Anda di halaman 1dari 5

Dalam banyak artikel, guru selalu diletakkan sebagai penanggung jawab utama akan moral bangsa Indonesia,

sampai-sampai pemerintah menggagas pendidikan karakter pada kurikulum 2013. Padahal sebelum pemerintah

memasukkan pendidikan karakter ke dalam kurikulum pun, guru sudah mengajarkan berbagai karakter baik seperti

kesopanan, kerapian, kedisiplinan, dan lain-lain. Selain itu, sekolah juga menerapkan sistem poin untuk pelanggaran

yang dilakukan oleh anak. Namun, memang hal tersebut tidak tertulis dalam RPP dan silabus.

Guru terkesan menjadi tersangka utama yang mengakibatkan adanya masalah moral seperti tawuran, kenakalan

remaja, seks bebas, penyalahgunaan obat-obat terlarang dan lain sebagainya. Padahal, guru bukanlah satu-satunya

komponen yang seharusnya bertanggung jawab akan semua masalah yang sekarang terjadi. Seorang guru hanya

bertemu dengan anak ketika di sekolah. Bahkan, untuk guru di tingkat SMP dan SMA bisa jadi guru hanya bertemu

dengan anak selama 2 jam pelajaran.

Seharusnya, berbagai masalah moral yang terjadi di negara ini diperbaiki bersama mulai dari komponen terkecil

yakni keluarga. Keluarga merupakan lingkungan terkecil sekaligus lingkungan pertama seorang anak mendapatkan

pendidikan. Keluarga juga merupakan tempat dimana seorang anak lebih banyak berinteraksi dalam kesehariannya.

Orang tua tidak semata mengajarkan budi pekerti baik secara teoretis, namun juga harus memberi teladan yang baik.

Bagaimana mungkin anak akan berbudi pekerti baik jika orang tua tidak memberikan contoh yang baik pula? Dalam

islam, konsep ini disebut mawaddah warohmah.

Namun, semua tanggung jawab moral ini tidak hanya ditumpahkan kepada keluarga. Keluarga juga harus di dukung

oleh lingkungan sekitar. Jika di keluarga seorang anak sudah mendapatkan pendidikan budi pekerti yang baik, tetapi

lingkungan di sekitarnya kurang kondusif, maka anak juga akan terpengaruh oleh lingkungannya.

Pada akhirnya, sekolah dengan guru sebagai pelaksananya bertugas untuk menyempurnakan pendidikan karakter

yang sudah dipupuk dari keluarga dan lingkungan. Guru tidak hanya mengedepankan transfer pengetahuan, tetapi

juga mendidik. Mendidik disini yakni menanamkan pendidikan budi pekerti baik dengan cara menasehati, maupun

dengan memberi teladan.

