Anda di halaman 1dari 183

Modul Praktikum KDM I

MODUL PRAKTIKUM
KEBUTUHAN DASAR MANUSIA I

Di Susun Oleh:

Moh

PROGRAM STUDI D III KEPERAWATAN

Moh Page
1
Modul Praktikum KDM I

STIKes DHARMA HUSADA BANDUNG


2015

Moh Page
2
Kata Pengantar

Bismil aahirrahmaanirrahi m,

Puji serta syukur saya panjatkan ke hadirat Alah SWT yang elah memberikan
rahmat dan hidayah-Nya kepada saya sehingga modul praktikum Kebutuhan Dasar
Manusia I ini dapat tersusun. Modul praktikum ini berisi konsep dan panduan
praktikum untuk aplikasi mata kuliah Kebutuhan Dasar Manusia yang diperuntukkan
bagi mahasiswa program studi Keperawatan Universitas Kader Bangsa Palembang.

Diharapkan mahasiswa yang mengikuti praktikum dapat mengikuti semua


kegiatan praktikum dengan baik dan dapat melaksanakan semua prosedur praktikum
dengan baik dan benar. Penulis menyadari bahwa dalam penyususnan modul ini
tentunya masih terdapat beberapa kekurangan, sehingga penulis bersedia menerima
saran dan kritik dari berbagai pihak untuk dapat menyempurnakan modul praktikum
ini di kemudian hari.

Semoga dengan adanya modul praktikum ini dapat membantu proses belajar
mengajar khususnya kegiatan praktikum mata kuliah Kebutuhan Dasar Manusia I
dengan lebih baik lagi.

Palembang, Juli 2015

Penulis
TATA TERTIB PRAKTIKUM

1. Mahasiswa harus hadir 10 menit sebelum praktikum dimulai


2. Mahasiswa harus menggunakan pakaian laboratorium lengkap dengan name tag,
bagi mahasiswa yang tidak menggunakan pakaian laboratorium tidak
diperkenankan untuk mengikuti praktikum
3. Mahasiswa harus menyiapkan peralatan yang akan digunakan dalam praktikum
4. Selama praktikum mahasiswa tidak diperkenankan untuk :
a. Makan dan minum
b. Bersenda gurau
c. Mendiskusikan masalah yang tidak berkaitan dengan materi praktikum
d. Mengerjakan hal lain yang tidak berkaitan dengan praktikum
5. Seluruh mahasiswa harus ikut serta secara aktif dalam praktikum.
6. Setelah selesai praktikum mahasiswa harus mengembalikan alat-alat yang
digunakan dalam keadaan utuh, dan bersih kepada penanggung jawab
laboratorium. Jika terjadi kerusakan alat selama praktikum yang disebabkan oleh
kelalaian mahasiswa, mahasiswa diwajibkan untuk mengisi formulir kesediaan
mengganti, dan secepatnya mengganti alat tersebut.
7. Setelah praktikum mahasiswa wajib mengikuti test pasca praktikum.
8. Kehadiran mahasiswa dalam praktikum harus 100%. Apabila mahasiswa tidak
dapat mengikuti praktikum karena sakit, atau alasan lain, diwajibkan untuk
mengirimkan surat keterangan yang syah dan harus diserahkan dalam 1
minggu.
Mahasiswa juga harus segera lapor kepada penanggung jawab praktikum untuk
merencanakan praktikum pengganti.
BAB I
PENDAHULUAN

A. Deskripsi Mata Ajar


Fokus mata ajar Kebutuhan Dasar Manusia I membahas tentang konsep
kebutuhan dasar yang meliputi kebutuhan bio, psiko, sosio, spiritual termasuk
kebutuhan personal hygiene, pemeriksaan fisik, mobilisasi dan aktifitas, rasa aman
dan nyaman. Penerapan proses keperawatan dilaksanakan berdasarkan
kebutuhan dasar tersebut. Aktivitas belajar meliputi kuliah, diskusi, penugasan,
demonstrasi dan simulasi di kelas dan praktikum di laboratorium institusi. Proses
pembelajaran difokuskan pada diskusi dan ceramah di kelas dan pengalaman
belajar praktikum di laboratorium. Penugasan individu dan kelompok dalam
bentuk seminar dan membuat pelaporan tentang praktikum

B. Tujuan Mata Ajar


Setelah mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diharapkan mampu membuat
asuhan keperawatan dan mendemonstrasikan praktikumnya tentang personal
hygiene, pemeriksaan fisik, mobilisasi dan aktifitas, rasa aman dan nyaman.
C. Kompetensi Mata ajar
1. Konsep kebutuhan dasar manusia
2. Asuhan keperawatan pada lingkup kebutuhan dasar manusia
3. Konsep kebutuhan fisiologis : personal hygiene, mobilisasi aktifitas serta rasa
aman dan nyaman

D. Strategi Perkuliahan
Pendekatan perkuliahan ini adalah pendekatan Student Center Learning.
Dimana Mahasiswa lebih berperan aktif dalam proses pembelajaran. Metode yang
digunakan lebih banyak menggunakan metode ISS (Interactive skil station) dan
Problem base learning. Interactive skil station diharapkan mahasiswa belajar
mencari materi secara mandiri menggunakan berbagai sumber kepustakaan seperti
internet, expert dan lainlain, yang nantinya akan didiskusikan dalam kelompok yang
telah ditentukan. Sedangkan untuk beberapa pertemuan dosen akan memberikan
kuliah singkat diawal untuk memberikan kerangka pikir dalam diskusi. Untuk
materi-materi yang memerlukan keterampilan, metode yang yang akan dilakukan
adalah simulasi dan demonstrasi di laboratorium

E. Bahan Bacaan
Buku/Bacaan Wajib
(BW)
Potter & Perry. 2006. Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses &
Praktik. Jakarta. EGC
Buku/bacaan anjuran (BA)

Hanke, Grace. 2007. Med-Math : Perhitungan Dosis, Preparat dan


Cara Pemberian Obat Edisi 2. Jakarta : EGC.
Kusyati, Eni. 2006. Keterampilan dan Prosedur Laboratorium. Jakarta :
EGC.
Potter, Patricia A, Pocket guide to health assessment, hal.346-348
A. Tamsuri, 2007, Konsep Dan Penatalaksanaan Nyeri EGC, Jakarta
Borenfein, Gb, 1995, Lbp Medical Diagnosis And Comprehensive M Second
Edition, Philadelpia : Wb Soundres
Carolyn Richardson, Et, Al, 1999, Therapeistic Exercise For Spinal
Segmental Stabilization In Low Back Pain London Chur Chill, Living
Stone
Kisner, Carolyn And Lynn Alen Colby, 2007, Therapeutik Exercise
Foundation And Techiques Fifh Edition, Philadelphian : F.A Davis
Company
Nugroho. D.S, 7-10 Maret 2001, Neurofisiologi Nyeri Dari Aspek
Kedokteran Makalah yang Disampaikan Pada pelatihan
Penatalaksanaan Fisioterapi Komprehensif pada Nyeri, Surakarta

PERSONAL HIGYENE

A. Tujuan Pembelajaran Praktikum

1. Mahasiswa mampu mempersiapkan alat secara lengkap

2. Mahasiswa mampu melakukan tindakan personal Personal Higyene berupa


memandikan pasien, mengeramasi pasien, oral higyene dan gunting kuku
secara sistematis dan setiap langkah dilakukan secara tepat.

B. Dasar Teori

Perawatan diri adalah salah satu kemampuan dasar manusia


dalammemenuhi kebutuhannya guna memepertahankan kehidupannya,kesehatan
dan kesejahteraan sesuai dengan kondisi kesehatannya, kliendinyatakan
terganggu keperawatan dirinya jika tidak dapat melakukan perawatan diri (
Depkes 2000).
Menurut Poter. Perry (2005), Personal hygiene adalah suatutindakan
untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan
fisik dan psikis, kurang perawatan diri adalah kondisidimana seseorang tidak
mampu melakukan perawatan kebersihan untuk dirinya (dalam Tarwoto dan
Wartonah 2006 ).

I. Memandikan pasien
Memandikan pasien merupakan tindakan keperawatan yang di lakukan
pada pasien yang tidak mampu mandi secara mandiri atau memerlukan
bantuan, dengan cara membersihkan pasien dengan air dan sabun.
Tujuan :
a. Membersihkan kulit dan menghilangkan bau badan
b. Memberikan rasa nyaman
c. Merangsang peredaran darah
d. Sebagai pengobatan
e. Mencagah infeksi kulit
f. Mendidik pasien dalam kebersihan perseorangan.

Dilakukan pada:

Pada pasien baru, terutama bila kotor sekali dan keadaan


umumnya memungkinkan.
Pada pasien yang dirawat, sekurang-kurangnya dua kali
sehari dengan kondisinya.

II. Mengeramasi pasien


Rambut yang sehat yaitu tidak mudah rontok dan patah,tidak terlalu berminyak
dan terlalu kering serta tidak berketombedan berkutu.
Tujuan bagi klien yang membutuhkan perawatan rambut dan kulit kepala
meliputi sebagai berikut:
Pola kebersihan diri klien normal
Klien akan memiliki rambut dan kulit kepala bersih yang sehat
Klien akan mencapai rasa nyaman dan harga diri
Klien dapat mandiri dalam kebersihan diri sendiri
Klien akan berpartisipasi dalam praktik perawatan rambut.

III. Oral higyene


Oral hygiene merupakan tindakan untuk membersihkan dan menyegarkan
mulut, gigi dan gusi (Clark, 2005). Menurut Taylor et al (2000), Oral hygiene
adalah tindakan yang ditujukan untuk menjaga kontiunitas bibir, lidah dan
mukosa membran mulut mencegah terjadinya infeksi rongga mulut dan
melembabkan mukosa membran mulut dan bibir.

IV. Gunting kuku


Kuku terdapat di ujung jari bagian yang melekat pada kulit yang terdiri dari
sel-sel yang masih hidup. Bentuk kuku bermacam-macam tergantung dari
kegunaannya ada yangpipih, bulat panjang, tebal dan tumpul (Depdikbud,
1986:21). Guna kuku adalah sebagai pelindung jari, alatkecantikan, senjata ,
pengais dan pemegang (Depdikbud ,1986:22). Bila untuk keindahan bagi
wanita karena kuku harusrelatif panjang, maka harus dirawat terutama dalam
halkebersihannya. Kuku jari tangan maupun kuku jari kaki harus selalu terjaga
kebersihannya karena kuku yang kotor dapat menjadisarang kuman penyakit
yang selanjutnya akan ditularkan kebagian tubuh yang lain.

