Anda di halaman 1dari 803

KUP

SURAT EDARAN DIRJEN PAJAK

2009

SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK


NOMOR SE - 116/PJ/2009
TENTANG
KEBIJAKAN PEMERIKSAAN UNTUK TUJUAN LAIN
DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Sehubungan dengan telah belakunya Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009 tentang Penetapan
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2008 tentang Perubahan
Keempat Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan (selanjutnya disebut Undang-Undang KUP) dan telah diterbitkannya Peraturan
Menteri Keuangan Nomor 199/PMK.03/2007 tentang Tata Cara Pemeriksaan, Peraturan Direktur
Jenderal Pajak Nomor PER-19/PJ/2008 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Lapangan,
Peraturan Direktur Jenderal Pajak nomor PER-20/PJ/2008 tentang Petunjuk Pelaksanaan
Pemeriksaan Kantor, serta Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak nomor SE-10/PJ.04/2008
tentang Kebijakan Pemeriksaan Untuk Menguji Kepatuhan Pemenuhan Kewajiban Perpajakan,
maka dalam rangka menciptakan tertib administrasi pemeriksaan untuk tujuan lain serta
meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelaksanaannya, dipandang perlu menetapkan kebijakan
pemeriksaan untuk tujuan lain sebagai berikut :

I. KEBIJAKAN UMUM

1. Pemeriksaan untuk tujuan lain merupakan pemeriksaan yang dilakukan untuk


melaksanakan ketentuan tertentu dalam peraturan perundang-undangan
perpajakan dan bukan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban
perpajakan Wajib Pajak serta tidak dimaksudkan untuk menerbitkan surat
ketetapan pajak atau Surat Tagihan Pajak.

2. Ruang lingkup pemeriksaan untuk tujuan lain meliputi penentuan, pencocokan,


atau pengumpulan materi yang berkaitan dengan tujuan pemeriksaan.

3. Terdapat 2 (dua) jenis pemeriksaan untuk tujuan lain yang diatur dalam Undang-
Undang KUP, yaitu :

a. Pemeriksaan Lapangan, yaitu pemeriksaan yang dilakukan di tempat


kedudukan, tempat usaha atau pekerjaan bebas, tempat tinggal Wajib
Pajak, atau tempat lain yang ditentukan oleh Direktur Jenderal Pajak; dan

b. Pemeriksaan Kantor, yaitu pemeriksaan yang dilakukan di kantor


Direktorat Jenderal Pajak.

4. Jangka waktu pemeriksaan untuk tujuan lain harus mengacu pada Peraturan
Menteri Keuangan Nomor 199/PMK.03/2007, dengan ketentuan sebagai berikut :

a. Pemeriksaan Lapangan dilakukan dalam jangka waktu 2 (dua) bulan dan


dapat diperpanjang menjadi paling lama 4 (empat) bulan yang dihitung
sejak tanggal Surat Perintah Pemeriksaan (SP2) sampai dengan tanggal
Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP), kecuali untuk pemeriksaan dalam
rangka penentuan saat produksi dimulai, jangka waktu pemeriksaannya
harus mengacu pada jangka waktu yang ditentukan dalam instruksi
pemeriksaan.

b. Pemeriksaan Kantor dilakukan dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari dan


dapat diperpanjang menjadi paling lama 14 (empat belas) hari yang
dihitung sejak tanggal Wajib Pajak datang memenuhi surat panggilan
dalam rangka Pemeriksaan Kantor sampai dengan tanggal Laporan Hasil
Pemeriksaan.

c. Jangka waktu maksimal setelah perpanjangan jangka waktu pemeriksaan


tidak dapat diperpanjang lagi meskipun terjadi pergantian tim Pemeriksa
Pajak.

d. Terkait dengan perpanjangan jangka waktu pemeriksaan harus


1) Perpanjangan jangka waktu pemeriksaan dilakukan sepanjang tidak melewati jangka waktu
maksimal yang ditetapkan.
2) Pemberitahuan perpanjangan jangka waktu pemeriksaan hanya disampaikan 1 (satu) kali.
3) Perpanjangan jangka waktu pemeriksaan dilakukan oleh Kepala Unit Pelaksana
Pemeriksaan (Kepala UP2) dengan menyampaikan Surat Pemberitahuan Perpanjangan
Jangka Waktu Pemeriksaan kepada :
a) Kepala Kantor Wilayah DJP untuk instruksi/persetujuan pemeriksaan
yang diterbitkan oleh Kepala Kantor Wilayah DJP; atau
b) Direktur Pemeriksaan dan Penagihan (Direktur P2) untuk instruksi
yang diterbitkan oleh Direktur Pemeriksaan dan Penagihan.
4) Surat Pemberitahuan Perpanjangan Jangka Waktu Pemeriksaan dapat disampaikan secara
manual dan/atau secara elektronik melalui Modul/Menu Pemeriksaan pada SIDJP.
5) Surat Pemberitahuan Perpanjangan Jangka Waktu Pemeriksaan harus disampaikan paling
lambat 3 (tiga) hari sebelum berakhirnya jangka waktu pemeriksaan.
6) Apabila jangka waktu 2 (dua) bulan untuk jenis Pemeriksaan Lapangan atau jangka waktu
7 (tujuh) hari untuk jenis Pemeriksaan Kantor telah terlampaui, dan Kepala Unit Pelaksana
Pemeriksaan tidak menyampaikan Surat Pemberitahuan Perpanjangan Jangka Waktu
Pemeriksaan atau jangka waktu pemeriksaan telah melewati jangka waktu maksimal
setelah perpanjangan jangka waktu pemeriksaan tetapi pemeriksaan belum dapat
diselesaikan, maka Kepala Unit Pelaksana Pemeriksaan harus menentukan tindak lanjut
pemeriksaan tersebut.
7) Tindak lanjut pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada angka 6) dilakukan dengan cara
membuat Laporan Hasil Pemeriksaan berdasarkan data dan informasi yang telah diperoleh
sampai dengan berakhirnya jangka waktu pemeriksaan.
diperhatikan hal-hal sebagai berikut :

5. Tata cara pelaksanaan pemeriksaan untuk tujuan lain harus dilakukan dengan
mengacu pada :

a. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 199/PMK.03/2007 tentang Tata Cara


Pemeriksaan;
b. Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor 19/PJ/2008 tentang Petunjuk
Pelaksanaan Pemeriksaan Lapangan; dan

c. Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor 20/PJ/2008 tentang Petunjuk


Pelaksanaan Pemeriksaan Kantor.

6. Pemeriksaan untuk tujuan lain harus dilakukan sesuai dengan standar


pemeriksaan, meliputi standar umum, standar pelaksanaan pemeriksaan, dan
standar pelaporan hasil pemeriksaan.

7. Peminjaman buku, catatan, dan dokumen dalam rangka pemeriksaan untuk tujuan
lain dapat dilakukan sepanjang berhubungan dengan tujuan pemeriksaan.

8. Hasil pemeriksaan harus dirumuskan dalam suatu Laporan Hasil Pemeriksaan dan
harus mengungkapkan tercapai atau tidaknya tujuan pemeriksaan sesuai dengan
penyebab dilakukannya pemeriksaan untuk tujuan lain.

9. Laporan Hasil Pemeriksaan atas pemeriksaan untuk tujuan lain dibuat dengan
menggunakan formulir sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran I sampai dengan
Lampiran IX Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini.

10. Apabila pada saat melakukan pemeriksaan untuk tujuan lain ditemukan adanya
data dan/atau informasi sehubungan dengan pemenuhan kewajiban perpajakan
untuk Masa Pajak, Bagian Tahun Pajak, atau Tahun Pajak baik untuk Tahun Pajak
berjalan maupun Tahun Pajak sebelumnya, yang mengindikasikan adanya
ketidakpatuhan Wajib Pajak, maka ditentukan sebagai berikut :

a. Apabila data dan/atau informasi tersebut merupakan keterangan lain yang


konkret sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 Undang-Undang KUP,
maka data dan/atau informasi tersebut dapat langsung ditindaklanjuti
dengan penerbitan surat ketetapan pajak berdasarkan penelitian
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 Peraturan Pemerintah Nomor 80
Tahun 2007.

b. Apabila data dan/atau informasi tersebut tidak termasuk keterangan lain


sebagaimana dimaksud pada huruf a, maka data dan/atau informasi
tersebut dapat digunakan sebagai dasar untuk mengusulkan pemeriksaan
menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan melalui
Pemeriksaan Khusus dengan prosedur sebagaimana diatur dalam Surat
Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-10/PJ.04/2008 tentang
Kebijakan Pemeriksaan Untuk Menguji Kepatuhan Pemenuhan Kewajiban
Perpajakan.

c. Apabila data dan/atau informasi tersebut ditindaklanjuti dengan


Pemeriksaan Khusus sebagaimana dimaksud pada huruf b, maka berlaku
ketentuan sebagai berikut :
1) Dalam hal usul Pemeriksaan Khusus yang disetujui adalah untuk Tahun Pajak yang
dengan Tahun Pajak pemeriksaan untuk tujuan lain dengan kriteria penghapusan N
dan/atau pencabutan PKP, maka :
a) Pemeriksaan untuk tujuan lain tersebut dihentikan dengan membuat Laporan H
Pemeriksaan Sumir;
b) Dalam Laporan Hasil Pemeriksaan Khusus juga harus menjelaskan menge
tercapai atau tidaknya tujuan dilakukannya pemeriksaan untuk tujuan lain, ya
menjelaskan apakah peghapusan NPWP dan/atau pencabutan pengukuhan PKP da
disetujui atau tidak; dan
c) Pelaksanaan Pemeriksaan Khusus harus memperhatikan jangka waktu sebagaim
dimaksud dalam Pasal 2 ayat (7) dan ayat (9) Undang-Undang KUP.
2) Dalam hal usul Pemeriksaan Khusus yang disetujui adalah selain sebagaimana dima
pada angka 1), maka pemeriksaan untuk tujuan lain tersebut tetap dilanjutkan s
dengan tujuan dilakukannya pemeriksaan.

11. Pemeriksaan untuk tujuan lain dapat dilakukan oleh Pejabat Fungsional
Pemeriksa Pajak atau pegawai selain Pejabat Fungsional Pemeriksa Pajak yang
memiliki keahlian di bidang pemeriksaan yang ditunjuk oleh Kepala Unit
Pelaksana Pemeriksaan.

12. Dalam hal pemeriksaan untuk tujuan lain dilakukan oleh pegawai selain Pejabat
Fungsional Pemeriksa Pajak sebagaimana dimaksud pada angka 11, maka jabatan
Supervisor tetap diisi oleh Pejabat Fungsional Pemeriksa Pajak.

13. Ketentuan mengenai pembatalan, pengalihan, atau penghentian pemeriksaan


untuk tujuan lain ditetapkan sebagai berikut :

a. Pembatalan pemeriksaan untuk tujuan lain pada prinsipnya dilakukan


karena terdapat kesalahan administrasi yang bersifat manusiawi (human
error) seperti kesalahan tahun pajak, kesalahan nama Wajib Pajak yang
akan diperiksa, atau kesalahan administrasi lainnya.

b. Pembatalan pemeriksaan untuk tujuan lain dilakukan dengan ketentuan


sebagai berikut :

1) Terhadap instruksi/persetujuan pemeriksaan yang diterbitkan oleh Kepala Kantor Wi


DJP, pembatalan penugasan pemeriksaannya harus dilakukan oleh Kepala Kantor Wi
DJP.
2) Terhadap instruksi pemeriksaan yang diterbitkan oleh Direktur Pemeriksaan
Penagihan, pembatalan pemeriksaannya harus dilakukan oleh Direktur Pemeriksaan
Penagihan.
3) Usul pembatalan pemeriksaan oleh Kepala Unit Pelaksana Pemeriksaan kepada K
Kantor Wilayah DJP atau Direktur Pemeriksaan dan Penagihan dilakukan de
menggunakan formulir sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran X Surat Edaran Dir
Jenderal Pajak ini.
4) Persetujuan atau penolakan pembatalan pemeriksaan atas usulan sebagaimana dima
pada angka 3) disampaikan oleh Kepala Kantor Wilayah DJP atau Direktur Pemerik
dan Penagihan kepada Kepala Unit Pelaksana Pemeriksaan dengan menggunakan for
sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran XI atau Lampiran XI.1 Surat Edaran Dir
Jenderal Pajak ini.
5) Surat persetujuan pembatalan pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada angk
digunakan sebagai dasar untuk melakukan pembatalan Lembar Penugasan Pemerik
melalui aplikasi Modul/Menu Pemeriksaan pada SIDJP

c. Pengalihan pemeriksaan untuk tujuan lain pada prinsipnya dilakukan


karena Wajib Pajak pindah tempat terdaftar (domisili) dari satu Kantor
Pelayanan Pajak ke Kantor Pelayanan Pajak lain sepanjang Lembar
Penugasan Pemeriksaan (LP2)-nya telah diterbitkan pada Modul/Menu
Pemeriksaan pada SIDJP dan Surat Perintah Pemeriksanya belum
diterbitkan atau Surat Perintah Pemeriksaan telah diterbitkan tetapi
pemberitahuan pemeriksaan atau panggilan dalam rangka pemeriksaan
belum disampaikan kepada Wajib Pajak.

d. Pengalihan pemeriksaan untuk tujuan lain terhadap Wajib Pajak yang


pindah domisili ke Kantor Pelayanan Pajak lain tetapi masih dalam
wilayah kerja Kantor Wilayah DJP yang sama, dilakukan oleh :

1) Kepala Kantor Wilayah DJP untuk pemeriksaan yang instruksi/persetujuann


diterbitkan oleh Kepala Kantor Wilayah DJP; atau
2) Direktur Pemeriksaan dan Penagihan untuk pemeriksaan yang instruksinya diterbitk
oleh Direktur Pemeriksaan dan Penagihan.

e. Pengalihan pemeriksaan untuk tujuan lain terhadap Wajib Pajak yang


pindah domisili ke Kantor Pelayanan Pajak lain di luar wilayah kerja
Kantor Wilayah DJP atasan Kantor Pelayanan Pajak lama, dilakukan oleh
Direktur Pemeriksaan dan Penagihan.

f. Usul pengalihan pemeriksaan untuk tujuan lain disampaikan oleh Kepala


Unit Pelaksana Pemeriksaan yang lama kepada Kepala Kantor Wilayah
DJP atasannya atau Direktur Pemeriksaan dan Penagihan dengan
menggunakan formulir sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran XII Surat
Edaran Direktur Jenderal Pajak ini.

g. Persetujuan pengalihan pemeriksaan untuk tujuan lain diberikan oleh


Kepala Kantor Wilayah DJP terkait atau Direktur Pemeriksaan dan
Penagihan kepada Kepala Unit Pelaksana Pemeriksaan yang baru apabila
disetujui pengalihan pemeriksaannya, atau kepada Kepala Unit Pelaksana
Pemeriksaan yang lama apabila ditolak pengalihan pemeriksaannya
dengan menggunakan formulir sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran
XIII atau Lampiran XIII.1 Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini.
h. Surat persetujuan pengalihan pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada
huruf g digunakan sebagai dasar untuk mengalihkan Lembar Penugasan
Pemeriksaan melalui Modul/Menu Pemeriksaan pada SIDJP.

i. Terhadap pemeriksaan yang tidak disetujui untuk dialihkan, maka berlaku


ketentuan sebagai berikut :

1) Pemeriksaan diselesaikan oleh Unit Pelaksana Pemeriksaan yang lama sampai de


penerbitan Laporan Hasil Pemeriksaan;
2) Laporan Hasil Pemeriksaan harus menggunakan identitas baru;
3) Laporan Hasil Pemeriksaan harus dikirimkan kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak
baru dan pihak yang berkepentingan dengan Laporan Hasil Pemeriksaan, u
ditindaklanjuti sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

j. Penghentian pemeriksaan pada prinsipnya dilakukan apabila Wajib Pajak


yang diperiksa atau Wakil Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 32 Undang-Undang KUP ternyata tidak ditemukan berdasarkan
berita acara dari pejabat kelurahan/RT/RW/pengelola gedung setempat.

k. Dalam hal pemeriksaan dihentikan karena kondisi sebagaimana dimaksud


pada huruf j, tim Pemeriksa Pajak membuat Laporan Hasil Pemeriksaan
Sumir dan melakukan perekaman Laporan Hasil Pemeriksaan tersebut ke
Modul/Menu Pemeriksaan pada SIDJP.

l. Berdasarkan Laporan Hasil Pemeriksaan Sumir, tim Pemeriksa Pajak


mengirimkan fotokopi Laporan Hasil Pemeriksaan Sumir kepada Kepala
Seksi Pengawasan dan Konsultasi terkait untuk ditindaklanjuti sesuai
ketentuan yang berlaku.

m. Mengirimkan fotokopi Laporan Hasil Pemeriksaan Sumir tersebut kepada


yang menerbitkan instruksi pemeriksaan.

II. KRITERIA PEMERIKSAAN UNTUK TUJUAN LAIN

1. Kriteria pemeriksaan untuk tujuan lain merupakan alasan atau dasar dilakukannya
pemeriksaan untuk tujuan lain terhadap Wajib Pajak.

2. Pemeriksaan untuk tujuan lain dilakukan dengan kriteria antara lain sebagai
berikut :

a. Pemberian Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan/atau pengukuhan


Pengusaha Kena Pajak (PKP) secara jabatan;

b. Penghapusan NPWP dan/atau pencabutan pengukuhan PKP;

c. Wajib Pajak mengajukan keberatan;


d. Pengumpulan bahan guna penyusunan Norma Penghitungan Penghasilan
Neto;

e. Penentuan Wajib Pajak berlokasi di daerah terpencil;

f. Penentuan satu atau lebih tempat terutang Pajak Pertambahan Nilai;

g. Pemeriksaan dalam rangka penagihan pajak;

h. Penentuan saat produksi dimulai atau memperpanjang jangka waktu


kompensasi kerugian sehubungan dengan pemberian fasilitas perpajakan;
dan/atau

i. Memenuhi permintaan informasi dari negara mitra Perjanjian


Penghindaran Pajak Berganda.

3. Ketentuan dari masing-masing kriteria pemeriksaan diuraikan sebagai berikut :

a Pemeriksaan dalam rangka pemberian NPWP dan/atau pengukuhan PKP


secara jabatan

1) Terhadap Wajib Pajak dan/atau Pengusaha Kena Pajak yang tidak memenuhi kewa
untuk mendaftarkan diri dan/atau melaporkan usahanya dapat diterbitkan NPWP dan
dikukuhkan sebagai PKP secara jabatan sebagaimana diatur dalam Pasal 2 aya
Undang-Undang KUP.
2) Penerbitan NPWP dan/atau pengukuhan PKP secara jabatan dilakukan apabila berdasa
data yang diperoleh atau dimiliki oleh Direktorat Jenderal Pajak ternyata Wajib P
dan/atau Pengusaha Kena Pajak telah memenuhi syarat untuk diterbitkan NPWP dan
dikukuhkan sebagai PKP tetapi tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud d
Pasal 2 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang KUP.
3) Penerbitan NPWP dan/atau pengukuhan PKP secara jabatan dapat dilakukan berdasa
hasil pemeriksaan untuk tujuan lain atau hasil penelitian.
4) Penerbitan NPWP dan/atau pengukuhan PKP secara jabatan terhadap Wajib P
badan/BUT atau Wajib Pajak orang pribadi yang menjalankan usaha atau pekerjaan b
dilakukan berdasarkan hasil pemeriksaan untuk tujuan lain.
5) Penerbitan NPWP dan/atau pengukuhan PKP secara jabatan terhadap Wajib Pajak o
pribadi yang tidak menjalankan usaha atau pekerjaan bebas dilakukan berdasarkan
penelitian oleh Seksi Ekstensifikasi Perpajakan.
6) Pemeriksaan untuk tujuan lain dalam rangka penerbitan NPWP dan/atau pengukuhan
secara jabatan terhadap Wajib Pajak badan/BUT atau Wajib Pajak orang pribadi
menjalankan usaha atau pekerjaan bebas dilakukan setelah Kepala Kantor Pelayanan P
c.q Kepala Seksi Ekstensifikasi Perpajakan menghimbau Wajib Pajak dan/atau Pengu
Kena Pajak untuk mendaftarkan diri dan/atau melaporkan usahanya.
7) Usulan pemeriksaan untuk tujuan lain dalam rangka penerbitan NPWP dan
pengukuhan PKP secara jabatan terhadap Wajib Pajak badan/BUT atau Wajib Pajak o
pribadi yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas disampaikan oleh Kepala
Ekstensifikasi Perpajakan kepada Kepala Seksi Pemeriksaan, apabila :
a) Setelah 14 (empat belas) hari sejak surat himbauan untuk mendaftarkan diri a
melaporkan usahanya, Wajib Pajak atau Pengusaha Kena Pajak tidak menangg
surat himbauan untuk mendaftarkan diri atau melaporkan usahanya;
b) Wajib Pajak dan/atau Pengusaha Kena Pajak menanggapi surat himbauan deng
menyatakan tidak mempunyai NPWP dan/atau belum memenuhi syarat un
dikukuhkan sebagai PKP; atau
c) Wajib Pajak menanggapi surat himbauan dengan menyatakan sudah memiliki NPW
dan/atau telah dikukuhkan sebagai PKP, tetapi berdasarkan Master File Nasio
Wajib Pajak ternyata tidak mendaftar.
8) Berdasarkan usulan dari Kepala Seksi Ekstensifikasi Perpajakan, Kepala
Pemeriksaan melakukan penelaahan serta menentukan prioritas yang akan diperiksa
selanjutnya membuat daftar nominatif Wajib Pajak yang akan diperiksa.
9) Setelah mendapat persetujuan dari Kepala Kantor Pelayanan Pajak, Kepala
Pemeriksaan menyampaikan daftar nominatif Wajib Pajak yang akan diperiksa ke
Kepala kantor Wilayah DJP.
10) Pemeriksaan untuk tujuan lain dalam rangka penerbitan NPWP dan/atau penguk
sebagai PKP secara jabatan terhadap Wajib Pajak badan/BUT atau Wajib Pajak o
pribadi yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas dilakukan terbatas pada penen
terpenuhinya syarat-syarat pemberian NPWP dan/atau pengukuhan PKP
penghitungan besarnya angsuran PPh Pasal 25. Dengan demikian, peminjaman b
catatan dan/atau dokumen dilakukan sepanjang diperlukan untuk penghitungan besa
angsuran tersebut. Apabila ada kewajiban perpajakan lainnya, kepada Wajib Pajak dim
untuk memenuhinya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku u
Masa Pajak, Bagian Tahun Pajak, atau Tahun Pajak setelah diterbitkan NPWP dan
dikukuhkan sebagai PKP.
11) Kepala Seksi Pemeriksaan harus menyampaikan fotokopi Laporan Hasil Pemerik
untuk tujuan lain dalam rangka penerbitan NPWP dan/atau pengukuhan PKP s
jabatan kepada Kepala Seksi Pelayanan dan Kepala Seksi Ekstensifikasi Perpajakan.
12) Apabila berdasarkan data dan/atau informasi yang diperoleh atau dimiliki oleh Direk
Jenderal Pajak, ternyata :
a) Wajib Pajak telah memenuhi persyaratan subjektif dan objektif sesuai den
peraturan perundang-undangan perpajakan untuk Masa Pajak, Bagian Tahun Pa
atau Tahun Pajak sebelum diterbitkannya NPWP dan/atau dikukuhkan sebagai P
secara jabatan; dan
b) Wajib Pajak tidak memenuhi kewajiban perpajakan untuk Masa Pajak, Bagian Tah
Pajak, atau Tahun Pajak tersebut,
maka kepada wajib Pajak dapat diterbitkan surat ketetapan pajak dan/atau Surat Tag
Pajak sesuai dengan ketentuan Pasal 14 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 80 T
2007 tentang Tata Cara Pelaksanaan Hak dan Kewajiban Berdasarkan Undang-Un
KUP.
13) Penerbitan surat ketetapan pajak dan/atau Surat Tagihan Pajak sebagaimana dima
pada angka 12) dapat dilakukan berdasarkan hasil penelitian atau hasil pemeriksaan u
menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dan untuk paling lama 5 (
tahun sebelum diterbitkannya NPWP dan/atau dikukuhkan sebagai PKP secara ja
sebagaimana diatur dalam Pasal 2 ayat (4a) Undang-Undang KUP.
14) Pemeriksaan untuk tujuan lain dalam rangka penerbitan NPWP dan/atau pengukuhan
secara jabatan dilakukan melalui jenis Pemeriksaan Lapangan.

b Pemeriksaan dalam rangka Penghapusan NPWP dan/atau pencabutan


pengukuhan PKP

1) Penghapusan NPWP dilakukan apabila kriteria sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2


(6) Undang-Undang KUP dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 20/PMK.03/
beserta aturan pelaksanaannya terpenuhi, yaitu :
a) Diajukan permohonan penghapusan NPWP oleh Wajib Pajak dan/atau ahli waris
apabila Wajib Pajak sudah tidak memenuhi persyaratan subjektif dan/atau obje
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan;
b) Wajib Pajak badan likuidasi karena penghentian atau penggabungan usaha (da
berdasarkan permohonan atau secara jabatan);
c) Wanita yang sebelumnya telah memiliki NPWP dan menikah tanpa memb
perjanjian pemisahan harta dan penghasilan (dapat berdasarkan permohonan a
secara jabatan);
d) Wajib Pajak Bentuk Usaha Tetap menghentikan kegiatan usahanya di Indone
(dapat berdasarkan permohonan atau secara jabatan); atau
e) Dianggap perlu oleh Direktur Jenderal Pajak untuk menghapuskan NPWP dari Wa
Pajak yang sudah tidak memenuhi persyaratan subjektif dan/atau objektif ses
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan (secara jabatan).
2) Pencabutan pengukuhan PKP dilakukan apabila Pengusaha Kena Pajak :
a) Pindah alamat ke wilayah kerja Kantor Pelayanan Pajak lain;
b) Sudah tidak lagi memenuhi syarat sebagai PKP termasuk Pengusaha Kena Pa
yang jumlah peredaran usaha dan/atau penerimaan brutonya untuk suatu tahun bu
tidak melebihi batas jumlah peredaran usaha dan/atau penerimaan bruto un
Pengusaha Kecil; atau
c) Pengusaha Kena Pajak menyalahgunakan pengukuhan PKP.
3) Penghapusan NPWP dan/atau pencabutan pengukuhan PKP dapat dilakukan secara ja
atau berdasarkan permohonan Wajib Pajak dan/atau Pengusaha Kena Pajak.
4) Penghapusan NPWP dan/atau pencabutan pengukuhan PKP secara jabatan dapat dilak
apabila berdasarkan hasil penelitian administrasi perpajakan atau penelitian lapa
terhadap data/informasi yang diperoleh atau dimiliki oleh Direktorat Jenderal P
ternyata Wajib Pajak sudah tidak memenuhi persyaratan subjektif dan objektif yang a
lain disebabkan :
a) Orang pribadi telah meninggal dunia dan tidak meninggalkan warisan yang bel
dibagi;
b) Bendahara Pemerintah/Bendahara Proyek yang tidak lagi memenuhi syarat seba
Wajib Pajak karena yang bersangkutan sudah tidak lagi ditunjuk menjadi Bendaha
c) Orang pribadi yang telah meninggalkan Indonesia untuk selama-lamanya;
d) Wajib Pajak memiliki lebih dari 1 (satu) NPWP untuk menentukan NPWP yang da
digunakan sebagai sarana administratif pemenuhan pelaksanaan hak dan kewaji
perpajakan;
e) Wajib Pajak badan kantor perwakilan perusahaan asing yang tidak mempun
kewajiban PPh Badan telah menghentikan kegiatan usahanya; atau
f) Warisan yang belum terbagi dalam kedudukan sebagai Subjek Pajak sudah sele
dibagi.
5) Penelitian dalam rangka penghapusan NPWP dan/atau pencabutan pengukuhan PKP s
jabatan sebagaimana dimaksud pada angka 4) dilakukan oleh suatu Tim Peneliti
ditunjuk Kepala Kantor Pelayanan Pajak dengan di-supervisi oleh Kepala
Pengawasan dan Konsultasi terkait.
6) Laporan Hasil Penelitian dalam rangka penghapusan NPWP dan/atau pencab
pengukuhan PKP secara jabatan disampaikan kepada Kepala Seksi Pelayanan u
ditindaklanjuti sesuai dengan ketentuan tentang penghapusan NPWP dan/atau pencab
pengukuhan PKP.
7) Laporan Hasil Penelitian dalam rangka penghapusan NPWP dan/atau pencab
pengukuhan PKP secara jabatan dibuat dengan menggunakan formulir sebagai
ditetapkan dalam Lampiran XIV Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini.
8) Dalam hal penghapusan NPWP dan/atau pencabutan pengukuhan PKP dilak
berdasarkan permohonan Wajib Pajak, maka penghapusan dan/atau pencabutan ter
dilakukan apabila Direktur Jenderal Pajak telah melakukan pemeriksaan sebagai
diatur dalam Pasal 2 ayat (7) dan 2 ayat (9) Undang-Undang KUP.
9) Pemeriksaan dalam rangka penghapusan NPWP dan/atau pencabutan pengukuhan
sebagaimana dimaksud pada angka 8) dapat dilakukan melalui :
a) Pemeriksaan rutin; atau
b) Pemeriksaan untuk tujuan lain.
10) Penghapusan NPWP dan/atau pencabutan pengukuhan PKP didahului dengan pemerik
rutin dalam hal permohonan tersebut terkait dengan :
a) Wajib Pajak Badan yang melakukan penggabungan usaha, peleburan usaha
pemekaran usaha, pemecahan usaha, likuidasi/penutupan usaha, pengambilalihan
usaha;
b) Wajib Pajak Bentuk Usaha Tetap menghentikan kegiatan usahanya di Indonesia
atau
c) Wajib Pajak Orang Pribadi yang akan meninggalkan Indonesia untuk selama
lamanya,
sebagaimana diatur dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-10/PJ.04/2
11) Penghapusan NPWP dan/atau pencabutan pengukuhan PKP didahului dengan pemerik
untuk tujuan lain dalam hal permohonan tersebut dilakukan oleh Wajib Pajak orang pr
selain sebagaimana dimaksud pada angka 4) huruf a) dan huruf c) serta angka 10) huru
12) Pemeriksaan untuk tujuan lain dalam rangka penghapusan NPWP dan/atau pencab
pengukuhan PKP dapat dilakukan dengan jenis Pemeriksaan Kantor atau Pemerik
Lapangan berdasarkan pertimbangan Kepala Kantor Pelayanan Pajak.
13) Dalam hal penghapusan NPWP dan/atau pencabutan pengukuhan PKP dilak
berdasarkan permohonan Wajib Pajak dan/atau Pengusaha Kena Pajak, tim Peme
Pajak dan pejabat lain yang terkait dengan proses penghapusan NPWP dan
pencabutan pengukuhan PKP tersebut harus memperhatikan jangka waktu penyele
sebagaimana diatur dalam Pasal 2 ayat (7) dan ayat (9) Undang-Undang KUP.
14) Dalam hal permohonan pencabutan pengukuhan PKP tidak diikuti dengan permoh
penghapusan NPWP dan diajukan baik oleh Wajib Pajak badan maupun Wajib Pajak o
pribadi, maka pencabutan pengukuhan PKP tersebut dilakukan setelah Pengusaha
Pajak dilakukan pemeriksaan untuk tujuan lain.
15) Apabila setelah penghapusan NPWP dan/atau pencabutan pengukuhan PKP diperoleh
dan/atau informasi yang menunjukkan adanya kewajiban perpajakan yang belum dipe
Wajib Pajak, Direktur Jenderal Pajak dapat menerbitkan surat ketetapan pajak dan
Surat Tagihan Pajak untuk Masa Pajak, Bagian Tahun Pajak, atau Tahun Pajak seb
dan/atau setelah penghapusan NPWP dan/atau pencabutan pengukuhan PKP sesuai de
ketentuan Pasal 14 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 80 Tahun 2007.

c Pemeriksaan dalam rangka Wajib Pajak mengajukan keberatan

1) Pemeriksaan dalam rangka Wajib Pajak mengajukan keberatan (pemeriksaan dalam ra


keberatan) dapat dilakukan apabila terdapat perbedaan pendapat antara Wajib Pajak de
Direktorat Jenderal Pajak sehubungan dengan fakta dan data serta penerapan pera
perundang-undangan perpajakan yang memerlukan pengecekan lapangan.
2) Pemeriksaan dalam rangka keberatan dilakukan terbatas pada hal-hal atau materi sen
yang diminta oleh unit yang memproses penyelesaian keberatan Wajib Pajak.
3) Unit Pelaksana Pemeriksaan yang melakukan pemeriksaan dalam rangka kebe
meliputi :
a) Kantor Wilayah DJP, dalam hal proses penyelesaian keberatan Wajib Pajak
dilakukan oleh Kantor Wilayah DJP.
b) Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan, dalam hal proses penyelesaian keberatan
Wajib Pajak dilakukan oleh Direktorat Keberatan dan Banding.
4) Apabila pemeriksaan dalam rangka keberatan dilakukan oleh Kantor Wilayah
instruksi pemeriksaan untuk tujuan lain diterbitkan oleh Kepala Kantor Wilayah
berdasarkan permintaan dari Kepala Bidang Keberatan dan Banding Kantor Wilayah D
5) Apabila pemeriksaan dalam rangka keberatan dilakukan oleh Direktorat Pemeriksaan
Penagihan, instruksi pemeriksaan untuk tujuan lain diterbitkan oleh Direktur Pemerik
dan Penagihan berdasarkan permintaan dari Direktur Keberatan dan Banding.
6) Permintaan pemeriksaan dalam rangka keberatan sebagaimana dimaksud pada angk
dan angka 5) harus disampaikan paling lambat 6 (enam) bulan sebelum berakhirnya
tempo penyelesaian keberatan dengan menggunakan formulir sebagaimana diteta
dalam Lampiran XV Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini.
7) Hasil pemeriksaan dituangkan dalam Laporan Hasil Pemeriksaan dan
mengungkapkan pendapat tim Pemeriksa Pajak tentang hal-hal atau materi sengketa
diminta oleh unit yang memproses keberatan. Laporan Hasil Pemeriksaan dikirim ke
pihak yang meminta untuk dilakukan pemeriksaan dalam rangka keberatan paling lam
(dua) bulan sebelum berakhirnya jatuh tempo penyelesaian keberatan.
8) Hasil pemeriksaan hanya bersifat sebagai bahan pembanding (second opinion), b
pertimbangan, dan tidak mengikat baik Wajib Pajak maupun pihak Direktorat Jen
Pajak yang memproses keberatan Wajib Pajak.
9) Pemeriksaan untuk tujuan lain dalam rangka keberatan dilakukan dengan
Pemeriksaan Lapangan.

d Pemeriksaan dalam rangka pengumpulan bahan guna penyusunan Norma


Penghitungan Penghasilan Neto

1) Pemeriksaan dilakukan berdasarkan instruksi dari Direktur Pemeriksaan dan Penag


terkait dengan adanya permintaan atau rekomendasi dari Ketua Tim Penyusunan N
Penghitungan Penghasilan Neto yang dibentuk berdasarkan Keputusan Direktur Jen
Pajak. Apabila data untuk penyusunan norma dimaksud sudah ada atau tersedia d
jumlah yang cukup dari Laporan Hasil Pemeriksaan yang sudah ada, permintaan
tidak dilakukan.
2) Instruksi untuk melakukan pemeriksaan dikirimkan langsung kepada Kepala
Pelaksana Pemeriksaan oleh Direktur Pemeriksaan dan Penagihan.
3) Fotokopi Laporan Hasil Pemeriksaan dikirimkan langsung kepada Ketua Tim Penyus
Norma Penghitungan Penghasilan Neto.
4) Pemeriksaan untuk tujuan lain dalam rangka pengumpulan bahan guna penyusunan N
Penghitungan Penghasilan Neto dilakukan dengan jenis Pemeriksaan Lapangan.

e Pemeriksaan dalam rangka penentuan Wajib Pajak berlokasi di daerah


terpencil

1) Pemeriksaan dalam rangka penentuan bahwa Wajib Pajak berlokasi di daerah terp
dilakukan apabila ada permohonan tertulis dari Wajib Pajak untuk penetapan lokasi u
Wajib Pajak sebagai daerah terpencil.
2) Pemeriksaan dalam rangka penentuan Wajib Pajak berlokasi di daerah terpencil
dilakukan oleh Kantor Pelayanan Pajak tempat wajib pajak terdaftar (KPP domisili)
oleh Kantor Pelayanan Pajak yang wilayah kerjanya meliputi lokasi usaha tersebut
lokasi).
3) Apabila pemeriksaan dalam rangka penentuan Wajib Pajak berlokasi di daerah terp
akan dilakukan oleh Kantor Pelayanan Pajak Lokasi sebagaimana dimaksud pada angk
maka Kepala Kantor Wilayah DJP atasan KPP domisili harus menyampaikan permi
dilakukan pemeriksaan kepada Kepala Kantor Wilayah DJP atasan Kantor Pelayanan P
Lokasi.
4) Pemeriksaan dalam rangka penentuan Wajib Pajak berlokasi di daerah terpencil dilak
berdasarkan instruksi Kepala Kantor Wilayah DJP.
5) Mengingat Laporan Hasil Pemeriksaan akan digunakan sebagai dasar untuk menerb
Keputusan Direktur Jenderal Pajak tentang penentuan Wajib Pajak berlokasi di d
terpencil, maka laporan tersebut harus dikirimkan langsung kepada Kepala Kantor Wi
DJP tempat Wajib Pajak mengajukan permohonan penetapan daerah terpencil p
lambat 1 (satu) hari sejak tanggal Laporan Hasil Pemeriksaan.
6) Pemeriksaan dilakukan melalui jenis Pemeriksaan Lapangan.

f Pemeriksaan dalam rangka penentuan satu atau lebih tempat terutang


Pajak Pertambahan Nilai

1) Pemeriksaan dalam rangka penentuan 1 (satu) atau lebih tempat terutang PPN dilak
apabila ada permohonan tertulis dari Pengusaha Kena Pajak kepada Kepala K
Wilayah DJP yang membawahi Kantor Pelayanan Pajak tempat pemusatan PPN.
2) Pemeriksaan dilaksanakan baik oleh Kantor Pelayanan Pajak sebagai Unit Pelak
Pemeriksaan calon tempat pemusatan PPN terutang berada maupun Kantor Pelay
Pajak sebagai Unit Pelaksana Pemeriksaan tempat Wajib Pajak melakukan keg
penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak berada.
3) Dalam hal permohonan Pengusaha Kena Pajak berupa penambahan tempat penyer
barang kena pajak, pemeriksaan hanya dilakukan oleh Unit Pelaksana Pemeriksaan te
penyerahan Barang Kena Pajak dimaksud.
4) Berdasarkan permintaan Pengusaha Kena Pajak sebagaimana dimaksud pada angk
Kepala Kantor Wilayah DJP menerbitkan instruksi pemeriksaan kepada :
a) Kepala Unit Pelaksana Pemeriksaan tempat pemusatan PPN; dan
b) Kepala Unit Pelaksana Pemeriksaan tempat Wajib Pajak yang melakukan kegiatan
penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak.
5) Dalam hal Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak melakukan kegiatan penyer
Barang Kena Pajak berada di luar wilayah Kantor Wilayah DJP tempat Wajib P
mengajukan pemusatan PPN, berlaku ketentuan sebagai berikut :
a) Kepala Kantor Wilayah DJP tempat Wajib Pajak mengajukan pemusatan P
menyampaikan permintaan dilakukan pemeriksaan kepada Kepala Kantor Wila
DJP tempat Wajib Pajak melakukan penyerahan Barang Kena Pajak deng
menggunakan formulir seperti terdapat pada Lampiran XVI;
b) Berdasarkan surat permintaan sebagaimana dimaksud pada huruf a) Kepala kan
Wilayah DJP tempat Wajib Pajak melakukan penyerahan Barang Kena Pa
menerbitkan instruksi pemeriksaan kepada Kepala Unit Pelaksana Pemeriksa tem
Wajib Pajak melakukan penyerahan Barang Kena Pajak; dan
c) Unit Pelaksana Pemeriksaan tempat Wajib Pajak melakukan penyerahan Barang K
Pajak harus menyelesaikan pemeriksaan sesuai dengan tanggal yang ditentu
dalam surat permintaan Kepala Kantor Wilayah DJP tempat Wajib Pajak mengaju
pemusatan.
6) Pemeriksaan terbatas pada kegiatan Pengusaha Kena Pajak dan dokumen pendukun
untuk memastikan terpenuhinya syarat-syarat pemusatan PPN terutang :
a) Bagi Pengusaha Kena Pajak selain Pengusaha Kena Pajak Pedagang Eceran :

i. Tempat melakukan kegiatan penyerahan Barang K


Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak yang dipusatkan tidak melakukan kegia
penjualan maupun pembelian. Semua kegiatan penjualan dan pembelian se
administrasinya hanya dilakukan di tempat usaha yang dipilih sebagai tem
pemusatan PPN;

ii. Fungsi tempat kegiatan penyerahan Barang Kena Pa


yang dipusatkan hanya menyimpan dan menyerahkan Barang Kena Pa
tersebut kepada pembeli atas perintah tempat pemusatan PPN; dan

iii. Tempat kegiatan penyerahan yang dipusatkan ti


membuat Faktur Pajak maupun Faktur Penjualan. Semua Faktur Pajak
Faktur Penjualan hanya diterbitkan oleh tempat pemusatan PPN terutang.

b) Bagi Pengusaha Kena Pajak Pedagang Eceran :

iv. Kegiatan dan administrasi pembelian untuk jarin


penjualan yang tersebar di berbagai tempat dalam satu kota yang terda
lebih dari satu Kantor Pelayanan Pajak, dipusatkan pada salah satu jarin
penjualan tempat pemusatan PPN yang dimohonkan di kota tersebut; dan

v. Pengusaha Kena Pajak Pedagang Eceran tersebut tid


memilih Nilai Lain sebagai Dasar Pengenaan Pajak dalam menghitung paja
terutang.

7) Laporan Hasil Pemeriksaan dikirim langsung kepada Kepala Kantor Wilayah DJP te
Pengusaha Kena Pajak mengajukan permohonan penetapan 1 (satu) atau lebih te
terutang PPN paling lambat 1 (satu) hari sejak tanggal Laporan Hasil Penerimaan.
8) Pemeriksaan dilakukan melalui jenis Pemeriksaan Lapangan.

g Pemeriksaan dalam rangka penagihan pajak ( Delinquency Audit)

1) Pemeriksaan untuk tujuan penagihan pajak dilakukan untuk memperoleh data


berkaitan dengan :
a) Identitas Penanggung Pajak/Wajib Pajak pada saat pemeriksaan dilakukan;
b) Harta yang dimiliki Wajib Pajak/Penanggung Pajak pada saat pemeriksaan
dilakukan;
c) Kegiatan penagihan aktif yang sedang dan sudah dilakukan dalam hal Wajib Pajak
sudah mempunyai hutang pajak sebelumnya; dan
d) Upaya hukum dari Wajib Pajak/Penanggung Pajak dalam hal Wajib Pajak sudah
mempunyai hutang pajak sebelumnya.
2) Pemeriksaan untuk tujuan penagihan pajak hanya dapat dilakukan secara bersama-
dengan pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan.
3) Usulan pemeriksaan untuk tujuan penagihan pajak dilakukan oleh Kepala Seksi Penag
kepada Kepala Seksi Pemeriksaan.
4) Berdasarkan usulan dari Kepala Seksi Penagihan, Kepala Seksi Pemeriksaan mem
daftar nominatif Wajib Pajak yang akan diperiksa dalam rangka penagihan pajak u
dimintakan persetujuan dari Kepala Kantor Pelayanan Pajak.
5) Pelaksanaan pemeriksaan untuk tujuan penagihan pajak dilakukan oleh Pemeriksa P
yang sama dengan Pemeriksa Pajak untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewa
perpajakan dan dapat didampingi oleh Jurusita pajak yang ditunjuk oleh Kepala K
Pelayanan Pajak yang dicantumkan dalam Surat Perintah Pemeriksaan untuk Tujuan L
6) Dalam pelaksanaan pemeriksaan untuk tujuan penagihan pajak, agar diperhatikan juga
hal sebagai berikut :
a) Meminta daftar harta Wajib Pajak/Penanggung Pajak yang sesuai dengan kondisi
terkini;
b) Meminta/mencari alamat tempat/gudang penyimpanan harta Wajib Pajak/Penaggun
Pajak;
c) Meminta daftar wakil dari penaggung pajak, antara lain keluarga, daftar dire
komisaris dan pemegang saham mayoritas, beserta alamat sesuai dengan bu
identitas terakhir;
d) Melalui Kepala Unit Pelaksana Pemeriksaan, Pemeriksa Pajak melakukan konfirm
dan permintaan keterangan serta bukti tentang identitas harta W
Pajak/Penanggung Pajak berdasar Pasal 35 Undang-Undang KUP antara lain kepad
Notaris/PPAT, Badan Pertanahan Nasional (BPN), Lurah/Kepala Desa, Ba
Kepolisian dan Konsultan Pajak.
7) Laporan Hasil Pemeriksaan untuk tujuan penagihan pajak tersendiri dan harus menc
hal-hal sebagai berikut :
a) penugasan pemeriksaan;
b) identifikasi Wajib Pajak/Penanggung Pajak;
c) daftar harta kekayaan Wajib Pajak;
d) daftar bukti kepemilikan harta Wajib Pajak/Penanggung Pajak; dan
e) daftar lampiran.
8) Kepala Seksi Pemeriksaan harus menyampaikan fotokopi Laporan Hasil Pemerik
untuk tujuan penagihan pajak kepada Kepala Seksi Penagihan.
9) Pemeriksaannya dilakukan melalui jenis Pemeriksaan Lapangan.

h Pemeriksaan dalam rangka penentuan saat produksi dimulai atau


memperpanjang jangka waktu kompensasi kerugian sehubungan dengan
pemberian fasilitas perpajakan

1) Pemeriksaan dilakukan apabila Wajib Pajak yang telah mendapat Keputusan Dir
Jenderal Pajak atas nama Menteri Keuangan tentang Persetujuan Pemberian Fasilitas P
Penghasilan mengajukan permohonan kepada Direktur Jenderal Pajak melalui Dir
Pemeriksaan dan Penagihan, untuk :
a) Penetapan Saat Dimulainya Produksi Komersial; atau
b) Penetapan Penambahan Kompensasi Kerugian.
2) Berdasarkan permohonan Wajib Pajak sebagaimana dimaksud pada angka 1), Dir
Pemeriksaan dan Penagihan menerbitkan instruksi pemeriksaan dalam rangka Pene
Saat Mulai Produksi Komersial atau instruksi pemeriksaan dalam rangka Pene
Penambahan Kompensasi Kerugian kepada Kepala Unit Pelaksana Pemeriksa
ditunjuk.
3) Pemeriksaan harus diselesaikan sesuai jangka waktu yang ditentukan dalam inst
pemeriksaan.
4) Mengingat Direktur Jenderal Pajak harus menerbitkan Keputusan Direktur Jenderal P
tentang Penetapan Saat Dimulainya Produksi Komersial atau Keputusan Direktur Jen
Pajak tentang Penetapan Penambahan Jangka Waktu Kompensasi Kerugian dalam ja
waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja sejak permohonan Wajib Pajak diterima,
Laporan Hasil Pemeriksaan sudah harus dikirim kepada Direktur Pemeriksaan
Penagihan paling lama 1 (satu) hari setelah tanggal Laporan Hasil Pemeriksaan.
5) Pelaksanaan pemeriksaan untuk tujuan lain dalam rangka penentuan saat produksi dim
atau memperpanjang jangka waktu kompensasi kerugian juga harus memperha
ketentuan yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2007 tentang Fas
Pajak Penghasilan Untuk Penanaman Modal di Bidang-Bidang Usaha Tertentu dan
Daerah-daerah Tertentu sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nom
Tahun 2008 beserta aturan pelaksanaannya.
6) Pemeriksaan dilakukan melalui jenis Pemeriksaan Lapangan.

i. Pemeriksaan dalam rangka memenuhi permintaan informasi dari negara


mitra Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda (P3B)
1) Pemeriksaan dilakukan berdasarkan instruksi pemeriksaan dari Direktur Pemeriksaan
Penagihan sehubungan dengan adanya permintaan informasi dari negara mitra P3B te
dengan Wajib Pajak tertentu dan memerlukan pemeriksaan pajak.
2) Laporan Hasil Pemeriksaan dikirimkan kepada Direktur Pemeriksaan dan Penagihan u
ditindaklanjuti dalam rangka memenuhi permintaan informasi dari negara mitra P3B.
3) Pemeriksaannya dilakukan melalui jenis Pemeriksaan Lapangan.

III. PROSEDUR USULAN DAN PENUGASAN/INSTRUKSI PEEMRIKSAAN UNTUK


TUJUAN LAIN

A. Daftar Nominatif Wajib Pajak dan Penugasan Pemeriksaan

1. Daftar Nominatif Wajib Pajak yang akan diperiksa untuk tujuan lain
dibuat oleh Kepala Kantor Pelayanan Pajak dengan menggunakan formulir
sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran XVII dan Lampiran XVII.1
Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini, apabila pemeriksaan untuk
tujuan lain dilakukan dalam rangka :

a. Pemberian Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan/atau


pengukuhan Pengusaha Kena Pajak (PKP) secara jabatan;

b. Penghapusan NPWP dan/atau pencabutan pengukuhan PKP; atau

c. Penagihan pajak.

2. Daftar Nominatif Wajib Pajak yang akan diperiksa untuk tujuan lain
sebagaimana dimaksud pada angka 1 dikirimkan kepada Kepala Kantor
Wilayah DJP tanpa tembusan kepada Direktur Pemeriksaan dan
Penagihan.

3. Daftar Nominatif yang disampaikan oleh Kepala Kantor Pelayanan Pajak


kepada Kepala Kantor Wilayah DJP atasannya harus dilengkapi dengan
data atau informasi pendukung sesuai dengan tujuan dilakukannya
pemeriksaan.

4. Berdasarkan Daftar Nominatif Wajib Pajak yang akan diperiksa, Kepala


Kantor Wilayah DJP membuat Surat Penugasan Pemeriksaan dan
mengirimkannya kepada Kepala Unit Pelaksana Pemeriksaan dengan
menggunakan formulir sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran XVIII
dan Lampiran XVIII.1 Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini.

B. Instruksi Pemeriksaan

1. Instruksi pemeriksaan untuk tujuan lain dapat diterbitkan oleh Direktur


Pemeriksaan dan Penagihan atau Kepala Kantor Wilayah DJP dengan
menggunakan formulir sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran XIX
Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini, berdasarkan surat permohonan
atau surat permintaan.

2. Instruksi pemeriksaan untuk tujuan lain diterbitkan apabila terdapat


permohonan atau permintaan yang terkait dengan :

a. Wajib Pajak mengajukan keberatan;

b. Pengumpulan bahan guna penyusunan Norma Penghitungan


Penghasilan Neto;

c. Penentuan Wajib Pajak berlokasi di daerah terpencil;

d. Penentuan satu atau lebih tempat terutang Pajak Pertambahan


Nilai;

e. Penagihan pajak;

f. Penentuan saat produksi dimulai atau memperpanjang jangka


waktu kompensasi kerugian sehubungan dengan pemberian
fasilitas perpajakan; atau

g. Memenuhi permintaan informasi dari negara mitra Perjanjian


Penghindaran Pajak Berganda.

IV. LEMBAR PENUGASAN PEMERIKSAAN (LP2) DAN KODE PEMERIKSAAN

A. Lembar Penugasan Pemeriksaan (LP2)

Ketentuan umum mengenai LP2 baik yang menyangkut dasar penerbitan LP2, format LP2
dan struktur LP2 dalam pemeriksaan untuk tujuan lain mengacu pada angka romawi V
huruf A Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-10/PJ.04/2008 tentang Kebijakan
Pemeriksaan Untuk Menguji Kepatuhan Pemenuhan Kewajiban Perpajakan.
B. Daftar Kode Pemeriksaan

Ketentuan mengenai struktur kode pemeriksaan dalam pemeriksaan untuk tujuan lain juga
mengacu pada angka romawi V huruf B Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-
10/PJ.04/2008 tentang Kebijakan Pemeriksaan Untuk Menguji Kepatuhan Pemenuhan
Kewajiban Perpajakan, yaitu :

1. Kode Pemeriksaan mencerminkan alasan dilakukannya pemeriksaan dan harus


dicantumkan dalam setiap penugasan/persetujuan/instruksi pemeriksaan.

2. Struktur Kode Pemeriksaan terdiri dari 4 (empat) digit dengan pengelompokkan


sebagai berikut :
Digit pertama menunjukkan Jenis Pajak/Ruang Lingkup Pemeriksaan;

Digit kedua menunjukkan Kriteria dan Jenis Pemeriksaan;

Digit ketiga menunjukkan Alasan Pemeriksaan; dan

Digit keempat menunjukkan Jenis Wajib Pajak yang diperiksa.

3. Digit pertama menunjukkan Jenis Pajak/Ruang Lingkup terdiri dari :

1 --> Semua Jenis Pajak (All Taxes)

2 --> Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

3 --> Pajak Penghasilan Pemotongan dan Pemungutan

4 --> Pajak Penghasilan Pasal 25/29

5 --> Administrasi (Untuk Pemeriksaan Tujuan Lain)

6 --> WP Lokasi

7 --> Pajak Penghasilan Pasal 21/26

8 --> Pajak Penghasilan Pasal 23/26

9 --> Pajak Penghasilan Final

0 --> Beberapa Jenis Pajak (kode ini digunakan jika yang diperiksa adalah
PPN dan PPh Potput secara sekaligus atau seluruh kewajiban perpajakan
cabang dilakukan pemeriksaan)

4. Digit kedua menunjukkan Kriteria dan Jenis Pemeriksaan terdiri dari :

0 --> Pemeriksaan Rutin dengan Jenis Pemeriksaan Kantor

1 --> Pemeriksaan Rutin dengan Jenis Pemeriksaan Lapangan

2 --> Pemeriksaan Tujuan Lain dengan Jenis Pemeriksaan Lapangan

4 --> Pemeriksaan Khusus berdasarkan Analisis Risiko Secara


Komputerisasi dengan Jenis Pemeriksaan Lapangan
5 --> Pemeriksaan Tujuan Lain dengan Jenis Pemeriksaan Kantor

9 --> Pemeriksaan Khusus berdasarkan Analisis Risiko Secara Manual


dengan Jenis Pemeriksaan Lapangan

5. Digit ketiga menunjukkan Alasan Pemeriksaan yang meliputi :

a. Jika Kriteria dan Jenis Pemeriksaannya (digit kedua) adalah Pemeriksaan


Tujuan Lain dengan Jenis Pemeriksaan Lapangan (2), maka kode untuk digit
ketiga ditentukan sebagai berikut :

1 --> Pemberian NPWP dan/atau pengukuhan PKP secara jabatan

2 --> Penghapusan NPWP dan/atau pencabutan pengukuhan PKP

3 --> Memperpanjang jangka waktu kompensasi kerugian


sehubungan dengan pemberian fasilitas perpajakan

4 --> Penentuan Wajib Pajak berlokasi di daerah terpencil

5 --> Penentuan satu atau lebih tempat terutang Pajak Pertambahan


Nilai

6 --> Penagihan pajak

7 --> Keberatan

8 --> Pengumpulan bahan guna penyusunan Norma Penghitungan


Penghasilan Neto

9 --> Permintaan informasi dari negara mitra Perjanjian


Penghindaran Pajak Berganda

0 --> Penentuan saat produksi dimulai sehubungan dengan


pemberian fasilitas perpajakan

b. Jika Kriteria dan Jenis Pemeriksaannya (digit kedua) adalah Pemeriksaan


Tujuan Lain dengan Jenis Pemeriksaan Kantor (5), maka kode untuk digit
ketiga ditentukan sebagai berikut :

2 --> Penghapusan NPWP dan/atau pencabutan pengukuhan PKP


2 Digit keempat menunjukkan Jenis wajib Pajak yang meliputi :

1 --> Orang Pribadi

2 --> Badan

2 Berdasarkan struktur tersebut di atas, Kode Pemeriksaan untuk pemeriksaan tujuan


lain ditentukan sebagai berikut :

Jenis Pemeriksaan
No Alasan Pemeriksaan Pemeriksaan Kantor Pemeriksaan
Lapangan
OP Badan OP Badan
1. Pemberian NPWP dan/atau pengukuhan PKP 5211 5212
secara jabatan
2. Penghapusan NPWP dan/atau pencabutan 5521 5522 5221 5222
pengukuhan PKP
3. Memperpanjang jangka waktu kompensasi 5231 5232
kerugian sehubungan dengan pemberian fasilitas
perpajakan
4. Penentuan Wajib Pajak berlokasi di daerah 5241 5242
terpencil
5. Penentuan satu atau lebih tempat terutang Pajak 5251 5252
Pertambahan Nilai
6. Penagihan pajak 5261 5262
7. Keberatan 5271 5272
8. Pengumpulan bahan guna penyusunan Norma 5281 5282
Penghitungan Penghasilan Neto
9. Permintaan informasi dari negara mitra Perjanjian 5291 5292
Penghindaran Pajak Berganda
10. Penentuan saat produksi dimulai sehubungan 5201 5202
dengan pemberian fasilitas perpajakan
Dengan berlakunya Surat Edaran ini, Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor :

1. SE-08/PJ.75/2002 tentang Pemeriksaaan Untuk Tujuan Penagihan Pajak;

2. SE-07/PJ.7/2005 tentang Kebijakan Pemeriksaan Untuk Tujuan Lain;

3. SE-03/PJ.04/2007 tentang Penegasan Atas Pelaksanaan Pemeriksaan Dalam Rangka


Penghapusan NPWP/Pencabutan PKP; dan
4. SE-51/PJ/2008 tentang Penegasan Berkaitan Dengan Pemeriksaan Untuk Tujuan Lain
Dalam Rangka Pemberian NPWP dan/atau Pengukuhan PKP Secara Jabatan,

dicabut dan dinyatakan tidak berlaku lagi.

Demikian Surat Edaran ini disampaikan untuk dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal 21 Desember 2009
Direktur Jenderal

ttd

Mochamad Tjiptardjo
NIP 060044911

Tembusan :

1. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak

2. Para Direktur dan Tenaga Pengkaji

3. Kepala Pusat Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan


SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
NOMOR SE - 114/PJ/2009

TENTANG

PELAKSANAAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-61/PJ/2009


TENTANG TATA CARA PENERAPAN PERSETUJUAN PENGHINDARAN PAJAK
BERGANDA
DAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-62/PJ/2009 TENTANG
PENCEGAHAN PENYALAHGUNAAN PERSETUJUAN PENGHINDARAN PAJAK
BERGANDA

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Sehubungan dengan diterbitkannya Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-61/PJ/2009


tentang Tata Cara Penerapan Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda dan Peraturan Direktur
Jenderal Pajak Nomor PER-62/PJ/2009 tentang Pencegahan Penyalahgunaan Persetujuan
Penghindaran Pajak Berganda, dengan ini disampaikan hal-hal sebagai berikut :

1. Ketentuan dalam Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda (P3B) merupakan kesepakatan


mengenai pembagian hak pemajakan atas penghasilan antara Indonesia dengan negara mitra
P3B dan merupakan fasilitas yang hanya dapat dinikmati oleh pihak-pihak yang berhak, yaitu
:

a. orang atau badan yang merupakan subjek pajak dalam negeri di Indonesia dan/atau di
negara mitra P3B, dan
b. khusus untuk penghasilan bunga, dividen, dan royalti, pihak yang menerima
penghasilan tersebut adalah pihak yang menikmati manfaat atas penghasilan tersebut
(beneficial owner).

2. Dalam penerapan P3B di Indonesia, manfaat P3B hanya dapat dinikmati oleh pihak-pihak
tersebut di atas dengan cara menerapkan P3B saat Pemotong/Pemungut Pajak menjalankan
kewajiban pemotongan/pemungutan Pajak Penghasilan. Namun demikian, dalam hal Wajib
Pajak Luar Negeri (WPLN) dipotong/dipungut pajak oleh Pemotong/Pemungut Pajak tidak
sesuai dengan ketentuan dalam P3B, WPLN tersebut dapat mengajukan permohonan
pengembalian kelebihan pembayaran pajak yang seharusnya tidak terutang kepada Direktur
Jenderal Pajak atau dapat memanfaatkan ketentuan mengenai Prosedur Persetujuan Bersama
(Mutual Agreement Procedure/MAP) sebagaimana diatur dalam P3B.
3. Bahwa untuk menghindari perbedaan penafsiran dan penerapan ketentuan dalam kedua
Peraturan Direktur Jenderal Pajak tersebut, dengan ini diberikan penegasan sebagai berikut :
a. Pemotong/Pemungut Pajak harus menerapkan ketentuan dalam P3B apabila penerima
penghasilan :
1) bukan Subjek Pajak dalam negeri Indonesia;
2) memenuhi persyaratan administratif untuk menerapkan ketentuan dalam P3B;
dan
3) Tidak melakukan penyalahgunaan P3B sebagaimana diatur dalam Peraturan
Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-62/PJ/2009.
Dalam hal salah satu persyaratan tersebut di atas tidak terpenuhi,
Pemotong/Pemungut Pajak tidak diperkenankan menerapkan ketentuan dalam P3B.
b. Persyaratan administratif yang harus dipenuhi seluruhnya oleh WPLN apabila hendak
memperoleh manfaat P3B pada saat Pemotong/Pemungut Pajak melaksanakan
kewajibannya adalah:
1) WPLN menggunakan formulir yang tepat (Form-DGT 1 atau Form-DGT 2), dan
2) WPLN mengisi formulir tersebut dengan lengkap dan menandatanganinya, dan
3) formulir telah disahkan oleh pejabat pajak yang berwenang di negara tempat
WPLN terdaftar sebagi subjek pajak dalam negeri, dan
4) formulir disampaikan oleh WPLN kepada Pemotong/Pemungut Pajak sebelum
berakhirnya batas waktu penyampaian SPT Masa untuk masa terutangnya pajak.
c. Dalam hal WPLN menyampaiakn Form-DGT 1 setelah batas waktu yang telah
ditetapkan, maka Pemotong/Pemungut Pajak tidak diperkenankan untuk menerapkan
ketentuan dalam P3B. Dengan demikian, Pemotong/Pemungut Pajak wajib
memotong/memungut pajak sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 7
Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir
dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008.
d. Form-DGT 1 digunakan pada saat penerapan P3B oleh Pemotong/Pemungut Pajak,
yaitu pada saat terutangnya pajak sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Lembar kesatu
Form-DGT 1 yang telah diisi dan ditandatangani oleh WPLN, serta telah disahkan oleh
Pejabat yang berwenang di negara mitra P3B, dapat dipergunakan lebih dari satu kali
oleh WPLN dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan sejak disahkannya dokumen
tersebut oleh Pejabat yang Berwenang, apabila :
1) WPLN bertransaksi dengan Pemotong/Pemungut Pajak yang sama, dan
2) nama dan alamat WPLN tidak mengalami perubahan.
Dalam hal butir 1) dan 2) di atas terpenuhi, untuk menerapkan ketentuan dalam P3B
pada Masa Pajak berikutnya, WPLN cukup menyampaikan lembar kedua Form-
DGT 1 yang telah diisi lengkap pada Part IV atau Part V, dan Part VI.
e. Lembar kedua Form-DGT 1 tidak disahkan oleh Pejabat yang Berwenang di negara
mitra P3B, namun WPLN harus menandatangani pernyataan yang terdapat pada bagian
bawah lembar kedua Form-DGT 1, mencantumkan nama lengkap dan tanggal
penandatanganan dokumen tersebut.
f. Lembar kedua Form-DGT 1 dapat digunakan oleh WPLN untuk menyatakan seluruh
penghasilan yang diterima dalam 1 (satu) bulan (Masa Pajak). Dalam hal terdapat
beberapa pembayaran, WPLN :
1) mencantumkan total penghasilan untuk tiap-tiap kelompok penghasilan
(kelompok penghasilan modal: bunga/dividen/royalti, kelompok penghasilan
jasa, dan kelompok penghasilan lainnya) dalam lembar kedua Form-DGT 1 yang
sama, dan
2) membuat rekapitulasi atau rincian penghasilan yang diterima pada suatu bulan
(Masa Pajak) untuk tiap-tiap kelompok penghasilan tersebut pada lembaran yang
terpisah dengan format yang memuat informasi tentang :
a) Nomor urut;
b) Tanggal penerimaan penghasilan;
c) Jenis penghasilan;
d) Jumlah penghasilan (dalam mata uang asli); dan
e) Keterangan (apabila ada).
Pemotong/Pemungut Pajak memfotokopi lembar kedua Form-DGT 1 tersebut,
memaraf dan melaporkannya pada saat penyampaian SPT Masa, dengan
menyertakan fotokopi Form-DGT 1 (lembar kesatu dan lembar kedua) yang pernah
disampaikan sebelumnya oleh WPLN.

Contoh 1:
PT Budiman melakukan pembayaran kepada Alice Corp. (WPLN dari negara X)
berupa royalti pada tanggal 5 Januari 2010, imbalan jasa manajemen pada tanggal
15 Januari 2010, dan imbalan jasa teknik pada tanggal 20 Januari 2010.

Untuk dapat menerapkan ketentuan dalam P3B, pertama kali sejak


diberlakukannya ketentuan ini, PT Budiman wajib memperoleh Form-DGT 1
(lembar kesatu dan kedua) dari Alice Corp. dan meneliti pemenuhan
persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) Peraturan
Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-61/PJ/2009. Lembar kedua Form-DGT
1 diisi lengkap pada Part V dan Part VI mengenai pembayaran royalti pada
tanggal 5 Januari 2010. Lembar kedua yang tidak disahkan oleh Pejabat yang
Berwenang di negara X dapat diterima untuk menerapkan P3B, namun harus
ditandatangani oleh Alice Corp.

Dalam hal PT Budiman meyakini bahwa SKD dari Alice Corp. telah sesuai
dengan ketentuan dimaksud, penerapan ketentuan P3B untuk pembayaran
imbalan jasa manajemen pada tanggal 15 Januari 2010 dan jasa teknik pada
tanggal 20 Januari 2010 dapat menggunakan lembar kedua Form-DGT 1
yang menyatakan kedua penghasilan tersebut sekaligus atau seluruh
penghasilan dalam bulan Januari dan lampiran rincian penghasilan. Lembar
kedua yang tidak disahkan oleh Pejabat yang Berwenang di negara X dapat
diterima untuk menerapkan P3B.

PT Budiman wajib melaporkan SPT Masa Pajak Januari 2010 dengan


melampirkan fotokopi dokumen Form-DGT 1 (lembar kesatu dan kedua,
serta memaraf lembar kedua Form-DGT 1 tersebut.

Pada bulan Februari 2010 PT Budiman membayar bunga dan royalti kepada Alice
Corp.

Ketentuan dalam P3B dapat diterapkan hanya apabila persyaratan


sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) Peraturan Direktur Jenderal
Pajak Nomor PER-61/PJ/2009 terpenuhi.

Untuk Pemotong/Pemungut Pajak yang sama, Alice Corp. tidak perlu


menyampaikan lembar kesatu Form-DGT 1 yang baru, sepanjang tidak ada
perubahan nama dan alamat yang terdapat dalam Form-DGT 1 sebelumnya.
Alice Corp. cukup menyampaikan lembar kedua Form-DGT 1 yang telah
diisi lengkap pada part V dan Part VI dan ditandatangani. Lembar kedua
yang tidak disahkan oleh Pejabat yang Berwenang di negara X dapat
diterima untuk menerapkan P3B. Alice Corp. mencantumkan total
penghasilan bunga dan royalti dalam butir 1 Part VI Form-DGT 1 dan
membuat rincian penghasilan.

Untuk dapat menerapkan ketentuan dalam P3B, PT Budiman harus


memperoleh lembar kedua Form-DGT 1 yang telah diisi lengkap dan
ditandatangani oleh Alice Corp. Selanjutnya, PT Budiman wajib
menyampaikan SPT Masa Pajak Februari 2010 dan melampirkan fotokopi
lembar kedua Form-DGT 1 yang telah diparaf dan fotokopi Form-DGT 1
(lembar kesatu dan lembar kedua) yang pernah dilampirkan pada SPT Masa
Pajak Januari 2010.

Contoh 2:
Melanjutkan kasus pada Contoh 1, PT Budiman melakukan pembayaran royalti
kepada Alice Corp. pada tanggal 25 Januari 2011. Misalnya, Form-DGT 1 yang
telah disampaikan oleh WPLN disahkan oleh Pejabat yang Berwenang pada tanggal
4 Januari 2010.

Form-DGT 1 (yang pernah disampaikan oleh Alice corp. pada Masa Pajak
Januari 2010 sudah berakhir masa waktu penggunaannya, sehingga tidak
dapat dipergunakan untuk menerapkan ketentuan dalam P3B untuk
penghasilan royalti tersebut. Untuk itu, Alice Corp. harus menyerahkan
lembar kesatu Form-DGT 1 baru yang disahkan oleh Pejabat yang
Berwenang di negara X.

Selanjutnya, PT Budiman wajib menerapkan ketentuan dalam P3B dan


menyampaikan SPT Masa Pajak Januari 2011 dan melampirkan fotokopi
dokumen Form-DGT 1 (lembar kesatu dan lembar kedua) tersebut.

g. Pada Form-DGT 1 Part V "To be Completed if the Income Recipient is Non Individual",
dalam hal WPLN menjawab "No" untuk pertanyaan pada butir 6, WPLN tetap
diperkenankan untuk menerapkan ketentuan dalam P3B, sepanjang jawaban pada butir
7 sampai dengan butir 12 dijawab "Yes". Hal ini dimaksudkan agar ketentuan dalam
P3B dapat diterapkan bukan hanya kepada WPLN yang mendaftarkan sahamnya di
pasar modal, namun juga kepada perusahaan yang secara substantif merupakan pemilik
manfaat yang sebenarnya atas penghasilan tersebut.
h. Di dalam butir 12 Form-DGT 1 Part V terdapat pertanyaan yang bertujuan untuk
mengetahui apakah penerima penghasilan merupakan perusahaan conduit. Yang
dimaksud dengan "claims by other persons" dalam pertanyaan tersebut adalah tagihan
kepada WPLN yang berasal dari pihak ketiga, dalam bentuk bunga, royalti, imbalan
jasa, atau pembayaran lainnya, yang dimaksudkan untuk meneruskan penghasilan
WPLN kepada pihak yang sebenarnya memperoleh manfaat atas penghasilan (beneficial
owner), tidak termasuk tagihan pegawai dalam hubungan pekerjaan (employment) yang
normal, seperti gaji, upah, bonus, dan tunjangan.
i. Pada Form-DGT 1 Part VI mengenai "Income Earned from Indonesia in Respect to
Which Relief is Claimed", dengan ini diberi penegasan bahwa:
1) WPLN mengisi jumlah penghasilan sesuai dengan jumlah yang dibayarkan oleh
Pemotong/Pemungut Pajak. Meskipun tidak terdapat pajak yang terutang di
Indonesia berdasarkan ketentuan dalam P3B, jumlah penghasilan yang
dibayarkan Pemotong/Pemungut Pajak tetap harus dicantumkan. Pencantuman
jumlah penghasilan tersebut hanya merupakan informasi tentang pembayaran
penghasilan dan bukan merupakan dasar pengenaan pajak.
2) Apabila penghasilan yang diterima WPLN dalam mata uang selain Rupiah,
WPLN dapat mencantumkan nominal dalam mata uang asing dan mengganti
IDR dengan mata uang asing yang digunakan.
3) Pada butir 2 huruf c, dalam hal waktu penyelesaian suatu pemberian jasa belum
atau tidak dapat diperkirakan, maka saat berakhirnya pemberian jasa dapat
dikosongkan.
j. Dalam transaksi pengalihan obligasi, penghasilan yang timbul dari transaksi tersebut
diperlakukan sebagai bunga/deposito sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 16
Tahun 2009 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan Berupa Bunga Obligasi dan
Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan atas Diskonto
Surat Perbendaharaan Negara. Dengan demikian, WPLN yang memperoleh penghasilan
dari transaksi pengalihan obligasi, kecuali WPLN bank, wajib menggunakan Form-
DGT 1 untuk memperoleh manfaaat P3B.
K. Dalam hal penerima penghasilan adalah WPLN bank, tanpa memperhatikan jenis
penghasilannya, Form-DGT 2 wajib digunakan untuk memperoleh manfaat P3B.
l. Form-DGT 2 dapat terus digunakan oleh WPLN dalam hal menerima penghasilan dari
Pemotong/Pemungut Pajak yang sama atau yang berbeda dalam waktu 12 bulan sejak
tanggal dokumen tersebut disahkan oleh Pejabat yang Berwenang di negara mitra P3B.
Dalam hal Form-DGT 2 tersebut akan digunakan untuk lebih dari satu
Pemotong/Pemungut Pajak, Form-DGT 2 asli dapat diperbanyak oleh
Pemotong/Pemungut dan dilegalisasi oleh Kepala Kantor Pelayanan Pajak (KPP)
dimana Pemotong/Pemungut Pajak tersebut terdaftar. Kepala KPP harus menyimpan
dokumen Form-DGT 2 asli tersebut.
Form-DGT 2 yang telah dilegalisasi oleh Kepala KPP diperlakukan sama seperti
dokumen aslinya.
4. WPLN diperkenankan untuk menggunakan SKD yang diterbitkan oleh Pejabat yang
Berwenang di luar negeri sesuai dengan format dan kelaziman di negara masing-masing
untuk menerapkan ketentuan dalam P3B apabila WPLN melunasi pajak terhutang di
Indonesia tidak melalui mekanisme pemotongan atau pemungutan pajak oleh
Pemotong/Pemungut Pajak di Indonesia.

Demikian untuk menjadi perhatian dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal 15 Desember 2009

ttd.

Mochamad Tjiptardjo
NIP 060044911

Tembusan:

1. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak;

2. Para Direktur dan Tenaga Pengkaji di lingkungan DJP;

3. Kepala Pusat pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan.


06 November 2009

SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK


NOMOR SE - 107/PJ/2009

TENTANG

PENEGASAN ATAS PELAKSANAAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK


NOMOR :
PER-50/PJ/2009 TENTANG TATA CARA PENCABUTAN PENGUKUHAN PENGUSAHA
KENA
PAJAK DAN TATA CARA PENERBITAN SURAT KEPUTUSAN PEMUSATAN TEMPAT
PAJAK
PERTAMBAHAN NILAI TERUTANG BAGI PENGUSAHA KENA PAJAK YANG LOKASI
KEGIATAN USAHA ATAU TEMPAT PAJAK PERTAMBAHAN NILAI TERUTANG
DI KAWASAN BEBAS

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,


Sehubungan dengan diterbitkannya Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor : PER-50/PJ/2009
Tentang Tata Cara Pencabutan Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak Dan Tata Cara Penerbitan
Surat Keputusan Pemusatan Tempat Pajak Pertambahan Nilai Terutang Bagi Pengusaha Kena
Pajak Yang Tempat Kegiatan Usaha atau Tempat Pajak Pertambahan Nilai Terutang di Kawasan
Bebas, perlu disampaikan hal-hal sebagai berikut:

I. Dalam rangka menciptakan keseragaman dan kelancaran dalam pelaksanaannya, serta


meningkatkan kepastian hukum dan memberikan pelayanan yang lebih baik kepada Wajib
Pajak, perlu diatur lebih lanjut tentang Tata Cara Pencabutan Pengukuhan Pengusaha Kena
Pajak dan Tata Cara Penerbitan Surat Keputusan Pemusatan Tempat PPN Terutang Bagi
Pengusaha Kena Pajak yang Lokasi Kegiatan Usaha atau Tempat PPN Terutang di Kawasan
Bebas.
II. Lampiran-lampiran

Tata cara pencabutan pengukuhan Pengusaha Kena Pajak dan tata cara penerbitan surat
keputusan pemusatan tempat PPN terutang bagi Pengusaha Kena Pajak yang lokasi kegiatan
usaha atau tempat PPN terutang di Kawasan Bebas adalah sebagaimana terlampir dalam
Surat Edaran ini sebagai berikut:

a. Lampiran I : Tata Cara Pencabutan Pengukuhan PKP Bagi PKP yang


Memiliki Tempat Kegiatan Usaha/Tempat PPN Terutang di
Kawasan Bebas.
b. Lampiran II : Tata Cara Pengadministrasian Wajib Pajak yang Telah
Mendapatkan Persetujuan Pemusatan Tempat PPN Terutang di
Kawasan Bebas.
c. Lampiran III : Tata Cara Pencabutan dan Penerbitan Surat Keputusan
Pemusatan Tempat PPN Terutang Bagi PKP yang Salah Satu
atau Beberapa Tempat Kegiatan Usaha/Tempat PPN Terutang
yang Dipusatkan Berada di Kawasan Bebas.
d. Lampiran IV : Tata Cara Pengukuhan Kembali PKP Bagi Wajib Pajak yang
Telah Dicabut Pengukuhan PKP Dalam Hal Terdapat Kewajiban
Perpajakan yang Belum Dipenuhi.
e. Lampiran V : Formulir Rekapitulasi Hasil Penelitian Pengusaha Kena Pajak.
f. Lampiran VI : Daftar Tempat Kegiatan Usaha/Tempat PPN Terutang yang
Berada di luar Kawasan Bebas yang Tempat PPN Terutang Telah
Dipusatkan di Kawasan Bebas.

Demikian untuk menjadi perhatian dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 06 November 2009
DIREKTUR JENDERAL,

ttd
MOCHAMAD TJIPTARDJO

Tembusan:

1. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak;

2. Para Direktur dan Tenaga Pengkaji di lingkungan DJP;

3. Kepala Pusat Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan.

SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK


NOMOR SE 96/PJ/2009

TENTANG

RASIO TOTAL BENCHMARKING DAN PETUNJUK PEMANFAATANNYA

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Dalam rangka meningkatkan pembinaan dan pengawasan terhadap Wajib Pajak oleh Kantor
Pelayanan Pajak, Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak telah menyusun rasio total
benchmarking. Rasio total benchmarking tersebut dapat digunakan sebagai alat bantu untuk
menilai kewajaran kinerja keuangan dan pemenuhan kewajiban perpajakan oleh Wajib Pajak.
Sehubungan dengan hal tersebut, dengan ini diberitahukan hal-hal sebagai berikut:
1. Rasio Total Benchmarking memiliki karakteristik sebagai berikut :

a. Rasio Total Benchmarking disusun berdasarkan kelompok usaha;

b. Benchmarking dilakukan atas rasio-rasio yang berkaitan dengan tingkat laba dan
input-input perusahaan;

c. Ada keterkaitan antar rasio benchmark;

d. Fokus pada penilaian kewajaran kinerja keuangan dan pemenuhan kewajiban


perpajakan.

2. Total benchmarking hanya merupakan suatu alat bantu (supporting tools) yang dapat
digunakan oleh aparat pajak dalam membina wajib pajak dan menilai kepatuhan
perpajakannya serta tidak dapat digunakan secara langsung sebagai dasar penerbitan surat
ketetapan pajak.
3. Wajib Pajak yang memiliki kinerja keuangan yang lebih rendah daripada benchmark, tidak
selalu berarti bahwa wajib pajak tersebut tidak melaksanakan kewajiban perpajakannya
dengan benar. Perlu diagnosa lebih mendalam untuk dapat menentukan apakah wajib pajak
tersebut benar-benar tidak patuh atau terdapat faktor-faktor lain yang menyebabkan wajib
pajak memiliki kinerja yang berbeda dengan benchmark.
4. Rasio-rasio yang berkaitan dengan tingkat laba dan input-input perusahaan yang dilakukan
benchmarking terdiri dari :

a. Gross Profit Margin (GPM), yaitu rasio antara laba kotor terhadap penjualan;

b. Operating Profit Margin (OPM), yaitu rasio antara laba bersih dari operasi terhadap
penjualan;

c. Pretax Profit Margin (PPM), yaitu rasio antara laba bersih sebelum dikenakan pajak
penghasilan terhadap penjualan;

d. Corporate Tax to Turn Over Ratio (CTTOR), yaitu rasio antara pajak penghasilan
terutang terhadap penjualan;

e. Net Profit Margin (NPM), yaitu rasio antara laba bersih setelah pajak penghasilan
terhadap penjualan;

f. Dividend Payout Ratio (DPR), yaitu rasio antara jumlah dividen tunai yang
dibayarkan terhadap laba bersih setelah pajak;

g. Rasio PPN Masukan, yaitu rasio antara jumlah PPN Masukan yang dikreditkan dalam
satu tahun pajak terhadap Penjualan, tidak termasuk pajak masukan yang dikreditkan
dari transaksi antar cabang;
h. Rasio biaya gaji terhadap penjualan;

i. Rasio biaya bunga terhadap penjualan;

j. Rasio biaya sewa terhadap penjualan;

k. Rasio biaya penyusutan terhadap penjualan;

l. Rasio input antara lainnya terhadap penjualan;

m. Rasio penghasilan luar usaha terhadap penjualan; dan

n. Rasio biaya luar usaha terhadap penjualan.

5. Nilai rasio-rasio benchmark ditetapkan untuk masing-masing kelompok usaha berdasarkan 5


(lima) digit kode Klasifikasi Lapangan Usaha (KLU) Wajib Pajak. Klasifikasi Lapangan
Usaha dimaksud adalah KLU sesuai Keputusan Direktur Jenderal Pajak nomor KEP-
34/PJ/2003 tanggal 14 Februari 2003.
6. Penetapan rasio benchmark menggunakan data perpajakan tahun 2005 s.d. 2007.
7. Penetapan rasio-rasio benchmark untuk keseluruhan kelompok usaha dilakukan secara
bertahap, dan pada tahap awal kelompok usaha yang telah selesai dilakukan penghitungan
rasio-rasio benchmark sebanyak 20 (dua puluh) KLU sebagaimana tercantum dalam
lampiran I surat edaran ini.
8. Untuk lebih memudahkan dalam penggunaan dan pemanfaatannya, nilai rasio-rasio
benchmark akan dimuat dalam Aplikasi Profile Wajib Pajak Berbasis Web (Approweb).
9. Segera setelah nilai-nilai rasio benchmark termuat dalam Approweb, para Account
Representative agar memanfaatkannya dalam melakukan pembinaan dan pengawasan
terhadap Wajib Pajak yang menjadi tanggung jawabnya.
10. Dalam hal nilai-nilai rasio benchmark belum dapat dimuat dalam Approweb, para Account
Representative agar memanfaatkannya secara manual.
11. Panduan pemanfaatan rasio-rasio benchmark adalah sebagaimana tercantum dalam lampiran
II surat edaran ini.
12. Tindak lanjut hasil pemanfaatan Total Benchmarking yang berupa himbauan, konseling, atau
pemeriksaan mengikuti ketentuan dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-
170/PJ/2007.
13. Mengingat penggunaan rasio total benchmarking baru tahap awal, diminta bantuan saudara
untuk memberikan masukan berdasarkan pelaksanaan di lapangan dalam rangka
penyempurnaan metode ini. Masukan Saudara agar dikirimkan kepada Direktur Jenderal
Pajak u.p. Direktur Transformasi Proses Bisnis.
14. Memerintahkan kepada para Kepala Kantor Wilayah DJP agar memantau pelaksanaan
pemanfaatan Total Benchmarking oleh Kantor Pelayanan Pajak.
Demikian surat edaran ini disampaikan untuk dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 05 Oktober 2009
Direktur Jenderal,

ttd.

Mochamad Tjiptardjo
NIP 060044911

Tembusan:

1. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak.

2. Para Direktur dan Tenaga Pengkaji di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak.


SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
NOMOR SE - 97/PJ/2009

TENTANG

PETUNJUK PELAKSANAAN PENGAJUAN DAN PENYELESAIAN


PERMOHONAN PENGURANGAN ATAU PENGHAPUSAN SANKSI ADMINISTRASI
PAJAK
BUMI DAN BANGUNAN, DAN PENGURANGAN ATAU PEMBATALAN
SURAT PEMBERITAHUAN PAJAK TERUTANG, SURAT KETETAPAN PAJAK
PAJAK BUMI DAN BANGUNAN, DAN SURAT TAGIHAN PAJAK
PAJAK BUMI DAN BANGUNAN, YANG TIDAK BENAR

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Sehubungan dengan telah ditetapkannya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 111/PMK.03/2009


tentang Tata Cara Pengurangan atau Penghapusan Sanksi Administrasi Pajak Bumi dan
Bangunan dan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan, dan Pengurangan atau Pembatalan
Surat Pemberitahuan Pajak Terutang, Surat Ketetapan Pajak Pajak Bumi Dan Bangunan, Surat
Tagihan Pajak Pajak Bumi dan Bangunan, Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan
Bangunan, atau Surat Tagihan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan, yang Tidak Benar
dan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor 56/PJ/2009 tentang Tata Cara Pengajuan dan
Penyelesaian Permohonan Pengurangan atau Penghapusan Sanksi Administrasi Pajak Bumi dan
Bangunan, dan Pengurangan atau Pembatalan Surat Pemberitahuan Pajak Terutang, Surat
Ketetapan Pajak Pajak Bumi dan Bangunan, dan Surat Tagihan Pajak Pajak Bumi dan Bangunan,
yang Tidak Benar, dengan ini disampaikan penjelasan sebagai berikut :

I. Pengertian
Dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini, yang dimaksud dengan :

1. Pengurangan adalah pengurangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (1)


huruf b dan huruf c Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum
dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan
Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009.

2. Pengurangan sanksi adalah pengurangan sanksi sebagaimana dimaksud Pasal 36 ayat


(1) huruf a Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan
Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan
Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009.

3. Kantor Pelayanan Pajak Pratama yang selanjutnya disebut dengan KPP Pratama
adalah KPP Pratama yang menerbitkan SPPT, SKP PBB, dan/atau STP PBB.
4. Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak yang selanjutnya disebut dengan Kanwil
DJP adalah Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak yang membawahkan KPP
Pratama.

II. Ruang Lingkup

1. Pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi PBB :

a. dapat dilakukan atas denda administrasi yang tercantum dalam Surat


Ketetapan Pajak PBB (SKP PBB) atau Surat Tagihan Pajak PBB (STP PBB);

b. dapat dilakukan dalam hal sanksi administrasi yang tercantum dalam SKP
PBB atau STP PBB dikenakan karena kekhilafan Wajib Pajak atau bukan
karena kesalahan Wajib Pajak;

c. berbeda dengan pengurangan denda administrasi Pasal 20 UU PBB.

2. Pengurangan ketetapan PBB :

a. dapat dilakukan atas SPPT, SKP PBB, atau STP PBB, yang tidak benar;

b. dapat dilakukan dalam hal terdapat ketidakbenaran luas objek pajak bumi
dan/atau bangunan, Nilai Jual Objek Pajak bumi dan/atau bangunan, dan/atau
penafsiran peraturan perundang-undangan PBB;

c. berbeda dengan pengurangan Pasal 19 UU PBB.

3. Pembatalan ketetapan PBB yang tidak benar, dapat dilakukan dalam hal SPPT, SKP
PBB, atau STP PBB seharusnya tidak diterbitkan, antara lain disebabkan karena :

a. SPPT, SKP PBB, atau STP PBB untuk objek pajak dan Tahun Pajak yang
sama diterbitkan lebih dari satu;

b. SPPT, SKP PBB, atau STP PBB untuk objek pajak yang seharusnya tidak
dikenakan PBB sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) UU PBB.

III. Penerimaan Berkas dan Penelitian Persyaratan Permohonan

1. Permohonan pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi PBB dan


pengurangan atau pembatalan SPPT, SKP PBB, atau STP PBB, yang tidak benar,
diajukan kepada Direktur Jenderal Pajak dan disampaikan ke KPP Pratama, atau
Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP) dalam wilayah
KPP Pratama yang bersangkutan, baik secara langsung atau melalui pos dengan bukti
pengiriman surat.
2. Dalam hal diajukan melalui KP2KP, berkas permohonan dimaksud harus diteruskan
ke KPP Pratama dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) hari kerja terhitung sejak
tanggal diterimanya berkas permohonan.

3. Tanggal penerimaan surat permohonan yang dijadikan dasar untuk memproses


permohonan tersebut adalah :

a. tanggal terima surat permohonan, dalam hal disampaikan secara langsung


oleh Wajib Pajak atau kuasanya kepada petugas Tempat Pelayanan Terpadu
(TPT) atau petugas yang ditunjuk; atau

b. tanggal tanda pengiriman surat permohonan, dalam hal disampaikan melalui


pos dengan bukti pengiriman surat.

4. KPP Pratama melaksanakan penelitian persyaratan terhadap permohonan dimaksud


dengan menggunakan lembar penelitian persyaratan permohonan.

5. Permohonan yang tidak memenuhi persyaratan, dianggap bukan sebagai permohonan


sehingga tidak dapat dipertimbangkan. Dalam hal permohonan pembatalan SPPT
diajukan secara kolektif dan terdapat sebagian permohonan pembatalan SPPT tidak
memenuhi persyaratan, maka atas sebagian permohonan pembatalan SPPT yang
tidak memenuhi persyaratan dimaksud tidak dapat dipertimbangkan.

6. Dalam hal permohonan tidak dapat dipertimbangkan sebagaimana dimaksud pada


angka 5, Kepala KPP Pratama dalam jangka waktu paling lama 10 (sepuluh) hari
kerja sejak tanggal penerimaan surat permohonan sebagaimana dimaksud pada angka
3, harus memberitahukan secara tertulis disertai alasan yang mendasari kepada :

a. Wajib Pajak atau kuasanya dalam hal permohonan diajukan secara


perseorangan; atau

b. Kepala Desa/Lurah setempat dalam hal permohonan pembatalan SPPT


diajukan secara kolektif.

IV. Penanganan Berkas Permohonan yang Memenuhi Persyaratan

1. KPP Pratama mengelompokkan berkas permohonan pengurangan atau penghapusan


sanksi administrasi PBB, dan berkas permohonan pengurangan atau pembatalan
SPPT, SKP PBB, atau STP PBB, yang tidak benar, berdasarkan kewenangan untuk
melaksanakan penelitian :

a. berkas permohonan pembatalan SPPT yang diajukan secara kolektif yang


kewenangan penelitiannya ada pada KPP Pratama;

b. berkas permohonan pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi PBB,


dan berkas permohonan pengurangan atau pembatalan SPPT, SKP PBB, atau
STP PBB, yang tidak benar, yang kewenangan penelitiannya ada pada
Kanwil DJP;

c. berkas permohonan pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi PBB


yang kewenangan penelitiannya ada pada Kantor Pusat DJP.

2. KPP Pratama mengirimkan berkas permohonan dimaksud yang telah memenuhi


persyaratan kepada Kepala Kanwil DJP atau Direktur Jenderal Pajak u.p. Direktur
Keberatan dan Banding menggunakan surat penerusan berkas permohonan dengan
ketentuan :

a. dilampiri lembar penelitian persyaratan permohonan;

b. pengiriman dilakukan dalam jangka waktu paling lama :

1) sepuluh hari kerja sejak tanggal penerimaan surat permohonan dalam hal :
a) kewenangan melakukan penelitian dan menerbitkan keputusan atas
permohonan pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi PBB, dan
pengurangan atau pembatalan SPPT, SKP PBB, atau STP PBB, yang tidak
benar, ada pada Kanwil DJP;
b) kewenangan melakukan penelitian dan menerbitkan keputusan atas
permohonan pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi PBB ada
pada Kantor Pusat DJP.
2) dua bulan sejak tanggal penerimaan surat permohonan pembatalan SPPT yang
diajukan secara kolektif, disertai laporan hasil penelitian pembatalan SPPT yang
diajukan secara kolektif.

3. Terhadap permohonan yang telah memenuhi persyaratan, Kepala KPP


Pratama/Kepala Kanwil DJP/Direktur Keberatan dan Banding berdasarkan
kewenangan untuk melaksanakan penelitian masing-masing, menugaskan kepada
petugas peneliti untuk melakukan penelitian dengan menerbitkan Surat Tugas.

4. Pelaksanaan penelitian dilakukan dengan ketentuan :

a. petugas peneliti melakukan penelitian di kantor terhadap berkas permohonan


dan apabila diperlukan, petugas peneliti dapat melanjutkan penelitian di
lapangan;

b. dalam hal dilakukan penelitian di lapangan Kepala KPP Pratama/pejabat


serendah-rendahnya setingkat Eselon III pada Kanwil DJP/pejabat serendah-
rendahnya setingkat Eselon III pada Direktorat keberatan dan Banding
terlebih dahulu memberitahukan secara tertulis tanggal pelaksanaan
penelitian dilapangan kepada Wajib Pajak atau kuasanya;
c. dalam hal kewenangan penelitian ada pada Kantor Pusat DJP/Kanwil DJP,
penelitian dimaksud dapat dilakukan dengan melibatkan petugas yang
ditunjuk dari KPP Pratama;

d. hasil penelitian dituangkan dalam laporan hasil penelitian.

5. Penerbitan dan pengiriman keputusan atas permohonan dilakukan dengan ketentuan:

a. Keputusan diterbitkan berdasarkan laporan hasil penelitian;

b. Salinan Keputusan atas permohonan dimaksud diberikan kepada :

1) Wajib Pajak/kuasanya, atau Kepala Desa/Lurah dalam hal permohonan pembatalan


SPPT diajukan secara kolektif;
2) Kepala KPP Pratama.

6. Jangka waktu pelaksanaan penelitian dan penerbitan Surat Keputusan atas


permohonan dimaksud disesuaikan dengan jangka waktu penyelesaian permohonan,
yaitu 6 (enam) bulan sejak tanggal penerimaan surat permohonan. Namun demikian,
dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada Wajib Pajak, penyelesaian
permohonan dimaksud agar tidak menunggu batas akhir waktu penyelesaian
permohonan.

V. Bentuk Formulir

1. Contoh surat permohonan adalah sebagaimana pada :

a. Lampiran I Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini untuk permohonan


pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi PBB;

b. Lampiran II Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini untuk permohonan


pengurangan SPPT, SKP PBB, atau STP PBB, yang tidak benar;

c. Lampiran III Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini untuk permohonan
pembatalan SPPT, SKP PBB, atau STP PBB, yang tidak benar.

d. Lampiran IV Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini untuk permohonan


pembatalan SPPT yang tidak benar, yang diajukan secara kolektif.

2. Bentuk formulir lembar penelitian persyaratan permohonan adalah sebagaimana


pada :

a. Lampiran V Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini untuk permohonan


pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi PBB;
b. Lampiran VI Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini untuk permohonan
pengurangan SPPT, SKP PBB, atau STP PBB, yang tidak benar;

c. Lampiran VII Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini untuk permohonan
pembatalan SPPT, SKP PBB, atau STP PBB, yang tidak benar;

d. Lampiran VIII Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini untuk permohonan
pembatalan SPPT yang tidak benar, yang diajukan secara kolektif.

3. Surat pemberitahuan permohoan tidak dapat dipertimbangkan adalah sebagaimana


pada :

a. Lampiran IX Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini untuk permohonan


pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi PBB;

b. Lampiran X Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini untuk permohonan


pengurangan SPPT, SKP PBB, atau STP PBB, yang tidak benar;

c. Lampiran XI Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini untuk permohonan


pembatalan SPPT, SKP PBB, atau STP PBB, yang tidak benar;

4. Contoh surat penerusan berkas permohonan adalah sebagaimana pada Lampiran XII
Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini

5. Surat tugas penelitian atas permohonan adalah sebagaimana pada Lampiran XIII
Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini.

6. Surat Pemberitahuan penelitian di lapangan kepada Wajib Pajak/Kuasanya atau


Kepala Desa/Lurah dalam hal permohonan pembatalan SPPT diajukan secara
kolektif, adalah sebagaimana pada Lampiran XIV Surat Edaran Direktur Jenderal
Pajak ini.