1,428 total views, 1 views today

Pendidikan Karakter Tanggung Jawab di Sekolah Dasar

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan salah satu aspek yang penting. Salah satunya adalah
untuk mewujudkan cita-cita pembangunan nasional di Indonesia. Tanpa adanya
pendidikan, Negara tidak akan mampu berdiri kokoh. Negara yang maju dan berdiri
kokoh haruslah mempunyai bangsa yang kuat, baik pendidikannya maupun
persatuannya. Dengan kata lain, bangsa Indonesia harus bersatu padu dan berilmu
pengetahuan.
Bangsa Indonesia mempunyai cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa.
Dalam hal ini, pendidikan karakter tanggung jawab sangat diperlukan. Pendidikan
ini membantu anak didik memahami sekaligus menerapkan karakter tanggung
jawab dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, pendidikan ini juga dapat melatih
anak didik bertanggung jawab dalam setiap tindakan yang dilakukan. Inilah yang
dimaksud bahwa pendidikan karakter tanggung jawab sebagai bekal untuk
mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia.
Menanamkan pendidikan karakter tanggung jawab memang tidak semudah
membalikkan telapak tangan. Anak didik cenderung mengabaikannya, karena anak
didik merasa telah mendapatkannya di dalam keluarga. Anak didik memang telah
mengetahui pentingnya pendidikan karakter tanggung jawab. Akan tetapi, anak
didik juga harus dapat menerapkannya. Dengan demikian, semua tindakan yang
dilakukan dapat dipertanggungjawabkan.
Berdasarkan fakta tersebut, penulis berinisiatif mengangkat judul Pendidikan
Karakter Tanggung Jawab di Sekolah Dasar. Penulis membahas pendidikan karakter
tanggung jawab sangatlah diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Anak didik
sebagai penerus generasi muda harus dapat mempertanggungjawabkan semua
tindakannya. Diharapkan dengan adanya pendidikan ini, anak didik mampu menjadi
penerus generasi muda yang bertanggung jawab.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, penulis merumuskan empat rumusan
masalah sebagai berikut.
1. Apa saja macam-macam karakter tanggung jawab?
2. Apa faktor yang menyebabkan karakter tanggung jawab tidak diterapkan anak
didik?
3. Apa upaya yang dapat dilakukan untuk menerapkan karakter tanggung jawab?

II. PEMBAHASAN
1. Macam-macam tanggung jawab
Tanggung jawab adalah kewajiban dalam melaksanakan tugas tertentu.
Tanggung jawab timbul karena telah diterima wewenang. Seperti wewenang,
tanggung jawab memberikan hubungan tertentu antara pemberi wewenang dan
penerima wewenang.[1]
Tanggung jawab harus diajarkan sejak dini. Tanggung jawab mulai
diperkenalkan dan diajarkan kepada anak di lingkungan keluarga, di mana peran
orang tua yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan kepribadian tanggung
jawab seorang anak.
Dengan tertibnya penggunaan hak dan kewajiban timbulah rasa tanggung
jawab. Sukanto (1985) menyatakan bahwa di antara tanggung jawab yang pasti ada
pada manusia adalah : [2]
1. Tanggung jawab kepada Tuhan yang telah memberikan kehidupan dengan cara
takut kepada-Nya, bersyukur, dan memohon petunjuk.
2. Tanggung jawab untuk membela diri dari ancaman, siksaan, penindasan, dan
perlakuan kejam dari mana pun datangnya.
3. Tanggung jawab diri dari kerakusan ekonomi yang berlebihan dalam mencari
nafkah, ataupun sebaliknya, dari bersifat kekurangan ekonomi.
4. Tanggung jawab sosial kepada masyarakat sekitar.
5. Tanggung jawab berpikir, tidak perlu meniru orang lain.
6. Tanggung jawab dalam memelihara hidup dan kehidupan, termasuk kelestarian
lingkungan hidup dari berbagai bentuk pencemaran.

Tanggung jawab dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu :


1. Tanggung Jawab Personal
Tanggung jawab personal adalah tanggung jawab yang ditanamkan pada anak
untuk mempertanggungjawabkan atas semua tindakan yang dilakukan. Ciri-ciri
anak yang bertanggung jawab adalah :
A. Memilih jalan yang lurus
B. Selalu memajukan diri sendiri
C. Menjada kehormatan diri
D. Selalu waspada
E. Memiliki komitmen pada tugas
F. Melakukan tugas dengan standar yang baik
G. Mengakui semua perbuatannya
H. Menepati janji
I. Berani menanggung resiko atas semua tindakan dan ucapan