C. Alat dan Bahan


Memandikan pasien
1. Baskom mandi 2 buah yang berisikan air dingin dan air hangat
2. Pakaian pengganti
3. Kain penutup
4. Handuk dan waslap
5. Tempat untuk pakaian kotor
6. Skrin (sampiran)
7. Sabun
Mengeramasi pasien
1. Handuk 2 buah
2. Talang
3. Kain pel
4. Baskom berisi air hangat
5. Gayung
6. Shampoo dalam tempatnya
7. Sisir
8. Kain kassa dan kapas
9. Ember kosong
10. Sarung tangan bersih
11. Celemek untuk petugas
Oral Higyene
1. Tissue
2. Gelas kumur berisi air matang hangat
3. Sikat gigi dan pastanya
4. Sarung tangan bersih
5. Bengkok
6. Perlak dan alasnya/handuk kecil
Menggunting Kuku
1. Pengalas atau perlak

Ns. Arie Sulistiyawati., Page


M.Kep 10
2. Gunting kuku

Ns. Arie Sulistiyawati., Page


M.Kep 11
3. Handuk
4. Bengkok berisi lisol 5%
5. Baskom berisi air hangat (37-40c)
6. Sabun
7. Sikat kuku
8. Sarung tangan bersih
9. Kapas

D. Petunjuk Umum

1. Siapkan alat dan bahan yang diperlukan

2. Baca dan pelajari dengan baik modul praktikum yang diberikan

3. Ikuti petunjuk yang terdapat pada modul

4. Tanyakan kepada dosen bila ada hal-hal yang tidak dipahami atau
kurang dimengerti

E. Keselamatan Kerja

1. Pusatkan pertanyaan pada pekerjaan yang dilakukan

2. Susun dan letakkan peralatan atau bahan pada temapat yang mudah
dijangkau

3. Pakailah alat dan bahan sesuai fungsinya

4. Perhatikan setiap langkah


F. Langkah Kerja

No Langkah Pengerjaan dan key Ilustrasi gambar


point
1 Menyiapkan alat dan bahan
Key Point : pastikan air tidak terlalu
panas atau dingin (hangat)

2 Menyapa pasien atau keluarga dan


memperkenalkan diri

Ns. Arie Sulistiyawati., Page


M.Kep 12
3 Informed consent:
Menjelaskan tujuan tindakan yang

Ns. Arie Sulistiyawati., Page


M.Kep 13
dilakukan

4 Menjaga privasi pasien : tutup


sampiran

5 Cuci tangan efektif 7 langkah,


mengguankan sabun, dibawah air
mengalir dan dikeringkan

6 Mengganti selimut klien dengan


selimut mandi

Ns. Arie Sulistiyawati., Page


M.Kep 13
7 Melepas pakaian atas klien

8 Membasuh Muka
Membentangkan perlak kecil dan
handuk kecil di bawah kepala
Menawarkan pasien
menggunakan sabun atau tidak
Membersihkan muka, telinga
dengan waslap lembab lali di
keringkan
Menggulung perlak dan handuk

9 Membasuh Lengan
Menurunkan selimut mandi
kebagian perut klien
Memasang handuk besar diatas
dada klien secara melintang dan
kedua tangan klien diletakkan
diatas handuk
Membasahi tangan klien dengan
waslap air bersih, disabun,
kemudian dibilas dengan air hangat
(lakukan mulai dari ekstremitas
terjauh klien)
10 Membasuh Dada Dan Perut
Melepas pakaian bawah klien
dan menurunkan selimut hingga
perut bagian bawah, kedua
tangan diletakkan diatas bagian
kepala, membentangkan handuk
pada sisi klien
Membasuh ketiak dan dada serta
perut dengan waslap basah,
disabun, kemudian dibilas dengan
air hangat dan dikeringkan,
kemudian menutup dengan
handuk

Ns. Arie Sulistiyawati., Page


M.Kep 15
11 Membasuh Punggung
Memiringkan pasien kearah
perawat
Membentangkan handuk di
belakang punggung hingga
bokong

Membasahi punggung hingga


bokong dengan waslap, disabun,
kemudian dibilas dengan air
hangat dan dikeringkan
Memberi bedak pada punggung
Mengembalikan ke posisi

Ns. Arie Sulistiyawati., Page


M.Kep 16
terlentang, kemudian membantu
pasien mengenakan pakaian

12 Membasuh Kaki
Mengeluarkan kaki pasien dari
selimut mandi dengan benar
Membentangkan handuk dibawah
kaki tersebut, menekuk lutut
Membasahi kaki mulai dari
pergelangan sampai pangkal
paha, disabun, dibilas dengan air
bersih, kemudian dikeringkan
Melakukan tindakan yang sama
untuk kaki yang lain

Moh Page
16
13 Membasuh Daerah Lipat Paha
Dan Genital
Membentangkan handuk dibawah
bokong, kemudian selimut mandi
bagian bawah dibuka
Membasahi daerah lipat paha
dan genital dengan air, disabun,
dibilas, kemudian dikeringkan
Mengangkat handuk, membantu
mengenakan pakaian bawah
klien

Merapikan klien, ganti selimut


14 mandi dengan
Membereskan alatselimut tidur

15 Mengevaluasi hasil tindakan :


menanyakan respon pasien
16 Berpamitan dengan pasien

17 Mencuci tangan

18 Mendokumentasikan kegiatan yang


telah dilakukan
Key Point :
Catat waktu, tindakan yang dilakukan,
tanda tangan
MENGKERAMASI PASIEN

No Langkah Pengerjaan dan key point Ilustrasi gambar


1 Menyiapkan alat dan bahan
Key Point :
Pastikan air tidak terlalu panas atau dingin
(hangat)
2 Menyapa pasien atau keluarga dan
memperkenalkan diri

3 Menjelaskan tindakan yang

tujuan dilakukan

4 Menjaga privasi pasien : tutup sampiran

5 Cuci tangan efektif 7 langkah,


mengguankan sabun, dibawah air mengalir
dan dikeringkan

Moh Page
20
6 Mengenakan sarung tangan dan celemek

7 Mengganti selimut klien dengan selimut


mandi

8 Mengatur posisi tidur pasien dengan kepala


dipinggir tempat tidur
9 Memasang handuk dibawah kepala

10 Memasang ember dialasi kain pel

11 Memasang talang dengan ujung berada


didalam ember
12 Menutup dada dengan handuk sampai ke
leher
13 Menyisir rambut

14 Menutup lubang telinga dengan kapas dan


mata dengan kain kassa/sapu tanganpasien

15 Menyiram dengan air hangat, menggosok


(memijit-mijit) kulit kepala dan rambut
dengan shampoo
16 Membilas rambut dengan air hangat sampai
bersih

17 Melepas kapas penutup lubang telinga dan


kain kassa penutup mata

18 Mengangkat talang, mengeringkan rambut


dengan handuk
19 Menyisir rambut

20 Meletakkan kepala pada bantal yang telah


dialasi handuk kering
21 Merapikan pasien, ganti selimut mandi
dengan selimut tidur

22 Membereskan alat
23 Mengevaluasi hasil tindakan : menanyakan
respon pasien

24 Berpamitan dengan pasien


25 Cuci tangan efektif 7 langkah,
mengguankan sabun, dibawah air mengalir
dan dikeringkan

26 Mendokumentasikan kegiatan yang telah


dilakukan
Key Point :
Catat waktu, tindakan yang dilakukan,
tanda tangan

ORAL HIGYENE

No Langkah Pengerjaan dan Ilustrasi gambar


key point
1 Menyiapkan alat dan bahan
2 Menyapa pasien atau keluarga
dan memperkenalkan diri

3 Menjelaskan tujuan tindakan


yang dilakukan

4 Menjaga privasi pasien : tutup


sampiran

5 Cuci tangan efektif 7 langkah,


mengguankan sabun, dibawah
air mengalir dan dikeringkan
6 Memasang perlak dan
alasnya/handuk dibawah dagu
pasien

7 Memakai sarung tangan

8 Membantu pasien untuk


berkumur sambil
9 Menyiapkan bengkok

10 Membantu menyiapkan sikat


gigi dan pastanya

11 Membantu pasien menyikat


gigi bagian depan, samping
dan dalam

Ns. Arie Sulistiyawati., Page


M.Kep 28
12 Membantu pasien untuk
berkumur sambil menyiapkan
bengkok

Ns. Arie Sulistiyawati., Page


M.Kep 29
13 Mengulangi membantu pasien
menyikat gigi bagian depan,
samping dan dalam

14 Membantu pasien untuk


berkumur sambil menyiapkan
bengkok

Ns. Arie Sulistiyawati., Page


M.Kep 29
15 Mengeringkan bibir
menggunakan tissue

Ns. Arie Sulistiyawati., Page


M.Kep 30
16 Merapikan pasien dan
memberikan posisi senyaman
mungkin

17 Membereskan alat

18 Mengevaluasi hasil tindakan :


menanyakan respon pasien

Moh Page
30
19 Berpamitan dengan pasien

20 Cuci tangan efektif 7 langkah,


mengguankan sabun, dibawah
air mengalir dan dikeringkan

21 Mendokumentasikan kegiatan
yang telah dilakukan
Key Point :
Catat waktu, tindakan yang
dilakukan, tanda tangan
MENGGUNTING KUKU
No Langkah Pengerjaan dan key point Ilustrasi gambar
1 Menyiapkan alat dan bahan

2 Menyapa pasien atau keluarga dan


memperkenalkan diri

3 Menjelaskan tujuan tindakan yang


dilakukan

Ns. Arie Sulistiyawati., Page


M.Kep 32
4 Menjaga privasi pasien : tutup sampiran

Ns. Arie Sulistiyawati., Page


M.Kep 33
5 Cuci tangan efektif 7 langkah,
mengguankan sabun, dibawah air mengalir
dan dikeringkan

6 Mengenakan sarung tangan dan celemek

7 Dekatkan alat ke pasien

8 pasang pengalas di bawah tangan

Ns. Arie Sulistiyawati., Page


M.Kep 33
9 rendam kuku dengan air hangat, jika kotor
kuku di sikat. Keringkan dengan handuk

10 letakkan tangan di atas bengkok yang


berisi lisol

11 potong kuku, setelah selesai letakkan


gunting kuku di atas bengkok

12 kikir kuku agar rata

13 lepaskan sarung tangan dan letakkan di


dalam bengkok
14 Merapikan pasien dan memberikan posisi
senyaman mungkin

15 Membereskan alat

16 Mengevaluasi hasil tindakan : menanyakan


respon pasien

Ns. Arie Sulistiyawati., Page


M.Kep 35
17 Berpamitan dengan pasien

Ns. Arie Sulistiyawati., Page


M.Kep 36
18 Cuci tangan efektif 7 langkah,
menggunakan sabun, dibawah air mengalir
dan dikeringkan

19 Mendokumentasikan kegiatan yang telah


dilakukan
Key Point :
Catat waktu, tindakan yang dilakukan,
tanda tangan

G. Evaluasi Praktikum

1. Mahasiswa mampu mempersiapkan alat secara lengkap

2. Mahasiswa mampu melakukan tindakan personal Personal Higyene berupa


memandikan pasien, mengeramasi pasien, oral higyene dan gunting kuku secara
sistematis dan setiap langkah dilakukan secara tepat.

3. Mahasiswa memperhatikan tingkat kenyaman pasien dan privasinya selama


prosedur

4. Mahasiswa wajib berlatih dengan menggunakan panduan modul praktikum pada


jam praktikum mandiri

Moh Page
36
BAD MAKING (Menyiapkan Tempat Tidur)

A. Tujuan Pembelajaran Praktikum

1. Mahasiswa mampu mempersiapkan alat secara lengkap


2. Mahasiswa mampu menyiapkan tempat tidur pasien secara sistematis dan
setiap langkah dilakukan secara tepat.

B. Dasar Teori
Jenis Tempat tidur dan metode yang digunakan untuk mengoperasikannya
dapat berbeda diberbagai fasilitas kesehatan tetapi prinsip dasar
merapikan tempat tidur adalah sama. Baik untuk yang tinggal ditempat
tidur, maupun yang akan merawatnya, kwalitas tempat tidur menjadi sangat
penting. Suatu tempat tidur secara umum harus memenuhi syarat-syarat
sebagai berikut:
1. Individu harus dengan mudah masuk dan keluar. Baik dengan bantuan
maupun sendiri.
2. Keamanan harus terjamin, meskipun dengan beberapa alat bantu.
3. Pasien atau penghuni harus dengan mudah dapat dirawat (terutama tinggi
tempat kerja penting disini).
4. Diatas tempat tidur harus dapat dietkkan beberapa alat bantu.
5. Tempat tidur, kasur dan bantal harus dapat dibersihkan dengan baik.
Sebuah tempat tidur disamping memenuhi syarat-syarat diatas sebaiknya juga
harus dapat disetel dalam berbagai posisi dan berada diatas roda-roda. Kain
yang dipakai untuk tempat tidur adalah kebanyakan katun atau kain imitasi
katun.

