Anda di halaman 1dari 7

Daftar Pustaka

Agustina, Hesti. 12 Maret 2013. Laporan Praktikum Kemasan Plastik, (Online).


(https://hestcassie.wordpress.com/2013/03/12/laporan-praktikum-kemasan-plastik/
diakses 11 Juni 2016).

Pengertian umum dari kemasan adalah suatu benda yang digunakan untuk wadah atau tempat
dan dapat memberikan perlindungan sesuai dengan tujuannya. Adanya kemasan dapat
membantu mencegah/mengurangi kerusakkan, melindungi bahan yang ada di dalamnya dari
pencemaran serta gangguan fisik seperti gesekan, benturan atau getaran. Dari segi promosi
kemasan dapat berfungsi sebagai perangsang atau daya tarik pembeli (Esti, 2007).

Plastik adalah salah satu bahan yang dapat kita temui di hampir setiap barang. Mulai dari
botol minum, TV, kulkas, pipa pralon, plastik laminating, gigi palsu, compact disk (CD),
kutex (pembersih kuku), mobil, mesin, alat-alat militer hingga pestisida. Oleh karena itu kita
bisa hampir dipastikan pernah menggunakan dan memiliki barang-barang yang mengandung
Bisphenol-A. Salah satu barang yang memakai plastik dan mengandung Bisphenol A adalah
industri makanan dan minuman sebagai tempat penyimpan makanan, plastik penutup
makanan, botol air mineral, dan botol bayi walaupun sekarang sudah ada botol bayi dan
penyimpan makanan yang tidak mengandung Bisphenol A sehingga aman untuk dipakai
makan. Satu tes membuktikan 95% orang pernah memakai barang mengandung Bisphenol-A
(Rachmawan, 2001).

Plastik dipakai karena ringan, tidak mudah pecah, dan murah. Akan tetapi plastik juga
beresiko terhadap lingkungan dan kesehatan keluarga kita. Oleh karena itu kita harus
mengerti plastik-plastik yang aman untuk kita pakai. Jenis-jenis plastik yaitu sebagai berikut :

1. PETE atau PET (polyethylene terephthalate) biasa dipakai untuk botol plastik yang
jernih/transparan/tembus pandang seperti botol air mineral, botol jus, dan hampir semua botol
minuman lainnya. Botol-botol dengan bahan 1 dan 2 direkomendasikan hanya untuk sekali
pakai. Jangan pakai untuk air hangat apalagi panas. Buang botol yang sudah lama atau
terlihat baret-baret.

2. HDPE (high density polyethylene) biasa dipakai untuk botol susu yang berwarna putih
susu. Sama seperti 1 PET, 2 juga direkomendasikan hanya untuk sekali pemakaian.

3. V atau PVC (polyvinyl chloride) adalah plastik yang paling sulit di daur ulang. Plastik ini
bisa ditemukan pada plastik pembungkus (cling wrap), dan botol-botol. Kandungan dari PVC
yaitu DEHA yang terdapat pada plastik pembungkus dapat bocor dan masuk ke makanan
berminyak bila dipanaskan. PVC berpotensi berbahaya untuk ginjal, hati dan berat badan.
4. LDPE (low density polyethylene) biasa dipakai untuk tempat makanan dan botol-botol
yang lembek. Barang-barang dengan kode 4 dapat di daur ulang dan baik untuk barang-
barang yang memerlukan fleksibilitas tetapi kuat. Barang dengan 4 bisa dibilang tidak dapat
di hancurkan tetapi tetap baik untuk tempat makanan.

5. PP (polypropylene) adalah pilihan terbaik untuk bahan plastik terutama untuk yang
berhubungan dengan makanan dan minuman seperti tempat menyimpan makanan, botol
minum dan terpenting botol minum untuk bayi. Karakteristik adalah biasa botol transparan
yang tidak jernih atau berawan. Cari simbol ini bila membeli barang berbahan plastik.

