Anda di halaman 1dari 34

ASUHAN KEBIDANAN PADA NY.

S P 10011 POST
SC HARI KE-2 ATAS INDIKASI KPD DENGAN
NYERI PADA LUKA BEKAS OPERASI DI BPS
AL KHOIRIYAH SIDOARJO

Oleh :
CHOLIFATUROSIDAH
NIM : 03.114

AKADEMI KEBIDANAN HUSADA


JOMBANG
2006
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan Rahmat dan
Hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan penulisan dan penyusunan laporan Asuhan
Kebidanan Pada Ny. S P 10011 Post SC Hari ke-2 atas Indikasi KPD dengan Nyeri
pada Luka Bekas Operasi di BPS Al Khoiriyah Sidoarjo.
Laporan ini disusun sebagai tugas praktek klinik kebidanan angkatan II pada
semester V. Dalam penulisan dan penyusunan laporan ini, penulis mendapatkan
masukan, bimbingan, dari instansi pendidikan maupun dari instansi lahan praktek,
oleh karena itu bersama ini penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebanyak-
banyaknya kepada :
1. Dra. Soelijah Hadi, M.Kes, selaku Direktur Akademi Kebidanan Husada Jombang.
2. Ibu Khoiriyah, Amd.Keb, selaku pembimbing ruangan praktek.
3. Ibu Siti Mudrikatin, S.Si.T, selaku pembimbing Akademi Kebidanan Husada
Jombang.
4. Serta rekan-rekan yang telah membantu dalam penyelesaian asuhan kebidanan ini
yang tidak kami sebutkan satu persatu. Penulis menyadari bahwa penulisan
laporan ini kurang dari sempurna, untuk itu kritik dan saran yang bersifat
membangun sangat kami harapkan.

Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan bagi
para pembaca pada umumnya.

Jombang, Februari 2006

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan barometer pelayanan kesehatan
ibu di suatu negara. Bila AKI tinggi, berarti pelayanan kesehatan ibu belum baik.
Sebaliknya, bila AKI rendah berarti pelayanan kesehatan ibu sudah baik.
Mortalitas dan morbilitas pada wanita hamil dan bersalin adalah masalah besar di
negara berkembang.
Kematian saat melahirkan biasanya menjadi faktor utama mortalitas wanita pada
masa puncak produktifitasnya. Tahun 1996, WHO memperkirakan lebih dari
580.000 per tahunnya meninggal saat hamil atau bersalin. Di kawasan ASEAN,
Indonesia mempunyai AKI yang paling tinggi yaitu 334 per 100.000 kelahiran
hidup (SDKI 1997) sedangkan target yang harus dicapai pada tahun 2010 adalah
125 per 100.000 kelahitam hidup (Dep. Kes. RI 2001)
Nifas merupakan masa pulih kembali, mulai dari persalinan selesai
sampai alat-alat kandungan kembali seperti semula (pra hamil). Dalam masa ini
rawan terjadi infeksi. Infeksi masa nifas sudah dikenal sejak jaman Hipokrates
dan Geineus. Jaman dulu penyakit ini diduga disebabkan oleh karena tidak
merupakan lochea. Kemudian banyak teori lain dikemukakan untuk menerangkan
sebab infeksi nifas. Dalam tahun 1849 Semelweis untuk pertama kali berdasarkan
pengalamannya paa Gebaroustat bahwa penyakit pada masa nifas yang banyak
meminta korban sedemikian banyak disebabkan oleh infeksi poada luka-luka
jalan lahir yang untuk sebagian besar datang dari luar.
Perawatan masa nifas sangat diperlukan untuk mencegah dan mendeteksi
adanya komplikasi yang terjadi adalah perdarahan, infeksi dan gangguan
psikologis.
Oleh karena itu dalam melaksanakan asuhan kebidanan pada masa nifas
harus dilakukan secara komprehensif yang meliputi aspek promotif, preventif,
kuratif dan rehabilitatif secara terpadu dan berkesinambungan.
1.2 Tujuan Penulisan
1.2.1 Menerangkan dan mengembangkan pola pikir secara ilmiah ke dalam
proses Asuhan Kebidanan nyata serta mendapatkan pengalaman dalam
memecahkan masalah pada ibu post sc dengan menggunakan manajement
Varney.
1.2.2 Tujuan Khusus
Setelah melakukan Asuhan Kebidanan pada Ny. S post SC
diharapkan mahasiswa mampu menerapkan manajement Varney yang
meliputi :
- Mahasiswa mampu melakukan pengumpulan data pada Ny. S post
SC pada hari kedua dengan nyeri.
- Mahasiswa dapat mengidentifikasi diagnosa, masalah, kebutuhan pada
Ny. S post SC hari kedua.
- Mahasiswa dapat mengetahui masalah potensial pada Ny. S dengan
kasus post sc hari kedua.
- Mahasiswa dapat mengetahui tindakan segera pada Ny. S dengan
kasus post sc hari kedua.
- Mahasiswa dapat merencanakan rencana yang akan dilakukan pada
Ny. S dengan kasus post sc hari kedua
- Mahasiswa dapat/ mampu melaksanakan rencana yang telah
direncakana pada Ny. S dengan kasus post sc hari kedua.
- Mahasiswa dapat mengevaluasi sejauh mana keberhasilan yang telah
dicapai dalam melakukan tindakan pada Ny. S dengan kasus post sc
hari kedua.

1.3 Cara Pengambilan Data


1.3.1 Wawancara
Pengambilan data dengan cara tanya jawab langsung kepada pasien.
1.3.2 Observasi
Pengambilan data dengan cara mengobservasi langsung kepada pasien.
1.3.3 Dokumentasi
Pengambilan data melihat pada lembar status pasien atau buku rekam
medik pasien.
1.3.4 Studi Pustaka
Teori Asuhan Kebidanan diambil dari buku-buku tentang nifas dan buku
yang membahas komplikasi kehamilan.
1.4 Manfaat Penulisan
1.4.1 Bagi Penulis
Penulis mendapat pengalaman serta dapat menerapkan apa yang
telah didapatkan dalam bangku kuliah dengan kasus nyata dalam
melaksanakan asuhan kebidanan.
1.4.2 Bagi Rumah Sakit
Sebagai bahan perbandingan dalam asuhan kebidanan paa P10001
Post SC hari kedua.
1.4.3 Bagi Institusi
Sebagai bahan kepustakaan bagi yang membutuhkan asuhan dan
perbandingan pada penanganan kasus yang sama.
1.4.4 Bagi Klien
Agar mereka mengetahui masalah apa saja yang berkaitan dengan
kehamilannya sehingga mudah bekerjasama untuk mengatasi
permasalahan tersebut.
BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1 Konsep Dasar Teori Nifas


