anggota keluarga.
Pendidikan karakter dalam keluarga merupakan amanah bagi kita semua. Pemahaman tentang hakekat
pendidikan keluarga yang islami serta penerapanya dalam kehidupan sehari-hari merupakan wujud
tanggung jawab kita sebagai umat Islam. Kontribusi nyata kita dalam mewujudkan generasi muslim yang
berkualitas sangat diharapkan. Semoga kita senantiasa memperoleh ridlo dan bimbingan dari Allah SWT
serta terus menerus berikhtiar di jalan yang DiridloiNya untuk dapat mewujudkan generasi penerus,
muslim sejati. Amiin.

DAFTAR PUSTAKA
Afiatin,T. 2001. Belajar Pengalaman untuk Meningkatkan Memori. Anima, IndonesianPsychological
Journal, Vol. 17, No. 1, 26 35.
Azra,A. 2002. Paradigma Baru Pendidikan Nasional. Rekonstruksi dan Demokratisasi. Jakarta: Penerbit
Buku Kompas.
Knowles,M.S; Holton, E.F; & Swanson, R.A. 2005. The Adult Learner. The DefinitiveClassic in Adult
Education and Human Resource Development. Sixth Edition. Amsterdam: Elsevier Butterworth
Heinceman.
Combs,B.L & Whisler,J.S.1997. The Learner-Centered Classroom and School. Strategies for Increasing
Student Motivation and Achievement. San Francisco,California: Jossey-Bass A Wiley Company.
PERANAN KELUARGA, SEKOLAH, DAN MASYARAKAT DALAM MEMBENTUK
KARAKTER ANAK BANGSA

PENDAHULUAN
Karakter adalah watak / perilaku seseorang yang sudah menyatu dan
mewarnai diri seorang insan yang terwujud dalam setiap kata
maupun perbuatannya di setiap saat.

Karakter terbentuk melalui konsep konsep yang diperoleh seseorang melalui


pengamatan, pengalaman dan duplikasi dari lingkungan dimana ia tumbuh dan
berkembang. Hal ini dimulai sejak seseorang mulai mengenal makna setiap kata,
isyarat dan tingkah laku orang yang lebih tua dari dirinya yang ada di sekitarnya,
yang berulang bahkan menjadi kebiasaan , lalu dalam diri seseorang itu terjadi
penerimaan atau penolakan terhadap apa yang ia terima tadi . Penerimaan
yang dimaksud dapat dicontohkan misalnya, seorang anak yang tumbuh
dilingkungan orang dewasa yang suka memaki atau bergunjing lalu iapun mengikuti
kebiasaan itu tanpa ada counter dari lingkungan lain maka perilaku itu akan
terterima dan bisa jadi karakter anak itu nantinya. Namun sebaliknya jika ia
mendapat counter dari lingkungan lain misalnya dari sekolah, maka akan terjadi
penolakan dalam diri anak itu terhadap perilaku tersebut sehingga terbentuk
perilaku lain yang lain ( yang baik ) yang kelak membentuk karakter sang anak di
kemudian hari.

Lingkungan rumah tangga dan keluarga sebagai lingkungan pembentukan dan


pendidikan karakter pertama dan utama harus lebih diberdayakan pada hal hal
yang positif . Sebagaimana disarankan Philips, keluarga hendaklah kembali menjadi
school of love, sekolah untuk kasih sayang (Philips, 2000) atau tempat belajar yang
penuh cinta sejati dan kasih sayang (keluarga yang sakinah, mawaddah, dan
warrahmah). Sedangkan pendidikan karakter melalui sekolah, tidak semata-mata
pembelajaran pengetahuan semata, tatapi lebih dari itu, yaitu penanaman moral,
nilai-nilai etika, estetika, budi pekerti yang luhur dan lain sebagainya. Pemberian
penghargaan (prizing) kepada yang berprestasi, dan hukuman kepada yang
melanggar, menumbuh suburkan (cherising) nilai-nilai yang baik dan sebaliknya
mengecam dan mencegah (discowaging) berlakunya nilai-nilai yang buruk.