Anak yang bertanggung jawab pada dirinya berarti anak itu bisa melakukan
kontrol pada dirinya baik secara internal maupun eksternal. kontrol internal
merupakan satu keyakinan bahwa ia boleh mengontrol dirinya dan yakin bahwa
kesuksesan yang dicapai merupakan hasil dari usaha sendiri. kontrol eksternal
merupakan kemampuan diri mengontrol segala kekuatan yang dating dari luar.
Dalam meraih kesuksesan kedua faktor kontrol tersebut haruslah seimbang.
2. Tanggung Jawab Moral
Tanggung jawab moral adalah tanggung jawab yang merujuk pada pemikiran bahwa
anak mempunyai kewajiban moral dalam situasi tertentu. Kewajiban bertanggung
jawab sering kali membawa pada apa yang disebut bertanggung jawab hukum(legal
responsibility). Anak secara hukum bertanggung jawab atas suatu tindakan yang
dilakukannya.
3. Tanggung Jawab Sosial
Tanggung jawab sosial merupakan tanggung jawab ysng mengajarkan anak dapat
bertanggung jawab kepada masyarakat di sekelilingnya. Tanggung jawab ini dapat
bersifat positif maupun negatif. Dikatakan bersifat positif berarti terdapat tanggung
jawab untuk bertindak baik(sikap pro aktif). Sedangkan, yang bersifat negatif berarti
tidak adanya tuduhan yang memberatkan. Tanggung jawab sosial merupakan sifat
yang oerlu dikendalikan dalam berhubungan dengan orang lain.
Nilai-nilai yang harus ada pada anak apabila berinteraksi dalam masyarakat atau
dengan orang lain di antaranya adalah :
A. Senantiasa berbicara benar
B. Menghindarkan perasaan iri dan dengki
C. Bersikap pemaaf
D. Adil
E. Amanah
F. Tidak sombong

2. Faktor Yang Menyebabkan Tanggung Jawab Tidak Diterapkan Anak Didik


Penerapan tanggung jawab tidak semudah membalikkan telapak tangan. Penerapan
tanggung jawab banyak mengalami hambatan. Hambatan ini datangnya bisa dari
anak didik sendiri, tetapi kadang-kadang juga karena adanya faktor-faktor lain
misalnya kondisi lingkungan, orang tua, atau dari pihak sekolah sendiri. [3]
Faktor yang datangnya dari keluarga misalnya kecenderungan orang tua yang
selalu memanjakan anaknya. Selain itu, orang tua juga tidak pernah mengajarkan
rasa tanggung jawab kepada anak atas semua tindakan yang dilakukannya.
Faktor yang datang dari kondisi lingkungan misalnya anggota masyarakat
membiarkan seorang anak yang membuang sampah tidak pada tempatnya.
Seharusnya apabila ia mengetahui perbuatan tersebut, ia harus mengingatkannya.
Faktor yang datang dari lingkungan sekolah misalnya seorang anak tidak
mengerjakan tugas yang sebelumnya telah diberikan oleh guru. Contoh lain
misalnya seorang anak menyontek saat ujian. Hal itu berarti anak tersebut tidak
bertanggung jawab.

3. Upaya yang dapat dilakukan untuk Menerapkan Karakter Tanggung Jawab


Ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh guru dalam menanamkan rasa
tanggung jawab yang tinggi pada anak didik. Di antaranya adalah :[4]
A. Memulai dari tugas-tugas sederhana
B. Menebus kesalahan saat berbuat salah
C. Segala sesuatu mempunyai konsekuensi
D. Sering berdiskusi tentang pentingnya tanggung jawab
Peran guru ibarat sekeping mata uang, di satu sisi sebagai pendidik dan sisi lain
sebagai pengajar. Kedua peran itu dapat dibedakan tetapi tidak pernah dapat
dipisahkan. Peran guru tidak sekedar sebagai pengajar semata, yakni sebagai
penyebar ilmu dan teknologi pada anak didik di sekolah, namun peran guru dalam
menanamkan sikap, nilai karakter, moral, dan budaya bagi anak didiknya. Guru
haruslah menjadi teladan, seorang model sekaligus mentor dari anak didik di dalam
mewujudkan perilaku yang berkarakter yang meliputi olah pikir, olah hati, dan olah
rasa. Masyarakat masih berharap para guru dapat menampilkan perilaku yang
mencerminkan niali-nilai moral seperti kejujuran, keadilan, dan mematuhi kode etik
profesional.