7. Bentuk formulir laporan hasil penelitian adalah sebagaimana pada :

a. Lampiran XV Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini untuk permohonan


pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi PBB;

b. Lampiran XVI Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini untuk permohonan
pengurangan SPPT, SKP PBB, atau STP PBB, yang tidak benar;

c. Lampiran XVII Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini untuk permohonan
pembatalan SPPT, SKP PBB, atau STP PBB, yang tidak benar;

d. Lampiran XVIII Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini untuk permohonan
pembatalan SPPT yang tidak benar, yang diajukan secara kolektif.

VI. Prosedur Penyelesaian Permohonan


Prosedur penyelesaian permohonan Pengurangan Atau Penghapusan Sanksi Administrasi
Pajak Bumi Dan Bangunan, Dan Pengurangan Atau Pembatalan Surat Pemberitahuan Pajak
Terutang, Surat Ketetapan Pajak Pajak Bumi Dan Bangunan, Dan Surat Tagihan Pajak Pajak
Bumi dan Bangunan, Yang Tidak Benar ditetapkan sebagaimana pada Lampiran XIX Surat
Edaran Direktur Jenderal Pajak ini.
VII.Lain-lain

1. Dalam hal Kanwil DJP tidak sependapat dengan materi yang tercantum dalam
Laporan Hasil Penelitian yang dilakukan oleh KPP Pratama atas permohonan
pembatalan SPPT yang diajukan secara kolektif, Kanwil DJP dapat melakukan
penelitian ulang.

2. Prosedur penyelesaian permohonan Pengurangan Atau Penghapusan Sanksi


Administrasi Pajak Bumi Dan Bangunan, Dan Pengurangan Atau Pembatalan Surat
Pemberitahuan Pajak Terutang, Surat Ketetapan Pajak Pajak Bumi Dan Bangunan,
Dan Surat Tagihan Pajak Pajak Bumi dan Bangunan, Yang Tidak Benar sebagaimana
pada Lampiran XIX Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini merupakan perubahan
atas Standard Operating Procedure (SOP) KPP70-0009 tentang Tata Cara
Penyelesaian Permohonan Pengurangan Atas Penghapusan Sanksi Administrasi PBB
di KPP dan SOP KPP70-0058 tentang Tata Cara Penyelesaian Permohonan
Pembatalan SPPT/SKP/STP.

3. Sejak ditetapkannya Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini, ketentuan dalam Surat
Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-09/PJ.6/1993 yang berkaitan dengan
petunjuk pelaksanaan pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi PBB dan
pengurangan atau pembatalan SPPT, SKP PBB, STP PBB, yang tidak benar,
dinyatakan tidak berlaku.

Demikian untuk dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 5 Oktober 2009
DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

ttd.

MOCHAMAD TJIPTARDJO
NIP 060044911
Tembusan:

1. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak;

2. Para Direktur, Tenaga Pengkaji, dan Kepala Pusat di lingkungan Kantor Pusat Direktorat
Jenderal Pajak.

SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK


NOMOR SE - 92/PJ./2009

TENTANG

PENYAMPAIAN RALAT PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-


50/PJ./2009
TENTANG TATA CARA PENCABUTAN PENGUKUHAN PENGUSAHA KENA PAJAK
DAN
TATA CARA PENERBITAN SURAT KEPUTUSAN PEMUSATAN TEMPAT
PAJAK PERTAMBAHAN NILAI TERUTANG BAGI PENGUSAHA KENA PAJAK YANG
TEMPAT KEGIATAN USAHA ATAU TEMPAT PAJAK PERTAMBAHAN NILAI TERUTANG
DI KAWASAN BEBAS

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Sehubungan dengan terbitnya Ralat Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-50/PJ./2009
tanggal 07 September 2009 tentang Tata Cara Pencabutan Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak
Dan Tata Cara Penerbitan Surat Keputusan Pemusatan Tempat PPN Terutang Bagi Pengusaha
Kena Pajak Yang Memiliki Tempat Kegiatan Usaha/Tempat PPN Terutang di Kawasan Bebas,
bersama ini disampaikan Ralat Peraturan Direktur Jenderal Pajak dimaksud yang pada intinya
mengatur hal-hal sebagai berikut:

1. Ralat Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-50/PJ./2009 membetulkan


kekeliruan pada Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-50/PJ./2007 tanggal 07
September 2009 tentang Tata Cara Pencabutan Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak Dan
Tata Cara Penerbitan Surat Keputusan Pemusatan Tempat PPN Terutang Bagi Pengusaha
Kena Pajak Yang Memiliki Tempat Kegiatan Usaha/Tempat PPN Terutang di Kawasan
Bebas.

2. Pada Pasal 3 ayat (7) dan ayat (8), Pasal 5 ayat (1), Lampiran II huruf B angka 1,
Lampiran II huruf C angka 3, dan Lampiran IV bagian judul Peraturan Direktur Jenderal
Pajak Nomor PER-50/PJ./2009 tanggal 07 September 2009 diubah sehingga menjadi
sebagaimana dimaksud dalam Ralat Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-
50/PJ./2009 ini.

Demikian untuk diketahui dan dilaksanakan sebaik-baiknya.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 25 September 2009
DIREKTUR JENDERAL,

ttd

MOCHAMAD TJIPTARDJO
SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
NOMOR SE - 90/PJ/2009

TENTANG

KODE NOTA PENGHITUNGAN DAN KODE KETETAPAN PER JENIS PAJAK

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Sehubungan dengan telah terbentuknya struktur organisasi baru di seluruh unit vertikal
Direktorat Jenderal Pajak dan belum diaturnya Kode Nota Penghitungan dan Kode Ketetapan
Pajak atas PPh Final dan PPN yang seharusnya tidak terutang, PBB serta BPHTB, maka perlu
diatur Kode Nota Penghitungan dan Kode Ketetapan Per Jenis Pajak sebagaimana ditetapkan
pada Lampiran I dan Lampiran II Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini.
Surat Edaran ini berlaku sejak tanggal ditetapkan, dan dengan berlakunya Surat Edaran ini, maka
Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-04/PJ.24/2000 tanggal 21 Juli 2000
sebagaimana telah diubah dengan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor 327/PJ/2002
tanggal 4 September 2002 dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

Demikian disampaikan untuk dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 24 September 2009
Direktur Jenderal,

ttd.

Mochamad Tjiptardjo
NIP 060044911

Tembusan:

1. Sekretaris Direktorat Jenderal;

2. Para Direktur dan Tenaga Pengkaji di lingkungan Kantor Pusat;

3. Kepala Pusat Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan.

SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK


NOMOR : SE - 89/PJ/2009

TENTANG

TATA CARA PENANGANAN WAJIB PAJAK NON EFEKTIF

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Dalam rangka meningkatkan efektifitas penanganan Wajib Pajak terdaftar yang tidak memenuhi
kewajiban perpajakannya, yang antara lain disebabkan karena non aktif, bubar, atau meninggal
dunia, dengan ini disampaikan hal-hal sebagai berikut:
1. Dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini yang dimaksud dengan:

a. Wajib Pajak adalah orang pribadi atau badan, meliputi pembayar pajak, pemotong
pajak, dan pemungut pajak, yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

b. Wajib Pajak Non Efektif yang selanjutnya disebut dengan WP NE adalah Wajib
Pajak yang tidak melakukan pemenuhan kewajiban perpajakannya baik berupa
pembayaran maupun penyampaian Surat Pemberitahuan Masa (SPT Masa)
dan/atau Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT Tahunan) sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan perpajakan, yang nantinya dapat diaktifkan
kembali.

c. Kantor Pelayanan Pajak yang selanjutnya disebut dengan KPP adalah Kantor
Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar dan/atau tempat Pengusaha Kena
Pajak dikukuhkan.

d. Berita Acara Penelitian Wajib Pajak adalah berita acara yang dibuat untuk
melaporkan hasil penelitian terhadap Wajib Pajak.

e. Usulan Penetapan Status Wajib Pajak adalah formulir yang dipergunakan untuk
mengusulkan penetapan status Wajib Pajak sebagai WP NE atau Wajib Pajak
efektif.

f. Berita Acara Perubahan Status Wajib Pajak adalah berita acara yang dibuat untuk
melaporkan perubahan status Wajib Pajak pada Master File dari Wajib Pajak
efektif menjadi WP NE atau sebaliknya.

g. Surat Pemberitahuan Status Wajib Pajak adalah surat yang diterbitkan oleh KPP
untuk memberitahukan status Wajib Pajak dalam hal Wajib Pajak mengajukan
permohonan perubahan status.

2. Wajib Pajak dinyatakan sebagai WP NE apabila memenuhi salah satu kriteria sebagai
berikut:

a. selama 3 (tiga) tahun berturut-turut tidak pernah melakukan pemenuhan


kewajiban perpajakan baik berupa pembayaran pajak maupun penyampaian SPT
Masa dan/atau SPT Tahunan.

b. tidak diketahui/ditemukan lagi alamatnya.

c. Wajib Pajak orang pribadi yang telah meninggal dunia tetapi belum diterima
pemberitahuan tertulis secara resmi dari ahli warisnya atau belum mengajukan
penghapusan NPWP.

d. secara nyata tidak menunjukkan adanya kegiatan usaha.


e. bendahara tidak melakukan pembayaran lagi.

f. Wajib Pajak badan yang telah bubar tetapi belum ada Akte Pembubarannya atau
belum ada penyelesaian likuidasi (bagi badan yang sudah mendapat pengesahan
dari instansi yang berwenang).

g. Wajib Pajak orang pribadi yang bertempat tinggal atau berada atau bekerja di luar
negeri lebih dari 183 dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan.

3. WP NE dapat berubah status menjadi Wajib Pajak efektif apabila:

a. menyampaikan SPT Masa atau SPT Tahunan;

b. melakukan pembayaran pajak;

c. diketahui adanya kegiatan usaha dari Wajib Pajak;

d. diketahui alamat WP; atau

e. mengajukan permohonan untuk diaktifkan kembali.

4. Dalam hal Wajib Pajak memenuhi salah satu kriteria sebagaimana dimaksud pada angka
2, pengusulan WP NE dilakukan dengan cara sebagai berikut:

a. Wajib Pajak yang memenuhi kriteria sebagaimana yang dimaksud pada angka 2
huruf a, huruf b, huruf c atau huruf d diusulkan secara jabatan oleh Account
Representative; atau

b. Wajib Pajak yang memenuhi kriteria sebagaimana dimaksud pada angka 2 huruf
d, huruf e, huruf f dan huruf g mengajukan permohonan sebagai WP NE ke KPP,
dengan melampirkan:

1) surat pernyataan sudah tidak lagi melakukan kegiatan usaha, bagi Wajib Pajak
sebagaimana dimaksud pada angka 2 huruf d, dengan menggunakan formulir
sebagaimana contoh pada Lampiran II Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini.
2) surat pernyataan sudah tidak melakukan pembayaran, bagi Wajib Pajak sebagaimana
dimaksud pada angka 2 huruf e, dengan menggunakan formulir sebagaimana contoh pada
Lampiran II Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini.
3) surat keterangan dalam proses pembubaran atau likuidasi dari Notaris, bagi Wajib Pajak
sebagaimana dimaksud pada angka 2 huruf f.
4) fotokopi passpor dan kontrak kerja atau dokumen yang menyatakan bahwa Wajib Pajak
berada di luar negeri lebih dari 183 hari dalam dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan,
bagi Wajib Pajak sebagaimana dimaksud pada angka 2 huruf g.
5. Permohonan perubahan status sebagaimana dimaksud pada angka 4 huruf b harus
diselesaikan dalam jangka waktu 10 (sepuluh) hari kerja setelah permohonan diterima
secara lengkap.

6. Bagi Wajib Pajak yang telah mendapatkan label NE tetap tercantum dalam Master File
Wajib Pajak dengan ketentuan sebagai berikut:

a. tidak diterbitkan Surat Teguran sekalipun Wajib Pajak tidak menyampaikan SPT
Masa atau SPT Tahunan;

b. tidak turut diawasi pembayaran masa/bulanannya dan tidak diterbitkan STP atas
sanksi administrasi karena tidak menyampaikan SPT;

7. Bagi Wajib Pajak dengan status NE, dalam hal:

a. menyampaikan SPT Masa atau SPT Tahunan atau surat lainnya, KPP harus
melakukan hal-hal sebagai berikut:

(1) Petugas TPT menerima SPT Masa atau SPT Tahunan atau surat lainnya melalui menu
penerimaan surat lain-lain dan meneruskannya ke Account Representative.
(2) Account Representative:
a) mengusulkan untuk mengaktifan kembali WP NE tersebut sesuai dengan tata
cara pengaktifan kembali WP NE;
b) membuat salinan SPT Masa atau SPT Tahunan atau surat lainnya untuk
digabungkan dengan asli LPAD penerimaan surat lain-lain;
c) mengirimkan asli SPT Masa atau SPT Tahunan atau surat lainnya dan salinan
LPAD ke petugas TPT;
(3) Petugas TPT melakukan perekaman SPT Masa atau SPT Tahunan atau surat lainnya yang
diterima dari Account Representative, menerbitkan LPAD/BPS dengan tanggal terima
sesuai dengan tanggal penerimaan SPT Masa atau SPT Tahunan atau surat lainnya pada
angka 1), dan menindaklanjutinya sesuai dengan SOP yang berlaku.

b. mengajukan permohonan untuk diaktifkan kembali, ditindaklanjuti oleh Account


Representative sesuai dengan tata cara pengaktifan kembali WP NE.

8. Direktorat TIP harus melakukan pemantauan terhadap perubahan satus Wajib Pajak yang
dilakukan oleh KPP, baik dari Wajib Pajak efektif menjadi WP NE atau sebaliknya.

9. Tata cara pengusulan dan penetapan WP NE atau pengaktifan kembali WP NE pada KPP
adalah sebagaimana ditetapkan pada Lampiran I Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini.

10. Surat Edaran ini mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 2010, dan dengan berlakunya Surat
Edaran Direktur Jenderal Pajak ini, maka Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor
SE-26/PJ.2/1988 tanggal 27 Juli 1988, Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor
14/PJ.9/1990 tanggal 15 Juni 1990 dan ketentuan-ketentuan lain yang bertentangan
dengan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
Demikian disampaikan untuk dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 14 September 2009
Direktur Jenderal,

ttd.

Mochamad Tjiptardjo
NIP 060044911

Tembusan:

1. Sekretaris Direktorat Jenderal;

2. Para Direktur, Tenaga Pengkaji, dan Kepala Pusat di lingkungan Kantor Pusat Direktorat
Jenderal Pajak.
SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
NOMOR : SE - 87/PJ/2009

TENTANG

PENGANTAR PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK


NOMOR PER-49/PJ/2009 TENTANG TATA CARA
PENGAJUAN DAN PENYELESAIAN KEBERATAN

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Sehubungan dengan telah diterbitkannya Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-
49/PJ/2009 tentang Tata Cara Pengajuan dan Penyelesaian Keberatan, bersama ini disampaikan
Peraturan Direktur Jenderal Pajak tersebut untuk dilaksanakan. Hal-hal yang perlu diperhatikan
adalah sebagai berikut :
1. Sesuai dengan ketentuan Pasal 19 Peraturan Pemerintah Nomor 80 Tahun 2007 tentang Tata
Cara Pelaksanaan Hak dan Kewajiban Perpajakan berdasarkan Undang-Undang Nomor 6
Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa
kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 (PP 80) diatur bahwa
atas Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar yang diterbitkan berdasarkan Pasal 13A Undang-
Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor
16 Tahun 2009 (Undang-Undang KUP) tidak dapat diajukan keberatan.
2. Pengajuan keberatan harus memenuhi persyaratan, yaitu :

a. diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia;

b. mengemukakan jumlah pajak yang terutang atau jumlah pajak yang dipotong atau
dipungut atau jumlah rugi menurut penghitungan Wajib Pajak dengan disertai alasan-
alasan yang menjadi dasar penghitungan;

c. 1 (satu) surat keberatan diajukan hanya untuk 1 (satu) surat ketetapan pajak, untuk 1
(satu) pemotongan pajak, atau untuk 1 (satu) pemungutan pajak;

d. melunasi pajak yang masih harus dibayar paling sedikit sejumlah yang telah disetujui
Wajib Pajak dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan;

e. diajukan dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan sejak tanggal dikirim surat ketetapan
pajak atau sejak tanggal pemotongan atau pemungutan pajak oleh pihak ketiga,
kecuali Wajib Pajak dapat menunjukkan bahwa jangka waktu tersebut tidak dapat
dipenuhi karena keadaan di luar kekuasaan Wajib Pajak (force majeur);dan

f. ditandatangani oleh Wajib Pajak atau ditandatangani oleh kuasa Wajib Pajak.
Permohonan yang ditandatangani oleh kuasa harus dilampiri dengan Surat Kuasa
Khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 Undang-Undang KUP.

Syarat sebagaimana dimaksud huruf d hanya berlaku untuk pengajuan keberatan atas suatu
Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar atau Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan
yang berkaitan dengan Surat Pemberitahuan untuk Masa Pajak, Bagian Tahun Pajak, atau
Tahun Pajak 2008 dan seterusnya.
3. Keberatan dapat diajukan dengan menggunakan formulir sebagaimana ditetapkan dalam
Lampiran I Peraturan Direktur Jenderal Pajak tersebut.
4. Keberatan yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud pada angka 2 tidak
dipertimbangkan sehingga Direktur Jenderal Pajak tidak menerbitkan Surat Keputusan
Keberatan dan kepada Wajib Pajak diberitahukan secara tertulis dengan
menggunakan formulir sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran II Peraturan Direktur
Jenderal Pajak tersebut.
5. Surat keberatan disampaikan ke Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar
dan/atau tempat Pengusaha Kena Pajak dikukuhkan atau ke Kantor Pelayanan Penyuluhan
dan Konsultasi Perpajakan dalam wilayah Kantor Pelayanan Pajak yang bersangkutan:

a. secara langsung;

b. melalui pos dengan bukti pengiriman surat;

c. melalui perusahaan jasa ekspedisi atau jasa kurir dengan bukti pengiriman surat; atau

d. dengan e-Filing melalui Penyedia Jasa Aplikasi atau Application Service Provider
(ASP).

6. Pembukuan, catatan, data, informasi, atau keterangan lain yang tidak diberikan pada saat
pemeriksaan tidak dipertimbangkan dalam penyelesaian keberatan, kecuali pembukuan,
catatan, data, informasi, atau keterangan lain tersebut berada di pihak ketiga dan belum
diperoleh Wajib Pajak pada saat pemeriksaan.
7. Dalam hal terdapat pembukuan, catatan, data, informasi, atau keterangan lain yang belum
diminta pada saat proses pemeriksaan tetapi diperlukan dan diminta oleh Direktur Jenderal
Pajak serta diserahkan oleh Wajib Pajak dalam proses keberatan, pembukuan, catatan, data,
informasi, atau keterangan lain yang diserahkan oleh Wajib Pajak tersebut dapat
dipertimbangkan dalam penyelesaian keberatan, sepanjang memiliki kaitan dengan koreksi
yang disengketakan.
8. Dalam hal terdapat pembukuan, catatan, data, informasi, atau keterangan lain yang belum
diminta pada saat proses pemeriksaan dan keberatan tetapi diserahkan oleh Wajib Pajak
dalam proses keberatan, pembukuan, catatan, data, informasi, atau keterangan lain yang
diserahkan oleh Wajib Pajak tersebut dapat dipertimbangkan dalam penyelesaian keberatan,
sepanjang memiliki kaitan dengan koreksi yang disengketakan.
9. Permintaan kehadiran Wajib Pajak sebelum Surat Keputusan Keberatan diterbitkan, dengan
menggunakan Surat Pemberitahuan Untuk Hadir (SPUH), dimaksudkan bahwa kehadiran
Wajib Pajak untuk memperoleh penjelasan atau memberikan keterangan mengenai
keberatannya. Pemberian keterangan tersebut dituangkan dalam berita acara dengan
menggunakan formulir sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran VII Peraturan Direktur
Jenderal Pajak tersebut.
10. Apabila Wajib Pajak tidak memanfaatkan kesempatan untuk hadir sebagaimana telah
diberitahukan dengan SPUH:

a. dibuat Berita Acara ketidakhadiran Wajib Pajak dengan menggunakan formulir


sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran VIII Peraturan Direktur Jenderal Pajak
tersebut;dan

b. proses keberatan tetap dapat diselesaikan.

11. Wajib Pajak dapat mencabut pengajuan keberatan sebelum tanggal diterimanya SPUH oleh
Wajib Pajak.
12. Wajib Pajak dapat menunjuk seorang kuasa dalam rangka proses penyelesaian keberatan dan
kuasa Wajib Pajak tersebut harus menyerahkan Surat Kuasa Khusus sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 32 Undang-Undang KUP.
13. Dengan berlakunya Peraturan Direktur Jenderal Pajak tersebut, ketentuan mengenai Prosedur
Pengajuan dan Penyelesaian Keberatan sebagaimana diatur dalam Peraturan Direktur
Jenderal Pajak Nomor PER-01/PJ.07/2007 tentang Prosedur Pengajuan dan Penyelesaian
Permohonan Pembetulan Ketetapan Pajak, Keberatan, Pengurangan atau Penghapusan
Sanksi Administrasi, dan Pengurangan atau Pembatalan Ketetapan Pajak yang tidak Benar
Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah tidak
berlaku
14. Prosedur penanganan keberatan Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak
Penjualan atas Barang Mewah sebagaimana diatur dalam Surat Edaran Nomor SE-
02/PJ.07/2007 tentang Prosedur Penanganan Pembetulan Ketetapan Pajak, Keberatan,
Pengurangan atau Penghapusan Sanksi Administrasi, dan Pengurangan atau Pembatalan
Ketetapan Pajak yang Tidak Benar Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak
Penjualan atas Barang Mewah dinyatakan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan
PER-49/PJ/2009 tentang Tata Cara Pengajuan dan Penyelesaian Keberatan.
Demikian disampaikan untuk dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal 7 September 2009
Direktur Jenderal,

ttd.

Mochamad Tjiptardjo
NIP 060044911

Tembusan :

1. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak;

2. Para Direktur dan Tenaga Pengkaji di Lingkungan Kantor Pusat DJP.

3. Kepala Pusat Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan.

SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK


NOMOR : SE - 88/PJ/2009

TENTANG

PENYAMPAIAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK


NOMOR PER-50/PJ/2009 TENTANG TATA CARA PENCABUTAN PENGUKUHAN
PENGUSAHA KENA PAJAK DAN TATA CARA PENERBITAN SURAT KEPUTUSAN
PEMUSATAN TEMPAT PAJAK PERTAMBAHAN NILAI TERUTANG BAGI PENGUSAHA
KENA PAJAK YANG TEMPAT KEGIATAN USAHA ATAU TEMPAT PAJAK
PERTAMBAHAN NILAI TERUTANG DI KAWASAN BEBAS

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Sehubungan dengan diterbitkannya Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-50/PJ./2009


tentang Tata Cara Pencabutan Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak dan Tata Cara Penerbitan
Surat Keputusan Pemusatan Tempat Pajak Pertambahan Nilai Terutang Bagi Pengusaha Kena
Pajak yang Tempat Kegiatan Usaha atau Tempat Pajak Pertambahan Nilai Terutang di Kawasan
Bebas, maka hal-hal yang perlu mendapat perhatian Saudara adalah sebagai berikut :

1. PKP di Kawasan Bebas yang telah dikukuhkan sebelum tanggal 1 April 2009 dicabut
pengukuhannya secara bertahap. Agar Kepala KPP tempat PKP terdaftar mencabut
seluruh pengukuhan PKP paling lama tanggal 31 Maret 2010.

2. Pencabutan PKP oleh Kepala Kantor Pelayanan Pajak tempat PKP terdaftar dilakukan
secara jabatan dengan cara penelitian.

3. Penelitian dilakukan untuk mengetahui bahwa seluruh hak dan kewajiban PKP telah
dilaksanakan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan perpajakan.

4. Kepala Kantor Pelayanan Pajak di Kawasan Bebas mengirimkan Surat Pemberitahuan


pencabutan Pengukuhan PKP paling lama tanggal 28 Februari 2010.

5. PKP di Kawasan Bebas tidak diperkenankan melaporkan SPT Masa PPN untuk Masa
Pajak Mei 2009 dan seterusnya. Khusus bagi PKP yang mempunyai tempat kegiatan
usaha/tempat PPN terutang di luar Kawasan Bebas yang telah mendapat ijin pemusatan
tempat PPN terutang di Kawasan Bebas SPT Masa PPN dapat disampaikan sampai
dengan Masa Pajak Oktober 2009.

6. Dalam rangka menjamin kepastian hukum dan keadilan, sanksi administrasi tidak perlu
diterbitkan STP dalam hal :

a. PKP tidak memasukkan SPT Masa PPN setelah Masa April 2009;

b. PKP melakukan pembetulan SPT Masa PPN setelah tanggal 1 April 2009 yang
semata-mata karena PKP menerbitkan Nota Retur.

7. PKP di Kawasan Bebas tetap dapat melakukan pembetulan SPT Masa PPN untuk Masa
Pajak April 2009 dan sebelumnya sampai dengan pengukuhan PKP-nya dicabut.

8. Kepala Kantor Pelayanan Pajak di lingkungan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak
Wajib Pajak Besar dan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Jakarta Khusus,
serta Kepala Kantor Pelayanan Pajak Madya agar melakukan hal-hal sebagai berikut :

a. Meneliti seluruh pengukuhan PKP atau Surat Keputusan Tempat PPN terutang
yang pernah diterbitkan untuk mengetahui apakah ada tempat pemusatan PPN
terutang yang berada di Kawasan Bebas.

b. Membuat daftar tempat kegiatan usaha yang berada di luar Kawasan Bebas yang
selama ini tempat PPN terutang dipusatkan di Kawasan Bebas.

c. Mengirimkan daftar tempat kegiatan usaha ke Kepala Kantor Pelayanan Pajak


paling lama 25 September 2009.
9. Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak di seluruh Indonesia agar meneliti
seluruh Surat Keputusan Pemusatan tempat PPN terutang yang pernah diterbitkan,
apabila ada tempat kegiatan usaha yang dipusatkan berada di Kawasan Bebas, agar Surat
Keputusan tersebut diperbaharui dengan menghapus tempat kegiatan usaha yang berada
di Kawasan Bebas Penggantian atau pembaharuan Surat Keputusan tersebut dilakukan
paling lama tanggal 31 Oktober 2009.

10. Kepala Kantor Pelayanan Pajak domisili tempat kegiatan usaha berada melakukan hal-hal
sebagai berikut :

a. Atas data yang diterima dari Kepala Kantor Pelayanan Pajak di lingkungan
Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Wajib Pajak Besar dan Kepala Kantor
Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Jakarta Khusus, serta Kepala Kantor Pelayanan
Pajak Madya melakukan penelitian status Wajib Pajak di administrasi Kantor
Pelayanan Pajak.

b. Dalam hal status Wajib Pajak tersebut belum dikukuhkan sebagai PKP agar
Kepala Kantor Pelayanan Pajak melakukan pengukuhan secara jabatan.

c. Dalam hal Wajib Pajak masih berstatus sebagai PKP, agar mengirimkan surat
pemberitahuan pemenuhan kewajiban sebagai PKP di KPP terkait terhitung sejak
Masa Pajak Oktober 2009.

11. Kepala KPP diminta membuat daftar inventarisasi PKP yang dapat segera dicabut dan
mealporkannya kepada Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak atasannya
setiap akhir bulan dengan menggunakan format sebagaimana terlampir sebagai Lampiran
Surat Edaran ini.

Demikian untuk diketahui dan dilaksanakan sebaik-baiknya.

Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal 7 September 2009
Direktur Jenderal,

ttd.

Mochamad Tjiptardjo
NIP 060044911

Tembusan :

1. Menteri Keuangan;
2. Sekretaris Jenderal Departemen Keuangan;

3. Inspektur Jenderal Departemen Keuangan;

4. Kepala Biro Hukum Departemen Keuangan;

5. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak;

6. Para Direktur di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak;

7. Para Tenaga Pengkaji di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak;

8. Kepala Pusat Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan.


SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
NOMOR SE - 84/PJ/2009

TENTANG

PENGANTAR PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK


NOMOR PER-48/PJ/2009 TENTANG TATA CARA
PEMBETULAN KESALAHAN TULIS, KESALAHAN HITUNG,
DAN/ATAU KEKELIRUAN PENERAPAN KETENTUAN TERTENTU
DALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN PERPAJAKAN

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Sehubungan dengan telah diterbitkannya Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-
48/PJ/2009 tentang Tata Cara Pembetulan Kesalahan Tulis, Kesalahan Hitung, dan/atau
Kekeliruan Penerapan Ketentuan Tertentu dalam Peraturan Perundang-undangan Perpajakan,
dengan ini disampaikan Peraturan Direktur Jenderal Pajak tersebut untuk dilaksanakan. Hal-hal
yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut :

1. Pembetulan atas surat ketetapan pajak/Surat Tagihan Pajak/surat keputusan lain yang terkait
dengan bidang perpajakan oleh Direktur Jenderal Pajak sebagaimana diatur dalam Peraturan
Direktur Jenderal Pajak tersebut adalah untuk jenis pajak Pajak Penghasilan serta Pajak
Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah.
2. Permohonan pembetulan dapat diajukan dengan menggunakan formulir sebagaimana
ditetapkan dalam Lampiran I Peraturan Direktur Jenderal Pajak tersebut.
3. Permohonan pembetulan yang diajukan oleh Wajib Pajak harus memenuhi ketentuan-
ketentuan sebagai berikut :
a. 1 (satu) permohonan diajukan untuk 1 (satu) surat ketetapan pajak, Surat Tagihan Pajak,
atau surat keputusan lain yang terkait dengan bidang perpajakan;
b. diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia disertai dengan alasan yang mendukung
permohonannya; dan
c. ditandatangani oleh Wajib Pajak atau ditandatangani oleh Kuasa Wajib Pajak.
Permohonan yang ditandatangani oleh kuasa harus dilampiri dengan Surat Kuasa
Khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983
tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali
diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009.
Permohonan yang tidak memenuhi ketentuan di atas, tidak dapat dipertimbangkan dan
kepada Wajib Pajak diberitahukan secara tertulis dengan menggunakan formulir sebagaimana
ditetapkan dalam Lampiran II Peraturan Direktur Jenderal Pajak tersebut.
4. Permohonan pembetulan ditujukan kepada pejabat yang menerbitkan surat ketetapan pajak,
Surat Tagihan Pajak, atau surat keputusan lain yang terkait dengan bidang perpajakan yang
diajukan pembetulan dan disampaikan ke atau melalui Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib
Pajak terdaftar dan/atau tempat Pengusaha Kena Pajak dikukuhkan atau Kantor Pelayanan
Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan dalam wilayah Kantor Pelayanan Pajak yang
bersangkutan :

a. secara langsung; atau

b. melalui pos dengan bukti pengiriman surat.

permohonan pembetulan disampaikan ke Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak


terdaftar dan/atau tempat Pengusaha Kena Pajak dikukuhkan jika surat ketetapan pajak/Surat
Tagihan Pajak/surat keputusan lain yang terkait dengan bidang perpajakan yang diajukan
pembetulan diterbitkan oleh kantor Pelayanan Pajak.
Permohonan pembetulan disampaikan melalui Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak
terdaftar dan/atau tempat Pengusaha Kena Pajak dikukuhkan jika surat ketetapan pajak/Surat
Tagihan Pajak/surat keputusan lain yang terkait dengan bidang perpajakan yang diajukan
pembetulan diterbitkan oleh Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak atau Kantor Pusat
Direktorat Jenderal Pajak.
5. Dalam hal Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar atau Kantor Pelayanan Pajak
tempat Pengusaha Kena Pajak dikukuhkan berubah, permohonan pembetulan ditujukan
kepada Direktur Jenderal Pajak, Kepala Kantor Wilayah DJP yang baru, atau Kepala Kantor
Pelayanan Pajak yang baru.
Contoh mengenai tempat terdaftar Wajib Pajak berubah :

a. Wajib Pajak terdaftar pada KPP A kemudian KPP A berubah menjadi KPP Pratama A.
Terhadap Wajib Pajak telah diterbitkan Surat Tagihan Pajak oleh KPP A. Apabila
pengajuan permohonan pembetulan terhadap Surat Tagihan Pajak tersebut dilakukan
setelah Wajib Pajak terdaftar di KPP Pratama A, maka permohonan pembetulan
ditujukan kepada Kepala KPP Pratama A.

b. Wajib Pajak terdaftar pada KPP A kemudian KPP A dipecah menjadi KPP Pratama A1
dan KPP Pratama A2. Setelah pemecahan, Wajib Pajak terdaftar pada KPP Pratama
A1. Terhadap Wajib Pajak telah diterbitkan Surat Tagihan Pajak oleh KPP A. Apabila
pengajuan permohonan pembetulan terhadap Surat Tagihan Pajak tersebut dilakukan
setelah Wajib Pajak terdaftar di KPP Pratama A1, maka permohonan pembetulan
ditujukan kepada Kepala KPP Pratama A1.

c. Wajib Pajak terdaftar pada KPP Pratama A kemudian pindah tempat terdaftar pada
KPP Pratama B. Terhadap Wajib Pajak telah diterbitkan Surat Tagihan Pajak oleh KPP
Pratama A. Apabila pengajuan permohonan pembetulan terhadap Surat Tagihan Pajak
tersebut dilakukan setelah Wajib Pajak terdaftar di KPP Pratama B, maka permohonan
pembetulan ditujukan kepada Kepala KPP Pratama B.

d. Wajib Pajak terdaftar pada KPP Pratama A dalam Kanwil X kemudian berubah
menjadi terdaftar pada KPP Pratama B dalam Kanwil Y. Terhadap Wajib Pajak telah
diterbitkan Surat Keputusan Pembatalan Ketetapan Pajak oleh Kanwil X. Apabila
pengajuan permohonan pembetulan terhadap surat keputusan tersebut dilakukan
setelah Wajib Pajak terdaftar di KPP Pratama B, maka permohonan pembetulan
ditujukan kepada Kepala Kanwil Y melalui KPP Pratama B.

e. Wajib Pajak terdaftar pada KPP Pratama A dalam Kanwil X kemudian berubah
menjadi terdaftar pada KPP Pratama B dalam Kanwil Y. Terhadap Wajib Pajak telah
diterbitkan Surat Keputusan Keberatan oleh Direktur Jenderal Pajak. Apabila
pengajuan permohonan pembetulan terhadap Surat Keputusan Keberatan tersebut
dilakukan setelah Wajib Pajak terdaftar di KPP Pratama B, maka permohonan
pembetulan ditujukan kepada Direktur Jenderal Pajak melalui KPP Pratama B.

6. Keputusan atas permohonan pembetulan harus diberikan paling lama dalam jangka waktu 6
(enam) bulan sejak tanggal bukti penerimaan permohonan pembetulan.
7. Dengan berlakunya Peraturan Direktur Jenderal Pajak tersebut, Peraturan Direktur Jenderal
Pajak Nomor PER-01/PJ.07/2007 tentang Prosedur Pengajuan dan Penyelesaian Permohonan
Pembetulan Ketetapan Pajak, Keberatan, Pengurangan atau Penghapusan Sanksi
Administrasi, dan Pengurangan atau Pembatalan Ketetapan Pajak yang Tidak Benar Pajak
Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah tidak berlaku
sepanjang mengenai prosedur pengajuan dan penyelesaian permohonan pembetulan ketetapan
pajak.
8. prosedur penanganan pembetulan ketetapan pajak Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan
Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebagaimana diatur dalam Surat Edaran
Nomor SE-02/PJ.07/2007 tentang Prosedur Penanganan Pembetulan Ketetapan Pajak,
Keberatan, Pengurangan atau Penghapusan Sanksi Administrasi, dan Pengurangan atau
Pembatalan Ketetapan Pajak yang Tidak Benar Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai
dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah dinyatakan tetap berlaku sepanjang tidak
bertentangan dengan PER-48/PJ/2009 tentang Tata Cara Pembetulan Kesalahan Tulis,
Kesalahan Hitung, dan/atau Kekeliruan Penerapan Ketentuan Tertentu dalam Peraturan
Perundang-undangan Perpajakan.

Demikian disampaikan untuk dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 7 September 2009
Direktur Jenderal,

ttd.

Mochamad Tjiptardjo
NIP 060044911
Tembusan :

1. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak;

2. Para Direktur dan Tenaga Pengkaji di lingkungan Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak;

3. Kepala Pusat Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan.

SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK


NOMOR SE - 82/PJ/2009

TENTANG

PENEGASAN TATA CARA PENYAMPAIAN SURAT PEMBERITAHUAN DAN/ATAU


PENYAMPAIAN PEMBERITAHUAN PERPANJANGAN SURAT PEMBERITAHUAN
TAHUNAN
SECARA ELEKTRONIK (e-FILING) MELALUI PERUSAHAAN PENYEDIA JASA
APLIKASI (ASP)

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Sehubungan dengan masih adanya keraguan dalam pelaksanaan penyampaian Surat


Pemberitahuan (SPT) dan/atau Pemberitahuan Perpanjangan SPT Tahunan secara elektronik (e-
Filing) melalui perusahaan penyedia jasa aplikasi (ASP) yang telah ditetapkan dalam Peraturan
Direktur Jenderal Pajak Nomor 47/PJ/2008, maka untuk menciptakan keseragaman dan
kelancaran pelaksanaannya, meningkatkan kepastian hukum serta memberikan pelayanan yang
lebih baik kepada Wajib Pajak, perlu diberikan beberapa penegasan sebagai berikut:

1. Wajib Pajak yang akan menyampaikan SPT dan/atau Pemberitahuan Perpanjangan SPT
Tahunan secara elekronik (e-Filing) melalui perusahaan penyedia jasa aplikasi (ASP), untuk
pertama kali harus mengajukan permohonan untuk memperoleh Electronic Filing
Identification Number (e-FIN) ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP) tempat Wajib Pajak
terdaftar.
2. Terkait dengan e-FIN sebagaimana dimaksud pada angka 1, perlu diperhatikan hal-hal
sebagai berikut:
a. Permohonan untuk memperoleh e-FIN dapat disetujui apabila alamat Wajib Pajak yang
tercantum dalam permohonan sesuai dengan alamat Wajib Pajak yang tercantum dalam
Master File Nasional (MFN) Direktorat Jenderal Pajak.
b. Dalam hal alamat Wajib Pajak dalam MFN tidak sesuai dengan alamat Wajib Pajak
yang tercantum dalam permohonan, maka Wajib Pajak harus melaporkan perubahan
alamat terlebih dahulu dengan mengisi Formulir Perubahan Data dan Wajib Pajak
Pindah dan/atau Formulir Perubahan Data dan PKP Pindah sebagaimana diatur dalam
Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor 44/PJ/2008 tentang Tata Cara Pendaftaran
Nomor Pokok Wajib Pajak dan/atau Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak, Perubahan
Data dan Pemindahan Wajib Pajak dan/atau Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak.
c. Ketentuan mengenai persyaratan untuk memperoleh e-FIN sebagaimana diatur dalam
Pasal 3 ayat (3) huruf b Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-05/PJ/2005
tentang Tata Cara Penyampaian Surat Pemberitahuan secara Elektronik (e-Filing)
melalui Perusahaan Penyedia Jasa Aplikasi (ASP), yaitu:
Bagi Wajib Pajak yang telah mempunyai kewajiban menyampaikan SPT, telah
menyampaikan:
1) SPT Tahunan Pajak Penghasilan orang pribadi atau badan untuk tahun pajak
terakhir;
2) SPT Tahunan Pajak Penghasilan Pasal 21 untuk tahun pajak terakhir;
3) SPT Masa Pajak Pertambahan Nilai untuk 6 (enam) masa pajak terakhir;
tidak diperlukan lagi mengingat persyaratan tersebut tidak diatur lagi dalam Peraturan
Direktur Jenderal Pajak Nomor 47/PJ/2008 yang merupakan pengganti Keputusan
Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-05/PJ/2005.
d. Kepala Kantor Pelayanan Pajak harus memberikan keputusan atas permohonan yang
diajukan oleh Wajib Pajak untuk memperoleh e-FIN paling lama 2 (dua) hari kerja sejak
permohonan diterima dengan lengkap dan benar.
3. Terkait dengan penyampaian SPT serta keterangan dan/atau dokumen yang wajib
dilampirkan, perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a. Wajib Pajak yang menyampaikan SPT dan/atau Pemberitahuan Perpanjangan SPT
Tahunan secara elektronik (e-Filing) melalui perusahaan penyedia jasa aplikasi (ASP)
tidak diwajibkan menyampaikan induk SPT dan Surat Setoran Pajak (SSP) dalam
bentuk kertas (hardcopy), sepanjang SSP tersebut telah mendapatkan Nomor Transaksi
Penerimaan Negara (NTPN) dan NTPN tersebut telah dicantumkan dalam SPT
dimaksud.
b. Wajib Pajak wajib menyampaikan keterangan dan/atau dokumen lain yang tidak dapat
disampaikan secara elektronik yang merupakan kelengkapan yang harus dilampirkan
dalam SPT dan/atau Pemberitahuan Perpanjangan SPT Tahunan dengan menggunakan
Surat Pengantar sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran II Peraturan Direktur Jenderal
Pajak Nomor 47/PJ/2008 ke KPP tempat Wajib Pajak terdaftar, secara langsung atau
melalui pos/perusahaan jasa ekspedisi/jasa kurir dengan bukti pengiriman surat paling
lama:
1) 14 (empat belas) hari sejak batas terakhir pelaporan SPT dan/atau
pemberitahuan perpanjangan SPT Tahunan dalam hal SPT dan/atau
pemberitahuan perpanjangan SPT Tahunan disampaikan sebelum batas akhir
penyampaian.
2) 14 (empat belas) hari sejak tanggal penyampaian SPT dan/atau
pemberitahuan perpanjangan SPT Tahunan secara elektronik dalam hal SPT
dan/atau pemberitahuan perpanjangan SPT Tahunan disampaikan setelah lewat
batas akhir penyampaian.
c. Dalam hal Wajib Pajak tidak menyampaikan keterangan dan/atau dokumen
sebagaimana dimaksud pada huruf b, maka SPT dan/atau Pemberitahuan Perpanjangan
SPT Tahunan yang disampaikan oleh Wajib Pajak tersebut dianggap tidak disampaikan
dan Kepala Kantor Pelayanan Pajak harus mengirimkan Surat Teguran kepada Wajib
Pajak.
4. Informasi atas data Nomor Tanda Terima Elektronik (NTTE) bagi Wajib Pajak yang telah
menyampaikan SPT dan/atau pemberitahuan perpanjangan SPT Tahunan secara elektronik (e-
Filing) dapat dilihat pada Aplikasi Monitoring Penyampaian SPT melalui e-Filing.
5. Kepala KPP agar memperhatikan tata cara permohonan e-FIN sebagaimana dimaksud pada
Lampiran I Surat Edaran ini dan tata cara penyampaian SPT dan/atau Pemberitahuan
Perpanjangan SPT Tahunan secara elektronik (e-Filing) melalui perusahaan penyedia jasa
aplikasi (ASP) sebagaimana dimaksud pada Lampiran II Surat Edaran ini.

Demikian disampaikan untuk dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal 31 Agustus 2009
Direktur Jenderal,

ttd.

Mochamad Tjiptardjo
NIP 060044911

Tembusan:

1. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak;

2. Para Direktur dan Tenaga Pengkaji di lingkungan DJP;

3. Kepala Pusat Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan.


SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
NOMOR : SE - 67/PJ/2009

TENTANG

PENGANTAR PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK


NOMOR PER-40/PJ/2009 TENTANG
TATA CARA PENGEMBALIAN PENDAHULUAN KELEBIHAN PAJAK
BAGI WAJIB PAJAK YANG MEMENUHI PERSYARATAN TERTENTU

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Sehubungan dengan telah diterbitkannya Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-
40/PJ/2009 tentang Tata Cara Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak bagi Wajib Pajak
yang memenuhi Persyaratan Tertentu, dengan ini disampaikan Peraturan Direktur Jenderal Pajak
tersebut untuk dilaksanakan. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut :

1. Wajib Pajak yang memenuhi persyaratan tertentu dapat mengajukan permohonan


pengembalian kelebihan pembayaran pajak dengan menggunakan Surat Pemberitahuan
(SPT) atau surat tersendiri.

2. Dalam hal Wajib Pajak yang memenuhi persyaratan tertentu tidak menghendaki
diterbitkan Surat Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak (SKPPKP),
Wajib Pajak tersebut harus menyampaikan pernyataan tertulis bersamaan dengan
penyampaian permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak, dan kelebihan
pembayaran pajak Wajib Pajak tersebut diproses berdasarkan ketentuan Pasal 17B
Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang
Nomor 16 Tahun 2009, yang selanjutnya disebut dengan Undang-Undang KUP.
3. Dalam hal SKPPKP tidak diterbitkan karena tidak memenuhi ketentuan Pasal 6 ayat (2)
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 193/PMK.03/2007 tentang Batasan Jumlah
Peredaran Usaha, Jumlah Penyerahan, dan Jumlah Lebih Bayar bagi Wajib Pajak yang
Memenuhi Persyaratan Tertentu yang Dapat Diberikan Pengembalian Pendahuluan
Kelebihan Pajak sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor
54/PMK.03/2009 dan Pasal 7 ayat (3) Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-
40/PJ/2009 tentang Tata Cara Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak bagi Wajib
Pajak yang memenuhi Persyaratan Tertentu, permohonan pengembalian kelebihan
pembayaran pajak diproses berdasarkan ketentuan Pasal 17B Undang-Undang KUP dan
kepada Wajib Pajak diberitahukan secara tertulis dengan formulir sebagaimana ditetapkan
dalam Lampiran II Peraturan Direktur Jenderal Pajak tersebut.

4. Terhadap SPT Tahunan PPh atau SPT Masa PPN yang disampaikan oleh Wajib Pajak
yang memenuhi persyaratan tertentu sebelum berlakunya Peraturan Direktur Jenderal
Pajak Nomor PER-40/PJ/2009 tentang Tata Cara Pengembalian Pendahuluan Kelebihan
Pajak bagi Wajib Pajak yang memenuhi Persyaratan Tertentu dan belum diterbitkan
SKPPKP, Kantor Pelayanan Pajak diminta untuk melakukan klarifikasi terlebih dahulu
kepada Wajib Pajak mengenai proses pengembalian kelebihan pembayaran pajak yang
dikehendaki, yaitu pengembalian kelebihan pembayaran pajak diproses berdasarkan Pasal
17B atau Pasal 17D Undang-Undang KUP. Dalam hal wajib Pajak tidak merespon
klarifikasi tersebut, pengembalian kelebihan pembayaran pajak diproses berdasarkan
Pasal 17D Undang-Undang KUP.

5. Batasan jumlah peredaran usaha bagi Wajib Pajak orang pribadi yang menjalankan usaha
atau melakukan pekerjaan bebas dan menyelenggarakan pembukuan untuk dapat
memperoleh pengembalian pendahuluan kelebihan pajak :

a. untuk Tahun Pajak 2008 paling banyak adalah Rp 1.800.000.000 (satu miliar
delapan ratus juta rupiah); atau

b. untuk Tahun Pajak 2009 dan selanjutnya paling banyak adalah Rp 4.800.000.000
(empat miliar delapan ratus juta rupiah).

6. Pengusaha Kena Pajak (PKP) yang dapat diberikan pengembalian pendahuluan kelebihan
pembayaran pajak adalah PKP yang telah menyampaikan SPT Tahunan PPh dan SPT
Masa PPN yang memenuhi ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal 4 ayat
(1) Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-40/PJ/2009 tentang Tata Cara
Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak bagi Wajib Pajak yang Memenuhi
Persyaratan Tertentu. Yang dimaksud dengan telah SPT Tahunan PPh adalah SPT
Tahunan PPh Tahun Pajak terakhir yang telah wajib disampaikan sesuai ketentuan.

Contoh mengenai SPT Tahunan PPh Tahun Pajak terakhir yang telah wajib disampaikan :
a. PKP badan dengan tahun buku Januari sampai dengan Desember.
1) SPT Masa PPN Masa Pajak Maret 2009 yang menyatakan lebih bayar disampaikan
PKP tersebut pada bulan April 2009. Terhadap PKP tersebut dapat diberikan
SKPPKP apabila PKP tersebut sudah menyampaikan:
a) SPT Tahunan PPh Tahun Pajak 2007, dalam hal PKP tersebut sampai
dengan tanggal penyampaian permohonan belum menyampaikan SPT
Tahunan PPh Tahun Pajak 2008; atau
b) SPT Tahunan PPh Tahun Pajak 2008, dalam hal SPT Tahunan PPh Tahun
Pajak 2008 telah disampaikan pada saat penyampaian permohonan.
2) SPT Masa PPN Masa Pajak Mei 2009 yang menyatakan lebih bayar disampaikan
PKP tersebut pada bulan Juni 2009. Terhadap PKP tersebut dapat diberikan SKPPKP
apabila PKP tersebut sudah menyampaikan SPT Tahunan PPh Tahun Pajak 2008.
b. PKP badan dengan tahun buku April sampai dengan Maret
1) SPT Masa PPN Masa Pajak Mei 2009 yang menyatakan lebih bayar disampaikan
PKP tersebut pada bulan Juni 2009. Terhadap PKP tersebut dapat diberikan SKPPKP
apabila PKP tersebut sudah menyampaikan:
a) SPT Tahunan PPh Tahun Pajak 2007, dalam hal PKP tersebut sampai
dengan tanggal penyampaian permohonan belum menyampaikan SPT
Tahunan PPh Tahun Pajak 2008; atau
b) SPT Tahunan PPh Tahun Pajak 2008, dalam hal SPT Tahunan PPh Tahun
Pajak 2008 telah disampaikan pada saat penyampaian permohonan.
2) SPT Masa PPN Masa Pajak Juli 2009 yang menyatakan lebih bayar disampaikan
PKP tersebut pada bulan Agustus 2009. Terhadap PKP tersebut dapat diberikan
SKPPKP apabila PKP tersebut sudah menyampaikan SPT Tahunan PPh Tahun Pajak
2008.
c. PKP orang pribadi
1) SPT Masa PPN Masa Pajak Februari 2009 yang menyatakan lebih bayar
disampaikan PKP tersebut pada bulan Maret 2009. Terhadap PKP tersebut dapat
diberikan SKPPKP apabila PKP tersebut sudah menyampaikan:
a) SPT Tahunan PPh Tahun Pajak 2007, dalam hal PKP tersebut sampai
dengan tanggal penyampaian permohonan belum menyampaikan SPT
Tahunan PPh Tahun Pajak 2008; atau
b) SPT Tahunan PPh Tahun Pajak 2008, dalam hal SPT Tahunan PPh Tahun
Pajak 2008 telah disampaikan pada saat penyampaian permohonan.
2) SPT Masa PPN Masa Pajak Maret 2009 yang menyatakan lebih bayar disampaikan
PKP tersebut bulan April 2009. Terhadap PKP tersebut dapat diberikan SKPPKP
apabila PKP tersebut sudah menyampaikan SPT Tahunan PPh Tahun Pajak 2008.

7. Nota Hitung yang digunakan dalam pembuatan SKPPKP adalah sebagaimana ditetapkan
dalam Lampiran I Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini.

8. Dalam memproses permohonan pengembalian pendahuluan kelebihan pajak dari Wajib


Pajak yang memenuhi persyaratan tertentu, Kepala Kantor Pelayanan Pajak
memperhatikan tata cara penyelesaian pengembalian pendahuluan kelebihan pajak bagi
Wajib Pajak yang memenuhi persyaratan tertentu sebagaimana ditetapkan dalam
Lampiran II Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini.

Demikian disampaikan untuk dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.


Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 7 Juli 2009
DIREKTUR JENDERAL,

ttd.

DARMIN NASUTION
NIP 130605098

Tembusan:

1. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak;

2. Para Direktur dan Tenaga Pengkaji di lingkungan Kantor Pusat DJP;

3. Kepala Pusat Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan.

SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK


NOMOR : SE - 67/PJ/2009

TENTANG

PENGANTAR PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK


NOMOR PER-40/PJ/2009 TENTANG
TATA CARA PENGEMBALIAN PENDAHULUAN KELEBIHAN PAJAK
BAGI WAJIB PAJAK YANG MEMENUHI PERSYARATAN TERTENTU

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Sehubungan dengan telah diterbitkannya Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-
40/PJ/2009 tentang Tata Cara Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak bagi Wajib Pajak
yang memenuhi Persyaratan Tertentu, dengan ini disampaikan Peraturan Direktur Jenderal Pajak
tersebut untuk dilaksanakan. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut :
1. Wajib Pajak yang memenuhi persyaratan tertentu dapat mengajukan permohonan
pengembalian kelebihan pembayaran pajak dengan menggunakan Surat Pemberitahuan
(SPT) atau surat tersendiri.

2. Dalam hal Wajib Pajak yang memenuhi persyaratan tertentu tidak menghendaki
diterbitkan Surat Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak (SKPPKP),
Wajib Pajak tersebut harus menyampaikan pernyataan tertulis bersamaan dengan
penyampaian permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak, dan kelebihan
pembayaran pajak Wajib Pajak tersebut diproses berdasarkan ketentuan Pasal 17B
Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang
Nomor 16 Tahun 2009, yang selanjutnya disebut dengan Undang-Undang KUP.

3. Dalam hal SKPPKP tidak diterbitkan karena tidak memenuhi ketentuan Pasal 6 ayat (2)
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 193/PMK.03/2007 tentang Batasan Jumlah
Peredaran Usaha, Jumlah Penyerahan, dan Jumlah Lebih Bayar bagi Wajib Pajak yang
Memenuhi Persyaratan Tertentu yang Dapat Diberikan Pengembalian Pendahuluan
Kelebihan Pajak sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor
54/PMK.03/2009 dan Pasal 7 ayat (3) Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-
40/PJ/2009 tentang Tata Cara Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak bagi Wajib
Pajak yang memenuhi Persyaratan Tertentu, permohonan pengembalian kelebihan
pembayaran pajak diproses berdasarkan ketentuan Pasal 17B Undang-Undang KUP dan
kepada Wajib Pajak diberitahukan secara tertulis dengan formulir sebagaimana ditetapkan
dalam Lampiran II Peraturan Direktur Jenderal Pajak tersebut.

4. Terhadap SPT Tahunan PPh atau SPT Masa PPN yang disampaikan oleh Wajib Pajak
yang memenuhi persyaratan tertentu sebelum berlakunya Peraturan Direktur Jenderal
Pajak Nomor PER-40/PJ/2009 tentang Tata Cara Pengembalian Pendahuluan Kelebihan
Pajak bagi Wajib Pajak yang memenuhi Persyaratan Tertentu dan belum diterbitkan
SKPPKP, Kantor Pelayanan Pajak diminta untuk melakukan klarifikasi terlebih dahulu
kepada Wajib Pajak mengenai proses pengembalian kelebihan pembayaran pajak yang
dikehendaki, yaitu pengembalian kelebihan pembayaran pajak diproses berdasarkan Pasal
17B atau Pasal 17D Undang-Undang KUP. Dalam hal wajib Pajak tidak merespon
klarifikasi tersebut, pengembalian kelebihan pembayaran pajak diproses berdasarkan
Pasal 17D Undang-Undang KUP.

5. Batasan jumlah peredaran usaha bagi Wajib Pajak orang pribadi yang menjalankan usaha
atau melakukan pekerjaan bebas dan menyelenggarakan pembukuan untuk dapat
memperoleh pengembalian pendahuluan kelebihan pajak :

a. untuk Tahun Pajak 2008 paling banyak adalah Rp 1.800.000.000 (satu miliar
delapan ratus juta rupiah); atau

b. untuk Tahun Pajak 2009 dan selanjutnya paling banyak adalah Rp 4.800.000.000
(empat miliar delapan ratus juta rupiah).
6. Pengusaha Kena Pajak (PKP) yang dapat diberikan pengembalian pendahuluan kelebihan
pembayaran pajak adalah PKP yang telah menyampaikan SPT Tahunan PPh dan SPT
Masa PPN yang memenuhi ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal 4 ayat
(1) Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-40/PJ/2009 tentang Tata Cara
Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak bagi Wajib Pajak yang Memenuhi
Persyaratan Tertentu. Yang dimaksud dengan telah SPT Tahunan PPh adalah SPT
Tahunan PPh Tahun Pajak terakhir yang telah wajib disampaikan sesuai ketentuan.

Contoh mengenai SPT Tahunan PPh Tahun Pajak terakhir yang telah wajib disampaikan :
a. PKP badan dengan tahun buku Januari sampai dengan Desember.
1) SPT Masa PPN Masa Pajak Maret 2009 yang menyatakan lebih bayar disampaikan
PKP tersebut pada bulan April 2009. Terhadap PKP tersebut dapat diberikan
SKPPKP apabila PKP tersebut sudah menyampaikan:
a) SPT Tahunan PPh Tahun Pajak 2007, dalam hal PKP tersebut sampai
dengan tanggal penyampaian permohonan belum menyampaikan SPT
Tahunan PPh Tahun Pajak 2008; atau
b) SPT Tahunan PPh Tahun Pajak 2008, dalam hal SPT Tahunan PPh Tahun
Pajak 2008 telah disampaikan pada saat penyampaian permohonan.
2) SPT Masa PPN Masa Pajak Mei 2009 yang menyatakan lebih bayar disampaikan
PKP tersebut pada bulan Juni 2009. Terhadap PKP tersebut dapat diberikan SKPPKP
apabila PKP tersebut sudah menyampaikan SPT Tahunan PPh Tahun Pajak 2008.
b. PKP badan dengan tahun buku April sampai dengan Maret
1) SPT Masa PPN Masa Pajak Mei 2009 yang menyatakan lebih bayar disampaikan
PKP tersebut pada bulan Juni 2009. Terhadap PKP tersebut dapat diberikan SKPPKP
apabila PKP tersebut sudah menyampaikan:
a) SPT Tahunan PPh Tahun Pajak 2007, dalam hal PKP tersebut sampai
dengan tanggal penyampaian permohonan belum menyampaikan SPT
Tahunan PPh Tahun Pajak 2008; atau
b) SPT Tahunan PPh Tahun Pajak 2008, dalam hal SPT Tahunan PPh Tahun
Pajak 2008 telah disampaikan pada saat penyampaian permohonan.
2) SPT Masa PPN Masa Pajak Juli 2009 yang menyatakan lebih bayar disampaikan
PKP tersebut pada bulan Agustus 2009. Terhadap PKP tersebut dapat diberikan
SKPPKP apabila PKP tersebut sudah menyampaikan SPT Tahunan PPh Tahun Pajak
2008.
c. PKP orang pribadi
1) SPT Masa PPN Masa Pajak Februari 2009 yang menyatakan lebih bayar
disampaikan PKP tersebut pada bulan Maret 2009. Terhadap PKP tersebut dapat
diberikan SKPPKP apabila PKP tersebut sudah menyampaikan:
a) SPT Tahunan PPh Tahun Pajak 2007, dalam hal PKP tersebut sampai
dengan tanggal penyampaian permohonan belum menyampaikan SPT
Tahunan PPh Tahun Pajak 2008; atau
b) SPT Tahunan PPh Tahun Pajak 2008, dalam hal SPT Tahunan PPh Tahun
Pajak 2008 telah disampaikan pada saat penyampaian permohonan.
2) SPT Masa PPN Masa Pajak Maret 2009 yang menyatakan lebih bayar disampaikan
PKP tersebut bulan April 2009. Terhadap PKP tersebut dapat diberikan SKPPKP
apabila PKP tersebut sudah menyampaikan SPT Tahunan PPh Tahun Pajak 2008.
7. Nota Hitung yang digunakan dalam pembuatan SKPPKP adalah sebagaimana ditetapkan
dalam Lampiran I Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini.

8. Dalam memproses permohonan pengembalian pendahuluan kelebihan pajak dari Wajib


Pajak yang memenuhi persyaratan tertentu, Kepala Kantor Pelayanan Pajak
memperhatikan tata cara penyelesaian pengembalian pendahuluan kelebihan pajak bagi
Wajib Pajak yang memenuhi persyaratan tertentu sebagaimana ditetapkan dalam
Lampiran II Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini.

Demikian disampaikan untuk dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 7 Juli 2009
DIREKTUR JENDERAL,

ttd.

DARMIN NASUTION
NIP 130605098

Tembusan:

1. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak;

2. Para Direktur dan Tenaga Pengkaji di lingkungan Kantor Pusat DJP;

3. Kepala Pusat Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan.

SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK


NOMOR : SE - 02/PJ.07/2009

TENTANG

PENEGASAN SEHUBUNGAN DENGAN SURAT PEMBERITAHUAN UNTUK HADIR


(SPUH)
DAN PEMBUKUAN, CATATAN, DATA, INFORMASI ATAU KETERANGAN LAIN
DALAM
PROSES KEBERATAN

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Dalam rangka pelaksanaan Pasal 26 dan Pasal 26A Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983
tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah
terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009, Peraturan Pemerintah Nomor 80 Tahun
2007 tentang Tata Cara Pelaksanaan Hak dan Kewajiban Perpajakan Berdasarkan Undang-
Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana
telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007, Peraturan
Menteri Keuangan Nomor 194/PMK.03/2007 tentang Tata Cara pengajuan dan Penyelesaian
Keberatan, Peraturan Menteri Keuangan Nomor 199/PMK.03/2007 tentang Tata Cara
Pemeriksaan Pajak, Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-19/PJ/2008 tentang Petunjuk
Pelaksanaan Pemeriksaan Lapangan, dan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-
20/PJ/2008 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Kantor dengan ini disampaikan
penegasan sebagai berikut :

1. Pasal 26 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang
Nomor 16 Tahun 2009 menyatakan bahwa :

(1)
Direktur Jenderal Pajak dalam jangka waktu paling lama 12 (dua belas) bulan sejak
tanggal Surat Keberatan diterima harus memberi keputusan atas keberatan yang diajukan.

(2)
Sebelum surat keputusan diterbitkan, Wajib Pajak dapat menyampaikan alasan tambahan
atau penjelasan tertulis.

(3)
Keputusan Direktur Jenderal Pajak atas keberatan dapat berupa mengabulkan seluruhnya
atau sebagian, menolak atau menambah besarnya jumlah pajak yang masih harus dibayar.

(4)
Dalam hal Wajib Pajak mengajukan keberatan atas surat ketetapan pajak sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 13 ayat (1) huruf b dan huruf d, Wajib Pajak yang bersangkutan
harus dapat membuktikan ketidakbenaran ketetapan pajak tersebut.

(5)
Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah terlampaui dan Direktur
Jenderal Pajak tidak memberi suatu keputusan, keberatan yang diajukan tersebut
dianggap dikabulkan.
2. Pasal 26A Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata
Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-
Undang Nomor 16 Tahun 2009 menyatakan bahwa :

(1) Tata cara pengajuan dan penyelesaian keberatan diatur dengan atau berdasarkan
Peraturan Menteri Keuangan.
(2) Tata cara pengajuan dan penyelesaian keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ,
antara lain, mengatur tentang pemberian hak kepada Wajib Pajak untuk hadir
memberikan keterangan atau memperoleh penjelasan mengenai keberatannya.
(3) Apabila Wajib Pajak tidak menggunakan hak sebagaimana dimaksud pada ayat (2),
proses keberatan tetap dapat diselesaikan.
(4) Wajib Pajak yang mengungkapkan pembukuan, catatan, data, informasi, atau keterangan
lain dalam proses keberatan yang tidak diberikan pada saat pemeriksaan, selain data dan
informasi yang pada saat pemeriksaan belum diperoleh Wajib Pajak dari pihak ketiga,
pembukuan, catatan, data, informasi, atau keterangan lain dimaksud tidak
dipertimbangkan dalam penyelesaian keberatannya.

3. Pasal 36 Peraturan Pemerintah Nomor 80 Tahun 2007 tentang Tata Cara Pelaksanaan Hak
dan Kewajiban Perpajakan Berdasarkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang
Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah
terakhir dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 antara lain menyatakan :

Ayat (1) : Terhadap semua hak dan kewajiban perpajakan Tahun Pajak 2001 sampai
dengan Tahun Pajak 2007 yang belum diselesaikan, berlaku ketentuan
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata
Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan
Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2000.
Ayat (2) : proses penyelesaian keberatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 dan
huruf f Pasal 26A Undang-Undang untuk pengajuan keberatan yang diterima setelah
tanggal 31 Desember 2007 berlaku ketentuan berdasarkan Undang-Undang.

4. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 194/PMK.03/2007 tentang Tata Cara pengajuan dan
Penyelesaian Keberatan antara lain mengatur hal-hal sebagai berikut :

Pasal 8 : Sebelum Direktur Jenderal Pajak menyampaikan Surat Pemberitahuan Untuk


Hadir, hal-hal yang dapat dilakukan dalam proses penyelesaian keberatan
adalah sebagai berikut :

a. Direktur Jenderal Pajak meminta keterangan, data, dan/atau


informasi tambahan dari Wajib Pajak;

b. Wajib Pajak menyampaikan alasan tambahan atau penjelasan


tertulis untuk melengkapi dan/atau memperjelas surat keberatan yang
telah disampaikan baik atas kehendak Wajib Pajak yang bersangkutan
maupun dalam rangka memenuhi permintaan Direktur Jenderal Pajak
sebagaimana dimaksud pada huruf a;

c. Direktur Jenderal Pajak melakukan pemeriksaan untuk tujuan


lain dalam rangka keberatan untuk mendapatkan data dan/atau informasi
yang objektif yang dapat dijadikan dasar dalam mempertimbangkan
keputusan keberatan.

Pasal 9 ayat : Sebelum menerbitkan Surat Keputusan Keberatan, Direktur Jenderal Pajak
(1) harus menyampaikan Surat Pemberitahuan Untuk Hadir kepada Wajib Pajak
guna memberi keterangan atau memperoleh penjelasan mengenai keberatannya.
Pasal 9 ayat : Dalam hal Wajib Pajak tidak hadir pada waktu yang ditentukan dalam Surat
(2) Pemberitahuan Untuk Hadir sebagaimana dimaksud pada ayat (1), proses
keberatan tetap diselesaikan tanpa menunggu kehadiran Wajib Pajak.
Pasal 10 : Pembukuan, catatan, data, informasi atau keterangan lain yang tidak diberikan
pada saat pemeriksaan tidak dipertimbangkan dalam penyelesaian keberatan,
kecuali pembukuan, catatan, data, informasi, atau keterangan lain tersebut
berada di pihak ketiga dan belum diperoleh Wajib Pajak pada saat pemeriksaan.

5. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 199/PMK.03/2007 tentang Tata Cara Pemeriksaan


Pajak antara lain mengatur hal-hal sebagai berikut :

Pasal 1 angka 14 : Kertas Kerja Pemeriksaan adalah catatan secara rinci dan jelas yang
dibuat oleh Pemeriksa Pajak mengenai prosedur Pemeriksaan yang
ditempuh, data, keterangan, dan/atau bukti yang dikumpulkan, pengujian
yang dilakukan dan simpulan yang diambil sehubungan dengan
pelaksanaan Pemeriksaan.
Pasal 9 huruf a : Kertas Kerja Pemeriksaan wajib disusun oleh Pemeriksa Pajak dan
angka 4 berfungsi sebagai sumber data atau informasi bagi penyelesaian
keberatan atau banding yang diajukan oleh Wajib Pajak.
Pasal 9 huruf b : Kertas Kerja Pemeriksaan harus memberikan gambaran mengenai data,
angka 2 keterangan, dan/atau bukti yang diperoleh.
Pasal 10 huruf b : Laporan Hasil Pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan
angka 5 dan angka kewajiban perpajakan antara lain mengenai Data/informasi yang tersedia
6 dan buku dan dokumen yang dipinjam.
Pasal 15 ayat (1) : Dalam hal Pemeriksaan dilaksanakan dengan Pemeriksaan
huruf a Lapangan Buku, catatan, dokumen, termasuk data yang dikelola secara
elektronik serta keterangan lain yang diperlukan dan
diperoleh/ditemukan pada saat pelaksanaan Pemeriksaan di tempat
Wajib Pajak, dipinjam pada saat itu juga dan Pemeriksa Pajak membuat
bukti peminjaman.
Pasal 15 ayat (2) : Dalam hal Pemeriksaan dilaksanakan dengan Pemeriksaan Kantor Buku,
huruf b catatan, dokumen, termasuk data yang dikelola secara elektronik serta
keterangan lain sebagaimana dimaksud pada huruf a, wajib dipinjamkan
pada saat Wajib Pajak memenuhi panggilan dan Pemeriksa Pajak
membuat bukti peminjaman.
Pasal 16 ayat (1) : Setiap penyerahan buku, catatan, dokumen, termasuk data yang dikelola
secara elektronik serta keterangan lain dari Wajib Pajak, Pemeriksa Pajak
harus membuat bukti peminjaman.

6. Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-19/PJ/2008 tentang Petunjuk Pelaksanaan


Pemeriksaan Lapangan antara lain mengatur :

Pasal 6 ayat : Dalam hal buku, catatan, dan/atau dokumen yang diperlukan belum
(2) diperoleh/ditemukan pada saat pelaksanaan Pemeriksaan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), Pemeriksa Pajak membuat Surat Permintaan
Peminjaman Buku, Catatan, dan Dokumen yang dilampiri dengan Daftar
Buku, Catatan, Dokumen yang Wajib Dipinjamkan Dalam Rangka
Pemeriksaan.
Pasal 6 ayat : Setiap penyerahan buku, catatan, dan/atau dokumen dari Wajib Pajak yang
(3) berkaitan dengan pemenuhan Surat Permintaan Peminjaman Buku, Catatan,
dan Dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Pemeriksa Pajak harus
membuat Bukti Peminjaman dan Pengembalian Buku, Catatan, dan
Dokumen.
Pasal 6 ayat : Dalam hal buku, catatan, dan/atau dokumen yang dipinjam berupa fotokopi
(4) dan/atau berupa data yang dikelola secara elektronik, Wajib Pajak harus
membuat Surat Pernyataan bahwa fotokopi dan/atau data yang dikelola secara
elektronik yang dipinjamkan kepada Pemeriksa Pajak adalah sesuai dengan
aslinya.
Pasal 6 ayat : Dalam hal untuk mengakses data yang dikelola secara elektronik memerlukan
(5) peralatan dan/atau keahlian khusus, Pemeriksa Pajak:

a. dapat meminta bantuan kepada Wajib Pajak untuk


menyediakan tenaga dan/atau peralatan atas biaya Wajib Pajak; atau

b. meminta bantuan kepada seorang atau lebih yang memiliki


keahlian tertentu yang bukan merupakan Pemeriksa Pajak, baik yang
berasal dari Direktorat Jenderal Pajak sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 2 ayat (5) maupun yang berasal dari luar Direktorat Jenderal
Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (6), dengan
menggunakan Surat Permintaan Bantuan Tenaga Ahli.

Pasal 24 : Buku, Catatan, dan dokumen yang dipinjam harus dikembalikan kepada
Wajib Pajak dengan menggunakan Bukti Peminjaman dan Pengembalian
Buku, Catatan dan Dokumen paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sejak tanggal
Laporan Hasil Pemeriksaan.
7. Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-20/PJ/2008 tentang Petunjuk Pelaksanaan
Pemeriksaan Kantor antara lain mengatur :

Pasal 5 ayat : Melalui Kepala Unit Pelaksana Pemeriksaan, Pemeriksa Pajak memanggil
(1) Wajib Pajak dengan menggunakan Surat Panggilan Dalam Rangka
Pemeriksaan yang dilampiri dengan Daftar Buku, Catatan dan Dokumen Yang
Wajib Dipinjamkan Dalam Rangka Pemeriksaan.
Pasal 5 ayat : Terhadap buku, catatan, dan dokumen termasuk data yang dikelola secara
(5) elektronik serta keterangan lain yang dibawa pada saat Wajib Pajak
memenuhi panggilan sebagaimana dimaksud pada ayat (3), Pemeriksa Pajak
membuat Bukti Peminjaman dan Pengembalian Buku, Catatan, dan
Dokumen.

8. Berdasarkan ketentuan tersebut diatas, dipandang perlu untuk memberikan penegasan


sebagai berikut :

a. Dalam melakukan proses pemeriksaan untuk menjamin tertib administrasi dalam


rangka pelaksanaan Pasal 26A ayat (4) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983
tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa
kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009 dan Pasal 10
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 194/PMK.03/2007, maka dalam pelaksanaan
pemeriksaan harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut :

a.1. Pemeriksa Pajak harus membuat Surat Permintaan Peminjaman Buku, Catatan,
Dokumen, Data, Informasi, atau Keterangan Lain kepada Wajib Pajak secara jelas dan
rinci.
a.2. Pemeriksa Pajak harus membuat Bukti Peminjaman Buku, Catatan, Dokumen, Data,
Informasi, atau Keterangan Lain kepada Wajib Pajak secara jelas dan rinci.
a.3. Pemeriksa Pajak harus membuat Bukti Pengembalian Buku, Catatan, Dokumen, Data,
Informasi, atau Keterangan Lain kepada Wajib Pajak secara jelas dan rinci.
a.4. Mengadministrasikan berkas dan surat-surat yang berkaitan dengan kegiatan
pemeriksaan dengan baik.
a.5. Menjelaskan secara rinci dalam Kertas Kerja Pemeriksaan (KKP) mengenai buku,
catatan, dokumen, data, informasi, atau keterangan lain yang diberikan oleh Wajib
Pajak pada saat pemeriksaan, antara lain informasi mengenai :
1) nama/jenis buku, catatan, dokumen, data, informasi, atau keterangan lain
Wajib Pajak;
2) informasi mengenai bentuk, isi dan ciri-ciri khusus buku, catatan, dokumen,
data, informasi, atau keterangan lain Wajib Pajak (hard copy maupun
softcopy);
3) banyaknya/jumlah lembar dokumen, catatan, data, informasi, atau
keterangan lain Wajib Pajak;
4) Informasi lainnya yang mendukung.
a.6. Melampirkan fotokopi buku, catatan, dokumen, data, informasi, atau keterangan lain
Wajib Pajak atau salinan softcopy yang menjadi sumber/dasar koreksi Pemeriksa
sebagai satu kesatuan dengan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) dan Kertas Kerja
Pemeriksaan (KKP).

b. Dalam melaksanakan proses keberatan, Saudara agar memperhatikan hal-hal


sebagai berikut :

b.1. Jangka waktu penyelesaian keberatan paling lama adalah 12 (dua belas) bulan sejak
tanggal surat keberatan diterima.
b.2. Dalam rangka pelaksanaan pemberian hak kepada Wajib Pajak untuk hadir
sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 26A ayat (2) Undang-Undang Nomor 6 Tahun
1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa
kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009 dan Pasal 9
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 194/PMK.03/2007, harus mengirimkan Surat
Pemberitahuan Untuk Hadir.
b.3. Dalam hal Wajib Pajak tidak hadir pada waktu yang ditentukan dalam Surat
Pemberitahuan Untuk Hadir, proses keberatan tetap diselesaikan tanpa menunggu
kehadiran Wajib Pajak dan harus dibuat Berita Acara Ketidakhadiran Wajib Pajak.
b.4. Dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 26A ayat (4) Undang-Undang Nomor 6
Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah
beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009
dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 194/PMK.03/2007 harus dipastikan bahwa
buku, catatan, dokumen, data, informasi, atau keterangan lain yang diberikan oleh
Wajib Pajak dapat dipertimbangkan dalam proses keberatan, dengan melakukan hal-
hal sebagai berikut :
1) Penelaah Keberatan melakukan pencocokan antara buku, catatan, dokumen,
data, informasi, atau keterangan lain yang diberikan oleh Wajib Pajak pada
saat pemeriksaan dengan buku, catatan, dokumen, data, informasi, atau
keterangan lain yang diberikan oleh Wajib Pajak pada saat proses keberatan.
2) Dalam hal ditemukan adanya ketidaksesuaian dari kegiatan sebagaimana
dimaksud pada angka 1), Penelaah keberatan meminta penjelasan secara
tertulis kepada Wajib Pajak atas ketidaksesuaian tersebut yang disertai
dengan bukti pendukung termasuk bahwa buku, catatan, dokumen, data,
informasi, atau keterangan lain yang diberikan oleh Wajib Pajak pada saat
proses keberatan berada di pihak ketiga pada saat dilakukan pemeriksaan.
3) Melampirkan fotokopi buku, catatan, dokumen, data, informasi, atau
keterangan lain yang diberikan oleh Wajib Pajak atau salinan softcopy atas
data yang dikelola secara elektronik yang belum diadministrasikan dalam
berkas Kertas Kerja Pemeriksaan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari
berkas keberatan.
4) Penelaah Keberatan harus membuat tanda terima/bukti penerimaan buku,
catatan, dokumen, data, informasi, atau keterangan lain Wajib Pajak secara
jelas dan rinci.
5) Penelaah Keberatan harus membuat tanda terima/bukti pengembalian buku,
catatan, dokumen, data, informasi, atau keterangan lain Wajib Pajak secara
jelas dan rinci.
6) Penelaah Keberatan harus mengadministrasikan berkas dan surat-surat yang
berkaitan dengan kegiatan keberatan dengan baik.

Demikian untuk dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Ditetapkan di Jakarta
Tanggal 01 Juli 2009
Direktur Jenderal Pajak,

ttd,

Darmin Nasution
NIP 130605098
SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
NOMOR : SE - 62/PJ./2009

TENTANG

PENYAMPAIAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-32/PJ./2009


TENTANG BENTUK FORMULIR SURAT PEMBERITAHUAN MASA PAJAK
PENGHASILAN
PASAL 21 DAN/ATAU PASAL 26 DAN BUKTI PEMOTONGAN/PEMUNGUTAN
PAJAK PENGHASILAN PASAL 21 DAN/ATAU PASAL 26

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Sehubungan dengan ditetapkannya Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-32/PJ./2009


tentang Bentuk Formulir Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan Pasal 21 dan/atau Pasal
26 dan Bukti Pemotongan/Pemungutan Pajak Penghasilan Pasal 21 dan/atau Pasal 26 yang
selanjutnya disebut Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-32/PJ./2009, dengan ini
disampaikan hal-hal sebagai berikut:

1. Bentuk Formulir Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan Pasal 21 dan/atau Pasal 26
dan Bukti Pemotongan/Pemungutan Pajak Penghasilan Pasal 21 dan/atau Pasal 26 yang
diubah/disempurnakan yaitu:
a. Formulir Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan Pasal 21 dan/atau Pasal 26
(Formulir 1721).
b. Daftar Bukti Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 dan/atau Pasal 26 untuk Pegawai
Tetap dan Penerima Pensiun Berkala (Formulir 1721-I).

Formulir 1721-I merupakan rekapitulasi dari Formulir 1721-A1 dan Formulir 1721-A2.

Formulir 1721-I wajib disampaikan hanya pada Masa Pajak Desember.


c. Daftar Perubahan Pegawai Tetap (Formulir 1721-11)

Formulir 1721-11 wajib disampaikan hanya pada saat ada Pegawai Tetap yang keluar
dan/atau ada Pegawai Tetap yang masuk dan/atau ada pegawai yang baru memiliki
NPWP.
d. Daftar Pegawai Tetap/Penerima Pensiun Berkala (Formulir 1721-T)

Formulir 1721-T wajib disampaikan hanya pada saat pertama kali Wajib
Pajak mempunyai kewajiban untuk menyampaikan Surat Pemberitahuan Masa
PPh Pasal 21 dan/atau Pasal 26. Dalam hal Wajib Pajak telah mempunyai kewajiban
untuk menyampaikan Surat Pemberitahuan Masa PPh Pasal 21 dan/atau Pasal 26
sebelum berlakunya Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-32/PJ./2009, maka
Formulir 1721-T wajib disampaikan pada Surat Pemberitahuan Masa Pajak Juli 2009.
e. Bukti Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 dan/atau Pasal 26

Bukti Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 dan/atau Pasal 26 digunakan untuk


melaporkan pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 atas imbalan yang diterima oleh
pegawai tidak tetap atau tenaga kerja lepas, distributor MLM, petugas dinas luar
asuransi, penjaja barang dagangan, tenaga ahli, anggota dewan komisaris atau dewan
pengawas yang tidak merangkap sebagai pegawai tetap, mantan pegawai, pegawai yang
melakukan penarikan dana pensiun, peserta kegiatan dan bukan pegawai serta pegawai
atau pemberi jasa sebagai Wajib Pajak Luar Negeri.
f. Bukti Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 (Final)

Bukti Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 (Final) digunakan untuk melaporkan


pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 atas objek pajak yang bersifat final.
g. Bukti Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 bagi Pegawai Tetap atau Penerima
Pensiun atau Tunjangan Hari Tua/Tabungan Hari Tua/Jaminan Hari Tua (Formulir
1721-A1)
h. Bukti Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 bagi Pegawai Negeri Sipil, Anggota
Tentara Nasional Indonesia/Polisi Republik Indonesia, Pejabat Negara dan
Pensiunannya (Formulir 1721-A2)
i. Daftar Bukti Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 dan/atau Pasal 26 (Tidak Final)
Daftar Bukti Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 dan/atau Pasal 26 (Tidak Final)
merupakan rekapitulasi dari Bukti Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 dan/atau
Pasal 26 Tidak Final.
Daftar Bukti Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 dan/atau Pasal 26 (Final) Daftar
Bukti Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 dan/atau Pasal 26 (Final) merupakan
rekapitulasi dari Bukti Pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 21 Final.
2. Penyampaian Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan Pasal 21 dan/atau Pasal 26
menggunakan formulir sebagaimana diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor
PER-32/PJ./2009 mulai berlaku untuk Surat Pemberitahuan Masa Pajak Juli 2009.
3. Dalam hal Wajib Pajak melakukan pembetulan atas Surat Pemberitahuan Pajak Penghasilan
Pasal 21 dan/atau Pasal 26 untuk Masa Pajak sebelum berlakunya Peraturan Direktur Jenderal
Pajak Nomor PER-32/PJ./2009, maka Wajib Pajak harus melakukan pembetulan tersebut
dengan menggunakan formulir sebagaimana diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak
Nomor PER-32/PJ./2009.
4. Dalam hal pegawai tetap atau penerima pensiun berkala yang telah dipotong
Pajak penghasilan Pasal 21 dengan tarif yang lebih tinggi mendaftarkan diri
untuk memperoleh Nomor Pokok Wajib Pajak, maka Pemotong Pajak harus
melakukan pembetulan atas Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan Pasal 21
dan/atau Pasal 26 sampai dengan Masa Pajak di mana pegawai tetap atau penerima
pensiun berkala tersebut memperoleh Nomor Pokok Wajib Pajak.
5. Aplikasi Surat Pemberitahuan elektronik (e-SPT) Masa Pajak Penghasilan Pasal 21 dan/atau
Pasal 26 sebagaimana diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-
32/PJ./2009 dapat diunduh pada portal Direktorat Jenderal Pajak (http://portaldjp.go.id atau
http://pajak.go.id) pada awal Juli 2009.
6. Pengadaan formulir sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor
PER-32/PJ./2009 dilakukan oleh:

a. Kantor Pelayanan Pajak yang disesuaikan dengan kebutuhan; atau

b. Wajib Pajak dengan mencetak sendiri.

Demikian untuk diketahui dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal 25 Juni 2009
Direktur Jenderal,

ttd,

Darmin Nasution
NIP 130605098

Tembusan:

1. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak;

2. Para Direktur dan Tenaga Pengkaji di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak;

3. Kepala Pusat Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan.


SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
NOMOR SE - 03/PJ.04/2009

TENTANG

KEBIJAKAN PENAGIHAN PAJAK

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Sehubungan dengan diberlakukannya Undang-Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang


Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir
dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009, terdapat beberapa perubahan perlakuan
administrasi dan tindakan penagihan piutang pajak. Sebagai tindak lanjut pelaksanaan amanat
Undang-Undang tersebut dan demi meningkatkan tertib administrasi, validitas data piutang pajak
serta mencapai target pencairan piutang pajak Nasional maka dengan ini disampaikan kebijakan
penagihan pajak sebagai berikut :

I. KEBIJAKAN UMUM

1. Kebijakan yang menyangkut pelaksanaan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009


(KUP), Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1994 (PBB), Undang-Undang Nomor 20
Tahun 2000 (BPHTB), dan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2000 tentang
Penagihan Pajak dengan Surat Paksa (PPSP).

2. Kebijakan yang menyangkut Surat Ketetapan Pajak hasil pemeriksaan mulai Tahun
Pajak 2008, penentuan saat mulainya penyampaian surat teguran setelah piutang pajak
jatuh tempo dalam hal Wajib Pajak tidak menyetujui sebagian atau seluruh jumlah
pajak yang masih harus dibayar dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan mengacu
pada Peraturan Pemerintah Nomor 80 Tahun 2007 tentang Tata Cara Pelaksanaan Hak
dan Kewajiban Perpajakan Berdasarkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983
sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 28
Tahun 2007 dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 24/PMK.03/2008 tentang Tata
Cara Pelaksanaan Surat Paksa dan Pelaksanaan Penagihan Pajak dengan Surat Paksa.

3. Kebijakan yang menyangkut Batas Waktu Penerbitan Surat Pemberitahuan Pajak


Terutang, Surat Ketetapan Pajak Pajak Bumi dan Bangunan, dan Surat Tagihan Pajak
Pajak Bumi dan Bangunan serta Daluwarsa Penagihan Pajak Bumi dan Bangunan
mengacu pada Surat Edaran Dirjen Pajak Nomor SE-48/PJ/2008 tanggal 5 September
2008.
4. Kebijakan yang menyangkut Penyisihan, Pengakuan, dan Rekonsiliasi Piutang Pajak
berpedoman pada Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-08/PJ./2009 tanggal
2 Februari 2009 tentang Pedoman Akuntansi Piutang Pajak.

II. KEBIJAKAN KHUSUS


II.1Tertib Administrasi
II.1. Penataan Berkas Penagihan
1 Dalam rangka pembenahan administrasi piutang pajak dan penataan berkas
penagihan, maka Kantor Pelayanan Pajak (KPP) berkewajiban untuk :

a. Menyediakan tempat/ruangan khusus untuk penyimpanan rumah berkas


penagihan yang memiliki alat pengaman yang cukup kuat dan
menunjuk petugas di Seksi Penagihan sebagai penanggung jawabnya;

b. Membuat rumah berkas penagihan per Wajib Pajak yang disusun sesuai
dengan tahun pajaknya dan masing-masing berisi :

1) Surat ketetapan pajak, termasuk STP/STP PBB/STB/SKP


PBB/SKBKB/SKBKBT;
2) Keputusan Keberatan;
3) Keputusan Pembetulan (Pasal 16 UU KUP);
4) Keputusan Pengurangan atau Penghapusan Sanksi Administrasi dan
pengurangan dan atau pembatalan surat ketetapan pajak yang tidak
benar (Pasal 36 UU KUP)
5) Putusan Banding;
6) Putusan Peninjauan Kembali;
7) Putusan Gugatan;
8) Bukti pembayaran tunggakan pajak dari Wajib Pajak/Penanggung
Pajak (WP/PP) antara lain berupa Surat Setoran Pajak (SSP), Surat
Tanda Terima Setoran (STTS), SSP PBB, Surat Setoran BPHTB
(SSB), dan print out MPN/hasil konfirmasi bank;
9) Bukti Pemindahbukuan (PbK);
10) Dokumen tindakan penagihan;
11) Berkas penagihan lainnya;
12) Khusus untuk Wajib Pajak PBB yang tidak mempunyai NPWP,
dibuatkan rumah berkas tersendiri per NOP dengan perincian berkas
sesuai dengan angka 1 s.d. 11 tersebut di atas.
c.
II.1. Akurasi Data Piutang Pajak
2 Dalam proses akurasi data piutang pajak, KPP diwajibkan untuk :

1. Menyelesaikan perekaman seluruh data piutang pajak berdasarkan fisik


ketetapan pajak kondisi per 30 Juni 2007.

2. Melanjutkan proses pemutakhiran data piutang pajak secara


berkesinambungan dan wajib melaporkan data perkembangan
perekaman terakhir setiap bulan melalui email ke Kanwil dan subdit
penagihan Direktorat P2 KPDJP. Tata cara perekaman dapat dilakukan
dengan melanjutkan input data pada aplikasi program SiMIAP atau
dalam format excel seperti yang sudah diberikan sebelumnya (format
laporan terlampir).

3. Terhadap KPP yang sudah menyelesaikan perekaman seluruh data


piutang pajak berdasarkan fisik ketetapan pajak kondisi per 30 Juni
2007 agar segera membuat berita acara penyelesaian perekaman
(format Berita Acara terlampir).

4. Menginventarisasikan jumlah piutang pajak yang disisihkan dengan


kriteria sebagai berikut :

a. Untuk Wajib Pajak Orang Pribadi


1) Wajib Pajak sudah meninggal dunia;
2) Wajib Pajak sudah tidak mempunyai harta lagi yang
dibuktikan dengan adanya surat dukungan dari instansi
berwenang di wilayahnya;
3) Telah disampaikan Surat Paksa melalui PEMDA setempat;
4) Telah daluwarsa; dan
5) Karena sebab lain seperti :
a) Wajib Pajak sudah tidak dapat ditemukan
b) Dokumen penagihan tidak lengkap atau tidak
dapat ditelusuri lagi disebabkan keadaan yang
tidak dapat dihindari seperti bencana alam,
kebakaran, dan sebagainya.
b. Untuk Wajib Pajak Badan
1) Bubar, liquidasi, atau pailit dan pengurus, direksi,
pemegang saham, pemilik modal atau pihak lain yang
dibebani untuk melakukan pemberesan sudah tidak
ditemukan;
2) Wajib Pajak sudah tidak mempunyai harta lagi yang
dibuktikan dengan adanya surat dukungan dari instansi
berwenang di wilayahnya;
3) Telah disampaikan Surat Paksa melalui PEMDA setempat;
4) Telah daluwarsa, dan
5) Karena sebab lain seperti :
a) Wajib Pajak sudah tidak dapat ditemukan
b) Dokumen penagihan tidak lengkap atau tidak
dapat ditelusuri lagi disebabkan keadaan yang
tidak dapat dihindari seperti bencana alam,
kebakaran, dan sebagainya.
Tatacara penyisihan piutang pajak selengkapnya diatur dalam Peraturan
Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-08/PJ./2009.

5. Melakukan rekonsiliasi data piutang pajak antara Laporan


Perkembangan Piutang Pajak (LP3) dan Laporan Perkembangan
Piutang PBB dan BPHTB dengan Laporan Keuangan Piutang Pajak
(LKPP) setiap bulan.

6. Melakukan pembenahan piutang PBB sesuai dengan Surat Edaran


Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-84/PJ/2008 tanggal 31 Desember
2008 tentang Pemutakhiran Data Pembayaran Pajak Bumi dan
Bangunan Sektor Pedesaan dan Perkotaan yang dilakukan dengan
membentuk tim penyelesaian data tunggakan PBB.

7. Terhitung mulai Januari 2009, format laporan rutin piutang pajak


menggunakan format laporan sesuai surat Direktur Pemeriksaan dan
Penagihan Nomor S-28/PJ.045/2009.

8. Dalam hal terdapat permasalahan yang berkaitan dengan


SIDJP/SIP/SIPMOD/SISMIOP, agar disampaikan kepada Direktur
Teknologi Informasi Perpajakan dengan mengacu pada Surat Edaran
Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-73/PJ/2008 tanggal 16 Desember
2008 tentang Kebijakan Perubahan Data SIP/SIPMOD/SISMIOP.

II.1. Prosedur Migrasi Berkas Wajib Pajak


3 Sehubungan dengan masih terdapatnya permasalahan dalam pemindahan
Wajib Pajak karena pemecahan KPP atau pembentukan KPP baru, maka
Kanwil/KPP diingatkan kembali untuk memperhatikan :

1. Prosedur administrasi untuk WP pindah sesuai dengan surat Direktur


Pemeriksaan dan Penagihan nomor S-14/PJ.0451/2007 tanggal 25
Januari 2007;

2. Pelaksanaan tertib administrasi penagihan terkait dengan pembentukan


KPP baru di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak sesuai dengan surat
Direktur Pemeriksaan dan Penagihan nomor S-33/PJ.045/2008 tanggal
2 April 2008

II.2Fokus dan Strategi Penagihan


II.2. Fokus Penagihan
1
1. Fokus pencarian piutang pajak tahun 2009 lebih diprioritaskan kepada
KPP di unit Kanwil Wajib Pajak Besar (LTO), KPP di Unit Kanwil
Jakarta Khusus, dan Kantor-Kantor Pelayanan Pajak Madya di seluruh
Indonesia (34 KPP dari 331 KPP di Indonesia), dengan pertimbangan
kondisi likuiditas Wajib Pajak dan jumlah piutang pajak yang mencapai
lebih dari 50% jumlah piutang pajak Nasional berada di wilayah KPP
tersebut diatas.

2. Kegiatan penagihan pada KPP Pratama tetap dilakukan sesuai dengan


ketentuan yang berlaku terutama terhadap 200 Penunggak Pajak
terbesar.

II.2. Strategi Penagihan


2 Untuk menunjang peningkatan realisasi pencarian piutang pajak, Kanwil dan
KPP agar melaksanakan kegiatan sebagai berikut:

1. KPP diwajibkan untuk melakukan bedah tunggakan terhadap 200


penunggak pajak terbesar kemudian dibuat profilnya mengenai kondisi
WP tersebut lengkap dengan daftar harta kekayaan yang masih dimiliki
dan dilengkapi dengan pohon kepemilikan dalam perusahaan yang
bersangkutan dimiliki oleh grup perusahaan (format terlampir).

2. Berdasarkan profil tersebut, KPP kemudian melakukan analisis


probabilitas pencairan piutang pajak terhadap 200 penunggak pajak
terbesar di wilayah kerjanya dan melaporkan ke Kanwil atasannya
(format terlampir).

3. Berdasarkan hasil analisis sebagaimana dimaksud pada angka 2, KPP


menetapkan prioritas tindakan penagihan.

4. KPP wajib melaksanakan tindakan penagihan aktif secara optimal


terutama untuk piutang pajak yang akan mendekati daluwarsa namun
tindakan penagihannya belum dan/atau tidak dapat dilaksanakan, atau
sebab lainnya.

5. Terhadap tindakan penagihan sebagaimana dimaksud pada angka 4 di


atas yang terhenti pelaksanaannya, perlu dilakukan penelitian
administrasi dan/atau penelitian setempat kemudian dituangkan dalam
berita acara dan laporan penelitian setempat dengan disertai alasan dan
bukti pendukungnya (format terlampir).

6. KPP melaksanakan tindakan penagihan kepada Wajib


Pajak/Penanggung Pajak terutama yang non kooperatif, dengan
memprioritaskan;

a. Penyitaan atas harta kekayaan Wajib Pajak/Penanggung Pajak


yang tersimpan pada bank yang pelaksanaannya mengacu kepada
Peraturan Direktur Jenderal Pajak nomor PER-109/PJ./2007
tanggal 6 Agustus 2007 dengan skala prioritas 200 Penunggak
Pajak terbesar dengan prinsip kehati-hatian dan memperhatikan
ada tidaknya upaya hukum yang diajukan Wajib Pajak dengan
urutan sebagai berikut:

1) Melakukan pemblokiran rekening Wajib Pajak yang bersangkutan


terlebih dahulu; dan
2) Apabila piutang pajak belum lunas, maka pemblokiran dapat
dilakukan kepada rekening para Direksi dan pemegang saham
mayoritasnya sebagai penanggung pajaknya;

b. Pencegahan dilakukan secara selektif dengan memperhatikan


prinsip kehati-hatian, antara lain:

1) Ada tidaknya upaya hukum Wajib Pajak/Penanggung Pajak;


2) Validitas data mengenai status/legalitas Penanggung Pajak dalam
kedudukannya selaku Penanggung Pajak suatu badan usaha;
3) Dalam hal Wajib Pajak memiliki lebih dari satu Penanggung Pajak,
KPP dapat mempertimbangkan untuk tidak mengusulkan
pencegahan terhadap seluruh Penanggung Pajak yang ada, tetapi
usul pencegahan dapat dilakukan secara bergantian dengan
memperhatikan skala prioritas.