2.1.1 Definisi
Nifas adalah : - Masa yang dimulai setelah partus selesai, dan berakhir
setelah kira-kira 6 minggu, akan tetapi seluruh alat
genitalnya baru pulih kembali seperti sebelum ada
kehamilan dalam waktu 3 bulan.
(Ilmu Kebidanan, 1999, hal 237)
- Masa yang dimulai setelah kelahiran placenta dan
berakhir ketika alat kandungan kembali seperti
keadaan sebelum hamil dan berlangsung selama kira-
kira 6 minggu. (Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal, 2002, hal 122)
- Masa sesudah persalinan yang diperlukan untuk
pulihnya kembali alat kandungan yang lamanya 6
minggu. (Obstetri Fisiologi, hal 315)
- Masa pulih kembali, mulai dari persalinan selesai
sampai alat-alat kandungan kembali seperti pra hamil,
lamanya 6 8 minggu. (Sinopsis Obstetri, hal 115)
2.1.2 Pembagian masa nifas menurut hanika winkjosastro ilmu kebidanan nifas
dibagi dalam 3 periode yaitu :
1. Puerperium Dini
Yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan
berjalan-jalan, dalam agama Islam dianggap telah bersih dan boleh
bekerja setelah 40 hari.
2. Puerperium Intermedial
Yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genital yang lamanya 6
8 minggu
3. Remote Puerperium
Yaitu waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna
terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai
komplikasi. Waktu untuk sehat sempurna bisa berminggu-minggu,
bulanan atau tahunan.
2.1.3 Involusi Alat-alat Kandungan
1. Uterus
- Uterus secara berangsur-angsur menjadi kecil sehingga kembali
seperti sebelum kehamilan dan persalinan.
- Perubahan ini berhubungan dengan perubahan pada miometrium
terjadi perubahan-perubahan yang bersifat protelitis (pemecahan
protein yang akan dikeluarkan melalui urine)
- Otot-otot uterus berkonsentrasi setelah post partum, pembuluh-
pembuluh darah yang berada diantara anyaman otot-otot uterus
akan terjepit, proses ini akan menghentikan perdarahan setelah
plasenta dilahirkan.
Tabel tinggi fundus uteri dan berat uterus menurut masa involusi
Involusi TFU Berat Uterus
Bayi lahir Setinggi pusat 1000 gram
Uri lahir 2 jari bawah pusat 750 gram
1 minggu Pertengahan pusat sympisis 500 gram
2 minggu Tidak teraba diatas sympisis 350 gram
6 minggu Bertambah kecil 50 gram
8 minggu Sebesar normal 30 gram
- Rata-rata TFU berkurang 1 2 cm/ hari sampai akhir minggu
pertama.
- Involusi uterus terjadi sangat lambat bila uterus terinfeksi.
2. Involusi Tempat Plasenta
Setelah persalinan tempat plasenta merupakan tempat dengan
permukaan kasar, tidak merata dan kira-kira sebesar telapak tangan.
Dengan cepat luka ini mengecil, pada akhir minggu ke-2 hanya
sebesar 3 4 cm, dan pada akhir nifas 1 2 cm. Penyembuhan luka
bekas placenta khas sekali.
Biasanya luka yang demikian sembuh dengan menjadi parut tetapi
luka bekas plasenta tidak meninggalkan parut.
3. Perubahan Pembuluh Darah Rahim
Dalam kehamilan uterus banyak mempunyai pembuluh-
pembuluh darah yang besar, tetapi karena persalinan tidak diperlukan
lagi peredaran darah yang banyak, maka arteri harus mengecil lagi
dalam nifas.
4. Perubahan pada Servik dan Vagina
Beberapa hari setelah persalinan, OUE dapat dilalui oleh 2
jari, pinggir-pinggirnya tidak rata tetapi retak-retak karena robekan
dalam persalinan. Pada akhir minggu pertama hanya dapat dilalui
1 jari saja dan lingkaran retraksi berhubungan dengan bagian atas dan
canalis servikalis pada cerviks berbentuk sel-sel otot karena hanya
perplasia ini dan karena retraksi dari cerviks robekan cerviks menjadi
sembuh. Pada minggu ke-3 post partum mulai nampak kembali.
5. Dinding Perut dan Peritonium
Setelah persalinan dinding perut longgar karena diregang
begitu lama tetapi biasanya pulih kembali dalam 6 minggu. Kadang-
kadang pada wanita yang asthemis terjadi diastonis dari otot-otot
rectum abdominis, sehingga sebagian dari dinding perut digaris
tengah hanya terdiri dari peritoneum fascia dan kulit. Tempat yang
lemah ini menonjol kalau berdiri/ mengejan.
6. Ligamen-Ligamen
Ligamen-ligamen dan diafragma pelvis yang meregang pada
waktu persalinan setelah bayi lahir secara berangsur-angsur menjadi
ciut dan pulih kembali sehingga tidak jarang uterus jatuh ke belakang
dan menjadi retrofleksi.
7. Endometrium
Perubahan pada endometrium timbul trombosis, degenerasi
dan nekrosis di tempat implantasi placenta.
- Hari pertama, endometrium (+) setebal 2 5 mm, mempunyai
permukaan kasar akibat pelepasan dasidua dan selaput janin.
- Setelah hari ke-3, permukaan endometrium mulai rata kembali
skibat lepasnya sel-sel dari bagian yang mengalami degenerasi.
- Regenerasi endometrium yang memakan waktu 2 3 minggu
- Jaringan di tempat implantasi placenta mengalami proses
degenerasi dan nekrosis
- Bagian yang nekrotik dikeluarkan dengan lochia
- Pelepasan jaringan berdegenerasi berlangsung lengkap sehingga
tidak terjadi jaringan parut
8. Serviks dan Vagina
- Setelah post partum bentuk agak menggantung seperti corong
disebabkan pada corpus terjadi kontraksi sedangkan serviks tidak,
sehingga seolah-olah pada pembatasan antara korpus dan serviks
berbentuk seperti cincin.
- Warna serviks merah kehitam-hitaman karena pembuluh darah
banyak.
- Konsistensi lunak
- Setelah janin dilahirkan tangan pemeriksa masih dapat
dimasukkan ke dalam cavum uteri
- Setelah 2 jam hanya dapat dimasukkan 2 3 jari
- Setelah involusi selesai, ostium eksternum lebih besar dan tetap
retak dan robek pada pinggirnya.
9. Saluran Kencing
- Dinding kandung kencing melibatkan oedem dan hanya
peranemia
- Kadang dari trigenum menimbulkan obstruksi dari uretra sehingga
terjadi retensio urine
- Kandung kencing dalam puerperium kurang sensitif dan
kapasitasnya bertambah sehingga KK penuh atau terjadi residu
dan trauma pada dinding KK pada waktu persalinan memudahkan
terjadinya enfeksi.
10. Laktasi
- Masing-masing buah dada, terdiri dari 15 24 lobus yang terletak
radial dan terpisah satu sama lain oleh jaringan lemak
- Trap lobus terdiri dari lobulus yang terdiri dari sel asinii
- Acinii membersihkan air susu
- Tiap lobulus mempunyai saluran halus utnuk mengalirkan air
susu
- Saluran-saluran yang halus bersatu menjadi satu saluran untuk
tiap lobulus
- Saluran ini disebut Duktus lactikerus yang memusat menuju
puting susu
- Pengaruh menekan dari esterogen dan progesteron terjadi hiposis
hilang laktogen hormone/ prolaktin timbul merangsang
laktasi
- Meningkatkan istirahat, aktivitas dan keamanan, serta mencegah
komplikasi dan mobilisasi.
- Meningkatkan asupan makanan dan cairan yang adekuat
- Meningkatkan pola eliminasi normal
- Mencegah Isoimunisasi Rh paa ibu dengan Rh ()
- Memenuhi kebutuhan belajar ibu, kebersihan diri, perawatan
perinatal, perawatan PD, latihan peregangan otot, hubungan
seksual dan kontrasepsi
- Meningkatkan rasa percaya diri dan gambaran tubuh serta
penggunaan sumber kesehatan yang ada di masyarakat.
11. Defekasi
- Buang air besar harus dilakukan 3 4 hari pasca persalinan, bila
masih sulit BAB dan terjadi obstipasi apalagi BAB keras dapat
diberikan obat laksan peroral atau per rectal jika belum bisa
dilakukan klisma.
2.1.4 Perubahan Lain Pada Masa Nifas
1. A fler pains (mules-mules)
Sebagai akibat kontraksi uterus kadang-kadang sangat
mengganggu selama 2 3 hari PP. After pains lebih terasa bila wanita
tersebut menyusui perasaan sakit timbul bila masih ada sistem
plasenta, sisa selaput ketuban atau gumpalan darah dari kavum uteri.
2. Suhu Badan
- Suhu badan inpartu kala tidak lebih dari 37oC
- Sesudah inpartu dapat naik 0,5oC dari keadaan normal tetapi tidak
melebihi 38oC
- Sesudah 12 jam PP, suhu kembali normal jika lebih 38 oC
infeksi
3. Nadi
- Umumnya 60 80 x/menit
- Setelah partus dapat menjadi bradikardi
- Bila takikardi dan badan tidak panas mungkin ada peredaran
berlebihan/ ada vitium kordis pada plasenta
- Denyut nadi masa nifas lebih efektif dari pada suhu
4. Pengeluaran Lochea
Lochea adalah sekret yang berasal dari kavum uteri dan
vagina dalam masa nifas lochea tidak lain dari pada sekret luka yang
berasal dari luka dalam rahim terutama luka plasenta. Sifat lochea
berubah seperti sekret luka berubah menurut tingkat perubahan luka.
a. Lochea rubra
- Waktu keluarnya pada saat dua hari PP
- Konsistensi cair
- Baunya biasa/ khas
- Berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, sel-sel desidu
verniks kaseosa, laneigo dan mekonium
b. Lochea sanguinolenta
- Waktu keluarnya biasanya pada hari ke 3 7 PP
- Konsistensi lebih kental dan bercampur lendir
- Warnanya coklat
- Baunya biasa atau khas
c. Lochea serosa
- Waktu keluar pada saat 7 14 hari PP
- Konsistensi cari dan tidak bercampur darah
- Warnanya kuning
- Baunya biasa atau khas
d. Lochea alba
- Waktu keluarnya pada saat lebih dari 14 hari PP
- Konsistensi kental hampir seperti albus
- Warnanya putih karena banyaknya leucocyt terdapat di
dalamnya
e. Lochea purulenta
- Waktunya jika terjadi infeksi
- Konsistensinya kental dan bercampur darah
- Warnanya kehijau-hijauan
- Baunya luar biasa/ busuk, menandakan adanya infeksi
f. Lochiositosis
- Lochea tidak lancar keluarnya, jika lochea tetap berwarna
setelah 2 minggu ada kemungkinan tertinggal sisa plasenta
atau karena involusi yang kurang sempurna karena retrokleksi
uteri.
2.1.5 Pengkajian pada Ibu Post Partum (Kala IV 2 jam PP) meliputi :
1. Tekanan darah
2. Nadi
3. Suhu tubuh
4. Fundus uteri
5. Kandung kemih
6. Lochea
7. Perineum
8. Keluhan nyeri
9. Status emosional