Di samping itu tidak kalah pentingnya pendidikan di masyarakat. Lingkungan


masyarakat juga sangat mempengaruhi terhadap karakter seseorang. Lingkungan
masyarakat luas sangat mempengaruhi terhadap keberhasilan penanaman nilai-
nilai etika, estetika untuk pembentukan karakter. Menurut Qurais Shihab (1996 ;
321), situasi kemasyarakatan dengan sistem nilai yang dianutnya, mempengaruhi
sikap dan cara pandang masyarakat secara keseluruhan. Jika sistem nilai dan
pandangan mereka terbatas pada kini dan di sini, maka upaya dan ambisinya
terbatas pada hal yang sama.

Dengan demikian, jelas bahwa pada dasarnya pendidikan baik di keluarga,


sekolah maupun masyarakat sangatlah berperan penting dalam pembentukan
karakter seorang anak bangsa. Untuk itu, upaya upaya apakah yang dapat
dilakukan agar apa yang dibentuk melalui pendidikan di tiga lingkungan tersebut
membuahkan karakter yang sesuai dengan harapan dan kendala kendala
apakah yang dihadapi ?

PEMBAHASAN
Bagaimana bentuk pendidikan serta konsep konsep apa yang sering
diterima oleh seorang anak di lingkungan rumah, sekolah dan masyarakat,
sedikitnya sudah digambarkan pada pendahuluan di atas, maka pada pembahasan
ini , penulis lebih memfokuskan pada contoh contoh konkrit upaya penerapan
konsep yang diharapkan dapat menumbuhkembangkan perilaku yang dapat
membentuk karakter anak, serta kendala kendala yang dihadapi dalam
melaksanakan upaya dimaksud.

1. Peran Keluarga

Seperti yang telah dijelaskan, bahwa lingkungan rumah dan keluarga


memiliki andil yang sangat besar dalam pembentukan perilaku anak. Untuk
itu pastilah ada usaha yang harus dilakukan terutama oleh pihak pihak yang
terkait didalamnya sehingga mereka akan memiliki tanggung jawab dalam hal
ini.
Beberapa contoh kebiasaan yang dapat dilakukan di lingkungan
keluarga :

- Membiasakan anak bangun pagi, mengatur tempat tidur dan berolahraga

- Membiasakan anak mandi dan berpakaian bersih

- Membiasakan anak turut membantu mengerjakan tugas tugas rumah

- Membiasakan anak mengatur dan memelihara barang barang yang


dimilikinya

- Membiasakan dan mendampingi anak belajar / mengulang pejaran/


mengerjakan tugas sekolahnya

- Membiasakan anak pamit jika keluar rumah

-. Membiasakan anak mengucap salam saat keluar dari dan pulang ke rumah

-. Menerapkan pelaksanaan ibadah sholat sendiri dan berjamaah

-. Mengadakan pengajian Alquran dan ceramah agama dalam keluarga

-. Menerapkan musyawarah dan mufakat dalam keluarga sehingga dalam diri anak
akan tumbuh jiwa demokratis

- Membiasakan anak bersikap sopan santun kepada orang tua dan tamu

- Membiasakan anak menyantuni anak yatim dan fakir miskin

Kendala kendala yang dihadapi dalam keluarga :

- Tidak ada / kurangnya keteladanan / contoh penerapan yang diberikan oleh

orang tua.

- Orang tua atau salah satu anggota keluarga ( orang dewasa ) yang tidak

konsisten dalam melaksanakan usaha yang sedang diterapkan


- Kurang terpenuhinya kebutuhan anak dalam keluarga, baik secara fisik

maupun psikhis sebab ada ungkapan yang menyatakan bahwa kepatuhan


anak berbanding sama dengan kasih sayang yang diterimanya.

