Anda di halaman 1dari 59

ANALISIS SIFAT FISIK DAN KIMIA AIR

LAPORAN PRAKTIKUM
Untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Teknik Penulisan Karya Ilmiah

OLEH
DARMAWAN HANAFI
NIM: 082 201 0307

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMADIYAH KUPANG
KUPANG
2011
ABSTRAK

Hanafi, Dkk. 2011. Analisis Sifat Fisik dan Kimia Air. Laporan Praktikum. Program Studi
Pendidikan Biologi Jurusan Pendidikan MIPA FKIP Universitas Muhammadiyah Kupang

Tujuan penulisan Laporan Praktikum ini adalah untuk menguji sifat-sifat fisik dan
kimia air yang berada di Desa Oenoni II Kecamatan Amarasi Kabupaten Kupang
Air yang layak diminum mempunyai standar persyaratan tertentu yakni persyaratan
fisis, kimiawi dan bakteriologis yang merupakan satu kesatuan. kuaitas air tanah maupun
air sungai yang digunakan masyarakat kurang memenuhi syarat sebagai air minum yang
sehat bahkan di beberapa tempat bahkan tidak layak untuk diminum.
Dari studi literatur disimpulkan bahwa Parameter fisika meliputi bau, kekeruhan,
rasa, suhu, warna dan jumlah zat padat terlarut (TDS). Air yang baik idealnya tidak
berbau, tidak berwarna, tidak memiliki rasa/ tawar dan suhu untuk air minum idealnya
30 C. Padatan terlarut total (TDS) dengan bahan terlarut diameter <10-6 dan koloid
(diameter 10-6-10-3 mm) yang berupa senyawa kimia dan bahan-bahan lain. Parameter
kimia dikelompokkan menjadi kimia an-organik dan kimia organik. Dalam standard air
minum di Indonesia zat kimia anorganik dapat berupa logam, zat reaktif, zat-zat
berbahaya serta beracun serta derajat keasaman (PH). Sedangkan zat kimia organik dapat
berupa insektisida dan herbisida. Sumber logam dalam air dapat berasal dari industri,
pertambangan ataupun proses pelapukan secara alamiah. Korosi dari pipa penyalur air
minum dapat juga sebagai penyebab kehadiran logam dalam air
Berdasarkan hasil praktikum, ketiga sampel air yang diuji tidak layak untuk
dikonsumsi baik oleh manusia, hewan dan tumbuhan. Walau pada beberapa syarat fisis
air minum kemasan merk riqua memenuhi syarat, tetapi pada syarat kimiawi tidak
memenuhi syarat sehingga disimpulkan bahwa ketiga air diatas tidak layak secara
keseluruha, untuk dikonsumsi

Kata kunci : Air, Sifat Kimia dan Fisika. pH, TDS.


KATA PENGANTAR

Dengan mengucap puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan
hidayah-Nya, sehingga penyusunan Laporan Praktikum dengan judul Analisis Sifat Fisik
dan Kimia Air dapat berjalan tanpa halangan yang berarti, dari awal sampai selesai.
Dalam kesempatan ini disampaikan terima kasih kepada dosen pengasuh mata
kuliah kuliah teknik penulisan karya ilmiah yang telah memberikan ilmunya sehingga
penulis bisa menyusun Laporan Praktikum ini layaknya sebuah karya ilmiah. ucapan
terima kasih juga kepada teman-teman saya yang selalu memberi dukungan dalam
berbagai bentuk kepada saya dalam proses studi.
Penulisan makalah ini berdasarkan literatur yang ada. Penyusun menyadari akan
kemampuan yang sangat terbatas sehingga dalam penyusunan makalah ini banyak
kekurangannya. Namun makalah yang disajikan sedikit banyak bermanfaat bagi
penyusun khususnya dan mahasiswa lain pada umumnya.
Akhirnya penulis berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi
pembaca.
Kupang, Juni 2011

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Air adalah kehidupan, boleh dikatakan semua kehidupan dijagad raya ini
bergantung pada ketersediaan air. Oleh karena itu air menjadi indikasi utama adanya
kehidupan di suatu tempat di jagat raya.Air merupakan sumber daya alam yang
diperlukan untuk hajat hidup orang banyak, bahkan oleh semua makhluk hidup. Oleh
karena itu, sumber daya air harus dilindungi agar tetap dapat dimanfaatkan dengan baik
oleh manusia dan makhluk hidup yang lain. Air digunakan manusia untuk air minum,
kebutuhan rumah tangga, maupun keperluan industri. Tanpa air manusia dan makhluk
hidup lainnya tidak dapat hidup.
Air merupakan kebutuhan yang sangat vital bagi kehidupan manusia. Karena itu
jika kebutuhan akan air tersebut belum tercukupi maka dapat memberikan dampak yang
besar terhadap kerawanan kesehatan maupun sosial. Pengadaan air bersih di Indonesia
khususnya untuk skala yang besar masih terpusat di daerah perkotaan, dan dikelola oleh
Perusahan Air Minum (PAM) kota yang bersangkutan. Namun demikian secara nasional
jumlahnya masih belum mencukupi dan dapat dikatakan relatif kecil yakni 16,08 %.
Untuk daerah yang belum mendapatkan pelayanan air bersih dari PAM umumnya mereka
menggunakan air tanah (sumur), air sungai, air hujan, air sumber (mata air) dan lainnya
(Said Dan Wahjono, 1999).
Permasalahan yang timbul yakni sering dijumpai bahwa kuaitas air tanah maupun
air sungai yang digunakan masyarakat kurang memenuhi syarat sebagai air minum yang
sehat bahkan di beberapa tempat bahkan tidak layak untuk diminum. Air yang layak
diminum mempunyai standar persyaratan tertentu yakni persyaratan fisis, kimiawi dan
bakteriologis yang merupakan satu kesatuan. Jadi jika ada satu saja parameter yang tidak
memenuhi syarat maka air tesebut tidak layak untuk diminum. Pemakaian air minum
yang tidak memenuhi standar kualitas tersebut dapat menimbulkan gangguan kesehatan,
baik secara langsung dan cepat maupun tidak langsung dan secara perlahan.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka rumusan masalahnya adalah
sebagaiberikut: bagaimana kualitas air ditinjau dari aspek fisis dan kimiawi?.

C. Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah:
1. Untuk mengetahui kualitas air ditinjau dari segi fisis dan kimiawi
2. Sebagai

D. Manfaat Praktikum
Adapun kegunaan dalam Praktikum ini yaitu :
1. Sebagai bahan masukan bagi mahasiswa tentang kualitas air ditinjau dari segi fisis dan
kimiawi
2. Bagi penulis merupakan untuk memperdalam pengetahuan dan keilmuan tentang
pengetahuan biologi dan mata kuliah teknik penulisan karya ilmiah pada khususnya
Biologi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Tentang Air.


Air adalah substansi kimia dengan rumus kimia H2O: satu molekul air tersusun atas
dua atom hidrogen yang terikat secara kovalen pada satu
atom oksigen (www.wikipedia.org, 2002).
Seperti pada tabel dan gambar berikut:

Gambar 1. Struktur molekula air


Tabel 1. Informasi dan Sifat-sifat Air
Nama sistematis air
Nama alternatif aqua, dihidrogen monoksida,Hidrogen hidroksida
Rumus molekul H2O
Massa molar 18.0153 g/mol
Densitas dan fase 0.998 g/cm (cariran pada 20 C) 0.92 g/cm (padatan)
Titik lebur 0 C (273.15 K) (32 F)
Titik didih 100 C (373.15 K) (212 F)
Kalor jenis 4184 J/(kgK) (cairan pada 20 C)
Sumber http://id.wikipedia.org
Uraian kimia dari air adalah H2O. yang terdiri atas sebuah atom oksigen yang
terikat pada dua atom hidrogen. Atom-atom hidrogen tertempel pada sebuah sisi dari atom
oksigen, menghasilkan sebuah molekul air yang mempunyai muatan positif pada bagian
di mana terdapat atom hidrogen dan bermuatan negative pada bagian yang lain di mana
atom oksigen berada. Seperti pada muatan listrik yang berlawanan selalu tarik menarik,
maka molekul air condong untuk saling tarik menarik. Inilah sebabnya air menetes
(Krisnandi, 2009).
1. Sumber Air
Air yang berada di permukaan bumi berasal dari berbagi sumber, berdasarkan letak
sumbernya air dapat dibagi sebagai berikut (Indirawati, 2009):
a. Air Angkasa (Hujan)
Air angkasa atau air hujan merupakan sumber utama air di bumi. Walaupun pada
saat presipitasi merupakan air yang paling bersih, air tersebut cenderung mengalami
pencemaran ketika berada di atmosfir.
b. Air Permukaan
Air permukaan yang meliputi badan-badan air semacam sungai, danau, waduk,
rawa, air terjun dan sumur permukaan, sebagian besar berasal dari air hujan yang jatuh
ke permukaan bumi.
c. Air Tanah
Air tanah berasal dari hujan yang jatuh ke permukaan bumi yang kemudian
mengalami perkolasi atau penyerapan ke dalam tanah dan mengalami filtrasi secara
alamiah. Proses yang telah dialami air hujan tersebut, di dalam perjalanannya ke bawah
tanah, membuat air tanah menjadi lebih baik dan lebih murni dibandingkan air
permukaan.
Air tanah memiliki beberapa kelebihan dibanding sumber air lain. Pertama, air
tanah biasanya bebas dari kuman penyakit dan tidak perlu mengalami proses purifikasi
atau penjernihan. Persediaan air tanah juga cukup tersedia sepanjang tahun, saat musim
kemarau sekalipun. Air tanah juga mengandung zat-zat mineral yang cukup tinggi.
Mengingat pentingnya peran air, sangat diperlukan adanya sumber air yang dapat
menyediakan air yang baik bagi dari segi kuantitas dan kualitas.
Air tanah merupakan sumberdaya alam yang ketersediaannya secara kuantitas
maupun kualitas sangat tergantung pada kondisi lingkungan. Pertumbuhan jumlah
penduduk, industri dan pertanian menjadi penyebab peningkatan beban pencemaran
sumber-sumber air. Pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan harusnya menjadi
pedoman bagi masyarakat khususnya pengguna sumberdaya alam agar lingkungan hidup
tetap terjaga keberlangsungannya (Slamet, 2007).
2
1. Sifat fisis air
Parameter fisika menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor
907/MENKES/SK/VII/2002 umumnya dapat diidentifikasi dari kondisi fisik air tersebut.
Parameter fisika meliputi bau, kekeruhan, rasa, suhu, warna dan jumlah zat padat terlarut
(TDS). Alat ukur yang digunakan adalah Spektrofotometer.
Suhu air tidak hanya penting bagi perenang atau nelayan, tetapi juga bagi industri
dan bahkan ikan dan ganggang (lumut) laut. Sejumlah besar air dipergunakan untuk
tujuan pendinginan dalam alat tenaga yang membangkitkan listrik. Alat tersebut
memerlukan air dingin untuk memulai dan biasanya melepaskan air yang lebih panas
kembali ke sekeliling. Suhu dari air yang dilepaskan dapat mempengaruhi arus bawah
secara alamiah. Suhu juga dapat mempengaruhi kemampuan untuk mengikat oksigen
maupun kemampuan dari organisme (kehidupan) untuk menolak cemaran tertentu.
Air yang baik idealnya tidak berbau, tidak berwarna, tidak memiliki rasa/ tawar dan
suhu untuk air minum idealnya 30 C. Padatan terlarut total (TDS) dengan bahan terlarut
diameter <10-6 dan koloid (diameter 10-6-10-3 mm) yang berupa senyawa kimia dan bahan-
bahan lain (Effendi, 2003).
Tabel. 2. Sifat- Sifat Fisika Air Minum
Parameter Satuan Kadar Maksimum Keterangan
Yang diperbolehkan
Warna TCU 15
Rasa dan Bau - - Tidak berasa dan
berbau
Temperatur C Suhu udara + 3C
Kekeruhan NTU 5
pH - - 6,5 - 8,5
Sumber : Kep MENKES RI no. 907/MENKES/SK/VII/2002
2. Sifat kimia air
Parameter kimia dikelompokkan menjadi kimia an-organik dan kimia organik.
Dalam standard air minum di Indonesia zat kimia anorganik dapat berupa logam, zat
reaktif, zat-zat berbahaya serta beracun serta derajat keasaman (PH). Sedangkan zat
kimia organik dapat berupa insektisida dan herbisida. Sumber logam dalam air dapat
berasal dari industri, pertambangan ataupun proses pelapukan secara alamiah. Korosi
dari pipa penyalur air minum dapat juga sebagai penyebab kehadiran logam dalam air
(Mulia, 2005).
pH adalah suatu ukuran untuk mengetahui berapa kadar asam atau tidak berkadar
asam (basis) air itu. Jarak itu mulai dari 0 ke 14 dengan angka 7 sebagai netral. pH yang
kurang dari 7 menyatakan berkadar asam, sebaliknya yang lebih besar dari 7 menyatakan
tidak bekadar asam. Karena pH dapat dipengaruhi oleh zat kimia dalam air, maka pH
merupakan petunjuk penting untuk air yang zat kimianya berubah. Tiap nomor mewakili
suatu perubahan dari 10 lipatan dalam air yang berkadar asam atau tidak berkadar asam.
Air dengan pH 5 adalah 10 kali lebih banyak asam daripada air dengan pH 6.
BAB III
METODE PRAKTIKUM

A. Lokasi dan Waktu Praktikum


Praktikum ini dilakukan di Desa Oenoni II Kecamatan Amarasi Kabupaten Kupang
Waktu penelitian direncanakan akan dilaksanakan dari bulan Mei sampai dengan dengan
bulan Juni 2011

B. Alat dan Bahan


1. Alat
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
a. DO meter
b. pH meter
c. TDScan
d. Refraktormeter/Salinometer
e. Thermometer
f. Wadah untuk air (gelas Aqua bekas 5 buah)
2. Bahan
Dalam melakukan penelitian penulis menyiapkan terlebih dahulu bahan yang akan
digunakan sebagai berikut:
a. Air mineral/aqua gelas
b. Air garam
c. Air sumur
d. Aquades
e. Tissue

C. Prosedur Praktikum
Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen
dengan prosedur sebagai berikut :
1. Gelas aqua bekas sebanyak 5 buah disispkan dan diberi label sesuai dengan jenis air yang
akan di uji.
2. Gelas aqua bekas tadi diberi label di isi air yang sesuai.
3. Satu persatu jenis air diukur dengan menggunakan alat yang sesuai seperti pada tebel
berikut:
Tabel 3. Jenis Air Yang Diukur
No Nama Alat Mengukur
1 Thermometer Suhu
2 Refraktormeter/Salinometer Salinitas
3 TDScan Padatan total terlarut
4 pH meter pH
5 DO meter Oksigen terlarut
4. Setiap selesai mengukur air yang diuji, alat yang digunakan dicelupkan pada air aqua
lalu dilap dengan tissue
5. Setiap melakukan pengukuran data yang diperoleh dicatat pada tabel pengamatan yang
telah disediakan

D. Teknik Analisis Data


Adapun langkah kerja yang di gunakan dalam penelitian ini adalah pengumpulan
data, penyusunan data, ananilsis data, dan membuat kesimpulan.
Untuk mengetahui sifat fisik dan kimia air desa Oenoni II, maka teknik yang
dipakai adalah menggunakan metode desktiptif: yakni mengumpulkan, mengamati,
mengukur dan mencatat lalu mendeskripsikann sifat fisik dan kimia air masing-masing
gelas sesuai label.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Praktikum
1. Parameter Fisik
Tabel 4. Data Analisis Fisik Air
No Jenis air yang pH warna Salinitas TDS
diuji (%) (ppm)
1. Air sumur 5,6 Bening 0,3 290 ppm
2. Air garam 4,5 Bening dan 5,0 Eror
bergelembung putih >100.000
3. Air aqua 6,8 Bening dan Jernih 0,2 200 ppm

Tabel 4. Data Analisis Kimia Air


No Jenis air yang diuji Suhu 0C Oksigen terlarut
(mg/L)
1. Air sumur 29,2 5,1 mg/L
2. Air garam 29,1 5,0 mg/L
3. Air aqua 28,9 4,8 mg/L

B. Pembahasan
Jumlah sampel air untuk praktikum ini adalah 3 sampel yang meliputi air sumur
warga, air garam dan air minum kemasan merek Riqua.
1. Kelayakan secara Fisis.
Berdasarkan hasil analisis pH didapati bahwa air sumur warga tidak memenuhi
standar kelayakan untuk diminum. Walaupun warna (Bening), nilai salinitas (0,3) dan
nilai TDS (290 ppm) masih berada pada taraf normal tetapi nilai pH yang masih berada di
bawah ambang batas yakni 5,6 yang dapat menimbulkan korosi pada wadah besi dan
dapat meningkatkan mikroorganisme patogen yang dapat membahayakan kesehatan
manusia. Tetapi air sumur masih bisa dipakai untuk tanaman karena nilai pH-nya masih
diatas 4.
Pada air garam, standar kelayakan untuk diminum dan untuk tanaman tidak
memenuhi syarat karena warna (bening), nilai salinitas (0,3) dan nilai TDS (Eror
>100.000) dan nilai pH-nya 4,5 Pada skala ini tanaman akan mati karena sebagian besar
tumbuhan akan mati karena tidak dapat bertolerani terhadap pH rendah.
Pada air minum kemasan merek Riqua, masih layak secara fisis karena nilai pH-nya
6,8 warna (Bening dan Jernih), nilai salinitas (0,2) dan nilai TDS (200 ppm) masih di atas
standar kelayakan menurut KEPMENKES No 7 tahun 2002.
2. Kelayakan secara Kimiawi
Berdasarkan hasil analisis suhu, air sumur warga, air garam serta air minum
kemasan merek Riqua berada pada suhu masing-masing 29,2, 29,1, dan 28,9 di atas suhu
normal yaitu 10o-25 o C (sejuk). Oksigen terlarut masing-masing 5,1 mg/L, 5,0 mg/L, dan
4,8 mg/L. Pada skala suhu ini akan meningkatkan kecepatan metabolisme dan respirasi
organisme air yang pada akhirnya menyebabkan peningkatan konsumsi oksigen.
Peningkatan suhu disertai dengan penurunan kadar oksigen terlarut sehingga
keberadaan oksigen sering kali tidak mampu memenuhi kebutuhan organisme air untuk
melakukan metabolisme dan respirasi.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan deskripsi data dan pembahasan, ketiga sampel air di atas tidak layak
untuk dikonsumsi baik oleh manusia, hewan dan tumbuhan. Walau pada beberapa syarat
fisis air minum kemasan merk riqua memenuhi syarat, tetapi pada syarat kimiawi tidak
memenuhi syarat sehingga disimpulkan bahwa ketiga air diatas tidak layak secara
keseluruha, untuk dikonsumsi.

B. Saran
1. Untuk air sumur warga, hindari penyimpanan pada wadah besi karena akan
mempercepat korosi.
2. Kepada pemerintah dan Dinas Kesehatan agar memperketat pengawasan terhadap
produk air minum kemasan yang beredar dipasaran kota Kupang dan sekitarnya agar
sesuai dengan standar kelayakan yang ditetapkan pemerintah.
3. Pada tahun-tahun berikutnya agar memperbanyak sampel air pada praktikum. Terutama air
minum kemasan yang beredar di kota kupang dan menjadikan air minum kemasan aqua
sebagai kontrol.

DAFTAR PUSTAKA

Ansori, A.K. 2008. Penentuan Kekeruhan Pada Air Reservoir di PDAM Tirtanadi Instalasi
Pengolahan Air Sunggal Medan Metode Turbidimetri. Karya Ilmiah. Program Studi
Diploma III Kimia Analis Departemen Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam Program Studi Diploma III Kimia Analis Universitas Sumatera Utara.
Medan.

Slamet, 2007. Kesehatan Lingkungan, Gajah Mada University Press, Yogyakarta.

Depkes RI, 2006. Pedoman Pelaksanaan Penyelenggaraan Hygene Sanitasi Depot Air Minum,
Dirjen Penyehatan Lingkungan, Jakarta.