2.2 Konsep Dasar Teori Seksio Caesarea


2.2.1 Definisi
Suatu persalinan buatan, dimana janin dilahirkan melalui suatu
insisi pada dinding perut dan dinding rahim dengan syarat rahim dalam
keadaan utuh dan berat janin, diatas 500 gram.
(Prof. dr. Hanifa Witensosastro, DSOG, 2000, 133)
Suatu tindakan untuk melahirkan bayi dengan berat di atas 500
gram, melalui sayatan pada dinding uterus yang masih utuh (Prof. dr.
Abdul Bari Saifudin, SPOG, 2000, 536)
2.2.2 Indikasi Seksio Caesarea pada Ibu dan Janin
a. Ibu
- Disproposi kepala panggul/ CPD/ FPD
- Disfungsi uterus
- Panggul sempit Absolut
- Plasenta previa
- Pernah sc sebelumnya
b. Janin
- Kelainan letak
- Gawat janin
- Janin besar
2.2.3 Jenis-jenis seksio caesarea
1. Seksio caesarea klasik : pembedahan secara sanger
2. Seksio caesarea transperitonealis profunda
3. Seksio caesarea diikuti dengan histerektomi
4. Seksio caesarea ekstraperitoneaus
2.2.4 Prosedur langkah klinik
a. Langkah klinik
- Persetujuan medik
Menetapkan indikasi seksio caesarea
Menentukan jenis seksio caesarea
Mempersiapkan tim
Pencegahan infeksi dan persiapan operasi
b. Persiapan pasien
- Di ruang perawatan pasien harus puasa 6 jam. Pasien yang tidak
dapat puasa, harus dipasang pipa lambung ukuran (18 20) dan
benar-benar dihisap sampai kosong
- Diperiksa ulang apakah sudah lengkap pemeriksaan yang
diperlukan seperti darah rutin, fungsi hati, gula darah, Hb,
golongan darah
- Baju pasien diganti dengan baju khusus
- Pasang infus RL
- Baringkan pasien pada posisi tidur
- Dipasang folley kateter
c. Persiapan penolong
- Memakai baju khusus operasi lengkap
- Mempersiapkan alat-alat
- Menyiapkan obat-obat yang diperlukan
- Penolong cuci tangan
- Memakai baju/ jas operasi dan sarung tangan
d. Tindakan pembiusan
e. Tindakan operasi
f. Dekontaminasi
g. Cuci tangan pasca tindakan
h. Perawatan pasca bedah
1. Periksa TFU, ukur jumlah urine tampung dan jumlah perdarahan
2. Buat laporan operasi
3. Buat instruksi perawatan yang meliputi
- Jadwal TTV
- Jadwal jumlah produksi urine
- Tuliskan instruksi pengobatan dengan singkat dan terinci yang
mencakup nama obat, dosis, cara pemberian dan waktu
pemberian
i. Nasehat dan konseling pasca operasi
1. Kepada keluarga klien
Beritahu bahwa
- Operasi telah selesai dan sampaikan jalannya operasi,
kondisi ibu saat ini dan apa yang diharapkan minimal
mencangkup 24 jam pasca OP
- Waktu lahir, jenis kelamin, panjang badan, BB, keadaan
bayi
Jelaskan rencana perawatan dan perkirakan waktu pasien
dapat dipulangkan
Minta pada keluarga untuk ikut mengawasi pasien khususnya
terhadap bekas luka sc
2. Kepada pasien
Beritahu bahwa
- Keadaan px saat ini
- Waktu lahir, jenis kelamin, panjang badan, BB, keadaan
bayi
- Resiko fungsi reproduksi, kehamilan dan persalinan yang
akan datang
Lakukan konseling dan rencanakan upaya-upaya pencegahan
kehamilan minimal 2 tahun setelah sc
Jelaskan resiko yang akan dihadapi oleh px sampai ia yakin,
paham dan mengerti