- Tempat tinggal yang tidak menetap

2. Peran Sekolah

Jika dilingkungan rumah/ keluarga , anak dapat dikatakan menerima apa


adanya dalam menerapkan sesuatu perbuatan, maka dilingkungan sekolah
sesuatu hal menjadi mutlakadanya, sehingga kita sering mendengar anak
mengatakan pada orang tuanya Ma, Pa, kata Bu guru/ Pak guru begini bukan
begitu Ini menunjukkan bahwa pengaruh sekolah sangat besar dalam
membentuk pola pikir dan karakter anak, namun hal ini pun bukanlah sesuatu
yang mudah tercapai tanpa ada usaha yang dilakukan. Untuk menjadi Bapak
dan Ibu guru seperti dalam ilustrasi diatas butuh keteladanan dan konsistensi
perilaku yang patut diteladani .

Contoh contoh perilaku yang dapat diterapkan disekolah:

Membiasakan siswa berbudaya salam, sapa dan senyum :

- Tiba di sekolah mengucap salam sambil salaman dan cium tangan guru.

- Menyapa teman, satpam, penjual dikantin atau cleaning servis di sekolah

- Menyapa dengan sopan tamu yang datang ke sekolah

Membiasakan siswa berbicara dengan bahasa yang baik dan santun


Mendidik siswa duduk dengan sopan di kelas

Mendidik siswa makan sambil duduk di tempat yang telah disediakan, tidak

sambil jalan- jalan

Membimbing dan membiasakan siswa sholat Dhuha dan sholat dzuhur

berjamaah di sekolah

Kendala kendala yang dihadapi di sekolah ;

Tidak ada / kurangnya keteladanan / contoh yang diberikan

Guru yang tidak konsisten dalam melaksanakan aturan yang telah ditetapkan

Lingkungan sekolah yang tidak kondusif untuk pembelajaran

3. Peran Masyarakat

Masyarakat pun memiliki peran yang tidak kalah pentingnya dalam upaya
pembentukan karakter anak bangsa. Dalam hal ini yang dimaksud
dengan masyarakat disini adalah orang yang lebih tua yang tidak dekat ,
tidak dikenal tidak memiliki ikatan family dengan anak tetapi saat itu ada di
lingkungan sang anak atau melihat tingkah laku si anak . Orang orang inilah
yang dapat memberikan contoh, mengajak, atau melarang anak dalam
melakukan suatau perbuatan.

Contoh contoh perilaku yang dapat diterapkan oleh


masyarakat :
- Membiasakan gotong royong, misalnya : membersihkan halaman rumah masing

masing, membersihkan saluran air, menanamipekarangan rumah.

- Membiasakan anak tidak membuang sampah dan meludah di jalan , merusak

atau mencoret coret fasilitas umum

- Menegur anak yang melakukan perbuatan yang tidak baik.

Kendala kendala yang dihadapi dimasyarakat ;

- Tidak ada kepedulian

- Tidak merasa bertanggung jawab

- Menganggap perbuatan anak adalah hal yang sudah biasa

4. Peran Pemerintah

Pemerintah sudah tentu memiliki andil yang besar dalam pembentukan


karakter anak bangsa sebab berbagai kebijakan terlahir dari para penentu
kebijakan. namun kadang kala ada kebijakan / aturan yang justru tidak disadari
dapat memupuk perilaku anak yang tidak baik, contohnya :

- Membuka tempat tempat hiburan atau taman taman wisata yang tidak

ada pengawasan yang ketat, misal; ada batas jam malam berkunjung, razia KTP
bagi yang berpasangan, dsb.

- Menetapkan peraturan tidak merokok ditempat umum/ tertentu, namun saat

berdialog langsung dengan para siswa, seorang pejabat justru sambil merokok
tidak henti hentinya atau saat melakukan rapat di ruangan ber AC para
pejabat sambil ber asap ria.

- Menekankan disiplin untuk semua kegiatan , tapi kenyataannya masih banyak

yang menggunakan jam karet.

- Memberikan izin penayangan film- film yang bertajuk film anak di televisi

namun tidak memiliki nilai didaktis didalamnya padahal televisi adalah media
yang sangat dekat dengan anak.

PENUTUP

A. Kesimpulan :

Apabila kita amati secara garis besar, pencapaian pendidikan nasional kita
masih jauh dan harapan, apalagi untuk mampu bersaing secara kompetitif dengan
perkembangan pendidikan pada tingkat global. Baik secara kuantitatif maupun
kualitatif, pendidikan nasional masih memiliki banyak kelemahan mendasar. Bahkan
pendidikan nasional, menurut banyak kalangan, bukan hanya belum berhasil
meningkatkan kecerdasan dan keterampilan anak didik, melainkan gagal dalam
membentuk karakter dan watak kepribadian (nation and character building), bahkan
terjadi adanya degradasi moral.