Notoatmodjo, S. 2002. Metodologi Penelitian Kesehatan. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta.

Krisnandi, Y.K. 2009. Kimia Dalam Air. Bahan ajar. KBI Kimia Anorganik Universitas
indonesia. Jakarta.

Mulia, 2005. Kesehatan Lingkungan, Graha Ilmu, Jakarta.


Effendi H, 2003. Telaah Kualitas Air, Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Menkes RI, 2002. Kepmenkes RI No. 907/MENKES/SK/VII/2002, Jakarta.


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Air merupakan kebutuhan dasar bagi kehidupan, khususnya bagi manusia yang
selama hidupnya selalu memerlukan air. Tubuh manusia sebagian besar terdiri dari air.Pada
tubuh orang dewasa, sekitar 55-60 % berat badan terdiri dari air, anak-anak sekitar 65%, dan
untuk bayi sekitar 80%. Menurut WHO, tiap orang di negara-negara maju memerlukan air
antara 60-120 liter per hari, sedangkan di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia,
tiap orang memerlukan air antara 30-60 liter per hari.
Tubuh manusia terdiri dari 55% sampai 78% air, tergantung dari ukuran badan. Agar
dapat berfungsi dengan baik, tubuh manusia membutuhkan antara satu sampai tujuh liter air
setiap hari untuk menghindaridehidrasi.
Jika melihat uraian diatas , air sangatlah penting bagi kehidupan manusia , baik untuk
dirinya maupun di luar dari dirinya seperti penelitian , kelangsungan hidup di muka bumi ,
dan lain-lain. Namun air di muka bumi ini sangatlah beragam , tetapi air yang paling umu
ialah air yang dapat dipakai dan air yang tidak dapat dipakai. Mengapa bisa begitu ? karena di
muka bumi ini ada pencemaran air. Air yang sering kita minum , itu adalah air yang tidak
murni , karena dalam air itu ada zat zat yang terkandung.
Maka dari itu dengan adanya praktikum analisa kualitas air , kita mengetahui air mana
yang dapat kita gunakan dan air mana yang tidak dapat kita gunakan dan juga kita dapat
menganalisis kualitas serta kandungan apa saja yang terkandung dari macam-macam air.

1.2 Tujuan
Mahasiswa mampu menguji atau menganalisis beberapa sifat fisis dan sifat kimia air
secar kualitatif dan kuantitatif.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Teori Sampel
Air merupakan senyawa kimia yang paling aman dan paling dibutuhkan seluruh
makhluk hidup karena tanpa air, makhluk hidup tidak akan dapat bertahan hidup. Ilmu yang
mempelajari tentang kandungan, sifat-sifat, proses penyebaran, dan kebiasaan alami air
dikenal dengan hidrologi. Hidrologi merupakan induk ilmu untuk percabangan teknik sipil,
dan hidrologi mempelajari masalah persediaan air dan penyaluran kotoran, sistem pengaliran
air dan irigasi, peraturan navigasi dan sungai, dan pengendalian banjir dan tenaga air
(anonim, 2009).
2.1.1 Air Sungai (Kenaga Raya)
Sungai merupakan jalan air alami mengalir menuju samudera, danau, Laut atau ke sungai
yang lain. Pada beberapa kasus sebuah sungai secara sederhana mengalir meresap kedalam
tanah sebelum menemukan badan air lainya. Dengan melalui sungai adalah cara yang biasa
bagi air hujan yang turun di daratan untuk mengalir ke laut atau tampungan air
yang besar seperti danau.
Sungai merupakan salah satu bagian dari siklus hidrologis. Air dalam sundai umumnya
terkumpul dari presipitasi seperti hujan, embun, mata air, limpasan bawah tanah, dan
dibeberapa negara tertentu air sungai juga berasal dari lelehan Es/salju. Selain
itu air juga mengalirkan sidimen dan polutan (Anonim.2009).
Sungai Kenanga Raya terletak di daerah Tanjung Mulia kota Medan. Sungai yang berada
di tengah tengah kota Medan ini memiliki kondisi yang sangat mengkhawatirkan sekali.
Ketika praktikan mengampil sampel kesana. Ketika itu sungai dalam kondisi normal, artinya
airnya tidak pasang, tidak surut dan tidak keruh, sebenarnya airnya tidak jernih akibat
banyaknya sampah dan aliran limbah rumah tangga ke sungai.
2.1.2 Air Minum Kemasan (Aqua)
Air minum kemasan atau dengan istilah AMDK (Air Minum Dalam Kemasan),
merupakan air minum yang siap di konsumsi secara langsung tanpa harus melalui proses
pemanasan terlebih dahulu.
Air minum dalam kemasan merupakan air yang dikemas dalam berbagai bentuk wadah 19
ltr atau 5 galon , 1500 ml / 600 ml ( bottle), 240 ml /220 ml (cup).
Air kemasan diproses dalam beberapa tahap baik menggunakan proses pemurnian air
(Reverse Osmosis / Tanpa Mineral) maupun proses biasa Water treatment processing
(Mineral), dimana sumber air yang digunakan untuk Air kemasan mineral berasal dari mata
air pengunungan, Untuk Air kemasan Non mineral biasanya dapat juga digunakan
dengan sumber mata air tanah / mata air pengunungan (anonim,2009).
Air Aqua telah melewati proses pemurnian secara alami selama perjalanannya dari
pegunungan hingga mencapai sumber mata air bawah tanah. Sepanjang perjalanannya ini, air
menyerap mineral dan menjaga keseimbangannya sebagaimana di sumber mata air
asalnya, yang merupakan mineral penting bagi kesehatan tubuh.
Sumber mata air yang dipilih tidaklah sembarangan. Aqua berasal dari sumber mata air
terpilih yang mewakili sebagian dari sumber mata air alami terbaik di Indonesia. Menemukan
mata air yang sesuai kriteria Aqua bukanlah pekerjaan mudah. Pada saat menemukan sumber
mata air alami, harus dipastikan bahwa setiap sumber mata air pegunungan harus memenuhi
9 poin kriteria yang kemudian melewati 5 tahap proses seleksi yang ketat sebelum akhirnya
dapat dijadikan sumber mata air untuk Aqua (anonim, 2009).
2.2 Alkalinitas
Alkalinitas adalah suatu parameter kimia perairan yang menunjukan jumlah ion carbonat
dan bicarbonat yang mengikat logam golongan alkali tanah pada perairan tawar. Nilai ini
menggambarkan kapasitas air untuk menetralkan asam, atau biasa juga diartikan sebagai
kapasitas penyangga (buffer capacity) terhadap perubahan pH. Perairan.mengandung
alkalinitas 20 ppm menunjukkan bahwa perairan tersebut relatif stabil terhadap perubahan
asam/basa sehingga kapasitas buffer atau basa lebih stabil. Selain bergantung pada pH,
alkalinitas juga dipengaruhi oleh komposisi mineral, suhu, dan kekuatan ion. Nilai alkalinitas
alami tidak pernah melebihi 500 mg/liter CaCO3. Perairan dengan nilai alkalinitas yang
terlalu tinggi tidak terlalu disukai oleh organisme akuatik karena biasanya diikuti dengan nilai
kesadahan yang tinggi atau kadar garam natrium yang tinggi (Anonim 2009).
2.3 Kesadahan Air
Kesadahan pada air mungkin disebabkan oleh adanya satu atau lebih ion. Ini termasuk
hidroksida, karbonat, dan bikarbonat. Ion hidroksida selalu ada di dalam air, walaupun
terkadang konsentrasinya sangat kecil. Tetapi, hidroksida dengan konsentrasi tinggi di saluran
air alami dianggap tidak biasa, kecuali setelah melewati penapisan jenis tertentu. Jumlah
karbonat yang kecil ditemukan pada saluran air alami di tempat tertentu, sangat jarang
melebihi 3 atau 4 grain/gallon. Mereka juga dapat ditemukan di air setelah penapisan, seperti
pelembut lime soda ash. Bikarbonat adalah sumber yang paling umum penyebab alkalinitas.
Hampir semua saluran alami memiliki jumlah yang dapat dihitung,
dari 0 sampai sekitar 50 grain/gallon.
Alkalinitas. Alkalinitas dari air bisa didefinisikan sebagai kapasitasnya terhadap asam
netral. Zat alkali di dalam air termasuk hidroksida. Alkalinitas dapat dideteksi oleh rasanya
yang asam dan mereka menyebabkan kertas litmus merah menjadi biru (pH test paper).
Konsentrasi Fosfat dan Silika jarang ditemukan di saluran alami rumah. Senyawa yang
mengandung ion ini dapat digunakan dalam proses penapisan air yang bervariasi. Konsentrasi
alkalinitas menengah diinginkan oleh hampir semua sumber air untuk
menyeimbangkan antara efek korosif dan asam. (anonim,2009)
Tetapi, jumlah yang berlebihan menyebabkan beberapa masalah. Ion ini tentu bebas
berada di air, tetapi mereka ada di kation, seperti kalsium, magnesium, dan natrium. Anda
mungkin tidak akan memperhatikan kondisi alkali karena ion bikarbonat, kecuali ada dalam
jumlah yang besar. Sebaliknya, anda harus siap mendeteksi alkalinitas walaupun
memiliki jumlah karbonat dan ion hidroksida yang sangat kecil.
Air dengan alkali tinggi memiliki rasa seperi soda. Peraturan EPA membatasi alkalinitas
dalam total padatan terlarut (500 ppm) dan beberapa lebih dibatasi oleh pH. Alkali yang
memiliki kandungan mineral tinggi juga menyebabkan pengeringan yang berlebihan terhadap
kulit karena pada faktanya, mereka menghilangkan kelembaban pada kulit. Masalah pada
alkalinitas dapat dihilangkan oleh reverse osmosis bersama dengan total padatan terlarutnya.
Metode lain juga dapat menghilangkan alkalinitas, namun metode tersebut tidak
cocok digunakan untuk perumahan dibandingkan jika menggunakan reverse osmosis. Metode
ini adalah distilasi dan deionisasi. Beberapa metode lain juga dapat menghilangkan
alkalinitas, namun metode ini tidak baik digunakan di rumah. Metode tersebut adalah :
1. Penghilang padatan dengan lime soda ash. Pada saat yang sama, proses ini akan mem-
persipirasi jumlah yang seimbang dari alkalinitas. Pelembutan dengan lime biasanya dilarang
digunakan oleh industri dan penerapan dalam skala besar lainnya. Pelembutan lime akan
mengurangi total alkalinitas, pelembutan lime mengubah
HCO3 menjadi C03, ion alkalinitas yang lebih kuat.
2. Anion resin yang diregenerasi oleh natrium klorida menghilangkan semua anion (karbonat,
bikarbonat, sulfat, dan nitrat). Ia mengganti anion dengan persamaan kimia yang seimbang
terhadap ion klorida. Kerugian dari proses ini adalah hampir
semua dari kasus menghasilkan konsentrasi ion klorida yang tinggi. Pada titik kejenuhan,
resin memiliki kecenderungan untuk mengeluarkan kembali konsentrasi tinggi yang dibawa
anion termasuk nitrat. Untuk pemakaian
perumahan, hasil seperti ini tentu tidak diinginkan karena alkalinitas asli.
3. Pemberian asam mineral akan menetralisir alkalinitas air. Asam hidroklorin, asam sulfur, atau
kombinasi dari keduanya dapat digunakan. Proses ini mengubah
bikarbonat dan karbonat menjadi asam karbon. Pada titik ini, dianjurkan untuk melakukan
beberapa metode untuk mengeluarkan gas karbondioksida keluar ke atmosfer. Kerugian dari
teknik ini jelas. Diperlukan kontrol yang presisi dalam proses dan kehati-hatian dalam
menangani asam yang pekat (Anonim,2009).