C. Alat dan Bahan

Tempat tidur, kasur dan bantal.


Alat tenun disusun menurut pemakainnya.
Alas kasur
Laken/sprei besar
Perlak
Stik Laken/Sprei melintang
Boven Laken
Selimut dilipat terbalik(bagian dalam selimut dilipatan luar)
Sarung bantal
Over laken/sprei penutup
D. Petunjuk Umum

1. Siapkan alat dan bahan yang diperlukan

2. Baca dan pelajari dengan baik modul praktikum yang diberikan

3. Ikuti petunjuk yang terdapat pada modul

4. Tanyakan kepada dosen bila ada hal-hal yang tidak dipahami atau kurang
dimengerti

E. Keselamatan Kerja

1. Pusatkan pertanyaan pada pekerjaan yang dilakukan

2. Susun dan letakkan peralatan atau bahan pada temapat yang mudah
dijangkau

3. Pakailah alat dan bahan sesuai fungsinya

4. Perhatikan setiap langkah

F. Langkah Kerja

No Langkah Pengerjaan dan key Ilustrasi gambar


point
1 Menyiapkan alat dan bahan

2 Cuci tangan efektif 7 langkah,


mengguankan sabun, dibawah air
mengalir dan dikeringkan

3 Letakkan alat tenun yang telah disusun


sesuai pemakaian didekat tempat tidur.

4 Pasang alas kasur dan kasur.

Ns. Arie Sulistiyawati., Page


M.Kep 40
5 Pasang sprei besar/ laken dengan
ketentuan berikut:
Garis tengah lipatan diletakkan
tepat ditengah kasur.
Bentangkan sprei, masukkan sprei
bagian kepala ke bawah kasur
30cm; demikian juga pada
bagian kaki, tarik setegang
mungkin.
Pada ujung setiap sisi kasur
bentuk sisi 90, lalu masukkan
seluruh tepi sprei kebawah kasur
dengan rapi dan tegang

6 Letakkan perlak melintang pada kasur


50cm dari bagian kepala.
7 Letakkan stik laken diatas sprei
melintang kemudian masukkan sisi-
sisinya kebawah kasur bersama
dengan perlak.

Ns. Arie Sulistiyawati., Page


M.Kep 41
8 Pasang boven pada kasur daerah
bagia kaki, pada bagian atas yang
terbalik masukkan kebawah kasur

Ns. Arie Sulistiyawati., Page


M.Kep 42
10cm kemudian ujung sisi bagian
bawah (kaki) dibentuk 90 dan
masukkan kebawah kasur. Tarik sisi
atas sampai terbentang.
9 Pasang selimut pada kasur bagian
kaki, pada bagian atas yang terbalik
dimasukkan kebawah kasur 10cm
kemudian ujung sisi-sisinya dibentuk
90 dan masukkan kebawah kasur.
Tarik sisi atas sampai terbentang.
10 Lipat ujung atas boven sampai tampak
garis atau pitanya.

11 Masukkan bantal kedalam sarungnya


dan letakkan diatas tempat tidur
dengan Bagian yang terbuka dibagian
bawah.
12 Pasang sprei penutup (over laken).

Ns. Arie Sulistiyawati., Page


M.Kep 42
13 Cuci tangan efektif 7 langkah,
mengguankan sabun, dibawah air
mengalir dan dikeringkan

Ns. Arie Sulistiyawati., Page


M.Kep 43
G. Evaluasi Praktikum

1. Mahasiswa mampu mempersiapkan alat secara lengkap

2. Mahasiswa mampu menyiapkan tempat tidur pasien secara sistematis dan


setiap langkah dilakukan secara tepat.

3. Mahasiswa memperhatikan tingkat kenyaman pasien dan privasinya


selama prosedur

4. Mahasiswa wajib berlatih dengan menggunakan panduan modul praktikum


pada jam praktikum mandiri

PENCEGAHAN INFEKSI
a. Tujuan Pembelajaran Praktikum

1. Mahasiswa mampu mempersiapkan alat secara lengkap

2. Mahasiswa mampu melakukan pencegahan terhadap infeksi


secara sistematis dan setiap langkah dilakukan secara tepat.

b. Dasar Teori

Pencegahan infeksi dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu dengan mencuci


tangan dan pemakaian APD.

Alat Pelindung Diri (APD) adalah kelengkapan yang wajib digunakan saat
bekerja sesuai bahaya dan risiko kerja untuk menjaga keselamatan pekerja itu
sendiri dan orang di sekelilingnya. APD adalah seperangkat alat yang digunakan
oleh tenaga kerja untuk melindungi seluruh/sebagian tubuhnya terhadap
kemungkinan adanya potensi bahaya/kecelakaan kerja.

Syarat-syarat :

Enak dipakai.
Tidak mengganggu kerja.
Memberikan perlindungan efektif sesuai dengan jenis bahaya di
tempat kerja.
Kelemahan APD :
1. Kemampuan perlindungan yang kurang sempurna:
a. Tidak tepat
b. Salah cara penggunaan
c. Kualitas APD
2. Sering APD tidak dipakai karena kurang nyaman.
3. Mengganggu penampilan

APD yang untuk tenaga Kesehatan:

No Alat APD Ilustrasi Gambar


1 Handscoon
2 Masker

3 Topi
4 Barack Short

5 Google/ Kaca mata


6 Sepatu
MENCUCI TANGAN
Mencuci tangan adalah menggosok air dengan sabun secara
bersama-sama seluruh kulit permukaan tangan dengan kuat dan
ringkas kemudian dibilas dibawah aliran air.

a. Tujuan cuci tangan :

Supaya tangan bersih


Membebaskan tangan dari kuman dan mikroorganisme
Menghindari masuknya kuman kedalam tubuh
Mencegah penularan melalui kontak

b. Waktu yang tepat untuk cuci tangan :

Sebelum dan sesudah makan


Setelah buang air besar
Setelah bermain
Sebelum dan sesudah melakukan tindakan

c. Alat dan Bahan

Mencuci Tangan

1. Tempat mencuci tangan dengan air mengalir

2. Sabun

3. Alat pengering
d. Petunjuk Umum
1. Siapkan alat dan bahan yang diperlukan
2. Baca dan pelajari dengan baik modul praktikum yang diberikan

3. Ikuti petunjuk yang terdapat pada modul

4. Tanyakan kepada dosen bila ada hal-hal yang tidak dipahami atau kurang
dimengerti

e. Keselamatan Kerja

1. Pusatkan pertanyaan pada pekerjaan yang dilakukan

2. Susun dan letakkan peralatan atau bahan pada temapat yang mudah
dijangkau

3. Pakailah alat dan bahan sesuai fungsinya

4. Perhatikan setiap langkah

f. Langkah Kerja

Mencuci tangan

No Langkah Pengerjaan dan key point Ilustrasi gambar

Moh Page
50
1 Gulung lengan baju sampai atas
pergelangan tangan , lepaskan cincin,
jam tangan dan perhiasan tangan lain

Moh Page
51
2 Basahi tangan sampai sepertiga lengan
dibawah air mengalir

3 Ambil sabun kira-kira 5 ml,ratakan


pada tangan yang telah dibasahi

4 Gosok telapak tangan


5 Kemudian Punggung Tangan

6 Setelah itu gosok sela-sela jari tangan

7 Kemudian Kuku-kuku tangan


8 Kemudian Buku-buku tangan

9 Kemudian Ibu jari tangan

10 Dan kemudian seluruh tangan


g. Evaluasi Praktikum

1. Mahasiswa mampu mempersiapkan alat secara lengkap

2. Mahasiswa mampu melakukan pencegahan terhadap infeksi secara sistematis


dan setiap langkah dilakukan secara tepat.

3. Mahasiswa wajib berlatih dengan menggunakan panduan modul praktikum


pada jam praktikum mandiri

PEMBERIAN OKSIGEN

A. TUJUAN PEMBELAJARAN PRAKTIKUM


a. Mahasiswa mampu mempersiapkan alat secara lengkap
b. Mahasiswa mampu melakukan pemberian therapi oksigen sesuai dengan
kebutuhan

B. DASAR TEORI
Pengertian

Pemberian oksigen ke dalam paru-paru melalui saluran pernapasan dengan


menggunakan alat bantu dan oksigen.Pemberian oksigen pada klien dapat melalui
kanula nasal dan masker oksigen. (Suparmi, 2012:66)

Indikasi

Efektif diberikan pada klien yang mengalami :


1. Gagal nafas
Ketidakmampuan tubuh dalam mempertahankan tekanan parsial normal

O2 dan CO2 di dalam darah, disebabkan oleh gangguan pertukaran O2 dan


CO2 sehingga sistem pernapasan tidak mampu memenuhi metabolisme tubuh

2. Gangguan jantung (gagal jantung)


Ketidakmampuan jantung untuk memompa darah dalam jumlah yang cukup
untuk memenuhi kebutuhan jaringan terhadap nutrien dan oksigen

3. Kelumpuhan alat pernafasan


Suatu keadaan dimana terjadi kelumpuhan pada alat pernapasan untuk
memenuhi kebutuhan oksigen karena kehilangan kemampuan ventilasi
secara adekuat sehingga terjadi kegagalan pertukaran gas O2 dan CO2.

4. Perubahan pola napas


Hipoksia (kekurangan oksigen dalam jaringan), dyspnea (kesulitan bernapas,
misal pada pasien asma),sianosis (perubahan warna menjadi kebiru-biruan
pada permukaan kulit karena kekurangan oksigen), apnea (tidak bernapas/
berhenti bernapas), bradipnea (pernapasan lebih lambat dari normal dengan
frekuensi kurang dari 16x/menit), takipnea (pernapasan lebih cepat dari
normal dengan frekuensi lebih dari 24x/menit (Tarwoto&Wartonah, 2010:35)

5. Keadaan gawat (misalnya : koma)


Pada keadaan gawat, misal pada pasien koma tidak dapat mempertahankan
sendiri jalan napas yang adekuat sehingga mengalami penurunan oksigenasi

6. Trauma paru
Paru-paru sebagai alat penapasan, jika terjadi benturan atau cedera
akan mengalami gangguan untuk melakukan inspirasi dan ekspirasi
7. Metabolisme yang meningkat : luka bakar
Pada luka bakar, konsumsi oksigen oleh jaringan akan meningkat dua kali lipat
sebagai akibat dari keadaan hipermetabolisme.

8. Post operasi
Setelah operasi, tubuh akan kehilangan banyak darah dan pengaruh dari
obat bius akan mempengaruhi aliran darah ke seluruh tubuh, sehingga sel
tidak mendapat asupan oksigen yang cukup.