Untuk itu perlunya upaya upaya konkrit yang harus segera dilakukan
melalui pendidikan agar anak bangsa kita tidak semakin terpuruk oleh kepribadian
yang semu yang selama ini membelenggu bahkan sudah membentuk karakter mereka
dan upaya ini hendaknya di mulai dari diri orang tua , pendidik , masyarakat dan
pemerintah itu sendiri dalam hal ini harus ada niat ikhlas dan bertekad mengubah pola
asuh dan perilaku diri sebab inilah modal dalam mengubah perilaku anak bangsa.

B. Saran
Agar upaya dilakukan dapat menunjukkan hasil yang maksimal maka
sebagai orang tua, pendidik , masyarakat maupun pemerintah
hendaknya dapat:

1. Menunjukkan konsistensi , keteladanan dan pola anutan yang tepat

dalam penerapan suatu perilaku yang diharapkan

2. Melakuan kerjasama dengan berbagai pihak untuk mendapatkan hasil

yang maksimal

3. Menerapkan semboyan dan bukan hanya menslogankan semboyan

Untuk membangun bangsa yang unggul, maka pembenahan perlu dilakukan sejak dini.
Pendidikan di sekolah maupun di rumah (keluarga) merupakan salah satu wadah atau sumber
belajar dalam membentuk karakter masyarakat yang ideal. Sebagaimana ungkapan Dr. Martin
Luther King, pendidikan mempunyai tujuan mulia yang melahirkan manusia cerdas dan
berkarakter kuat. Begitu juga menurut Ho Chi Mien, Bapak Pendidikan Vietnam. Beliau
berpesan bahwa pendidikan mutlak diperlukan dalam rangka membangun kondisi sosial-
ekonomi suatu bangsa. Hal ini mengindikasikan bahwa pendidikan (karakter) mempunyai peran
strategis dalam menentukan arah pembangunan suatu bangsa. Pendidikan karakter harus mulai
diterapkan dalam setiap dunia kehidupan anak-anak, mulai dari keluarga, sekolah, bahkan di
lingkungan bermainnya.
Pendidikan Karakter di Keluarga
Keluarga adalah lembaga sosial yang pertama dalam masyarakat (WA. Gerungan). KH
Abdullah Gimnastiyar atau Aa Gym menggeneralisasikan keluarga sebagai sebuah organisasi
kecil yang terdiri atas pemimpin (ayah sebagai kepala rumah tangga) dan terpimpin (ibu dan
anak). Keluarga terbentuk karena dua hal, yaitu hubungan pernikahan dan hubungan darah.
Hubungan pernikahan terbentuk dalam hubungan suami dan istri. Sedangkan hubungan darah
terjadi antara ayah, ibu, dan anak-anak. Hubungan ini akan terjadi dalam jangka waktu lama.
Setiap keluarga kemudian bersatu membentuk sebuah masyarakat.
Keluarga mempunyai peran vital dalam pembangunan sebuah bangsa. Anak yang berasal
dari keluarga yang baik akan terbentuk menjadi manusia yang baik. Anak inilah yang akan
menjadi penerus pembangunan bangsa nantinya. Sebaliknya, anak yang berasal dari didikan
keluarga yang broken home akan terbentuk menjadi anak yang tidak berkembang. Anak seperti
ini tidak mampu melakukan pembangunan terhadap bangsa dan negaranya.
Oleh sebab itu, peran keluarga harus dioptimalkan dalam pembentukan karakter seorang
anak. Untuk itu, keluarga harus mampu memerankan 10 fungsinya (Syarbini, 2013) yakni Fungsi
reproduksi, Fungsi edukasi, Fungsi proteksi , Fungsi afeksi, Fungsi sosialisasi, Fungsi religi,
Fungsi ekonomi, Fungsi biologi, Fungsi transformasi, dan Fungsi rekreasi.
Fungsi edukasi menempatkan keluarga sebagai lembaga pendidikan informal. Keluarga
menjadi awal penanaman pengetahuan, sikap dan keterampilan anak. Keluarga mempunyai peran
penting terhadap perkembangan pengetahuan anak. Fungsi proteksi maksudnya bahwa keluarga