3.4 Analisa Umum pada Air


Air merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia, khususnya air minum Tetapi
ketersediaan air minum yang memenuhi syarat semakin sulit dipenuhi, terlebih lagi daerah-
daerah resapan air yang telah dirubah menjadi pemukiman penduduk, limbah-limbah industri
yang mencemari sungai-sungai, semakin mempersulit
masyarakat untuk mendapatkan air yang layak untuk di minum.
Di dalam Keputusan Menteri Kesehatan No. 907/MENKES/SK/VII/2002 tentang
Syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum, disebutkan bahwa air Minum adalah air
yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang
memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung di minum.
Walaupun air dari sumber alam dapat diminum oleh manusia, tetapi terdapat resiko
kalau air ini telah tercemar oleh bakteri (misalnya Escherichia coli) atau zat-zat berbahaya.
Walaupun bakteri dapat dibunuh dengan memasak air hingga 100 C, tetapi banyak zat
berbahaya, terutama logam, tidak dapat dihilangkan dengan cara mendidihkan air.
Jadi, air yang akan digunakan untuk air minum tidak bisa sembarang air, misalnya di
rumah anda, sumber air berasal dari air tanah, yang diambil dengan menggunakan jetpump,
meskipun secara kasat mata tampak jernih, tetapi belum tentu memenuhi syarat, karena
kondisi lingkungan disekitarnya akan sangat menentukan kualitas air tersebut. Untuk
memastikan apakah air tanah yang ada di rumah anda memenuhi syarat untuk di minum atau
tidak, sebaiknya anda membawa sampel air tersebut ke laboratorium pengujian seperti
Sucofindo, atau lab-lab swasta lain yang banyak menjual jasa untuk pemeriksaan air, tapi cek
juga, apakah lab yang akan anda gunakan sudah terakreditasi atau belum. Ini untuk menjamin
akurasi hasil pemeriksaan. Jika lab-nya sudah terakreditasi, maka validitas hasil pengujian
tentunya lebih terpercaya.
Syarat air minum tercantum dalam Keputusan Menteri Kesehatan No.
907/MENKES/SK/VII/2002.. Persyaratan kualitas air minum meliputi persyaratan
bakteriologis, kimiawi, dan fisik. Menurut departemen kesehatan, syarat-syarat air minum
adalah tidak berasa, tidak berbau, tidak berwarna, tidak mengandung logam berat dan bakteri
patogen seperti E. Coli.. Untuk lebih detil mengetahui rincian syarat air minum, anda dapat
melihatnya dalam Kepmenkes tersebut (anonim,2009).
2.5 Standar Baku Mutu Air
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1405/menkes/sk/xi/2002 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran dan
industri terdapat pengertian mengenai Air Bersih yaitu air yang dipergunakan untuk
keperluan sehari-hari dan kualitasnya memenuhi persyaratan kesehatan air bersih sesuai
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan
dapatdiminum apabila dimasak (anonim,2009).
2.6 Aplikasi Analisa Air dalam Industri
Salah satu aplikasi atau penerapan dari Analisa Air ini adalah pada proses pengolahan
air perkotaan. Pengolahan air perkotaan menggunakan proses soda dingin. Dengan
menggunakan proses ini, kesadahan air dapat diturunkan sampai 35 ppm jika
cukup peluang diberikan untuk berlangsungnya pengendapan.
Salah satu cara yang digunakan untuk mengatasi keadaan lewat-jenuh (supersaturasi) dalam
proses gamping dingin soda ialah dengan mengkontakkan lumpur yang diendapkan
sebelumnya. Bila lumpur ini dikenakan pada air yang belum diolah dan bahan kimia
permukaannya, atau benih akan membantu terjadinya pengendapan. Hasilnya berupa reaksi
yang lebih cepat dan lebih lengkap yang menghasilkan partikel yang lebih besar dan lebih
mudah menguap. Peralatan yang dikembangkan untuk kontak ini, dibuat oleh Infileo, Inc,
yang dinamakan Accelerator. Permutit Spaulding Precipitator mempunyai dua kompartemen,
satu untuk mencampur dan mengaduk air mentah dengan bahan-bahan kimia pelunak dan
lumpur yang sudah terbentuk sebelumnya, dan satu lagi untuk mengendapkan dan menyaring
air yang telah dilunakkan pada waktu mengalir ke atas melalui liputan lumpur yang
tersuspensi. Mesin seperti ini dapat mempersingkat sedimentasi dari 4 jam menjadi kurang
dari 1 jam dan biasanya juga mengurangi pemakaian bahan kimia. (anonim,2009)

BAB III
METODELOGI
3.1 ALAT DAN BAHAN
ALAT BAHAN
Pipet tetes H2SO4
Gelas ukur 50 ml Kertas lakmus merah
Gelas ukur 100 ml H2C2O4
Corong kaca Aquades
Penjepit tabung reaksi KMnO4
Kompor listrik/gas
Buret dan statif
Erlenmeyer
Termometer
Botol semprot
Neraca analitik
Corong
Batang pengaduk
Lampu spirirus
Pipet volume 5 ml
Pipet volume 10 ml
Tabung reaksi + rak

3.2 CARA KARJA


Cara kerja dalam praktikum yang membahas Analisa Kualitas Air ini ialah ;
1. Suhu
- Menyiapakan sampel.
- Menyelupkan alat pengukur suhu (termometer) ke dalam sampel.
- Membaca angka yang tertera pada alat tersebut.
- Mencatat hasil yang ada.
2. Zat padat terlarut dan zat padat tersuspensi
- Mengambil sampel sebanyak 100 ml dengan gelas ukur dan menuangkannya ke dalam gelas
piala.
- Memanaskannya dalam air panas (ingat jangan dicelupkan dalam air).
- Memperhatikan apakah sampel menjadi keruh , mengendap , atau tidak sama sekali.
- Mencatat hasil yang ada.
3. Warna
- Mengambil sampel ke dalam tabung reaksi sebanyak 0,75 dari volume tabung reaksi.
- Membandingkan warna dengan larutan standar (aquades) yang telah disediakan.
- Mencatat hasil yang ada.
4. Amoniak
- Memasukkan 10-15 ml sampel ke dalam tabung reaksi.
- Melipat kertas lakmus merah (menempel) di mulut tabung reaksi.
- Memanaskannya di atas lampu spiritus
- Mengamati sampel , apakah bau tengik atau tidak , kertas lakmus merah berubah menjadi
biru atau tidak , atau tidak sama sekali.
- Mencatat hasil yang ada.
5. COD secara kuantitatif
- Mempipet 10 ml sampel dengan pipet volume dan Memasukkannya ke dalam gelas ukur 100
ml
- Mengencerkan sampel dengan aquades hingga volume 100 ml
- Menambahkan 5 ml Asam sulfat (H2SO4) 4 N.
- Memanaskannya dalam air panas (ingat jangan dicelupkan dalam air).
- Menambahkan 10 ml Kalium permanganat (KMnO4) 0,01 N dan didihkan lagi selama 10
menit.
- Jika selama dididihkan warna merah muda hilang , menambahkan 10 ml 10 ml Kalium
permanganat (KMnO4) 0,01 N lagi , sampai warna merah muda tidak hilang lagi.
- Setelah itu , menambahkan 10 ml Asam oksalat (H2C2O4) 0,01 N , hingga warna merah muda
hilang.
- Selagi panas , menambahkan Kalium permanganat (KMnO 4) sampai terbentuk warna merah
muda yang stabil.
- Mencatat hasil yang ada