2.3 Konsep Dasar Teori Nyeri


2.3.1 Definisi
Nyeri adalah rangsangan tidak enak yang dapat menimbulkan
takut dan kuatir sebagai akibat dari ketidaktahuan akan proses nyeri yang
dialami.
2.3.2 Mekanisme terjadinya nyeri
Stimulasi Nyeri

Reseptor

Sumsum syaraf central melalui saraf asenden

Talamus cortex serebral

Mengiterprestasikan arti nyeri

sensasi nyeri
2.3.3 Faktor-faktor yang mempunyai rasa nyeri
a. Faktor psikologik
- Sikap ibu
- Keadaan mental ibu
- Kebiasaan ibu
- Budaya
b. Faktor fisik
- Keadaan umum pasien
- Umur pasien
2.3.4 Tingkatan/ skala nyeri berdasarkan ekspresi wajah

0 2 4 6 8 10

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Tidak Nyeri Tidak berat
nyeri mengganggu

Keterangan :
- Bila skala nyeri > 5 harus diberikan terapi
- Nyeri tingkat 10 = penderita sangat takut, capek dan sangat nyeri

2.4 Ketuban Pecah Dini (KPD)


2.4.1 Pengertian
Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat
tanda-tanda persalinan, dan ditunggu satu jam belum dimulainya tanda
persalinan.
2.4.2 Penyebab ketuban pecah dini
Penyebab ketuban pecah dini mempunyai dimensi multifaktorial
yang dapat dijabarkan sebab :
- Serviks Inkompeten
- Ketegangan rahim berlebihan : kejan ganda, Hidramnion
- Kelainan letak janin dalam rahim : letak sungsang, letak lintang
- Kemungkinan kesempitan panggul : perut gantung, bagian terendah
belum masuk PAP, sefalopelvik disproporsi
- Kelainan bawaan dari selaput ketuban
- Infeksi yang menyebabkan terjadi proses biomekanik pada selaput
ketuban dalam bentuk proteolitik sehingga memudahkan ketuban
pecah
2.4.3 Permasalahan ketuban pecah dini
Ketuban pecah dini menyebabkan hubungan langsung antara
dunia luar dan ruangan dalam rahim, sehingga memudahkan terjadinya
infeksi asenden. Salah satu fungsi selaput ketuban adalah melindungi atau
menjadi pembatas dunia luar dan ruangan dalam rahim sehingga
mengurangi kemungkinan infeksi. Makin lama periode laten, makin besar
kemungkinan infeksi dalam rahim, persalinan prematuritas dan
selanjutnya meningkatkan kejadian kesakitan dan kematian ibu dan bayi
atau janin dalam rahim.
Di samping itu ketuban pecah dini yang disertai kelainan letak
akan mempersulit pertolongan persalinan yang dilakukan di tempat
dengan fasilitas belum memadai.
2.4.4 Penatalaksanaan KPD
Ketuban pecah dini merupakan sumber persalinan prematuritas,
infeksi dalam rahim terhadap ibu maupun janin yang cukup besar dan
potensial. Oleh karena itu, tatalaksana ketuban pecah dini merupakan
tindakan yang rinci sehingga dapat menurunkan kejadian persalinan
prematuritas dan infeksi dalam rahim. Sebagai gambaran umum untuk
tatalaksana ketuban pecah dini dapat dijabarkan sebagai berikut :
- Mempertahankan kehamilan sampai cukup matur khususnya maturitas
paru sehingga mengurangi kejadian kegagalan perkembangan paru
yang sehat.
- Terjadi infeksi dalam rahim, yaitu korioamnionitis yang menjadi
pemicu sepsis, meningitis janin, dan persalinan prematuritas
- Dengan perkiraan janin sudah cukup besar dan persalinan diharapkan
berlangsung dalam waktu 72 jam dapat diberikan kartikosteroid,
sehingga kematangan paru janin dapat terjamin.
- Pada umur kejan 24 minggu sampai 32 minggu yang menyebabkan
menunggu berat janin cukup, perlu dipertimbangkan untuk melakukan
induksi persalinan dengan kemungkinan janin tidak dapat
diselamatkan.
- Menghadapi ketuban pecah dini, diperlukan KIM terhadap ibu dan
keluarga sehingga terdapat pengertian bahwa tindakan mendadak
mungkin dilakukan dengan pertimbangan untuk menyelamatkan ibu
dan mungkin harus mengorbankan janinnya.
- Pemeriksaan yang penting dilakukan adalah USG untuk mengukur
distansia bipariental dan perlu melakukan aspirasi air ketuban untuk
melakukan pemeriksaan kematangan paru melalui perbandingan L/S
- Waktu terminasi pada hamil aterm dapat dianjurkan selang waktu 6
jam sampai 24 jam, bila tidak terjadi his spontan.