7. Untuk mendukung upaya penagihan melalui pemblokiran rekening,


Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan bekerja sama dengan Direktorat
Teknologi Informasi Perpajakan dalam menyediakan daftar Cabang
Bank tempat Wajib Pajak yang bersangkutan membayar kewajiban
pajaknya. Data tersebut dapat dilihat pada portal subdit penagihan.

8. KPP wajib melakukan pengawasan secara intensif dan melaksanakan


hak mendahulu atas piutang pajak terhadap Wajib Pajak yang
dinyatakan pailit, bubar, atau likuidasi, dengan melakukan koordinasi
dengan kurator, likuidator, orang atau badan yang ditugasi melakukan
pemberesan, segera setelah diperoleh informasinya.

9. Kantor Wilayah DJP;

Sebagai pengawas dan pembina suatu wilayah kerja, diharapkan agar Kantor
Wilayah DJP lebih meningkatkan peranan dan fungsinya untuk membimbing,
mengawasi dan mendukung tindakan penagihan yang dilakukan oleh KPP, oleh
karena itu Kanwil diwajibkan untuk melaksanakan hal-hal sebagai berikut:

a. Membuat pemetaan dan melakukan analisis atas jumlah piutang


pajak selain PBB dan BPHTB di wilayah kerjanya berdasarkan
kategori umur piutang pajak sebagaimana yang tercantum dalam
S-28/PJ.045/2009 tanggal 3 Maret 2009 tentang Laporan Rutin
Penagihan;
b. Membuat pemetaan dan melakukan analisis atas piutang pajak
PBB dan BPHTB di wilayah kerjanya, yang didasarkan atas
beberapa kriteria sebagai berikut:

1) Sektor ketetapan (sektor pedesaan, perkotaan, perkebunan,


perhutanan, dan pertambangan);
2) Wilayah kerja (kabupaten/kotamadya, kecamatan, desa/kelurahan);
3) Tahun Pajak;
4) Buku Ketetapan, yaitu buku ketetapan I s.d. buku ketetapan V;

c. Melaksanakan pengawasan melekat untuk mencegah terjadinya


kesalahan prosedur atau penyalahgunaan wewenang dan jabatan
dalam pelaksanaan tindakan penagihan;

d. Melakukan pengawasan atas bedah tunggakan terhadap 200


penunggak pajak terbesar dan profiling penunggak pajak yang
dilakukan oleh KPP di wilayah kerjanya;

e. Melakukan penelitian dan evaluasi atas analisis probabilitas


pencairan piutang terhadap 200 penunggak pajak terbesar yang
dilakukan oleh KPP di wilayah kerjanya;

f. Melakukan pengawasan dan pemantauan proses kegiatan


penagihan dan pencairan piutang pajak dengan prioritas 200
penunggak pajak terbesar yang dilaporkan oleh masing-masing
KPP di wilayah kerjanya;

g. Mengawasi dan meneliti saldo piutang pajak pada masing-


masing laporan rutin penagihan secara periodik dan
berkesinambungan sehingga terjadi kesesuaian angka, khususnya
yang berkaitan dengan Wajib Pajak pindah dan pembentukan
KPP baru;

h. Meneliti daftar klasifikasi kualitas piutang pajak yang dibuat oleh


KPP terutama untuk kriteria piutang pajak kurang lancar,
perhatian khusus, diragukan dan macet, serta melihat kondisi
piutang pajak dan permasalahannya. Selanjutnya hasil penelitian
tersebut dapat digunakan untuk melakukan reklasifikasi kriteria
kualitas piutang pajak sesuai dengan kondisi yang seharusnya;

i. Mengawasi pelaksanaan perekaman seluruh data piutang pajak


berdasarkan fisik ketetapan pajak kondisi per 30 Juni 2007 yang
dilakukan oleh KPP di wilayah kerjanya dan melaporkan
pelaksanaan kegiatan validasi piutang pajak yang dilakukan oleh
KPP di wilayah kerjanya tersebut ke KPDJP (format laporan
terlampir);

j. Melakukan pengujian kembali Daftar Usulan Penghapusan


Piutang Pajak yang diusulkan dari KPP antara lain:

1. Tindakan penagihan terakhir terkait dengan jangka waktu


daluwarsa penagihan;

2. Kesesuaian antara daftar rincian piutang pajak yang


diusulkan untuk dihapuskan dengan jumlah rekapitulasi
piutang yang diusulkan untuk dihapuskan; dan

3. Kelengkapan data-data pendukung sesuai dengan


Keputusan Menteri Keuangan Nomor: KMK 539 dan
KEP-15

k. Menetapkan standar prestasi jurusita dengan mempertimbangkan


kondisi masing-masing KPP yang berada di wilayah kerjanya;

l. Meningkatkan koordinasi regional/lokal dengan instansi terkait


untuk kelancaran kegiatan penagihan berdasarkan prinsip
kebersamaan tugas sebagaimana yang telah disepakati pada MoU
antara Dirjen Pajak dengan Kapolri/Menteri Kehakiman dan
HAM/Gubernur/Walikota/Bupati serta kerja sama dengan pihak
perbankan dengan tetap memperhatikan ketentuan Pasal 34 UU
KUP.

II.3Target Pencarian
Target pencarian piutang pajak secara nasional untuk tahun 2009 akan diatur lebih
lanjut dalam Surat Direktur Pemeriksaan dan Penagihan. Selanjutnya alokasi target
pencarian per KPP ditetapkan oleh masing-masing Kantor Wilayah DJP atasannya.
III Lain-lain

1. Dalam melakukan penelitian administrasi dan/atau penelitian setempat sebagaimana


dimaksud dalam angka romawi II.2.2 angka 5, langkah-langkah yang perlu dilakukan
adalah:

a. Membuat daftar usulan penelitian setempat ke Kantor Wilayah atasannya;

b. Melakukan koordinasi dengan KPP lawan transaksi dari Wajib


Pajak/Penanggung Pajak yang akan dilakukan penelitian setempat untuk
mendapatkan informasi lebih lanjut tentang transaksi terakhir yang dilakukan,
untuk memastikan apakah masih ada aktifitas atau tidak;

c. Meminta informasi dan keterangan dari pihak pengelola gedung atau instansi
yang berwenang di wilayah tempat Wajib Pajak menjalankan usahanya untuk
mendukung keberadaan Wajib Pajak/Penanggung Pajak yang dilakukan
penelitian setempat;

d. Meminta informasi dan keterangan mengenai Wajib Pajak/Penanggung Pajak


kepada Dinas Kependudukan, Direktorat Jenderal Imigrasi atau instansi terkait
lainnya apabila diperlukan.

2. Kepala KPP harus memperhatikan jumlah sumber daya manusia yang ada di seksi
penagihan dikaitkan beban kerja seksi penagihan guna mendukung kelancaran
pelaksanaan kegiatan penagihan. Adapun jumlah minimal Jurusita di masing-masing
KPP adalah sebagai berikut:

a. 3 (tiga) orang Jurusita untuk:

- KPP di lingkungan Kantor Wilayah Wajib Pajak Besar;


- KPP di lingkungan Kantor Wilayah Jakarta Khusus;
- KPP Madya

b. 2 (dua) orang Jurusita untuk setiap KPP Pratama dengan mempertimbangkan


luasnya wilayah kerja dan jumlah tunggakan.

3. Bagi KPP yang mengalami kekurangan tenaga pelaksana Jurusita pajak dapat
menunjuk dan mengangkat Jurusita dari pelaksana pada Seksi Penagihan, Kepala
Seksi Penagihan, atau Kepala Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi
Perpajakan, sepanjang yang bersangkutan memenuhi ketentuan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 2 Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor
562/KMK.04/2000 tentang Syarat-syarat, Tata Cara Pengangkatan dan Pemberhentian
Jurusita Pajak. Apabila jumlah Jurusita belum juga terpenuhi dan kebutuhan akan
Jurusita sangat mendesak Kanwil dapat mengajukan permohonan penambahan
penempatan Jurusita ke KPDJP.

4. Dalam hal terdapat permasalahan hukum terkait dengan pelaksanaan tindakan


penagihan, KPP agar segera melakukan koordinasi dengan Kepala Seksi Bimbingan
Penagihan dan Kepala Sub Bagian Rumah Tangga dan Bantuan Hukum di Kantor
Wilayah atasannya.

5. Kemungkinan adanya pemakaian seragam Jurusita pajak, maka Kepala KPP agar
menganggarkan biayanya dalam DIPA KPP untuk minimal 3 potong pakaian seragam
per Jurusita, dengan desain sebagaimana terlampir.

6. Dalam hal keperluan penghitungan KPI, maka diinformasikan bahwa saldo awal
piutang pajak yang digunakan untuk KPI adalah saldo awal piutang pajak setelah
dikurangi dengan cadangan piutang yang disisihkan dimana tata cara penyisihannya
diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-08/PJ./2009 tanggal 2
Februari 2009 tentang Pedoman Akuntansi Piutang Pajak.

7. Sehubungan dengan biaya perjalanan dinas dalam rangka tindakan penagihan agar
mengacu pada ketentuan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 45/PMK.05/2007
tentang Perjalanan Dinas Jabatan dalam Negeri Bagi Pejabat Negara, Pegawai Negeri,
dan Pegawai Tetap, dalam Bab I Pasal 1 ayat (5) diatur bahwa Perjalanan dinas dalam
negeri yang selanjutnya disebut perjalanan dinas adalah perjalanan ke luar tempat
kedudukan baik perseorangan maupun secara bersama yang jaraknya sekurang-
kurangnya 5 (lima) kilometer dari batas kota yang dilakukan dalam wilayah RI untuk
kepentingan Negara atas perintah pejabat yang berwenang termasuk perjalanan dari
tempat kedudukan ke tempat meninggalkan Indonesia untuk bertolak ke luar negeri
dan dari tempat tiba di Indonesia dari luar negeri ke tempat yang dituju di dalam
negeri. Selanjutnya dalam ayat (10) diatur bahwa Wilayah Jabatan adalah wilayah
kerja dalam menjalankan tugas.

Dengan berlakunya Surat Edaran Kebijakan Penagihan ini, maka Surat Edaran Kebijakan
Penagihan sebelumnya dinyatakan tidak berlaku lagi. Demikian untuk dilaksanakan dengan
sebaik-baiknya.

Direktur Jenderal,

ttd.

Darmin Nasution
NIP 130605098
Tembusan:

1. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak;

2. Para Direktur dan Tenaga Pengkaji di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak.


SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
NOMOR SE - 42/PJ/2009

TENTANG

PENYAMPAIAN DAN PENEGASAN ATAS PELAKSANAAN


PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 238/PMK.03/2008
TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN DAN PENGAWASAN
PEMBERIAN PENURUNAN TARIF BAGI WAJIB PAJAK BADAN
DALAM NEGERI YANG BERBENTUK PERSEROAN TERBUKA

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Sehubungan dengan telah diterbitkannya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 238/PMK.03/2008


tanggal 30 Desember 2008 tentang Tata Cara Pelaksanaan dan Pengawasan Pemberian
Penurunan Tarif Bagi Wajib Pajak Badan Dalam Negeri yang Berbentuk Perseroan Terbuka
(Peraturan Menteri Keuangan Nomor 238/PMK.03/2008), dengan ini disampaikan
fotokopi Peraturan Menteri Keuangan dimaksud. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam
pelaksanaan ketentuan tersebut adalah sebagai berikut :

1. Penurunan tarif bagi Wajib Pajak badan dalam negeri yang berbentuk perseroan terbuka
dilaksanakan dengan cara self assessment melalui Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak
Penghasilan Wajib Pajak Badan (SPT). Dengan demikian, Wajib Pajak tidak perlu
menyampaikan permohonan untuk dapat memperoleh penurunan tarif tersebut.

2. Pada saat Wajib Pajak sebagaimana dimaksud pada angka 1 menyampaikan SPT, Kantor
Pelayanan Pajak melakukan hal-hal sebagai berikut :

a. Melakukan pengecekan kelengkapan lampiran SPT berupa surat keterangan dari


Biro Administrasi Efek berupa formulir X.H.1-6 sebagaimana diatur dalam
Peraturan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Nomor X.H.1.
Apabila SPT tidak dilampiri dengan surat keterangan dari Biro Administrasi Efek,
SPT diperlakukan sebagai SPT tidak lengkap sehingga ditindaklanjuti sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

b. Menulis "SPT yang menggunakan penurunan tarif berdasarkan PP 81 Tahun


2007" di bagian atas tengah SPT induk dan setiap lampirannya.

3. Selain melampirkan surat keterangan dari Biro Administrasi Efek, Wajib Pajak
sebagaimana dimaksud pada angka 1 tetap wajib melampirkan dokumen sebagaimana
diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 181/PMK.03/2007 tentang Bentuk dan
Isi Surat Pemberitahuan, serta Tata Cara Pengambilan, Pengisian, Penandatanganan, dan
Penyampaian Surat Pemberitahuan.
4. Terhadap SPT yang telah diterima, Kantor Pelayanan Pajak wajib menindaklanjuti
dengan :

a. Mencocokkan Wajib Pajak yang melampirkan surat keterangan dari Biro


Administrasi Efek dengan Daftar Wajib Pajak Yang Memenuhi Syarat
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 2007.

b. Melakukan konfirmasi tertulis kepada Badan Pengawas Pasar Modal dan


Lembaga Keuangan dan Biro Administrasi Efek apabila Wajib Pajak yang
melampirkan surat keterangan dari Biro Administrasi efek tidak tercantum dalam
Daftar Wajib pajak Yang Memenuhi Syarat Berdasarkan Peraturan Pemerintah
Nomor 81 Tahun 2007.

5. Daftar Wajib Pajak yang Memenuhi Syarat Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 81
Tahun 2007 yang disampaikan oleh Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga
Keuangan kepada Direktur Jenderal Pajak akan diteruskan oleh Direktur Peraturan
Perpajakan II kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar.

6. Apabila setelah melalui proses sebagaimana dimaksud pada angka 4 diketahui bahwa
Wajib Pajak ternyata tidak berhak memperoleh penurunan tarif, atas kekurangan
pembayaran Pajak Penghasilan beserta sanksinya wajib ditagih melalui prosedur sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

7. Apabila terhadap Wajib Pajak yang telah memperoleh penurunan tarif dilakukan
pemeriksaan untuk Tahun Pajak yang memperoleh penurunan tarif, pemeriksa pajak
wajib menguji kembali pemenuhan ketentuan penurunan Tarif yang terdapat dalam
Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 2007 tentang Penurunan Tarif Pajak Penghasilan
Bagi Wajib Pajak Badan Dalam Negeri Yang Berbentuk Perseroan Terbuka (Peraturan
Pemerintah Nomor 81 Tahun 2007) dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor
238/PMK.03/2008.

8. Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak diminta untuk mengawasi pelaksanaan
Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 2007 dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor
238/PMK.03/2008, dan Kepala Kantor Pelayanan Pajak diminta untuk melakukan
sosialisasi kepada Wajib Pajak dilingkungan wilayah kerjanya masing-masing.

Demikian untuk mendapatkan perhatian Saudara dan untuk dilaksanakan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal 07 April 2009
Direktur Jenderal,
ttd.

Darmin Nasution
NIP 130605098

Tembusan :

1. Menteri Keuangan;

2. Sekretaris Jenderal Departemen Keuangan;

3. Inspektur Jenderal Departemen Keuangan;

4. Kepala Biro Hukum Departemen Keuangan;

5. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak;

6. Para Direktur, Kepala Pusat Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan, dan Para Tenaga
Pengkaji di Lingkungan Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak.
SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
NOMOR SE - 39/PJ/2009

TENTANG

TATA CARA ENDORSEMENT, PEREKAMAN, PEMBERKASAN


DAN ANALISA DOKUMEN PEMBERITAHUAN PABEAN DI KAWASAN BEBAS
BERDASARKAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 45/PMK.03/2009

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Sehubungan telah diterbitkannya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 45/PMK.03/2009 tentang


Tata Cara Pengawasan, Pengadministrasian, Pembayaran, serta Pelunasan Pajak Pertambahan
Nilai dan/atau Pajak Penjualan atas Barang Mewah atas Pengeluaran dan/atau Penyerahan
Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak dari Kawasan Bebas ke Tempat Lain Dalam
Daerah Pabean dan Pemasukan dan/atau Penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena
Pajak dari Tempat Lain Dalam Daerah Pabean ke Kawasan Bebas, dengan ini disampaikan hal-
hal sebagai berikut:

1. Hal-hal yang harus ditegaskan sehubungan dengan pelaksanaan Peraturan Menteri


Keuangan tersebut adalah sebagai berikut:

a. Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas, yang selanjutnya disebut


dengan Kawasan Bebas, adalah suatu kawasan yang berada dalam wilayah hukum
Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terpisah dari Daerah Pabean sehingga
bebas dari pengenaan bea masuk, Pajak Pertambahan Nilai, Pajak Penjualan atas
Barang Mewah, dan cukai.
b. Daerah Pabean adalah wilayah Republik Indonesia yang meliputi wilayah darat,
perairan dan ruang udara di atasnya, serta tempat tertentu di Zona Ekonomi
Eksklusif dan Landas Kontinen yang di dalamnya berlaku Undang-Undang
Kepabeanan.

c. Tempat Lain Dalam Daerah Pabean yang selanjutnya disebut dengan TLDDP
adalah Daerah Pabean selain Kawasan Bebas dan Tempat Penimbunan Berikat.

d. Tempat Penimbunan Sementara adalah bangunan dan/atau lapangan atau tempat


lain yang disamakan dengan itu di Kawasan Pabean untuk menimbun barang,
sementara menunggu pemuatan atau pengeluarannya.

e. Kewajiban Pabean adalah semua kegiatan di bidang kepabeanan yang wajib


dilakukan untuk memenuhi ketentuan dalam UndangUndang Kepabeanan.

f. Pemberitahuan Pabean adalah pernyataan yang dibuat oleh orang dalam rangka
melaksanakan kewajiban pabean dalam bentuk dan syarat yang ditetapkan dalam
Undang-Undang Kepabeanan.

g. Pemberitahuan Pabean Free Trade Zone yang selanjutnya disebut dengan PPFTZ
adalah dokumen Pemberitahuan Pabean yang digunakan dalam rangka pemasukan
barang ke Kawasan Bebas atau pengeluaran barang dari Kawasan Bebas, yang
terdiri dari tiga (3) jenis, yaitu:

1) PPFTZ-01 untuk:
a) pemasukan barang dari Luar Daerah Pabean ke Kawasan Bebas;
b) pengeluaran barang dari Kawasan Bebas Ke Luar Daerah Pabean;
c) pengeluaran barang dari Kawasan Bebas ke Tempat Lain Dalam Daerah Pabean.
2) PPFTZ-02 untuk:
a) pemasukan barang dari Tempat Penimbunan Berikat Ke Kawasan Bebas;
b) pemasukan barang dari Kawasan Bebas lainnya Ke Kawasan Bebas;
c) pengeluaran barang dari Kawasan Bebas ke Tempat Penimbunan Berikat;
d) pengeluaran barang dari Kawasan Bebas ke Kawasan Bebas Lainnya.
3) PPFTZ-03 untuk pemasukan barang dari TLDDP ke Kawasan Bebas.

a Inward Manifest adalah Pemberitahuan Pabean atas kedatangan sarana


pengangkut ke Kawasan Bebas.

b Outward Manifest adalah Pemberitahuan Pabean atas keberangkatan sarana


pengangkut dari Kawasan Bebas.

c Endorsement adalah pernyataan mengetahui dari pejabat/pegawai Direktorat


Jenderal Pajak pada PP FTZ-03 atas pemasukan Barang Kena Pajak dari Tempat
Lain Dalam Daerah Pabean ke Kawasan Bebas, berdasarkan penelitian formal
atas dokumen yang terkait dengan pemasukan Barang Kena Pajak tersebut.
d Dokumen yang terkait dengan pemasukan Barang Kena Pajak sebagaimana
dimaksud pada huruf j adalah:

1) Dokumen PPFTZ-03;
2) Inward Manifest; dan
3) Dokumen pelengkap pabean, yang terdiri:
a) Fotokopi Faktur Pajak Standar (lembar pembeli) yang telah diberi cap PPN
TIDAK DIPUNGUT BERDASARKAN PP NOMOR 2 TAHUN 2009;
b) Fotokopi Bill of Lading atau Airway Bill;
c) Fotokopi Faktur Penjualan atau invoice; dan
d) Asli surat kuasa pengurusan kepabeanan dari Pengusaha kepada Pengusaha
Pengurusan Jasa Kepabeanan/PPJK dalam hal pengurusan kepabeanan dilakukan
oleh PPJK.

a Pajak Pertambahan Nilai yang selanjutnya disebut dengan PPN adalah Pajak
Pertambahan Nilai atau Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang
Mewah.

b Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bintan yang selanjutnya disebut KPP adalah
instansi vertikal Direktorat Jenderal Pajak yang berada di bawah dan bertanggung
jawab langsung kepada Kepala Kantor Wilayah Kanwil DJP Riau dan Kepulauan
Riau yang bertugas melakukan pengelolaan Kawasan Bebas.

c Unit Pelaksana Kawasan Bebas yang selanjutnya disebut UPKB adalah instansi
vertikal Direktorat Jenderal Pajak yang berada di bawah dan bertanggung jawab
langsung kepada KPP, yang khusus ditunjuk untuk melaksanakan kegiatan
endorsement, perekaman, pemberkasan dan analisa dokumen pemberitahuan
pabean di Kawasan Bebas.

d Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi IV yang selanjutnya disebut dengan


Kasi PK IV adalah pejabat Direktorat Jenderal Pajak setingkat Eselon IV di KPP
yang bertugas khusus untuk melaksanakan kegiatan endorsement, perekaman,
pemberkasan dan analisa dokumen pemberitahuan pabean di Kawasan Bebas.

e Pelaksana bagian endorsement yang selanjutnya disebut dengan Petugas


Endorsement adalah pegawai Direktorat Jenderal Pajak di KPP yang bertugas
untuk melakukan Endorsement atas dokumen PPFTZ-03 yang ditempatkan di
Kantor Pabean di Pulau Bintan atau Pulau Batam.

f Pelaksana bagian perekaman yang selanjutnya disebut dengan Pelaksana


Perekaman adalah pelaksana di KPP yang bertugas melakukan perekaman
dokumen PPFTZ yang ditempatkan di UPKB di Pulau Bintan atau Pulau Batam.

g Pelaksana bagian pemberkasan yang selanjutnya disebut dengan Pelaksana


Pemberkasan adalah pelaksana di KPP yang bertugas melakukan pemberkasan
dokumen PPFTZ yang ditempatkan di UPKB di Pulau Bintan atau Pulau Batam.
h Pelaksana bagian analisa yang selanjutnya disebut dengan Pelaksana Analisa
adalah pelaksana di KPP yang bertugas melakukan analisa dokumen PPFTZ yang
ditempatkan di UPKB di Pulau Bintan atau Pulau Batam.

i Pemasukan Barang Kena Pajak berwujud dari TLDDP atau dari Tempat
Penimbunan Berikat ke Kawasan Bebas melalui pelabuhan atau bandar
udara yang ditunjuk, tidak dipungut Pajak Pertambahan Nilai atau Pajak
Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah.

j Penyerahan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dan/atau Jasa Kena Pajak dari
TLDDP atau dari Tempat Penimbunan Berikat ke Kawasan Bebas, tidak dipungut
Pajak Pertambahan Nilai.

k Fasilitas Pajak Pertambahan Nilai atau Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak
Penjualan atas Barang Mewah tidak dipungut sebagaimana dimaksud pada huruf t
diberikan apabila:

1) Barang Kena Pajak Berwujud tersebut benar-benar telah masuk di Kawasan Bebas;
2) Dokumen PPFTZ-03 telah didaftarkan pada kantor pabean; dan
3) Dokumen PPFTZ-03 telah memperoleh Endorsement dari Petugas Endorsement.

a Atas pemasukan Barang Kena Pajak berwujud dari TLDDP ke Kawasan Bebas
wajib dibuatkan Faktur Pajak Standar sesuai peraturan perundang-undangan di
bidang perpajakan.

b Saat pembuatan Faktur Pajak Standar sebagaimana dimaksud pada huruf w adalah
paling lama pada saat pengiriman Barang Kena Pajak ke Kawasan Bebas.

c Atas penyerahan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dan/atau Jasa Kena Pajak
sebagaimana dimaksud pada huruf u wajib dibuatkan Faktur Pajak Standar sesuai
peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan.

d Faktur Pajak Standar sebagaimana dimaksud w dan huruf y harus diberi cap PPN
TIDAK DIPUNGUT BERDASARKAN PP NOMOR 2 TAHUN 2009 oleh
Pengusaha Kena Pajak yang melakukan penyerahan.

e Proses endorsement pemberitahuan pabean dilakukan paling lama 1 (satu) hari


kerja sejak dokumen-dokumen sebagaimana dimaksud pada huruf k diterima
lengkap oleh pejabat/pegawai Direktorat Jenderal Pajak yang ditempatkan di
kantor pabean yang wilayah kerjanya meliputi pelabuhan atau bandar udara yang
ditunjuk.

f Dalam hal pemberitahuan pabean tidak sesuai dengan dokumen-dokumen yang


harus dilampirkan dalam rangka endorsement, Barang Kena Pajak tetap dapat
dikeluarkan dari pelabuhan/bandar udara yang ditunjuk dan atas pemasukan
Barang Kena Pajak tidak dapat diberikan fasilitas Pajak Pertambahan Nilai atau
Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah Tidak
Dipungut.

2 Tata Cara Endorsement atas Penyerahan Barang Kena Pajak Berwujud dari Tempat Lain
Dalam Daerah Pabean ke Kawasan Bebas, Pemberkasan Pemberitahuan Pabean dan
Dokumen Pelengkap Pabean di Kawasan Bebas, Perekaman Pemberitahuan Pabean,
Pelaksanaan Analisa Data Pemberitahuan Pabean dan bentuk formulir yang digunakan
adalah sebagaimana terlampir dalam Surat Edaran ini.

a. Lampiran I : Tata Cara Endorsement atas Dokumen PPFTZ-03 atas Penyerahan


Barang Kena Pajak Berwujud dari Tempat Lain Dalam Daerah Pabean
ke Kawasan Bebas.
b. Lampiran II : Tata Cara Pemberkasan Pemberitahuan Pabean dan Dokumen
Pelengkap Pabean di Kawasan Bebas.
c. Lampiran III : Tata Cara Perekaman Dokumen PPFTZ di Kawasan Bebas.
d. Lampiran IV : Tata Cara Pelaksanaan Analisa Data Dokumen Pemberitahuan Pabean
di Kawasan Bebas.
e. Lampiran V : Analisa Arus Barang dari dan ke Kawasan Bebas.
f. Lampiran VI : Penelitian Kebenaran Dokumen PPFTZ-03.
g. Lampiran VII : Perekaman Dokumen PPFTZ.
h. Lampiran VIII : Bentuk Register Harian Penerimaan Dokumen Pemberitahuan Pabean.
i. Lampiran IX : Bentuk Register Harian Perekaman Dokumen Pemberitahuan Pabean.
j. Lampiran X : Bentuk Laporan Analisa Arus Barang.
k. Lampiran XI : Formulir PPFTZ-01.
l. Lampiran XII : Formulir PPFTZ-02.
m. Lampiran XIII : Formulir PPFTZ-03.

Demikian disampaikan untuk dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal 30 Maret 2009
Direktur Jenderal,

ttd.

Darmin Nasution
NIP 130605098

Tembusan:

1. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak;


2. Para Direktur dan Tenaga Pengkaji di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak.
SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
NOMOR SE - 30/PJ/2009

TENTANG

PENYAMPAIAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK


NOMOR 24/PJ/2009 TENTANG TATA CARA PENDAFTARAN NOMOR POKOK WAJIB
PAJAK DAN/ATAU PENGUKUHAN PENGUSAHA KENA PAJAK DAN PERUBAHAN
DATA
WAJIB PAJAK DAN/ATAU PENGUSAHA KENA PAJAK DENGAN
SISTEM E-REGISTRATION

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Sehubungan dengan penerbitan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor 24/PJ/2009 tentang
Tata Cara Pendaftaran Nomor Pokok Wajib Pajak dan/atau Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak
dan Perubahan Data Wajib Pajak dan/atau Pengusaha Kena Pajak dengan Sistem e-Registration,
dengan ini disampaikan salinan Peraturan Direktur Jenderal Pajak tersebut dengan penegasan
sebagai berikut:
A. Dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada Wajib Pajak dan/atau Pengusaha Kena Pajak
untuk mendaftarkan diri dan/atau melaporkan kegiatan usahanya melalui internet yang
terhubung langsung secara on-line dengan Direktorat Jenderal Pajak, perlu dilakukan
perubahan persyaratan dan prosedur dalam Pendaftaran Nomor Pokok Wajib Pajak dan/atau
Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak dan Perubahan Data Wajib Pajak dan/atau Pengusaha
Kena Pajak.
B. Hal-hal yang perlu mendapat perhatian adalah sebagai berikut:
1. Wajib Pajak termasuk Wajib Pajak orang pribadi pengusaha tertentu dapat mengajukan permohonan u

a. memperoleh Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan/atau melaporkan kegiatan usaha untuk di

b. melakukan perubahan data,

melalui sistem yang terhubung langsung secara on-line dengan Direktorat Jenderal Pajak (Sistem e-Re
2. Wajib Pajak dan/atau PKP sebagaimana dimaksud pada angka 1 harus mengisi formulir permohonan s
Pajak (KPP) di mana Wajib Pajak seharusnya terdaftar.
3. Berdasarkan permohonan sebagaimana dimaksud pada angka 1 Wajib Pajak dapat mencetak sendir
Sistem e-Registration.
4. SKTS berlaku terhitung sejak permohonan melalui Sistem e-Registration dilakukan sampai dengan
berlaku untuk pembayaran, pemotongan dan pemungutan pajak oleh pihak lain serta tidak dapat diperg
5. Atas permohonan sebagaimana dimaksud pada angka 1, KPP tempat Wajib Pajak terdaftar menerbitka
C. Jangka Waktu Penyelesaian.

1. Penerbitan SKT, Kartu NPWP, dan/atau SPPKP sebagaimana dimaksud pada huruf B
angka 5 harus dilakukan oleh KPP paling lama 1(satu) hari kerja sejak informasi
permohonan melalui Sistem e-Registration diterima KPP, sepanjang permohonan
tersebut diisi secara lengkap.

2. Dalam hal proses penerbitan NPWP dan/atau PKP telah selesai, Wajib Pajak
dikirimkan notifikasi melalui Sistem e-Registration.

D. Konfirmasi Lapangan.

1. KPP harus melakukan konfirmasi lapangan untuk membuktikan kebenaran pengisian


formulir sebagaimana dimaksud pada huruf B angka 2 paling lama 1 (satu) tahun
setelah terbitnya NPWP dan SKT dan/atau SPPKP dengan prioritas sesuai tingkat
resiko Wajib Pajak.

2. Petugas konfirmasi lapangan adalah Account Representative yang menangani Wajib


Pajak tersebut atau pelaksana pada Seksi Ekstensifikasi Perpajakan atau petugas lain
yang ditunjuk oleh Kepala KPP untuk melakukan konfirmasi lapangan.

3. Pada saat melakukan konfirmasi lapangan KPP dapat meminta dokumen kepada
Wajib Pajak dan/atau PKP terdaftar.

E. Pencabutan SKT dan Penghapusan NPWP dan/atau SPPKP.

1. Dalam hal hasil konfirmasi lapangan atas permohonan NPWP dan/atau pengukuhan
PKP atau perubahan data Wajib Pajak dan/atau PKP sebagaimana dimaksud huruf D
angka 1 dinyatakan tidak benar, KPP menerbitkan Surat Pencabutan SKT dan Surat
Penghapusan NPWP dan/atau Surat Pencabutan SPPKP.

2. Pencabutan SKT dan penghapusan NPWP dan/atau pencabutan SPPKP sebagaimana


di maksud pada angka 1 dilakukan secara jabatan.

3. Pencabutan dan penghapusan sebagaimana dimaksud pada angka 2 dilakukan hanya


terhadap SKT dan NPWP dan/atau SPPKP yang terbit hanya dengan mengisi formulir
sebagaimana dimaksud pada huruf B angka 2 tanpa harus dilengkapi dengan
hardcopy data pendukung untuk permohonan NPWP atau untuk perubahan data
dan/atau tidak dilakukan penelitian lapangan untuk permohonan PKP.

4. Surat Pencabutan SKT dan Surat Penghapusan NPWP dan/atau Surat Pencabutan
SPPKP sebagaimana dimaksud pada angka 2 akan diumumkan melalui website
www.pajak.go.id dan kepada Wajib Pajak akan dikirimkan notifikasi melalui Sistem
e-Registration.

5. Pencabutan SKT dan Surat Penghapusan NPWP dan/atau Surat Pencabutan SPPKP
selain dalam rangka membuktikan kebenaran pengisian formulir/data dan alamat yang
disampaikan Wajib Pajak sebagaimana dimaksud pada angka 1 mengacu pada KEP-
161/PJ/2001 tentang Jangka Waktu Pendaftaran dan Pelaporan Kegiatan Usaha, Tata
Cara Pendaftaran dan Penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak, Serta Pengukuhan dan
Pencabutan Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak sebagaimana telah diubah dengan
PER-160/PJ/2007.

F. Petugas Pendaftaran Wajib Pajak di KPP Tempat Wajib Pajak Seharusnya Terdaftar harus
melakukan hal-hal sebagai berikut:

1. Memantau dan menindaklanjuti informasi permohonan pendaftaran dan/atau


pengukuhan PKP atau perubahan data Wajib Pajak pada aplikasi e-Registration setiap
hari kerja.

2. Mencetak/menerbitkan SKT dan kartu NPWP dan/atau SPPKP paling lama 1(satu)
hari kerja sejak informasi pendaftaran dan/atau pengukuhan atau perubahan data
melalui Sistem e-Registration diterima KPP, sepanjang permohonan pendaftaran
NPWP dan/atau pengukuhan PKP atau perubahan data diisi secara lengkap.

G. Tata Cara Pendaftaran NPWP dan/atau Pengukuhan PKP dan Perubahan Data Dengan Sistem
e-Registration, sebagaimana terlampir dalam Surat Edaran ini.
Lampiran I : Tata Cara Pendaftaran Nomor Pokok Wajib Pajak dan/atau Pengukuhan
Pengusaha Kena Pajak Dengan Sistem e-Registration.
Lampiran II: Tata Cara Perubahan Data Wajib Pajak dan/atau Pengusaha Kena Pajak
Dengan Sistem e-Registration.
H. Tata Cara Konfirmasi Lapangan dan Pengumuman Wajib Pajak dan/atau Pengusaha Kena
Pajak yang Dihapuskan NPWPnya dan dicabut SKT dan/atau SPPKPnya mengacu pada
Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor 44/PJ/2008 dan Surat Edaran Direktur Jenderal
Pajak Nomor SE-65/PJ/2008.

Demikian untuk menjadi perhatian dan dilaksanakan sebaik-baiknya.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 16 Maret 2009
Direktur Jenderal

ttd.

Darmin Nasution
NIP 130605098

Tembusan:

1. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak;

2. Para Direktur dan Tenaga Pengkaji di lingkungan DJP.


SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
NOMOR SE - 02/PJ.03/2009

TENTANG

KEWAJIBAN MEMILIKI NOMOR POKOK WAJIB PAJAK BAGI PEDAGANG


PENGUMPUL

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Sehubungan dengan telah diberlakukannya Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang


Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan yang
mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 2009 dan sejalan dengan program pemberian Nomor Pokok
Wajib Pajak (NPWP) melalui kegiatan Ekstensifikasi Wajib Pajak, dengan ini disampaikan hal-
hal sebagai berikut :

1. Berdasarkan Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan
Ketiga atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata
Cara Perpajakan, setiap Wajib Pajak yang telah memenuhi persyaratan subjektif dan
objektif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan wajib mendaftarkan diri
pada kantor Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau
tempat kedudukan Wajib Pajak dan kepadanya diberikan Nomor Pokok Wajib Pajak.

2. Berdasarkan Pasal 22 ayat (3) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak
Penghasilan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun
2008, besarnya pungutan Pajak Penghasilan Pasal 22 yang ditetapkan terhadap Wajib
Pajak yang tidak memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak lebih tinggi 100% (seratus persen)
daripada tarif yang diterapkan terhadap Wajib Pajak yang dapat menunjukkan Nomor
Pokok wajib Pajak.

3. Berkenaan dengan hal-hal tersebut di atas Kantor Pelayanan Pajak dan Kantor Pelayanan,
Penyuluhan, dan Konsultasi Perpajakan diminta untuk :

a. Secara aktif melakukan sosialisasi ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang


Pajak Penghasilan khususnya mengenai pengenaan tarif Pajak Penghasilan lebih
tinggi terhadap Wajib Pajak yang tidak memiliki NPWP.

b. Melakukan sosialisasi secara intensif kepada pihak-pihak yang terkait dengan


pelaksanaan Pajak Penghasilan Pasal 22 Undang-Undang Pajak Penghasilan,
khususnya pemungutan oleh badan usaha industri dan eksportir yang bergerak
dalam sektor perhutanan, perkebunan, pertanian, dan perikanan atas pembelian
bahan-bahan untuk keperluan industri atau ekspor dari pedagang pengumpul.
c. Melakukan pendataan pedagang pengumpul yang berada di wilayah masing-
masing untuk selanjutnya diberikan NPWP guna menghindari pengenaan tarif
Pajak Penghasilan lebih tinggi 100% (seratus persen)

4. Para Kepala Kantor Wilayah diminta untuk mengawasi pelaksanaan pendaftaran Wajib
Pajak pedagang pengumpul di lingkungan wilayah kerja masing-masing.

Demikian untuk diketahui dan dilaksanakan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 03 Maret 2009
Direktur Jenderal,

ttd.

Darmin Nasution
NIP 130605098

Tembusan :

1. Menteri Keuangan;

2. Sekretaris Jenderal Departemen Keuangan;

3. Inspektur Jenderal Departemen Keuangan;

4. Kepala Biro Hukum Departemen Keuangan;

5. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak;

6. Para Direktur di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak;

7. Para Tenaga Pengkaji di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak.


SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
NOMOR SE - 25/PJ/2009

TENTANG

PENYAMPAIAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK


NOMOR 21/PJ/2009 TENTANG TATA CARA PENYAMPAIAN PEMBERITAHUAN
PERPANJANGAN SURAT PEMBERITAHUAN TAHUNAN

DIREKTUR JENDERAL PAJAK

Sehubungan dengan telah diterbitkannya Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor 21/PJ/2009
tentang Tata Cara Penyampaian Pemberitahuan Perpanjangan Surat Pemberitahuan Tahunan,
dengan ini disampaikan salinan Peraturan Direktur Jenderal Pajak tersebut dengan penegasan
sebagai berikut:
1. Wajib Pajak yang tidak dapat menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan yang
selanjutnya disebut SPT Tahunan dalam jangka waktu yang telah ditetapkan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan
Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan, Wajib Pajak dapat memperpanjang jangka waktu penyampaian SPT Tahunan
untuk paling lama 2 (dua) bulan sejak batas waktu penyampaian SPT Tahunan dengan
menyampaikan Pemberitahuan Perpanjangan SPT Tahunan.
2. Pemberitahuan Perpanjangan SPT Tahunan:

a. bagi Wajib Pajak Badan atau Orang Pribadi yang melakukan kegiatan
usaha/pekerjaan bebas disampaikan dalam bentuk formulir kertas (hardcopy) 1770-
Y/1771-Y/1771-$Y sesuai dengan contoh sebagaimana tersebut pada Lampiran I
Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor 21/PJ/2009, atau dalam bentuk data
elektronik (e-SPTy); atau

b. bagi Wajib Pajak Orang Pribadi yang tidak melakukan kegiatan usaha/pekerjaan
bebas disampaikan dalam bentuk surat pemberitahuan sebagaimana tersebut pada
Lampiran II Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor 21/PJ/2009.
c. Pemberitahuan Perpanjangan SPT Tahunan bagi Wajib Pajak Orang Pribadi
sebagaimana dimaksud pada huruf b hanya berlaku untuk Tahun Pajak 2008.

3. Penyampaian Pemberitahuan Perpanjangan SPT Tahunan dibuat secara tertulis dan


disampaikan ke Kantor Pelayanan Pajak sebelum batas waktu penyampaian SPT Tahunan
berakhir.
4. Wajib Pajak Badan atau Wajib Pajak Orang Pribadi yang melakukan kegiatan
usaha/pekerjaan bebas yang mengajukan Pemberitahuan Perpanjangan SPT Tahunan wajib
menyebutkan alasan perpanjangan dan melakukan penghitungan sementara pajak terutang
dalam 1 (satu) Tahun Pajak yang batas waktu penyampaiannya diperpanjang, serta
melampirkan:

a. Laporan Keuangan sementara untuk Tahun Pajak yang bersangkutan dari Wajib
Pajak itu sendiri (bukan Laporan Keuangan sementara dari konsolidasi grup);

b. Surat Setoran Pajak Penghasilan sebagai bukti pelunasan kekurangan pembayaran


pajak yang terutang kecuali ada ijin untuk mengangsur atau menunda pembayaran
Pajak Penghasilan Pasal 29; dan

c. Surat Pernyataan dari Akuntan Publik yang menyatakan audit Laporan Keuangan
belum selesai dalam hal Laporan Keuangan diaudit oleh Akuntan Publik.

5. Wajib Pajak Orang Pribadi yang tidak melakukan kegiatan usaha/pekerjaan bebas yang
mengajukan Pemberitahuan Perpanjangan SPT Tahunan wajib melampirkan Surat
Pernyataan dari pemberi kerja yang menyatakan bahwa bukti potong PPh Pasal 21 (Formulir
1721-A1 dan/atau Formulir 1721-A2) belum diberikan oleh pemberi kerja.
6. Pemberitahuan Perpanjangan SPT Tahunan wajib ditandatangani oleh Wajib Pajak atau
Kuasa Wajib Pajak. Dalam hal Pemberitahuan Perpanjangan SPT Tahunan ditandatangani
oleh Kuasa Wajib Pajak, Pemberitahuan Perpanjangan SPT Tahunan wajib dilampiri dengan
Surat Kuasa Khusus.
7.
a. Penyampaian Pemberitahuan Perpanjangan SPT Tahunan dilakukan dengan:

a.1. secara langsung;


a.2. melalui pos/perusahaan jasa ekspedisi/jasa kurir dengan bukti pengiriman
surat; atau
a.3. e-Filing melalui ASP sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

b. Atas Penyampaian Pemberitahuan Perpanjangan SPT Tahunan secara langsung


diberikan tanda penerimaan surat, sedangkan atas Penyampaian Pemberitahuan
Perpanjangan SPT Tahunan melalui e-Filing diberikan Bukti Penerimaan Elektronik.

c. Bukti pengiriman surat, tanda penerimaan surat dan bukti penerimaan elektronik
menjadi bukti penerimaan Pemberitahuan Perpanjangan SPT Tahunan.
8. Pemberitahuan Perpanjangan SPT Tahunan yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana
dimaksud pada angka 3 sampai dengan angka 7 dianggap bukan merupakan Pemberitahuan
Perpanjangan SPT Tahunan.
9. Dalam hal Pemberitahuan Perpanjangan SPT Tahunan dianggap bukan merupakan
Pemberitahuan Perpanjangan SPT Tahunan:

a. Kepala Kantor Pelayanan Pajak harus memberitahukan kepada Wajib Pajak paling
lama 7 (tujuh) hari kerja sejak Pemberitahuan Perpanjangan SPT Tahunan tersebut
diterima lengkap di Kantor Pelayanan Pajak dengan menggunakan form surat
sebagaimana dimaksud pada Lampiran II Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor
21/PJ/2009;

b. Wajib Pajak masih dapat menyampaikan Pemberitahuan Perpanjangan SPT Tahunan


lagi sepanjang batas waktu penyampaian SPT Tahunan belum berakhir.

10. Apabila perlu Kepala Kantor Pelayanan Pajak dapat memberikan Surat Jawaban atas
Pemberitahuan Perpanjangan SPT Tahunan yang telah memenuhi ketentuan dengan
menggunakan form surat sebagaimana dimaksud pada Lampiran III Peraturan Direktur
Jenderal Pajak Nomor 21/PJ/2009.
11. Apabila Kepala Kantor Pelayanan Pajak tidak memberikan pemberitahuan kepada Wajib
Pajak dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud pada angka 9 a, maka Pemberitahuan
Perpanjangan SPT Tahunan dianggap diterima:

a. sesuai dengan pemberitahuan Wajib Pajak dalam hal Pemberitahuan Perpanjangan


SPT Tahunan tidak melebihi batas waktu; atau.

b. untuk jangka waktu paling lama 2 (dua) bulan dalam hal Pemberitahuan
Perpanjangan SPT Tahunan melebihi batas waktu,

sebagaimana dimaksud pada angka 1.


12. Apabila Wajib Pajak belum siap untuk menyampaikan SPT Tahunan dalam jangka waktu
Pemberitahuan Perpanjangan SPT Tahunan yang disampaikan sebelumnya, Wajib Pajak
masih dapat menyampaikan Pemberitahuan Perpanjangan SPT Tahunan lagi sepanjang
jangka waktu 2 (dua) bulan sejak batas waktu penyampaian SPT Tahunan belum berakhir.
13. Selama masa transisi, Wajib Pajak dapat menggunakan formulir 1770-Y/1771-Y/1771-$Y
lama dengan cara mencoret kata Permohonan dan mengganti dengan kata
Pemberitahuan.
14. Tata Cara Penyelesaian Penyampaian Pemberitahuan Perpanjangan SPT Tahunan yang
disampaikan secara langsung atau melalui pos/jasa perusahaan ekspedisi/jasa kurir diatur
sebagaimana dimaksud pada Lampiran Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini.
15. Tata Cara Penyelesaian Penyampaian Pemberitahuan Perpanjangan SPT Tahunan yang
disampaikan melalui e-Filing diatur sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Direktur
Jenderal Pajak Nomor PER-47/PJ/2008 tentang Tata Cara Penyampaian Surat
Pemberitahuan dan Penyampaian Pemberitahuan Perpanjangan Surat Pemberitahuan
Tahunan Secara Elektronik (e-Filing) Melalui Perusahaan Penyedia Jasa Aplikasi (ASP).
Demikian disampaikan untuk dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal 02 Maret 2009
Direktur Jenderal,

ttd.

Darmin Nasution
NIP 130605098

Tembusan:

1. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak;

2. Para Direktur dan Tenaga Pengkaji dilingkungan Direktorat Jenderal Pajak.

SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK


NOMOR SE - 24/PJ/2009

TENTANG

PENYAMPAIAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK


NOMOR 19/PJ/2009 TENTANG TATA CARA PENERIMAAN DAN PENGOLAHAN
SURAT PEMBERITAHUAN TAHUNAN

DIREKTUR JENDERAL PAJAK

Sehubungan dengan telah ditetapkannya Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor 19/PJ/2009
tanggal 25 Februari 2009 tentang Tata Cara Penerimaan dan Pengolahan Surat Pemberitahuan
Tahunan, dengan ini disampaikan hal-hal sebagai berikut:

I. Dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada Wajib Pajak dalam menyampaikan Surat
Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan, perlu diatur tata cara penerimaan dan
pengolahan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan.

II. Dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini, yang dimaksud dengan:

1. Surat Pemberitahuan yang selanjutnya disebut dengan SPT Tahunan adalah Surat
Pemberitahuan untuk suatu tahun pajak atau bagian tahun pajak yang meliputi
SPT Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Orang Pribadi (SPT 1770, SPT 1770
S, SPT 1770 SS), SPT Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan (SPT 1771
dan SPT 1771/$), termasuk SPT Tahunan Pembetulan.

2. SPT Tahunan Elektronik yang selanjutnya disebut dengan e-SPT Tahunan adalah
data SPT Wajib Pajak sebagaimana dimaksud pada angka 1 dalam bentuk
elektronik yang dibuat oleh Wajib Pajak dengan menggunakan aplikasi e-SPT
yang disediakan oleh Direktorat Jenderal Pajak.

3. SPT Lengkap adalah SPT yang semua elemen SPT Induk dan lampirannya telah
diisi dengan lengkap, SPT Induk telah ditandatangani oleh Wajib Pajak atau
kuasanya, dan telah dilengkapi dengan lampiran khusus, serta keterangan dan/atau
dokumen yang disyaratkan.

4. e-SPT Lengkap adalah SPT sebagaimana dimaksud pada angka 2 yang semua
elemen SPT Induk dan lampirannya telah diisi dengan lengkap dan dapat diproses
dalam Sistem Informasi Perpajakan di Direktorat Jenderal Pajak, dan telah
dilengkapi dengan lampiran khusus, serta keterangan dan/atau dokumen lain yang
tidak dapat disampaikan secara elektronik.

5. e-Filing adalah suatu cara penyampaian SPT atau penyampaian Pemberitahuan


Perpanjangan SPT Tahunan secara elektronik yang dilakukan secara on-line yang
real time melalui Penyedia Jasa Aplikasi atau Aplication Service Provider (ASP).

6. Tempat Pelayanan Terpadu yang selanjutnya disebut dengan TPT adalah tempat
pelayanan perpajakan yang terintegrasi pada Kantor Pelayanan Pajak (KPP)
termasuk Kantor Pelayanan, Penyuluhan, dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP)
untuk memberikan pelayanan perpajakan.

7. Pojok Pajak/Mobil Pajak/Tempat Khusus Penerimaan Surat Pemberitahuan


Tahunan (Drop Box) adalah tempat lain yang dapat digunakan untuk menerima
SPT Tahunan/e-SPT Tahunan.

8. Media Eletronik adalah sarana penyimpan data digital yang dapat dibaca oleh
Sistem Informasi Perpajakan di Direktorat Jenderal Pajak.

9. Tanda Terima SPT adalah tanda bukti penerimaan SPT Tahunan/e-SPT Tahunan
yang diberikan petugas kepada Wajib Pajak.

10. Pengolahan SPT adalah serangkaian kegiatan yang meliputi penelitian SPT dan
perekaman SPT.

11. Penelitian SPT atau e-SPT adalah kegiatan yang dilakukan untuk menilai
kelengkapan pengisian SPT Tahunan atau e-SPT Tahunan dan lampiran-
lampirannya serta kelengkapan lampiran yang disyaratkan dan penilaian tentang
kebenaran penulisan dan perhitungannya termasuk menerbitkan Surat Permintaan
Kelengkapan SPT Tahunan apabila SPT yang diterima tidak lengkap.

12. Validasi adalah kegiatan penelitian kebenaran data/informasi atas SPT Tahunan
yang disampaikan dengan menggunakan aplikasi e-SPT.

13. Perekaman SPT adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk memasukkan
semua unsur SPT ke dalam basis data perpajakan dengan cara antara lain
merekam, uploading, dan/atau memindai (scanning).

14. Loading adalah kegiatan memindahkan data/informasi digital dari media


elektronik/jaringan komunikasi data ke Sistem Informasi Perpajakan di Direktorat
Jenderal Pajak.

III. Beberapa hal yang perlu diperhatikan :

1. Drop Box ditempatkan di KPP, pusat perbelanjaan, pusat bisnis, atau tempat-
tempat tertentu lainnya.

2. Setiap Wajib Pajak dapat menyampaikan SPT Tahunan/e-SPT Tahunan Pajak


Penghasilan melalui TPT/Mobil Pajak/Pojok Pajak/Drop Box di mana saja.

3. Petugas TPT/Pojok Pajak/Mobil Pajak/Drop Box menerima amplop tertutup yang


berisi SPT Tahunan/e-SPT Tahunan dari Wajib Pajak, termasuk dari Wajib Pajak
yang tidak terdaftar di wilayah kerja KPP dimana TPT/Pojok Pajak/Mobil
Pajak/Drop Box tersebut berada, dan langsung memberikan Tanda Terima SPT
kepada Wajib Pajak tanpa didahului penelitian atas kelengkapan SPT.

4. KPP wajib mengirimkan SPT Wajib Pajak yang tidak terdaftar pada KPP tersebut
kepada KPP tempat Wajib Pajak terdaftar, paling lambat dalam jangka waktu 10
(sepuluh) hari, kecuali untuk SPT Lebih Bayar (LB) paling lambat dalam jangka
waktu 3 (tiga) hari sejak SPT diterima.

5. KPP melakukan penelitian atas kelengkapan SPT paling lama dalam jangka waktu
2 (dua) bulan setelah SPT diterima sebagaimana dimaksud pada Pasal 5 ayat (1)
Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor 19/PJ/2009, kecuali untuk SPT Lebih
Bayar (LB) dalam jangka waktu paling lama 14 (empat belas) hari kerja.

6. Apabila berdasarkan hasil penelitian SPT Tahunan/e-SPT Tahunan dinyatakan


tidak lengkap, terhadap Wajib Pajak dikirimkan Surat Permintaan Kelengkapan
SPT Tahunan/e-SPT Tahunan sebagaimana pada Lampiran I.6.

7. Atas permintaan kelengkapan SPT tersebut, paling lambat 30 (tiga puluh) hari
sejak tanggal Surat Permintaan Kelengkapan SPT, Wajib Pajak wajib
menyampaikan kelengkapan SPT Tahunan/e-SPT Tahunan ke KPP dimana Wajib
Pajak terdaftar.
8. Apabila sampai batas waktu 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal Surat Permintaan
Kelengkapan SPT Tahunan/e-SPT Tahunan telah terlampaui dan Wajib Pajak
belum menyampaikan kelengkapan SPT, maka SPT dianggap tidak disampaikan
dan kepada Wajib Pajak dikirimkan Surat Pemberitahuan SPT Dianggap Tidak
Disampaikan sebagaimana pada Lampiran I.7.

9. Jangka waktu perekaman SPT ditetapkan paling lambat 1 (satu) bulan sejak SPT
Lebih Bayar (LB) diterima lengkap atau 3 (tiga) bulan sejak SPT Kurang Bayar
(KB)/Nihil (N) diterima lengkap.

10. Pegawai yang ditunjuk sebagai Petugas Penerima SPT pada TPT/Pojok
Pajak/Mobil Pajak/Drop Box wajib menggunakan tanda pengenal pegawai
yang sah.

11. KPP menyiapkan Tanda Terima sebagaimana diatur dalam Lampiran I.1, sesuai
dengan kebutuhan.

12. Ketentuan penomoran Tanda Terima sebagai berikut:

a. Nomor Tanda Terima berbentuk prenumbered.

b. Kepala Seksi Pelayanan membagi penjatahan nomor Tanda Terima di


setiap unit TPT/Pojok Pajak/Mobil Pajak/Drop Box.

c. Kepala Seksi Pelayanan melakukan pengawasan penggunaan nomor Tanda


Terima.

d. Dalam rangka tertib administrasi penomoran Tanda Terima SPT


Tahunan/e-SPT Tahunan melalui Mobil Pajak, Kepala Kantor Wilayah
dapat menugaskan Kepala KPP di wilayah kerjanya sebagai penanggung
jawab Mobil Pajak selama masa penerimaan SPT Tahunan Pajak
Penghasilan.

13. Jadwal pelayanan dan lokasi Drop Box ditetapkan oleh Kepala KPP sebagai
Penanggung Jawab Drop Box/pojok pajak dengan koordinasi Kepala
Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak.

14. Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak menyampaikan jadwal dan
lokasi Drop Box/pojok pajak di wilayah kerjanya kepada Direktur Penyuluhan
Pelayanan dan Hubungan Masyarakat untuk diinformasikan kepada petugas Kring
Pajak dan di-upload pada website www.pajak.go.id.

15. Untuk mengantisipasi beban puncak dengan mempertimbangkan beban kerja,


Kepala KPP dapat membentuk tim/satgas untuk melakukan proses penerimaan
dan pengolahan SPT Tahunan/e-SPT Tahunan.
16. Kepala KPP memprioritaskan pengiriman dan pengolahan SPT Lebih Bayar (LB)
terlebih dahulu.

IV. Lampiran-lampiran:

1. Tata cara penerimaan dan pengolahan diatur dalam Lampiran I.

2. Tata cara perekaman diatur dalam Lampiran II.

3. Tata cara penggunaan dan pengawasan Nomor Tanda Terima diatur dalam
Lampiran III.

Para Kepala Kantor Wilayah agar mengawasi pelaksanaan Peraturan Direktur Jenderal Pajak
tersebut diatas dan agar melakukan sosialisasi kepada para Wajib Pajak di lingkungan wilayah
kerja masing-masing.

Demikian untuk diketahui dan dilaksanakan sebaik-baiknya.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 27 Februari 2009
Direktur Jenderal

ttd.

Darmin Nasution
NIP 130605098

Tembusan:

1. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak;

2. Para Direktur dan Tenaga Pengkaji di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak.

3. Kepala Pusat Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan.


SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
NOMOR SE - 02/PJ.04/2009

TENTANG

RENCANA DAN STRATEGI PENYELESAIAN


PEMERIKSAAN TAHUN 2009

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Dalam rangka meningkatkan efisiensi, efektivitas, dan kinerja pemeriksaan guna mencapai
tujuan pemeriksaan sehingga dapat meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak, perlu menetapkan
rencana dan strategi penyelesaian pemeriksaan. Rencana dan strategi penyelesaian pemeriksaan
merupakan pedoman bagi para Kepala Kantor Wilayah DJP dan Kepala Kantor Pelayanan Pajak
dalam merencanakan, mengalokasikan, melaksanakan dan mengendalikan pelaksanaan
pemeriksaan. Melalui penetapan rencana dan strategi penyelesaian pemeriksaan tersebut, Kepala
Kantor Wilayah DJP dan Kepala Kantor Pelayanan Pajak diharapkan dapat segera mengambil
langkah-langkah yang diperlukan apabila pelaksanaan pemeriksaan belum sesuai dengan rencana
atau terjadi penyimpangan dalam pelaksanaan pemeriksaan. Oleh karena itu, Kepala Kantor
Wilayah DJP dan Kepala Kantor Pelayanan Pajak harus memanfaatkan menu pada Sistem
Informasi Manajemen Pemeriksaan Pajak (SIMPP) atau Modul Pemeriksaan pada SIDJP untuk
melihat target penyelesaian pemeriksaan dalam tahun 2009, jumlah Laporan Hasil Pemeriksaan
(LHP) yang diselesaikan dan tunggakan Surat Perintah Pemeriksaan (SP2) pada setiap Unit
Pelaksana Pemeriksaan (UP2). Rencana danstrategi penyelesaian pemeriksaan nasional tahun
2009 ditetapkan sebagai berikut:
I. FOKUS PEMERIKSAAN
Yang dimaksud dengan fokus pemeriksaan tahun 2009 adalah sasaran pemeriksaan terhadap
Wajib Pajak dengan sektor usaha tertentu atau Wajib Pajak tertentu, yang menjadi sasaran
utama pemeriksaan. Fokus pemeriksaan tahun 2009 dibagi dalam dua kelompok, yaitu fokus
pemeriksaan nasional dan fokus pemeriksaan Kantor Wilayah DJP.
A. Fokus Pemeriksaan Nasional
Fokus Pemeriksaan nasional merupakan sasaran pemeriksaan terhadap Wajib Pajak
dengan sektor usaha tertentu atau Wajib Pajak tertentu, yang menjadi sasaran utama
pemeriksaan secara nasional dalam tahun 2009 Fokus pemeriksaan nasional dalam tahun
2009 ditetapkan sebagai berikut:

1. Fokus pemeriksaan terhadap Wajib Pajak Badan


Penetapan fokus pemeriksaan terhadap Wajib Pajak Badan didasarkan pada
data Produk Domestik Bruto (PDB), nilai koreksi hasil pemeriksaan, penerimaan
Pajak Penghasilan, audit coverage ratio, dan pengaduan masyarakat. Berdasarkan
hasil pengolahan data tersebut, pemeriksaan terhadap Wajib Pajak Badan dalam
tahun 2009 secara nasional difokuskan pada Wajib Pajak yang termasuk dalam
sektor usaha sebagai berikut:
KLU Sektor Usaha
11000 Pertambangan dan Jasa Pertambangan Minyak dan Gas Bumi
26400 Industri semen, kapur dan gips, serta barang-barang dari semen dan
kapur
27000 Industri logam dasar
45000 Konstruksi
50000 Penjualan, pemeliharaan, dan reparasi mobil dan sepeda motor,
penjualan eceran bahan bakar kendaraan
51000 Perdagangan besar dalam negeri, kecuali perdagangan mobil dan
sepeda motor selain ekspor dan impor
52000 Perdagangan eceran, kecuali mobil dan sepeda motor, reparasi
barang-barang keperluan pribadi dan rumah tangga
53000 Perdagangan ekspor, kecuali perdagangan mobil dan sepeda motor
54000 Perdagangan impor, kecuali perdagangan mobil dan sepeda motor
55110 Hotel berbintang
55200 Restoran/rumah makan, bar dan jasa boga
64200 Telekomunikasi
70000 Real Estat
74300 Jasa periklanan
2. Fokus pemeriksaan terhadap Wajib Pajak Orang Pribadi
Pemeriksaan terhadap Wajib Pajak Orang Pribadi dalam tahun 2009 difokuskan
pada:

a. Pemilik modal atau investor yang memiliki akumulasi nilai investasi di


atas Rp. 500 juta;

b. Pengusaha restoran, bahan bangunan, dan bengkel sepeda motor dan


mobil;
c. Konsultan hukum, dokter, dan notaris;

d. Selebritis dan tokoh masyarakat;

e. Pejabat dan mantan pejabat eksekutif, baik di tingkat pusat maupun


daerah;

f. Pejabat dan mantan pejabat yudikatif, baik di tingkat pusat maupun


daerah; dan

g. Pejabat dan mantan pejabat legislatif serta calon anggota legislatif, baik di
tingkat pusat, provinsi maupun kabupaten/kota.

B. Fokus Pemeriksaan Kantor Wilayah DJP


Fokus pemeriksaan Kantor Wilayah DJP merupakan sasaran pemeriksaan sesuai dengan
fokus pemeriksaan nasional ditambah dengan Wajib Pajak dengan sektor usaha tertentu
yang merupakan kekhususan dari masing-masing Kantor Wilayah DJP, yang menjadi
sasaran pemeriksaan pada suatu Kantor Wilayah DJP dalam tahun 2009.
Fokus pemeriksaan Kantor Wilayah DJP disusun berdasarkan data yang berasal dari
masing-masing Kantor Wilayah DJP dan juga mempertimbangkan data Produk
Domestik Regional Bruto (PDRB), nilai koreksi hasil pemeriksaan, penerimaan Pajak
Penghasilan, audit coverage ratio, dan pengaduan masyarakat. Fokus pemeriksaan
Kantor Wilayah DJP ditetapkan hanya terhadap Wajib Pajak Badan sehingga fokus
pemeriksaan terhadap Wajib Pajak Orang Pribadi tetap mengacu pada fokus
pemeriksaan nasional. Fokus pemeriksaan Kantor Wilayah DJP ditetapkan dalam
Lampiran 1 s.d Lampiran 31.
II. TARGET PENERIMAAN DAN PENYELESAIAN PEMERIKSAAN
Target penerimaan merupakan jumlah penerimaan pajak yang diharapkan dapat direalisasikan
dari kegiatan pemeriksaan selama tahun 2009. Target penerimaan dari kegiatan pemeriksaan
secara nasional ditetapkan sebesar Rp. 13 triliun. Jumlah tersebut merupakan bagian dari
distribusi rencana penerimaan yang telah ditetapkan untuk masing-masing Kantor Wilayah
DJP sesuai dengan Surat Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-14/PJ./2009 tanggal
28 Januari 2009 dan perubahannya.
Target penyelesaian pemeriksaan merupakan jumlah minimal SP2 yang harus diselesaikan
oleh masing-masing UP2. Target penyelesaian pemeriksaan secara nasional dalam tahun 2009
ditetapkan kurang lebih 68.000 SP2. Target tersebut ditetapkan berdasarkan data yang
disampaikan oleh masing-masing Kepala Kantor Wilayah DJP. Target penerimaan pada
masing-masing Kantor Wilayah DJP dan target penyelesaian pemeriksaan pada masing-
masing UP2 terdapat dalam Lampiran 1 s.d Lampiran 32.
Target penyelesaian pemeriksaan mencakup penyelesaian pemeriksaan untuk
menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dan penyelesaian pemeriksaan
untuk tujuan lain, dengan urutan prioritas sebagai berikut:

1. Pemeriksaan Rutin SPT Lebih Bayar;


2. Pemeriksaan Rutin atau Pemeriksaan untuk Tujuan Lain, yang terkait
dengan pemberian NPWP secara jabatan, penghapusan NPWP,
pengukuhan Pengusaha Kena Pajak, atau pencabutan pengukuhan Pengusaha Kena
Pajak;

3. Pemeriksaan Khusus atau Pemeriksaan untuk Tujuan Lain, yang batas


waktu penyelesaian pemeriksaannya ditentukan dalam surat instruksi pemeriksaan;
dan

4. Pemeriksaan Rutin selain tersebut pada angka 1 dan angka 2.

III. STRATEGI DAN JADWAL PENYELESAIAN PEMERIKSAAN


Strategi dan jadwal penyelesaian pemeriksaan dalam tahun 2009 ditetapkan dalam Lampiran
33. Strategi dan jadwal penyelesaian tersebut menentukan besarnya persentase penyelesaian
yang harus dicapai oleh masing-masing UP2 per triwulan untuk tiap-tiap kriteria
pemeriksaan. Terhadap tunggakan pemeriksaan sebelum tahun 2009 sebagaimana terdapat
pada kolom (7) Lampiran 1 s.d Lampiran 32, harus diselesaikan paling lambat pada akhir
triwulan ketiga tahun 2009. Tunggakan pemeriksaan pada akhir tahun 2009 tidak melebihi
30% (tiga puluh persen) dari jumlah Lembar Penugasan Pemeriksaan (LP2) yang terbit
selama tahun 2009.
Untuk kepentingan manajemen penyelesaian pemeriksaan, Kepala Kantor Wilayah DJP dapat
merelokasi tenaga fungsional pemeriksa pajak dari satu UP2 ke UP2 lainnya dalam wilayah
kerjanya yang bersifat bantuan sementara (ad hoc) dan memberitahukan kepada Sekretaris
Direktorat Jenderal Pajak dengan tembusan kepada Direktur Pemeriksaan dan Penagihan.
IV. SATUAN TUGAS (SATGAS) PEMERIKSAAN

A. Umum
Konsekuensi dari pembentukan Kantor Pelayanan Pajak Pratama (KPP Pratama) adalah
adanya suatu keharusan bahwa pelaksanaan pemeriksaan pada KPP Pratama sebagai
UP2 dilakukan oleh pejabat fungsional pemeriksa pajak. Terbatasnya jumlah pejabat
fungsional pemeriksa pajak yang ada menyebabkan penambahan jumlah pemeriksa
pajak untuk memenuhi kebutuhan minimal pemeriksa pajak pada masing-masing KPP
Pratama belum dapat dipenuhi dengan segera sehingga dapat menimbulkan
ketimpangan antara volume pemeriksaan dengan jumlah tenaga pemeriksa pajak.
Untuk mengatasi kondisi tersebut dan untuk membantu kelancaran
pelaksanaan pemeriksaan pada KPP Pratama di seluruh Indonesia maka dibentuk
Satgas Pemeriksaan.
B. Satgas Pemeriksaan pada KPP Pratama

1. Kepala KPP Pratama dapat membentuk Satgas Pemeriksaan yang berasal dari
pegawai yang bukan pejabat fungsional pemeriksa pajak untuk memenuhi
kebutuhan minimal pemeriksa pajak sebagaimana terdapat pada kolom (4)
Lampiran 1 s.d Lampiran 31. Jumlah maksimal anggota Satgas Pemeriksaan
pada masing-masing KPP Pratama adalah selisih antara jumlah kebutuhan
minimal pemeriksa pajak dengan jumlah pejabat fungsional pemeriksa pajak
yang ada di KPP Pratama.

2. Satgas Pemeriksaan pada KPP Pratama dapat melakukan pemeriksaan untuk


menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan maupun untuk tujuan lain.

3. Pegawai yang dapat ditunjuk sebagai anggota Satgas Pemeriksaan adalah


pegawai selain Account Representatif (AR), Juru Sita Pajak Negara, Pejabat
Fungsional Penilai, yang memenuhi syarat sebagai berikut:

a. Untuk Ketua Tim adalah pelaksana dengan ijazah paling rendah Diploma
III dan berpangkat paling rendah Pengatur Tingkat I (golongan ruang
II/d);

b. Untuk Anggota Tim adalah pelaksana dengan ijazah paling rendah


Sekolah Menengah Umum/yang sederajat dan berpangkat paling rendah
Pengatur Muda Tingkat I (golongan ruang II/b);

c. Memiliki kemampuan untuk melakukan pemeriksaan


dengan mempertimbangkan riwayat pekerjaan pegawai
yang bersangkutan; dan

d. Setiap unsur penilaian pelaksanaan pekerjaan (DP3) sekurang-kurangnya


bernilai baik dalam 1 (satu) tahun terakhir.

4. Jabatan Supervisor dalam susunan tim pemeriksa pajak harus diduduki oleh
pejabat fungsional pemeriksa pajak.

5. Dalam hal terdapat penambahan jumlah pejabat fungsional pemeriksa pajak yang
definitif pada suatu KPP Pratama, maka jumlah anggota Satgas Pemeriksaan
harus dikurangi sejumlah penambahan pejabat fungsional pemeriksa pajak
tersebut dan pelaksanaan pemeriksaan oleh anggota Satgas Pemeriksaan
dialihkan kepada pejabat fungsional pemeriksa pajak dengan membuat surat
tugas perubahan tim pemeriksa pajak.

C. Satgas Pemeriksaan pada KPP selain KPP Pratama

1. Kepala KPP di lingkungan Kantor Wilayah DJP Wajib Pajak Besar dan Kantor
Wilayah DJP Jakarta Khusus serta KPP Madya juga dapat membentuk Satgas
Pemeriksaan untuk memenuhi kebutuhan minimal pemeriksa pajak sebagaimana
terdapat pada kolom (4) Lampiran 1 s.d Lampiran 31.

2. Satgas Pemeriksaan dibentuk hanya untuk membantu penyelesaian pelaksanaan


Pemeriksaan untuk Tujuan Lain.

3. Satgas Pemeriksaan yang dibentuk hanya untuk Anggota Tim dan Ketua Tim,
sedangkan jabatan Supervisor harus diduduki oleh pejabat fungsional pemeriksa
pajak.

4. Pegawai yang dapat ditunjuk sebagai anggota Satgas Pemeriksaan adalah


pegawai selain Account Representatif (AR), Juru Sita Pajak Negara, Pejabat
Fungsional Penilai, yang memenuhi syarat sebagai berikut:

a. Untuk Ketua Tim adalah pelaksana dengan ijazah paling rendah Diploma
III dan berpangkat paling rendah Pengatur Tingkat I (golongan ruang
II/d);

b. Untuk Anggota Tim adalah pelaksana dengan ijazah paling rendah


Sekolah Menengah Umum/yang sederajat dan berpangkat paling rendah
Pengatur Muda Tingkat I (golongan ruang II/b);

c. Memiliki kemampuan untuk melakukan pemeriksaan


dengan mempertimbangkan riwayat pekerjaan pegawai
yang bersangkutan; dan

d. Setiap unsur penilaian pelaksanaan pekerjaan (DP3) sekurang-kurangnya


bernilai baik dalam 1 (satu) tahun terakhir.

D. Ketentuan Lain-Lain

1. Pegawai yang ditunjuk untuk menjadi anggota Satgas Pemeriksaan harus


disampaikan kepada Direktur Pemeriksaan dan Penagihan dengan menggunakan
formulir seperti terdapat pada lampiran 34 untuk didaftarkan dalam Sistem
Informasi Manajemen Pemeriksaan Pajak/Modul Pemeriksaan pada SIDJP.

2. Setiap terjadi perubahan anggota Satgas Pemeriksaan harus disampaikan kepada


Direktur Pemeriksaan dan Penagihan.

Demikian Surat Edaran ini disampaikan untuk dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal 24 Februari 2009
Direktur Jenderal Pajak,

ttd,
Darmin Nasution
NIP 130605098

Tembusan:

1. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak;

2. Para Direktur dan Tenaga Pengkaji;

3. Kepala Pusat Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan.


SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
NOMOR SE - 21/PJ/2009

TENTANG

PENEGASAN SEHUBUNGAN DENGAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK


NOMOR PER-7/PJ/2008 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DIREKTUR
JENDERAL PAJAK NOMOR PER-24/PJ/2008 TENTANG SURAT PEMBERITAHUAN
TAHUNAN PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK BADAN DAN SURAT
PEMBERITAHUAN
TAHUNAN PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI BESERTA
PETUNJUK
PENGISIANNYA

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Sehubungan dengan ditetapkannya Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor 7/PJ/2009 tentang
Perubahan Atas Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-24/PJ/2008 tentang Surat
Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan dan Surat Pemberitahuan
Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Orang Pribadi Beserta Petunjuk Pengisiannya, dengan
ini disampaikan hal-hal sebagai berikut :

1. Untuk mendukung program ekstensifikasi Wajib Pajak Orang Pribadi perlu meningkatkan
batasan jumlah penghasilan orang pribadi yang dapat menggunakan formulir Surat
Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Orang Pribadi Sangat Sederhana
(SPT 1770 SS).

2. Batasan pengguna formulir SPT 1770 SS adalah Wajib Pajak yang mempunyai
penghasilan hanya dari satu pemberi kerja dengan jumlah penghasilan bruto dari
pekerjaan tidak lebih dari Rp. 60.000.000,- (enam puluh juta rupiah) setahun dan tidak
mempunyai penghasilan lain kecuali penghasilan bunga bank dan/atau bunga koperasi.

3. Sehubungan dengan telah selesainya pencetakan formulir SPT Tahunan PPh Tahun 2008,
maka kepada Wajib Pajak diperkenankan untuk menyampaikan SPT 1770 SS dengan
menggunakan formulir lama.

4. Para Kepala Kantor Wilayah dan Kepala Kantor Pelayanan Pajak agar melakukan
sosialisasi kepada para Wajib Pajak di lingkungan wilayah kerja masing-masing.

Demikian untuk diketahui dan dilaksanakan sebaik-baiknya.


Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 24 Februari 2009
Direktur Jenderal,

ttd.

Darmin Nasution
NIP 130605098
SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
NOMOR SE - 23/PJ./2009

TENTANG

PERUBAHAN SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR SE-70/PJ/2008


TANGGAL 12 DESEMBER 2008 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PELAYANAN
PENDAFTARAN NPWP TERKAIT DENGAN PEMBERLAKUAN UNDANG-UNDANG
NOMOR 36 TAHUN 2008
TENTANG PERUBAHAN KEEMPAT ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1983
TENTANG PAJAK PENGHASILAN

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Dalam rangka memberikan pelayanan kepada Wajib Pajak dalam pendaftaran NPWP
sehubungan masih banyaknya permohonan pendaftaran NPWP dan terkait dengan perpanjangan
Sunset Policy, dipandang perlu dilakukan perubahan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak
Nomor SE-70/PJ/2008 tanggal 12 Desember 2008 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pelayanan
Pendaftaran NPWP Terkait Dengan Pemberlakuan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008
Tentang Perubahan Keempat Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak
Penghasilan, sebagai berikut :

Ketentuan angka 8 diubah sehingga menjadi berbunyi sebagai berikut :

"8. Ketentuan penyelesaian pendaftaran NPWP sebagaimana diatur dalam angka 4 dan angka 5
diatas berlaku sampai dengan tanggal 28 Februari 2009.

Demikian disampaikan untuk dilaksanakan sebaik-baiknya.

Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal 24 Februari 2009
Direktur Jenderal

ttd

Darmin Nasution
NIP 130605098
Tembusan :

1. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak.

2. Para Direktur, Tenaga Pengkaji dan Kapus PDDP di Lingkungan DJP.

SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK


NOMOR : SE - 17/PJ/2009

TENTANG

PENETAPAN BAHAN, BENTUK, UKURAN, WARNA, DAN ISI


KARTU NOMOR POKOK WAJIB PAJAK

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Dalam rangka penyeragaman bahan, bentuk, ukuran, warna, dan isi Kartu Nomor Pokok Wajib
Pajak yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Pajak, dengan ini perlu disampaikan hal-hal
sebagai berikut:

A. Kartu Nomor Pokok Wajib Pajak yang selanjutnya disebut dengan Kartu NPWP adalah
kartu yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Pajak yang berisikan NPWP dan identitas
lainnya sebagai sarana dalam administrasi perpajakan dan dipergunakan sebagai tanda
pengenal diri atau identitas Wajib Pajak dalam melaksanakan hak dan kewajiban
perpajakannya.

B. Sehubungan dengan beragamnya bahan, bentuk, ukuran, warna, dan isi Kartu NPWP
yang diterbitkan dan saat ini beredar, maka perlu diatur ketentuan mengenai bahan,
bentuk, ukuran, warna, dan isi Kartu NPWP sebagai berikut:

1. Bentuk dan isi Kartu NPWP berpedoman pada ketentuan sebagaimana diatur
dalam Lampiran Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor 44/PJ/2008 tanggal 20
Oktober 2008 tentang Tata Cara Pendaftaran Nomor Pokok Wajib Pajak dan/atau
Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak, Perubahan Data dan Pemindahan Wajib
Pajak dan/atau Pengusaha Kena Pajak dengan beberapa penyempurnaan.

2. Bahan, bentuk, ukuran, warna, dan isi Kartu NPWP diatur sebagai berikut:

a. Kartu dibuat dari bahan/media Poly Vinnyl Chlorida (PVC) dan


Composite Card.

b. Berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran 8,5 cm x 5,4 cm.


c. Gambar/cetakan dasar berwarna dark gold metalic pada bagian atas dan
light silver metalic pada bagian bawah.

d. Isi pada Kartu NPWP terbagi atas dua bagian, yaitu bagian depan dan
bagian belakang sebagai berikut:

1) Bagian depan:

Lambang/logo Departemen Keuangan RI berwarna


dengan warna dasar biru;

Teks DEPARTEMEN KEUANGAN RI dan DIREKT


JENDERAL PAJAK berwarna hitam;

Teks DIREKTORAT JENDERAL PAJAK dalam


kecil berwarna putih sebagai background;

Identitas Wajib Pajak yaitu NPWP, nama dan alamat


Pajak serta tanggal terdaftar berwarna hitam.

2) Bagian belakang:

o Artificial magnetic berwarna hitam;

o Teks: PERHATIAN

Kartu ini harap disimpan baik-baik dan apabila


agar segera melapor ke Kantor Pelayanan Pajak terdaftar.

NPWP agar dicantumkan dalam hal berhu


dengan dokumen perpajakan.

Dalam hal Wajib Pajak pindah domisili,


melaporkan diri ke Kantor Pelayanan Pajak lama atau Kantor Pelayanan
baru.

o Alamat website Direktorat Jenderal Pajak www.pajak


berwarna biru dan Kring Pajak 500200 dalam bentuk logo.

o Teks BERSAMA ANDA MEMBANGUN BAN


berwarna hitam.

2 Ketentuan lebih lanjut mengenai spesifikasi dan standar penulisan identitas Wajib
Pajak pada Kartu NPWP adalah sebagaimana terlampir dalam Surat Edaran ini.
2 Terhadap Kartu NPWP selain sebagaimana dimaksud pada Lampiran Surat Edaran
Direktur Jenderal Pajak ini, diatur sebagai berikut:

1 Kartu NPWP yang telah beredar atau dimiliki oleh Wajib Pajak tersebut tetap
berlaku.

2 Dalam hal terdapat Kartu NPWP yang masih tersisa, Kartu NPWP tersebut masih
dapat digunakan.

3 Dengan adanya Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini, maka spesifikasi Kartu NPWP
sebagaimana diatur dalam Lampiran I Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor: SE-
13/PJ.01/2007 tanggal 26 April 2007 dinyatakan tidak berlaku.

Demikian untuk menjadi perhatian dan dilaksanakan sebaik-baiknya.

Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal 19 Februari 2009
Direktur Jenderal

ttd

Darmin Nasution
NIP 130605098

Tembusan:

1. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak;

2. Para Direktur dan Tenaga Pengkaji di lingkungan DJP.


SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
NOMOR SE - 15/PJ/2009

TENTANG

PENGGUNAAN DROP BOX SEBAGAI MEDIA PENYAMPAIAN SPT TAHUNAN


DAN SPANDUK SOSIALISASINYA

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Dalam rangka meningkatkan pelayanan dan memberikan berbagai kemudahan kepada Wajib
Pajak sehubungan dengan akan berakhirnya batas penyampaian SPT Tahunan, dengan ini
disampaikan hal-hal sebagai berikut :
1. Kantor Pelayanan Pajak dan Kantor Penyuluhan Pelayanan dan Konsultasi Perpajakan
(KP2KP) di seluruh Indonesia agar menyediakan Drop Box dan memasang spanduk
sosialisasinya dan menempatkannya pada lokasi-lokasi yang strategis sesegera mungkin.

2. Ukuran Drop Box adalah panjang 50 cm, lebar 37 cm, dan tinggi 80 cm dengan
pembatas ditengahnya, bahan dapat dibuat dari kardus, triplek atau bahan lain yang dapat
membentuk kotak (box). Sedangkan spanduk berukuran panjang 10 m dan lebar 1,5
meter.

3. Contoh dan disainnya dapat didownload/diunduh pada website Direktorat Penyuluhan


Pelayanan dan Hubungan Masyarakat 10.254.150.215.

Demikian disampaikan untuk dimaklumi.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 16 Februari 2009
Direktur Jenderal,

ttd.

Darmin Nasution
NIP 130605098

Tembusan :

1. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak

2. Para Direktur dan Tenaga Pengkaji di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak

3. Kepala Pusat Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan

SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK


NOMOR SE - 1/PJ.04/2009

TENTANG

PENGANTAR PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK


NOMOR PER-4/PJ/2009 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PENCATATAN
BAGI WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI
DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 3 Peraturan Menteri Keuangan Nomor


197/PMK.03/2007 tentang Tata Cara Pencatatan Bagi Wajib Pajak Orang Pribadi, perlu
menetapkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak tentang Petunjuk Pelaksanaan Pencatatan Bagi
Wajib Pajak Orang Pribadi. Peraturan Direktur Jenderal Pajak tersebut menggantikan Keputusan
Direktur Jenderal Pajak Nomor 520/PJ/2000 tentang Bentuk dan Tata Cara Pencatatan Bagi
Wajib Pajak Orang Pribadi.

Hal-hal penting yang perlu diperhatikan terkait dengan Peraturan Direktur Jenderal Pajak
tersebut adalah :

1. Wajib Pajak orang pribadi yang tidak diwajibkan menyelenggarakan pembukuan tetapi
wajib menyelenggarakan pencatatan adalah :

a. Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha dan/atau pekerjaan
bebas yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan
memilih untuk menghitung penghasilan neto dengan menggunakan Norma
Penghitungan Penghasilan Neto;dan

b. Wajib Pajak orang pribadi yang tidak melakukan kegiatan usaha dan/atau
pekerjaan bebas.

2. Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha dan/atau pekerjaan bebas yang
bermaksud menyelenggarakan pencatatan harus memperhatikan ketentuan tentang
batasan peredaran dan/atau penerimaan bruto bagi Wajib Pajak yang diperbolehkan
menghitung penghasilan neto dengan menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan
Neto sebagaimana diatur dalam Pasal 14 ayat (7) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983
tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan
Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008.

3. Wajib Pajak orang pribadi sebagaimana dimaksud pada angka 1 huruf a yang
bermaksud menyelenggarakan pencatatan harus memiliki catatan-catatan meliputi:

a. peredaran dan/atau penerimaan bruto yang diterima dari kegiatan usaha


dan/atau pekerjaan bebas yang penghasilannya merupakan objek pajak yang tidak
dikenai pajak bersifat final;

b. penghasilan bruto yang diterima dari luar kegiatan usaha dan/atau pekerjaan bebas
yang penghasilannya merupakan objek pajak yang tidak dikenai pajak bersifat
final, termasuk biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan, menagih, dan
memelihara penghasilan tersebut; dan/atau
c. penghasilan yang bukan objek pajak dan/atau penghasilan yang pengenaan
pajaknya bersifat final, baik yang berasal dari kegiatan usaha dan/atau pekerjaan
bebas maupun dari luar kegiatan usaha dan/atau pekerjaan bebas.

4. Selain harus menyelenggarakan pencatatan sebagaimana dimaksud dalam angka 3, Wajib


Pajak orang pribadi sebagaimana dimaksud dalam angka 1 huruf a harus
menyelenggarakan pencatatan atas harta dan kewajiban baik yang digunakan untuk
melaksanakan kegiatan usaha dan/atau pekerjaan bebas maupun yang tidak digunakan
untuk melaksanakan kegiatan usaha dan/atau pekerjaan bebas.

5. Bagi Wajib Pajak orang pribadi yang mempunyai lebih dari satu jenis usaha dan/atau
tempat usaha, pencatatan harus dapat menggambarkan secara jelas untuk masing-masing
jenis usaha dan/atau tempat usaha yang bersangkutan.

6. Wajib Pajak orang pribadi sebagaimana dimaksud dalam angka 1 huruf b harus memiliki
catatan-catatan sebagai berikut :

a. penghasilan bruto yang diterima yang merupakan objek pajak yang tidak dikenai
pajak bersifat final termasuk biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan,
menagih, dan memelihara penghasilan tersebut; dan/atau

b. penghasilan yang bukan objek pajak dan/atau penghasilan yang pengenaan


pajaknya bersifat final.

7. Selain harus menyelenggarakan pencatatan sebagaimana dimaksud dalam angka (6),


Wajib Pajak orang pribadi sebagaimana dimaksud dalam angka 1 huruf b harus
menyelenggarakan pencatatan atas harta dan kewajiban yang dimiliki.

8. Pencatatan yang diselenggarakan oleh Wajib Pajak orang pribadi harus memperhatikan
ketentuan sebagai berikut :

a. Pencatatan peredaran dan/atau penerimaan bruto dan/atau penghasilan bruto oleh


Wajib Pajak orang pribadi sebagaimana dimaksud pada angka 1 meliputi seluruh
peredaran dan/atau penerimaan dan/atau penghasilan bruto yang telah diterima
secara tunai.

b. Pencatatan harus dibuat dalam suatu Tahun Pajak, yaitu jangka waktu 1 (satu)
tahun kalender mulai tanggal 1 Januari sampai dengan 31 Desember.

c. Pencatatan harus dibuat secara kronologis dan sistematis berdasarkan urutan


tanggal diterimanya peredaran atau penerimaan bruto dan/atau penghasilan bruto.

d. Pencatatan dilakukan dengan menggunakan mata uang Rupiah sebesar nilai yang
sebenarnya terjadi dan disusun dalam bahasa Indonesia.
e. Pencatatan harus diselenggarakan dengan memperhatikan iktikad baik dan
memcerminkan keadaan yang sebenarnya serta didukung dengan dokumen yang
menjadi dasar pencatatan.

f. Catatan dan dokumen yang menjadi dasar pencatatan harus disimpan di tempat
tinggal Wajib Pajak atau tempat kegiatan usaha atau pekerjaan bebas dilakukan
selama 10 (sepuluh) tahun terhitung sejak berakhirnya Tahun Pajak.

9. Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha dan/atau pekerjaan bebas
sebagaimana dimaksud dalam angka 1 huruf a harus menyelenggarakan pencatatan
dengan bentuk sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran I, Lampiran II, dan Lampiran IV
Peraturan Direktur Jenderal Pajak tersebut.

10. Wajib Pajak orang pribadi yang tidak melakukan kegiatan usaha dan/atau pekerjaan bebas
sebagaimana dimaksud dalam angka 1 huruf b harus menyelenggarakan pencatatan
dengan bentuk sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran III dan Lampiran IV Peraturan
Direktur Jenderal Pajak tersebut.

11. Peraturan Direktur Jenderal Pajak tersebut mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 2009.

Demikian surat edaran ini disampaikan untuk diketahui dan dilaksanakan dengan sebaik-
baiknya.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 20 Januari 2009
Direktur Jenderal,

ttd.

Darmin Nasution
NIP 130605098

Tembusan :

1. Sekretaris Jenderal Departemen Keuangan;

2. Inspektur Jenderal Departemen Keuangan;

3. Kepala Biro Hukum Departemen Keuangan;

4. Kepala Biro Humas Departemen Keuangan;


5. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak;

6. Para Direktur, Kepala Pusat Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan, dan Tenaga
Pengkaji di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak..

SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK


NOMOR SE - 12/PJ./2009

TENTANG

PEMBENAHAN KLASIFIKASI LAPANGAN USAHA (KLU) PADA MASTER FILE

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Dalam rangka Pembenahan Master File yang ada di Direktorat Jenderal Pajak, bersama ini
diinstruksikan hal-hal sebagai berikut :

1. Seluruh Kantor Pelayanan Pajak agar melakukan pembenahan Klasifikasi Lapangan


Usaha (KLU-5 digit) sebagaimana diatur dalam Keputusan Direktur Jenderal Pajak
Nomor KEP-34/PJ./2003 tanggal 14 Februari 2003;

2. Pembenahan tersebut dilakukan terhadap KLU yang ada di Master File untuk disesuaikan
dengan keadaan Wajib Pajak yang sebenarnya di lapangan;

3. Pelaksanaan pembenahan ini dimulai terhadap 200 Wajib Pajak Besar KPP terlebih
dahulu;

4. Agar Para Kepala Kantor Wilayah mengawasi pelaksanaannya.


Demikian untuk dimaklumi dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal 4 Februari 2009
Direktur Jenderal,

ttd.

Darmin Nasution
NIP 130605098

Tembusan:

1. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak;

2. Para Direktur di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak;

3. Para Tenaga Pengkaji di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak;

4. Para Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak seluruh Indonesia.

SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK


NOMOR SE - 11/PJ/2009

TENTANG

PENGANTAR PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK


NOMOR PER-9/PJ/2009 TENTANG TEMPAT DAN CARA LAIN PENGAMBILAN SPT

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

sehubungan telah diterbitkannya Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-9/PJ/2009


tentang Tempat dan Cara Lain Pengambilan SPT, dengan ini disampaikan hal-hal sebagai berikut
:

1. Surat Pemberitahuan (SPT) yang merupakan suatu sarana yang digunakan oleh Wajib
Pajak untuk melaporkan kewajiban perpajakannya berbentuk :
a. Formulir kertas (hardcopy);atau

b. e-SPT

2. SPT yang berbentuk formulir kertas (hardcopy) dapat diambil langsung di tempat-tempat
sebagai berikut :

a. Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak;

b. Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak;

c. Kantor Pelayanan Pajak (KPP);

d. Kantor Pelayanan, Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP);

e. Pojok Pajak;

f. Mobil Pajak;

3. Pihak yang bertanggung jawab untuk menyediakan seluruh jenis SPT yang berbentuk
formulir kertas (hardcopy) pada tempat-tempat sebagaimana poin 2 adalah sebagai
berikut :

a. Penanggungjawab di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak adalah Direktorat P2


Humas.

b. Penanggungjawab di Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak adalah Bidang P2


Humas.

c. Penanggungjawab di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) adalah Seksi Pelayanan.

d. Penanggungjawab di Kantor Pelayanan, Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan


(KP2KP) adalah KP2KP terkait.

e. Penanggungjawab di Pojok Pajak adalah Bidang P2 Humas pada Kanwil DJP


yang menyelenggarakan Pojok Pajak.

f. Penanggungjawab di Mobil Pajak adalah Bidang P2 Humas pada Kanwil DJP


yang menyelenggarakan Mobil Pajak.

4. Untuk aplikasi e-SPT yang dapat digunakan untuk membuat SPT dalam bentuk data
elektronik (e-SPT) dapat diambil langsung di Kantor Pelayanan Pajak (KPP).

5. Pihak yang bertanggung jawab untuk menyediakan aplikasi e-SPT adalah Seksi
Pelayanan dari masing-masing Kantor Pelayanan Pajak (KPP).
6. SPT dan aplikasi e-SPT selain dapat diambil secara langsung oleh Wajib Pajak pada
tempat-tempat sebagaimana dimaksud dalam poin 2 dan poin 4 juga dapat dilakukan
dengan mengunduh/men-download dari situs internet Direktorat Jenderal Pajak dengan
alamat http://www.pajak.go.id.

7. Wajib Pajak dapat mencetak menggandakan dan/atau fotokopi sendiri SPT selama tidak
mengubah bentuk, ukuran dan isi SPT.

Demikian disampaikan untuk dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 4 Februari 2009
Direktur Jenderal,

ttd.

DARMIN NASUTION
NIP 130605098

Tembusan :

1. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak;

2. Para Tenaga Pengkaji di Lingkungan Kantor Pusat DJP;

3. Kepala Pusat Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan;


SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
NOMOR SE - 8/PJ/2009

TENTANG

PENEGASAN PENYAMPAIAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK


NOMOR 44/PJ/2008 TENTANG TATA CARA PENDAFTARAN NOMOR POKOK
WAJIB PAJAK DAN/ATAU PENGUKUHAN PENGUSAHA KENA PAJAK,
PERUBAHAN DATA DAN PEMINDAHAN WAJIB PAJAK DAN/ATAU PENGUSAHA
KENA PAJAK TERKAIT DENGAN PEMINDAHAN WAJIB PAJAK

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Sehubungan perlunya penegasan terkait dengan pemindahan Wajib Pajak yang sebelumnya
terdaftar dan/atau dikukuhkan pada Kantor Pelayanan Pajak berdasarkan Keputusan Direktur
Jenderal Pajak, dengan ini diberikan penegasan sebagai berikut :

1. Bab IV Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor 44/PJ/2008 tentang Tata Cara
Pendaftaran Nomor Pokok Wajib Pajak dan/atau Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak,
Perubahan Data dan Pemindahan Wajib Pajak dan/atau Pengusaha Kena Pajak, mengatur
Tata Cara Pemindahan Wajib Pajak dan/atau Pengusaha Kena Pajak.

2. Berkenaan dengan hal tersebut, dengan ini ditegaskan bahwa "Tata Cara Pemindahan
Wajib Pajak dan/atau Pengusaha Kena Pajak" sebagaimana dimaksud pada butir 1 di atas
hanya berlaku untuk Wajib Pajak dan/atau Pengusaha Kena Pajak yang pindah antar KPP
Pratama.

3. Untuk memudahkan pelaksanaannya, penyimpanan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak


ini agar disatukan dengan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-65/PJ/2008
tentang Penyampaian Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor 44/PJ/2008 tentang Tata
Cara Pendaftaran Nomor Pokok Wajib Pajak dan/atau Pengukuhan Pengusaha Kena
Pajak, Perubahan Data dan Pemindahan Wajib Pajak dan/atau Pengusaha Kena Pajak.

4. Para Kepala Kantor Wilayah dan para Kepala Kantor Pelayanan Pajak agar
memperhatikan dengan sungguh-sungguh Surat Edaran ini, serta dapat mensosialisasikan
kepada jajaran di bawahnya dengan sebaik-baiknya dan sebagaimana mestinya.

Demikian untuk menjadi perhatian dan dilaksanakan sebaik-baiknya.


Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal 22 Januari 2009
Direktur Jenderal,

ttd.

Darmin Nasution
NIP 130605098

Tembusan :

1. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak.