6. PS (polystyrene) biasa dipakai sebagai bahan tempat makan styrofoam, tempat minum
sekali pakai, dll. Bahan Polystyrene bisa membocorkan bahan styrine ke dalam makanan
ketika makanan tersebut bersentuhan. Bahan Styrine berbahaya untuk otak dan sistem syaraf.
Selain tempat makanan, styrine juga bisa didapatkan dari asap rokok, asap kendaraan dan
bahan konstruksi gedung. Bahan ini harus dihindari dan banyak negara bagian di Amerika
sudah melarang pemakaian tempat makanan berbahan styrofoam termasuk negara China.

7. Other (biasanya polycarbonate) bisa didapatkan di tempat makanan dan minuman seperti
botol minum olahraga. Polycarbonate bisa mengeluarkan bahan utamanya yaitu Bisphenol-A
ke dalam makanan dan minuman yang berpotensi merusak sistem hormon. Hindari bahan
plastik Polycarbonate (Millati, 2010).

Dapat mengeluarkan bahan utamanya yaitu Bisphenol-A ke dalam makanan dan minuman
yang berpotensi merusak sistem hormon, kromosom pada ovarium, penurunan produksi
sperma, dan mengubah fungsi imunitas. Dianjurkan tidak digunakan untuk tempat makanan
ataupun minuman. Ironisnya botol susu sangat mungkin mengalami proses pemanasan, entah
itu untuk tujuan sterilisasi dengan cara merebus, dipanaskan dengan microwave, atau dituangi
air mendidih atau air panas (Syarif, 1989).

Plastik mempunyai berbagai sifat yang menguntungkan, diantaranya:

a. Umumnya kuat namun ringan.

b. Secara kimia stabil (tidak bereaksi dengan udara, air, asam, alkali dan berbagai zat kimia
lain).

c. Merupakan isolator listrik yang baik.

d. Mudah dibentuk, khusunya dipanaskan.


e. Biasanya transparan dan jernih.

f. Dapat diwarnai.

g. Fleksibel/plastis

h. Dapat dijahit.

i. Harganya relatif murah (Syarif, 1989).

Saat ini banyak sekali ditemukan kemasan dengan berbagai bahan, tetapi pada umumnya
kemasan yang digunakan untuk benih tanaman pangan khususnya kedelai berupa
plastikpolyetheline dengan ketebalan bervariasi antara 0,05 0,08 mm. Bahan ini biasanya
berciri lentur (elastis), buram (tidak bening) dan tidak kaku sehingga diharapkan tidak mudah
pecah saat benih dalam kemasan tersebut ditransportasikan serta dapat mempertahankan mutu
benih yang ada didalamnya. Lombok Barat yang merupakan daerah sentra produksi kedelai
di Nusa Tenggara Barat, menggunakan jenis kemasan yang lebih kreatif lagi yaitu
plastik polyethelineberlapis kertas semen didalamnya sehingga lebih menjamin keamanan
benih baik dari segi mutu maupun transportasi (Herni, 2006).

Daftar Pustaka
Yahtadi, Yusron Angga. 20 Desember 2013. Laporan Pengemasan Mengenai Plastik,
(Online). (http://angga-y.blogspot.co.id/2013/12/laporan-pengemasan-mengenai-
plastik.html diakses 11 Juni 2016).
Plastik merupakan senyawa polimer tinggi yang dicetak dalam lembaran-lembaran dan
mempunyai ketebalan yang berbeda-beda. Plastik dibuat dari resin baik alami atau sintetik
yang tersusun dari banyak monomer, yaitu rantai paling pendek, sehingga terbentuk suatu
polimer. Plastik dapat diklasifikasikan menjadi 2 jenis berdasarkan struktur kimianya, yaitu
liniar bila monomer membentuk rantai polimer yang lurus, dan jaringan tiga dimensi bila
monomer berbentuk 3dimensi akibat polimerisasi berantai.Berdasarkan struktur kimianya,
maka polimer dari plasik dibedakan atas :

1. Linier, bila monomer membentuk rantai polimer yang lurus, dan akan terbentuk plastik
thermoplastik
yang mempunyai sifat meleleh pada suhu tertentu, melekat mengikuti perubahan suhu dan
sifatnya yang
dapat balik (reversible) yaitu dapat kembali mengeras bila didinginkan.