2.5 Konsep Asuhan Kebidanan pada Masa Nifas (Asuhan Post Partum)
2.5.1 Definisi
Asuhan kebidanan adalah aktivitas/ intervensi yang dilakukan
oleh bidan kepada ibu yang mempunyai kebutuhan atau permasalahan
dalam bidang KIA/ KB. (Depkes. RI: 1993)
Dalam memberikan asuhan kebidanan pada klien, bidan
menggunakan metode pendekatan pemecahan masalah dengan difokuskan
pada suatu proses yang sistematik dan analisis.
Asuhan post partum adalah asuhan yang diberikan pada ibu
segera setelah kelahiran sampai 6 8 minggu setelah kelahiran (akhir
masa nifas)
2.5.2 Tujuan
Adapun tujuan inti dari pemberian asuhan post partum ini adalah
untuk memberikan asuhan yang adekuat dan berdasarkan dan terstandart
pada ibu segera setelah melahirkan dengan memperhatikan riwayat
selama kehamilan dalam persalinan dan keadaan segera setelah
melahirkan, sehingga ibu dapat melalui masa nifasnya dalam keadaan
normal.
Dalam memberikan asuhan kebidanan kita menggunakan tujuh
langkah manajement kebidanan menurut Helen Varney, yaitu :
2.5.3 Asuhan kebidanan Helen Varney
I. PENGKAJIAN
Pengkajian merupakan langkah awal untuk mendapatkan
data dengan cara mengumpulkan data-data (semua data) yang
dibutuhkan untuk mengevaluasi keadaan ibu melalui anamnesa,
pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang dan data-data penunjang.

a. Data Subyektif
Adalah data yang didapat dari hasil wawancara
(anamnesa) langsung pada keluarga dan klien dan tim kesehatan
lain. Data subyektif ini mencangkup semua keluhan-keluhan dari
klien terhadap masalah kesehatan lain.
Dalam hasil anamnesa terhadap klien tentang masalah
kesehatan yang dialami meliputi hal-hal sebagai berikut :
1. Biodata
Biodata berisi identitas klien beserta suaminya yang meliputi
nama, umur, agama, pendidikan, pekerjaan, suku bangsa,
alamat dan status perkawinan. Dari biodata yang dikaji
diharapkan dapat memberikan gambaran tentang faktor resiko
keadaan sosial ekonomi dan pendidikan klien atau keluarga
yang mempengaruhi kondisi klien.
2. Keluhan utama
Ibu mengatakan nyeri pada luka bekas operasi.
3. Riwayat kebidanan
a. Riwayat haid
Menarche, haid teratur, lama 6 7 hari, siklus20
hari, jumlah darah haid 50 cc, fluor albus 2 hari sebelum
menstruasi, jumlah sedikit, tidak gatal, tidak berbau,
warna putih jernih dan tidak mengalami dismenorhoe.
b. Riwayat kehamilan sekarang
Amenorhoe 9 bulan (HPHT HPL), HPHT :
15-05-05, HPL: 22-02-06 umur kehamilan 39 minggu,
ANC 7x selama hamil (3x dalam TM I, 2x dalam TM II,
2x TM III) di bidan pernah melakukan senam hamil.
4. Riwayat persalinan sekarang
Persalinan yang pertama, ketuban jernih, bau khas,
jumlah 1500 jam berapa lahir, jenis kelamin L/P, tanggal
berapa, Apgarscore, 7 8, BBL 2900 gram keadaan placenta
(panjang 50cm) berat 500 gram, tebal 1-2 cm, diameter
16-18 cm, kotiledon 16-20, selaput lengkap, jumlah
perdarahan 500 cc.

5. Riwayat kehamilan, persalinan, nifas yang lalu


Perkawinan ke, anak ke., jenis kelamin L/P,
ditolong oleh bidan atau dokter atauy dukun, berat badan lahir
berapa, panjang badan 50 cm, nifas normal 40 hari, anak
masih hidup atau tidak, umurnya berapa tahun.
6. Riwayat kesehatan yang lalu
Dalam masa kehamilan sampai masa nifas ibu tidak pernah
merasakan atau menderita suatu penyakit TBC, asma, DM,
HT, penyakit menular seksual.
7. Riwayat kesehatan keluarga
Dalam keluarga tidak ada yang mempunyai penyakit menular/
TBC dan penyakit menahun/ keturunan seperti DM, HT, asma
dan tidak ada yang mempunyai keturunan kembar.
8. Riwayat KB
Metode KB yang pernah digunakan implan, suntik, pil, berapa
lama, alasan berhenti memakai KB tersebut, rencana metode
KB yang akan datang yang akan digunakan setelah
persalinan.
9. Pola kebisaan sehari-hari
a. Pola nutrisi
Nafsu makan baik, berapa kali dalam sehari minimal 3x/
hari, porsi sedang, minum 5 7 gelas/hari, makan buah,
sayur dan lauk untuk pemenuhan status gizi.
b. Pola eliminasi
Tidak ada kleuhan selama ini
BAB : 1 2 x/hari
BAK : 5 6 x/hari
Konsistensi lembek, bau khas, warna kuning
c. Pola aktivitas
Melakukan pekerjaan rumah sendiri tanpa ada keluhan
d. Pola istirahat/ tidur
Siang : 12.00 14.00 min = 2 jam
Malam : 22.00 04.00 min = 6 jam
e. Pola personal hygiene
Mandi minimal 2x/hari, ganti pakaian 2x/hari, gosok gigi
2x/hari, mencuci rambut 3x/minggu.
10. Keadaan psikologi
Hubungan klien dengan suami baik, keluarga dan tetangga
baik, klien tidak cemas dan tidak banyak bertanya, tidak
menginginkan jenis kehamilan tertentu.
11. Latar belakang sosial budaya
Apakah selama hamil minum jamu, tidak ada pantangan
makanan bagi ibu dan tidak ada adat istiadat yang mengikat
dan menjadi kendala selama kehamilan sampai masa nifas ini.

b. Data Obyektif
1. Data yang diperoleh :
a. Keadaan umum
Kesadaran composmentis, tidak pucat keadaan ibu baik
b. Tinggi badan
147 cm, diperiksa pertama kali datang
c. Berat badan
Berat badan dilakukan setiap kali datang dan kenaikan
selama hamil
2. Pemeriksaan fisik
Kepala : tidak ada benjolan, kulit kepala bersih,
warna rambut hitam, lurus
Muka : pucat, oedem, tidak terdapat cloasma
gravidarum
Mata : simetris, conjungtiva merah muda, sklera
putih tidak ada oedem palpebra
Hidung : simetris, ada polip apa tidak, ada sekret
atau tidak
Telinga : simetris, bersih, serumen () kelainan
bentuk ()
Mulut dan gigi : simetris, bersih, mukosa lembab tidak
kering, tidak ada stomatitis, tidak ada
caries gigi
Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tyroid,
tidak ada pembesaran vena jugularis
Dada : simetris, puting susu menonjol,
hyperpigmentasi areola mammae, tidak
terdapat pengeluaran coloctrum
Abdomen : pembesaran abdomen sesuai dengan masa
nifas yaitu 2 jari bawah pusat striae
gravidarum, linea nigra.
Punggung : simetris, tidak ada kelainan bentuk
punggung
Genetalia : bersih, tidak oedem, tidak varises,
pengeluaran pervaginam (+)
Ekstremitas atas : tidak terdapat oedem, tidak varises,
simetris
3. Pemeriksaan penunjang
Tanggal :
Laboratoium :
USG :
Rontgen :