BAB IV
HASIL PENGAMATAN
NO PARAMETER AIR DANAU AIR RAWA

1 Suhu 28C 30C

2 Zat padat terlarut Tidak keruh Keruh

3 Zat padat tersupensii Tidak Ada endapan Ada endapan

4 Warna Bening jernih Bening keruh

5 AMONIAK Tidak berubah tetap merah Tidak berubah tetap merah

BAB V
PEMBAHASAN
5.1 Air Rawa
Pada uji yang pertama kami lakukan yaitu uji suhu , ternyata suhu air comberan ketika
di teliti adalah kisaran 30OC , ini berarti bahwa suhu air ini normal , karena berada 3 OC dari
suhu lingkungan (Suhu lingkungan 32OC).
Dan uji Pada uji yang kedua yaitu uji zat padat terlarut dan zat padat tersuspensi , air
comberan ketika di teliti ternyata airnya menjadi keruh dan ketika dilihat dibawahnya ada
endapan. Ini berarti bahwa pada air comberan terdapat zat padat terlarut dan zat padat
tersuspensi.
Pada uji yang ketiga yaitu uji warna , air comberan ketika dibandingkan dengan larutan
standar yaitu aquades ternyata warna airnya lebih keruh daripada larutan standar. Ini berarti
bahwa pada air comberan telah tercampur dengan zat zat lain . Warna air ini mungkin
disebabkan oleh adanya ion metal (besi dan mangan) humus, plankton, tumbuhan air , dan
limbah industri.
Pada uji yang keempat yaitu uji amoniak , air comberan ketika diuji dengan lakmus
merah ternyata lakmus tersebut tetap berwarna merah , dan ketika dicium tidak berbau
tengik. Ini berarti bahwa pada air comberan yang kami teliti tidak mengandung amoniak atau
kadar amoniaknya sedikit sekali.
Kesimpulannya ialah air comberan telah mengalami pencemaran.
5.2 Air keran
Pada uji yang pertama yaitu uji suhu , ternyata suhu air sumur ketika di teliti adalah
kisaran 28 OC , ini berarti bahwa suhu air ini tidak normal , karena tidak berada 3 OC dari
suhu lingkungan (Suhu lingkungan 32OC).
Pada uji yang kedua dan ketiga yaitu uji zat padat terlarut dan zat padat tersuspensi ,
air sumur ketika di teliti ternyata tidak menjadi keruh dan ketika dilihat dibawahnya tidak ada
endapan. Ini berarti bahwa pada airsum tiurdak terdapat zat padat terlarut dan zat padat
tersuspensi.
Pada uji yang ketiga yaitu uji warna , air keran ketika dibandingkan dengan larutan
standar yaitu aquades ternyata warna airnya keruh daripada warna larutan standar. .
Pada uji yang keempat yaitu uji amoniak , air keran ketika diuji dengan lakmus merah
ternyata lakmus tersebut tetap berwarna merah , dan ketika dicium tidak berbau tengik. Ini
berarti bahwa pada air sumur yang kami teliti tidak mengandung amoniak sama sekali.
Kesimpulannya ialah air sawah telah mengalami pencemaran
BAB VI
PENUTUP
6.1 Kesimpulan
Kesimpulan dalam praktikum yang membahas Analisa Kualitas Air ini ialah; Air
merupakan senyawa kimia yang paling aman dan paling dibutuhkan seluruh makhluk hidup
karena tanpa air, makhluk hidup tidak akan dapat bertahan hidup . Air yang akan digunakan
untuk air minum tidak bisa sembarang air. Persyaratan kualitas air minum meliputi
persyaratan bakteriologis, kimiawi, dan fisik. Sifat fisika Air ialah bau , daya hantar listrik
(DHL) , kejernihan , kekeruhan , rasa , residu , salinitas/kegaraman , dan warna. Sifat kimia
Air ialah Amoniak , COD , DOD, pH ,dan Zat besi .
6.2 Saran
Saran dalam praktikum kali ini yang membahas Analisa Kualitas Air ini ialah
Seharusnya praktikan mencoba semua langkah praktikum agar praktikum lebih memahami.
BAB VII
DAFTAR PUSTAKA

Anonim.2009.Air.http://wikipedia.com.1 Desember 2013


Anonim.2009.teori sampel.wikipedia.com.1 Desember 2013
Anonim.2009.air sungai.wikipedia.com 1 Desember 2013
Anonim.2009.Aqua.http://danoneaqua.com.1 Desember 2013
Anonim.2009.Alkalinitas.http://maswira-weblog.com.2 Desember 2013
Anonim.2009.Kesadahan.http://o-fish.wordpress.com.2 Desember 2013
Anonim.2009.UU Menteri Negara lingkunganHidup. http://persembahanku.files wordpress.co
m.2 Desember 2013
Anonim.2009.Baku Mutu Air.http://wikipedia.com.3 Desember 2013
Anonim.2009.Analisa Air Dalam Industri. http://wikipedia.com.3 Desember 2013

ANALISA AIR

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA ANALISA

Semester : III (Tiga)

Kelompok : II ( Dua )

Judul percobaan : ANALISA AIR

Tanggal percobaan : 29 Agustus 2009

NAMA : DEDY ANWAR

NIM : 080405009
LABORATORIUM KIMIA ANALISA

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2009

LABORATORIUM KIMIA ANALISA

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

LEMBAR PENGESAHAN

NAMA / NIM : Dedy Anwar

KELOMPOK : II (dua)

MODUL : ANALISA AIR

TGL. PERCOBAAN : 29 Agustus 2009

Medan, 2009 Asisten,

(Indra Azmi Marpaung)


LABORATORIUM KIMIA ANALISA

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

LEMBAR PENUGASAN

NAMA / NIM : Dedy Anwar / 080405009

Andriani Dewi / 080405030

Juliananta Sitepu / 080405060

KELOMPOK : II (dua)

MODUL : ANALISA AIR

TGL. PERCOBAAN : 29 Agustus 2009

Medan, 2009 Asisten,

(Indra Azmi Marpaung)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat

menyelesaikan Laporan Praktikum Kimia Analisa Modul Analisa Air dengan sebaik-baiknya dan

tepat pada waktunya.

Adapun tujuan dari penulisan laporan ini adalah sebagai syarat untuk menyelesaikan Praktikum
Kimia Analisa dan agar dapat mengikuti praktikum-praktikum selanjutnya yang ada di Departemen

Teknik Kimia. Selain itu pembuatan Laporan Praktikum Kimia Analisa ini adalah sebagai bukti hasil

dari percobaan-percobaan yang dilakukan saat praktikum, dan untuk melengkapi tugas dari

Praktikum Kimia Analisa.

Penulisan laporan ini didasarkan pada hasil percobaan yang dilakukan selama praktikum serta

literatur-literatur yang ada baik dari buku maupun sumber lainnya.

Dengan ini, praktikan juga menyampaikan terima kasih kepada :

1. Orang tua yang telah memberikan dukungan baik materil maupun spiritual.

2. Kepala Laboratorium Kimia Analisa, Ibu Maulida, ST, MSc..

3. Asisten-asisten Laboratorium Kimia Analisa, terutama asisten yang menangani modul ini.

4. Rekan-rekan mahasiswa seangkatan, secara istimewa Kelompok II yang membantu praktikan

dalam pelaksanaan praktikum dan dalam penulisan laporan ini.

Laporan ini merupakan tulisan yang dibuat berdasarkan percobaan yang telah dilakukan. Tentu

ada kelemahan dalam teknik pelaksanaan maupun dalam tata penulisan laporan ini. Maka saran-

saran dari pembaca dibutuhkan dalam tujuan menemukan refleksi untuk peningkatan mutu dari

laporan serupa di masa mendatang. Akhir kata, selamat membaca dan terima kasih.

Medan, 1 September 2009

Penulis,

Dedy Anwar

BAB I

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Analsia air termasuk ke dalam kimia analisa kuantitatif karena menentukan kadar suatu zat dalam

campuran zat-zat lain. Prinsip analisa air yang digunakan adalah prinsip titrasi dan metode yang

digunakan adalah metode indikator warna dan secara umum termasuk ke dalam analisa

volumetrik.

Air yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari tidak pernah ditemukan dalam keadaan murni.

Biasanya air tersebut mengandung zat-zat kimia dalam kadar tertentu, baik zat-zat kimia

anorganik maupun zat-zat kimia organik. Apabila kandungan zat-zat kimia tersebut terlalu banyak

jumlahnya didalam air, air tersebut dapat menjadi sumber bencana yang dapat merugikan

kelangsungan hidup semua makhluk sekitarnya. Kini dengan adanya pencemaran-pencemaran air

oleh pabrik maupun rumah tangga, kandungan zat-zat kimia di dalam air semakin meningkat dan

pada akhirnya kualitas air tersebut menurun. Oleh karena itu, diperlukan analisa air untuk

menentukan dan menghitung zat-zat kimia yang terkandung di dalam air sehingga dapat diketahui
air tersebut membahayakan kesehatan, layak tidaknya dikonsumsi maupun sudah tercemar atau

belum (anonim, 2009).

1.2Rumusan Masalah

Perumusan masalah pada percobaan analisa air adalah bagaimana cara menentukan alkalinitas air.

1.3Tujuan

Tujuan percobaan analisa air, antara lain:

1.Mempelajari beberapa cara penganalisaan air.

2.Mengetahui standar kualitas air minum menurut Peraturan Menteri Kesehatan Indonesia

3.Mengetahui cara-cara pengambilan sampel untuk penganalisaan air.

1.4Manfaat

Manfaat yang dapat diperoleh pada percobaan ini antara lain dapat mengetahui cara menganalisa

air, Dan dapat menentukan kadar alkalinity air, serta dapat menganalisa kualitas sampel air yang

diuji.

1.5Ruang Lingkup

Percobaan analisa air dilakukan di Laboratorium Kimia Analisa Departemen Teknik Kimia Fakultas

Teknik Universitas Sumatera Utara dengan keadaan ruangan bersuhu 30oC dan tekanan udara 760

mmHg.

Bahan-bahan yang digunakan antara lain air sungai Kenanga Raya, Medan, air minum kemasan

Aqua indikator metil jingga, dan H2SO4 0,02 N. Peralatan-peralatan yang digunakan antara lain

buret, statif, erlenmeyer, gelas ukur, beaker glass, corong, dan pipet tetes.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Teori Sampel

Air merupakan senyawa kimia yang paling aman dan paling dibutuhkan seluruh makhluk hidup

karena tanpa air, makhluk hidup tidak akan dapat bertahan hidup. Ilmu yang mempelajari tentang

kandungan, sifat-sifat, proses penyebaran, dan kebiasaan alami air dikenal dengan hidrologi.

Hidrologi merupakan induk ilmu untuk percabangan teknik sipil, dan hidrologi mempelajari

masalah persediaan air dan penyaluran kotoran, sistem pengaliran air dan irigasi, peraturan

navigasi dan sungai, dan pengendalian banjir dan tenaga air (anonim, 2009).

2.1.1 Air Sungai (Kenaga Raya)

Sungai merupakan jalan air alami mengalir menuju samudera, danau, Laut atau ke sungai yang

lain. Pada beberapa kasus sebuah sungai secara sederhana mengalir meresap kedalam tanah

sebelum menemukan badan air lainya. Dengan melalui sungai adalah cara yang biasa bagi air

hujan yang turun di daratan untuk mengalir ke laut atau tampungan air yang besar seperti danau .