9. Keracunan karbon monoksida


Keberadaan CO di dalam tubuh akan sangat berbahaya jika dihirup karena
akan menggantikan posisi O2 yang berikatan dengan hemoglobin dalam
darah.(Aryani, 2009:53)

C. BAHAN, PERALATAN DAN PERLENGKAPAN


a) Tabung oksigen lengkap dengan flowmeter dan humidifier
b) Kanul nasal
c) Masker Oksigen

D. PETUNJUK UMUM
1. Siapkan alat dan bahan yang diperlukan
2. Baca dan pelajari dengan baik modul praktikum yang diberikan
3. Ikuti petunjuk yang terdapat dalam modul praktikum
4. Tanyakan pada dosen bila terdapat hal-hal yang kurang dimengerti atau
dipahami

E. KESELAMATAN KERJA
1. Pusatkan perhatian pada pekerjaan yang dilakukan
2. Susun dan letakan peralatan atu bahan pada tempat yang mudah dijangkau
3. Pakailah bahan, peralatan dan perlengkapan sesuai dengan fungsinya
4. Perhatikan setiap langkah Therrapi Oksigen

F. LANGKAH KERJA

Therapi Oksigen dengan Nasal Kanul

No. Langkah Pengerjaan dan Key Ilustrasi Gambar


Point
1. Menyiapkan alat dan bahan

2. Menyapa pasien atau keluarga dan


memperkenalkan diri
3. Menjelaskan tujuan pemasangan
kanul nasal
4. Cuci tangan efektif secara 7 langkah,
menggunakan sabun dibawah air
mengalir dan dikeringkan dengan
handuk bersih dan kering

5. Atur aliran oksigen sesuai dengan


kecepatan yang dibutuhkan,
biasanya 1-6 LPM kemudian,
observasi humidifier dengan melihat
air bergelembung

6. Pasang kanul nasal pada hidung dan


atur pengikat untuk kenyamanan
pasien

7. Kaji cuping, septum, dan mukosa


hidung serta periksa kecepatan
aliran oksigen setiap 6-8 jam
8 Membereskan peralatan sesuai
dengan prinsip PI

9 Cuci tangan efektif secara 7


langkah, menggunakan sabun di
bawah air mengalir dan keringkan
dengan handuk yang bersih dan
kering

10 Dokumentasikan kecepatan aliran


oksigen, rute pemberian, dan respon
klien pada catatan perkembangan
pasien

G. EVALUASI PRAKTIKUM
1. Mahasiswa mampu mempersiapkan alat secara lengkap
2. Mahasiswa mampu melakukan therapi oksigen dengan menggunakan nasal
kanul

LANGKAH KERJA

Therapi oksigen menggunakan masker


No. Langkah Pengerjaan dan Key Ilustrasi Gambar
Point
1. Menyiapkan alat dan bahan

2. Menyapa pasien atau keluarga dan


memperkenalkan diri

3. Menjelaskan tujuan pemberian terapi


intravena

Ns. Arie Sulistiyawati., Page


M.Kep 60
4. Cuci tangan efektif secara 7 langkah,
menggunakan sabun dibawah air
mengalir dan dikeringkan dengan
handuk bersih dan kering

5. Atur Posisi semi fowler

6. Atur aliran oksigen sesuai dengan


kecepatan yang dibutuhkan, biasanya
6-10 LPM

7. Tempatkan masker oksigen diatas


mulut dan hidung dan atur pengikat
untuk kenyamanan pasien
8. Periksa masker tiap 6-8 jam

9. Kaji cuping, septum, dan mukosa


hidung serta periksa kecepatan aliran
oksigen setiap 6-8 jam

12 LPM kemudian, observasi


humidifier dengan melihat air
bergelembung

13 Membereskan peralatan sesuai


dengan prinsip PI

14 Cuci tangan efektif secara 7 langkah,


menggunakan sabun di bawah air
mengalir dan keringkan dengan
handuk yang bersih dan kering

Ns. Arie Sulistiyawati., Page


M.Kep 62
15 Dokumentasikan kecepatan aliran
oksigen, rute pemberian, dan respon
klien pada catatan perkembangan
pasien

Evaluasi praktikum
1. Mahasiswa mampu mempersiapkan alat secara lengkap
2. Mahasiswa mampu melakukan therapi oksigen dengan menggunakan masker

Moh Page
63
PRAKTIKUM SISTEM RESPIRASI

Moh Page
64
POSTURAL DRAINASE

A. TUJUAN PEMBELAJARAN PRAKTIKUM


Mahasiswa mampu mempersiapkan alat secara lengkap
Mahasiswa mampu melakukan tindakan suction

B. DASAR TEORI
Pengertian

Postural drainase (PD) merupakan salah satu intervensi untuk melepaskan


sekresi dari berbagai segmen paru dengan menggunakan pengaruh gaya
gravitasi..Mengingat kelainan pada paru bisa terjadi pada berbagai lokasi maka
PD dilakukan pada berbagai posisi disesuaikan dengan kelainan parunya.
Waktu yang terbaik untuk melakukan PD yaitu sekitar 1 jam sebelum sarapan
pagi dan sekitar 1 jam sebelumtidur pada malam hari.

Postural darinase (PD) merupakan cara klasik untuk mengeluarkan sekret dari
paru dengan mempergunakan gaya berat dan sekret itu sendiri. Postural
Drainase (PD) dapat dilakukan untuk mencegah terkumpulnya sekret dalam
saluran nafas tetapi mempercepat pengeluaran sekret sehingga tidak terjadi
ateletaksis.Pada penderita dengan produksi sputum yang banyak postural
drainase lebih efektif bila disertai dengan perkusi dan vibrasi dada.

Tujuan dilakukan Postural Drainase

Untuk mengeluarkan secret yang tertampung.


Untuk mencegah akumulasi secret agar tidak terjadi atelektasis.
Mencegah dan mengeluarkan secret
Indikasi dan Kontra Indikasi Klien yang Mendapat Drainase Postural

Mencegah penumpukan secret yaitu pada:


pasien yang memakai ventilasi
pasien yang melakukan tirah baring yang lama
pasien yang produksi sputum meningkat seperti pada fibrosis
kistik, bronkiektasis
mobilisasi secret yang tertahan
pasien dengan atelektasis yang disebabkan oleh secret
pasien dengan abses paru
pasien dengan pneumonia

Kontraindikasi

Tension pneumotoraks
Hemoptisis
Gangguan sistem kardiovaskuler seperti hipotensi, hipertensi, infark
miokard akutrd infark dan aritmia.
Edema paru
Efusi pleura yang luas

C. BAHAN, PERALATAN DAN PERLENGKAPAN


a. Pot sputum berisi desinfektan
b. Tissu
c. Dua balok tempat tidur (untuk postural drainase)
d. Satu bantal (untuk postural drainase)
e. Stetoskop
D. PETUNJUK UMUM
Siapkan alat dan bahan yang diperlukan
Baca dan pelajari dengan baik modul praktikum yang diberikan
Ikuti petunjuk yang terdapat dalam modul praktikum
Tanyakan pada doen bila terdapat hal-hal yang kurang dimengerti atau
dipahami

E. KESELAMATAN KERJA
Pusatkan perhatian pada pekerjaan yang dilakukan
Susun dan letakan peralatan atu bahan pada tempat yang mudah
dijangkau
Pakailah bahan, peralatan dan perlengkapan sesuai dengan fungsinya
Perhatikan setiap postural drainase

F. LANGKAH KERJA

No. Langkah Pengerjaan dan Key Ilustrasi Gambar


Point
1 . Menyiapkan alat dan bahan
2 Menyapa pasien atau keluarga dan
memperkenalkan diri

3 Menjelaskan tujuan pemberian


terapi intravena

4 Cuci tangan efektif secara 7


langkah, menggunakan sabun
dibawah air mengalir dan
dikeringkan dengan handuk bersih
dan kering

Ns. Arie Sulistiyawati., Page


M.Kep 67
5 Atur posisi :
Semi-fowler bersandar ke
kanan, ke kiri lalu kedepan
apabila daerah yang akan di
drainase pada lobus atas
bronkus apikal
Tegak dengan sudut 45

Ns. Arie Sulistiyawati., Page


M.Kep 68
membungkuk ke depan pada
bantal dengan 45 ke kiri dan
ke kanan apabila daerah yang
akn di drainase bronkus
posterior
berbaring dengan bantal
dibawah lutut apabila yang
akan di drainase bronkus
anterior
Posisi Trendelenburg dengan
sudut 30 atau dnegan
manaikkan kaki tempat tidur
35-40cm, sedikit miring ke
kiri apabila yang akan di
drainase pada lobus tengah
(bronkus lateral dan medial)
Posis Trendelenburg dengan
sudut 30 atas dengan
menaikkan kaki tempat tidur
35-40cm, sedikit miring ke
kanan apabila daerah yang
akan di drainase bronkus
superior dan inferior
Condong dengan bantal
dibawah panggul, apabila
drainase yang akan di
drainase bronkus apikal
Posis Trendelenburg dengan
sudut 45 atau
dengan
menaikkan kaki temapt tidur
45-50cm ke samping kanan,
apabila yang akan di drainase
bronkus medial
Posis Trendelenburg dengan
sudut 45 atau dengan
menaikkan kaki tempat tidur
45-50cm ke samping kiri,
apabila yang di drainase
bronkus lateral
Posis Trendelenburg condong
dengan sudut 45 dengan
bantal dibawah panggul,
apabila yang akan di drainase
bronkus posterior
6 Lama pengaturan posisi pertama
kali adalah 10menit, kemudian
periode selanjutnya kurang lebih
15-30 menit

7 Lakukan observasi tanda-tanda


vital selama prosedur
8 Setelah pelaksanaan postural Clapping
drainase lakukan clapping, vibrasi,
dan penghisapan (suction )
Vibrasi

Suction

9 Cuci tangan efektif secara 7


langkah, menggunakan sabun di
bawah air mengalir dan keringkan
dengan handuk yang bersih dan
kering

Ns. Arie Sulistiyawati., Page


M.Kep 70
10 Dokumentasikan kecepatan aliran
oksigen, rute pemberian, dan
respon klien pada catatan
perkembangan pasien

G. EVALUASI PRAKTIKUM
Mahasiswa mampu mempersiapkan alat secara lengkap
Mahasiswa mampu melakukan postural draimase

MELAKUKAN RANGE OF MOTION (ROM)


Terminologi untuk posisi rentang gerak sendi normal
Istilah Rentang Gerak Contoh Sendi
Fleksi Gerakan memperkecil sudut antara dua tulang yang menyatu ; penekukan
ekstremitas Siku, jari dan lutut
Ekstensi Gerakan mempesar sudut antara dua tulang yang menyatu Siku, jari dan
lutut
Hiperekstensi Gerakan bagian-bagian tubuh melebihi batas normal posisi
ekstensinya Kepala

Pronasi Permukaan depan atau ventral bagian tubuh menghadap ke bawah Tangan
dan lengan bawah
Supinasi Permukaan depan atau ventral bagian tubuh menghadap ke atas Tangan
dan lengan bawah

Abduksi Gerakan ekstremitas menjauh dari garis tengah tubuh Tungkai, lengan dan
jari
Adduksi Gerakan ekstremitas ke arah garis tengah tubuh Tungkai, lengan dan jari
Rotasi internal Rotasi sendi ke arah dalam Lutut dan panggul
Rotasi eksternal Rotasi sendi ke arah luar Lutut dan panggul
Eversi Pembalikan bagian tubuh menjauh dari garis tengah Telapak kaki
Inversi Pembalikan bagian tubuh ke arah garis tengah Telapak kaki
Dorsifleksi Fleksi dari telapak kaki dan jari-jarinya ke atas Telapak kaki
Plantar fleksi Penekukan telapak kaki dan jari-jarinya ke bawah Telapak kaki.
Sumber : Potter, Patricia A, Pocket guide to health assessment, hal.345.