2. Para Direktur dan Tenaga Pengkaji di lingkungan DJP.


SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
NOMOR SE - 146/PJ/2010

TENTANG

PENYAMPAIAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-62/PJ/2010


TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
NOMOR 44/PJ/2008 TENTANG TATA CARA PENDAFTARAN NOMOR POKOK WAJIB
PAJAK DAN/ATAU PENGUKUHAN PENGUSAHA KENA PAJAK, PERUBAHAN DATA
DAN
PEMINDAHAN WAJIB PAJAK DAN/ATAU PENGUSAHA KENA PAJAK

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Sehubungan dengan telah diterbitkannya Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-
62/PJ/2010 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor 44/PJ/2008
Tentang Tata Cara Pendaftaran Nomor Pokok Wajib Pajak dan/atau Pengukuhan Pengusaha Kena
Pajak, Perubahan Data dan Pemindahan Wajib Pajak dan/atau Pengusaha Kena Pajak, dengan ini
disampaikan pokok-pokok perubahan sebagai berikut:

1. Perbaikan prosedur pendaftaran Pengusaha Kena Pajak, yaitu perbaikan informasi pada
formulir pendaftaran Pengusaha Kena Pajak berupa penambahan kolom isian mengenai status
kepemilikan tempat kegiatan usaha;
2. Perbaikan prosedur konfirmasi lapangan dalam rangka menyakinkan keberadaan dan
kebenaran usaha Wajib Pajak dan/atau Pengusaha Kena Pajak, antara lain:
a. perubahan jangka waktu pelaksanaan konfirmasi dari 1 tahun menjadi paling lama 6
bulan sejak dikeluarkannya NPWP dan/atau NPPKP;
b. perubahan tata cara konfirmasi lapangan, berupa perbaikan tujuan konfirmasi lapangan
yaitu untuk membuktikan kebenaran pengisian formulir pendaftaran dan melakukan
penelitian kelayakan usaha.
c. Perubahan formulir Berita Acara Konfirmasi Lapangan, yang bertujuan untuk:
1) membuktikan kebenaran pengisian formulir pendaftaran Wajib Pajak
dan/atau Pengusaha Kena Pajak; dan
2) meneliti kelayakan usaha Wajib Pajak dan/atau Pengusaha Kena Pajak, yang
meliputi:
a) Peta tempat kegiatan usaha;
b) Foto tempat kegiatan usaha;
c) Gambaran kegiatan usaha;
d) Data peredaran usaha;
e) Daftar harta di tempat kegiatan usaha.
3. Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-62/PJ/2010 mulai berlaku pada tanggal
ditetapkan.

Demikian untuk menjadi pedoman dalam pelaksanaan di lapangan.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 22 Desember 2010
Direktur Jenderal,

ttd.

Mochamad Tjiptardjo
NIP 195104281975121002

Tembusan:

1. Sekretaris Jenderal Departemen Keuangan; .

2. Inspektur Jenderal Kementerian Keuangan;

3. Kepala Biro Hukum Kementerian Keuangan;

4. Kepala Biro Humas Kementerian Keuangan;

5. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak;

6. Para Direktur dan Tenaga Pengkaji di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak;

7. Kepala Pusat Pengolahan data Dokumen Perpajakan.


SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
NOMOR SE - 139/PJ/2010

TENTANG

PENETAPAN RASIO TOTAL BENCHMARKING TAHAP V

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Menindaklanjuti ketentuan angka 7 (tujuh) Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-
96/PJ/2009 tanggal 5 Oktober 2009 tentang Rasio Total Benchmarking Dan Petunjuk
Pemanfaatannya, dan sehubungan dengan telah selesainya penghitungan rasio total
benchmarking untuk beberapa sektor usaha tertentu, dengan ini diberitahukan hal-hal sebagai
berikut :

1. kelompok usaha yang telah selesai dilakukan penghitungan rasio-rasio benchmark untuk
tahap V sebanyak 15 (lima belas) KLU sebagaimana tercantum dalam lampiran surat edaran
ini;
2. rasio-rasio yang dilakukan benchmarking tetap terdiri dari 14 (empat belas) rasio, yaitu :

a. Gross Profit Margin (GPM),

b. Operating Profit Margin (OPM),

c. Pretax Profit Margin (PPM),

d. Corporate Tax to Turn Over Ratio (CTTOR),

e. Net Profit Margin (NPM),

f. Dividend Payout Ratio (DPR),


g. rasio PPN Masukan terhadap penjualan,

h. rasio biaya gaji terhadap penjualan,

i. rasio biaya bunga terhadap penjualan,

j. rasio biaya sewa terhadap penjualan,

k. rasio biaya penyusutan terhadap penjualan,

l. rasio "input antara" lainnya terhadap penjualan,

m. rasio penghasilan luar usaha terhadap penjualan, dan

n. rasio biaya luar usaha terhadap penjualan.

3. pemanfaat rasio-rasio total benchmarking tetap mengacu pada Surat Edaran Direktur Jenderal
Pajak nomor SE-96/PJ/2009 tanggal 5 Oktober 2009 tentang Rasio Total Benchmarking Dan
Petunjuk Pemanfaatannya;
4. memerintahkan kepada para Kepala Kantor Wilayah DJP agar memantau pelaksanaan
pemanfaatan Total Benchmarking oleh Kantor Pelayanan Pajak;
5. surat edaran ini merupakan pelengkap atas Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak nomor SE-
96/PJ/2009 tanggal 5 Oktober 2009 tentang Rasio Total Benchmarking Dan Petunjuk
Pemanfaatannya, dan untuk mempermudah pemahaman dan penyimpanan arsip, agar Surat
Edaran Direktur Jenderal Pajak ini disatukan penyimpanannya dengan Surat Edaran Direktur
Jenderal Pajak nomor SE-96/PJ/2009, SE-11/PJ/2010, SE-68/PJ/2010, dan SE-105/PJ/2010.

Demikian surat edaran ini disampaikan untuk dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 17 Desember 2010
Direktur Jenderal,

ttd.

Mochamad Tjiptardjo
NIP 195104281975121002

Tembusan :

1. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak


2. Para Direktur dan Tenaga Pengkaji di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak

3. Kepala Pusat Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan

SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK


NOMOR : SE - 138/PJ/2010

TENTANG

PENYAMPAIAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-53/PJ/2010


TENTANG TATA CARA PENGAJUAN DAN PENYELESAIAN PERMOHONAN
PENGEMBALIAN
KELEBIHAN PEMBAYARAN PAJAK YANG SEHARUSNYA TIDAK TERUTANG
BERKAITAN
DENGAN SPTNP ATAU SPKTNP, KEPUTUSAN KEBERATAN, PUTUSAN BANDING,
ATAU
PUTUSAN PENINJAUAN KEMBALI

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,


Sehubungan dengan telah diterbitkannya Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-
53/PJ/2010 tentang Tata Cara Pengajuan dan Penyelesaian Permohonan Pengembalian Kelebihan
Pembayaran Pajak yang Seharusnya Tidak Terutang Berkaitan Dengan SPTNP atau SPKTNP,
Keputusan Keberatan, Putusan Banding, atau Putusan Peninjauan Kembali, dengan ini
disampaikan hal-hal yang perlu menjadi perhatian sebagai berikut:
1. Pengembalian kelebihan pembayaran pajak yang seharusnya tidak terutang sebagaimana
dimaksud dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak tersebut adalah untuk jenis pajak PPh
Pasal 22 Impor, PPN Impor, dan/atau PPnBM Impor yang tercantum dalam SPTNP atau
SKPTNP, SPKPBM, SPTNP, atau SPP yang telah diterbitkan Keputusan Keberatan;
SPKPBM, SPTNP, atau SPP yang telah diterbitkan Keputusan Keberatan dan Putusan
Banding; SPKPBM, SPTNP, atau SPP yang telah diterbitkan Keputusan Keberatan, Putusan
Banding, dan Putusan Peninjauan Kembali; SPKTNP yang telah diterbitkan Putusan
Banding; atau SPKTNP yang telah diterbitkan Putusan Banding dan Putusan Peninjauan
Kembali.
2. Permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak yang seharusnya tidak terutang
sebagaimana tersebut dalam angka 1 di atas dapat diajukan dengan menggunakan formulir
sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran I Peraturan Direktur Jenderal Pajak tersebut.
3. Permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak yang seharusnya tidak terutang
dinyatakan diterima secara lengkap dalam hal diajukan oleh Wajib Pajak kepada Direktur
Jenderal Pajak u.p. Kepala Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar dan/atau
tempat Pengusaha Kena Pajak dikukuhkan (Kepala KPP) dengan ketentuan memenuhi
persyaratan sebagai berikut:
a. diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia;
b. mengemukakan alasan, jenis, jumlah, dan perhitungan pajak yang diajukan permohonan
pengembalian pajak yang seharusnya tidak terutang;
c. 1 (satu) permohonan untuk 1 (satu) SPTNP, 1 (satu) SPKTNP, 1 (satu) Keputusan
Keberatan, 1 (satu) Putusan Banding, atau 1 (satu) Putusan Peninjauan Kembali; dan
d. ditandatangani oleh Wajib Pajak, atau dalam hal permohonan ditandatangani oleh bukan
Wajib Pajak harus dilampiri dengan Surat Kuasa Khusus sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 32 Undang-Undang KUP;
dan harus dilampiri:
1 fotokopi dokumen yang menyebabkan kelebihan pembayaran pajak;
)
2 asli bukti pembayaran pajak; dan
)
3 surat pernyataan bahwa pajak yang diminta kembali belum dan tidak akan dikreditkan
) dan/atau dibiayakan.
Asli bukti pembayaran pajak dapat berupa Surat Setoran Pajak (SSP), Surat Setoran Bea dan
Cukai (SSBC), atau Surat Setoran Pabean, Cukai, Pajak Dalam Rangka Impor (SSPCP).
Terhadap permohonan yang tidak memenuhi ketentuan di atas, Kepala KPP menerbitkan
surat permintaan pemenuhan persyaratan dan/atau lampiran permohonan kepada Wajib Pajak
dengan menggunakan formulir sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran II Peraturan Direktur
Jenderal Pajak tersebut paling lama 7 (tujuh) hari sejak surat permohonan Wajib Pajak
diterima.
4. Dalam hal Wajib Pajak tidak memenuhi surat permintaan pemenuhan persyaratan dan/atau
lampiran dalam jangka waktu 2 (dua) minggu sejak surat permintaan dikirimkan, Kepala KPP
menerbitkan surat pemberitahuan penolakan kepada Wajib Pajak dengan menggunakan
formulir sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran III Peraturan Direktur Jenderal Pajak
tersebut paling lama 7 (tujuh) hari sejak jangka waktu 2 (dua) minggu tersebut dilewati.
5. Kepala KPP membuat permintaan konfirmasi kebenaran pembayaran kepada bank atau
pemungut dalam hal data pembayaran Wajib Pajak tidak tersedia di Modul Penerimaan
Negara (MPN) paling lama 7 (tujuh) hari sejak bukti pembayaran pajak diterima. Dalam hal
pembayaran dilakukan melalui Pemungut, konfirmasi kebenaran pembayaran dikirimkan
kepada Kantor Direktorat Jenderal Bea dan Cukai terkait.
6. Kepala KPP melakukan permintaan konfirmasi kebenaran dan legalisasi dokumen sesuai
Pasal 11 PER-53/PJ/2010 kepada Direktur Jenderal Bea dan Cukai dalam hal ini Kantor
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai penerbit dokumen tersebut dengan menggunakan formulir
sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran IV Peraturan Direktur Jenderal Pajak tersebut
paling lama 7 (tujuh) hari sejak dokumen tersebut diterima.
7. Dokumen sebagaimana dimaksud pada angka 6 adalah:
a. fotokopi SPTNP atau SPKTNP;
b. fotokopi Keputusan Keberatan;
c. fotokopi salinan Putusan Banding; atau
d. fotokopi salinan Putusan Peninjauan Kembali.
8. Berdasarkan Laporan Penelitian sebagaimana dimaksud dalam Lampiran V Peraturan
Direktur Jenderal Pajak tersebut Kepala KPP menerbitkan keputusan atas permohonan
pengembalian kelebihan pembayaran pajak yang seharusnya tidak terutang paling lama dalam
jangka waktu 3 (tiga) bulan sejak permohonan dinyatakan diterima secara lengkap.
9. Dalam hal berdasarkan hasil penelitian:
a. tidak terdapat kelebihan pembayaran pajak yang seharusnya tidak terutang;
b. jawaban konfirmasi belum diterima; dan/atau
c. jawaban konfirmasi adalah "tidak ada" dan/atau "tidak benar";
Kepala KPP menerbitkan surat pemberitahuan penolakan kepada Wajib Pajak dengan
menggunakan formulir sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran III Peraturan Direktur
Jenderal Pajak tersebut paling lama dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan sejak permohonan
dinyatakan diterima secara lengkap.
10. Dalam hal kepada Wajib Pajak diberikan pengembalian kelebihan pembayaran pajak yang
seharusnya tidak terutang, asli bukti pembayaran harus diberi tanda dan diparaf untuk
menunjukkan bahwa terhadap bukti pembayaran telah diberikan pengembalian kelebihan
pembayaran pajak yang seharusnya tidak terutang. Asli bukti pembayaran telah diberi tanda
dan diparaf tersebut kemudian difotokopi untuk arsip dan kemudian asli bukti pembayaran
dikembalikan kepada Wajib Pajak paling lama 7 (tujuh) hari sejak tanggal Surat Ketetapan
Pajak Lebih Bayar.
11. Permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak berupa PPh Pasal 22 Impor, PPN
Impor, dan/atau PPnBM Impor yang tercantum dalam:
- SPTNP atau SPKTNP;
- SPKPBM, SPTNP, atau SPP yang telah diterbitkan Keputusan Keberatan;
- SPKPBM, SPTNP, atau SPP yang telah diterbitkan Keputusan Keberatan dan Putusan
Banding;
- SPKPBM, SPTNP, atau SPP yang telah diterbitkan Keputusan Keberatan, Putusan
Banding, dan Putusan Peninjauan Kembali;
- SPKTNP yang telah diterbitkan Putusan Banding; atau
- SPKTNP yang telah diterbitkan Putusan Banding dan Putusan Peninjauan Kembali,
yang disampaikan sebelum berlakunya Peraturan Direktur Jenderal Pajak nomor PER-
53/PJ/2010 namun belum diselesaikan, maka Kepala KPP
a. Menyelesaikan permohonan Wajib Pajak paling lama 3 (tiga) bulan sejak tanggal PER-
53/PJ/2010 diterbitkan.
b. Memberitahukan kepada Wajib Pajak mengenai kekurangan persyaratan permohonan
sebagaimana dimaksud pada angka 3 dengan menggunakan formulir sebagaimana
ditetapkan dalam Lampiran VI Peraturan Direktur Jenderal Pajak tersebut paling lama 7
(tujuh) hari kerja sejak tanggal Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini diterbitkan.
c. Meminta konfirmasi:
i. bukti pembayaran pajak kepada bank atau pemungut dalam hal data bukti pembayaran
Wajib Pajak tidak tersedia di Modul Penerimaan Negara (MPN);
ii. kebenaran dan legalisasi dokumen ketetapan sebagaimana dimaksud pada angka 6
kepada Direktur Jenderal Bea dan Cukai, dalam hal ini Kantor Direktorat Jenderal
Bea dan Cukai yang menerbitkan dokumen ketetapan;
paling lama 1 (satu) bulan sejak tanggal Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini
diterbitkan.
12. Tata cara pengajuan dan penyelesaian permohonan pengembalian kelebihan pembayaran
pajak yang seharusnya tidak terutang adalah sebagaimana ditetapkan pada Lampiran Surat
Edaran Direktur Jenderal Pajak ini.

Demikian disampaikan untuk dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 15 Desember 2010
Direktur Jenderal,

ttd.

Mochamad Tjiptardjo
NIP 195104281975121002

Tembusan:

1. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak;

2. Para Direktur dan Tenaga Pengkaji di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak;

3. Kepala Pusat Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan.


SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
NOMOR SE - 133/PJ/2010

TENTANG

PETUNJUK PELAKSANAAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR


45/PMK.03/2009 TENTANG TATA CARA PENGAWASAN,
PENGADMINISTRASIAN, PEMBAYARAN, SERTA PELUNASAN PAJAK
PERTAMBAHAN NILAI DAN/ATAU PAJAK PENJUALAN ATAS BARANG
MEWAH ATAS PENGELUARAN DAN/ATAU PENYERAHAN BARANG
KENA PAJAK DAN/ATAU JASA KENA PAJAK DARI KAWASAN BEBAS KE
TEMPAT LAIN DALAM DAERAH PABEAN DAN PEMASUKAN DAN/ATAU
PENYERAHAN BARANG KENA PAJAK DAN/ATAU JASA KENA PAJAK
DARI TEMPAT LAIN DALAM DAERAH PABEAN KE KAWASAN BEBAS
SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH DENGAN PERATURAN MENTERI
KEUANGAN NOMOR 240/PMK.03/2009

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Sehubungan dengan telah ditetapkannya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 240/PMK.03/2009


tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 45/PMK.03/2009 tentang Tata Cara
Pengawasan, Pengadministrasian, Pembayaran, serta Pelunasan Pajak Pertambahan Nilai
dan/atau Pajak Penjualan atas Barang Mewah atas Pengeluaran dan/atau Penyerahan Barang
Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak dari Kawasan Bebas ke Tempat Lain Dalam Daerah
Pabean dan Pemasukan dan/atau Penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak dari
Tempat Lain Dalam Daerah Pabean ke Kawasan Bebas dan diterbitkannya Keputusan Menteri
Keuangan Nomor 426/KMK.03/2010 tentang Penugasan Pejabat/Pegawai Direktorat Jenderal
Pajak Dalam Rangka Pengawasan atas Pemasukan Barang dari Tempat Lain Dalam Daerah
Pabean ke Kawasan Bebas Batam, Bintan, dan Karimun, maka dalam rangka pelaksanaan
Peraturan dan Keputusan Menteri Keuangan tersebut dan meningkatkan pelayanan kepada Wajib
Pajak di Kawasan Bebas, dengan ini perlu disampaikan dan ditegaskan lebih lanjut mengenai
hal-hal sebagai berikut:

I. Hal-hal yang perlu ditegaskan dan diperhatikan sehubungan dengan pelaksanaan Peraturan
Menteri Keuangan mengenai Kawasan Bebas.
1. Bahwa yang dimaksud dengan:
a. Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas, yang selanjutnya disebut
dengan Kawasan Bebas, adalah suatu kawasan yang berada dalam wilayah hukum
Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terpisah dari Daerah Pabean sehingga
bebas dari pengenaan bea masuk, Pajak Pertambahan Nilai, Pajak Penjualan atas
Barang Mewah, dan cukai.
b. Daerah Pabean adalah wilayah Republik Indonesia yang meliputi wilayah darat,
perairan dan ruang udara di atasnya, serta tempat tertentu di Zona Ekonomi Ekslusif
dan Landas Kontinen yang didalamnya berlaku Undang-Undang Kepabeanan.
c. Tempat Lain Dalam Daerah Pabean yang selanjutnya disebut dengan TLDDP
adalah Daerah Pabean selain Kawasan Bebas dan Tempat Penimbunan Berikat.
d. Tempat Penimbunan Sementara adalah bangunan dan/atau lapangan atau tempat
lain yang disamakan dengan itu di Kawasan Pabean untuk menimbun barang,
sementara menunggu pemuatan atau pengeluarannya.
e. Kewajiban Pabean adalah semua kegiatan di bidang kepabeanan yang wajib
dilakukan untuk memenuhi ketentuan dalam Undang-Undang Kepabeanan.
f. Pemberitahuan Pabean adalah pernyataan yang dibuat oleh orang dalam rangka
melaksanakan kewajiban pabean dalam bentuk dan syarat yang ditetapkan dalam
Undang-Undang Kepabeanan.
g. Pemberitahuan Pabean Free Trade Zone yang selanjutnya disebut dengan PPFTZ
adalah dokumen Pemberitahuan Pabean yang digunakan dalam rangka pemasukan
barang ke Kawasan Bebas atau pengeluaran barang dari Kawasan Bebas, yang
terdiri dari tiga (3) jenis, yaitu:
1) PPFTZ-01 untuk:
a) pemasukan barang dari Luar Daerah Pabean ke Kawasan Bebas;
b) pengeluaran barang dari Kawasan Bebas Ke Luar Daerah Pabean;
c) pengeluaran barang dari Kawasan Bebas ke Tempat Lain Dalam Daerah
Pabean.
2) PPFTZ-02 untuk:
a) pemasukan barang dari Tempat Penimbunan Berikat Ke Kawasan Bebas;
b) pemasukan barang dari Kawasan Bebas lainnya Ke Kawasan Bebas;
c) pengeluaran barang dari Kawasan Bebas ke Tempat Penimbunan Berikat;
d) pengeluaran barang dari Kawasan Bebas ke Kawasan Bebas Lainnya.
3) PPFTZ-03 untuk pemasukan barang dari TLDDP ke Kawasan Bebas.
h. Inward Manifest adalah Pemberitahuan Pabean atas kedatangan sarana pengangkut
ke Kawasan Bebas.
i. Outward Manifest adalah Pemberitahuan Pabean atas keberangkatan sarana
pengangkut dari Kawasan Bebas.
j. Endorsement adalah pernyataan mengetahui dari pejabat/pegawai Direktorat
Jenderal Pajak pada PPFTZ-03 atas pemasukan Barang Kena Pajak dari Tempat
Lain Dalam Daerah Pabean ke Kawasan Bebas, berdasarkan penelitian formal atas
dokumen yang terkait dengan pemasukan Barang Kena Pajak tersebut.
2. Hal-hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan pemasukan Barang Kena Pajak
Berwujud dari TLDDP ke Kawasan Bebas dan endorsement:
a. Pemasukan Barang Kena Pajak berwujud dari TLDDP ke Kawasan Bebas melalui
pelabuhan atau Bandar udara yang ditunjuk, tidak dipungut Pajak Pertambahan
Nilai atau Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah.
b. Penyerahan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dan/atau Jasa Kena Pajak dari
TLDDP ke Kawasan Bebas, tidak dipungut Pajak Pertambahan Nilai.
c. Fasilitas Pajak Pertambahan Nilai atau Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak
Penjualan atas Barang Mewah tidak dipungut atas pemasukan Barang Kena Pajak
dari TLDDP ke Kawasan Bebas diberikan apabila Barang Kena Pajak tersebut
benar-benar telah masuk ke Kawasan Bebas yang dibuktikan dengan dokumen yang
telah didaftarkan pada kantor pabean dan telah diberikan endorsement yang
menyatakan bahwa data dalam dokumen Pemberitahuan Pabean (PPFTZ-03) dan
dokumen pelengkap yang dipersyaratkan telah sesuai yang dibuktikan dengan
cap/stempel DAPAT DIBERIKAN FASILITAS PPN TIDAK DIPUNGUT oleh
Pejabat Endorsement.
d. Dokumen yang harus disampaikan oleh pengusaha/Wajib Pajak di Kawasan Bebas
dalam rangka endorsement adalah:
1) Dokumen PPFTZ-03 yang telah didaftarkan pada kantor pabean;
2) Dokumen pelengkap pabean, yaitu:
a) Fotokopi Faktur Pajak Standar (lembar pembeli) yang telah diberi cap PPN
TIDAK DIPUNGUT BERDASARKAN PP NOMOR 2 TAHUN 2009.
b) Fotokopi Bill of Lading, Airway Bill atau Delivery Order;
c) Fotokopi Faktur Penjualan atau Invoice;
d) Asli lembar ke-3 dan ke-4 dokumen Pemberitahuan
Pemasukan/Pengeluaran Barang Transaksi Tertentu (PPBTT) yang telah
disetujui oleh Kepala Kantor Pelayanan Pajak tempat pengusaha di TLDDP
terdaftar untuk pemasukan/pengeluaran Barang Kena Pajak untuk transaksi
tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2A ayat (1) huruf a dan huruf b
Peraturan Menteri Keuangan Nomor : 240/PMK.03/2009; dan
e) Asli surat kuasa pengurusan kepabeanan dari pengusaha kepada Pengusaha
Pengurusan Jasa Kepabeanan (PPJK) dalam hal pengurusan kepabeanan
dilakukan oleh PPJK.
e. Atas pemasukan Barang Kena Pajak berwujud dari TLDDP ke Kawasan Bebas
sebagaimana dimaksud pada huruf a wajib dibuatkan Faktur Pajak Standar sesuai
peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan.
f. Saat pembuatan Faktur Pajak Standar sebagaimana dimaksud pada huruf e adalah
paling lama pada saat pengiriman Barang Kena Pajak ke Kawasan Bebas.
g. Atas penyerahan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dan/atau Jasa Kena Pajak
sebagaimana dimaksud pada huruf b wajib dibuatkan Faktur Pajak Standar sesuai
peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan.
h. Faktur Pajak Standar sebagaimana dimaksud pada huruf e dan huruf g harus diberi
cap PPN TIDAK DIPUNGUT BERDASARKAN PP NOMOR 2 TAHUN 2009
oleh Pengusaha Kena Pajak yang melakukan penyerahan.
i. Proses endorsement dokumen Pemberitahuan Pabean dilakukan paling lama 1 (satu)
hari kerja sejak dokumen-dokumen sebagaimana dimaksud pada huruf d diterima
lengkap oleh pejabat/pegawai Direktorat Jenderal Pajak yang ditempatkan di kantor
pabean atau tempat lain yang ditentukan, yang wilayah kerjanya meliputi pelabuhan
atau Bandar udara yang ditunjuk.
j. Dalam hal Pemberitahuan Pabean tidak sesuai dengan dokumen-dokumen yang
harus dilampirkan dalam rangka endorsement, Barang Kena Pajak tetap dapat
dikeluarkan dari pelabuhan/Bandar udara yang ditunjuk, dan atas pemasukan
Barang Kena Pajak tersebut tidak dapat diberikan fasilitas Pajak Pertambahan Nilai
atau Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah Tidak
Dipungut.
3. Pejabat/pegawai pelaksana endorsement dan tempat pengadministrasian dan
pengelolaan Kawasan Bebas.
a. Pejabat Endorsement atau Kepala Seksi adalah Kepala Seksi Pengawasan dan
Konsultasi pada Kantor Pelayanan Pajak Madya Batam yang ditunjuk untuk
mengkoordinasikan pelaksanaan tugas dalam rangka endorsement di lingkungan
Kawasan Bebas Batam, Bintan, dan Karimun sebagaimana diatur dalam diktum
KETIGA Keputusan Menteri Keuangan Nomor 426/KMK.03/2010.
b. Kantor Pelayanan Pajak Kawasan Bebas yang selanjutnya disebut dengan KPP
Kawasan Bebas adalah Kantor Pelayanan Pajak Madya Batam tempat Pejabat
Endorsement bertugas.
c. Unit Pelaksana Kawasan Bebas yang selanjutnya disebut dengan UPKB adalah unit
vertikal Direktorat Jenderal Pajak yang melaksanakan tugas-tugas dalam rangka
endorsement sebagaimana dimaksud pada huruf a yang berada di bawah dan
bertanggung jawab langsung kepada Kepala KPP Kawasan Bebas.
d. Pelaksana bagian endorsement yang selanjutnya disebut dengan Petugas
Endorsement adalah pegawai Direktorat Jenderal Pajak setingkat pelaksana di KPP
Kawasan Bebas, yang ditempatkan di kantor pabean atau tempat lain yang
ditentukan dan bertugas melakukan endorsement pada dokumen Pemberitahuan
Pabean PPFTZ-03 atas pemasukan Barang Kena Pajak Berwujud dari TLDDP ke
Kawasan Bebas.
e. Pelaksana bagian perekaman yang selanjutnya disebut dengan Pelaksana Perekaman
adalah pegawai Direktorat Jenderal Pajak setingkat pelaksana di KPP Kawasan
Bebas, yang bertugas melakukan perekaman dokumen Pemberitahuan Pabean.
f. Pelaksana bagian pemberkasan yang selanjutnya disebut dengan Pelaksana
Pemberkasan adalah pegawai Direktorat Jenderal Pajak setingkat pelaksana di KPP
Kawasan Bebas, yang bertugas melakukan pemberkasan dokumen Pemberitahuan
Pabean beserta lampiran-lampirannya.
g. Pelaksana bagian analisis yang selanjutnya disebut dengan Pelaksana Analisis
adalah pegawai Direktorat Jenderal Pajak setingkat pelaksana di KPP Kawasan
Bebas, yang bertugas melakukan analisis dokumen Pemberitahuan Pabean beserta
lampiran-lampirannya.
II. Lampiran-lampiran
Tata Cara Endorsement atas Penyerahan/Pemasukan Barang Kena Pajak Berwujud dari
Tempat Lain Dalam Daerah Pabean (TLDDP) ke Kawasan Bebas dan tata cara lainnya
berkaitan dengan endorsement dan pengelolaan serta pengawasan Kawasan Bebas adalah
sebagaimana terlampir dalam Surat Edaran ini, yaitu sebagai berikut:
1. Lampiran I : Tata Cara Endorsement atas Pemasukan Barang Kena Pajak
Berwujud dari Tempat Lain Dalam Daerah Pabean (TLDDP) ke
Kawasan Bebas.
2. Lampiran II : Tatacara Pemberian Persetujuan atas Pemberitahuan
Pemasukan/Pengeluaran Barang Transaksi Tertentu (PPBTT).
3. Lampiran III : Tata Cara Pemberkasan Dokumen Pemberitahuan Pabean (PPFTZ)
dan Dokumen Pelengkap Pabean.
4. Lampiran IV : Tata Cara Perekaman Dokumen Pemberitahuan Pabean (PPFTZ).
5. Lampiran V : Tata Cara Perekaman Dokumen Pemberitahuan
Pemasukan/Pengeluaran Barang Transaksi Tertentu (PPBTT).
6. Lampiran VI : Tata Cara Pelaksanaan Analisis Arus Barang dari dan ke Kawasan
Bebas.
7. Lampiran : Tata Cara Pengelolaan dan Penerusan Laporan Analisis Arus Barang
VII dari dan ke Kawasan Bebas di Kanwil.
8. Lampiran : Petunjuk Penelitian Kebenaran Dokumen Pemberitahuan Pabean
VIII PPFTZ-03 Dalam Rangka Endorsement.
9. Lampiran IX : Petunjuk Perekaman Dokumen Pemberitahuan Pabean (PPFTZ) dan
Pemberitahuan Pemasukan/Pengeluaran Barang Transaksi Tertentu
(PPBTT).
10. Lampiran X : Petunjuk Analisis Arus Barang dari dan ke Kawasan Bebas.
11. Lampiran XI : Contoh Stempel Endorsement atas Dokumen Pemberitahuan Pabean
(PPFTZ-03) dan Stempel Persetujuan atas Dokumen Pemberitahuan
Pemasukan/Pengeluaran Barang Transaksi Tertentu (PPBTT).
12. Lampiran XII : Register Harian Penerimaan Dokumen Pemberitahuan Pabean.
13. Lampiran XIII : Register Harian Perekaman Dokumen Pemberitahuan Pabean.
14. Lampiran XIV : Laporan Analisis Arus Barang dari dan ke Kawasan Bebas.
15. Lampiran XV : Daftar Wajib Pajak dan Nilai Transaksi Pemasukan/Pengeluaran BKP
dari/ke Kawasan Bebas.
III. Dengan ditetapkannya Surat Edaran ini, ketentuan sebagaimana diatur dalam Surat Edaran
Direktur Jenderal Pajak Nomor : SE-39/PJ/2009 tanggal 30 Maret 2009 tentang Tata Cara
Endorsement, Perekaman, Pemberkasan dan Analisa Dokumen Pemberitahuan Pabean di
Kawasan Bebas, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
IV. Untuk memudahkan pelaksanaannya, penyimpanan Surat Edaran ini agar disatukan dengan
Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-12/PJ/2010 tanggal 1 Februari 2010.

Demikian disampaikan untuk dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 09 Desember 2010
Direktur Jenderal,

ttd

Mochamad Tjiptardjo
NIP 195104281975121002

Tembusan:

1. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak;

2. Para Direktur dan Tenaga Pengkaji di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak;

3. Kepala PPDDP

SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK


NOMOR : SE - 127/PJ/2010

TENTANG

PERUBAHAN SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR SE-3/PJ/2010


TENTANG TATA CARA DISTRIBUSI DATA MODUL PENERIMAAN NEGARA (MPN)
KE SISTEM INFORMASI DIREKTORAT JENDERAL PAJAK (SIDJP/SIPMOD)

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,


Sehubungan dengan ketersediaan data dan dalam rangka efektifitas pelaksanaan pengawasan
pembayaran pajak terkait dengan distribusi data MPN ke Sistem Informasi Direktorat Jenderal
Pajak dipandang perlu untuk melakukan perubahan terhadap Surat Edaran Direktur Jenderal
Pajak Nomor SE-3/PJ/2010 tentang Tata Cara Distribusi Data Modul Penerimaan Negara (MPN)
ke Sistem Informasi Direktorat Jenderal Pajak (SIDJP/SIPMOD), terkait dengan hal-hal sebagai
berikut:

1. Mengubah poin II Rekonsiliasi Data MPN menjadi:


II. Rekonsiliasi Data MPN
1. Rekonsiliasi data MPN dilakukan oleh perbankan/pos dengan pengelola sistem MPN
dengan ketentuan bahwa hasil rekonsiliasi dituangkan dalam Surat Pernyataan yang
ditandatangani di atas meterai oleh pihak perbankan/pos, dan ditujukan ke Kantor
Pusat Direktorat Jenderal Pajak cq. Direktorat Potensi Kepatuhan dan Penerimaan
(Direktorat PKP) dan Direktorat Teknologi Informasi Perpajakan (Direktorat TIP)
dengan menggunakan formulir sebagaimana pada Lampiran I Surat Edaran Direktur
Jenderal Pajak Nomor SE-3/PJ/2010.
2. Data Laporan Arus Kas (LAK) diterima dari Direktorat Jenderal Perbendaharaan.
2. Mengubah poin III angka 1 menjadi:
1. Jenis Data
Jenis data MPN yang akan diturunkan ke SIDJP/SIPMOD adalah: Data hasil rekonsiliasi
antara MPN dengan LAK.
3. Mengubah tata cara distribusi data MPN dari KPDJP ke SIDJP/SIPMOD pada Lampiran II
Surat Edaran menjadi sebagaimana dimaksud pada Lampiran Surat Edaran ini.
4. Untuk lebih memudahkan penggunaan Surat Edaran ini, dianjurkan pengarsipannya disatukan
dengan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-03/PJ/2010 tanggal 11 Januari 2010.

Demikian untuk menjadi perhatian dan dilaksanakan sebaik-baiknya.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 29 Nopember 2010
DIREKTUR JENDERAL,

ttd

MOCHAMAD TJIPTARDJO
SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
NOMOR SE - 128/PJ/2010

TENTANG

PERUBAHAN SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK


NOMOR SE-52/PJ/2010 TENTANG UPDATING NOMOR
SURAT KETETAPAN PAJAK (SKP)/SURAT TAGIHAN PAJAK (STP)
SEHUBUNGAN DENGAN DISTRIBUSI DATA MODUL PENERIMAAN NEGARA (MPN)
KE SIDJP/SIPMOD
DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Sehubungan dengan diperlukannya pengaturan terkait dengan penguatan tata kelola atas prosedur
updating nomor Surat Ketetapan Pajak (SKP)/Surat Tagihan Pajak (STP) sehubungan dengan
distribusi data Modul Penerimaan Negara (MPN) ke SIDJP/SIPMOD, dipandang perlu untuk
melakukan perubahan terhadap Surat Edaran Direktur Pajak Nomor SE-52/PJ/2010 tentang
Updating Nomor Ketetapan Pajak (SKP)/Surat Tagihan Pajak (STP) sehubungan dengan
Distribusi Data Modul Penerimaan Negara ke SIDJP/SIPMOD, terkait dengan hal tersebut
dengan ini disampaikan hal-hal sebagai berikut:

1. Mengubah point 3 sehingga menjadi :


3. Permintaan perubahan data update nomor kohir SKP/STP diajukan oleh Seksi
Penagihan sebagai pihak otorisator perubahan data dan diteruskan ke Seksi Pengawasan
dan Konsultasi untuk dilakukan verifikasi pembayaran atas nomor SKP/STP terkait, Atas
pembayaran SKP/STP yang telah di verifikasi dan disetujui untuk dilakukan perubahan
data update nomor kohir SKP/STP akan diteruskan ke Seksi Pengolahan Data dan
Informasi (Seksi PDI) untuk dilakukan perubahan data.
2. Mengubah point 5 sehingga menjadi :
5. Dalam hal perubahan nomor ketetapan tidak dapat dilakukan oleh Seksi PDI, petugas
Operator Console (OC) meneruskan permintaan perubahan data ke Direktorat Teknologi
Informasi Perpajakan (Dit TIP) sesuai Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-
100/PJ/2009 tentang Kebijakan Perubahan Data SIDJP, SIPMOD dan SISMIOP.
3. Mengubah Tata Cara Update Data Nomor Kohir SKP/STP sehingga menjadi sebagaimana
lampiran I Surat Edaran ini.
4. Untuk lebih memudahkan penggunaan Surat Edaran ini, dianjurkan pengarsipannya disatukan
dengan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-52/PJ/2010 tanggal 9 April 2010.

Demikian untuk menjadi perhatian dan dilaksanakan sebaik-baiknya.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 29 November 2010
Direktur Jenderal,

ttd.

Mochamad Tjiptardjo
NIP 195104281975121002

Tembusan: .

1. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak;


2. Para Direktur dan Tenaga Pengkaji di lingkungan DJP;

3. Kepala PPDDP.

SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK


NOMOR SE - 122/PJ./2010

TENTANG

PENGANTAR PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-52/PJ/2010


TENTANG TATA CARA PENGAJUAN DAN PENYELESAIAN KEBERATAN PAJAK
PENGHASILAN, PAJAK PERTAMBAHAN NILAI DAN/ATAU PAJAK PENJUALAN ATAS
BARANG MEWAH, DAN KETENTUAN PELAKSANAANNYA

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Sehubungan dengan telah diterbitkannya Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-
52/PJ/2010 tentang Tata Cara Pengajuan dan Penyelesaian Keberatan Pajak Penghasilan, Pajak
Pertambahan Nilai dan/atau Pajak Penjualan atas Barang Mewah, bersama ini disampaikan
Peraturan Direktur Jenderal Pajak tersebut dan pedoman pelaksanaannya. Hal-hal yang perlu
diperhatikan dalam pelaksanaan Peraturan Direktur Jenderal Pajak dan pedoman pelaksanaannya
adalah sebagai berikut :

1. Dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini yang dimaksud dengan:

a. Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan yang selanjutnya


disebut UU adalah Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum
dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan
Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009.

b. Wajib Pajak adalah orang atau badan yang menurut ketentuan peraturan perundang-
undangan perpajakan ditentukan untuk melakukan kewajiban perpajakan.

c. Kantor Pelayanan Pajak selanjutnya disebut KPP adalah Kantor Pelayanan Pajak
tempat Wajib Pajak terdaftar dan/atau tempat Pengusaha Kena Pajak dikukuhkan;

d. Kepala Kantor Pelayanan Pajak selanjutnya disebut Kepala KPP adalah Kepala
Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar dan/atau tempat Pengusaha
Kena Pajak dikukuhkan.

e. Unit Pelaksana Penelitian Keberatan adalah Kantor Wilayah Direktorat Jenderal


Pajak atau Direktorat Keberatan dan Banding.

f. Peneliti adalah tim yang ditugaskan oleh Kepala Unit Pelaksana Penelitian Keberatan
untuk melakukan penelitian keberatan. Peneliti terdiri dari sekurang-kurangnya 1
(satu) orang pejabat eselon III di Subdit Pengurangan dan Keberatan/Bidang
Keberatan dan Banding/Bidang Pengurangan, Keberatan dan Banding, 1 (satu) orang
Kepala Seksi Pengurangan dan Keberatan/Seksi Keberatan dan Banding/Seksi
Pengurangan, Keberatan dan Banding serta 1 (satu) orang Penelaah Keberatan.

2. Wajib Pajak dapat mengajukan keberatan atas suatu:

a. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar, kecuali Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar
berdasarkan Pasal 13A Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan
Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir
dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009;
b. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan;

c. Surat Ketetapan Pajak Nihil;

d. Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar; atau

e. Pemotongan atau pemungutan pajak oleh pihak ketiga berdasarkan ketentuan


peraturan perundang-undangan perpajakan.

3. Surat keberatan wajib memenuhi syarat:

a. diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia;

b. mengemukakan jumlah pajak yang terutang atau jumlah pajak yang dipotong atau
dipungut atau jumlah rugi menurut penghitungan Wajib Pajak dengan disertai alasan-
alasan yang menjadi dasar penghitungan dan dilampirkan dengan fotokopi surat
ketetapan pajak, bukti pemungutan, atau bukti pemotongan;

c. 1 (satu) surat keberatan diajukan hanya untuk 1 (satu) Surat Ketetapan Pajak
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf a, huruf b, huruf c, dan huruf d, atau
untuk 1 (satu) pemotongan atau pemungutan pajak sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 2 huruf e;

d. melunasi pajak yang masih harus dibayar paling sedikit sejumlah yang telah disetujui
Wajib Pajak dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan dan disertai fotokopi bukti
pelunasannya;

e. diajukan paling lama 3 (tiga) bulan sejak tanggal dikirim surat ketetapan pajak atau
sejak tanggal pemotongan atau pemungutan pajak oleh pihak ketiga, kecuali Wajib
Pajak dapat menunjukkan bahwa jangka waktu tersebut tidak dapat dipenuhi karena
keadaan di luar kekuasaan Wajib Pajak (force majeur); dan

f. ditandatangani oleh Wajib Pajak, dan dalam hal surat keberatan ditandatangani oleh
bukan Wajib Pajak, surat keberatan tersebut wajib dilampiri dengan Surat Kuasa
Khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 UU KUP.

4. Surat keberatan Wajib Pajak disampaikan ke KPP atau ke Kantor Pelayanan Penyuluhan dan
Konsultasi Perpajakan (KP2KP) dalam wilayah KPP yang bersangkutan.
5. Surat Keberatan yang tidak memenuhi persyaratan pada angka 3 dan/atau yang tidak
disampaikan sebagaimana pada angka 4 bukan merupakan surat keberatan dan/atau
merupakan surat yang tidak disampaikan sehingga tidak dipertimbangkan sebagai surat
keberatan dan atas surat tersebut Direktur Jenderal Pajak tidak menerbitkan Surat Keputusan.
6. Apabila Surat Keberatan Wajib Pajak bukan merupakan surat keberatan dan/atau merupakan
surat yang tidak disampaikan sehingga tidak dipertimbangkan sebagai surat keberatan
sebagaimana dimaksud pada angka 5, Wajib Pajak masih dapat mengajukan surat keberatan
yang baru sepanjang masih memenuhi jangka waktu 3 (tiga) bulan sejak tanggal dikirim
surat ketetapan pajak atau sejak tanggal pemotongan atau pemungutan pajak oleh pihak
ketiga.
7. Tanggal bukti penerimaan surat keberatan yaitu:

a. sesuai tanggal terima yang tercantum pada bukti penerimaan surat yang diberikan
oleh

1. KPP; atau
2. Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan dalam wilayah kerja
KPP, dalam hal surat keberatan disampaikan secara langsung.

b. sesuai tanggal stempel pos yang tercantum pada bukti pengiriman surat, dalam hal
surat keberatan disampaikan melalui pos;

c. sesuai tanggal pengiriman yang tercantum pada bukti pengiriman surat, dalam hal
surat keberatan disampaikan melalui perusahaan jasa ekspedisi atau jasa kurir; atau

d. sesuai tanggal yang tercantum pada bukti penerimaan elektronik, dalam hal surat
keberatan disampaikan dengan e-Filing melalui Penyedia Jasa Aplikasi atau
Application Service Provider (ASP).

8. Dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih baik kepada Wajib Pajak dalam
penyelesaian Keberatan, dalam hal Wajib Pajak menyampaikan keberatan melampaui jangka
waktu sebagaimana dimaksud pada angka 6 dan/atau surat keberatannya tidak memenuhi
syarat sebagaimana angka 3 agar:

a. KPP memberitahukan kepada Wajib Pajak bahwa Wajib Pajak masih dapat
mengajukan permohonan pengurangan atau pembatalan ketetapan pajak yang tidak
benar sesuai ketentuan Pasal 36 ayat (1) huruf b UU KUP.

b. KPP segera memberitahukan secara tertulis kepada Wajib Pajak tanpa harus
menunggu berakhirnya jangka waktu 5 (lima) hari kerja.

c. Dalam hal Wajib Pajak mencabut pengajuan keberatan, KPP memberitahukan kepada
Wajib Pajak bahwa Wajib Pajak tidak dapat mengajukan permohonan pengurangan
atau pembatalan surat ketetapan pajak yang tidak benar sebagaimana dimaksud dalam
pasal 36 ayat (1) huruf b UU KUP.

9. Dalam hal Wajib Pajak mengajukan keberatan atas suatu surat ketetapan pajak agar
dilakukan penelitian terhadap lampiran berupa fotokopi bukti pelunasan pajak yang masih
harus dibayar paling sedikit sejumlah yang telah disetujui Wajib Pajak dalam pembahasan
akhir hasil pemeriksaan.
10. Dalam hal Wajib Pajak mengajukan keberatan atas suatu pemotongan atau pemungutan
pajak, agar dilakukan penelitian terhadap lampiran berupa fotokopi bukti pemotongan atau
pemungutan pajak dan surat pernyataan yang menyatakan bahwa pemotongan atau
pemungutan pajak belum atau tidak akan dikreditkan.
11. Penelitian pemenuhan persyaratan surat keberatan termasuk terpenuhinya jangka waktu
pengajuan keberatan adalah tanggung jawab Kepala KPP.
12. Dalam hal terdapat keragu-raguan dalam penelitian pemenuhan persyaratan sebagaimana
angka 11, sebelum menerbitkan surat pemberitahuan tentang pemenuhan syarat surat
keberatan agar KPP berkoordinasi dengan Unit Pelaksana Penelitian Keberatan.
13. Dalam melakukan penyelesaian keberatan, Unit Pelaksana Penelitian Keberatan agar
berpedoman pada Prosedur Penyelesaian Keberatan sebagaimana diatur dalam lampiran I
Surat Edaran ini.
14. Tata cara dan flowchart Prosedur Penyelesaian Keberatan sebagaimana dimaksud dalam
angka 13 diatur dalam lampiran II Surat Edaran ini.
15. Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
16. Dengan berlakunya Surat Edaran ini maka Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak No. SE -
02/PJ.07/2007 tentang Prosedur Penanganan Pembetulan Ketetapan Pajak Keberatan,
Pengurangan atau Penghapusan Sanksi Administrasi, dan Pengurangan atau Pembatalan
Ketetapan Pajak Yang Tidak Benar Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak
Penjualan Atas Barang Mewah tidak berlaku sepanjang mengatur prosedur penanganan
keberatan Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang
Mewah.

Demikian untuk dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal 26 November 2010
Direktur Jenderal,

ttd.

Mochamad Tjiptardjo
NIP 195104281975121002

Tembusan:

1. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak;

2. Para Direktur dan Tenaga Pengkaji di lingkungan Kantor Pusat DJP;

3. Kepala Pusat Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan.


SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
NOMOR : SE - 126/PJ/2010

TENTANG

PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA PEMERIKSAAN (AUDIT PLAN)


UNTUK MENGUJI KEPATUHAN PEMENUHAN KEWAJIBAN PERPAJAKAN

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Sesuai dengan Pasal 5 huruf a Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-9/PJ/2010 tanggal
1 Maret 2010 tentang Standar Pemeriksaan untuk Menguji Kepatuhan Pemenuhan Kewajiban
Perpajakan, pelaksanaan pemeriksaan harus didahului dengan persiapan yang baik, sesuai
dengan tujuan pemeriksaan, dan mendapat pengawasan yang seksama. Salah satu bagian penting
dalam persiapan pemeriksaan adalah penyusunan Rencana Pemeriksaan.
Rencana Pemeriksaan merupakan rencana kerja pemeriksaan yang disusun oleh Supervisor dan
harus ditelaah serta disetujui oleh Kepala Unit Pelaksana Pemeriksaan (UP2) yang antara lain
berisi identitas Wajib Pajak (WP), identitas Tim Pemeriksa Pajak, dan uraian rencana
pemeriksaan.
Untuk memberikan pedoman tentang penyusunan rencana pemeriksaan, dengan ini diberikan
Pedoman Penyusunan Rencana Pemeriksaan (Audit Plan) untuk Menguji Kepatuhan Pemenuhan
Kewajiban Perpajakan sebagai berikut:

I. KETENTUAN UMUM

1. Pemeriksa Pajak wajib menyusun Rencana Pemeriksaan.

2. Rencana Pemeriksaan harus disusun oleh Supervisor secara cermat berdasarkan


pertimbangan profesional.

3. Rencana Pemeriksaan harus disusun sebelum Surat Perintah Pemeriksaan (SP2)


diterbitkan.

4. Rencana Pemeriksaan disusun setelah mempelajari dan menganalisis data WP yang


tersedia. Hasil analisis tersebut dituangkan dalam Kertas Kerja Pemeriksaan (KKP)
sebagai pendukung Rencana Pemeriksaan.

5. Rencana Pemeriksaan harus disusun untuk pemeriksaan seluruh jenis pajak/all taxes
maupun pemeriksaan satu atau beberapa jenis pajak.

6. Rencana Pemeriksaan harus disusun untuk pemeriksaan WP Domisili maupun


pemeriksaan WP Lokasi.

7. Rencana Pemeriksaan dapat diperbaiki atau diubah oleh Supervisor setelah SP2
diterbitkan apabila Pemeriksa Pajak menemukan kondisi yang berbeda antara
Rencana Pemeriksaan dengan pelaksanaan pemeriksaan.

8. Perubahan Rencana Pemeriksaan tetap harus memperhatikan jangka waktu


penyelesaian pemeriksaan.

9. Rencana Pemeriksaan dan Perubahan Rencana Pemeriksaan harus ditelaah dan


mendapat persetujuan Kepala UP2.

II. PROSEDUR PENYUSUNAN RENCANA PEMERIKSAAN

1. Kepala UP2 harus membuat Nota Dinas Penunjukan Supervisor untuk menyusun
usulan Rencana Pemeriksaan setelah menerima instruksi/persetujuan/penugasan
pemeriksaan atau Lembar Penugasan Pemeriksaan (LP2) dengan menggunakan format
pada Lampiran I yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Surat Edaran ini.
2. Nota Dinas Penunjukan Supervisor harus disertai dengan berkas WP yang diperlukan
dalam penyusunan usulan Rencana Pemeriksaan, antara lain Surat Pemberitahuan
(SPT), Laporan Keuangan minimal 2 (dua) tahun terakhir atau sesuai data yang
tersedia, Profil WP, Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) sebelumnya, dan data lain yang
relevan.
3. Berkas sebagaimana dimaksud dalam angka 2 dirinci dalam Daftar Berkas Wajib Pajak
Yang Dipinjamkan Dalam Rangka Pemeriksaan, yang merupakan lampiran Nota Dinas
Penunjukan Supervisor, dengan format sebagaimana pada Lampiran II yang merupakan
bagian yang tidak terpisahkan dari Surat Edaran ini.
4. Berdasarkan nota dinas sebagaimana dimaksud dalam angka 1, Supervisor menyusun
KKP Identifikasi Masalah untuk menentukan pos-pos SPT atau turunannya yang akan
diperiksa dan perlu dilakukan pengujian. KKP Identifikasi Masalah merupakan KKP
Pendukung dari Rencana Pemeriksaan.
5. Penyusunan KKP Identifikasi Masalah sebagaimana dimaksud dalam angka 4
didasarkan pada data dan/atau informasi yang tersedia, antara lain:
a. KKP Perbandingan Data Keuangan Wajib Pajak minimal 2 (dua) tahun terakhir atau
sesuai dengan data yang tersedia, yaitu:
1) dalam hal Wajib Pajak menyelenggarakan pembukuan:
a) Neraca Komparatif; dan
b) Laba Rugi Komersial Komparatif dan/atau SPT Tahunan PPh Badan/Orang
Pribadi Komparatif.
2) dalam hal Wajib Pajak menyelenggarakan pencatatan:
a) Harta dan Kewajiban Komparatif; dan
b) Peredaran Bruto Komparatif dan/atau SPT Tahunan Orang Pribadi
Komparatif;
b. informasi dari Profil Wajib Pajak yang telah disusun oleh Account Representative;
c. LHP sebelumnya; dan/atau
d. data lain yang relevan yang meliputi alat keterangan, analisis risiko, hasil analisis
dan pengembangan IDLP, dan/atau informasi intern dan ekstern yang tersedia.
6. Penyusunan KKP Identifikasi Masalah sebagaimana dimaksud dalam angka 4
dilakukan dengan langkah-langkah antara lain sebagai berikut:

a. lakukan analisis rasio data keuangan yang terkait dengan pos-pos SPT;

b. lakukan analisis trend dan benchmark dengan industri atau perusahaan sejenis;

c. lakukan ekualisasi antara pos SPT PPh Badan/Orang Pribadi dengan objek pajak
lainnya; dan/atau

d. lakukan analisis keterkaitan antara alat keterangan, analisis risiko yang dibuat
oleh Account Representative, hasil analisis dan pengembangan IDLP, dan
informasi intern dan ekstern yang tersedia.

7. KKP Identifikasi Masalah disusun dengan menggunakan format pada Lampiran III
yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Surat Edaran ini.
8. Berdasarkan KKP Identifikasi Masalah, Supervisor menyusun Usulan Rencana
Pemeriksaan.
9. Usulan Rencana Pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam angka 8 antara lain berisi:
a. Identitas WP yang berisi gambaran umum WP;
b. Identitas Tim Pemeriksa Pajak yang berisi susunan tim dan jumlah SP2 yang
sedang dikerjakan; dan
c. Uraian rencana pemeriksaan yang berisi:
1) Kriteria pemeriksaan, yang terdiri atas Pemeriksaan Rutin dan Pemeriksaan
Khusus;
2) Jenis pemeriksaan, yang terdiri atas Pemeriksaan Kantor dan Pemeriksaan
Lapangan;
3) Ruang lingkup pemeriksaan, yang terdiri atas seluruh jenis pajak (all taxes),
PPh Badan/Orang Pribadi, Pemotongan dan Pemungutan PPh, PPN, dan jenis
pajak lainnya;
4) Identifikasi masalah, yang memuat resume dari KKP Identifikasi Masalah;
5) Tanggal selesai pemeriksaan adalah rencana tanggal batas akhir penyelesaian
pemeriksaan, yaitu tanggal LHP yang harus memperhatikan jangka waktu
penyelesaian pemeriksaan sebagaimana diatur dalam ketentuan yang berlaku;
6) Tanggal jatuh tempo penyelesaian permohonan pengembalian kelebihan
pembayaran pajak;
7) Tenaga ahli yang dibutuhkan dalam pemeriksaan;
8) Sarana pendukung yang diperlukan dalam pemeriksaan, misalnya software
audit tools, dan lain-lain;
9) Pos-pos SPT yang akan diperiksa:
a) yang dimaksud dengan pos-pos SPT yang akan diperiksa adalah pos-pos di
dalam SPT atau pos turunannya yang ditentukan akan diperiksa baik SPT
Masa maupun SPT Tahunan;
b) pos turunan adalah komponen atau elemen yang mendukung suatu pos,
termasuk akun neraca;
c) dalam hal pemeriksaan meliputi beberapa atau seluruh jenis pajak, maka
setiap jenis pajak harus diperiksa;
d) untuk jenis pajak PPh Badan atau PPh Orang Pribadi, pos Peredaran
Usaha/Penghasilan Bruto harus diperiksa;
e) Pemeriksa dapat memilih pos turunan dari Pos Peredaran
Usaha/Penghasilan Bruto sebagaimana dimaksud dalam huruf d);
f) meskipun pemeriksa dapat memilih pos-pos yang akan diperiksa dalam
setiap jenis pajak, pengujian atas keabsahan seluruh kredit pajak tetap
harus dilakukan;
g) penentuan pos-pos SPT yang akan diperiksa didasarkan pada identifikasi
masalah yang merupakan hasil analisis data keuangan dan data lainnya;
h) penulisan pos-pos SPT yang akan diperiksa dengan pos turunannya
dipisahkan dengan garis miring (/). sebagai contoh:
(1) PPh Badan : Dalam hal Pemeriksa Pajak menentukan untuk
memeriksa Penjualan Ekspor sebagai pos turunan dari Pos Peredaran
Usaha, ditulis sebagai berikut : Peredaran Usaha/Penjualan Ekspor.
(2) PPh Pasal 23 : Dalam hal Pemeriksa Pajak menentukan untuk
memeriksa objek PPh Pasal 23 atas Biaya Sewa Harta, ditulis sebagai
berikut : Objek PPh Pasal 23/Sewa.
10) penentuan lokasi dan kewajiban perpajakan lokasi yang akan diperiksa
berdasarkan hasil identifikasi masalah yang telah dilakukan.
10. Usulan Rencana Pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam angka 8 harus disampaikan
kepada Kepala UP2 paling lambat 7 (tujuh) hari kerja setelah Nota Dinas Penunjukan
Supervisor diterima.
11. Kepala UP2 harus menelaah dan memberikan persetujuan atas usulan Rencana
Pemeriksaan paling lambat 5 (lima) hari kerja setelah usulan Rencana Pemeriksaan
diterima.
12. Kepala UP2 harus menerbitkan SP2 setelah usulan Rencana Pemeriksaan disetujui.
13. Dalam hal terdapat permintaan pemeriksaan WP Lokasi, Pemeriksa WP Domisili harus
melampirkan salinan Rencana Pemeriksaan dalam surat permintaan pemeriksaan WP
Lokasi sebagai dasar bagi Pemeriksa WP Lokasi dalam menyusun Rencana
Pemeriksaannya.
14. Dalam hal Rencana Pemeriksaan yang dibuat oleh Pemeriksa WP Lokasi berbeda
dengan Rencana Pemeriksaan WP Domisili, maka salinan Rencana Pemeriksaan WP
Lokasi harus dikirimkan kepada Pemeriksa WP Domisili paling lambat 3 (tiga) hari
kerja sejak disetujuinya Rencana Pemeriksaan WP Lokasi.
15. Rencana Pemeriksaan disusun dengan menggunakan format KKP sebagaimana pada
Lampiran IV yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Surat Edaran ini.
16. Contoh Identifikasi Masalah dan Rencana Pemeriksaan dapat dilihat pada Lampiran
VIA dan Lampiran VIB yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Surat
Edaran ini.
III. PROSEDUR PENYUSUNAN PERUBAHAN RENCANA PEMERIKSAAN

1. Jika ditemukan kondisi yang berbeda antara Rencana Pemeriksaan dengan pelaksanaan
pemeriksaan, Supervisor menyusun Usulan Perubahan Rencana Pemeriksaan.
2. Usulan Perubahan Rencana Pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam angka 1 berisi
antara lain:

a. Uraian rencana pemeriksaan yang diubah;

b. Rencana pemeriksaan sebelumnya;

c. Rencana pemeriksaan yang dimutakhirkan; dan

d. Alasan perubahan.

3. Kepala UP2 harus memberikan persetujuan atas Usulan Perubahan Rencana


Pemeriksaan paling lambat 3 (tiga) hari kerja setelah Usulan Perubahan Rencana
Pemeriksaan diterima.
4. Dalam hal Kepala UP2 tidak menyetujui Usulan Perubahan Rencana Pemeriksaan,
Kepala UP2 harus memberikan catatan/alasan pada formulir Perubahan Rencana
Pemeriksaan dan pemeriksaan tetap dilanjutkan sesuai dengan Rencana Pemeriksaan
sebelumnya.
5. Dalam hal terjadi Perubahan Rencana Pemeriksaan WP Domisili, maka Pemeriksa WP
Domisili harus mengirimkan salinan Perubahan Rencana Pemeriksaan kepada
Pemeriksa WP Lokasi, paling lambat 3 (tiga) hari kerja setelah disetujuinya Perubahan
Rencana Pemeriksaan WP Domisili, demikian pula sebaliknya.
6. Perubahan Rencana Pemeriksaan disusun menggunakan formulir KKP sebagaimana
pada Lampiran V yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Surat Edaran ini.
7. Contoh Perubahan Rencana Pemeriksaan dapat dilihat pada Lampiran VIC yang
merupakan bagian tidak terpisahkan dari Surat Edaran ini.
IV. KETENTUAN PENUTUP

Sejak ditetapkannya Surat Edaran ini, semua ketentuan dalam Surat Edaran Direktur
Jenderal Pajak yang mengatur tentang pemeriksaan dinyatakan masih tetap berlaku
sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam Surat Edaran ini.

Demikian untuk dilaksanakan sebaik-baiknya.


Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 26 November 2010
Direktur Jenderal,

ttd.

Mochamad Tjiptardjo
NIP 195104281975121002

Tembusan :

1. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak; dan

2. Para Direktur dan Tenaga Pengkaji di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak.

SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK


NOMOR SE - 120/PJ/2010

TENTANG

PENJAMINAN KUALITAS PEMERIKSAAN KHUSUS

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Dalam rangka meningkatkan kualitas, efektifitas dan efisiensi pelaksanaan penegakan hukum
terhadap Wajib Pajak yang terdaftar di Kantor Pelayanan Pajak khususnya dalam rangka
penjaminan kualitas pelaksanaan pemeriksaan khusus, perlu ditetapkan hal-hal sebagai berikut:
I. UMUM
1. Pemeriksaan Khusus yang dimaksud pada Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini
adalah Pemeriksaan Khusus dengan analisis risiko bersifat bottom up (dari bawah
keatas).
2. Pemeriksaan Khusus dengan analisis risiko bersifat bottom up (dari bawah ke atas)
adalah Pemeriksaan Khusus berdasarkan hasil analisis risiko terhadap profil Wajib Pajak
yang dilakukan secara manual oleh Kantor Pelayanan Pajak dan disampaikan kepada
Kepala Kantor Wilayah DJP atasannya untuk mendapatkan persetujuan.
3. Analisis risiko adalah kegiatan yang dilakukan untuk menilai tingkat ketidakpatuhan
Wajib Pajak yang berisiko menimbulkan kerugian penerimaan pajak terutama pada
Wajib Pajak dengan risiko tinggi (high risk) yang dihitung dari potensi penerimaan pajak
yang masih dapat digali (tax revenue at risk).
4. Tim Asistensi Analisis Risiko adalah tim yang melakukan proses asistensi analisis risiko.
Proses asistensi analisis risiko merupakan proses pembahasan atas:

a. Analisis Risiko Wajib Pajak yang dibuat oleh Account Representative (AR) dan
telah ditandatangani Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi sebelum diajukan
usulan pemeriksaan khusus; dan

b. Konsep Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) sebelum disampaikan Surat


Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan (SPHP) kepada Wajib Pajak terkait yang
menjadi dasar usulan dilakukan Pemeriksaan Khusus.

II. KEBIJAKAN PEMBUATAN USULAN PEMERIKSAAN KHUSUS


1. Dalam hal Wajib Pajak diusulkan untuk dilakukan Pemeriksaan Khusus, usulan
pemeriksaan tersebut harus didasarkan pada Analisis Risiko Wajib Pajak yang dibuat
oleh Account Representative (AR).
2. Analisis Risiko Wajib Pajak dibuat dengan menggunakan formulir sebagaimana
ditetapkan dalam Lampiran 18.1 Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-
10/PJ.04/2008 tentang Kebijakan Pemeriksaan Untuk Menguji Kepatuhan Pemenuhan
Kewajiban Perpajakan. Terhadap Kantor Pelayanan Pajak Wajib Pajak Besar Orang
Pribadi, Analisis Risiko Wajib Pajak dibuat dengan menggunakan formulir Identifikasi
dan Analisis Risiko sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran I Surat Edaran Direktur
Jenderal Pajak Nomor SE-16/PJ/2010 tentang Kebijakan Penegakan Hukum Terhadap
Wajib Pajak Yang Terdaftar Pada KPP Wajib Pajak Besar Orang Pribadi.
3. Analisis Risiko Wajib Pajak harus dibuat dengan mendasarkan pada data internal berupa
profil Wajib Pajak, termasuk aktivitas himbauan dan konseling yang telah dilakukan
atas profil Wajib Pajak, serta memanfaatkan data eksternal seperti Informasi, Data,
Laporan dan Pengaduan (IDLP). Di dalam profil Wajib Pajak harus sudah meliputi data
yang berasal dari aplikasi OPDP, PAP3D, dan aplikasi lainnya termasuk laporan hasil
pemeriksaan dan laporan pengamatan untuk tahun-tahun pajak sebelumnya.
4. Sebelum diajukan usulan pemeriksaan khusus, Analisis Risiko Wajib Pajak yang dibuat
Account Representative (AR) harus dibahas terlebih dahulu oleh Tim Asistensi Analisis
Risiko. Terhadap Kantor Pelayanan Pajak Wajib Pajak Besar Orang Pribadi, proses
pembahasan analisis risiko dilakukan oleh Tim Identifikasi dan Analisis Risiko
sebagaimana ditetapkan dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-
16/PJ/2010 tentang Kebijakan Penegakan Hukum Terhadap Wajib Pajak Yang Terdaftar
Pada KPP Wajib Pajak Besar Orang Pribadi.
5. Tim Asistensi Analisis Risiko dibentuk oleh Kepala Kantor Pelayanan Pajak, yang
terdiri dari:

a. Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi;

b. Kepala Seksi Pemeriksaan;

c. Pejabat Fungsional Pemeriksa Pajak; dan

d. Account Representative (AR).

6. Pejabat Fungsional Pemeriksa Pajak yang menjadi anggota Tim Asistensi Analisis
Risiko sebaiknya menjadi bagian dari Tim Pemeriksa Pajak terhadap Wajib Pajak yang
akan diusulkan untuk dilakukan pemeriksaan khusus tersebut.
7. Jangka waktu penyelesaian pembahasan atas Analisis Risiko Wajib Pajak oleh Tim
Asistensi Analisis Risiko dilaksanakan paling lama 3 (tiga) hari kerja sejak tanggal Nota
Dinas Tim Asistensi Analisis Risiko diterbitkan.
8. Tata cara pembentukan Tim Asistensi Analisis Risiko dan pembahasan Analisis Risiko
Wajib Pajak adalah sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran I Surat Edaran Direktur
Jenderal Pajak ini.
9. Hasil pembahasan Tim Asistensi Analisis Risiko dituangkan dalam Berita Acara Hasil
Pembahasan Tim Asistensi Analisis Risiko atas Analisis Risiko Wajib Pajak dalam
Rangka Usulan Pemeriksaan Khusus sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran II Surat
Edaran Direktur Jenderal Pajak ini.
10. Berita Acara Hasil Pembahasan Tim Asistensi Analisis Risiko atas Analisis Risiko Wajib
Pajak dalam Rangka Usulan Pemeriksaan Khusus ditandatangani oleh Tim Asistensi
Analisis Risiko dan disetujui oleh Kepala Kantor Pelayanan Pajak.
11. Terhadap Analisis Risiko Wajib Pajak yang tidak dapat diusulkan untuk dilakukan
Pemeriksaan Khusus berdasarkan hasil pembahasan Tim Asistensi Analisis Risiko atas
Analisis Risiko Wajib Pajak dalam rangka usulan Pemeriksaan Khusus, Account
Representative (AR) dapat mengusulkan kembali Analisis Risiko Wajib Pajak tersebut
dengan mempertimbangkan masukan-masukan dari Tim Asistensi Analisis Resiko.
12. Pengajuan usulan pemeriksaan khusus dari Kantor Pelayanan Pajak kepada Kantor
Wilayah DJP harus dilampiri dengan Analisis Risiko Wajib Pajak dan Berita Acara Hasil
Pembahasan Tim Asistensi Analisis Risiko atas Analisis Risiko Wajib Pajak dalam
Rangka Usulan Pemeriksaan Khusus.
13. Terhadap usulan pemeriksaan khusus yang diajukan oleh Kantor Pelayanan Pajak
kepada Kantor Wilayah DJP yang tidak dilampiri dengan Analisis Risiko Wajib Pajak
dan Berita Acara Hasil Pembahasan Tim Asistensi Analisis Risiko atas Analisis Risiko
Wajib Pajak dalam Rangka Usulan Pemeriksaan Khusus, Kepala Kantor Wilayah DJP
harus menolak usulan pemeriksaan khusus tersebut.
14. Prosedur usulan dan persetujuan pemeriksaan khusus dilakukan sesuai dengan Surat
Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-10/PJ.04/2008 tentang Kebijakan
Pemeriksaan Untuk Menguji Kepatuhan Pemenuhan Kewajiban Perpajakan.
III. PELAKSANAAN PEMERIKSAAN KHUSUS
1. Pada saat pelaksanaan proses pemeriksaan khusus oleh Tim Pemeriksa Pajak, sebelum
menyampaikan Surat Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan (SPHP) kepada Wajib Pajak,
Tim Pemeriksa Pajak diwajibkan untuk melakukan pembahasan konsep Laporan Hasil
Pemeriksaan (LHP) terkait yang menjadi dasar usulan dilakukan pemeriksaan khusus
dengan Tim Asistensi Analisis Risiko. Terhadap Kantor Pelayanan Pajak Wajib Pajak
Besar Orang Pribadi, pembahasan terhadap konsep Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP)
terkait yang menjadi dasar usulan dilakukan pemeriksaan khusus dilakukan antara Tim
Pemeriksa Pajak dan Tim Identifikasi dan Analisis Risiko sebagaimana ditetapkan dalam
Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-16/PJ/2010 tentang Kebijakan
Penegakan Hukum Terhadap Wajib Pajak Yang Terdaftar Pada KPP Wajib Pajak Besar
Orang Pribadi.
2. Tata cara pembahasan konsep Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) antara Tim Pemeriksa
Pajak dengan Tim Asistensi Analisis Risiko adalah sebagaimana ditetapkan dalam
Lampiran III Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini.
3. Hasil pembahasan konsep Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) antara Tim Pemeriksa
Pajak dengan Tim Asistensi Analisis Risiko dituangkan pada Berita Acara Hasil
Pembahasan atas Konsep Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) antara Tim Asistensi
Analisis Risiko dan Tim Pemeriksa Pajak sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran IV
Surat Edaran ini.
4. Berita Acara Hasil Pembahasan atas Konsep Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) antara
Tim Asistensi Analisis Risiko dan Tim Pemeriksa Pajak dilampirkan pada Laporan Hasil
Pemeriksaan (LHP).
5. Jangka waktu penyelesaian pembahasan konsep Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP)
antara Tim Pemeriksa Pajak dengan Tim Asistensi Analisis Risiko dilaksanakan paling
lama 5 (lima) hari kerja sejak konsep Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) diterima oleh
Tim Asistensi Analisis Risiko.
6. Terhadap Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) yang konsepnya tidak dilakukan
pembahasan sebagaimana yang diatur pada angka III.1 akan dilakukan penelaahan
sejawat (peer review).

Demikian disampaikan untuk dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 18 November 2010
Direktur Jenderal,

ttd.

MOCHAMAD TJIPTARDJO
NIP 195104281975121002

Tembusan :
1. Sekretaris Direktorat Jenderal;

2. Para Direktur dan Tenaga Pengkaji di lingkungan Kantor Pusat;

3. Kepala Pusat Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan.

SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK


NOMOR SE - 112/PJ/2010

TENTANG

PENEGASAN TATA CARA PEMINJAMAN BUKU, CATATAN, DATA, DAN INFORMASI


DAN/ATAU PERMINTAAN KETERANGAN TERKAIT DENGAN PENYELESAIAN
KEBERATAN, PENGURANGAN ATAU PENGHAPUSAN SANKSI ADMINISTRASI,
PENGURANGAN ATAU PEMBATALAN SURAT KETETAPAN PAJAK ATAU SURAT
TAGIHAN PAJAK YANG TIDAK BENAR, DAN PEMBATALAN HASIL PEMERIKSAAN
ATAU SURAT KETETAPAN PAJAK DARI HASIL PEMERIKSAAN

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Dalam rangka lebih memberikan pelayanan kepada Wajib Pajak terkait dengan penyelesaian
permohonan keberatan, pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi, pengurangan atau
pembatalan surat ketetapan pajak atau surat tagihan pajak yang tidak benar, dan pembatalan hasil
pemeriksaan atau surat ketetapan pajak dari hasil pemeriksaan, dengan ini disampaikan hal-hal
sebagai berikut :

1. Direktur Jenderal Pajak untuk keperluan penyelesaian permohonan keberatan, pengurangan


atau penghapusan sanksi administrasi, pengurangan atau pembatalan surat ketetapan pajak
atau surat tagihan pajak yang tidak benar, dan pembatalan hasil pemeriksaan atau surat
ketetapan pajak dari hasil pemeriksaan, secara tertulis dapat :

a. meminjam buku, catatan, data, dan informasi dalam bentuk hardcopy dan/atau
softcopy; dan/atau

b. meminta Wajib Pajak untuk memberikan keterangan.

2. Peminjaman dan/atau permintaan sebagaimana dimaksud pada angka 1 dilakukan dengan


menggunakan surat peminjaman dan/atau permintaan dan disampaikan kepada Wajib Pajak.
3. Penyampaian surat peminjaman dan/atau permintaan sebagaimana dimaksud pada angka 2
dapat dilakukan dengan cara :

a. disampaikan langsung kepada Wajib Pajak;

b. dikirim melalui pos tercatat; dan/atau

c. dikirim melalui media faksimili atau media surat elektronik (email).

4. Dalam hal surat peminjaman dan/atau permintaan disampaikan secara langsung kepada
Wajib Pajak, dibuat tanda terima penyerahan dengan mencantumkan tanggal, bulan dan
tahun diterima serta identitas penerima surat.
5. Dalam hal surat peminjaman dan/atau permintaan disampaikan dengan cara sebagaimana
dimaksud pada angka 3 huruf c, surat peminjaman dan/atau permintaan dimaksud dikirim
juga dengan pos tercatat.
6. Dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih baik kepada Wajib Pajak untuk
penyelesaian permohonan keberatan, pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi,
pengurangan atau pembatalan surat ketetapan pajak atau surat tagihan pajak yang tidak
benar, dan pembatalan hasil pemeriksaan atau surat ketetapan pajak dari hasil pemeriksaan,
dapat dilakukan langkah-langkah sebagai berikut :
a. dalam hal surat peminjaman dan/atau permintaan sebagaimana dimaksud pada angka
2 disampaikan dengan cara sebagaimana dimaksud pada angka 3 huruf b dan huruf c,
maka dilakukan komunikasi dengan Wajib Pajak melalui media telepon pada saat hari
penyampaian surat peminjaman dan/atau permintaan untuk menginformasikan
penyampaian surat dimaksud.

b. dalam hal surat peminjaman dan/atau permintaan sebagaimana dimaksud pada angka
2 disampaikan hanya dengan cara sebagaimana dimaksud pada angka 3 huruf b, maka
beberapa hari setelah surat dikirim dilakukan komunikasi kembali dengan Wajib
Pajak melalui media telepon untuk mendapatkan informasi apakah surat peminjaman
dan/atau permintaan tersebut telah diterima dan kapan Wajib Pajak akan
memenuhinya.

c. dalam hal menjelang batas waktu yang ditentukan Wajib Pajak belum memberikan
respon atas surat peminjaman dan/atau permintaan, maka dilakukan komunikasi
kembali dengan Wajib Pajak melalui media telepon untuk mengkonfirmasikan surat
peminjaman dan/atau permintaan.

7. Bukti tanda terima penyampaian secara langsung, bukti pos tercatat, bukti pengiriman
melalui media faksimili, dan/atau bukti pengiriman melalui email sebagaimana dimaksud
pada angka 3 diadministrasikan dengan tertib dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan
dengan laporan penelitian permohonan Wajib Pajak.
8. Setiap aktifitas yang dilakukan sebagaimana dimaksud pada angka 6, dituangkan dalam
laporan penelitian permohonan Wajib Pajak dan kertas kerja penelitian dengan
mencantumkan :

a. tanggal, bulan dan tahun dilakukan komunikasi melalui media telepon;

b. identitas nomor telepon yang dapat dihubungi;

c. identitas penerima telepon dan jabatan yang bersangkutan;

d. isi pembicaraan selama berkomunikasi melalui media telepon;

9. Segala kegiatan dalam rangka penyampaian surat peminjaman dan/atau permintaan


sebagaimana dimaksud pada angka 3 dan aktifitas sebagaimana dimaksud pada angka 6,
didokumentasikan dengan baik dan lengkap untuk keperluan menghadapi persidangan.
10. Prosedur dan tata cara peminjaman buku, catatan, data, dan informasi dan/atau permintaan
keterangan adalah sebagaimana telah diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor
PER-49/PJ/2009 tanggal 7 September 2009 dan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor
SE-02/PJ.07/2007 tanggal 08 Oktober 2007.
11. Untuk memudahkan penggunaan Surat Edaran ini, dianjurkan agar pengarsipannya disatukan
dengan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-49/PJ/2009 dan Surat Edaran
Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-02/PJ.07/2007.
Demikian untuk dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal 05 November 2010
Direktur Jenderal,

ttd

Mochamad Tjiptardjo
NIP 195104281975121002

Tembusan :

1. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak;

2. Para Direktur dan Tenaga Pengkaji di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak; dan

3. Kepala Pusat Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan.


SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
NOMOR SE - 113/PJ/2010

TENTANG

PENGGALIAN POTENSI DAN PENGAMANAN


PENERIMAAN PAJAK WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI BARU

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Dalam rangka pengamanan penerimaan pajak Wajib Pajak Orang Pribadi (WP OP), perlu
dilakukan upaya penggalian potensi dan pengamanan penerimaan pajak WP OP Baru dengan
penjelasan sebagai berikut:
I. Pengertian dan Ketentuan Umum
A. Pengertian
Dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini, yang dimaksud dengan:

1. WP OP Baru adalah WP OP yang terdaftar pada tahun berjalan atau satu tahun
sebelumnya.

2. WP OP meliputi WP OP domisili dan WP OP cabang.

3. Penggalian Potensi WP OP Baru adalah upaya aktif yang dilakukan oleh


Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dengan menganalisis perbedaan antara potensi
dengan data yang diperoleh dari WP OP.

4. Penerimaan Pajak WP OP Baru adalah penerimaan pajak yang berasal dari


pembayaran yang dilakukan oleh WP OP Baru.

5. Penerimaan Pajak WP OP Baru merupakan penerimaan Extra Effort


Ekstensifikasi.

B. Ketentuan Umum

1. Kantor Pelayanan Pajak Pratama (KPP Pratama) bertanggung jawab melakukan


penggalian potensi dan pengamanan penerimaan pajak WP OP Baru.

2. Kantor Wilayah DJP bertanggung jawab memberikan arahan, bimbingan dan


asistensi kepada KPP Pratama dalam rangka pelaksanaan kegiatan sebagaimana
dimaksud dalam romawi I huruf B angka 1.

II. Penggalian Potensi dan Pengamanan Penerimaan Pajak


A. Penggalian Potensi
Penggalian potensi dilakukan berdasarkan hasil mapping potensi, monografi fiskal dan
hasil canvassing yang telah dilakukan oleh KPP Pratama atau Kantor Wilayah DJP,
dengan penjelasan sebagai berikut:

1. Mapping potensi WP OP Baru dapat diperoleh melalui kegiatan ekstensifikasi


berbasis properti khususnya tempat kegiatan usaha (pusat bisnis), pemberi kerja,
dan profesi (termasuk asosiasi) dengan mengoptimalkan kegiatan ekstensifikasi
terhadap WP OP yang diperkirakan memiliki potensi penerimaan pajak.

2. Ekstensifikasi berbasis properti dilakukan berdasarkan Peraturan Direktur


Jenderal Pajak Nomor PER-116/PJ./2007 tentang Ekstensifikasi Wajib Pajak
Orang Pribadi Melalui Pendataan Objek Pajak Bumi dan Bangunan sebagaimana
telah diubah dengan PER-32/PJ/2008, termasuk bangunan bertingkat tinggi (high
rise building).

3. Ekstensifikasi berbasis pemberi kerja dilakukan berdasarkan Peraturan Direktur


Jenderal Pajak Nomor PER-16/PJ/2007 tentang Pemberian Nomor Pokok Wajib
Pajak Orang Pribadi yang Berstatus sebagai Pengurus, Komisaris, Pemegang
Saham/Pemilik dan Pegawai Melalui Pemberi Kerja/Bendaharawan Pemerintah,
termasuk kegiatan multi level marketing, pemasok (supplier) dan sejenisnya.

4. Ekstensifikasi berbasis profesi dilakukan melalui kerja sama dengan pihak


asosiasi, perhimpunan, atau ikatan profesi yang potensial.

B. Pengamanan Penerimaan Pajak


Pengamanan penerimaan pajak WP OP Baru dilakukan berdasarkan pemantauan dari
kegiatan-kegiatan sebagai berikut:

1. Optimalisasi kegiatan pengawasan terhadap WP OP Baru yang termasuk kategori


Orang Pribadi Pengusaha Tertentu (OPPT) sesuai dengan Peraturan Direktur
Jenderal Pajak Nomor PER-32/PJ/2010 tentang Pelaksanaan Pengenaan Pajak
Penghasilan Pasal 25 Bagi Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha Tertentu dan
Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-77/PJ/2010 tentang
Pengawasan Atas Pelaksanaan Pengenaan Pajak Penghasilan Pasal 25 Bagi
Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha Tertentu.

2. Tindak lanjut terhadap WP OP Baru sesuai dengan Surat Edaran Direktur


Jenderal Pajak Nomor SE-8/PJ/2008 tentang Tindak Lanjut Hasil Ekstensifikasi
Wajib Pajak Orang Pribadi dan SE-32/PJ/2010 tentang Penegasan Tindak Lanjut
Kantor Pelayanan Pajak Terhadap Wajib Pajak Orang Pribadi Baru, yang belum
melaksanakan kewajiban perpajakannya.

3. Pelaksanaan pembinaan, edukasi, dan pelayanan perpajakan terhadap WP OP


Baru berdasarkan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-94/PJ/2010
tentang Tata Cara Pelaksanaan Pembinaan, Edukasi, dan Pelayanan Kepada
Wajib Pajak Orang Pribadi Baru.

III. Langkah-Langkah Penggalian Potensi dan Pengamanan Penerimaan Pajak


A. Kantor Pelayanan Pajak Pratama
1. Penggalian potensi dilaksanakan dengan mengoptimalkan kegiatan ekstensifikasi
terhadap WP OP yang belum terdaftar, khususnya WP OP yang diperkirakan
memiliki potensi penerimaan pajak, dengan melakukan langkah-langkah sebagai
berikut:
a. menginventarisasi data WP OP potensial, misalnya dengan cara:
1) query data SISMIOP dengan Jenis Penggunaan Bangunan (JPB) pertokoan
dan bangunan bertingkat tinggi;
2) memanfaatkan data monografi fiskal, data hasil mapping dan atau data hasil
canvassing yang berisi data potensi wilayah;
3) mengumpulkan data dan informasi dari pihak ketiga seperti pengelola pusat
perdagangan, asosiasi atau perhimpunan tertentu seperti asosiasi perusahaan
asuransi, multi level marketing dan realty agency, dan instansi yang terkait;
b. memilah hasil inventarisasi data tersebut untuk menentukan WP OP yang belum
memiliki NPWP;
c. menindaklanjuti dengan kegiatan ekstensifikasi WP OP sesuai dengan Peraturan
Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-116/PJ./2007 tentang Ekstensifikasi Wajib
Pajak Orang Pribadi Melalui Pendataan Objek Pajak Bumi dan Bangunan
sebagaimana telah diubah dengan PER-32/PJ/2008;
d. menindaklanjuti dengan melakukan penyisiran (canvassing) terhadap WP Orang
Pribadi Pengusaha Tertentu (OPPT) di pusat-pusat perbelanjaan, pertokoan dan
tempat kegiatan usaha lainnya sesuai dengan Peraturan Direktur Jenderal Pajak
Nomor Per-32/PJ/2010 tentang Pelaksanaan Pengenaan Pajak Penghasilan Pasal
25 Bagi Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha Tertentu dan Surat Edaran
Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-77/PJ/2010 tentang Pengawasan Atas
Pelaksanaan Pengenaan Pajak Penghasilan Pasal 25 Bagi Wajib Pajak Orang
Pribadi Pengusaha Tertentu;
e. dalam melaksanakan kegiatan ekstensifikasi atau penyisiran (canvassing) untuk
WP OPPT, perlu juga mempertimbangkan hal lainnya, seperti karakteristik
usahanya yang tidak dibatasi dengan aturan jam kerja kantor.
2. Pengamanan penerimaan pajak dilaksanakan dengan menindaklanjuti WP OP Baru
dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. menyusun rekapitulasi data WP OP Baru melalui inventarisasi data WP OP yang
memenuhi kategori sebagai WP OP Baru dengan cara:
1) query data Master File Wajib Pajak berdasarkan tahun terdaftar;
2) melakukan rekapitulasi data Surat Keterangan Terdaftar atau pemberian
NPWP baru dari Seksi Pelayanan; dan atau
3) melakukan rekapitulasi hasil kegiatan ekstensifikasi melalui Monitoring
PWPM berdasarkan domisili.
b. memilah hasil rekapitulasi data WP OP Baru yang telah maupun yang belum
melaksanakan kewajiban perpajakannya baik pembayaran pajak maupun
penyampaian SPT Masa/Tahunan, dilanjutkan dengan:
1) untuk WP OP Baru yang sudah melaksanakan kewajiban perpajakannya
dilakukan pengawasan kepatuhan;
2) untuk WP OP Baru yang belum melaksanakan kewajiban perpajakannya
dilakukan:
a) penyampaian Surat Himbauan sesuai Surat Edaran Direktur Jenderal
Pajak Nomor SE-32/PJ/2010 tentang Penegasan Tindak Lanjut Kantor
Pelayanan Pajak Terhadap Wajib Pajak Orang Pribadi Baru;
b) pemberian edukasi perpajakan sesuai dengan Surat Edaran Direktur
Jenderal Pajak Nomor SE-94/PJ/2010 tanggal 14 September 2010
tentang Tata Cara Pelaksanaan Pembinaan, Edukasi, dan Pelayanan
Kepada Wajib Pajak Orang Pribadi Baru.
3. Melakukan kerjasama dan koordinasi dengan Pemerintah Daerah (Dinas Pajak atau
Dinas Pendapatan) untuk menyukseskan kegiatan tersebut dengan memberikan
penjelasan pentingnya penerimaan PPh 21 dan PPh Orang Pribadi bagi Pemerintah
Daerah.
4. Melakukan koordinasi dan mengikutsertakan pihak ketiga seperti asosiasi pedagang,
pengelola pasar, pengelola pusat perdagangan, atau perhimpunan penghuni
apartemen.
5. Melakukan upaya-upaya lain dalam mengamankan target Extra Effort sesuai dengan
kondisi dan potensi wilayah kerja masing-masing.
B. Kantor Wilayah DJP
1. Membantu kerjasama dan koordinasi antara KPP Pratama dengan Pemerintah
Daerah atau pihak ketiga.
2. Memberikan pendampingan, bimbingan, dan pengawasan pelaksanaan kegiatan
penggalian potensi dan pengamanan penerimaan pajak WP OP Baru.
IV. Tata Cara Pelaksanaan Penggalian Potensi dan Pengamanan Penerimaan Pajak
Proses bisnis pelaksanaan penggalian potensi dan pengamanan penerimaan pajak WP OP
Baru diatur sesuai dengan tata cara yang dibuat dalam bentuk prosedur (Standard Operating
Procedure) KPP Pratama sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran I dan Lampiran II Surat
Edaran ini.

Demikian untuk dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 5 November 2010
Direktur Jenderal

ttd

Mochamad Tjiptardjo
NIP 195104281975121002
Tembusan :

1. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak;

2. Para Direktur dan Tenaga Pengkaji di Lingkungan DJP;

3. Kepala Pusat Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan.

SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK


NOMOR SE - 105/PJ/2010

TENTANG

PENETAPAN RASIO TOTAL BENCHMARKING TAHAP IV

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Menindaklanjuti ketentuan angka 7 (tujuh) Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak nomor SE-
96/PJ/2009 tanggal 5 Oktober 2009 tentang Rasio Total Benchmarking Dan Petunjuk
Pemanfaatannya, dan sehubungan dengan telah selesainya penghitungan rasio total
benchmarking untuk beberapa sektor usaha tertentu, dengan ini diberitahukan hal-hal sebagai
berikut :

1. kelompok usaha yang telah selesai dilakukan penghitungan rasio-rasio benchmark untuk
tahap IV sebanyak 20 (dua puluh) KLU sebagaimana tercantum dalam lampiran surat
edaran ini;

2. rasio-rasio yang dilakukan benchmarking tetap terdiri dari 14 (empat belas) rasio, yaitu :

a. Gross Profit Margin (GPM),


b. Operating Profit Margin (OPM),
c. Pretax Profit Margin (PPM),
d. Corporate Tax to Turn Over Ratio (CTTOR),
e. Net Profit Margin (NPM),
f. Dividend Payout Ratio (DPR),
g. rasio PPN Masukan terhadap penjualan,
h. rasio biaya gaji terhadap penjualan,
i. rasio biaya bunga terhadap penjualan,
j rasio biaya sewa terhadap penjualan,
k rasio biaya penyusutan terhadap penjualan,
l. rasio input antara lainnya terhadap penjualan,
m. rasio penghasilan luar usaha terhadap penjualan, dan
n. rasio biaya luar usaha terhadap penjualan.

3. pemanfaat rasio-rasio total benchmarking tetap mengacu pada Surat Edaran Direktur
Jenderal Pajak nomor SE-96/PJ/2009 tanggal 5 Oktober 2009 tentang Rasio Total
Benchmarking Dan Petunjuk Pemanfaatannya;

4. memerintahkan kepada para Kepala Kantor Wilayah DJP agar memantau pelaksanaan
pemanfaatan Total Benchmarking oleh Kantor Pelayanan Pajak;

5. surat edaran ini merupakan pelengkap atas Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak nomor
SE-96/PJ/2009 tanggal 5 Oktober 2009 tentang Rasio Total Benchmarking Dan Petunjuk
Pemanfaatannya, dan untuk mempermudah pemahaman dan penyimpanan arsip, agar
Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini disatukan penyimpanannya dengan Surat Edaran
Direktur Jenderal Pajak nomor SE-96/PJ/2009 dan SE-11/PJ/2010.

Demikian surat edaran ini disampaikan untuk dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 20 Oktober 2010
Direktur Jenderal,

ttd.

Mochamad Tjiptardjo
NIP 195104281975121002

Tembusan :

1. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak

2. Para Direktur dan Tenaga Pengkaji di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak

3. Kepala Pusat Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan


SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
NOMOR SE - 94/PJ/2010

TENTANG

TATA CARA PELAKSANAAN PEMBINAAN, EDUKASI, DAN PELAYANAN


KEPADA WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI BARU

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Dalam rangka mewujudkan Wajib Pajak Orang Pribadi Baru yang patuh dan taat dalam
melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan serta untuk menindaklanjuti
Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-32/PJ/2010 tanggal 9 Maret 2010 tentang
Penegasan Tindak Lanjut Kantor Pelayanan Pajak terhadap Wajib Pajak Orang Pribadi Baru,
perlu diberikan pembinaan, edukasi, dan pelayanan terhadap Wajib Pajak Orang Pribadi Baru
dengan penjelasan sebagai berikut :

I. Pengertian dan Ketentuan Umum


A. Pengertian
Dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini, yang dimaksud dengan :
1. Wajib Pajak Orang Pribadi Baru adalah Wajib Pajak Orang Pribadi yang terdaftar
sejak awal tahun sebelumnya yang :
a. belum menyampaikan Surat Pemberitahuan (SPT) pertama kali; dan

b. belum melakukan pembayaran/penyetoran Pajak Penghasilan (PPh) atau


Pajak Pertambahan Nilai (PPN) pertama kali dengan Surat Setoran Pajak
(SSP).

2. Pembinaan adalah upaya aktif yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pajak
dengan memberikan bimbingan terhadap Wajib Pajak Orang Pribadi Baru agar
mengetahui dan memahami serta melaksanakan hak dan kewajiban di bidang
perpajakan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan;
3. Edukasi adalah upaya aktif yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pajak
melalui pelatihan mengenai peraturan perundang-undangan perpajakan dan
pengisian SPT.
4. Kelas Pengisian SPT adalah kegiatan yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal
Pajak di suatu tempat dan waktu tertentu yang diikuti oleh sekelompok Wajib Pajak
yang khusus memberikan pengetahuan, pemahaman dan pengisian SPT.
5. Pelayanan adalah upaya aktif yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pajak
dalam rangka mendukung kelancaran dan kemudahan Wajib Pajak Orang Pribadi
Baru untuk menyampaikan SPT pertama kali atau melaksanakan kewajiban
pembayaran/penyetoran Pajak Penghasilan (PPh) atau Pajak Pertambahan Nilai
(PPN) pertama kali dengan Surat Setoran Pajak (SSP).
B. Ketentuan Umum

1. Kantor Pelayanan Pajak dan Kantor Pelayanan, Penyuluhan dan Konsultasi


Perpajakan (KP2KP) bertanggung jawab melakukan pembinaan, edukasi dan
pelayanan kepada Wajib Pajak Orang Pribadi Baru.

2. Kantor Wilayah DJP bertanggung jawab memberikan arahan, bimbingan dan


asistensi kepada Kantor Pelayanan Pajak dalam rangka pelaksanaan kegiatan
sebagaimana dimaksud dalam romawi I huruf B angka 1.

3. Kegiatan Pembinaan, Edukasi, dan Pelayanan dimaksudkan agar Wajib Pajak


Orang Pribadi Baru menyampaikan SPT dan atau melakukan
pembayaran/penyetoran Pajak Penghasilan (PPh) atau Pajak Pertambahan Nilai
(PPN) dengan Surat Setoran Pajak (SSP).

4. Wajib Pajak Orang Pribadi Baru yang sudah menyampaikan SPT atau
melakukan pembayaran/penyetoran pajak terhutang (PPh atau PPN) dengan Surat
Setoran Pajak (SSP) menjadi wewenang Seksi Pengawasan dan Konsultasi.