Sungai merupakan salah satu bagian dari siklus hidrologis. Air dalam sundai umumnya terkumpul

dari presipitasi seperti hujan, embun, mata air, limpasan bawah tanah, dan dibeberapa negara

tertentu air sungai juga berasal dari lelehan Es/salju. Selain itu air juga mengalirkan sidimen dan

polutan (Anonim.2009).

Sungai Kenanga Raya terletak di daerah Tanjung Mulia kota Medan. Sungai yang berada di tengah

tengah kota Medan ini memiliki kondisi yang sangat mengkhawatirkan sekali. Ketika praktikan
mengampil sampel kesana. Ketika itu sungai dalam kondisi normal, artinya airnya tidak pasang,

tidak surut dan tidak keruh, sebenarnya airnya tidak jernih akibat banyaknya sampah dan aliran

limbah rumah tangga ke sungai.

2.1.2 Air Minum Kemasan (Aqua)

Air minum kemasan atau dengan istilah AMDK (Air Minum Dalam Kemasan), merupakan air minum

yang siap di konsumsi secara langsung tanpa harus melalui proses pemanasan terlebih dahulu.

Air minum dalam kemasan merupakan air yang dikemas dalam berbagai bentuk wadah 19 ltr atau

5 galon , 1500 ml / 600 ml ( bottle), 240 ml /220 ml (cup).

Air kemasan diproses dalam beberapa tahap baik menggunakan proses pemurnian air (Reverse

Osmosis / Tanpa Mineral) maupun proses biasa Water treatment processing (Mineral), dimana

sumber air yang digunakan untuk Air kemasan mineral berasal dari mata air pengunungan, Untuk

Air kemasan Non mineral biasanya dapat juga digunakan dengan sumber mata air tanah / mata air

pengunungan (anonim,2009).

Air Aqua telah melewati proses pemurnian secara alami selama perjalanannya dari pegunungan

hingga mencapai sumber mata air bawah tanah. Sepanjang perjalanannya ini, air menyerap

mineral dan menjaga keseimbangannya sebagaimana di sumber mata air asalnya, yang

merupakan mineral penting bagi kesehatan tubuh.

Sumber mata air yang dipilih tidaklah sembarangan. Aqua berasal dari sumber mata air terpilih

yang mewakili sebagian dari sumber mata air alami terbaik di Indonesia. Menemukan mata air

yang sesuai kriteria Aqua bukanlah pekerjaan mudah. Pada saat menemukan sumber mata air

alami, harus dipastikan bahwa setiap sumber mata air pegunungan harus memenuhi 9 poin

kriteria yang kemudian melewati 5 tahap proses seleksi yang ketat sebelum akhirnya dapat

dijadikan sumber mata air untuk Aqua (anonim, 2009).

2.2 Alkalinitas

Alkalinitas adalah suatu parameter kimia perairan yang menunjukan jumlah ion carbonat dan

bicarbonat yang mengikat logam golongan alkali tanah pada perairan tawar. Nilai ini

menggambarkan kapasitas air untuk menetralkan asam, atau biasa juga diartikan sebagai

kapasitas penyangga (buffer capacity) terhadap perubahan pH. Perairan.mengandung alkalinitas

20 ppm menunjukkan bahwa perairan tersebut relatif stabil terhadap perubahan asam/basa

sehingga kapasitas buffer atau basa lebih stabil. Selain bergantung pada pH, alkalinitas juga

dipengaruhi oleh komposisi mineral, suhu, dan kekuatan ion. Nilai alkalinitas alami tidak pernah

melebihi 500 mg/liter CaCO3. Perairan dengan nilai alkalinitas yang terlalu tinggi tidak terlalu

disukai oleh organisme akuatik karena biasanya diikuti dengan nilai kesadahan yang tinggi atau

kadar garam natrium yang tinggi (Anonim 2009).

Tabel 2.1 Kualitas air berdasarkan alkalinitas (Swingle, 1968)

Alkalinitas (mg/l)

Kondisi perairan
0 10

Tidak dapat dimanfaatkan

10 50

Alkalinitas rendah, kematian mungkin terjadi, CO2 rendah, pH bervariasi, dan perairan kurang

produktif

50 200

Alkalinitas sedang, pH bervariasi, CO2 sedang, produktivitas sedang

>500

pH stabil, produktivitas rendah, ikan terancam

2.3 Kesadahan Air

Kesadahan pada air mungkin disebabkan oleh adanya satu atau lebih ion. Ini termasuk hidroksida,

karbonat, dan bikarbonat. Ion hidroksida selalu ada di dalam air, walaupun terkadang

konsentrasinya sangat kecil. Tetapi, hidroksida dengan konsentrasi tinggi di saluran air alami

dianggap tidak biasa, kecuali setelah melewati penapisan jenis tertentu. Jumlah karbonat yang

kecil ditemukan pada saluran air alami di tempat tertentu, sangat jarang melebihi 3 atau 4

grain/gallon. Mereka juga dapat ditemukan di air setelah penapisan, seperti pelembut lime soda

ash. Bikarbonat adalah sumber yang paling umum penyebab alkalinitas. Hampir semua saluran

alami memiliki jumlah yang dapat dihitung, dari 0 sampai sekitar 50 grain/gallon.

Alkalinitas. Alkalinitas dari air bisa didefinisikan sebagai kapasitasnya terhadap asam netral. Zat

alkali di dalam air termasuk hidroksida. Alkalinitas dapat dideteksi oleh rasanya yang asam dan

mereka menyebabkan kertas litmus merah menjadi biru (pH test paper). Konsentrasi Fosfat dan

Silika jarang ditemukan di saluran alami rumah. Senyawa yang mengandung ion ini dapat

digunakan dalam proses penapisan air yang bervariasi. Konsentrasi alkalinitas menengah

diinginkan oleh hampir semua sumber air untuk menyeimbangkan antara efek korosif dan asam.

(anonim,2009)

Tetapi, jumlah yang berlebihan menyebabkan beberapa masalah. Ion ini tentu bebas berada di air,

tetapi mereka ada di kation, seperti kalsium, magnesium, dan natrium. Anda mungkin tidak akan

memperhatikan kondisi alkali karena ion bikarbonat, kecuali ada dalam jumlah yang besar.

Sebaliknya, anda harus siap mendeteksi alkalinitas walaupun memiliki jumlah karbonat dan ion

hidroksida yang sangat kecil.

Air dengan alkali tinggi memiliki rasa seperi soda. Peraturan EPA membatasi alkalinitas dalam total

padatan terlarut (500 ppm) dan beberapa lebih dibatasi oleh pH. Alkali yang memiliki kandungan

mineral tinggi juga menyebabkan pengeringan yang berlebihan terhadap kulit karena pada

faktanya, mereka menghilangkan kelembaban pada kulit. Masalah pada alkalinitas dapat

dihilangkan oleh reverse osmosis bersama dengan total padatan terlarutnya. Metode lain juga
dapat menghilangkan alkalinitas, namun metode tersebut tidak cocok digunakan untuk

perumahan dibandingkan jika menggunakan reverse osmosis. Metode ini adalah distilasi dan

deionisasi. Beberapa metode lain juga dapat menghilangkan alkalinitas, namun metode ini tidak

baik digunakan di rumah. Metode tersebut adalah :

1.Penghilang padatan dengan lime soda ash. Pada saat yang sama, proses ini akan mem-

persipirasi jumlah yang seimbang dari alkalinitas. Pelembutan dengan lime biasanya dilarang

digunakan oleh industri dan penerapan dalam skala besar lainnya. Pelembutan lime akan

mengurangi total alkalinitas, pelembutan lime mengubah HCO3 menjadi C03, ion alkalinitas yang

lebih kuat.

2.Anion resin yang diregenerasi oleh natrium klorida menghilangkan semua anion (karbonat,

bikarbonat, sulfat, dan nitrat). Ia mengganti anion dengan persamaan kimia yang seimbang

terhadap ion klorida. Kerugian dari proses ini adalah hampir semua dari kasus menghasilkan

konsentrasi ion klorida yang tinggi. Pada titik kejenuhan, resin memiliki kecenderungan untuk

mengeluarkan kembali konsentrasi tinggi yang dibawa anion termasuk nitrat. Untuk pemakaian

perumahan, hasil seperti ini tentu tidak diinginkan karena alkalinitas asli.

3.Pemberian asam mineral akan menetralisir alkalinitas air. Asam hidroklorin, asam sulfur, atau

kombinasi dari keduanya dapat digunakan. Proses ini mengubah bikarbonat dan karbonat

menjadi asam karbon. Pada titik ini, dianjurkan untuk melakukan beberapa metode untuk

mengeluarkan gas karbondioksida keluar ke atmosfer. Kerugian dari teknik ini jelas. Diperlukan

kontrol yang presisi dalam proses dan kehati-hatian dalam menangani asam yang pekat

(Anonim,2009).

2.4 Analisa Umum pada Air

Air merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia, khususnya air minum Tetapi ketersediaan air

minum yang memenuhi syarat semakin sulit dipenuhi, terlebih lagi daerah-daerah resapan air

yang telah dirubah menjadi pemukiman penduduk, limbah-limbah industri yang mencemari

sungai-sungai, semakin mempersulit masyarakat untuk mendapatkan air yang layak untuk di

minum.

Definisi air minum

Di dalam Keputusan Menteri Kesehatan No. 907/MENKES/SK/VII/2002 tentang Syarat-syarat dan

Pengawasan Kualitas Air Minum, disebutkan bahwa air Minum adalah air yang melalui proses

pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung

di minum.

Persyaratan air minum

Walaupun air dari sumber alam dapat diminum oleh manusia, tetapi terdapat resiko kalau air ini

telah tercemar oleh bakteri (misalnya Escherichia coli) atau zat-zat berbahaya. Walaupun bakteri

dapat dibunuh dengan memasak air hingga 100 C, tetapi banyak zat berbahaya, terutama logam,
tidak dapat dihilangkan dengan cara mendidihkan air.