Rentang Gerak Sendi Normal


Anggota Tubuh Gerakan Pengukuran
Rahang Membuka dan menutup rahang
Gerakkan rahang dari sisi ke sisi
Gerakkan rahang ke depan
Mampu memasukkan tiga jari
Sisi dasar gigi tumpang tindih dengan puncak sisi gigi.
Puncak gigi jatuh di belakang gigi bawah

Leher
Menyentuh dagu ke sternum
Ekstensi leher dengan dagu mengarah ke atas
Menekuk leher secara lateral
Rotasi leher dengan telinga mengarah ke dada
Fleksi 70 90

Hiperekstensi 55
Penekukan lateral 35
Rotasi 70 ke kiri dan ke kanan.
Tulang Belakang Menekuk ke depan pada pinggang
Menekuk ke belakang
Menekuk ke tiap sisi Fleksi 75
Ekstensi 30
Penekukan lateral 35
Bahu Abduksi lengan lurus ke atas
Adduksi lengan ke arah garis tengah tubuh
Abduksi lengan secara horizontal lurus dengan lantai ; tarik lengan ke belakang
ke arah tulang belakang dan ke depan menyilang terhadap dada
Fleksi ke depan atau elevasi dengan lengan lurus
Ekstensi ke belakang dengan lengan lurus Abduksi 180
Adduksi 45
Ekstensi horizontal 45
Fleksi horizontal 130
Fleksi 180
Ekstensi 60
Siku Ekstensi lengan bawah ke batas terjauh normal
Fleksi lengan bawah ke arah bisep
Hiperekstensi lengan di luar batas normalnya
Supinasi lengan bawah
Pronasi lengan bawah Ekstensi 150
Fleksi 150
Hiperekstensi 0o 10
Supinasi 90
Pronasi 90
Pergelangan
Tangan Fleksi pergelangan ke arah lengan bawah
Fleksi pergelangan ke arah belakang
Simpangkan secara lateral pergelangan ke arah radial
Simpangkan lateral pergelangan ke arah ulnar Fleksi 80 90
Ekstensi 70
Penyimpangan ke arah radial 20
Penyimpangan ke arah ulnar 30 50
Jari-jari Fleksikan jari-jari membentuk sebuah kepalan kemudian
Ekstensikan sampai datar
Buka jari-jari sampai terpisah
Silangkan jari-jari bersamaan

Oposisi setiap jari mampu menyentu ibu jari Fleksi 80- 100 (bervariasi
tergantung pada sendinya)
Ekstensi 0 45
Abduksi antara jari-jari 20
Abduksi (jari-jari bersentuhan)
Meliputi abduksi, rotasi dan fleksi.
Panggul Naikkan tungkai dengan lutut lurus
Naikkan tungkai dengan lutut fleksi
Berbaring tengkurap, ekstensikan tungkai lurus ke belakang
Abduksi sebagian tungkai yang fleksi ke arah luar
adduksi sebagian tungkai yang fleksi ke arah dalam
Fleksi lutut dan ayunkan kaki menjauhi garis tengah
Fleksi lutut dan ayun kaki ke arah garis tengah Fleksi 90
Fleksi 110 120

Ekstensi 30

Abduksi 45 50
Adduksi 20 30
Rotasi internal 35- 40
Rotasi eksternal 45
Lutut Fleksi lutut dengan betis menyentuh paha
Ekstensikan lutut di luar batas normal ekstensinya
Putar lutut dan tungkai bawah ke arah garis tengah Fleksi 130
Hiperekstensi 15
Rotasi internal 10
Tumit Dorsifleksikan kaki dengan ibu jari mengarah ke kepala
Plantar kaki fleksi dengan ibu jari mengarah ke bawah
Putar balik kaki menjauh dari garis tengah
Putar balik kaki mengarah ke garis tengah Dorsifleksi 20
Plantar fleksi 45
Eversi 20
Inversi 30
Ibu Jari Lekukan ibu jari kaki di bawah telapak kaki
Angkat ibu jari ke atas
Ibu jari kaki diregangkan Fleksi 35-60
Ekstensi 0- 90

KEBUTUHAN AKTIFITAS (BODY MOVEMENT)

Konsep fisiologis.

1. Bioritme manusia:
bioritme manusia adalah, siklus fungsi tubuh alami, yang tidak diaktifkan oleh
perubahan lingkungan, tetapi bersipat endogen, timbul dari dalam tubuh
manusia sendiri dan sinkron dengan lingkungan manusia seperti :

a. gravitasi
b. cahaya.
c. Kegelapan.
d. Rangsangan elektromagnetik.

Dalam kehidupan sehari hari tiap individu memiliki pola/irama yang berbeda
satu dengan yang lainnya.seperti :

a. kerja.
b. Rekreasi.
c. Istirahat.
d. Makan dsb.
Kegiatan ini mempengaruhi :

a. siklus suhu tubuh.


b. Denyut jantung.
c. Tekanan darah.
d. Sekresi hormon dan elektrolit.
e. Metabolisme.
f. Ketajaman sensorik.
g. Pembentukan urine
h. Pembelahan sel
i. Siklus bangun - tidur dan kerja

2. Kapasitas fungsional.
Kottke (2006) mengemukakan konsep kapasitas fungsional, potensial maksimal
fisiologis dan cadangan potensial untuk memahami dampak negatif pada klien
dengan imobilitas.

Kapasitas fungsional :

Adalah angka metabolisme maksimal yang dicapai sesorang pada saat


mengerahkan tenaganya.

Potensial maksimal fisiologis.

Adalah angka metabolisme maksimal pada individu yang sama, yang mampu
dicapai sesudah melakukan latihan fisik yang terencana.

Cadangan potensial :

Adalah perbedaan kapasitas fungsional dan potensial maksimal fisiologis.

Ns. Arie Sulistiyawati., Page


M.Kep 80
Pada umumnya kapasitas fungsional seseorang lebih rendah
daripada kemampuan maksimal fisiologisnya.

Pengaruh aktivitas dan latihan terhadap KF, PMF, CD

Ns. Arie Sulistiyawati., Page


M.Kep 81
setelah latihan

exercise

Keterangan :

A: kapasitas fungsional

B : cadangan potensial

A + B : potensial maksimal fisiologis.

Dampak kesakitan/cedera terhadap KF, CP, PMF

Setelah kegiatan yang melelahkan

Setelah latihan terencana


Tingkat permulaan
Sakit/cedera
Setelah istirahat

Setelah beristirahat lama

Keterangan :

A : kapasitas fungsional

B : cadangan potensial

C : potensial maksimal fisiologis.

MOBILISASI DAN IMOBILITAS

A. PENGERTIAN

1. Mobilisasi adalah suatu kemampuan untuk bergerak dengan bebas, mudah dan
berirama sesuai dengan.lingkungan.
2. Manusia bergerak untuk memperoleh makanan dan air, untuk melindungi diri
dari trauma dan bahaya, dan untuk memenuhi kebutuhan dasr yang lain.
3. Mobilisasi penting untuk kemandirian seseorang.
4. Kesehatan dan aktivitas fisik sering diartikan dengan kemampuan seseorang
untuk bergerak.
Faktor faktor yang mempengaruhi mobilisasi :

1. gaya hidup : merupakan rangkaian atau pola aktifitas seseorang yang


dilakukannya dalam kehidupan sehari hari.
2. ketidakmampuan :
a. primer.
b. Sekunder.
3. tingkat energi seseorang : setiap orang tingkat energinya berbeda.
4. umur : semakin bertambah usia maka aktifitas yang dilakukan akam mengalami
kemunduran/terbatas.
Respon fsiologi terhadap immobilisasi.

Sistem muskuloskeletal

1. 20 % kekuatan otot dapat hilang setelah satu minggu bedrest dan 20 % setiap
minggu selanjutnya.
2. demineralisai tulang terjadi pada hari kedua/ketiga imobilisasi kehilangan
kalsium dari tulang dapat diukur setelah dua minggu bedrest.
3. osteoporosis adalah akibat dari kehilangan daya tahan berat tubuh, penurunan
aktifitas otot dan endokrin serta gangguan metabolisme.
4. fibrosis : penambahan jaringan serat konektif.
5. ankilosis : fiksasi srtuktur persendian karena sendi tidak bergerak secara
normal.
.

Perubahan metabolisme dan sekresi endokrin

a. perubahan metabolisme jaringan.


b. Atrofi jaringan dan katabolisme protein.
c. Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit.
d. Demineralisasi tulang.
e. Gangguan pertukaran nutrisi.
f. Gangguan gastrointestinal.
Perubahab respiratorius

a. Penurunan kapasitas vital.


b. Penurunan ventilasi volunter maksimal.
c. Perubahan ventilasi setempat.
d. Mekanisme batuk yang memburuk.

Perubahan sistem kardiovaskuler

a. peningkatan kerja jantung.


b. Peningkatan denyut nadi.
c. Penurunan cardiac reserve.
d. Orthostatik hipotensi.
e. Phlebothrombosis

Perubahan muskuloskeletal

a. penurunan kekuatan otot.


b. Penurunan masa otot.
c. Atrofi.
d. Koordinasi yang memburuk.
e. Osteoporosis.
f. Ankilosis dan fibrosis pada persendian.

Masalah psikososial

a. depresi.
b. Perubahan siklus bangun tidur.
c. Penurunan kemampuan penanganan
masalah Perubahan metabolisme jaringan
Immobilitas kebutuhan O2 sel menurun metabolisme sel

menurun
Infeksi kebutuhan O2 sel meningkat metabolisme sel

meningkat

Atrofi jaringan dan metabolisme protein

a. Immobilitas proses anabolik menurun

b. Proses katabolik meningkat

Exercise

1. sesuai dengan otot yang kontraksi :


a. isotonic exercise
b. isometrik exercise.
c. Isokinetik exercise.
2. berdasarkan gerakan tubuh.
a. aerobic exercise.
b. Stretching exercise.
c. Strength and endurance exercise.
d. Aktivitas sehari hari.
3. ROM
4. ganti posisi.