II. Tata Cara Pelaksanaan Pembinaan, Edukasi, dan Pelayanan


A. Kantor Pelayanan Pajak
1. Pembinaan terhadap Wajib Pajak Orang Pribadi Baru dilakukan melalui
kegiatan pemberian konsultasi, sosialisasi dan penyuluhan perpajakan.
2. Edukasi terhadap Wajib Pajak Orang Pribadi Baru dapat dilaksanakan melalui
Kelas Pengisian SPT dan simulasi penghitungan pajak terutang.
3. Pelayanan terhadap Wajib Pajak Orang Pribadi Baru melalui kegiatan
pemberian informasi perpajakan dalam bentuk antara lain buku saku atau brosur
termasuk penyediaan formulir SPT dan SSP serta penjelasan petunjuk pengisian
SPT dan simulasi penghitungan pajak terutang.
4. Pelaksanaan pembinaan dan edukasi serta pelayanan terhadap Wajib Pajak
Orang Pribadi Baru karyawan dapat dikoordinasikan melalui unit Pemberi Kerja,
sedangkan non karyawan dapat dikoordinasikan melalui kelompok masyarakat,
tokoh masyarakat, asosiasi pedagang, kawasan pertokoan, komplek perumahan,
atau pemerintah daerah setempat.
5. Pelaksanaan pembinaan dan edukasi serta pelayanan terhadap Wajib Pajak
Orang Pribadi Baru menjadi wewenang Seksi Ekstensifikasi Perpajakan sampai
dengan Wajib Pajak tersebut menyampaikan SPT pertama kali atau
pembayaran/penyetoran pajak terhutang (PPh atau PPN) pertama kali. Sedangkan
untuk selain KPP Pratama menjadi wewenang Seksi Pelayanan.
6. Prosedur pelaksanaan pembinaan dan edukasi serta pelayanan terhadap Wajib
Pajak Orang Pribadi Baru oleh Seksi Ekstensifikasi Perpajakan pada KPP Pratama
diatur sebagaimana dalam Lampiran I Surat Edaran ini.
7. Prosedur pelaksanaan pembinaan dan edukasi serta pelayanan terhadap Wajib
Pajak Orang Pribadi Baru oleh Seksi Pelayanan di KPP selain KPP Pratama
diatur sebagaimana dalam Lampiran II Surat Edaran ini.
8. Kantor Pelayanan Pajak membuat Laporan Hasil Pelaksanaan Edukasi (Kelas
Pengisian SPT) Wajib Pajak Orang Pribadi Baru dan mengirimkan ke Kanwil DJP
cq. Kepala Bidang P2 Humas.
9. Laporan Hasil Pelaksanaan Edukasi Wajib Pajak Orang Pribadi Baru dikirimkan
paling lambat tanggal 7 (tujuh) setiap bulan setelah bulan dimaksud. Dalam hal
pada bulan dimaksud tidak dilakukan Edukasi kepada Wajib Pajak Orang Pribadi
Baru, laporan diisi dengan keterangan "NIHIL".
10. Dalam hal tanggal jatuh tempo pelaporan Laporan Hasil Pelaksanaan Edukasi
Wajib Pajak Orang Pribadi Baru adalah hari libur maka pelaporan dilakukan pada
hari berikutnya.
B. Kantor Pelayanan, Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP)
1. Bagi Kantor Pelayanan Pajak yang wilayah kerjanya meliputi KP2KP, kegiatan
edukasi terhadap Wajib Pajak Orang Pribadi Baru dilakukan oleh KP2KP.
2. Prosedur edukasi terhadap Wajib Pajak Orang Pribadi Baru dalam wilayah
KP2KP diatur sebagaimana dalam Lampiran III Surat Edaran ini.
3. KP2KP menyampaikan Laporan Hasil Pelaksanaan Edukasi Wajib Pajak Orang
Pribadi Baru kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak Pratama paling lambat tanggal
5 (lima) setiap bulan setelah bulan dimaksud. Dalam hal pada bulan dimaksud tidak
dilakukan Edukasi kepada Wajib Pajak Orang Pribadi Baru, Laporan diisi dengan
keterangan "NIHIL".
C. Kantor Wilayah Direktur Jenderal Pajak
1. Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak (Kanwil DJP) secara aktif
melakukan pemantauan dan pengawasan serta bimbingan dan arahan kepada Kantor
Pelayanan Pajak dalam rangka mendukung kelancaran pelaksanaan kegiatan
pembinaan dan edukasi serta pelayanan terhadap Wajib Pajak Orang Pribadi Baru.
2. Kanwil DJP melakukan rekapitulasi bulanan atas Laporan Hasil Pelaksanaan
Edukasi (Kelas Pengisian SPT) dari seluruh KPP unit vertikal dan mengirimkan ke
Kantor Pusat DJP cq. Direktur P2 Humas menggunakan aplikasi pelaporan.
3. Kanwil DJP mengirimkan Laporan Rekapitulasi Hasil Pelaksanaan Edukasi ke
Kantor Pusat DJP cq. Direktur P2 Humas paling lambat tanggal 10 (sepuluh) setiap
bulan sesuai dengan SE-53/PJ/2010 tanggal 20 April 2010 tentang Laporan Kegiatan
Sosialisasi/Penyuluhan.
4. Kantor Wilayah Direktur Jenderal Pajak melakukan bimbingan, arahan dan
bantuan pelaksanaan pembinaan, edukasi, dan pelayanan perpajakan dalam bentuk :

a. menyiapkan tenaga penyuluh dan fasilitator;

b. melakukan koordinasi dengan pihak terkait sesuai dengan level organisasi;

c. melakukan kordinasi dengan KPP dalam lingkungan Kanwil DJP


yang bersangkutan;

d. membantu menyiapkan buku saku atau brosur perpajakan;

e. membantu menyediakan formulir SPT dan SSP.

5. Prosedur pelaksanaan bimbingan, arahan, dan bantuan pelaksanaan


edukasi perpajakan oleh Kanwil DJP kepada Kantor Pelayanan Pajak pada unit
vertikal diatur sebagaimana dalam lampiran IV Surat Edaran ini.
III. Pelaksanaan Edukasi kepada Wajib Pajak Orang Pribadi Baru
1. Edukasi perpajakan terhadap Wajib Pajak Orang Pribadi Baru dilakukan sebagai berikut :

a. Terhadap Wajib Pajak Orang Pribadi Baru karyawan, pelaksanaan kegiatan


edukasi perpajakan berdasarkan permintaan Wajib Pajak atau melalui Pemberi
Kerja atau Serikat Pekerja dan dilaksanakan secara kolektif di tempat Pemberi
Kerja atau tempat lain yang ditunjuk.

b. Terhadap Wajib Pajak Orang Pribadi Baru non karyawan, pelaksanaan


kegiatan edukasi perpajakan berdasarkan hasil kunjungan atau visit atas lokasi,
kawasan, komplek, pusat pertokoan, atau atas permintaan sekelompok Wajib
Pajak melalui asosiasi, perhimpunan, kelompok masyarakat dilaksanakan secara
kolektif di tempat yang ditentukan sesuai dengan skala prioritas potensi
penerimaan pajak.

2. Edukasi perpajakan terhadap Wajib Pajak Orang Pribadi Baru dilaksanakan dengan
membuka Kelas Pengisian SPT Tahunan dengan tahapan sebagai berikut :

a. Menginventarisasi dan mengklasifikasi Wajib Pajak Orang Pribadi Baru


karyawan dan non karyawan.

b. Melakukan pendekatan kepada pihak terkait, seperti pemberi kerja,


pengelola, asosiasi, Pemda setempat, tokoh masyarakat.

c. Menentukan lokasi dan waktu kegiatan edukasi.

d. Menyebarluaskan pelaksanaan kegiatan misalnya melalui pamflet, spanduk, atau


media informasi lainnya.

e. Menyiapkan bahan presentasi dan brosur perpajakan termasuk formulir SPT dan
SSP.

f. Membuat laporan pelaksanaan kegiatan.

3. Pelaksanaan edukasi perpajakan dapat dilakukan secara serentak dengan


dikoordinasikan oleh Kantor Wilayah DJP setempat.

Demikian disampaikan untuk dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal 14 September 2010
Direktur Jenderal,

ttd.

Mochamad Tjiptardjo
NIP 195104281975121002

Tembusan :

1. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak.

2. Para Direktur dan Tenaga Pengkaji di Lingkungan Ditjen Pajak.

3. Kepala Pusat Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan.

SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK


NOMOR SE - 82/PJ/2010

TENTANG

PETUNJUK PELAKSANAAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK


NOMOR PER-36/PJ/2010 TENTANG PROSEDUR PENERBITAN KEMBALI SURAT
KETETAPAN PAJAK KURANG BAYAR, SURAT KETETAPAN PAJAK KURANG BAYAR
TAMBAHAN, DAN/ATAU SURAT TAGIHAN PAJAK

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Dalam rangka pelaksanaan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-36/PJ/2010 tentang
Prosedur Penerbitan Kembali Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar, Surat Ketetapan Pajak
Kurang Bayar Tambahan, dan/atau Surat Tagihan Pajak, dengan ini perlu diperhatikan hal-hal
sebagai berikut:
1. Penerbitan kembali Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB), Surat Ketetapan Pajak
Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT), dan/atau Surat Tagihan Pajak (STP) dilakukan oleh
Kepala Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar pada saat dilakukan penerbitan
kembali atas nama Direktur Jenderal Pajak.
2. Prosedur penerbitan kembali SKPKB, SKPKBT, dan/atau STP adalah sebagaimana
ditetapkan pada Lampiran I Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini.
3. Sebelum melakukan penerbitan kembali, Kepala Kantor Pelayanan Pajak menyampaikan
Daftar Nominatif Usulan Penerbitan Kembali SKPKB, SKPKBT, dan/atau STP, dengan
menggunakan format sebagaimana ditetapkan pada Lampiran II Surat Edaran Direktur
Jenderal Pajak ini, dengan melampirkan Berita Acara Hasil Penelitian Usulan Penerbitan
Kembali SKPKB, SKPKBT, dan/atau STP, dalam bentuk hardcopy dan softcopy kepada
Kepala Kantor Wilayah DJP atasannya untuk mendapatkan persetujuan.
4. Berita Acara Hasil Penelitian Usulan Penerbitan Kembali SKPKB, SKPKBT, dan/atau STP
adalah sebagaimana dimaksud pada Lampiran III Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini.
5. Kepala Kantor Wilayah DJP harus memberikan putusan atas usulan sebagaimana dimaksud
pada angka 3 dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan sejak diterimanya usulan
tersebut dengan menggunakan format sebagaimana ditetapkan pada Lampiran IV Surat
Edaran Direktur Jenderal Pajak ini.
6. Terhadap usulan yang disetujui oleh Kepala Kantor Wilayah DJP, Kepala Kantor Pelayanan
Pajak menerbitkan kembali SKPKB, SKPKBT, dan/atau STP dalam jangka waktu paling
lama 14 (empat belas) hari sejak persetujuan diterima.
7. Terhadap usulan yang tidak disetujui oleh Kepala Kantor Wilayah DJP, Kepala Kantor
Pelayanan Pajak diminta segera menindaklanjuti sesuai dengan penjelasan dan rekomendasi
Kepala Kantor Wilayah DJP.
8. Kepala Kantor Pelayanan Pajak melaporkan penerbitan kembali SKPKB, SKPKBT, dan/atau
STP kepada Kepala Kantor Wilayah DJP paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya setelah
bulan penerbitan dengan menggunakan format sebagaimana ditetapkan pada Lampiran V
Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini.
9. Kepala Kantor Wilayah DJP melakukan kompilasi laporan sebagaimana dimaksud pada
angka 8 dan melaporkannya kepada Direktur Pemeriksaan dan Penagihan paling lambat
tanggal 10 bulan berikutnya setelah bulan diterimanya laporan penerbitan kembali, dengan
menggunakan format sebagaimana ditetapkan pada Lampiran VI Surat Edaran Direktur
Jenderal Pajak ini.
10. Kepala Kantor Wilayah DJP melakukan evaluasi atas pelaksanaan penerbitan kembali
SKPKB, SKPKBT, dan/atau STP berdasarkan kompilasi laporan sebagaimana dimaksud pada
angka 9 dalam tahun berjalan dan melaporkan kepada Direktur Pemeriksaan dan Penagihan
paling lambat pada akhir bulan Januari tahun berikutnya.
11. Lampiran I sampai dengan Lampiran VI Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini merupakan
bagian yang tidak terpisahkan dari Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak.

Demikian untuk dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 30 Juli 2010
Direktur Jenderal,

ttd.

Mochamad Tjiptardjo
NIP 195104281975121002

Tembusan:

1. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak;

2. Para Direktur dan Tenaga Pengkaji di Lingkungan Kantor Pusat Direktorat Jenderal
Pajak;

3. Kepala Pusat Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan.

SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK


NOMOR SE - 81/PJ/2010

TENTANG
PETUNJUK PELAKSANAAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
NOMOR PER-26/PJ/2010 TENTANG TATA CARA PENELITIAN SURAT SETORAN
PAJAK ATAS PENGHASILAN DARI PENGALIHAN HAK ATAS TANAH DAN/ATAU
BANGUNAN

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Sehubungan dengan telah diterbitkannya Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-
26/PJ/2010 tentang Tata Cara Penelitian Surat Setoran Pajak atas Penghasilan dari Pengalihan
Hak atas Tanah dan/atau Bangunan, dengan ini disampaikan hal-hal sebagai berikut :

1. Penelitian SSP atas penghasilan dari pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan dilakukan
oleh KPP Pratama yang wilayah kerjanya meliputi letak tanah dan/atau bangunan yang
dialihkan haknya.
2. Pelaksanaan kegiatan penelitian SSP Pengalihan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan pada
KPP Pratama adalah sebagai berikut :
a. Penanganan berkas di TPT
1) Petugas TPT mengecek kelengkapan dokumen penyampaian formulir penelitian SSP
atas penghasilan dari pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan, yang terdiri dari :
a) Surat Setoran Pajak Lembar ke-1 yang sudah tertera Nomor Transaksi
Penerimaan Negara (NTPN) dan Nomor Transaksi Bank/Nomor Transaksi
Pos/Nomor Penerimaan Potongan serta foto kopinya;
b) foto kopi Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT) atau Surat Tanda Terima
Setoran/Struk ATM bukti pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan/bukti
pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan lainnya atas tanah dan/atau bangunan
yang dialihkan haknya;
c) foto kopi faktur/bukti penjualan atau bukti penerimaan uang dalam hal pengalihan
hak atas tanah dan/atau bangunan dilakukan dengan cara penjualan; dan
d) foto kopi surat kuasa dan kartu identitas yang diberi kuasa dalam hal pengajuan
formulir penelitian Surat Setoran Pajak dikuasakan.
2) Atas penyampaian formulir penelitian SSP yang telah dilengkapi dokumen
sebagaimana dimaksud pada angka 1), diterima dan diberikan tanda terima kepada
Wajib Pajak.
3) Berkas penelitian SSP yang telah diterima selanjutnya diteruskan ke Seksi Pelayanan.
b. Penanganan berkas oleh Seksi Pelayanan
Kegiatan penelitian SSP dilakukan oleh Petugas Peneliti SSP yang ditunjuk dan
pengaturannya diserahkan kepada Kepala KPP Pratama yang bersangkutan dengan
koordinasi Kepala Seksi Pelayanan.
1) Petugas Peneliti SSP meneliti kebenaran isian pada formulir penelitian SSP.
Unsur-unsur yang diteliti antara lain :
a) Data Modul Penerimaan Negara (MPN)
Petugas Peneliti SSP mengecek Nomor Transaksi Penerimaan Negara (NTPN)
dan mencocokkan jumlah pembayaran Pajak Penghasilan (PPh) yang tercantum
dalam SSP lembar ke-1 dengan data MPN. Dalam hal diperlukan, bisa melakukan
konfirmasi ke Bank/Pos Persepsi yang bersangkutan.
b) Nomor Objek Pajak Pajak Bumi dan Bangunan (NOP)
Petugas Peneliti SSP mencocokkan NOP yang dicantumkan dalam Surat Setoran
Pajak dengan NOP yang tercantum dalam foto kopi Surat Pemberitahuan Pajak
Terutang (SPPT) atau Surat Tanda Terima Setoran (STTS)/bukti pembayaran
Pajak Bumi dan Bangunan (PPB) lainnya.
c) Besarnya Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) bumi per meter persegi
Petugas Peneliti SSP meneliti NJOP bumi per meter persegi yang dialihkan
haknya sesuai dengan Basis Data PBB.
d) Besarnya NJOP bangunan per meter persegi
Petugas Peneliti SSP meneliti NJOP Bangunan per meter persegi yang dialihkan
haknya sesuai dengan Basis Data PBB.
e) Penghitungan PPh
Petugas Peneliti SSP meneliti kebenaran penghitungan dasar pengenaan PPh
dengan membandingkan nilai pengalihan sebenarnya sebagaimana tercantum
dalam foto kopi faktur/bukti penjualan atau bukti penerimaan uang dengan NJOP.
2) Dalam hal diperlukan penelitian lapangan, Kepala KPP Pratama menerbitkan Surat
Tugas penelitian lapangan.
3. Dalam hal dilakukan penelitian lapangan, penelitian tersebut dilaksanakan oleh Pejabat
Fungsional Penilai atau petugas lain yang ditunjuk.
4. Kepala KPP Pratama dapat menetapkan kriteria dilakukannya penelitian lapangan dengan
tetap mempertimbangkan ketentuan jangka waktu penyelesaian penelitian SSP, misalnya
terdapat bangunan yang belum masuk dalam basis data PBB.
5. Dalam hal berdasarkan penelitian ternyata PPh dari pengalihan hak atas tanah dan/atau
bangunan belum dibayar ke Kas Negara atau PPh yang telah dibayar oleh Wajib Pajak masih
kurang dari yang seharusnya dibayar, maka :

a. SSP lembar ke-1 dan fotokopinya tidak dibubuhkan stempel penelitian SSP;

b. berkas penelitian SSP yang disampaikan oleh Wajib Pajak dikembalikan (kecuali
formulir penelitian SSP dan foto kopi SSP) disertai surat pemberitahuan kepada Wajib
Pajak.

6. Terhadap SSP yang sudah diteliti, diberikan stempel dengan bentuk stempel sebagaimana
ditetapkan pada Lampiran 3 Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-26/PJ/2010
tentang Tata Cara Penelitian Surat Setoran Pajak atas Penghasilan dari Pengalihan Hak atas
Tanah dan/atau Bangunan.
7. Apabila pembayaran PPh dari pengalihan hak atas satu unit tanah dan/atau bangunan
dilakukan dengan lebih dari satu SSP (misal karena pembayaran dilakukan secara angsuran),
maka:

a. stempel penelitian SSP dibubuhkan pada SSP yang terakhir dan foto kopinya;

b. dibuat Rekapitulasi Data SSP.

8. Format Buku Register Penelitian SSP ditetapkan sebagaimana Lampiran I Surat Edaran
Direktur Jenderal Pajak ini.
9. Format Rekapitulasi Data SSP ditetapkan sebagaimana Lampiran II Surat Edaran Direktur
Jenderal Pajak ini.
10. Prosedur Penelitian Surat Setoran Pajak atas Penghasilan dari Pengalihan Hak atas Tanah
dan/atau Bangunan, ditetapkan sebagaimana Lampiran III Surat Edaran Direktur Jenderal
Pajak ini.
11. Apabila penyampaian formulir penelitian SSP oleh Wajib Pajak yang melakukan pengalihan
hak atas tanah dan/atau bangunan atau kuasanya bersamaan dengan penyampaian formulir
penelitian SSB oleh pihak yang memperoleh hak atas tanah dan/atau bangunan atau
kuasanya, maka proses penelitian SSP dan penelitian SSB dapat dilakukan bersamaan.
12. Dalam rangka pelaksanaan dan pengawasan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-
26/PJ/2010 tentang Tata Cara Penelitian Surat Setoran Pajak Atas Penghasilan dari
Pengalihan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan, diminta kepada seluruh Kantor Wilayah
untuk melakukan :

a. sosialisasi ketentuan tentang penelitian SSP kepada PPAT dan juga perusahaan real
estate;

b. koordinasi dengan Kantor Pertanahan/Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional


setempat;

c. pengawasan terhadap pelaksanaan penelitian SSP yang dilakukan KPP yang berada di
wilayah kerjanya.

Demikian untuk dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 29 Juli 2010
Direktur Jenderal,

ttd.

Mochamad Tjiptardjo
NIP 195104281975121002

Tembusan :

1. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak

2. Para Direktur dan Tenaga Pengkaji di Lingkungan DJP

3. Kepala Pusat Pengolahan Data dan Dokumentasi Perpajakan


SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
NOMOR SE - 76/PJ/2010

TENTANG

PENYAMPAIAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK


NOMOR PER-31/PJ/2010 TENTANG
TATA CARA PENETAPAN PENGUSAHA KENA PAJAK BERISIKO RENDAH

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Sehubungan dengan telah diterbitkannya Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-
31/PJ/2010 tentang Tata Cara Penetapan Pengusaha Kena Pajak Berisiko Rendah, dengan ini
disampaikan salinannya kepada Saudara. Hal-hal yang perlu mendapat perhatian sehubungan
dengan diterbitkannya peraturan tersebut antara lain adalah sebagai berikut :

1. Untuk mendapatkan fasilitas pengembalian pendahuluan kelebihan pembayaran pajak, PKP


harus terlebih dahulu mengajukan permohonan kepada Kepala KPP untuk ditetapkan sebagai
PKP berisiko rendah dengan melampirkan :

a. keterangan dari instansi yang berwenang, yang dapat berupa Laporan Bulanan
Kepemilikan Saham Emiten atau Perusahaan Publik dan Rekapitulasi, bagi Perusahaan
Terbuka yang paling sedikit 40% (empat puluh persen) dari keseluruhan saham
disetornya diperdagangkan di bursa efek di Indonesia;

b. keterangan dari instansi yang berwenang, yang dapat berupa Akta Pendirian dan
perubahannya, bagi perusahaan yang saham mayoritasnya dimiliki secara langsung
oleh Pemerintah Pusat dan/atau Pemerintah Daerah; atau

c. Surat Pernyataan bahwa nilai Barang Kena Pajak yang dijual pada tahun sebelumnya
paling sedikit 75% (tujuh puluh lima persen) adalah produksi sendiri dan Laporan
Keuangan untuk 2 (dua) tahun pajak sebelumnya yang diaudit oleh Akuntan Publik
dengan pendapat Wajar Tanpa Pengecualian atau Wajar Dengan Pengecualian, bagi
produsen selain Perusahaan terbuka dan BUMN/BUMD.

2. Kepala KPP menerbitkan keputusan penetapan sebagai Pengusaha Kena Pajak berisiko rendah
atau surat pemberitahuan bahwa permohonan tidak dapat diproses paling lambat 15 (lima
belas) hari kerja setelah tanggal diterimanya permohonan Wajib Pajak.
3. Keputusan penetapan sebagai Pengusaha Kena Pajak berisiko rendah berlaku untuk 24 (dua
puluh empat) Masa Pajak sejak Masa Pajak Pengusaha Kena Pajak ditetapkan sebagai
Pengusaha Kena Pajak berisiko rendah.
4. Surat Keputusan Penetapan Pengusaha Kena Pajak Berisiko Rendah dinyatakan tidak berlaku
lagi apabila dalam masa berlakunya jangka waktu sebagai Pengusaha Kena Pajak berisiko
rendah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (5) terhadap Pengusaha Kena Pajak
dilakukan :
a. pemeriksaan bukti permulaan atau penyidikan; atau

b. pemeriksaan dan ternyata dari hasil pemeriksaan diketahui bahwa Pengusaha Kena
Pajak tidak lagi memenuhi kriteria sebagai Pengusaha Kena Pajak berisiko rendah.

5. Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Demikian untuk diketahui dan dilaksanakan sebaik-baiknya, serta disebarluaskan dalam wilayah
kerja Saudara masing-masing.

Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal 5 Juli 2010
Direktur Jenderal,

ttd.

Mochamad Tjiptardjo
NIP 195104281975121002

Tembusan:

1. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak

2. Para Direktur dan Tenaga Pengkaji di Lingkungan Direktorat Jenderal pajak

3. Kepala Pusat Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan.


SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
NOMOR SE - 70/PJ/2010

TENTANG

PENYAMPAIAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 39/PMK.03/2010


TENTANG BATASAN DAN TATA CARA PENGENAAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI
ATAS KEGIATAN MEMBANGUN SENDIRI
DAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-27/PJ/2010 TENTANG
TATA CARA PENGISIAN SURAT SETORAN PAJAK, PELAPORAN, DAN PENGAWASAN
PENGENAAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI ATAS KEGIATAN MEMBANGUN
SENDIRI

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Bersama ini disampaikan salinan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 39/PMK.03/2010 tentang
Batasan dan Tata Cara Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai atas Kegiatan Membangun Sendiri.
Hal-hal yang perlu mendapat perhatian adalah sebagai berikut :

1. Kegiatan membangun sendiri dikenai Pajak Pertambahan Nilai apabila memenuhi


persyaratan sebagai berikut :
1.1. Membangun sendiri tersebut dilakukan tidak dalam kegiatan usaha atau pekerjaan oleh
orang pribadi atau badan, yang hasilnya digunakan sendiri atau digunakan oleh pihak
lain
1.2. Bangunan yang dibangun sendiri diperuntukkan bagi tempat tinggal, tempat usaha atau
tempat tinggal untuk usaha. Bangunan untuk tempat tinggal adalah bangunan atau
kontruksi yang diperuntukkan bagi tempat tinggal, termasuk fasilitas olah raga atau
fasilitas lain. Bangunan untuk tempat usaha adalah keseluruhan bangunan atau
kontruksi yang diperuntukkan bagi tempat usaha termasuk seluruh fasilitas yang ada.
Bangunan tempat tinggal untuk usaha adalah bangunan atau konstruksi tempat tinggal
yang sebagian bangunan atau seluruhnya digunakan untuk kegiatan usaha.
1.3. Termasuk kegiatan membangun sendiri adalah kegiatan membangun bangunan yang
dilakukan melalui kontraktor atau pemborong tetapi atas kegiatan membangun tersebut
tidak dipungut Pajak Pertambahan Nilai, dan kontraktor atau pemborong tersebut
bukan merupakan Pengusaha Kena Pajak.
1.4. Batasan bangunan yang dikenai PPN kegiatan membangun sendiri adalah satu atau
lebih konstruksi teknik yang ditanam atau dilekatkan secara tetap pada satu kesatuan
tanah dan/atau perairan dengan kriteria:
a.konstruksi utamanya terdiri dari kayu, beton, pasangan batu bata atau bahan sejenis,
dan/atau baja;
b diperuntukkan bagi tempat tinggal atau tempat kegiatan usaha; dan
.
c.luas keseluruhan paling sedikit 300 m2 (tiga ratus meter persegi).
2. Tarif dan Dasar Pengenaan Pajak
2.2. Kegiatan membangun sendiri sebagaimana dimaksud pada butir 1 dikenai Pajak
Pertambahan Nilai dengan Tarif 10% (sepuluh Persen) dari Dasar Pengenaan Pajak.
2.2. Dasar pengenaan pajak atas kegiatan membangun sendiri adalah 40% (empat puluh
persen) dari seluruh biaya yang dikeluarkan atau dibayarkan, tidak termasuk harga
perolehan tanah.
2.3. Termasuk dalam pengertian seluruh biaya yang dikeluarkan atau dibayarkan untuk
membangun sendiri adalah juga jumlah Pajak Pertambahan Nilai yang dibayar atas
perolehan bahan dan jasa untuk kegiatan membangun bangunan tersebut.
3. Saat dan Tempat Pajak Terutang
3.1. Saat terutang Pajak Pertambahan Nilai atas kegiatan membangun sendiri adalah saat
dimulainya secara fisik kegiatan membangun sendiri, seperti penggalian fondasi,
pemasangan tiang pancang, atau kegiatan fisik lainnya.
3.2. Kegiatan membangun sendiri yang dilakukan secara bertahap dianggap merupakan
satu kesatuan kegiatan sepanjang tenggang waktu antara tahapan-tahapan tersebut tidak
lebih dari 2 (dua) tahun.
3.3. Tempat pajak terutang atas kegiatan membangun sendiri adalah di tempat bangunan
tersebut didirikan.
3.4. Apabila kegiatan membangun sendiri dilakukan oleh kantor cabang dari Pengusaha
Kena Pajak yang tempat Pajak Pertambahan Nilai terutangnya dipusatkan pada Kantor
Pelayanan Pajak Madya, Kantor Pelayanan Pajak di lingkungan Kanwil DJP Wajib
Pajak Besar atau Kantor Pelayanan Pajak di lingkungan Kanwil DJP Jakarta Khusus,
kegiatan membangun sendiri tersebut terutang di lokasi bangunan didirikan.
4. Penyetoran dan Pelaporan
4.1. Pajak Pertambahan Nilai yang terutang ditetapkan sebesar 10% x 40% x jumlah biaya
yang dikeluarkan atau dibayarkan sebagaimana dimaksud pada butir 2.2. dan 2.3 pada
setiap bulannya, dan harus disetorkan ke Kas Negara paling lama tanggal 15 bulan
berikutnya setelah berakhirnya masa pajak dan sebelum laporan disampaikan setelah
bulan terjadinya pengeluaran biaya tersebut. PPN disetorkan dengan menggunakan
Surat Setoran Pajak atas nama orang pribadi atau badan yang melaksanakan kegiatan
membangun sendiri.
4.2. Dalam hal bangunan yang didirikan dalam rangka kegiatan membangun sendiri berada
di Kantor Pelayanan Pajak tempat orang pribadi atau badan terdaftar, Kolom Nomor
Pokok Wajib Pajak pada Surat Setoran Pajak agar diisi sesuai dengan Nomor Pokok
Wajib pajak orang pribadi atau badan yang melakukan kegiatan membangun sendiri.
4.3. Dalam hal bangunan yang didirikan dalam rangka kegiatan membangun sendiri berada
di lokasi berbeda dengan Kantor Pelayanan Pajak tempat orang pribadi atau badan
terdaftar, maka Kolom Nomor Pokok Wajib Pajak diisi dengan :
a. angka 01 (nol satu) pada 2 (dua) digit pertama, untuk badan usaha;
b. angka 04 (nol empat) pada 2 (dua) digit pertama, untuk orang pribadi;
c. angka 0 (nol) pada 7 (tujuh) digit berikutnya;
d. angka kode Kantor Pelayanan Pajak Pratama yang wilayah kerjanya meliputi
tempat bangunan tersebut didirikan pada 3 (tiga) digit berikutnya.
e. angka 0 (nol) pada 3 (tiga) digit terakhir.
4.4. Dalam hal orang pribadi yang melakukan kegiatan membangun sendiri belum memiliki
NPWP, maka pada Surat Setoran Pajak agar diisi dengan :
a. angka 01 (nol satu) pada 2 (dua) digit pertama, untuk badan usaha;
b. angka 04 (nol empat) pada 2 (dua) digit pertama, untuk orang pribadi;
c. angka 0 (nol) pada 7 (tujuh) digit berikutnya;
d. angka kode Kantor Pelayanan Pajak Pratama yang wilayah kerjanya meliputi
tempat bangunan tersebut didirikan pada 3 (tiga) digit berikutnya.
e. angka 0 (nol) pada 3 (tiga) digit terakhir.
4.5. Orang Pribadi atau badan yang melakukan kegiatan membangun sendiri, wajib
melaporkan pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama yang wilayah kerjanya meliputi
tempat bangunan tersebut berada dengan mempergunakan lembar ketiga Surat Setoran
Pajak paling lama akhir bulan berikutnya setelah berakhirnya masa pajak.
5. Pengawasan
5.1. Kantor Pelayanan Pajak Pratama melakukan pengawasan atas penyelesaian kewajiban
perpajakan atas kegiatan membangun sendiri yang dilakukan di wilayah kerjanya.
5.2. Dalam hal orang pribadi atau badan yang melakukan kegiatan membangun sendiri
belum melaksanakan kewajiban penyetoran dan pelaporan Pajak Pertambahan Nilai
yang terutang atas kegiatan membangun sendiri, maka Kepala Kantor Pelayanan Pajak
Pratama yang wilayah kerjanya meliputi tempat bangunan didirikan dapat
mengeluarkan surat teguran dengan menggunakan format sebagaimana dimaksud pada
Lampiran Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-27/PJ/2010.
5.3. Apabila dalam jangka waktu 14 (empat belas) hari sejak diterbitkannya surat teguran
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), orang pribadi atau badan belum menyetor dan
melaporkan Pajak Pertambahan Nilai terutang atas kegiatan membangun sendiri, maka
dilakukan pemeriksaan pajak untuk menetapkan besarnya Pajak Pertambahan Nilai
yang terutang atas kegiatan membangun sendiri tersebut.
5.4. Berdasarkan hasil pemeriksaan, Kepala Kantor Pelayanan Pajak menerbitkan surat
ketetapan pajak atas besarnya Pajak Pertambahan Nilai terutang atas kegiatan
membangun sendiri.
5.5. Dalam hal orang pribadi atau badan belum memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak,
Kepala Kantor Pelayanan Pajak Pratama menerbitkan Nomor Pokok Wajib Pajak
secara jabatan sesuai ketentuan yang berlaku.
5.6. Dalam hal orang pribadi atau badan telah memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak namun
berbeda dengan tempat bangunan didirikan, Kepala Kantor Pelayanan Pajak Pratama
secara jabatan menerbitkan Nomor Pokok Wajib Pajak sebagai cabang sesuai dengan
ketentuan yang berlaku.

Dengan terbitnya Surat Edaran ini, maka penegasan yang diberikan dalam Surat Edaran Direktur
Jenderal Pajak Nomor SE-45/PJ.53/2002 tanggal 19 Agustus 2002 tentang Penyampaian
Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-387/PJ./2002 tentang Pengenaan Pajak
Pertambahan Nilai atas Kegiatan Membangun Sendiri yang Dilakukan Tidak Dalam Kegiatan
Usaha atau Pekerjaan oleh Orang Pribadi atau Badan yang Hasilnya Digunakan Sendiri atau
Digunakan Pihak Lain, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

Demikian untuk diketahui dan dilaksanakan sebaik-baiknya.


Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal 2 Juni 2010
Direktur Jenderal,

ttd.

Mochamad Tjiptardjo
NIP 060044911

Tembusan :

1. Sekretaris Jenderal Departemen Keuangan;

2. Inspektur Jenderal Departemen Keuangan;

3. Kepala Biro Hukum Departemen Keuangan;

4. Kepala Biro Humas Departemen Keuangan;

5. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak;

6. Para Direktur dan Tenaga Pengkaji di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak;

7. Kepala Pusat Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan.


SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
NOMOR : SE - 68/PJ./2010

TENTANG

PENETAPAN RASIO TOTAL BENCHMARKING TAHAP III

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Menindaklanjuti ketentuan angka 7 (tujuh) Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak nomor SE-
96/PJ/2009 tanggal 5 Oktober 2009 tentang Rasio Total Benchmarking Dan Petunjuk
Pemanfaatannya, dan sehubungan dengan telah selesainya penghitungan rasio total
benchmarking untuk beberapa sektor usaha tertentu, dengan ini diberitahukan hal-hal sebagai
berikut :

1. kelompok usaha yang telah selesai dilakukan penghitungan rasio-rasio benchmark untuk tahap
III sebanyak 30 (tiga puluh) KLU sebagaimana tercantum dalam lampiran surat edaran ini;
2. rasio-rasio yang dilakukan benchmarking tetap terdiri dari 14 (empat belas) rasio, yaitu :
a. Gross Profit Margin (GPM),
b. Operating Profit Margin (OPM),
c. Pretax Profit Margin (PPM),
d. Corporate Tax to Turn Over Ratio (CTTOR),
e. Net Profit Margin (NPM),
f. Dividend Payout Ratio (DPR),
g. rasio PPN Masukan terhadap penjualan,
h. rasio biaya gaji terhadap penjualan,
i. rasio biaya bunga terhadap penjualan,
j. rasio biaya sewa terhadap penjualan,
k. rasio biaya penyusutan terhadap penjualan,
l. rasio "input antara" lainnya terhadap penjualan,
m. rasio penghasilan luar usaha terhadap penjualan, dan
n. rasio biaya luar usaha terhadap penjualan;
3. pemanfaat rasio-rasio total benchmarking tetap mengacu pada Surat Edaran Direktur Jenderal
Pajak nomor SE-96/PJ/2009 tanggal 5 Oktober 2009 tentang Rasio Total Benchmarking Dan
Petunjuk Pemanfaatannya;
4. memerintahkan kepada para Kepala Kantor Wilayah DJP agar memantau pelaksanaan
pemanfaatan Total Benchmarking oleh Kantor Pelayanan Pajak;
5. surat edaran ini merupakan pelengkap atas Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak nomor SE-
96/PJ/2009 tanggal 5 Oktober 2009 tentang Rasio Total Benchmarking Dan Petunjuk
Pemanfaatannya, dan untuk mempermudah pemahaman dan penyimpanan arsip, agar Surat
Edaran Direktur Jenderal Pajak ini disatukan penyimpanannya dengan Surat Edaran Direktur
Jenderal Pajak nomor SE-96/PJ/2009 dan SE-11/PJ/2010.

Demikian surat edaran ini disampaikan untuk dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 27 Mei 2010
Direktur Jenderal,

ttd.

Mochamad Tjiptardjo
NIP 060044911

Tembusan :

1. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak

2. Para Direktur dan Tenaga Pengkaji di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak

3. Kepala Pusat Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan


SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
NOMOR : SE - 67/PJ./2010

TENTANG

PENGAWASAN PENGGUNAAN SSP PALSU OLEH WAJIB PAJAK

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Dalam rangka menghindari terjadinya penggunaan SSP palsu oleh Wajib Pajak diminta kepada
seluruh Kantor Wilayah DJP, Kantor Pelayanan Pajak (KPP) dan Kantor Pelayanan Penyuluhan
dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP) melakukan langkah-langkah sebagai berikut :

1. KPP meneliti dan mengawasi seluruh pembayaran piutang pajak melalui menu
konfirmasi NTPN di portal intranet DJP yang dilakukan melalui koordinasi dengan
Bidang P4 dan Duktekkon Kanwil secara berkala (bulanan);

2. KPP dan Kanwil harus meneliti pembayaran melalui menu LPP di menu Aplikasi MP3-
MPN di portal Intranet DJP;

3. Mencermati terdapatnya kasus pemalsuan pembayaran piutang yang merugikan Wajib


Pajak, maka perlu diantisipasi oleh KPP dengan melakukan himbauan kepada seluruh
Wajib Pajak agar :

a. Melakukan pembayaran secara langsung di kantor pos atau bank yang ditunjuk
oleh Menteri Keuangan, tanpa melalui perantara atau dititipkan kepada pegawai
instansi/institusi/konsultan terkait.

b. Wajib Pajak melakukan konfirmasi pembayaran piutang pajak kepada KPP


terkait.
4. Diminta kepada Kepala KPP dan Kepala Kanwil agar turut serta mengawasi pembayaran
pajak melalui menu konfirmasi NTPN. Jika ditemukan ada pegawai yang terlibat di
dalam kegiatan kejahatan pemalsuan dokumen perpajakan agar melaporkan pegawai
tersebut kepada pihak yang berwajib.

Demikian untuk dilaksanakan sebaik-baiknya.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 24 Mei 2010
Direktur Jenderal,

Mochamad Tjiptardjo
NIP. 060044911

SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK


NOMOR SE - 61/PJ/2010

TENTANG

KODE NOTA PENGHITUNGAN DAN KODE KETETAPAN PER JENIS PAJAK

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Sehubungan dengan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009 tentang Perubahan


Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan
Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah serta adanya keharusan bahwa pelaksanaan
pemeriksaan dilakukan oleh pejabat Fungsional Pemeriksa Pajak, maka tabel Kode Nota
Penghitungan dan Kode Ketetapan per Jenis Pajak sesuai dengan Surat Edaran Direktur Jenderal
Pajak Nomor SE-90/PJ/2009 tanggal 24 September 2009 perlu disesuaikan sebagaimana
ditetapkan pada Lampiran I dan Lampiran II Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini.
Pada saat Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini ditetapkan, maka Surat Edaran Direktur
Jenderal Pajak Nomor SE-90/PJ/2009 tanggal 24 September 2009 dicabut dan dinyatakan tidak
berlaku.

Demikian disampaikan untuk dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.


Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 05 Mei 2010
Direktur Jenderal,

ttd.

Mochamad Tjiptardjo
NIP 060044911

Tembusan:

1. Sekretaris Direktorat Jenderal;

2. Para Direktur dan Tenaga Pengkaji di lingkungan Kantor Pusat;

3. Kepala Pusat Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan.

SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK


NOMOR SE - 60/PJ/2010

TENTANG

PENGGALIAN POTENSI BERBASIS PROFILE WP DAN BENCHMARK

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Dalam rangka pengamanan penerimaan pajak sesuai amanat Undang-Undang Nomor 47 Tahun
2009 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2010 dan
menindaklanjuti Rapat Pimpinan Nasional Direktorat Jenderal Pajak bulan Januari 2010, dengan
ini ditegaskan bahwa Program Penyempurnaan dan Pemantapan Profile Wajib Pajak
sebagaimana telah dilaksanakan sejak tahun 2007 dilanjutkan untuk tahun 2010.
Penyempurnaan dan Pemantapan Profile Wajib Pajak merupakan bagian dari Skema Penggalian
Potensi Pajak sebagaimana terlampir pada Surat Edaran ini.
Pembuatan Profile Wajib Pajak sendiri bertujuan antara lain untuk :

mendapatkan data lengkap dari masing-masing Wajib Pajak secara individu,

penyempurnaan data Wajib Pajak yang sudah di-update dan benar,


perbaikan database Direktorat Jenderal Pajak,

pertukaran data internal Direktorat Jenderal Pajak,

pemantapan fondasi penggalian potensi pajak,

penghitungan potensi dan tax gap masing-masing Wajib Pajak dengan


menerapkan benchmark,

sebagai alat untuk mengukur kepatuhan Wajib Pajak.

Dalam rangka Program Penggalian Potensi berbasis Profile Wajib Pajak tahun 2010 dan sebagai
tindak lanjut dari Rapat Pimpinan Nasional Januari 2010 perlu disampaikan hal-hal sebagai
berikut.
1. Wajib Pajak yang sudah masuk ke dalam daftar penyelesaian profile 200 Wajib Pajak
kemudian menjadi 500 Wajib Pajak dan direncanakan tahun 2010 menjadi 1000 Wajib Pajak
harus tetap dipelihara dan diperbaharui (update) sepanjang Wajib Pajak tersebut masih
terdaftar di Kantor Pelayanan Pajak yang bersangkutan. Apabila ada Wajib Pajak potensial
yang belum masuk ke kelompok tersebut agar ditambahkan. Penyelesaian Profile Wajib Pajak
ini merupakan bagian dari pembenahan data seluruh Wajib Pajak secara bertahap. Pada
akhirnya diharapkan seluruh Wajib Pajak telah ada Profile-nya secara lengkap.
2. Program Penggalian Potensi berbasis Profile Wajib Pajak tahun 2010 dilakukan terhadap
1000 WP untuk Kantor Pelayanan Pajak Pratama dan seluruh Wajib Pajak bagi Kantor
Pelayanan Pajak di lingkungan Kantor Wilayah DJP Wajib Pajak Besar, Kantor Wilayah DJP
Jakarta Khusus, dan Kantor Pelayanan Pajak Madya.
3. Yang dimaksud 1000 Wajib Pajak yang harus dibuat Profile-nya oleh Kantor Pelayanan Pajak
Pratama adalah Wajib Pajak yang sudah dibuat Profile-nya pada tahun-tahun sebelumnya
ditambah dengan Wajib Pajak potensial lainnya hingga mencapai 1000.
4. Langkah-langkah yang dilakukan dalam rangka Penggalian Potensi berbasis Profile Wajib
Pajak pada tahun 2010 terhadap Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam angka 1 adalah
sebagai berikut:

a. menyelesaikan penyempurnaan Profile Wajib Pajak;

b. menyempurnakan data masing-masing Wajib Pajak di Profile Wajib Pajak tersebut;

c. melakukan pengujian data permanen untuk menentukan kewajaran omzet/output dari


kegiatan usaha Wajib Pajak;

d. menghitung potensi masing-masing Wajib Pajak tahun 2007 s.d. 2009;

e. menghitung pajak yang sudah direalisasikan masing-masing WP tahun 2007 s.d.


2009;

f. menghitung tax gap masing-masing Wajib Pajak tahun 2007 s.d. 2009;
g. mengklasifikasikan daftar Wajib Pajak sesuai petunjuk terlampir;

h. menentukan prioritas penggalian potensi dari 1000 Wajib Pajak berdasarkan:

1) tax gap
2) sektor dominan;

i. membuat rencana kegiatan bulanan untuk pembenahan dan penggalian potensi


berbasis Profile dari Wajib Pajak yang telah dibuat Profile-nya;

5. Kepala Kantor Pelayanan Pajak mengawasi kelengkapan Profile Wajib Pajak serta analisa
dan tindak lanjutnya.
6. Metode penghitungan yang digunakan dalam program Penggalian Potensi berbasis Profile
Wajib Pajak:
1) potensi dihitung dari basis penentu omset/output dari kegiatan usaha dikalikan
benchmark (prakiraan rasio) yaitu terdiri dari:
a) potensi Pajak Penghasilan
b) potensi Pajak Pertambahan Nilai
c) potensi PPh Pemotongan/Pemungutan
2) pajak yang sudah direalisasikan, terdiri dari:
a) pajak yang dibayar sendiri
b) pajak yang dipotong/dipungut pihak ketiga
3) tax gap dihitung dari selisih nomor 1) dengan nomor 2).
7. Kepala Kanwil DJP melakukan kompilasi laporan bulanan dari seluruh KPP di
lingkungannya dan mengirimkan laporan dimaksud dengan format sebagaimana pada
lampiran IV surat edaran ini kepada Direktur Jenderal Pajak Up. Direktur Potensi, Kepatuhan
dan Penerimaan paling lambat tanggal 15 bulan berikutnya setelah bulan kegiatan. Selain
laporan dengan hardcopy, juga agar dikirimkan dalam bentuk softcopy dalam format
Microsoft Excel melalui email ke : dampak.pkp@pajak.go.id.
8. Surat Edaran ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.
Demikian surat edaran ini disampaikan untuk dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 05 Mei 2010
Direktur Jenderal,

ttd.

Mochamad Tjiptardjo
NIP060044911
SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
NOMOR SE - 54/PJ/2010

TENTANG

PENGANTAR PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-23/PJ/2010


TENTANG
PERUBAHAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-38/PJ/2009
TENTANG
BENTUK FORMULIR SURAT SETORAN PAJAK

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Sehubungan dengan adanya penambahan Kode Jenis Setoran (KJS) dan perbaikan redaksional
sebagaimana diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-38/PJ/2009 tentang
Bentuk Formulir Surat Setoran Pajak, bersama ini disampaikan pokok-pokok perubahan sebagai
berikut:

1. Penambahan KJS untuk pembayaran deposit atas penggunaan Mesin Teraan Meterai Digital
untuk membubuhkan tanda Bea Meterai Lunas sebagaimana diatur dalam Peraturan Direktur
Jenderal Pajak Nomor PER-45/PJ/2008 tentang Tata Cara Pelunasan Bea Meterai dengan
Membubuhkan Tanda Bea Meterai Lunas dengan Mesin Teraan Meterai Digital, yaitu
menggunakan KAP 411611 dan KJS 2XX dengan penjelasan sebagai berikut:
a. Digit pertama adalah angka "2" yaitu kode pelunasan Bea Meterai dengan
membubuhkan tanda Bea Meterai lunas dengan Mesin Teraan Digital, dan
b. Digit kedua dan ketiga adalah:
1) angka "01", dalam hal Wajib Pajak hanya memiliki 1 (satu) unit Mesin Teraan
Meterai Digital, atau
2) sesuai dengan nomor urut dilakukannya pendaftaran Mesin Teraan Meterai
Digital dalam hal Wajib Pajak memiliki lebih dari 1 (satu) unit Mesin Teraan
Meterai Digital.
2. Penambahan KJS untuk denda administrasi atas pemeteraian kemudian sebagaimana diatur
dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor 476/KMK.03/2002 tentang Pelunasan Bea
Meterai Dengan Cara Pemeteraian Kemudian, yaitu menggunakan KAP 411611 dan KJS 512.
3. Penambahan KJS untuk pembayaran PPh Pasal 15 atas Jasa Penerbangan Dalam Negeri yang
memperoleh penghasilan berdasarkan perjanjian charter (bersifat non-final) sebagaimana
diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 475/KMK.04/1996 tentang Norma
Penghitungan Khusus Penghasilan Neto Bagi Wajib Pajak Perusahaan Penerbangan Dalam
Negeri, yaitu menggunakan KAP 411129 (PPh Non Migas Lainnya) dengan KJS 101, disertai
penambahan KJS 301, 311, dan 321 untuk pembayaran jumlah yang harus dibayar yang
tercantum dalam STP, SKPKB, dan SKPKBT.
4. Perbaikan redaksional pada KAP 411612 (Penjualan Benda Meterai) dengan KJS 500, 501,
dan 510 berupa perubahan dari Bea Meterai menjadi Benda Meterai.

Demikian disampaikan untuk dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 22 April 2010
DIREKTUR JENDERAL,

ttd.

MOCHAMAD TJIPTARDJO
NIP 0600044911
SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
NOMOR SE - 52/PJ/2010

TENTANG

UPDATING NOMOR SURAT KETETAPAN PAJAK (SKP)/SURAT TAGIHAN PAJAK (STP)


SEHUBUNGAN DENGAN DISTRIBUSI DATA MODUL PENERIMAAN NEGARA
(MPN) KE SIDJP/SIPMOD

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,


Sehubungan dengan berlakunya Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-03/PJ/2010
tentang Tata Cara Distribusi Data Modul Penerimaan Negara (MPN) ke Sistem Informasi
Direktorat Jenderal Pajak (SIDJP/SIPMOD) terdapat hal-hal penting yang harus diperhatikan
oleh Kantor Pelayanan Pajak sebagai tindak lanjut distribusi data MPN antara lain sebagai
berikut:

1. Data pembayaran Wajib Pajak di MPN yang didistribusikan ke SIDJP/SIPMOD adalah


data yang telah dilakukan filtering oleh Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak.

2. Perubahan data pembayaran/pelunasan pajak yang dilakukan updating oleh Kantor


Pelayanan Pajak adalah hanya terkait nomor kohir Surat Ketetapan Pajak (SKP)/Surat
Tagihan Pajak (STP).

3. Permintaan perubahan data update nomor kohir SKP/STP diajukan oleh Seksi Penagihan
sebagai pihak otorisator perubahan data dan diteruskan ke Seksi Pengolahan Data dan
Informasi (Seksi PDl) untuk dilakukan perubahan data.

4. Seksi PDI melakukan perubahan data (update) nomor kohir SKP/Surat Tagihan Pajak
(STP) dengan menggunakan menu yang tersedia pada aplikasi SIDJP maupun SIPMOD.

5. Dalam hal perubahan nomor ketetapan tidak dapat dilakukan oleh Seksi PDI, petugas
Operator Console (OC) meneruskan permintaan perubahan data ke Direktorat Teknologi
Informasi Perpajakan (Dit TIP) sesuai dengan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak
Nomor SE-79/PJ/2009.

6. Tata Cara update data nomor kohir SKP/STP adalah sebagaimana diatur pada Lampiran
Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini.

Demikian untuk menjadi perhatian dan dilaksanakan sebaik-baiknya.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 9 April 2010
Direktur Jenderal,

ttd.

Mochamad Tjiptardjo
NIP 195104281975121002

Tembusan :
1. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak;

2. Para Direktur dan Tenaga Pengkaji di lingkungan DJP;

3. Kepala PPDDP.

SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK


NOMOR SE - 50/PJ/2010

TENTANG

KEBIJAKAN PENAGIHAN PAJAK


DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Sehubungan dengan upaya pencapaian tertib administrasi penagihan dan optimalisasi pencairan
piutang pajak tahun 2010, maka diperlukan perencanaan atas pelaksanaan kegiatan penagihan
baik dari sisi administratif maupun dari sisi tindakan secara intensif, terpadu, dan berhasil guna
sesuai dengan ketentuan perundang-undangan perpajakan yang berlaku. Oleh karena itu, dengan
ini ditetapkan kebijakan penagihan pajak tahun 2010 sebagai berikut :

I. Tertib Administrasi
A. Penataan Berkas Penagihan
Dalam rangka meningkatkan kualitas administrasi demi mewujudkan kelancaran dan
ketertiban operasional kerja, mendukung optimalisasi pencapaian tujuan penagihan, serta
mengurangi tingkat kesalahan yang dapat terjadi akibat tidak terlaksananya tertib
administrasi sesuai dengan ketentuan, maka Kantor Pelayanan Pajak (KPP) diminta untuk
memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1. Sebagaimana telah tertuang dalam kebijakan-kebijakan sebelumnya, KPP wajib
membuat rumah berkas penagihan per Wajib Pajak, yang masing-masing berisi :
a. Seluruh surat ketetapan pajak, termasuk :
1) STP, STP PBB/STB/SKBKB/SKBKBT;
2) Keputusan/Putusan atas upaya hukum, yaitu :
a) Keputusan Keberatan;
b) Keputusan Pembetulan (Pasal 16 UU KUP);
c) Keputusan Pengurangan atau Penghapusan Sanksi Administrasi
dan pengurangan dan atau pembatalan surat ketetapan pajak yang
tidak benar (Pasal 36 UU KUP);
d) Putusan Banding;
e) Putusan Peninjauan Kembali;
f) Putusan Gugatan.
b. Seluruh bukti pembayaran tunggakan pajak dari Wajib Pajak/Penanggung Pajak
(WP/PP) yang antara lain berupa :
1) Surat Setoran Pajak (SSP);
2) Surat Tanda Terima Setoran (STTS);
3) SSP PBB;
4) Surat Setoran BPHTB; dan
5) print out MPN/hasil konfirmasi bank.
c. Bukti Pemindahbukuan (Pbk);
d. Dokumen tindakan penagihan;
e. Berkas penagihan lainnya;
f. Wajib Pajak PBB yang tidak mempunyai NPWP, dibuatkan rumah berkas
tersendiri per Nomor Objek Pajak (NOP) dengan perincian berkas sesuai
dengan huruf a s.d. e tersebut di atas.
Dokumen yang tersimpan dalam rumah berkas tersebut di atas disusun sesuai
dengan tahun pajaknya.
2. KPP yang belum menyediakan tempat dan/atau ruangan khusus untuk penyimpanan
rumah berkas penagihan sebagaimana disebutkan pada nomor 1 di atas, agar segera
mengupayakan pengadaannya. Tempat/ruangan berkas tersebut setidaknya memenuhi
standar penyimpanan antara lain terbuat dari bahan yang kuat, tahan lama, serta
dilengkapi dengan sistem pengaman seperti kunci lemari dan kunci ruangan.
3. Pembenahan dan penataan berkas sebagaimana angka 1 dan 2 di atas diharapkan
sudah selesai dilakukan oleh KPP di tahun 2010 ini mengingat aktivitas tersebut
sudah harus dilakukan sejak tahun 2008.
4. Melakukan scanning atas setiap kohir dalam bentuk image, kemudian diberi nama
yang sama dengan nomor kohirnya, dan disimpan ke dalam CD. Setiap 1 (satu) CD
hanya berisi kohir dengan tahun terbit yang sama.
5. Melakukan scanning atas setiap keputusan/putusan upaya hukum Wajib Pajak dalam
bentuk image, kemudian diberi nama yang sama dengan nomor keputusan/putusan,
dan disimpan ke dalam CD. Setiap 1 (satu) CD hanya berisi 1 (satu) jenis putusan dari
upaya hukum (misal hanya berisi "Keputusan Keberatan" saja atau hanya berisi
"Putusan Banding" saja) dengan tahun terbit yang sama.
6. Menyediakan tempat/lemari khusus untuk penyimpanan :
a. fotokopi fisik kohir yang disusun urut sesuai nomor kohir per Wajib Pajak dan
dibuat folder tersendiri sesuai tahun terbit kohir;
b. CD yang berisi soft copy hasil scanning kohir; dan
c. CD yang berisi soft copy hasil scanning putusan upaya hukum Wajib Pajak.
7. Menunjuk petugas khusus di Seksi Penagihan sebagai penanggung jawab
penyimpanan dan pengawasan arus keluar masuk dokumen.
8. Menganggarkan biaya terkait pengadaan alat scan (scanner), Compact Disk (CD),
serta lemari/tempat berkas dan/atau ruangan khusus tersebut di atas dalam DIPA KPP
dan/atau Kanwil.
9. Membentuk tim pembenahan administrasi dan berkas penagihan, serta
menganggarkan biaya terkait pembentukan dan pengeluaran honor tim tersebut dalam
DIPA KPP.
Kanwil sangat diharapkan memberi perhatian dan/atau bantuan sarana dan prasarana
misalnya apabila dalam pelaksanaannya KPP mengalami kesulitan dalam hal pengadaan
lemari/tempat berkas, scanner, dan sejenisnya, maka Kanwil membantu mengusahakan
dengan menggunakan anggaran DIPA Kanwil.
B. Laporan Rutin Piutang Pajak
Dalam upaya menyajikan informasi yang akurat pada setiap penyusunan laporan rutin
penagihan, KPP wajib memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1. Kesesuaian saldo antar bulan, berkesinambungan, dan ketepatan waktu pada
penyusunan Laporan Perkembangan Piutang Pajak;
2. Piutang Pajak yang telah dilaporkan sebagai piutang daluwarsa dalam Laporan
Kriteria Kualitas, Umum, dan Penyisihan Piutang (L-04.17) sampai dengan
Desember 2009 harus ditindaklanjuti dengan segera dengan usulan penghapusan
piutang pajak di tahun 2010. Kanwil melakukan pengawasan tindak lanjut tersebut
dan segera memproses usulan penghapusan piutang yang diajukan KPP sesuai dengan
Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor : KEP-15/PJ/2004;
3. Kepala Seksi Pengolahan Data dan Informasi mengirimkan data pembayaran piutang
pajak dari MPN untuk piutang selain PBB dan BPHTB kepada Kepala Seksi
Penagihan, dengan kode jenis setoran 3xx. Data MPN tersebut dikirim secara berkala
setiap minggu;
4. Kepala Seksi Penagihan setelah menerima data MPN sebagaimana angka 3 di atas,
secara periodik melakukan rekonsiliasi data MPN tersebut dengan Nilai pengurang
piutang pajak khususnya yang berasal dari SSP dalam Laporan Perkembangan
Piutang Pajak;
5. Kepala Seksi Penagihan juga melakukan rekonsiliasi antara nilai pengurang piutang
PBB dan BPHTB yang berasal dari SSP dalam Laporan Perkembangan Piutang Pajak
dengan data pembayaran bank persepsi/bank operasional/pos persepsi untuk
pembayaran piutang PBB dan BPHTB.
6. Saldo negatif atas piutang pajak baik per jenis pajak, per tahun pajak, per umur dan
kualitas pajak, dan per KPP harus dipastikan tidak terdapat lagi dalam Laporan Rutin
Penagihan baik tingkat KPP maupun Kantor Wilayah.
Penjelasan lebih lanjut agar mereferensi pada kebijakan administrasi piutang secara
umum sebagaimana diuraikan dalam Surat Direktur Pemeriksaan dan Penagihan Nomor :
S-57/PJ.04/2010 tanggal 9 Februari 2010 mengenai Evaluasi dan Tindak Lanjut
Pelaksanaan Rekonsiliasi Piutang Pajak pada Penyusunan Laporan Keuangan Direktur
Jenderal Pajak Tahun 2009.
C. Rekonstruksi dan Pemetaan Data Piutang Pajak
Dalam proses akurasi dan rekonstruksi data piutang pajak, KPP diharapkan memperhatikan
hal-hal sebagai berikut :
1. Data Piutang Pajak PPh dan PPN
a. Meneruskan perekaman seluruh data piutang pajak termasuk data
pengurangannya baik dari pembayaran maupun upaya hukum serta tindakan
penagihannya berdasarkan fisik ketetapan pajak ke dalam program Sistem
Manajemen dan Informasi Penagihan (SiMIAP) yang disediakan oleh
Subdirektorat (Subdit) Penagihan. Hasil perekaman akan berupa file dengan
bentuk dbf.
b. Melanjutkan proses pemutakhiran data piutang secara berkesinambungan. KPP
wajib melaporkan data perkembangan perekaman terakhir dengan mengirim :
1) Hasil perekaman berupa folder data (C:/Simiap2007); dan
2) Master File terkini (bentuk file excel), yang diperoleh dari Kepala Seksi
Pengolahan Data dan Informasi (PDI).
setiap bulan melalui email ke Kanwil dan KPDJP.
c. KPDJP tidak menerima lagi hasil perekaman ketetapan yang dilakukan melalui
program excel.
d. KPP yang belum menyerahkan Berita Acara Penyelesaian Perekaman untuk
ketetapan yang terbit sampai dengan 30 Juni 2007, agar segera mengirimkan
Berita Acara dimaksud kepada Subdirektorat Penagihan melalui Kanwil
atasannya. Contoh format berita acara dapat dilihat pada lampiran I.
Kepala KPP diharapkan memantau dan mengkoordinasikan kerja sama antar seksi
dalam kaitannya dengan kebutuhan data dalam rangka terwujudnya proses akurasi
piutang PPh dan PPN tersebut.
2. Data Piutang PBB dan BPHTB
a. Tetap merekam seluruh Surat Tanda Terima Setoran (STTS) dari bank tempat
pembayaran pada program aplikasi SISMIOP dan melakukan sinkronisasi data
pembayaran PBB untuk pembayaran melalui Tempat Pembayaran PBB
elektronik;
b. Tetap merekam seluruh SSB pada program aplikasi BPHTB.
Sebagaimana beberapa kali dicantumkan pada kebijakan-kebijakan tahun
sebelumnya, agar KPP terus melakukan konfirmasi dan koordinasi dengan seksi-
seksi terkait sehubungan dengan data pembayaran piutang PBB dan BPHTB serta
mencetak daftar piutang PBB (negative list).
D. Prosedur Migrasi Berkas Wajib Pajak Pindah
Dalam hal terdapat Wajib Pajak pindah, maka Kanwil/KPP tetap harus memperhatikan
prosedur administrasi untuk Wajib Pajak pindah dilakukan sesuai dengan surat Direktur
Pemeriksaan dan Penagihan Nomor S-14/PJ.0451/2007 tanggal 25 Januari 2007.
E. Pengawasan Ketetapan yang Terbit Mulai Tahun 2008
Khusus untuk ketetapan yang terbit sejak tahun 2008, sehubungan dengan pentingnya
mengantisipasi tidak terpantaunya nilai piutang yang disetujui namun belum dilunasi oleh
Wajib Pajak pada saat jatuh tempo dan/atau nilai yang tidak disetujui yang belum dilunasi
pada saat jatuh tempo pengajuan upaya hukum dalam hal Wajib Pajak/Penanggung Pajak
ternyata tidak mengajukan upaya hukum, maka sangat penting dilakukan pengawasan atas
hal tersebut.
1. KPP setiap bulan wajib melakukan hal-hal sebagai berikut :
a. Memantau dan mengawasi nilai yang disetujui oleh Wajib Pajak yang sudah
jatuh tempo, namun belum ada pembayaran, untuk segera mempersiapkan dan
melakukan tindakan penagihan;
b. Memantau dan mengawasi upaya hukum yang tidak dilakukan oleh Wajib Pajak
atas nilai yang tidak disetujui dalam hal jangka waktu pengajuan upaya hukum
dimaksud sudah berakhir, untuk segera mempersiapkan dan melakukan
tindakan penagihan;
c. Memantau dan mengawasi upaya hukum yang sedang/telah dilakukan oleh
Wajib Pajak atas nilai yang tidak disetujui dalam hal jangka waktu pengajuan
upaya hukum dimaksud masih berlaku, untuk tidak/belum melakukan tindakan
penagihan;
d. Membuat pencatatan rincian dan rekapitulasi khusus ketetapan yang terbit mulai
tahun 2008 dan perkembangannya sebagaimana diuraikan pada huruf a s.d. c
tersebut di atas, kemudian mengirimkan laporannya setiap bulan ke Kanwil
atasannya;
e. Sehubungan dengan belum terakomodasi secara lengkap menu perekaman yang
berfungsi sebagai pengawasan ketetapan yang terbit sejak tahun 2008 pada
SIDJP/SIPMOD, maka KPP wajib melakukan perekaman secara lengkap
ketetapan-ketetapan tersebut yang sudah tersedia pada aplikasi SiMIAP.
2. Kanwil setiap bulan wajib melakukan hal-hal sebagai berikut :
a. Melakukan pengawasan atas laporan KPP dan membuat laporan khusus
ketetapan yang terbit sejak 2008 tersebut untuk dikirimkan ke Subdit Penagihan
KPDJP;
b. Mengingatkan secara berkala pada semua KPP di wilayah kerjanya atas laporan
yang belum/tidak dikirim untuk menghindari penumpukan masalah data piutang
yang tidak teradministrasikan dengan baik; dan
c. Mengingatkan secara berkala pada semua KPP di wilayah kerjanya atas
piutang-piutang tersebut di atas yang tidak terpantau dan/atau sudah jatuh
tempo baik jatuh tempo pelunasan maupun jatuh tempo pengajuan upaya
hukum untuk segera dilakukan tindakan penagihan.
II. Fokus dan Strategi Penagihan
A. Fokus Penagihan
Fokus penagihan piutang pajak tahun 2010 ditetapkan sebagai berikut :
1. Fokus Pembenahan Administrasi Data dan Informasi Piutang Pajak
Sehubungan dengan kecenderungan makin tingginya tingkat kebutuhan dan/atau
permintaan akan informasi piutang pajak yang akurat dan bersifat mendesak, baik
dari internal maupun eksternal DJP, Kanwil dan KPP harus memperhatikan hal-hal
sebagai berikut :
a. Pastikan bahwa setiap faktor pengurang nilai piutang baik berupa pembayaran
maupun upaya hukum telah direkam dengan benar dalam SIDJP/SIPMOD
dalam upaya penyajian informasi yang mutakhir;
b. Pastikan bahwa setiap aplikasi terkait menu penagihan pada SIDJP/SIPMOD
berjalan dengan baik dan benar, dan segera laporkan apabila menemui
gangguan, kekurangsempurnaan, atau hambatan pada aplikasi/menu yang
bersangkutan yang ditujukan kepada Direktorat Teknologi dan Informasi
Perpajakan (TIP) dengan tembusan kepada Subdit Penagihan, Direktorat
Pemeriksaan dan Penagihan KPDJP;
c. Pastikan bahwa seluruh data piutang yang ada dalam SIDJP/SIPMOD adalah
akurat dengan cara meneliti dan membersihkan data secara berkala, misalnya
atas data-data yang mengakibatkan terjadinya saldo negatif, antara lain dengan
melakukan koreksi atas kesalahan perekaman seperti hasil perekaman
pembayaran yang tercatat lebih dari satu kali, kesalahan pencatatan jenis pajak
piutang, kesalahan input tanggal pembayaran, dan lain-lain.
Dalam rangka percepatan tercapainya fokus pembenahan administrasi data piutang
tersebut sebagai alat utama terwujudnya efektivitas dan efisiensi tindakan dan
laporan penagihan, maka dipandang perlu bagi KPP dan/atau Kanwil untuk
membuat tim validasi data piutang dan pembenahan arsip piutang pajak. Adapun
anggaran biaya terkait pembentukan tim dan pembayaran honor peserta tim
tersebut dibebankan pada DIPA KPP dan/atau Kanwil. Peserta tim setidaknya
terdiri dari seluruh personel seksi Penagihan KPP dan/atau seksi Bimbingan
Penagihan Kanwil.
2. Fokus Pencairan dan/atau Penyelesaian Piutang
Fokus pencairan dan/atau penyelesaian piutang tahun 2010 ditentukan sesuai faktor-
faktor sebagai berikut :
a. Nilai Piutang
1) Piutang yang termasuk dalam 200 Besar Penunggak Pajak Nasional;
2) Piutang dengan nilai lebih dari Rp 10 Miliar;
3) Piutang yang terdapat pada :
a) Seluruh KPP di wilayah Kanwil DJP Wajib Pajak Besar dan
wilayah Kanwil DJP Jakarta Khusus;
b) Seluruh KPP Madya.
4) Piutang Wajib Pajak/Penanggung Pajak yang termasuk dalam 200 Besar
Penunggak Pajak di setiap Kanwil/KPP.
Piutang dengan kategori sebagaimana disebut pada angka 3) dan 4) merupakan
kategori yang selalu menjadi fokus pencairan pada tahun-tahun sebelumnya.
Untuk itu KPP dan/atau Kanwil diharapkan memberi perhatian penuh dalam
penyelesaian seluruh piutang dengan kategori tersebut di tahun 2010.
b. Tingkat Kemudahan Pencairan Piutang
1) Wajib Pajak/Penanggung Pajak dengan tingkat likuiditas tinggi (mampu
membayar);
2) Piutang dengan kategori umur piutang jatuh tempo sampai dengan satu
tahun;
3) Wajib Pajak/Penanggung Pajak yang ketetapannya terbit sejak tahun
2008, dengan kondisi :
a) setelah jatuh tempo ketetapan ternyata belum melunasi nilai yang
disetujui pada pembahasan akhir pemeriksaan;
b) setelah berakhirnya jangka waktu kesempatan dilakukannya
upaya hukum atas ketetapan yang nilainya tidak disetujui namun
ternyata belum ada upaya hukum yang dilakukan.
Setiap bulan KPP harus mengawasi dan meneliti ada tidaknya
pembayaran atas nilai yang disetujui tersebut, dan/atau ada tidaknya
upaya hukum yang telah dilakukan atas nilai yang tidak disetujui.
4) Wajib Pajak/Penanggung Pajak nonkooperatif yang nilai ketetapannya
tinggi.
Perlu diperhatikan bahwa yang dimaksud dengan fokus pencairan dan/atau
penyelesaian adalah melakukan tindakan penagihan selengkap, setepat,
secepat, dan seoptimal mungkin baik dalam hal waktu pelaksanaan maupun
jenis tindakan. Apabila dalam tahun 2010 atas piutang-piutang tersebut tidak
bisa lagi diharapkan pencairannya, sesegera mungkin dilakukan
penyelesaian dalam bentuk pelaksanaan prosedur ke arah penyisihan piutang
yang tidak tertagih dan dilanjutkan dengan usulan penghapusan.
B. Strategi Penagihan
Untuk menunjang peningkatan realisasi pencairan piutang pajak, diuraikan strategi
penagihan sebagai berikut :
1. Kantor Pelayanan Pajak (KPP)
Dalam hal strategi umum, KPP tetap melakukan :
a. Bedah piutang terhadap 200 penunggak pajak terbesar, membuat profil Wajib
Pajak/Penanggung Pajak tersebut lengkap dengan upaya hukum yang telah
dan tengah dilakukan, serta daftar harta kekayaan yang masih dimiliki,
dilengkapi dengan pohon kepemilikan dalam hal perusahaan yang
bersangkutan dimiliki oleh grup perusahaan seperti pada lampiran II;
b. Penentuan prioritas tindakan penagihan berdasarkan hasil profil di atas.
Perlu diperhatikan untuk mendahulukan tindakan penagihan secara persuasif agar
dalam jangka panjang lebih terbina hubungan yang baik antara Wajib
Pajak/Penanggung Pajak dengan DJP, selain untuk menciptakan Wajib
Pajak/Penanggung Pajak yang kooperatif.
Karena strategi sebagaimana disebutkan pada huruf a dan b di atas juga menjadi
strategi pada kebijakan tahun-tahun sebelumnya, maka KPP dan/atau Kanwil
seharusnya dapat mengimplementasikannya dengan lebih baik sehingga tindakan
penagihan yang dilakukan tepat sasaran sesuai dengan analisis bedah piutang yang
dilakukan secara komprehensif.
Dalam hal strategi khusus, atas :
a. Penagihan atas piutang yang mendekati daluwarsa
KPP segera melaksanakan tindakan penagihan aktif seoptimal mungkin.
Apabila terhadap piutang tersebut sudah tidak bisa dilakukan tindakan
penagihan, segera melakukan penelitian administrasi dan/atau penelitian
setempat dalam rangka melakukan penyisihan piutang dan pengusulan
penghapusan piutang.
b. Penagihan atas piutang Wajib Pajak/Penanggung Pajak yang nonkooperatif
terutama Wajib Pajak yang termasuk dalam 200 penunggak pajak terbesar.
KPP melaksanakan tindakan penagihan kepada Wajib Pajak/Penanggung Pajak
terutama yang nonkooperatif, dengan memprioritaskan tindakan :
1) Penyitaan atas harta kekayaan Wajib Pajak/Penanggung Pajak yang
tersimpan pada bank yang pelaksanaannya mengacu kepada Peraturan
Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-109/PJ./2007 tanggal 6 Agustus
2007 dengan skala prioritas 200 Penunggak Pajak terbesar, dengan
memperhatikan prinsip kehati-hatian serta ada tidaknya dan status upaya
hukum yang diajukan Wajib Pajak dengan urutan sebagai berikut :
a) Melakukan pemblokiran rekening Wajib Pajak yang bersangkutan
terlebih dahulu; dan
b) Apabila piutang pajak belum lunas, maka pemblokiran dapat
dilakukan kepada rekening para Direksi dan pemegang saham
mayoritasnya sebagai penanggung pajaknya.
2) Pencegahan, yang dilakukan secara selektif dengan memperhatikan
prinsip kehati-hatian, antara lain :
a) Memenuhi persyaratan kualitatif dan kuantitatif sebagaimana
diatur dalam Undang-Undang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa
(UU PPSP);
b) Ada tidaknya upaya hukum Wajib Pajak/Penanggung Pajak;
c) Terdapat validitas data mengenai status/legalitas Penanggung Pajak
dalam kedudukannya selaku Penanggung Pajak suatu badan usaha;
d) Dalam hal Wajib Pajak memiliki lebih dari satu Penanggung Pajak,
KPP dapat mempertimbangkan untuk tidak mengusulkan
pencegahan terhadap seluruh Penanggung Pajak yang ada, tetapi
usul pencegahan dapat dilakukan secara bergantian dengan
memperhatikan skala prioritas.
3) Penyanderaan, yang dilakukan secara selektif dengan memperhatikan
prinsip kehati-hatian, antara lain :
a) Memenuhi persyaratan kualitatif dan kuantitatif sebagaimana
diatur dalam UU PPSP;
b) Status upaya hukum atas ketetapan pajak sudah mempunyai
kekuatan hukum tetap (inkracht);
c) Tindakan penagihan telah dilakukan secara optimal, dan
penyanderaan merupakan upaya penagihan terakhir;
d) Terdapat validitas data mengenai status/legalitas Penanggung Pajak
dalam kedudukannya selaku Penanggung Pajak suatu badan usaha;
e) Data dan dokumen penagihan lengkap dan akurat;
f) Telah dilakukan pengamatan terhadap Penanggung Pajak.
c. Dalam hal KPP memiliki data yang mutakhir mengenai piutang usaha Wajib
Pajak/Penanggung Pajak, maka dapat dilakukan penyitaan atas piutang dengan
cara sebagai berikut :
1) melakukan inventarisasi dan membuat rincian tentang jenis dan jumlah
piutang yang disita dalam suatu daftar yang merupakan lampiran Berita
Acara Pelaksanaan Sita (BAPS);
2) membuat BAPS; dan
3) Membuat Berita Acara Persetujuan Pengalihan Hak Menagih Piutang dari
Penanggung Pajak kepada Kepala KPP, dan salinannya disampaikan
kepada Penanggung Pajak dan pihak yang berkewajiban membayar
utang.
d. Untuk mendukung upaya penagihan melalui pemblokiran rekening, Direktorat
Pemeriksaan dan Penagihan bekerja sama dengan Direktorat Teknologi
Informasi Perpajakan dalam menyediakan daftar Cabang Bank tempat Wajib
Pajak yang bersangkutan membayar kewajiban pajaknya. Data tersebut dapat
dilihat pada portal Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan, menu Penagihan,
submenu Lainnya, subsubmenu Daftar Bank, dengan alamat :
http://rikpen/bank;
e. KPP wajib melakukan pengawasan secara intensif dan melaksanakan hak
mendahulu atas piutang pajak terhadap Wajib Pajak yang dinyatakan pailit,
bubar, atau likuidasi, dengan melakukan koordinasi dengan kurator, likuidator,
orang atau badan yang ditugasi melakukan pemberesan, segera setelah
diperoleh informasinya.
2. Kantor Wilayah (Kanwil)
Dalam fungsi Kanwil untuk membimbing, mengawasi, dan mendukung tindakan
penagihan yang dilakukan oleh KPP, Kanwil wajib melaksanakan tindakan sebagai
berikut :
a. Membuat pemetaan dan melakukan analisis atas jumlah piutang pajak selain
PBB dan BPHTB di wilayah kerjanya berdasarkan kategori umur piutang pajak
sebagaimana yang tercantum dalam surat Direktur Pemeriksaan dan Penagihan
Nomor : S-28/PJ.045/2009 tanggal 3 Maret 2009 tentang Laporan Rutin
Penagihan;
b. Meneliti daftar klasifikasi kualitas piutang yang dibuat oleh KPP terutama
untuk kriteria piutang kurang lancar, perhatian khusus, diragukan, dan macet
untuk melihat kondisi piutang dan permasalahannya sehingga dapat
direklasifikasikan ke piutang lancar;
c. Menginstruksikan dan mengawasi secara ketat kepada KPP untuk melakukan
tindakan penagihan yang optimal terhadap piutang dengan kriteria lancar
sehingga dapat segera dicairkan di tahun anggaran 2010;
d. Melakukan pengawasan dan pemantauan proses kegiatan penagihan dan
pencairan piutang pajak dengan prioritas 200 penunggak pajak terbesar yang
dilaporkan oleh masing-masing KPP di wilayah kerjanya;
e. Melakukan pengawasan atas bedah tunggakan terhadap 200 penunggak pajak
terbesar dan profiling penunggak pajak yang dilakukan oleh KPP di wilayah
kerjanya;
f. Meneliti prioritas tindakan penagihan yang telah ditetapkan oleh KPP dan
mengevaluasinya;
g. Melaksanakan pengawasan melekat untuk mencegah terjadinya kesalahan
prosedur atau penyalahgunaan wewenang dan jabatan dalam pelaksanaan
tindakan penagihan;
h. Membuat standar prestasi jurusita dalam pelaksanaan kegiatan penagihan aktif,
yaitu : standar prestasi untuk penyampaian Surat Paksa, Penerbitan SPMP,
pelaksanaan Blokir Rekening, pelaksanaan Pencegahan Wajib Pajak Bepergian
ke Luar Negeri (travel ban), dan pelaksanaan Penyanderaan terhadap Wajib
Pajak/Penanggung Pajak;
i. Melakukan penelitian dan pengujian kembali persyaratan kuantitatif dan
kualitatif atas pengajuan Penyanderaan terhadap Wajib Pajak/Penanggung
Pajak oleh KPP;
j. Khusus untuk pelaksanaan Penyanderaan, untuk setiap Kanwil ditetapkan
minimal 2 (dua) kali Penyanderaan;
k. Membuat pemetaan dan melakukan analisis atas piutang pajak PBB dan
BPHTB di wilayah kerjanya, yang didasarkan atas beberapa kriteria, sebagai
berikut :
1) Sektor ketetapan (sektor pedesaan, perkotaan, perkebunan, perhutanan,
dan pertambangan);
2) Wilayah kerja (kabupaten/kotamadya, kecamatan, desa/kelurahan);
3) Tahun Pajak;
4) Buku Ketetapan, yaitu buku ketetapan I s.d. buku ketetapan V.
l. Melakukan pengujian kembali Daftar Usulan Penghapusan Piutang Pajak yang
diusulkan dari KPP antara lain :
1) Tindakan penagihan terakhir terkait dengan jangka waktu daluwarsa
penagihan;
2) Kesesuaian antara daftar rincian piutang pajak yang diusulkan untuk
dihapuskan dengan jumlah rekapitulasi piutang pajak yang diusulkan
untuk dihapuskan; dan
3) Kelengkapan data-data pendukung.
sesuai dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor : KMK
539/KMK.03/2002 dan Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor : KEP-
15/PJ./2004.
m. Meningkatkan koordinasi regional/lokal dengan instansi terkait untuk
kelancaran kegiatan penagihan berdasarkan prinsip kebersamaan tugas
sebagaimana yang telah disepakati pada MoU antara Dirjen Pajak dengan
Kapolri/Menteri Kehakiman dan HAM/Gubernur/Walikota/Bupati serta kerja
sama dengan pihak perbankan dengan tetap memperhatikan ketentuan Pasal 34
UU KUP.
KPP dan Kanwil yang belum melaksanakan secara optimal strategi penagihan yang
sebagian besar pernah ada dalam kebijakan pada tahun-tahun sebelumnya,
diharapkan pada tahun ini sudah dapat memahami, menguasai, dan melaksanakan
strategi-strategi tersebut dengan tepat dan lebih baik.
III. Target Pencairan
Target pencairan piutang pajak secara nasional untuk tahun 2010 ditetapkan sebagai
berikut :
A. Target Pencairan Piutang PPh dan PPN
Sehubungan dengan banyaknya faktor yang mempengaruhi pencairan atas Piutang Pajak
PPh dan PPN, maka penentuan target akan diuraikan lebih lanjut dalam surat Direktur
Pemeriksaan dan Penagihan. Secara garis besar target pencairan Piutang Pajak dapat
diuraikan sebagai berikut :
1. Target pencairan piutang pajak secara nasional ditetapkan berdasarkan saldo awal
piutang pajak tahun 2010 setelah dikurangi dengan cadangan piutang, dengan
memperhitungkan pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) tahun 2009, dan
perkiraan penambahan piutang pajak pada tahun berjalan (tahun 2010);
2. Sebaran target pencairan piutang nasional di setiap Kantor Wilayah DJP seluruh
Indonesia ditetapkan lebih rinci dalam Surat Direktur Pemeriksaan dan Penagihan.
Selanjutnya alokasi target pencairan per KPP ditetapkan oleh masing-masing Kantor
Wilayah DJP atasannya.
B. Target Pencairan Piutang PBB dan BPHTB
Oleh karena lebih sederhananya faktor yang mempengaruhi dan dengan melihat
kecenderungan pencairan piutang PBB dan BPHTB tahun-tahun sebelumnya, maka target
pencairan ditetapkan minimal 85% (delapan puluh lima persen) dari saldo awal piutang.
C. Pencapaian Target Pencairan
Dalam rangka efektivitas dan efisiensi sebaran beban kerja, dan menghindari penumpukan
tugas yang berulang terjadi pada akhir tahun, maka pencapaian target secara akumulasi
ditetapkan sebagai berikut :
1. Triwulan I : 25%
2. Triwulan II : 55%
3. Triwulan III : 90%
4. Triwulan IV : 100%
D. Laporan Pencapaian Target Pencairan
KPP diharapkan membuat rencana dan daftar prioritas pencairan piutang secara terarah dan
efisien, dan memperhatikan pencapaian target setiap triwulan, membuat laporan pencapaian
tersebut, dan menyampaikan laporan tersebut kepada Kanwil atasannya paling lambat
tanggal 7 bulan setelah berakhirnya masing-masing triwulan.
Kantor Wilayah sangat diharapkan untuk memantau secara ketat pencapaian target
pencairan piutang setiap KPP di wilayah kerjanya, dan mengirimkan laporan pencapaian
tersebut setiap triwulan ke Subdit Penagihan paling lambat tanggal 15 bulan setelah
berakhirnya masing-masing triwulan.

IV. Evaluasi Kinerja Penagihan


Sebagai salah satu bentuk konkret fungsi pengawasan dan koordinasi, setiap bulan Kanwil
wajib menyusun evaluasi dan analisis kinerja penagihan seluruh KPP di wilayah kerjanya,
yang di dalamnya berisi 4 (empat) pokok bahasan sebagai berikut :
1. Evaluasi Tertib Administrasi;
2. Evaluasi Realisasi Pencairan Piutang Pajak;
3. Evaluasi Kegiatan Penagihan; dan
4. Evaluasi Validasi dan Rekonstruksi Data Piutang Pajak.
Evaluasi tersebut dibuat sesuai dengan format pada lampiran III dan dikirimkan ke Subdit
Penagihan KPDJP dalam bentuk softcopy maupun hardcopy setiap tanggal 15 bulan
berikutnya.
Dari evaluasi dan analisis kinerja penagihan setiap KPP di bawahnya tersebut, maka Kanwil
dapat memantau, memetakan permasalahan, dan memberikan peringatan dan/atau
bimbingan penagihan yang tepat, sehingga diharapkan dapat digunakan sebagai alat untuk
mendukung terlaksananya tujuan dan kebijakan penagihan secara efektif dan efisien.

V. Lain-Lain
A. Pelaksanaan Penelitian Administrasi dan/atau Penelitian Setempat
Sebagaimana sering diuraikan dalam kebijakan-kebijakan tahun sebelumnya, mengingat
masih banyaknya KPP dan/atau Kanwil yang dalam mengajukan usulan penghapusan
belum memenuhi dengan lengkap syarat-syarat pengajuan usulan, dengan ini diingatkan
kembali bahwa dalam melakukan penelitian administrasi dan/atau penelitian setempat
sebagai salah satu syarat pengajuan usulan, langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah :
1. Membuat daftar usulan penelitian setempat ke Kantor Wilayah atasannya;
2. Melakukan koordinasi dengan KPP lawan transaksi dari Wajib Pajak/Penanggung
Pajak yang akan dilakukan penelitian setempat untuk mendapatkan informasi lebih
lanjut tentang transaksi terakhir yang dilakukan, untuk memastikan apakah masih ada
aktivitas atau tidak;
3. Meminta informasi dan keterangan dari pihak pengelola gedung atau instansi yang
berwenang di wilayah tempat kedudukan Wajib Pajak menjalankan usahanya untuk
mendukung keberadaan Wajib Pajak/Penanggung Pajak yang dilakukan penelitian
setempat;
4. Meminta informasi dan keterangan mengenai Wajib Pajak/Penanggung Pajak kepada
Dinas Kependudukan, Direktorat Jenderal Imigrasi atau instansi terkait lainnya
apabila diperlukan.
B. Kebutuhan Sumber Daya Manusia
Sebagaimana tercantum dalam kebijakan sebelumnya, Kepala KPP harus memperhatikan
jumlah sumber daya manusia yang ada di seksi penagihan dikaitkan dengan beban kerja
seksi penagihan guna mendukung kelancaran pelaksanaan kegiatan penagihan. Adapun
jumlah minimal Jurusita di masing-masing KPP adalah sebagai berikut :
1. Tiga orang Jurusita untuk :
a. KPP di lingkungan Kantor Wilayah Wajib Pajak Besar;
b. KPP di lingkungan Kantor Wilayah Jakarta Khusus;
c. KPP Madya.
2. Dua orang Jurusita untuk setiap KPP Pratama dengan mempertimbangkan luasnya
wilayah kerja dan jumlah piutang.
3. Bagi KPP yang mengalami kekurangan tenaga pelaksana Jurusita Pajak dapat
menunjuk dan mengangkat Jurusita dari pelaksana pada Seksi Penagihan, Kepala
Seksi Penagihan, atau Kepala Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi
Perpajakan, sepanjang yang bersangkutan memenuhi ketentuan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 2 Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor
562/KMK.04/2000 tentang Syarat-Syarat, Tata Cara Pengangkatan dan
Pemberhentian Jurusita Pajak.
4. Apabila jumlah Jurusita belum juga terpenuhi dan kebutuhan akan Jurusita sangat
mendesak maka Kanwil dapat mendata kebutuhan Jurusita dan mengajukan
permohonan ke KPDJP untuk penambahan penempatan Jurusita di wilayah kerjanya.
C. Koordinasi dengan Pihak-Pihak Terkait
Sebagaimana dijelaskan dalam kebijakan-kebijakan sebelumnya, untuk mendukung
kelancaran dan mengantisipasi permasalahan yang tidak diinginkan, maka Kepala KPP
perlu memperhatikan dan membina adanya komunikasi dan kerja sama yang baik antar
seksi di dalam unitnya maupun pada unit yang berada pada Kanwil atasannya sebagai
berikut :
1. dalam hal terdapat permasalahan hukum terkait dengan pelaksanaan tindakan
penagihan, KPP agar segera melakukan koordinasi dengan Kepala Seksi Bimbingan
Penagihan dan Kepala Subbagian Rumah Tangga dan Bantuan Hukum di Kantor
Wilayah atasannya;
2. dalam hal kebutuhan untuk mendapatkan data dan informasi terkait daftar pengurus,
daftar harta, dan informasi lain terkait kemampuan membayar oleh Wajib
Pajak/Penanggung Pajak maka segera koordinasikan hal tersebut dengan seksi
Pemeriksaan dan pihak fungsional pemeriksa;
3. dalam hal kebutuhan akan informasi upaya hukum maka perlu lakukan koordinasi
berkelanjutan dengan seksi Pelayanan di KPP dan seksi Keberatan di Kanwil
atasannya;
4. dalam hal informasi umum maupun informasi lain yang lebih rinci, maka perlu
lakukan koordinasi berkelanjutan dengan seksi Pelayanan dan pihak Account
Representative di seksi Pengawasan dan Konsultasi.
D. Seragam Jurusita
KPP yang Jurusitanya belum mendapatkan seragam yang seharusnya sudah diadakan pada
tahun 2009 sebagaimana tercantum pada kebijakan tahun tersebut, agar menganggarkan
biaya pengadaan seragam Jurusita tersebut dalam DIPA KPP untuk minimal 3 (tiga) potong
pakaian seragam per Jurusita, dengan desain sebagaimana contoh pada lampiran IV.
E. Biaya Penggantian Pelaksanaan Tindakan Penagihan
Sehubungan dengan tidak mencukupinya nilai penggantian pelaksanaan tindakan
penagihan dibanding dengan yang sesungguhnya dikeluarkan, tidak adanya ketentuan yang
mengatur mekanisme pembayaran/penggantian biaya pelaksanaan tindakan penagihan yang
sudah dikeluarkan Jurusita, di samping karena biaya tersebut harus disetor sebagai
Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), maka sebagai bentuk dukungan penuh atas
kegiatan penagihan yang sudah dan harus dilakukan, KPP wajib menganggarkan dalam
DIPA KPP penggantian seluruh biaya yang sudah dikeluarkan dalam upaya pelaksanaan
tindakan penagihan.
F. Biaya Perjalanan Dinas
Sehubungan dengan biaya perjalanan dinas dalam rangka tindakan penagihan, dengan ini
diingatkan kembali agar Kepala KPP mendukung pelaksanaan tindakan penagihan dengan
memperhatikan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 45/PMK.05/2007 tentang Perjalanan
Dinas Jabatan Dalam Negeri Bagi Pejabat Negara, Pegawai Negeri, dan Pegawai Tetap,
dalam Bab I Pasal 1 ayat (5) diatur bahwa Perjalananan dinas dalam negeri yang
selanjutnya disebut perjalanan dinas adalah perjalanan ke luar tempat kedudukan baik
perseorangan maupun secara bersama yang jaraknya sekurang-kurangnya 5 (lima)
kilometer dari batas kota yang dilakukan dalam wilayah RI untuk kepentingan Negara atas
perintah pejabat yang berwenang termasuk perjalanan dari tempat kedudukan ke tempat
meninggalkan Indonesia untuk bertolak ke luar negeri dan dari tempat tiba di Indonesia
dari luar negeri ke tempat yang dituju di dalam negeri. Selanjutnya dalam ayat (10) diatur
bahwa Wilayah Jabatan adalah wilayah kerja dalam menjalankan tugas.

Dengan berlakunya Surat Edaran Kebijakan Penagihan ini, maka Surat Edaran Kebijakan
Penagihan sebelumnya dinyatakan tidak berlaku lagi.

Demikian untuk dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 7 April 2010
Direktur Jenderal,

ttd.

Mochamad Tjiptardjo
NIP 060044911

Tembusan :
1. Sekretaris Direktorat Jenderal;
2. Para Direktur dan Tenaga Pengkaji di Lingkungan Direktorat Jenderal.

SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK


NOMOR SE - 40/PJ/2010

TENTANG

TATA CARA PENGGUNAAN APLIKASI MULTIMEDIA SUPER CORRIDOR


DALAM RANGKA PEMBANGUNAN, PENGELOLAAN, DAN PENGAWASAN DATA
DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Dalam rangka pelaksanaan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-45/PJ/2009 tanggal 13
Agustus 2009 tentang Pedoman Administrasi Pembangunan, Pengelolaan, dan Pengawasan Data
(PAP3D) untuk pengawasan kepatuhan dan penggalian potensi terhadap Wajib Pajak perlu
ditegaskan hal-hal sebagai berikut :

1. Pelaksanaan prosedur terkait pembangunan, pengelolaan, dan pengawasan data


sebagaimana diatur dalam PER-45/PJ/2009, dilaksanakan dengan menggunakan aplikasi
Multimedia Super Corridor (MSC) sambil menunggu pengembangan aplikasi Alat
Keterangan (PAP3D) lebih lanjut. Aplikasi MSC dimanfaatkan untuk pencarian data,
pengolahan data (perekaman, identifikasi, dan pertukaran data), dan monitoring produksi
data dan pemanfaatan data.

2. Aplikasi MSC merupakan aplikasi yang digunakan untuk menggali potensi secara aktif
melalui perekaman, pengolahan, penyortiran dan penyaluran/pertukaran data yang
bersumber dari pihak ketiga untuk direlasikan dengan data Master File Wajib Pajak
(MFWP) sehingga data yang menjadi bernilai secara kualitatif/kuantitatif terkait kegiatan
pemenuhan hak dan kewajiban perpajakan Wajib Pajak dalam rangka intensifikasi dan
ekstensifikasi Wajib Pajak.

3. Proses yang terkait dalam pemanfaatan aplikasi MSC adalah sebagai berikut :

a. Proses pencarian data sebagaimana diatur dalam PER-45/PJ/2009 untuk


memperoleh data dari pihak ketiga dalam upaya menggali potensi terhadap Wajib
Pajak.

b. Proses pengolahan data adalah kegiatan menyandingkan data (matching data) ke


Master File Wajib Pajak dan data Kependudukan untuk men-tracing data Wajib
Pajak dan keluarganya dan mengidentifikasi data tersebut ke setiap bidang data
pada bank data yang diterima dari pihak ketiga (manual data cleansing), yang
dituangkan dalam lembar Penelitian Relasi Data sebagaimana ditetapkan pada
Lampiran I Surat Edaran ini.

c. Proses penyimpanan berkas pengolahan data berupa dokumen atau data elektronik
dalam media komputer disimpan untuk dokumentasi dan back-up data.

d. Proses pengawasan dilakukan oleh Kantor Pusat DJP dan Kanwil DJP terhadap
produksi data dan pemanfaatan data yang dilakukan di Kanwil DJP/KPP.

4. Penggunaan aplikasi MSC secara rinci untuk proses pengolahan data sesuai dengan
manual petunjuk penggunaan aplikasi MSC, dengan penjelasan sebagai berikut :

a. Proses perekaman merupakan kegiatan memasukan data secara manual dan


produksi data yang dilakukan oleh KPP/Kantor Wilayah DJP/Kantor Pusat DJP
atau loading data masal oleh Direktorat Teknologi Informasi Perpajakan (TIP) ke
dalam aplikasi MSC.

b. Tracing data Wajib Pajak merupakan kegiatan melacak data yang berhubungan
dengan Wajib Pajak atau calon Wajib Pajak berupa hubungan keluarga/kerabat
dekatnya, aset-aset yang dimiliki Wajib Pajak, ataupun kegiatan Wajib Pajak
lainnya yang terkait dengan pemenuhuan hak dan kewajibannya dalam
perpajakan. Tracing data Wajib Pajak dilakukan pada data MFWP, data
Kependudukan di Kota/Kabupaten, dan data yang berasal dari pihak ketiga.

c. Identifikasi data merupakan proses penelitian data yang telah di-tracing untuk
direlasikan kepada Wajib Pajak yang telah ber-NPWP untuk keperluan
intensifikasi pajak. Dalam hal data tidak dapat direlasikan kepada Wajib Pajak
yang telah ber-NPWP, data tersebut ditindaklanjuti dengan proses ekstensifikasi
Wajib Pajak.

d. Pertukaran data merupakan proses pelimpahan data yang diterima KPP untuk
dikirim ke KPP tujuan data yang sesuai, yang terjadi karena kekeliruan penentuan
lokasi/alamat data pada saat perekaman data.

e. Proses approve data adalah kegiatan validasi atas perekaman data, identifikasi
data, dan pertukaran data.

5. Data yang direlasikan ke Wajib Pajak yang telah ber-NPWP, setelah melalui proses
approve secara otomatis terkirim ke Profil Wajib Pajak disertai notifikasi dalam menu
Allert System pada aplikasi Approweb. Notifikasi yang dikirim merupakan skala
kualifikasi data untuk penilaian kewajaran data dan pengawasan kepatuhan Wajib Pajak
yang akan ditindaklanjuti oleh Account Representative.