II. DIAGNOSA MASALAH DAN KEBUTUHAN


P10001 Post SC hari yang ke berapa, berapa hari setelah persalinan.
Dx : PAPIAH post partum hari ke berapa dengan nyeri luka bekas
operasi.
Data dasar :
Riwayat persalinan
- HPHT
- HPL
- Umur kehamilan 39 minggu
- Anak ke-
- Jenis kelamin : L/P
- BBL : 2900 gram PBL : 50 cm 55 cm
- Tali pusat panjang 50 cm, lengkap/ manual, berat 500 gram tebal
1 2 cm, plac. Kotiledon 16 20.
Kebutuhan :

III. ANTISIPASI MASALAH POTENSIAL


Potensial terjadi infeksi

IV. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN SEGERA


- Observasi TTV
- Vulva hygiene
- Pengosongan KK
- Istirahat dan mobilisasi dini
- Kolaborasi dengan tim medis

V. INTERVENSI
Diagnosa : P10001 post sc hari ke-2 dengan nyeri
Tujuan : Setelah dilakukan asuhan kebidanan selama 1x24 jam
ibu mengerti apa yang telah dialaminya dan dapat
melalui masa nifas dengan normal sesuai dengan
kriteria hasil.
- K/U ibu baik, tidak ada perubahan perilaku
- Kesadaran composmentis
- TTV dalam batas normal
T : 120/80 < 140/90
N : 80 90 x/menit
RR: 20 24 x/menit
S : 36,5 37,2oC
- TFU 2 jari bawah pusat, UC (+) baik, keras,
lochea rubra, pada hari 1 3 PP
Intervensi :
1. Jelaskan pada ibu mengenai apa yang telah dialami ibu
R/ Diharapkan ibu mengeri tentang apa yang telah dialaminya
2. Motivasi untuk mobilisasi
R/ Mobilisasi secara teratur, bertahap dan diikuti istirahat dan
dilakukan sesuai dengan keadaan pasien
3. Lakukan perawatan luka bekas operasi sc dengan benar
R/ Perawatan luka yang memperhatikan teknik aseptik
4. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk memenuhi kebutuhan nutrisi
R/ Gizi yang cukup, baik dalam jumlah dan komposisinya
dapat membantu mempercepat proses penyembuhan luka
5. Bantu ibu melakukan personal hygiene
R/ Personal hygiene yang terjaga dapat mencegah terjadinya
infeksi.
6. Observasi TFU, UC, dan luka operasi
R/ Untuk mengetahui apakah masa nifas berjalan dengan
normal, resiko terjadinya infeksi
7. Observasi k/u ibu, kesadaran dan TTV tiap 8 jam
R/ Mendeteksi adanya suatu kelainan yang mempengaruhi
kesadaran
8. Observasi warna, jumlah pengeluaran lochea
R/ Untuk memastikan involusi berjalan normal atau tidak
9. Berikan informasi mengenai penyebab nyeri
R/ Membantu mengurangi nyeri
10. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi
R/ Mencegah infeksi dan mengurangi rasa sakit

VI. IMPLEMENTASI
Diagnosa : P10001 post sc hari ke-1 dengan nyeri
1. Melakukan pendekatan pada ibu
2. Memotivasi untuk memobilisasi dengan miring kanan kiri
3. Melakukan perawatan luka bekas sc dengan benar
4. Kolaborasi dengan ahli gizi dalam pemberian diet
5. Membantu ibu menjaga kebersihan tubuhnya
6. Mengobservasi TFU, UC dan luka operasi
7. Melakukan observasi k/u, kesadaran dan TTV setiap 8 jam
8. Mengobservasi warna, jumlah, pengeluaran lochea
9. Memberikan informasi mengenai nyeri
10. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi
- Infus RL 20 tts/menit - Metil ergometrin 3x1
- Inj. Cefotaxim 2x1 amp - Metronidazol 3x1
- Inj. Fransamin 3x1 amp - BC 3x1
- Mefast 3x1 - Vit. C 3x1
- Lipo prox 2x1

VII. EVALUASI
Dx : P10001 post SC hari ke-2 dengan nyeri
S : Ibu mengatakan bahwa ia merasa sudah sehat dan ingin cepat
pulang
O : k/u baik
TTV : T : 120/80 mmHg S : 364 oC
N : 84 x/menit N : 20 x/menit
TFU 2 jari bawah pusat
Terdapat pengeluaran lochea rubra 20 CC
Melakukan perawatan luka (luka sudah kering, tidak ada pus,
bersih)
A : Masalah teratasi
P : Lanjutkan intervensi 3 yaitu
Lakukan perawatan luka bekas operasi dengan benar (di
rumah) dan personal hygiene yaitu mandi minimal 2x/hari
setelah luka jahitan diangkat, dan juga ganti pembalut.

BAB III
TINJAUAN KASUS

3.1 Pengumpulan Data


MRS : 19 02 2006
Tanggal Pengkajian : 19 02 2006
A. Data Subyektif
3.1.1 Biodata
Nama : Ny. S Nama Suami : Tn I
Umur : 36 thn Umur : 28 thn
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan : SMP Pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Swasta
Penghasilan : Suku/ bangsa : Jawa/ Ind
Suku/ bangsa : Jawa/ Ind Status perkawinan : Kawin
Status perkawinan : Kawin Lama Kawin : 2 thn
Lama kawin : 2 thn Alamat : Plumbungan
Alamat : Plumbungan
3.1.2 Keluhan Utama
Ibu mengatakan nyeri pada luka bekas operasi
3.1.3 Riwayat Haid
a. Riwayat haid
Menarche : 13 tahun
Haid teratur/ tidak : teratur
Lama haid : 8 hari
Siklus haid : 28 hari
Fluor Albus : ya, sedikit 2 hari sebelum menstruasi tidak
gatal, tidak berbau, warna putih jernih
Dismenorhoe : tidak pernah
b. Riwayat kehamilan sekarang
Amnorhoe : 9 bulan
HPHT : 15 5 2005
HPL : 22 2 2006
Umur kehamilan : 39 minggu

ANC
TM I : 3x di bidan
TM II : 2x di bidan
TM III : 2x di bidan
Keluhan selama hamil
TM I : mual-mual di pagi hari
TM II : tidak ada keluhan
TM III : tidak ada keluhan
Obat-obat yang sudah didapat : Fe, Vit. C, Kalk
Imunisasi yang didapat :
TT CPW : 1x
TT hamil I : 1x pada uk 4 bulan
TT hamil II : 1x pada uk 5 bulan
Penyuluhan yang pernah didapat