Jadi, air yang akan digunakan untuk air minum tidak bisa sembarang air, misalnya di rumah anda,

sumber air berasal dari air tanah, yang diambil dengan menggunakan jetpump, meskipun secara

kasat mata tampak jernih, tetapi belum tentu memenuhi syarat, karena kondisi lingkungan

disekitarnya akan sangat menentukan kualitas air tersebut. Untuk memastikan apakah air tanah

yang ada di rumah anda memenuhi syarat untuk di minum atau tidak, sebaiknya anda membawa

sampel air tersebut ke laboratorium pengujian seperti Sucofindo, atau lab-lab swasta lain yang

banyak menjual jasa untuk pemeriksaan air, tapi cek juga, apakah lab yang akan anda gunakan

sudah terakreditasi atau belum. Ini untuk menjamin akurasi hasil pemeriksaan. Jika lab-nya sudah

terakreditasi, maka validitas hasil pengujian tentunya lebih terpercaya.

Syarat air minum tercantum dalam Keputusan Menteri Kesehatan No. 907/MENKES/SK/VII/2002..

Persyaratan kualitas air minum meliputi persyaratan bakteriologis, kimiawi, dan fisik. Menurut

departemen kesehatan, syarat-syarat air minum adalah tidak berasa, tidak berbau, tidak

berwarna, tidak mengandung logam berat dan bakteri patogen seperti E. Coli.. Untuk lebih detil

mengetahui rincian syarat air minum, anda dapat melihatnya dalam Kepmenkes tersebut

(anonim,2009).

Syarat tidak berbau, tidak berasa, tidak berwarna

Artinya jika air yang akan anda gunakan memiliki bau, rasa atau warna, berarti air tersebut telah

tercemar.

Syarat tidak mengandung logam berat

Ion logam berat dapat mendenaturasi protein, disamping itu logam berat dapat bereaksi dengan

gugus fungsi lainnya dalam biomolekul. Karena sebagian akan tertimbun di berbagai organ

terutama saluran cerna, hati dan ginjal, maka organ-organ inilah yang terutama dirusak

Syarat tidak mengandung bakteri pathogen

Bakteri patogen yang tercantum dalam Kepmenkes yaitu Escherichia colli, Clostridium perfringens,

Salmonella. Bakteri patogen tersebut dapat membentuk toksin (racun) setelah periode laten yang

singkat yaitu beberpa jam, dapat menyebabkan muntaber (anonim, 2009).

2.5 Standar Baku Mutu Air

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1405/menkes/sk/xi/2002

tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran dan industri terdapat pengertian

mengenai Air Bersih yaitu air yang dipergunakan untuk keperluan sehari-hari dan kualitasnya

memenuhi persyaratan kesehatan air bersih sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang

berlaku dan dapatdiminum apabila dimasak (anonim,2009).

Berikut baku mutu untuk kriteria air berdasarkan Kep.Men Lingkunagn Hidup :

2.5.1 Air Bersih

Mengingat betapa pentingnya air bersih untuk kebutuhan manusia, maka kualitas air tersebut

harus memenuhi persyaratan, yaitu :


Tabel 2.2 Syarat Baku Mutu Air bersih

No.

Parameter

Satuan

Kadar Makasimum

Keterangan

A.Fisika

Bau

Tidak Berbau

Jumlah zat padat terlarut (TDS)

mg/L

1000

Kekeruhan

Skala NTU

Rasa

Tidak Berasa

Suhu

0C

Suhu Udara 3C

Warna

Skala TCU

15

B. Kimia
a. Kimia Anorganik

Air Raksa

mg/L

0,001

Arsan

mg/L

0,05

Besi

mg/L

1,0

Fluorida

mg/L

1,5

Kadmium

mg/L

0,005

Kesadahan (CaCO3)

mg/L

500

Klorida

mg/L

600

Kronium, valensi 6
mg/L

0,05

Mangan

mg/L

0,5

10

Nitrat, sebagai N

mg/L

10

11

Nitrit, sebagai N

mg/L

1,0

12

pH

mg/L

0,05

13

Salenium

mg/L

0,01

14

Seng

mg/L

15

15

Sianida

mg/L

0,1
16

Sulfat

mg/L

400

17

Timbal

mg/L

0,05

b. Kimia Organik

Aldrin

mg/L

0,0007

Benzen

mg/L

0,01

Benzo (a) pyrene

mg/L

0,00001

Chloroform

(total isomer)

mg/L

0,007

Chloroform

mg/L

0,03

6
2,4-D

mg/L

0,10

DDT

mg/L

0,03

Detergen

mg/L

0,5

1,2-DiCloroethene

mg/L

0,01

10

1,1-Dicloroethene

mg/L

0,0003

11

Heptachlor dan Heptachlor epoxide

mg/L

0,003

12

Hexachlorobenzene

mg/L

0,00001

13

Gamma-HCH (Lindane)

mg/L

0,004
14

Methoxychlor

mg/L

0,10

15

PentaChloropenol

mg/L

0,01

16

Pestisida total

mg/L

0,10

17

2,4,6-trichloropenol

mg/L

0,01

18

Zat organik (KmnO4)

mg/L

10

c. Mikrobiologik

Total Koliform (MPN)

Jumlah per 100 ml

Bukan Air pipaan

Koliform tinja belum diperiksa

Jumlah per 100 ml

Bukan Air pipaan

d. Radio Aktivitas
1

Aktivitas Alpha (Gross Alpha activity)

Bg/L

0,1

Aktivitas Beta (Gross Beta activity)

Bg/L

1,0

Keterangan :

mg = miligram

ml = milliliter

L = Liter

Bg = Beguerel

NTU = Nepnelometrik Turbidity Units

TCU = True Colour Units

Logam berat merupakan logam terlarut

2.5.2 Air Minum

Mengingat betapa pentingnya air minum untuk kebutuhan manusia, maka kualitas air tersebut

harus memenuhi persyaratan, yaitu :

Tabel 2.3 Syarat Baku Mutu Air Minum

No.

Parameter

Satuan

Kadar Makasimum

Keterangan

A.Fisika

Bau

Tidak Berbau

Jumlah zat padat terlarut (TDS)

mg/L
1000

Kekeruhan

Skala NTU

Rasa

Tidak Berasa

Suhu

0C

Suhu Udara 3C

Warna

Skala TCU

15

B. Kimia

a. Kimia Anorganik

Air Raksa

mg/L

0,001

Aluminium

mg/L

0,2

Arsan

mg/L

0,05
4

Bakium

mg/L

1,0

Besi

mg/L

0,3

Fluorida

mg/L

1,5

Kadmium

mg/L

0,005

Kesadahan (CaCO3)

mg/L

500

Klorida

mg/L

250

10

Kronium, valensi 6

mg/L

0,05

11

Mangan
mg/L

0,1

12

Natrium

mg/L

200

13

Nitrat, sebagai N

mg/L

10

14

Nitrit, sebagai N

mg/L

1,0

15

Perak

mg/L

0,05

16

Salenium

mg/L

0,01

17

Seng

mg/L

5,0

18

Sianida

mg/L

0,1
19

Sulfat

mg/L

400

20

Sulfida (sebagai H2S)

mg/L

0,05

21

Tembaga

mg/L

1,0

22

Timbal

mg/L

0,05

b. Kimia Organik

Aldrin

mg/L

0,0007

Benzen

mg/L

0,01

Benzo (a) pyrene

mg/L

0,00001

Chloroform
(total isomer)

mg/L

0,0003

Chloroform

mg/L

0,03

2,4-D

mg/L

0,10

DDT

mg/L

0,03

Detergen

mg/L

0,05

1,2-DiCloroethene

mg/L

0,01

10

1,1-Dicloroethene

mg/L

0,0003

11

Heptachlor dan Heptachlor epoxide

mg/L

0,003
12

Hexachlorobenzene

mg/L

0,00001

13

Gamma-HCH (Lindane)

mg/L

0,004

14

Methoxychlor

mg/L

0,03

15

PentaChloropenol

mg/L

0,01

16

Pestisida total

mg/L

0,10

17

2,4,6-trichloropenol

mg/L

0,01

18

Zat organik (KmnO4)

mg/L

10

c. Mikrobiologik

1
Koliform Tinja

Jumlah per 100 ml

Total Koliform

Jumlah per 100 ml

95% dari Sampel yang diperiksa selama setahun kadang boleh ada 3 per 100 ml sampel air. Tetapi

tidak berturut-turut

d. Radio Aktivitas

Aktivitas Alpha (Gross Alpha activity)

Bg/L

0,1

Keterangan :

mg = miligram

ml = milliliter

L = Liter

Bg = Beguerel

NTU = Nepnelometrik Turbidity Units

TCU = True Colour Units

Logam berat merupakan logam terlarut

2.5.3 Limbah Cair

Mengingat betapa pentingnya air. Air limbah yang dizinkan untuk dibuang ke alam dengan

persyaratan, yaitu :

BAKU MUTU AIR LIMBAH DOMESTIK

Tabel 2.4 Syarat Baku Mutu Air Limbah

Parameter

Satuan

Kadar Maksimum

Ph

6-9
BOD

mg/L

100

TSS

mg/L

100

Minyak dan Lemak

mg/L

10

2.6 Aplikasi Analisa Air dalam Industri

Salah satu aplikasi atau penerapan dari Analisa Air ini adalah pada proses pengolahan air

perkotaan. Pengolahan air perkotaan menggunakan proses soda dingin. Dengan menggunakan

proses ini, kesadahan air dapat diturunkan sampai 35 ppm jika cukup peluang diberikan untuk

berlangsungnya pengendapan.

Salah satu cara yang digunakan untuk mengatasi keadaan lewat-jenuh (supersaturasi) dalam

proses gamping dingin soda ialah dengan mengkontakkan lumpur yang diendapkan sebelumnya.

Bila lumpur ini dikenakan pada air yang belum diolah dan bahan kimia permukaannya, atau

benih akan membantu terjadinya pengendapan. Hasilnya berupa reaksi yang lebih cepat dan

lebih lengkap yang menghasilkan partikel yang lebih besar dan lebih mudah menguap. Peralatan

yang dikembangkan untuk kontak ini, dibuat oleh Infileo, Inc, yang dinamakan Accelerator.