Pengkajian

1. ROM dari tiap sendi.


2. kekuatan otot.
3. sikap tubuh.
4. pengkajian terhadap dampak imobilitas.
Pengkajian fisik
Pengukuran antrophometri.
a. tinggi badan dan berat badan.
b. Lingkar lengan.
c. Tebal otot.
sistem pernapasan.
sistem kardiovaskuler
sistem muskuloskeletal.
a. tonus otot.
b. Pengurangan masa otot
c. Kontraktur.
d. Osteoporosis.
PAIN MANAGEMENT (PENANGANAN RASA NYERI)

PENGERTIAN
Patofisiologi nyeri akut.
Nyeri bisa didefinisikan karena adanya jaringan luka. Persepsi nyeri
menggambarkan peningian nocireceptor oleh rangsangan yang membahayakan secara
langsung atau oleh mediator yang dikeluarkan oleh jaringan yang luka. Transmisi nyeri
melalui serat afferent ke spinal cord dan disampaikan melalui dorsal horn kepusat yang
lebih tinggi.
Persepsi nyeri dibagi dalam dua komponen utama yaitu:
1. perbedaan komponen sensori, dapat menjelaskan lokasi dan kualitas
rangsangan. Rangsangan disalurkan melalui serat bermielin ( serat A delta) dan
disampaikan ke neothalamus dan somatosensori kortek. Komponen ini adalah
organ yang mempunyai sinyal yang cepat, sehingga menghasilkan reaksi yang
cepat untuk menerik tubuh dari rangsangan yang membahayakan.
2. komponen perasaan motivasi, rangsangan disalurkan lebih lambat melalui
serat C yang tidak bermielin diperifer dan mengadakan banyak kontak sinaptic
diotak, nukleus otak tengah ( midbrain melei ) dan sistem kortikal limbik.
Komponen ini yang bertangung jawab terhadap perilaku untuk menghindar dari
rangsangan yang membahayakan.
Perubahan patofissiologi pada trauma bedah akut adalah sebagai berikut :

1. perubahan neurohumoral pada persepsi nyeri ditempat dan area yang


berbatasan dengan luka.
2. perubahan fungsi sinaptic dan proses nociceptive dai spinal cord di dorsal horn.
3. respon neuroendocrine menimbulkan hyperglikemia dan keseimbangan nitrogen
negatif.
4. pengaktifan sympahoadrenal menghasilkan peningkatan denyut jantung dati
tekanan darah serta pengurangan aliran darah setempat.

Aspek lain dari respon trauma akut adalah pengaruhnya pada organ target utama
meliputi sistem kardiovaskuler, paru paru dan sistem syaraf pusat, hubungan
antara kerusakan fungsi organ target dengan meningktanya morbidity pasca bedah
telah diteliti.
Respon taruma : kepekaan perifer
Jaringan yang luka diikuti oleh reaksi seri neurohumoral yaitu terdiri dari 3
( tiga ) respon, masing masing adalah meningkatnya aliran darah, udem jaringan
dan nocireceftor yang sensitif ( hyperalgesia ).
Walaupun pada tahun tahun terakhir ini mediator biokimia yang
mendasari beberapa aspek respon taruma telah diketahui, namun mekanisme yang
tepat atau mekanisme yang bertanggung jawab pada peningkatan kepekaan reseptor
belum dapat digolongkan.
Trauma bedah disertai dengan keluarnya ion K dari intrasel dan ion Na
dari ekstrasel serta cepatnya pembentukan dan pelepasan bradykini dan serotonin.
Bradykinin adalar algesic peptida kuat yang mempermuda pengaktifan serat C dan
menimbulkan nyeri yang hebat setelah pemberian intradermal atau intra arterial.
Serotonin juga mampu meningkatkan nyeri terutama bertangungjawab terhadap
timbulnya reaksi peningkatan aliran darah dan udem jaringan.

Perjalanan Rasa Nyeri


Niciceptor ( reseptor nyeri ) pada kulit dan jaringan menghasilkan rangsang
nyeri yang mengikuti trauma. Para dokter percaya bahwa nociceptor bereaksi
terhadap nyeri yang ditimbulkan oleh zat zat kimia seperti bradykinin, histamin, dan
prostaglandin yang dilepas oleh jaringan yang rusak. Zat zat ini yang dapat
menurunkan ambang nociceptor sampai rangsang yang tidak menyakitkan ( non
painful ) menimbulkan nyeri. Karena phenomena ini prostaglandin sebagai sintesis,
seperti aspirin yang menghasilka analgesia.
Berdasarkan kecepatan konduksi, serat saraf dapat dikategorikan sebagai
serat A, B, dan C, tapi hanya serat A delta dan serat C yang nampak terlihat
didalam transmisi nyeri. Rangsangan dibawa dengan cepat oleh serat A delta yang
bermielin pada saraf perifer yang menghasilkan nyeri tajam dan menusuk. Rangsang
yang disalurkan secara perifer menghasilakan nyeri tajam dan menusuk.
Rangsang yang
disalurkan secara lambat oleh serat C yang tidak bermielin menghasilkan nyeri terus

menerus, lama, sensasi panas, dingin, zatzat kimia dan mekanis. Tidak seperti
banyak nociceptor yang lain yang menjadi kurang responsive terhadap pengulangan
rangsangan, maka polymodal reseptor nyeri menjadi lebih responsive terhadap
pengulangan rangsangan. Serat nyeri dari perifer masuk ke spinal cord melalui akar
saraf dorsal naik dan turun melalui traktus Lissauers dan berakhir dimasa
kelabu tanduk dorsal.dari tanduk dorsal rangsangan bergerak dari serat saraf
pendek ke serat saraf yang lebih panjang melintas kejalan anterolateral spinothalmik
( merupakan traktus utama pada sistem saraf pusat yang menghantarkan nyeri).

Jalan naik ke spinotalmik mempunyai dua bagian yaitu :

1. traktus neospinotalamik
2. traktus paleospinotalamik.
Traktus spinotalamik naik melalui massa putih spinal cord, membawa
rangsang yang diangkut oleh serat perifer A delta. Rangsang dibawa dengan cepat,
membawa nyeri, nyeri tajam dan terlokalisasi, persepsi nyeri jelas dimana lokasinya
dan intensitasnya. Hal ini menimbulkan mekanisme perilaku, seperti reaksi berjuang
melawan atau melarikan diri ( fight or flight ).
Traktus peleospinotalamik menghantarkan lebih lambat daripada traktus
neospinotalamik. Akibatnya, traktus spinotalamik ada hubungannya dengan rasa
terbakar, nyeri tumpul, sensasi lokasi buruk. Karena ini dipengaruhi oleh struktur
otak yang mengontrol ingatan dan mengilang kembali, maka melibatkan reaksi
emosi.
Banyak rangsang nyeri berakhir dithalamus dan rangsang lain tiba diarea
retikular ( area batang otak ). Keduanya menyumbang pengaktifan sistem retikuler (
RAS ) yang kemudian mengaktifkan kortek serbral.
Walaupun peranan pasti kortek serebral tetap tidak jelas, itu memungkinkan
melibatkan persepsi nyeri dan interprestasinya berdasrkan ingatan seseorang
tentang nyeri yang pernah mereka alami. Di dalam kortek, traktus spinotalamik
mempunyai
synap perantara enkephalin yang bisa berkomunikasi langsung dengan anterior
pituitary, tempat beta endorphin diproduksi.
Dengan keadaan itu kortek dapat langsung memodifikasi sensasi nyeri ia
dapat menghambat atau mempertinggi sensasi ke tingkat spinal cord dengan
mengirim pesan turun melalui jalan turun ( decending spinal patways ) Peptida
peptida otak. Sistem saraf pusat memodifikasi nyeri dangan melepaskan
endogenous opiats, seperti endorphin dan enkephalin, untuk menghamabt transmisi
rangsang pada tingkat perifer dan mengubah persepsi nyeri pada tingkat kortek.
Rangsang yang menyakitkan memicu pelepasan endogenous opiats, yang kemudian
membalut reseptor opiats disepanjang sistem saraf terutama ditanduk dorsal,
hambtan melepaskan meurotransmiter.

Terdapat tiga group opiats:


1. Enkephalin, peptida berukuran kecilyang efek analgesiknya lemah, berikatan
dengan reseptor opiats di spinal cord, brain stem, sitem limbik, hipotalamus,
adrenal dari traktus gastrointestinal.
2. Endorphin, peptida yang berukuran besar, bisa disintesa dan disimpan di
kelenjar pitiutary, Ia juga ditemukan dihipotalamus, otak tengah dan sistem
limbik.
3. Dynorphin, menghasilkan efek analgesik 50 kali lebih kuat dari beta
endorphin ia ditemukan di kelnjar pituitary, hipotalamus dan spinal cord.
Beberapa terapi untuk meringankan nyeri, seperti akupuntur, pelberian plasebo, TENS (
merangsang saraf pada kulit dengan alat listrik ) mungkin efektif karena alat alat
tersebut merangsang pelepasan endogenoue opiats.

Teori nyeri

1. Teori specificity :

Ns. Arie Sulistiyawati., Page


M.Kep 90
Teori yang mengatakan bahwa ujung saraf spesifik berkorelasi dengan sensasi
yang spesifik : seperti sentuhan, hangat, dingin, dan nyeri. Sensasi nyeri

Ns. Arie Sulistiyawati., Page


M.Kep 91
berhubungan dengan pengaktifan ujung ujung saraf bebas oleh rangsangan
mekanis, kimia, dan temperatur yang berlebihan.
2. Teori intensity
Nyeri adalah hasil rangsangan yang berlebihan pada reseptor. Setiap
rangsangan sensori punya potensi untuk menimbulkan nyeri jika menggunakan
intensitas yang cukup.
3. The gate control theory
Teori ini menjelaskan mekanisme transmisi nyeri. Kegiatannya tergantung pada
aktifitas serat saraf afferent yang berdiameter besar atau kecil yang dapat,
mempengaruhi sel saraf subtansia gelatinosa. Aktifita saraf berdiameter
besar menghambat transmisi artinya pintu ditutup sedangkan yang
berdiameter kecil memfasilitasi transmisi artinya pintu dibuka. Hambatan
/fasilitasi hanya terjadi bila serat tersebut dirangsang secara berturut turut.

PENGKAJIAN NYERI
1. Indikator perilaku.
a. tangisan.
b. Ekspresi wajah.
c. Gerakan tubuh.
2. Indikator fisiologis.
a. tekanan darah.
b. Nadi.
c. pernapasan
3. Pada sistem pernapasan.
a. Menurunnya volume tidal.
b. Menurunnya fungsi kafasitas residual.
c. Menurunnya kemampuan untuk batuk.
d. Tetahannya sputum di paru paru.
e. Terjadi infeksi.
f. Atelektasis.
g. Menurunnya PO2 dan meningkatnya PCO2.

4. sistem kardiovaskuler.
a. Tackhycardia.
b. Hypertensi.
c. Meningkatnya pekerjaan jantung.
d. Meningkatannya hambatan pada pembuluh darah perifer.
e. Meningkatnya konsumsi O2.

f. Bisa menimbulkan miokard infark ischenia.


5. Sistem pencernaan : menurunnya motilitas atau pergerakan usus.
6. Sistem perkemihan : terjadi hambatan pengeluaran air kemih.
7. Sistem endokrine : meningkatnya hormon Aldosteron, ADH, cortisol dan

kathekolamin akan menghamabat natrium dan H2O dan hyperglycemia.

8. Sistem saraf pusat : menimbulkan rasa cemas dan tidak dapat tidur.

Dampak nyeri terhadap kebutuhan dasar :


1. gangguan rasa nyaman.
2. gangguan kebutuhan sehari hari.
3. gangguan nutrisi.
4. gangguan istirahat dan tidur.
5. gangguan rasa aman.