3.1.4 Riwayat persalinan sekarang
Tanggal 19 Februari 2006, jam 03.50 WIB, lahir anak
pertama dengan jenis kelamin perempuan, hidup, tunggal, ada
kelainan persalinan dengan seksio caesarea ditolong oleh DSOG dan
tim operasi di DKT Sidoarjo.
Hasil AS :78 MO : 34
BBL : 2900 gram SOB : 32
PBL : 50 cm
LD : 33 cm
Tali pusat panjang 50 cm, tidak ada lilitan tali pusat pada leher dan
badan.
Plasenta : lahir manual dengan berat 500 gram
Ukuran : 16 x 18 cm, insersi sentralis
Perineum : utuh
3.1.5 Riwayat persalinan yang lalu
Hamil saat ini
3.1.6 Riwayat kesehatan yang lalu
Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit seperti
jantung, kencing manis, hepatitis, darah tinggi, asma, TBC dan ibu
juga tidak pernah MRS sebelumnya, ibu juga tidak pernah operasi.
3.1.7 Riwayat kesehatan keluarga
Dalam kleuarga klien tidak ada yang mempunyai penyakit
seperti TBC, DM, HT, asma, hepatitis dan baik dari keluarga suami
maupun ibu sendiri tidak ada keturunan kembar.
3.1.8 Riwayat KB
Ibu mengatakan tidak pernah menggunakan alat kontrasepsi
apapun sebelumnya dan untuk rencana KB selanjutnya ibu masih
belum memikirkannya.
3.1.9 Pola kebiasaan sehari-hari
a. Pola nutrisi
Saat hamil : Makan : 3x/ hari porsi sedang menu, lauk, sayur
kadang buah
Minum : 6 7 gelas/ hari, air putih, teh
Saat PP : Makan : 3x/ hari, porsi sedang menu nasi, lauk,
sayur dan buah
Minum : 5 6 gelas/ hari, air putih, teh
b. Pola aktivitas
Saat hamil : ibu mengerjakan s emua pekerjaan rumah tangga
sendiri seperti menyapu, memasak, tapi hanya
yang ringan-ringan saja
Saat PP : ibu hanya miring ke kiri dan ke kanan saja
c. Pola istirahat
Saat hamil : Siang : 13.00 15.00 WIB
Malam : 21.00 04.00 WIB
Saat PP : Siang : 12.30 14.30 WIB
Malam : 21.00 04.30 WIB
d. Pola eliminasi
Saat hamil : BAK : 5 6 x/hari, konsistensi cair, bau khas,
warna kuning jernih
BAB : 1x/hari, konsistensi lembek, bau khas,
warna kuning kecoklatan
Saat PP : BAK pada saat pengkajian terpasang DK dengan
UT 200 cc warna kuning, bau khas

e. Personal hygiene
Saat hamil : mandi 2x/hari, ganti baju dan pakaian dalam
sehabis mandi,gosok gigi 2x/hari, keramas
3x/minggu
Saat PP : Ibu masih diseka pada pagi dan sore hari, ganti
baju tiap habis diseka, ganti pembalut 2x/hari
atau bila softex penuh.
f. Pola seksual
Saat hamil : Pada TM I dan II ibu melakukan hubungan
seksual 1x dalam satu minggu dan tidak ada
keluhan, pada TM III ibu tidak melakukan
hubungan seksual karena takut
Saat PP : Ibu belum pernah melakukan hubungan seksual
setelah operasi
3.1.10 Keadaan psikososial
- Hubungan antara ibu dengan suami baik
- Hubungan ibu dengan keluarga dan tetangga baik
- Kehamilan ini sangat diharap-harapkan oleh ibu dan keluarga
3.1.11 Latar belakang sosial budaya
- Ibu mengatakan bila bayinya berumur 40 hari akan diadakan
upacara selapan
- Setelah melahirkan ibu tidak boleh melakukan pekerjaan yang
berat dan melelahkan
- Tidak ada kebiasaan keluarga yang menghambat seperti tidak
boleh makan telur, ayam (tarak)

B. Data Obyektif
1. Keadaan umum : cukup
Kesadaran : CM
BB : 53 kg
LILA : 24 cm
2. TTV
N : 88 x/menit S : 368 oC
T : 120/70 mmHg RR : 20 x/menit

3. Pemeriksaan fisik
Kepala : rambut hitam lurus, kulit kepala bersih, rambut
tidak rontok, tidak ada ketombe, ada benjolan
Muka : tidak pucat, terdapat cloasma gravidarum,
terdapat oedem pada wajah
Mata : simetris, konjungtiva merah muda, sklera putih
porselen
Hidung : simetris, bersih, ada sekret, tidak ada pernapasan
cuping hidung, ada polip
Mulut dan gigi : mukosa bibir kering, tidak pucat, terdapat
stomatitis, tidak ada caries gigi, terdapat gigi
palsu
Axila : tidak ada benjolan
Dada dan PD : Simetris, ada benjolan, ada retraksi intercosta,
terdapat hyperpigmentasi areola mammae, puting
susu menonjol, kolostrum belum keluar dari PD
kanan dan kiri, ada ronchi dan wheezing
Leher : ada pembesaran kelenjar tyroid dan terdapat
pembendungan vena jugularis
Abdomen : pembesaran perut sesuai dengan masa nifas yaitu 2
jari bawah pusat, terdapat linea nigra, terdapat
luka bekas operasi yang melintang 10 cm, luka
tertutup kasa steril dan luka masih basah, kontraksi
uterus baik
Genetalia : terdapat pengeluaran lochea rubra 50 cc, warna
merah kehitaman, tidak oedem, tidak ada
condiloma, terpasang DK dengan UT : 200 cc
Ekstremitas atas : simetris, tidak ada oedem, tidak terdapat gangguan
pergerakan, terpasang infus RL pada tangan kanan
Ektremitas bawah : simetris, tidak oedem, tidak ada varises, tidak ada
gangguan pergerakan
4. Pemeriksaan penunjang
Hb : 11 gram%
5. Kesimpulan : P10001 post sc hari ke-2 atas indikasi KPD dengan nyeri
pada luka bekas operasi
6. Tx yang sudah didapat
- Infus RL : 20 tetes/menit
- Cefotaxim 2 x 1 ampul (500 mg)
- Transamin 3x1 ampul (500 mg)
- Mefast 3x1
- Licpoprox 2x1
- Metil ergometrin 3x1
- Metronidazol 3 x 1
- Bc 3x1
- Vit C 3x1