6. Dalam rangka pembangunan, pengelolaan, dan pengawasan data perlu diperhatikan hal-
hal sebagai berikut :

a. Untuk pencarian data awal Kependudukan, setiap KPP agar melakukan pencarian
data Kependudukan di wilayah kerjanya yang dikoordinasikan oleh Kanwil DJP.
Untuk selanjutnya data berupa data elektronik dalam media komputer tersebut
dikirimkan ke Direktorat TIP. Khusus untuk pencarian data Kependudukan di
wilayah DKI Jakarta dilakukan oleh Kanwil DJP Jakarta Pusat. Pengiriman data
Kependudukan paling lambat tanggal 30 Mei 2010 dan secara berkala up-date
data Kependudukan setiap 3 (tiga) bulan dikirimkan ke Direktorat TIP u.p.
Subdirektorat Pendukung Operasional.

b. Bagi Kanwil DJP/KPP yang menerima data dari hasil pencarian data dalam
bentuk data digital/data elektronik dalam media komputer yang melebihi jumlah
100 records atau menerima bidang data baru untuk ditambahkan ke bank data
aplikasi MSC dapat menghubungi dan mengirimnya ke Direktorat TIP u.p.
Subdirektorat Pendukung Operasional.
c. Pemakaian aplikasi MSC menggunakan NIP dan password sebagaimana user
name dan password yang digunakan pada aplikasi Portal DJP. Administrator
Aplikasi MSC oleh Direktorat TIP u.p. Subdirektorat Pendukung Operasional.

d. Kantor Pusat DJP dan Kanwil DJP bertanggung jawab dalam pengawasan
produksi data dan monitoring tindak lanjut pemanfaatan data intensifikasi dan
ekstensifikasi di KPP melalui menu Monitoring pada aplikasi MSC.

7. Petunjuk dan tata cara penggunaan aplikasi MSC sebagaimana diatur dalam Lampiran II
Surat Edaran ini.

Demikian disampaikan untuk dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 23 Maret 2010
Direktur Jenderal,

ttd.

MOCHAMAD TJIPTARDJO
NIP 060044911

Tembusan :

1. Sekretaris Direktorat Jenderal;

2. Para Direktur dan Tenaga Pengkaji di lingkungan Kantor Pusat DJP;

3. Kepala Pusat Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan.


SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
NOMOR SE - 31/PJ/2010

TENTANG

PENYAMPAIAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-11/PJ/2010


TENTANG TATA CARA PERMOHONAN, PEMBERITAHUAN, PEMBERIAN, DAN
PEMBATALAN IZIN MENYELENGGARAKAN PEMBUKUAN DENGAN
MENGGUNAKAN
BAHASA INGGRIS DAN SATUAN MATA UANG DOLLAR AMERIKA SERIKAT

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Bersama ini disampaikan salinan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-11/PJ/2010
tentang Tata Cara Permohonan, Pemberitahuan, Pemberian, dan Pembatalan Izin
Menyelenggarakan Pembukuan dengan Menggunakan Bahasa Inggris dan Satuan Mata Uang
Dollar Amerika Serikat. Hal-hal yang perlu mendapat perhatian adalah sebagai berikut:

1. Prosedur untuk mengajukan permohonan izin menyelenggarakan pembukuan dengan


menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata uang Dollar Amerika Serikat adalah:

1.1 Surat permohonan izin diajukan kepada Kepala Kantor Wilayah dengan format
. sebagaimana Lampiran I PER-11/PJ/2010 paling lambat 3 (tiga) bulan:

a. sebelum tahun buku yang diselenggarakan dengan menggunakan bahasa


Inggris dan satuan mata uang Dollar Amerika Serikat tersebut dimulai;

b. sejak tanggal pendirian bagi Wajib Pajak baru untuk Bagian Tahun Pajak
atau Tahun Pajak pertama.

1.2 Permohonan izin tersebut pada butir 1.1 harus dilampirkan dengan:
.
c. fotokopi akta pendirian perusahaan dan perubahannya atau dokumen lain
yang serupa bagi Wajib Pajak Bentuk Usaha Tetap;
d. fotokopi Surat Persetujuan Penanaman Modal Asing dari Badan Koordinasi
Penanaman Modal bagi Wajib Pajak dalam rangka Penanaman Modal Asing;

e. fotokopi surat keterangan/penunjukan kantor perwakilan Indonesia dari


kantor pusat bagi Wajib Pajak Bentuk Usaha Tetap;

f. surat keterangan dari bursa efek luar negeri yang menyatakan bahwa emisi
saham Wajib Pajak pemohon didaftarkan di bursa efek tersebut bagi Wajib Pajak
yang mendaftarkan emisi sahamnya baik sebagian maupun seluruhnya di bursa
efek luar negeri;

g. fotokopi Surat Pemberitahuan Efektifnya Pernyataan Pendaftaran dari


Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan atas penerbitan reksadana
oleh Kontrak Investasi Kolektif yang bersangkutan bagi Wajib Pajak Kontrak
Investasi Kolektif;

h. fotokopi prospektus penawaran atas reksadana yang diterbitkan dalam


satuan mata uang Dollar Amerika Serikat bagi Wajib Pajak Kontrak Investasi
Kolektif;

i. surat keterangan/pernyataan dari perusahaan induk (parent company) di


luar negeri dan laporan keuangan konsolidasi (consolidated financial statement)
perusahaan induk (parent company) di luar negeri bagi Wajib Pajak yang
berafiliasi langsung dengan perusahaan induk di luar negeri;

j. fotokopi Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan tahun pajak yang


terakhir, kecuali bagi Wajib Pajak baru terdaftar yang belum wajib menyampaikan
Surat Pemberitahuan Tahunan;

k. Surat Pernyataan (bermeterai Rp6000,00) bahwa transaksi penjualan dan


biaya yang dilakukan perusahaan didominasi oleh satuan mata uang Dollar
Amerika dan pembukuan menggunakan bahasa Inggris serta seluruh aktiva,
pasiva, modal, pendapatan, dan biaya seluruhnya dicatat dalam satuan mata uang
Dollar Amerika Serikat; dan

l. fotokopi Bukti Penyetoran Modal Awal dalam Dollar Amerika Serikat bagi
Wajib Pajak baru untuk Bagian Tahun Pajak atau Tahun Pajak pertama.

2. Prosedur untuk menyampaikan pemberitahuan menyelenggarakan pembukuan dengan


menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata uang Dollar Amerika Serikat bagi Wajib
Pajak dalam rangka Kontrak Karya dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama adalah :

2.1 Surat pemberitahuan disampaikan ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP) tempat Wajib Pajak
. terdaftar dengan format sebagaimana Lampiran I PER-11/PJ/2010 paling lambat 3 (tiga)
bulan:

a. sejak tanggal pendirian apabila sejak pendiriannya menyelenggarakan


pembukuan dengan menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata uang Dollar
Amerika Serikat; atau

b. sebelum tahun buku yang diselenggarakan dengan menggunakan bahasa


Inggris dan satuan mata uang Dollar Amerika Serikat tersebut dimulai, apabila
akan menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan bahasa Inggris dan
satuan mata uang Dollar Amerika Serikat.

2.2 Pemberitahuan tersebut pada butir 2.1 harus dilampirkan:


.
c. fotokopi Kontrak Karya bagi Wajib Pajak dalam rangka Kontrak Karya;

d. fotokopi Kontrak Kerja Sama bagi Wajib Pajak Kontraktor Kontrak Kerja
Sama.

3. Ketentuan penyampaian pemberitahuan secara tertulis sebagaimana dimaksud pada butir


2 juga berlaku bagi Kerja Sama Operasi (KSO) sepanjang dipersyaratkan dalam
perjanjian kerjasama/akta pendirian KSO dan semua anggota KSO telah mendapatkan
izin Menteri Keuangan untuk menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan
bahasa Inggris dan satuan mata uang Dollar Amerika Serikat dengan melampirkan:

a. fotokopi perjanjian kerjasama/akta pendirian KSO; dan


b. fotokopi Surat Keputusan Menteri Keuangan tentang Persetujuan Pemberian Izin
Penyelenggaraan Pembukuan dengan Menggunakan Bahasa Inggris dan Satuan Mata Uang
Dollar Amerika Serikat atas nama anggota-anggota KSO yang telah mendapatkannya.
Dalam hal tidak semua anggota KSO mendapatkan izin Menteri Keuangan untuk
menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata uang
Dollar Amerika Serikat, tetapi dipersyaratkan dalam perjanjian kerjasama/akta pendirian
KSO, harus menempuh prosedur permohonan izin sebagaimana dimaksud pada butir 1 dengan
melampirkan dokumen-dokumen yang sama tersebut diatas.

4. Wajib Pajak yang telah memperoleh izin atau menyampaikan pemberitahuan secara
tertulis untuk menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan bahasa Inggris dan
satuan mata uang Dollar Amerika Serikat, harus menyelenggarakan pembukuan dengan
menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata uang Dollar Amerika Serikat tersebut
dalam jangka waktu paling sedikit 5 (lima) tahun pajak sejak diterbitkan izin atau
penyampaian pemberitahuan.

5. Dalam hal Wajib Pajak sebagaimana dimaksud pada butir 4 tetap menyelenggarakan
pembukuan dengan menggunakan bahasa Indonesia dan satuan mata uang Rupiah,
terhadap Wajib Pajak tersebut dicabut izinnya secara jabatan oleh Kepala Kantor Wilayah
dan tidak dapat diberikan izin untuk menyelenggarakan pembukuan dengan
menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata uang Dollar Amerika Serikat.

6. Dalam hal Wajb Pajak telah memperoleh izin untuk menyelenggarakan pembukuan
dengan menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata uang Dollar Amerika Serikat
namun merencanakan untuk tidak memanfaatkan izin yang dimilikinya, Wajib Pajak
wajib:

a. menyampaikan pemberitahuan pembatalan secara tertulis dalam hal Tahun Pajak


sebagaimana tercantum dalam surat izin belum dimulai dan pemberitahuan tersebut harus
sudah diterima oleh KPP tempat Wajib Pajak terdaftar sebelum Tahun Pajak tersebut
dimulai; atau
b. mengajukan permohonan pembatalan secara tertulis kepada Kepala KPP tempat Wajib
Pajak terdaftar paling lama 3 (tiga) bulan setelah tahun buku yang diselenggarakan dengan
menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata uang Dollar Amerika Serikat tersebut
dimulai,
dengan melampirkan fotokopi surat izin.

7. Dalam hal surat pemberitahuan yang disampaikan Wajib Pajak tidak dilengkapi dengan
dokumen yang dipersyaratkan dan/atau melampaui ketentuan batas waktu penyampaian
pemberitahuan, maka pemberitahuan tersebut dianggap tidak disampaikan.

8. Wajib Pajak Kontrak Karya, Kontraktor Kontrak Kerja Sama, atau KSO yang telah
memberitahukan ke Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar untuk
menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata
uang Dollar Amerika Serikat namun Wajib Pajak tersebut akan menyelenggarakan
pembukuan dengan menggunakan bahasa Indonesia dan satuan mata uang Rupiah, wajib
mengajukan permohonan untuk menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan
bahasa Indonesia dan satuan mata uang Rupiah kepada Kepala Kantor Wilayah paling
lama 3 (tiga) bulan sebelum tahun buku yang diselenggarakan dengan menggunakan
bahasa Indonesia dan satuan mata uang Rupiah tersebut dimulai, dengan format sesuai
dengan Lampiran I PER-11/PJ/2010 serta melampirkan fotokopi surat pemberitahuan.

9. Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan pencabutan atas izin untuk


menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata
uang Dollar Amerika Serikat dengan syarat:

a. disampaikan secara tertulis kepada Direktur Jenderal Pajak melalui Kepala Kantor Wilayah
paling lama 3 (tiga) bulan sebelum tahun buku yang diselenggarakan dengan menggunakan
bahasa Inggris dan satuan mata uang Dollar Amerika Serikat berakhir;
b. mengemukakan alasan pencabutan sesuai dengan kondisi yang sebenarnya; dan
c. permohonan harus memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada butir 4.

10. Kantor Pelayanan Pajak harus mengirimkan surat permohonan/pemberitahuan dari Wajib
Pajak ke Kantor Wilayah paling lama 3 (tiga) hari sejak surat permohonan/pemberitahuan
diterima dan mengarsipkan foto kopi berkas surat permohonan/pemberitahuan tersebut.
11. Atas permohonan:

a. izin sebagaimana dimaksud pada butir 1;


b.pembatalan izin sebagaimana dimaksud pada butir 6 huruf b;
c. izin menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan bahasa Indonesia dan satuan
mata uang Rupiah sebagaimana dimaksud pada butir 8; atau;
d.pencabutan izin sebagaimana dimaksud pada butir 9,
Kepala Kantor Wilayah atas nama Menteri Keuangan harus memberikan keputusan dalam
jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan sejak permohonan dari Wajib Pajak diterima secara
lengkap.

12. Tata cara:

a. permohonan izin, permohonan pembatalan dan pencabutan izin menyelenggarakan


pembukuan dengan menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata uang Dollar Amerika
Serikat; dan
b. pencabutan izin menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan bahasa Inggris dan
satuan mata uang Dollar Amerika Serikat secara jabatan,
adalah sebagaimana dimaksud pada Lampiran I dan II Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak
ini.

13. Kantor Wilayah dan Kantor Pelayanan Pajak diminta untuk mengadministrasikan dan
melakukan pengawasan terhadap Wajib Pajak yang telah memperoleh izin untuk
menyelenggarakan pembukuan dengan menggunakan bahasa Inggris dan satuan mata
uang Dollar Amerika Serikat.

14. Dengan berlakunya Surat Edaran ini, maka Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor:

a. SE-01/PJ/1993 tanggal 23 Januari 1993 tentang Pembukuan Dalam Bahasa Asing dan Mata
Uang Asing Bagi Perusahaan Dalam Rangka Penanaman Modal Asing, Kontrak Karya dan
Bagi Hasil;
b. SE-45/PJ.42/1999 tanggal 12 Oktober 1999 tentang Penyelenggaraan Pembukuan Dalam
Bahasa Asing dan Mata Uang selain Rupiah,
dinyatakan dicabut dan tidak berlaku lagi.
Demikian surat edaran ini ditetapkan untuk menjadi perhatian dan dilaksanakan dengan sebaik-
baiknya.

Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal 09 Maret 2010
Direktur Jenderal,

ttd.
Mochamad Tjiptardjo
NIP 060044911

Tembusan:

1. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak;

2. Para Direktur dan Tenaga Pengkaji di lingkungan DJP;

3. Kepala Pusat Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan.

SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK


NOMOR SE - 34 /PJ/2010

TENTANG

PENGANTAR PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK


NOMOR PER-9/PJ/2010 TENTANG STANDAR PEMERIKSAAN
UNTUK MENGUJI KEPATUHAN PEMENUHAN KEWAJIBAN PERPAJAKAN

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 6 Peraturan Menteri Keuangan Nomor


199/PMK.03/2007 tentang Tata Cara Pemeriksaan Pajak, perlu menetapkan Peraturan Direktur
Jenderal Pajak tentang Standar Pemeriksaan Untuk Menguji Kepatuhan Pemenuhan Kewajiban
Perpajakan. Peraturan Direktur Jenderal Pajak tersebut menggantikan Keputusan Direktur
Jenderal Pajak Nomor KEP-01/PJ.7/1990 tentang Pedoman Pemeriksaan Pajak.

Hal-hal penting yang perlu diperhatikan terkait dengan Peraturan Direktur Jenderal Pajak
tersebut adalah :

1. standar pemeriksaan merupakan patokan bagi Pemeriksa Pajak dalam melakukan


pemeriksaan;

2. standar pemeriksaan ini hanya berlaku untuk pemeriksaan untuk menguji kepatuhan
pemenuhan kewajiban perpajakan;

3. standar pemeriksaan meliputi Standar Umum, Standar Pelaksanaan Pemeriksaan, dan


Standar Pelaporan Hasil Pemeriksaan;

4. Standar Umum mengatur mengenai persyaratan Pemeriksa Pajak dan mutu pekerjaannya,
yang meliputi :

a. telah mendapat pendidikan dan pelatihan teknis yang cukup serta memiliki
keterampilan sebagai Pemeriksa Pajak, dan menggunakan keterampilannya secara
cermat dan seksama;

b. jujur dan bersih dari tindakan-tindakan tercela serta senantiasa mengutamakan


kepentingan negara; dan

c. taat terhadap berbagai ketentuan peraturan perundang-undangan, termasuk taat


terhadap batasan waktu yang ditetapkan.

5. Standar Pelaksanaan Pemeriksaan mengatur hal-hal sebagai berikut :

a. terdapat kewajiban bagi Supervisor untuk menyusun Rencana Pemeriksaan setelah


mempelajari data Wajib Pajak dan sebelum diterbitkan SP2, serta kewajiban bagi
Kepala UP2 untuk menelaah dan menyetujui Rencana Pemeriksaan;

b. salah satu informasi penting yang harus dicantumkan dalam Rencana Pemeriksaan
yaitu pos-pos SPT yang akan diperiksa, yang akan membantu Pemeriksa Pajak
untuk :

1) membuat Program Pemeriksaan yang efektif karena tidak perlu memeriksa seluruh
pos yang ada dalam SPT;
2) melakukan peminjaman buku, catatan, dan dokumen serta data, informasi, dan
keterangan lain dari Wajib Pajak dalam jumlah tertentu sesuai dengan Program
Pemeriksaan yang dibuat untuk melakukan pemeriksaan atas pos-pos dalam SPT
yang akan diperiksa tersebut.
c. terdapat kewajiban bagi Supervisor dengan bantuan Ketua Tim untuk menyusun
Program Pemeriksaan berdasarkan pos-pos yang akan diperiksa dalam Rencana
Pemeriksaan;

d. pelaksanaan pemeriksaan dilakukan dengan mengacu pada Petunjuk Pelaksanaan


Pemeriksaan, Pedoman Pemeriksaan, dan Petunjuk Teknis Pemeriksaan;

e. temuan pemeriksaan harus didasarkan pada bukti kompeten yang cukup dan
berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan;

f. pemeriksaan dilakukan oleh suatu Tim Pemeriksa Pajak yang terdiri dari seorang
Supervisor, seorang Ketua Tim, dan seorang atau lebih Anggota Tim;

g. Tim Pemeriksa Pajak dapat dibantu oleh seorang atau lebih yang memiliki keahlian
tertentu yang bukan merupakan Pemeriksa Pajak, baik yang berasal dari Direktorat
Jenderal Pajak maupun instansi lain yang telah ditunjuk oleh Direktur Jenderal
Pajak;

h. laporan tenaga ahli yang digunakan dalam pemeriksaan merupakan bagian dari
KKP;

i. apabila diperlukan, pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban


perpajakan dapat dilakukan secara bersama-sama dengan tim pemeriksa dari
instansi lain;

j. pemeriksaan dilaksanakan pada jam kerja dan apabila diperlukan dapat dilanjutkan
di luar jam kerja; dan

k. pelaksanaan pemeriksaan didokumentasikan dalam bentuk KKP.

6. Standar Pelaporan Hasil Pemeriksaan mengatur hal-hal sebagai berikut :

a. LHP disusun secara ringkas dan jelas, memuat ruang lingkup atau pos-pos yang
diperiksa sesuai dengan tujuan pemeriksaan, memuat simpulan Pemeriksa Pajak
yang didukung temuan yang kuat tentang ada atau tidak adanya penyimpangan
terhadap peraturan perundang-undangan perpajakan, dan memuat pula
pengungkapan informasi lain yang terkait dengan pemeriksaan;

b. terdapat pemisahan tanggung jawab dalam penyusunan LHP, yaitu :

1) Ketua Tim dan Anggota Tim bertanggung jawab untuk menyusun LHP;
2) Supervisor bertanggung jawab untuk menelaah LHP, untuk memastikan bahwa :
a) pemeriksaan telah dilakukan sesuai dengan Rencana Pemeriksaan;
b) pemilihan metode pemeriksaan, teknik pemeriksaan, prosedur pemeriksaan,
penghitungan koreksi, dasar hukum koreksi, dan penghitungan pajak terutang,
telah dilakukan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan perpajakan dan
didasari oleh objektivitas dan profesionalisme Pemeriksa Pajak; dan
c) semua data, informasi, dan fakta material yang diketahui Ketua Tim dan/atau
Anggota Tim telah dilaporkan dalam LHP dan tidak menutupi praktik-praktik
yang tidak patut atau tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan
perpajakan.
3) Kepala UP2 bertanggung jawab untuk menandatangani LHP, untuk mengetahui
bahwa :
a)pos-pos yang diperiksa telah sesuai dengan Rencana Pemeriksaan; dan
b dasar hukum koreksi telah sesuai dengan ketentuan perundang-undangan
) perpajakan

c. LHP disusun dengan merujuk pada Pedoman Penyusunan LHP; dan

d. LHP digunakan sebagai dasar penerbitan Surat Ketetapan Pajak dan/atau Surat
Tagihan Pajak.

7. Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-01/PJ.7/1993 tentang Pedoman


Pemeriksaan Pajak Terhadap Wajib Pajak Yang Mempunyai Hubungan Istimewa, yang
merupakan tambahan atas Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-01/PJ.7/1990,
dinyatakan tetap berlaku.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 09 Maret 2010
Direktur Jenderal,

ttd.

Mochamad Tjiptardjo
NIP 060044911

Tembusan :

1. Sekretaris Jenderal Departemen Keuangan;

2. Inspektur Jenderal Departemen Keuangan;

3. Kepala Biro Hukum Departemen Keuangan;

4. Kepala Biro Humas Departemen Keuangan;

5. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak;


6. Para Direktur dan Tenaga Pengkaji di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak.

SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK


NOMOR SE - 28/PJ/2010

TENTANG

PROSEDUR PENANGANAN SURAT URAIAN BANDING


ATAU SURAT TANGGAPAN DAN PERSIAPAN MENGHADIRI PERSIDANGAN
BANDING
ATAU GUGATAN DI PENGADILAN PAJAK

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Sebagai pedoman prosedur penanganan Surat Uraian Banding atau Surat Tanggapan dan untuk
meningkatkan kualitas persidangan yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pajak di Pengadilan
Pajak, dengan ini disampaikan hal-hal sebagai berikut :

1. Pembuatan Surat Uraian Banding atau Surat Tanggapan atas permintaan Pengadilan
Pajak dalam rangka persidangan banding atau gugatan agar memperhatikan hal-hal
sebagai berikut :

a. Surat Uraian Banding harus diselesaikan dan disampaikan ke Pengadilan Pajak


dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan sejak tanggal dikirim permintaan Surat Uraian
Banding, dengan menggunakan formulir sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran I
Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini;

b. Surat Tanggapan harus diselesaikan dan disampaikan ke Pengadilan Pajak dalam


jangka waktu 1 (satu) bulan sejak tanggal dikirim permintaan Surat Tanggapan,
dengan menggunakan formulir sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran II Surat
Edaran Direktur Jenderal Pajak ini;

c. Surat Uraian Banding yang dikirim ke Pengadilan Pajak dilampiri dengan data
pendukung :

1 Fotokopi :
)
a.surat ketetapan pajak (SKPKB, SKPKBT, SKPLB, atau SKPN) beserta bukti
pengirimannya, untuk keberatan PPh atau PPN dan PPnBM;
b.SKP atau SPPT PBB beserta bukti pengirimannya, untuk keberatan PBB; atau
c.SKBKB, SKBKBT, SKBLB, SKBN beserta bukti pengirimannya, untuk keberatan
BPHTB;
2 fotokopi surat keberatan beserta tanda terima dari KPP yang bersangkutan (LPAD); dan
)
3 fotokopi surat keputusan yang diajukan banding sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27
) ayat (1) Undang-Undang KUP beserta bukti pengirimannya.

d. Surat Tanggapan yang dikirim ke Pengadilan Pajak dilampiri dengan data


pendukung :

1) fotokopi dokumen yang diajukan gugatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 Undang-
undang KUP; dan
2) fotokopi bukti pengiriman objek gugatan.

e. Surat Uraian Banding atau Surat Tanggapan beserta data pendukungnya


sebagaimana dimaksud pada huruf c dan huruf d dikirim oleh Kanwil DJP ke
Pengadilan Pajak dengan tembusan harus dikirim ke Direktorat Keberatan dan
Banding yang dilengkapi :

1 fotokopi Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) beserta Kertas Kerja Pemeriksaan (KKP);
)
2 fotokopi Laporan Penelitian Keberatan dan Kertas Kerja Penelitian Keberatan atau Laporan
) Penelitian lainnya atas obyek yang diajukan gugatan.

2. Direktur Keberatan dan Banding sesuai dengan kewenangannya menerbitkan Surat Tugas
untuk menghadiri sidang banding atau gugatan di Pengadilan Pajak paling lama 3 (tiga)
hari kerja sejak surat permintaan menghadiri sidang banding atau gugatan diterima
dengan menggunakan formulir sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran III Surat Edaran
Direktur Jenderal Pajak ini.

3. Petugas sidang yang ditunjuk sebagaimana dimaksud pada angka 2 (dua), dalam
melaksanakan tugas harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

a. mempersiapkan dan mempelajari berkas-berkas yang akan digunakan dalam


persidangan;

b. membuat resume pokok sengketa dengan menggunakan formulir sebagaimana


ditetapkan dalam Lampiran IV Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini;

c. membuat laporan hasil sidang banding atau gugatan paling lama 3 (tiga) hari kerja
sejak tanggal sidang banding atau gugatan dilaksanakan dengan menggunakan
formulir sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran V Surat Edaran Direktur
Jenderal Pajak ini.
4. Direktorat Keberatan dan Banding dapat meminta kehadiran Pemeriksa/Penelaah
Keberatan/Fungsional Penilai PBB/Saksi/pihak ketiga lainnya yang dipandang perlu
untuk memberikan penjelasan dalam persidangan banding atau gugatan dengan
menggunakan formulir sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran VI Surat Edaran
Direktur Jenderal Pajak ini.

5. Ketentuan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.

Demikian untuk dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal 01 Maret 2010
Direktur Jenderal,

ttd.

Mochamad Tjiptardjo
NIP 060044911

Tembusan :

1. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak;

2. Para Direktur dan Tenaga Pengkaji di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak;

3. Kepala Pusat Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan.


SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
NOMOR SE - 19/PJ/2010

TENTANG

ANTISIPASI PELAYANAN KEPADA WAJIB PAJAK SETIAP TANGGAL BATAS AKHIR


PENYAMPAIAN SURAT PEMBERITAHUAN MASA (SPT MASA)

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dan untuk mengantisipasi terhadap
membludaknya layanan setiap tanggal batas akhir penyampaian SPT Masa, dengan ini
disampaikan hal-hal sebagai berikut :

1. Kepala Kantor Pelayanan Pajak dan Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi
Perpajakan di seluruh Indonesia agar :

a. Membuat Satuan Tugas (Satgas) secara khusus selain petugas di Seksi Pelayanan,
khusus pada tanggal-tanggal batas akhir penyampaian SPT Masa dengan
melibatkan seluruh pegawai secara bergantian untuk membangun teamwork yang
baik;

b. Menambah jumlah peralatan (sarana dan prasarana) yang dibutuhkan sehingga


para petugas di seksi pelayanan akan terbantu;
c. Apabila sangat diperlukan dapat memperpanjang waktu penerimaan penyampaian
SPT sampai dengan pukul 19.00 waktu setempat;

d. Mengawasi kerapian dan tertib administrasi atas pelayanan setiap hari sehingga
seluruh dokumen dan surat-surat dari Wajib Pajak telah diadministrasikan dengan
tertib baik secara sistem maupun fisik.

2. Pengaturan dan pengawasan pegawai yang bertugas secara bergantian, diserahkan kepada
masing-masing Kepala Kantor.

3. Kepala Kantor Wilayah agar terus mengadakan pembinaan dan pengawasan (quality
control) atas pelayanan KPP dan/atau KP2KP yang berada dalam wilayahnya.

4. Para Kepala Kantor agar bertindak antisipatif terhadap berbagai keluhan masyarakat dan
selalu mengedepankan pelayanan prima kepada masyarakat.

Demikian disampaikan untuk dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 19 Februari 2010
Direktur Jenderal,

ttd.

Mochamad Tjiptardjo
NIP. 060044911

Tembusan :

1. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak;

2. Para Direktur dan Tenaga Pengkaji di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak;

3. Kepala Pusat Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan.


SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
NOMOR SE - 11/PJ/2010

TENTANG

PENETAPAN RASIO TOTAL BENCHMARKING TAHAP II

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Menindaklanjuti ketentuan angka 7 (tujuh) Surat Edaran Direktur Jenderal pajak nomor SE-
96/PJ/2009 tanggal 5 Oktober 2009 tentang Rasio Total Benchmarking Dan Petunjuk
Pemanfaatannya, dan sehubungan dengan telah selesainya penghitungan rasio total
benchmarking untuk beberapa sektor usaha tertentu, dengan ini diberitahukan hal-hal sebagai
berikut :
1. kelompok usaha yang telah selesai dilakukan penghitungan rasio-rasio benchmark untuk tahap
II sebanyak 30 (tiga puluh) KLU sebagaimana tercantum dalam lampiran surat edaran ini;
2. rasio-rasio yang dilakukan benchmarking tetap terdiri dari 14 (empat belas) rasio, yaitu :
a. Gross Profit Margin (GPM),
b. Operating Profit Margin (OPM),
c. Pretax Profit Margin (PPM),
d. Corporate Tax to Turn Over Ratio (CTTOR),
e. Net Profit Margin (NPM),
f. Dividend Payout Ratio (DPR),
g. rasio PPN Masukan terhadap penjualan,
h. rasio biaya gaji terhadap penjualan,
i. rasio biaya bunga terhadap penjualan,
j. rasio biaya sewa terhadap penjualan,
k. rasio biaya penyusutan terhadap penjualan,
l. rasio "input antara" lainnya terhadap penjualan,
m. rasio penghasilan luar usaha terhadap penjualan, dan
n. rasio biaya luar usaha terhadap penjualan;
3. pemanfaatan rasio-rasio total benchmarking tetap mengacu pada Surat Edaran Direktur
Jenderal Pajak nomor SE-96/PJ/2009 tanggal 5 Oktober 2009 tentang Rasio Total
Benchmarking Dan Petunjuk Pemanfaatannya
4. memerintahkan kepada para Kepala Kantor Wilayah DJP agar memantau pelaksanaan
pemanfaatan Total Benchmarking oleh Kantor Pelayanan Pajak;
5. surat edaran ini merupakan pelengkap atas Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak nomor SE-
96/PJ/2009 tanggal 5 Oktober 2009 tentang Rasio Total Benchmarking Dan Petunjuk
Pemanfaatannya, dan untuk mempermudah pemahaman dan penyimpanan arsip, agar Surat
Edaran Direktur Jenderal Pajak ini disatukan penyimpanannya dengan Surat Edaran Direktur
Jenderal Pajak nomor SE-96/PJ/2009

Demikian surat edaran ini disampaikan untuk dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 01 Februari 2010
Direktur Jenderal Pajak

ttd.

Mochamad Tjiptardjo
NIP 060044911

Tembusan :

1. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak

2. Para Direktur dan Tenaga Pengkaji di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak

3. Kepala Pusat Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan


SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
NOMOR SE - 9/PJ/2010

TENTANG

PENYAMPAIAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 2/PMK.03/2010


TENTANG
BIAYA PROMOSI YANG DAPAT DIKURANGKAN DARI PENGHASILAN BRUTO

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Sehubungan dengan telah disahkan dan diundangkannya Peraturan Menteri Keuangan Nomor
2/PMK.03/2010 tanggal 8 Januari 2010 tentang biaya Promosi yang Dapat Dikurangkan Dari
Penghasilan Bruto, dengan ini disampaikan kembali hal-hal sebagai berikut :
1. Dalam Peraturan Menteri tersebut antara lain diatur :
a. Biaya Promosi adalah bagian dari biaya penjualan yang dikeluarkan oleh Wajib Pajak
dalam rangka memperkenalkan dan/atau menganjurkan pemakaian suatu produk baik
langsung maupun tidak langsung untuk mempertahankan dan/atau meningkatkan
penjualan.
b. Besarnya Biaya Promosi yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto merupakan
akumulasi dari jumlah :
1) biaya periklanan di media elektronik, media cetak, dan/atau media
lainnya;
2) biaya pameran produk;
3) biaya pengenalan produk baru; dan/atau
4) biaya sponsorship yang berkaitan dengan promosi produk.
c. Tidak termasuk Biaya Promosi adalah :
1) pemberian imbalan berupa uang dan/atau fasilitas, dengan nama dan dalam
bentuk apapun, kepada pihak lain yang tidak berkaitan langsung dengan
penyelenggaraan kegiatan promosi.
2) Biaya Promosi untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang
bukan merupakan objek pajak dan yang telah dikenai pajak bersifat final.
d. Dalam hal promosi dilakukan dalam bentuk pemberian sampel produk, besarnya biaya
yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto adalah sebesar harga pokok sampel
produk yang diberikan, sepanjang belum dibebankan dalam perhitungan harga pokok
penjualan.
e. Biaya Promosi yang dikeluarkan kepada pihak lain dan merupakan objek pemotongan
Pajak Penghasilan wajib dilakukan pemotongan pajak sesuai dengan ketentuan yang
berlaku.
f. Wajib Pajak wajib membuat daftar nominatif yang paling sedikit harus memuat data
penerima berupa nama, Nomor Pokok Wajib Pajak, alamat, tanggal, bentuk dan jenis
biaya, besarnya biaya, nomor bukti pemotongan dan besarnya Pajak Penghasilan yang
dipotong dengan format atas pengeluaran Biaya Promosi sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 2 yang dikeluarkan kepada pihak lain sebagaimana ditetapkan dalam lampiran.
g. Daftar nominatif dilaporkan sebagai lampiran saat Wajib Pajak menyampaikan SPT
Tahunan PPh Badan.
h. Dalam hal ketentuan huruf f dan g di atas tidak dipenuhi, Biaya Promosi tidak dapat
dikurangkan dari penghasilan bruto.
2. Berdasarkan hal-hal di atas, dengan ini ditegaskan bahwa :
a. Biaya Promosi yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto harus memperhatikan
hal-hal sebagai berikut :
1) untuk mempertahankan dan atau meningkatkan penjualan;
2) dikeluarkan secara wajar; dan
3) menurut adat kebiasaan pedagang yang baik.
b. Mekanisme pemotongan PPh kepada pihak-pihak yang menerima penghasilan atas
pengeluaran biaya promosi mengacu pada ketentuan perpajakan yang berlaku.
c. Pada saat pengisian Lampiran Peraturan Menteri mengenai Daftar Nominatif perlu
diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1) Dalam hal pemberian sampel, kolom Keterangan harus diisi dengan
mencantumkan Nama Kegiatan dan Lokasinya;
2) Dalam hal Biaya Promosi dikeluarkan dalam bentuk sponsorship, kolom
Keterangan harus diisi dengan informasi kontrak dan/atau perjanjian sponsorship
secara lengkap, termasuk nomor dan tanggal kontrak;
3) Dalam hal Biaya Promosi dilakukan dalam bentuk selain sponsorship dan kegiatan
promosi tersebut dilakukan berdasarkan suatu kontrak dan/atau perjanjian, maka
Wajib Pajak harus mencantumkan informasi kontrak dan/atau perjanjian secara
lengkap dalam kolom Keterangan, termasuk nomor dan tanggal kontrak.
3. Pada saat Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini mulai berlaku, maka Surat Edaran
Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-29/PJ.42/1990 tanggal 2 Oktober 1990 tentang Biaya
Promosi bagi Perusahaan Rokok/Cerutu, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
Demikian untuk menjadi pedoman dalam pelaksanaan di lapangan.

Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal 1 Februari 2010
Direktur Jenderal,

ttd

Mochammad Tjiptardjo
NIP. 060044911

Tembusan :

1. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak;

2. Para Direktur di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak; dan

3. Para Tenaga Pengkaji di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak.

SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK


NOMOR SE - 6/PJ/2010

TENTANG

PENYAMPAIAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK


NOMOR PER-1/PJ/2010 TENTANG PERUBAHAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL
PAJAK
NOMOR PER-19/PJ/2009 TENTANG TATA CARA PENERIMAAN DAN PENGOLAHAN
SURAT
PEMBERITAHUAN TAHUNAN

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,


Sehubungan dengan telah ditetapkannya Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-
1/PJ/2010 tanggal 12 Januari 2010 tentang Perubahan atas Peraturan Direktur Jenderal Pajak
Nomor PER-19/PJ/2009 tentang Tata Cara Penerimaan dan Pengolahan Surat Pemberitahuan
Tahunan, dengan ini disampaikan hal-hal sebagai berikut:

I. Dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada Wajib Pajak dalam menyampaikan Surat
Pemberitahuan Tahunan, perlu diatur tata cara penerimaan dan pengolahan Surat
Pemberitahuan Tahunan.

II. Dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini, yang dimaksud dengan:

1. Surat Pemberitahuan Tahunan yang selanjutnya disebut dengan SPT Tahunan adalah
Surat Pemberitahuan untuk suatu tahun pajak atau bagian tahun pajak yang meliputi SPT
Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Orang Pribadi (SPT 1770, SPT 1770 S, SPT 1770
SS), SPT Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan (SPT 1771 dan SPT 1771/$),
termasuk SPT Tahunan Pembetulan.

2. SPT Tahunan Elektronik yang selanjutnya disebut dengan e-SPT Tahunan adalah data
SPT Wajib Pajak sebagaimana dimaksud pada angka 1 dalam bentuk elektronik yang
dibuat oleh Wajib Pajak dengan menggunakan aplikasi e-SPT yang disediakan oleh
Direktorat Jenderal Pajak.

3. SPT Lengkap adalah SPT yang semua elemen SPT Induk dan lampirannya telah diisi
dengan lengkap, SPT Induk telah ditandatangani oleh Wajib Pajak atau kuasanya, dan telah
dilengkapi dengan lampiran khusus, serta keterangan dan/atau dokumen yang disyaratkan.

4. e-SPT Lengkap adalah SPT sebagaimana dimaksud pada angka 2 yang semua elemen
SPT Induk dan lampirannya telah diisi dengan lengkap dan dapat diproses dalam Sistem
Informasi Perpajakan di Direktorat Jenderal Pajak, dan telah dilengkapi dengan lampiran
khusus, serta keterangan dan/atau dokumen lain yang tidak dapat disampaikan secara
elektronik.

5. e-Filing adalah suatu cara penyampaian SPT atau penyampaian Pemberitahuan


Perpanjangan SPT Tahunan secara elektronik yang dilakukan secara on-line yang real time
melalui Penyedia Jasa Aplikasi atau Aplication Service Provider (ASP).

6. Tempat Pelayanan Terpadu yang selanjutnya disebut dengan TPT adalah tempat
pelayanan perpajakan yang terintegrasi pada Kantor Pelayanan Pajak (KPP) termasuk
Kantor Pelayanan, Penyuluhan, dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP) untuk memberikan
pelayanan perpajakan.

7. Pojok Pajak/Mobil Pajak/Tempat Khusus Penerimaan SPT Tahunan (Drop Box) adalah
tempat lain yang dapat digunakan untuk menerima SPT Tahunan/e-SPT Tahunan.
8. Media Eletronik adalah sarana penyimpan data digital yang dapat dibaca oleh Sistem
Informasi Perpajakan di Direktorat Jenderal Pajak.

9. Tanda Terima SPT adalah tanda bukti penerimaan SPT Tahunan/e-SPT Tahunan yang
diberikan petugas kepada Wajib Pajak.

10. Pengolahan SPT adalah serangkaian kegiatan yang meliputi penelitian SPT dan
perekaman SPT.

11. Penelitian SPT atau e-SPT adalah kegiatan yang dilakukan untuk menilai kelengkapan
pengisian SPT Tahunan atau e-SPT Tahunan dan lampiran-lampirannya serta
kelengkapan lampiran yang disyaratkan dan penilaian tentang kebenaran penulisan dan
perhitungannya termasuk menerbitkan Surat Permintaan Kelengkapan SPT Tahunan
apabila SPT yang diterima tidak lengkap.

12. Validasi adalah kegiatan penelitian kebenaran data/informasi atas SPT Tahunan yang
disampaikan dengan menggunakan aplikasi e-SPT.

13. Perekaman SPT adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk memasukkan semua
unsur SPT ke dalam basis data perpajakan dengan cara antara lain merekam, uploading,
dan/atau memindai (scanning).

14. Loading adalah kegiatan memindahkan data/informasi digital dari media


elektronik/jaringan komunikasi data ke Sistem Informasi Perpajakan di Direktorat Jenderal
Pajak.

III. Beberapa hal yang perlu diperhatikan :

1. Drop Box ditempatkan di KPP, pusat perbelanjaan, pusat bisnis, atau tempat-tempat
tertentu lainnya.

2. Setiap Wajib Pajak dapat menyampaikan SPT Tahunan/e-SPT Tahunan melalui


TPT/Pojok Pajak/Mobil Pajak/Drop Box di mana saja.

3. Petugas TPT/Pojok Pajak/Mobil Pajak/Drop Box menerima amplop tertutup yang berisi
SPT Tahunan/e-SPT Tahunan dari Wajib Pajak, termasuk dari Wajib Pajak yang tidak
terdaftar di wilayah kerja KPP dimana TPT/Pojok Pajak/Mobil Pajak/Drop Box tersebut
berada, dan langsung memberikan Tanda Terima SPT kepada Wajib Pajak tanpa didahului
penelitian atas kelengkapan SPT.

4. KPP wajib mengirimkan SPT Wajib Pajak yang tidak terdaftar pada KPP tersebut kepada
KPP tempat Wajib Pajak terdaftar, paling lambat dalam jangka waktu 10 (sepuluh) hari
sejak SPT diterima, kecuali untuk SPT Lebih Bayar (LB) paling lambat dalam jangka
waktu 3 (tiga) hari sejak SPT diterima.
5. KPP melakukan penelitian atas kelengkapan SPT paling lama dalam jangka waktu 2
(dua) bulan setelah SPT diterima sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) Peraturan
Direktur Jenderal Pajak Nomor 19/PJ/2009 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan
Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-1/PJ/2010, kecuali untuk SPT Lebih Bayar (LB)
dalam jangka waktu paling lama 14 (empat belas) hari kerja.

6. Apabila berdasarkan hasil penelitian SPT Tahunan/e-SPT Tahunan dinyatakan tidak


lengkap, terhadap Wajib Pajak dikirimkan Surat Permintaan Kelengkapan SPT Tahunan/e-
SPT Tahunan sebagaimana dimaksud pada Lampiran I.6.a, Lampiran I.6.b, Lampiran I.6.c,
Lampiran I.6.d dan Lampiran I.6.e.

7. Atas permintaan kelengkapan SPT tersebut, paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak
tanggal Surat Permintaan Kelengkapan SPT, Wajib Pajak wajib menyampaikan
kelengkapan SPT Tahunan/e-SPT Tahunan ke KPP dimana Wajib Pajak terdaftar.

8. Apabila sampai batas waktu 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal Surat Permintaan
Kelengkapan SPT Tahunan/e-SPT Tahunan telah terlampaui dan Wajib Pajak belum
menyampaikan kelengkapan SPT, maka SPT dianggap tidak disampaikan dan kepada
Wajib Pajak dikirimkan Surat Pemberitahuan SPT Dianggap Tidak Disampaikan
sebagaimana dimaksud pada Lampiran I.7.

9. Jangka waktu perekaman SPT ditetapkan paling lambat 1 (satu) bulan sejak SPT Lebih
Bayar (LB) diterima lengkap atau 3 (tiga) bulan sejak SPT Kurang Bayar (KB)/Nihil (N)
diterima lengkap.

10. Pegawai yang ditunjuk sebagai Petugas Penerima SPT pada TPT/Pojok Pajak/Mobil
Pajak/Drop Box wajib menggunakan tanda pengenal pegawai yang sah.

11. KPP menyiapkan Tanda Terima sebagaimana diatur dalam Lampiran I.1 sesuai dengan
kebutuhan.

12. Ketentuan penomoran Tanda Terima sebagai berikut:

a. Nomor ditentukan terlebih dahulu (prenumbered).

b. Nomor terdiri dari 13 digit dengan dengan format : aaa-bb-cccccccc.

aaa : Kode KPP


: Kode Unit Penerima SPT di masing-masing KPP (TPT/Pojok
bb
Pajak/Mobil Pajak/Drop Box)
cccccccc : Nomor urut Tanda Terima di setiap unit penerima SPT.

c.

d. Kepala KPP menetapkan Kode Unit Penerima SPT dengan Surat Keputusan
Kepala KPP.
e. Sejak berlakunya Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-1/PJ/2010,
penomoran Tanda Terima dimulai dari aaa-bb-00000001. Selanjutnya, pada saat
pergantian tahun penomoran tanda terima dimulai kembali dari aaa-bb-00000001.

f. Kepala Seksi Pelayanan membagi penjatahan nomor Tanda Terima di setiap unit
Penerima SPT.

g. Kepala Seksi Pelayanan melakukan pengawasan penggunaan nomor Tanda


Terima.

h. Dalam rangka tertib administrasi penomoran Tanda Terima SPT Tahunan/e-SPT


Tahunan melalui Mobil Pajak, Kepala Kantor Wilayah dapat menugaskan Kepala
KPP di wilayah kerjanya sebagai penanggung jawab Mobil Pajak selama masa
penerimaan SPT Tahunan.

13. Jadwal pelayanan dan lokasi Drop Box ditetapkan oleh Kepala KPP sebagai Penanggung
Jawab Drop Box/Pojok Pajak dengan berkoordinasi dengan Kepala Kantor Wilayah
Direktorat Jenderal Pajak.

14. Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak menyampaikan jadwal dan lokasi Drop
Box/pojok pajak di wilayah kerjanya kepada Direktur Penyuluhan Pelayanan dan
Hubungan Masyarakat untuk diinformasikan kepada petugas Kring Pajak dan di-upload
pada website www.pajak.go.id.

15. Untuk mengantisipasi beban puncak, dengan mempertimbangkan beban kerja, Kepala
KPP dapat membentuk tim atau satuan petugas (satgas) penerimaan dan pengolahan SPT
Tahunan/e-SPT Tahunan. Prosedur yang dapat disatgaskan yaitu prosedur yang dilakukan
oleh:

a. Petugas Penerima SPT;

b. Pelaksana TPT;

c. Pelaksana Seksi Pelayanan;

d. Pelaksana Seksi PDI.

16. Kepala KPP memprioritaskan pengiriman dan pengolahan SPT Lebih Bayar (LB) terlebih
dahulu.

17. Jika Tanda Terima SPT Tahunan yang telah diberikan sejak tanggal 1 Januari 2010
sampai dengan berlakunya Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-1/PJ/2010 tidak
dapat direkam pada aplikasi perekaman Tanda Terima yang lama, maka Tanda Terima
tersebut direkam pada aplikasi perekaman yang baru dengan cara sebagai berikut :

aaa : diisi kode KPP


bb : diisi kode 00
cccccccc : diisi nomor Tanda Terima yang telah diberikan.

IV. Lampiran-lampiran :

1. Tata cara penerimaan dan pengolahan SPT Tahunan diatur dalam Lampiran I

2. Tata cara perekaman SPT Tahunan diatur dalam Lampiran II.

3. Tata cara pendistribusian Tanda Terima SPT Tahunan diatur dalam Lampiran III.

Para Kepala Kantor Wilayah agar mengawasi pelaksanaan Peraturan Direktur Jenderal Pajak
tersebut diatas dan agar melakukan sosialisasi kepada para Wajib Pajak di lingkungan wilayah
kerja masing-masing.

Demikian untuk diketahui dan dilaksanakan sebaik-baiknya.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 25 Januari 2010
Direktur Jenderal,

ttd.

Mochamad Tjiptardjo
NIP 060044911

Tembusan :

1. Direktur Jenderal Pajak;

2. Para Direktur dan Tenaga Pengkaji di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak;

3. Kepala Pusat Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan.


SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
NOMOR SE - 5 /PJ/2010

TENTANG

PENEGASAN PERLAKUAN ADMINISTRASI SURAT PEMBERITAHUAN (SPT)


UNTUK WAJIB PAJAK (WP) DAN/ATAU PENGUSAHA
KENA PAJAK (PKP) PINDAH TERKAIT BEROPERASINYA
PUSAT PENGOLAHAN DATA DAN DOKUMEN PERPAJAKAN (PPDDP)

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Sehubungan telah beroperasinya Pusat Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan (PPDDP)
yang mempunyai tugas dan fungsi dalam pengolahan dan penyimpanan Surat Pemberitahuan
(SPT) serta dokumen perpajakan lainnya, dengan ini disampaikan hal-hal sebagai berikut:
I. PPDDP telah melakukan pengolahan dan penyimpanan beberapa jenis SPT serta dokumen
perpajakan lainnya yang semula dilaksanakan oleh Kantor Pelayanan Pajak (KPP);
II. Pada tahap awal implementasi, PPDDP melakukan pengolahan dan penyimpanan beberapa
jenis SPT untuk beberapa Kantor Pelayanan Pajak di Wilayah DKI Jakarta, sesuai dengan
surat dari Kepala PPDDP mengenai tahapan implementasi pengolahan SPT di PPDDP;
III. Hal-hal yang perlu mendapat perhatian setelah beroperasinya PPDDP antara lain:

1. Untuk KPP-KPP yang masuk dalam tahapan implementasi PPDDP harus


menyampaikan SPT-SPT yang telah ditentukan dalam tahapan implementasi tersebut
kepada PPDDP;

2. Dalam hal Wajib Pajak (WP) terdaftar dan/atau Pengusaha Kena Pajak (PKP)
terdaftar pindah tempat tinggal, tempat kedudukan, dan/atau tempat kegiatan usaha
(WP Pindah) dari KPP yang termasuk dalam Tahapan Implementasi PPDDP ke
wilayah kerja KPP lain yang juga termasuk dalam tahapan implementasi PPDDP,
maka proses yang dilakukan adalah sebagai berikut:

a. KPP Lama (masuk dalam tahapan implementasi PPDDP)


a.1. Melakukan prosedur pengadministrasian WP Pindah sesuai dengan ketentuan
yang berlaku;
a.2. Menyampaikan seluruh berkas WP Pindah ke KPP baru;
a.3. Mengirimkan tembusan Surat Pencabutan Surat Keterangan Terdaftar (SKT)
dan/atau Surat Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak (SPPKP) ke KPP Baru dan
PPDDP;
b. KPP Baru (masuk dalam tahapan implementasi PPDDP)
b.1. Melakukan proses pengadministrasian WP pindah dan berkas dari KPP lama
sesuai dengan ketentuan yang berlaku;
b.2. Mengirimkan tembusan SKT dan/atau SPPKP ke KPP Lama dan PPDDP;
c. PPDDP
c.1. Menerima tembusan Surat Pencabutan SKT dan/atau SPPKP dari KPP Lama;
c.2. Menerima tembusan SKT dan/atau SPPKP dari KPP Baru;
c.3. Untuk SPT atas WP Pindah yang telah masuk tahapan implementasi dan diterima
oleh PPDDP, maka proses yang dilakukan adalah sebagai berikut:
c.3.1.SPT sudah diterima tetapi belum dilakukan proses pemindaian (scanning)
c.3.1.1 Dalam hal pada saat proses pemilahan dokumen (sortir) ditemukan
. bahwa NPWP yang tertera pada SPT berbeda dengan NPWP yang
ada dalam database masterfile Wajib Pajak, maka Petugas
Pemilahan Dokumen melakukan pengecekan atas perbedaan NPWP
tersebut dengan cara membandingkan NPWP yang terdapat pada
database masterfile dengan tembusan Surat Pencabutan SKT
dan/atau SPPKP dari KPP Lama dan tembusan SKT dan/atau
SPPKP dari KPP Baru.
c.3.1.2 Apabila berdasarkan hasil pengecekan ditemukan bahwa perubahan
. NPWP disebabkan oleh karena WP terdaftar dan/atau PKP terdaftar
pindah tempat tinggal, tempat kedudukan, dan/atau tempat kegiatan
usaha maka proses pemilahan dokumen tetap dapat dilanjutkan
dengan melakukan perubahan NPWP pada aplikasi pemilahan.
c.3.2.SPT sudah dilakukan proses pemindaian (scanning) tetapi belum dilakukan
proses perekaman
c.3.2.1 Dalam hal pada saat proses perekaman (data entry) ditemukan
. bahwa NPWP yang tertera pada SPT berbeda dengan NPWP yang
ada dalam database masterfile Wajib Pajak, maka petugas Seksi
Perekaman dan Transfer Data PPDDP melakukan pengecekan atas
perbedaan NPWP tersebut dengan cara membandingkan NPWP
yang terdapat pada database masterfile dengan tembusan Surat
Pencabutan SKT dan/atau SPPKP dari KPP Lama dan tembusan
SKT dan/atau SPPKP dari KPP Baru.
c.3.2.2 Apabila berdasarkan hasil pengecekan ditemukan bahwa perubahan
. NPWP disebabkan oleh karena WP terdaftar dan/atau PKP terdaftar
pindah tempat tinggal, tempat kedudukan, dan/atau tempat kegiatan
usaha maka proses perekaman dokumen dapat dilanjutkan kembali.
c.3.3 SPT sudah selesai dilakukan proses perekaman
c.3.3.1 Dalam hal pada saat proses pengiriman atau transfer data ke
. database Sistem Informasi Direktorat Jenderal Pajak (SIDJP)
ditemukan bahwa NPWP yang tertera pada data SPT hasil
perekaman berbeda dengan NPWP yang ada dalam database
masterfile Wajib Pajak, maka petugas Seksi Perekaman dan
Transfer Data PPDDP melakukan pengecekan atas perbedaan
NPWP tersebut dengan cara membandingkan NPWP yang terdapat
pada database masterfile dengan tembusan Surat Pencabutan SKT
dan/atau SPPKP dari KPP Lama dan tembusan SKT dan/atau
SPPKP dari KPP Baru.
c.3.3.2 Apabila berdasarkan hasil pengecekan ditemukan bahwa perubahan
. NPWP disebabkan oleh karena WP terdaftar dan/atau PKP terdaftar
pindah tempat tinggal, tempat kedudukan, dan/atau tempat kegiatan
usaha maka proses pengiriman atau transfer data tetap dapat
dilanjutkan dengan melakukan perubahan data NPWP hasil
perekaman.

3. Dalam hal Wajib Pajak terdaftar dan/atau PKP terdaftar pindah tempat tinggal, tempat
kedudukan, dan/atau tempat kegiatan usaha dari KPP yang termasuk dalam Tahapan
Implementasi PPDDP ke wilayah kerja KPP lain yang tidak termasuk dalam tahapan
implementasi PPDDP, maka proses yang dilakukan adalah sebagai berikut:

a. KPP Lama (masuk dalam tahapan implementasi PPDDP)


a.1. Melakukan prosedur pengadministrasian WP pindah sesuai dengan
ketentuan yang berlaku;
a.2. Menyampaikan seluruh berkas WP pindah ke KPP baru;
a.3. Mengirimkan tembusan Surat Pencabutan SKT dan/atau SPPKP ke KPP
Baru dan PPDDP;
b. KPP Baru (belum masuk dalam tahapan implementasi PPDDP)
b.1. Melakukan proses pengadministrasian WP pindah dan berkas dari KPP lama
sesuai dengan ketentuan yang berlaku;
b.2. Menyampaikan tembusan SKT dan/atau SPPKP ke KPP Lama dan PPDDP;
b.3. Meminta ke PPDDP, fotokopi atau cetakan (print out) hasil pemindaian
(scanning) SPT WP Pindah yang sudah dikirimkan oleh KPP Lama ke PPDDP
apabila dianggap perlu.
c. PPDDP
c.1. Menerima tembusan Surat Pencabutan SKT dan/atau SPPKP dari KPP Lama;
c.2. Menerima tembusan SKT dan/atau SPPKP dari KPP Baru;
c.3. Untuk SPT atas WP Pindah yang telah masuk tahapan implementasi dan diterima
oleh PPDDP, maka proses yang dilakukan adalah sebagai berikut:
c.3.1 SPT sudah diterima tetapi belum dilakukan proses pemindaian (scanning)
. c.3.1.1 Dalam hal pada saat proses pemilahan dokumen (sortir)
. ditemukan bahwa NPWP yang tertera pada SPT berbeda dengan
NPWP yang ada dalam database masterfile Wajib Pajak, maka
Petugas Pemilahan Dokumen melakukan pengecekan atas
perbedaan NPWP tersebut dengan cara membandingkan NPWP
yang terdapat pada database masterfile dengan tembusan Surat
Pencabutan SKT dan/atau SPPKP dari KPP Lama dan tembusan
SKT dan/atau SPPKP dari KPP Baru.
c.3.1.2 Apabila berdasarkan hasil pengecekan ditemukan bahwa
. perubahan NPWP disebabkan oleh karena WP terdaftar dan/atau
PKP terdaftar pindah tempat tinggal, tempat kedudukan, dan/atau
tempat kegiatan usaha maka proses pemilahan dokumen tetap
dapat dilanjutkan dengan melakukan perubahan NPWP pada
aplikasi pemilahan.
c.3.2 SPT sudah dilakukan proses scanning tetapi belum dilakukan proses
. perekaman
c.3.2.1 Dalam hal pada saat proses perekaman (data entry) ditemukan
. bahwa NPWP yang tertera pada SPT berbeda dengan NPWP yang
ada dalam database masterfile Wajib Pajak, maka petugas Seksi
Perekaman dan Transfer Data PPDDP melakukan pengecekan atas
perbedaan NPWP tersebut dengan cara membandingkan NPWP
yang terdapat pada database masterfile dengan tembusan Surat
Pencabutan SKT dan/atau SPPKP dari KPP Lama dan tembusan
SKT dan/atau SPPKP dari KPP Baru.
c.3.2.2 Apabila berdasarkan hasil pengecekan ditemukan bahwa
. perubahan NPWP disebabkan oleh karena WP terdaftar dan/atau
PKP terdaftar pindah tempat tinggal, tempat kedudukan, dan/atau
tempat kegiatan usaha maka proses perekaman dokumen dapat
dilanjutkan kembali.
c.3.3 SPT sudah selesai dilakukan proses perekaman
. c.3.3.1 Dalam hal pada saat proses pengiriman atau transfer data ke
. database SIDJP ditemukan bahwa NPWP yang tertera pada data
SPT hasil perekaman berbeda dengan NPWP yang ada dalam
database masterfile Wajib Pajak, maka petugas Seksi Perekaman
dan Transfer Data PPDDP melakukan pengecekan atas perbedaan
NPWP tersebut dengan cara membandingkan NPWP yang
terdapat pada database masterfile dengan tembusan Surat
Pencabutan SKT dan/atau SPPKP dari KPP Lama dan tembusan
SKT dan/atau SPPKP dari KPP Baru.
c.3.3.2 Apabila berdasarkan hasil pengecekan ditemukan bahwa
. perubahan NPWP disebabkan oleh karena WP terdaftar dan/atau
PKP terdaftar pindah tempat tinggal, tempat kedudukan, dan/atau
tempat kegiatan usaha maka proses pengiriman atau transfer data
tetap dapat dilanjutkan dengan melakukan perubahan data NPWP
hasil perekaman.
c.4. Berdasarkan surat permohonan fotokopi atau cetakan (print out) hasil pemindaian
(scanning) SPT WP Pindah yang diminta oleh KPP Baru, PPDDP wajib mencari
SPT sebagaimana diminta, membuat salinan atas SPT dan mengirimkan salinan
tersebut kepada KPP Baru.

4. Dalam hal Wajib Pajak terdaftar dan/atau PKP terdaftar pindah tempat tinggal, tempat
kedudukan, dan/atau tempat kegiatan usaha dari KPP yang tidak termasuk dalam
Tahapan Implementasi PPDDP ke wilayah kerja KPP lain yang termasuk dalam
tahapan implementasi PPDDP, maka proses yang dilakukan adalah sebagai berikut:

a. KPP Lama (tidak masuk dalam tahapan implementasi PPDDP)


a.1. Melakukan proses pengadministrasian WP pindah sesuai dengan ketentuan
yang berlaku;
a.2. Melakukan proses perekaman atas seluruh SPT WP Pindah sebelum
disampaikan ke KPP Baru;
a.3. Menyampaikan seluruh berkas WP pindah ke KPP baru;
a.4. Mengirimkan tembusan Surat Pencabutan SKT dan/atau SPPKP ke KPP Baru.

5. Jangka Waktu Penyelesaian

a. KPP Lama mengirimkan tembusan Surat Pencabutan SKT dan/atau SPPKP ke KPP
Baru dan PPDDP, paling lama 1 (satu) hari kerja terhitung sejak tembusan SKT
dan/atau SPPKP diterima dari KPP Baru;
b. KPP Baru menyampaikan tembusan SKT, Kartu NPWP, dan/atau SPPKP ke KPP Lama
dan PPDDP, paling lama 1 (satu) hari kerja terhitung sejak diterimanya tembusan Surat
Pindah dari KPP Lama;
c. PPDDP menyampaikan fotokopi atau cetakan (print out) hasil pemindaian (scanning)
SPT sebagaimana dimaksud pada Bagian III, angka 3, butir c.4 ke KPP Baru paling
lama 7 (tujuh) hari kerja terhitung sejak surat permohonan diterima.
d. KPP Lama, melakukan proses perekaman atas seluruh SPT WP Pindah, sebagaimana
dimaksud pada Bagian III, angka 4, butir a.2. sebelum disampaikan ke KPP Baru,
paling lama 5 (lima) hari kerja terhitung sejak tembusan SKT dan atau SPPKP diterima
dari KPP Baru.
6. Tata cara pemindahan Wajib Pajak dan/atau Pengusaha Kena Pajak sehubungan
dengan beroperasinya PPDDP adalah sebagaimana terlampir dalam lampiran I Surat
Edaran ini, yang terdiri dari:

a. Tata cara pemindahan Wajib Pajak dan/atau Pengusaha Kena Pajak dari KPP yang
termasuk dalam Tahapan Implementasi PPDDP ke KPP lain yang juga termasuk dalam
Tahapan Implementasi PPDDP;
b. Tata cara pemindahan Wajib Pajak dan/atau Pengusaha Kena Pajak dari KPP yang
termasuk dalam Tahapan Implementasi PPDDP ke KPP lain yang tidak termasuk dalam
Tahapan Implementasi PPDDP;
c. Tata cara pemindahan Wajib Pajak dan/atau Pengusaha Kena Pajak dari KPP yang tidak
termasuk dalam Tahapan Implementasi PPDDP ke KPP lain yang termasuk dalam
Tahapan Implementasi PPDDP.

7. Tata cara pengolahan dokumen di PPDDP sehubungan dengan WP Pindah adalah


sebagaimana terlampir dalam lampiran II Surat Edaran ini, yang terdiri dari:

a. Tata cara penyiapan dokumen;


b. Tata cara perekaman data sehubungan dengan WP Pindah;
c. Tata cara transfer data sehubungan dengan WP Pindah;
d. Tata cara pengiriman fotokopi atau cetakan (print out) hasil pemindaian (scanning)
SPT;
e. Tata cara pengadministrasian tembusan Surat Pencabutan SKT dan/atau Pencabutan
SPPKP, dan tembusan SKT dan/atau SPPKP.

8. Kepala Pusat Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan, Para Kepala Kantor
Wilayah dan Para Kepala Kantor Pelayanan Pajak diminta agar memperhatikan
dengan sungguh - sungguh Surat Edaran ini, serta dapat mensosialisasikan kepada
jajaran dibawahnya.

Demikian untuk dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal 12 Januari 2010
Direktur Jenderal,

ttd.

Mochamad Tjiptardjo
NIP 060044911
Tembusan :

1. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak

2. Para Direktur dan Tenaga Pengkaji di lingkungan DJP.

SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK


NOMOR : SE - 3/PJ/2010

TENTANG

TATA CARA DISTRIBUSI DATA MODUL PENERIMAAN NEGARA (MPN)


KE SISTEM INFORMASI DIREKTORAT JENDERAL PAJAK (SIDJP/SIPMOD)

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Sehubungan dengan diperlukannya pengaturan proses distribusi data Modul Penerimaan Negara
(MPN) ke SIDJP/SIPMOD dalam rangka tertib administrasi dan pengawasan data pembayaran
pajak serta verifikasi kebenaran data pembayaran pajak di Kantor Pelayanan Pajak, dengan ini
disampaikan hal-hal sebagai berikut:

I. Kegiatan Distribusi Data MPN


Kegiatan distribusi data MPN adalah kegiatan transfer data dari Sistem MPN ke
SIDJP/SIPMOD yang dilakukan oleh Direktorat Teknologi Informasi Perpajakan (Dit. TIP)
berkoordinasi dengan Direktorat Transformasi Teknologi Komunikasi dan Informasi (Dit.
TTKI).
II. Rekonsiliasi Data MPN
Rekonsiliasi data MPN dilakukan oleh perbankan/pos dengan pengelola sistem MPN dengan
ketentuan bahwa hasil rekonsiliasi dituangkan dalam Surat Pernyataan yang ditandatangani
di atas meterai oleh pihak perbankan/pos, dan ditujukan ke Kantor Pusat Direktorat Jenderal
Pajak cq. Direktorat Potensi Kepatuhan dan Penerimaan (Dit PKP) dengan menggunakan
formulir sebagaimana pada Lampiran I Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini.
III. Ruang Lingkup
1. Jenis Data
Jenis data MPN yang akan didistribusikan ke SIDJP/SIPMOD adalah: Data Penerimaan
Pajak yang diterima melalui Bank/Pos Persepsi yang telah dilakukan rekonsiliasi antara
pihak perbankan/pos dan MPN yang meliputi data pembayaran Pajak Pertambahan Nilai
(PPN), Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM), kecuali
Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), dan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan/atau
Bangunan (BPHTB).
2. Periode Data dan Pemanfaatan Data

a. Data penerimaan pajak untuk penerimaan tahun 2007 hingga bulan Desember
2009 dapat digunakan untuk pengawasan pembayaran pajak.

b. Data penerimaan pajak untuk penerimaan mulai tanggal 1 Januari 2010 dapat
digunakan untuk pengawasan pembayaran pajak dan pemutakhiran data
tunggakan pajak (piutang pajak).

IV. Waktu Pelaksanaan


1. Untuk Periode Data sampai dengan bulan Desember 2009
Pelaksanaan distribusi data MPN dilakukan paling lambat 1 (satu) bulan sejak
berlakunya Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini.
2. Untuk Periode Data Harian mulai tanggal 1 Januari 2010 dan seterusnya Pelaksanaan
distribusi data MPN dilakukan paling lambat 2 (dua) minggu sejak tanggal transaksi
penerimaan dengan perbankan/pos.
V. Tata Cara

1. Tata cara distribusi data MPN adalah sebagaimana dimaksud pada Lampiran II Surat
Edaran ini.

2. Tata cara perbaikan data MPN adalah sebagaimana dimaksud pada Lampiran III
Surat Edaran ini.
VI. Hal-hal yang perlu diperhatikan
1. Kantor Pelayanan Pajak agar memperhatikan kemungkinan terjadinya duplikasi
pengurangan tunggakan pajak sebagai akibat telah direkamnya SSP yang dilaporkan oleh
Wajib Pajak.
2. Tata cara sinkronisasi data tunggakan (piutang) pajak oleh karena dilakukannya
distribusi data MPN akan diatur lebih lanjut dalam Surat Edaran tersendiri.
3. Dalam hal ditemukan data penerimaan pajak yang dilaporkan oleh Wajib Pajak berbeda
dengan data yang telah didistribusikan ke SIDJP/SIPMOD, KPP dapat menindaklanjuti
dengan:

a. Tata Cara Penyelesaian Pemindahbukuan (Pbk) dalam hal perbaikan data MPN
tersebut memenuhi kriteria untuk dilakukan pemindahbukuan;

b. Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak nomor : SE-79/PJ/2009 tanggal 29 Agustus


2009 perihal Kebijakan Perubahan Data Pada SIDJP/SIPMOD/SISMIOP dalam
hal perbaikan data MPN dilakukan secara jabatan.

4. Usulan perbaikan data pembayaran hanya dapat dilakukan oleh Wajib Pajak atau Wajib
Pajak melalui kuasanya (harus dibuktikan dengan surat kuasa dari Wajib Pajak
bersangkutan) yang memegang SSP asli (SSP lembar ke-1) ke Kantor Pelayanan Pajak
tempat Wajib Pajak terdaftar dan ditindaklanjuti dengan prosedur perbaikan data MPN
sebagaimana diatur pada Lampiran III Surat Edaran ini.
5. Data MPN yang didistribusikan ke SIDJP/SIPMOD selanjutnya digunakan untuk
memantau pemenuhan kewajiban Wajib Pajak, sedangkan untuk laporan penerimaan
digunakan data penerimaan dari portal DJP menu aplikasi MPN.

Demikian untuk menjadi perhatian dan dilaksanakan sebaik-baiknya.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 11 Januari 2010
DIREKTUR JENDERAL,

ttd

MOCHAMAD TJIPTARDJO

SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK


NOMOR SE - 1/PJ/2010

TENTANG

PENEGASAN SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK


NOMOR SE-102/PJ/2009 TENTANG SOSIALISASI PENYAMPAIAN
SURAT PEMBERITAHUAN (SPT) TAHUNAN PAJAK PENGHASILAN TAHUN 2009

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Sehubungan dengan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-102/PJ./2009 tentang
Sosialisasi Penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Pajak Penghasilan Tahun 2009,
dengan ini disampaikan penegasan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak tersebut sebagai
berikut:

1. Dalam rangka menjaga tingkat kepatuhan wajib pajak (tax compliance) secara nasional
dalam penyampaian SPT Tahunan dan memberikan kemudahan kepada wajib pajak untuk
memperoleh SPT Tahunannya maka dapt dilakukan hal-hal sebagai berikut:

a. Kantor Wilayah (Kanwil) memantau perkembangan pengambilan formulir SPT


oleh wajib pajak di masing-masing Kantor Pelayanan Pajak (KPP). Apabila tingkat
pengambilan formulir SPT masih rendah, Kanwil dapat memerintahkan KPP
mengambil tindakan yang diperlukan misalnya:

1. KPP dapat menyampaikan SPT Tahunan PPh Orang Pribadi melalui pemberi
kerja yang memiliki jumlah karyawan cukup banyak. KPP dapat mengacu
pada data SPT Masa PPh Pasal 21 untuk mengetahui jumlah SPT yang akan
disampaikan melalui pemberi kerja;

2. KPP dapat menyampaikan SPT Tahunan PPh Orang Pribadi melalui


Bendahara Pemerintah;

3. KPP dapat memperbanyak tempat-tempat pengambilan SPT Tahunan di


lokasi yang strategis misalnya mall, stasiun, bandara, pasar, perkantoran, dan
lain-lain.

b. Kantor Wilayah ataupun Kantor Pelayanan dapat mengirim SPT Tahunan kepada
wajib pajak di lokasi terpencil yang sulit menjangkau Kantor Pelayanan Pajak
(KPP), Kantor Pelayanan, Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP) atau
tempat strategis lainnya yang ditentukan oleh masing-masing Kantor Pelayanan.

2. Kantor Wilayah melakukan manajemen persediaan (stock management) Formulir SPT


Tahunan dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

a. Manajemen persediaan bertujuan untuk mengetahui persediaan Formulir SPT


Tahunan di masing-masing KPP;

b. Kanwil dapat segera memerintahkan kepada KPP yang masih memiliki persediaan
Formulir SPT Tahunan cukup banyak untuk memberikan persediaannya kepada
KPP yang kekurangan Formulir SPT Tahunan;
c. Kanwil dapat segera memerintahkan kepada KPP yang kekurangan persediaan
Formulir SPT Tahunan untuk meminta persediaan kepada KPP yang memiliki
kelebihan Formulir SPT Tahunan;

d. Kanwil dapat mengacu pada data penyampaian SPT Tahunan melalui drop box
sebagai dasar perkiraan kebutuhan formulir SPT Tahunan pada masing-masing
KPP;

e. Mekanisme dan koordinasi manajemen persediaan Formulir SPT Tahunan


diserahkan sepenuhnya kepada masing-masing Kanwil.

3. Kantor Wilayah ataupun Kantor Pelayanan diminta untuk memperkenalkan penggunaan


Formulir SPT Tahunan 2009 Digital (Format Pdf Isian) kepada wajib pajak pada setiap
kesempatan sosialisasi maupun penyuluhan kepada Wajib Pajak.

Demikian disampaikan untuk menjadi perhatian.

Direktur Jenderal,

ttd.

Mochamad Tjiptardjo
NIP 060044911

2011
SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
NOMOR : SE - 103/PJ/2011

TENTANG
PETUNJUK TEKNIS TATA CARA PENERIMAAN DAN PENGOLAHAN SURAT
PEMBERITAHUAN TAHUNAN

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Sehubungan dengan pelaksanaan tata cara penerimaan dan pengolahan Surat Pemberitahuan
Tahunan yang diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-19/PJ/2009
sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-
48/PJ/2011, dengan ini disampaikan hal-hal sebagai berikut:

I. Dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada Wajib Pajak dalam menyampaikan


Surat Pemberitahuan Tahunan, perlu diatur petunjuk teknis tata cara penerimaan dan
pengolahan Surat Pemberitahuan Tahunan.
II. Dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini, yang dimaksud dengan:

1. Surat Pemberitahuan Tahunan yang selanjutnya disebut dengan SPT Tahunan adalah
Surat Pemberitahuan untuk suatu tahun pajak atau bagian tahun pajak yang meliputi
SPT Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Orang Pribadi (SPT 1770, SPT 1770 S,
SPT 1770 SS), SPT Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan (SPT 1771 dan
SPT 1771/$), termasuk SPT Tahunan Pembetulan.

2. SPT Tahunan Elektronik yang selanjutnya disebut dengan e-SPT Tahunan adalah data
SPT Wajib Pajak sebagaimana dimaksud pada angka 1 dalam bentuk elektronik yang
dibuat oleh Wajib Pajak dengan menggunakan aplikasi e-SPT yang disediakan oleh
Direktorat Jenderal Pajak.

3. SPT Lengkap adalah SPT yang semua elemen SPT Induk dan lampirannya telah diisi
dengan lengkap, SPT Induk telah ditandatangani oleh Wajib Pajak atau kuasanya, dan
telah dilengkapi dengan lampiran khusus, serta keterangan dan/atau dokumen yang
disyaratkan.

4. e-SPT Lengkap adalah SPT sebagaimana dimaksud pada angka 2 yang semua elemen
SPT Induk dan lampirannya telah diisi dengan lengkap dan dapat diproses dalam
Sistem Informasi Perpajakan di Direktorat Jenderal Pajak, dan telah dilengkapi
dengan lampiran khusus, serta keterangan dan/atau dokumen lain yang tidak dapat
disampaikan secara elektronik.

5. e-Filing adalah suatu cara penyampaian SPT atau Pemberitahuan Perpanjangan SPT
Tahunan yang dilakukan secara on-line yang real time melalui website Direktorat
Jenderal Pajak (www.pajak.go.id) atau penyedia Jasa Aplikasi atau Application
Service Provider (ASP).

6. Tempat Pelayanan Terpadu yang selanjutnya disebut dengan TPT adalah tempat
pelayanan perpajakan yang terintegrasi pada Kantor Pelayanan Pajak (KPP) termasuk
Kantor Pelayanan, Penyuluhan, dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP) untuk
memberikan pelayanan perpajakan.
7. Pojok Pajak/Mobil Pajak/Tempat Khusus Penerimaan SPT Tahunan (Drop Box)
adalah tempat lain yang dapat digunakan untuk menerima SPT Tahunan/e-SPT
Tahunan.

8. Media Eletronik adalah sarana penyimpan data digital yang dapat dibaca oleh Sistem
Informasi Perpajakan di Direktorat Jenderal Pajak.

9. Tanda Terima SPT adalah tanda bukti penerimaan SPT Tahunan/e-SPT Tahunan yang
diberikan petugas kepada Wajib Pajak.

10. Pengolahan SPT adalah serangkaian kegiatan yang meliputi penelitian SPT dan
perekaman SPT.

11. Penelitian SPT atau e-SPT adalah kegiatan yang dilakukan untuk menilai
kelengkapan pengisian SPT Tahunan atau e-SPT Tahunan dan lampiran-lampirannya
serta kelengkapan lampiran yang disyaratkan dan penilaian tentang kebenaran
penulisan dan perhitungannya termasuk menerbitkan Surat Permintaan Kelengkapan
SPT Tahunan apabila SPT yang diterima tidak lengkap.

12. Validasi adalah kegiatan penelitian kebenaran data/informasi atas SPT Tahunan
yang disampaikan dengan menggunakan aplikasi e-SPT.

13. Perekaman SPT adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk memasukkan
semua unsur SPT ke dalam basis data perpajakan dengan cara antara lain merekam,
uploading, dan/atau memindai (scanning).

14. Loading adalah kegiatan memindahkan data/informasi digital dari media


elektronik/jaringan komunikasi data ke Sistem Informasi Perpajakan di Direktorat
Jenderal Pajak.

III. Beberapa hal yang perlu diperhatikan:


1. Drop Box ditempatkan di KPP, pusat perbelanjaan, pusat bisnis, lokasi pemberi kerja
yang mempunyai karyawan yang banyak atau tempat-tempat tertentu lainnya paling
lambat sampai dengan tanggal 30 April.
2. Setiap Wajib Pajak dapat menyampaikan SPT Tahunan/e-SPT Tahunan melalui
TPT/Pojok Pajak/Mobil Pajak/Drop Box di mana saja.
3. Khusus atas SPT Tahunan Pembetulan, SPT Tahunan dengan status Lebih Bayar, SPT
Tahunan yang disampaikan setelah batas waktu penyampaian SPT, Wajib Pajak harus
menyampaikan SPT Tahunan tersebut ke TPT KPP Tempat Wajib Pajak Terdaftar.
4. Apabila Wajib Pajak akan menyampaikan SPT Tahunan Pembetulan atau SPT Tahunan
dengan status Lebih Bayar atau SPT Tahunan yang disampaikan setelah batas waktu
penyampaian SPT ke Pojok Pajak/Mobil Pajak/Drop Box maka Petugas Pojok
Pajak/Mobil Pajak/Drop Box harus mengarahkan Wajib Pajak untuk menyampaikan
SPT Tahunan tersebut ke TPT KPP Tempat Wajib Pajak Terdaftar.
5. Petugas TPT/Pojok Pajak/Mobil Pajak/Drop Box menerima amplop tertutup yang berisi
SPT Tahunan/e-SPT Tahunan dari Wajib Pajak, termasuk dari Wajib Pajak yang tidak
terdaftar di wilayah kerja KPP dimana TPT/Pojok Pajak/Mobil Pajak/Drop Box tersebut
berada, dan langsung memberikan Tanda Terima SPT kepada Wajib Pajak tanpa
didahului penelitian atas kelengkapan SPT kecuali atas SPT Tahunan lebih bayar, SPT
Tahunan pembetulan dan/atau SPT Tahunan yang disampaikan setelah batas waktu
penyampaian SPT.
6. KPP wajib mengirimkan SPT Wajib Pajak yang tidak terdaftar pada KPP tersebut
kepada KPP Tempat Wajib Pajak terdaftar, paling lambat dalam jangka waktu 10
(sepuluh) hari sejak SPT diterima.
7. Terhadap SPT Tahunan yang disampaikan di KP2KP maka KP2KP harus mengirimkan
SPT Tahunan ke KPP atasannya paling lambat dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari sejak
SPT diterima.
8. Dalam hal KPP atasan KP2KP menerima SPT Tahunan yang disampaikan oleh Wajib
Pajak yang tidak terdaftar pada KPP di wilayah kerjanya, KPP wajib mengirimkan SPT
Tahunan tersebut ke KPP Tempat Wajib Pajak Terdaftar paling lambat dalam jangka
waktu 10 (sepuluh) hari sejak SPT diterima dari KP2KP.
9. KPP melakukan penelitian atas kelengkapan SPT paling lama dalam jangka waktu 2
(dua) bulan setelah SPT diterima, kecuali untuk SPT Lebih Bayar (LB) dalam jangka
waktu paling lama 18 (delapan belas) hari setelah SPT Tahunan/e-SPT Tahunan
diterima.
10. Apabila berdasarkan hasil penelitian SPT Tahunan/e-SPT Tahunan dinyatakan tidak
lengkap, terhadap Wajib Pajak dikirimkan Surat Permintaan Kelengkapan SPT
Tahunan/e-SPT Tahunan sebagaimana dimaksud dalam Lampiran III.6.a, Lampiran
III.6.b, Lampiran III.6.c, Lampiran III.6.d dan Lampiran III.6.e beserta template surat
jawaban atas permintaan kelengkapan SPT Tahunan sebagaimana dimaksud dalam
Lampiran III.16.a, Lampiran III.16.b, Lampiran III.16.c, Lampiran III.16.d dan
Lampiran III.16.e.
11. Apabila berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa isi amplop SPT bukan merupakan
SPT Tahunan maka KPP mengirimkan Surat Pembatalan Tanda Terima SPT Tahunan
sebagaimana dimaksud dalam Lampiran III.13.
12. Apabila berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa Wajib Pajak salah mengisi data
NPWP yang terdapat pada lembar informasi amplop SPT Tahunan maka KPP
mengirimkan Surat Pembetulan Tanda Terima SPT Tahunan sebagaimana Lampiran III .
14.
13. Atas permintaan kelengkapan SPT sebagaimana dimaksud pada angka 10, paling lambat
30 (tiga puluh) hari sejak tanggal diterimanya Surat Permintaan Kelengkapan SPT,
Wajib Pajak wajib menyampaikan kelengkapan SPT Tahunan/e-SPT Tahunan ke KPP
Tempat Wajib Pajak Terdaftar.
14. Dalam hal Surat Permintaan Kelengkapan SPT Tahunan/e-SPT Tahunan telah
dikirimkan sesuai dengan alamat Wajib Pajak namun tidak sampai kepada Wajib Pajak
maka jangka waktu bagi Wajib Pajak untuk menyampaikan kelengkapan SPT
Tahunan/e-SPT Tahunan adalah paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal
diterimanya kembali Surat Permintaan Kelengkapan SPT Tahunan/e-SPT Tahunan dari
pos atau perusahaan jasa ekspedisi atau jasa kurir oleh KPP.
15. Apabila sampai batas waktu 30 (tiga puluh) hari sejak:
a. tanggal diterimanya Surat Permintaan Kelengkapan SPT oleh Wajib Pajak; atau

b. tanggal diterimanya kembali Surat Permintaan Kelengkapan SPT Tahunan/e-


SPT Tahunan dari pos atau perusahaan jasa ekspedisi atau jasa kurir oleh KPP

telah terlampaui dan Wajib Pajak belum menyampaikan kelengkapan SPT, maka SPT
dianggap tidak disampaikan dan kepada Wajib Pajak dikirimkan Surat Pemberitahuan
SPT Dianggap Tidak Disampaikan sebagaimana dimaksud dalam Lampiran III.7.
16. Terhadap SPT yang telah dilakukan penelitian dan dinyatakan lengkap, dilakukan
perekaman SPT Lengkap pada menu penerimaan SPT dan dilanjutkan dengan
perekaman detil SPT pada aplikasi Sistem Informasi Direktorat Jenderal Pajak.
17. Apabila berdasarkan perekaman SPT Lengkap sebagaimana dimaksud pada angka 16
diketahui bahwa Wajib Pajak menyampaikan SPT Tahunan lebih dari satu kali maka
Kantor Pelayanan Pajak mengirimkan Surat Pembatalan Tanda Terima SPT Tahunan
sebagaimana Lampiran III.15.
18. Jangka waktu perekaman detil SPT ditetapkan paling lambat 1 (satu) bulan sejak SPT
Lebih Bayar (LB) diterima lengkap atau 3 (tiga) bulan sejak SPT Kurang Bayar
(KB)/Nihil (N) diterima lengkap.
19. Pegawai yang ditunjuk sebagai Petugas Penerima SPT pada TPT/Pojok Pajak/Mobil
Pajak/Drop Box wajib menggunakan tanda pengenal pegawai yang sah.
20. KPP menyiapkan Tanda Terima sebagaimana diatur dalam Lampiran III.1 sesuai
dengan kebutuhan.
21. Ketentuan penomoran Tanda Terima adalah sebagai berikut:
a. Nomor ditentukan terlebih dahulu (prenumbered).
b. Nomor terdiri dari 13 digit dengan dengan format aaa-bb-cccccccc.
aaa : Kode KPP

bb : Kode Unit Penerima SPT di masing-masing KPP (TPT/Pojok


Pajak/Mobil Pajak/Drop Box)

cccccccc : Nomor urut Tanda Terima di setiap unit penerima SPT.


c. Kepala KPP menetapkan Kode Unit Penerima SPT dengan Surat Keputusan
Kepala KPP. Petunjuk penetapan kode unit penerimaan SPT terdapat pada Lampiran
I Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini.
d. Sejak berlakunya Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-1/PJ/2010,
penomoran Tanda Terima dimulai dari aaa-bb-00000001. Selanjutnya, pada saat
pergantian tahun penomoran tanda terima dimulai kembali dari aaa-bb-00000001.
e. Kepala Seksi Pelayanan membagi penjatahan nomor Tanda Terima di setiap
unit Penerima SPT.
f. Kepala Seksi Pelayanan melakukan pengawasan penggunaan nomor Tanda Terima.
g. Dalam rangka tertib administrasi penomoran Tanda Terima SPT Tahunan/e-
SPT Tahunan melalui Mobil Pajak, Kepala Kantor Wilayah dapat menugaskan
Kepala KPP di wilayah kerjanya sebagai penanggung jawab Mobil Pajak selama
masa penerimaan SPT Tahunan.
22. Jadwal pelayanan dan lokasi drop box ditetapkan oleh Kepala KPP sebagai Penanggung
Jawab Drop Box/Pojok Pajak dengan berkoordinasi dengan Kepala Kantor Wilayah
Direktorat Jenderal Pajak.
23. Jadwal pembukaan drop box dan jumlah drop box disesuaikan dengan
kebutuhan masing-masing KPP.
24. Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak menyampaikan jadwal dan lokasi
Drop Box/Pojok Pajak di wilayah kerjanya kepada Direktur Penyuluhan Pelayanan dan
Hubungan Masyarakat untuk diinformasikan kepada petugas Kring Pajak dan di-upload
pada website www.pajak.go.id .
25. Untuk mengantisipasi beban puncak, dengan mempertimbangkan beban kerja, Kepala
KPP harus membentuk satuan tugas penerimaan dan pengolahan SPT Tahunan (satgas)
dengan Nota Dinas Kepala KPP. Petunjuk penetapan satgas mengacu pada Lampiran IV
Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini.
26. Kepala KPP memprioritaskan pengolahan SPT Lebih Bayar (LB) terlebih dahulu.
27. KPP harus menyediakan fasilitas pengecekan validitas NPWP dan layanan lainnya
untuk kelancaran penerimaan SPT Tahunan di TPT.
IV. Lampiran-lampiran :

1. Petunjuk Penetapan Kode Unit Penerimaan SPT Tahunan diatur dalam Lampiran I.

2. Tata cara pendistribusian Tanda Terima SPT Tahunan diatur dalam Lampiran II.

3. Tata cara penerimaan dan pengolahan SPT Tahunan diatur dalam Lampiran III.

4. Petunjuk Penetapan Satuan Tugas Penerimaan Dan Pengolahan SPT Tahunan


(Satgas) diatur dalam Lampiran IV.

5. Tata cara perekaman SPT Tahunan diatur dalam Lampiran V.

Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Dengan berlakunya Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini maka Surat Edaran Direktur
Jenderal Pajak Nomor SE-2/PJ./2011 tentang Petunjuk Teknis Tata Cara Penerimaan dan
Pengolahan Surat Pemberitahuan Tahunan dan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-
67/PJ./2011 tentang Penegasan atas Pelaksanaan Ketentuan dalam Surat Edaran Direktur
Jenderal Pajak Nomor SE-2/PJ./2011 tentang Petunjuk Teknis Tata Cara Penerimaan Dan
Pengolahan Surat Pemberitahuan Tahunan dinyatakan tidak berlaku.

Para Kepala Kantor Wilayah agar mengawasi pelaksanaan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak
tersebut di atas dan agar melakukan sosialisasi kepada para Wajib Pajak di lingkungan wilayah
kerja masing-masing.

Demikian untuk diketahui dan dilaksanakan sebaik-baiknya.


Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 30 Desember 2011
DIREKTUR JENDERAL,

ttd.

A. FUAD RAHMANY
NIP 195411111981121001

Tembusan :

1. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak;

2. Para Direktur dan Tenaga Pengkaji di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak;

3. Kepala Pusat Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan.


SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
NOMOR : SE - 101/PJ/2011

TENTANG

PENGANTAR KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 328/KMK.03/2011


TENTANG
PENETAPAN TATA CARA PEMBAHASAN KEBERATAN DAN REVIU ATAS KEPUTUSAN
KEBERATAN DAN KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR KEP-
336/PJ/2011
TENTANG PENETAPAN TATA CARA PEMBAHASAN KEBERATAN DI LINGKUNGAN
DIREKTORAT JENDERAL PAJAK

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Sehubungan dengan telah diterbitkannya Keputusan Menteri Keuangan Nomor


328/KMK.03/2011 tentang Penetapan Tata Cara Pembahasan Keberatan dan Reviu atas
Keputusan Keberatan, dan Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-336/PJ/2011 tentang
Penetapan Tata Cara Pembahasan Keberatan di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak, dengan
ini disampaikan hal-hal sebagai berikut :

1. Tujuan dilaksanakannya pembahasan keberatan adalah dalam rangka meningkatkan kualitas


hasil penelitian keberatan yang dilakukan Unit Pelaksana Penelitian Keberatan.
2. Pembahasan Keberatan adalah pembahasan terhadap konsep Laporan Penelitian Keberatan
dari Tim Peneliti Keberatan atas pengajuan keberatan yang memenuhi kriteria tertentu
sebagaimana dimaksud dalam Keputusan Menteri Keuangan dan Keputusan Direktur Jenderal
Pajak yang dilakukan oleh Tim Pembahas Keberatan yang ditunjuk dan ditetapkan oleh
Direktur Jenderal Pajak.
3. Penunjukan Keanggotaan Tim Pembahas Keberatan.
a. Direktur Keberatan dan Banding dan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal
Pajak selaku Kepala Unit Pelaksana Penelitian Keberatan menetapkan keanggotaan
Tim Pembahas Keberatan dengan menerbitkan Keputusan Direktur Jenderal Pajak
tentang Pembentukan Tim Pembahas Keberatan dengan menggunakan formulir
sebagaimana ditetapkan pada Lampiran I Keputusan Direktur Jenderal Pajak tersebut.

b. Keanggotaan Tim Pembahas Keberatan tersebut ditetapkan pada setiap awal tahun
anggaran dan berlaku untuk satu tahun amggaran dengan ketentuan bahwa dalam hal
diperlukan dapat dilakukan perubahan dan/atau perbaikan sebagaimana mestinya.

c. Tata cara pembentukan Tim Pembahas Keberatan adalah sebagaimana diatur dalam
Lampiran I Surat Edaran ini.

4. Pelaksanaan Pembahasan Keberatan.

a. Pembahasan oleh Tim Pembahas Keberatan terhadap konsep Laporan Penelitian


Keberatan, dilakukan terhadap keberatan yang diajukan sejak tanggal 1 September
2011.

b. Penugasan Tim Pembahas Keberatan untuk setiap penelitian keberatan yang akan
dilakukan pembahasan yang memenuhi kriteria sebagaimana ditetapkan dalam diktum
PERTAMA Keputusan Menteri Keuangan Nomor 328/KMK.03/2011 tentang
Penetapan Tata Cara Pembahas Keberatan dan Reviu atas Keputusan Keberatan,
adalah sebagaimana diatur dalam Diktum KETUJUH Keputusan Direktur Jenderal
Pajak tersebut.

c. Pembahasan tersebut dilaksanakan dalam satu atau beberapa kesempatan pembahasan


bersama-sama dengan Tim Peneliti Keberatan sebelum diterbitkan Surat
Pemberitahuan Untuk Hadir (SPUH) terhadap keberatan yang diajukan Wajib Pajak
sejak tanggal 1 September 2011.

d. Hasil Pembahasan dituangkan dalam Notula Rapat Pembahasan dan disampaikan


kepada Direktur Keberatan dan Banding atau Kepala Kantor Wilayah Direktorat
Jenderal Pajak sesuai kewenangannya.

e. Tim Pembahas Keberatan harus menyerahkan Notula Rapat Pembahasan paling lama
30 (tiga puluh) hari sejak Surat Tugas diterbitkan.

f. Tim Peneliti Keberatan menyerahkan konsep Laporan Penelitian Keberatan kepada


Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak dengan memperhatikan jangka
waktu penyelesaian proses keberatan dan jangka waktu penyelesaian pembahasan oleh
Tim Pembahas Keberatan.

g. Tata cara pembahasan keberatan adalah sebagaimana diatur dalam Lampiran II Surat
Edaran ini.

5. Direktur Keberatan dan Banding dan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak
dapat mengusulkan dan memberi prioritas bagi anggota Tim Pembahas Keberatan untuk
mengikuti pendidikan dan pelatihan tertentu guna meningkatkan keahlian dan pengetahuan
anggota Tim Pembahas Keberatan.
6. Peraturan Direktur Jenderal Pajak tersebut mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
Demikian disampaikan untuk dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal 29 Desember 2011
DIREKTUR JENDERAL,

ttd,

A. FUAD RAHMANY
NIP 195411111981121001

Tembusan :

1. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak;

2. Para Direktur dan tenaga Pengkaji di lingkungan Kantor Pusat DJP;

3. Kepala Pusat Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan.


SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
NOMOR : SE - 95/PJ/2011

TENTANG

PETUNJUK TEKNIS TATA CARA PENYAMPAIAN SURAT PEMBERITAHUAN TAHUNAN


BAGI
WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI YANG MENGGUNAKAN FORMULIR 1770S ATAU
1770SS
SECARA e-FILING MELALUI WEBSITE DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
(www.pajak.go.id)

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Sehubungan dengan pelaksanaan penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan bagi Wajib


Pajak Orang Pribadi yang menggunakan Formulir 1770S atau 1770SS secara e-Filing melalui
Website Direktorat Jenderal Pajak (www.pajak.go.id) sebagaimana telah ditetapkan dalam
Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-39/PJ/2011 tentang Tata Cara Penyampaian Surat
Pemberitahuan Tahunan Bagi Wajib Pajak Orang Pribadi yang Menggunakan Formulir 1770S
atau 1770SS secara e-Filing melalui Website Direktorat Jenderal Pajak (www.pajak.go.id), maka
dalam rangka keseragaman dan kelancaran pelaksanaannya, meningkatkan kepastian hukum
serta memberikan pelayanan yang lebih baik kepada Wajib Pajak, dengan ini disampaikan hal-
hal sebagai berikut :

1. Wajib Pajak Orang Pribadi yang memenuhi kriteria untuk menyampaikan SPT Tahunan
menggunakan Formulir SPT Tahunan 1770S atau Formulir SPT Tahunan 1770SS dapat
menyampaikan SPT Tahunan secara e-Filing melalui website Direktorat Jenderal Pajak
(www.pajak.go.id).
2. Wajib Pajak sebagaimana dimaksud pada angka 1 yang akan menyampaikan SPT Tahunan
secara e-Filing melalui website Direktorat Jenderal Pajak (www.pajak.go.id) untuk pertama
kali, harus mengajukan permohonan untuk memperoleh Electronic Filing Identification
Number (e-FIN) ke Direktorat Jenderal Pajak.
3. e-FIN yang tercantum dalam formulir sebagaimana dimaksud pada Lampiran I Surat Edaran
ini hanya digunakan untuk pendaftaran sebagai Wajib Pajak e-Filing melalui website
Direktorat Jenderal Pajak (www.pajak.go.id)
4. Wajib Pajak atau kuasanya dapat mengajukan permohonan e-FIN dengan cara mengisi
formulir permohonan e-FIN :

a. di website Direktorat Jenderal Pajak (www.pajak.go.id); atau

b. di Kantor Pelayanan Pajak terdekat.