2. Jaringan tiga dimensi, bila monomer berbentuk tiga dimensi akibat polimerisasi berantai,
akan
terbentuk plastik termoseting yang bersifat tidak dapat mengikuti perubahan suhu dan
irreversibel.
Bila plastik termoseting yang mengeras dipanaskan maka bahan tidak dapat lunak
kembali, tetapi akan
membentuk arang dan terurai. Jenis plastik ini sering digunakan sebagai tutup ketel
seperti jenis-jenis melamin (Julianti dan Mimi, 2006). Adapun beberapa jenis
kemasan plastik yang sering digunakan
antara lain :

1. Polyethylen
Merupakan film yang lunak, transparan dan fleksibel, mempunyai kekuatan benturan
serta
kekuatan sobek yang baik. polietilen mempunyai ketebalan 0.001 sampai 0.01 inchi,
yang
banyak digunakan sebagai pengemas makanan

2. Low Density Polyethylen (LDPE)


Sifat mekanis jenis plastik LDPE adalah kuat,agak tembus cahaya, fleksibel dan
permukaan agak
berlemak.sedangkan plastik HDPE mempunyai sifat lebih kaku,keras, kurang tembus
cahaya dan
kurang terasa berlemak.
3. High Density Polyethylen (HDPE).
Pada polietilen jenis low density terdapat sedikit cabang pada rantai antara
molekulnya
yang menyebabkan plastik ini memiliki densitas yang rendah,

4. Polypropilena
Polipropilen sangat mirip dengan polietilen dan sifat-sifat penggunaannya juga
serupa.Polipropilen lebih kuat dan ringan dengan daya tembus uap yang rendah,
ketahanan yang baik terhadap lemak,stabil terhadap suhu tinggi dan cukup mengkilap.

5. Polivinil Klorida (PVC), PVC mempunyai sifat kaku, keras, namun jernih dan
lengkap,sangat
sukar ditembus air dan permeabilitas gasnya rendah.

6.Vinilidin Khlorida (VC),Mengandung dua atom klorin, merupakan bahan padat yang
keras,
bersifat tidak larut dalam sebagian besar pelarut dan daya serap airnya sangat
rendah.

7.Politetrafluoroetilen (PTFE),
Bersifat sangat inert terhadap reaksi-reaksi kimia. Polimer ini bersifat halus,berlemak dan
umumnya
berwarna abu-abu. Koefisien gesekannya sangat rendah sehingga menghasilkan
permukaan yang
tidak mudah lengket 8.Polistiren (PS),Bersifat sangat amorphous dan tembus cahaya,
mempunyai
indeks refraksi tinggi, sukar ditembus oleh gas kecuali uap air.

Daftar Pustaka
Busyro, Muzhoffar. 11 Mei 2011. Laporan 10 (Pengemasan Bahan Pangan), (Online).
(https://muzhoffarbusyro.wordpress.com/teknologi-industri-pangan/laporan-
praktikum-mikrobiologi-pangan-i/lapora-praktikum-teknologi-pengolahan-
pangan/laporan-10-pengemasan-bahan-pangan/ diakses 11 Juni 2016)

5.1 Klasifikasi Kemasan

Kemasan dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa cara yaitu:

5.1.1 Klasifikasi kemasan berdasarkan frekuensi pemakaian :

1. Kemasan sekali pakai (disposable) , yaitu kemasan yang langsung dibuang setelah
dipakai. Contoh bungkus plastik untuk es, permen, bungkus dari daun-daunan, karton dus
minuman sari buah, kaleng hermetis.

2. Kemasan yang dapat dipakai berulangkali (multitrip), contoh : botol minuman, botol
kecap, botol sirup. Penggunaan kemasan secara berulang berhubungan dengan tingkat
kontaminasi, sehingga kebersihannya harus diperhatikan.