ALAT PENGKAJIAN PENGUKURAN RASA NYERI


UPAYA MENGATASI NYERI
Metode dan tehnik yang dapat dilakukan dan upaya untuk mengatasi nyeri adalah:

I. Teknik Relaksasi Nafas Dalam

1. Definisi
Teknik relaksasi nafas dalam merupakan suatu bentuk asuhan keperawatan, yang
dalam hal ini perawat mengajarkan kepada klien bagaimana cara melakukan nafas
dalam, nafas lambat (menahan inspirasi secara maksimal) dan bagaimana
menghembuskan nafas secara perlahan. Selain dapat menurunkan intensitas nyeri,
teknik relaksasi nafas dalam juga dapat meningkatkan ventilasi paru dan
meningkatkan oksigenasi darah (Smeltzer dan Bare, 2002).
2. Tujuan dan Manfaat Teknik Relaksasi Nafas Dalam
Menurut National Safety Council (2004), bahwa teknik relaksasi nafas dalam
saat ini masih menjadi metode relaksasi yang termudah. Metode ini mudah
dilakukan karena pernafasan itu sendiri merupakan tindakan yang dapat dilakukan
secara normal tanpa perlu berfikir atau merasa ragu.
Sementara Smeltzer dan Bare (2002) menyatakan bahwa tujuan dari teknik
relaksasi nafas dalam adalah untuk meningkatkan ventilasi alveoli, memelihara
pertukaran gas, mencegah atelektasi paru, meningkatkan efisiensi batuk mengurangi
stress baik stress fisik maupun emosional yaitu menurunkan intensitas nyeri dan
menurunkan kecemasan. Sedangkan manfaat yang dapat dirasakan oleh klien
setelah melakukan teknik relaksasi nafas dalam adalah dapat menghilangkan nyeri,
ketenteraman hati, dan berkurangnya rasa cemas.

Lebih lanjut Priharjo (2003) menyatakan bahwa adapun langkah-langkah teknik


relaksasi nafas dalam adalah sebagai berikut :
1. Usahakan rileks dan tenang
2. Menarik nafas yang dalam melalui hidung dengan hitungan 1,2,3, kemudian
tahan sekitar 5-10 detik
3. Hembuskan nafas melalui mulut secara perlahan-lahan.
4. Menarik nafas lagi melalui hidung dan menghembuskannya lagi melalui mulut
secara perlahan-lahan
5. Anjurkan untuk mengulangi prosedur hingga nyeri terasa berkurang
6. Ulangi sampai 15 kali, dengan selingi istirahat singkat setiap 5 kali.

II. Teknik Distraksi

1. Definisi
Distraksi adalah mengalihkan perhatian klien ke hal yang lain sehingga dapat
menurunkan kewaspadaan terhadap nyeri, bahkan meningkatkan toleransi
terhadap nyeri (Prasetyo, 2010).
2. Tujuan dan Manfaat Teknik Distraksi
Tujuan penggunaan teknik distraksi dalam intervensi keperawatan adalah untuk
pengalihan atau menjauhkan perhatian klien terhadap sesuatu yang sedang
dihadapi, misalnya rasa nyeri. Sedangkan manfaat dari penggunaan teknik ini, yaitu
agar seseorang yang menerima teknik ini merasa lebih nyaman, santai, dan merasa
berada pada situasi yang lebih menyenangkan (Widyastuti, 2010).

3. Prosedur Teknik Distraksi


Prosedur teknik distraksi berdasarkan jenisnya, antara lain :

a. Distraksi visual
Melihat pertandingan, menonton televisi, membaca koran, melihat
pemandangan, dan gambar (Prasetyo, 2010).

b. Distraksi pendengaran
Mendengarkan musik yang disukai, suara burung, atau gemercik air. Klien
dianjurkan untuk memilih musik yang disukai dan musik yang tenang, seperti
musik klasik. Klien diminta untuk berkosentrasi pada lirik dan irama lagu. Klien
juga diperbolehkan untuk menggerakkan tubuh mengikuti irama lagu, seperti
bergoyang, mengetukkan jari atau kaki (Tamsuri, 2007).

c. Distraksi pernafasan
Cara pertama, yaitu bernafas ritmik. Anjurkan klien untuk memandang fokus
pada satu objek atau memejamkan mata, lalu lakukan inhalasi perlahan melalui
hidung dengan hitungan satu sampai empat (dalam hati), kemudian
menghembuskan nafas melalui mulut secara perlahan dengan menghitung satu
sampai empat (dalam hati). Anjurkan klien untuk berkosentrasi pada sensasi
pernafasan dan terhadap gambar yang memberi ketenangan, lanjutkan teknik ini
hingga terbentuk pola pernafasan ritmik. Cara kedua, yaitu bernafas ritmik dan
massase, instruksikan klien untuk melakukan pernafasan ritmik dan pada saat
yang bersamaan.

III. Imajinasi Terbimbing

1. Definisi
Imajinasi terbimbing adalah sebuah teknik relaksasi yang bertujuan untuk
mengurangi stress dan meningkatkan perasaan tenang dan damai. Imajinasi
terbimbing atau imajinasi mental merupakan suatu teknik untuk mengkaji kekuatan
pikiran saat sadar maupun tidak sadar untuk menciptakan bayangan gambar yang
membawa ketenangan dan keheningan (National Safety Council, 2004).
2. Manfaat Imajinasi Terbimbing
Imajinasi terbimbing merupakan salah satu jenis dari teknik relaksasi sehingga
manfaat dari teknik ini pada umumnya sama dengan manfaat dari teknik relaksasi
yang lain. Teknik ini dapat mengurangi nyeri, mempercepat penyembuhan dan
membantu tubuh mengurangi berbagai macam penyakit seperti depresi, alergi dan
asma (Holistic-online, 2006).
Dalam imajinasi terbimbing klien menciptakan kesan dalam pikiran, berkonsentrasi
pada kesan tersebut, sehingga secara bertahap mampu mengurangi ketegangan dan
nyeri (Potter dan Perry, 2006).
3. Dasar Imajinasi Terbimbing

Imajinasi merupakan bahasa yang digunakan oleh otak untuk berkomunikasi


dengan tubuh. Segala sesuatu yang kita lakukan akan diproses oleh tubuh melalui
bayangan. Imajinasi terbentuk melalui rangasangan yang diterima oleh berbagai indera
seperti gambar, aroma, rasa, suara dan sentuhan (Holistic-online, 2006). Respon
tersebut timbul karena otak tidak mengetahui perbedaan antara bayangan dan aktifitas
nyata (Tusek, 2000 yang dikutip dalam anonim, 2008).
4. Proses Asosiasi Imajinasi
Imajinasi terbimbing merupakan suatu teknik yang menuntut seseorang untuk
membentuk sebuah bayangan/imajinasi tentang hal-hal yang disukai. Imajinasi yang
terbentuk tersebut akan diterima sebagai rangsang oleh berbagai indra, kemudian
rangsangan tersebut akan dijalankan ke batang otak menuju sensor thalamus.
Ditalamus rangsang diformat sesuai dengan bahasa otak, sebagian kecil rangsangan itu
ditransmisikan ke amigdala dan hipokampus sekitarnya dan sebagian besar lagi dikirim
ke korteks serebri, dikorteks serebri terjadi proses asosiasi pengindraan dimana
rangsangan dianalisis, dipahami dan disusun menjadi sesuatu yang nyata sehingga otak
mengenali objek dan arti kehadiran tersebut. Hipokampus berperan sebagai penentu
sinyal sensorik dianggap penting atau tidak sehingga jika hipokampus memutuskan
sinyal yang masuk adalah penting maka sinyal tersebut akan disimpan sebagai ingatan.
Hal-hal yang disukai dianggap sebagai sinyal penting oleh hipokampus sehingga
diproses menjadi memori. Ketika terdapat rangsangan berupa bayangan tentang hal-hal
yang disukai tersebut, memori yang telah tersimpan akan muncul kembali dan
menimbulkan suatu persepsi dari pengalaman sensasi yang sebenarnya, walaupun
pengaruh/akibat yang timbul hanyalah suatu memori dari suatu sensasi (Guyton dan
Hall, 2008).

5. Macam-Macam Teknik Imajinasi terbimbing

Berdasarkan pada penggunaannya terdapat beberapa macam teknik imajinasi


terbimbing (Holistic-Online, 2006) :
a. Guided Walking Imagery
Pada teknik ini pasien dianjurkan untuk mengimajinasikan pemandangan standar
seperti padang rumput, pegunungan, pantai dll. kemudian imajinasi pasien dikaji
untuk mengetahui sumber konflik.
b. Autogenic Abeaction
Dalam teknik ini pasien diminta untuk memilih sebuah perilaku negatif yang ada
dalam pikirannya kemudian pasien mengungkapkan secara verbal tanpa batasan.
Bila berhasil akan tampak perubahan dalam hal emosional dan raut muka pasien.
c. Covert sensitization
Teknik ini berdasar pada paradigma reinforcement yang menyimpulkan bahwa
proses imajinasi dapat dimodifikasi berdasarkan pada prinsip yang sama dalam
modifikasi perilaku.
d. Covert Behaviour Rehearsal
Teknik ini mengajak seseorang untuk mengimajinasikan perilaku koping yang dia
inginkan.

UPAYA MENGATASI NYERI DENGAN TINDAKAN FARMAKOLOGI


Menurut Prasetyo (2010) menyatakan bahwa manajemen dalam penanganan nyeri
terbagi atas tindakan farmakologis dan non farmakologis serta pembedahan.
a. Tindakan Farmakologi

1) Analgesik Narkotik
Opiate merupakan obat yang paling umum digunakan untuk mengatasi nyeri pada
klien, untuk nyeri sedang hingga nyeri berat.
2) Analgesik lokal
Analgesik lokal bekerja dengan memblokade konduksi saraf saat diberikan
langsung ke serabut saraf.
3) Analgesik yang dikontrol klien
Sistem analgesik yang dikontrol klien terdiri dari infus yang di isi narkotik menurut
resep, dipasang dengan pengatur pada lubang injeksi intravena. Penggunaan
narkotik yang dikendalikan klien dipakai pada klien dengan nyeri pasca bedah,
nyeri kanker, krisis sel.
4) Obat-Obat Nonsteroid (NSAIDs)
Obat-obat yang termasuk dalam kelompok ini menghambat agregasi platelet,
kontraindikasi meliputi klien dengan gangguan koagulasi atau klien dengan terapi
antikoagulan. Contohnya : Ibuprofen, Naproksen, Indometasin, Tolmetin, Piroxicam,
serta Ketorolac (Toradol). Selain itu terdapat pula golongan NSAIDs yang lain
seperti Asam Mefenamat, Meclofenomate serta Phenylbutazone, dll (Goodman dan
Gilman, 2008).