5. Untuk permohonan e-FIN sebagaimana dimaksud pada angka 2, perlu diperhatikan hal-hal
sebagai berikut :
a. e-FIN diterbitkan paling lama :
1) 3 (tiga) hari kerja, dalam hal permohonan e-FIN disampaikan secara on-line
melalui website Direktorat Jenderal Pajak (www.pajak.go.id); atau
2) 1 (satu) hari kerja, dalam hal permohonan e-FIN disampaikan secara langsung
ke Kantor Pelayanan Pajak
sejak permohonan diterima lengkap dan benar.
b. e-FIN disampaikan kepada Wajib Pajak dengan :
1) dikirimkan ke alamat Wajib Pajak sesuai yang tercantum di Masterfile
Nasional Direktorat Jenderal Pajak dengan menggunakan :
a) pos dengan bukti pengiriman surat; atau
b) jasa ekspedisi atau jasa kurir dengan bukti pengiriman surat,
dalam hal permohonan disampaikan melalui website Direktorat Jenderal; atau
2) disampaikan secara langsung kepada Wajib Pajak atau kuasanya dalam
hal permohonan disampaikan dengan cara datang langsung ke Kantor Pelayanan
Pajak (KPP).
c. e-FIN merupakan data rahasia Wajib Pajak, sehingga harus disampaikan dalam amplop
yang tertutup rapat.
d. Dalam hal Wajib Pajak atau kuasanya datang langsung ke KPP terdekat untuk
mengajukan permohonan e-FIN dan diketahui ada perubahan data identitas Wajib Pajak,
maka Wajib Pajak atau kuasanya diberikan formulir perubahan data atau perpindahan
Wajib Pajak untuk diisi dan kemudian dikirimkan ke KPP sesuai dengan alamat atau
domisili terakhir Wajib Pajak dengan dilampiri fotokopi bukti identitas diri Wajib Pajak.
6. Kepala KPP menunjuk petugas di Seksi Pelayanan untuk selalu memantau permohonan e-
FIN yang disampaikan melalui website Direktorat Jenderal Pajak setiap hari kerja dengan
menggunakan aplikasi e-Filing, agar permohonan Wajib Pajak tersebut dapat segera
diselesaikan dalam jangka waktu 3 (tiga) hari kerja.
7. Pelaksana Seksi Pelayanan membuat Buku Register e-FIN untuk memudahkan proses
pengawasan permohonan e-FIN, yang berisi :

NPWP;

Nama Wajib Pajak;

kode penerbitan e-FIN;

tanggal penerbitan e-FIN;

tanda tangan penerima e-FIN, dalam hal permohonan disampaikan langsung ke KPP;
dan

tanggal pengiriman dan nomor resi pengiriman, dalam hal permohonan melalui
website DJP.

8. Account Representative memonitor data e-SPT yang disampaikan secara e-Filing melalui
website Direktorat Jenderal Pajak (www.pajak.go.id) dengan cara :

a. melakukan validasi data NTPN Surat Setoran Pajak (SSP) pada e-SPT dengan data
NTPN pada Modul Penerimaan Negara (MPN) dan apabila ditemukan
ketidakcocokan AR mengirimkan Surat Klarifikasi NTPN kepada Wajib Pajak
dengan format sebagaimana dimaksud pada Lampiran II Surat Edaran ini;

b. meneliti dokumen kelengkapan data e-SPT yang telah dilaporkan Wajib Pajak dan
apabila tidak lengkap, AR dapat mengirimkan Surat Permintaan Kelengkapan SPT
kepada Wajib Pajak dengan format sebagaimana dimaksud pada Lampiran III Surat
Edaran ini;

9. Terkait dokumen fisik lampiran SPT Tahunan sebagaimana berikut :

Fotokopi Formulir 1721 A1/A2 atau bukti potong PPh;

SSP Lembar ke-3 PPh Pasal 29;

Surat Kuasa Khusus;

Perhitungan PPh terutang bagi Wajib Pajak Kawin Pisah Harta dan/atau Mempunyai
NPWP Sendiri;
Fotokopi Bukti Pembayaran Zakat atau Sumbangan Keagamaan yang Sifatnya Wajib,

tidak wajib disampaikan oleh Wajib Pajak ke Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak
terdaftar apabila isinya sudah di-entry secara benar dan lengkap dalam e-SPT dan
disampaikan secara e-Filing melalui website Direktorat Jenderal Pajak (www.pajak.go.id).
10. Untuk lebih memudahkan pemahaman terkait hal-hal di atas, agar memperhatikan :

a. Tata Cara Penerbitan e-FIN sebagaimana dimaksud pada Lampiran IV; dan

b. Tata Cara Pengolahan SPT Tahunan secara e-Filing melalui website Direktorat
Jenderal Pajak (www.pajak.go.id) sebagaimana dimaksud pada Lampiran V.

dari Surat Edaran ini.


Demikian disampaikan untuk dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 23 Desember 2011
DIREKTUR JENDERAL,

ttd.

A. FUAD RAHMANY
NIP 195411111981121001

SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK


NOMOR : SE - 90/PJ/2011

TENTANG

PENGKREDITAN PAJAK MASUKAN PADA PERUSAHAAN TERPADU


(INTEGRATED) KELAPA SAWIT
DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Sehubungan dengan berlakunya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 78/PMK.03/2010 tentang


Pedoman Penghitungan Pengkreditan Pajak Masukan Bagi Pengusaha Kena Pajak yang
Melakukan Penyerahan yang Terutang Pajak dan Penyerahan yang Tidak Terutang Pajak dan
untuk memberikan pemahaman dan penerapan perlakuan Pajak Pertambahan Nilai yang sama
atas pengkreditan Pajak Masukan pada perusahaan terpadu yang penyerahannya terutang dan
tidak terutang Pajak Pertambahan Nilai, dengan ini disampaikan hal-hal sebagai berikut :
1. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2001 sebagaimana telah beberapa kali
diubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 2007, Tandan Buah Segar
(TBS) telah ditetapkan sebagai Barang Kena Pajak yang bersifat strategis (BKP Strategis)
yang atas penyerahannya dibebaskan dari pengenaan PPN.
2. Peraturan Pemerintah tersebut di atas merupakan aturan pelaksanaan yang diamanatkan dalam
Pasal 16B UU PPN yang menjelaskan antara lain bahwa salah satu prinsip yang harus
dipegang teguh di dalam Undang-Undang Perpajakan adalah diberlakukan dan diterapkannya
perlakuan yang sama terhadap semua Wajib Pajak atau terhadap kasus-kasus dalam bidang
perpajakan yang pada hakikatnya sama dengan berpegang teguh pada ketentuan peraturan
perundang-undangan. Oleh karena itu, setiap kemudahan dalam bidang perpajakan, jika
benar-benar diperlukan, harus mengacu pada kaidah di atas dan perlu dijaga agar di dalam
penerapannya tidak menyimpang dari maksud dan tujuan diberikannya kemudahan tersebut.
3. Berdasarkan Pasal 16B ayat (3) UU PPN diatur bahwa Pajak Masukan yang dibayar untuk
perolehan Barang Kena Pajak dan/atau perolehan Jasa Kena Pajak yang atas penyerahannya
dibebaskan dari pengenaan Pajak Pertambahan Nilai tidak dapat dikreditkan.
4. Selanjutnya Keputusan Menteri Keuangan Nomor 575/KMK.04/2000 tentang Pedoman
Penghitungan Pengkreditan Pajak Masukan bagi Pengusaha Kena Pajak yang Melakukan
Penyerahan yang Terutang Pajak dan Penyerahan yang Tidak terutang Pajak, antara lain
mengatur bahwa bagi Pengusaha yang melakukan kegiatan usaha terpadu (integrated) yang
terdiri dari unit atau kegiatan yang menghasilkan barang yang atas penyerahannya tidak
terutang Pajak Pertambahan Nilai dan unit atau kegiatan yang mengahsilkan barang yang atas
penyerahannya terutang Pajak Pertambahan Nilai maka Pajak Masukan yang dibayar atas
perolehan Barang Kena Pajak dan atau Jasa Kena Pajak yang :

a. nyata-nyata digunakan untuk unit atau kegiatan yang atas peyerahannya tidak terutang
Pajak Pertambahan Nilai atau dibebaskan dari pengenaan Pajak Pertambahan Nilai,
tidak dapat dikreditkan;

b. digunakan baik untuk unit atau kegiatan yang atas penyerahan hasil dari unit atau
kegiatan tersebut tidak terutang Pajak Pertambahan Nilai atau dibebaskan dari
pengenaan Pajak Pertambahan Nilai, maupun untuk unit kegiatan yang atas
penyerahan hasil dari unit atau kegiatan tersebut terutang Pajak Pertambahan Nilai,
dapat dikreditkan sebanding dengan jumlah peredaran yang terutang Pajak
Pertambahan Nilai terhadap peredaran seluruhnya;

c. nyata-nyata digunakan untuk unit kegiatan yang atas penyerahan hasil dari unit atau
kegiatan tersebut terutang Pajak Pertambahan Nilai, dapat dikreditkan.

5. Hal yang sama juga telah diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 78/PMK.03/2010
tentang Pedoman Penghitungan Pengkreditan Pajak Masukan bagi Pengusaha Kena Pajak
yang Melakukan Penyerahan yang Terutang Pajak dan penyerahan yang Tidak Terutang Pajak
yang menggantikan/mencabut KMK 575/KMK.04/2000 tersebut di atas.
Pajak Masukan yang tidak dapat dikreditkan dalam rangka menghasilkan BKP yang tidak
terutang PPN yang atas penyerahannya dibebaskan dari pengenaan PPN sebagaimana diatur
dalam 2 (dua) ketentuan tersebut di atas berlaku sama terhadap semua Wajib Pajak, baik bagi
usaha kelapa sawit terpadu (integrated) maupun bagi usaha kelapa sawit yang tidak terpadu
(non integrated). Hal ini sesuai dengan prinsip perlakuan yang sama (equal treatment)
sebagaimana diatur dalam penjelasan Pasal 16B ayat (1) Undang-Undang PPN tersebut pada
angka 2.
6. Berdasarkan hal tersebut di atas, perlu ditegaskan kembali bahwa untuk perusahaan kelapa
sawit yang terpadu (Integrated) yang terdiri dari unit atau kegiatan yang menghasilkan barang
yang atas penyerahannya tidak terutang Pajak Pertambahan Nilai dan unit atau kegiatan yang
menghasilkan barang yang atas penyerahannya terutang Pajak Pertambahan Nilai, maka:

a. Pajak Masukan atas perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang nyata-
nyata untuk kegiatan menghasilkan Barang Kena Pajak (CPO/PKO), dapat
dikreditkan;

b. Pajak Masukan atas perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang nyata-
nyata digunakan untuk kegiatan menghasilkan barang hasil pertanian yang atas
penyerahannya dibebaskan dari pengenaan PPN (TBS), tidak dapat dikreditkan;

c. Sedangkan Pajak Masukan atas perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak
yang digunakan untuk kegiatan menghasilkan Barang Kena Pajak sekaligus untuk
kegiatan menghasilkan BKP Strategis, dapat dikreditkan sebanding dengan jumlah
peredaran BKP terhadap peredaran seluruhnya.

Demikian untuk diketahui dan dilaksanakan sebaik-baiknya, serta disebarluaskan dalam wilayah
kerja Saudara masing-masing.

Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal 23 November 2011
Direktur Jenderal,

ttd.

A. FUAD RAHMANY
NIP 195411111981121001

Tembusan :

1. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak;

2. Para Direktur dan Tenaga Pengkaji di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak;

3. Kepala Pusat Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan.


SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
NOMOR : SE - 87/PJ/2011

TENTANG

TATA CARA DISTRIBUSI DATA MODUL PENERIMAAN NEGARA


KE SISTEM INFORMASI DIREKTORAT JENDERAL PAJAK (SIDJP/SIPMOD)
DAN PENGADMINISTRASIAN HASIL REKONSILIASI SISTEM AKUNTANSI INSTANSI
(SAI)
DENGAN SISTEM AKUNTANSI UMUM (SAU) BAGIAN PENERIMAAN
DIREKTORAT JENDERAL PAJAK

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Dalam rangka tertib administrasi distribusi data Modul Penerimaan Negara (MPN) ke sistem
informasi Direktorat Jenderal Pajak (SIDJP/SIPMOD), dengan ini disampaikan hal-hal sebagai
berikut :

I. Definisi
1. Distribusi data MPN adalah kegiatan transfer data pembayaran dari sistem MPN ke
Sistem Informasi Direktorat Jenderal Pajak (SIDJP/SIPMOD).
2. Data Laporan Arus Kas (LAK) adalah data pembayaran yang telah tercatat pada
Rekening Kas Umum Negara yang dihasilkan oleh Sistem Akuntansi Kas Umum Negara
Direktorat Jenderal Perbendaharaan.
3. Data Transaksi MPN yang selanjutnya disebut data MPN adalah data pembayaran yang
dihasilkan dari proses rekonsiliasi transaksi yang dilakukan oleh Bank/Pos Persepsi
dengan sistem MPN.
4. Jenis data MPN hasil rekonsiliasi transaksi Bank/Pos Persepsi dengan sistem MPN
terdiri dari :

a. Data MPN Diakui, yaitu data transaksi pembayaran yang semua elemen datanya
sama dan dinyatakan sah oleh Bank/Pos Persepsi.

b. Data MPN Audit, yaitu data transaksi pembayaran yang salah satu atau
beberapa elemen datanya yang bersifat non-mandatory tidak sama dan
dinyatakan sah oleh Bank/Pos Persepsi.

c. Data MPN Belum Kirim, yaitu data transaksi pembayaran yang salah satu atau
beberapa elemen datanya tidak sama akibat salah satu/beberapa Bank/Pos
Cabang belum menyampaikan datanya ke Bank/Pos Pusat.

d. Data MPN Reversal, yaitu data transaksi pembayaran yang dibatalkan oleh
Bank/Pos Persepsi sebelum dilakukannya proses rekonsiliasi transaksi Bank/Pos
Persepsi dengan sistem MPN akibat terjadinya kesalahan perekaman elemen-
elemen data pembayaran.
e. Data MPN Tidak Diakui, yaitu data transaksi pembayaran yang terjadi akibat
adanya gangguan komunikasi data antara sistem MPN dengan sistem Bank/Pos
Persepsi yang mengakibatkan NTPN yang dikirimkan oleh sistem MPN tidak
dapat diterima oleh Bank/Pos Persepsi sehingga transaksi tersebut tidak dapat
disahkan oleh Bank/Pos Persepsi.

5. Sistem Akuntansi Instansi (SAI) adalah serangkaian prosedur manual maupun


yang terkomputerisasi mulai dari pengumpulan data, pencatatan, pengikhtisaran sampai
dengan pelaporan posisi keuangan dan operasi keuangan pada kementerian
negara/lembaga.
6. Sistem Akuntansi Umum (SAU) adalah subsistem akuntansi pusat yang menghasilkan
Laporan Realisasi Anggaran Pemerintah Pusat dan Negara.
7. Rekonsiliasi SAI-SAU adalah proses pencocokan data SAI (dalam hal ini dokumen
sumbernya adalah data MPN) dengan data SAU (dalam hal ini dokumen sumbernya
adalah data LAK) yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Perbendaharaan dengan
menggunakan aturan tertentu.
8. Data pembayaran yang akan didistribusikan ke SIDJP/SIPMOD adalah data pembayaran
pajak hasil rekonsiliasi SAI-SAU, yang selanjutnya disebut Data MPN-LAK.
II. Rekonsiliasi SAI-SAU
1. Proses rekonsiliasi SAI-SAU dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Perbendaharaan
dengan menggunakan Elemen kunci :

a. Kode P-7, Transmission Date and Time adalah tanggal dan jam saat paket
data dikirimkan;

b. Kode P-11, System Trace Audit Number adalah suatu nomor yang digunakan
untuk mencocokkan antara paket data request dengan response. Nomor harus
ditetapkan oleh pengirim (Sistem Bank/Pos Persepsi) dan dikembalikan oleh
Sistem MPN. Nomor ini tidak boleh berubah dalam kurun waktu berlakunya
transaksi terkait;

c. Kode Cabang Bank;

d. Kode KPPN;

e. Kode NTB;

f. Kode Akun;

g. Tanggal buku;

h. Kode NTPN; dan

i. Nilai Setor.
2. Rekonsiliasi SAI-SAU menghasilkan jenis data sebagai berikut :
a. Fully Match (Flagrekon 50), yaitu Data MPN-LAK yang semua elemen kuncinya
sama.
b. Partially Match, yaitu Data MPN-LAK yang salah satu atau lebih elemen datanya
berbeda, yang dibagi menjadi :
Flagrekon 1 : Dalam hal hasil rekonsiliasi menyatakan terdapat perbedaan hanya
pada elemen P-7 dan P-11.
Flagrekon 2 : Dalam hal hasil rekonsiliasi menyatakan terdapat perbedaan hanya
pada elemen Kode Cabang Bank.
Flagrekon 3 : Dalam hal hasil rekonsiliasi menyatakan terdapat perbedaan hanya
pada elemen Kode KPPN.
Flagrekon 4 : Dalam hal hasil rekonsiliasi menyatakan terdapat perbedaan hanya
pada elemen Kode NTB.
Flagrekon 5 : Dalam hal hasil rekonsiliasi menyatakan terdapat perbedaan hanya
pada elemen Kode Akun.
Flagrekon 6 : Dalam hal hasil rekonsiliasi menyatakan hanya terdapat elemen
Split Kode Akun.
Flagrekon 7 : Dalam hal hasil rekonsiliasi menyatakan terdapat perbedaan hanya
pada elemen Tanggal Buku.
Flagrekon 8 : Dalam hal hasil rekonsiliasi menyatakan terdapat perbedaan hanya
pada elemen Kode Akun dan Kode Cabang Bank.
Flagrekon 9 : Dalam hal hasil rekonsiliasi menyatakan terdapat perbedaan hanya
pada elemen Kode Akun dan Kode NTB.
Flagrekon 10 : Dalam hal hasil rekonsiliasi menyatakan terdapat perbedaan hanya
pada elemen Kode Akun dan Tanggal Buku.
c. Unmatch (Flagrekon 0), yaitu Data MPN-LAK yang semua elemen datanya tidak
sama.
d. Cancel-Out Match, yaitu Data MPN-LAK untuk jenis data MPN Reversal, Tidak
Diakui dan Belum Kirim yang yang masuk dalam kategori fully match dan partially
match.
3. Direktorat Teknologi Informasi Perpajakan menerima data hasil rekonsiliasi SAI-SAU
beserta data hasil konfirmasi jenis data Partially Match dan Unmatch, dari Direktorat
Jenderal Perbendaharaan cq. Direktorat Pengelolaan Kas Negara.
III. Tindak Lanjut Hasil Rekonsiliasi SAI-SAU
1. Data hasil rekonsiliasi SAI-SAU tahun 2010 dan sebelumnya ditindaklanjuti sesuai
dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak
Nomor SE-8/PJ/2011 tentang Tata Cara Tindak Lanjut Hasil Rekonsiliasi Modul
Penerimaan Negara (MPN) Yang Dinyatakan Sebagai Transaksi Partially Match.
2. Data MPN-LAK tahun 2011 dan sesudahnya ditindaklanjuti dengan ketentuan sebagai
berikut :
a. Data Fully Match dan Partially Match selain Beda Kode Akun
Direktorat Teknologi Informasi Perpajakan mencatat data MPN-LAK Fully Match
dan Partially Match Selain Beda Akun (Flagrekon 50, 1, 2, 3, 4, dan Flagrekon 7)
ke dalam Sistem Akuntansi Instansi (SAI) DJP dan langsung mendistribusikannya ke
dalam Sistem informasi Direktorat Jenderal Pajak (SIDJP/SIPMOD).
b. Data Partially Match Beda Kode Akun
i. Direktorat Teknologi Informasi Perpajakan melakukan konfirmasi data MPN-
LAK Partially Match Beda Kode Akun (Flagrekon 5, 6, 8, 9, dan Flagrekon 10)
ke Direktorat Jenderal Perbendaharaan cq. Direktorat Pengelolaan Kas Negara.
ii. Berdasarkan hasil konfirmasi dari Direktorat Jenderal Perbendaharaan
cq. Direktorat Pengelolaan Kas Negara, Direktorat Teknologi Informasi
Perpajakan mendistribusikannya Data MPN-LAK Partially Matc Beda Kode
Akun ke SIDJP/SIPMOD.
c. Data Unmatch
i. Data MPN Unmatch dengan status Diakui/Audit yang dibatalkan oleh
Bank/Pos Persepsi berdasarkan hasil konfirmasi Direktorat Jenderal
Perbendaharaan cq. Direktorat Pengelolaan Kas Negara ke Bank/Pos Persepsi,
akan dihapus pada SAI DJP dan tidak didistribusikan ke SIDJP/SIPMOD.
ii. Terhadap Data MPN Unmatch dengan status Diakui/Audit yang
sudah dilimpahkan oleh Bank/Pos Persepsi berdasarkan hasil konfirmasi
Direktorat Jenderal Perbendaharaan cq. Direktorat Pengelolaan Kas Negara
ke Bank/Pos dan KPPN, apabila data tersebut ada (sudah dilimpahkan ke
Rekening Kas Umum Negara), maka akan dicatat pada SAI DJP dan
didistribusikan ke SIDJP/SIPMOD Apabila data tersebut tidak ada (tidak ada
pelimpahan), maka dinyatakan dibatalkan dan dihapus pada SAI DJP serta tidak
didistribusikan ke SIDJP/SIPMOD.
iii. Terhadap Data MPN Unmatch dengan status Diakui/Audit yang
belum dilimpahkan berdasarkan hasil konfirmasi Direktorat Jenderal
Perbendaharaan cq. Direktorat Pengelolaan Kas Negara ke Bank/Pos dan KPPN,
apabila data tersebut ada (sudah dilimpahkan ke Rekening Kas Umum Negara),
maka akan dicatat pada SAI DJP dan didistribusikan ke SIDJP/SIPMOD.
Apabila data tersebut belum dilimpahkan, maka tidak dicatat pada SAI DJP dan
tidak didistribusikan ke SIDJP/SIPMOD.
iv. Terhadap Data LAK Unmatch, Direktorat Teknologi Informasi melaksanakan
konfirmasi ke KPPN. Apabila data tersebut telah tercatat pada sistem MPN,
maka akan dicatat pada SAI DJP dan didistribusikan ke SIDJP/SIPMOD.
Apabila data tersebut tidak ada, maka tidak dicatat pada SAI DJP dan tidak akan
didistribusikan ke SIDJP/SIPMOD sebelum data tersebut tercatat pada sistem
MPN.
d. Data Cancel-Out Match
Terhadap transaksi MPN Reversal, Tidak Diakui dan Belum Kirim yang sudah
tercatat pada SAU (Match dengan Data LAK) dilakukan perubahan pada Data MPN,
yaitu dengan mengubah status MPN Reversal, Tidak Diakui dan Belum Kirim
tersebut menjadi Diakui. Selanjutnya Direktorat Teknologi Informasi Perpajakan
mencatatnya pada SAI DJP dan mendistribusikan ke SIDJP/SIPMOD.
e. Data Reversal, Tidak Diakui, dan Data Diakui / Audit / Belum Kirim yang
dibatalkan berdasarkan hasil konfirmasi Direktorat Jenderal Perbendaharaan cq.
Direktorat Pengelolaan Kas Negara ke Bank/Pos Persepsi, selanjutnya dikirim ke
KPP untuk dilakukan penelitian. Terhadap hasil penelitian KPP tersebut, apabila data
tersebut sudah digunakan untuk pemenuhan kewajiban perpajakan Wajib Pajak,
maka KPP menindaklanjutinya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
3. Data MPN-LAK yang siap diturunkan disandingkan terlebih dahulu dengan data
perekaman SSP pembayaran tunggakan pajak di KPP dengan ketentuan sebagai berikut :

a. Apabila dari hasil penyandingan terdapat data transaksi MPN-LAK yang sama
dengan data perekaman SSP pembayaran tunggakan pajak di KPP maka data
transaksi MPN-LAK tidak ikut didistribusikan ke SIDJP/SIPMOD, sehingga data
perekaman SSP pembayaran tunggakan pajak di KPP digunakan sebagai data
pembayaran pajak untuk pengawasan kepatuhan pembayaran pajak Wajib Pajak.

b. Apabila hasil penyandingan terdapat data transaksi MPN-LAK yang tidak sama
dengan data perekaman SSP pembayaran tunggakan pajak di KPP maka data
transaksi MPN-LAK didistribusikan ke SIDJP/SIPMOD.

c. Terdapat data perekaman SSP pembayaran tunggakan pajak di KPP yang tidak
atau belum terdapat pada data MPN-LAK, KPP agar melaksanakan monitoring
melalui aplikasi SIDJP dan melaksanakan konfirmasi ke Direktorat Teknologi
Informasi Perpajakan atau Wajib Pajak.

4. Dalam hal terdapat perbedaan/perubahan Data MPN-LAK periode terakhir dengan Data
MPN-LAK periode sebelumnya yang transaksinya mempunyai elemen data kode P-7
dan P-11 yang sama, ditindaklanjuti dengan ketentuan sebagai berikut :

a. Data MPN-LAK periode terakhir didistribusikan ke SIDJP/SIPMOD dengan


tidak menghapus data MPN-LAK yang didistribusikan sebelumnya.

b. Direktorat Teknologi Informasi Perpajakan memberikan informasi ke KPP atas


adanya distribusi perbedaan/perubahan data MPN-LAK sebagaimana tersebut di
atas, dan KPP menindaklanjuti sesuai aturan yang berlaku.

5. Tata cara distribusi Data MPN-LAK ke SIDJP/SIPMOD untuk Data MPN-LAK periode
sampai dengan semester I tahun 2011 ditetapkan sebagaimana Lampiran I Surat Edaran
Direktur Jenderal Pajak ini.
6. Tata cara distribusi Data MPN-LAK ke SIDJP/SIPMOD untuk Data MPN-LAK setelah
periode semester I tahun 2011, ditetapkan sebagaimana Lampiran II Surat Edaran
Direktur Jenderal Pajak ini.
7. Tata cara pembuatan tabelaris oleh KPP yang menggunakan SIPMOD ditetapkan
sebagaimana Lampiran III Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini.
IV. Waktu Pelaksanaan Distribusi Data MPN ke SIDJP/SIPMOD

1. Untuk Data MPN-LAK tahun 2010 dan sebelumnya, pelaksanaan distribusi ke


SIDJP/SIPMOD dilakukan paling lambat 1 (satu) minggu sejak berlakunya Surat
Edaran Direktur Jenderal Pajak ini.

2. Untuk Data MPN-LAK dari bulan Januari sampai dengan bulan Juni 2011 (semester
I 2011) didistribusikan paling lambat 1 (satu) bulan sejak berlakunya Surat Edaran
Direktur Jenderal Pajak ini.
3. Untuk Data MPN-LAK mulai bulan Juli 2011 dan seterusnya, didistribusikan ke
SIDJP/SIPMOD paling lambat 1 (satu) minggu sejak data LAK diterima dari
Direktorat Jenderal Perbendaharaan.

V. Tindak Lanjut Distribusi Data MPN


1. Dalam hal terdapat permohonan pemindahbukuan dari Wajib Pajak atau ditemukan
data pembayaran pajak yang dilaporkan oleh Wajib Pajak berbeda dengan data MPN-
LAK yang telah didistribusikan ke SIDJP/SIPMOD, KPP dapat menindaklanjuti
dengan :

a. Tata Cara Penyelesaian Pemindahbukuan (Pbk) dalam hal perbaikan data MPN-
LAK tersebut memenuhi kriteria untuk dilakukan pemidahbukuan.

b. Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor : SE-79/PJ/2009 tanggal 29


Agustus 2009 perihal Kebijakan Perubahan Data Pada
SIDJP/SIPMOD/SISMIOP, dalam hal perbaikan data MPN-LAK dilakukan
secara jabatan.

2. Direktorat Teknologi Informasi Perpajakan melaksanakan monitoring distribusi data


penerimaan ke Sistem Informasi Direktorat Jenderal Pajak pada tahapan :

a. distribusi Data MPN-LAK dari Sistem MPN ke SIDP;

b. distribusi Data MPN-LAK dari Sistem MPN ke SIPMOD.

3. Data MPN-LAK yang didistribusikan ke SIDJP/SIPMOD selanjutnya digunakan


untuk memantau pemenuhan kewajiban Wajib pajak, sedangkan untuk laporan
penerimaan digunakan data penerimaan dari portal DJP menu aplikasi MPN.
VI. Lain-lain
1. Dalam hal terjadi Wajib Pajak pindah KPP maka pembayaran pajak tetap
diadministrasikan sesuai dengan NPWP saat dilakukannya pembayaran.
2. Pada saat Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini berlaku, ketentuan dalam Surat
Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor :

a. Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-3/PJ/2010 tanggal 11 Januari


2010 tentang Tata Cara Distribusi Data Modul Penerimaan Negara (MPN) ke
Sistem Informasi Direktorat Jenderal Pajak (SIDJP/SIPMOD);

b. Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-27/PJ/2010 tanggal 29


Nopember 2010 tentang Perubahan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor
SE-3/PJ/2010 tentang Tata Cara Distribusi Data Modul Penerimaan Negara
(MPN) ke Sistem Informasi Direktorat Jenderal Pajak (SIDJP/SIPMOD).

dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.


Demikian untuk menjadi perhatian dan dilaksanakan sebaik-baiknya.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 16 November 2011
Direktur Jenderal,

ttd.

A. Fuad Rahmany
NIP 195104281975121002

Tembusan :

1. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak

2. Para Direktur dan Tenaga Pengkaji di Lingkungan DJP

3. Kepala PPDDP

SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK


NOMOR : SE - 85/PJ/2011

TENTANG

KEBIJAKAN PEMERIKSAAN
UNTUK MENGUJI KEPATUHAN PEMENUHAN KEWAJIBAN PERPAJAKAN

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Kebijakan pemeriksaan yang ditetapkan dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini adalah
kebijakan pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 29 ayat (1) Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan
(UU KUP) dengan mengacu pada:

1. Peraturan Menteri Keuangan nomor 199/PMK.03/2007 tentang Tata Cara Pemeriksaan


Pajak sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor
82/PMK.03/2011; dan

2. Peraturan Direktur Jenderal Pajak nomor PER-34/PJ/2011 tentang Petunjuk Pelaksanaan


Pemeriksaan untuk Menguji Kepatuhan Pemenuhan Kewajiban Perpajakan.
Adapun kebijakan pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan
selengkapnya adalah sebagai berikut:

I. KEBIJAKAN UMUM
A. RUANG LINGKUP PEMERIKSAAN

1. Ruang lingkup pemeriksaan merupakan cakupan dari jenis pajak dan periode
pencatatan atau pembukuan yang menjadi objek untuk dilakukan pemeriksaan.

2. Ruang lingkup pemeriksaan dapat meliputi satu, beberapa, atau seluruh jenis pajak,
baik untuk satu atau beberapa Masa Pajak, Bagian Tahun Pajak atau Tahun Pajak
dalam tahun-tahun lalu maupun tahun berjalan.

B. JENIS PEMERIKSAAN
Pemeriksaan dapat dilakukan melalui 2 (dua) jenis pemeriksaan, yaitu:

1. Pemeriksaan Lapangan, yaitu pemeriksaan yang dilakukan di tempat kedudukan,


tempat kegiatan usaha atau pekerjaan bebas, tempat tinggal Wajib Pajak, atau tempat
lain yang ditentukan oleh Direktur Jenderal Pajak; atau

2. Pemeriksaan Kantor, yaitu pemeriksaan yang dilakukan di kantor Direktorat Jenderal


Pajak.

C. KRITERIA PEMERIKSAAN
Terdapat 2 (dua) kriteria yang merupakan alasan atau dasar dilakukannya pemeriksaan, yaitu:

1. Pemeriksaan Rutin, merupakan pemeriksaan yang dilakukan sehubungan dengan


pemenuhan hak dan/atau pelaksanaan kewajiban perpajakan Wajib Pajak atau karena
diwajibkan oleh Undang-Undang KUP; dan

2. Pemeriksaan Khusus atau pemeriksaan berdasarkan analisis risiko (risk based


audit), merupakan pemeriksaan yang dilakukan terhadap Wajib Pajak yang
berdasarkan hasil analisis risiko secara manual atau secara komputerisasi
menunjukkan adanya indikasi ketidakpatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan.

D. JANGKA WAKTU PEMERIKSAAN

1. Pemeriksaan Lapangan dilakukan dalam jangka waktu paling lama 4 (empat) bulan
yang dihitung sejak tanggal Surat Pemberitahuan Pemeriksaan Lapangan
disampaikan kepada Wajib Pajak, wakil, kuasa, pegawai, atau anggota keluarga yang
telah dewasa dari Wajib Pajak, sampai dengan tanggal Laporan Hasil Pemeriksaan
(LHP).

2. Pemeriksaan Kantor dilakukan dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan yang
dihitung sejak tanggal Wajib Pajak, wakil, kuasa, pegawai, atau anggota keluarga
yang telah dewasa dari Wajib Pajak, datang memenuhi Surat Panggilan Dalam
Rangka Pemeriksaan Kantor sampai dengan tanggal LHP.

3. Dalam hal Pemeriksaan Lapangan atau Pemeriksaan Kantor dilakukan


berdasarkan permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 17B Undang-Undang KUP, jangka waktu pemeriksaan
sebagaimana dimaksud pada angka 1 atau angka 2 harus memperhatikan jangka
waktu penyelesaian permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak.

E. PERPANJANGAN JANGKA WAKTU PEMERIKSAAN


1. Dengan alasan tertentu, jangka waktu Pemeriksaan Lapangan sebagaimana dimaksud
pada huruf D angka 1 dapat diperpanjang untuk jangka waktu paling lama 4 (empat)
bulan dan jangka waktu Pemeriksaan Kantor sebagaimana dimaksud pada huruf D angka
2 dapat diperpanjang untuk paling lama 3 (tiga) bulan.
2. Alasan tertentu sebagaimana dimaksud pada angka 1, yaitu:

a. pemeriksaan diperluas ke Masa Pajak, Bagian Tahun Pajak atau Tahun Pajak
lainnya;

b. ruang lingkup pemeriksaan meliputi seluruh jenis pajak;

c. terdapat konfirmasi atau permintaan data dan/atau keterangan kepada pihak


ketiga;

d. terdapat indikasi transaksi transfer pricing dan/atau transaksi khusus lain


yang berindikasi adanya rekayasa transaksi keuangan yang memerlukan
pengujian yang lebih mendalam (Pemeriksaan Lapangan);

e. terdapat permintaan pemeriksaan dari Unit Pelaksana Pemeriksaan (UP2)


Domisili kepada UP2 Lokasi; atau

f. berdasarkan pertimbangan tertentu dari Kepala UP2.

3. Perpanjangan jangka waktu pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada angka 1


hanya dilakukan 1 (satu) kali sehingga jangka waktu Pemeriksaan Lapangan menjadi
paling lama 8 (delapan) bulan dan jangka waktu Pemeriksaan Kantor menjadi paling
lama 6 (enam) bulan.
4. Jika dalam Pemeriksaan Kantor ditemukan indikasi transaksi yang terkait dengan
transaksi transfer pricing dan/atau transaksi khusus lain yang berindikasi adanya
rekayasa transaksi keuangan yang memerlukan pengujian yang lebih mendalam maka
Pemeriksaan Kantor diubah menjadi Pemeriksaan Lapangan.
5. Apabila dalam Pemeriksaan Lapangan ditemukan indikasi transaksi yang terkait
dengan transaksi transfer pricing dan/atau transaksi khusus lain yang berindikasi adanya
rekayasa transaksi keuangan yang memerlukan pengujian yang lebih mendalam
sebagaimana dimaksud pada angka 2 huruf d, perpanjangan jangka waktu Pemeriksaan
Lapangan dapat dilakukan paling banyak 5 (lima) kali sesuai dengan kebutuhan waktu
untuk melakukan pengujian sehingga jangka waktu pemeriksaan menjadi paling lama 24
(dua puluh empat) bulan.
6. Perpanjangan jangka waktu pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada angka 2 huruf e
hanya dapat dilakukan oleh UP2 Domisili.
7. Dalam hal Pemeriksaan Lapangan maupun Pemeriksaan Kantor dilakukan
berdasarkan permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 17B Undang-Undang KUP, perpanjangan jangka waktu
pemeriksaan harus tetap memperhatikan jangka waktu penyelesaian permohonan
pengembalian kelebihan pembayaran pajak.
8. Prosedur perpanjangan jangka waktu pemeriksaan ditetapkan sebagai berikut:
a. Pemeriksa Pajak harus mengajukan permohonan perpanjangan jangka
waktu pemeriksaan kepada Kepala UP2 dengan menggunakan formulir
sebagaimana ditetapkan pada Lampiran 1;
b. permohonan perpanjangan jangka waktu pemeriksaan sebagaimana dimaksud
pada huruf a harus disampaikan sebelum jangka waktu pemeriksaan
sebagaimana dimaksud pada huruf D angka 1 atau angka 2 berakhir;
c. persetujuan atau penolakan perpanjangan jangka waktu pemeriksaan
harus disampaikan oleh Kepala UP2 kepada Pemeriksa Pajak sebelum jangka
waktu pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada huruf D angka 1 atau angka 2
berakhir dengan menggunakan formulir sebagaimana ditetapkan pada Lampiran 2
atau Lampiran 3;
d. terhadap permohonan perpanjangan jangka waktu pemeriksaan yang
disampaikan setelah jangka waktu pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada huruf D
angka 1 atau angka 2 berakhir, Kepala UP2 harus menolak permohonan
perpanjangan jangka waktu pemeriksaan tersebut;
e. dalam hal permohonan perpanjangan jangka waktu pemeriksaan disetujui,
Pemeriksa Pajak harus menyampaikan pemberitahuan perpanjangan tersebut kepada
Wajib Pajak dengan menggunakan formulir sebagaimana ditetapkan dalam
Peraturan Direktur Jenderal Pajak tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan untuk
Menguji Kepatuhan Pemenuhan Kewajiban Perpajakan;
f. pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada huruf e disampaikan sebelum
jangka waktu pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada huruf D angka 1 atau angka
2 berakhir; dan
g. dalam hal perpanjangan jangka waktu pemeriksaan dilakukan karena adanya
indikasi transfer pricing dan/atau transaksi khusus lain yang berindikasi adanya
rekayasa transaksi keuangan, perpanjangan jangka waktu pemeriksaan dilakukan
dengan ketentuan sebagai berikut:
1) prosedur perpanjangan jangka waktu pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada
huruf a sampai dengan huruf f harus dilakukan setiap kali akan dilakukan
perpanjangan jangka waktu pemeriksaan; dan
2) dilakukan sebelum berakhirnya jangka waktu perpanjangan yang telah disetujui
sebelumnya.
F. PERLUASAN PEMERIKSAAN
1. Pemeriksaan diperluas ke tahun-tahun pajak atau masa-masa pajak yang belum
dilakukan pemeriksaan, dalam hal:
a. Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan (SPT Tahunan PPh)
untuk tahun-tahun pajak sebelumnya menyatakan rugi tidak lebih bayar (SPT
Tahunan PPh Rugi Tidak Lebih Bayar); atau

b. Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai (SPT Masa PPN)


untuk masa-masa pajak sebelumnya menyatakan lebih bayar yang
dikompensasikan (SPT Masa PPN Lebih Bayar Kompensasi).

2. Perluasan pemeriksaan yang disebabkan karena alasan sebagaimana dimaksud pada


angka 1 huruf a dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut:
a. dalam hal Kepala UP2 akan mengusulkan Pemeriksaan Rutin untuk seluruh jenis
pajak (all taxes) atas suatu Tahun Pajak maka:
1) sebelum usulan tersebut dilakukan, Kepala Seksi Pemeriksaan harus melakukan
penelitian terhadap SPT Tahunan PPh tahun-tahun pajak sebelumnya;
2) dalam hal berdasarkan hasil penelitian sebagaimana dimaksud pada angka 1)
terdapat SPT Tahunan PPh Rugi Tidak Lebih Bayar untuk tahun-tahun
pajak sebelumnya, terhadap SPT Tahunan PPh Rugi Tidak Lebih Bayar
tersebut harus diusulkan untuk dilakukan pemeriksaan sepanjang
mempunyai pengaruh kompensasi; dan
3) pengusulan sebagaimana dimaksud pada angka 2) harus dilakukan bersamaan
dengan pengusulan Pemeriksaan Rutin all taxes dimaksud;
b. dalam hal Kepala UP2 menerima persetujuan/instruksi Pemeriksaan Khusus
dari Kepala Kanwil DJP atau instruksi Pemeriksaan Khusus dari Direktur
Pemeriksaan dan Penagihan maka:
1) segera setelah menerima persetujuan atau instruksi tersebut, Kepala
Seksi Pemeriksaan harus melakukan penelitian terhadap SPT Tahunan
PPh tahun-tahun pajak sebelumnya;
2) dalam hal berdasarkan penelitian sebagaimana dimaksud pada angka 1) terdapat
SPT Tahunan PPh Rugi Tidak Lebih Bayar untuk tahun-tahun pajak sebelumnya,
terhadap SPT Tahunan PPh Rugi Tidak Lebih Bayar tersebut harus diusulkan
untuk dilakukan pemeriksaan sepanjang mempunyai pengaruh kompensasi; dan
3) pengusulan sebagaimana dimaksud pada angka 2) dilakukan sebelum
Surat Perintah Pemeriksaan (SP2) Pemeriksaan Khusus diterbitkan.
c. pengusulan pemeriksaan terhadap SPT Tahunan PPh yang menyatakan Rugi Tidak
Lebih Bayar sebagaimana dimaksud pada huruf a angka 2) dan huruf b angka
2) dilakukan dengan prosedur Pemeriksaan Rutin dengan kode pemeriksaan
SPT Tahunan Rugi Tidak Lebih Bayar.
3. Perluasan pemeriksaan yang disebabkan karena alasan sebagaimana dimaksud pada
angka 1 huruf b dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut:
a. dalam hal Kepala UP2 akan mengusulkan Pemeriksaan Rutin atas suatu SPT
Masa PPN maka:
1) sebelum usulan tersebut dilakukan, Kepala Seksi Pemeriksaan harus melakukan
penelitian terhadap SPT Masa PPN masa-masa pajak sebelumnya;
2) dalam hal berdasarkan hasil penelitian sebagaimana dimaksud pada angka
1) terdapat SPT Masa PPN Lebih Bayar Kompensasi untuk masa-masa
pajak sebelumnya, terhadap SPT Masa PPN Lebih Bayar Kompensasi tersebut
harus diusulkan untuk dilakukan pemeriksaan; dan
3) pengusulan pemeriksaan sebagai dimaksud pada angka 2) dilakukan bersamaan
dengan usulan Pemeriksaan Rutin.
b. dalam hal Kepala UP2 menerima persetujuan/instruksi Pemeriksaan Khusus
dari Kepala Kanwil DJP atau instruksi Pemeriksaan Khusus dari Direktur
Pemeriksaan dan Penagihan maka:
1) segera setelah menerima persetujuan atau instruksi tersebut, Kepala
Seksi Pemeriksaan harus melakukan penelitian terhadap SPT Masa PPN masa-
masa pajak sebelumnya;
2) dalam hal berdasarkan penelitian sebagaimana dimaksud pada angka 1) terdapat
SPT Masa PPN Lebih Bayar Kompensasi untuk masa-masa pajak sebelumnya,
terhadap SPT Masa PPN Lebih Bayar Kompensasi tersebut harus diusulkan
untuk dilakukan pemeriksaan sepanjang mempunyai pengaruh kompensasi; dan
3) pengusulan sebagaimana dimaksud pada angka 2) dilakukan sebelum
SP2 Pemeriksaan Khusus diterbitkan.
c. pengusulan pemeriksaan terhadap SPT Masa PPN Lebih Bayar
Kompensasi sebagaimana dimaksud pada huruf a angka 2) dan huruf b angka 2)
dilakukan dengan prosedur Pemeriksaan Rutin dengan kode pemeriksaan SPT Masa
PPN Lebih Bayar.
G. PENYELESAIAN PEMERIKSAAN
1. Pemeriksaan diselesaikan dengan cara:

a. menghentikan Pemeriksaan Kantor atau Pemeriksaan Lapangan dengan


membuat LHP Sumir;

b. membuat LHP, sebagai dasar penerbitan surat ketetapan pajak sesuai


dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan; atau

c. mengusulkan Pemeriksaan Bukti Permulaan sesuai dengan ketentuan


peraturan perundang-undangan perpajakan.

2. Penghentian dengan membuat LHP Sumir sebagaimana dimaksud pada angka 1 huruf
a dilakukan dalam hal:
a. Wajib Pajak tidak ditemukan dan pemeriksaan bukan merupakan
pemeriksaan permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 17B Undang-Undang KUP, penghentian pemeriksaannya
dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut:
1) LHP Sumir Pemeriksaan Lapangan, dengan ketentuan:
a) yang dimaksud dengan Wajib Pajak tidak ditemukan adalah apabila Wajib
Pajak atau wakil/kuasa/pegawai/anggota keluarga yang telah dewasa dari
Wajib Pajak yang diperiksa tidak ditemukan dalam jangka waktu
pemeriksaan;
b) Wajib Pajak tidak ditemukan sebagaimana dimaksud pada huruf a) sekurang-
kurangnya dibuktikan dengan surat keterangan dari pejabat kelurahan/RT/RW
setempat atau dari pengelola tempat tinggal/tempat kedudukan/tempat
kegiatan usaha Wajib Pajak;
c) LHP Sumir dapat mulai dibuat setelah jangka waktu 1 (satu) bulan sejak tim
Pemeriksa Pajak harus menyampaikan Surat Pemberitahuan Pemeriksaan
Lapangan; dan
d) LHP Sumir harus dilampiri dengan surat keterangan sebagaimana dimaksud
pada huruf b);
2) LHP Sumir Pemeriksaan Kantor, dengan ketentuan:
a) yang dimaksud dengan Wajib Pajak tidak ditemukan adalah apabila dalam
jangka waktu 1 (satu) bulan sejak surat panggilan dalam rangka Pemeriksaan
Kantor dikirimkan, surat panggilan tersebut dikembalikan oleh pihak pos atau
jasa pengiriman lainnya;
b) LHP Sumir dibuat paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sejak berakhirnya jangka
waktu 1 (satu) bulan sebagaimana dimaksud pada huruf a); dan
c) LHP Sumir harus dilampiri dengan bukti pengembalian surat
panggilan dalam rangka Pemeriksaan Kantor oleh pihak pos atau
jasa pengiriman lainnya;
3) fotokopi LHP Sumir sebagaimana dimaksud pada angka 1) atau angka 2) harus
dikirimkan kepada Seksi Pengawasan dan Konsultasi terkait untuk ditindaklanjuti
sesuai dengan ketentuan yang berlaku;
4) pemeriksaan terhadap Wajib Pajak yang tidak ditemukan dan diselesaikan dengan
membuat LHP Sumir dapat dilakukan kembali apabila dikemudian hari Wajib
Pajak ditemukan dengan melalui prosedur Pemeriksaan Rutin atau Pemeriksaan
Khusus dan atas pemeriksaan dimaksud bukan merupakan Pemeriksaan Ulang;
b. pemeriksaan yang dilakukan terhadap Surat Pemberitahuan (SPT) yang
bukan merupakan permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17B Undang-Undang KUP, disetujui oleh
pejabat yang berwenang untuk dilakukan Pemeriksaan Bukti Permulaan dengan
ketentuan sebagai berikut:
1) LHP Sumir dibuat paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sejak
diterimanya persetujuan Pemeriksaan Bukti Permulaan; dan
2) penghentian pemeriksaan tersebut harus diberitahukan kepada Wajib Pajak paling
lambat bersamaan dengan Surat Pemberitahuan Pemeriksaan Bukti Permulaan;
c. pemeriksaan atas permohonan pengembalian kelebihan pembayaran
pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17B Undang-Undang KUP dtangguhkan
karena:
1) Wajib Pajak dilakukan Pemeriksaan Bukti Permulaan dan tidak
dilanjutkan dengan penyidikan tetapi diselesaikan dengan menerbitkan surat
ketetapan pajak, dengan ketentuan sebagai berikut:
a) yang dimaksud dengan surat ketetapan pajak disini adalah surat ketetapan
pajak yang diterbitkan berdasarkan hasil Pemeriksaan Bukti Permulaan;
b) berdasarkan nota penghitungan dari hasil Pemeriksaan Bukti Permulaan,
Kepala UP2 menginstruksikan kepada Kepala Seksi Pelayanan untuk
menerbitkan surat ketetapan pajak dan kepada Pemeriksa Pajak untuk
membuat LHP Sumir;
c) LHP Sumir harus dibuat paling lambat 7 (tujuh) hari kerja
sejak diterbitkannya surat ketetapan pajak; dan
d) penghentian pemeriksaan tersebut harus diberitahukan kepada Wajib Pajak
paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sejak tanggal LHP Sumir;
2) Wajib Pajak dilakukan Pemeriksaan Bukti Permulaan dan tidak
dilanjutkan dengan penyidikan karena Wajib Pajak mengungkapkan
ketidakbenaran perbuatannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (3)
Undang-Undang KUP, dengan ketentuan sebagai berikut:
a) berdasarkan laporan sumir Pemeriksaan Bukti Permulaan, Kepala UP2
menginstruksikan kepada Pemeriksa Pajak untuk membuat LHP Sumir;
b) LHP Sumir harus dibuat paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sejak diterimanya
laporan sumir Pemeriksaan Bukti Permulaan; dan
c) penghentian pemeriksaan tersebut harus diberitahukan kepada Wajib Pajak
paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sejak tanggal LHP Sumir;
3) Wajib Pajak dilakukan Pemeriksaan Bukti Permulaan dan dilanjutkan dengan
penyidikan tetapi penyidikannya dihentikan karena tidak dilakukan
penuntutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44B Undang-Undang KUP,
dengan ketentuan sebagai berikut:
a) berdasarkan keputusan penghentian penyidikan, Kepala
UP2 menginstruksikan kepada Pemeriksa Pajak untuk membuat LHP Sumir;
b) LHP Sumir harus dibuat paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sejak diterimanya
keputusan penghentian penyidikan; dan
c) penghentian pemeriksaan tersebut harus diberitahukan kepada Wajib Pajak
paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sejak tanggal LHP Sumir;
4) Wajib Pajak dilakukan Pemeriksaan Bukti Permulaan dan dilanjutkan
dengan penyidikan dan penuntutan serta telah terdapat putusan
pengadilan berkekuatan hukum tetap yang menyatakan bahwa Wajib Pajak
telah melakukan tindak pidana di bidang perpajakan, dengan ketentuan
sebagai berikut:
a) berdasarkan salinan putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap,
Kepala UP2 menginstruksikan kepada Pemeriksa Pajak untuk membuat LHP
Sumir;
b) LHP Sumir harus dibuat paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sejak diterimanya
salinan putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap; dan
c) penghentian pemeriksaan tersebut harus diberitahukan kepada Wajib Pajak
paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sejak tanggal LHP Sumir.
3. Penyelesaian pemeriksaan dengan membuat LHP sebagaimana dimaksud pada angka 1
huruf b dilakukan dalam hal:
a. Wajib Pajak tidak ditemukan dan pemeriksaan merupakan pemeriksaan
atas permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 17B Undang-Undang KUP, dengan ketentuan sebagai berikut:
1) Pemeriksaan Lapangan
a) yang dimaksud dengan Wajib Pajak tidak ditemukan adalah apabila Wajib
Pajak atau wakil /kuasa/pegawai/anggota keluarga yang telah dewasa dari
Wajib Pajak yang diperiksa tidak ditemukan dalam jangka waktu
pemeriksaan;
b) Wajib Pajak tidak ditemukan sebagaimana dimaksud pada huruf a) sekurang-
kurangnya dibuktikan dengan surat keterangan dari pejabat
kelurahan/RT/RW setempat atau dari pengelola tempat tinggal/tempat
kedudukan/tempat kegiatan usaha Wajib Pajak;
c) meskipun Wajib Pajak tidak ditemukan sebagaimana dimaksud pada huruf a),
pemeriksaan harus diselesaikan dengan membuat LHP sebagai dasar
penerbitan surat ketetapan pajak, dengan terlebih dahulu melakukan prosedur
SPHP dan Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan;
2) Pemeriksaan Kantor
a) yang dimaksud dengan Wajib Pajak tidak ditemukan adalah apabila surat
panggilan dalam rangka pemeriksaan pajak dikembalikan oleh pihak pos atau
jasa pengiriman lainnya dalam jangka waktu pemeriksaan; dan
b) meskipun Wajib Pajak tidak ditemukan sebagaimana dimaksud pada huruf a),
pemeriksaan harus diselesaikan dengan membuat LHP sebagai dasar
penerbitan surat ketetapan pajak, dengan terlebih dahulu melakukan prosedur
SPHP dan Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan;
b. Wajib Pajak ditemukan dan Pemeriksaan dapat diselesaikan dalam jangka
waktu pemeriksaan;
c. Permohonan perpanjangan jangka waktu pemeriksaan ditolak oleh Kepala UP2;
d. Wajib Pajak ditemukan dan pemeriksaan belum dapat diselesaikan sampai
dengan berakhirnya perpanjangan jangka waktu pemeriksaan, dengan ketentuan:
1) pemeriksaan harus diselesaikan dengan membuat LHP sebagai dasar penerbitan
surat ketetapan pajak, dengan terlebih dahulu melakukan prosedur SPHP dan
Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan;
2) SPHP harus diselesaikan dan disampaikan kepada Wajib Pajak dalam
jangka waktu paling lama 7 (tujuh) hari sejak berakhirnya perpanjangan
jangka waktu pemeriksaan; dan
3) apabila Pemeriksa Pajak telah menyampaikan SPHP dalam jangka waktu kurang
dari 1 (satu) bulan sebelum berakhirnya perpanjangan jangka
waktu pemeriksaan, Pemeriksa Pajak harus melanjutkan tahapan
pemeriksaan sampai dengan pembuatan LHP;
e. Wajib Pajak diusulkan Pemeriksaan Bukti Permulaan namun usulan Pemeriksaan
Bukti Permulaan ditolak oleh pejabat yang berwenang.
H. PEMBATALAN PEMERIKSAAN
Pembatalan pemeriksaan meliputi pembatalan penugasan pemeriksaan dan pembatalan
hasil pemeriksaan.
1. Pembatalan Penugasan Pemeriksaan
a. Pembatalan penugasan pemeriksaan dilakukan dengan alasan sebagai berikut:
1) terdapat kesalahan administrasi yang bersifat manusiawi (human error) seperti
kesalahan Tahun Pajak, Identitas Wajib Pajak, kesalahan kriteria/alasan
pemeriksaan, sepanjang SPHP belum disampaikan kepada Wajib Pajak;
2) pemeriksaan belum dimulai dan Wajib Pajak melakukan pembetulan SPT;
3) pemeriksaan yang dilakukan terhadap permohonan pengembalian
kelebihan pembayaran pajak sebagaimana dimaksud pasal 17B Undang-Undang
KUP, yang:
a) Lembar Penugasan Pemeriksaan (LP2) atau Surat Perintah Pemeriksaan
(SP2) diterbitkan setelah jangka waktu pengembalian kelebihan pembayaran
pajak; atau
b) pemeriksaannya belum dapat diselesaikan sampai dengan berakhirnya jangka
waktu pengembalian kelebihan pembayaran pajak;
4) berdasarkan pertimbangan Direktur Jenderal Pajak.
b. Pembatalan penugasan pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada huruf a angka
1), angka 2), dan, angka 3), dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut:
1) terhadap instruksi/persetujuan/penugasan pemeriksaan yang diterbitkan oleh:
a) Direktur Jenderal Pajak atau Direktur Pemeriksaan dan
Penagihan, pembatalan penugasan pemeriksaannya dilakukan oleh
Direktur Pemeriksaan dan Penagihan;
b) Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak (Kanwil DJP), pembatalan
penugasan pemeriksaannya dilakukan oleh Kepala Kanwil DJP;
2) usul pembatalan penugasan pemeriksaan oleh Kepala UP2 kepada
Direktur Pemeriksaan dan Penagihan atau Kepala Kanwil DJP dilakukan
dengan menggunakan formulir sebagaimana ditetapkan pada Lampiran 4;
3) persetujuan atau penolakan pembatalan penugasan pemeriksaan atas
usulan sebagaimana dimaksud pada angka 2) disampaikan oleh
Direktur Pemeriksaan dan Penagihan atau Kepala Kanwil DJP kepada Kepala
UP2 dengan menggunakan formulir sebagaimana ditetapkan pada Lampiran 5
atau Lampiran 6; dan
4) Terhadap penugasan pemeriksaan yang dibatalkan, tidak dibuat LHP Sumir.
c. Pembatalan penugasan pemeriksaan berdasarkan pertimbangan Direktur Jenderal
Pajak sebagaimana dimaksud pada huruf a angka 4) merupakan kewenangan
Direktur Jenderal Pajak yang dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut:
1) pembatalan dapat dilakukan sepanjang surat ketetapan pajak hasil pemeriksaan
belum diterbitkan;
2) pembatalan dilakukan dengan menerbitkan surat Direktur Jenderal
Pajak mengenai pembatalan penugasan pemeriksaan;
3) pembatalan dilakukan dengan prosedur sebagai berikut:
a) Direktur Jenderal Pajak memberikan perintah kepada Direktur Pemeriksaan
dan Penagihan untuk membatalkan penugasan pemeriksaan;
b) Direktur Pemeriksaan dan Penagihan membuat konsep surat
Direktur Jenderal Pajak tentang Pembatalan Penugasan Pemeriksaan
dengan menggunakan formulir sebagaimana ditetapkan pada Lampiran 7;
c) Direktur Jenderal Pajak menandatangani Surat Direktur Jenderal Pajak
tentang Pembatalan Penugasan Pemeriksaan dan disampaikan kepada Kepala
UP2;
d) terhadap penugasan pemeriksaan yang dibatalkan, tidak dibuat LHP sumir
d. Dalam hal pemeriksaan yang dibatalkan sebagaimana dimaksud pada huruf b
dan huruf c terdapat permintaan Pemeriksaan Lokasi, berlaku ketentuan sebagai
berikut:
1) berdasarkan Surat Pembatalan Penugasan Pemeriksaan, Kepala UP2
Domisili mengirimkan Surat Pemberitahuan Pembatalan Penugasan
Pemeriksaan kepada Kepala UP2 Lokasi dengan menggunakan formulir
sebagaimana ditetapkan pada Lampiran 8;
2) berdasarkan Surat Pemberitahuan Pembatalan Pemeriksaan dari UP2
Domisili, Kepala UP2 Lokasi menyampaikan surat pembatalan penugasan
pemeriksaan kepada Kepala Kanwil DJP atasannya sepanjang UP2 Lokasi
belum menyampaikan SPHP terkait dengan pembatalan pemeriksaan pada huruf
a angka 1) atau angka 3) huruf b), atau belum menerbitkan surat ketetapan pajak
terkait dengan pembatalan pemeriksaan pada huruf a angka 4),
dengan menggunakan formulir sebagaimana ditetapkan pada Lampiran 9;
3) surat pembatalan penugasan pemeriksaan dari UP2 Lokasi
sebagaimana dimaksud pada angka 2), digunakan oleh Kepala Kanwil DJP
atasan UP2 Lokasi untuk melakukan pembatalan LP2.
e. Dalam hal dilakukan pembatalan penugasan pemeriksaan dan Surat
Pemberitahuan Pemeriksaan Lapangan atau Surat Panggilan Dalam Rangka
Pemeriksaan Kantor telah disampaikan kepada Wajib Pajak, Kepala UP2
memberitahukan pembatalan penugasan pemeriksaan tersebut kepada Wajib Pajak
dengan menggunakan formulir sebagaimana ditetapkan pada Lampiran 10.
2. Pembatalan Hasil Pemeriksaan
a. Pembatalan hasil pemeriksaan atau pembatalan surat ketetapan pajak dari
hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 ayat (1) huruf d Undang-
Undang KUP dilakukan karena:
1) pemeriksaan yang dilaksanakan tanpa penyampaian SPHP;atau
2) pemeriksaan yang dilaksanakan tanpa ada pemberian hak hadir kepada
Wajib Pajak untuk melakukan Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan.
b. Pembatalan hasil pemeriksaan dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut:
1) pembatalan dilakukan terhadap LHP dan/atau Nota Penghitungan;
2) pembatalan dilakukan sebelum surat ketetapan pajak diterbitkan; dan
3) pembatalan dilakukan oleh Direktur Jenderal Pajak atau sesuai dengan
pelimpahan wewenang atas ketentuan Pasal 36 Undang-Undang KUP
yang dilakukan berdasarkan usul dari Kepala UP2.
c. Pembatalan surat ketetapan pajak dari hasil pemeriksaan dilakukan dengan
ketentuan sebagai berikut:
1) pembatalan dilakukan terhadap LHP, Nota Penghitungan, dan surat
ketetapan pajak;
2) pembatalan dilakukan setelah surat ketetapan pajak diterbitkan; dan
3) pembatalan surat ketetapan pajak dari hasil pemeriksaan dilakukan oleh Direktur
Jenderal Pajak atau sesuai dengan pelimpahan wewenang atas ketentuan Pasal 36
Undang-Undang KUP yang dilakukan berdasarkan usul dari Kepala UP2.
d. Terhadap pemeriksaan yang hasil pemeriksaannya atau surat ketetapan
pajaknya dibatalkan sebagaimana dimaksud pada huruf a, pemeriksaannya harus
dilanjutkan dengan menyampaikan SPHP dan/atau memberikan hak hadir kepada
Wajib Pajak untuk melakukan Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan sesuai dengan
ketentuan yang berlaku.
I. PENGALIHAN PEMERIKSAAN
1. Pengalihan pemeriksaan dilakukan karena Wajib Pajak pindah tempat terdaftar (domisili)
dari satu Kantor Pelayanan Pajak (KPP) ke KPP lain sepanjang:

a. instruksi/persetujuan/penugasan/LP2 pemeriksaan telah diterbitkan; dan


b. Surat Pemberitahuan Pemeriksaan Lapangan atau Surat Panggilan Dalam
Rangka Pemeriksaan Kantor belum disampaikan kepada Wajib Pajak.

2. Pengalihan pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada angka 1 tidak dapat dilakukan


apabila pemeriksaannya adalah pemeriksaan dalam rangka permohonan pengembalian
kelebihan pembayaran pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17B Undang-Undang
KUP yang batas waktu penerbitan surat ketetapan pajaknya kurang dari 6 (enam) bulan,
dan pemeriksaan tersebut harus diselesaikan oleh UP2 lama.
3. Pengalihan pemeriksaan terhadap Wajib Pajak yang pindah domisili ke KPP lain tetapi
masih dalam wilayah kerja Kanwil DJP yang sama, dilakukan oleh:

a. Direktur Pemeriksaan dan Penagihan untuk pemeriksaan yang


instruksi/persetujuannya diterbitkan oleh Direktur Jenderal Pajak atau Direktur
Pemeriksaan dan Penagihan;

b. Kepala Kanwil DJP untuk pemeriksaan yang


instruksi/persetujuan/penugasannya diterbitkan oleh Kepala Kanwil DJP; atau

c. Kepala Kanwil DJP atasan UP2 Lokasi untuk Pemeriksaan Lokasi karena
adanya permintaan dari UP2 Domisili.

4. Pengalihan pemeriksaan terhadap Wajib Pajak yang pindah domisili ke KPP lain di
luar wilayah kerja Kanwil DJP atasan KPP lama, dilakukan oleh Direktur Pemeriksaan
dan Penagihan.
5. Usul pengalihan pemeriksaan disampaikan oleh Kepala UP2 lama kepada Direktur
Pemeriksaan dan Penagihan atau Kepala Kanwil DJP dengan menggunakan formulir
sebagaimana ditetapkan pada Lampiran 11.
6. Persetujuan atau penolakan pengalihan pemeriksaan diberikan oleh Direktur Pemeriksaan
dan Penagihan atau Kepala Kanwil DJP. Dalam hal disetujui, persetujuan disampaikan
kepada Kepala UP2 baru dengan menggunakan formulir sebagaimana ditetapkan pada
Lampiran 12. Dalam hal ditolak, penolakan disampaikan kepada Kepala UP2 lama
dengan menggunakan formulir sebagaimana ditetapkan pada Lampiran 13.
7. Surat persetujuan pengalihan pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada angka 6
digunakan sebagai dasar untuk mengalihkan LP2.
8. Terhadap pemeriksaan yang ditolak pengalihan pemeriksaannya atau tidak dapat
dialihkan, maka berlaku ketentuan sebagai berikut:

a. pemeriksaan tetap diselesaikan oleh UP2 lama sampai dengan penerbitan


Nota Penghitungan;

b. LHP dan Nota Penghitungan harus menggunakan identitas baru;

c. terhadap pemeriksaan yang terkait dengan permohonan pengembalian


kelebihan pembayaran pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17B Undang-
Undang KUP maka LHP dan Nota Penghitungan sudah harus dikirim ke KPP
baru tempat Wajib Pajak terdaftar paling lambat 1 (satu) bulan sebelum jatuh
tempo penyelesaian permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak; dan

d. terhadap pemeriksaan selain sebagaimana dimaksud pada huruf c, LHP dan


Nota Penghitungan harus dikirim ke KPP baru tempat Wajib Pajak terdaftar
paling lambat 3 (tiga) hari kerja setelah tanggal LHP.

J. PEMERIKSAAN LOKASI
1. Dalam hal UP2 Domisili melakukan Pemeriksaan Lapangan untuk seluruh jenis pajak
(all taxes) maka UP2 Domisili dapat melakukan permintaan Pemeriksaan Lokasi kepada
UP2 Lokasi yang telah ditetapkan dalam Audit Plan.
2. Pemeriksaan Lokasi berdasarkan permintaan UP2 Domisili sebagaimana dimaksud pada
angka 1 dilakukan dengan mengacu pada kriteria pemeriksaan yang dilakukan oleh UP2
Domisili, yaitu Pemeriksaan Rutin atau Pemeriksaan Khusus.
3. LP2 Lokasi diterbitkan setelah ada permintaan Pemeriksaan Lokasi dari UP2 Domisili.
4. Surat permintaan Pemeriksaan Lokasi harus dibuat dalam jangka waktu paling lama 5
(lima) hari kerja sejak Surat Pemberitahuan Pemeriksaan Lapangan disampaikan kepada
Wajib Pajak Domisili, dengan menggunakan formulir sebagaimana ditetapkan pada
Lampiran 14.
5. Pemeriksaan Lokasi karena permintaan UP2 Domisili harus diselesaikan oleh UP2
Lokasi sesuai dengan jangka waktu yang ditentukan dalam surat permintaan
Pemeriksaan Lokasi.
6. Jangka waktu sebagaimana dimaksud pada angka 5 sekurang-kurangnya 4 (empat)
bulan dihitung sejak tanggal surat permintaan Pemeriksaan Lokasi.
7. Setelah pemeriksaan oleh UP2 Lokasi selesai, Kepala UP2 Lokasi harus mengirimkan
salinan LHP kepada Kepala UP2 Domisili paling lambat 3 (tiga) hari kerja setelah
tanggal LHP.
8. Dalam hal terdapat permintaan Pemeriksaan Lokasi maka LHP Domisili harus
mencakup hasil pemeriksaan Lokasi, kecuali:

a. SPT Tahunan Wajib Pajak Domisili menunjukan lebih bayar dan akan segera
jatuh tempo; atau

b. Pemeriksaan Lokasi belum dapat diselesaikan, karena antara lain kondisi kahar
(force majeur).

9. Dalam hal pemeriksaan dilakukan oleh UP2 Domisili yang wilayah kerjanya seluruh
Indonesia yaitu Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan, UP2 di lingkungan Kanwil DJP
Wajib Pajak Besar, dan UP2 di lingkungan Kanwil DJP Jakarta Khusus, Pemeriksaan
Lokasi dapat dilakukan oleh:

a. UP2 Domisili tanpa melakukan permintaan Pemeriksaan Lokasi kepada Kepala


UP2 Lokasi; dan/atau
b. UP2 Lokasi berdasarkan permintaan Pemeriksaan Lokasi dari UP2 Domisili.

10. Dalam hal pemeriksaan dilakukan oleh UP2 Domisili yang wilayah kerjanya meliputi
satu Kanwil DJP, yaitu KPP Madya, Pemeriksaan Lokasi di dalam wilayah kerjanya
dapat dilakukan oleh:

a. UP2 Domisili tanpa melakukan permintaan Pemeriksaan Lokasi kepada Kepala


UP2 Lokasi; dan/atau

b. UP2 Lokasi berdasarkan permintaan Pemeriksaan Lokasi dari UP2 Domisili.

11. Dalam hal UP2 Lokasi sedang melakukan Pemeriksaan Lokasi berdasarkan permintaan
UP2 Domisili, Pemeriksa Pajak UP2 Domisili baik KPP Pratama atau KPP Madya yang
Wajib Pajak lokasinya terdaftar di luar wilayah kerjanya dapat melakukan pemeriksaan
di lokasi kegiatan usaha Wajib Pajak tersebut dengan terlebih dahulu menyampaikan
surat pemberitahuan kepada Kepala UP2 Lokasi dengan menggunakan formulir
sebagaimana ditetapkan pada Lampiran 15.
12. Berdasarkan surat pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada angka 11 Kepala UP2
Lokasi harus menerbitkan surat tugas pendampingan kepada tim Pemeriksa Pajak
Lokasi untuk mendampingi tim Pemeriksa Pajak UP2 Domisili dengan menggunakan
formulir sebagaimana ditetapkan pada Lampiran 16.
13. Pemeriksaan oleh tim Pemeriksa Pajak UP2 Domisili sebagaimana dimaksud dalam
angka 11 harus dilakukan secara bersamaan dengan tim Pemeriksa Pajak UP2 Lokasi.
14. Dalam hal UP2 Domisili melakukan pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam angka
9 huruf a atau angka 10 huruf a maka UP2 Domisili harus menyampaikan fotokopi LHP
beserta Nota Penghitungan kepada Kepala UP2 Lokasi paling lambat 3 (tiga) hari kerja
setelah tanggal LHP.
K. PENENTUAN TIM PEMERIKSA PAJAK
1. Pemeriksaan terhadap suatu Wajib Pajak atau suatu Masa Pajak, Bagian Tahun Pajak,
atau Tahun Pajak yang berbeda dilakukan oleh tim Pemeriksa Pajak yang berbeda.
2. Yang dimaksud dengan tim Pemeriksa Pajak yang berbeda sebagaimana dimaksud
pada angka 1 adalah tim Pemeriksa Pajak yang keanggotannya berbeda seluruhnya baik
supervisor, ketua tim, maupun anggota tim.
3. Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada angka 1 apabila:

a. pemeriksaan atas beberapa Masa Pajak, Bagian Tahun Pajak, atau Tahun
Pajak dilakukan secara bersamaan;

b. pada UP2 tersebut hanya terdapat 1 (satu) tim Pemeriksa Pajak; atau

c. pada UP2 hanya terdapat 1 (satu) supervisor.

4. Dalam hal hanya terdapat satu supervisor sebagaimana dimaksud pada angka 3 huruf
c namun terdapat dua atau lebih tim Pemeriksa Pajak maka pemeriksaan sebagaimana
dimaksud pada angka 1 dilakukan oleh tim yang berbeda.
L. TIM QUALITY ASSURANCE PEMERIKSAAN
1. Tim Quality Assurance Pemeriksaan dibentuk dalam rangka membahas hasil
pemeriksaan yang belum disepakati antara Pemeriksa Pajak dengan Wajib Pajak dalam
Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan.
2. Pembentukan Tim Quality Assurance Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada angka
1 dilakukan oleh Direktur Pemeriksaan dan Penagihan atau Kepala Kanwil DJP atas
nama Direktur Jenderal Pajak.
3. Pembentukan Tim Quality Assurance Pemeriksaan ditetapkan dengan Keputusan
Direktur Jenderal Pajak dengan menggunakan formulir sebagaimana ditetapkan pada
Lampiran 17.
4. Tim Quality Assurance Pemeriksaan ditetapkan setiap awal tahun.
5. Susunan Tim Quality Assurance Pemeriksaan terdiri atas:

a. Ketua

b. Sekretaris; dan

c. 3 (tiga) orang Anggota.

6. Ketua Tim Quality Assurance Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada angka 5 huruf a
diisi oleh pejabat eselon III, dengan ketentuan:

a. pada Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan, dijabat oleh Kepala Sub Direktorat
di lingkungan Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan; dan

b. pada Kanwil DJP, dijabat oleh Kepala Bidang kecuali Kepala Bidang
Pengurangan Keberatan dan Banding/Kepala Bidang Keberatan dan Banding.

7. Sekretaris Tim Quality Assurance Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada angka 5


huruf b diisi oleh pejabat eselon IV, dengan ketentuan:

a. pada Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan, dijabat oleh Kepala Seksi di


lingkungan Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan; dan

b. pada Kantor Wilayah DJP, dijabat oleh Kepala Seksi di lingkungan Kanwil DJP
kecuali Kepala Seksi di Bidang Pengurangan Keberatan dan Banding/Kepala
Seksi di Bidang Keberatan dan Banding.

8. Anggota Tim Quality Assurance Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada angka 5


huruf c diisi oleh Pegawai Negeri Sipil pada Direktorat Jenderal Pajak, dengan
ketentuan:
a. pada Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan, diisi oleh:
1) Kepala Seksi di lingkungan Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan;
2) Pejabat Fungsional Pemeriksa Pajak di lingkungan Direktorat Pemeriksaan
dan Penagihan; dan/atau
3) Pelaksana di lingkungan Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan.
b. pada Kanwil DJP, diisi oleh:
1) Kepala Seksi di lingkungan Kanwil DJP kecuali Kepala Seksi di
Bidang Pengurangan Keberatan dan Banding/Kepala Seksi di Bidang Keberatan
dan Banding;
2) Pejabat Fungsional Pemeriksa Pajak di lingkungan Kanwil DJP; dan/atau
3) Pelaksana di lingkungan Kanwil DJP;
c. penunjukan Anggota Tim Quality Assurance Pemeriksaan dilakukan
dengan memperhatikan kompetensi pegawai yang bersangkutan; dan
d. dalam hal dipandang perlu Anggota Tim Quality Assurance Pemeriksaan dapat
diisi oleh Kepala Seksi/Pejabat Fungsional Pemeriksa Pajak pada KPP di
lingkungan Kanwil DJP.
9. Tugas Tim Quality Assurance Pemeriksaan adalah:

a. membahas perbedaan pendapat antar Wajib Pajak dengan Pemeriksa Pajak


dalam Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan;

b. memberikan simpulan dan keputusan atas perbedaan pendapatan antara Wajib


Pajak dengan Pemeriksa Pajak; dan

c. membuat Risalah Tim Quality Assurance Pemeriksaan yang berisi simpulan


dan keputusan hasil pembahasan.

10. Masa tugas Tim Quality Assurance Pemeriksaan dimulai sejak tanggal
ditetapkannya Keputusan Direktur Jenderal Pajak sebagaimana dimaksud pada angka 3
dan berakhir pada tanggal 31 Desember untuk tahun yang bersangkutan.
11. Dalam hal dipandang perlu, Direktur Pemeriksaan dan Penagihan atau Kepala Kanwil
DJP dapat mengubah susunan Tim Quality Assurance Pemeriksaan atau menambah Tim
Quality Assurance Pemeriksaan dalam tahun berjalan.
12. Satu surat Keputusan Pembentukan Tim Quality Assurance Pemeriksaan diterbitkan
untuk satu Tim Quality Assurance Pemeriksaan.
13. Pengadministrasian surat atau dokumen yang terkait dengan Tim Quality
Assurance Pemeriksaan dilakukan oleh Seksi Pengendalian Mutu Pemeriksaan pada
Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan atau Seksi Bimbingan Pemeriksaan pada Kanwil
DJP.
14. Tata cara pengadministrasian surat atau dokumen sebagaimana dimaksud pada angka
11 dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut:

a. dalam hal terdapat permohonan pembahasan dengan Tim Quality


Assurance Pemeriksaan maka Kepala Seksi Pengendalian Mutu Pemeriksaan
atau Kepala Seksi Bimbingan Pemeriksaan membuat undangan pembahasan dan
menyampaikan undangan tersebut kepada Wajib Pajak dan tim Pemeriksa Pajak,
penyampaian undangan harus memperhatikan jangka waktu dimulainya
pembahasan oleh Tim Quality Assurance Pemeriksaan;

b. Kepala Seksi Pengendalian Mutu Pemeriksaan atau Kepala Seksi


Bimbingan Pemeriksaan membuat surat tugas yang ditandatangani oleh Direktur
Pemeriksaan dan Penagihan atau Kepala Kanwil DJP untuk menunjuk Tim
Quality Assurance Pemeriksaan yang ditugaskan untuk melakukan pembahasan;

c. Surat tugas sebagaimana dimaksud pada huruf b diterbitkan dengan


menggunakan format surat tugas sebagaimana diatur dalam ketentuan mengenai
tata naskah dinas;

d. setiap Risalah Tim Quality Assurance Pemeriksaan yang dibuat oleh Tim
Quality Assurance Pemeriksaan diadministrasikan pada Seksi Pengendalian
Mutu Pemeriksaan atau Seksi Bimbingan Pemeriksaan.

15. Tim Quality Assurance Pemeriksaan yang melakukan pembahasan adalah Tim
Quality Assurance Pemeriksaan yang di dalamnya tidak terdapat Pejabat Fungsional
Pemeriksa Pajak yang melakukan pemeriksaan terhadap Wajib Pajak yang mengajukan
permohonan pembahasan dengan Tim Quality Assurance Pemeriksaan.
16. Terkait dengan permohonan Wajib Pajak untuk dilakukan pembahasan dengan Tim
Quality Assurance Pemeriksaan perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:

a. Pemeriksa Pajak harus segera menginformasikan kepada Kepala Sub Direktorat


Teknik dan Pengendalian Pemeriksaan atau Kepala Bidang Pemeriksaan
Penyidikan dan Penagihan Pajak mengenai permohonan Wajib Pajak tersebut;

b. setelah mendapatkan informasi sebagaimana dimaksud pada huruf a, Kepala


Sub Direktorat Teknik dan Pengendalian Pemeriksaan atau Kepala Bidang
Pemeriksaan Penyidikan dan Penagihan Pajak harus memantau surat
permohonan Wajib Pajak tersebut untuk segera ditindaklanjuti sesuai dengan
ketentuan yang berlaku.

M. KETENTUAN LAIN-LAIN

1. Jika dalam pelaksanaan pemeriksaan, tim Pemeriksa Pajak mendapatkan data


terkait dengan profil Wajib Pajak maka tim Pemeriksa Pajak harus mengirimkan data
tersebut ke Seksi Pengawasan Dan Konsultasi terkait.

2. Dalam hal pemeriksaan dilaksanakan berdasarkan 1 (satu) SP2 yang meliputi satu
atau beberapa jenis pajak dan satu atau beberapa Masa Pajak, maka Nota
Penghitungan dan surat ketetapan pajak harus diterbitkan untuk setiap Masa Pajak
dan setiap jenis pajak sesuai dengan ketentuan tentang penerbitan surat ketetapan
pajak.

3. Untuk menjamin agar pelaksanaan pemeriksaan dapat berjalan sesuai dengan


ketentuan yang berlaku dan memastikan bahwa pemeriksaan dapat memberikan efek
jera serta memberikan kontribusi terhadap penerimaan, Kepala Kanwil DJP harus
melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan pemeriksaan yang dilakukan oleh UP2.
II. KEBIJAKAN PEMERIKSAAN RUTIN
A. UMUM
1. Dalam rangka menjamin terpenuhinya kewajiban pelaksanaan Pemeriksaan Rutin,
Kepala UP2 harus merencanakan Pemeriksaan Rutin yang akan dilaksanakan dengan
tetap memperhatikan dan mempertimbangkan Rencana Pemeriksaan Nasional.
2. Dalam rangka melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud pada angka 1, Kepala
UP2 melalui Kepala Seksi Pemeriksaan harus membuat daftar persediaan Wajib Pajak
yang akan dilakukan Pemeriksaan Rutin dengan menggunakan formulir sebagaimana
ditetapkan pada Lampiran 18 dan memutakhirkan daftar tersebut setiap awal bulan
berikutnya.
3. Dalam memberikan penugasan Pemeriksaan Rutin, Kepala Kanwil DJP
harus mempertimbangankan:

a. Rencana Pemeriksaan Nasional:

b. saldo tunggakan pada masing-masing UP2;

c. jenis pemeriksaan;

d. frekuensi pemeriksaan sebelumnya;

e. jangka waktu penyelesaian pemeriksaan; dan/atau

f. pola kepatuhan Wajib Pajak.

4. Pemeriksaan Rutin dapat dilakukan melalui jenis Pemeriksaan Kantor atau


Pemeriksaan Lapangan.
B. ALASAN PEMERIKSAAN RUTIN
1. Pemeriksaan Rutin dilakukan dalam hal:
a. Wajib Pajak menyampaikan SPT Tahunan PPh yang menyatakan lebih bayar
restitusi (SPT Tahunan PPh Lebih Bayar Restitusi) sebagaimana dimaksud dalam:
1) Pasal 17B Undang-Undang KUP;
2) Pasal 17C Undang-Undang KUP tetapi memilih untuk diperiksa; atau
3) Pasal 17D Undang-Undang KUP tetapi memilih untuk diperiksa;
b. Wajib Pajak menyampaikan SPT Masa PPN yang menyatakan lebih bayar
restitusi (SPT Masa PPN Lebih Bayar Restitusi) sebagaimana dimaksud dalam:
1) Pasal 17B Undang-Undang KUP;
2) Pasal 17C Undang-Undang KUP tetapi memilih untuk diperiksa; atau
3) Pasal 17D Undang-Undang KUP tetapi memilih untuk diperiksa;
c. Wajib Pajak menyampaikan SPT Masa PPN Lebih Bayar Kompensasi;
d. Wajib Pajak menyampaikan SPT Tahunan PPh Rugi Tidak Lebih Bayar;
e. Wajib Pajak menyampaikan SPT Tahunan PPh untuk Bagian Tahun Pajak atau
Tahun Pajak sebagai akibat adanya perubahan tahun buku atau metode pembukuan
atau karena dilakukannya penilaian kembali aktiva tetap yang telah mendapat
persetujuan dari Direktur Jenderal Pajak; atau
f. Wajib Pajak badan melakukan penggabungan usaha, peleburan usaha,
pemekaran usaha, pemecahan usaha, likuidasi/penutupan usaha, pengambilalihan
usaha, atau Wajib Pajak orang pribadi akan meninggalkan Indonesia untuk selama-
lamanya.
2. Pemeriksaan Rutin atas SPT Tahunan PPh Lebih Bayar Restitusi sebagaimana dimaksud
pada angka 1 huruf a dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut:
a. dilakukan melalui jenis Pemeriksaan Kantor apabila:
1) SPT Tahunan PPh Lebih Bayar Restitusi disampaikan oleh Wajib Pajak
badan yang pendaftaran emisi sahamnya telah dinyatakan efektif oleh
Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (go public)
dan menyampaikan SPT Tahunan dengan dilampiri laporan keuangan yang
telah diaudit oleh Akuntan Publik dengan pendapat Wajar Tanpa
Pengecualian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29A Undang-Undang KUP,
kecuali berdasarkan pertimbangan Kepala UP2 perlu dilakukan
Pemeriksaan Lapangan;
2) SPT Tahunan PPh Lebih Bayar Restitusi disampaikan oleh Wajib Pajak
orang pribadi yang tidak melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas,
atau melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas tetapi memilih
menggunakan norma penghitungan penghasilan neto.
b. dilakukan melalui jenis Pemeriksaan Lapangan apabila:
1) SPT Tahunan PPh Lebih Bayar Restitusi disampaikan oleh Wajib Pajak
badan selain sebagaimana dimaksud pada huruf a angka 1);
2) SPT Tahunan PPh Lebih Bayar Restitusi disampaikan oleh Wajib Pajak
orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas
yang menyelenggarakan pembukuan.
c. ruang lingkup pemeriksaan terhadap SPT Tahunan Lebih Bayar Restitusi
meliputi seluruh jenis pajak (all taxes).
3. Pemeriksaan Rutin atas SPT Masa PPN Lebih Bayar Restitusi sebagaimana dimaksud
pada angka 1 huruf b dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut:

a. dapat dilakukan melalui jenis Pemeriksaan Kantor atau Pemeriksaan


Lapangan tergantung pada hasil analisis risiko dalam rangka pemeriksaan atas
SPT Masa PPN Lebih Bayar.

b. dalam hal pemeriksaan dilakukan terhadap SPT Masa PPN Lebih Bayar
Restitusi terdapat kompensasi dari masa pajak-masa pajak sebelumnya, maka
pemeriksaan harus mencakup seluruh Masa Pajak yang menyatakan Lebih Bayar
Kompensasi tersebut dengan menerbitkan 2 (dua) SP2, yaitu 1 (satu) SP2 untuk
Masa Pajak yang menyatakan Lebih Bayar Restitusi dan 1 (satu) SP2 untuk Masa
Pajak lainnya yang menyatakan Lebih Bayar Kompensasi;

c. dalam hal Masa Pajak lainnya yang menyatakan Lebih Bayar Kompensasi
sebagaimana dimaksud pada huruf b mencakup lebih dari 1 (satu) Tahun Pajak,
maka SP2 yang diterbitkan adalah 1 (satu) SP2 untuk setiap Tahun Pajak; dan
d. mengingat hanya PKP tertentu saja yang dapat mengajukan restitusi pada setiap
Masa Pajak maka pengusulan dan penugasan Pemeriksaan Rutin harus
memperhatikan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (4a) dan
ayat (4b) Undang-Undang PPN dan PPnBM.

4. Pemeriksaan Rutin atas SPT Masa PPN Lebih Bayar Kompensasi sebagaimana dimaksud
pada angka 1 huruf c dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut:

a. dapat dilakukan melalui jenis Pemeriksaan Kantor atau Pemeriksaan


Lapangan tergantung pada hasil analisis risiko dalam rangka pemeriksaan atas
SPT Masa PPN Lebih Bayar;

b. terhadap SPT Masa PPN Lebih Bayar Kompensasi, pemeriksaannya ditunda


sampai dengan kompensasi tersebut direstitusi, atau apabila Wajib Pajak tetap
tidak mengajukan restitusi maka pemeriksaannya sudah harus dilakukan sebelum
jatuh tempo daluwarsa penetapan pajaknya; dan

c. dalam hal SPT Masa PPN yang diperiksa mencakup lebih dari 1 (satu) Tahun
Pajak, maka SP2 yang diterbitkan adalah 1 (satu) SP2 untuk tiap-tiap Tahun
Pajak.

5. Pemeriksaan Rutin atas SPT Tahunan PPh Rugi Tidak Lebih Bayar sebagaimana
dimaksud pada angka 1 huruf d dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Pemeriksaan diprioritaskan terhadap:
1) Wajib Pajak yang menyampaikan SPT Tahunan PPh Rugi Tidak Lebih
Bayar yang kerugian tersebut dikompensasikan dengan penghasilan neto pada
SPT Tahunan PPh tahun-tahun pajak berikutnya;
2) Wajib Pajak yang menyampaikan SPT Tahunan PPh Rugi Tidak Lebih
Bayar paling sedikit selama 3 (tiga) tahun berturut-turut; atau
3) Wajib Pajak yang menyampaikan SPT Tahunan PPh Rugi Tidak Lebih
Bayar, yang berdasarkan SPT Tahunan PPh tersebut terdapat transaksi
signifikan dengan pihak lain yang memiliki hubungan istimewa;
b. pemeriksaan dilakukan melalui Pemeriksaan Lapangan, kecuali terhadap Wajib
Pajak badan yang pendaftaran emisi sahamnya telah dinyatakan efektif oleh
Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (go public) dan
menyampaikan SPT Tahunan dengan dilampiri laporan keuangan yang telah diaudit
oleh Akuntan Publik dengan pendapat Wajar Tanpa Pengecualian dapat dilakukan
melalui Pemeriksaan Kantor;
c. pemeriksaan terhadap Wajib Pajak yang menyampaikan SPT Tahunan PPh Rugi
Tidak Lebih Bayar sebagaimana dimaksud pada huruf a, harus dilakukan sebelum
daluwarsa penetapan;
d. pemeriksaan terhadap Wajib Pajak yang menyampaikan SPT Tahunan PPh Rugi
Tidak Lebih Bayar sebagaimana dimaksud pada huruf a angka 2), diprioritaskan
terhadap SPT yang daluwarsa penetapannya paling dekat; dan
e. pemeriksaan dilakukan dengan ruang lingkup seluruh jenis pajak (all taxes).
6. Pemeriksaan Rutin atas Wajib Pajak yang menyampaikan SPT Tahunan PPh untuk
Bagian Tahun Pajak atau Tahun Pajak sebagai akibat adanya perubahan tahun buku atau
metode pembukuan atau karena dilakukannya penilaian kembali aktiva tetap yang telah
mendapat persetujuan dari Direktur Jenderal Pajak, dilakukan dengan ketentuan
sebagai berikut:

a. pemeriksaan dilakukan melalui Pemeriksaan Lapangan, kecuali terhadap Wajib


Pajak badan yang pendaftaran emisi sahamnya telah dinyatakan efektif oleh
Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (go public) dan
menyampaikan SPT Tahunan dengan dilampiri laporan keuangan yang telah
diaudit oleh Akuntan Publik dengan pendapat Wajar Tanpa Pengecualian dapat
dilakukan melalui Pemeriksaan Kantor;

b. dalam hal pemeriksaan dilakukan karena Wajib Pajak mengajukan


permohonan perubahan tahun buku, maka pemeriksaannya dilakukan atas Bagian
Tahun Pajak sampai dengan perubahan tahun buku dilakukan. Misalnya, tahun
buku Wajib Pajak adalah Januari s.d Desember 2012 diubah menjadi Oktober
2012 s.d September 2013, maka pemeriksaannya dilakukan untuk Bagian Tahun
Pajak Januari s.d September 2012; dan

c. pemeriksaan dilakukan dengan ruang lingkup seluruh jenis pajak (all taxes).

7. Pemeriksaan Rutin atas Wajib Pajak badan yang melakukan penggabungan usaha,
peleburan usaha, pemekaran usaha, pemecahan usaha, likuidasi/penutupan usaha,
pengambilalihan usaha, atau Wajib Pajak orang pribadi akan meninggalkan Indonesia
untuk selama-lamanya, dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut:
a. pemeriksaan dilakukan berdasarkan informasi dari media massa atau pihak lain,
atau karena Wajib Pajak mengajukan permohonan sehubungan dengan
penggabungan usaha, peleburan usaha, pemekaran usaha, pemecahan usaha,
likuidasi/penutupan usaha, pengambilalihan usaha, atau Wajib Pajak orang pribadi
akan meninggalkan Indonesia untuk selama-lamanya;
b. pemeriksaan dilakukan untuk Bagian Tahun Pajak atau Tahun Pajak
dilakukannya penggabungan usaha, peleburan usaha, pemekaran usaha, pemecahan
usaha, likuidasi/penutupan usaha, pengambilalihan usaha, atau Wajib Pajak orang
pribadi akan meninggalkan Indonesia untuk selama-lamanya;
c. terhadap tahun-tahun pajak sebelumnya dapat dilakukan pemeriksaan sepanjang:
1) terdapat potensi berdasarkan hasil analisis risiko Wajib Pajak; dan
2) Wajib Pajak belum pernah dilakukan pemeriksaan untuk tahun-tahun tersebut;
d. pemeriksaan terhadap tahun-tahun pajak sebelumnya sebagaimana dimaksud
pada huruf c dilakukan dengan prosedur Pemeriksaan Khusus;
e. pemeriksaan dilakukan melalui Pemeriksaan Lapangan, kecuali terhadap Wajib
Pajak badan yang pendaftaran emisi sahamnya telah dinyatakan efektif oleh
Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (go public) dan
menyampaikan SPT Tahunan dengan dilampiri laporan keuangan yang telah diaudit
oleh Akuntan Publik dengan pendapat Wajar Tanpa Pengecualian, dapat dilakukan
melalui Pemeriksaan Kantor;
f. pemeriksaan dilakukan dengan ruang lingkup seluruh jenis pajak (all taxes);
g. Pemeriksaan Rutin terhadap Wajib Pajak badan yang melakukan
penggabungan usaha, peleburan usaha, pemekaran usaha, pemecahan usaha,
likuidasi/penutupan usaha, pengambilalihan usaha, atau Wajib Pajak orang pribadi
yang akan meninggalkan Indonesia untuk selama-lamanya disertai dengan
penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak dan/atau pencabutan pengukuhan
Pengusaha Kena Pajak, Pemeriksa Pajak harus membuat usulan tentang penghapusan
Nomor Pokok Wajib Pajak dan/atau pencabutan pengukuhan Pengusaha Kena Pajak
dalam LHP;
h. Pemeriksaan Rutin terhadap Wajib Pajak badan yang melakukan
penggabungan usaha, peleburan usaha, pemekaran usaha, pemecahan usaha,
likuidasi/penutupan usaha, pengambilalihan usaha, atau Wajib Pajak orang
pribadi yang akan meninggalkan Indonesia untuk selama-lamanya terkait juga
dengan permohonan penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak dan pencabutan
pengukuhan Pengusaha Kena Pajak, Pemeriksa Pajak harus memperhatikan jangka
waktu penyelesaian permohonan penghapusan dan/atau pencabutan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 2 ayat (7) dan ayat (9) Undang-Undang KUP; dan
i. berdasarkan LHP, Pemeriksa Pajak harus mengirimkan usulan penghapusan
Nomor Pokok Wajib Pajak dan/atau pencabutan pengukuhan Pengusaha Kena Pajak
kepada Kepala KPP c.q. Kepala Seksi Pelayanan dengan menggunakan formulir
sebagaimana ditetapkan pada Lampiran 19.
C. PROSEDUR USULAN DAN PENUGASAN PEMERIKSAAN RUTIN
1. Daftar Nominatif Wajib Pajak

a. berdasarkan daftar persediaan sebagaimana dimaksud pada huruf A angka 2,


setiap bulan Kepala UP2 harus membuat Daftar Nominatif Wajib Pajak yang
akan diperiksa dan mengirimkannya kepada Kepala Kanwil DJP atasannya paling
lambat tanggal 10 bulan berikutnya dengan menggunakan formulir sebagaimana
ditetapkan pada Lampiran 20 dan Lampiran 20.1;

b. terhadap SPT Tahunan PPh atau SPT Masa PPN Lebih Bayar Restitusi, Daftar
Nominatif dapat dibuat dan dikirimkan kepada Kepala Kanwil DJP setiap saat;

c. pengusulan Daftar Nominatif ke Kanwil DJP dilakukan setelah SPT Tahunan PPh
atau SPT Masa PPN direkam pada aplikasi yang tersedia;

d. terhadap Wajib Pajak yang diusulkan untuk diperiksa yang ruang


lingkup pemeriksaannya melebihi 1 (satu) Tahun Pajak, maka usulan tersebut
harus diperinci per Tahun Pajak; dan

e. dalam hal Wajib Pajak menyampaikan SPT Masa PPN Lebih Bayar Restitusi
terdapat kompensasi dari masa-masa pajak sebelumnya maka dalam Daftar
Nominatif Wajib Pajak yang diusulkan untuk diperiksa harus diperinci menjadi 2
(dua) usulan, yaitu 1 (satu) usulan untuk Masa Pajak yang menyatakan Lebih
Bayar Restitusi dan 1 (satu) usulan untuk Masa Pajak lainnya yang menyatakan
Lebih Bayar Kompensasi.