3.2 Identifikasi Diagnosa, Masalah dan Kebutuhan


Data Diagnosa, Masalah, Kebutuhan
Ds : ibu mengatakan nyeri pada luka Dx :
bekas operasi P10001 post sc hari ke-2 dengan
Do : indikasi KPD
- k/u cukup Mx : Nyeri luka bekas operasi
- kesadaran composmentis
- TTV
T : 120/70 mmHg
N : 88 x/menit
S : 368 oC
RR : 20 x/menit
- Ada jahitan bekas operasi yang tertutup
kasa
- Abdomen
Terdapat bekas luka sc (tertutup kasa)
tidak ada tanda-tanda infeksi
- TFU 2 jari bawah pusat, UC baik
- Terdapat pengeluaran lochea rubra
50cc terpasang DK, UT : 200cc
- Ektremitas kanan atas terpasang infus
RL 20 tetes
- Ada nyeri tekan pada luka bekas sc

3.3 Antisipasi Masalah Potensial


Potensial terjadi resiko infeksi

3.4 Identifikasi Kebutuhan Segera


- Rehidrasi RL 20 tetes/menit
- Pencegahan infeksi
Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi, obat, advice dokter
- Injeksi cefotaxim 2x1 ampul
- Injeksi transamin 3x1 ampul

3.5 Intervensi
Dx : P10001 post sc hari ke-2 dengan indikasi KPD
Tujuan : Setelah dilakukan asuhan kebidanan selama 1x30 menit
diharapkan ibu dapat mengerti tentang penjelasan petugas
Kriteria hasil :
- Keadaan umum ibu cukup
- Ibu mengetahui kondisinya saat ini
- TTV
T : 110/70 130/80 mmHg
N : 60 90 x/menit
S : 36 37,5oC
RR : 16 24 x/menit
Intervensi :
1. Lakukan pendekatan pada pasien
R/ Dengan pendekatan maka terjalin hubungan yang kooperatif antara ibu
dan petugas kesehatan
2. Jelaskan pada ibu tentang keadaannya pada saat post partum dengan operasi
R/ Ibu mengerti tentang keadaannya saat ini
3. Bantu ibu untuk melakukan personal hygiene yaitu : menyeka, membersihkan
genetalia, mengganti softex dan mengganti baju.
R/ Personal hygiene yang terjaga dapat mencegah terjadinya infeksi dan
dapat memberi rasa nyaman bagi ibu
4. Anjurkan ibu untuk meneteki bayinya
R/ ASI merupakan makanan utama bayi dan isapan bayi merangsang
kontraksi uterus dan otot-otot polos payudara

5. Anjurkan ibu untuk mobilisasi dalam 24 36 jam PP


R/ Memperlancar peredaran darah dan mencegah kekakuan otot sendi
serta mengembalikan elastisitas otot panggul
6. Observasi TFU, UC dan luka operasi
R/ Observasi TFU dan kontraksi uterus untuk mengetahui involusi
berjalan normal (sesuai umur masa nifas)
Observasi luka operasi memastikan luka dalam keadaan baik (bersih)
tidak ada perdarahan dan mencegah terjadinya infeksi
7. Anjurkan ibu minum obat secara teratur
R/ Dengan minum obat secara teratur akan mempercepat proses
kesembuhan
8. Berikan terapi sesuai advis dokter
- Infus RL 20 tetes/menit - Metil erfometrin 3x1
- Cefotaxim 3x1 ampul - Metronidazol 3x1
- Transamin 3x1 ampul - Bc 3x1
- Mefast 3x1 - Vit. C 3x1
- Lipoprox 2x1

Masalah : Nyeri luka bekas sc


Tujuan : Setelah dilakukan asuhan kebidanan pada ibu selama 1x15
menit rasa nyeri berkurang
Kriteria hasil : - keadaan ibu baik
- TTV normal
T : 110/70 130/80 mmHg
N : 60 90 x/menit
S : 365 oC 375 oC
RR : 10 24 x/menit
Intervensi :
1. Ajarkan tehnik relaksasi
R/ Merilekskan otot-otot yang tegang sehingga nyeri berkurang
2. Kaji tingkat nyeri
R/ Menentukan tindakan selanjutnya
3. Berikan analgesik sesuai advis dokter
R/ Mengurangi rasa nyeri

3.6 Implementasi
Tanggal : 19 02 2006
Diagnosa : P10001 post sc hari ke-2 dengan indikasi KPD
Jam 08.00 WIB
1. Mengijeksi obat
- Cefo 1 ampul
- Transamin 1 ampul
Jam 08.10 WIB
2. Melakukan pendekatan pada klien
Jam 08.15 WIB
3. Menjelaskan pada pasien tentang kondisinya setelah operasi
Jam 08.20 WIB
4. Melakukan personal hygiene dengan mengganti pambalut
Jam 08.30 WIB
5. Menganjurkan ibu untuk segera meneteki bayinya
Jam 08.35 WIB
6. Menganjurkan ibu untuk miring ke kiri atau ke kanan (mobilisasi)
Jam 08.40 WIB
7. Melakukan observasi TFU dan kontraksi uterus
Jam 08.45 WIB
8. Menganjurkan ibu untuk minum obat secara teratur
Masalah : Nyeri luka bekas sc
Intervensi :
Jam 08.50 WIB
1. Mengajarkan ibu tehnik relaksasi yaitu miring ke kiri dan ke kanan dan
menggerakkan tangan dan kakinya.
Jam 08.55 WIB
2. Melihat ekspresi wajah ibu
Jam 09.00 WIB
3. Memberikan analgesik sesuai advis dokter

3.7 Evaluasi
Tanggal : 20 02 2006 Jam : 09.00 WIB
Diagnosa : P10001 post sc hari ke-2 dengan indikasi KPD
S : Klien mengatakan keadaannya sudah lebih baik dan klien mengerti tentang
keadaannya
O : - keadaan umum cukup
- kesadaran CM
- TTV
T : 120/70 mmHg
N : 88x/menit
S : 368 oC
RR : 20 x/menit
A : Ibu mengerti tentang keadaannya dan saat ini ibu sehat
P : Rencana no. 4, 5, 6, 7, 8
4. Lakukan personal hygiene
5. Anjurkan ibu untuk meneteki bayinya
6. Anjurkan ibu untuk mobilisasi dalam 24 36 jam PP
7. Lakukan observasi TFU, kontraksi uterus
8. Berikan terapi sesuai advis dokter
Masalah : Nyeri luka bekas sc
S : Klien mengatakan nyeri luka bekas operasi masih belum berkurang
O : - Keadaan umum ibu cukup
- Kesadaran composmentis
- Wajah klien menyeringai kesakitan bila bergerak
- Luka bekas sc tertutup kasa
A : Nyeri belum berkurang
P : Lanjutkan intervensi 2, 3
2. Kaji tingkat nyeri
3. Berikan terapi analgesik sesuai advis dokter