mempunyai kekuatan untuk memberikan rasa aman dan melindungi anggotanya dari berbagai
macam gangguan lahir dan bathin. Fungsi afeksi akan memberikan rasa kasih sayang,
kebersamaan, dan ikatan bathin kepada seluruh anggotanya. Sebagai lembaga sosialiasi, keluarga
mempunyai fungsi untuk melatih anak bersosialisasi atau bergaul dengan orang lain.
Fungsi keluarga yang sangat penting adalah fungsi religi. Keluarga mempunyai tanggung
jawab mengenalkan konsep ketuhanan dan pelaksanaan ibadah keagamaan kepada anggota
keluarga. Keluarga wajib menanamkan semangat ketuhanan yang benar kepada anak-anak.
Fungsi ekonomi, fungsi biologi, dan fungsi rekreasi merupakan fungsi keluarga dalam rangka
memenuhi segala kebutuhan hidup manusia, baik kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani.
Sedangkan fungsi transformasi adalah fungsi keluarga dalam mentransfer nilai-nilai keluarga
kepada anak cucunya.
Seluruh fungsi keluarga secara bersinergi membantu penanaman nilai pendidikan
karakter bagi anak-anak. Sebagaimana dijelaskan pada bab sebelumnya, pendidikan karakter di
lingkungan keluarga juga mencakup aspek-aspek afektif, kognitif, dan psikomotor. Menurut
Syarbini (2014: 40), nilai-nilai karakter yang dapat ditanamkan dalam pendidikan karakter di
keluarga meliputi keimanan dan ketaqwaan, kejujuran, disiplin, percaya diri, tanggung jawab,
rasa keadilan, sopan santun, pemaaf, sabar, dan peduli. Nilai-nilai karakter ini dikembangkan
dari ajaran agama, filsafat bangsa, serta nilai kearifan lokal suatu masyarakat.
Sejalan dengan tujuan pendidikan secara umum, pendidikan karakter pada hakekatnya
bertujuan menciptakan manusia yang cerdas pikiran, moral dan spiritualnya, berbudi pekerti
yang luhur, taat menjalankan perintah agama, serta mempunyai mental yang terpuji. Namun
secara khusus, penanaman pendidikan karakter di lingkungan keluarga bertujuan untuk
menciptakan anak menjadi manusia yang berakhlak mulia, taat kepada perintah agamanya (baca:
Allah dan Rasul) serta menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tua.
Untuk mencapai tujuan di atas, penanaman pendidikan karakter di keluarga dapat
dilakukan oleh dua pelaku. Pelaku pertama adalah keluarga inti (orang tua dan kakak adik). Ada
dua alasan, yaitu orang tua telah dikodratkan untuk mendidik anak-anak yang dilahirkannya serta
aspek kepentingan orang tua terhadap kesuksesan anak-anaknya (Tafsir, 2004: 74). Orang tua
sangat bertanggung jawab menjadikan anak-anaknya menjadi insan yang berguna.
Pelaku kedua, keluarga besar. Maksud keluarga besar disini adalah kakek, nenek, paman,
bibi, saudara-saudara lainnya. Unsur-unsur ini bisa berpengaruh terhadap keberhasilan
penanaman karakter di lingkungan keluarga. Ketika orang tua mengajarkan untuk sholat, tetapi
di sisi lain anak-anak melihat kakek atau paman atau bibi tidak shalat, maka kepekaan anak
untuk menuruti perintah orang tua akan sedikit goyah. Mereka bisa berdalih mengapa mereka
saja yang shalat sedangkan orang lain tidak mengerjakannya. Oleh karena itu, perlu ada
kesamaan pikiran, visi dan misi antara kedua pelaku di atas agar penanaman karakter di
lingkungan keluarga berjalan secara utuh.
Selain contoh mengajarkan ibadah, pendidikan karakter di lingkungan keluarga juga