2. Penugasan Pemeriksaan Rutin

a. penugasan Pemeriksaan Rutin merupakan wewenang Kepala Kanwil DJP dengan


tetap memperhatikan ketentuan sebagaimana dimaksud pada huruf A angka 3;

b. berdasarkan Daftar Nominatif dari Kepala UP2, Kepala Kanwil DJP membuat
Surat Penugasan Pemeriksaan Rutin dan mengirimkan surat penugasan tersebut
tersebut kepada Kepala UP2 yang bersangkutan dengan menggunakan formulir
sebagaimana ditetapkan pada Lampiran 21 dan Lampiran 21.1;

c. apabila dalam Daftar Nominatif yang disampaikan oleh Kepala UP2 terdapat
nominatif pemeriksaan yang tidak memenuhi syarat atau alasan untuk dilakukan
Pemeriksaan Rutin, Kepala Kanwil DJP membuat Surat Penolakan Pemeriksaan
Rutin dan mengirimkan surat penolakan tersebut kepada Kepala UP2 dengan
menggunakan formulir sebagaimana ditetapkan pada Lampiran 22 dan Lampiran
22.1; dan

d. dalam hal Kepala Kanwil DJP memperoleh informasi mengenai penggabungan


usaha, peleburan usaha, pemekaran usaha, likuidasi, atau pembubaran,
penugasan Pemeriksaan Rutin dapat diberikan secara langsung tanpa melalui
Daftar Nominatif.

III. KEBIJAKAN PEMERIKSAAN KHUSUS


A. UMUM
1. Pemeriksaan Khusus (risk based audit) dilakukan berdasarkan hasil analisis risiko.
2. Analisis risiko adalah kegiatan yang dilakukan untuk menilai tingkat ketidakpatuhan
Wajib Pajak yang dapat menimbulkan kerugian pada penerimaan pajak.
3. Analisis risiko dibuat dengan mendasarkan pada profil Wajib Pajak dan/atau data
internal lainnya serta memanfaatkan data eksternal.
4. Analisis risiko dapat dibuat secara manual atau secara komputerisasi.
5. Ruang lingkup Pemeriksaan Khusus ditentukan sebagai berikut:
a. untuk KPP Domisili:
1) Pemeriksaan Khusus untuk tahun-tahun pajak yang lalu harus meliputi
seluruh jenis pajak (all taxes);
2) Pemeriksaan Khusus untuk tahun berjalan dapat meliputi satu atau
beberapa jenis pajak;
b. untuk KPP Lokasi, dapat meliputi satu atau beberapa jenis pajak baik untuk
Tahun Pajak berjalan maupun untuk tahun-tahun pajak sebelumnya.
6. Pemeriksaan Khusus dilakukan dengan jenis Pemeriksaan Lapangan.
7. Dalam hal akan dilakukan pemeriksaan terhadap:
a. Wajib Pajak Kriteria Tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17C Undang-
Undang KUP;
b. Wajib Pajak yang memenuhi Persyaratan Tertentu sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 17D Undang-Undang KUP; atau
c. Pengusaha Kena Pajak berisiko rendah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9
ayat (4c) Undang-Undang PPN dan PPnBM;
yang telah memperoleh pengembalian pendahuluan maka pemeriksaannya dilakukan
dengan prosedur Pemeriksaan Khusus.
B. ALASAN PEMERIKSAAN KHUSUS
1. Pemeriksaan Khusus dapat dilakukan berdasarkan:

a. persetujuan Kepala Kanwil DJP (Pemeriksaan Khusus bottom up);

b. instruksi Kepala Kanwil DJP (Pemeriksaan Khusus top down); atau

c. instruksi Direktur Pemeriksaan dan Penagihan (Pemeriksaan Khusus top down).

2. Pemeriksaan Khusus berdasarkan persetujuan Kepala Kanwil DJP sebagaimana


dimaksud pada angka 1 huruf a, dilakukan karena adanya analisis risiko yang dibuat oleh
Account Representative secara manual.
3. Pemeriksaan Khusus berdasarkan instruksi Kepala Kanwil DJP sebagaimana dimaksud
pada angka 1 huruf b dilakukan karena adanya hasil analisis dan pengembangan atas
informasi, data, laporan, dan pengaduan (IDLP) yang dilakukan oleh Kepala Kanwil
DJP, yang perlu ditindaklanjuti dengan Pemeriksaan Khusus.
4. Pemeriksaan Khusus berdasarkan instruksi Direktur Pemeriksaan dan Penagihan
sebagaimana dimaksud pada angka 1 huruf c dilakukan karena:

a. terdapat hasil analisis dan pengembangan atas informasi, data laporan,


dan pengaduan (IDLP) yang dilakukan oleh Direktorat Intelijen dan Penyidikan
yang perlu ditindaklanjuti dengan Pemeriksaan Khusus.

b. adanya analisis risiko secara manual yang dibuat oleh Direktur Pemeriksaan
dan Penagihan.

c. terdapat hasil analisis risiko secara komputerisasi yang berupa skor


risiko ketidakpatuhan dengan memperhatikan variabel-variabel tertentu serta
adanya data dan informasi.

C. TATA CARA USUL PEMERIKSAAN KHUSUS BOTTOM UP


1. Usul Pemeriksaan Khusus harus didasarkan pada analisis risiko.
2. Analisis risiko dibuat oleh Account Representative dan disetujui oleh Kepala Seksi
Pengawasan dan Konsultasi, selanjutnya disampaikan kepada Kepala UP2.
3. Kepala UP2 selanjutnya menugaskan Kepala Seksi Pemeriksaan membuat Nota Dinas
tentang Pembentukan Tim Pembahas Analisis Risiko.
4. Tim Pembahas Analisis Risiko membahas dan menentukan kelayakan analisis risiko
untuk menjadi usulan Pemeriksaan Khusus.
5. Tim Pembahas Analisis Risiko diketuai oleh Kepala UP2 dan beranggotakan:
a. Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi selain yang mengusulkan
Pemeriksaan Khusus terhadap Wajib Pajak yang bersangkutan;

b. Kepala Seksi Pemeriksaan; dan

c. 1 (satu) atau lebih Pejabat Fungsional Pemeriksa Pajak.

6. Pejabat Fungsional Pemeriksa Pajak yang menjadi anggota Tim Pembahas Analisis
Risiko sebaiknya menjadi bagian dari tim Pemeriksa Pajak yang akan melakukan
Pemeriksaan Khusus terhadap Wajib Pajak tersebut.
7. Hasil pembahasan oleh Tim Pembahas Analisis Risiko dituangkan dalam Risalah
Hasil Pembahasan Analisis Risiko yang ditandatangani oleh Tim Pembahas Analisis
Risiko dengan menggunakan formulir sebagaimana ditetapkan pada Lampiran 23.
8. Hasil pembahasan oleh Tim Pembahas Analisis Risiko ditindaklanjuti sebagai berikut:

a. dalam hal usulan analisis risiko disetujui, usulan Pemeriksaan Khusus


disampaikan kepada Kepala Kanwil DJP dan harus dilampiri dengan analisis
risiko dan Risalah Hasil Pembahasan Analisis Risiko;

b. dalam hal usulan analisis risiko tidak disetujui, Account Representative


dapat mengusulkan kembali analisis risiko Wajib Pajak tersebut dengan
mempertimbangkan masukan-masukan dari Tim Pembahas Analisis Risiko; atau

c. dalam hal pada usulan analisis risiko terdapat indikasi tindak pidana perpajakan
maka analisis risiko tersebut disampaikan kepada Kepala Kanwil DJP untuk
ditindaklanjuti sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

9. Usulan Pemeriksaan Khusus terhadap Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal
17C dan Pasal 17D Undang-Undang KUP, dan Pengusaha Kena Pajak berisiko rendah
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (4c) Undang-Undang PPN dan PPnBM, yang
telah menerima pengembalian pendahuluan kelebihan pembayaran pajak harus dilampiri
bukti pendukung yang memperkuat alasan pemeriksaan.
10. Dalam hal data dan/atau informasi pada analisis risiko hanya mencakup satu atau
beberapa jenis pajak, maka ditentukan sebagai berikut:
a. apabila data dan/atau informasi tersebut merupakan keterangan lain yang
konkret sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 Undang-Undang KUP maka
informasi tersebut tidak perlu diusulkan Pemeriksaan Khusus, namun dapat
langsung ditindaklanjuti dengan penerbitan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar
(SKPKB) berdasarkan penelitian sebagaimana dimaksud dalam Peraturan
Pemerintah Nomor 80 Tahun 2007;
b. apabila data dan/atau informasi tersebut tidak termasuk keterangan lain
sebagaimana dimaksud pada huruf a dan perlu ditindaklanjuti dengan Pemeriksaan
Khusus maka usul Pemeriksaan Khusus dilakukan dengan ketentuan sebagai
berikut:
1) dalam hal data dan/atau informasi tersebut terdapat pada UP2 Domisili, berlaku
ketentuan:
a) apabila data dan/informasi tersebut merupakan data dan/atau
informasi untuk Tahun Pajak berjalan maka dapat diusulkan
Pemeriksaan Khusus atas satu atau beberapa jenis pajak untuk Tahun
Pajak tersebut; atau
b) apabila data dan/atau informasi tersebut merupakan data dan/atau informasi
untuk tahun-tahun pajak sebelumnya maka diusulkan Pemeriksaan Khusus
untuk seluruh jenis pajak (all taxes).
2) dalam hal data dan/atau informasi tersebut terdapat pada UP2 Lokasi
maka Kepala UP2 Lokasi dapat mengusulkan Pemeriksaan Khusus atas satu
atau beberapa jenis pajak untuk Tahun Pajak berjalan maupun untuk tahun-
tahun pajak sebelumnya.
11. Dalam hal UP2 Lokasi mengusulkan Pemeriksaan Khusus satu atau beberapa jenis
pajak sebagaimana dimaksud pada angka 10 huruf b angka 2), berlaku ketentuan
sebagai berikut:
a. dalam hal usulan Pemeriksaan Khusus oleh UP2 Lokasi dilakukan atas satu
atau beberapa jenis pajak untuk Tahun Pajak berjalan, setelah usulan tersebut
disetujui oleh Kepala Kanwil DJP atasannya maka Kepala UP2 Lokasi harus
mengirimkan fotokopi data dan/atau informasi yang menjadi dasar dilakukannya
Pemeriksaan Khusus kepada UP2 Domisili; dan
b. dalam hal usulan Pemeriksaan Khusus oleh UP2 Lokasi dilakukan atas satu
atau beberapa jenis pajak untuk tahun-tahun pajak sebelumnya maka pada saat
usulan tersebut dikirim kepada Kepala Kanwil DJP atasannya, Kepala UP2 Lokasi
harus mengirimkan fotokopi data dan/atau informasi yang menjadi dasar
usulan Pemeriksaan Khusus tersebut kepada Kepala UP2 Domisili.
12. Dalam hal UP2 Domisili menerima data dan/atau informasi dari UP2 Lokasi
sebagaimana dimaksud pada angka 11, berlaku ketentuan sebagai berikut:
a. apabila data dan/atau informasi yang diterima merupakan data dan/atau
informasi untuk Tahun Pajak berjalan maka tindak lanjutnya ditentukan sebagai
berikut:
1) data dan/atau informasi tersebut harus disimpan (sebagai bahan masukan untuk
profil Wajib Pajak) sampai dengan Wajib Pajak menyampaikan SPT Tahunan
PPh untuk Tahun Pajak yang terkait dengan data dan/atau informasi dimaksud;
2) setelah Wajib Pajak menyampaikan SPT Tahunan PPh untuk Tahun
Pajak dimaksud, Kepala UP2 Domisili harus melakukan penelitian atas
data/informasi tersebut dan SPT Tahunan PPh Wajib Pajak;
3) dalam hal berdasarkan penelitian tersebut terdapat potensi pajak maka terhadap
Wajib Pajak dilakukan prosedur himbauan dan konseling; dan
4) dalam hal Wajib Pajak tidak atau tidak sepenuhnya memenuhi himbauan
dan konseling sebagaimana dimaksud dalam angka 3), terhadap Wajib
Pajak dibuat analisis risiko untuk selanjutnya ditindaklanjuti dengan ketentuan
yang diatur dalam Surat Edaran ini:
b. apabila data dan/atau informasi yang diterima merupakan data dan/atau informasi
untuk tahun-tahun pajak sebelumnya maka tindak lanjutnya ditentukan
sebagai berikut:
1) Kepala UP2 Domisili harus melakukan penelitian atas data/informasi
tersebut dan SPT Tahunan PPh Wajib Pajak;
2) dalam hal berdasarkan penelitian tersebut terdapat potensi pajak maka terhadap
Wajib Pajak dilakukan prosedur himbauan dan konseling;
3) dalam hal Wajib Pajak tidak atau tidak sepenuhnya memenuhi himbauan
dan konseling sebagaimana dimaksud dalam angka 2) maka terhadap Wajib
Pajak dibuat analisis risiko untuk selanjutnya ditindak lanjuti dengan ketentuan
yang diatur dalam Surat Edaran ini;
c. dalam hal UP2 Domisili melakukan Pemeriksaan Khusus all taxes terkait
dengan adanya data dan/atau informasi dari UP2 Lokasi sebagaimana dimaksud
pada huruf a dan huruf b, Kepala UP2 Domisili harus meminta kepada Kepala UP2
Lokasi untuk melakukan Pemeriksaan Lokasi sepanjang UP2 Lokasi belum
melakukan pemeriksaan.
13. Usul Pemeriksaan Khusus dilakukan dengan menggunakan formulir sebagaimana
ditetapkan pada Lampiran 24 dan dilampiri dengan:

a. Analisis risiko dengan menggunakan formulir sebagaimana ditetapkan pada


Lampiran 24.1; dan

b. Risalah Hasil Pembahasan Analisis Risiko.

14. Administrasi terkait usulan Pemeriksaan Khusus, termasuk analisis risiko dan Risalah
Hasil Pembahasan Analisis Risiko dilakukan oleh Seksi Pemeriksaan.
D. TATA CARA PERSETUJUAN PEMERIKSAAN KHUSUS BOTTOM UP
1. Persetujuan Pemeriksaan Khusus diberikan oleh Kepala Kanwil DJP.
2. Sebelum memberikan persetujuan, Kepala Kanwil DJP harus melakukan penelitian,
evaluasi, dan seleksi atas usulan Pemeriksaan Khusus terutama menyangkut hal-hal
sebagai berikut:
a. penelitian atas persyaratan formal usulan pemeriksaan seperti:
1) ada atau tidaknya analisis risiko;
2) apakah analisis risiko telah sesuai dengan ketentuan;
3) ada atau tidaknya Risalah Hasil Pembahasan Analisis Risiko;
4) kesesuaian kode pemeriksaan dengan alasan pemeriksaan dan ruang
lingkup pemeriksaan; dan
5) terhadap Wajib Pajak telah dilaksanakan aktivitas himbauan dan konseling.
b. evaluasi terhadap potensi penerimaan yang ada dalam analisis risiko;
c. penelitian atas tunggakan pemeriksaan;
d. penelitian atas history pemeriksaan; dan
e. penelitian terhadap hal-hal lainnya yang terdapat dalam analisis risiko.
3. Hasil penelitian dan evaluasi sebagaimana dimaksud pada angka 2 dituangkan dalam
Lembar Hasil Penelitian dan Evaluasi Analisis Risiko dengan menggunakan formulir
sebagaimana ditetapkan pada Lampiran 25.
4. Berdasarkan hasil penelitian dan evaluasi sebagaimana dimaksud pada angka 2, Kepala
Kanwil DJP menentukan apakah usulan Pemeriksaan Khusus disetujui atau ditolak.
5. Persetujuan atas usulan Pemeriksaan Khusus diterbitkan dengan menggunakan
formulir sebagaimana ditetapkan pada Lampiran 26.
6. Penolakan atas usulan Pemeriksaan Khusus diterbitkan dengan menggunakan
formulir sebagaimana ditetapkan pada Lampiran 27.
E. TATA CARA INSTRUKSI PEMERIKSAAN KHUSUS TOP DOWN

1. Instruksi Pemeriksaan Khusus dapat diterbitkan oleh Direktur Pemeriksaan dan


Penagihan atau Kepala Kanwil DJP dan dilakukan dengan alasan sebagaimana
dimaksud pada huruf B angka 3 dan angka 4.

2. Instruksi Pemeriksaan Khusus karena analisis risiko secara manual yang dibuat
oleh Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan diterbitkan berdasarkan usulan dari
Kepala Sub Direktorat di lingkungan Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan atau
berdasarkan perintah dari Direktur Pemeriksaan dan Penagihan.

3. Instruksi Pemeriksaan Khusus dari Kepala Kanwil DJP dengan alasan sebagaimana
dimaksud pada huruf B angka 3 diterbitkan dengan menggunakan formulir
sebagaimana ditetapkan pada Lampiran 28.

4. Instruksi Pemeriksaan Khusus dari Direktur Pemeriksaan dan Penagihan dengan


alasan sebagaimana dimaksud pada huruf B angka 4 butir a dan butir b diterbitkan
dengan menggunakan formulir sebagaimana ditetapkan pada Lampiran 29.

5. Instruksi Pemeriksaan Khusus dari Direktur Pemeriksaan dan Penagihan dengan


alasan sebagaimana dimaksud pada huruf B angka 4 butir c dilakukan dengan
menggunakan formulir sebagaimana ditetapkan pada Lampiran 30 dan Lampiran
30.1.

F. PEMERIKSAAN ULANG
1. Pemeriksaan Ulang hanya dapat dilakukan berdasarkan instruksi atau persetujuan
Direktur Jenderal Pajak.
2. Pemeriksaan Ulang dilakukan dengan alasan:

a. terdapat data baru, termasuk data yang semula belum terungkap yang
mengakibatkan penambahan jumlah pajak yang terutang; atau

b. berdasarkan pertimbangan Direktur Jenderal Pajak.

3. Ruang lingkup Pemeriksaan Ulang dapat meliputi seluruh jenis pajak (all taxes),
beberapa jenis pajak atau satu jenis pajak (single tax).
4. Prosedur usulan Pemeriksaan Ulang pada KPP adalah:
a. usul Pemeriksaan Ulang harus didasarkan pada analisis alasan Pemeriksaan Ulang;
b. analisis alasan Pemeriksaan Ulang dapat dibuat oleh:
1) Account Representative dan disetujui oleh Kepala Seksi Pengawasan
dan Konsultasi;
2) Fungsional Pemeriksa Pajak dan disetujui oleh Supervisor,
selanjutnya disampaikan kepada Kepala KPP;
c. Kepala KPP selanjutnya menugaskan Kepala Seksi Pemeriksaan membuat Nota
Dinas tentang Pembentukan Tim Pembahas Usul Pemeriksaan Ulang;
d. Tim Pembahas Usul Pemeriksaan Ulang membahas dan menentukan ada atau
tidaknya data baru, termasuk data yang semula belum terungkap;
e. Tim Pembahas Usul Pemeriksaan Ulang diketuai oleh Kepala KPP dan
beranggotakan:
1) Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi selain yang menangani Wajib
Pajak yang bersangkutan:
2) Kepala Seksi Pemeriksaan; dan
3) 1 (satu) atau lebih Pejabat Fungsional Pemeriksa Pajak;
f. Pejabat Fungsional Pemeriksa Pajak yang menjadi anggota Tim Pembahas
Usul Pemeriksaan Ulang sebaiknya menjadi bagian dari tim Pemeriksa Pajak atas
Wajib Pajak yang akan diusulkan untuk dilakukan Pemeriksaan Ulang tersebut;
g. Tim Pembahas Usul Pemeriksaan Ulang membuat Risalah Hasil Pembahasan
Usul Pemeriksaan Ulang yang ditandatangani oleh Tim Pembahas Usul Pemeriksaan
Ulang;
h. hasil pembahasan oleh Tim Pembahas Usul Pemeriksaan Ulang
ditindaklanjuti sebagai berikut:
1) dalam hal usulan Pemeriksaan Ulang disetujui, Kepala KPP menyampaikan surat
usulan Pemeriksaan Ulang kepada Kepala Kanwil DJP yang dilampiri dengan
data baru, termasuk data yang belum terungkap, dan Risalah Hasil Pembahasan
Usul Pemeriksaan Ulang;
2) dalam hal usulan Pemeriksaan Ulang tidak disetujui Risalah Hasil
Pembahasan Usul Pemeriksaan Ulang ditatausahakan oleh Seksi Pemeriksaan;
3) dalam hal pada analisis alasan pemeriksaan ulang terdapat indikasi tindak pidana
perpajakan maka data yang dianalisis tersebut disampaikan kepada Kanwil DJP
untuk ditindaklanjuti sesuai dengan ketentuan yang berlaku;
i. usul Pemeriksaan Ulang dilakukan dengan menggunakan formulir
sebagaimana ditetapkan pada Lampiran 31 dan dilampiri dengan:
1) Analisis alasan Pemeriksaan Ulang dengan menggunakan formulir sebagaimana
ditetapkan pada Lampiran 31.1; dan
2) Risalah Hasil Pembahasan Usul Pemeriksaan Ulang dengan
menggunakan formulir sebagaimana ditetapkan pada Lampiran 31.2.
5. Prosedur usulan Pemeriksaan Ulang pada Kanwil DJP adalah sebagai berikut:
a. setelah menerima usul Pemeriksaan Ulang dari Kepala KPP, Kepala Kanwil
DJP selanjutnya menugaskan Tim Pembahas Usul Pemeriksaan Ulang pada Kanwil
DJP melakukan pembahasan;
b. Tim Pembahas Usul Pemeriksaan Ulang diketuai oleh Kepala Bidang P4
dan beranggotakan:
1) Kepala Seksi Bimbingan Pemeriksaan;
2) Kepala Seksi Administrasi Penyidikan
3) 1 (satu) atau lebih Pejabat Fungsional Pemeriksa Pajak di Kanwil DJP;
c. pembahasan yang dilakukan oleh Tim Pembahas Usul Pemeriksaan Ulang
terutama dilakukan untuk melakukan penelitian sebagai berikut:
1) penelitian atas persyaratan formal usulan Pemeriksaan Ulang seperti:
a) kebenaran bahwa Wajib Pajak sudah pernah diterbitkan surat ketetapan pajak
melalui pemeriksaan untuk Masa Pajak, Tahun Pajak dan jenis pajak yang
akan dilakukan Pemeriksaan Ulang;
b) kelengkapan bukti pendukung dari data baru termasuk data yang semula
belum terungkap serta ringkasan hasil pemeriksaan sebelumnya; dan
c) kesesuaian kode pemeriksaan dengan alasan pemeriksaan dan ruang lingkup
pemeriksaan;
2) evaluasi terhadap potensi penerimaan;
3) penelitian atas tunggakan pemeriksaan; dan
4) penelitian atas history pemeriksaan;
d. hasil pembahasan oleh Tim Pembahas Usul Pemeriksaan Ulang pada Kanwil
DJP dituangkan dalam Risalah Hasil Pembahasan Usul Pemeriksaan Ulang;
e. apabila berdasarkan risalah hasil pembahasan oleh Tim Pembahas Usul
Pemeriksaan Ulang pada Kanwil DJP menunjukkan bahwa usul Pemeriksaan Ulang
dari Kepala KPP:
1) memenuhi persyaratan untuk dilakukan Pemeriksaan Ulang maka Kepala Kanwil
DJP meneruskan usul tersebut kepada Direktur Pemeriksaan dan Penagihan
dengan menggunakan formulir sebagaimana ditetapkan pada Lampiran 32, dan
dilampiri dengan analisis alasan Pemeriksaan Ulang dari KPP, Risalah Hasil
Pembahasan Usul Pemeriksaan Ulang KPP, dan Risalah Hasil Pembahasan Usul
Pemeriksaan Ulang Kanwil DJP sebagaimana ditetapkan pada Lampiran 32.1;
2) tidak memenuhi persyaratan untuk dilakukan Pemeriksaan Ulang maka Kepala
Kanwil DJP menyampaikan surat penolakan untuk meneruskan usulan tersebut
kepada Kepala KPP pengusul dengan menggunakan formulir sebagaimana
ditetapkan pada Lampiran 33.
6. Prosedur usulan Pemeriksaan Ulang pada Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan
a. setelah menerima usul Pemeriksaan Ulang dari Kepala Kanwil DJP,
Direktur Pemeriksaan dan Penagihan menugaskan Tim Pembahas Usul Pemeriksaan
Ulang pada Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan untuk melakukan pembahasan;
b. Tim Pembahas Usul Pemeriksaan Ulang diketuai oleh Kepala Sub
Direktorat Perencanaan Pemeriksaan dan beranggotakan:
1) Kepala Seksi Perencanaan Pemeriksaan WP Orang Pribadi;
2) Kepala Seksi Perencanaan Pemeriksaan WP Badan;
3) Kepala Seksi Strategi Pemeriksaan;
c. pembahasan yang dilakukan oleh Tim Pembahas Usul Pemeriksaan Ulang
terutama dilakukan untuk melakukan penelitian sebagai berikut:
1) penelitian atas persyaratan formal usulan Pemeriksaan Ulang seperti:
a) kebenaran bahwa Wajib Pajak sudah pernah diterbitkan surat ketetapan pajak
melalui pemeriksaan untuk Masa Pajak, Tahun Pajak dan jenis pajak yang
akan dilakukan pemeriksaan ulang;
b) kelengkapan bukti pendukung dari data baru termasuk data yang semula
belum terungkap serta ringkasan hasil pemeriksaan sebelumnya; dan
c) kesesuaian kode pemeriksaan dengan alasan pemeriksaan dan ruang lingkup
pemeriksaan;
2) evaluasi terhadap potensi penerimaan;
3) penelitian atas tunggakan pemeriksaan; dan
4) penelitian atas history pemeriksaan;
d. dalam hal dipandang perlu Tim Pembahas Usul Pemeriksaan Ulang dapat
mengundang unit pengusul;
e. hasil pembahasan oleh Tim Pembahas Usul Pemeriksaan Ulang pada
Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan dituangkan dalam Risalah Hasil Pembahasan
Usul Pemeriksaan Ulang sebagaimana ditetapkan pada Lampiran 34;
f. apabila berdasarkan risalah hasil pembahasan oleh Tim Pembahas Usul
Pemeriksaan Ulang di Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan menunjukkan bahwa
usul Pemeriksaan Ulang dari Kepala Kanwil DJP:
1) memenuhi persyaratan untuk dilakukan Pemeriksaan Ulang maka
Direktur Pemeriksaan dan Penagihan meneruskan usul tersebut kepada
Direktur Jenderal Pajak untuk diterbitkan persetujuan Pemeriksaan Ulang;
2) tidak memenuhi persyaratan untuk dilakukan Pemeriksaan Ulang maka Direktur
Pemeriksaan dan Penagihan menyampaikan surat penolakan untuk meneruskan
usulan tersebut dengan menggunakan formulir sebagaimana ditetapkan pada
Lampiran 35.
7. Persetujuan untuk melakukan Pemeriksaan Ulang oleh Direktur Jenderal Pajak
dilakukan menggunakan formulir sebagaimana ditetapkan pada Lampiran 36.
8. Instruksi Pemeriksaan Ulang diterbitkan oleh Direktur Jenderal Pajak dengan alasan
terdapat data baru termasuk data yang semula belum terungkap atau terdapat sebab lain
berdasarkan pertimbangan Direktur Jenderal Pajak sebagaimana dimaksud pada angka 2,
dengan menggunakan formulir sebagaimana ditetapkan pada Lampiran 37.
G. KETENTUAN LAIN-LAIN

1. Kepala Kanwil DJP melakukan evaluasi secara berkala atas hasil Pemeriksaan
Khusus yang dilakukan berdasarkan usulan dari Kepala KPP dengan membandingkan
antara potensi pajak terutang menurut usulan dari Kepala KPP dengan pajak yang
terutang menurut surat ketetapan pajak dan juga realisasi pembayaran atas surat
ketetapan pajak dimaksud.

2. Direktur Pemeriksaan dan Penagihan dapat melakukan evaluasi secara berkala atas
hasil Pemeriksaan Khusus yang dilakukan berdasarkan instruksi Direktur
Pemeriksaan dan Penagihan atau instruksi/persetujuan Kepala Kanwil DJP, dengan
membandingkan antara potensi dengan pajak terutang menurut surat ketetapan pajak
dan realisasi pembayaran atas surat ketetapan pajak dimaksud.

IV. TATA CARA USUL PEMERIKSAAN BUKTI PERMULAAN YANG BERASAL DARI
PEMERIKSAAN UNTUK MENGUJI KEPATUHAN PEMENUHAN KEWAJIBAN
PERPAJAKAN
Dalam hal pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan
diusulkan menjadi Pemeriksaan Bukti Permulaan, berlaku ketentuan sebagai berikut:
1. Usulan Pemeriksaan Bukti Permulaan harus dilakukan dengan memperhatikan ketentuan
yang mengatur tentang Pemeriksaan Bukti Permulaan.
2. Usulan Pemeriksaan Bukti Permulaan yang disebabkan karena Wajib Pajak tidak
memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (3) dan/atau Pasal 29
ayat (3a) Undang-Undang KUP, dilakukan apabila berdasarkan data yang ada tim
Pemeriksa Pajak tidak dapat menghitung penghasilan kena pajak.
3. Usulan Pemeriksaan Bukti Permulaan yang disebabkan karena selain yang dimaksud
dalam Pasal 29 ayat (3) huruf a, huruf b, dan huruf c Undang-Undang KUP, disampaikan
setelah tim Pemeriksa Pajak meyakini bahwa Wajib Pajak diduga telah melakukan tindak
pidana di bidang perpajakan.
4. Usulan Pemeriksaan Bukti Permulaan harus memperhatikan jangka waktu pemeriksaan
dan jangka waktu perpanjangannya.
5. Dalam hal pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan
merupakan pemeriksaan atas permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17B Undang-Undang KUP, usulan Pemeriksaan
Bukti Permulaan selain memperhatikan jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam
angka 4 juga harus memperhatikan jangka waktu penyelesaian permohonan
pengembalian kelebihan pembayaran pajak.
6. Terhadap usulan Pemeriksaan Bukti Permulaan tersebut, keputusan persetujuan atau
keputusan penolakan harus diberikan paling lambat 1 (satu) bulan sejak usulan
Pemeriksaan Bukti Permulaan diterima oleh pejabat yang berwenang sebagaimana diatur
dalam ketentuan Pemeriksaan Bukti Permulaan.
7. Dalam hal usulan Pemeriksaan Bukti Permulaan dilakukan terhadap Wajib Pajak yang
mengajukan permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 17B Undang-Undang KUP disetujui, tim Pemeriksa Pajak harus
membuat Laporan Kemajuan Pemeriksaan Yang Ditingkatkan Menjadi Pemeriksaan
Bukti Permulaan dengan menggunakan formulir sebagaimana ditetapkan dalam
Lampiran 38.
8. Tindak lanjut atas pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban
perpajakan yang ditingkatkan mejadi Pemeriksaan Bukti Permulaan harus
memperhatikan ketentuan sebagaimana diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak
tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Untuk Menguji Kepatuhan Pemenuhan
Kewajiban Perpajakan.

V. LEMBAR PENUGASAN PEMERIKSAAN (LP2) DAN KODE PEMERIKSAAN


A. LEMBAR PENUGASAN PEMERIKSAAN (LP2)
1. LP2 diterbitkan berdasarkan:

a. Penugasan pemeriksaan/persetujuan pemeriksaan/instruksi pemeriksaan; atau

b. Surat Permintaan Pemeriksaan Lokasi.

2. LP2 bukan merupakan dasar dilakukannya pemeriksaan namun merupakan sarana


untuk melakukan pengawasan pemeriksaan. Dasar dilakukannya pemeriksaan adalah
penugasan/persetujuan/instruksi pemeriksaan atau Surat Permintaan Pemeriksaan
Lokasi sebagaimana dimaksud pada angka 1 huruf a atau huruf b.
3. Untuk kepentingan pengawasan pemeriksaan, setiap Surat Perintah Pemeriksaan baik
untuk seluruh jenis pajak maupun untuk satu atau beberapa jenis pajak harus memiliki
LP2.
4. Surat Perintah Pemeriksaan yang tidak harus memiliki LP2 hanya meliputi Surat
Perintah Pemeriksaan atas Wajib Pajak yang belum memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak
(NPWP).
5. Format LP2 terdiri dari tiga bagian yaitu Data Pemeriksaan, Data Penugasan, dan
Data Pelaporan.
6. Data Pemeriksaan adalah data yang terkait dengan dasar dilakukannya pemeriksaan,
yang meliputi :

a. Nomor Pengawasan Pemeriksaan (Nomor LP2);

b. Tahun Pajak Yang Diperiksa;

c. Nama Wajib Pajak;

d. Alamat Wajib Pajak;

e. Nomor Pokok Wajib Pajak;

f. Klasifikasi Lapangan Usaha;

g. Kode Pemeriksaan dan;

h. Unit Pelaksana Pemeriksaan.

7. Data Penugasan adalah data yang menunjuk pihak yang bertanggung jawab
terhadap pelaksanaan pemeriksaan, yang meliputi :

a. Nomor Surat Perintah Pemeriksaan (SP2);

b. Tanggal Surat Perintah Pemeriksaan (SP2);

c. Tanggal Mulai Pemeriksaan; dan

d. Susunan Tim Pemeriksa Pajak yaitu Supervisor, Ketua Tim, dan Anggota Tim.

8. Data Pelaporan adalah data yang menunjukkan status dan hasil (kinerja) pemeriksaan,
yang meliputi :

a. Nomor dan Tanggal Laporan Hasil Pemeriksaan;

b. Jumlah jam Pemeriksaan dan;

c. Hasil Pemeriksaan.

9. Format LP2 secara terinci adalah dengan menggunakan formulir sebagaimana


ditetapkan pada Lampiran 39.
10. Nomor Pengawasan Pemeriksaan atau Nomor LP2 terdiri dari 15 (lima belas) digit yang
terbagi dalam 4 (empat) bagian dengan struktur sebagai berikut :
000 . BBTT . 0000 . 0000
A B C D
a. Bagian A terdiri dari 3 (tiga) digit yang menjelaskan Kode Unit Pelaksana
Pemeriksaan.
b. Bagian B terdiri dari 4 (empat) digit yang menjelaskan Kode Bulan dan Kode
Tahun Penerbitan LP2 masing-masing 2 digit.
c. Bagian C terdiri dari 4 (empat) digit yang menjelaskan Kode Pemeriksaan.
d. Bagian D terdiri dari 4 (empat) digit yang menjelaskan nomor urut LP2 yang terbit
di Unit Pelaksana Pemeriksaan yang bersangkutan dalam tahun penerbitan LP2.
B. DAFTAR KODE PEMERIKSAAN
1. Setiap usulan pemeriksaan harus dilakukan berdasarkan kriteria pemeriksaan dan
alasan pemeriksaan yang sesuai dan dikonversikan dalam bentuk Kode Pemeriksaan.
2. Kode Pemeriksaan mencerminkan alasan dilakukannya pemeriksaan dan harus
dicantumkan dalam setiap penugasan/persetujuan/instruksi pemeriksaan.
3. Struktur Kode Pemeriksaan terdiri dari 4 (empat) digit dengan pengelompokkan
sebagai berikut:

Digit pertama menunjukkan Jenis Pajak/Ruang Lingkup Pemeriksaan;

Digit kedua menunjukkan Kriteria dan Jenis Pemeriksaan;

Digit ketiga menunjukkan Alasan Pemeriksaan; dan

Digit keempat menunjukkan Jenis Wajib Pajak yang diperiksa.

4. Digit pertama menunjukkan Jenis Pajak/Ruang Lingkup terdiri dari:


1 --> Semua Jenis Pajak (All Taxes)

2 --> Pajak Pertambahan Nilai (PPN)


3 --> Pajak Penghasilan Pemotongan dan Pemungutan


4 --> Pajak Penghasilan Pasal 25/29


5 --> Administrasi (Untuk Pemeriksaan Tujuan Lain)


6 --> WP Lokasi

7 --> Pajak Penghasilan Pasal 21/26



8 --> Pajak Penghasilan Pasal 23/26

9 --> Pajak Penghasilan Final


0 --> Beberapa Jenis Pajak (kode ini digunakan jika yang diperiksa adalah PPN
dan PPh Potput secara sekaligus atau seluruh kewajiban perpajakan cabang
dilakukan pemeriksaan).
5. Digit kedua menunjukkan Kriteria dan Jenis Pemeriksaan terdiri dari:
0 --> Pemeriksaan Rutin dengan Jenis Pemeriksaan Kantor

1 --> Pemeriksaan Rutin dengan Jenis Pemeriksaan Lapangan


2 --> Pemeriksaan Tujuan Lain dengan Jenis Pemeriksaan Lapangan


4 --> Pemeriksaan Khusus berdasarkan Analisis Risiko Secara Komputerisasi


dengan Jenis Pemeriksaan Lapangan

5 --> Pemeriksaan Tujuan Lain dengan Jenis Pemeriksaan Kantor


9 --> Pemeriksaan Khusus berdasarkan Analisis Risiko Secara Manual dengan


Jenis Pemeriksaan Lapangan

6. Digit ketiga menunjukkan Alasan Pemeriksaan yang meliputi:


a. Jika Kriteria dan Jenis Pemeriksaannya (digit kedua) adalah Pemeriksaan Rutin
dengan Jenis Pemeriksaan Kantor (0), maka kode untuk digit ketiga ditentukan
sebagai berikut:
1 --> Perubahan Tahun Buku atau Metode Pembukuan oleh WP Go Public

2 --> Likuidasi atau Penutupan Usaha oleh WP Go Public


3 --> Penggabungan Usaha oleh WP Go Public


4 --> Peleburan usaha atau Pengambilalihan usaha oleh WP Go Public



5 --> Pemecahan usaha atau Pemekaran Usaha oleh WP Go Public

7 --> SPT Tahunan PPh Rugi Tidak Lebih Bayar oleh WP Go Public

8 --> SPT Lebih Bayar (LB) Restitusi/Kompensasi


9 --> Revaluasi Aktiva Tetap oleh WP Go Public


b. Jika Kriteria dan Jenis Pemeriksaannya (digit kedua) adalah Pemeriksaan Rutin
dengan Jenis Pemeriksaan Lapangan (1), maka kode untuk digit ketiga ditentukan
sebagai berikut:
1 --> Perubahan Tahun Buku atau Metode Pembukuan

2 --> Likuidasi, Penutupan Usaha, atau Akan Meninggalkan Indonesia Selama-


lamanya

3 --> Penggabungan Usaha


4 --> Peleburan usaha atau Pengambilalihan usaha


5 --> Pemecahan usaha atau Pemekaran Usaha


7 --> SPT Tahunan PPh Rugi Tidak Lebih Bayar (RTLB)


8 --> SPT Lebih Bayar (LB) Restitusi/Kompensasi


9 --> Revaluasi Aktiva Tetap


c. Jika Kriteria dan Jenis Pemeriksaannya (digit kedua) adalah Pemeriksaan


Khusus berdasarkan Analisis Risiko Secara Komputerisasi dengan Jenis
Pemeriksaan Lapangan (4), kode digit ketiga ditentukan sebagai berikut:
1 --> Wajib Pajak Besar

2 --> Wajib Pajak Menengah

3 --> Wajib Pajak Kecil


d. Jika Kriteria dan Jenis Pemeriksaannya (digit kedua) adalah Pemeriksaan


Khusus berdasarkan Analisis Risiko Secara Manual dengan Jenis Pemeriksaan
Lapangan (9), kode digit ketiga ditentukan maka:
1 --> terdapat data dan/atau informasi yang menunjukkan ketidakpatuhan Wajib
Pajak (bottom up)

2 --> analisis risiko manual selain karena permintaan WP (top down)


3 --> laporan dan/atau pengaduan masyarakat hasil analisis Direktorat Intelijen


dan Penyidikan (top down)

4 --> analisis risiko karena Permintaan WP (top down)


5 --> laporan dan/atau pengaduan masyarakat hasil analisis Kanwil DJP


(top down)

6 --> terdapat data dan/atau informasi terkait dengan Wajib Pajak Kriteria Tertentu
Pasal 17C UU KUP dan Wajib Pajak Persyaratan Tertentu Pasal 17D UU
KUP (bottom up)
8 --> terdapat laporan dan/atau pengaduan Masyarakat terkait dengan Wajib Pajak
Kriteria Tertentu Pasal 17C UU KUP dan Wajib Pajak Persyaratan Tertentu
Pasal 17D UU KUP (top down)
9 --> Pemeriksaan Khusus dalam rangka pemeriksaan ulang.

7. Digit keempat menunjukkan Jenis Wajib Pajak yang meliputi :


1 --> Orang Pribadi

2 --> Badan

8. Berdasarkan struktur tersebut diatas, Kode Pemeriksaan untuk masing-masing kriteria


dan jenis pemeriksaan ditentukan sebagai berikut:
a. Kode Pemeriksaan Rutin:
No Alasan Pemeriksaan Jenis Pemeriksaan
Pemeriksaan Pemeriksaan
Kantor Lapangan
OP Badan OP Badan
1. Perubahan Tahun Buku/Metode
Pembukuan 0012 0111 0112
2. Likuidasi atau Penutupan Usaha :
a. Domisili 1022 1121 1122
b. Cabang 0022 0121 0122
3. WP OP Akan Meninggalkan
Indonesia Selama-lamanya 1121
4. Penggabungan Usaha 1032 1131 1132
5. Peleburan usaha atau
Pengambilalihan Usaha 1042 1141 1142
6. Pemecahan Usaha atau Pemekaran
Usaha 1052 1151 1152
7. SPT Tahunan PPh Rugi Tidak
Lebih Bayar 1072 1171 1172
8. SPT Lebih Bayar:
a. SPT Tahunan PPh Badan/OP
(All Taxes) 1081 1082 1181 1182
b. Masa PPN 2081 2082 2181 2182
9. Revaluasi Aktiva Tetap 1092 1191 1192
b. Kode Pemeriksaan Khusus berdasarkan Analisis Risiko Secara komputerisasi
No Kriteria Pemeriksaan Jenis Pemeriksaan
Pemeriksaan Kantor Pemeriksaan Lapangan
OP Badan OP Badan
1. WP Besar 1411 1412
2. WP Menengah 1421 1422
3. WP Kecil 1431 1432
c. Kode Pemeriksaan Khusus berdasarkan Analisis Risiko Secara Manual
No Kriteria Pemeriksaan Jenis Pemeriksaan
Pemeriksaan Pemeriksaan
Kantor Lapangan
OP Badan OP Badan
1. Terdapat data dan informasi yang
menunjukkan ketidakpatuhan WP 1911 1912
a. All Taxes 2911 2912
b. PPN 3911 3912
c. P2PPh 7911 7912
d. PPh Pasal 21/26 8911 8912
e. PPh Pasal 23/26 9911 9912
f. PPh Final 0911 0912
g. Beberapa Jenis Pajak
2. Analisis Risiko Secara Manual Selain
Karena Permintaan Wajib Pajak 1921 1922
3. Laporan dan Pengaduan Masyarakat
Hasil Analisis Direktorat Intelijen dan
Penyidikan 1931 1932
4. Analisis Risiko Secara Manual Karena
Permintaan Wajib Pajak 1941 1942
5. Laporan dan Pengaduan Masyarakat
Hasil Analisis Kanwil DJP 1951 1952
6. Terdapat data dan/atau informasi terkait
dengan Wajib Pajak Kriteria Tertentu
Pasal 17C UU KUP dan Wajib Pajak
Tertentu Pasal 17D UU KUP
a. All Taxes 1961 1962
b. PPN 2961 2962
7. Terdapat laporan dan/atau pengaduan
terkait dengan Wajib Pajak Kriteria
Tertentu Pasal 17C UU KUP dan Wajib
Pajak Tertentu Pasal 17D UU KUP
a. All Taxes 1981 1982
b. PPN 2981 2982
8. Pemeriksaan Khusus dalam rangka
Pemeriksaan Ulang
a. All Taxes 1991 1992
b. PPN 2991 2992
c. P2PPh 3991 3992
d. PPh Pasal 21/26 7991 7992
e. PPh Pasal 23/26 8991 8992
f. PPh Final 9991 9992
g. Beberapa Jenis Pajak 0991 0992
d. Kode Pemeriksaan Wajib Pajak Lokasi
Kode Pemeriksaan Wajib Pajak Lokasi disesuaikan dengan Kriteria Pemeriksaan
Wajib Pajak Domisili, namun digit pertama dari setiap kode pemeriksaan diganti
dengan angka 6.
Contoh :
a. Wajib Pajak badan Domisili diperiksa dalam rangka Pemeriksaan Rutin
- Pemeriksaan Lapangan Lebih Bayar (Kode 1182), maka kode pemeriksaan
WP Lokasi adalah 6182.
b. Wajib Pajak badan Domisili diperiksa dalam rangka Pemeriksaan Khusus
- Pemeriksaan Lapangan karena Pertimbangan Direktur Jenderal Pajak
(Kode 1922), maka kode pemeriksaan WP Lokasi adalah 6922.

Dengan berlakunya Surat Edaran ini, Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak nomor:
1. SE-10/PJ.04/2008 tentang Kebijakan Pemeriksaan untuk Menguji Kepatuhan Pemenuhan
Kewajiban Perpajakan dan

2. SE-120/PJ/2010 tentang Penjaminan Kualitas Pemeriksaan Khusus;

dicabut dan dinyatakan tidak berlaku lagi.

Demikian Surat Edaran ini disampaikan untuk dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 15 November 2011
DIREKTUR JENDERAL,

ttd.

A. FUAD RAHMANY
NIP 195411111981121001

Tembusan :

1. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak;

2. Para Direktur di Lingkungan Ditjen Pajak;

3. Para Tenaga Pengkaji di Lingkungan Ditjen Pajak;

4. Kepala Pusat Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan.

SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK


NOMOR SE - 80/PJ/2011

TENTANG

PENGANTAR PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER-31/PJ/2011


TENTANG PERCEPATAN PELAKSANAAN PEREKAMAN SURAT PEMBERITAHUAN
(SPT)

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Sehubungan dengan telah diterbitkannya Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-
31/PJ/2011 tentang Percepatan Pelaksanaan Perekaman Surat Pemberitahuan (SPT), dengan ini
disampaikan hal-hal sebagai berikut:
1. Peraturan dimaksud untuk menjadi pedoman dalam rangka percepatan pelaksanaan
perekaman SPT untuk mengatasi banyaknya SPT yang belum direkam dengan ketentuan
perekaman SPT harus diselesaikan paling lambat tanggal 30 September 2012;
2. SPT sebagaimana dimaksud pada angka 1 adalah SPT Tahunan Pajak Penghasilan termasuk
pembetulan SPT Tahunan Pajak Penghasilan dan SPT Masa termasuk pembetulan SPT Masa
dengan kriteria :

a. SPT Lengkap dan elemen SPT Induk dan Lampirannya belum seluruhnya direkam;

b. SPT Lengkap yang disampaikan sampai dengan 31 Desember 2011;

c. SPT yang pengolahannya tidak dilakukan oleh Pusat Pengolahan Data dan Dokumen
Perpajakan (PPDDP).

3. Kebutuhan dana untuk percepatan perekaman SPT agar mengoptimalkan anggaran dalam
Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) masing-masing Kantor Pelayanan Pajak (KPP).
Untuk tahun 2011, KPP segera melaksanakan pengadaan jasa Pihak Ketiga sesuai dengan
ketentuan mengenai Pengadaan Barang/Jasa untuk Pemerintah. Sedangkan untuk tahun
2012, KPP agar melaksanakan revisi DIPA tahun anggaran 2012 sesuai dengan ketentuan
yang berlaku untuk membiayai perekaman SPT melalui jasa Pihak Ketiga;
4. Kepala KPP menginventarisasi jumlah SPT yang belum direkam dan menetapkan target
penyelesaian perekaman SPT untuk tahun 2011 dan tahun 2012. Untuk tahun 2011,
penetapan target agar disesuaikan dengan dana yang tersedia dalam DIPA masing-masing
KPP. Sedangkan untuk tahun 2012, penetapan target didasarkan pada sisa jumlah SPT yang
belum selesai direkam di tahun 2011. Kepala KPP melaporkan kegiatan inventarisasi jumlah
SPT setiap 1 (satu) bulan sekali kepada Kepala Kantor Wilayah DJP. Tata Cara Persiapan
Percepatan Perekaman SPT adalah sebagaimana diatur dalam Lampiran I;
5. Kepala KPP menyiapkan sarana dan prasarana pendukung perekaman SPT secara optimal,
antara lain:

a. Area khusus perekaman di KPP dengan komputer yang terkoneksi dengan jaringan
komunikasi data dan dapat menjamin keamanan data. Dalam hal area khusus
perekaman tidak dapat disiapkan, KPP menyediakan area lain di KPP tersebut
sepanjang keamanan data tetap terjamin;

b. User Account Khusus perekaman untuk Tenaga Kerja Pihak Ketiga yang digunakan
selama masa percepatan pelaksanaan perekaman SPT;

c. Perangkat komputer yang akan dipergunakan dalam perekaman SPT. Apabila tidak
mencukupi, Kepala KPP agar mengoptimalkan perangkat komputer yang tersedia;

d. Akses terhadap Aplikasi SIPMOD atau SIDJP untuk Tenaga Kerja Pihak Ketiga
dengan mengacu pada Pedoman Akses Pihak Ketiga (Surat Edaran Direktur Jenderal
Pajak Nomor SE-159/PJ/2010 Tentang Pedoman Akses Pihak Ketiga);

e. Tanda pengenal Tenaga Kerja Pihak Ketiga.

6. KPP, Pihak Ketiga, dan Tenaga Kerja Pihak Ketiga wajib menandatangani Pakta Kewajiban
Menjaga Rahasia/Non Disclosure Agreement (NDA) sebagaimana diatur dalam Lampiran
II.1 dan Lampiran II.2;
7. Kepala KPP bertanggung jawab terhadap pengawasan kegiatan perekaman SPT oleh Pihak
Ketiga dan melaporkan kegiatan perekaman SPT setiap 1 (satu) bulan sekali kepada Kepala
Kantor Wilayah DJP. Tata Cara Perekaman SPT yang Dilakukan oleh Tenaga Kerja Pihak
Ketiga adalah sebagaimana diatur dalam Lampiran III;
8. Kepala Kantor Wilayah DJP melakukan pengawasan dan pemantauan serta melaporkan hasil
kegiatan tersebut setiap 1 (satu) bulan sekali kepada Direktur Potensi, Kepatuhan dan
Penerimaan. Tata Cara Pengawasan, Pemantauan dan Pelaporan atas Kegiatan Perekaman
SPT sebagaimana diatur dalam Lampiran IV;
9. Perekaman SPT yang disampaikan setelah tanggal 31 Desember 2011 mengacu pada
ketentuan sebagai berikut:

a. Atas SPT Tahunan, perekaman SPT mengacu pada Peraturan Direktur Jenderal Pajak
Nomor 19/PJ/2009 tentang Tata Cara Penerimaan Dan Pengolahan Surat
Pemberitahuan Tahunan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Direktur
Jenderal Pajak Nomor 1/PJ/2010;

b. Atas SPT Masa, perekaman SPT mengacu pada ketentuan yang berlaku.

10. Dalam pelaksanaan pengadaan jasa Pihak Ketiga, KPP agar memperhatikan hal-hal yang
diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak tersebut di atas dan Surat Edaran Direktur
Jenderal Pajak ini;
11. Formulir, Laporan, dan Buku yang dipergunakan dalam percepatan pelaksanaan perekaman
SPT adalah sebagaimana diatur dalam Lampiran V.

Demikian disampaikan untuk diketahui dan dilaksanakan sebaik-baiknya.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 31 Oktober 2011
DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

ttd.
A. FUAD RAHMANY
NIP 195411111981121001
SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
NOMOR : SE - 75/PJ/2011

TENTANG

PENYAMPAIAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 149/PMK.03/2011


TENTANG SENSUS PAJAK NASIONAL DAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL
PAJAK
NOMOR PER-30/PJ/2011 TENTANG PEDOMAN TEKNIS SENSUS PAJAK NASIONAL

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Sehubungan dengan telah diterbitkannya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 149/PMK.03/2011


tentang Sensus Pajak Nasional dan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-30/PJ/2011
tentang Pedoman Teknis Sensus Pajak Nasional, bersama ini kami sampaikan kedua peraturan
dimaksud untuk menjadi pedoman dalam rangka penyelenggaraan sensus pajak nasional.

Demikian untuk diketahui dan dilaksanakan sebaik-baiknya.

Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal 27 September 2011
Direktur Jenderal Pajak,

ttd.

A. Fuad Rahmany
NIP 195411111981121001
SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
NOMOR : SE - 69/PJ/2011

TENTANG

TATA CARA PELAKSANAAN IDENTIFIKASI (MATCHING)


NOMOR POKOK WAJIB PAJAK DAN NOMOR OBJEK PAJAK

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Dalam rangka mendukung program kerja penggalian potensi perpajakan melalui kegiatan
ekstensifikasi dan intensifikasi Wajib Pajak dan untuk menindaklanjuti salah satu strategic paper
crash program Direktorat Jenderal Pajak (DJP), diperlukan adanya basis data pajak yang
terintegrasi. Sehubungan dengan hal tersebut, perlu ditetapkan tata cara pengintegrasian antara
Nomor Pokok Wajib Pajak dan Nomor Objek Pajak melalui identifikasi (matching) antara
Nomor Pokok Wajib Pajak dan Nomor Objek Pajak dengan penjelasan sebagai berikut:

I. Pengertian Umum
Dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini, yang dimaksud dengan:

1. Nomor Objek Pajak Pajak Bumi dan Bangunan yang selanjutnya disebut NOP
adalah nomor identitas objek pajak Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), yang bersifat
unik, tetap, dan standar.

2. Nomor Pokok Wajib Pajak yang selanjutnya disebut NPWP adalah nomor yang
diberikan kepada Wajib Pajak sebagai sarana dalam administrasi perpajakan yang
dipergunakan sebagai tanda pengenal diri atau identitas Wajib Pajak dalam
melaksanakan hak dan kewajiban perpajakannya, yang terdiri dari 15 (lima belas)
digit, yaitu 9 (sembilan) digit pertama merupakan Kode Wajib Pajak dan 6 (enam)
digit berikutnya merupakan Kode Administrasi Perpajakan.

3. Identifikasi (matching) NPWP dan NOP adalah kegiatan menyandingkan atau


mencocokkan NPWP yang ada pada Master File Wajib Pajak dengan NOP
berdasarkan kriteria kesamaan tertentu.

4. Intensifikasi adalah upaya penggalian potensi pajak terhadap Wajib Pajak yang
sudah terdaftar pada Master File Wajib Pajak.

5. Ekstensifikasi adalah upaya yang dilakukan untuk menambah jumlah Wajib Pajak
terdaftar.

6. Standardisasi Penulisan adalah proses penyamaan struktur penulisan nama dan


alamat pada isian data yang akan diidentifikasi dengan Master File Wajib Pajak.

7. Penurunan data adalah proses mengunggah (upload) data hasil identifikasi


(matching) yang telah dilakukan oleh Direktorat Teknologi Informasi Perpajakan ke
portal DJP.

8. Verifikasi data adalah proses penelitian data di lapangan yang dilakukan oleh KPP
Pratama atas hasil penurunan data agar diperoleh data yang lebih akurat.

9. Perekaman data adalah kegiatan menginput data hasil verifikasi data ke dalam basis
data perpajakan.

10. Pemanfaatan data adalah kegiatan memanfaatkan data hasil identifikasi (matching)
melalui kegiatan intensifikasi maupun ekstensifikasi.

II. Maksud dan Tujuan


1. Identifikasi (matching) dimaksudkan untuk mendapatkan Master File Wajib Pajak
yang terintegrasi dengan data Objek Pajak.
2. Kegiatan ini bertujuan antara lain untuk:

a. perbaikan dan penyempurnaan basis data perpajakan Direktorat Jenderal Pajak;

b. pertukaran data internal Direktorat Jenderal Pajak;

c. pemanfaatan data melalui kegiatan intensifikasi dan ekstensifikasi.

III. Ruang Lingkup


Ruang lingkup pelaksanaan identifikasi (matching) meliputi:
1. Identifikasi (matching) terdiri dari beberapa proses berikut:

a. Standardisasi penulisan;

b. Pencocokan/Penyandingan;

c. Quality Assurance atas proses standardisasi penulisan dan


pencocokan/penyandingan;

d. Penurunan data;

e. Verifikasi data;

f. Perekaman data;

g. Pemanfaatan data; dan

h. Pengawasan dan pelaporan pelaksanaan kegiatan.

2. Identifikasi (matching) dilakukan oleh:


a. Direktorat Teknologi Informasi Perpajakan;

b. Kantor Wilayah DJP;

c. KPP Pratama.

3. Data Objek Pajak yang diprioritaskan untuk digunakan dalam identifikasi (matching)
meliputi data Objek Pajak untuk ketetapan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) di atas
Rp.500.000,- (buku 5, 4, 3).
4. Alur proses pelaksanaan kegiatan identifikasi (matching) ditetapkan sebagaimana
dalam Lampiran I Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini.
IV. Tata Cara Standardisasi Penulisan dan Pencocokan/penyandingan NOP dan NPWP
1. Pelaksanaan Identifikasi (matching) yang dilakukan Direktorat Teknologi Informasi
Perpajakan meliputi:

a. Standardisasi penulisan;

b. Pencocokkan/Penyandingan;

c. Quality Assurance atas proses standardisasi penulisan dan


pencocokan/penyandingan;

d. Penurunan data.

2. Standardisasi penulisan dilakukan sesuai dengan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak
Nomor SE-114/PJ/2010 tentang Pedoman Standardisasi Nama dan Alamat Wajib
Pajak/Subjek Pajak/Objek Pajak Dalam Basis Data Pajak Pada Direktorat Jenderal
Pajak.
3. Pencocokan/Penyandingan dilakukan berdasarkan kriteria kesamaan nama dan alamat
Wajib Pajak.
4. Tata cara pelaksanaan pencocokan/penyandingan NOP dan NPWP ditetapkan
sebagaimana dalam Lampiran II Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini.
5. Hasil proses pencocokan/penyandingan NOP dan NPWP terdiri atas:

a. Data NOP yang terindikasi NPWP Wajib Pajaknya;

b. Data NOP yang tidak terindikasi NPWP Wajib Pajaknya.

V. Tata Cara Penurunan Data

1. Direktorat Teknologi Informasi Perpajakan melakukan penurunan data sebagaimana


dimaksud dalam Romawi IV angka 5 yang disajikan di website intranet DJP (portal
DJP) sesuai wilayah kerja KPP Pratama.

2. Tata cara penurunan data hasil pencocokan/penyandingan NOP dan NPWP di


website intranet DJP (portal DJP) ditetapkan sebagaimana pada SOP KPDJP Nomor
KPJ24 - 0007 tentang Pengelolaan Portal DJP.

3. Direktorat Teknologi Informasi Perpajakan memberitahukan ke KPP Pratama


bahwa penurunan data telah dilakukan.

VI. Tata Cara Verifikasi Data Hasil Pencocokan/Penyandingan NOP dan NPWP
KPP Pratama melakukan verifikasi data atas penurunan data hasil
pencocokan/penyandingan NOP dan NPWP yang disampaikan Direktorat Teknologi
Informasi Perpajakan dengan penjelasan sebagai berikut:
1. Kegiatan verifikasi dilakukan oleh Seksi Ekstensifikasi Perpajakan dan Kantor
Pelayanan, Penyuluhan, dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP) di KPP Pratama.
2. Dalam melakukan kegiatan verifikasi, KPP Pratama dapat bekerjasama dengan
pihak pemerintah daerah atau pihak terkait lainnya.
3. Tata cara verifikasi data hasil pencocokan/penyandingan NOP dan NPWP
ditetapkan sebagaimana dalam Lampiran III Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini.
4. Hasil verifikasi terdiri dari:

a. Data NOP yang sudah teridentifikasi (matching) dengan NPWP-nya;

b. Data NOP yang belum ber-NPWP; dan

c. Data NOP yang sudah ber-NPWP tetapi NPWP-nya berbeda.

5. Terhadap data hasil verifikasi pada angka 4 huruf a dan c diatas selanjutnya
dilakukan perekaman dan/atau pemutakhiran data pada basis data SISMIOP untuk
melengkapi isian NPWP yang ada di dalam basis data SISMIOP sesuai dengan Surat
Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-100/PJ/2010 tentang Kebijakan Perubahan
Data SIDJP, SIPMOD dan SISMIOP.
6. Perekaman data atas hasil verifikasi dilakukan oleh Seksi Pengolahan Data dan
Informasi.
7. Terhadap data hasil verifikasi pada angka 4 huruf b, dapat ditindaklanjuti sebagai bahan
untuk kegiatan ekstensifikasi.
VII Pemanfaatan Data Hasil Identifikasi (Matching) NPWP dan NOP
Data hasil verifikasi lapangan yang telah disampaikan ke Direktorat Teknologi Informasi
Perpajakan akan disajikan kembali di portal DJP. Selanjutnya KPP Pratama dapat
memanfaatkan data tersebut untuk kegiatan intensifikasi Wajib Pajak dan kegiatan
ekstensifikasi Wajib Pajak dengan penjelasan sebagai berikut:
1. KPP Pratama melaksanakan intensifikasi terhadap Wajib Pajak yang teridentifikasi
(matching) NOP dengan NPWP-nya. Kegiatan intensifikasi tersebut mencakup
intensifikasi Subjek Pajak dan intensifikasi Objek Pajak.
2. KPP Pratama melaksanakan ekstensifikasi terhadap data NOP yang match dengan
Wajib Pajak yang belum ber-NPWP.
3. Direktorat Teknologi Informasi Perpajakan memanfaatkan data hasil verifikasi
lapangan dengan menyajikan dalam peta tematik Wajib Pajak yang berisi, antara lain:
a. Kondisi Geografis Kantor Pelayanan Pajak;

b. Kondisi jumlah penduduk, jumlah kepala keluarga, jumlah Wajib Pajak Orang
Pribadi terdaftar, jumlah kepala keluarga miskin, dan potensi Wajib Pajak
Orang Pribadi baru;

c. Objek pajak yang telah ber-NPWP dan objek pajak yang belum memiliki
NPWP; dan

d. Informasi NOP, NPWP dan profil WP.

4. Pembuatan peta tematik Wajib Pajak sebagaimana dimaksud pada angka 3 dilakukan
oleh Direktorat Transformasi Teknologi Komunikasi dan Informasi dan berkoordinasi
dengan Direktorat Teknologi Informasi Perpajakan.
5. KPP Pratama memanfaatkan peta untuk kepentingan intensifikasi dan ekstensifikasi.
Tata cara pemanfaatan data hasil identifikasi (matching) NPWP dan NOP mengacu
pada PER-45/PJ/2009 tentang Pedoman Administrasi Pembangunan, Pengelolaan, dan
Pengawasan Data (PAP3D).
VIII. Pengawasan dan Pelaporan Pelaksanaan Kegiatan Identifikasi (Matching)
Dalam rangka mewujudkan kinerja yang lebih terukur dan untuk kebutuhan evaluasi, perlu
ditetapkan teknis pengawasan pembuatan dan penyampaian laporan atas kegiatan
identifikasi (matching) dengan penjelasan sebagai berikut:

1. KPP Pratama melaporkan hasil verifikasi data identifikasi (matching) NPWP dan
NOP dalam bentuk hardcopy ke Kanwil DJP dengan tembusan Direktorat Teknologi
Informasi Perpajakan dan Direktorat Ekstensifikasi dan Penilaian, maupun dalam
bentuk softcopy dalam format excel melalui email: identifikasi.nop@pajak.go.id

2. Pelaporan kegiatan verifikasi dilaksanakan paling lambat tanggal 10 setiap bulan


setelah bulan pelaksanaan verifikasi data hasil pencocokan/penyandingan NOP dan
NPWP.

3. KPP Pratama melaporkan perkembangan peta kondisi wilayah, jumlah penduduk


dan jumlah WP Orang Pribadi yang terdaftar (sebagaimana lampiran IV) setiap
tahunnya sesuai dengan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak nomor SE-
20/PJ.22/1995 tanggal 4 Juli 1995 tentang Pedoman Pembuatan Monografi Fiskal
sebagaimana telah disempurnakan dengan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak
nomor SE-01/PJ.22/2003 tanggal 8 Agustus 2003.

4. Kanwil DJP bertugas untuk melakukan monitoring pelaksanaan verifikasi lapangan


dan memberikan bimbingan dan bantuan pelaksanaan kegiatan verifikasi lapangan.

5. Bentuk Surat Tugas Verifikasi Data Hasil Pencocokan/Penyandingan NOP dan


NPWP adalah sebagaimana ditetapkan pada Lampiran V Surat Edaran ini.
6. Bentuk Laporan Pelaksanaan Verifikasi Data Hasil Pencocokan/Penyandingan NOP
dan NPWP sebagaimana ditetapkan pada Lampiran VI Surat Edaran ini.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 26 Agustus 2011
Direktur Jenderal,

ttd.

A. Fuad Rahmany
NIP 195411111981121001

Tembusan :

1. Sekretaris Direktorat Jenderal;

2. Para Direktur dan Tenaga Pengkaji di lingkungan DJP;

3. Kepala Pusat Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan

SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK


NOMOR : SE - 67/PJ/2011

TENTANG
PENEGASAN ATAS PELAKSANAAN KETENTUAN DALAM SURAT EDARAN
DIREKTUR
JENDERAL PAJAK NOMOR SE-2/PJ/2011 TENTANG PETUNJUK TEKNIS TATA CARA
PENERIMAAN DAN PENGOLAHAN SURAT PEMBERITAHUAN TAHUNAN

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Dalam rangka meningkatkan efektifitas tata cara penerimaan dan pengolahan Surat
Pemberitahuan (SPT) Tahunan, dipandang perlu dilakukan penegasan atas pelaksanaan ketentuan
dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-2/PJ/2011 tentang Petunjuk Teknis Tata
Cara Penerimaan dan Pengolahan SPT Tahunan (SE-2/PJ/2011) sebagai berikut :

1. Sehubungan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) yang tertulis dalam amplop SPT Tahunan
tidak valid sehingga tidak dapat direkam pada aplikasi dropbox maka :
a. Kepala Kantor Pelayanan Pajak (KPP) menunjuk petugas yang bertugas membuka
amplop SPT Tahunan dengan NPWP tidak valid.
b. Petugas sebagaimana dimaksud huruf a melakukan penelusuran NPWP berdasarkan
SPT Tahunan dan lampiran-lampiran yang disampaikan oleh Wajib Pajak.
c. Setelah melakukan penelusuran, petugas memasukkan kembali SPT Tahunan dan
lampiran-lampiran ke dalam amplop SPT Tahunan, membubuhkan stempel pada amplop
SPT tahunan dengan format sebagaimana terdapat pada lampiran 1 dan membuat berita
acara pembukaan amplop SPT Tahunan dengan format sebagaimana terdapat pada
lampiran 2.
d. Jika berdasarkan penelusuran sebagaimana dimaksud huruf b ditemukan NPWP yang
valid maka dilakukan perekaman Tanda Terima SPT Tahunan pada aplikasi dropbox
dengan menggunakan NPWP yang valid. Proses-proses selanjutnya kembali mengacu
pada ketentuan dalam Lampiran II Angka Romawi I Huruf B angka 3, Huruf C, Huruf D
dan Huruf E dalam SE-2/PJ/2011.
e. Jika berdasarkan penelusuran sebagaimana dimaksud huruf b tidak ditemukan NPWP
yang valid maka dilakukan perekaman pada Menu Perekaman Tanda Terima SPT
Tahunan dengan NPWP tidak valid pada aplikasi dropbox, kemudian SPT Tahunan
dengan NPWP tidak valid tersebut disimpan di seksi pelayanan.
f. Data SPT Tahunan dengan NPWP tidak valid akan ditampilkan dalam Monitoring SPT
Tahunan dengan NPWP tidak valid sehingga KPP-KPP yang lain dapat melihat data
tersebut dan bisa menelusurinya.
g. Hal-hal yang harus dilakukan terhadap NPWP tidak valid sebagaimana dimaksud pada
huruf f adalah sebagai berikut :
1) Semua KPP wajib melakukan penelusuran lanjutan atas data Wajib Pajak
yang NPWP-nya tidak valid yang ditampilkan pada Monitoring SPT Tahunan dengan
NPWP Tidak Valid.
2) Jika berdasarkan penelusuran lanjutan sebagaimana dimaksud angka 1)
ditemukan NPWP yang valid maka KPP yang melakukan penelusuran lanjutan
memberitahukan hasil temuannya ke KPP Penerima SPT Tahunan dengan surat
pemberitahuan sebagaimana terdapat pada lampiran 3.
3) Setelah menerima surat pemberitahuan sebagaimana dimaksud angka 2),
KPP Penerima SPT Tahunan merekam surat pemberitahuan tersebut untuk meng-
update status NPWP tidak valid menjadi valid.
4) KPP Penerima SPT Tahunan melakukan proses selanjutnya dengan mengacu
pada ketentuan dalam Lampiran II Angka Romawi I Huruf B angka 3, Huruf C, Huruf
D dan Huruf E dalam SE-2/PJ/2011.
2. Sehubungan dengan SPT Tahunan yang diterima melalui pos, perusahaan jasa ekspedisi atau
jasa kurir maka :
a. Petugas menempelkan Tanda Terima SPT Tahunan pada amplop SPT Tahunan.
b. Penomoran Tanda Terima SPT Tahunan mengacu pada ketentuan dalam Romawi III
Angka 12 Huruf b dalam SE-2/PJ/2011, dimana kode unit penerima SPT Tahunan diisi
dengan angka 99.
c. Tanggal Tanda Terima SPT Tahunan diisi sesuai dengan :
1) tanggal stempel pos yang tercantum pada bukti pengiriman surat, dalam hal
SPT Tahunan disampaikan melalui pos dengan bukti pengiriman surat; atau
2) tanggal pengiriman yang tercantum pada bukti pengiriman surat, dalam hal
SPT Tahunan disampaikan melalui perusahaan jasa ekspedisi atau jasa kurir.
d. Petugas merekam Tanda Terima SPT Tahunan pada aplikasi dropbox.
e. Proses-proses selanjutnya tetap mengacu pada ketentuan dalam Lampiran II Angka
Romawi I Huruf B angka 3, Huruf C, Huruf D dan Huruf E dalam SE-2/PJ/2011.
3. Penyelesaian proses penerimaan atas SPT Tahunan yang diterima pada tahun 2010 yang
sudah dilakukan perekaman Tanda Terima SPT Tahunan pada aplikasi dropbox 2010
dilakukan dengan menggunakan aplikasi dropbox 2010.
4. SPT Tahunan yang diterima pada tahun 2009 dan tahun 2010 yang belum dilakukan
perekaman Tanda Terima SPT Tahunan, harus dilakukan perekaman Tanda Terima SPT
Tahunan pada aplikasi dropbox 2011.
5. Sehubungan dengan penerimaan SPT Tahunan Wajib Pajak KPP lain pada tahun 2011
sebelum diberlakukannya aplikasi dropbox 2011 pada tanggal 21 Februari 2011 maka :
a. Petugas melakukan perekaman Tanda Terima SPT Tahunan pada aplikasi dropbox 2011
untuk selanjutnya melakukan pengiriman SPT Tahunan.
b. Jika petugas terlanjur melakukan pengiriman SPT Tahunan dengan menggunakan
Surat Pengiriman dan Daftar Nominatif secara manual, maka :
1) Petugas harus merekam Tanda Terima SPT Tahunan pada aplikasi dropbox
2011 dengan berdasarkan Daftar Nominatif secara manual, kemudian menomori
Surat Pengiriman SPT Tahunan dan mencetak Daftar Nominatif SPT Tahunan melalui
aplikasi tersebut.
2) Petugas selanjutnya mengirimkan Surat Pengiriman SPT Tahunan dan Daftar
Nominatif SPT Tahunan sebagaimana dimaksud angka 1) kepada KPP tujuan
pengiriman SPT Tahunan.
3) KPP tujuan pengiriman SPT Tahunan melakukan validasi penerimaan SPT Tahunan.
4) KPP tujuan pengiriman SPT Tahunan melakukan proses-proses selanjutnya
dengan mengacu pada ketentuan dalam Lampiran II Angka Romawi I Huruf B angka
5, Huruf C, Huruf D dan Huruf E dalam SE-2/PJ/2011.
6. Sehubungan dengan penerimaan SPT Tahunan Wajib Pajak KPP sendiri pada tahun 2011
sebelum diberlakukannya aplikasi dropbox 2011 pada tanggal 21 Februari 2011 maka :

a. Petugas melakukan perekaman Tanda Terima SPT Tahunan pada aplikasi dropbox
2011 untuk selanjutnya melakukan penelitian SPT Tahunan.
b. Jika petugas terlanjur melakukan pencetakan Lembar Pengawasan Arus Dokumen
(LPAD) serta Bukti Penerimaan Surat (BPS) maka KPP mengirimkan rekapitulasi data
pencetakan LPAD serta BPS dalam file excel dengan format sebagaimana terdapat
pada lampiran 4 ke Direktorat Teknologi Informasi Perpajakan melalui alamat email
layanan.dropbox@pajak.go.id.

c. Setelah menerima rekapitulasi data pencetakan LPAD serta BPS sebagaimana


dimaksud angka 2), Direktorat Teknologi Informasi Perpajakan melakukan upload
data pencetakan LPAD serta BPS ke dalam aplikasi monitoring dropbox 2011.

7. Sesuai dengan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-1/PJ/2010 setiap mulai tanggal
1 Januari, penomoran Tanda Terima SPT Tahunan dimulai kembali dari nomor urut 1. Dalam
hal pada awal Januari petugas terlanjur memberikan Tanda Terima SPT Tahunan dengan
penomoran lanjutan atas nomor Tanda Terima SPT Tahunan pada tahun sebelumnya maka
nomor Tanda Terima SPT Tahunan yang terlanjur diberikan pada awal Januari tersebut tidak
boleh lagi diberikan kepada Wajib Pajak untuk penerimaan SPT Tahunan pada tahun yang
bersangkutan.

Para Kepala Kantor Wilayah agar mengawasi pelaksanaan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak
tersebut di atas dan agar melakukan sosialisasi kepada para Wajib Pajak di lingkungan wilayah
kerja masing-masing.

Demikian untuk diketahui dan dilaksanakan sebaik-baiknya.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 26 Agustus 2011
Direktur Jenderal,

ttd

A. Fuad Rahmany
NIP 195411111981121001

Tembusan :

1. Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak;

2. Para Direktur dan Tenaga Pengkaji di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak;

3. Kepala Pusat Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan.


SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
NOMOR : SE - 40/PJ/2011

TENTANG

TATA CARA PENERIMAAN DAN PENGEMASAN SURAT PEMBERITAHUAN (SPT)


DI KANTOR PELAYANAN PAJAK (KPP) BERKENAAN DENGAN PENGOLAHAN SPT
DI PUSAT PENGOLAHAN DATA DAN DOKUMEN PERPAJAKAN (PPDDP)

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Dalam rangka mendukung pengembangan dan perbaikan proses penerimaan dan pengolahan
SPT yang lebih terotomasi serta meningkatkan keberhasilan pengolahan SPT pada PPDDP,
dengan ini disampaikan hal-hal sebagai berikut :

I. Pengertian dan Ketentuan Umum


Dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini ditetapkan tentang pengertian dan ketentuan
umum dengan penjelasan sebagai berikut :

1. Kantor Pelayanan Pajak yang selanjutnya disebut KPP adalah Kantor Pelayanan
Pajak yang masuk dalam wilayah kerja maupun wilayah uji coba PPDDP sesuai
dengan tahapan implementasi.

2. Surat Pemberitahuan yang selanjutnya disebut SPT meliputi SPT Masa PPN, SPT
Tahunan PPh OP 1770, SPT Tahunan PPh OP 1770 S dan SPT Tahunan PPh OP 1770
SS yang dilakukan proses penerimaan dan pengemasan oleh KPP dan harus
disampaikan ke PPDDP.

3. Penelitian SPT adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk menilai


kelengkapan pengisian SPT dan lampiran-lampirannya termasuk penilaian tentang
kebenaran penulisan dan penghitungannya sesuai dengan peraturan perundang-
undangan perpajakan.

4. Penerimaan SPT adalah serangkaian kegiatan untuk menerima SPT yang


disampaikan Wajib Pajak, menerbitkan Lembar Pengawasan Arus Dokumen (LPAD)
dan Bukti Penerimaan Surat (BPS), meneliti kesesuaian data antara SPT dengan
LPAD serta menyatukannya.

5. Pengemasan SPT adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh Petugas


pengemas untuk menghitung kembali jumlah lembar SPT, menempel label barcode
pada LPAD, merekam nomor LPAD, dan memindai label barcode dengan barcode
reader dan memasukkan SPT beserta LPAD yang sesuai ke dalam kemasan (box)
serta membuat Daftar Isi Kemasan dengan menggunakan Aplikasi Pengemasan.

6. KPP harus melakukan penelitian, penerimaan, pengemasan, dan penyampaian


kemasan ke PPDDP atau pengambilan kemasan oleh PPDDP atas SPT yang
ditentukan untuk dilakukan pengolahan di PPDDP.
7. KPP harus melakukan pengemasan dalam jangka waktu paling lambat 10 (sepuluh)
hari kerja untuk SPT masa PPN dan 30 (tiga puluh) hari kerja untuk SPT Tahunan
PPh sejak tanggal terima pada BPS/LPAD.

8. KPP tidak diperkenankan untuk melakukan perekaman atas SPT sebagaimana


dimaksud dalam angka romawi I huruf a dan b, kecuali untuk SPT Lebih Bayar
(restitusi).

II. Tata Cara Penelitian, Penerimaan, dan Pengemasan SPT


Dalam rangka mendapatkan SPT yang lengkap dan tertib administrasi serta dapat diolah di
PPDDP dengan keakurasian yang tinggi perlu ditetapkan petunjuk teknis tata cara penelitian,
penerimaan, dan pengemasan SPT dengan penjelasan sebagai berikut :
1. Untuk SPT Masa PPN
a. Tata cara penelitian dan penerimaan SPT Masa PPN, wajib dilaksanakan
sebagaimana ditetapkan dalam lampiran I Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini;
b. Format Lembar Penelitian SPT Masa PPN ditetapkan sebagaimana dalam Lampiran
II Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini;
c. SPT Masa PPN yang disampaikan langsung, sebelum mencetak BPS/LPAD Petugas
TPT wajib melakukan konfirmasi kepada Wajib Pajak untuk memastikan kesesuaian
antara elemen-elemen BPS/LPAD yang akan dicetak dengan SPT-nya yang
meliputi :
1) NPWP
2) Nama
3) Masa Pajak
4) Status pembetulan
d. SPT Masa PPN yang disampaikan tidak langsung, sebelum mencetak BPS/LPAD
Petugas TPT wajib memastikan kesesuaian antara elemen-elemen BPS/LPAD yang
akan dicetak dengan SPT-nya yang meliputi :
1) NPWP
2) Nama
3) Masa Pajak
4) Status pembetulan
2. Untuk SPT Tahunan PPh Orang Pribadi
a. Tata cara penelitian dan penerimaan SPT Tahunan PPh OP 1770, SPT Tahunan PPh
OP 1770 S dan SPT Tahunan PPh OP 1770 SS wajib dilaksanakan sebagaimana
ditetapkan pada :
1) Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-19/PJ/2009 sebagaimana
telah diubah dengan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-1/PJ/2010
tanggal 12 Januari 2010 tentang Tata Cara Penerimaan dan Pengolahan
Surat Pemberitahuan Tahunan;
2) Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-2/PJ/2011 tanggal 10
Januari 2011 tentang Petunjuk Teknis Tata Cara Penerimaan dan Pengolahan
Surat Pemberitahuan Tahunan.
b. Sebelum mencetak BPS/LPAD Petugas TPT wajib memastikan kesesuaian
antara elemen-elemen BPS/LPAD yang akan dicetak dengan SPT-nya yang
meliputi :
1) NPWP
2) Nama
3) Jenis SPT
4) Tahun Pajak
5) Status pembetulan
3. Terhadap SPT yang sudah dilakukan penelitian dan penerimaan harus dilakukan
proses pengemasan oleh KPP;
4. Tata Cara Pengemasan SPT dilaksanakan sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran III
Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini;
5. Terhadap SPT yang telah dikemas, dilakukan pengiriman kemasan ke PPDDP
atau pengambilan kemasan oleh PPDDP;
6. Tata cara pengambilan kemasan SPT oleh PPDDP dilakukan sesuai dengan SOP PPDDP
Nomor DPC21 - 0003 tentang Tata Cara Pengambilan Kemasan dari KPP;
7. Tata Cara Pengiriman Kemasan SPT oleh KPP ke PPDDP ditetapkan lebih lanjut dalam
Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak tersendiri.
III. Penyelenggaraan Kelas Pengisian Bersama SPT
KPP menyelenggarakan Kelas Pengisian Bersama SPT, khususnya bagi Wajib Pajak yang
belum memahami pengisian SPT tersebut. Kegiatan ini merupakan bagian dari penyuluhan
yang dilakukan oleh KPP. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penyelenggaraannya adalah
sebagai berikut :
1. Penyelenggaraannya harus dilaksanakan dengan cara :

a. Sederhana, materi penyuluhan disusun dengan sistematika yang sederhana


sehingga mudah dipahami dan mengesankan kepada Wajib Pajak bahwa
pengisian SPT merupakan sesuatu hal yang mudah dilakukan;

b. Komunikatif, penyampaian materi dilakukan dengan menarik dan mudah


dipahami sesuai dengan karakteristik peserta, misalnya dengan menggunakan
simulasi atau mengisi SPT bersama;

c. Interaktif, peserta dapat terlibat langsung, melakukan tanya jawab, atau


berinteraksi secara langsung dengan mengisi SPT-nya masing-masing dengan
dibimbing oleh petugas pajak.

2. Penyelenggaraan Kelas Pengisian Bersama SPT dilakukan sebelum jatuh tempo


penyampaian SPT, sehingga Wajib Pajak dapat langsung menyampaikan SPT tersebut
setelah selesai mengikuti kegiatan Kelas Pengisian Bersama SPT.
3. Dalam surat undangan yang disampaikan kepada Wajib Pajak, agar diinformasikan
bahwa Wajib Pajak diminta untuk membawa dokumen/data/catatan yang dibutuhkan
untuk melakukan pengisian SPT pada saat mengikuti Kelas Pengisian Bersama SPT.
4. Untuk menampung Wajib Pajak lainnya yang tidak menerima surat undangan namun
berminat mengikuti sosialisasi, diinstruksikan agar KPP memasang pengumuman
terbuka perihal "Penyelenggaraan Kelas Pengisian Bersama SPT" guna memberikan
kesempatan bagi mereka untuk mengikuti kelas tersebut.
5. Tata cara penyelenggaraan Kelas Pengisian Bersama SPT dilaksanakan
sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran IV Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini.
IV. Koordinasi antar unit organisasi terkait
Sebagai upaya untuk mendukung kelancaran pelaksanaan Surat Edaran Direktur Jenderal
Pajak ini, perlu pengaturan dan koordinasi pada unit organisasi terkait dengan penjelasan
sebagai berikut :
1. Kepala PPDDP berkoordinasi dengan Kepala Kantor Wilayah DJP dalam rangka
mengawasi pelaksanaan penelitian, penerimaan dan pengemasan SPT serta dapat
membantu kelancaran kegiatan-kegiatan tersebut dari KPP dalam wilayah kerjanya
sehingga SPT tersebut dapat diproses secara sistematis pada aplikasi PPDDP.
2. Kepala Kantor Wilayah DJP wajib mengawasi pelaksanaan kegiatan Kelas Pengisian
Bersama SPT serta memastikan kegiatan-kegiatan tersebut berlangsung dengan baik di
KPP dalam wilayah kerjanya sehingga SPT tersebut dapat diproses secara sistematis di
PPDDP.
3. Kepala Kantor Wilayah DJP menunjuk salah seorang Kepala Bidang sebagai
penanggung jawab kegiatan.
4. Kepala Bidang Penerimaan dan Penyimpanan Dokumen pada PPDDP berkoordinasi
secara berkala dengan Kepala KPP dan salah satu Kepala Bidang yang diberi tugas oleh
Kepala Kanwil DJP sebagai penanggung jawab untuk menyelesaikan masalah yang ada,
agar seluruh SPT dapat diproses secara sistematis di PPDDP.
5. Para Kepala KPP diminta agar memperhatikan dengan sungguh-sungguh Surat Edaran
ini, serta dapat mensosialisasikan kepada jajaran di bawahnya dengan sebaik-baiknya.
V. Ketentuan Peralihan
Berkenaan dengan adanya Wajib Pajak yang berpotensi untuk menyampaikan SPT Masa
PPN 1108 serta penanganan SPT Tahunan PPh OP yang menggunakan aplikasi drop box,
perlu dibuat ketentuan peralihan dengan penjelasan sebagai berikut :

1. Surat Edaran Dirjen Pajak Nomor SE-64/PJ/2008 tanggal 4 Nopember 2008 tentang
Tata Cara Pengolahan dan Penerimaan SPT Masa PPN 1108 di Kantor Pelayanan
Pajak dan Pusat Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan dinyatakan tidak
berlaku;

2. Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-2/PJ/2011 tanggal 10 Januari 2011
tentang Petunjuk Teksnis Tata Cara Penerimaan dan Pengolahan Surat Pemberitahuan
Tahunan tetap berlaku untuk SPT Tahunan PPh OP sepanjang tidak bertentangan
dengan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak ini.

Demikian agar Saudara dapat melaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal 06 Juni 2011
Direktur Jenderal,

ttd.
A. FUAD RAHMANY
NIP 195411111981121001

Tembusan :

1. Sekretaris Direktur Jenderal;

2. Para Direktur dan Tenaga Pengkaji di Lingkungan DJP;

3. Kepala Pusat Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan.

SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK


NOMOR : SE - 33/PJ/2011

TENTANG

PEMBERITAHUAN BERLAKUNYA PERSETUJUAN PENGHINDARAN PAJAK


BERGANDA
(P3B) ANTARA REPUBLIK INDONESIA DAN REPUBLIK ISLAM IRAN

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Sehubungan dengan telah diterimanya pemberitahuan pertukaran nota ratifikasi Persetujuan


Penghindaran Pajak Berganda antara Republik Indonesia dan Republik Islam Iran, dengan ini
disampaikan hal-hal sebagai berikut :
1. Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda antara Republik Indonesia dan Republik Islam Iran
(P3B RI-Iran) telah diratifikasi oleh Pemerintah Republik Indonesia dengan Peraturan
Presiden Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2006 tanggal 11 Mei 2006. Pemerintah
Republik Islam Iran telah mengirimkan pemberitahuan ratifikasi P3B kepada Pemerintah
Republik Indonesia melalui Nota Diplomatik Nomor 200-1-1316 tanggal 13 Oktober 2008.
Selanjutnya, Pemerintah Republik Indonesia telah mempertukarkan Piagam Pengesahan
kepada Kedutaan Besar Iran di Jakarta melalui Nota Diplomatik Nomor D/03220/11/2010/60
tanggal 25 November 2010.
2. Sesuai dengan ketentuan Pasal 27 P3B RI-Iran, maka ketentuan-ketentuan dalam P3B
tersebut berlaku secara efektif:

a. sehubungan dengan penghasilan yang dipotong/dipungut pajaknya di negara sumber


atas penghasilan yang diterima atau diperoleh, pada atau setelah tanggal 1 Januari
2011; dan

b. sehubungan dengan pajak atas penghasilan lainnya, sejak tahun pajak yang dimulai
pada atau setelah tanggal 1 Januari 2011.

3. Hal pokok yang diatur dalam P3B RI-Iran antara lain adalah hak pemajakan oleh negara yang
menjadi sumber penghasilan dengan batasan tarif tertentu, sebagai berikut :
a. tarif untuk dividen yang diterima/diperoleh oleh beneficial owner yang merupakan
penduduk Republik Islam Iran adalah 7% (tujuh persen) dari jumlah bruto dividen;

b. tarif untuk bunga yang diterima/diperoleh oleh beneficial owner yang merupakan
penduduk Republik Islam Iran adalah 10% (sepuluh persen) dari jumlah bruto bunga;

c. tarif untuk royalti yang diterima/diperoleh oleh beneficial owner yang merupakan
penduduk Republik Islam Iran adalah 12% (dua belas persen) dari jumlah bruto
royalti;

d. tarif untuk branch profit tax adalah 7% (tujuh persen) dari jumlah laba Bentuk Usaha
Tetap setelah dikurangi pajak penghasilan.

4. Apabila wajib pajak dalam negeri Republik Islam Iran selaku penerima penghasilan berupa
dividen, bunga, atau royalti bukanlah beneficial owner, maka atas penghasilan dimaksud
dipotong pajak penghasilan dengan tarif 20%.
5. Penduduk yang dapat memanfaatkan P3B RI-Iran adalah penduduk dari Republik Indonesia
atau Republik Islam Iran yang dibuktikan dengan Surat Keterangan Domisili sesuai ketentuan
yang berlaku.
Demikian untuk mendapat perhatian Saudara dan dilaksanakan sebagaimana mestinya.

Direktur Jenderal,

ttd.

A.Fuad Rahmany
NIP 195411111981121001

Tembusan :

1. Sekretaris Jenderal Kementerian Keuangan;

2. Inspektur Jenderal Kementerian Keuangan;

3. Kepala Biro Hukum dan Humas Kementerian Keuangan;

4. Sekretaris DJP, para Direktur dan Tenaga Pengkaji di lingkungan DJP;

5. Kepala Pusat Pengolahan Data dan Dokumen Perpajakan DJP.


SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK
NOMOR : SE - 22/PJ/2011

TENTANG

PETUNJUK PELAKSANAAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK


NOMOR PER-7/PJ/2011 TENTANG TATA CARA PENGEMBALIAN KELEBIHAN
PEMBAYARAN PAJAK

DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Dalam rangka pelaksanaan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-7/PJ/2011 tentang
Tata Cara Pengembalian Kelebihan Pembayaran Pajak, dengan ini perlu disampaikan hal-hal
sebagai berikut:

A. Pendahuluan
Pengembalian kelebihan pembayaran pajak sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri
Keuangan Nomor 16/PMK.03/2011 tentang Tata Cara Penghitungan dan Pengembalian
Kelebihan Pembayaran Pajak meliputi jenis pajak PPh, PPN, PPnBM, dan PBB. Hal ini dalam
rangka peningkatan pelayanan kepada Wajib Pajak dan pengamanan penerimaan negara
melalui integrasi pelayanan pengembalian kelebihan pajak dan penghitungan kelebihan
pembayaran pajak dengan Utang Pajak. Selain itu, untuk tertib administrasi penerimaan
negara, pembayaran Utang Pajak yang dananya berasal dari kelebihan pembayaran pajak
dicatat dalam Modul Penerimaan Negara.
B. Pengembalian Kelebihan Pembayaran Pajak
1. Dalam rangka pelaksanaan pengembalian kelebihan pembayaran pajak dan penghitungan
kelebihan pembayaran pajak dengan Utang Pajak, Kepala Kantor Pelayanan Pajak (KPP)
menerbitkan Surat Keputusan Pengembalian Kelebihan Pembayaran Pajak (SKPKPP),
Surat Perintah Membayar Kelebihan Pajak (SPMKP), dan surat setoran (SSP atau SSP
PBB) dalam hal terdapat kompensasi Utang Pajak.
2. Kelebihan pembayaran pajak diperhitungkan terlebih dahulu dengan Utang Pajak (PPh,
PPN, PPnBM, dan PBB) di KPP Domisili dan/atau KPP Lokasi setelah dilakukan
konfirmasi Utang Pajak. Dalam hal tidak ada Utang Pajak, seluruh kelebihan pembayaran
pajak dikembalikan kepada Wajib Pajak.
3. Petugas KPP membuat Konsep SPMKP (satu rangkap) berdasarkan SKPKPP dalam
sistem informasi perpajakan dengan penomoran sebagai berikut: XXX-XXXX-XXXX
untuk direkam dalam Aplikasi SPM, dengan ketentuan:

a. 3 (tiga) digit pertama merupakan kode KPP;

b. 4 (empat) digit kedua merupakan nomor urut SPMKP yang dimulai dengan nomor
0001, 0002, 0003, dan seterusnya;

c. 4 (empat) digit terakhir merupakan tahun penerbitan SPMKP.

Setelah mencetak SPMKP (empat rangkap) dari Aplikasi SPM, petugas KPP merekam
nomor SPMKP yang dicetak ke dalam sistem informasi perpajakan dan menyampaikan
SPMKP beserta SKPKPP, Konsep SPMKP, dan surat setoran (dalam hal terdapat
kompensasi Utang Pajak) kepada Kepala KPP.
4. Kepala KPP menandatangani SPMKP, SKPKPP, dan Konsep SPMKP. Dalam hal terdapat
SSP untuk kompensasi Utang Pajak melalui transfer pembayaran dan/atau SSP PBB atas
kompensasi utang PBB pada KPP sendiri, Kepala KPP menandatangani SSP dan/atau SSP
PBB.
5. SPMKP diterbitkan sejumlah nilai bruto pengembalian kelebihan pembayaran pajak untuk
dikembalikan kepada Wajib Pajak dan/atau kompensasi Utang Pajak.
6. Dalam hal SPMKP telah diterbitkan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) oleh KPPN,
Petugas KPP merekam nomor SP2D dalam sistem informasi perpajakan.
7. Dalam hal pengembalian kelebihan pembayaran PBB, SKKP PBB atau Penghitungan
Lebih Bayar PBB terlebih dahulu direkam dalam sistem informasi perpajakan.
C. Konfirmasi Utang Pajak
1. Kelebihan pembayaran pajak diperhitungkan dengan Utang Pajak dengan urutan prioritas
sebagai berikut:

a. Utang Pajak yang mendekati tanggal daluwarsa penagihan;

b. Utang Pajak yang bernilai paling besar;

c. Utang Pajak yang dikompensasikan melalui potongan SPMKP.

Misalnya dalam hal terdapat 5 (lima) Utang Pajak sebagai berikut:


Nominal
No Utang Pajak Daluarsa Penagihan
(Rp)
1 SKPKB PPh 10 juta 31/08/2012
2 SKPKB PPN 9 juta 30/09/2011
3 SKPKB PPh Ps. 23 8 juta 31/08/2011
4 SPPT PBB 9 juta 31/08/2011
5 SPPT PBB 10 juta 31/08/2012
Urutan prioritas Utang Pajak yang diperhitungkan adalah 4, 3, 2, 1, dan 5.
2. Permintaan konfirmasi Utang Pajak ditujukan ke internal KPP dan ke KPP lain.
3. Permintaan konfirmasi Utang Pajak untuk internal KPP dilakukan ke Seksi Penagihan
(utang PPh, PPN, PPnBM, dan PBB). Jawaban konfirmasi Utang Pajak disampaikan oleh
Seksi Penagihan dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) hari kerja sejak permintaan
konfirmasi Utang Pajak diterima.
4. KPP mengirimkan permintaan konfirmasi Utang Pajak ke KPP lain melalui pos dan
faksimili, dan memastikan faksimili tersebut telah diterima oleh KPP yang dituju serta
mengarsipkan struk tanda pengiriman faksimili.
5. KPP tujuan konfirmasi mengirimkan jawaban konfirmasi Utang Pajak melalui pos dan
faksimili, dan memastikan faksimili tersebut telah diterima oleh KPP yang menerbitkan
SPMKP dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) hari kerja sejak faksimili permintaan
konfirmasi Utang Pajak diterima, serta mengarsipkan struk tanda pengiriman faksimili.
6. Dalam hal jangka waktu sebagaimana dimaksud pada angka 4 tidak dipenuhi oleh KPP
tujuan konfirmasi, KPP dapat melanjutkan proses pengembalian kelebihan pembayaran
pajak tanpa menunggu jawaban konfirmasi Utang Pajak.
7. Dalam hal Utang Pajak tercantum dalam SPPT PBB, jawaban konfirmasi Utang Pajak
mencantumkan jumlah yang tercantum dalam SPPT PBB dan tanggal jatuh tempo
pembayaran.
8. Utang PBB yang tercantum dalam SPPT diperhitungkan beserta denda administrasi Pasal
11 ayat (3) Undang-Undang PBB.
9. Atas permohonan Wajib Pajak, kelebihan pembayaran pajak dapat diperhitungkan dengan
pajak yang akan terutang (misalnya PPh Pasal 25) atau Utang Pajak atas nama