3. c. Kemasan atau wadah yang tidak dibuang atau dikembalikan oleh konsumen
(semi disposable), tapi digunakan untuk kepentingan lain oleh konsumen, misalnya botol
untuk tempat air minum dirumah, kaleng susu untuk tempat gula, kaleng biskuit untuk
tempat kerupuk, wadah jam untuk merica dan lain-lain. Penggunaan kemasan untuk
kepentingan lain ini berhubungan dengan tingkat toksikasi.

5.1.2 Klasifikasi kemasan berdasarkan struktur sistem kemas (kontak produk dengan
kemasan) :

1. Kemasan primer, yaitu kemasan yang langsung mewadahi atau membungkus bahan

2. pangan. Misalnya kaleng susu, botol minuman, bungkus tempe.

3. Kemasan sekunder, yaitu kemasan yang fungsi utamanya melindungi kelompok-


kelompok kemasan lain. Misalnya kotak karton untuk wadah susu dalam kaleng, kotak
kayu untuk buah yang dibungkus, keranjang tempe dan sebagainya.

4. Kemasar tersier, kuartener yaitu kemasan untuk mengemas setelah kemasan primer,
sekunder atau tersier. Kemasan ini digunakan untuk pelindung selama pengangkutan.
Misalnya jeruk yang sudah dibungkus, dimasukkan ke dalam kardus kemudian
dimasukkan ke dalam kotak dan setelah itu ke dalam peti kemas.

5.1.3 Klasifikasi kemasan berdasarkan sifat kekauan bahan kemasan:

1. Kemasan fleksibel yaitu bahan kemasan yang mudah dilenturkan tanpa adanya retak
atau patah. Misalnya plastik, kertas dan foil.
2. Kemasan kaku yaitu bahan kemas yang bersifat keras, kaku, tidak tahan lenturan,
patah bila dibengkokkan relatif lebih tebal dari kemasan fleksibel. Misalnya kayu, gelas
dan logam.

3. Kemasan semi kaku/semi fleksibel yaitu bahan kemas yan memiliki sifat-sifat antara
kemasan fleksibel dan kemasan kaku. Misalnya botol plastik (susu, kecap, saus), dan
wadah bahan yang berbentuk pasta.

5.1.4 Klasifikasi kemasan berdasarkan sifat perlindungan terhadap lingkungan:

1. Kemasan hermetis (tahan uap dan gas) yaitu kemasan yang secara sempurna tidak
dapat dilalui oleh gas, udara atau uap air sehingga selama masih hermetis wadah ini tidak
dapat dilalui oleh bakteri, kapang, ragi dan debu. Misalnya kaleng, botol gelas yang
ditutup secara hermetis. Kemasan hermetis dapat juga memberikan bau dari wadah itu
sendiri, misalnya kaleng yang tidak berenamel.

2. Kemasan tahan cahaya yaitu wadah yang tidak bersifat transparan, misalnya kemasan
logam, kertas dan foil. Kemasan ini cocok untuk bahan pangan yang mengandung lemak
dan vitamin yang tinggi, serta makanan hasil fermentasi, karena cahaya dapat
mengaktifkan reaksi kimia dan aktivitas enzim.

3. Kemasan tahan suhu tinggi, yaitu kemasan untuk bahan yang memerlukan proses

4. pemanasan, pasteurisasi dan sterilisasi. Umumnya terbuat dari logam dan gelas.

5.1.5 Klasifikasi kemasan berdasarkan tingkat kesiapan pakai (perakitan):

1. Wadah siap pakai yaitu bahan kemasan yang siap untuk diisi dengan bentuk yang
telah sempurna. Contoh : botol, wadah kaleng dan sebagainya.

2. Wadah siap dirakit / wadah lipatan yaitu kemasan yang masih memerlukan tahap

3. perakitan sebelum diisi. Misalnya kaleng dalam bentuk lembaran (flat) dan silinder
fleksibel, wadah yang terbuat dari kertas, foil atau plastik. Keuntungan penggunaan
wadah siap dirakit ini adalah penghematan ruang dan kebebasan dalam menentukan
ukuran.