mengutamakan pendidikan akhlak mulia. Dalam peran menjadi seorang guru, Orang tua harus
mampu memberikan contoh atau teladan yang baik kepada anak-anaknya. Karena sebagai
seorang peserta didik, anak-anak mengikuti penuh apa yang dilakukan dan dikatakan oleh
gurunya (orang tuanya).
Ibarat kurikulum dalam pendidikan formal, Orang tua harus mengajarkan materi-materi
tentang sopan santun, cara berbicara yang sopan, berjalan yang benar, berkomunikasi yang
sopan, bertanggung jawab, bersikap jujur, suka membantu orang lain, serta pengajaran-
pengajaran lainnya. Jika dikaitkan dengan pengetahuan majemuk-nya Howard Gardner,
pendidikan karakter di keluarga cenderung bertujuan meningkatkan kecerdasan interpersonal dan
kecerdasan intrapersonal.
Menurut Syarbini (2014), dalam bukunya membagi menjadi tujuh metode yang bisa
digunakan untuk menanamkan karakter pada anak, yaitu:
1. Metode internalisasi, yaitu memasukkan pengetahuan dan keterampilan ke dalam diri seseorang
untuk menjadi kepribadiannya sehari-hari.
2. Metode keteladanan, yaitu metode pengajaran dengan cara memberikan contoh atau teladan
yang baik kepada anak-anak. Anak-anak akan meniru apa saja yang dilakukan dan apa saja yang
dikatakan oleh orang tuanya. Jika orang tua berkata dan berlaku baik, maka baiklah yang ditiru
anak-anaknya. Sebaliknya, jika orang tuanya sering berkata dan berlaku kurang baik, maka
mereka akan berlaku dan berkata seperti orang tuanya tersebut.
3. Metode pembiasaan. Pembiasaan merupakan cara orang tua untuk mengajarkan anak-anak untuk
melakukan sesuatu. Pembiasaan dapat menanamkan rasa tanggung jawab anak atas pekerjaan
atau rutinitas tersebut. Sebagai contoh pembiasaan shalat tepat waktu dapat mendidik anak untuk
disiplin.
4. Metode bermain. Kadangkala anak-anak merasa bosan dengan rutinitas serta aturan-aturan yang
ketat. Baik di rumah maupun di sekolah anak-anak biasanya terikat oleh sebuah tatanan atau
aturan. Metode bermain menjadi salah satu alternatif bagi orang tua untuk menanamkan karakter
kepada anak. Tanpa mereka sadar, kegiatan bermain-main sebenarnya mengajarkan mereka
karakter yang sangat penting. Sifat sportifitas, kerja sama, komunikasi merupakan bagian kecil
dari pendidikan karakter dalam bermain.
5. Metode bercerita. Ketika kita masih kecil, sering kali orang tua senang menceritakan sebuah
dongeng kepada anak-anak mereka. Di dalam cerita tersebut orang tua bisa menyelipkan
penanaman karakter kepada anak. Misalnya cerita kancil dan monyet yang berisi nasehat untuk
hidup jujur. Cerita kancil dan kura-kura menanamkan karakter tidak sombong, dan sebagainya.
6. Metode nasehat. Nasehat bisa diberikan secara langsung oleh orang tua kepada anaknya tanpa
melalui perantara atau media bantu. Nasehat merupakan pesan-pesan orang tua secara langsung
kepada anak tentang apa yang baik dan yang buruk untuk dikerjakan.
7. Metode hadiah dan hukuman. Kadangkala kita sering mengabaikan metode reward and
punishment. Kita terlalu sering memberikan hukuman kepada anak ketika mereka dinilai
bersalah. Namun, ketika mereka memperoleh prestasi kita jarang memberikan hadiah
(reward). Kata reward tidak terbatas pada hadiah yang berupa fisik, tetapi bisa diaplikasikan
dalam bentuk pujian, tepuk tangan, pelukan, ciuman. Dengan cara seperti ini kita mendidik
mereka menjadi orang yang bisa menghargai orang lain.