Beberapa contoh mekanisme kerja NSAIDs adalah sebagai berikut:


a) Ketorolac
Farmakodinamik :

Ketorolac tromethamine merupakan suatu obat analgesik non narkotik. Obat ini
bukan sebagai anti-inflamasi (meskipun ketorolac mempunyai sifat-sifat AINS yang
khas (Katzung, 2002). Pernyataan Katzung (2002) tersebut berbeda dengan
Goodman dan Gilman (2008) yang menyatakan bahwa efek ketorolac tromethamine
menghambat biosistesis prostaglandin dan tromboksan A2. Ketorolac tromethamine
dapat memberikan efek anti-inflamasi dengan menghambat peletakan granulosit pada
pembuluh darah yang rusak. Menstabilkan membrane lisosom dan menghambat
migrasi leukosit polimorfonuklear dan magrofag ke tempat peradangan.
Farmakokinetik :

Ketorolac tromethamine diserap dengan cepat dan lengkap setelah pemberian


intramuskuler dengan konsentrasi puncak rata-rata dalam plasma 2,2 mcg/ml setelah
50 menit pemberian dosis tunggal 30 mg. Ketersediaan hayati oral sekitar 80%, dan
obat ini akan diekskresikan dalam waktu paru eliminasi 4 sampai 6 jam. Lebih dari
99% ketorolac tromethamine diikat oleh protein dan sebagian besar di metabolisme
dihati. Metabolismenya adalah hidroksilate. Dan yang tidak dimetabolisme
(unchanged drug) akan diekskresikan melalui urin (Goodman dan Gilman, 2008).
Sedangkan Setiabudy (2007) menyatakan bahwa pemberian ketorolac secara
intarmuskular sebagai analgesik pasca bedah memperlihatkan efektivitas sebanding
morfin/meperidin dosis umum. Masa kerjanya lebih panjang dan efek sampingnya
lebih ringan. Obat ini juga dapat diberikan secara oral. Absorpsi oral dan
intramuskular berlangsung cepat dan mencapai puncak dalam 30 - 50 menit.
Bioavailabilitas oral mencapai 80% dan hampir seluruhnya terikat protein plasma.
b) Asam Mefenamat
Farmakodinamik :

Asam mefenamat merupakan asam fenilantranilat yang mengalami N-subtitusi.


Senyawa fenamat mempunyai sifat anti-radang, anti-piretik dan analgesik. Pada uji
analgesia, asam mefenamat merupakan satu-satunya fenamat yang menunjukkan
kerja pusat dan kerja perifer. Senyawa fenamat memiliki sifat-sifat tersebut terutama
karena kemampuannya menghambat siklooksigenase. Selain itu senyawa fenamat
juga mengantagonis efek prostaglandin tertentu (Goodman dan Gilman, 2008).
Farmakokinetik :

Konsentrasi puncak dalam plasma tercapai dalam 2 sampai 4 jam setelah


pemberian oral dalam dosis tunggal. Pada manusia, sekitar 50% dosis asam
mefenamat diekskresi dalam urin, terutama sebagai matabolit 3-hidroksimetil
terkonjugasi dan metabolit 3-karboksil serta konjugatnya. Dua puluh persen obat ini
ditemukan dalam feses, terutama sebagai metabolit 3-karboksil yang tidak
terkonjugasi (Goodman dan Gilman, 2008).
Sedangkan Setiabudy (2007) menyatakan bahwa asam mefenamat terikat sangat
kuat pada protein plasma. Dengan demikian interkasi terhadap obat antikoagulan
harus dihentikan.
c) Piroksikam
Farmakodinamik :

Piroksikam merupakan suatu obat anti radang yang efektif, potensinya sebagai
inhibitor biosintesis prostaglandin in viro. Piroksikam dapat menghambat aktivasi
neurofil yang tidak tergantung pada kemampuannya untuk menghambat
siklooksigenase (Goodman dan Gilman, 2008). Selain itu piroksikam juga sebagai
penghambat COX nonselektif, tetapi pada konsentrasi tinggi juga dapat
menghambat migrasi leukosit polimorfonuklear, mengurangi produksi radikal oksigen
dan menghambat fungsi limfosit (Katzung, 2002).
Farmakokinetik :

Moh Page
100
Goodman dan Gilman (2008) menyatakan bahwa piroksikam diabsorpsi sempurna
setelah pemberian oral. Konsentrasi puncak dalam plasma terjadi dalam 2 sampai 4
jam. Terjadi siklus enterohepatik piroksikam, dan perkiraan waktu paruh dalam
plasma beragam dengan nilai rata-rata sekitar 50 jam. Setelah diabsopsi, piroksikam
banyak terikat pada protein plasma (99%). Pada keadaan tunak (misalnya 7 sampai
12 hari), konsentrasi piroksikam dalam plasma dan cairan sinovial kira-kira sama.
Kurang dari 5% obat ini diekskresi dalam urin.

d) Ibuprofen
Farmakodinamik :

Ibuprofen merupakan obat turunan sederhana dari phenylpropionic acid. Obat ini
mempunyai aktivitas anti-radang, analgesik, anti-piretik yang bermanfaat bagi
menusia. Ibuprofen merupakan inhibitor siklooksigenase yang efektif. Ibuprofen
mempunyai efek penghambatan yang nyata terhadap fungsi leukosit (Goodman dan
Gilman, 2008).
Farmakokinetik :
Ibuprofen diabsorpsi dengan cepat setelah pemberial oral, dan konsentrasi puncak
dalam plasma adalah 15 - 30 menit. Waktu paruh dalam plasma sekitar 2 jam.
Ekskresi ibuprofen cepat dan sempurna, lebih dari 90% dosis yang teringesti
diekskresikan melalui urin sebagai metabolit atau konjugatnya. Metabolit utamanya
adalah suatu senyawa terhidroksilasi dan terkarboksilasi (Goodman dan Gilman,
2008). Sementara Katzung (2002) menyatakan bahwa ibuprofen lebih dari 99%
terikat dengan protein plasma, dengan mudah dibersihkan dan mempunyai waktu
paruh terminal lebih dari 1 - 2 jam. Ibuprofen dimetabolisme secara ekstensif di
dalam hati.
PEMERIKSAAN FISIK

A. Tujuan Pembelajaran Praktikum

1. Mahasiswa mampu mempersiapkan alat secara lengkap

2. Mahasiswa mampu melakukan tindakan Pemeriksaaan fisik secara sistematis


dan setiap langkah dilakukan secara tepat.

B. Dasar Teori
Tujuan dilakukan pemeriksaan fisik Untuk memperoleh informasi mengenai status

kesehatan pasien. Tujuan definitif pemeriksaan fisik adalah, pertama, untuk


mengidentifikasi status normal dan kemudian mengetahui adanya variasi dari

keadaan normal tersebut dengan cara memvalidasi keluhan-keluhan dan gejala-

gejala pasien, penapisan/skrining keadaan welbeing pasien, dan pemantauan

masalah kesehatan/penyakit pasien saat ini. Informasi ini menjadi bagian dari

catatan/rekam medis (medical record) pasien, menjadi dasar data awal dari

temuantemuan klinis yang kemudian selalu diperbarui (updated) dan ditambahkan

sepanjang waktu.

C. Alat dan Bahan

Tensimeter

Stetoskop

Termometer

Timbangan

Meteran tinggi badan

Penlight

Snelan chart

Kapas

Minyak kayu putih

kopi, gula, garam

reflek hammer
spekulum hidung
spekulum telinga

tong spatel

hand scoon

garpu tala

jam tangan

alat tulis

D. Petunjuk Umum

1. Siapkan alat dan bahan yang diperlukan

2. Baca dan pelajari dengan baik modul praktikum yang diberikan

3. Ikuti petunjuk yang terdapat pada modul

4. Tanyakan kepada dosen bila ada hal-hal yang tidak dipahami atau kurang
dimengerti

E. Keselamatan Kerja

1. Pusatkan pertanyaan pada pekerjaan yang dilakukan

2. Susun dan letakkan peralatan atau bahan pada temapat yang mudah dijangkau

3. Pakailah alat dan bahan sesuai fungsinya


4. Perhatikan setiap langkah
F. Langkah Kerja

N Langkah Pengerjaan Ilustrasi gambar


o
1 Persiapkan Alat
2 Menyapa pasien atau keluarga dan
memperkenalkan diri

4 Menjaga privasi pasien : tutup


sampiran

5 Cuci tangan efektif 7 langkah,


mengguankan sabun, dibawah air
mengalir dan dikeringkan

6 Tibang Berat Badan dan Ukur Tinggi


Badan

Ns. Arie Sulistiyawati., Page


M.Kep 106
7 Inspeksi derajat kesadaran (kompos mentis, apatis, letargi, somnolen,
sopor, koma)

Auskultasi Vital Sign (Mengukur

Ns. Arie Sulistiyawati., Page


M.Kep 107
Tensi, menghitung pernafasan,
menghitung nadi dan menghitung
pernafasan)

8 Kulit :
Inpeksi & palpasi Hiperpigmentasi,
sianosis, edema, turgor, makula,
papula, vesikula, pustula, bula, nodul,
sikatriks,nevi.
9 Kepala :
Inspeksi & palpasi rambut
(jenis, warna, kelainan) edema / tdk,
kebersihan

10 Mata : Inspeksi ukuran pupil mata


Inspeksi & palpasi
Starbismus, konjungtiva, sclera,
lapang pandang

sklera, konjungtiva
Inspeksi lapang pandang
11 Telinga : Palpasi telinga
Inspeksi & palpasi Serumen,
tinitus, tes pendengaran

Pemeriksaan Serumen dan adanya massa


Pemeriksaan pendengaran (Tes Rinne, Tes
Weber, Tes Swabach)

Moh Page
110
12 Hidung : Inspeksi Hidung
Inspeksi & palpasi epistaksis,
ingus

Palpasi Hidung
Mengetes fungsi penciuman
13 Mulut / Gigi :
Inspeksi bibir, gigi, lidah,
palatoskisis
14 Leher : Palpasi Kelenjar Thyroid
Inspeksi & palpasi pembesaran
kelenjar thyroid
Auskultasi Kelenjar Thyroid

Auskultasi Kelenjar Thyroid


15 Dada : Inspeksi dan palpasi dada
Inspeksi simetris, retraksi,
benjolan patologis, keadaan mammae

Perkusi dada
Lokasi Perkusi dada
Auskultasi dada
16 Perut : Inspeksi Perut
Inspeksi & palpasi hepar, gaster,
nyeri tekan
Palpasi

Auskultasi
17 Genetalia
Inspeksi & palpasi tumor, luka
parut

18 Ekstremitas :
Inpeksi, palpasi, perkusi :bentuk,
ukuran,kelainan

19 Punggung :
Inspeksi, palpasi skoliosis,
kifosis, lordosis
20 Membereskan alat
21 Mengevaluasi hasil tindakan :
menanyakan respon pasien
22 Berpamitan dengan pasien

23 Mencuci tangan

24 Mendokumentasikan kegiatan yang


telah dilakukan
Key Point :
Catat waktu, tindakan yang dilakukan,
tanda tangan

G. Evaluasi Praktikum

1. Mahasiswa mampu mempersiapkan alat secara lengkap


2. Mahasiswa mampu melakukan pemasangan infus
3. Mahasiswa mempertahankan kenyamanan dan privasi klien selama prosedur
dilakukan

Ns. Arie Sulistiyawati., Page


M.Kep 119
4. Mahasiswa wajib berlatih dengan menggunakan panduan modul praktikum
pada jam praktikum mandiri

Moh Page
120
DAFTAR PUSTAKA

Hanke, Grace. 2007. Med-Math : Perhitungan Dosis, Preparat dan Cara

Pemberian Obat Edisi 2. Jakarta : EGC.

Kusyati, Eni. 2006. Keterampilan dan Prosedur Laboratorium. Jakarta : EGC.

Potter & Perry. 2006. Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses & Praktik.

Jakarta. EGC

Potter, Patricia A, Pocket guide to health assessment, hal.346-348

A. Tamsuri, 2007, Konsep Dan Penatalaksanaan Nyeri EGC, Jakarta

Borenfein, Gb, 1995, Lbp Medical Diagnosis And Comprehensive M Second

Edition, Philadelpia : Wb Soundres

Carolyn Richardson, Et, Al, 1999, Therapeistic Exercise For Spinal Segmental

Stabilization In Low Back Pain London Chur Chill, Living Stone

Moh Page
121