Permutit Spaulding Precipitator mempunyai dua kompartemen, satu untuk mencampur dan

mengaduk air mentah dengan bahan-bahan kimia pelunak dan lumpur yang sudah terbentuk

sebelumnya, dan satu lagi untuk mengendapkan dan menyaring air yang telah dilunakkan pada

waktu mengalir ke atas melalui liputan lumpur yang tersuspensi. Mesin seperti ini dapat

mempersingkat sedimentasi dari 4 jam menjadi kurang dari 1 jam dan biasanya juga mengurangi

pemakaian bahan kimia. (anonim,2009)

Kekuatan utama tehadap proses gamping dingin soda ialah besarnya volume lumpur basah yang

terbentuk. Pembuangan lumpur ini merupakan masalah dan biayanya mahal. Permutit Spicator

menggunakan presipitasi (pengendapan) sebagai katalis. Hal ini dapat mengurangi volume dan

kandungan sisa air lumpur. Volumenya tinggi 12 persen dari proses yang konvensional dan limbah

padat yang dihasilkan hampir mempunyai pasir basah saja.

Gambar 2.1. Flowsheet Pengolahan Air Perkotaan

Deskripsi prosesnya sebagai berikut air umpan dengan kesadahan 376 ppm diaerasi kemudian

disalurkan ke pelunak klasifikator bersama dengan alumunium sulfat, hidrat gamping, dan karbon
aktif sehingga menghasilkan pengendapan. Air itu selanjutnya diproses di bak rekarbonasi yang

hasilkan akan disalurkan ke filter pasir lalu dikloroinasi dengan kloroinator yang akhirnya

menghasilkan air yang memiliki kesadahan sebesar 77 ppm. (anonim,2009)

BAB III

METODE PRAKTIKUM

3.1 Bahan

3.1.1. H2SO4 (Asam Sulfat)

a.Sifat fisika

Berat molekul : 98,08 gr/mol

Titik didih : 3400C

Titik lebur : 100C

Densitas relative : 1,8 gr/cm3

Tidak berbau

Tidak berwarna

b.Sifat kimia

Merupakan cairan yang higroskopis

Merupakan asam kuat

Bersifat korosif pada logam

Saat pemanasan, terbentuk uap beracun (SOn)

Merupakan asam bervalensi dua

Terurai dengan 95% etil alcohol

Dapat menimbulkan hujan asam : 2SO2 + O2 2SO3

SO3 + H2O H2SO4

3.1.2. Air (H2O)

a.Sifat fisika

Berat molekul : 18,016 gr/mol

Titik didih : 1000C

Titik lebur : 00C

Densitas bentuk cairan : 1 gr / cm3

Densitas bentuk es : 0.915 gr / cm3

Tidak berwarna

Bentuk kristal heksagonal

b.Sifat kimia
pH saat keadaan murni 7

Larut dalam 95% etil alcohol

Larut dalam etil eter

Pelarut yang baik

Bukan merupakan zat pengoksidasi kuat

Lebih bersifat reduktor daripada oksidator

Reaksi dengan logam besi menghasilkan Fe3O4

3Fe + 4H2O Fe3O4 + 4H2

3.1.3. Metil Jingga

a.Sifat fisika

Berat molekul : 372,33 gr/mol

Berbentuk bubuk berwarna merah atau kuning orange

Pada suhu kamar berbentuk larutan

Rumus molekul : (CH3)2NC6H4N2C6H4SO3Na

Spesifik garvitasi : 1

Tidak berbau

b.Sifat kimia

Trayek pH 3,1 4,4

Berwarna merah dalam asam

Stabil saat penggunaan maupun penyimpanan

Tidak menguap pada suhu 70 F

Terurai menghasilkan Cox, NOx, dan Sox

Larut dalam air

3.2 Alat

3.2.1 Nama Alat

1. Statif,

Fungsi : sebagai penjepit buret

2. Buret,

Fungsi : sebagai alat pentiter

3. Erlenmeyer,

Fungsi : sebagai wadah larutan yang akan dititrasi

4. Gelas ukur,

Fungsi : sebagai penakar volume yang akan digunakan

5. Beaker Gelas,

Fungsi : sebagai penakar larutan yang akan digunakansebagai wadah larutan

6. Corong kaca,

fungsi : untuk menuang larutan ke alat bermulut kecil


7. Pipet tetes,

Fungsi : untuk mengmbil larutan dalam jumlah sedikit

3.2.2 Gambar Peralatan

Statif Gelas ukur Beaker Glass

Pipet tetes Erlen meyer corong

Buret

Gambar 3.1 Peralatan Analisa Air

3.3 Prosedur Praktikum

Analisa Alkalinitas

1.100 ml larutan sampel dimasukkan ke erlenmeyer

2.3 tetes metil orange ditambahkan ke larutan

3.Larutan dititrasi dengan H2SO4 0,02 N hingga larutan berwarna orange

4.Volume H2SO4 0,02 N hingga larutan berwarna orange

5.Kadar alkalinity dihitung dengan rumus:

V H2SO4 x N H2SO4

Alkalinitas (mg CaCO3/L) = ---------------------- x 1000 x 50,4

Volume sample
3.4 Flowchart

3.4.1 Flowchart Analisa Alkalinitas Sampel Aqua

Gambar 3.2. Flowchart Analisa Alkalinitas Aqua


3.4.2 Flowchart Analisa Alkalinitas Sampel Air Sungai Kenanga Raya

Gambar 3.3. Flowchart Analisa Alkalinitas Air Sungai Kenanga Raya

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

I. Air Sungai Kenanga Raya

Tabel 4.1 Data Analisa Air Sungai

II. Air Aqua

Tabel 4.2 Data Analisa Air Sungai


4.2 Pembahasan

Alkalinitas secara umum menunjukkan konsentrasi basa atau bahan yang mampu menetralisir

kemasamaan dalam air. Secara khusus, alkalinitas sering disebut sebagai besaran yang

menunjukkan kapasitas pem-bufffer-an dari ion bikarbonat, dan sampai tahap tertentu ion

karbonat dan hidroksida dalam air.

Kesalahan-kesalahan yang mungkin dilakukan selama percobaan sehingga mempengaruhi nilai

dari alkalinitas sample yang di ukur, yaitu :

1. Pembacaan buret yang tidak tepat ketika berlangsungnya titrasi, mengakibatkan volume zat

pentiter tidak tepat sehingga hasil analisa yang diperoleh tidak akurat.

2. Praktikan kurang berhati-hati saat melakukan percobaan, misalnya sering terjadi kelebihan

beberapa tetes larutan pentiter saat titrasi sehingga hasil yang diperoleh menjadi tidak tepat.

3. Bahan atau larutan yang digunakan seperti larutan standar mungkin sudah terkontaminasi dan

kadaluarsa.

Berikut Grafik Perbedaan Volume H2SO4 terhadap sampel, Air Sungai Kenaga Raya :

Gambar. 4.1 Grafik Volume H2SO4 terhadap titrasi Air Sungai Kenanga Raya

Berikut Grafik Perbedaan Volume H2SO4 terhadap sampel, Air Aqua :

Gambar. 4.2 Grafik Volume H2SO4 terhadap titrasi Air Aqua


BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat praktikan ambil dari percobaan ini adalah :

1. Alkalinitas secara umum menunjukkan konsentrasi basa atau bahan yang mampu menetralisir

kemasamaan dalam air.

2. Alkalinitas Air Sungai Kenanga Raya Lebih besar dari pada air Aqua

3. Alkalinitas dari air aqua yang diperoleh dari percobaan ini adalah 362,88 mg/L

4. Alkalinitas dari iar sungai Kenaga Raya yang diperoleh dari percobaan ini adalah 831,6 mg /L

5.2Saran

Adapun saran yang dapat saya sampaikan untuk praktikum ini adalah :

1.Praktikan diharapkan lebih teliti dalam membaca alat dan menetapkan hasil akhir agar galat

yang ada tidak besar .

2.Praktikan diharapkan utuk belajar seputar percobaan sebelum melakukan percobaan ini.

3.Praktikan diharapkan agar selalu semangat dalam menghadapi kesulitankesulitan yang ada

saat praktikum
DAFTAR PUSTAKA

Anonim , 2009. Aqua. http://danoneaqua.com. 29 Agustus 2009

Anonim , 2009. Air Minum yang Layak. http://healtylife.blogsopt.com

29 Agustus 2009

Anonim , 2009. Alkalinitas. http://maswira-weblog.com. 30 Agustus 2009

Anonim , 2009. Kesadahan. http://o-fish.wordpress.com. 30 Agustus 2009

Anonim , 2009.UU Menteri Negara lingkungan Hidup. http://persembahanku.files-wordpress.com.

30 Agustus 2009

Anonim , 2009.Air. http://wikipedia.com. 30 Agustus 2009


LAMPIRAN A

DATA PERCOBAAN

I. Air Sungai Kenanga Raya

Tabel A-1 Data Analisa Air Sungai

II. Air Aqua

Tabel A-2 Data Analisa Air Aqua

Keterangan : Sampel I : Air Sungai Kenaga Raya

Sampel II : Air Aqua

LAMPIRAN B

PERHITUNGAN

I. Air Sungai Kenanga Raya


II. Air Aqua

LAMPIRAN C
PETA PENGAMBILAN SAMPEL

Gambar C.1 Peta Lokasi Pengambilan Sampel

Air Sungai Kenanga Raya

LAMPIRAN D

FOTO LOKASI SAMPEL

Gambar D.1 Lokasi Pengambilan Sampel Air Sungai Kenanga Raya

Gambar D.2 Lokasi Pengambilan Sampel Air Sungai Kenanga Raya

Gambar D.3 Praktikan Saat Pengambilan Sampel Air Sungai

Gambar D.4 Praktikan Dan Sampel Air Sungai Kenangan Raya

Diposkan oleh laporan permanganometri di 03.08

1 komentar:

1.

Al fitto de naoval ata24 Januari 2016 22.34

bagaimana bila saya akan menghilangan bross beta pada sumber air....?

Balas

Posting Lebih BaruPosting LamaBeranda

Langganan: Poskan Komentar (Atom)


Pengikut
Arsip Blog
2009 (5)

o November (3)

o Oktober (2)
Okt 20 (1)

ANALISA AIR

Okt 18 (1)
Mengenai Saya

laporan permanganometri

Lihat profil lengkapku